What Is Consciousness? – Kuliah Umum ITB #3

What Is Consciousness? – Kuliah Umum ITB #3

Pada tulisan ketiga tentang kuliah umum di ITB, aku menemukan 3 hal baru.

  1. Aku akan memberikan angka di judul tulisannya.
  2. Aku menemukan bahwa materi terakhir di siklus pertama (yang aku lewatkan dua pertemuan awalnya) pernah kupelajari dari sudut pandang filsafat selama 12 pertemuan.
  3. Aku baru mengetahui bahwa orang yang terbiasa mempelajari hal secara empirik, akan kebingungan jika bertemu dengan subyek yang butuh banyak sekali khayalan, tetapi tidak sebaliknya.

Pemateri kita kali ini berasal dari Jakarta, DR. Agnes, seorang Doktor di bidang Psikologi.

Kesadaran Filosofis.

Sekali lagi. Kuliah Sains kali ini telah mengambil subjek yang sangat abstrak dan mengubahnya menjadi subyek yang empirik. Jika sebelumnya Prof. Djoko dapat menjawab pertanyaan filosofis “What Makes Us Human?” dengan sangat efisien menggunakan ilmu empirik, DR. Agnes bertemu dengan pertanyaan yang lebih sulit dijawab secara empirik, karena bahkan secara filosofis jawabannya tidak ada.

Selama 2 millennia, bahkan sebelum kalendar milik Caesar diresmikan dan digunakan 2019 tahun yang lalu, pertanyaan yang sama telah ditanyakan oleh Plato, Aristotle, dan nama-nama Yunani lainnya.

Pada abad-abad 15, 16, 17 ada Benedictus Spinoza, Thomas Aquinas, dan banyak filsuf berbasis Gereja Katolik lainnya memperdebatkan hal tersebut. Oh, juga ada Descartes, jangan lupakan dia.

Pada akhir hari, jawabannya bahkan belum tampak akan muncul.

Kabar baiknya, kita bisa menjawab pertanyaan mengenai kesadaran secara empirik lebih mudah daripada secara filosofis. Sejujurnya, ini adalah momen-momen di mana aku setengah menyesal memutuskan untuk belajar filsafat karena terlanjur berpikir rumit bin ribet bin ajaib tetapi tidak melihat secara faktual terlebih dahulu.

  1. Agnes menjelaskan kesadaran sebagai bagian dari proses otak. Memang iya, penjelasannya tidak seefisien dan praktis kuliah pada minggu sebelumnya. Tetapi, mengingat bahwa sudah ada filsuf yang memperdebatkan ini selama 3000 tahun, aku rasa ini jawaban yang sempurna dan sederhana.

Namun melihat kanan dan kiri ke sesama peserta kuliah, aku menebak bahwa mereka tidak bisa menerima jawaban yang agak kurang empirik semudah aku.

Tapi ya, itu hanya firasat, aku tidak punya bukti empirik.

Respon, Memori, Kesadaran.

Kesadaran adalah sebuah “hub” yang menerima dan terdiri dari bagian-bagian sebuah proses yang berjalan di otak kita. Kesadaran terpisah dari Wakefulness (berapa persen dari proses di otak orang tersebut berjalan) serta Awareness (seberapa sadar orang tersebut akan sesuatu)

Dari sini, yang menentukan Awareness dan Wakefulness ada di Respon seseorang.

Respon menentukan seberapa aware seseorang akan suatu kejadian. Jika orang tersebut tidak merespon, berarti mereka tidak awas akan kejadian itu terjadi. Pesan sponsor: Jika anda ingin meminta tolong tentang sesuatu, pastikan orang yang anda minta tolong itu menjawab “IYA” atau “Sebentar” atau semacamnya. Berarti mereka memang benar-benar sadar.

Respon tumbuh menjadi pengalaman yang terdiri dari ingatan dan sensasi akan suatu kejadian.

Dari hal yang masih cukup empirikal ini, baru kita mulai mengkhayal. Aku tidak lihat kanan kiri tetapi aku sendiri yang sudah biasa mengkhayal kebingungan.

Statement yang memulai proses mengkhayal ini adalah “Pengalaman Subjektif, berbeda dengan proses fisikal.” Contoh pengalaman subjektif. ‘Kuliah hari ini menarik.’, ‘Aku tidak bisa belajar jika aku tidak menggunakan bantal leher’, ‘Aku tidak suka gudeg yang dibeli di jalan Mangga.’… Contoh proses fisikal. ‘Ketika aku kuliah, aku duduk di kursi berwarna merah.’ ‘Aku belajar dari pukul 12.00 siang.’, ‘Gudeg yang dibeli di jalan Mangga rasanya manis.’

Mungkin membedakannya bukan hal yang mudah, tetapi keduanya adalah hal yang memang berbeda. Agar tidak bingung, coba pikirkan dalam sudut pandang bahwa salah satu menggunakan opini, sedangkan yang lain membutuhkan fakta.

Kesadaran kita menganggap pengalaman subjektif dan proses fisikal sebagai dua hal berbeda.

British Detective.

Sebelum masuk ke bagian yang agak berbau Sherlock Holmes (terutama dalam membaca dan mengatur kesadaran…) ada sebuah iklan yang menarik.

Iklan ini menceritakan ada seorang pemilik rumah yang terbunuh, dan rumahnya sedang diinvestigasi seorang detektif, jelas dari Inggris sesudah mendengar logat. 3 orang menjadi tersangka dan masing-masing ditanyakan sebuah pertanyaan.

Dari proses menanyakan pertanyaan hingga pertanyaan tersebut dijawab oleh 3 tersangka (koki, maid, dan butler) ada lebih dari 20 hal yang berubah di adegan. Namun, adegan tersebut baru ditunjukkan berubah pada akhir video.

Aku sukses menyadari 7 dari 29 (kalau tidak salah ada 29) jadi… hore?

Oh iya, iklan ini adalah iklan layanan masyarakat dari London ya… Untuk meminta pengemudi mobil lebih berhati-hati dan lebih awas akan orang-orang yang menaiki sepeda.

Sekilas iklan ini mirip dengan eksperimen di mana peserta eksperimen diminta mengingat warna titik di tengah layar, dan catat berapa kali titik tersebut berubah warna, serta menjadi warna apa saja. Ketika ditanyakan, mayoritas orang dapat menjawab perubahan warna dengan benar, jumlahnya juga benar, tetapi mereka tidak menyadari bahwa ada gorilla yang muncul di video yang sama, dan gorilla tersebut muncul selama 10 detik.

Justru orang-orang yang menyadari adanya gorilla tersebut (minoritas orang) adalah orang-orang yang tidak menjawab perubahan warna dengan benar.

Intinya, “We don’t notice things that we are not looking for.”

Sistem Kesadaran.

Pada akhir hari… Sedikit konyol bahwa kita memiliki setidaknya 5 indra, namun kita tidak bisa memanfaatkan indra tersebut dengan maksimal.

  1. Agnes memberikan sebuah gambar yang menjelaskan secara imajinatif-empirik (gabungan keduanya, tetapi tidak lengkap jika tidak ada keduanya) bagaimana cara kita memproses sesuatu.

Gambaran tersebut agak begitu rumit untuk diingat, serta digambarkan ulang di sini, tetapi pesan utamanya adalah… “Kesadaran kita ada batasnya.”

Jika kesadaran kita adalah sebuah workspace, maka tiap indra, syaraf, dan perasa yang berfungsi adalah alat berbeda, untuk memproses hal-hal secara berbeda.

Sama seperti di dunia nyata, tidak ada manusia yang bisa menggunakan lebih dari satu alat secara bersamaan tanpa mengurangi efektivitas pekerjaan tersebut.

Ini kembali ke pesan Holmesian yang ada di tulisanku tentang berpikir seperti Sherlock… Kita harus secara sadar memerintah otak kita untuk mengerjakan suatu tugas jika ingin mengerjakannya dengan perhatian yang penuh.

Ada penjelasannya secara Neurobiologis ternyata. Jika otak kita menerima sebuah sensasi atau impuls, (terutama sensasi atau impuls yang minor) kita harus secara sadar memerintahkan impuls tersebut untuk mendorongnya ke ujung otak dan menerima informasinya secara utuh.

Jika impuls tersebut tidak didorong dan tidak diproses oleh semua alat yang ada di workspace kita, maka impuls tersebut tidak dibaca, seolah-olah tidak pernah terjadi.

Kesimpulan

Kesimpulan tulisan ini adalah… Berpikir seperti Sherlock?

Tidak juga sih. Pada akhir presentasi (yang sayangnya sedikit tergesa-gesa karena kurang waktu) DR. Agnes memberikan sebuah pernyataan bahwa individualitas dan identitas adalah bagian dari kesadaran tersebut.

Orang yang benar-benar sadar akan dirinya memiliki identitas yang sudah utuh. Jadi, jika anda masih melakukan plagiat, copy-paste, nyolong trend, dan semacamnya, anda belum sadar atau kenal akan diri anda sendiri…

Post Script.

Jika anda bertanya padaku apa bagian yang paling menyenangkan pada kuliah hari ini. Aku harus jujur, itu ada di muka-muka Kakak-kakak mahasiswa yang juga ikut kuliah umum. Sesudah terbiasa belajar empirik selama mereka sekolah, aku punya firasat mereka sedikit kebingungan ketika bertemu dengan informasi yang ada khayalan seperti ini.

Pak Hendra, penyelenggara/pencetus kuliah umum Sains ini khusus memberikan pernyataan jika masih ada yang kebingungan, itu karena ilmu mengenai kesadaran ini sendiri juga masih belum benar-benar jelas dan belum cukup empirik untuk bisa dimengerti secara faktual.

Toh, kesadaran merupakan sebuah pertanyaan…

Post Post Script.

Aku ada satu tulisan lagi tentang kuliah umum, dua minggu yang lalu, tanggal 15 Oktober. Tapi err, ada permintaan dari Prof. Hendra untuk tunda pengeluaran tulisan tersebut. Jadi, aku akan mengeluarkan tulisan kuliah tanggal 22 Oktober (mungkin hari Senin atau Selasa) sebelum tulisan tanggal 15.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *