Tag: Universal Mind

Menggapai Kekekalan Fisik?

Menggapai Kekekalan Fisik?

The key to immortality is to first live a life worth remembering -Bruce Lee

Berulang kali sejak beberapa belas abad yang lalu manusia mengalami masalah yang cukup parah dari penyakit. Baik itu bakteri, ataupun virus, kami para Homo Sapiens sudah seringkali diserang oleh penyakit. Seiring kemajuan teknologi medis, semakin rendah dan mengecil jumlah angka kematian karena penyakit.

Jika ibaratkan bumi adalah sebuah pabrik dan manusia adalah produk dari pabrik tersebut, seiring semakin banyak peralatan di pabrik itu, semakin sedikit produk rusak atau “terinfeksi” yang akan ada. Tetapi, sejauh ini, semua produk itu hanya bisa tahan untuk 70-90 tahun jika produk itu tidak rusak, mendapat perawatan yang cukup dan benar, serta tidak terhancurkan.

Tetapi, apakah mungkin bagi seorang manusia untuk menggapai keabadian, atau kekekalan itu? Apa yang bisa memperpanjang tanggal kadaluarsa kita?

Jawaban tersebut mungkin ada di bawah… mungkin tidak. Jika tertarik, silahkan baca lebih lanjut!

Jiwa yang kekal?

The soul of a man is Immortal and imperishable. -Plato

Jiwa disini tentunya luwes. Mungkin saja jiwa ini berarti perasaan, seperti cinta, rasa bahagia, ataupun kebencian. Jiwa juga bisa berarti dedikasi ke suatu pekerjaan, atau tindakan. Jiwa juga bisa berarti… kesadaran.

Tentunya jika kita ingin membahas sebuah topik seperti ini yang jelas-jelas empirik, serta nyata… Kita akan perlu terjun ke dunia sains. Apakah ada metode untuk memindahkan jiwa dan kesadaran seseorang? Karena aku sendiri sudah yakin untuk dua definisi pertama, yaitu perasaan dan dedikasi… jawabannya sudah ada.

Tetapi sebelum terjun ke dunia sains, mari kita coret dulu Kesadaran ini, dan pindah ke dua definisi lain. Serta, waktunya untuk mendefinisikan Kekekalan Fisik.

Kekekalan Fisik?

Fisik… Definisi Bahasa Indonesianya tidak sesuai dengan konteks, jadi untuk sekarang, kita gunakan definisi Bahasa Inggris, Physical.

Relating to things perceived through the senses as opposed to the mind; tangible or concrete.

Menghubungkan hal-hal yang dapat dipersepsi melalui indra, bukannya pikiran, baik secara luwes, ataupun konkrit. Ya sebenarnya sih, definisi ini tidak terlalu menjauh dari definisi empirik. Mungkin seorang empirik akan mau masuk ke dunia pikiran, tetapi empirik dapat dimaksudkan ke sesuatu yang NYATA. Dan Physical disini tentunya juga berarti nyata.

Jadi, apa itu kekekalan fisik? (setidaknya untuk artikel ini)

Kekekalan fisik adalah seseorang yang akan tetap nyata, dan masih bisa ditangkap, dilihat, ataupun dirasakan keberadaannya oleh orang lain.

Untuk contoh, mari kita lihat Aristotle. Aristotle adalah seorang filsuf yang lahir sekitar 2500 tahun yang lalu. Sampai sekarang, namanya masih nyata… Ia belum dimakan jaman, dan juga belum menghilang dari muka bumi ini. Logika Aristotelian pun masih dipakai di sains…

Tetapi apakah ini berarti Aristotle itu Kekal? Tidak. Aristotle sudah mati dan tidak ada lagi orang dengan kepribadian ataupun cara berpikir yang pas dengan Aristotle. Dalam konteks kekekalan fisik, Aristotle itu kekal, ia masih bisa dipersepsi, dirasakan, bahkan dipelajari oleh siapapun. Tetapi ia tidak kekal.

Emosi

Hingga maut memisahkan.

Nyatanya, perasaan ini dapat dirasakan, lama sesudah orang sudah meninggal, tetapi… meskipun orang sudah mati, perasaan ini tidak kekal, dan tidak mungkin dirasakan oleh semua orang, akan sampai sebuah titik dimana akhirnya perasaan itu tidak dapat dirasakan siapa-siapa lagi. Sebagai contoh, mari kita ambil film Coco.

Di film itu, ada Cicit dari tokoh utama yang sudah meninggal. Meski tidak dijelaskan dengan detil, cicitnya itu masih diingat oleh, pada dasarnya semua orang, dijelaskan dengan cukup detil via simbolisasi foto yang disimpan… Tetapi, rasa cintanya, tidak dapat dirasakan oleh, misal, tokoh utamanya sendiri yang belum pernah bertemu oleh cicitnya.

Meski dirinya masih ada, dan dapat dipersepsi… perasaan, atau emosi, atau… apapun kata yang ingin digunakan untuk ini, karena aku merasa rada canggung bilang cinta untuk entah berapa kalinya… Kembali ke topik. Meski cicitnya dapat dilihat fotonya, dipelajari ilmunya aura emosi yang ia miliki itu tidak ada.

Bingung?

  • Secara kekekalan, ia masih abadi, tetapi dalam konteks… dedikasi, ilmunya masih terus menerus turun ke generasi dan generasi sesudahnya.
  • Secara kekekalan fisik emosi, ia tidak abadi. Karena perasaan, atau aura miliknya tidak dapat dirasakan lagi.

Dedikasi

Dedikasi. Seseorang dapat sangat berdedikasi, dan sampai meninggalkan sebuah jejak nyata dalam kehidupannya… Jejak ini bisa berupa ilmu, keahlian, atau apapun itu yang berbekas…

Sebagai contoh, dengan film Coco lagi…

Cicitnya Miguel (tokoh utama di film Coco) meninggalkan dan terus menerus menurunkan ilmu membuat sepatu ke generasi dibawahnya. Sampai generasi entah keberapa itu, teknik membuat sepatunya tetapi mirip, dan berdasar dari cicitnya, sebuah dedikasi yang ia kerjakan puluhan  (atau ratusan) tahun yang lalu.

Dengan meninggalkan sesuatu yang empirik, jejaknya dari muka bumi ini nyatanya, tidak pernah hilang… Untuk membuatmu bingung. . . Mengapa sebuah ilmu, atau sebuah perasaan berbeda? Padahal sekilas hal yang sama tampak…

Jadi… mari kita bandingkan perbedaan kecil diantara kedua ini.

  • Dedikasi yang mampu mencapai kekekalan itu berarti suatu dedikasi yang nyata, dan meninggalkan bekas fisik di dunia ini.
  • Emosi di sisi lain, tidak meninggalkan bekas fisik apa-apa dan hanya berupa sebuah aura, atau perubahan, yang tidak tercatat.

Kalau ada banyak lubang di pernyataan ini, dimohon untuk beritahu aku…

Kesadaran

Kesadaran… Definisi yang bisa membuat seseorang benar-benar abadi, bukan hanya abadi melalui catatan, ataupun perubahan persepsi. Tetapi keabadian. Bukan hanya kekekalan fisik.

Keabadian dimana seseorang benar-benar bisa tidak mati, dan akan selalu sadar dalam melakukan suatu tindakan. Bagaimana caranya?

Mari kita bahas itu dari perspektif perpisahan tubuh dan jiwa… Alias dualisme.

Menghadapi konteks sebuah tubuh dan jiwa yang terpisah… Jika jiwa disini berarti kesadaran, alias mind and soul. Maka sangat mungkin jika kita memindahkan kesadaran kita ke suatu tempat lain. Mungkin sesudah waktu yang cukup lama, pengemasan alias tubuh fisik kita rusak. Tetapi ini belum tentu bahwa isi dari produk itu belum rusak.

Sekarang banyak orang sedang memikirkan cara untuk memindai dan menyimpan kesadaran seseorang. Jika hal ini mampu dilakukan, maka, orang-orang tidak lagi akan mati… Kepribadian orang itu akan ada terus, sampai chip data yang menyimpan kepribadian, ingatan, serta kesadaran orang itu hilang.

Yang perlu, dan bisa diubah hanyalah tubuh fisik si orang itu.

Sekilas sesudah mendengar ini, 3 serial TV masuk ke pikiranku.

Black Mirror dan dystopia serta segala macam memori yang ada di serial itu. Aku sendiri belum boleh menonton jadi kalau mau penjelasan yang detil bisa komen dan berharap Babah atau Bubi niat dalam menjawab.

The Flash. Pada season 4, The Thinker, penjahat terbesar di season itu mampu memindahkan kesadarannya ke sebuah mutan, atau supervillain lain. Sanking pintarnya, ia dapat meminjam sebuah tubuh seseorang dengan kekuatan seperti misalnya, teleportasi, kekuatan super, memanipulasi cuaca, dan masih banyak lagi. Selain itu, kejeniusannya juga masih ada di tubuh fisik yang baru ini. Kekuatan telepati dan telekinesisnya juga tidak hilang.

Dan yang terakhir adalah sebuah anime yang aku tonton… 3-4 tahun yang lalu.

Judul dari Anime itu adalah Accel World, dimana semua orang punya kesadaran dan memorinya sendiri, di sebuah chip yang dipasang di belakang otaknya. Dari chip itu seseorang bisa bermain sebuah game yang cukup nyata juga. Di game itu jika kamu mengalahkan orang lain sampai poin mereka mencapai 0 di game itu, yang hampir semua orang mainkan, kamu berhak merebut chip milik mereka dengan sebuah program dari chip milikmu.

Ini berarti setiap kali kamu mengalahkan seseorang kamu mendapat tubuh baru… Serta tidak kehilangan tubuhmu yang lama.

Jadi… ini mulai melenceng, kembali ke topik utama…

Memindai serta menyimpan Kesadaran?

Google Ventures memberikan investasi besar untuk riset ke cara memindai kesadaran seseorang dan menyimpannya. Sesudah kesadaran itu disimpan, masih dicari cara juga untuk mengakses ingatan dan kesadaran orang itu dari tubuh orang lain, tubuh baru, ataupun komputer.

Ini berarti bahwa seseorang pada dasarnya… tidak akan pernah mati. Inilah keabadian yang nyata…

Metodenya masih belum riil dan masih teoretikal, tetapi jika ini sukses, akan aku ulangi lagi, seseorang bisa tidak akan pernah mati.

Renungan

Hari ini tidak ada kesimpulan, karena hari ini, aku ingin kita semua untuk bertanya dan merenung sedikit, alih-alih mendapat jawaban. Aku juga memberikan pemikiran dan opini ku di bagian ini.

  • Apakah sesudah menggapai keabadian, justru seseorang tidak memiliki tujuan hidup lagi? Dan justru, kebahagiaan sesaat jadi tiada artinya, karena seseorang mengharapkan sebuah kebahagiaan yang abadi?
    • Menurutku… kutipan ini akan lebih dari cukup untuk menjawab.
    • Millions long for immortality, who don’t know what to do with themselves on a rainy sunday.-Susan Ertz

    • Jika kita sudah bisa mencapai keabadian dan tidak akan mati, tanpa perlu mencapai apa-apa lagi, untuk apa kita hidup?
    • Mungkin sedikit referensi ke Trials of Apollo, 3 kaisar Roma yang kekal itu, masih punya tujuan… yang satu ingin menyiksa orang sebanyak-banyaknya, yang satu ingin menjadi dewa, yang satu ingin berfoya-foya. Tapi, untuk apa menjadi kekal jika kita belum tahu ingin melakukan apa dengan kekekalan itu.
  • Apakah ini memberikan kesempatan untuk sebuah diktator yang mungkin akan muncul, untuk membuat si diktator ini kekal, dan tidak akan pernah hilang ide dan kepribadiannya?
    • Bayangkan jika Stalin mendapat keabadian. Udah, pikirkan saja, ku tiada komentar lagi.
    • Kim Jong Un takkan perlu digantikan lagi selama bisa membeli sebuah chip ini.
  • Apa kata Tuhan? Apakah kita bermain Tuhan?
    • Pikirkan saja ini ya. Sejujurnya keabadian itu membuat banyak sekali lubang paradoks dalam perspektif agama. Terutama agama yang percaya pada konsep reinkarnasi atau dunia akhirat.
    • Agama yang percaya pada reinkaransi dan dunia akhirat ini biasanya menjelaskan kematian sebagai proses yang pasti dan justru menakjubkan serta mulia. Tetapi justru, jika memang jiwa, atau kesadaran manusia terpisah dari tubuhnya…
    • Maka apa yang akan di reinkarnasi? Jiwa kita? tubuh kita? Tetapi jika kesadaran kita tidak pernah pergi dari bumi, bagaimana kita bisa ke surga ataupun neraka? Apa kesadaran yang ingin di reinkarnasi?
    • Aku bingung, jadi silahkan memberikan opini…

Semoga renungan ini cukup.

Interconnectedness: Different Perspectives

Interconnectedness: Different Perspectives

3 lagi… (Posts to make to pay my debt, during last week’s camp)

Ya, sebenernya kuliah Jumat kemarin lebih pendek dari biasanya, jadi artikel ini juga ga bakalan terlalu panjang. Jadi, sesudah entah berapa artikel menyebut interconnectedness… Akhirnya ada kuliah yang memberikan beberapa perspektif berbeda. Karena sepertinya 1 perspektif tidak cukup memusingkan.

So, here we are!

The 5 Perspectives

Jadi ada 5 perspektif berbeda, in a sense, mereka melengkapi satu sama lain, but… yeah juga ada yang kontradiktif sih, jadi… begitulah (FYI, aku akan bilang begini kalau aku sudah speechless). Oh, dan bukan karena dia memusingkan jadi ga menarik. Justru menariknya gara-gara buat pusing.

Historically speaking, ada yang thinking disini terkesan less scientific, jadi di bagian ini aku juga mau jelasin biasanya filsuf era apa yang masih mikirin perspektif ini.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.
  • Vitalistic: Life Force… Daya/Energi/Kekuatan apa yang menggerakkan semesta ini?
    • Seperti adanya listrik di sebuah elektronik, atau koneksi internet di HP dan Gadget… Para vitalists percaya bahwa karena adanya universal Wi-Fi ini pikiran dapat mudah berhubung dengan satu sama lain. (Yes, in a nutshell, the vitalists believe that interconnectedness is practically a universal wi-fi, not a joke)
      • Perspektif ini lebih modern, karena sudah ditemukannya quantum physics, dan banyak medan-medan lain, seperti morphic resonance untuk menggerakkan suatu benda.
  • System Theory: Connections… Dengan pola seperti apa alam semesta ini dapat bekerja? Hubungan apa yang terbuat dalam sistem ini?
    • Mirip dengan Holon di Holarchy, System Theory percaya bahwa kita semua adalah sebuah… tiny cog inside the complicated engine of this realm. Semua gerigi akan berputar dan bekerja menyelesaikan tugasnya, sambil terhubung dan memutar gerigi lain. (Lengkapnya di artikel yang ada linknya di kata Holarchy itu yaaa)
      • Perspektif ini… sudah ada sejak zamannya Pythagoras, yang percaya bahwa setiap angka punya peran berbeda pada setiap sistem. Luckily, technology supports this theory far more than the materialists… dan sampai sekarang, teori ini masih sering dibahas.
  • Evolusionists: Process… Bagaimanakah semesta berkembang? Sejauh apa semesta ini telah berubah?
    • Para evolusionis percaya bahwa universal mind ini tercipta sesudah evolusi, dan sampai akhirnya kita terhubung satu sama lain, sesudah tiap spesies berevolusi. Bahkan proses evolusi in the first place ini tercipta karena some sort of random number generation oleh Universal Mind. Universal Mind ini pun menentukan siapa yang lebih kuat melewati seleksi alam. Kalau dilihat dari perspektif dark-nya, seleksi alam ini sebuah turnamen dan kita merupakan kompetitor yang ingin selalu bertahan hidup.
      • Perpsektif ini sudah ada sejak… Darwin. It’s rather modernistic. Course, ini terbilang modern karena root dasarnya adalah biologi dan evolusi yang dibuat Darwin.
  • Mystic: Consciousness… Apa perannya kesadaran dalam Interconnectedness?
    • Oh dear… Ini topik sensitif. It really is. Perspektif mistik ini bisa terbilang tercipta dari orang yang mendapatkan ilham/revelasi (or claims to have gotten a revelation, sayangnya meski ini ga scientific, itu salah untuk blindly percaya claim orang-orang), dan perspektif ini sangat relatif ke agama dan penerima-nya. Tetapi hampir semuanya kembali ke fakta bahwa consciousness manusia terpisah-pisah, padahal nyatanya hanyalah satu.
      • Perspektif ini sudah ada sejak agama monotheistic pertama muncul. Teori ini juga ada di culture Hindu, yang memiliki dewa yang tidak manusiawi (unlike European Gods). Sampai sekarang pun karena pentingnya agama di dunia ini, teori ini masih seringkali terpakai.

So after getting the perspectives out of the way, aku mau bahas masing-masing perspektif… di artikel lain… sorry, hari ini sepertinya aku sedikit… slow, dan karena aku emang rada ngutang beberapa tulisan… jadinya ini kupecah dua deh…

Well I really do hope you could understand 😀

The new article would be released later tonight 🙂 (And I’d link it if it was done)

In Conclusion

TO BE CONTINUED . . . .  🙂

Holarchy

Holarchy

Jadi, kemarin (lusa), di Unpar, tetap dalam series Filsafat, sebenarnya kita membahas tentang Principles of Universality. Topiknya dibawakan oleh Professor Fabianus dari Unpar sendiri.

Masih percaya pada hipotesis dan Point of View kemarin, dan masih percaya pada Universal Mind yang govern universe ini, as well as Interconnectedness (which unfortunately isn’t an official English word), topik yang dibahas ada dua, kurang lebih…

Yang satu membahas Ultimate Reality. Which sejujurnya bisa membawamu pusing migrain 100 puteran, aku juga belum yakin bisa nulis tentang itu, jadi, untuk sementara… kita postpone dulu. On the other hand, kita membahas Holarchy juga, yang alhamdulilah, jauhhh lebih simpel untuk ditulis, dan juga memang lebih mudah dimengerti.

Sebelum masuk ke artikelnya, aku mau bahas dulu kenapa Ultimate Reality ini memusingkan…

  • Sangat-sangat dependent pada perspektif dari semua jenis orang, no matter how complicated or simple the thought of the person is.
  • Sebaiknya bisa “menyatukan” perspektif yang beragam itu menjadi ONE ultimate reality, and one ultimate life goal. Sambil jelasin napa reality yang absolut itu cukup ada satu aja.
  • Harus bisa breakdown segala hal, dan keinginan orang-orang, dari yang paling simpel, sampai yang paling rese, dan masih bisa masuk dalam ultimate reality itu.
  • Memastikan dalam keperbebedaan teori dan desire orang-orang yang banyak sekali itu masih masuk dalam ultimate reality, tanpa ignore desire itu in the first place.

Jadi “sangat” simpel, dan kemarin lusa aku kayanya baru ngeh… “Kayanya aku belajar filsafat demi sengaja membuat diriku pusing”. Luckily I do like confusion. Untuk sekarang ayo lupakan kepusingan itu dan masuk ke artikelnya yuk!

What’s a Holarchy?

Holarchy sendiri sebuah sistem, yang composed of Holons… (further explanation below, tapi kalau aku cuma pake Holarchy doang bakalan lebih bingung dibawah, so here we are)

Definisi absolute-nya rada membingungkan. Tapi kayanya kalau pakai contoh bakalan kebayang deh. Coba bayangin dunia ini sebuah mesin yang extremely complicated. Manusia yang bekerja dalam si mesin ini, adalah roda gerigi yang terus berputar tiap detiknya, berkontribusi pada si mesin. Si gerigi ini juga merupakan bagian dari mesin yang lebih besar untuk diputar.

Part mesin yang lebih besar ini terus berputar, dan berkontribusi untuk mesin yang lebih besar and so on. Sampai parts mesin yang krusial ini menjadi parts besar for the entire world.

To constantly help with the definition, ini rewritten quote (ga persis kok)… “An atom is a part of a molecule, a molecule is a part of a cell, a cell is a part of an organism, and so on. There is no whole nor part, they are both a part and a whole at the same time. Also known as a Holon

Intinya, kita adalah atom, yang merupakan bagian dari molekul, dan bagian dari sel-sel, ataupun organisme. Kita bukan satu objek sendiri, atau satu kesatuan, kita dua-duanya, kita itu Holon.

Ini further support yang namanya Interconnectedness (who once again, isn’t a word in the WordPress dictionary… tapi ternyata WordPress juga bukan kata di Dictionary-nya WordPress, jadi who knows?), karena dia akan menjelaskan kenapa Universal Mind Theory ini terus berhubungan dengan terhubungnya suatu pikiran ke pikiran lainnya.

Nah, karena pada definisi layer kedua yang dibahas di artikel kemarin, memang membahas sebuah medium dan/atau system yang menyambungkan beberapa makhluk hidup. Kalau kita berperan sebagai Holon, alias sebuah single organism yang juga merupakan part di saat yang sama, emang masuk akal banget sih ada interconnectedness.

Relation to Interconnectedness

Meski udah kubahas dikit tadi, kalau mau dikupas lebih dalem, pasti lebih afdol dong.

Jadi, definisi absolut-nya Interconnectedness ini emang masih fleksibel sih, tapi aku paling suka sama definisi yang state seperti ini… “Interconnectedness refers to the manner that connects groups or singular objects in a system with one another to form a more complicated system.”

Di translasi ke Bahasa Indonesia… “Interconnectedness adalah suatu tingkah laku yang menyambungkan grup atau objek singular dalam sebuah sistem dengan satu sama lain untuk membuat grup atau sistem yang lebih kompleks”.

Jadi, sebenernya dari definisi aja udah kebayang banget ya… Sama lagi kita lihat dengan yang namanya singular objects dan groups, dan makin ke sini akan makin kompleks.

Sebenernya dari liat definisi juga ga bakal terlalu susah buat connect the dots antar interconnectedness dengan Holarchy. Tapi kalau masih bingung…

Holon adalah objek/grup yang terdiri dalam sebuah sistem.

Sedangkan Interconnectedness adalah koneksi yang menjalin dan menghubungkan objek singular dan grup-grup di sistem tersebut.

Voila! Ngerti kaaan? Holon adalah user di sebuah sosmed, dan internet yang menghubungkan para user Sosmed itu adalah Interconnectedness-nya!

To Be is To Be With

Hamlet bilang, To Be, or Not To Be? Descartes bilang I think, therefore I am. However in  this everlastingly running and complicated machine, Heidegger bilang, To Be is To Be With.

Jadi Hamlet, kalau kamu mau jadi seseorang, pastikan kamu sama orang lain (CIEEEEE. . . . . Okay, bad joke, sorry, speaking of Hamlet, I should watch the play I guess…)

Heidegger ini juga philosopher yang percaya dalam Holarchy. Beliau bilang bahwa kalau kamu bukan bagian dari apa-apa, maka kamu bukan apa-apa. Extreme kedengerannya ya. Mungkin sih Heidegger emang ekstrim dalam jelasin Heideggerian ini, tapi… Sebenernya dia ga salah juga sih.

Holarchy percaya bahwa kita adalah bagian dari sesuatu, sekaligus individu juga, tapi kalau kita hanya commit ke diri kita sendiri, kita ga ada kontribusi ke dunia ini, jadi, Heidegger ga salah dengan bilang bahwa kalau kita bukan bagian dari apa-apa, kita bukan apa-apa.

Untuk menaikkan keseriusan dia pada subjek ini, being there is always being with. Bingung? Sama, aku juga baca ulang modul berkali-kali sambil inget-inget kata Professor Fabianus yang ngasih lecture kemarin.

Jadi sesudah berkali-kali baca, dan mengingat kuliah kemarin. . . Dalam bahasa jerman sendiri (Heidegger menulis di bahasa Jerman btw), Mitsein (Being there), adalah phrase yang juga digunakan dalam kalimat being with, this play of words might be a coincidence. Tapi sama kaya yang namanya detektif, tidak ada coincidence di filsafat.

Heidegger used this wordplay and utilized this probable coincidence. Dan dia develop Heideggerian theory yang bilang bahwa kita tidak mungkin sendirian, regardless of where we are, or how alone we think we are, kita pasti mikirin orang lain (sekali lagi, CIEEEEEEEEEEE. . . . iya, terrible joke, tetep dipake tapi 🙂 ) dan ketika kita mikirin orang lain, interconnectedness ini come to play lagi, dan kita jadi indirectly not alone.

Tapi, Heidegger ini terbilang baru dalam Holarchy ini. Ada philosopher lagi yang membahas lebih jauhhhh lagi.

Parmenides

Parmenides, seorang Greek Philosopher (since the foundation of every knowledge comes from the Greeks) membahas yang ‘Ada’. Kalau pake Bahasa Indonesia rada bingung, karena ‘Being’ yang Parmenides bahas, di translate sebagai yang ‘Ada’. . . Jadi, di bawah ini, kalau ngebahas ‘Being’ atau ‘Ada’ ini referensi ke hal yang sama yaaaa.

  • Segala hal adalah satu hal, dan hal itu adalah yang ‘Ada’.
    • Parmenides bermaksud bahwa apapun suatu hal itu, pasti hal yang dimaksud merupakan bagian dari hal yang lebih besar. Meski belum di classify ke hal yang dibawahnya lagi, dan sangat general dalam bilang… ‘Ada’, teori ini masih considerable.
  • Segalanya adalah satu/tunggal
    • Segala hal ini juga merupakan entitas tersendiri, dengan tujuannya tersendiri. Tapi karena segala hal juga ‘Ada’, berarti semua hal adalah satu hal dan juga segalanya… (paradoks dehhh)
  • ‘Ada’ ini juga tunggal
    • Karena ‘Ada’ adalah segalanya, dan segalanya adalah satu hal, berarti ‘Ada’ juga tunggal. Sama repetitif juga…
    • ‘Ada’ ini tunggal, dan terbilang kekal, tidak bisa dipecah, atau dibagi lagi. Tapi kita kebetulan tidak bisa mempersepsi si ‘Ada’ ini, dan melihat si ‘Ada’ ini sebagai hal yang terpecah-pecah.
    • ‘Ada’ ini juga terus berputar dan tidak habis-habis, in a constant state of change.

According to Parmenides juga, karena semuanya dipersepsi dalam terpecah-pecah, semua hal otomatis temporal, dan akan terus berubah-ubah, agar kita bisa eventually perceive this ‘Being’.

Dalam scope kecil, tidak ada yang lenyap, atau baru di dunia ini. Segalanya terus berubah-ubah, tanpa ada yang lenyap atau hal baru tercipta. New ‘Beings’ are just a change of perception through our eyes.

Karena tiada yang berubah-ubah, Professor Fabianus kemarin bilang bahwa Ultimate Reality itu… tunggal. Jadi, YAY! Masih in line dengan statement ku di awal tentang Ultimate Reality.

In Conclusion…

You’ll Never Walk Alone…

Liverpool Reference! (Babah fans Liverpool, die hard pula…) Jadi sebenernya conclusion kita hari ini akan kembali pada dasarnya Holarchy. Holon sendiri membahas sama yang namanya Bagian dan Individu.

Mungkin kita lagi galau, jadi kita merasa kita Forever Alone… (CIEEEEEE GALAU! 😀 ) Tapi nyatanya, kita adalah bagian dari suatu engine yang membuat mesin besar ini function lebih baik. Jadi, nyatanya, nothing is an individual. Everything is a part of something else, mau itu sebuah sel, atau kita di dunia nyata. Believe that.

It’s only up to us to find what are we, and what are we destined for.

Dan karena suatu hal yang Universal terdiri dari hal-hal tunggal atau partikular, tanpa warna dari keunikan individu dan partikular itu, hal yang Universal ini akan jadi bland, dan tidak punya rasa.

Meski aku masih belum siap membahas Universal Truth and Reality, tapi sesuatu yang tunggal ini memang harus… rese. Kalau Universal Purpose of life ini simpel, maka… Dunia ini gak ada warnanya, semuanya bakalan hambar, dan siapa yang suka makanan yang hambar? Mungkin purpose of life tiap orang beda-beda, dan karena banyak perbedaan itu, sesuatu yang hambar akan jadi warna-warni, dan terasa enak.

Semoga artikel hari ini punya rasio Nasi dan Soto yang enak, dan bisa dinikmati yaaaaa… See you tomorrow!

A Universal Mind…

A Universal Mind…

 Okay, sebelum masuk ke artikelnya, sorry… Kemarin aku ada banyak hal yang salah… Firstly, philosophy itself emang bisa digunakan untuk memberi/mengemas makna suatu benda. Tapi basically, even empirical science is philosophy, soalnya emang pada dasarnya ilmu empirik dan logika turun dari Aristotle.

Jadi, filosofi sendiri bukan hanya… filosofi, tapi basically everything ada filosofinya… Okay, kalau bingung…

Imagine knowledge is a skyscraper. Lantai dasarnya itu pasti filosofi.

Now onto the article, dari zaman Plato dulu, sudah banyak didebatkan bahwa mind ini connected with each other. In fact, semakin kesini, definisi dari Universal Mind semakin… Universal… 😛 . Basically, yang disebut dengan universal mind itu… well definisinya ada banyak sih.

Kalau mau masuk dalam topiknya sendiri, each theory of what a universal mind is, gets deeper. Sampai makna terdalamnya itu saying that the universe is governed by a certain mind.

Kemarinnya sendiri sih, aku sempet ke Unpar untuk ikut kuliah filsafat mengenai subjek ini. Kuliah kemarin masih basic dan hanya introduction saja, dan dibawakan oleh Professor Bambang dari Fakultas Filsafat Unpar…

On topic, masuk dalam artikel!

Definition

Well, ada 3 definisi dari Universal Mind ini…

  • Principles that apply generally (Immanuel Kant)
  • A connection of thoughts on a global level (Bertrand Russell)
  • Cosmic Consciousness that governs the world (Max Planck)

Sedikit info aja, Max Planck itu physicist. Which still believes on philosophy.

Now, biar kudefine dulu each of the definitions…

Immanuel Kant

Kant sendiri sih paling terkenal karena teorinya yang bernama Transcendental Idealism, yang menyatukan both Innate knowledge and Empirical knowledge as to how a human thinks.

Tapi, yang Kant maksud disini itu, adalah prinsip yang diketahui semua orang waras, dan apply on a global level. For instance, HAM… Tentunya principle yang Kant maksud itu… Transforming sih. Mungkin pas era colonialism, belum tersirat image HAM itu seperti apa, jadi principle yang tersirat berbeda.

Now on the other hand, Universal Mind yang symbolize interconnected minds ini, bisa ditunjukkan saat colonialism dicabut, thoughts orang-orang secara globally berubah.

Therefore, seiring perubahan principle, interconnectedness plays a part here and changes the thought of humans globally. I mean, its basically universally known that killing is bad and racism isn’t good… Every sane person should know that (Cough, Trump, Cough)

Peter Russell

On the other hand, Peter Russell bilang bahwa interconnectedness between minds ini in terms of skills, or… well knowledge. The same doesn’t apply for opinions.

Lebih luas dari definisi Kant, karena sebagai contoh… Misalnya, ada tikus di London yang tahu cara menghindari racun tikus, atau rat traps. Then, tikus di Indonesia juga bakalan tahu bahwa racun tikus dan rat traps are dangerous, dan bakalan avoid those things.

Yeah, the thoughts here aren’t really limited to humans.

Jadi, layernya makin mendalam juga, karena bukan hanya principle, tapi juga knowledge dan skills, beyond humans. Anything that has a consciousness would have similar knowledge and skills, so long they’re physically capable.

Max Planck

Physicist Max Planck sendiri sih percaya bahwa ada universal consciousness that governs and makes the universe move. On a cosmic level, Max Planck bilang bahwa ada sesuatu yang menggerakan dunia ini, dan ini akan apply di semua hal yang hidup dan bahkan yang ga hidup.

Well ini sih basically simple. Max Planck believes that there’s something that moves this universe, and everything is governed by some form of mind and consciousness.

Well, as I’ve said, makin dalem juga maknanya. Planck bahkan bilang bahwa the universe itself has a mind. Including inanimate objects.

Metaphysics?

Jadi, sebenernya, branch dari Universal Mind ini itu apa sih?

Well, there’s Metaphysics in it. Since, a lot of people thought of mind as a substance. Substansi yang disebut mind itu semacam sesuatu yang compose this universe.

Then there is also a little something called Interconnectedness yang udah aku sebut beberapa kali. Interconnectedness itu ada korelasinya dengan thinking, dan juga dengan similarities in many different things. Jadi branch sebuah Universal Mind adalah Metaphysics, and Interconnectedness as a branch. Well, I’ll be discussing a lot of things here.

Perspective

Kalau mau bicara perspektif dari Universal Mind, ada banyak, since… Aku baru tahu kemarin bahwa empirical science dan esoteric knowledge does count as philosophy.

Nah, ada 4 perspektif yang akan dikupas dalam 11 minggu kedepan… (didn’t I tell you that there’ll be a lot of more articles coming up?).

  • Philosophy’s perspective, membahas metaphysics tadi, dan caranya sebuah universal mind bisa breathe fire onto the world. Sama seperti yang kemarin aku bahas, emang kalau philosphy harus pakai imajinasi, yang ditalar pakai logika, apa itu masuk akal atau gak. Basically, this is science…
  • Empirical Knowledge. Kembali ke data untuk melihat dan mengecek cara minds function. Kemarin kata Professor Bambang, ada 3 branch science dan empirically speaking, bakalan ada Neurobiology, karena emang mind itu berpusat di otak (captain obvious!), terus Quantum Physics, karena belum ada found substance yang bisa play a part sebagai mind. Last but not least juga bakalan ada microbiology, untuk alasan yang mirip dengan Quantum Physics.
  • Esoteric Vision(s). Basically, contemplation of one’s existence… Udah gitu doang… Sorry, aku belum pernah bener-bener contemplate urusan ini, jadinya, belum bisa buat ini terdengar keren… 🙂
  • Pseudo-Science… Campuran Empirical Knowledge dan Esoteric Vision, yang butuh both contemplation dan juga observation. Basically, putting imagination onto the found data.

Philosophy’s Perspective

Pertama-tama, mau bahas Philosophy dulu… Apparently Universal Mind sudah dibahas dari zamannya… Plato

Plato

Kayanya aku pernah bahas soal Plato ini… Pas kita ngebahas Star Wars dari perspektif philosophy… (FYI, kepengen bahas Star Trek juga… 🙂 patience).

Plato percaya bahwa dunia ini hanyalah dunia KW 2 dari Dunia ideal, yang kalau mau di analogikan. Semua manusia dapet glimpse dari dunia ideal ini. Kalau mereka melihat sesuatu, visi ideal kita play a part dan kita akan mengcompare dunia ideal dengan apa yang kita lihat.

Which, according to Plato, ini alasan kita ga pernah bisa actually puas sama sesuatu, and also, kenapa nothing will be perfect.

Now, Universal Mind ini bisa masuk disini gara-gara… Well, semua orang dapet innate knowledge yang sama. Makanya kita akan merasa interconnected between many things. Tapi, teori Plato ini ada sedikit ga masuk akal. Gara-gara, innate knowledge yang Plato present dari dunia ideal ini, tidak memberikan visi yang jelas atas perbedaan opini.

Regardless, metaphysical theory dari Plato ini masih masuk akal kok. Hang on, selain metaphysical, kalau mau baca lebih lanjut tentang Plato’s main theory, bisa cari Rationalism. Since, we have to rationalize everything and compare it to our ideal image of the world.

Benedictus Spinoza

Spinoza yang keluar sebagai philosopher di era Christianity yang sangat kuat, bilang bahwa interconnected minds bisa terjadi karena…

Everything is made of one substance. That substance is known as God.

According to Spinoza, segalanya adalah Tuhan, dan Tuhan adalah segalanya… sorry kalau pop up controversy… Tapi, regardless of the religion, filosofi Spinoza tetep keluar kok.

Now, Spinoza bilang bahwa kita semua terdiri dari satu substance, dan kalau substance itu grow, maka thoughts dan connected minds akan grow juga. Therefore, since even inanimate objects are made of this substance…

Basically, everything can have a mind. The same mind. (This is Spinoza’s work in a nutshell, since right now, I’m playing neutral to all religions)

Immanuel Kant

Immanuel Kant sendiri percaya bahwa kita punya innate knowledge sejak lahir, tapi segala sesuatu ditata dengan sedemikian rupa agar kita bisa menyerap ilmu itu dengan innate knowledge yang kita punya.

This stays in line with Kant’s opinion of a universal mind. Pas awal artikel ini kan aku bilang bahwa Kant itu memang percaya bahwa the only universal innate knowledge itu universal principles.

Ini juga sangat cocok dengan ilmu-nya Kant yang membahas Transcendental Idealism, yang bilang kita sebagai manusia punya innate knowledge, dan juga perlu observe things untuk grow as a person.

Teorinya Kant juga bilang ada some universal mind yang menata dan mengatur dunia ini agar manusia bisa mengerti apa yang ditata dan didefinisikan.

Break…

Sebelum maju, sebenarnya ada masih banyak lagi opini dari sekian banyak philosopher lain regarding this subject. Tapi, umm… aku hanya mengambil 3 classic philosophers itu. Why? Firstly, emang aku lebih suka classic philosophy, cause it is interesting to see something old, still apply in the modern world.

Secondly, karena kalau dibahas semua, aku akan modar mengetiknya… Jadi, kalau mau belajar lebih lanjut, anggap saja artikel ini gateway untuk belajar lebih lanjut ya 😉

Empirical Knowledge

Empiric… Kalau dari awal baca, and masih bingung artinya apa, Empirical knowledge itu ga ada hubungannya sama sekali dengan Empire di Star Wars. Empiric Knowledge means… Itu ilmu yang didapat dari hasil observasi.

Max Planck

Ooh! Him again!

Max Planck ini bilang bahwa consciousness sebuah manusia, (sesuatu yang masih coba dipecahkan oleh scientists and psychologists) derive from matter. Like, matter di fisika? Yeah, that matter.

Matter does Matter since, Max Planck sendiri percaya bahwa everything has a consciousness, dan everything juga tercipta dari matter, jadi Max Planck percaya bahwa Matter is what forms consciousness.

Yang Max Planck ini lakukan sama seperti apa yang dilakukan oleh Aristotle, basically adding 2+2 to make 4!

Kenapa sesimpel itu? Sebagai fisikawan, Max Planck knows that Matter exists in everything, whether dead or living. Nah, semua yang mati atau hidup juga pasti punya kesadaran agar mereka bisa function properly.

Aku sendiri sih kurang percaya ini masuk ke Empirical Knowledge ya… Tapi, itu mau aku bahas nanti.

Stephen Hawking

Kalau mau baca review bukunya, bisa banget, klik ini aja…

Kayanya Hawking itu cukup terkenal, in fact, I think he goes number three untuk scientists yang diketahui orang jaman sekarang. Nomor 1 dan 2 nya, Einstein and Newton.

On topic… Hawking sendiri sih, sebenernya (according to Professor Bambang, bukan aku), sedikit atheistic kalau mengutarakan pendapat, dan sangat empirical, since there is no empirical evidence of God…

Nah, Hawking sendiri bilang bahwa jika ada teori yang bisa Unify everything (like String Theory!), dan menjelaskan segalanya, masih ga ada “fire” and passion di unified universe itu.

Hawking sih penasaran apa yang bisa unify both consciousness, dan juga universe-nya sendiri.

Nah, ini kenapa menurutku opini Max Planck lebih tampak seperti Psedo sains. Actual empirical knowledge relies on the proof, dan Planck belum menemukan proof bahwa ada consciousness di sebuah inanimate object.

David Eagleman

Abis dua kali nyebut fisikawan, sekarang kita ngebahas Neuroscientist…

Based on David Eagleman’s own words, seiring molekul kita merge, dan kita punya proper mind… something that enables us to be the species we are now…

Sesudah every step of evolution dan survival of the fittest, David Eagleman yakin bahwa ada neural program outside our actual minds yang enable our creation in the first place, program ini ngasih ability and it basically triggers our amygdala when an event happens.

Okay, kalau bingung, intinya, David Eagleman yakin bahwa ada mind yang enable the creation of minds, dan juga ada interconnected thoughts between many living things. Sama kaya kenapa monyet dan kita sama-sama seneng kalau makan. Same goes for male Pandas, yang seneng liatin Panda cantik, dan juga sama kaya aku … eh bukan aku doang… cowo suka liatin cewe cantik…

Well, mungkin terdengar aneh kalau menyamakan humans dan… animals, tapi emang ada urges yang universal, dan brain part yang ketrigger itu similar kok.

Esoteric Visions

Okay, ini lebih sedikit dijelasinnya sama Professor Bambang. Since, words-nya sangat poetic, tapi… ya begitulah. Coba keep up saja, karena aku sendiri juga ga terlalu ngerti tentang ini, yang butuh deep contemplation and poetic-ness… (FYI, poetic-ness isn’t a word)

Buddha

Okay, basically, Buddha bilang bahwa everything has a mind, karena semuanya adalah living things. Every living things are equal and has a mind…

Okay, aku rada bingung, tapi quote-nya bagus, jadi copas quote aja ya…

As I am, so are these. As are these, so am I. Drawing the Parallel to yourself, neither kill, nor get others to kill.

Bingung kan kamu???

Sama aku juga bingung… (Btw, aku ngerti maksudnya apa, tapi yang aku ga ngerti teh masukkin ini ke perspektif Universal Mind)

Alex Grey

Now, Alex Grey, who is apparently a contemporary philosopher, bilang bahwa interconnectedness between minds itu ga ada ujungnya. It’s basically an endless loop. Like, how Japanese Philosophers used to draw a Rinne (endless circle of life). Okay, itu sebenarnya sedikit Naruto reference.

Alex Grey juga bilang bahwa there is no such thing as separation, or independence. Karena semua hal ada dalam awareness-mu dan semua hal terhubung pikirannya.

Confused…

Okay, ini emang rada ngebingungin bagian ini ya, aku sendiri sebenarnya ga… umm… ga terlalu ngerti. Like I’ve said, jadi apologies karena pendeknya bagian ini. Aku orangnya teknis banget, jadi rada bingung pas bahas imagine and meditate while contemplating existence.

Pseudo Science

Pseudo Science itu bukan FAKE science, itu salah. Sebenernya term yang lebih precise adalah semi Science, karena dia butuh contemplation dan imagination untuk picture these things.

Jadi, yang aku bahas kemarin di artikel filosofiku, lebih masuk akal untuk membahas Pseudo Science. Tapi kemarin juga ga salah sih, hanya… kurang akurat

Max Planck as pseudo Science

Sebelum masuk ke yang lain-lain, aku lebih mengira bahwa Max Planck masuk ke pseudo science karena ada faktor contemplation, dan ada sesuatu yang tidak ada proof-nya, meskipun ada Aristotelian Logic yang masuk ke dalam situ. Regardless, Professor Bambang menjelaskannya sebagai Empirical Knowledge, dan ini hanyalah opini.

Gregg Braden

Pas denger Professor Bambang bahas Gregg Braden, keingetan episode di Big Bang theory.

Gregg Braden bilang bahwa emotions are an electrical wave. And we’re creating a wave of energy when we have something in mind. Basically, the universe is communicating with one another because there are Waaaveees of energy when one thinks.

Hence, kalau satu wave bisa dirasakan wave lain, akan ada interconnected thoughts.

Ini similar ke Waldorf yang bilang bahwa humans could feel warmth. Dan misalnya di sebuah ruangan, jika ada seseorang yang dingin, kita akan merasakannya. Sama juga di ruangan yang panas kalau misalnya ada orang yang lagi marah. Jadi, Waldorf has an actual empirical proof to his theory!

Selain itu Gragg Braden juga pernah bilang bahwa everything has a mind in the sense that… something changes as soon as we observe it.

Beneran lho… bukan cuma orang yang bertingkah laku berbeda kalau diliatin, elektron juga berubah dari gelombang menjadi partikel kalau diobserve pakai mikroskop.

Peter Russell

YEAY! Peter Russell membahas paradox!

Sains menjelaskan apa yang terjadi di alam semesta, tapi itu ga bisa jelasin consciousness, and how it works. Kalau ga ada consciousness sendiri, mana ada science… tapi science sendiri has no clue apa itu consciousness.

Okay, sebenernya ini cuman translating quote-nya Russell, karena ada paradoks.

Tapi Universal Mind ini masuk karena, there is no science in a mind, but a mind does process science, so there must be some unknown mind to govern it.

Break

Again, another break… Paling menarik diantara Pseudo Sains itu, Gregg Braden, since he discusses emotion as a particle, wait no… as a wave.

Especially considering how something, very esoteric can be converted onto a wave. Dan mungkin kalau diobserve in detail, each emotion creates a different wave… One that corresponds to the emotion.

Misalnya, emotion marah radiate wave yang panas, emotion senang radiate wave hangat, emotion sedih radiate wave yang ga panas… or well dingin… tapi di fisika, ga ada yang namanya dingin. Coldness is a state of no heat.

Inanimate Consciousness

Well, ini cuman short part of the article yang menjelaskan bahwa inanimate objects like water does change its particle when given contact with Music.

Kenapa? Basically gelombang dari musiknya mengubah air itu yang indah menjadi rusak, or in fact, mereverse partikel air rusak menjadi kembali cantik.

Oh, dan ada murid Professor Bambang yang kepo, ternyata nasi makin cepet busuk kalau disimpen dalam container yang bertuliskan kata-kata kasar, while nasi lebih tahan lama kalau disimpen dalem container yang berisi kata-kata manis.

Jadi, kayanya Universal Mind ini ada betulnya in the sense that inanimate objects DO feel stuff.

In Conclusion…

Okay, ini bukan saat tepat untuk menarik conclusion regarding universal minds, karena journey yang membahas ini baru dimulai.

Tapi, kalau untuk sementara, kayanya it’s safe to say that… Everything has a mind, and basically notices these “waves” of emotion.

For now, aku perlu cari tahu a bit tentang PR yang dikasih Professor Bambang.

Salah satu membahas tentang kenapa philosophically menguap itu contagious, dan yang kedua, kalau ada couple yang lagi marah-marah dikasih kata kasar lagi, apakah makin marah atau jadi tenang, dan same goes for the opposite, kalau lagi marah dipuji apakah makin tenang?

Yang kedua mungkin obvious banget, but who knows really…

Considering aku ga punya couple, closest thing I have is a mom… yang kadang galak…