Writing Anxiety: Fakta? Atau Hanya Inkonsistensi?

Writing Anxiety: Fakta? Atau Hanya Inkonsistensi?

Ah, Writing Anxiety, sesuatu yang seringkali dianggap sebagai sesuatu yang real, tapi, aku sejujurnya ga sepenuhnya yakin bahwa writing anxiety ini sesuatu yang… beneran. Kenapa dia kuanggap semacam mitos? Jika dikau kepo, tinggal masuk dan scroll ke bawah.

Inspirasi dari artikel hari ini didapatkan dari jumlahnya search yang cukup banyak dengan keyword “artikel tentang writing anxiety”, yang sampai ke 5 view, purely dengan search keywords yang sama itu. Jadi, kayanya banyak orang yang rada-rada kepo untuk baca-baca tentang ini. Para searcher yang entah dari mana ini, membuka artikel writing style yang aku tulis beberapa waktu yang lalu.

Sebagai penulis, tentunya aku mah seneng-seneng aja ngeliat ada yang baca web-ku. Jadi semoga artikel ini bisa menjawab beberapa hal yang ditanyakan oleh reader… Dan sejujurnya sesudah cukup (atau relatif cukup, meski kadang suka brick, dan ngadat nulisnya) konsisten nulisnya, aku merasa ini saat yang cukup tepat juga untuk menulis artikel tentang ini.

Sesudah introduction, mari kita masuk saja ke artikelnya tanpa ditunda lagi…

Apa itu Writing Anxiety?

Buat yang belum tahu, writing anxiety itu perasaan anxious tentang menulis, yang sejujurnya aku ga tahu kata pas-nya di bahasa Indonesia, karena anxiety itu punya arti yang unik. Jadi, kalau mau mengambil arti kedua kata ini  secara literal, Writing Anxiety itu perasaan yang … yah, mungkin, tegang, minder, takut, dan banyak hal yang kurang pede lainnya. Tetapi, konteksnya itu tentang menulis.

Nah, Writing Anxiety sendiri punya cukup banyak bentuk dan jenis, biasanya juga disertai dengan alasan yang banyak nan ajaib.

Jadi, tentunya, writing anxiety itu tidak seharusnya masuk dalam konteks menulis sebuah buku, ataupun essay. Menulis artikel pun seharusnya tetap dapat dianggap sebagai writing anxiety, dan sebenernya, yang paling membedakan gejala ketegangan itu, ada di alasannya. Bukan alasan dalam artian “excuse” atau ngeles, tetapi alasan dalam artian “reason” yang memang berarti… alasan.

Jadi dari banyaknya alasan, ini yang paling sering kudenger di beberapa tempat dan workshop menulis: FYI, aku belum pernah nulis buku, jadi kayanya ini bakalan dalam konteks menulis artikel/paper. Mungkin kepake di skripsi, tapi entahlah, karena kayanya beberapa alasan ini ga apply di Skripsi…

  • Ga ada waktu
  • Malu, aku takut hasilnya jelek
  • Kecewa pada hasil tulisan diri sendiri
  • Kebiasa nulis artikel, jadi merasa kurang pede dengan paper, atau sebaliknya.
  • Aduh, formatnya gimana ya…

Dan seterusnya… (uhh… iya, males itu alasan, ga kumasukkin dulu)

Nah, sebenernya kalau melihat beberapa reason disini, kadang juga tetap tersirat sih ngeles atau excuse nya, tapi kalau dipikir lagi, bisa aja itu bukan ngeles, dan emang si orang itu merasakan hal yang sama. Yah sebenernya sih kalau mau masuk definisi padatnya banyak hal yang ga cocok untuk masuk dalam Writer’s Anxiety, karena perasaan anxious pas nulis itu… ga sesuai sepenuhnya dengan brick, dan ga mau nulis.

Tapi, kalau liat semua alasan itu, kecuali yang pertama, semuanya cocok dengan writer’s anxiety. Cemas. Anxiety bisa di translate menjadi cemas, dan sejujurnya banyak kecemasan yang unnecessary.

Beberapa Solusi

Bahas psikologi dulu dikit. . . Salah satu cara terbaik untuk menyembuhkan Obsessive Compulsive Disorder, atau OCD adalah dengan mengurangi rasa cemas yang gak perlu. Udah, kalau kamu gak cemas yang tak penting-penting, kamu ga bakalan panik karena kamu lupa nutup gorden, kamu ga bakal marah-marah di mobil karena pintu rumah ga dicetek dua kali, kamu ga bakal make hand sanitizer+tisu basah+tisu kering+air untuk bersih-bersih tangan. Alhasil, banyak hal yang akan dihemat, terutama energi.

Nah, kalau dikaitkan kecemasan real life ini dengan kecemasan menulis, kayanya solusinya belum terlalu jelas… Karena sejujurnya kecemasan ini akan selalu ada. Jadi gimana ngilangin kecemasan ini? Ya… kerjain aja sih. Daripada panik hasilnya gak akan bagus, akan jauh lebih bagus kalau kita udah nyobain dan baru kita tentuin, bagus atau gak-nya. Kan setidaknya ada hasilnya.

Tips ini paling kepake buat Paper, dan sebenernya to some extent, Skripsi. Yes, ini kepake buat skripsi. Yah, kalau kita panik karena hasilnya kurang bagus aja, at least kita bisa mulai dulu, toh entar dosen/pembimbingnya akan segera membantu. Well, of course ngomong gini doang gampang sih, dan sejujurnya aku pun punya semacam brick alias ngadat dengan essay Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika-ku, dan Paper Pramuka-ku… πŸ™ …

Well, tapi kalau mau serius ga salah kan kalau aku bilang bahwa memulai adalah cara menghilangkan kecemasan?

Tapi, sekarang kalau kita mau bicara issue berikutnya, gak ada waktu, apakah benar, gak ada waktu? Welp… Mungkin memang gak ada waktu. Tapi, sebenernya nyicil 15 menit sehari mau nulis artikel pendek, atau nuangin sebersit ide ke paper yang ditunda-tunda itu tetep dianggap nulis lho…

Ada data yang bilang 50% mahasiswa itu stres pas nulis dissertation atau skripsi, dan yeah, itu sedikit masuk akal kalau kamu bingung masukkin tugas dan/atau meluangkan waktu, jadi kamu pusing seratus ribu keliling… dan alhasil, progress-nya lambat… Jadi, ya, dicicil aja lah, toh nyicil nulis mah ga riba kan πŸ™‚ .

Issue lain dari gak ada waktu ini, juga sering pisan terjadi ketika waktunya ada, tapi tidak dimanfaatkan dengan baik, atau malah procrastination, alias ditunda-tunda. Nah, untuk itu sebenernya, bisa di improve dengan manajemen waktu yang lebih baik, tapi itu bukan bahasan hari ini.

Percaya sama aku, dari yang awalnya keluar artikel 1 bulan sekali, sekarang bisa daily ini, kalau udah sering nulis juga pada akhirnya… waktunya bakalan ada kok. Kecuali pas tepar jalan kaki bolak-balik Gunung Puntang, itu semacam pengecualian.

So, Fact or Myth?

Jadi, apakah writer’s anxiety itu sebuah mitos karena inkonsistensi? Atau itu sebuah fakta? Pertama-tama, ketahuilah bahwa Writer’s Anxiety ini sering banget di highlight merely sebagai sebuah istilah nyantai. Dia bukan istilah padat, dia istilah nyantai, dan informal. Jadi, kalau ada yang bilang bahwa ini sebuah fakta atau mitos, sejujurnya riset yang membuat dia sebagai suatu kondisi yang konkrit ini… gak ada.

Terus, kalau dia bukan kondisi konkrit apakah dia mitos? Nah, gak juga sih. Mungkin dia bukan kondisi dan gangguan psikologis konkrit, tapi bukan berarti dia sesuatu yang palsu… Karena brick itu sebenernya sesuatu yang real kok, pasti ada harinya dimana ide itu gak nongol, dan kalau kamu suka nulis artikel, yang ada kamu membuat sebuah serial 4 part yang belum beres juga sampai sekarang tentang lagu-lagunya Greatest Showman…

Oh iya, sekalian promo, part 1, part 2, part 3. Semuanya tinggal di klik linknya, kali lagi punya earworm sama This is Me, atau lagu lain dari album itu.

On topic, kadang brick itu terjadi kok. Dan kadang kita menyiapkan topic backup biar ga pusing pas brick ini. Tapi sebenernya topic backup itu tetep jadi tulisan kan? Iya sih, gak mikir terlalu banyak, tapi tulisannya jadi kan? Ya, jadi ada progress lah.

Tapi belum juga ada conclusion ya… jadi, ini teh mitos atau beneran? Ya… mitos kali? mungkin beneran? Masalah perspektif sih…

Intinya, tahu aja deh… gak menulis itu bukan opsi, mungkin kalau masih SMA kaya aku itu bisa jadi opsi, tapi di tingkat kuliahan itu bukan opsi, dan gak nulis itu mirip kaya… gak nyatet. Seolah-olah gak ada bukti bahwa kita belajar sesuatu, atau ikut suatu acara. Sejujurnya aku ga nyatet kalau ikut acara, tapi biasanya jadi tulisan kok, kan ada buktinya bahwa ada yang masuk lah, remah-remahnya…

Nah, kalau gak nulis itu bukan opsi, cara counter-nya adalah dengan melatih skill nulisnya sendiri. Nulis itu bukan hanya bakat kok, aku yakin nulis itu 40% effort, 40% konsistensi, dan 20% pengalaman. Jadi sebenernya, selama kita mau berusaha, dan konsisten, entar juga pasti ada progress. Progress itu jadi pengalaman, jadi sebenernya kita cukup konsisten, dan terus mau berusaha deh…

In Conclusion

Kayanya sekarang gak terlalu ngegantung ya endingnya…

Yah, conclusionnya cukup singkat aja deh πŸ™‚ . . . . Effort means more than talent. Udah sebenernya cukup segitu aja kayanya ya… Hehehe…

Tambah dikit deh, jadi, andaikan kita mau berusaha, bakat itu hanya semacam penopang utama, tapi tetep kalau kita mau menuangkan effort, maka hasil akhirnya akan tetap optimal. Intinya sih, mau usaha dan konsisten aja… Dan ini berlaku untuk semua hal… πŸ˜€

Semoga artikel hari ini menghibur dan dapat menjawab beberapa pertanyaan tentang Writing Anxiety ya…

(FYI, iya aku ga mau jawab dia itu mitos atau bukan)

Until next time, mungkin besok sih…. BYE!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *