The Greatest Showman Soundtracks Part 2

The Greatest Showman Soundtracks Part 2

And here we are…

The Greatest Showman, mungkin musical pertama yang aku tonton, dan cukup sedih, tapi ending-nya juga happy, dan ya… it’s a good movie. Tapi kalau dikupas lagu-nya, or… jangan ngupas sih, Genius Lyrics adalah opsi yang lebih baik untuk pengupasan lirik… aku disini mau membahas lagu-nya 1 by 1, dan ini adalah part 2, membahas 2 lagu yang keluar dari film-nya sesudah 3 lagu pertama.

So… kalau belum baca part 1-nya klik di sini…

Moving on to song number 4 to 5. Excluding beberapa lagu yang Reprise, karena lagu itu hanya sebuah pengulangan dari scene utama lagu itu dari si film ini. Jadi, untuk sekarang ada 2 lagu lagi yang dibahas 🙂

Kenapa artikel pertama 3, dan ini 2? Karena lagu disini sedikit lebih nikmat untuk dibahas dengan dalam. So, have fun reading!

Akan lebih nikmat juga sambil denger lagunya baca artikel ini ya…

The Other Side

Pernah kepikiran bahwa… kamu nggak kepikiran apa-apa? No?

Well, lagu ini cukup jelas mempresent risk taking, dan seperti beberapa lagu di film ini, dia semacam reverse meaning lagu-nya di verse kedua, dan chorus kedua, karena pembawaan dua perspektif tokoh yang berbeda juga.

Jadi, lagu ini bermula di scene dimana PT dan seorang playwright, yang tenar dan kece di kota-nya, Phillip Carlyle (Zac Efron) ketemuan di bar, dan mereka ngobrol, dan… yeah well they did drink some alcohol.

PT’s Verse

Sekitar 2 gelas whiskey kemudian, PT mulai nyanyi lagu ini, dan dari titik ini, dia berusaha convince lawan bicaranya untuk ikut jadi ringmaster di circus miliknya. Nah, kurang lebih, ketika liriknya di ucapkan… Dia mulai nawarin, dan menjelaskan sambil cerita bahwa, “masbro,  kamu teh hidup sih seneng, tapi kamu kurang berani ngambil resiko, itu ga seru.” Of course, dengan nyanyian dan… gaya yang keren.

Ini makin di tunjukkan dengan lirik-lirik seperti… “Live a little crazy”, Hugh Jackman memainkan role ini dengan cukup… gila dan, keren sih, tapi banyak perkataan yang aku denger darinya yang membuatku makin yakin Phineas Taylor Barnum ini memang kurang waras. In a sense, ini bagus, karena kita akan maju ke kata-kata berikutnya.

Oh, dan menurut Genius dan beberapa source lainnya… PT Barnum percaya bahwa conforming onto society is a very stupid thing, dan kita harusnya stand out sedikit. Mirip seperti Wonder, tapi jika Wonder membahas seseorang yang memang bakalan stand out, kalau PT ini percaya bahwa semua orang harus stand out.

On topic of the song…

Chorus pertamanya cukup catchy… “Don’t you wanna get away, from the same old, part you gotta play”

Itu sebuah pertanyaan, yang langsung diberikan solusi di chorus utama, dan juga di ceritanya…

Philip Carlyle ini terbilang rada bosen dengan kerjaan dia setiap hari yaitu ngeproduce play yang sama berkali-kali, dan hasilnya gitu-gitu aja, ga ada stand out-nya sama sekali. Jadi, dengan ikut circus-nya PT, dia bisa keluar dari comfort zone-nya dia.

That’s what “The Other Side” means… Zona tidak nyaman, tetapi masih fun. Selain itu, PT masih kekeuh bahwa hidup yang conforming itu penjara, dan dia semacam menantang (throgh lyrics) Philip untuk segera keluar dari zona nyaman dan segera mencari suatu sensasi yang lebih bebas dan tidak peduli pada apa kata orang lain, menjadi lebih bebas.

However Mr. Barnum’s first attempts kinda… failed

Philip’s Verse

Philip masih yakin dia seneng dengan kehidupannya sekarang dan membalas komentar-komentar dari PT dengan sesuatu yang sedikit, smug, dan sedikit rude.

Jadi dia reverse verse (yes it’s a pun) pertama dengan memulai line-nya dia dengan bilang… NO! Aku suka zona nyamanku dimana aku kaya, keren, dan tenar. Well beberapa line pertama-nya cukup bisa dimengerti tapi, andaikan reader bingung, line-line pertama adalah literal denial yang sedikit panjang. Disambung dengan line yang bilang bahwa dia nyaman, dan dia ga mau ambil resiko.

Terus Philip bilang sebenernya show yang kamu buat itu keren kok, tapi, itu… not for me.

Now comes the rude part… “But I live among the swells, and we don’t pick up peanut shells”. Yeah it’s kind of harsh. Jadi, di zaman Greatest Showman ini, Swells berarti orang kaya dan disaat yang sama, orang kelas atas, mungkin kalau di zaman sekarang selebgram-nya kali… Philip Carlyle termasuk dari salah satu Swells ini.

Sebaliknya, Peanut Shells mean… orang yang kelas bawah, dan kalau di theater biasanya mereka dikasih kacang sebagai cemilan, dan disuruh duduk di ruangan tanpa AC (wait different era), dan ya… biasanya tiketnya yang paling murah sih.

Sambil nyanyi baris ini, Philip Carlyle ngambil kacang dan melemparnya ke muka PT (as a rude joke of course), being a… relatively crazy person, PT Barnum smiled through it. Untuk memperparah rudenessnya ada line berikutnya, I’ll have to leave that up to you… Ini bilang bahwa isi circus-nya PT cuman orang kelas bawah doang, karena sepertinya Philip berusaha bilang bahwa… “Yah, aku ga mau ngurusin orang yang kamu urusin, lu aja yang ngurusin orang rendahan kaya gitu.”

Terus kita masuk ke chorus yang dinyanyikan dengan menari di meja bar. . . Which is kinda flashy actually.

Chorusnya mengubah line Cage yang tadi PT Barnum bilang, dan dia bilang, “penjara? really? ini bukan penjara, wong nyaman gini,,,kenapa aku harus kabur?”. This part of the song is actually good, tapi dia cuman mereverse chorus dan menyanyikannya dengan tune cocky, so no need to break it down.

Bridge… and Charm-y Stuff

Pas Philip turun dari meja bar-nya, dia semacam ditantang lagi sama PT dengan bilang begini… “Now is this really how you like to spend  your days? Whiskey and misery, and parties and plays”. Mungkin dia ngeh bahwa kalau ga dibuat kesel dan ditantang ga bakalan ada respons. Tapi, being a swell, Philip Carlyle masih cocky dan malah nantang bilang bahwa… “kalau aku bareng sama lu, gua dibicarain sekota, w gak mau ah, dah seneng hidup gini”. Course with poetic and music-y sounds. Nyanyiannya songong dan ditambah ketawa ketika menyebut kata “clown”.

Well, the song eventually concludes ketika PT bilang bahwa, kamu harus punya freedom untuk bermimpi, dan Philip yang sudah di dekat pintu, mikir lagi dan akhirnya tawar menawar persentase show… berapa persen show yang dia bakalan dapetin? Yah terus ini cuman tarik ulur karena Philip Carlyle udah lost di kata-kata… “freedom to dream”.

Lagu ini ditutup dengan chorus yang dinyanyikan berdua, dan kurang lebih liriknya sudah positif tanpa rejection, karena mereka akhirnya sudah setuju dengan pemikiran keduanya. The chorus is sung in the circus, during a show, tapi di backstage, sambil naik tangga.

Nah, sekarang kurang lebih itulah power-nya charisma. Mengingat seberapa cocky dan songong si Philip Carlyle ini saat lagu ini bermula, sesudah dinyanyikan dan di… persuade, akhirnya dia kemakan sama charisma dan kata-katanya PT Barnum.

Fun Fact: Philip Carlyle adalah karakter fiksi… Not to burst your bubble but The Greatest Showman juga banyak adegan dan cerita fiktif-nya.

Never Enough

Review/mengupas arti dan act lagu ini ga bakalan terlalu dalem… not like 1000 words (like The Other Side right there…)

Lagu ini dinyanyikan Loren Allred, dan di filmnya dinyanyikan Jenny Lind, karakter asli, also known as the Swedish Nightingale, yang merupakan opera singer. Karakter Jenny Lind ini dimainkan Rebecca Ferguson, yang di “dub” dan menggunakan audio lagu pre recorded yang dinyanyikan Loren Allred di film-nya.

Lagu ini dinyanyikan di depan sebuah stage, dan di sebuah teater, jadi lagu ini juga tidak masuk konteks apa-apa ke cerita, karena digunakan sebagai show dalam sebuah film yang menceritakan tentang… show… Jadi konteks ke film-nya kurang ada hubungannya, tapi, ada Genius untuk membantu mencari konten.

Lagu ini merupakan konteks indirect untuk tokoh-tokoh yang mendengarkan lagu ini. Although they are famous now, nothing is gonna be enough for them.

Nah banyak pesan “sponsor” di film ini. Tidak semua line dari lagu ini apply ke semua karakter di film ini, tapi hanya sebagian saja. Well, anyways, lagu ini sedikit repetitif, dan banyak dramatisir yang lack… meaning.

Verse

Pertama-tama lagu ini dibuka dengan verse, sebelum repetisi chorus, dan kurang lebih aku ga terlalu ngerti, tetapi dari membaca liriknya secara keseluruhan, mungkin ini berarti… Biting back opinions, and not being theirselves. Kurang lebih menahan diri untuk protes atau memberi opini, dan berusaha menjadi orang lain kayanya sih.

Verse ini ditutup dengan without you. Stop right there, without you ini dinyanyikan dengan pelan dan sangat lembut. Well, ini memberi konteks extra, tapi coba kita masuk ke chorus utama-nya.

Chorus

“All the shine of a thousand spotlights. All the stars we steal from the nightsky.”

Spotlights disini berarti ketenaran (or… yeah kurang kata-kata poetic, sorry), dan kurang lebih ini berarti mau seberapa famous seseorang, atau… stars disini adalah metaphor. Metaphor for what? Ada banyak bintang di langit, dan juga banyak orang di dunia ini. Stars berarti orang yang tahu akan namanya. Also on the subject of fame.

Nah kita masuk ke… Will never be enough… Course, ini berarti tanpa companionship, mau seberapa terkenal seseorang, itu takkan cukup. Or kalau kita ignore Without You di ujung kalimat ini juga bisa berarti bahwa ada orang yang emang ga bakal merasa puas mau seberapa terkenal dirinya.

“Towers of gold are still too little. These hands could hold the world”

Nah disini Towers of gold berarti kekayaan, karena… yeah gold is expensive, and towers are expensive… bahkan jika tidak terbuat dari emas. Jadi ya… kebayang lah ya. Hands that hold the world. Well ini berarti orang yang… powerful, dan bisa mengubah dunia dengan sebuah perintah, atau apapun really.

Jadi yaaaa… begitulah. Intinya, ada orang yang merasa tidak pernah puas sanking ambisiusnya, dan juga ada orang yang tidak akan puas karena dia kesepian. Sebenernya kasian banget sih lagu ini. It shows how uncontent people can be.

Lagu ini eventually merepeat chorus sampai lagu-nya beres. It’s a nice song to hear, but it does… kind of gets boring. Dari banyaknya lagu di film ini, ini yang paling jarang kudengar karena sedikit terlalu banyak repetisi. Doesn’t mean it’s not good… lagunya sih enak tapi ya gitulah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *