War of Art.

War of Art.

Sebagian besar orang seharusnya tahu mengenai buku karya tulis Sun Tzu dengan judul Art of War…

Aku disini bukan untuk menceritakan mengenai seni peperangan, melainkan cara beberapa orang pada zamannya filsuf Tiongkok, berkompetisi dengan menggunakan seni. Kompetisi dari seni yang dilakukan orang-orang pada Tiongkok jaman baheula cukup menarik.

Sebenarnya ini adalah kilas balik kuliah kedua kelas Filsafat Unpar. 🙂

Temanya kali ini adalah Filsafat Tiongkok dan Filsafat India.

So, let us begin!

Pemateri: Greysia Susilo, seorang dosen dari Universitas Multimedia Nusantara, yang secara mayoritas mempelajari seni Tiongkok secara otodidak sebagai hobi.

Themes

Ibu Greysia Susilo membelah cara seseorang mempersepsi seni ke tiga jenis sudut pandang, secara bentuk, secara konten, dan secara konteks.

Bentuk dibedakan bukan hanya dari bentuk karya seni (yang hampir pasti berbeda), tetapi juga dari bahan, keahlian yang dibutuhkan, dan dari hasil akhir. Menurutku, diantara ketiga topik lain, ini yang paling tidak menarik. Ya, mungkin karena aku tidak begitu suka dengan pembahasan seni secara teknis, tetapi lebih ke secara penggunaan.

Konten, jika kita berbicara konten, biasanya akan merujuk ke apa yang seniman itu ingin tunjukkan ke orang lain. Topik konten ini juga bisa merujuk ke apa yang orang-orang tangkap dari seniman tersebut. Sebagai contoh, ada dua lukisan yang menceritakan tentang pelajaran musik yang dilukis oleh Henri Matisse memiliki konten yang sama, mengenai pelajaran musik. Konteks kedua hal tersebut cukup berbeda tetapi.

Jika konten membahas apa yang orang-orang lihat dan apa yang seniman ingin tunjukkan dari suatu karya, konteks lebih merujuk ke fungsi, dan juga tujuan dibuatnya karya itu. Sebagai contoh, dua patung bisa saja memiliki bentuk dan konten yang sama, tetapi yang satu ditujukan sebagai karya untuk memuaskan diri sendiri, dan yang lain ditujukan untuk membuat orang lain merasa senang… Perbedaan konteks sederhana seperti ini bisa merubah karya dan proses secara keseluruhan.

Hari ini, aku akan lebih membahas konteks, sedikit banyak konten, dan hampir tidak ada pembahasan mengenai bentuk… Cheerios.

The Social War

Jadi, ketika kita ingin membahas mengenai “perang” kita perlu sedikit definisikan perang sendiri. Perang disini bisa kita anggap sebagai suatu bentuk berkompetisi dan berlomba-lomba untuk satu sama lain, dan seperti yang kalian akan lihat, ini akan menjadi suatu kilas balik untuk status zaman sekarang…

Kerajaan

Membahas konten dari yang dilakukan oleh orang-orang golongan pertama akan tidak jauh dari kemewahan. Ku yakin ada sebagian pembaca yang mungkin sudah pernah menonton Crazy Rich Asians… Aku berada disini untuk mengingatkan bahwa orang dengan darah Tionghoa yang amat-amat kaya sudah berada sejak zaman dahulu…

Para petinggi kerajaan sering sekali berlomba-lomba untuk menyewa ahli (sebenarnya istilah yang Ibu Greysia Susilo gunakan adalah tukang, tapi kayanya kurang wah gitu… Silahkan panggil sesuka pembaca) paling hip untuk membuat suatu hal yang tidak diperlukan, tapi hanya bertujuan untuk membuang uang, karena mereka punya terlalu banyak…

Biasanya hal tidak diperlukan ini cukup bagus, dan mewah. Tidak jarang ada sebuah vas yang dihiasi dengan batu-batu giok, mungkin pilar lebay ala sosialita, dan lukisan yang wah, wah, dan wah!

Tujuan para bangsawan melakukan ini? Ketika ada bangsawan lain datang berkunjung, mereka bisa melihat banyak sekali hal-hal mewah yang tersedia, dan mendapatkan pengakuan!

Berbicara mengenai konteks dari suatu karya, tidak akan jauh hasilnya dari…

  1. Buang-buang duit
  2. Tidak punya kerjaan
  3. Pamer

Mungkin ketiganya bisa terjadi di saat yang sama, dan aku sejujurnya tidak terkejut mengingat seberapa kaya raya raja dan bangsawan Tiongkok pada zaman tersebut.

Nah, kalau kita ingin memberi konten, kita perlu melihat kedua belah pihak yang ikut terlibat dalam proses pengerjaan suatu karya seni…

  1. Tukang/Ahli
  2. Klien Bangsawan/Raja

Tukang/Ahli

Ahli akan melakukan apapun yang klien mereka inginkan karena mereka memang dibayar untuk pekerjaan tersebut. Seorang ahli tidak boleh memberikan terlalu banyak improvisasi, (kalaupun diizinkan) dan akan bekerja seratus persen atas perintah klien.

Yang seorang ahli boleh lakukan dalam memberikan improvisasi hanyalah memberikan cap tanda bahwa dia-lah yang membuat karya tersebut. Selain itu, hampir tidak ada bentuk apapun yang boleh diubah oleh Ahli-ahli tersebut.

Karya mereka hampir tidak pernah berubah, karena pada akhirnya orang-orang menginginkan hal yang sama, hanya mungkin perbedaannya, jika seorang bangsawan memiliki vas dengan 25 batu giok, maka mentri akan ingin vas dengan 50 batu giok, dan sang raja ingin vas ukuran dua kali lipat lebih besar dengan 100 batu giok. Pada dasarnya, karya mereka cenderung repetitif, karena hanya bertujuan mengisi keinginan para bangsawan yang menginginkan sesuatu yang teman mereka sudah punya.

Pada bentuk dasarnya, template (ahli-ahli ini terdengar seperti tukang print 😀 ) yang mereka berikan sudah memiliki tujuan masing-masing, ada yang bertujuan membuat orang merasa tersentuh, ada yang bertujuan membuat orang merasa takjub, dan ada juga yang bertujuan membuat orang lain merasa iri. Silahkan tebak yang mana yang paling laku, karena aku punya tebakan, dan itu hanya opini pribadi.

Ya, jadi, jika seorang ahli hanya menyediakan template, dan seluruh bahan serta hal dikendalikan oleh klien, maka… Apa yang klien inginkan?

Klien sang Ahli

Haha…

Seperti aku sudah sebut beberapa kali, tujuan klien ini melakukan sesuatu adalah mengisi kehampaan, dan kebosanan karena mereka tidak perlu melakukan apa-apa… (Andaikan kalian lupa, banyak rakyat tiongkok kelaparan, tapi ya, siapa yang peduli) Jadi, sesudah beres perang dan mengambil koleksi selir, dan uang… Mereka kembali berperang dan berlomba-lomba berusaha pamer ke orang lain…

Kira-kira dari tujuan itu, apa jenis karya yang mereka inginkan?

Oh iya, mereka ingin membuat orang lain merasa iri dan terpukau oleh koleksi milik mereka. Ini berarti sebenarnya yang mereka inginkan adalah yang orang lain inginkan bukan?

Kalau kamu tak bisa membuat benda lebih mewah, maka buat benda lebih banyak… Tapi tetap, hanya bangsawan yang cukup kaya yang bisa menciptakan wow factor paling tinggi untuk bangsawan lain…

Ada pihak ketiga yang ikut mengendalikan tren benda… Yaitu, sesama bangsawan… Namun, yang non-klien…

Teman-teman…

Rumput tetangga selalu lebih hijau… Kecuali jika kamu merasa puas tentunya. Sayangnya, dengan begitu banyak karya seni yang dimanfaatkan untuk pamer, tidak akan ada rasa puas. Begitu kamu memiliki patung batu giok seberat 4 kilogram, tetanggamu yang sesama menteri, memiliki patung batu giok dengan berat 5 kilogram. Jadi, kamu langsung mencari hal lain, seperti misalnya, meja dari emas, dihiasi (sekali lagi) batu giok.

Jadi, jika kita berbicara pengusaha terkaya di Tiongkok, kita harus melihat para ahli yang cukup pintar untuk meninggalkan brand miliknya di tiap rumah bangsawan, dan langsung mendapat pesanan sesudah pesanan terakhir miliknya beres…

Hampir bisa dipastikan, banyak sekali uang kerajaan turun ke para ahli ini, karena begitu mereka memenangkan sebuah perang dan mengambil “hadiah” yang banyak, hampir pasti uang yang mereka hasilkan digunakan untuk ini…

Seni Kerajaan @ Masa Kini

Mari kita ibaratkan rumah dimana seni kerajaan ini sebagai… panggung. Zaman dahulu, yang memiliki akses untuk unjuk gigi di panggung mereka masing-masing hanyalah raja dan bangsawan. Banyak sekali orang rela membuang cukup banyak sumber daya mereka hanya untuk memamerkan sesuatu. Kabar baiknya, zaman dahulu kala, istana yang bagus dibutuhkan untuk politik…

Istana yang bagus adalah tanda kerajaan yang makmur dan aman. Jika istanamu tidak bagus ketika raja negeri sebrang sedang berkunjung… Maka kunjungan berikutnya dari sang raja adalah sebuah serangan.

Sekarang, mari kita ibaratkan akun sosmed sebagai panggung 😛 . Sekarang, hampir semua orang memiliki akses, sumber daya, dan hak untuk memamerkan sesuatu yang mereka inginkan demi sebuah Like atau Pengikut, layaknya raja memamerkan perhiasan, serta furnitur di rumahnya untuk mendapat perhatian politikus lain…

Seni Kerajaan di Tiongkok pada zaman dahulu telah memberikan sisa-sisa dari peradabannya untuk membuang sumber daya (sumber daya bukan hanya uang, bisa waktu, bisa energi) demi mendapat tanda cap diakui oleh teman-temannya.

Sastra…

Mari kutunjukkan kebalikan dari Seni Kerajaan dengan Seni Sastrawan sekarang juga…

Seni Kerajaan menginginkan hiasan yang sebanyak-banyak-banyak mungkin… dan Seni Sastrawan menginginkan keindahan maksimal, dengan usaha paling minimal. Menurut beberapa sastrawan yang bergelut di dunia seni Tiongkok, semakin banyak kamu berusaha untuk memperindah sesuatu hanya akan berujung ke kamu mengambil makna dari seni tersebut.

Sastrawan di Tiongkok juga harus “berperang” dengan sesama calon sastrawan ketika ingin mengambil sebuah ujian, dan masuk ke kelas buffer antara rakyat dengan bangsawan ini.

Jika kamu ingin menjadi seorang bangsawan tapi tidak memiliki sedikitpun darah biru yang mengalir di tubuhmu, maka kamu perlu perkuat tanganmu, dan siap untuk melukis, memainkan alat musik, dan menulis sampai kamu mabuk.

Ibu Greysia bercerita bahwa jika kamu ingin menjadi seorang bangsawan yang naik status dari rakyat jelata, kurang lebih ini yang perlu kamu lakukan…

  • Berlatih dan berusahalah meminta sebuah guru untuk mengajarkanmu ilmu miliknya
  • Sesudah berlatih cukup sulit… Kamu masih harus membuktikan dirimu di mata sang guru agar guru tersebut merasa bahwa kamu bisa dikirimkan olehnya untuk melewati ujian.
    • Seseorang yang berbakat akan butuh waktu sekitar 2 minggu untuk menggambar satu huruf dengan teknik sempurna, dan usaha paling minim.
    • Untuk melukis pemandangan, yang merupakan sebagian dari ujian… Kamu harus melukis setiap aspek (misalnya, matahari, gunung, pohon, sungai, dll) secara terpisah, baru menyatukannya. Tiap aspek membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu untuk dipelajari secara maksimum.
  • Jika guru sudah memilihmu, masih ada ujian sulit untuk kamu lewati. Hanya beberapa yang memiliki nilai terbaik akan dipilih sebagai sastrawan (atau istilahnya, The Mandarin. Jadi sepertinya musuh Iron Man kita ini sebenarnya seorang sastrawan Tiongkok).
    • Andaikan kamu tidak lulus, kamu bisa berlatih pada gurumu dan menjadi guru lain, menggantikan sang guru ketika dia sudah tiada. (ini yang Kong Fu Zi lakukan. Atau Confucius jika kamu bingung)
    • Perlu diketahui bahwa Confucius, Mencius, dan semua latinisasi dari nama-nama china ini adalah guru, dan bukan bangsawan. Mereka lebih tenar di zaman sekarang atas ajaran milik mereka.
  • Kamu hanya sekitar 2-3 langkah lagi hingga bisa menjadi seorang bangsawan. Untuk melakukan itu, diantara puluhan sastrawan lainnya, kamu harus menjadi satu dari 3 sastrawan terbaik, dan HORE! Kamu lolos

Jika kita ingin menanyakan perang-nya dimana… Tidak perlu ditanyakan sepertinya.

Kriteria Seni

Number 1: Jangan pernah overkill (kata ini belum ada di bahasa indonesia) sedikit pun. Hanya sepeser saja kamu lebih memberikan suatu guratan, maka kamu sudah gagal.

Number 2: Jangan pernah lakukan kegiatan melukis APALAGI menulis jika kamu sedang merasa kesal, ini akan merubah hasil, dan membuatmu melupakan nomor 1.

Number 3: Jangan pernah menggambarkan manusia dalam sebuah pemandangan. Alam akan sama-sama saja baik ada kita atau tidak, dan kita akan menjadi dekorasi yang tidak perlu. (Heidegger terinspirasi dari filsafat Tiongkok, dan sesudah mengetahui ini… aku tak terkejut)

Number 4: Jangan pernah biarkan godaan dunia materi menghalangi keabstrakan segala sesuatu.

Number 5: Jangan pernah berusaha mengimitasi bentuk alam sendiri. Tangkap alam dalam pikiranmu, dan lukislah interpretasimu yang paling abstrak.

Waw! Ini sangat-sangat sederhana. Incredible. Ini seni Tiongkok paling kompleks, dan hasilnya pun cenderung paling bagus. Selain itu, Bu Greysia memang menyatakan bahwa beberapa hal ini membuat seni Tiongkok ini sulit untuk dilakukan tanpa adanya seorang guru.

Hasil Seni

  • Cenderung amat abstrak
  • Sangat sederhana dan efisien
    • Orang Tiongkok yang tidak terlalu kaya tidak ingin membuang terlalu banyak sumber daya, dan segala sesuatu jadi amat sangat efisien..
  • Seni amat sangat presisi dan indah

Seluruh effort yang dituangkan untuk tidak berlebihan dalam berkarya menciptakan seni yang presisi seperti hasil pekerjaan seorang robot, namun indah dan memiliki sentuhan manusia juga di dalamnya.

Seperti anda bisa lihat, ini adalah lukisan yang dibuat oleh sastrawan Tiongkok. Warnanya sangat minimum, bentuk tidak dilebih-;ebihkan, dan tidak ada guratan tidak perlu. Perbedaannya memang ada penggunaan manusia di sini, namun ukuran mereka dibuat amat sangat kecil, karena kali ini, mereka memang membuat perbedaan, dan bukan hanya sebuah hiasan.

Seni Sastrawan @ Masa Kini

Seperti yang kalian bisa tampak… Karir seseorang terbentuk berdasarkan ujian. Setidaknya pada zaman dahulu kala ini… Ujiannya bersifat kualitatif.

Ujian kali ini bersifat kuantitatif, dan seharusnya untuk parameter saja, bukan sebagai jaminan kesuksesan. (tidak ada satupun sastrawan yang melarat… terutama mengingat bangsawan mungkin dibunuh saat perang, sastrawan tidak diburu ketika sedang terjadi peperangan)

Seni Rakyat

Ini akan aku jelaskan dengan efisiensi…

Jika seni sastrawan mempromosikan abstraksi, dan seni kerajaan mempromosikan hiasan, seni rakyat mempromosikan energi yang dibuat dalam sebuah karya.

Seni Rakyat dimanfaatkan sebagai bentuk lain kamera pada zamannya, dan biasanya menggambarkan suatu momen kebahagiaan, seperti pernikahan.

Seni Rakyat memiliki sedikit hiasan, dan dilakukan dengan happy agar ada aura positif yang orang-orang tangkap dari lukisan tersebut.

Kesimpulan

Sepertinya sampai hari ini saja, suara gema dari Tiongkok zaman baheula ini masih terdengar…

Banyak orang berusaha memanfaatkan panggung yang mereka gunakan demi suatu pengakuan dari teman-temannya… Ini sedikit mengecewakan. Lagak bangsawan seperti ini sudah terlalu sering tercipta…

Mari kita buat diri kita lebih baik tiap harinya, dan jangan terlalu mencari pengakuan… Merasa bahagialah dengan yang kita punya.

Only The Wisest and The Stupidest Of Man Do Not Try To Change. -Confucius

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *