Yayoi Kusama Exhibit @ Museum MACAN

Yayoi Kusama Exhibit @ Museum MACAN

Spoiler Alert: Ternyata Museum MACAN bukan Museum tentang Macan, melainkan singkatan dari Modern and Contemporary Art in Nusantara. Jadi jangan terlalu berharap untuk menemukan sejarah kehidupan tentang Macan, atau fosil-fosil Macan purba.

Aku sendiri yakin bahwa Reader sudah lihat foto di sosmed, entah itu di Timeline (or… yah, itu lah ya, tergantung sosmed kan namanya, padahal bendanya itu-itu aja) atau di Story. Atau, kalau anda saya, dan tidak main sosmed, mungkin nemunya di Timeline LINE, atau di WhatsApp Status.

Entah kenapa aku gagal menemukan satu pun gambar di Timeline LINE, atau di WhatsApp Status mengenai Exhibit Blockbuster Museum MACAN tahun ini. Tetapi, sejujurnya, buat apa menikmati gambar di sosial media yang dipasang dengan tujuan untuk pamer (no offense Bubi, atau Babah). Tujuan dari Seni bukan untuk dipasang di Sosial Media lagian πŸ™‚ tetapi untuk dinikmati.

Jadi, kumohon, jika Reader belum, dan ingin ke sini, tolong nikmati seni disini, bukan menikmati komentar dan Likes dari follower anda ya.

Nah, jadi sebenarnya, aku tahu tentang pameran Museum MACAN ini dari mana? Jadi begini… Aku menemukan sebuah tulisan di JakartaGlobe tentang pameran di Museum MACAN ini yang… Yah, aku gak mau bahas itu sejujurnya. Silahkan baca saja sendiri ya, yang ada aku jadi gregetan nih hehehe. http://jakartaglobe.id/features/instagram-slaves-damage-artworks-museum-macans-yayoi-kusama-exhibition/

Langsung saja ke artikelnya yah. Ini akan membahas sedikit banyak gaya seni Yayoi Kusama, serta sedikit riwayat hidupnya.

(FYI, yes, I am currently in Jakarta, and this post is written here, sementara berpisah dari Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Geologi, dan berjumpa dengan Museum Fatahilah [yang aku gak jadi datengin sayangnya] dan juga Museum MACAN)

Panorama Kusama

Yayoi Kusama terobsesi dengan titik-titik. Sepertinya hampir semua karya seni miliknya dicoreng titik di sana dan sini, dan semua karya miliknya yang populer bermain dengan polkadot, dan cenderung abstrak. Tetapi, tentu saja orang-orang sudah tahu tentang kedua hal ini.

Ada beberapa hal yang mungkin ingin anda ketahui, dan dari mana inspirasi Yayoi Kusama ini…

Pertama-tama, ia sering berhalusinasi. Ia sering membayangkan bahwa tanaman berbicara padanya, dan segala sesuatu yang ia lihat, sedikit demi sedikit menjadi abstrak, dan menjadi penuh dengan titik-titik warna-warni. Nah, jadi yang mungkin kita pandang sebagai karya seni dan lukisan, atau patung… Bagi Yayoi Kusama, mungkin itu adalah benda atau pandangan dunianya sehari-hari.

Dan uniknya, ia dan keluarganya tahu bahwa dia sedikit bermasalah.

Bahkan, ada satu titik di dalam karirnya, dimana Kusama memasukkan dirinya ke Rumah Sakit Jiwa, dan membeli tanah di sebrang rumah sakit jiwa tersebut. Kusama kemudian membangun studio di tanah yang ia beli, dan tiap hari, ia ditemani oleh suster untuk berkarya di studio tersebut.

Jadi, jika ingin ditanyakan, iya, Kusama memang gila.

Titik. Titik. Warna. Warni.

Semua lukisan Yayoi Kusama yang terbilang Family Friendly (ehem, beliau memiliki satu daftar karya seni mengenai kehidupan seorang “remaja” perempuan… Enough said) bermain dengan titik-titik dan warna dasar. Pada dasarnya, ia mewarnai sebuah kanvas dan membuat titik-titik di atas warna dasar tersebut.

Tiap titik menciptakan sebuah ilusi dan menumpuk dengan titik lain. Jika melihat gambarannya secara langsung, kamu mungkin akan pusing.

Selain itu, jika anda memang tahan melihat sesuatu yang begitu abstrak untuk waktu yang lama, akan ditemukan bahwa dalam setiap frame, ketebalan dan kontras cat yang digunakan konsisten. Gambar di atas ini menggambarkan titik merah yang tebal di bagian bawah, dan seiring naiknya lukisan, semakin tipis, dan semakin tipis.

One more thing, lukisan itu hanya satu dari sembilan lukisan dengan kanvas yang terhubung dengan satu sama lain.

Oke, mungkin itu terlalu gampang (untuk sekarang), jadi kita akan kasih lukisan lain…

Bentuk ini menjadi ilusi optik yang sangat sering ditemukan. Karya ini disebut Infinity Nets (hey, we have that now! It’s called the Internet) dan bukan Infinity War. . . *krik*

Tiap jaring menimpa jaring lain, dan sekali lagi, membuat anda pusing.

(2 jam di pameran ini, aku bergoyang ke kanan dan kiri…)

Kali ini, Kusama tidak menggambarkan pola yang konsisten, dan benar-benar hanya menggunakan garis, bentuk, serta warna untuk menyampaikan pikirannya.

Sebuah karya yang mirip dengan Infinity Nets di atas, adalah Infinity Nets lain, kali ini, berdasarkan beberapa sumber dan teks di Museum, terinspirasi dari bisikan laut di Jepang.

Sekali lagi, titik-titik. Kusama terobsesi dengan ini.

Mungkin tidak tampak dengan jelas, tetapi, seiring kita bergerak ke ujung lukisan ini, semakin mudah kita akan menyadari bahwa, jumlah titik lebih banyak, tetapi garis lebih sedikit.

Jika tiap blok yang terpisah dengan garis adalah simbolisasi untuk ombak, dan titik adalah air… Maka, kurasa, Kusama memberikan interpretasi bahwa sebuah ombak akan makin kuat semakin banyaknya ombak itu berisi dengan air, dan semakin erat ikatan antar gelombang yang bersatu untuk membuat ombak tersebut.

Manusia juga seharusnya seperti itu… Semakin banyak jenis dan orang, semakin kuat jika semakin bisa mengapresiasi perbedaan. HA! Selipan filsafat!

Speaking of Manusia… Ini adalah sebuah gambaran dari Kusama… Menggunakan gaya polkadot miliknya, dan juga dengan kawat besi dicat berwarna kuning untuk membelah mata kita lebih lanjut.

Aku tidak menangkap lebih banyak lagi dari karya yang ini… Tetapi, aku akan berikan Reader sebuah tantangan kecil… Bagi yang sukses memecahkan tantangan ini, akan diberikan hadiah berupa tiket akses ke Dikakipelangi.com secara gratis yang memang sudah dari sananya gratis. Jadi ya, lelucon ini garing, aku captain obvious, dan… EHEM, sorry, kembali ke topik utama.

Apa yang reader lihat di lukisan ini? CLUE: Anda sudah melihatnya.

Dan jika ini pameran… Ini adalah hal pertama yang anda lihat di Museum.

Staring into Infinity

Pernahkah reader ke mall dan berdiri di antara dua kaca yang bersebrangan?

Aku sendiri pernah, dan aku masih saja amazed ketika melihat ada jumlah bayangan dari cermin tersebut yang tak terhingga. Aku pertama menyadari itu ketika aku berumur 7 tahun, dan aku masih saja tercengang dan takjub ketika cahaya sedang bermain dengan pikiran kita.

Ini mungkin karya seni yang membuat Kusama paling terkenal.

Memanfaatkan cahaya dan cermin untuk membuat sebuah pantulan yang tidak akan pernah habis.

Aku mau cerita sedikit, bahwa sebagai anak kecil (7-8 tahun) aku sangat senang dengan cahaya, dan awalnya, aku bahkan tidak tahu tentang cahaya dan apa itu. Aku hanya ingat bahwa cahaya itu selalu menyenangkan untuk dimainkan. Jadi, ketika di sekolah aku membuat periskop dengan cermin, aku menggunakan senter kecil dan memanfaatkan periskop tersebut sebagai pemantul cahaya.

Dengan bantuan cermin, aku pernah menggunakan si periskop untuk menyentuh target di belakangku dengan cahaya kecil itu.

Those were good times.

Dan sekarang, aku bertemu dengan karya seni indah ini.

Cahaya masuk ke mata kita dan dipantulkan oleh cermin. Cahaya yang masuk ke mata kita, tetapi, sudah dipantulkan oleh cermin lain sebelum diproses otak. Dan itu terjadi terus menerus, dalam kecepatan cahaya…

Efek tersebut menciptakan sebuah ruang tanpa batas dalam sebuah segi enam dengan luas tidak lebih dari 15 meter.

Kusama sendiri pernah mengalami sebuah saat dalam hidupnya di mana Kusama harus mengintip melalui titik kecil, dan katanya, ia melihat cahaya yang dipantulkan terus menerus. Jadi, dengan jiwa seni miliknya, ia ingin membagi pengalaman tersebut dengan Infinity Room miliknya ini.

Tentunya, pengalaman ini juga dibagi ke feed dan story semua orang yang posting, so… yeah…

Imagination itself nows no bounds.

Coba tebak ada berapa balon berisi lampu di ruangan ini yang benar-benar asli, dan bukan pantulan cermin…

Bingung?

Kuhitung sampai 3 ya… 1, 2, 3.

Ada total, 3 balon berlampu, yang berputar dalam cahaya tanpa batas ini… Ya, ini membuat puyeng.

Ketahui bahwa anda hanya punya waktu 60 detik untuk menikmati, jadi tolong, manfaatkan sebaik mungkin, dan jangan rusak bola lampu di dalam benda tersebut.

Semua titik dan bola yang Kusama buat sepertinya hanya fragmen dari imajinasinya… Dan, sekarang, ada satu aspek lagi dari imajinasi beliau yang belum di eksplor… Tanaman yang berbicara.

Speak to me, Nature…

Alam mendapat seorang messenger berupa Yayoi Kusama, yang mengakui pernah mendengar tanaman berbicara. Sejujurnya, ini mungkin saja sekarang jika kita menemukan alat untuk menerjemahkan keinginan si tanaman (which currently… we only have a prototype). Tetapi, Yayoi mendengar tanaman berbicara saat ia masih anak kecil… Sebelum ada teknologi ini.

Kusama sangat senang dengan Labu (fakta samping, lukisan pertama miliknya, adalah lukisan labu dengan titik-titik polkadot), dan sepertinya, Labu adalah juara 3 di hatinya, sesudah titik dan cermin. Bahkan labu buatan beliau masih harus ada titik-titik polkadot khas Kusama, agar kita tahu itu karya milik siapa πŸ˜‰

Pada penghujung pameran, kita bertemu dengan beberapa patung tanaman buatannya, yang… Ha, hold that thought.

Selain pahatan dan lukisannya yang sesuai dengan tanaman berbintik, Kusama sering memberikan satu dua selipan bentuk atau corak tanaman di lukisan infinity net atau lukisan abstrak miliknya. Gambar di atas ini memiliki corak bunga.

Dan, jika reader bingung, foto merah di atas, sesuai dengan gambar pertama yang reader lihat di artikel ku hari ini… πŸ˜‰ Gotcha! Sukses menebak? Try this then…

 

Lukisan ini memiliki corak warna yang sesuai dengan salah satu patung di atas, dan seharusnya, hanya dalam sekilas mata, pembaca tahu yang mana…

Tampak mirip kah?

Indah kan?

Hehehe…

Renungan.

One Man’s Junk, is Another Man’s Treasure.

Coba bayangkan setiap hari, kamu harus menggunakan kacamata baru dan melihat dunia dari sudut pandang baru. Mungkin kamu akan lebih dari lelah… Tetapi, tentunya, kita harus mau melihat dunia dari sudut pandang orang lain… Jadi, mari kita intip sudut pandang beberapa pengunjung museum…

  • Instagram Slave
    • Bagi para Instagram Slave, mungkin semua karya seni di atas hanyalah sebuah alat untuk mendapatkan like, ataupun follower, atau mungkin story yang bagus, atau DP yang bagus untuk WA (Oke, ngaku dulu dikit, aku ganti DP aku pake foto infinity room, peace). Sebuah karya seni hanya sebatas… momen itu saja, dan hanya alat. Layaknya buruh, atau mesin pabrik yang menghasilkan sebuah produk.
  • Museum Addicts
    • Bagi para orang yang kecanduan museum, atau mungkin, penggiat museum… Mereka melihat dan mampu mengapresiasi tiap pameran. Belum tentu mereka bisa melihat apa arti atau intisari dari tiap karya, tetapi, hampir bisa dipastikan bahwa, seharusnya, mereka bisa respek dan mau ikut menjaga karya museum tersebut. Setiap pameran adalah bagian dari sejarah yang perlu dijaga, layaknya sebuah artifak, atau seorang… umm, aktor? mungkin? Tentunya, untuk dilihat, dan dinikmati.
  • Artists, Dreamers
    • Bagi para seniman dan juga para pemimpi… Mereka akan melihat dan memanfaatkan tiap karya seni untuk tentunya, melakukan kegiatan seni, serta menikmati satu dua hal. Mereka akan senang, terinspirasi, serta mereka juga akan menjaga dan menghormati tiap karya seni. Mereka juga akan berkontemplasi dan menimbang, melihat setiap karya dari banyak sudut pandang. Tiap karya berperan sebagai buku, dan sebagai mentor bagi mereka.
  • Yayoi Kusama
    • Membayangkan semua seni ini dalam mata Kusama… Aku sejujurnya merasa bahwa, bagi Kusama sendiri yang mengakui kegilaannya, tiap karya seni miliknya hanyalah interpretasi dari tiap tindakan dan tiap kali ia melihat sesuatu. Dunia seni miliknya yang unik dan menakjubkan ini hanyalah sebuah perspektif sehari-hari baginya… Then again, who knows?

To think like a Genius makes you crazy, to think like an Idiot makes you confused… Think like yourself, it’s the only way to grow. -Azriel Muhammad

Eh, tapi jangan lupa ya… Bukan berarti kita tidak boleh berpikir dalam sudut pandang orang lain, tetapi jangan maksa saja…

Sampai, lain, waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *