Tag: self help

Menemukan Kebahagiaan.

Menemukan Kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah salah satu konsep paling membingungkan yang pernah diciptakan manusia.

Di satu sisi, kebahagiaan merupakan hal yang baik, sebuah tujuan yang perlu dicapai dalam kehidupan seseorang. Di sisi lain, banyak orang yang mencari tujuan tersebut (yang tidak ada spesifikasi tujuan yang mudah dimengerti) dan karena mereka mencarinya, tujuan tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Kita menciptakan konsep untuk memberikan makna dan kebahagiaan bagi diri kita sendiri, tetapi karena konsep tersebut sangat sulit untuk dicari, orang-orang malah melucuti makna yang mereka seharusnya miliki tadi, dan tidak mungkin lagi untuk mencapainya.

Jadi, daripada bingung sendirian, kita bingung bersama-sama saja.

Apa sih kebahagiaan?

Inspirasi:

  • Stumbling on Happiness: Daniel Gilbert
  • Hope is F*cked: Mark Manson.

Ignoramus Harmonius

Ignoramus adalah kata dalam bahasa Inggris.

Wow. Jujur, aku mengira itu bukan kata yang nyata, dan hanya slang yang sering digunakan, tetapi… wow.

Salah satu hal terbaik dan termudah untuk mendapatkan perasaan bahagia dan nyaman, adalah dengan mengabaikan sekitar. Iya. Ini hal yang terdengar absurd bagi sebagian orang, mungkin mayoritas pembaca akan merasa, kalau aku mengabaikan hal, aku tidak bakalan…

  • Mendapat hasil atau gambaran yang sempurna sesuai dengan Misal, ruangan ini harus rapih, tiap kali makan harus ada porsi ekstra seandainya ada yang mampir ke rumah.
  • Menjadi orang yang lebih Misal, aku harus focus untuk belajar demi ulangan, dan tidak mungkin aku mengabaikan belajar bukan?
  • Bisa bersenang-bersenang. Misal, Mengabaikan undangan dari temanku untuk ke pesta malam

Dan seterusnya.

Tetapi, kalau ditinjau kembali, dari tiga hal tersebut, ada satu hal yang berhubungan akan semuanya. Semuanya perlu dicapai. Dan seandainya, mereka tidak dicapai, ada perasaan tidak puas, perasaan tidak puas itu muncul juga ke perasaan tidaknyaman, dan jika seseorang tidak nyaman ataupun tidak puas, mereka tidak bahagia.

Kalau kita bisa mengabaikan hal-hal dengan mudah, maka akan semakin mudah baginya untuk merasa puas. Kepuasan bukan kebahagiaan, tetapi, jika seseorang sudah merasa puas, tidak akan ada tekanan lebih lanjut untuk memenuhi kepuasan yang dicari.

Langkah termudah untuk mendekati (mendekati, bukan mencapai) kebahagiaan adalah dengan mengabaikan hal-hal di sekitar anda.

But WAIT!

Sayangnya, kita tinggal di dunia manusia modern. Kita tidak bisa sekedar mengabaikan hal-hal untuk merasa puas dengan diri kita. Itu hal yang bodoh, dan sejujurnya, aku tidak yakin itu sehat untuk dilakukan.

Hal yang lucu adalah, walaupun tidak ada indeks kebahagiaan resmi di Korea Utara, warga-warga Korut merasa bahagia dengan keadaan mereka. Ini adalah tanda yang nyata bahwa materi tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan dan jika seseorang mengabaikan kondisi mereka, dan tidak pernah perlu merasa iri dengan orang lain, mereka akan bahagia.

Coba pikirkan apa yang mungkin terjadi jika misalnya… Warga Korut diberitahu oleh pemimpin mereka (harus oleh pemimpin mereka, perkataan orang lain tidak akan mempan) bahwa di dunia luar ada sekumpulan orang yang mendapat makanan lebih banyak dari mereka, dan boleh mendesain rumah mereka sendiri, dan ya, hal-hal bagus dari dunia kapitalis lah… Mereka mungkin merasa iri. Iri tersebut tumbuh menjadi perasaan tidak puas, dan ketidakpuasan itu menjadi sumber hilangnya kebahagiaan.

Kita tidak bisa 100% mengabaikan diri di dunia luar, maksudku, kita memang masihtinggal di dunia yang cukup kapitalis (bukan dalam sudut pandang serakah, tetapi sudut pandang nilai benda) dan seandainya dunia ini beralih ke sosialisme, baru kita bisa beralih sedikit ke gaya mengabaikan ini.

Sampai dunia ini menjadi sosialis (aku tidak mendukungnya, tolong dicatat, tapi namanya juga what-if) kita masih harus punya perhatian dan dorongan untuk melakukan hal. Tekanan memang diperlukan.

Kepuasan

Kita tidak akan pernah puas selama kita masih merasa iri, dan selama kita masih mencari sesuatu. Seperti kusebut di atas, selama kita tidak merasa puas (dan perlu diingat, perasaan puas adalah sebuah konsep juga, yang mendasari konsep lain yang kita kenal sebagai kebahagiaan) kita tidak akan merasa bahagia.

Sebuah riset untuk memperjelas hal. Sejumlah peserta eksperimen diminta memilih berlibur di salah satu antara dua tempat, dengan harga yang sama. Pulau Avg, dan Pulau Xtreme. Pulau Avg ini memiliki makanan yang enak, kamar yang enak, pantai yang enak, serta pelayanan yang ramah. Pulau Xtreme pada sisi lain, memiliki makanan yang tidak enak, kamar yang sangat enak, pantai yang sangat enak, dan pelayanan yang tidak ramah.

Logikanya, jika peserta diminta memilih lalu menolak satu pulau, mereka akan memilih pulau yang berbeda bukan? Mereka akan memilih pulau Xtreme, dan pada pertanyaan berikutnya, mereka akan menolak pulau Avg, atau sebaliknya, tergantung preferensi.

Konyolnya, hampir semua orang memilih pulau Xtreme, lalu menolaknya kembali.

Manusia mencari hal yang bagus ketika memilih, dan mencari hal yang buruk ketika menolak. Kita akan selalu menemukan hal-hal untuk mengurangi kepuasan kita.

Jadi, apa solusinya? Selain mengabaikan hal-hal kecil? Jangan memilih… 😀

Mencari Makna

Oh boy.

Kebahagiaan merupakan hal yang berhubungan dengan makna. Ada yang tidak setuju? Silahkan komentar.

Jadi, apakah ini akan terdengar aneh, kalau misalnya aku mengingatkan pembaca bahwa semakin banyak perasaan sakit atau perasaan merana yang seseorang rasakan, semakin banyak makna yang dibutuhkan untuk mencari alasan yang mulia dan rasional untuk menghilangkan perasaan merana tersebut.

Faktanya, manusia adalah makhluk sosial, dan juga makhluk yang menciptakan konsep fana untuk membuat diri kita senang.

Makna yang tidak tentu itu dicari dan ditemukan, dan dicari, dan ditemukan kembali, selama kita masih membutuhkannya.

Terkadang, makna dicari bukan sebagai hal atau sumber kebahagiaan itu sendiri, tetapi makna dicari untuk membuat hal-hal di sekitar kita tampak rasional, dan sesudah hal tersebut tampak rasional, tidak perlu lagi penjelasan, karena ketika hal sudah tampak rasional, kita merasa puas, dan dari perasaan puas itu, kita mampu mendapat sebagian dari kebahagiaan.

Huh, pusing gak tuh?

Intinya, manusia mencari alasan untuk membuat hal-hal yang mereka lakukan bermakna, dan masuk akal. Mereka… eh, maaf, KITA akan mencari alasan untuk mendapatkan jawaban dan logika yang rasional sebagai sebuah bentuk dari… placebo untuk mendapatkan kenyamanan akan hal buruk yang sedang dirasakan.

Lain kali anda sedang kesulitan melakukan sesuatu, carilah alasan besar untuk mendasari perasaan buruk anda.

Unik? Gak

Bagaimana kalau aku ingatkan anda bahwa anda merasa terlalu unik.

Apakah anda seperti kebanyakan orang? Jawabannya, tidak. Tentunya, orang macam apa yang akan merasa puas kalau mereka seperti kebanyakan orang.

Apakah kemampuan anda pada bidang di mana anda bekerja lebih baik daripada rata-rata? Jawabannya, adalah iya. Anda merasa seperti itu.

Lucunya. Kalau kebanyakan orang merasa bahwa mereka unik, dan mereka merasa lebih baik dari rata-rata. Tidak ada yang namanya rata-rata.

Sedangkan, kalau kita mengambilnya dari sudut pandang statistik, manusia rata-rata ada lebih banyak dari manusia luar biasa. Peluang anda menjadi manusia luar biasa lebih kecil dari peluang anda menjadi manusia rata-rata.

Tetapi, rasionalisasi manusia kembali menjadi faktor. Manusia berbohong pada dirinya sendiri untuk menghindari percakapan canggung dengan subconscious mereka.

Dan untuk kali ini. Kebohongan tersebut aku terima. Kita tidak akan pernah merasa puas kalau kita menyadari bahwa kita tidak unik.

Masalah Konsistensi

Masalah Konsistensi

Where were we?

Empat bulan kosong, mungkin lebih, dari mana kita? Apakah aku ada hutang serial yang perlu dibayarkan? Hmm.

Sepertinya membuat artikel mengenai Aladdin, atau, film apapun itu yang sedang ada di bioskop, bias jadi ide menarik. Tetapi untuk sementara, kita simpan saja dulu idenya.

Aku sudah menghabiskan bulan-bulan ini untuk menyerap ratus ribuan loc dan halaman dari buku-buku (oke, secara teknis memang E-Book, jadi hanya ratus ribuan location Kindle) tetapi buku tetaplah buku.

Ooh aku juga sudah menulis buku, dan kecepatanku menulisnya tidakburuk! Kurasa ia bisa beres sebelum 17 Agustus… Hmm…

Diantara banyak buku yang sudah kubaca, aku menemukan suatu jenis buku yang menggambarkan banyak ironi dan kekeliruan dari cara manusia berpikir.

Mungkin anda pernah mendengar tentang seorang psikologis yang memenangkan Nobel di bidang Ekonomi, namanya tidak lain dari Daniel Kahneman, dan almarhum sobatnya, Amos Tversky. Kahneman menggambarkan miskonsepsi-miskonsepsi dan “Blunder” sederhana yang sering dilewatkan oleh orang-orang.

Banyakalasan orang-orang menjadikorban blunder ini. Mungkin karena mereka terlalu percaya diri, memang tidak tahu, dantidakberpikirsecararasionalsaja, tetapi, adabanyakalasan blunder-blunder initerjadi.

Dan hari ini, aku akan membahas salah satu blunder paling sederhana. Mengenai performa dan konsistensi. Kurasa ini artikel yang tepat, mengingat aku sudah hilang empat bulan lebih.

Fortuna’s Sprint

Seorang Komedian pernah bercanda, resep sukses? Oh, mudah!

Sukses = Bakat + Keberuntungan

Sukses skala besar = Bakat + Banyak sekali keberuntungan.

Pada kenyataannya, kita bisa merubah sedikit dari lelucon itu, dan menambahkan kerja keras dalam resep itu, dan kurasa, formula itu dapat diaplikasikan secara konsisten. Semakin beruntung seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan sukses.

Ya, berdoa saja ke Fortuna, dan berharap hari ini anda sedang beruntung. Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik yang sedikit di atas rata-rata. Namun, untuk mencapai titik sukses yang maksimal, anda perlu keberuntungan.

Kahneman menggambarkan situasi ini ketika ia sedang melatih sebuah pasukan pilot di militer Israel. (Don’t ask me how he got there, just read his book, Thinking: Fast, and Slow.).

Tetapi, untuk memberi bayangan angka yang lebih mudah, serta mempermudah analogi juga, kita bisa anggap Kahneman sedang melatih beberapa atlit sprint, hanya sebagai asisten.

Ia memberi sebuah instruksi sederhana dan menyatakan bahwa ia sudah menyiapkan hadiah bagi atlit yang paling sukses. Pelatih tersebut menyangkal dan menyatakan bahwa pemberian hadiah hanya menurunkan performa. Ia menyarankanuntuk menghukum atlit-atlit yang memiliki performa buruk.

Kahneman menyangkal.

Ia meminta sang pelatih untuk meminta tiap atlit untuk mengambil 5 sprint, dan melakukan hal yang sama keesokan harinya, dan juga esoknya lagi. Ia mengambil angka selama 3 hari, dan 5 sprint per harinya. Angka tersebut tidak disebutkan agar tidak ada tekanan untuk mengulangi hal yang sama.

Dan, ia mendapat hasil menarik. Anggap sajaada 5 atlitlari, danakuakanmemberinyanama-namaberbeda, danhasil yang miripdenganhasil yang Kahnemanjelaskan.

Catatan: Militer Israel tidakmemberikanizinuntukmengeluarkanangkanya, dan sebenarnya ia hanya menjelaskan performa di buku miliknya dengan 3 kata, baik, buruk, atau biasa. Angka disini sepenuhnya fiktif.

Catatan 2: Jika anda lupa, aku merubah angka di artikel ini menjadipelari sprint, untuk mempemudah pembuatan angka.

Di bawah 13.5detik = Baik

13.5-14.9 detik = Rata-rata

Di atas 15 detik = Buruk.

  • Atep
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.2 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 12.1 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.23 detik
  • Iwan
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 11.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 15.7 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.8detik
    • Rata-rata total: 14.1detik
  • Budi
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 13.6 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.8 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.4 detik
    • Rata-rata total: 14.26 detik
  • Kevin
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.8 detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.5 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 12.9detik
    • Rata-rata total: 14.73detik
  • Ali
    • Hari 1: Rata-rata waktu sprint: 16.4detik
    • Hari 2: Rata-rata waktu sprint: 14.0 detik
    • Hari 3: Rata-rata waktu sprint: 14.9detik
    • Rata-rata total: 14.43 detik

Dengan mudah dapat disimpulkan (dari rata-rata total) bahwa Iwan merupakan pelari paling berbakat di antara semuanya, dan Kevin merupakan pelari yang butuh lebih banyak kerja keras untuk bisa sukses.

Perlu dilihat, tetapi, di antara semua sprint ini, Budi yang memiliki konsistensi terbaik. Budi tidak pernah mendapat angka yang begitu buruk, ia hanya mendapat 3 hasil rata-rata. Pada sisi lain, Kevin juga satu-satunya pelari yang tidak menerima penurunan kualitas. Hasilnya selalu membaik, meski pada hari ketiga, ia tetap bukan yang tercepat, dan ia hanya mendapat hasil rata-rata.

Kahneman ingin menyampaikan bahwa, terkadang, kita terlalu cepat mengambil keputusan dan menyatakan bahwa kemampuan tiap pelari di bawah rata-rata, atau di atas rata-rata tanpa data yang cukup. Selain itu, juga ada fakta bahwa, pada akhir hari, semua orang pernah merasa menjadi rata-rata.

Melihat  dari hasil rata-rata tiap pelari, performa rata-rata mereka pada ketiga hari tidak begitu berbeda. (Oke, 0.3 detik mungkin perbedaan besar dalam sprint 100 meter, tapi, anda mengerti maksudku apa)

Kelima pelari tersebut memiliki bakat dan kerja keras yang berbeda tentunya, namun pada akhirnya, tidak ada pelari dengan bakat selevel Usain Bolt dari mereka berlima. Hanya ada yang lebih baik dari rata-rata, dan yang memang biasa-biasa saja.

Dewi pelit

Seberapa baik hasilanda, atau seberapa buruk hasil anda, berapapun angka anda, pasti akan ada perubahan.

Anda mungkin sedang beruntung, jadi anda mendapat hasil baik. Lalu, juga, jangan lupa, jika hasil anda buruk, sepertinya tidak mungkin angka tersebut bisa menurun lebih parah. Bagi orang yang mendapat hasil buruk, satu-satunya jalan adalah keatas.

Seberapa baik anda, seberapa berbakat anda, anda hanyalah manusia rata-rata. Bakat hanya bisa memberikan anda suatu hasil rata-rata yang lebih baik. Sisanya, kita perlu bergantung pada kerja keras, dan sayangnya, dewi yang pelit dan plin-plan… alias Fortuna.

Fortuna mungkin dewi yang disembah oleh para prajurit dan raja Romawi, namun, kata Fortuna sendiri juga dapat digunakan untuk perumpamaan keberuntungan.

Satu hari anda memiliki performa luar biasa. Hari lain? Performa anda biasa-biasa.

Orang yang begitu berbakat hanya muncul sesekali tiap generasi. Kecuali anda Cristiano Ronaldo, Michael Jordan, Taylor Swift, atau Albert Einstein, yang memiliki nilai rata-rata (dari bakat) yang begitu tinggi, serta dengan kerja keras yang cukup… Anda perlu bergantung pada keberuntungan, dan kerja keras.

The Law of Success

Bagian dari artikel ini semacam mendukung kepercayaan untuk tidak percaya pada motivator. Motivator biasanya mendukung fakta bahwa orang-orang istimewa.

Aku mendukung sebaliknya. Orang-orang yang memang istimewa akan sukses begitu mereka bekerja keras.

Untuk sukses, ada 4 unit yang perlu dijadikan faktor. Bakat, Kerja Keras, Keberuntungan, dan yang terakhir, skill.

Kurang lebih, rumusnya seperti ini.

Skill = Kerjakeras + bakat. Sukses = Skill + keberuntungan.

Keberuntungan dapat membuat anda sukses, tapi pada akhir harinya, anda perlu bakat dan kerja keras. Salah satu tidak cukup lagi…

Orang-orang sekarang mencari “The Next Google” dan mereka juga tertarik untuk membuat sebuah startup yang sukses. Sayangnya, ini tidak mungkin kecuali anda memiliki keberuntungan yang sangat banyak, atau bakat yang sangat banyak.

Bakat hanya bisa membawa anda ke suatu titik di mana anda sedikit di atas rata-rata. Anda butuh kerja keras dan terus menerus belajar agar anda memiliki satu set skill yang dapat dimanfaatkan secara konsisten, dan bukan hanya saat beruntung.

Bagaimana cara anda sukses? Anda harus konsisten, dan anda berharap akan keberuntungan. Konsistensi yang cukup dapat memberi anda suatu bentuk kesuksesan kok.

Just don’t pray to be someone THAT special and work hard enough… Anda akan sukses.

Jadi, apa rahasia konsistensi? Kerja keras, dan kerja terus. Hasilnya tidak akan bohong.

Sampai lain waktu!

 

 

Self Help Series: Tujuan

Self Help Series: Tujuan

Introspeksi adalah sebuah masalah unik.

Beberapa orang terlahir, atau terlatih dengan kepercayaan diri yang membuat mereka bisa melakukan hal seperti ini dengan sederhana, dan tanpa merasa gugup sedikit pun. Tetapi, juga ada sangat banyak orang yang tidak bisa melakukan hal sederhana ini.

Bagi mereka yang penasaran, aku memberikan sebuah petunjuk sederhana, dan tidak bersifat ala motivator yang (maaf) naif, secara ekstrim, mungkin aku akan menganggap teknik ini sebagai teknik yang counter-intuitive, dan terkesan ironis jika dilihat dari satu sudut pandang.

Introspeksi, siapkah anda untuk berintrospeksi ria sesudah membaca artikel ini?

Jadi, mari baca artikel ini sebelum anda dimakan oleh nafsu dan melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas.

Kausalitas

Untuk apa seseorang butuh Tujuan?

Dasarnya, dunia ini penuh dengan kausalitas (kausalitas = bahasa snob/nerd/filsuf untuk sebab akibat). Dunia ekonomi dipenuhi dengan sebab akibat, dunia kimia pada dasarnya juga dipenuhi dengan sebab akibat, dan hampir semua ilmu, atau tindakan, sangat berhubungan dengan sebab akibat. Jadi, sebelum kita lanjut, mari bertanya… Apa tujuan dari tujuan?

Tujuan adalah sebab anda melakukan sesuatu. Misalnya, gua mau kerja di kantor yang gajinya tinggi. Oke, dalam tindakan itu (yang berupa sebuah akibat) anda memiliki sebab. Sebab tersebut, ternyata, Karena gua kepengen punya Pajero.

Ya, sejujurnya aku tidak memberikan jempol pada orang di atas, tetapi, jika itu tujuan hidup anda, maka saya akan menghargainya, sebagaimana tiap makhluk hidup perlu dihargai.

Sebelum anda melakukan tindakan, anda harus memiliki sebab akibat terlebih dahulu. Percaya padaku, keputusan buruk tidak akan terjadi jika anda berpikir lebih tenang dan bertanya kepada diri anda sendiri. Jika anda punya sebab, anda bisa lebih mendalami hal yang anda lakukan, karena anda berharap bahwa sebab anda akan tercapai, sehingga, lebih banyak usaha akan ada keluarkan untuk memenuhi sebab tersebut.

Akibat tiap sebab akan berujung sama. Akibatnya adalah kesadaran diri. Ini akan aku bahas lebih lanjut di bawah.

Bagaimana anda mendapat sebab? Bertanya. Semudah itukah?

HA! (awalnya aku ingin mengisi ini dengan meme, tetapi aku tidak menemukan sebab yang cukup substantif)

Sayangnya, rasa takut untuk bertanya sering dialami semua orang. Bagi beberapa orang, mereka takut menyuarakan atau menanyakan pendapat mereka bagi orang lain. Bagi beberapa orang lain, mereka tidak ingin bertanya pada diri mereka sendiri.

Mereka merasa takut untuk mengetahui tujuan mereka sendiri.

Rasa Takut.

Catatan: EHEM. Maaf, aku akan terdengar seperti motivator naif dalam paragraf pembuka bagian dari artikel ini.

Courage is not the absence of fear. But the ability to act in spite of it.

-Mark Twain

Jadi, anda takut? Bagus. Rasakan perasaan itu. Lawan. Masalah anda akan beres. Perasaan takut bukan hal yang bisa dihindari, karena takut sendiri, akan selalu mengejar anda. Pada suatu titik, anda harus mau untuk berdiri dan berusaha melawan perasaan tersebut.

Nah, sekarang masuk ke opini yang semi sarkastis dan kontra intuisi milikku.

Coba tanyakan pada diri anda pertanyaan “Kenapa?” sebelum anda bertindak. Pertanyaan “Kenapa?” adalah pertanyaan yang penting jika anda ingin melakukan hal-hal yang lebih produktif, bermanfaat, dan juga untuk mengurangi efek samping. Terkadang, pertanyaan sederhana ini juga bisa membuahkan solusi yang anda cari-cari. “Kenapa?” hanyalah sebuah sebab, dan jawabannya adalah akibat. Jika kita berbicara dari sudut pandang kausalitas, tanyakan “Kenapa?” pada diri anda sendiri dan siap-siap untuk menertawakan beberapa hal-hal bodoh yang anda lakukan.

Anda akan tertawa karena anda tidak punya alasan yang baik, atau alasan anda sebenarnya konyol. Atau, kasus paling parah. Anda melakukan sesuatu dan meluangkan energi, serta sumber daya, untuk melakukan sesuatu yang tidak memiliki tujuan.

Sebagai contoh…

  • Kenapa saya makan di kafe ini? Harga menunya begitu mahal, makanannya gak enak, pelayanannya buruk… Kenapa sih?
  • Oh iya, saya diajak oleh teman-teman saya! Mungkin saya memilih untuk makan di sini karena saya ingin bertemu teman-teman saya.
  • Tetapi, Kenapa saya mau saja diajak teman-teman saya ke sini? Bukannya ada banyak opsi lain untuk makan.
  • Oh iya, saya mau diajak teman-teman saya ke sini karena mereka menyukai tempat ini.
  • Kenapa mereka menyukai tempat ini? Ini mungkin opsi yang buruk!
  • *terdengar suara cekrik, dan layar HP menunjukkan sebuah sosmed* OH! Karena itu!

Dari sini, kita bisa menemukan faktor. Faktor-faktor, sekali lagi, menyumbang ke sebab dalam dunia yang dipenuhi dalam kausalitas.

Faktor utama dari kasus di atas adalah karena tempat ini enak dilihat dan dapat menjadi sumbangan ke akun sosial media. Bagi beberapa orang, ini tentunya sudah biasa, namun, untuk beberapa orang yang ingin melakukan kontemplasi ala Nietzsche, mereka akan menyadari… seberapa bodohnya mereka.

Jika anda ingin mencari tujuan anda, anda harus menjadi seseorang yang cukup berani untuk menanyakan hal-hal yang anda rasa benar, pada diri anda sendiri.

Selamat menikmati mengobrol dengan batin anda, dan siap-siap merasa konyol.

Nilai-nilai

Kausalitas sendiri memiliki 3 bagian.

  • Sebab: Tujuan anda melakukan sesuatu, atau sebuah kejadian yang mengakibatkan kejadian lain.
  • Tindakan: Bagi beberapa filsuf tindakan adalah sebab, tapi karena akusedang membahas filsafat dan psikologi introspeksi, sebab masih belum nyata sampai adanya tindakan.
  • Akibat: Sekali lagi, akibat juga bisa dilihat sebagai tindakan bagi filsuf post-modern. Namun, karena ini filsafat dan psikologi introspeksi, akibat hanya ada satu jenis yang nyata. Yaitu, lebih mendalami.

Masalahnya, terkadang kita merasa takut (sekali lagi) pada apa yang orang lain akan pikirkan mengenai kita, atau berkata pada kita jika ada sebab, atau tindakan yang tidak cocok dengan pemikiran orang tersebut.

Jika anda merasa seperti itu, coba anda tanyakan lagi pada diri anda sendiri. “Kenapa?” saya peduli dengan pikiran orang lain? Sesudah anda bertanya, coba bandingkan tiap faktor tersebut dengan nilai-nilai yang anda sudah miliki, dan apakah itu sesuai? Apakah anda memiliki nilai yang baik? Mengapa anda memiliki nilai seperti itu?

Coba tanyakan lagi, dan sesuaikan diri anda dengan nilai-nilai yang anda miliki.

Kesimpulan

Obat kontemplasi adalah obat yang mampu bekerja dengan efektif, tapi dengan sedikit kelemahan berupa beberapa efek samping.

Efek samping dari melakukan metode introspeksi ini bisa berupa:

  • Berkontemplasi terlalu banyak dan melupakan bahwa anda punya pekerjaan yang seharusnya anda lakukan, tetapi karena anda terlalu banyak menanyakan mengapa saya melakukan ini… ups 🙁 .
  • Tertawa terbahak-bahak dan merasa bahwa anda sangat bodoh karena melakukan hal-hal tanpa tujuan jelas.
  • Menyadari bahwa anda salah. (ini bisa dilihat sebagai efek baik melainkan efek samping)
  • Menyalahkan orang-orang di sekitar anda karena tidak mengingatkan anda bahwa sebenarnya anda punya banyak kesalahan.
  • Diberikan tatapan “really?” oleh orang-orang di sekitar anda karena mereka mengingatkan tetapi anda tidak ingin mendengar sampai anda mendengar suara batin anda sendiri.
  • Mencoba mengoreksi orang lain dan mengajak mereka untuk berkontemplasi juga, namun dengan cara memaksa.
  • Berdebat selama berjam-jam dengan pasangan berusaha memperebutkan, siapa yang memberikan ide baik untuk berkontemplasi begitu lama dan menemukan semua kesalahan dalam berkomunikasi, dan dalam mengerjakan hal-hal.
  • Dan terakhir. Menyadari bahwa anda berdebat berjam-jam hanya untuk ingat anda berkontemplasi karena artikel ini.

Harap gunakan obat kontemplasi ini dengan bijak dan tidak terlalu sering menggunakannya.

Tambahan

Mohon maaf karena blog ini hampir berdebu, akan segera diperbaiki. 😉

Serial Self Help: Kekurangan.

Serial Self Help: Kekurangan.

Semua tempat dapat ditempuh dengan jalan kaki. Jika anda punya waktunya.

Percaya atau tidak, manusia harus dan akan mengalami saat dimana anda kekurangan sesuatu, baik itu kekurangan teman, kekurangan waktu, kekurangan uang, kekurangan sabun, atau kekurangan energi.

Jika anda tidak memiliki satu saatpun dimana anda memiliki lebih sedikit dari yang anda butuhkan, anda tidak akan berusaha terlalu keras. Kita membutuhkan perasaan kurang, dan kita tidak boleh merasa cukup, atau merasa lebih dari cukup terlalu sering.

Tulisan self help ini akan terkesan kontradiktif dengan beberapa opiniku, namun, yang aku maksudkan dengan “perasaan kurang” disini adalah kekurangan hal-hal yang tidak termasuk dalam materi seperti sumber daya atau uang.

Mari kita masuk.

Jumlah Rata-rata

Apa yang seseorang akan lakukan jika anda perlu mencuci muka anda sehari dua kali, dimana satu botol berukuran 30 ml dapat bertahan selama 2 minggu?

Pada umumnya, jika botol tersebut memang memiliki volume 30 ml, orang-orang akan langsung berpikir bahwa tiap kali kita mencuci muka, kita menggunakan 1.07 ml (30 dibagi dengan 28, dimana 28 berasal dari 14 hari dan 2 kali penggunaan tiap harinya).

Nyatanya, tidak seperti itu.

Manusia pada umumnya menggunakan 20% lebih banyak ketika botol tersebut terisi dengan penuh, atau diatas 70%, menggunakan jumlah rata-rata, ketika isi botol berada dalam kisaran 25-65%, dan menggunakan 30% lebih sedikit ketika isi botol di bawah seperempat.

Perasaan aman memberikan sensasi seolah-olah kita tidak butuh menghemat, toh kita punya lebih banyak. Dan sesudah jumlahnya bersisa sedikit, anda akan mengurangi porsi anda lebih signifikan, demi memenuhi kuota kebutuhan, dan agar jumlah benda yang anda gunakan tidak habis.

Terdengar sederhana? Tentu saja. Ketika kita masih menggunakan angka seperti ini, kita masih bisa menganggap satu dan lain hal terlalu sedikit, dan hal yang lain terlalu banyak, karena biasanya kita merasa tenang saat ingin melakukan hal sepele seperti ini.

Bagaimana kalau kita merasa bahwa kita kekurangan waktu? Tidak seperti sabun muka, ketika anda tidak punya cukup waktu anda tidak bisa menghemat dan berharap tenggat waktu anda dapat bertahan sedikit lebih lama saja…

Terlalu sedikit? Tambahkan? Kurangi?

Waktu.

Tidak seperti uang, sabun, atau sumber daya, cara kita menghemat tidak dapat dengan mengurangi. Kita tidak bisa mengurangi waktu yang ada, atau waktu yang kita pakai. Jadi, bagaimana cara kita mencermati kurangnya waktu?

Oh, gampang.

Mungkin kita tidak bisa meminjam waktu, tidak sama seperti yang di atas sebagai solusi pendek, tapi kita bisa melakukan sesuatu yang lebih efektif, suatu perasaan yang diberikan secara langsung oleh otak kita. Perasaan itu adalah tekanan. Tekanan ini mengubah dan mengatur anda, tergantung pada aktivitas yang anda sedang lakukan.

Seorang mahasiswa yang diberikan tugas pada tenggat waktu akan mengambil jatah waktu main, atau istirahat miliknya untuk mengerjakan tugas tersebut, dan tentunya, waktu yang akan diambil akan lebih banyak semakin sedikit dan cepat tenggat waktu yang diberikan.

Tekanan yang ada untuk mengerjakan tugas ini berdasarkan tenggat waktu akan mempercepat proses pengerjaan kita. Berdasarkan riset, mahasiswa yang diberikan tugas untuk membenarkan kesalahan gramatikal pada sebuah essay akan menemukan lebih banyak kesalahan jika waktu yang diberikan padanya lebih sedikit.

Riset pasnya memberikan data seperti ini.

  • Tenggat waktu: 2 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 37% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 1 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 52% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 3 hari, jumlah kesalahan yang ditemukan, 78% dari total kesalahan

Tekanan memberikan kita performa yang lebih tinggi dari seharusnya, dan tekanan ini adalah alasan anda bisa mengerjakan sebuah tugas yang pada kondisi santai membutuhkan waktu 6 jam, dalam waktu 1 jam. Namun sayangnya, tekanan yang sama dapat mengurangi performa anda juga.

Ketika anda tidak mengerjakan sebuah tugas yang sedang berada dalam tenggat waktu, otak anda akan terus menerus memberikan perintah untuk memulai pengerjaan tugas tersebut, dan sampai anda membereskan tugas tersebut, tidak akan ada hal yang membuat anda merasa nyaman, meskipun itu hal seperti memakan makanan favorit anda. Otak yang normal akan menyuruh anda untuk terus menerus kembali ke tugas tersebut sampai itu beres.

Senjata Makan Tuan

Sayangnya, kondisi ini bisa berujung buruk…

Pada kondisi biasanya, ini hal yang baik. Stimulus ini memberikan anda perintah untuk bekerja dan untuk menjadi lebih produktif. Namun, jika seseorang memiliki banyak pikiran dan banyak hal untuk dikerjakan, ini akan membuat anda masuk dalam proses yang namanya… Juggling. Pikiran anda akan terus menerus memberikan stimulus untuk mengerjakan suatu tugas. Sayangnya, sebelum tugas itu beres, anda sudah akan kembali lagi dan stimulus yang lain memberikan anda peringatan untuk mengatur uang di rumah tangga anda. Sebelum itu, stimulus yang lain memperingati anda untuk mengerjakan poster yang anda sudah akan kerjakan sebagai poster freelance.

Sebelum masalah ini beres, anda melempar masalah itu, dan selama bola tersebut di udara, anda diingatkan akan masalah baru.

Ini alasan manajemen waktu TIDAK sepenting manajemen kesadaran yang memang berada di level subconscious, tapi tanpa adanya peringatan dari kita sendiri untuk tidak melempar bola dan memutar masalah, kita hanya akan memperlambat produktivitas kita sendiri, dan kita tidak akan sempat mengatur waktu untuk melakukan suatu hal yang memang produktif.

Jadi, jika anda merasa tertekan untuk menyelesaikan 6 tugas sekaligus… Jangan pikirkan tugas lain saat mengerjakan satu tugas. Masukkan seluruh kesadaran anda ke satu tugas tersebut.

Terowongan

Tunneling.

Ketika anda tidak punya cukup waktu, tekanan bisa sekali lagi menjadi sebuah senjata makan tuan. Dalam proses bernama tunneling ini, anda akan melupakan hal yang seharusnya anda kerjakan segera, tapi karena adanya tekanan, anda membuat suatu kesalahan buruk, dan hasilnya, seluruh proses yang sudah anda rencanakan jadi hilang begitu saja, murni karena anda hanya bisa melihat satu cahaya, yaitu masalah besarnya, yang berada di ujung terowongan.

Tunneling adalah sebuah proses dimana otak kita berubah gaya berpikirnya dari pemikiran yang berbasis proses ke pemikiran berbasis hasil.

Ketika kita di dalam tekanan, kita tidak akan berpikir banyak mengenai proses, dan kita akan sepenuhnya berpikir ke hasil akhir. Ini dapat berakhir ke kita melakukan pilihan yang buruk, atau tidak membuat tindakan sama sekali ketika kita memang perlu bertindak.

Sebagai contoh…

Tiap tahunnya, ada sekitar 80-100 petugas pemadam kebakaran yang harus “pergi” ketika bertugas di Amerika Serikat. Ironisnya, 60% dari pemadam kebakaran tersebut meninggal bukan karena kecelakaan pada bangunan yang sedang kebakaran, tetapi karena mereka tidak menggunakan sabuk pengaman, alias… seatbelt.

Oke, mungkin ini terkesan bodoh, atau tidak masuk akal, karena mereka dilatih hingga mereka cukup kompeten dan melupakan seatbelt adalah hal yang… seharusnya tidak terjadi.

Tetapi dalam kondisi darurat, seorang pemadam kebakaran tidak bisa (bukan tidak mau, memang tidak bisa) melihat proses lebih dari cahaya di ujung terowongan yang merupakan api yang perlu dipadamkan. Ini mengakibatkan mereka untuk melupakan hal-hal kecil tapi krusial seperti… seatbelt.

Jadi, jika ada pemadam kebakaran yang meninggal karena tidak menggunakan sabuk pengaman pada serial Fox ciptaan Brad Falchuk yang dikenal dengan 9-1-1 -yang memang dipenuhi kecelakaan tidak masuk akal- itu justru kecelakaan masuk akal!

Oke, mengheningkan cipta dulu sebentar…

Nah, dari sini, seharusnya kita bisa simpulkan bahwa dalam tekanan, kita tidak bisa memilih dan membuat keputusan krusial, terutama yang memiliki dampak long term paling sedikit. Pada umumnya, seorang manusia akan membuat keputusan yang relatif baik dan membenarkan solusi yang ada di depan mata, tanpa mengkalkukasi adanya kemungkinan bahwa solusi jangka pendek tersebut bisa berujung sangat buruk.

Oleh karena itu, jangan buat keputusan ketika anda sedang merasa tertekan, kemungkinan besar anda akan membuat keputusan yang buruk.

Kesimpulan

Kita harus merasa kekurangan.

Kurangnya waktu, kurangnya uang, kurangnya teman membuat kita ingin mencari lebih banyak, dan menghargai apa yang kita sudah punya sekarang, memastikan bahwa kita tidak akan menghilangkan terlalu banyak dari apa yang kita sudah punya.

Ini harusnya perasaan seseorang yang merasa kurang. Menghargai apa yang sudah dia punya dan menghematnya.

Reflek orang-orang yang kekurangan biasanya adalah suatu keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi, bukan menghargai dan menghemat yang sudah ada…

Sampai lain waktu, semoga artikel hari ini dapat dinikmati!

Epic Face Palm #1

Epic Face Palm #1

Ini adalah serial kilat, hanya digunakan untuk menyindir beberapa banyak hal yang aku temukan dalam satu bulan kemarin.

Semuanya adalah momen yang sangat cocok untuk diberikan gif ini…

Ya, aku mulai sangat suka dengan meme ini, jadi aku kepikiran untuk bikin serial mengenai ini. Selamat membaca dan ketawa miris!

Nonton Film Yuk!

Bukan aku yang menemukan. Aku kekeuh gak mau main sosial media.

Mari kita bahas setiap komentar secara merinci, dan kita bahas seberapa face palm worthy ini…

Entar petugas kebersihannya tugasnya apa dong? Bingung saya
Terus tugas petugas kebersihannya ngapain?

Nah, Teteh/akang, kira-kira petugas kebersihan tugasnya apa sih? Coba tuh, biasanya megang HP sehari 5-6 jam ada? Coba googling deh tugasnya petugas kebersihan. Buka halaman pertama, kedua ketiga, tiga-tiganya adalah petugas kebersihan puskesmas…

Jadi, sebenernya… apa kira-kira tugas utama petugas kebersihan? Tugas mereka pada dasarnya bersih-bersih (*Captain Obvious kambuh lagi*). Secara teknis, kedua orang ini tidak salah. Memang betul tugas mereka bersih-bersih… Tetapi, apakah sulit untuk mau gotong royong sedikit?

Begini, kira-kira dengan kondisi bioskop penuh (dan iya, ini bioskop besar, seperti misalnya Dolby Audio Studio 1 di Trans Studio Mall) dan semua orang memesan pop corn misalnya… Sekitar 3-4 petugas kebersihan perlu menghabiskan waktu sekitar… 2-4 detik setidaknya per sampah sisa popcorn. Mulai dari mengambil sampah, dan juga memasukkannya dalam trashbag.

Memang betul tidak semua orang memesan pop corn, ada yang sekeluarga cukup satu Pop Corn, dan juga ada yang seorang satu. Beda-beda… Tetapi dengan asumsi bahwa di dalam satu teater XXI besar, dengan jumlah rata-rata 300-350 kursi, berarti dibutuhkan waktu sekitar… misalnya ada 200 porsi popcorn yang dipesan, berarti 200 kali 3 (median 2 dan 4), 600 detik, hanya untuk sampah pop corn, dibutuhkan 10 menit. Jika teater penuh, ada banyak sampah, termasuk yang tidak di cup holder, tetapi juga yang di lantai, mungkin bisa mencapai 20 menit…

Tetapi dalam 20 menit itu… umm… kurasa, jeda antar film dalam satu teater sekitar 30 menit. Kurasa masih sesuai dengan waktu ya?

Eh, lupa! Ada yang namanya secret ending dan iklan kan? Belum harus nyapu… hahaha!

Iklan misalnya 10 menit, jadi jika jadwal masuk dalam teater adalah 18.35, berarti film dimulai 18.45. Berarti, petugas kebersihan hanya punya waktu 20 menit, tepat dengan estimasi untuk bersih-bersih. Memang sih, teater tidak selalu penuh. Jika iya bagaimana dong?

Tetapi aku ingat, saat aku menonton Thor: Ragnarok, jeda masuk ke teater telat sekitar 10 menit dari jadwal. Aku yakin pada saat itu, teater penuh, dan tidak ada orang yang mau membantu petugas kebersihan. Coba bayangkan jika orang-orang yang egois dan tidak mau membantu memungut sampahnya sendiri itu berada dalam posisi orang yang harus tertunda masuk teaternya. Pasti kesal kan?

Coba deh, bayangkan saja, apa salahnya membantu orang lain, demi kenyamanan dirimu sendiri, serta orang lain… Kurasa memungut sampahmu dan mengumpulkannya serta memasukkannya dalam plastik sampah membutuhkan waktu sekitar 10-20 detik. Jika detik itu diakumulasikan ke semua orang dalam bioskop… maka, akan ada banyak working hour yang didapat hanya dari investasi waktu pribadi.

Jangan terlalu egois, coba pikirkan berapa banyak orang yang kamu ambil haknya, serta berapa banyak kebaikan yang kamu lewati dari tidak memutuskan untuk tidak membuang sampah ke tempatnya. Ini daftarnya…

  • Kamu melewatkan kesempatan membantu petugas kebersihan
  • Kamu melewatkan kesempatan membuat sesama penonton merasa lebih nyaman
  • Kamu mengambil hak orang masuk ke bioskop tepat waktu
  • Kamu mengambil hak bioskop memasang iklan (jika orang-orang masuk telat, film langsung diputar sesudah 1 trailer. Setidaknya pas Thor: Ragnarok begitu)
  • Kamu mengambil hak sesama pengunjung punya teater yang rapih, dan bisa keluar dari kursi mereka dengan nyaman.

Sekarang tahu kenapa dengan meluangkan 30 detik saja pahalanya sangat banyak, serta banyak dosa yang dihindari?

Kan sudah Bayar
Kalo bantu petugas bioskop, digaji gak min? Kebangetan kalau sudah bayar tapi disuruh bantu-bantu

Apakah uang menyelesaikan semua masalah?

Seriusan…

Uang adalah hal yang penting, tanpa materi, kecil kemungkinan seseorang untuk bisa hidup, ataupun untuk bisa mendapat entertainment dan merasa senang. Tetapi, apakah uang itu segalanya?

Gini, aku gak mau preach soal agama… Tapi, apakah kita bisa menjadi seseorang yang baik dalam mata tuhanmu (agama apapun yang kau anut) hanya dengan uang? Apakah kamu bisa menjadi teman yang baik dengan uang? (OH, coba-coba jawab ya… Kalau menurutmu hanya dengan banyak traktir temanmu kamu diangggap teman yang baik, maka kurasa kamu telah dimanfaatkan teman-temanmu) Uang bukan segalanya.

Memang betul kita sudah bayar, tetapi seperti aku sudah sebut di atas, ini bukan masalah apa-apa, ini masalah gotong royong, dan membantu orang…

Coba pikir lagi, apa salahnya meluangkan 10-15 kalori (setara dengan 5 menit tidur), dan juga 20-30 detik waktumu untuk beres-beres sampah, demi menghindari mengambil hak orang, dan membuat orang merasa lebih senang…

Gak usah dibantu, nanti bayar gaji buta dan tambah pemalas

3 hal yang salah dengan kalimat ini…

  1. Bayar gaji buta? Umm… Mereka tetap harus sapu-sapu oke, mereka tetap harus buang sampahnya dan membawa trash bag yang sedikit berat. Mereka tetap kerja, dan ini bukan gaji buta.
  2. Tambah pemalas? Kamu yang malas… Buang 30 detik hidupmu buat bantu orang aja gak bisa. Sedangkan jika aku hitung gaya penulisan kalimatnya, setidaknya butuh 45-60 detik untuk membaca post, berpikir akan komentar ini, dan mengetik komentarnya…
  3. Kamu yakin orang-orang malah makin malas dengan dibantu orang lain? YAKIN? Justru gak… Mereka bersyukur ada yang bisa membantu mereka, dan mereka senang… Seriusan, kurasa kamu gak pikirin dulu deh kamu mau ngetik apa pas bilang ini…

Ini baru satu dari 3 hal yang bikin epic facepalm… HA! HA! HA!

Minum Kopi Yuk!

Aku speechless, dan di akun twitter itu sangat-sangat-sangat banyak hal yang membuat epic facepalm disitu. (Juga dishare Babah, silahkan klik namanya di atas)

Kayanya sih Om Indra itu Barista di Starbucks, dan dari tiap hari kerjanya ia menemukan banyak hal yang menyebalkan dan curhat di akun Twitter miliknya. Kurasa ini pantas diberikan hore ke Sosial Media for once…

Kenapa hore? Jaman dulu orang curhat gini paling ke Pacar/Sahabat/Istri/Suami/Diary…

Jadi sepertinya, salah satu budaya negatif kita selain datang terlambat (WAH! Ini mah udah dari kapan tahu!) adalah kita tidak tahu diri ketika sudah mengeluarkan uang.

Aku akan bahas secara sedikit singkat mengenai semua tweet itu, dari atas ke bawah.

  • Waw… Kayanya orang itu adalah model orang yang, kalau gak dia kadang buang sampah sembarangan, dia gak bisa lihat tuh tempat sampah ada dimana, jadi mumpung ada yang nyapu nih, buang ah…
  • Dasar gak modal… Tanggal tua kayanya tuh, atau gak… emang kopet dan gak tahu diri aja. Aku ingat pernah menemukan serangga di makananku sesudah setengah habis, dan aku bilang ke seorang waiter, katanya diganti, dan aku menolak, aku bilang aku hanya laporan saja. Dan ingat, aku menemukan serangga, memang sesuatu yang salah dari SoP… kalau urusan rasa sih, udah kamu minum, berarti gak ada yang salah mestinya!
  • Guy or girl has anger issues… Enough said
  • 3 tweet ini sama saja ya… satu part. Sekali lagi, orangnya cukup gak sopan buat bilang kata tolol ke seorang pegawai. Berikutnya, dia gak tahu peraturan makan, tapi ya, itu sedikit sering di Indonesia… Lagian juga, ngilangnya 30 menit… itu lama juga lho, wajar barista-nya beresin.
  • Atas nama siapa? Mmmrsch… Maaf mas, atas nama siapa? Ngomong tuh yang jelas kek… Kayanya lagi mainan HP tuh… Memang ya, HP itu udah kaya kacamata. Dibawa kemana-mana, dipakai kapanpun.
  • Ini sedih banget deh… Masa coba ada orang yang rela untuk ngebiarin ibunya dikawal orang lain ketika ia sendiri bisa ngawal… Aduh. Ibunya juga baik banget, terlalu baik malah sama anaknya. Hiks… :'(
  • Kembali ke masalah uang… Kan gak muat lagian… Aduhhhh
  • Astaga naga… Kampungan banget tuh orang, gak tahu yang namanya self service, lagian ini kalau memang starbucks bukannya internationally (or heck, globally) seperti itu? Yah, aku mah kasian sih kalau dia nganggap self service itu aneh, jangan-jangan emang betul orangnya kampungan…

Jadi ya, umm, dasar manusia… Tapi, sekarang, mari kita bahas Kulari ke Pantai.

Yuk Lari ke Pantai!

Jadi, ini baru kemarin, dan ini adalah dua hal bagiku. Pertama-tama, ini epitome of irony dari film Kulari ke Pantai sendiri… Epitome berarti contoh yang JLEB! pas banget. Kedua ini berarti bahwa kayanya banyak banget orang nonton film latah doang, dia nonton film demi nonton film, atau mungkin demi sosmed. Umm, itu juga simbol ironi yang dibahas di Kulari ke Pantai… Tetapi, itu untuk besok saja yah…

Jadi, Kulari ke Pantai punya banyak pesan sponsor… Kalau memerhatikan, ada pesan sponsor untuk…

  • Indomilk
  • Gojek
  • Tolak Angin
  • Bank Mandiri
  • DLL

Tetapi, sebenarnya, yang kumaksud bukan pesan sponsor seperti itu, melainkan pesan sponsor yang berarti message penting, bahkan juga salah satu sindiran di film tersebut…

  • Banyak orang melakukan hal demi posting ke sosmed
  • Kita terlalu fokus dengan HP kita masing-masing
  • Foto itu sekarang foto orangnya, bukan foto orang+pemandangan (gak sepenuhnya betul, tapi… betul)
  • Mimikri sudah mengambil alih budaya kita… (kekeuh Postkolonialisme 😛 ) kita lebih sering menggunakan bahasa Inggris sekarang. Aduh!
  • Dan masih banyak lagi family values dan saran parenting di film tersebut. Banyak sekali contoh yang jangan dicontoh, tetapi juga banyak hal yang patut dicontoh…

Nah, jadi begini. Film dimulai dengan sekitar beberapa orang (ini dalam teater ya, bukan film) buru-buru membalas WhatsApp, kasih komen, atau… entahlah, aku tidak cukup cepat untuk menangkap 30 screen sekaligus. Sesudah 30 detik pertama sejak lampu mati, baru screen HP mati satu per satu.

Kukira orang-orang disini punya something important to do, dan mau bereskan urusan di HP, ya sudahlah, itu kuterima…

Eh, gak dong! GAK DONG!

Sekitar 45 menit menuju film, tepat pada adegan dimana salah satu tokoh utama yang fokus dengan gadget diambil gadget-nya oleh Tante-nya… Ada ibu-ibu mainan HP. Mata yang lain masih terpaku dengan screen, kurasa ini hal yang bagus, mungkin dari 50-an orang yang menonton, ada satu doang yang nonton for the sake of nonton.

Sekali lagi, aku salah.

Seiring dengan film maju, aku sukses menghitung 13 orang berbeda dari rombongan berbeda yang bergiliran (atau kadang bersamaan) memegang handphone, sekedar balas WhatsApp, scrolling IG, atau entahlah… Aku gak peduli. Eh, aku peduli, cuman aku gak peduli untuk tahu apa yang mereka lakukan…

Jadi, sesudah banyak sekali pesan sisipan bahwa orang-orang terlalu fokus dengan HP-nya di abad ke 21 ini, tetap saja ada orang yang kekeuh memegang HP dalam film yang literally berusaha membuat orang untuk melakukan sebaliknya.

Kesimpulan

WOW! 2019 mau ganti presiden? Aku takkan melarang opini politikmu, ataupun menyebut opini politikku sendiri, tetapi tolong… 2018gantiperilaku.

Yuk, share hashtag itu di sosmed, dan untuk sekarang gunakan sosmed untuk hal yang bermanfaat. #2018gantiperilaku tiap kali kamu menemukan sesuatu yang menyebalkan. Mungkin jika feed, timeline, or whatever your social media calls it is filled with that hashtag… Mungkin kamu akan berubah.

Aku tidak bermaksud menghina budaya kita, atau bahkan orang kita. Tetapi sejujurnya, memang banyak hal yang orang-orang kita lakukan yang… kebangetan, dan gak sopan. Aku dan beberapa temanku pernah membahas, mau pemimpin kita sekarismatik Hitler (karismanya doang yang diambil, kekejamannya gak), sepintar Einstein (sekali lagi, hanya kepintarannya, dia sedikit… gila soalnya), dan juga memiliki semangat Soekarno… Jika orang-orang dan rakyatnya tidak mau berubah, maka tidak akan ada pengaruh mau pemimpin kita seperti apa.

Jadi, sebelum 2019 mau ganti presiden, ganti mobil, atau ganti istri, terserah lah… Coba dulu, sebelum 2019, jadilah pribadi yang lebih baik… #2018gantiperilaku

Sebaiknya orang-orang adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sampai lain waktu! Aku masih hutang review film Kulari ke Pantai, dan juga beberapa hal lain. Semoga tetap mau mendengar opiniku, dan kumohon maaf jika menyinggung orang di artikel ini. Namaste!