Why Traditional Games Are Better Than… Games

Why Traditional Games Are Better Than… Games

Why… Oh why…

Di abad ke 21, dunia ini makin… Mmm… Makin virtual… As practical as that may be… We’re… Heading in a terrible direction.

Aku sudah pernah membuat tulisan psikologi, dan aku sudah point out berkali-kali seberapa buruknya definisi orang-orang pada game, dan mengapa game-game tradisional/board game jauh lebih bermanfaat daripada game online, atau game-game di HP.

Apparently, saat aku membaca buku yang isinya daftar permainan tradisional, aku makin ngeh, dan konek dengan seberapa merusaknya game-game di HP/PC untuk anak-anak yang belum bisa membedakan baik, buruk, dan masih berkembang.

Di Artikel ini, aku menceritakan tentang kenapa permainan tradisional benar-benar dibutuhkan.

Anyways, please, read the article, and enjoy it!

Disclaimer… Not An Expert… However, Please Do Consider My Opinions.

Physical Activity!

(Meskipun ini berasal dari orang yang olahraganya hanya lari seminggu sekali)

Anyways, Physical Activity itu penting, dan banyak permainan tradisional yang bisa provide untuk kebutuhan physical anak-anak.

Percaya sama aku, anak-anak perlu bergerak. Jika kebutuhan fisik anak tidak dipenuhi… Ya… Well… Cerita aja deh aku ya…

Di Taman Film, (lokasi di belakang Baltos) aku pernah melihat 8 anak laki-laki dari sekolah yang sama. 4 Anak sedang main ucing-ucingan, dan 4 anak lainnya kayanya main Mobile Legends 😅 (ga tahu pasti sih main apa, tapi main game di HP)

Dari tampilannya, udah cukup buat aku ngeh seberapa pentingnya physical activity untuk anak-anak.

Anak-anak yang main ucing-ucingan badannya lebih tinggi dan kurus.

Tapi yang mainan HP, badannya gendut…

Tanpa maksud suudzan atau in any way offend teman-temanku yang main game… Probably anak-anak yang main game itu memang kurang aktivitas fisik, karena entertainment sudah mereka dapatkan dari aktivitas yang tidak terlalu membakar energi.

Sedangkan, anak-anak yang main ucing-ucingan tadi mungkin saja juga main game, tapi masih suka main permainan tradisional atau berolahraga.

Note saja… Image yang tersirat tadi bukan seolah-olah main game membuatmu gendut… Tapi lebih ke… Game mengambil entertainment dari permainan yang anak-anak biasa dapatkan dari olahraga, alhasil aktivitas fisik berkurang.

Human Interaction

Mau seberapapun teknologi akan advance… Tidak akan sampai ke titik hingga manusia tidak akan perlu berinteraksi dengan orang lain. (There’s a theory that we might actually die or at least be very depressed when there’s no one else to give us any human interaction… Sorry Siri, you might be able to give us the best restaurant in town, but you can’t give us any proper human face to face interaction)

Human contact disini bisa jalan ke banyak arah, mulai dari sosialisasi-nya sendiri, sampai ke titik yang lebih complex such as… Cussing, Swearing and sense of shame

Interaction!

Ini nomor 1.

Jangan sampai semua anak di dunia ini megang gadget… Dan mereka sampai ke titik bahwa mereka takut para dunia yang nyata karena mereka tidak biasa dengan real world.

Even worse… Jangan sampai juga mereka tidak rela gadget-nya diambil demi bisa berinteraksi.

Ini gak hanya apply ke anak-anak, considering aku pernah lihat kakak SMA di Café, yang main satu game bareng-bareng (very loudly too), tapi ga ngobrol outside of teriak “WOY! ITU BUNUH DONG!” or… “AYO, KE BAWAH KE BAWAH”.

Permainan Tradisional hampir pasti ada human interaction-nya. For example, main Bekel aja… Kayanya ga likely deh cewe yang mainnya ga ngajak ngobrol sambil main.

Apalagi cewe cerewet kaya Bubi (yang cantik [takut kalau ga bilang gini dimarahain soalnya bilang Bubi cerewet])… Udah diajak ngobrol tentang Yakult dikocok sama manjat gunung Everest kali sambil main Bekelnya. 😂😂😂

Tapi game-game online yang (pemain-pemainnya claim) butuh fokus, mana mau diajak ngobrol outside of the game’s context and situation.

Jadi, game online hanya mempersempit konteks si anak/remaja pas main.

Proper and Polite Interaction…

Interaction itu long term problem urusan game, karena at least anak-anak SMA masih bisa interact outside of the game, cuma pas didalem game… Baru mereka kacau lah…

Tapi, bukan berarti mereka bisa berinteraksi dengan orang-orang secara sopan…

Aku mau confess dulu (probably ga bakal kaget-kaget amat sih)… Aku pernah main game online… Dan umm… Aku jadi sedikit sedih sesudah melihat seberapa messed up online community di game tuh.

Banyak orang keluar kata kasar abis ada kesalahan dikit, dan semakin serius orang main, semakin menakutkan untuk main game-nya.

It appears to me that… Orang-orang jadi lose boundary politeness kalau lagi main game online. Karena mereka ga bisa lihat atau dilihat teammates-nya saat main…

Jadi orang-orang yang mungkin in real life kalem, jadi ga sopan di game, karena mereka lose control dan patience saat melihat kesalahan.

Ini bisa terjadi karena ga adanya visual contact, atau physical contact for that matter.

Kenapa? Seperti aku bilang di atas… Sight dan touch orang lain itu soothing. Kalau ga ada yang bisa soothe kita pas kesel maka… Ya ujungnya gitu deh.

Bukan cuma itu sih, orang-orang yang tadinya kalem di real life bisa malahan kebawa thoughts mereka di game, dan jadi ga kalem.

Pretty much that.

Nah, tapi kalau kita main… Misalnya, main Benteng-bentengan deh… Kalau ada yang ketangkep sama orang lain, masa sesama teammate teriak-teriak.

Yang ada malahan berusaha sebaik mungkin buat rescue si teammate biar ga ketangkep.

Kenapa? Orang-orang di real life bisa lebih ngeh bahwa game kaya gini tuh… A team game.

Kalau ga kerjasama, mana mau menang.

Aku kayanya jarang banget denger conflict atau misbehaviour dari orang-orang yang main source of entertainment-nya real life games.

(Okay, there are cases of troubled kids, but sorry, excluding them, because they usually have other problems, maybe in their families, or teenager-y relationships I loathe)

Sense of Humour! (And/or shame)

Pas baca buku tersebut, aku inget permainan (side note: Aku sebel ga bisa nyebut game karena entar kena mispersepsi 😅) namanya Lu Lu Cina Buta.

Which sekarang aku inget seberapa rasis judul permainannya, tapi ya mau gimana lagi atuh 😅

Anyways, di permainan itu, ada satu anak yang harus mencari anak lainnya dengan meraba-raba dan nebak namanya dengan blindfold.

Aku jadi inget aku kayanya pernah main permainan seperti ini dulu pas Masih sekolah formal… (Tapi namanya bukan itu gara-gara… Racism I guess)

Aku inget kita ngetawain orang-orang yang gagal nebak dengan benar. (I’ll have to admit it’s funny)

Nah… di situasi kaya gini, orang-orang yang diketawain (kemungkinan) ga bakalan tersinggung dan akan take it as a joke instead.

Which, I don’t think the same applies for online games.

Tadi aku udah nyebut ya, seberapa cruel orang-orang bisa di cyber environment (I refuse to call it as such, but ah well)…

Nah, even between friends… akan ada kesimpulan orang meledak dan marah-marah ga jelas for the sake of a game.

That’s just wrong.

Banyak orang ga bisa bedain dan tahu bahwa fungsinya game in the first place adalah… FOR FUN! Tapi Banyak yang take games too seriously and end up ruining someone’s entertainment source.

Kalau di permainan tradisional (or at least… You know, actual games), karena ada soothe dan calmness dari interaksi dengan orang lainnya… People won’t take it too seriously… Dan orang-orang bakalan bisa take it as a joke.

Not the same applies on online games…

A minor break…

Kita kayanya sedikit off topic.

Aku malah point out downside online games, tapi ga highlight good points dari traditional games-nya sendiri…

Jadi, a bit change of direction here… (Sambil ngingetin)

Carry on

Shame on you!

Dear semua orang yang pernah main ucing-ucingan…

Pasti pernah kan ngaku kalau misalnya… Main ucing-ucingan… Terus kepegang, tapi ga mau ngaku…

Ini sebenarnya sangat penting. Curang, atau bohong saat main game itu penting banget.

Kenapa? Percaya atau gak… Kita (sebagai anak-anak) menganggap main sebagai kerja, dan anak-anak take playtime… Very seriously.

According to my favourite developmental (okay, he’s famous too) psychologist… Jean Piaget…

Itu tidak apa-apa kalau anak-anak curang. Karena entar juga mereka kena moral punishment, misalnya, ga diizinin main lagi, atau banyak deh.

Pokoknya, chances are, playtime akan lead to some form of conflict karena ada yang curang… Biarkan mereka resolve conflict sendiri dong… Kalau di intervensi terus, mereka ga bakal bisa solve conflict.

Nah, emangnya kalau main programmed game bisa dicurangin?

Sebagai orang yang emang ngerti programming, bugs yang bisa di exploit oleh pemain akan berusaha ditutup atuh… Lagian, most games emang ga bisa dicurangin atau du modif rule-nya. Karena indirectly… game-game memainkan diri mereka (or jalan) sendiri.

In Conclusion…

So… Umm… Remind me again why we’re playing online (or programmed) games? Honestly I have no clue.

I don’t see much purpose or objective in it.

Ya… Sebenernya ga salah sih, tapi kan… 😅 Banyak alternatif lain.

Jadi, permainan tradisional, seperti ucing-ucingan, benteng-bentengan, Gobak Sodor, Kasti dan lain-lain, sama entertainingnya kok untuk anak-anak. Tapi kan mainnya ga mungkin sendiri…

Jadi, sebagai orang tua harus bertanggung jawab dan mau dong ngeluangin waktu buat nemenin anaknya main diluar dong. (Or you know, play board games… It’s a good alternative if you don’t wanna play outside)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *