The Individuality Disappearance

The Individuality Disappearance

Kepada Yth. Ilmu Sains

Aku terkadang sungguh-sungguh bingung kepadamu, dan orang-orang yang terus berusaha memajukan ilmu milikmu itu. Kurasa sekarang sebagian besar dunia sudah cukup gila, tapi ada apa denganmu selalu merusak hal-hal yang (katanya) mulia. Aku sungguh tak tahu.

Selamat datang di abad ke 22, siapa itu? Oh, dia adalah seorang manusia lain yang ikut berkontribusi ke pusaran data yang begitu besar ini, ia membiarkan dirinya terekspos demi memajukan tuhan agama yang begitu kuat dan maju secara teknologi… Dataisme.

Inspirasi:

  • Homo Deus, ditulis oleh Yuval Noah Harari
    • Aku merasa baik Sapiens dan Homo Deus bisa dijadikan satu tulisan per dua bab. Mungkin Homo Deus satu tulisan per bab malah.

Apa yang terjadi pada individualitas?

Harari menyindir orang-orang yang pada zaman dahulu menanyakan alasan Turis Jepang membawa kamera kemana-mana dan memfoto apapun yang mereka lihat. Sekarang, orang-orang melakukan ini juga, agar mereka bisa memberitahu orang-orang mereka sedang berlibur, dan mengecek lagi HP mereka, setiap 3 menit, untuk melihat siapa yang sudah memberikan Like.

Ketika manusia pada umumnya sedang berada di pantai, mereka akan memfoto pantai, dan diri mereka di pantai. Ketika mereka melihat gajah? Apa mungkin mereka mendatangi si Gajah dan bilang “Selamat pagi makhluk megah!” Gak, da mereka akan mengambil foto.

Individualitas kita tidak ada. Kita melakukan hal hanya karena banyak orang melakukan hal yang sama.

Ketika ateisme dan agnostikme muncul pada awal abad ke 20, orang-orang memuja Humanisme. Baik itu dalam bentuk Liberal, atau Nasionalis.

(Intermezzo)

  • Liberal Humanisme percaya bahwa semua manusia memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau, dan setiap keputusan mereka mulia. Semua manusia sama berharganya di mata Liberal Humanis.
  • Nasionalis Humanisme percaya bahwa manusia memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau, dan keputusan yang mereka buat bisa membuat perbedaan. Ada manusia yang menghasilkan lebih banyak untuk negara, dan ada yang tidak. Manusia yang menghasilkan lebih banyak (baik itu nama baik, uang, atau, hanya pengaruh) otomatis lebih berharga dari pegawai biasa.

Dari kuatnya humanisme pada abad ke 20… Agama mulai menjadi suatu bentuk reaksi ke suatu tindakan.

Ada teknologi keluar? Oh, ulama, rabbi, dan juga pastur akan mencari hubungan teknologi itu, lalu memberikan justifikasi mengenai teknologi itu dan hubungannya dengan ayat suci. Agama telah dibuat dan dipercayai secara positif untuk mencari nilai positif serta negatif suatu teknologi.

Sebagai contoh yang tidak terlalu sensitif mengenai ilmu vs nilai-nilai… Lihatlah Video Assistant Referee (yang kupercaya sebagai alasan Kroasia kalah pas final, tapi, err, bukan salah mereka juga)

Teknologi seperti VAR seharusnya sudah ada (dan bisa) diimplementasikan pada piala dunia 2014, namun baru diterapkan pada 2018. Teknologi itu, pada akhirnya tetap saja hanya membandingkan pilihan si wasit, atau nilai-nilai seorang manusia, dengan bantuan teknologi.

Itulah alasan agama masih kuat pada abad ke 21, nilai-nilai yang ada pada suatu agama bisa digunakan untuk menilai pantas tidak-nya menggunakan suatu teknologi.

Pada akhir abad ke 20, hingga awal abad ke 21, tindakan seorang manusia dibentuk dari teknologi yang ia miliki, nilai-nilai yang ia miliki, serta juga, tentunya, individualitas miliknya.

Seseorang bisa saja mengambil hasil riset dengan suatu teknologi maju, seperti misalnya, ya, beberapa perangkat pada film Kingsman. Ia berhak melakukan itu, ia memiliki teknologi untuk melakukan itu, dan nilai-nilai miliknya menyatakan itu hal yang tak apa jika kita mengambil suatu barang yang masih dirahasiakan.

Seseorang juga berhak membeli saham apapun yang mereka inginkan. Mereka bisa, mereka berhak, dan nilai milik mereka mengatakan itu takpapa untuk membeli saham.

Kita hampir saja berada di dunia yang penuh dan lengkap dengan individualitas yang unik. Mungkin ada saja yang memiliki individualitas lebih kuat dari yang lain, tetapi semua orang punya level individualitas yang berbeda, dan ada cukup banyak pribadi unik…

Namun, hmm seiring berjalannya waktu, humanisme (bentuk paling mulia dan paling dihormati mengenai individualisme) mulai tertelan… Dan itu semua karena sains.

The Dividuality

Jadi, individual berarti suatu entitas yang tidak dapat dibagi menjadi dua… Namun, nyatanya, sains telah merendahkan definisi individualisme itu sendiri.

Sains membuktikan bahwa individu tidak ada. Tidak ada SATU entitas yang berperan dalam mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan. Kita butuh entitas kedua untuk mendorong dan mempersepsi tindakan tersebut… Karena ternyata, kesadaran pada otak kiri dan otak kanan kita berbeda jauh.

Sebelah otak kita berusaha membandingkan apa yang sedang terjadi dengan apa yang kita telah ketahui, atau apa yang kita inginkan. Ini diketahui dengan The Interpreting Self. Sedangkan, sebelah otak kita yang lain memastikan apa yang sedang terjadi ini dialami dengan betul, dan masuk secara empirik dalam otak kita. Belah otak ini diketahui dengan The Experiencing Self.

Ilmuwan telah menemukan cara untuk mengisolasi dan memisahkan kedua belah otak (oh, metode ini juga dipakai untuk Truth Serum dan juga pengendalian dan/atau pencucian otak ya…) untuk “Riset”. Ini sedikit menyeramkan sejujurnya.

Jadi, ilmuwan yang melakukan riset ini menunjukkan sebuah foto tas yang sama dengan pemiliknya yang sedang dipisahkan kedua belah kesadarannya ini… Ketika gambar ini ditunjukkan pada Experiencing Mind, subjek langsung saja bercerita tentang tas tersebut, seperti harganya, warnanya, mereknya, ada rusak di sebelah mana saja, dan lain-lain.

Tetapi, sampai gambar tersebut ditunjukkan ke Interpreting Mind, pemilik tas (dan subjek eksperimen) tidak menyadari bahwa tas tersebut miliknya. Untuk memperaneh, ketika Interpreting Mind sedang menerima informasi, cerocosan miliknya malahan membandingkan tas tersebut (yang sekarang telah ia sadari sebagai tas miliknya) dengan tas yang ia inginkan. Subjek mengkhayal terlalu parah hingga ia melupakan detil utamanya.

Ketika disatukan lagi, baru semua detil ia cerna dengan betul. Ia juga menyatakan bahwa ia menginginkan tas tersebut diganti dengan tas baru, ia menyatakan warna, tempat pembelian, dan kedua belah fakta.

Nyatanya, orang normal adalah orang yang memiliki keseimbangan antara Otak Kiri dan Otak Kanan ini. Ada beberapa orang dari ratusan subjek yang dites, tidak mampu berpikir dengan sistematis, dan membiarkan sebelah sisi yang terlalu kuat membunuh sisi lain. Jika ada sebelah sisi lain yang mati, ia hanya akan hidup lagi ketika sedang sangat kuat.

Aku takkan masuk terlalu dalam ke eksperimen ini… Namun intinya, otak kiri dan otak kanan kita membentuk dua bagian kepribadian kita. Yang mengkhayal dan bermimpi, serta yang berpikir dan menerima. Ini sudah sedikit mematikan fakta bahwa kita punya Free Will dan bebas bertindak… Ini dihasilkan dari diri kita yang tidak bisa memutuskan kapan ingin berpikir dengan logis, atau dengan khayalan…

Lalu, sebenarnya, dari mana kita bisa memutuskan kalau hari ini aku ingin melukis dengan khayalan, dan esok hari aku ingin bermain puzzle dengan logika?

Ternyata, kita juga telah memiliki sebuah pola yang sudah diprogram dari sananya, yang menentukan apa yang kita akan lakukan pada beberapa jam sebelum kita ingin melakukan hal tersebut. Ada beberapa kimia yang menyalakan listrik di otak kita, dan kimia tersebut menyulut rasa kita untuk bertindak dan melakukan sesuatu.

Karena zat-zat kimia itu muncul dalam hitungan menit (sampai jam malah) sebelum kita bertindak atau bahkan berpikir untuk bertindak… Nyatanya, kita tak punya kebebasan bertindak sama sekali.

Yeay! Untuk apa berusaha melakukan sesuatu kalau pada akhirnya kita disuruh oleh zat kimia untuk melakukan itu?

The Birth of Dataism

Jadi, dari manakah lahirnya kepercayaan baru ini? Kepercayaan pada data alih-alih kemuliaannya seorang individu? Kepercayaan pada algoritma, alih-alih kepada Tuhan?

Riset di abad ke 21 yang membahas kesadaran telah mengambil dan membunuh sesuatu yang sakral, lalu ia telanjangi dan tunjukkan ke pihak umum dalam bentuk hina. Dulunya kita percaya bahwa kita bebas untuk melakukan apa yang kita inginkan, sekarang ternyata, itu hanya sebatas unsur kimia yang mengatur tindakkan kita.

Dataisme telah menjelek-jelekkan alasan kita melakukan sesuatu, dan menyatakan apa yang tadinya merupakan Free Will, sebagai suatu rumus yang hanya berupa beberapa garis data dan dapat diatur dan dibaca kapanpun kita mau.

Ini adalah beberapa contoh dataisme telah merusak keindahannya seorang Manusia…

What’s That New Post on IG?

Sosial Media menyimpan data, dan semua data yang kita kirimkan ke sana telah dimiliki oleh perusahaan yang memiliki sosial media tersebut. Semua post yang kita buat, mereka ketahui.

Mereka juga berusaha menebak akun apa lagi yang kita akan ingin coba untuk gunakan di masa depan nanti. Kita juga seringkali percaya mengenai sugesti akun baru untuk difollow yang diberikan Instagram.

Hmm, ironis sekali. Kita percaya apa yang sebuah algoritma katakan.

Pada suatu titik, mungkin hanya akan ada kelas di Instagram…

  • Follow akun Artis
  • Follow akun Chef
  • Follow akun Model
  • Follow akun Politikus

dan seterusnya…

Waze, perlu belokkah aku?

Kita percaya pada Waze atau Google Maps?

Sekarang, banyak orang menggunakan Waze dan mengikuti apapun yang mereka katakan.

Data pergerakkan kita mereka perhatikan, serta juga mereka gunakan untuk database live mereka agar kita juga bisa membantu semua orang dalam mengikuti rute tercepat dan teraman untuk pulang.

Algoritma yang mereka gunakan menemukan rute apa yang kita akan atau ingin lewati nanti… Akhirnya, mungkin mereka sedang (atau mungkin sudah malahan) berpikir untuk memperbarui lagi algoritma tersebut. Misalnya, mereka tahu kita ingin melewati rute terlama ketika hari Rabu, mereka juga mungkin tahu kita ingin segera sampai rumah pada hari Senin, agar kita tidak melewatkan episode terbaru dari 9-1-1. Kemungkinannya, tiada batas!

Tentunya dengan resiko kita melakukan apa yang algoritma (yang hampir semua orang gunakan) katakan.

Privacy? Naaaah!

Google memiliki beberapa jam yang memonitor detak jantung, dan akan sangat mungkin jika mereka akan menjual detak jantung seseorang yang berpotensi memiliki penyakit… umm, Difteri misalnya!

Dengan data yang mereka miliki sekarang, juga mungkin untuk Google melakukan sesuatu seperti menyimpan DNA seluruh anggota keluargamu, lalu mengecek potensi tiap orang terkena penyakit Alzheimer, diabetes, dan juga macam-macam penyakit lainnya.

Resikonya, ya… Untuk mendapat bantuan, kita perlu membayarkan bantuan tersebut, serta tentunya memberikan DNA, dan mungkin catatan serta riwayat medis kita dan seluruh keluarga kita.

That’s it

Oke, iya, itu saja… namun… Bagaimana ini semua bisa melahirkan Dataisme? Sebuah kepercayaan (jika ini bukan agama) baru yang bisa saja menggantikan agama-agama kuat lainnya pada abad ke 22?

Dataisme dasarnya lahir dari kepercayaan seseorang yang tidak mau melihat seni dalam suatu hal. Biasanya orang yang merupakan seorang datais percaya bahwa sebuah musik, sebagaimanapun indahnya musik tersebut, hanyalah terdiri dari beberapa setelan frekuensi yang diatur dan dimainkan pada jeda detik yang spesifik.

Seorang datais juga percaya bahwa pikiran kita hanyalah sebatas kimia yang menyala dan merubah cara kita berubah serta berpikir. Ia tidak ingin melihat alasan kita berpikir, dan juga tidak ingin melihat mengapa kita berpikir seperti itu. Seorang datais lebih tertarik pada kimia yang membuat kita berpikir seperti itu, alih-alih pemikirannya.

Datais juga tentunya tidak peduli mengenai manusia yang berpikir secara sakral, sama seperti kita tidak peduli pada cara seekor Ayam berpikir (sebenarnya ada saja yang peduli, tapi mayoritas orang tidak).

Datais hanya menganggap kita lebih baik dari hewan karena kita mampu memproses data lebih baik daripada hewan, dan juga kita bisa memproses data lebih cepat dan lebih banyak dari hewan.

Dataisme menganut data, dan percaya bahwa akan ada suatu titik dimana dunia ini hanyalah berisi data dan data dan data. Tidak perlu ada manusia untuk berada dalam data tersebut, karena untuk apa kita punya manusia, jika kita punya superhuman yang memiliki chip komputer di dalam otaknya?

Datais menginginkan dunia ini menjadi begitu mentah, begitu abstrak, dan mereka menginginkan entitas yang kompeten dalam membuat data, menghitung data, serta memproses data.

Mereka tidak keberatan jika mereka mati, dan mereka malah hanyut dalam kuatnya badai data nanti, karena bagi mereka, data seperti tuhan. Kemampuan untuk diberitahu sebuah algoritma apa yang perlu dilakukan bagimu nanti lebih penting dari kemampuan untuk berkreasi sendiri.

Aduh, ini jujur begitu menakutkan… Kurasa ini adalah modern day cult yang benar-benar mungkin bisa memanggil setan milik mereka untuk menguasai bumi ini…

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini sangat sederhana…

Hargai individualitas anda, coba berpikir dulu alasan anda ingin melakukan sesuatu, dan jangan gunakan suatu mesin sebagai suatu peramal atau dukun.

Pikirkanlah alasan tersebut dengan detil, apa sebenarnya alasan kamu ingin melakukan ini? Apa itu karena sahabatmu melakukannya? Atau karena kamu ingin saja? Apa itu karena kamu disuruh oleh orang tuamu? Atau dari dirimu sendiri?

Kita masih punya kesempatan untuk kabur dari tsunami data yang akan datang begitu muncul AI dan Data Flood nanti… Manfaatkanlah kesempatan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *