War Tolerance

War Tolerance

Minggu lalu aku membaca buku yang menceritakan tentang panglima perang dan hal paling impressive adalah panglima-panglima muslim saat Perang Salib… 

Kenapa… Well, coba dipikir dulu deh sebenarnya, apa hubungannya tolerance sama… Perang? Well, all that ada di artikel ini, dan mungkin ini terdengar sedikit unexpected, tapi di artikel ini aku akan membahas Shalahuddin Al Ayubi, Khalid Bin Walid dan Muhammad Al Fatih.

Ketiga ahli strategi dan panglima perang itu memiliki taktik dan metode conquering yang berbeda, tapi di buku yang kubaca, mereka bertiga share satu hal yang sama… 

Mereka mentolerir agama lain di kota-kota yang mereka taklukkan.

Khalid Bin Walid

Khalid Bin Walid sudah achieve banyak hal sepanjang hidupnya, dan, meski kemampuan geografi dan mengingat tempatku yang lemah, (jadi aku tidak ingat, dan karena aku tidak ingin copas, aku juga lupa Khalid sudah conquer territory apa saja) 

Untungnya, aku masih ingat beberapa taktik yang Khalid gunakan. Salah satu taktik yang Khalid gunakan melawan orang Romawi adalah meski pasukan Khalid kalah sekitar 9000 orang.

Taktik yang digunakan Khalid adalah dengan menukar-nukar posisi tentara, yang tadinya dikanan bertukar ke kiri, dan yang tadinya di depan bertukar ke belakang, agar muka yang prajurit Romawi lihat, selalu baru, dan menurut Sun Tzu juga, mental games seperti ini, bisa memberi kamu numbers advantage yang sangat jauh.

Selain itu, Khalid juga pernah menjebak tentara Romawi dengan cara “menipu” pasukan Romawinya untuk maju terus, melewati barisan Pasukan Islam yang panjang, tetapi hanya selapis. Ternyata dengan formasi itu, Pasukan Romawi ini malah dilingkari oleh Pasukan Islam yang “menghabisi” stock pasukan Romawi.

Well, meskipun taktik yang Khalid pakai memang menarik dan bagus, tapi yang membuat aku paling amazed adalah toleransi Khalid kepada agama lain.

Meskipun sudah conquer cukup banyak daerah, Khalid tidak pernah menghukum satupun orang yang memiliki perbedaan agama, Khalid masih memberi izin untuk orang beragama berbeda diam di kota yang ia tetapi, tanpa membunuhnya, asalkan prajurit yang berasal dari agama lain wajib meninggalkan daerah yang Khalid diami.

Selain prajurit, tidak ada catatan mengenai Khalid yang menunjukkan bahwa dia bersikap kejam atau bahkan hanya menghukum orang-orang berbeda agama.

Jadi, meskipun Khalid terkenal oleh taktiknya, aku lebih percaya bahwa dia terkenal karena dia percaya dalam coexistence dan toleransi.

Shalahuddin Al Ayubi

Well, I believe everyone knows this guy. At least I hope you do. 

Shalahuddin Al Ayubi adalah pendiri kota Istanbul, atau dulu lebih dikenal dengan kata Islam Bul, or Konstantinopel, sebelum diubah menjadi Istanbul.

Shalahuddin secara sukses mengambil alih Konstantinopel dari pemegang sebelumnya. Metode yang ia gunakan cukup simpel. Shalahuddin mengontrol Konstantinopel with the recipe of brute force, bravery, and an additional dose of… Tolerance. (Ya, ini lagi)

Konstantinopel merupakan kota yang cukup besar di Zaman Perang Salib. Lokasinya juga cukup strategis, jadi pihak lawan Shalahuddin (Para orang Katolik dan Kristen) menjaganya dengan cukup ketat. Namun, Shalahuddin tetap sukses merebutnya.

In the process of getting the city of Constantinople, Shalahuddin mengubah kotanya secara drastis, seperti membuatnya jadi pusat pembelajaran agama, dan juga membuat beberapa masjid besar. Selain itu, sama seperti Khalid, Shalahuddin juga mengusir prajurit-prajurit Non-Muslim. Namun, semua warga tetap diberi izin hidup, dan memilih agama apapun, serta diberikan beberapa gereja untuk mereka beribadah..

Karena Shalahuddin sangat tolerir dan percaya pada coexistence dua agama berbeda, Islam Bul/Istanbul tidak dipenuhi dengan konflik, dan pemberontakkan  atas perbedaan agama.

Muhammad Al Fatih

Muhammad Al-Fatih adalah seorang penakluk. Gelar Al Fatih dari Muhammad Al-Fatih dapat di translate literally ke… “The Conqueror”.

Al-Fatih dikenal sebagai penakluk, terutama karena dia memiliki wilayah yang luas, dan sukses menyerang melewati sungai beberapa kali. Which, according to Sun Tzu, menyerang di seberang sungai perbatasan adalah hal yang susah.

Di buku yang aku baca, sebenarnya tidak diceritakan banyak mengenai Muhammad Al Fatih sendiri. Namun, sama seperti Khalid dan Salahuddin, ia juga sangat menolerir perbedaan agama, dan mengajarkan toleransi itu ke semua bawahannya. Ia menghukum beberapa bawahannya yang memanage daerah yang dia kuasai tapi tidak dapat menolerir perbedaan agama.

Al-Fatih in general adalah seorang conqueror yang memiliki banyak ampun, dan terkadang terbilang… Well… “Nekat”. Namanya juga cukup terkenal, dan dia mendapat banyak respect dari musuhnya, karena ampun yang dia berikan.

In Conclusion

Kalau reader belum ngeh apa conclusion ku…

Intinya, di Indonesia ini Banyak sekali orang mengajarkan bahwa orang yang berbeda ras atau agama itu orang tidak beriman, atau kafir lah… Banyak sekali orang tidak tahu indahnya coexistence dan variasi kultur.

Padahal kita tinggal di salah satu negara paling beragam secara kultur dan agama.

Namun aku kadang bingung jika mendengar orang-orang claim bahwa orang berbeda agama itu orang kafir lah, atau orang tak bertuhan lah.

Itu kejam.

Lihat saja, bahkan di masa konflik karena perbedaan agama, jendral-jendral Muslim mengajarkan semua orang dan memberi contoh untuk menolerir perbedaan, dan karena toleransi yang mereka berikan, lebih sedikit konflik internal yang tercipta.

Jika kita tidak bisa mengapresiasi perbedaan, maka sebenarnya, apakah kita orang yang sangat kejam?

Aku gak tahu sih, tapi coba deh, reader refleksi sendiri

Mic Drop, dan Aku keluar…

Ciao

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *