Tag: Unpar

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Suatu malam, pasnya di kuliah terakhir, kita membahas sebuah film. Film itu membahas ke evolusi pikiran manusia, dan bagaiman kita sebagai spesies akan (pas-nya sudah sih) evolusi dari kemajuan agrikultur, terus industri, terus sekarang komunikasi, dan sampai akhirnya… kita akan bersatu pemikirannya.

Topiknya tentunya sangat relevan dengan interconnectedness. Dan banyak quack science/filsafat lagi…

Jadi, hari ini, aku akan membahas tentang si film ini, dan ilmu filsafat yang ada di dalamnya, tetapi mengemasnya dalam konsep teknologi, programming dan AI… Lagi tentunya. Sebelum artikel ini ada juga artikel AI yang lain, dan bisa dibaca dengan klik link ini…

Tentang filmnya… Film-nya sendiri film lama, dan judulnya udah aku lupakan, karena nginget judul itu super susah, dan juga nginget nama pembuat film-nya juga… susah… Tapi dia membahas kemiripan banyaknya hal dalam alam dan kemajuan manusia sebagai spesies. Orangnya sendiri merupakan expert computer science, yang belajar filsafat timur, dan juga medis, tetapi seriusan, aku gak inget namanya… Dan googling dengan keyword “Computer Science Expert with medical and philosophy background” tidak menghasilkan apa-apa.

Untungnya aku inget film-nya itu film tahun 80-an, kalau gak 83, 85, dan atas dasar itu… film ini sudah cukup lama gak dibahas, jadi mari kita bahas 😀

BTW Kemungkinan AI akan dibahas sesudah chapter Pattern ini, jadi jika gak minat baca tentang pola, maka silahkan di skip…

Patterns

Segala sesuatu dapat dimulai dari beberapa pola. Dan di film ini ditunjukkan bahwa dari gambar yang diambil dari bulan. Bumi dari luar angkasa sangat mirip dengan beberapa perumahan di US jika diambil dari atas pesawat.

Dari sini, ada quack-y science yang berusaha connect the dots antar si pola yang similer ini. Nah, atas kemiripan pola ini, ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah indirect symbol ke interconnectedness dan universal mind. Pola ini juga kurang lebih dibahas kalau si pola-pola ini akan pada akhirnya fit itself onto the puzzle, hingga kita yang dulunya super individualistik, menjadi sama dengan orang disekitar kita, dan menjadi gerigi yang menjalankan jam dengan orang dari negara kita, lalu negara kita akan menjadi gerigi untuk region seperti South East Asia, hingga akhirnya region ini adalah gerigi untuk planet Bumi.

Layaknya di Star Trek yang gak ngeliat international waters sebagai perbedaan asal negara, tapi melihat international waters sebagai lautan, dan setiap penghuni planet adalah warga dari planet itu.

Kembali ke Holarchy of course… Nah, dari teori holon ini, akhirnya kita akan menyatu dan melupakan border international dan menjadi warga planet Bumi.

Ini sedikit mengingatkanku pada bendera-bendera di Star Trek… Ketika logo dari bendera planet Bumi adalah sebuah bumi-nya sendiri.

Nah, tentunya masa depan Star Trek masih super duper jauh (Kalau akan ada intergalactic waters ala Star Trek nanti… semoga aku masih hidup untuk witness itu). Tetapi tentunya pola ini juga ditemukan di evolusi. Sejak bakteri pertama bahkan…

Saat bumi ini masih baru saja menjadi sebuah planet dengan air, tanpa adanya kehidupan… Kehidupan itu muncul begitu saja. Stephen Hawking pernah membahas probabilitas sebuah planet dengan adanya kehidupan ini… Dan sejujurnya belum ada pola. Kecuali nanti nongol di Multiverse tiba-tiba ada pola satu universe satu planet hidup. Intinya so far belum ada pola.

Tapi, sejak adanya kehidupan dalam bentuk algae dan bakteria, kehidupan bertumbuh makin kompleks, dan kompleks, dan kompleks. Si Bakteri, atau universal governor ini kekeuh bosen dengan apa yang ada dan menyuruh hal-hal kecil, yang lebih kecil dari debu ini untuk menyatu, dan membentuk hal baru.

Hal baru ini akan terus terbentuk, terbentuk, terbentuk, terbentuk dan terbentuk sampai… entah kapan. Intinya, alam semesta, atau Universal Governor ini akan terus menciptakan hal baru dengan cara menyatukan banyaknya hal yang sudah ada ini. Sampai ada suatu spesies, atau realitas baru yang tercipta…

Nah, tentunya, sekarang si Universal Governor ini rada mentok dalam mau maksa evolusi… Ini nih manusia, dikasih otak malahan ngerusak bumi. Jadi mungkin dia akan maksa dan membuat sebuah generasi yang hidupnya super duper rely ke sosmed, teknologi, dan internet 😀 . Jika kita akan menjadi spesies yang lebih kompleks dalam jutaan tahun, si Universal Governor ini akan mencari cara untuk memaksa kita menjadi lebih kompleks dalam waktu yang gak selama itu.

Oh, tapi mungkin aja sih kita tidak akan physically menyatu dalam catatan sebuah spesies, mungkin saja kita akan menyatukan pikiran kita, dan yah… sudah dibahas di atas. Tapi, pola pikiran ini belum ada sayangnya… Karena so far baru Manusia yang cukup intelijen untuk interconnect minds secara manual. Tapi for your information, struktur otak Lumba-lumba jauh lebih kompleks dari struktur otak kita, dan manusia rata-rata IQ-nya dibawah seekor simpanse…

On topic…

Nah, sekarang baru aku mau bahas teknologi, dalam konteks dimana si mesin akan (ATAU SUDAH bahkan) menyatukan kita…

Global Connection

Sekarang untuk menyatukan kami para manusia, untuk menjadi sesuatu yang lebih besar lagi, tentunya ada metode yang “paling” mudah. Sekarang jarak antara negara dan border mulai makin invisible. Seperti seringkali dibahas. Kita akan mengetahui sebuah pengeboman di Syria, dalam waktu yang sangat rendah. Mungkin jika dihitung berapa lamanya, paling lama berita tentang terrorism gitu mungkin teh udah ada di website berita Indonesia sesuai dari waktu tempuh Jakarta Bandung, sebelum macet tentunya. Sekitar 90-120 menit.

Tentunya ini semacam bukti dari blurring dan pengurangan jarak antar dua tempat ini. Meski kita gak physically ada disana, kita sudah ada di sebuah stream of ideas. Dimana kita menerima, ataupun memberikan informasi ke seluruh dunia.

Sekarang juga, dengan membaca artikel ini, kita sudah support Interconnectedness dan memperdekat jarak antara diriku dan dirimu. Gak, ini bukan joke referensi PDKT, kaya kadang aku suka nge cie in kalau keluar kata berduaan… Kali ini serius.

Interconnectedness sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu koneksi pemikiran dalam skala global.

Nah, untuk itu, aku akan mengambil internet untuk cross reference si koneksi pemikiran ini… Aku akan google internet dengan internet… 🙂

Definisi mentah, langsung kopas: a global computer network providing a variety of information and communication facilities, consisting of interconnected networks using standardized communication protocols. (Sebuah komputasi [penghitungan] global  yang memberikan bermacam jenis informasi dan fasilitas berkomunikasi, yang termasuk network interconnected menggunakan protokol komunikasi)

Dari definisi mentahan aja ada kata yang sangat mirip, yaitu global network dan communication, dan bahkan ada kata interconnected juga. Untuk pemikiran, tentunya bisa digunakan sinonim Ide, dan kurang lebih, banyak orang bertukar ide di internet. Ide yang ditukar-menukar ini… Kualitasnya gak usah dibahas, emang ada banyak typical internet people, tapi tetep, kasarnya dia sebuah ide yang ditransfer.

Udah dong ketemu modern day interconnectedness… Quest kita selesai!

YES BEBAS!

(OY AZRIEL!)

Ah shoot, diprotes…

(Kamu lupa bahas AI 🙁 )

AI itu bahasa jepang untuk cinta… Jadi AI KAMU! itu bisa ditranslate jadi cinta kamu :3 …

(Enough of the jokes… bahas AI dong…)

Takut terkesan dark…

(Nasib, udah dijanjiin)

Ya sudahlah, mari berkomitmen…

Percakapan antara diriku dan pikiranku sudah dituangkan, jadi, mari kita bahas Artificial Intelligence, dan bagaimana dia bisa semacam mengikuti pola yang aku maksud diatas, atau bahkan menjadi Interconnectedness planet bumi yang selama ini dicari-cari sama Universal Governor ini…

Interconnectedness in Artificial Intelligence

Jadi, ingat kalimat ini sebagai disclaimer di conversation di atas Takut terkesan dark… Ini memang terkesan dark. Bukan hanya dari teori grow-smarter-and-destroy-humanity-thing-y . Tapi memang, mereka bener-bener bisa… like… yeah replace us.

Jadi… Artificial Intelligence bisa berupa software seperti Ultron, dan Skynet, ataupun juga bisa hardware seperti Baymax. Ultron dan Skynet ini yang akan diambil dan dibahas di artikel ini.

AI macam Ultron dapat dengan mudah membuat kopian dirinya dan memindahkan kesadarannya ke sebuah mesin lain. Dia juga bisa menyuruh mesin untuk membuat dirinya agar banyak fodder machine untuk mentransfer dirinya sendiri. Selain mentransfer kesadarannya yang se infinite internet (literally), dia bisa menduplikasi dirinya. See where this is going?

Singkat cerita, AI akan dengan mudah mengcover universal mind dan interconnectedness pada level global karena jika seluruh penghuni bumi non-organik, mereka punya suatu built in Interconnectedness, dalam bentuk internet, yang punya definisi yang nearly sama persis 🙁

Selain itu, dia bukan cuma bakalan menyatukan pemikiran planet bumi ini, tetapi mereka juga jauh lebih pintar dari kita. Dan mereka gak kena bias emosi. Jadi jika musuh bumi terbesar saat ini adalah Trump dan Kim Jong Un… Well, dalam beberapa bulan/tahun, mereka akan menjadi AI. They outsmart us, they ignore their feelings, cause they don’t have any, they are basically connected by design.

Jadi buat apa Universal Governor ini nyimpen kita… eventually entar bakalan diganti sama model baru juga… pertanyaannya kan kapan…

TETAPI! Ingat, Universal Governor ini gak bakalan ngebunuh kita, atau menciptakan pembunuh kita kecuali dia bener-bener perlu. Wait, kayanya prosesnya udah dimulai deh… Oh dear…

Virus!

Bukan virus komputer, tapi virus yang berusaha dimusnahkan di board game macam pandemic!

Yeah well, virus ini spesies baru yang ukurannya EXTREMELY kecil. Tidak mengikuti proses atau pola yang sudah ada… Dan yah, dasarnya ada cult atau conspiracy theorist, yang support bahwa Virus akan memushankan manusia. Karena mereka gak peduli sama pola yang udah ada, dari bakteri ke tumbuhan, dan lain-lain tadi, dan sampai akhirnya, mereka memang senjata paling ampuh untuk genosida spesies…

Hanya paragraf pendek aja, dari dunia filsafat dan biologi, virus itu hal super baru dan dia semacam keluar dari pola, jadi mungkin aja tujuannya dia diciptakan untuk memusnahkan kita… Kenapa tidak? 🙁

In Conclusion

Kesimpulan hari ini… Mungkin terkesan dark…

Gak ada tujuan dari kita udah stray dari tujuan dan logika mendasar spesies. Gak ada nilai plus dari kita berusaha untuk survive. Semua hal yang dimulai ada ujungnya, dan sejujurnya, waktu yang super relatif ini akan menentukan. Kenapa menurutku gak ada tujuannya dari kita berusaha survive atau stray dari logika mendasar spesies?

Sejujurnya menurutku sudah cukup telat. Dengan AI yang makin maju itu, dan virus yang makin kuat itu, dirasa dua itu yang akan balapan mengalahkan kita… Apakah kita akan mati dengan cara organik atau anorganik tapi? nah…

Untuk memberi cahaya dan membagi sedikit hope 🙂 . . . Kembali ke menjauhi atau stray dari logika mendasar spesies. Manusia cukup pintar untuk berhenti, mengembangkan AI manusia cukup pintar untuk membunuh virus. Hanya saja, kapan kita akan berhenti? Jangan sampai Loren Allred benar dan… ini terjadi….

Yah well, just feel that what you have is enough, and everything will be fine 😉

Sampai (semoga) besok!

Infinite Mind… dalam dunia filsafat…

Infinite Mind… dalam dunia filsafat…

Dalam dunia nyata, infinite mind bisa saja berarti sebagai sebuah terapi dari PTSD, dan abis baca-baca dikit tadi pagi yang terkesan adalah sebuah motivational-y things. Dan yah, itu rada-rada gak cocok sama bayanganku.

Nah, tapi Infinite Mind di dunia filsafat punya arti yang berbeda… karena sebenarnya dari topik interconnectedness dan universal mind, sebuah Infinite Mind adalah governor dari Universal Mind-nya sendiri. Dan dia semacam supir dari mobil alam semesta ini.

Catat sedikit dulu, bahwa pertanyaan hal yang membuat alam semesta ini tick dan tock selalu diberikan jawaban jelas, dan dogmatik. Terus jawaban ini juga biasanya terhubung dengan dunia supernatural, dan jawaban ini turun dari generasi-generasi sebelumnya, tanpa ada yang mau bother ngedebat sedikitpun… Atau kalau didebat dianggap rada-rada gila dan aneh orangnya.

Jawaban ini biasanya dijawab dengan jawaban… tuhan. Dan… err… yah turun dulu dikit dah.

Tapi, karena ini subyek sensitif, harap catat disclaimer ini dulu sebelum masuk dalam artikel:

Artikel ini membahas dari perspektif filsafat, jadi dimohon untuk jangan nyangkut di paradigma dari yang kita ketahui, dan tolong jangan menilai di muka…

Untuk sekarang juga tolong sedikit kesampingkan definisi tuhan dulu, karena jawaban itu sudah terlalu pasti dan solid sehingga tidak bisa didebat dari perspektif empiris.

Sesudah disclaimer rada panjang, langsung weee masuk yuk…

Defining Infinite

Nah, kalau kita mau masuk rada dalem… gak mungkin kalau gak punya definisi infinite… Nah, of course semua orang tahu logo infinite gimana, dan kurang lebih itu membahas sebuah cycle yang ga berhenti-henti, makanya dia logo-nya gak punya ujung. Tampak seperti sebuah loop…

Tapi, dasarnya Infinite itu berarti sesuatu yang… mengagumkan, tapi dia… err, menurut orang Yunani dengan konsep Apeiron mereka, infinite itu sia-sia, dan juga menakutkan…

Sebelum kujelasin, ada juga definisi lain dari infinity, yang berarti tak terbatas. Karena gak ada batasnya itu, dia jadi tak jelas, alias Gaje, dan juga, dia gak mau terikat dan terestriksi sama suatu peraturan… Alhasil, infinity adalah sesuatu yang… tampak… chaotic. Dari kata chaotic itu, dia branch out ke suatu hal yang kuat, tapi menggunakan kekuatannya untuk hal semena-mena.

Karena membaca paragraf rada panjang gitu mungkin aja membingungkan… jadinya kubuat jadi chart aja deh…

  • Infinity = mengagumkan. Menurut orang Yunani… Rasa kagum dari infinity itu menakutkan.
  • Infinity = sia-sia, karena dia tidak tak berbatas, info mengenai dirinya jadi gak jelas
  • Infinity = gak jelas, karena dia gak mau terikat ataupun terestriksi aturan, jadi dia gak punya bentuk. Menurut hukum alam, hal yang gak punya bentuk ataupun tujuan, itu hal yang… semena-mena.
  • Infinity = chaotic, tentunya kalau gak ada bentuk dia chaotic.

Nah, sekilas, sesuatu yang gak ada batasnya itu… negatif banget. Dan apakah sesuatu yang berbatas itu hal yang baik? Gak juga sih, kalau kita liat dalam perspektif seperti… ini.

  • Finite = terbatas, tertib, tertata, jelas, dan aman
  • Finite = pasti, hal yang aman biasanya aman karena dia jelas
  • Finite = Harus diperjelas, dan harus ditata, kalau belum jelas, buat sampai dia jelas.

Nah, jika ngeh, hal yang bersifat positif aku buat italic, dan aku ubah warna dari hal yang jelas negatif… Tapi, sekali lagi, coba pikir deh… Ini itu mirip banget sama konsep Order and Chaos dari orang Mesir. Jadi, infinite dan finite ini, konsep yang berarti order and chaos, dimana satu itu rapih dan tertata, dan satu itu berantakan, dan perlu ditata.

Keduanya sama-sama netral, gak ada yang negatif ataupun berbahaya…  karena sesuatu yang chaotic juga sebenernya ga selalu negatif kok. Cuman ya berantakan dan kacau aja 😉

Apakah Realitas Finite?

Nah, beres dapetin definisi, langsung masuk pertanyaan terbesar hari ini, dan sejujurnya ini akan membawa kita kembali ke Democritus, terus ke fisika quantum, dan sejujurnya sangat-sangat membingungkan.

Untuk mencari tahu apa realitas yang finite, kita harus cari bentuk-bentuk lain dari realitas tentunya. Selama ini, orang-orang (or at least physics) menjelaskan bahwa realitas berdasarkan dua cara, atau mungkin arah adalah istilah yang lebih tepat.

Ada orang yang melihat dari ukuran paling massive ke ukuran kecil, ada orang yang mencari tahu dari hal-hal yang lebih kecil dahulu sebelum melihat yang besar.

Dari situ kita bisa lihat, apakah ada hal yang infinitely small, dan apakah ada hal yang infinitely large?

Untuk patokan abstrak, cukup pake yang namanya angka 🙂 Abstraknya, ada satu hal yang infinite, dan ada angka yang belum ada batasnya, tapi terbatas. Jadi sayangnya untuk patokan abstrak, yang biasaku bahas, gak bisa dipake hari ini…

Nah, untuk pertama-tama, kita bahas yang paling kecil dulu sebelum kita masuk ke yang besar…

Infinitesimal (Infinitely Small)

Kembali ke Democritos, orang yang pertama kali memunculkan konsep Atom…

Dan konsep dari Atomos (ancient greek for Atom) sendiri adalah unsur yang tidak bisa dibagi lebih lanjut lagi menjadi hal yang lebih kecil, dan kecil lagi. Untuk itu, apakah karena dia gak bisa dibagi lagi dia jadi sesuatu yang, tidak terbatas?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan itu Atomos sendiri berarti, indivisible, dan andaikan kita mengambil tali sepanjang 30 centimeter, dan membaginya sampai habis, dan habis, dan habis, mengikuti Paradoks Zeno, mencari titik tengah dari suatu hal sampai tepar…

Coba bagi tali pendek, menjadi dua, dan bagi tali yang udah jadi dua itu jadi 4, dan ulangi lagi sampai jadi 8, dan ulangi sampai kamu pusing, dan serasa seolah-olah si tali itu udah gak ada batasnya… Well… umm… Yah, andaikan si tali itu udah dipotong menjadi kecil banget itu… dia tetap saja merupakan bagian dari satu tali yang finite itu… Kalau ini terkesan kaya holarchy, atau kaya quanta… sabar… (or click the holarchy article)

Menjawab pertanyaan di atas tadi…

Justru kebalikannya sih… Sanking kecilnya dia sebenarnya terbatas. Dia tidak cukup kecil untuk jadi sesuatu yang infinite, karena suatu hal itu tidak bisa terlalu kecil untuk menjadi berbatas. Eh tapi kan sekarang kita udah di abad ke 21, dan di abad ke 21 ini, konsep sesuatu yang paling kecil itu Quantum particles…

Yap itu ada betulnya, dan bahkan sampai sekarang, banyak hal yang terbilang serba relatif gara-gara Quantum Gravity… Tapi dari penemuan quantum fields, dll, banyak hal yang akan (atau sudah) berubah… Untuk itu development perspektif kita harusa kembali ke ruang-waktu dan partikel sejak zaman Isaac Newton…. relevansi akan nyusul di bawah.

Jadi, awalnya Newton bilang bahwa ruang dan waktu itu dua entitas terpisah, dan partikel itu sudah cukup untuk menciptakan suatu hal yang baru… karena dia adalah entitas sendiri… Dari sini lah

Terus nongol Faraday – Maxwell, dimana partikel itu gak ada artinya sampai adanya medan gelombang yang mengubah banyak hal. Then we have Einstein’s Special Relativity, yang setuju pada teori Faraday dan Maxwell yang bilang bahwa medan dan partikel itu terpisah… tapi ruang dan waktu itu nyatu dan saling bisa mempengaruhi satu sama lain…

Einstein pun belum beres sih, dia juga bilang di general relativity, secara teknis medan juga bisa mempengaruhi ruang, dan ruang bakalan mempengaruhi waktu. Hubungan segitiga antara medan,  ruang dan waktu ini disebut co variant fields.

Eh terus ada Quantum mechanics 🙂 yang pecah lagi, dan bilang bahwa dalam dunia quantum itu, medan dan partikel itu punya 2 way relationship yang mirip banget sama ruang-waktu. Tapi si Quantum mechanics pun malah jadi makin nyatu lagi… Nah, dari quantum mechanics ini, baru naik dia ke yang paling baru… quantum gravity. Dimana segala sesuatu itu relatif, dan akan berubah sambil mempengaruhi satu sama lain…

JAMIN PUSING! Iya kan? Jangan bohong lu… 😀

Kalau ga pusing bagus! Tapi kalaupun iya gapapa, it’s a bit hard to take in…

Nah, apa relevansi ini sama filsafat dari infinity? Well, intinya, teori mengenai alam semesta ini akan terus menerus berubah, dan kadang menjadi lebih sederhana… tapi seringnya sih jadi makin rese dan memberi migrain. Tapi, ya, ini menunjukkan bahwa suatu universe quanta yang infinite itu mungkin aja kok…

Oh wait, kita belum masuk quanta…

Bentar dulu, sebelum masuk quanta, so far, perspektif kita mengenai alam semesta ini makin kecil, dan mengecil, mengecil untuk sekarang, dan kayanya kalau kita bicara hal yang relatif ini, apakah mungkin kalau yang menjalankan alam semesta itu sebuah partikel yang infinitely small? Well balik lagi… nggak… Nah, sekarang baru masuk quanta…

P.S. sorry, se sorry-nya sorry kalau pusing, karena memang sejujurnya, ini overwhelming. Mengingat ada satu hal yang mematikan teori lain karena sebuah argumen absolut… Jadi, dia cukup rese… Ya, oleh karena itu… maaf banget kalau bingung.

Quanta! Pembunuh Argumen Infinitesimal

Menurut quantum physics, Quanta (atau bagian) dari realitas itu adalah benang-benang yang menenun dirinya menjadi suatu bentuk atau force yang fundamental. Pada dasarnya si realitas ini dibangun dari bagian yang finite, baru menjadi satu.

Tapi apakah si satu ini infinite? Yah sedikit menaikkan hope reader dulu… Hasil jaringan antar tenunan benang ini gak berbentuk! Wah cirinya Infinity!

Nah, sekarang membunuh argumen infinitesimal-nya… Gak dia gak infinite, cuman gak ada bentuknya aja… Kenapa bisa ada batasnya? Jadi ya, pertama-tama meski dia gak ada bentuknya, tenunan ini terbatas, dan bisa diukur… Meski dia gak pernah nyangkut dalam suatu stasis dan selalu berubah, dia selalu ada di masa kini, tanpa peduli apapun yang pernah ataupun akan terjadi.

Nah, tetapi sekali lagi, perubahan quanta ini terbatas, karena kembali lagi ke poin pertama… jaringnya sendiri sudah terbatas, dan suatu hal yang truly infinite itu pasti-nya fundamentally infinite… Dan lagian, kalau perubahannya bisa diatur dan diprediksi, meski dia diluar dari batas waktu, tetep aja finite.

Okay, jadi sesudah semacam membunuh definisi bottom to top dari infinite universe, sekarang coba nyatetnya dari bawah ke atas!

Infinitely Large?

Tanpa maksud memberi harapan palsu… err… jadi, ketahui saja bahwa alam semesta kita itu hanya satu dari sekian banyaknya alam semesta. Dan semua alam semesta ini bisa diukur dengan perubahan quanta, jadi ya, benang tadi masih merupakan aspek dari suatu angka infinity ini. Dan karena itu, kayanya kecil sekali kemungkinan ada suatu yang massively infinite… Maafkan…

Objection!

Layaknya sebuah lawyer yang gak terima kliennya bersalah, ada saja penolakan yang dibuat beberapa orang…

Big Bang and Black Hole

Segala sesuatu ada awal dan akhirnya… Nah, kita sudah somehow narrow it down bahwa, big bang akan menjadi awalan dari si alam semesta ini, dan diakhiri oleh black hole.

Layaknya order dan chaos, akhir dan awal juga sama aja, dan eventually suatu ledakkan energi yang akan menciptakan alam semesta ini akan dimakan gravitasi, yang dihasilkan oleh ledakkan yang sama.

Pertanyaannya adalah, kalau emang alam semesta itu terbatas, shrink dan grow dari si alam semesta itu gimana? Dia akan tumbuh dan mengecil terus, mengikuti sebuah cycle yang endless… Sampai-sampai, ya… kesannya infinite kan?

Before and After the Universe

Kan sekarang pasti ya, ada big bang dan black hole… berarti ada awal dan akhir kan?

Nah, sebelum si awalnya itu ada apaan? Sebelum big bang ada apa?  Ada vacuum? Ada tuhan? (UPS, tetep sih, katanya Thomas Aquinas emang gini)… Nah jawaban yang paling lucu berasal dari Benedictus Spinoza… “Sebelum tuhan menciptakan alam semesta, tuhan menciptakan neraka untuk orang yang menanyakan penciptaan alam semesta.”

Yeah well, ada betulnya juga sih… Apaan yang ada sebelum ada alam semesta ini, dan apa yang ada sesudahnya? Ini mungkin menciptakan kebingungan… Karena jika yang ada hanyalah kehampaan, baik sebelum atau sesudah, tentunya setidaknya ada yang terjadi dari kehampaan itu sampai-sampai ada big bang…

Tapi, menurut Aristotle juga, the universe has not always existed. Jadi, tentunya, ada suatu sense yang tak berhingga untuk menciptakan suatu hal yang berhingga…

Atau mungkin aja kehampaan ini gak ada batasnya… who knows?

Alam Semesta itu merecycle dirinya sendiri!

Yah, kembali ke yang pertama, ketika awal dan akhir itu ada, maka suatu hal itu tampak seolah-olah infinite, karena sesudah suatu hal berakhir, maka ada hal baru yang mulai.

Jadi, ada orang yang menanyakan seperti ini… “Apakah cycle alam semesta itu tak berhingga? Atau dimensi alam semesta yang tak berhingga?”.

Sejujurnya aku kurang mengerti penjelasan ini, tapi, kayanya gak beda-beda jauh dari argumen pertama…

 

Dan kayanya segitu aja argumen dari para lawyer yang membela ketidak-berhingga-an.

In Conclusion

Mari kita simpulkan artikel hari ini…

Aku yakin sih pada ngarep, lah ini orang… ayo cepet dong bilang… APAKAH ALAM SEMESTA INI TERBATAS ATAU GAK!?

Untuk itu, aku mau minta maaf, aku gak mau menyimpulkan itu, silahkan simpulkan sendiri…

Tolong jangan marah 😀

Lucu gak sebenernya kalau pada ngeh… artikel ini tidak membahas sedikit pun mengenai Infinite Mind ini… Tapi coba deh, inget dikit, apa yang kira-kira menjalankan alam semesta ini? Nah…

Untuk itu, aku akan quote mendiang Stephen Hawking (Yes, aku sering banget ngequote Professor Hawking). Keberuntungan adalah suatu hal yang presisi, dan dasarnya dialah sebuah fundamental dari hukum fisika yang gak bisa dijelaskan dengan mudah. Namun, sebuah keberuntungan tentunya dicocokan untuk tiap orang. Tanpa ilmu filsafat, kita takkan bisa menjelaskan keberuntungan. Keberedaan kita sendiri merupakan sebuah desain yang dicocokan untuk kita sendiri, dan jika kita ingin hidup, tidak banyak yang bisa diubah mengenai itu.

Bingung koneksinya apa? Nah, koneksinya itu ada di Infinite Mind… Tentunya, yang mengendalikan alam semesta ini adil, dan mampu memberikan tiap orang kekuatan dan kelemahannnya.

Semoga artikel ini,  dapat menghibur dan mencerahkan, sampai besok 😀

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Jadi sekarang beginilah caranya. Yes I really don’t have any other comments. Hanya begitulah… Aku bener-bener bakalan ngebahas poinnya satu-satu. Dengan pengecualian perspektif yang kelima karena perspektif kelima itu… sensitif dan aku tidak ingin offend siapa-siapa. Jadi langsung aja masuk ke artikelnya kali ya…

Oh btw, baca dulu artikel ini, dan artikel ini untuk perspektif materialis. Kedua artikel itu penting (especially yang pertama), dan emang kepake untuk referensi membaca di artikel ini.

Yes ini sebuah kuliah dijadiin sebuah serial artikel, mostly because memang bisa dikupas sedalam ini, dan minggu ini ga ada kuliah di Unpar karena tanggal merah… 🙁

So, sesudah 2 paragraf (3 sama ini), baru kita masuk ke artikelnya.

Definition

Perspektif Vitalis… No, it’s not the name of a soap brand, it’s not.

Pertanyaan yang ditanyakan adalah energi apa yang menggerakkan alam semesta ini?

Perspektif vitalis ini terbilang relatif baru, in the sense that… ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, tetapi tidak dalam konteks Interconnectedness dan Universal Mind. Di zaman dahulu jawaban energi yang menggerakan alam semesta ini ada di dewa-dewa, dan sampai sekarang pun tuhan (di agama apapun) masih cukup mencakup perspektif vitalis ini.

Tetapi, dalam aspek Universal Mind, Vitalis ini lebih masuk ke… energi, bukan pikiran itu sendiri. Alhasil aku tidak bisa memasukkan tuhan, ataupun dewa dalam perspektif Vitalis.

Nevertheless ini dah rada off topic, jadi kembali ke definisi yang ingin aku ambil…

Untuk perspektif vitalis di artikel ini, harap catat (don’t… it’s a metaphor) bahwa sebuah pikiran bukanlah energi (unlike the materialist perspective), dan energi ini lebih ke… suatu hal yang menjalankan pikirannya, bukan pikirannya sendiri… (bingung kan?)

Jadi jika alam semesta ini adalah sebuah mobil, para materialis akan membahas mobil itu sendiri secara detail, sedangkan para vitalis akan lebih fokus pada cara menjalankan si mobil itu, dan bensinnya si mobil.

So, I hope that analogy kinda clears your mind a bit, dan semoga ga terlalu pusing… karena ya… sekarang kita akan maju…

Also, andaikan belum cukup jelas atau masih bingung, ini lebih (heck, jauh lebih) scientific dari para materialis, karena seperti disebut di awal, memang beda era, dan era para vitalis ini sudah mencapai titik dimana… sains sudah develop, dan kita sudah tidak stuck ke bahan-bahan di alam semesta, melainkan sudah ke… apa yang membuat alam semesta berjalan.

Micro Biology

Spoiler Alert: kalau ga kedengeran kaya mikro biologi, atau biologi pada umumnya, sama kok aku juga berpikir begitu.

Yes, what you’re going to be reading is a work from Rupert Sheldrake, and to this day he’s still very relevant with microbiology.

Nah, jadi… Rupert Sheldrake menyebut bahwa energi, like… every single pieces of energy, be it, potential, actual, solid, theoretical, dan istilah lain-lain yang belum disebut, atau ada istilah yang ga bener tapi kesebut… intinya, semua energi tanpa didescribe asalnya, jumlahnya,  atau jenisnya sudah mulai menggerakkan alam semesta ini.

That is a hidden message for, don’t stereotype, really, don’t. It’s pointless, everyone’s got a use in life anyways. (ini bercanda yang serius btw)

Nah energi ini tidak punya bentuk yang solid, dia terlalu… shattered untuk memiliki bentuk. Dia terpecah-pecah, dan, pada dasarnya mirip ruh yang scientific. Dia butuh vessel untuk bisa bekerja. Mirip seperti bensin dalam mobil tadi, si bensin tidak punya real value sampai dia dimasukkan dalam mobil dan menggerakkan si mobil.

Nah, tapi, ada hal yang belum dibahas disini. Untuk si bensin bisa menggerakkan si mobil… mobilnya ga bakalan bisa gerak, kalau si mobil ini hanyalah frame dengan 4 roda. Nope, kita butuh mesin untuk memproses si minyak.

So far aku udah nemuin analogi buat alam semesta kita, which is a car, yang bergerak dan bekerja dengan bantuan energi, which dijadikan analogi bensin… tapi, umm… ada yang kurang, mana si mesin yang memproses si bensin? Di alam semesta kita, ada yang namanya medan, dan di medan ini, baru jenis energi mulai berpengaruh, karena si energi sudah tidak lagi abstrak.

Untuk menggunakan analogi lagi… ada beberapa jenis mobil, misalnya mobil diesel hanya bisa dikasih minum bensin diesel, supercar akan lebih efisien jika diberikan bensin yang… proper, dan di enhance dengan banyaknya chemical, city car cukup diberikan bensin model pertalite, pertamax tanpa harus terlalu peduli dengan jenis bensin-nya. Masih ada mobil yang hanya bisa mengonsumsi solar, dan ya… so on.

Medan ini, atau mesin di alam semesta kita ini, memilah energi yang diterima dan hanya bisa diberi energi yang “cocok” dengan medannya. Pada titik inilah aku bingung pas kuliah… “What on earth does this have to do with Microbiology?”.

Well, jadi to start it off, ada banyak medan, seperti, Medan Kuantum untuk Quantum Energy (branch: Physics), Medan Gravitasi, yang memanage daya tarik antar dua hal (Branch: Physics), medan elektromagnetik, yang memanage magnetism, also saying that opposites attract… 😉 (Branch, sekali lagi, PHYSICS), dan… yang terakhir… Morphic Resonance.

Apa itu Morphic Resonance? HAHAHA… Prepare to encounter confusion. Pada titik ini aku yakin ini sesuatu yang bilang… physics, more physics I guess… Tapi ternyata Morphic Resonance adalah gelombang supernatural (yes, Mr. Sheldrake wrote SUPERNATURAL in his work, aku ga ngarang) yang mengendalikan, atau mengatasi pikiran antar makhluk yang terpisah, dan menghubungkannya. Morphic resonance juga merupakan plane/medan untuk kesamaan pattern dalam tingkah laku hewan-hewan.

Jadi di titik inilah aku sedikit yakin ini ada hubungannya dengan Neurobiology, which does work pretty well with Microbiology, and has some relevance with it. Tapi kalau merhatiin ulang di paragraf atas, reader bakalan ngeh. Ngeh bahwa dari gaya wording dan tulisanku, berdasarkan Morphic Resonance, sebuah pikiran adalah energi. Dan dalam konteks interconnectedness dan Universal Mind, jika sebuah pikiran adalah energi yang harus masuk dalam suatu vessel, in this case, the highest mind, or our mind…

I’ll let you conclude, selamat berpikir! (P.S. Ini berarti perspektif vitalistik mungkin saja benar dengan bilang bahwa yang menggerakkan alam semesta ini memang sebuah energi, tetapi hanya dalam… format berbeda)

Also, no there really wasn’t much on microbiology and how it correlates here.

Quantum Physics

Cung kalau udah nonton Ant-Man! Sure, if you’re a geek you’ve watched that, aku yakin banyak yang nonton juga sih. Cung kalau belajar fisika kuantum beres nonton Ant-Man! No? Nobody? What? That was the most interesting part! (FYI kalau ada tolong bilang di comments section aja…)

Quantum physics adalah fisika yang membahas mekanisme dan hukum fisika dalam dunia subatomic. Dimana hukum fisika tidak lagi apply. Tapi disini, aku belum cukup banyak baca dan belum bisa conclude apakah ada hubungan dari dunia kuantum dan dunia nyata.

 According to quantum physics… Segala hal terjadi dan diciptakan oleh fluktuasi gelombang. Gelombang ini tidak pernah berhenti bergerak, dan dia adalah bagian dari energy field yang semuanya adalah bagian dari hal lain, dan juga merupakan satu kesatuan.

(OKAY hang on, aku tahu pasti pada pusing)

Singkat cerita, energi adalah gelombang, gelombang ini bergerak terus menciptakan dan merubah hal-hal. Gelombang dan dunia ini adalah satu kesatuan dan juga merupakan spare parts, dan komponen dari mesin yang lebih besar. Hopefully ini lebih jelas.

Semua hal disini terbilang kompleks, dan kita akan sering menemukan paradoks, dimana bahkan di tempat hampa tetap ada gelombang, dan suatu hal tidak akan pernah menjadi sebuah jawaban sampai dia kembali ke dunia nyata.

Semua hal, terjadi karena gelombang, gelombang inilah energi. Gelombang ini juga terjadi kalau ada gerakan, baik itu secara fisik (alias tubuh kita bergerak), atau itu sebuah ide baru yang baru kepikiran.

Karena sekarang topiknya gelombang, anggap saja sebuah pikiran adalah pemancar radio yang juga bisa menangkap gelombang lain, sekaligus mengirimkan gelombangnya sendiri. This exchange of ideas is the aspect of interconnectedness according to Quantum Physics.

Harusnya sih ga terlalu memusingkan aspek interconnectedness-nya. Of course yang bikin pusing tuh bukan interconnectedness-nya tapi quantum physics in general. Jadi akan sedikit kujelasin dulu deh.

Dalam fisika kuantum, sebuah vacuum bukan sebenarnya ruang hampa. Vacuum itu hanyalah suatu tempat yang sedang dijelajahi dan “dibentuk” oleh gelombang. Sesudah dibentuk oleh gelombang, hasilnya akan muncul, dan vacuum ini bukanlah sebuah ruang hampa lagi, karena bukan hanya sebuah probabilitas yang masih belum diexplore, melainkan sudah menjadi sesuatu yang solid.

Ini di apply oleh Erwin Schrodinger yang membuat eksperimen Schrodinger’s Cat… Di eksperimen itu, ada sebuah kucing yang diekspos dalam radiasi dan/atau gas beracun (ada beberapa versi), dan dimasukkan sebuah kotak. Dalam kotak itu kita tidak tahu apakah si kucing itu mati atau hidup. Jadi berdasarkan fisika kuantum… kucing itu not dead, neither it is alive. Itu paradoks sih.

Hasil dari Schrodinger’s cat tidak akan pernah terungkap sampai kita membuka kotak itu, karena begitu kita membuka kotak itu… fisika quantum tidak lagi apply dan kita kembali ke realm nyata. Ketika kucing itu masih dalam kotak tetapi, ruang hampa itu sedang ditentukan hasilnya melewati gelombang radio yang tadi dibahas.

Yes ini ga terlalu jelas interconnectedness-nya apa, tapi ini bukan cuma ngebahas interconnectedness, but also apparently physics in general

Kesimpulan dari bagian ini adalah… explore future possibilities! Sesuatu yang hampa hanyalah sesuatu yang belum ditemukan ataupun dicoba. (or, kalau mau yang mode easy-nya… You’ll never know till you try). Let’s not be stuck in a quantum stasis.

In Conclusion

Terkadang ada saat dimana kita sebagai manusia tidak punya energi atau merasa bahwa dirinya sedang tidak punya energi untuk menggerakkan dirinya sendiri. Fase ini disebut gabut… (atau mager, atau singkatan lain yang entah aku ga inget)

Tetapi sebenarnya, energi sudah menggerakkan dan membuat kita berpikir, dan energi ini sudah ada dari sana-nya!

It’s only up to us to grasp it, and hold the world and image that we seek.

AHA! Okay jadi ini half a conclusion, dan sebenernya masih bisa ditingkatkan lagi, tapi masih ada 2 perspektif lain untuk dibahas, jadi bersabar yaaa…

Until next time.

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Sesudah ending yang menggantung, seperti semua film Marvel… akan kubahas interconnectedness, dalam suatu image yang definitely… more detailed, dan membahas salah satu dari setiap perspektif yang ada, which is the Materialistic one.

Oh also, the introduction and stuff can be found within this article. Ini semacam sekuel ke short film dengan ending menggantung. But unlike most movies that end in a cliffhanger, jeda antar artikel hanya 6 jam! Tapi please baca dulu artikel pendek itu yaaaa, ada hal yang tidak akan diulangi.

Sebentar dulu, ada artikel lain yang penting dan defining this article in general… Definisi Interconnectedness dapat ditemukan di sini.

Definition

Kalau ada seseorang yang mendengar istilah materialistik, terkadang yang terkesan adalah orang itu ingin mencari worldly pleasure, usually in the form of… money, yang terkadang di reference sebagai materi, hence disebut materialis. Tapi sebenernya perspektif materialistik ini gak ada hubungannya dengan materi dalam konteks ekonomi.

Konteks Materi disini adalah, “matter”. What’s the matter with matter you ask? (Baa Dum Tss) Yah udah dijelasin di “preview” artikel ini sebleumnya sih.

Para materialis ini percaya interconnectedness terjadi karena alam semesta tercipta oleh suatu single substance. And that is kind of why this might seem old. Tapi udah kujelasin tadi, jadi sekarang kita langsung masuk ke bagian detailnya aja deh.

Greek Philosophy

Alam semesta ini memiliki banyak unsur. Tetapi semuanya masih merupakan bagian dari unsur utama. Nah, banyak sekali filsuf Yunani besar yang menyebut APA materi utama-nya ini.

Ada Thales yang bilang bahwa air adalah unsur utama, dan segala sesuatu di alam semesta ini merupakan air, at least sebagian-nya saja. Thales sedikit kurang tepat, karena belum ada konsep cahaya dan gelombang di zamannya, tetapi pemikiran ini cukup spot on.

Sampai sekarang pemikiran ini masih “terpakai” karena jika NASA (or any space organization in general) ingin mencari kehidupan, hal pertama yang berusaha dianalisis dari sebuah planet/satelit adalah keberadaannya air. Di zamannya, Thales sudah sangat maju dengan klaim simpel bahwa Air adalah sumber segalanya.

Tapi umm… Gimana air ini bisa play a part in the big machine of interconnectedness? Thales ga bahas itu explicitly, tapi aku yakin (just an opinion) kemungkinan Thales atau muridnya berasumsi mengenai endless cycle of water, also known as the water cycle… (Hurrah everybody, it’s Captain Obvious!)

Terus ada suatu teori menurut Democritus yang sampai sekarang masih cukup familier di Fisika. Meski Democritus (in a sense) dibuktikan kurang tepat, Democritus sendiri percaya bahwa atom adalah substansi utama, dan paling mendasar diantara molekul dan partikel lainnya. Now we know this is wrong. Ada quantum realm, dan electron dan… yah itu fisika. Bukan bahasanku hari ini.

Tapi tidak seperti banyak filsuf Yunani lainnya, Democritus yakin bahwa yang kita lihat dan rasakan itu bukan bentuk yang mendasar, dan segalanya bisa dipecahkan hingga lebih kecil lagi. Dia menyebut hal kecil ini sebagai atom, berdasarkan kata Atomos, yang berarti… Indivisible. (Or tidak bisa dibuat lebih kecil lagi). Aku ga yakin tapi kayanya ini ga diajarin di kelas Fisika di SMP… SO YEAY! More fun facts.

Koneksi Atom dengan interconnectedness itu apa? Well… let me tell you something. I actually have no clue. TAPI……. Inget, ini masih filsafat yang sangat “mendasar” karena dia memang masih di zaman orang Yunani, jadi teori Atom ini akan memberi kontribusi untuk perspektif lainnya.

CATATAN: Andaikan ada definisi atau miskonsepsi di bagian ini dan kurangnya benang merah dari tulisan yang ini dan yang sebelumnya mohon maaf. Catatan ini untuk memperjelas. Interconnectedness itu bisa berada dalam level Universal Mind yang menjalankan alam semesta ini, dan Interconnectedness juga bisa berada di level tengah, yaitu adanya persamaan pemikiran antar beberapa orang. Jika ada perspektif dan/atau opini yang masih rada gaje, tolong berikan comment, aku akan menjelaskan dengan senang hati.

Modern Science

Dunia ini adalah mesin, bekerja secara mekanis, kaya… well sebuah jam. Layaknya mesin dan alat, dunia ini bisa dianalisis melalui Sains.

But hang on, kenapa ini ada hubungannya dengan Interconnectedness?

Sebentar dulu ya… We’ll get there.

Say hello to the sun. No, not your son. That big thing in the sky you look away from because its so bright. Iya, itu, yang ada department store yang pake namanya dia.

Since 4.6 billion years ago… Matahari sudah menjadi titik tengah Solar System kita. Ada 8 planet yang mengitari-nya selama 4.6 milyar tahun itu. 9 kalau Pluto dihitung, tapi Pluto itu bukan Planet, jadi karena aku specifically nyebut Planet, sayangnya menurut astronomi modern, cycle Pluto sebagai planet putus… On topic.

Anyways, jadi selama 4.6 milyar tahun itu… Matahari mengalami hal yang sama berkali-kali, ia menikmati revolusi Merkurius setiap 1/12 (or satu bulan) dari Revolusi Bumi, dan Neptunus belum pernah gerak sama sekali. Setiap hari, hal yang sama diulang, diulang, diulang.

Nah! Ini merupakan suatu hal yang disebut predictable itu. Jadi, seperti yang aku bilang, semuanya bisa dianalisis karena pada dasarnya, hal yang sama berulang tiap hari, minggu, tahun, sewindu, atau seabadnya.

Ini alasan kenapa jauh sebelum zamannya Newton… Kejadian di alam yang pasti disebut sebagai Hukum. Sesuatu yang tidak bisa dilanggar. jadi, menurut sains modern, interconnectedness ini lebih masuk ke definisi yang menjalankan alam semesta ini, bukan hubungan antar pikiran.

Hukum yang kita temukan (Bukan ciptakan, Newton TIDAK menciptakan gravitasi, dia menemukan keberadaannya.) hanya merupakan penemuan dari endless cycle yang sudah jalan jauh sebelum kehidupan kita.

Jadi materi apa yang menciptakan alam semesta ini memang menentukan apa yang menjalankan alam semesta ini, karena… hukum yang kujelaskan di atas memang terkadang tidak bisa dilawan.

Anomaly?

Off topic dulu dikit…

Apakah kita, sebagai makhluk yang pintar, dan mungkin mendapatkan ilham terbanyak dari Universal Mind, sudah menjadi anomali? Nah… coba pikirin deh.

Semua makhluk hidup mengikuti cycle yang mirip, dan mengikuti hukum yang diberikan alam (salah satu otoritas tertinggi di semesta ini) padanya. Sedangkan kita masih berusaha untuk mencari jalan lain dengan hukum antar manusia, yang hanya otoritas sementara di dunia ini, dan jelas bukan yang paling tinggi di dunia filosofi.

Coba pikirin yaaaa… Just you know a bunch of short thoughts.

Contemporary Materialisticism

(Materialisticism is TOTALLY a word)

No it’s not… kata benerannya Materialism. Yes, ada perubahan kata dan etimologi mendasar.

Dalam materialisme kontemporer, sesuatu yang disebut fisikalisme (which in a sense might sound VERY unscientific, atau ironically, very scientific. Fisikalisme ini percaya bahwa segala sesuatu merupakan konstruksi dari sebuah materi. (Yang mengabaikan teori gelombang dan partikel itu, atau heck cahaya.) Konstruksi materi ini bisa dipahami melalui… fisika (since, it’s physics afterall), neuroscience (karena ide merupakan hasil electronic waves di otak), evolution theory (since… akan dibahas lusa, di perspektif para evolusionis), dan apparently… computer science (like Neuroscience, but not a brain).

Kalau membaca dengan detail  kayanya rada jelas bahwa ini sangat tidak scientific, dan in a sense ambiguous, karena… ada betulnya dan juga terkadang sangat scientific… It’s very confusing. . .

Ga usah dipikirin sih sebenernya… Jadi on topic!

Para fisikalisme ini naik lagi satu level dengan bilang bahwa, memang ada invisible path that connects our brain with other brains. Like.. you know, Wi-fi. Sepertinya masuk akal, tapi juga… ga masuk akal…

Ya ini sedikit mendefinisikan interconnectedness dengan cara yang… a bit odd, tapi efektif.

Ini mencover koneksi antar pikiran, karena jika sebuah ide adalah gelombang listrik (or an email), dan pikiran (otak) kita adalah komputer, kita cukup punya sebuah koneksi (in the form of matter apparently) untuk menjadi wifi yang menyambungkan sebuah ide ke komputer lain.

Not only that, this also, kinda covers that… universal mind that governs stuff theory, karena jika pikiran sendiri adalah sebuah substansi, tentunya punya suatu pikiran yang paling tinggi sangat masuk akal karena… Course, sebuah pikiran paling tinggi dapat mengatur hal-hal lain, karena pada dasarnya dia sebuah materi yang sangat… kuat.

Yeah kayanya pusing banget ya… Welcome to philosophy!

In Conclusion

Menggantung lagi, karena masih ada banyak hal yang emang belum aku cover, tapi untuk semua artikel dalam serial ini, akan aku bahas dengan semacam flashback, kembali ke artikel awal, dan tulisanku tentang Materialistic point of view. Seberapa spot on ilmu yang ku tangkap sebelum baca-baca ulang.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance.
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.

Untuk pertanyaan utama… Semesta ini memang terbuat dari banyak unsur, dengan banyak bentuk dan ukuran, tetapi semuanya memang bisa dibreakdown menjadi lebih kecil. So there’s some form of equality there?

Dia berhubungan dengan interconnectedness karena… well, substance yang sama bisa menjadi jembatan untuk ide dan pikiran. Selain itu, ada langit diatas langit, dan ada suatu hal yang memang di atas pikiran kita ini, jadi andaikan pikiran adalah materi… akan masuk akal jika ada matter yang lebih tinggi yang mengendalikannya.

Untuk poin terakhir… Yeah itu rada salah… Aku belum terlalu mengerti prinsip materialisme sepenuhnya tadi, tetapi ternyata materialisme tidak terbatas ke objektifikasi semesta ini (seperti para filsuf Yunani), tapi bisa lebih menyentuh… daerah lain, dan mencapai benda lain secara explicit. Jadi,karena itu banyak miskonsepsi karena… kurangnya pengalaman, oleh karena itu mohon maaf.

Semoga kesalahan ini tidak mengurangi kesetiaan reader pada blog ini, karena as you might know, everyone is still learning.

Till tomorrow!

Interconnectedness: Different Perspectives

Interconnectedness: Different Perspectives

3 lagi… (Posts to make to pay my debt, during last week’s camp)

Ya, sebenernya kuliah Jumat kemarin lebih pendek dari biasanya, jadi artikel ini juga ga bakalan terlalu panjang. Jadi, sesudah entah berapa artikel menyebut interconnectedness… Akhirnya ada kuliah yang memberikan beberapa perspektif berbeda. Karena sepertinya 1 perspektif tidak cukup memusingkan.

So, here we are!

The 5 Perspectives

Jadi ada 5 perspektif berbeda, in a sense, mereka melengkapi satu sama lain, but… yeah juga ada yang kontradiktif sih, jadi… begitulah (FYI, aku akan bilang begini kalau aku sudah speechless). Oh, dan bukan karena dia memusingkan jadi ga menarik. Justru menariknya gara-gara buat pusing.

Historically speaking, ada yang thinking disini terkesan less scientific, jadi di bagian ini aku juga mau jelasin biasanya filsuf era apa yang masih mikirin perspektif ini.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.
  • Vitalistic: Life Force… Daya/Energi/Kekuatan apa yang menggerakkan semesta ini?
    • Seperti adanya listrik di sebuah elektronik, atau koneksi internet di HP dan Gadget… Para vitalists percaya bahwa karena adanya universal Wi-Fi ini pikiran dapat mudah berhubung dengan satu sama lain. (Yes, in a nutshell, the vitalists believe that interconnectedness is practically a universal wi-fi, not a joke)
      • Perspektif ini lebih modern, karena sudah ditemukannya quantum physics, dan banyak medan-medan lain, seperti morphic resonance untuk menggerakkan suatu benda.
  • System Theory: Connections… Dengan pola seperti apa alam semesta ini dapat bekerja? Hubungan apa yang terbuat dalam sistem ini?
    • Mirip dengan Holon di Holarchy, System Theory percaya bahwa kita semua adalah sebuah… tiny cog inside the complicated engine of this realm. Semua gerigi akan berputar dan bekerja menyelesaikan tugasnya, sambil terhubung dan memutar gerigi lain. (Lengkapnya di artikel yang ada linknya di kata Holarchy itu yaaa)
      • Perspektif ini… sudah ada sejak zamannya Pythagoras, yang percaya bahwa setiap angka punya peran berbeda pada setiap sistem. Luckily, technology supports this theory far more than the materialists… dan sampai sekarang, teori ini masih sering dibahas.
  • Evolusionists: Process… Bagaimanakah semesta berkembang? Sejauh apa semesta ini telah berubah?
    • Para evolusionis percaya bahwa universal mind ini tercipta sesudah evolusi, dan sampai akhirnya kita terhubung satu sama lain, sesudah tiap spesies berevolusi. Bahkan proses evolusi in the first place ini tercipta karena some sort of random number generation oleh Universal Mind. Universal Mind ini pun menentukan siapa yang lebih kuat melewati seleksi alam. Kalau dilihat dari perspektif dark-nya, seleksi alam ini sebuah turnamen dan kita merupakan kompetitor yang ingin selalu bertahan hidup.
      • Perpsektif ini sudah ada sejak… Darwin. It’s rather modernistic. Course, ini terbilang modern karena root dasarnya adalah biologi dan evolusi yang dibuat Darwin.
  • Mystic: Consciousness… Apa perannya kesadaran dalam Interconnectedness?
    • Oh dear… Ini topik sensitif. It really is. Perspektif mistik ini bisa terbilang tercipta dari orang yang mendapatkan ilham/revelasi (or claims to have gotten a revelation, sayangnya meski ini ga scientific, itu salah untuk blindly percaya claim orang-orang), dan perspektif ini sangat relatif ke agama dan penerima-nya. Tetapi hampir semuanya kembali ke fakta bahwa consciousness manusia terpisah-pisah, padahal nyatanya hanyalah satu.
      • Perspektif ini sudah ada sejak agama monotheistic pertama muncul. Teori ini juga ada di culture Hindu, yang memiliki dewa yang tidak manusiawi (unlike European Gods). Sampai sekarang pun karena pentingnya agama di dunia ini, teori ini masih seringkali terpakai.

So after getting the perspectives out of the way, aku mau bahas masing-masing perspektif… di artikel lain… sorry, hari ini sepertinya aku sedikit… slow, dan karena aku emang rada ngutang beberapa tulisan… jadinya ini kupecah dua deh…

Well I really do hope you could understand 😀

The new article would be released later tonight 🙂 (And I’d link it if it was done)

In Conclusion

TO BE CONTINUED . . . .  🙂

Layers Of Consciousness

Layers Of Consciousness

Sejujurnya kemarin aku baru saja mendapatkan kuliah filsafat (heck, materi) filsafat paling membingungkan so far. Funnily dosennya, Professor Matius Ali, yang langsung dari Institut Kesenian Jakarta bilang… kalau gak ngerti santai kok… ini biasanya orang-orang baru ngerti 10 tahun kemudian, gak jarang ada yang ga ngerti sampai 10 tahun kemudian.

Untungnya, Professor Matius juga punya sense of humor yang sangat baik, dan bisa membuatku ngakak entah berapa kali sepanjang kuliah. But regardless, daripada diem di sini menjelaskan hal yang aku belum ngerti, kujelasin yang aku dah ngerti aja deh.

Man Is A Rational Animal -Aristotle…

Noh, mulai dari quote itu deh. Manusia adalah hewan yang rasional. Yeah, just… that, I’ve got nothing else to say.

Kalau kita mau bahas layers of consciousness, kita sebagai manusia diciptakan tepat di tengah-tengah chart-nya. Hang on ku upload image deh.

Yang diajarkan kemarin ga persis jleb gitu sih, tapi ga beda-beda jauh. Chart diatas lebih membahas psikologi-nya, tapi kita ga mau bahas itu hari ini, namun itu emang layers of consciousness yang lebih sering dipakai orang. Gambar di atas itu sesuatu yang lebih bersifat empirikal, dan meski emang ada hubungannya, ini bukan topik yang membingungkan itu…

Hopefully this is more spot on and confusing…

Ini sebenernya udah sesuatu yang aku mengerti, and pernah di explore pas nonton Doctor Strange, tapi itu gak mau dibahas sekarang dulu… Langsung ke artikel aja deh…

Lower Triangle

Jadi dari dua gambar itu, ada segitiga yang ada di atas, dan ada yang di bawah.

Kemarin sih Professor Matius menjelaskan bahwa semakin ke bawah, semakin nyangkut kita dengan evidence dan hal-hal yang beneran. Semakin ke atas cara kita berpikir semakin transcend kita ke universe lain, dan semakin dekat kita dengan dunia yang… well in a sense mystic.

Nah, untuk sekarang kita mau bahas segitiga yang dibawah ini.

Physical Realm

Pertama-tama kalau kita liat di ujung segitiga yang dibawah itu, ditemukan Physical realm. Which yes, itu realm consciousness yang paling rendah. Sebuah realm yang semuanya itu… hanya temporal. Jadi apa sebenernya yang paling bawah itu? Well, diantara apa yang di bawah, and paling bawah itu, ada yang disebut materi, or worldly things.

Jadi, sebenernya mirip ke apa yang agama sering point out, materi bukan apa-apa kalau kamu gak punya meaning lain di hidup ini.

According to most Platonian (it is indeed a word…) philosophers, atau filsuf yang percaya pada Plato’s teachings and text, dunia ini cuma dunia KW 2, dan dunia nyatanya adalah dunia idea yang letaknya entah dimana itu…

Bentar dulu tapi, dunia ide disini kan gak ada di layers of consciousness itu? Okay, namanya beda

Astral Realm

Well, aku pernah baca sesuatu yang berbunyi seperti ini… “Humans do not fear the death of the body”. Well itu karena yang namanya mati itu cuman tubuh etheric dan physical realm doang. Itu satu-satunya hal yang temporal. Abis mati, kita akan naik ke emotional layer of consciousness, also known as the Astral Realm (Yes, sama persis sama Doctor Strange’s Astral Realm). Kalau Platonian bilangnya, Astral Realm itu dunia Ide karena, bentuk paling ideal-nya dunia itu ada di situ.

Kemarin sih, yang dijelaskan sama Professor Matius, kalau si Astral Plane ini ada di atas Etheric Realm, tapi dibawah Lower Mental. Jadi aku bahas ini duluan sebelum aku mau bahas ke Lower Mental. Meski urutannya beda.

So, what’s the point of this? Astral Realm adalah realm dimana kita akan succumb to our emotions, sampai at one point kita akan percaya pada apa yang di apply di Astral Plane, dan mengubah realita fisik.

Doctor Strange masih contoh yang bagus, karena… Di film itu, Cumberbatch with the arrogant doctor kinda guy, broke his hands, losing the ability to become a surgeon. Terus dia ditepak sama Sensei di Kamar Taj and dilempar ke Astral Plane, only to find out that, his actual hand is still perfectly functioning.

Now, Astral Realm ini udah mulai… immortal, karena physical body bisa saja mati, tapi astral realm ini akan balik ke… tempatnya. Kemarin Dr. Matius bilang untuk mengaksesnya, kita harus bisa channel our emotions and do stuff… I actually don’t get…

For now ini masih masuk dalam topik human nature. Tapi kalau kita mau bicara thought, yang udah diluar dari emosi dan physical things, ada di Lower Mental.

Lower Mental

Kalau kita mau bahas philosophically, orang yang masih percaya sama empirical solid thought… Itu kodratnya lebih rendah dari orang yang punya abstract thinking. Yes, terdengar kasar banget, tapi sebenernya ada betulnya.

Einstein pernah bilang bahwa Science Without Religion is Lame. Which is true, I mean, ini teh cuma angka dan rumus-rumus, yang sebenernya learnable tanpa perlu talent (or so I’ve been told). Orang yang hanya bisa empirical thought, itu biasanya boring.

Lower Mental ini berada di realm yang… hang on rada bingung jelasinnya… kukasih contoh deh.

Aristotle bilang bahwa Socrates is a man, and Men are mortal. Ya, orang yang tahu keduanya itu masih nyangkut di physical realm dengan ego mereka, closing their eyes. Tapi kalau kita angkat dikit, cuma dengan analisa simpel, Socrates is Mortal. Cuma dari adding 2+2 and getting 4, alhasil kita sudah sukses naik ke Lower Mental, dengan mau mulai membuka horizon dengan thinking empirical.

Tapi kaya aku bilang, ini itu sesuatu yang learnable tanpa perlu talent, tapi… kalau mau naik lagi… jadi apa dong?

Higher Triangle

Di segitiga yang atas itu sudah diluar batas manusia, karena… manusia terletak di antara kedua segitiga, balanced out, rational enough to beat animals who could only think based on evidence, tapi ga lebih tinggi dari… apapun yang ada di atas. Which is our true self.

Let’s discuss this bit by bit…

Higher Mental

Abstract thought, the ability to… feel what’s above us humans. Itu yang ada di Higher Mental.

Kata Professor Matius, biasanya orang-orang artistik yang lebih connected sama… higher mental ini. Sesuatu yang udah diatas grasp para manusia, karena bersifat abstrak. With all due respect, godly things are already a part of this.

Quote dari Einstein tadi baru setengah aja. Religion without science is Blind. Aku sih sebenernya percaya ini sesuatu yang beneran lho, karena sejujurnya kalau kita hanya mau melihat religion… kita akan menutup diri dari empirical knowledge, which is like… wrong.

Don’t get me wrong, abstract thought and beliefs are very important. Tapi kalau kita menutup diri dari simple thinking dan hanya mau masuk ke sesuatu yang abstrak, kita ga akan bisa form apa-apa…

Topik ini takutnya rada… kontroversial, jadi kita bahasnya segini aja.

Transcendental/Transpersonal

Ini simpel sih, kalau kita udah sampai ke titik ini, kita akan merasa lebih… well, care to others. Sama seperti segitiga psikologi di atas. Kalau kita udah bisa conquer emotional needs dan respect diri kita sendiri… Kita akan mulai merasa perlu untuk membantu higher cause, something that’s higher than us.

Ini berbeda-beda tergantung orangnya, tapi ada yang merasa bahwa hidup yang meaningful itu… hidup yang serve god, ada juga yang memutuskan untuk serve orang lain, by helping them. Intinya adalah, ketika kita sudah mencapai titik ini, kita sudah benar-benar mau mencapai… dan menyelesaikan higher… living? Aduh sebenernya bingung ini, tapi intinya… Life orang akan bener-bener meaningful ketika sudah bisa transcend.

On top of that, realm ini juga ada di intuisi kita. Kalau gut instinct kita merasakan sesuatu yang gak bener, ya… kita bakalan merasakannya, as a part of this transcendental intervention.

Orang yang ga punya instinct atau intuition to differ an intervention biasanya masih nyangkut di abstract thought.

True Self

This is a part of the, “takes 10 years to understand, be patient”…

Bener, bener bingung aku sebenernya tapi according to Buddhist beliefs, the true self is a self that has ignored all worldly temptations, fully serving god.

Ini sebenernya confusing, dan… ADUH pokoknya bingung we lah ya… tapi kalau di part sebelumnya kita membahas higher purpose, true self ini udah ignore purpose lain selain final purpose-nya kita.

Even then, aku masih bingung… Maaf ya, aku bener-bener bingung dan… astounded sama penjelasan kemarin.

Middle Realm

Sesudah malu dikit gara-gara bingung… Coba maju aja deh ke bagian tengah, sesuatu yang di claim sebagai realm milik kita. Kenapa semua manusia diciptakan tepat di tengah ini?

Kemarin sih… Professor Matius bilang bahwa ini adalah konsep Free Will. Kita sebagai manusia diberikan lokasi yang sama, tinggal dipilih aja, mau turun dan membahas sesuatu yang tampak real? Atau mau naik dan membahas sesuatu yang imajinatif dan… abstrak? Apakah kita akan ke atas banget dan akan menjadi orang yang sangat baik? Atau kita akan succumb ke Ego dan materi dengan turun ke bawah?

It’s all in our options, and choices.

In Conclusion

It’s all in our options, and choices.

This, again, yeah jedanya cuma 2 kata dan 2 mencet enter. Aku ga sepenuhnya ngerti kemarin, (okay, banyakan pusingnya daripada ngertinya), tapi kalau aku bisa conclude sesuatu dari kuliah kemarin, kita semua lahir tanpa tali, dan bebas mau memilih apa.

Tinggal di tentukan hidupnya kita akan digunakan untuk apa? Apakah untuk cari uang? Untuk pride dan ego kita? Atau kita akan membuat orang lain senang?

It’s all in our head, I just… brought up the facts. Karena banyak orang nyangkut di dunia empirik, dan gak mau lihat hal dengan abstraknya, atau ga mau percaya sama apa yang bisa dilihat.

Seeing isn’t believing… Believing is Realization.

Semoga suka sama artikelnya!

Holarchy

Holarchy

Jadi, kemarin (lusa), di Unpar, tetap dalam series Filsafat, sebenarnya kita membahas tentang Principles of Universality. Topiknya dibawakan oleh Professor Fabianus dari Unpar sendiri.

Masih percaya pada hipotesis dan Point of View kemarin, dan masih percaya pada Universal Mind yang govern universe ini, as well as Interconnectedness (which unfortunately isn’t an official English word), topik yang dibahas ada dua, kurang lebih…

Yang satu membahas Ultimate Reality. Which sejujurnya bisa membawamu pusing migrain 100 puteran, aku juga belum yakin bisa nulis tentang itu, jadi, untuk sementara… kita postpone dulu. On the other hand, kita membahas Holarchy juga, yang alhamdulilah, jauhhh lebih simpel untuk ditulis, dan juga memang lebih mudah dimengerti.

Sebelum masuk ke artikelnya, aku mau bahas dulu kenapa Ultimate Reality ini memusingkan…

  • Sangat-sangat dependent pada perspektif dari semua jenis orang, no matter how complicated or simple the thought of the person is.
  • Sebaiknya bisa “menyatukan” perspektif yang beragam itu menjadi ONE ultimate reality, and one ultimate life goal. Sambil jelasin napa reality yang absolut itu cukup ada satu aja.
  • Harus bisa breakdown segala hal, dan keinginan orang-orang, dari yang paling simpel, sampai yang paling rese, dan masih bisa masuk dalam ultimate reality itu.
  • Memastikan dalam keperbebedaan teori dan desire orang-orang yang banyak sekali itu masih masuk dalam ultimate reality, tanpa ignore desire itu in the first place.

Jadi “sangat” simpel, dan kemarin lusa aku kayanya baru ngeh… “Kayanya aku belajar filsafat demi sengaja membuat diriku pusing”. Luckily I do like confusion. Untuk sekarang ayo lupakan kepusingan itu dan masuk ke artikelnya yuk!

What’s a Holarchy?

Holarchy sendiri sebuah sistem, yang composed of Holons… (further explanation below, tapi kalau aku cuma pake Holarchy doang bakalan lebih bingung dibawah, so here we are)

Definisi absolute-nya rada membingungkan. Tapi kayanya kalau pakai contoh bakalan kebayang deh. Coba bayangin dunia ini sebuah mesin yang extremely complicated. Manusia yang bekerja dalam si mesin ini, adalah roda gerigi yang terus berputar tiap detiknya, berkontribusi pada si mesin. Si gerigi ini juga merupakan bagian dari mesin yang lebih besar untuk diputar.

Part mesin yang lebih besar ini terus berputar, dan berkontribusi untuk mesin yang lebih besar and so on. Sampai parts mesin yang krusial ini menjadi parts besar for the entire world.

To constantly help with the definition, ini rewritten quote (ga persis kok)… “An atom is a part of a molecule, a molecule is a part of a cell, a cell is a part of an organism, and so on. There is no whole nor part, they are both a part and a whole at the same time. Also known as a Holon

Intinya, kita adalah atom, yang merupakan bagian dari molekul, dan bagian dari sel-sel, ataupun organisme. Kita bukan satu objek sendiri, atau satu kesatuan, kita dua-duanya, kita itu Holon.

Ini further support yang namanya Interconnectedness (who once again, isn’t a word in the WordPress dictionary… tapi ternyata WordPress juga bukan kata di Dictionary-nya WordPress, jadi who knows?), karena dia akan menjelaskan kenapa Universal Mind Theory ini terus berhubungan dengan terhubungnya suatu pikiran ke pikiran lainnya.

Nah, karena pada definisi layer kedua yang dibahas di artikel kemarin, memang membahas sebuah medium dan/atau system yang menyambungkan beberapa makhluk hidup. Kalau kita berperan sebagai Holon, alias sebuah single organism yang juga merupakan part di saat yang sama, emang masuk akal banget sih ada interconnectedness.

Relation to Interconnectedness

Meski udah kubahas dikit tadi, kalau mau dikupas lebih dalem, pasti lebih afdol dong.

Jadi, definisi absolut-nya Interconnectedness ini emang masih fleksibel sih, tapi aku paling suka sama definisi yang state seperti ini… “Interconnectedness refers to the manner that connects groups or singular objects in a system with one another to form a more complicated system.”

Di translasi ke Bahasa Indonesia… “Interconnectedness adalah suatu tingkah laku yang menyambungkan grup atau objek singular dalam sebuah sistem dengan satu sama lain untuk membuat grup atau sistem yang lebih kompleks”.

Jadi, sebenernya dari definisi aja udah kebayang banget ya… Sama lagi kita lihat dengan yang namanya singular objects dan groups, dan makin ke sini akan makin kompleks.

Sebenernya dari liat definisi juga ga bakal terlalu susah buat connect the dots antar interconnectedness dengan Holarchy. Tapi kalau masih bingung…

Holon adalah objek/grup yang terdiri dalam sebuah sistem.

Sedangkan Interconnectedness adalah koneksi yang menjalin dan menghubungkan objek singular dan grup-grup di sistem tersebut.

Voila! Ngerti kaaan? Holon adalah user di sebuah sosmed, dan internet yang menghubungkan para user Sosmed itu adalah Interconnectedness-nya!

To Be is To Be With

Hamlet bilang, To Be, or Not To Be? Descartes bilang I think, therefore I am. However in  this everlastingly running and complicated machine, Heidegger bilang, To Be is To Be With.

Jadi Hamlet, kalau kamu mau jadi seseorang, pastikan kamu sama orang lain (CIEEEEE. . . . . Okay, bad joke, sorry, speaking of Hamlet, I should watch the play I guess…)

Heidegger ini juga philosopher yang percaya dalam Holarchy. Beliau bilang bahwa kalau kamu bukan bagian dari apa-apa, maka kamu bukan apa-apa. Extreme kedengerannya ya. Mungkin sih Heidegger emang ekstrim dalam jelasin Heideggerian ini, tapi… Sebenernya dia ga salah juga sih.

Holarchy percaya bahwa kita adalah bagian dari sesuatu, sekaligus individu juga, tapi kalau kita hanya commit ke diri kita sendiri, kita ga ada kontribusi ke dunia ini, jadi, Heidegger ga salah dengan bilang bahwa kalau kita bukan bagian dari apa-apa, kita bukan apa-apa.

Untuk menaikkan keseriusan dia pada subjek ini, being there is always being with. Bingung? Sama, aku juga baca ulang modul berkali-kali sambil inget-inget kata Professor Fabianus yang ngasih lecture kemarin.

Jadi sesudah berkali-kali baca, dan mengingat kuliah kemarin. . . Dalam bahasa jerman sendiri (Heidegger menulis di bahasa Jerman btw), Mitsein (Being there), adalah phrase yang juga digunakan dalam kalimat being with, this play of words might be a coincidence. Tapi sama kaya yang namanya detektif, tidak ada coincidence di filsafat.

Heidegger used this wordplay and utilized this probable coincidence. Dan dia develop Heideggerian theory yang bilang bahwa kita tidak mungkin sendirian, regardless of where we are, or how alone we think we are, kita pasti mikirin orang lain (sekali lagi, CIEEEEEEEEEEE. . . . iya, terrible joke, tetep dipake tapi 🙂 ) dan ketika kita mikirin orang lain, interconnectedness ini come to play lagi, dan kita jadi indirectly not alone.

Tapi, Heidegger ini terbilang baru dalam Holarchy ini. Ada philosopher lagi yang membahas lebih jauhhhh lagi.

Parmenides

Parmenides, seorang Greek Philosopher (since the foundation of every knowledge comes from the Greeks) membahas yang ‘Ada’. Kalau pake Bahasa Indonesia rada bingung, karena ‘Being’ yang Parmenides bahas, di translate sebagai yang ‘Ada’. . . Jadi, di bawah ini, kalau ngebahas ‘Being’ atau ‘Ada’ ini referensi ke hal yang sama yaaaa.

  • Segala hal adalah satu hal, dan hal itu adalah yang ‘Ada’.
    • Parmenides bermaksud bahwa apapun suatu hal itu, pasti hal yang dimaksud merupakan bagian dari hal yang lebih besar. Meski belum di classify ke hal yang dibawahnya lagi, dan sangat general dalam bilang… ‘Ada’, teori ini masih considerable.
  • Segalanya adalah satu/tunggal
    • Segala hal ini juga merupakan entitas tersendiri, dengan tujuannya tersendiri. Tapi karena segala hal juga ‘Ada’, berarti semua hal adalah satu hal dan juga segalanya… (paradoks dehhh)
  • ‘Ada’ ini juga tunggal
    • Karena ‘Ada’ adalah segalanya, dan segalanya adalah satu hal, berarti ‘Ada’ juga tunggal. Sama repetitif juga…
    • ‘Ada’ ini tunggal, dan terbilang kekal, tidak bisa dipecah, atau dibagi lagi. Tapi kita kebetulan tidak bisa mempersepsi si ‘Ada’ ini, dan melihat si ‘Ada’ ini sebagai hal yang terpecah-pecah.
    • ‘Ada’ ini juga terus berputar dan tidak habis-habis, in a constant state of change.

According to Parmenides juga, karena semuanya dipersepsi dalam terpecah-pecah, semua hal otomatis temporal, dan akan terus berubah-ubah, agar kita bisa eventually perceive this ‘Being’.

Dalam scope kecil, tidak ada yang lenyap, atau baru di dunia ini. Segalanya terus berubah-ubah, tanpa ada yang lenyap atau hal baru tercipta. New ‘Beings’ are just a change of perception through our eyes.

Karena tiada yang berubah-ubah, Professor Fabianus kemarin bilang bahwa Ultimate Reality itu… tunggal. Jadi, YAY! Masih in line dengan statement ku di awal tentang Ultimate Reality.

In Conclusion…

You’ll Never Walk Alone…

Liverpool Reference! (Babah fans Liverpool, die hard pula…) Jadi sebenernya conclusion kita hari ini akan kembali pada dasarnya Holarchy. Holon sendiri membahas sama yang namanya Bagian dan Individu.

Mungkin kita lagi galau, jadi kita merasa kita Forever Alone… (CIEEEEEE GALAU! 😀 ) Tapi nyatanya, kita adalah bagian dari suatu engine yang membuat mesin besar ini function lebih baik. Jadi, nyatanya, nothing is an individual. Everything is a part of something else, mau itu sebuah sel, atau kita di dunia nyata. Believe that.

It’s only up to us to find what are we, and what are we destined for.

Dan karena suatu hal yang Universal terdiri dari hal-hal tunggal atau partikular, tanpa warna dari keunikan individu dan partikular itu, hal yang Universal ini akan jadi bland, dan tidak punya rasa.

Meski aku masih belum siap membahas Universal Truth and Reality, tapi sesuatu yang tunggal ini memang harus… rese. Kalau Universal Purpose of life ini simpel, maka… Dunia ini gak ada warnanya, semuanya bakalan hambar, dan siapa yang suka makanan yang hambar? Mungkin purpose of life tiap orang beda-beda, dan karena banyak perbedaan itu, sesuatu yang hambar akan jadi warna-warni, dan terasa enak.

Semoga artikel hari ini punya rasio Nasi dan Soto yang enak, dan bisa dinikmati yaaaaa… See you tomorrow!

A Universal Mind…

A Universal Mind…

 Okay, sebelum masuk ke artikelnya, sorry… Kemarin aku ada banyak hal yang salah… Firstly, philosophy itself emang bisa digunakan untuk memberi/mengemas makna suatu benda. Tapi basically, even empirical science is philosophy, soalnya emang pada dasarnya ilmu empirik dan logika turun dari Aristotle.

Jadi, filosofi sendiri bukan hanya… filosofi, tapi basically everything ada filosofinya… Okay, kalau bingung…

Imagine knowledge is a skyscraper. Lantai dasarnya itu pasti filosofi.

Now onto the article, dari zaman Plato dulu, sudah banyak didebatkan bahwa mind ini connected with each other. In fact, semakin kesini, definisi dari Universal Mind semakin… Universal… 😛 . Basically, yang disebut dengan universal mind itu… well definisinya ada banyak sih.

Kalau mau masuk dalam topiknya sendiri, each theory of what a universal mind is, gets deeper. Sampai makna terdalamnya itu saying that the universe is governed by a certain mind.

Kemarinnya sendiri sih, aku sempet ke Unpar untuk ikut kuliah filsafat mengenai subjek ini. Kuliah kemarin masih basic dan hanya introduction saja, dan dibawakan oleh Professor Bambang dari Fakultas Filsafat Unpar…

On topic, masuk dalam artikel!

Definition

Well, ada 3 definisi dari Universal Mind ini…

  • Principles that apply generally (Immanuel Kant)
  • A connection of thoughts on a global level (Bertrand Russell)
  • Cosmic Consciousness that governs the world (Max Planck)

Sedikit info aja, Max Planck itu physicist. Which still believes on philosophy.

Now, biar kudefine dulu each of the definitions…

Immanuel Kant

Kant sendiri sih paling terkenal karena teorinya yang bernama Transcendental Idealism, yang menyatukan both Innate knowledge and Empirical knowledge as to how a human thinks.

Tapi, yang Kant maksud disini itu, adalah prinsip yang diketahui semua orang waras, dan apply on a global level. For instance, HAM… Tentunya principle yang Kant maksud itu… Transforming sih. Mungkin pas era colonialism, belum tersirat image HAM itu seperti apa, jadi principle yang tersirat berbeda.

Now on the other hand, Universal Mind yang symbolize interconnected minds ini, bisa ditunjukkan saat colonialism dicabut, thoughts orang-orang secara globally berubah.

Therefore, seiring perubahan principle, interconnectedness plays a part here and changes the thought of humans globally. I mean, its basically universally known that killing is bad and racism isn’t good… Every sane person should know that (Cough, Trump, Cough)

Peter Russell

On the other hand, Peter Russell bilang bahwa interconnectedness between minds ini in terms of skills, or… well knowledge. The same doesn’t apply for opinions.

Lebih luas dari definisi Kant, karena sebagai contoh… Misalnya, ada tikus di London yang tahu cara menghindari racun tikus, atau rat traps. Then, tikus di Indonesia juga bakalan tahu bahwa racun tikus dan rat traps are dangerous, dan bakalan avoid those things.

Yeah, the thoughts here aren’t really limited to humans.

Jadi, layernya makin mendalam juga, karena bukan hanya principle, tapi juga knowledge dan skills, beyond humans. Anything that has a consciousness would have similar knowledge and skills, so long they’re physically capable.

Max Planck

Physicist Max Planck sendiri sih percaya bahwa ada universal consciousness that governs and makes the universe move. On a cosmic level, Max Planck bilang bahwa ada sesuatu yang menggerakan dunia ini, dan ini akan apply di semua hal yang hidup dan bahkan yang ga hidup.

Well ini sih basically simple. Max Planck believes that there’s something that moves this universe, and everything is governed by some form of mind and consciousness.

Well, as I’ve said, makin dalem juga maknanya. Planck bahkan bilang bahwa the universe itself has a mind. Including inanimate objects.

Metaphysics?

Jadi, sebenernya, branch dari Universal Mind ini itu apa sih?

Well, there’s Metaphysics in it. Since, a lot of people thought of mind as a substance. Substansi yang disebut mind itu semacam sesuatu yang compose this universe.

Then there is also a little something called Interconnectedness yang udah aku sebut beberapa kali. Interconnectedness itu ada korelasinya dengan thinking, dan juga dengan similarities in many different things. Jadi branch sebuah Universal Mind adalah Metaphysics, and Interconnectedness as a branch. Well, I’ll be discussing a lot of things here.

Perspective

Kalau mau bicara perspektif dari Universal Mind, ada banyak, since… Aku baru tahu kemarin bahwa empirical science dan esoteric knowledge does count as philosophy.

Nah, ada 4 perspektif yang akan dikupas dalam 11 minggu kedepan… (didn’t I tell you that there’ll be a lot of more articles coming up?).

  • Philosophy’s perspective, membahas metaphysics tadi, dan caranya sebuah universal mind bisa breathe fire onto the world. Sama seperti yang kemarin aku bahas, emang kalau philosphy harus pakai imajinasi, yang ditalar pakai logika, apa itu masuk akal atau gak. Basically, this is science…
  • Empirical Knowledge. Kembali ke data untuk melihat dan mengecek cara minds function. Kemarin kata Professor Bambang, ada 3 branch science dan empirically speaking, bakalan ada Neurobiology, karena emang mind itu berpusat di otak (captain obvious!), terus Quantum Physics, karena belum ada found substance yang bisa play a part sebagai mind. Last but not least juga bakalan ada microbiology, untuk alasan yang mirip dengan Quantum Physics.
  • Esoteric Vision(s). Basically, contemplation of one’s existence… Udah gitu doang… Sorry, aku belum pernah bener-bener contemplate urusan ini, jadinya, belum bisa buat ini terdengar keren… 🙂
  • Pseudo-Science… Campuran Empirical Knowledge dan Esoteric Vision, yang butuh both contemplation dan juga observation. Basically, putting imagination onto the found data.

Philosophy’s Perspective

Pertama-tama, mau bahas Philosophy dulu… Apparently Universal Mind sudah dibahas dari zamannya… Plato

Plato

Kayanya aku pernah bahas soal Plato ini… Pas kita ngebahas Star Wars dari perspektif philosophy… (FYI, kepengen bahas Star Trek juga… 🙂 patience).

Plato percaya bahwa dunia ini hanyalah dunia KW 2 dari Dunia ideal, yang kalau mau di analogikan. Semua manusia dapet glimpse dari dunia ideal ini. Kalau mereka melihat sesuatu, visi ideal kita play a part dan kita akan mengcompare dunia ideal dengan apa yang kita lihat.

Which, according to Plato, ini alasan kita ga pernah bisa actually puas sama sesuatu, and also, kenapa nothing will be perfect.

Now, Universal Mind ini bisa masuk disini gara-gara… Well, semua orang dapet innate knowledge yang sama. Makanya kita akan merasa interconnected between many things. Tapi, teori Plato ini ada sedikit ga masuk akal. Gara-gara, innate knowledge yang Plato present dari dunia ideal ini, tidak memberikan visi yang jelas atas perbedaan opini.

Regardless, metaphysical theory dari Plato ini masih masuk akal kok. Hang on, selain metaphysical, kalau mau baca lebih lanjut tentang Plato’s main theory, bisa cari Rationalism. Since, we have to rationalize everything and compare it to our ideal image of the world.

Benedictus Spinoza

Spinoza yang keluar sebagai philosopher di era Christianity yang sangat kuat, bilang bahwa interconnected minds bisa terjadi karena…

Everything is made of one substance. That substance is known as God.

According to Spinoza, segalanya adalah Tuhan, dan Tuhan adalah segalanya… sorry kalau pop up controversy… Tapi, regardless of the religion, filosofi Spinoza tetep keluar kok.

Now, Spinoza bilang bahwa kita semua terdiri dari satu substance, dan kalau substance itu grow, maka thoughts dan connected minds akan grow juga. Therefore, since even inanimate objects are made of this substance…

Basically, everything can have a mind. The same mind. (This is Spinoza’s work in a nutshell, since right now, I’m playing neutral to all religions)

Immanuel Kant

Immanuel Kant sendiri percaya bahwa kita punya innate knowledge sejak lahir, tapi segala sesuatu ditata dengan sedemikian rupa agar kita bisa menyerap ilmu itu dengan innate knowledge yang kita punya.

This stays in line with Kant’s opinion of a universal mind. Pas awal artikel ini kan aku bilang bahwa Kant itu memang percaya bahwa the only universal innate knowledge itu universal principles.

Ini juga sangat cocok dengan ilmu-nya Kant yang membahas Transcendental Idealism, yang bilang kita sebagai manusia punya innate knowledge, dan juga perlu observe things untuk grow as a person.

Teorinya Kant juga bilang ada some universal mind yang menata dan mengatur dunia ini agar manusia bisa mengerti apa yang ditata dan didefinisikan.

Break…

Sebelum maju, sebenarnya ada masih banyak lagi opini dari sekian banyak philosopher lain regarding this subject. Tapi, umm… aku hanya mengambil 3 classic philosophers itu. Why? Firstly, emang aku lebih suka classic philosophy, cause it is interesting to see something old, still apply in the modern world.

Secondly, karena kalau dibahas semua, aku akan modar mengetiknya… Jadi, kalau mau belajar lebih lanjut, anggap saja artikel ini gateway untuk belajar lebih lanjut ya 😉

Empirical Knowledge

Empiric… Kalau dari awal baca, and masih bingung artinya apa, Empirical knowledge itu ga ada hubungannya sama sekali dengan Empire di Star Wars. Empiric Knowledge means… Itu ilmu yang didapat dari hasil observasi.

Max Planck

Ooh! Him again!

Max Planck ini bilang bahwa consciousness sebuah manusia, (sesuatu yang masih coba dipecahkan oleh scientists and psychologists) derive from matter. Like, matter di fisika? Yeah, that matter.

Matter does Matter since, Max Planck sendiri percaya bahwa everything has a consciousness, dan everything juga tercipta dari matter, jadi Max Planck percaya bahwa Matter is what forms consciousness.

Yang Max Planck ini lakukan sama seperti apa yang dilakukan oleh Aristotle, basically adding 2+2 to make 4!

Kenapa sesimpel itu? Sebagai fisikawan, Max Planck knows that Matter exists in everything, whether dead or living. Nah, semua yang mati atau hidup juga pasti punya kesadaran agar mereka bisa function properly.

Aku sendiri sih kurang percaya ini masuk ke Empirical Knowledge ya… Tapi, itu mau aku bahas nanti.

Stephen Hawking

Kalau mau baca review bukunya, bisa banget, klik ini aja…

Kayanya Hawking itu cukup terkenal, in fact, I think he goes number three untuk scientists yang diketahui orang jaman sekarang. Nomor 1 dan 2 nya, Einstein and Newton.

On topic… Hawking sendiri sih, sebenernya (according to Professor Bambang, bukan aku), sedikit atheistic kalau mengutarakan pendapat, dan sangat empirical, since there is no empirical evidence of God…

Nah, Hawking sendiri bilang bahwa jika ada teori yang bisa Unify everything (like String Theory!), dan menjelaskan segalanya, masih ga ada “fire” and passion di unified universe itu.

Hawking sih penasaran apa yang bisa unify both consciousness, dan juga universe-nya sendiri.

Nah, ini kenapa menurutku opini Max Planck lebih tampak seperti Psedo sains. Actual empirical knowledge relies on the proof, dan Planck belum menemukan proof bahwa ada consciousness di sebuah inanimate object.

David Eagleman

Abis dua kali nyebut fisikawan, sekarang kita ngebahas Neuroscientist…

Based on David Eagleman’s own words, seiring molekul kita merge, dan kita punya proper mind… something that enables us to be the species we are now…

Sesudah every step of evolution dan survival of the fittest, David Eagleman yakin bahwa ada neural program outside our actual minds yang enable our creation in the first place, program ini ngasih ability and it basically triggers our amygdala when an event happens.

Okay, kalau bingung, intinya, David Eagleman yakin bahwa ada mind yang enable the creation of minds, dan juga ada interconnected thoughts between many living things. Sama kaya kenapa monyet dan kita sama-sama seneng kalau makan. Same goes for male Pandas, yang seneng liatin Panda cantik, dan juga sama kaya aku … eh bukan aku doang… cowo suka liatin cewe cantik…

Well, mungkin terdengar aneh kalau menyamakan humans dan… animals, tapi emang ada urges yang universal, dan brain part yang ketrigger itu similar kok.

Esoteric Visions

Okay, ini lebih sedikit dijelasinnya sama Professor Bambang. Since, words-nya sangat poetic, tapi… ya begitulah. Coba keep up saja, karena aku sendiri juga ga terlalu ngerti tentang ini, yang butuh deep contemplation and poetic-ness… (FYI, poetic-ness isn’t a word)

Buddha

Okay, basically, Buddha bilang bahwa everything has a mind, karena semuanya adalah living things. Every living things are equal and has a mind…

Okay, aku rada bingung, tapi quote-nya bagus, jadi copas quote aja ya…

As I am, so are these. As are these, so am I. Drawing the Parallel to yourself, neither kill, nor get others to kill.

Bingung kan kamu???

Sama aku juga bingung… (Btw, aku ngerti maksudnya apa, tapi yang aku ga ngerti teh masukkin ini ke perspektif Universal Mind)

Alex Grey

Now, Alex Grey, who is apparently a contemporary philosopher, bilang bahwa interconnectedness between minds itu ga ada ujungnya. It’s basically an endless loop. Like, how Japanese Philosophers used to draw a Rinne (endless circle of life). Okay, itu sebenarnya sedikit Naruto reference.

Alex Grey juga bilang bahwa there is no such thing as separation, or independence. Karena semua hal ada dalam awareness-mu dan semua hal terhubung pikirannya.

Confused…

Okay, ini emang rada ngebingungin bagian ini ya, aku sendiri sebenarnya ga… umm… ga terlalu ngerti. Like I’ve said, jadi apologies karena pendeknya bagian ini. Aku orangnya teknis banget, jadi rada bingung pas bahas imagine and meditate while contemplating existence.

Pseudo Science

Pseudo Science itu bukan FAKE science, itu salah. Sebenernya term yang lebih precise adalah semi Science, karena dia butuh contemplation dan imagination untuk picture these things.

Jadi, yang aku bahas kemarin di artikel filosofiku, lebih masuk akal untuk membahas Pseudo Science. Tapi kemarin juga ga salah sih, hanya… kurang akurat

Max Planck as pseudo Science

Sebelum masuk ke yang lain-lain, aku lebih mengira bahwa Max Planck masuk ke pseudo science karena ada faktor contemplation, dan ada sesuatu yang tidak ada proof-nya, meskipun ada Aristotelian Logic yang masuk ke dalam situ. Regardless, Professor Bambang menjelaskannya sebagai Empirical Knowledge, dan ini hanyalah opini.

Gregg Braden

Pas denger Professor Bambang bahas Gregg Braden, keingetan episode di Big Bang theory.

Gregg Braden bilang bahwa emotions are an electrical wave. And we’re creating a wave of energy when we have something in mind. Basically, the universe is communicating with one another because there are Waaaveees of energy when one thinks.

Hence, kalau satu wave bisa dirasakan wave lain, akan ada interconnected thoughts.

Ini similar ke Waldorf yang bilang bahwa humans could feel warmth. Dan misalnya di sebuah ruangan, jika ada seseorang yang dingin, kita akan merasakannya. Sama juga di ruangan yang panas kalau misalnya ada orang yang lagi marah. Jadi, Waldorf has an actual empirical proof to his theory!

Selain itu Gragg Braden juga pernah bilang bahwa everything has a mind in the sense that… something changes as soon as we observe it.

Beneran lho… bukan cuma orang yang bertingkah laku berbeda kalau diliatin, elektron juga berubah dari gelombang menjadi partikel kalau diobserve pakai mikroskop.

Peter Russell

YEAY! Peter Russell membahas paradox!

Sains menjelaskan apa yang terjadi di alam semesta, tapi itu ga bisa jelasin consciousness, and how it works. Kalau ga ada consciousness sendiri, mana ada science… tapi science sendiri has no clue apa itu consciousness.

Okay, sebenernya ini cuman translating quote-nya Russell, karena ada paradoks.

Tapi Universal Mind ini masuk karena, there is no science in a mind, but a mind does process science, so there must be some unknown mind to govern it.

Break

Again, another break… Paling menarik diantara Pseudo Sains itu, Gregg Braden, since he discusses emotion as a particle, wait no… as a wave.

Especially considering how something, very esoteric can be converted onto a wave. Dan mungkin kalau diobserve in detail, each emotion creates a different wave… One that corresponds to the emotion.

Misalnya, emotion marah radiate wave yang panas, emotion senang radiate wave hangat, emotion sedih radiate wave yang ga panas… or well dingin… tapi di fisika, ga ada yang namanya dingin. Coldness is a state of no heat.

Inanimate Consciousness

Well, ini cuman short part of the article yang menjelaskan bahwa inanimate objects like water does change its particle when given contact with Music.

Kenapa? Basically gelombang dari musiknya mengubah air itu yang indah menjadi rusak, or in fact, mereverse partikel air rusak menjadi kembali cantik.

Oh, dan ada murid Professor Bambang yang kepo, ternyata nasi makin cepet busuk kalau disimpen dalam container yang bertuliskan kata-kata kasar, while nasi lebih tahan lama kalau disimpen dalem container yang berisi kata-kata manis.

Jadi, kayanya Universal Mind ini ada betulnya in the sense that inanimate objects DO feel stuff.

In Conclusion…

Okay, ini bukan saat tepat untuk menarik conclusion regarding universal minds, karena journey yang membahas ini baru dimulai.

Tapi, kalau untuk sementara, kayanya it’s safe to say that… Everything has a mind, and basically notices these “waves” of emotion.

For now, aku perlu cari tahu a bit tentang PR yang dikasih Professor Bambang.

Salah satu membahas tentang kenapa philosophically menguap itu contagious, dan yang kedua, kalau ada couple yang lagi marah-marah dikasih kata kasar lagi, apakah makin marah atau jadi tenang, dan same goes for the opposite, kalau lagi marah dipuji apakah makin tenang?

Yang kedua mungkin obvious banget, but who knows really…

Considering aku ga punya couple, closest thing I have is a mom… yang kadang galak…