Taktik Liverpool: Edisi Gelandang.

Taktik Liverpool: Edisi Gelandang.

Aku balik membahas Bola! Kali ini, aku akan membahas tentang taktik Liverpool terutama ketika sedang memegang bola mulai dari pertandingan pembuka ketika melawan Norwich, hingga Derby Merseyside kemarin.

Tetapi sedikit disclaimer, aku hanya menonton pertandingan melawan Southampton secara Live, sisanya aku mencari extended highlights, melihat cara bola dimainkan dan pergerakan pemain ketika menyerang ataupun bertahan.

Hari ini, aku akan membahas lini tengah,. Minggu depan, aku membahas ketiga striker, (tentunya Firmino akan mendapat bahasan untuk kedua kalinya. He’s special that way), lalu minggu depannya lagi, lini belakang, baik bek sayap atau bek tengah.

Our Players!

Bisa dibilang mungkin pola permainan Liverpool yang paling meningkat dari awal musim lalu adalah gelandang-gelandangnya.

Pada awal musim 2018/19, Klopp masih plin-plan memilih gelandang, merotasi Naby Keita, Milner, Henderson, Wijnaldum, kadang memasukan Shaqiri di formasi 4-2-3-1, dan gaya permainan lini tengah kita masih sederhana dan bisa dijelaskan dengan kalimat “kejar bola dan jadi orang tambahan ketika dibutuhkan.”

Walau metode ini memang yang dicari dari Gelandang-gelandang di sistem Gegenpressing ala Klopp… Agak lucu melihat tim sekelas Liverpool memiliki set gelandang yang hanya jadi “orang ekstra” dan tidak berkontribusi secara unik ataupun elegan seperti gelandang-gelandang lainnya.

Kasarnya, kita ambil saja penilaian FIFA. Berdasarkan penampilan tahun lalu, gelandang-gelandang terbaik Liverpool mentok di rating 84-85, Fabinho dengan 85, Wijnaldum dengan 84. Ingat bahwa rating FIFA 20 mengambil musim tahun 18/19, bukan musim 19/20.

Musim ini, kita melihat gaya pressing yang sama, tetapi gaya permainan yang diberikan ketika memegang bola jauh lebih kreatif.

Selain itu, Klopp sepertinya sudah fix mengambil Wijnaldum, Henderson dan Fabinho sebagai trio gelandang miliknya. Mari kita bahas satu-satu…

Fabinho

Peran Fabinho di sistem Klopp cukup solid, sebagai jangkar yang mendaur ulang serangan gagal, serta mencegah serangan balik.

Aku sudah pernah menulis secara cukup detil tentang Fabinho di artikel sepakbolaku yang sebelumnya, membahas Firmino… Tidak akan kujelaskan lagi, jadi silahkan klik ini untuk mendapatkan penjelasannya ya 😀

Fabinho melakukan pressing pada orang yang memegang bola sambil memotong jalur umpan ke pemain-pemain terdekat. Jika bola tersebut melewati Fabinho, Matip, Lovren atau Van Dijk (tergantung pemain terdekat, dan juga yang dimainkan) lari melakukan pressing, dan memberikan bolanya kembali ke Fabinho.

Jika tidak ada orang yang dekat ke bola, umumnya Fabinho orang pertama yang mengejarnya. Kita melihat dia melakukan hal yang sama pada pertandingan melawan Manchester City dan berulang kali menghentikan serangan balik dan menciptakan peluang.

Fabinho juga merupakan pemain tengah yang berlari paling sedikit karena ia tidak begitu banyak melakukan hard-press, dan hanya memotong jalur umpan. (Catatan: Paling sedikit tetap banyak ya, hanya saja Wijnaldum dan Henderson berlari jauh lebih banyak lagi)

Wijnaldum dan Henderson

Gini Wijnaldum dulunya ditujukan untuk mengisi peran gelandang jangkar.

Namun sesudah berulang kali bermain, Wijnaldum pindah ke peran Box-to-Box karena sama seperti Henderson, ia bukan pemain terbaik dalam mengatasi serangan balik.

Baik Wijnaldum atau Henderson memiliki fungsi utama yang sangat… “kasar” mungkin menjadi kata terbaiknya. Peran utama mereka sederhana, layaknya tiap gelandang modern di tim dengan tempo permainan tinggi, mereka menjadi orang tambahan ketika dibutuhkan.

Baik ketika menyerang atau bertahan.

Sebagai contoh..

Ketika pemain Nomor 8 ingin membuat operan, Wijnaldum memberikan tekanan untuk memastikan bola dapat dimenangkan kembali, Fabinho berusaha memotong jalur umpan terdekat, dan Henderson membantu Firmino melakukan pressing ke target operan utama.

Liverpool terbiasa bermain dengan garis Offside yang tinggi agar lawan kesulitan menemukan ruang dan memaksa lawan untuk mengoper bola secara perlahan, karena transisi cepat dari satu operan gagal ke gol milik Liverpool.

Ruang yang sempit karena garis offside tinggi ini dimanfaatkan Wijnaldum dan Henderson agar mereka tidak perlu berlari terlalu jauh untuk membantu pressing.

Kata kuncinya adalah MEMBANTU. Pressing utamanya (terutama hard-pressing) dimulai dan dilaksanakan oleh Firmino. Henderson dan Wijnaldum bergerak sesuai ke pergerakan Firmino, mengikuti dan membantu Firmino mengambil bola dan memaksa lawan memainkan bola ke orang yang salah.

Nah, sekarang untuk menyerang…

Sama juga seperti dalam pressing, Wijnaldum dan Henderson berfungsi untuk menambah orang dan menciptakan Numbers Advantage di ruang sempit. Baik itu sebagai target umpan, atau opsi operan dekat.

Jika anda menonton Liverpool cukup sering, anda pasti tahu bahwa raja Assist Liverpool bukan gelandang seperti Man City mengandalkan Kevin de Bruyne, atau Manchester United semacam mengandalkan Paul Pogba… Tukang Assist kita ada di kedua bek sayap.

Sekedar ada satu target umpan atau opsi operan dekat memaksa lawan untuk trackback lebih cepat karena permainan Liverpool dimainkan di tempo tinggi.

Kita beri gambar lagi…

Bola dimainkan ke sayap, dan kedua bek sayap bersiap maju, beserta ketiga striker siap menerima umpan.

Karena banyaknya pemain di kotak penalti, bukan hanya Striker, jumlah orang yang bisa menyambar bola dan jumlah orang yang perlu ditutup oleh bek jauh lebih banyak.

Tambahan 1-2 orang terkadang bisa jadi apa yang diperlukan untuk memecah baris pertahanan lawan. Henderson dan Wijnaldum seringkali jadi orang tambahan, seandainya mereka tidak menyambar bola atau mencetak gol, mereka hadir untuk mendistraksi bek-bek lawan.

Miskonsepsi orang-orang…

Berkali-kali aku dengar orang bilang “Liverpool butuh gelandang serang bagus.”

Ini miskonsepsi bagiku. Gelandang serang terakhir yang Liverpool miliki adalah Coutinho, dan Klopp memainkan Coutinho sebagai sayap alih-alih gelandang, dan ia tidak mendapat tempat penting lagi di skuad Liverpool sesudah adanya Salah.

Memang iya, Liverpool kesulitan menciptakan peluang ketika bek sayap kita tidak diberi ruang untuk bergerak (seperti ketika melawan Manchester United) tetapi adanya gelandang serang dalam cetakan de Bruyne, David Silva, James Rodriguez, Christian Eriksen dan sebagainya mungkin memberikan kita lebih banyak kesempatan menciptakan serangan dari tengah…

Tetapi masalahnya… Itu akan membuat sistem pressing Liverpool tidak seimbang. Setelan simetris dengan dua gelandang box-to-box energetik dan gelandang jangkar kreatif seperti ini sudah sempurna untuk Gegenpress yang memang diatur dari tengah oleh Firmino.

Kalau kita bisa misalnya mendapatkan pemain seperti James Rodriguez atau semacamnya, Klopp akan melatihnya untuk mengisi peran Firmino, bukan dimainkan di gelandang tengah.

Kesimpulan.

Pressing Liverpool sederhana, dan lini tengah kita juga bermain dengan cukup sederhana, dan rapih. Menontonnya menarik tentunya. Beberapa kali aku mendengar teman-temanku baik fans Arsenal, Chelsea, atau klub di liga lain mengatakan bahwa menonton Liverpool selalu menyenangkan.

Klopp punya andil untuk itu. Bahkan jika kita kalah, dia tidak ingin timnya bermain dengan pas-pasan, pasti pertandingannya menegangkan dan tiap operan bisa berbuah gol.

Sampai minggu depan!

(aku berniat membereskan ini sebelum boxing day ya, semoga beres)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *