Tag: SMKAA

Gojek Eks-SMKAA

Gojek Eks-SMKAA

Jadi, kemarin pulang dari MKAA sesudah mengevaluasi dan menyortir serta menerima dan menolak beberapa aplikan SMKAA. Mungkin semua yang dilakukan sudah beres, dan sektiar pukul 18.15 aku memesan Gojek. Hal yang biasa aku lakukan.

Tetapi, ada semacam petir yang menyambar, dan dari sekitar puluhan Gojek dalam radius 500 meter dari Museum, datanglah Gojek yang pada tahun lalu, yaitu 2017/2018, merupakan Admin dari SMKAA.

Long-long-long story, kalau aku perlu menjelaskan SMKAA itu apa, dan apa yang dilakukan di sana. Jika penasaran, bisa cari di google, bisa cari di website ini dan masih banyak tempat lain.

Tetapi, secara keseluruhan, jika kakak yang membaca merupakan admin, koordinator, atau anggota dari SMKAA, dan kebetulan kena broadcast dariku… Kurang lebih, ini cerita yang kudapatkan darinya.

Selamat menikmati!

Rutinitas dan Ketidaksengajaan

Seperti biasa, keluar dari sekretariat, langsunglah aku berjalan keluar, melalui pintu samping. Kaki kanan, kaki kiri, melangkah, berderap maju ke depan. Semakin mendekat aku dengan pintu, semakin ingat aku meninggalkan sesuatu.

Nametag! Tanpa itu, takkan mungkin aku bisa keluar… Sebenarnya mungkin saja sih, semua satpam yang mengizinkan orang keluar ataupun masuk hampir pasti ingat bahwa aku anggota aktif, dan kemungkinan besar, mereka akan ingat aku sebagai orang yang, menaruh nametag dalam dompet, dan ketika terburu-buru, larinya cukup cepat.

Ya, aku sudah ditegur beberapa kali untuk jangan berlari terlalu cepat. (terjadi dua kali pada open house, ketika booth hampir dibuka dan aku meninggalkan suatu barang dalam sekretariat, aku tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan itu)

Jadi, aku berjalan dengan cepat, dan kembali ke sekretariat, mengambil nametag milikku, dan seperti biasa, tiap kali aku meninggalkan kartu akses tersebut, aku diberikan pandangan seperti ini: -_-” atau, seperti ini ^^' .

Keluar, aku menunjukkan nametag, dan diizinkan keluar.

Tidak seperti biasanya, nametag milikku baru kuperbaiki dan kupasang tali yang baru, dan untuk pertama kalinya dalam 8-10 bulan, aku memakai nametag itu, alih-alih memasukkannya dalam dompet. (biasanya jika ini kulakukan, berikutnya aku datang ke Museum, nametag akan tertinggal di rumah 😐 )

Hampir tiap kali aku pulang, aku selalu meminta Mang Gojek untuk menjemput di Gedung Merdeka, meski ia tadinya berada di Kimia Farma, tepat di sebrang pintu keluar samping Museum.

Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, aku yang sedang menggunakan nametag, dan dijemput dengan Gojek, seperti biasa… langsung mendapat sapaan. “Mas, mas anak Globlit ya? Mas Azriel kan?”

Aku hanya mengangguk, dan dari situ, ceritanya mulai.

Sapaan, sampai Percakapan

Kang Sidik Permana.

Namanya sempat menggugah ingatanku sedikit, siapa ya, hmm, aku seperti pernah melihat ataupun membaca namanya pada suatu tempat… Siapa, dan dimana?

Aku sempat yakin bahwa aku pernah membaca nama tersebut, pada suatu tempat, entah dimana, melalui apa.

Ketika mengirimkan pesanan tersebut, aku masih berusaha mengingat-ingat. Aku bahkan sempat menggumamkan nama itu cukup keras, namun sepertinya tidak ada yang mendengarkan.

Jadi, aku berjalan, dan berjalan. Sekitar di tengah jalan, aku berusaha mengingatkan dan mencoba untuk mengingat siapakah dia. Sesampainya di pintu, seperti kuceritakan, aku berlari kembali ke sekretariat dengan perasaan tidak enak. Aku selalu merasa kurang baik jika membuat orang menunggu. Jadi, aku berlari, dan berlari, dan berlari, mengambil nametag, dan keluar lagi.

Aku tidak mengenal semua satpam secara pribadi, tetapi tidak ada yang berkomentar, dan ada beberapa yang menyapaku karena sepertinya sudah pada mengenal diriku.

Sesampainya aku pada Gedung Merdeka, dan sesudah aku naik pada motor, kita mulai mengobrol.

“Kang, Akang anak Globlit ya? (Globlit = Global Literacy)”

“Hah? Akang tahu dari mana?” Aku bertanya sembari mengingat-ingat beberapa anggota yang datang ke sekretariat memakai jaket Gojek atau Grab, seperti Akang Sidik di sini.

“Haha, saya admin waktu zamannya Fri jadi Koor Eksekutif. Tahun lalu”

“Oh, saya baru tahu, pantes aja namanya terkesan familier.”

“Tahu saya dari klab mana gak?”

“Uhhh…” Suaraku cukup segan menjawab, karena sepertinya aku pernah bertemu dengan Kang/Kak Sidik ini, tetapi, aku masih merasa tidak yakin dia siapa…

“Cinemaker bukan Kak?” Waktu itu, aku pernah melihat seseorang masuk ke sekretariat dengan nametag atas nama klab Cinemaker, yang menggunakan jaket Grab… Jadi, aku langsung menjawab, atas reflek tentunya, dan juga berdasarkan ingatan sementara.

“Bukan, ahahaha… Aku dari Maghribi.”

“OH! Berarti kenal Kak Sagia ya?” Kakak Sagia merupakan admin dan juga anggota paling aktif dari klub Maghribi, yang sekarang hampir vakum ini… Hiks.

“Kenal dong, masa gak kenal sih? Kak Sagia kan sudah lama di SMKAA. Ngomong-ngomong, tadi bahas apa?”

“Iya, tadi membahas penerimaan anggota sama juga upacara buat besok 17-an Kak”

“Oh… Berapa klub yang datang?”

Aku semacam menelan jawaban, karena mungkin hanya setengah dari 13 klab yang datang kemarin, dan aku tidak ingin memberi tahu Kak Sidik yang ceria, serta selalu tersenyum dan bercanda ini, bahwa SMKAA sedang sedikit kesulitan SDM dan anggota.

Aku memberikan jawaban yang jujur saja, sejujurnya aku tidak tahu cara memberikan lapisan gula pada coklat yang pahit ini. “Iya kak, hehe, tadi yang datang hanya Globlit, SahabArt, Journativist, Guriang, Edukator, Heiwa, dan juga Maghribi.”

“Waduh, dikit atuh ya? Eh, adminnya sekarang ada berapa sih?”

Dan, aku merasa makin putus asa. Kak Sidik yang dulunya merupakan admin, (berarti mungkin salah satu anggota paling aktif di SMKAA) dan selalu ceria ini, terpaksa mendengar sedikit kabar buruk.

“Sekarang adminnya setahuku, ada 5 Kak…”

“Siapa aja, bentar, inget-inget dulu… Koor Eksekutifnya Aria, terus ada Ulva, siapa lagi ya?”

“Ada Kak Sagia, ada Kak Emir, sama Kak Salsa”

(Koreksi fakta: Ternyata ada 8 admin, hanya saja, ketika rapat, admin ini juga memegang tugas sebagai koordinator, sehingga, aku tidak mengetahui bahwa mereka admin juga, mereka juga bekerja di balik layar)

“Sagia jadi admin lagi?”

Nadanya menyatakan pernyataan, dan aku sepertinya terpaksa menjawab… ugh.

“Iya kak, tidak terlalu banyak yang ingin jadi admin jadi Kak Sagia ditarik jadi admin, untungnya rekrutmennya tampak cukup lebih sukses kebanding tahun lalu. Semoga yang daftar konsisten.” Dalam hati aku merasa lebih senang bahwa jawabanku telah sukses dilapiskan sedikit kabar baik.

“Wah, berapa yang daftar tuh?”

“Aku belum dapat angka pasnya, tetapi kurang lebih dapat 250, lumayan banyak tuh.”

“Semoga yang kemakan seleksi alam gak banyak ya…”

Semoga…

Seleksi Alam

Semua komunitas, dan apapun yang bersifat kerelawanan memiliki satu masalah besar.

Banyak orang kurang berkomitmen dalam melakukan sesuatu.

Jadi, seleksi alam inilah alasan sebuah klub yang mendapat 20 pendaftar, hanya memiliki 4 anggota. Ini juga alasan bahwa sebuah klub yang mendapat 100 pendaftar, kesusahan mendapatkan koordinator.

Orang-orang merasa tidak sesuai dengan suatu hasil klub, dan tidak sesuai dengan bayangan mereka, dan menghilang. Jadi, aku memutuskan untuk bercerita… dan sedikit curhat.

“Kak, pas angkatanku tuh banyak banget yang menghilang, Globlit ada 20 anggota, bisa sisa cuman 4 anggota aktif. Klub-klub juga mulai banyak yang kesusahan Kak, ada Klub yang mendapatkan anggota dibawah 5 malahan.”

“Yah… Kamu teh jadi koor Zriel?”

“Wakil Koor, minimal jadi anggota 2 tahun untuk menjadi koor kalau di Globlit.”

“Okey… Padika sama Damar masih suka muncul?”

“Iya dong, mereka kan tutor.”

“Sebenarnya seleksi alam ini sudah jadi masalah yang cukup lama, dan terkadang, klub-klub hampir perlu vakum. Eh, ngomong-ngomong, sebenarnya… Maghribi nasibnya gimana sekarang?”

Dan, aku merasa cukup patah hati jika aku harus menyatakan kenyataan ini kepadanya.

Klub Maghribi, beserta Abada, sudah bisa dinyatakan vacuum. Koordinatornya menghilang, pas open house saja tidak muncul. Maghribi terkadang memiliki Kak Sagia, dan Abada memiliki Kang Wisnu, founder klub tersebut. Tetapi, klub tersebut sudah hampir mati.

“Kak, sebenarnya sih… Maghribi yang mendapatkan anggota yang kalau tidak pindah klub (Globlit mendapatkan satu anggota dari klub tersebut) benar-benar menghilang. Koordinatornya pun menghilang. Open House tidak ada kabar. Abada juga hampir mendapat nasib yang sama” Aku terpaksa menyatakan kenyataan ini padanya. Tetapi reaksinya cukup optimistis.

“Haha… Masalahnya sama saja sih kalau Maghribi teh. Yang diprioritaskan adalah yang memiliki bahasa Prancis paling bagus, koordinatornya memang sangat-sangat fasih bahasa Prancisnya, tetapi… Yah… Ia sangat sibuk.”

Mendengar dan merasakan aura positif dan selalu happy dari Kak Sidik ini membuatku mau untuk lebih terbuka.

“Iya Kak. Koor Maghribi bahkan diminta untuk ketemu Pak Desmond (kurator MKAA, dan founder SMKAA) tapi yah… Nongol aja gak, padahal Pak Desmond udah kosongkan jam kerja sampai tiga kali.”

“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, hehehe”

Sekali lagi, optimisme yang Kak Sidik miliki cukup membuatku kagum.

“Eh, tadi Pak Desmond udah balik ya?” Kak Sidik bertanya lagi, hmm, ia sudah melupakan masalah tadi, sungguh menyenangkan!

“Sudah sepertinya, aku gak liat sih.”

“Hahaha… eh, pas zamannya Fri tuh memang suka juga yang suka menghilang, untungnya bisa dikontak, berdasarkannya curhatanmu, kayanya susah untuk merubah komitmen orang nih, hehehe.”

Logika…

Mendengar kata Logika pada tengah-tengah percakapan, entah membahas apa, aku ditanya… “Eh, ngomong-ngomong soal Logika (koordinator eksekutif dua tahun yang lalu, 2016/2017), dia masih suka dateng gak sih?”

“Datang dong, hehehe, setidaknya pas acara. Hampir belum pernah menghilang terlalu lama. Tapi aku tuh sebenarnya belum pernah ketemu Kak Fri.”

“Fri lagi sibuk nih, hehehe.” sepertinya ia tahu soal ini.

“Tapi, aku merhatiin sih, Kak Logika kalau ke acara, sering banget datang bersama istrinya…” OOPS, this is totally not gossip

“Oh, Firda. Iya, Firda tuh admin, sama juga satu klub bareng aku di Maghribi… saat zamannya Logika, mereka emang sering kerja bareng. Mereka beruntung banget bisa ketemu di tempat yang sama.”

“Oh begitu toh…” Pikirku, mendapatkan orang untuk diajak bicara mengenai ini juga cukup beruntung.

Dari bincangan soal Logika, aku bertanya tentang bagaimana ia bisa sukses menjadi Koor Eksekutif, anggota yang daftar untuk SMKAA sudah hampir mencapai ribuan.

Curhat dan Curhat

Terus dan terus aku bercerita mengenai para klub, dan Kak Sidik selalu bertanya siapa koordinatornya. Ada beberapa anak baru yang ia tidak ketahui, dan ia tidak terkejut jika mereka jarang menampakkan muka.

Terus, entah bagaimana, Kak Sidik tahu bahwa aku meninggalkan sesuatu di Sekretariat. Mungkin ketika aku meminta maaf dan bilang bahwa aku mau masuk lagi sebentar, meski sudah keluar.

Bagaimanapun juga, ini berujung ke curhat… lagi.

Aku cerita bahwa nametag ku ketinggalan, dan kadang kalau itu nametag tidak kubawa, bisa-bisa saja dimarahi oleh salah satu dari banyaknya satpam. Aku bercerita satpam itu satpam yang paling galak diantara semua satpam lain.

Ia tertawa dan bertanya, “Rambutnya cepak ya?”

Aku hanya menjawab “Ya, betul”

“Oh iya, itu mah Pak Taryana. Kalau saya manggilnya Pak Komandan tapi… paling galak tuh.” nadanya seperti biasa sambil bercanda. Seiring berjalan, aku melihat kanan dan kiri, dan sayangnya, sebentar lagi aku akan sampai rumah.

“Iya sih, wajar lah kalau ada satpam yang galak. Cuman saya yang gak bawa nametag masa disuruh keluar lagi dan masuk lewat depan, kaya pengunjung…” Terus curhat nih… ^^'

“Emang gitu Pak Taryana. Untung aja pas kasus Laptop kecolongan yang jaga bukan dia. Kalau sama dia, itu satpam pada habis dimarahin semua.”

“Oh gitu…” Aku sejujurnya tidak terkejut sama sekali, meskipun Pak Taryana sudah kenal sama aku, tetap saja, ia akan mengikuti protokol. Orang seperti itu biasanya memang sangat taat peraturan.

Tidak banyak lagi sih yang perlu diceritakan, ada beberapa cerita dan sindiran lagi… Bagaimana kadang kita suka lupa waktu ketika di sekretariat, karena itu memang tempatnya sedikit punya sihir agar kita tidak pulang-pulang, ceritanya begitu.

Sayangnya, aku sudah sampai rumah, dan aku didoakan agar sukses terus…

Dengan perasaan senang aku hanya membalas terima kasih, dan memberikan jawaban amin dalam hati. Tidak ada banyak reaksi lain dariku.

Kesimpulan.

Ketidaksengajaan terjadi. Tetapi, ketidaksengajaan itu pasti punya alasan yang kuat dibelakangnya. Oleh karena itu, kurasa ketidaksengajaan kali ini, berbuah dengan sukses.

Terima Kasih Kak Sidik, hatur nuhun!

Apakah Bumi Manusia Patut Difilmkan?

Apakah Bumi Manusia Patut Difilmkan?

Hanung Bramantyo adalah nama yang dipilih untuk menyutradarai film Bumi Manusia, 38 tahun dari cetakan pertama karya sastra legendaris tersebut, akhirnya, akan ada versi filmnya.

Tetapi, yang jadi pertanyaan dari peminat, serta pakar ataupun lulusan sastra adalah patut atau tidaknya Bumi Manusia ini difilmkan. Tentunya, jika membahas buku yang mendapat remake versi film untuk layar lebar, ada cukup banyak sejarah yang variatif.

Bagi para penikmat buku Young Adult, tentunya, contoh terbaik dari film hasil remake layar lebar adalah Harry Potter. Untuk contoh buruk, sebenarnya tidak sedikit juga, yang terlewat dari kepalaku adalah Percy Jackson, dan remake filmnya yang, sangat-sangat buruk, serta mengecewakan para fans. (jika rumor mengenai CW membuat serial Percy benar [meski rumornnya sudah basi], semoga betul, dijadikan serial saja)

Jika kita membahas patut tidaknya sebuah buku untuk dijadikan film, tentunya, kita tidak bisa membahas dari sudut pandang bukunya saja. Kita perlu membahas dari kepantasan buku tersebut dijadikan film, serta juga dari eksekusi yang akan (atau dalam kasus review, sudah) dilakukan oleh studio mengenai buku tersebut.

Pertanyaan terbesar dari eksekusi yang akan direncanakan tidak jauh dari…

  • Apakah akan ada perubahan ke naskah?
    • Percy Jackson adalah contoh sempurna untuk… Jangan bermain dengan naskah, kau akan menyesal.
  • Bagaimana direksi dan hasil sutradara? Perspektif mana (sesudah membaca bukunya) yang akan ia ambil?
    • Catatan penting untuk ini… Sastra, terutama sastra klasikal, baik itu dari zaman Homer, Dante, atau George Orwell, adalah cerminan dari imajinasi penulisnya. Apa yang pembaca (terutama, jika pembaca ini akan mengarahkan remake yang direncanakan) terima belum tentu sama dengan apa yang dilukiskan oleh penulis, dan bayangan pembaca belum tentu juga sama dengan apa yang ditangkap pembaca lain.
  • Seberapa banyak uang yang akan dicari oleh studio dalam pengarahan film ini?
    • Uang adalah motivasi yang krusial dalam studio yang ingin membuat Bumi Manusia versi film. Uang juga jadi sedikit masalah spesifik untuk kasus pasar Indonesia, karena pasar Indonesia menginginkan cerita cinta, dimana Bumi Manusia adalah sebuah buku yang memiliki cerita cinta sebagai unsur konflik utama, tetapi tidak hanya bergantung pada itu untuk menyampaikan pesan-pesan penting dari buku tersebut.

Semua faktor yang menurutku krusial akan kubahas!

Patut atau tidak buku ini dibuat menjadi film bergantung ke eksekusi pembuatan film. (meski ada beberapa fan die hard yang sepertinya akan selalu menemukan sesuatu yang salah, seberapapun bagus eksekusi film tersebut)

Pasar Indonesia

Percaya padaku, cerita cinta adalah jebakan manis untuk menarik (baik itu) Ibu-ibu yang ingin terharu karena suatu kenaif-an, dan juga remaja yang ingin membayangkan kemesraan yang… UGH, sejujurnya, aku tidak bisa terlalu puitis. Begitu kata-kata mengenai kalimat ini terangkai di kepalaku, aku langsung ingin muntah.

Minke adalah seorang tokoh yang sepertinya terlalu percaya diri. Annelies yang sangat kekanak-kanakan, dan sampai sakitan ketika ditinggal kasihnya akan menjadi sebuah umpan bagus untuk membuat cerita cinta yang begitu romantis, sampai-sampai mungkin Dilan (dan hype miliknya) bisa dikalahkan.

Masalah terbesar menurut beberapa penikmat (orang-orang yang aku wawancarai semuanya memberikan opini sebagai penikmat, meski beliau Doktor dalam Sastra pun, opini diberikan dalam konteks penikmat sastra) adalah, studio akan mencari uang dalam memfokuskan cerita ke asmara antara Minke dan Annelies, hingga melewatkan banyak hal penting lainnya, seperti pertemanan Minke dengan Jean Marais, rivalritas dan tekanan yang dihadapkan ke Minke dari Robert Mellema, serta juga insting Ibu dari Nyai Ontosoroh.

Pasar Film Indonesia memiliki setidaknya dua masalah krusial. (ini adalah masalah besar bagi Sinetron juga)

Pasar Film Indonesia menginginkan cerita cinta.

Entah kenapa, konteks Cinta yang naif ini bukan hanya dijadikan sebagai selipan, tidak seperti di Star Wars, atau misalnya di Harry Potter sebagai pembanding buku dijadikan film yang sukses. Pasar Indonesia menginginkan love story sebagai showstopper dan pusat perhatian utama, alih-alih selipan yang menarik.

Bumi Manusia memang sangat-sangat fokus, dan juga menggunakan cerita cinta sebagai pilar utamanya, namun, pilar itu hanyalah sebuah tiang kosong yang indah (tetapi tidak bermakna) jika tidak dihias dengan masalah persekolahan Minke, paranoia miliknya pada seorang penguntit, serta tentunya, persahabatan antarnya dan Jean Marais.

Seperti tadi disebut, Marais adalah kunci yang bagus untuk menciptakan Film Bumi Manusia yang bagus, serta tetap cocok untuk pasar yang masih ingin romansa. Dengan adanya Marais, bukan hanya Romansa tetapi juga ada bromansa πŸ˜‰

Warga Indonesia belum bisa mencerna cerita dengan inteligen.

Masalah ini tidak hanya berhubungan dengan film, atau media apapun, tetapi, masalah ini akan dibahas dari perspektif film, serta sedikit media. Tidak banyak orang mengerti cerita Game of Thrones dengan detil. Mereka mungkin melewatkan referensi, atau konteks selipan yang disisipkan (Ini Babah [bukan Babah Ah Tjong] cerita di grup Facebook GoT Indonesia banyak orang yang tidak mengerti cerita rumit serial tersebut sepertinya). Ini berarti, seandainya Bumi Manusia dibuat dengan cerita yang rumit dan perlu dicerna dengan dipikir pun… Pesannya tidak akan ditangkap secara utuh. Alasan yang sama mengapa Hoax dan Fake News bisa sangat-sangat laku di Indonesia, orang-orang kita tidak berpikir dua kali mengenai suatu hal.

Kabar buruk utama dari hal ini, menurutku adalah fakta bahwa orang yang bisa mencerna media atau film dengan optimal, terpaksa untuk melakukan suatu tindakan (baik menciptakan, atau ikut berkontribusi ke) yang memang tidak membantu pasar Indonesia untuk berkembang. Biasanya, jika seseorang mengerti media, ia akan bekerja, atau bergerak di bidang itu, dan karena dasarnya media adalah perusahaan berbasis laba, maka, sama saja. Laba didapatkan dari mengikuti apa yang pasar inginkan, dan jika pasar menginginkan cerita cinta sederhana, maka itu yang akan diberikan studio.

Perubahan Naskah…

Kurasa, segala sesuatu akan memiliki alasan. Studio tidak akan mencari alasan untuk merubah naskah jika tidak ada alasan yang cukup kuat untuk merubah naskah, apalagi alur cerita. (pengecualian personal bagiku adalah akhirnya. Aku hampir menangis saat membaca Annelies yang harus ke Belanda)

Sebenarnya, kurasa tidak akan dilakukan perubahan naskah yang drastis, kecuali jika Hanung (dan beberapa wawancara ke beliau) memang benar-benar ingin memfokuskan Bumi Manusia sebagai cerita cinta.

Bahkan jika seandainya cerita cinta difokuskan seutuhnya oleh Hanung… Masih akan banyak kesempatan untuk memberikan warna dan dekorasi, dan seberapa kuatnya si pilar cerita cinta ini dibandingkan dekorasi di sampingnya, akan tetap saja lebih indah jika pilar tersebut didekorasi hal-hal lain.

Bumi Manusia adalah buku yang sangat fokus ke romansa, tetapi tidak diindahkan hanya karena romansa. Buku yang diindahkan hanya karena romantisnya buku tersebut biasanya cenderung tidak disukai kebanyakan peminat sastra. Romeo and Juliet adalah contoh sempurna. Itu terlalu naif untuk disukai semua orang.

Sejujurnya, aku hanya ingin satu perubahan ke cerita. Sebagai remaja yang masih sedikit impulsif dan naif, aku ingin Minke untuk bahagia pada akhir Bumi Manusia versi film. Tapi ini opini pribadi dan beberapa tutor serta temanku menyatakan bahwa sebaiknya, jangan dibuat happy ending.

Tetapi, aku terlalu kasian dengan Minke, jadi, aku punya opini berbeda πŸ™‚

Formula Ideal

Jika Bumi Manusia (atau sastra apapun) adalah sebuah pilar… Ini mungkin komponen yang cocok menurutku, dan beberapa orang yang kudapatkan opini miliknya.

  • Pilar tersebut adalah usaha dan indahnya hubungan antar Annelies dan Minke
  • Marais adalah cat yang mewarnai Pilar tersebut, penting untuk menangkap perhatian beberapa orang, terutama yang memang menyukai warna tersebut.
  • Nyai Ontosoroh adalah hiasan bunga yang bagus dan harum, terletak di kaki pilar tersebut. Jika seseorang datang karena pilar dan warna, Nyai membuat orang selalu tertarik.
  • Sekolah H.B.S. dan Ilmu milik Minke, serta gurunya, Mevrouw Magda Peters, adalah semen yang mengukuhkan serta memastikan pilar takkan roboh.
  • Kedua orangtuanya, serta keluarganya adalah orang-orang yang tidak mengindahkan pilar tersebut, dan selalu menemukan sesuatu untuk dikritik. Penonton akan melihat kedua orangtuanya sebagai alasan untuk lebih mencintai tokoh Minke yang selalu ditantang.
  • Robert Mellema dan Robert Suurhof, serta Penguntit yang diketahui sebagai Si Gendut berperan sebagai retak-retak yang tercipta di pilar tersebut. Membuat orang menyadari bahwa, Annelies dan Minke bukan pasangan yang sempurna…
  • Masih banyak tokoh seperti Herman Mellema, Maurits Mellema, dan juga orang-orang lain yang kurang menyukai Minke, anggap saja mereka orang yang ingin menggusur pilar agar bisa dibuat… entah, toilet di tempat si pilar.

Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah akan tertarik untuk melihat Bumi Manusia difilmkan? Jika iya, bagaimana cara Hanung untuk menggambarkan Bumi Manusia untuk layar lebar?

Sampai lain waktu!

Meeting Some Young Diplomats. Pt. 2

Meeting Some Young Diplomats. Pt. 2

For those of you who are confused why this part is in English, it’s because the conversations I had there was in English, so, I will rewrite this in English too.

Oke, kecuali sedikit bagian dimana aku akan bicara dalam Bahasa Indonesia.

During the 1 hour ++ period where we were allowed to have a private conversation with these diplomats, I talked to 3 of them, and passively took part in one of them.

Nigerian Diplomat

My meeting with Akang (yes, I’m inputting sundanese here) Muhammad started because of the museum’s head of administrations help. Mr. Prima felt a bit guilty for taking away my front seat a while ago when Ms. Marsudi, our foreign minister visited the museum. So, I’m thankful for his help.

I wanted to ask a question that I’ve been planning to ask for all day, but I always got… outsped by other people in our fellowship and chats, so, I just asked this question to Akang Muhammad here.

I also felt that Nigeria is a country that is much-much similar to Indonesia in the terms of ethnic groups (the topic I’m about to ask) because there are… I have no exact number at the time, but well, more than 100, so a lot.

My question to him was this…

Indonesia has a lot, of Ethnic groups, and many cultures. It’s a large country, and I sometimes feel a bit bad for the other cultures and places that when someone mentions Indonesia, people would immediately think of “Bali, Rendang, Batik.” If I’m not mistaken, Nigeria too has a lot of ethnic groups, is there any attempted solution for now? and if there isn’t, what’s really caused the problem here?

Kang Muhammad asked me another question before answering it wholly… “Well, Nigeria hasΒ nearly 200 ethnic groups, with a population of 180 million, give or take, and if I’m not mistaken, Indonesia has around, 350 ethnic groups, with 250 million population, is that right?”

At first I wasn’t quite sure to answer with a yes or a no, I don’t want to give a wrong information. But, at the moment, as thoughts sped around my head, I knew that, if a Nigerian somehow knows about my country, it’s a good thing right? So, I try to remember a bit, and I said, “I’m not really sure, but yes, we have a lot of ethnic groups, and more than 200 million people populate Indonesia…”

He nodded, then continued. “Well, we’re facing the same problems here…” He paused a bit, and Googled something on his phone, he spoke deep in his African accent… “Tell me, which of these tribes do you think of as Nigeria?”

I wasn’t sure… I suck at geography, and well, my international history isn’t that good either, sure, I can tell you about Einstein’s personal life, or Alan Turing’s personal life, but… Well, I suck at history in general. So, I just pointed to one I’ve heard or read about, somewhere, the Yoruba Tribe. (fun fact: Dele Alli, Tottenham’s young Midfielder, and the Premier League’s rising star [kinda rising, he’s well known now], is the son of the Yoruban Tribe’s eldest prince, so, be sure to call him Prince Dele… Wait, no, don’t…)

“Yes, that’s our largest tribe indeed…” I just thought something like, where on earth did I hear that? But, well, I was relieved I wouldn’t be ashamed of pointing something else.

He continued by saying this… “Now, I’m sure that the both of us here, we’d want to have every tribe and ethnic group to be known by the world right?” I nodded, saying a short “Yeah”, waiting for him to continue. “I personally don’t think it’s possible, firstly, some people don’t really think of Indonesia as people from Bandung, Jakartans, and so on…” he stopped, and asked, “Is that right?”

I chuckled a bit, saying that “People who live in Bandung are Sundanese, people who originate from Jakarta are usually Batavian, and people from Bali is… Well, Balinese”.

As he continued, I just listened, enjoying his African accent… “Now, people who don’t live in the mentioned countries don’t see neither Indonesia nor Nigeria as the tribes that live in it… They just see the country, and they correlate it as such.” He stopped, rejecting a call from his phone, then he continued… “Well, most people come to Indonesia and think of Bali, and its beaches, well, it’s also partially because of media.”

I thought about this as he continued, it’s always the frame, the media shows what they want to show, and the media being a business, they want something that can generate money…

“The international media shows the showstoppers, they show what people from around the world wants to know. People who got a glimpse of Indonesia visit Bali, because that’s what the international media shown, then, people visit Bali…” I nodded, agreeing to this. “That’s why it’s important to give as many glimpses of your smaller cultures whenever international media is there. Show the world what you want to show…”

So, simply from this talk alone, I learned about manipulating the frame, so the media doesn’t completely frame it. The media shows what they want to show. Proper media, at least not the hoax-making, click-bait slave media… they show what people want to see, or show it entirely. But it’s still up to the people that is reported by the media to show what they want to show.

We talked a whole lot more, well, not a whole lot actually, about 15 minutes. He showed me his selfie with our Foreign Minister, he showed me some Nigerian clothing on his phone, and, he asked me about my club.

I talked about Global Literacy, and he asked me about some literature, those I’ve read at least, and well, he told me a few books that was written by Nigerian authors.

I mentioned about Nigeria and their Scrabble federation, and he just laughed, saying that when people get bored, they find something to do. We just gotta hope they found something useful to do.

Hey, what is our country #1 (on the top) again… hang on, let me google that… Oh shucks… Mobile Legends. 50% of the total Mobile Legends players come from Indonesia… Ah well.

Nigeria is pretty good in Soccer as well, with John Obi Mikel, and Alex Iwobi coming from there…

One can’t only hope that Indonesia would grow to be a better country, one that loves its culture as well. One must act…

Anyways, I rolled in to the next Junior Diplomat… One from Guyana. I had the most fun talking to him.

Guyanese Diplomat

Around the edge of the room I saw the Guyanese diplomat, just standing in the corner, hoping for someone to come by his face and talk to him. But well, no one did anyways… So, I decided to take initiative and I stepped up and talked to him.

Based on what I heard from him during the public discussion, it’s that he’s from Guyana, he’s a sports promoter, and he’s also a substitute for the Guyanese National Cricketing team. Apparently the Guyanese cricketing team is pretty large, so he’s gotta be pretty good if he can make it as a substitute.

I’m not that much of a sports fan, and I also don’t keep up with the sporting stuff they do nowadays… But fortunately enough, I do some soccer homework every year when the transfer market opens, and I google stuff, so when my father (who is a huge Liverpool fan) mentions a new player, or puts on some Soccer on TV, I won’t get too confused.

I missed this homework last year and I had no clue who Mohamed Salah was until Bubi saw him on TV during a big match and she said, “Who’s that? He looks good”

Well, I wanted to talk to him about many of hiss appealing details. Number 1 was his height… He’s like, very tall, almost 10 centimeters taller than me, and I’m not short as well, but he is an athlete, so no surprise there.

Then I moved to see what’s in his collar. There is a pin of the Guyanese national flag there, so I asked him a question about it… Well, here’s how the conversation between me and Akang… actually every single person who came there forgot his name (yes, I asked all 30 SMKAA members who came there, and none remembered his name). Myself included…

It was a rather African sounding name, and trust me, it’s not an easy name to remember. With names like Justin, Muhammad, Sheila, Miguel and Tomo there, his name was very easy to forget. I remembered 9 out of 10 names, except his…

  • Me: Nice pin you got there…
  • Oh this, you know what this is?
  • Me: Well, I think that’s an easy question, it’s the Guyanese National Flag…
  • Have you seen our flag before?
  • Me: No I haven’t
  • Well, that’s good, now you know our flag. Hahah
  • Me: Did you wear that because you want to, or…
  • No, actually I am wearing this because Guyanese diplomats need to stand out.
  • Me: *in my head* That’s cool…
  • Me: So, it’s there because you have to wear that?
  • It’s not wrong, but it’s there, because it is a piece of our country that we bring with us everywhere. It’s also a piece of our identity.
  • Me: Ah, I see…
  • There are currently 3 countries whose name sounds like Guyana, and trust me, people forget us all the time. So our foreign minister makes it a must for us to differ our identity with others, through this pin, and the way we speak English.
  • Me: Reminds me a bit of Slovenia and Slovakia… 2 countries where people mix each one with…
  • Guyana, Ghana, and Guinea, most people mix all 3 of those all the time. Lucky enough, they have very different flags, so we decided to wear our flag everywhere.
  • Me: I wish that Indonesians would be proud of themselves…
  • You know, you could give the museum a suggestion for their employees and guides to wear a flag of Indonesia. Tourists who visit Bandung visit the Museum a lot…
  • Me: That’s actually a good idea…

Then, we talked a bit more about sports.

Honestly, I haven’t talked that much about soccer since I was in fourth grade 7 years ago.

It all started with the question, “So, you’re a sports promoter?”

He said yes, and he also played Cricket and Football for the Guyanese national team. Both of them as a substitute, but honestly, just being able to make it onto the national team is an achievement in itself. Rabiot didn’t play any games at all for France last world cup, but he still took the Glory when they won.

His job is simply to travel around the world, and whisper the names of Guyanese players to scouts for many clubs. So, a sports promoter is basically Varys…

It’s not his job to scout out players, but more like, enticing the scouts to come there and possibly recruit players.

He then mentioned, it’s because of Sports Promoters that a team can know who is Mohamed Salah, who is Didier Drogba, and so on.

With the name of Didier Drogba mentioned, I thought a bit of players in the Premiere League nowadays… And, I shared a flash of inspiration…

It just came to me that Liverpool’s main forwards are Sadio Mane and Mohamed Salah, and the both of them are players from Africa. Naby Keita becoming an addition, also added up onto the already long list of African (and Asian, since this is the Asian African Museum after all πŸ˜‰ ) players in the Premiere League.

He then said, there’s a better example as to why Sports Promoters are necessary in African and Asian countries. Take a look at France, winning the last world cup…

They had many African players who are given the same opportunity with European players to get the same tactics and ideas that European players had. France won the world cup with Mbappe, Pogba, and Umtiti becoming powerful forces in their arsenal. All of them are of African descent, whilst still getting the techniques and tactics of European footballers.

He said that if these Africans were given a chance to experience the tactics and strategies of European football, maybe they would be better than European players.

With Mbappe mentioned, I thought to say how fast and how athletic he is. He said that there’s a huge chance Mbappe will be a legend one day, he’s not even 22 (full age of physical development) yet, and he is already showing really great signs of his skills.

And now, in present time I’m mourning my memory loss for not remembering his name… But remembering the names of 9 other diplomats.

I then mentioned the premiere league when he asked me about my favorite Premiere League team.

I told him I actually haven’t watched a premiere league game for the last… 3 to 4 years… But I also told him my father’s a Liverpool fan, and I’m liking Liverpool too. He on the other hand is a Chelsea fan, because of none other than Didier Drogba.

At 2004, perhaps, he was 12 or 13 at the time, he started watching Soccer and Drogba helped won the Premiere League for Chelsea. Being colored, and I think one of the most skilled African players in his prime, he liked Chelsea.

That’s a rather respectable reason to me.

When I told him that my family liked Liverpool, he then said to me that Naby Keita, was discovered partially because of one of his mentor’s helped.

At first I thought Keita was Guyanese, but he wasn’t… He’s from Guinea and NOT Guyana. Maybe this mentor of his was at Guinea, looking to promote some Guyanese talents when he met Keita and helped Leipzig purchase the Midfielder.

We moved on to tourism somehow, after that Naby Keita talk and Guyana Guinea confusion… I asked him how he related to Indonesia… Like, what’s his first memory when someone mentions Indonesia, and he said… Bali.

Well, no surprise there, but here’s some of the more… disappointing parts.

Not long when I discussed tourism, he told me that Guyana has the largest single drop Waterfall, and he’s really proud of it. He showed me a google search of Guyanese Tourist destinations and apart from waterfalls, and some rainforests for those wanting to hike or swim near a waterfall… There isn’t much. (I didn’t tell him that_

I then thought and talked to him, about Indonesia.

We have dozens of things to be proud of, we have Bali, we have Rote Ndao, (he asked me what it was, I told him it’s the Indonesian island that is closest to Australia) we have Raja Ampat, we have Bromo, we have the only Observatory in South East Asia, and so on…

But, I don’t know, why aren’t we proud of it? I mean, to be honest, having the largest single drop waterfall is a rather specific situation to meet. From far away it’ll look nice on pictures, but, seriously, jumping off there is borderline suicide… But… we have something less specific, we are the largest bunch of islands in the world… Has any Indonesian mentioned that to tourists? I don’t know…

Well, eventually, like most people working in foreign ministry, most of their works are… international, and he got a call he’s got to take, so I moved on to the Japanese diplomat for the last 7 minutes.

The topic wasn’t much though…

Japanese Diplomat

Akang Tomo was nice.

He spoke to me in Indonesian, and myself already knowing that he’s Japanese instead spoke to him in English… it was reflex.

Me, an Indonesian spoke to a Japanese in English, while he speaks to me in Indonesian… thumbs up πŸ™‚

EDIT: A friend of mine who saw this said that I speak in English when she spoke to me in Bahasa… At least I slip a bit of English in some of my phrases…

We spoke of nothing important, I commented on his shirt with cheese patterns and a 3 dimensional mouse coming out of the sleeve, he said to me that when you visit Tokyo, if you like shirts like these, you have to go to a store that sells these kinds of shirts. They’re informal shirts.

And you have to know, I loveeeeee wearing shirts, especially the informal ones.

Overall, the 7 minute conversation we had was… funny.

  • We talked about Japanese Shirts in two different languages.
  • I kept telling him I’m trying so hard to speak Bahasa with him (though I said that in English)
  • He tried to speak Bahasa with me so I speak Bahasa to him, we both laughed since I can’t stop speaking English.
  • I was rather embarrassed of myself, but he told me to not worry, it’s not rare that Indonesians who knows he can speak Indonesian, ended up speaking to him in English.

Conclusion

We should be more proud of ourselves…

It really is that simple.

We sometimes envy others too much that we forget that we have something others admire… Hence, we’re not proud of what we have.

We should appreciate what we have, and we shouldn’t let envy and impatience take over.

That’s all from me today, goodbye!

Bertemu dengan beberapa Diplomat Muda… Pt. 1

Bertemu dengan beberapa Diplomat Muda… Pt. 1

Jadi begini…

Sebenarnya aku sudah ingin menuliskan ini dari 2 minggu yang lalu, tetapi, dikarenakan satu dan lain hal, gak jadi…

Maaf sedikit (ehem, sedikit Zriel?)… Ugh… Maaf sangat ngaret.

Anyway, 22 Juli kemarin ada acara di Museum Konferensi Asia Afrika, yang mengajak kita bertemu dengan diplomat junior dari 10 negara… Aku tidak akan menceritakan semuanya dengan detil, terutama bagian dimana penanggung jawab acara ini dari Kemenlu secara spesifik bilang… “Tolong jangan beritahu ini ke umum ya, anggap saja ini bonus untuk anggota SMKAA yang memang sudah sering membantu museum.”

Acara dibagi menjadi dua sesi. Diawali dengan diskusi publik, dan obrolan santai, dimana para diplomat junior ini dikencar dan mengobrol dengan orang-orang secara private.

*COUGH, aku dan diriku yang sangat-sangat enjoy ketika dalam momen tersebut… Lupa mengambil satu pun foto… COUGH*

Bagaimanapun juga, mari kita masuk ke artikel hari ini…

Diplomats.

Courtesy: Viva Atas (kanan ke kiri) Guyana, Jepang, Meksiko, Portugal, Nigeria. Bawah (kanan ke kiri) Fiji, Myanmar, Ibu Retno Marsudi, Kamboja, Bangladesh, Papua Nugini

Foto para Diplomat kemarin. Karena umm… Aku lupa foto..

Open Discussion

Sesudah para diplomat dikenalkan oleh Penanggung Jawab, yang juga merupakan Direktur Diplomasi di Kemenlu… Kami langsung masuk ke sesi diskusi terbuka, dimana SMKAA bertanya kepada para diplomat, dan mereka bergantian menjawab.

Pertanyaan-pertanyaan saat Open Discussion cukup sederhana, dan lebih banyak ditanyakan ke semua orang sekaligus, tidak cenderung terlalu spesifik.

Aku memilih 3 pertanyaan yang menurutku paling menarik, di antara… sejujurnya aku tidak ingat ada berapa pertanyaan. (aku kurang beruntung dan tidak sempat bertanya di Open Discussion)

#1 How is Bandung so far?

Kurangkum saja ya…

Semua diplomat (ini hari kedua di Bandung, dan hari masih pagi) sepertinya menikmati dan juga senang sekali dengan Bandung. Komentar mereka tidak jauh dari…

  • Bandung is a more enjoyable and calm city, it’s slower than Jakarta here, and definitely closer to Nature.
  • I heard that Bandung is a city that’s filled with many creative industries in it, and Mr. Azis here said that it’s known as Paris Van Java.
  • For now, I prefer Bandung over Jakarta because it has far less smoke, and the people here seem friendlier.
    • Pak Azis (penanggung jawab, serta direktur diplomasi di Kemenlu) mengomentari “There are lots of pretty girls here in Bandung, you’re single right?”
    • Kami tertawa…

Diplomat dari Jepang, sudah cukup fasih berbahasa Indonesia, karena sempat berada di Indonesia untuk 6 bulan, melakukan riset (atau studi banding, aku tidak ingat dengan pasti) di Universitas Padjajaran.

Bahasa Indonesia yang ia gunakan sopan, lembut, dan juga… Baku. Tidak dicampur dengan Bahasa Inggris, dan secara keseluruhan, kurasa, lebih baik dan enak didengar daripada bahasa indonesia yang aku gunakan. Jadi, sepertinya, jika dibandingkan dengan bahasa millennial yang… ya, kacau balau, dan serba singkatan, seharusnya kami, sebagai orang Indonesia, sedikit malu dengan foreigner yang bisa berbicara bahasa ibu-nya. (Seriously, he’s that good, orang yang ketemu dengannya, kalau ia berbicara dengan Bahasa Indonesia, mungkin mengira dirinya sebagai WNI)

Kembali ke topik utama, ia menuturkan sedikit, “Saya mungkin paling kenal dengan Bandung daripada teman-temanku yang lain. Saya sempat belajar selama 6 bulan di Universitas Padjajaran, dan menurutku, Bandung itu kota yang indah, jajanannya… enak. Kata teman saya, Batagor di… umm, cafeteria kampus enak, dan saya sangat suka. Selain itu, saya juga senang bisa kembali mengunjungi Bandung…”

Dan, dari situ, aku melupakan apa yang dikatakan… Maklum, manusia hanya bisa mengingat 10-30% dari apa yang ia pelajari.

#2 How has the Asian African Conference affected your country?

Sekali, lagi, dirangkum saja…

  • It has changed, quite a lot really… Not only did it help our country feel less restrained to the remnants of the invasion there, not only did it help us gain our independence, it also gave us a strong fighting spirit to make the most out of it.
  • It’s not just the Asian African Conference that mattered, but also the aftershocks of what happened next. Like the, uh… Non aligned movement. Overall, the sound from Bandung at 1955 sounded loud around the world at the time and it still echoes until today.
  • Myanmar, or perhaps, Burma is still in gratitude of Indonesia for holding the Asian African Conference, and is very thankful for it. Dasasila Bandung helped us in building some of the foundations of our human rights, and we will not let go of such a large event.
  • I’m sure that several countries who were not independent yet at the time in both Asia and Africa became independent. (yes, that is what happened)

Kembali ke titik A…

Jadi, bertemu dengan diplomat-diplomat muda ini membuat aku makin, geleng-geleng kepala, dicampur dengan sedikit face-palm juga… Ke orang Indonesia.

Kita sudah melawan dan juga, tentunya mendapatkan kemerdekaan kita sendiri, dan kita memberikan serta membangkitkan semangat banyak negara lainnya untuk ikut merdeka. Tetapi apa? Kenapa, oh, kenapa? Kita, yang sudah diusung, dihormati, dan diberikan banyak tanda terima kasih dari negara luar, malahan… menyia-nyiakan kemerdekaan ini.

Ketika aku berumur 11 tahun, dan masih bersekolah formal, pada pelajaran PKn, diwajibkan untuk mengetahui cara mengamalkan pancasila, dan kurasa materi ini masih diberikan ke anak kelas 5 dan kelas 6 lainnya, tetapi… Masalahnya, mau diberitahu sesering apa tentang cara mengamalkan pancasila, kalau tidak diamalkan juga, tidak ada artinya dong…

Kesal kan? Gawat ini…

#3 Why did you become a diplomat? and How?

Pertanyaan sederhana, tetapi, jawabannya, kurasa, sangat-sangat relatif… Bisa saja, sudah direncanakan, bisa saja sederhana, dan bisa saja… karena kebetulan.

  • I became a diplomat because I love my country, and I want to share its culture with the world.
  • I am a sports promoter from Guyana, and, actually, I also played for the Guyanese Cricket Team. I always loved sports, but I myself know that I’m not really that good at it, so I chose to be a sports promoter instead…
  • As a child, I am actually one of the few people in Japan who is actually good at speaking English… So, I guess, being a diplomat in a country whose first language doesn’t use latin letters just, lead me here.
  • I used to be a reporter, back in Portugal that is… Well, it enabled me to travel around the country, catching whatever event happened there. Eventually, since I enjoy travelling, I knew that, if I’m a diplomat, I could experience different countries. So, I chose to be a diplomat instead of a reporter. Funny enough, I am actually an international relations graduate, but I enjoy writing. So, I guess, I went back to where I am supposed to be…

And so on…

Untuk pertanyaan, How, tetapi… dijawab oleh Pak Aziz.

Dan iya, tidak boleh disebarkan, Pak Aziz, benar-benar spesifik bilang bahwa ini khusus untuk SMKAA, so… boohoo πŸ˜›

Tetapi, mengutip sedikit, kuncinya di Interview, dan kamu bisa jadi diplomat jika kamu pantas, dan jika kamu mampu.

To Be Continued, Tomorrow… This time with names

Kenapa belum ada nama? Lupa…

Iya, aku bisa ingat cerita sepanjang ini, tetapi, aku seringkali melupakan nama.

On the bright side, ada daftar nama yang ada di Koordinator Eksekutif kita, dan akan dicari, segera πŸ˜‰

EDIT: Nama, gak jadi… Tetapi, aku sukses mengingat 6 dari 10 nama, mencari catatan di bukuku yang hanya berisi, coretan nama, bisi aku lupa… kedua perempuan dari Myanmar dan Kamboja, sayangnya tidak tercatat… Jadi… ada sedikit kemajuan!

Muhammad, dari Nigeria. Javier, dari Meksiko. Justin, dari Papua Nugini. Miguel, dari Portugal. Alanieta, dari Fiji. Sheila, dari Bangladesh.

Ironisnya, aku mengajak ngobrol Diplomat dari Guyana, dan melupakan namanya… Mengajak ngobrol diplomat dari Jepang, dan juga lupa namanya… Ada apa denganku…

Promotion: Open House SMKAA

Promotion: Open House SMKAA

Courtesy of Image: kemendikbud, program Budaya Kita.

Dear readers of Dikakipelangi.com…

Aku tidak dibayar sedikit pun oleh SMKAA… Promosi ini murni dilakukan karena aku seorang relawan di SMKAA yang sangat ingin untuk mengait dan mengajak orang-orang untuk ikut bergabung di komunitas relawan ini.

(dan umm, sejujurnya, karena belum terlalu banyak promosi di web, jadi, aku menawarkan diri untuk membuat post mempromosikan Open House SMKAA ini)

SMKAA bukan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan. Jangan seperti beberapa orang yang melihat singkatan SMKAA dan dengan umum memberi sebuah panggilan… SMK Asia Afrika…

Bagaimana responnya? (tentunya bukan salah dari pihak yang memberi pengumuman, kurasa SMKAA punya sedikit andil salah dalam kejadian ini)

Oke, semoga basa basinya tidak sampai basi, jadi… mari kita masuk, dan jelaskan mengenai open house dan SMKAA itu sendiri.

Dan semoga lelucon basa basi itu tidak garing. (oke, aku tahu itu garing, peace)

Apa itu SMKAA?

SMKAA adalah Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika. Dan jika reader disini belum sering membaca website milikku, kemungkinan ketemu broadcast dari mana, atau hanya kebetulan mampir Dikakipelangi.com, pasti belum tahu apa itu SMKAA.

(umm, terkecuali kalau memang sudah tahu, mungkin via IG, dari temannya, atau memang sudah anggota, atau mungkin…)

Ehem, sorry… Azriel, tetap fokus.

Sebenarnya, apa itu Sahabat Museum? Nah, bisa baca dulu dari sini… Mulai dari sejarahnya, tentunya.

Sejarah SMKAA

Pada tahun 2011, dan di titik paling “rendah” dari Musuem KAA sendiri, beberapa pegiat museum di Bandung, berkumpul di Museum Asia Afrika pada suatu malam.

Museum seperti Museum KAA sendiri yang statis, dan tidak bisa terlalu banyak menambahkan pameran sementara, merasa bahwa memiliki sesuatu yang hidup, atau lebih tepatnya, sesuatu yang menghidupi museum.

Jadi, karena Musuem tentunya akan butuh relawan, dan juga pasti akan membutuhkan kehidupan baru, diciptakanlah Sahabat Museum.

Peran dari sahabat museum ini apa?

Sebenarnya, Sahabat Museum ini, pada tahun terciptanya benar-benar hanya ada untuk memberikan relawan bagi Museum KAA. Anggota awalnya berisi pegiat Museum, Sejarah, ataupun Konferensi Asia Afrika sendiri.

Nah, namun, seiring bertambahnya anggota, ada suatu titik diantara umur 7 tahun SMKAA ini, untuk menghasilkan klub-klub di bawahnya, dan beberapa klub ini mungkin sudah diketahui sebelum seseorang tahu akan sahabat museum. Klub-klub ini kemudian digunakan untuk menarik masyarakat umum dan mengikuti Sahabat Museum, agar museum bisa mendapatkan relawan dan sumber daya manusia ketika ada acara yang membutuhkan kedua hal tersebut.

Aku sejujurnya belum bisa memberikan terlalu banyak informasi detil (terutama urusan tanggal dan tahun ^-^ ) mengenai sejarah SMKAA sendiri, tetapi, kurasa secara garis besar, ini cukup memadai.

Open House Schedule…

Open house dilaksanakan pada 4 Agustus 2018…

Pada open house kali ini, kita akan memberi kesempatan untuk masyarakat umum untuk mencoba 13 klub yang akan dipamerkan di open house dan bisa dicoba trial class-nya nanti.

Booth dibuka dari jam 9.00-16.00, jika ingin bertanya mengenai detil klab, bisa datang saja ke booth πŸ˜‰ . Detil SMKAA juga bisa ditanyakan ke booth, seandainya bingung.

Berikutnya ada trial class.

Sedikit kelemahan dari broadcast adalah, informasi yang dijajakan dan diberikan cenderung terbatas, jadi, aku ingin memberikan yang lebih mendetil, agar tidak ada kebingungan.

Trial Class dilaksanakan di dua venue, yaitu Galeri Museum, dan juga, ruangan Audiovisual. Pada tiap sesi, ada beberapa klab yang menyiapkan trial class.

Trial Class tiap klab sendiri berlangsung 30-45 menit. Dan iya, ini berarti satu sesi diisi tiga trial class dari tiga klab berbeda. Urutan tampil belum diumumkan, karena kami dari pihak SMKAA akan lebih senang jika orang-orang mengikuti ketiga trial class πŸ˜‰

Tetapi tentunya, kami tidak keberatan jika ingin pindah kelas ketika sudah mengikuti trial class klab yang ingin diikuti.

Kesimpulan

Tentunya, SMKAA ini, adalah sebuah pintu bagi seseorang untuk berkontribusi lebih untuk masyarakat. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain bukan?

Kurasa, kesimpulanku hari ini akan sederhana…

SMKAA akan cocok bagi orang yang berkomitmen, dan juga yang ingin berkontribusi lebih banyak untuk masyarakat, kesempatan masuk ke komunitas ini hanya sekali setahun, ayo, jangan sampai kelewatan πŸ˜‰

This article will be completed in Friday, with details on each of the clubs, (it’s 60% done) and only need fact rechecks.

Dear Museum Asia Afrika

Dear Museum Asia Afrika

Pernahkah anda merasa bahwa suatu hak milik anda direbut begitu saja? Sejujurnya aku merasakan itu hari ini… Tetapi, ya mau bagaimana lagi…

Jadi begini, ada acara dengan Ibu Menteri Luar Negeri kita, Retno L.P. Marsudi. Dan, oke… bentar dulu…

Catatan: Aku seorang Remaja, aku bisa dan akan merasa moody. Iya, bahkan remaja sesabar, sepintar, sekeren dan seganteng aku *Pembaca mau muntah* bisa merasa moody… Tolong tahu bahwa aku curhat, dan sekali lagi iya… aku curhat.

Jadi begini, jika remaja pada umumnya merasa galau kalau diputusin pacar, ditolak, di unfollow orang, di… apa aja sih? Umm… Itu lah ya.

Inilah cerita yang membuat aku sendiri, Azriel Muhammad… Galau.

SMKAA

Ah, SMKAA, sering sekali namanya kusebut, sering sekali aku berusaha kujelaskan (meski rada gagal, tapi tetep, ada usaha), dan juga sering sekali aku datangi acaranya. Aku belum pernah sekalipun kelewatan satu acara dari Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika ini. Hari ini kebetulan, ada acara dengan skala yang sangat besar, serta juga… melibatkan pihak atasan, dan juga pihak eksternal.

Hari ini, Ibu Menteri Luar Negeri kita, Retno Marsudi, diundang ke Gedung Merdeka, untuk memberikan talkshow 90 menit.

Mengenal aku, dan membaca tulisanku, aku niat, dan antusias pakai… BANGET! Aku datang jam 7.04, dan begitu sampai, aku langsung menaruh tasku di barisan depan, tepat di tengah. Aku belum mengambil foto, belum apa-apa, tetapi ya, aku sudah tek kursi paling depan.

Nah, sekarang ganti chapter.

Pendaftaran, Registrasi, Persiapan…

Entahlah, aku mulai kehilangan kontrol dan merasa sedikit kesal ketika menulis ini…

Jadi begini, pukul 8.00, pendaftaran telah dibuka. Aku langsung mendaftar dan menggunakan kaos, serta kembali ke kursiku, dengan ketakutan bahwa ada yang mungkin mau mengambil tempatku di tengah ini.

Sekitar 15-20 menit kemudian, orang-orang berdatangan. Dengan bantuan Usher Frontman (atau, apalah namanya), peserta dipandu dan diminta untuk duduk paling depan… Dan ini adalah momen yang cocok untuk flashback…

Flashback

(EHEM, tulisan ini tidak punya alur karena dia curhatan, bukan liputan)

Beberapa hari sebelumnya, Kakak Nimrod A. Aria, Koordinator Eksekutif dari SMKAA, pada dasarnya orang in charge paling atas dalam SMKAA, sudah bilang bahwa ini acara SMKAA, dan bukan ditujukan untuk umum, kecuali ada sisa kuota pada H-1. Nah, akan ada Usher frontman untuk mengatur kursi agar anggota SMKAA duduk paling depan.

Aku mah gak usah disuruh udah duduk di depan.

Sayangnya, kuota SMKAA tidak terpenuhi, hanya ada 70-an dari 200 batas… Sehingga, sisa kuota pun ditujukan untuk umum, dan pendaftaran dibuka…

Real Time.

HEUH… Tentunya, meski anggota SMKAA juga, tetap saja, ada yang namanya malu dan takut salah ini salah itu. Jadi, barisan depan terisi, dan hampir semua orang di barisan paling depan adalah peserta umum, mungkin ada andil salah di Usher dan juga panitia yang dari Kemenlu dan asal menyuruh orang untuk duduk di depan.

Aku belum keberatan, tentunya ketika anggota SMKAA sendiri diberikan kesempatan untuk duduk di depan, tetapi malu lah, atau apa lah.

Secara keseluruhan, diantara 25-an kursi yang berada di depan, 6 disisakan untuk pejabat Kemenlu, 3 (termasuk aku) disisakan untuk SMKAA, 6 untuk Paskibra dan Pramuka yang diundang, 10 sisanya diisi oleh tamu umum. Mahasiswa ITB, dan Unpad mengambil mayoritas.

Stroke of Bad Luck

Jadi begini, ingat, Kak Nimrod Aria yang aku sebut di atas? Belum ada yang tek kursi untuk Kak Aria… Sehingga, 3 anggota SMKAA yang berada di depan digusur, dan diminta untuk kembali ke belakang…

Ketiga anggota tersebut, sepengetahuanku digantikan oleh Kang Adew Habsta dan Kang Dani, keduanya adalah founder SMKAA.

Kursiku tetapi, digantikan oleh Kak Aria.

Awalnya, juga akan digusur peserta dari umum alih-alih peserta SMKAA, tetapi semua kakak-kakak kuliahan dari umum, menolak dan bilang bahwa mereka datang cepat, dan disuruh untuk duduk di depan. Aku, dan anggota SMKAA yang lain, diminta untuk mundur ke belakang dengan alasan…

“Ini bertiga sama-sama penting lho, ada 2 founder SMKAA, dan koordinator eksekutif-nya. Mundur ya? Sesama SMKAA…”

Jadi, umm, aku kesal.

Resolution…

Tentunya, aku bukan model orang yang mau dan tidak keberatan mengalah dan digusur ke barisan belakang… Aku jadi, tetap membiarkan kursiku diambil, tetapi aku berdiri di sisi pinggir…

Kurang lebih aku berdiri di sebelah situ.

Dan iya, aku berdiri di situ selama 90 menit++

Tetapi, pada akhirnya, panitia juga tahu aku bukan orang submisif, dan panitia juga tahu bahwa aku masih tidak ridho kursi aku diambil orang, dan aku diberikan kursi panitia di pinggir. Eh, aku gak bisa dan gak boleh bertanya, aku dihitung panitia, dan tujuan aku datang ke sini jadi terpotong setengah.

Ha, ya sudahlah, namanya juga nasib, setidaknya mendengar Bu Retno berbicara sudah cukup membuatku happy.

Tulisan A Day With Bu Menlu akan keluar esok malam, aku hanya menulis ini demi mengeluarkan amarah yang masih terpendam.

Iya, aku akan share ini dengan teman-teman di SMKAA, dan semoga masalah ini takkan terjadi lagi di lain waktu…

Post Kolonialisme: Penyebab Hilangnya Identitas Budaya

Post Kolonialisme: Penyebab Hilangnya Identitas Budaya

Yeay! Kita bahas Post Colonialism!

According to some of my “sources” (klub Global Literacy, part of SMKAA) in the Asian African Museum… Masih banyak hal dari era colonialism yang tercerminkan ke abad 21. Beberapa teori dari post-colonialism akan aku bahas di sini. Among these theories, banyak hal yang gak seratus persen apply lagi ke era tech and… social media ini. Tapi, somehow kalau dimasukkan philosophizing (waw, ternyata itu kata) dan some other… stuff dalem sini, these things might actually count.

Sebelum masuk ke artikel, judulnya emang gitu aja, sorry… Aku tidak kebayang satu kata yang masih terkesan humoris dengan hal-hal yang terjadi disini… Since apparently, trauma vibrates, resounding loud, so that generations passing the traumatized ones could still HEAR the torture…

Edit: Judulnya sudah diubah biar rada puitis, dan jika mau tahu judul asli-nya bisa liat di link, dan iya, si judul original-nya rada… ga jelas sebenernya..

Wow! Ada Bule!

Teori ini… sebenernya udah pernah aku bahas pas aku nulis review buku Pulang. Kayanya orang-orang lokal pasti bakalan muterin muka kalau ada orang luar.

No, seriously though. Ini kayanya semacam hardwired trait untuk orang-orang yang dulunya sempat di colonize. Or… hang on, aku ga tahu pasti sih, tapi a portion of this theory would be shut down… kalau Thailand yang ga pernah dijajah juga, mungkin tetep ngelirik kalau ada bule.

Tapi even then, kayanya teori ini tetep berjalan dengan cukup mulus, kalau orang yang bukan Caucasian melihat orang Caucasian bakalan ngelirik sih… Ini mungkin trauma yang tadi aku bilang, echoing…

Mungkin masih hardwired di otak kita kalau… sebenernya, kita masih merasa bahwa orang-orang luar itu orang-orang yang… more powerful than we are. In fact, pas aku ngebahas ini kakaknya bilang mungkin liat cewe dengan rambut pirang dimanapun juga pasti dibilang cantik sama orang lokal mah… Or, I don’t know actually. Aku bener-bener ga tahu pasti gak-nya, karena teori ini… ga bener-bener certain, tapi at the very least… ngelirik mah tetep.

Sebenernya sih, juga masih ada kemungkinan bahwa “fenomena” ini terjadi karena emang kita jarang ngeliat orang luar. Tapi, sebenernya sih, kalau aku mau breakdown teori ini, dan sedikit lebih kritis. Kalau kita ke U.S. or Belanda aja misalnya, apa kita diliatin orang di sana karena mereka jarang liat orang Indonesia?

I don’t really think so, karena aku belum pernah ke Eropa, atau ke  U.S. tapi, aku ga yakin mereka akan ngeliat kita dengan cara kita (or at the very least, kalau ga mau ngaku, orang-orang yang ga tinggal di kota), ngeliat orang mereka?

I think there is still some… subconscious traits wired onto our heads.

Outsourcing Things…

Well, ini some backup evidence bahwa kita subconsciously think that… orang luar lebih WAAAAHHH! Dari orang kita, dan ini juga mungkin alasan bahwa orang Indonesia tuh sebenernya senang banget ngedenger aksen British yang dibuat-buat, atau perfect English grammar, tanpa kebawa lagi logat lokalnya.

Tapi, sebenernya, come on… logat lokal itu sebenernya apa yang “mewarnai”, culture dunia ini… Sure, English is a language that unites us all, dan juga itu bahasa yang bisa dipakai, pretty much everywhere… (from my personal experience alone, except Thailand… Tar itu lebih jelas di bawah)

Wait sekarang ngomong bahasa jadi rada malu kenapa aku mencampur-campur bahasa… Sebenernya aku mencampur bahasa di blog ini tuh gunanya… karena aku sebenernya ga selalu bisa menemukan kata sederhana yang ga berat di Bahasa Indonesia. Karena bahasa inggris itu bahasa universal, aku jadi pake dikit… (okay, banyak) untuk mempermudah dan mempersantai artikelku.

Lanjut ke topik yang harusnya dibahas… 2 paragraf kemudian…

Di India, ada kasus bahwa ada perusahaan dari UK, yang hire orang India, dan dilatih speaking skills-nya, sampai bener-bener hilang logat Indianya kalau ngomong bahasa Inggris. Orang-orang dengan aksen british yang sempurna ini eventually dipekerjakan sebagai on-call Customer Service di Indianya sendiri.

(okay sebenernya aku mau make HIRE tadi… kenapa kalau Hire lebih simple ya kedengerannya)

Anyways, jadi di beberapa perusahaan ini, mereka semacam outsource orang-orang untuk memberikan image company yang false, saying that… “WIH! Keren amat tuh, orang inggris sendiri jadi CS-nya”

Jadi, like I said, ini kayanya subconscious trigger yang udah hardwired ke otak kita sejak lahir.

Mimikri!

On the subject of… (Kecewa pada diri sendiri)

Dalam topik… (pake Google Translate untuk mentranslate Outsource ke Bahasa Indonesia) Alih daya…. Okay, aku tetep mau make outsource…

Dalam topik outsourcing, ini sesuatu yang disebut dengan Mimikri. Pada dasarnya, mimikri itu bagaimana cara orang-orang dari sebuah negara yang pernah dikolonisasi untuk mengikuti secara tidak langsung budaya dari negeri yang menjajahnya.

Dalam kasus di atas, India memang pernah kan dijajah inggris. Jadi, untuk menambah faktor “WAAAHHH!” tadi, yang outsource adalah perusahaan inggris, dan logat yang dibuat juga logat british.

Jadi, sebenarnya, Mimikri ini menyebabkan Identity Crisis, antar kedua negara tadi. Ada kemungkinan bahwa negara yang dijajah tadi memang merasa “tertekan” dan untuk memberi dirinya sendiri image keren, ia akan berusaha membuat dirinya similar… (Sebel sendiri…) mirip ke negara yang menjajahnya.

Dalam era globalisasi, masalah ini melonjak entah berapa kali lipat. Dan aku jadi ingat dulu di sekolah… Ketika materi globalisasi dibahas, pada dasarnya, salah satu downside… atau, sisi negatif dari globalisasi adalah cara budaya luar, slowly eat up… budaya kita.

Aku yakin sih globalisasi juga bermain dengan cukup kuat dalam masalah kehilangan budaya dan identity crisis ini. Tapi, masalah berikutnya… ada di Mimikri… Karena, sebenarnya, aku belum pernah dengar kasus orang dari barat mengikuti culture kita karena insecurity. Seperti kita, mengikuti culture mereka karena merasa insecure…

Orang-orang luar mungkin memakai batik karena mereka suka dengan pola batik yang bagus, bukan karena mereka merasa lemah atau merasa budayanya lebih lemah dari budaya kita.

Jadi apa yang diajarkan di kelas 5 dulu pas aku sekolah tidak sepenuhnya benar, karena… face it, (duhhhh, sama kaya insecure aku ga punya istilah yang lebih baik…) kalau kita bukan negara yang bekas di kolonisasi, kita ga bakal kaya gini.

Orang Thailand sebenarnya bisa jadi odd one out, tapi… aku sekali lagi ga mau kasih bukti solid mengenai mereka. Tapi pas aku ke Thailand emang banyak sih orang yang ga bisa Bahasa Inggris, mungkin mimikri ga kena ke budaya Thailand sekeras mimikri kena ke budaya kita.

Ambivalensi

Ambivalensi itu mirip banget sebenernya sama Mimikri.

Tapi kalau Mimikri itu kita berusaha copy-paste budaya luar, Ambivalensi itu semacam, menyatukan kedua budaya tersebut, bertemu di tengah… (meeting in the middle) membuat Identity Crisis yang sangat parah… cukup parah untuk membuat Superman galau karena orang-orang tahu identitasnya (okay, aku pernah baca komik Identity Crisis).

Perbedaan yang rada nampak berikutnya antara mimikri dan ambivalensi mungkin bisa diambil dari contoh ini…

Misal, kalau orang mau memimik cara dress up (berpakaian… okay, ini rada susah) orang barat, mungkin mereka akan pakai suit and tie (jas!, bukan suit and tie) ke formal meeting, alih-alih batik…

Tapi kalau hasil dari ambivalensi… kedua budaya akan bertemu di tengah, dan cause fashion error yang parah… Misal, kaya make batik dan juga… okay sebenernya aku ga tahu pasti sih contoh nyatanya gimana, tapi basically mereka membuat style yang.. rada ga jelas karena campurnya dua budaya yang beda jauh.

In Conclusion… (Drats!)
Kesimpulan…

Aku mau jujur aja… aku bener-bener berusaha keras buat ga pake backspace kalau udah tanggung ngetik kata yang di Bahasa Inggris. Dan sejujurnya, dengan skill bahasa inggrisku yang… (thankfully) cukup baik, itu bener-bener susah buat menahan diri ga pake kata bahasa inggris.

Aku sejujurnya rada kecewa pada diriku sendiri, dan juga kecewa pada orang yang merasa bahasa Inggris itu keren, meski sebenernya, aku memakai bahasa inggris itu buat terdengar santai, kadang aku juga kesusahan menemukan term… tuh kan… istilah di bahasa indonesia yang bisa lebih sesuai. Dan sebenernya memang aku suka merasa beberapa istilah di bahasa inggris lebih keren…

Padahal kan bahasa kita juga sama kerennya. Mungkin kalau mau kedengeran santai tanpa make istilah gen Z rada susah… (contoh: Gaje [bener-bener ga suka sama itu, meski kadang nempel juga, dan ngikut, oh tidak…], woles [okay, ini dibalik… kenapa!?], kuy [lihat woles juga])

Jadi, sebenernya, aku akan menarik kesimpulan bahwa sebenernya, budaya kita juga keren lho… jangan jadiin Mimikri, ambivalensi, dan hal kaya gini sebagai alasan untuk mengabaikan budaya kita.

Mungkin istilah Gen Z yang aku sebut tadi juga… aneh dan terdengar keren…Tapi kenapa untuk mendapatkan sesuatu yang rada gaul/santai/keren perlu nyingkat atau ngebalik bahasa kita yang udah bagus.

Okay kesimpulannya panjang banget… Intinya, jangan sampai budaya kita termakan budaya lain, dan juga jangan sampai kita membiarkan teori (yang aku percaya sebagai fakta, bukan cuma teori) ini jadi kenyataan yang padat.

Semoga bisa dinikmati artikelnya!

(YAAY! GA PAKE ENJOY! BANGGA SENDIRI)