Tag: Science

Foresight Fallacy

Foresight Fallacy

Foresight Fallacy… Apa itu?

Sebenarnya, aku yakin, siapapun yang sudah pernah menonton sedikit serial dan/atau film Time Travel, atau AI, pernah mengerti, atau melihat teori unik ini.

Foresight Fallacy sendiri tercipta karena sifat manusia yang ada secara genetik. Tidak masalah apakah manusia itu kompetitif, santai, jahat, baik, atau bahkan megalomaniak… Semua manusia, secara spesies akan berkontribusi ke Foresight Fallacy.

Sebenarnya, Foresight Fallacy adalah hal yang amat sederhana, tetapi, banyak hal yang membuat kesederhanaan ini rusak, seperti tentunya, time travel sendiri yang pada dasarnya membuat orang-orang (terutama yang bukan penggiat science fiction) migraine tujuh galaksi.

Dan kupastikan, Foresight Fallacy adalah satu dari sedikit hal yang bisa memberikan warna ke spesies kita secara positif, jika dibandingkan dengan AI. Tentunya jika AI yang diciptakan tidak punya Human Drive, tapi, tentunya, siapa yang ingin AI dengan gaya berpikir seperti manusia?

Apa itu Foresight Fallacy?

Aku yakin semua orang pernah menonton suatu serial atau film dengan sedikit Foresight Fallacy.

Jadi, buatku yang baru belajar mengenai sifat manusia yang tidak bisa diprediksi itu, sebenarnya, buatku, Foresight Fallacy adalah alasan kenapa Season III dari The Flash adalah titik paling sampah serial tersebut.

Begini, akan kuberikan contoh mengenai kejadian dan human nature membingungkan ini… Dari serial tersebut…

Dalam 6 Bulan (waktu di serial) dari episode pertama season 3, Iris West-Allen, istri dari Barry Allen (The Flash) akan dibunuh oleh seorang makhluk yang berasal dari masa depan, dan bisa berlari lebih cepat daripada The Flash.

Manusia adalah makhluk yang memiliki drive, dan tentunya, meskipun Barry bukan lagi seorang manusia (he’s a metahuman 😉 ) ia tetap memiliki drive yang sama.

Jadi, dengan mengetahui pasti apa yang akan terjadi di masa depan, kita sebagai manusia akan berencana untuk mengubah apa yang kita ketahui secara pasti dan yang pasti tersebut, menjadi tidak pasti…

Skor rating The Flash turun dari 82 di Metacritic (which was good, or at least, decent) menjadi 64. Aku sih tetap nonton, meski aku tahu ujungnya, namanya Superhero, mereka akan menang. Plus pihak TV masih ada kontrak dengan pemeran Iris West-Allen untuk setidaknya 3 season lagi. Jadi, hampir dipastikan bahwa dia akan selamat, dan serial itu sudah mencapai titik… -_-”

Untungnya, season 4 cukup bagus. Meski villain utama dari season 4 terlalu overpowered, dan kemungkinan besar, bahkan pasukan Kryptonian pun masih kalah melawan dia…

EHEM, sorry, off topic.

Masih bingung kah?

Nah, sebenarnya, Foresight Fallacy dalam kasus di atas tampak bagus, dan tidak sesuai dengan istilah fallacy, yang berarti kegagalan. Jadi, sebenarnya, kenapa Foresight adalah hal yang buruk? Bukannya mengetahui masa depan berarti melihat kesuksesan, dan jika kita gagal di masa depan, kita bisa merubah diri agar sukses?

Sebenarnya, Foresight Fallacy bukan kegagalan dari manusia, melainkan kegagalan dari masa depan yang pasti itu, dan ini alasan utama mengapa menurutku, manusia tidak akan pernah digantikan oleh AI.

Sebagai orang yang tidak pro akan AI…

Kalau para nanobiologis berusaha untuk memastikan AI tidak bisa memasukkan tubuhnya ke dalam manusia, dan kalau para ilmuwan komputer memastikan AI tidak akan pernah tercipta, kurasa para psikolog, antropolog, dan filsuf akan berpikir bahwa, meski AI sudah ada, akan sangat sulit untuk melihat AI yang mempunyai drive untuk merubah sesuatu.

Kepastian dari Ketidakpastian

Satu hal yang kita bisa pastikan dari manusia sendiri adalah… karena manusia sangat-sangat… labil. Kita adalah makhluk yang pastinya akan membuat dan melakukan hal baru tiap harinya.

Sebagai spesies, kepastian yang manusia bisa dapatkan hanya dari tiadanya kepastian.

Sifat ketidakpastian manusia sendiri paling tercerminkan oleh pasar saham.

Kita tidak akan pernah tahu secara pasti bagaimana cara untuk memprediksi pasar saham, dan andaikan kita tahu caranya… Foresight Fallacy akan bermain.

Misalnya, sebuah AI yang bisa memprediksi kenaikan saham dengan tingkat akurasi 100% diciptakan dan ada secara gratis… That’s good! Freelancer yang main saham akan senang juga tentunya!

Dalam 24 jam launching, AI sudah digunakan oleh 5 juta orang…

Pada hari dimana AI sudah dipakai 5 juta orang, ada prediksi baru muncul… (Ini benar-benar asal, karena, sebenarnya, siapa yang tahu tentang manusia?)

  • Besok, harga saham dari klab sepakbola Juventus akan turun sebesar 12% dikarenakan pensiunnya Cristiano Ronaldo, dan perginya Paulo Dybala, Gonzalo Higuain, serta Andrea Barzagli. (semoga Google cukup up to date, karena aku bener-bener acak milih pemain dari list yang ada di google 😛 )
  • Besok, harga dari saham semua perusahaan minyak akan naik sebesar 100% dikarenakan, orang-orang makin menyukai minyak, dan entah mengapa, tidak ada enviromentalist yang sedang beraksi untuk menurunkan penggunaan minyak.
  • Dalam 8 jam, harga saham google akan turun 18% dikarenakan mereka lupa membayar pajak, dan akan menerima tuntutan hari ini juga, bisa berakhir bangkrut.

Berdasarkan prediksi ini, apa yang akan dilakukan orang yang bermain saham?

Jual semua saham yang dimiliki, terutama bagi yang memiliki saham dari Juventus, serta saham dari Google.. Segera beli saham minyak, selagi murah.

Dan disini, inilah saat ketidakpastian itu muncul…

  • Saham Juventus turun, dan bukan karena ditinggalkan beberapa pemain, melainkan karena AI bilang begitu.
  • Minyak? Naik! Sebelum esok hari, dia sudah naik, dikarenakan semakin sedikit orang mau menjual, dan banyak sekali yang menginginkannya.
  • Saham Google langsung dijual, dan ya, bisa saja tidak laku, jika betul mereka akan menerima tuntutan pajak dalam 8 jam, siapa yang ingin beli jika harganya mahal?

Jadi, berikutnnya, apa yang akan terjadi dari sini?

Human drive plays its part again.

Saham Juventus turun? Mungkin Ronaldo akan dibujuk untuk diam satu musim, dan Juventus akan beli beberapa pemain lagi, agar harga saham klub miliknya naik…

Minyak? Mungkin para “juragan” minyak puas dan bermalas-malasan, atau berhura-hura sampai uang habis, karena ia makin kaya… Mungkin semua pegawainya diajak liburan 2 minggu. Eh, pegawainya diajak liburan? Siapa yang kerja? Kualitas turun, harga anjlok dong?

Google? Mengetahui ia akan menerima tuntutan pajak, ia akan bersih-bersih dan bayar semua hutang perpajakannya sebelum ada tuntutan, dan harga saham google tetap stabil!

Menarik sekali ya manusia?

Jika ada hal yang pasti diprediksi oleh seseorang sebagai A, maka, yang terjadi malahan, B, dikarenakan kita akan melakukan A sebelum waktu prediksi A akan terjadi.

Kesimpulan.

Manusia adalah makhluk yang unik.

Kita memiliki kesadaran, kita memiliki pikiran, kita memiliki otak, dan paling penting, kita memiliki emosi.

Itulah intisari manusia yang sangat-sangat kompleks tetapi menarik ini.

Amat disayangkan bahwa kita sebagai manusia, sering lupa bahwa kita adalah makhluk yang tidak pasti, dan sangat… unik.

Antisipasi… Itulah alasan manusia tidak akan pernah digusur oleh Artificial intelligence, antisipasi manusia, dan emosi milik kita.

Sayangnya, terlalu banyak orang fokus ke emosi dan melupakan antisipasi, dan kelemahan itu, mungkin dimanfaatkan komputer untuk… ya, menggusur kita.

Sampai lain waktu ya!

Programming: Skill Penting Di Era Digital

Programming: Skill Penting Di Era Digital

Jadi, sering banget aku nyelipin dikit aku ngajar programming. Dan, akhirnya, akan ditulis juga, yeay…

Tulisan hari ini akan showcase beberapa hal kenapa belajar programming itu penting di abad ke 21 ini. Dan mungkin yang udah punya anak dalam kisaran umur 8-13 mau nitip anaknya ke aku di Kota Bandung ini dan belajar Programming? Monggo aja sih…

Well, mungkin bisa tinggalkan comment dan akan aku email kontak-nya ya…

On topic. Artikel hari ini akan membahas kepentingannya belajar programming di abad ke 21, sebuah skill yang memang kepakai, dan semoga tidak akan di take over oleh Artificial Intelligence…

Shoutout ke Procode CG untuk mengajarkanku programming dan mengizinkanku mengajar disana, sampai aku bisa membuka kelas sendiri. Terima kasih 🙂

Anyways, juga akan ada hasil programming dengan Turtle juga selama 6 minggu kemarin.

Life Skill

Definisi Life Skill ini gak boleh solid. Dia sesuatu yang harus fluid dan mengikuti jaman-nya. Mungkin di zaman industri, life skill paling berharga adalah… misalnya menjahit. Meski sekarang skill menjahit masih terpakai, tentunya tidak salah juga belajar life skill yang lebih sesuai dengan zamannya.

Pada zaman informasi dan digital ini, tentunya life skill yang paling penting dan sesuai zaman adalah programming. Di Indonesia sendiri, dari banyaknya fakultas, STEI, atau Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB adalah yang paling diminati. Meski untuk memasukki STEI sendiri skill programming semacam irelevan… Jika nanti memang ingin kuliah di bidang ini, headstart dan iseng-iseng nyoba make bahasa kaya Python dan lain-lain ini akan sangat membantu.

Intermezzo dikit, survival skills juga akan selalu terpakai, dan bisa dibilang, sangat sedikit life skill yang gak akan kepake lagi di masa depannya. Karena ironisnya, ketika zaman industri mempermudah penciptaan sebuah baju atau meja, dasar itu… yang namanya manusia ketika ada suatu hal yang gampang dibuat, 20 tahun kemudian harga baju atau meja handmade naik…

Nah, jadi alasan pertama untuk belajar programming adalah, ini life skill yang sekarang sangat relevan pada zamannya.

Fungsi dan cara kerja

Fungsi… kata yang bisa jadi ambigu karena programming memang punya istilah fungsi. Tapi, fungsi disini maksudku adalah mencari tahu cara kerja suatu hal…

Aku pernah main DOTA, #ngakuaja…

Dan sebenernnya fase aku main dota ini mirip-mirip dengan fase aku mulai belajar programming… Well, sesudah mencapai titik yang rada dalem, aku akhirnya kayak ngeh gitu… Oh, jadi kalau mau ngeprogram si karakter A, caranya gini-gini-gini. Ya… mungkin pakai analogi aja deh… Anak-anak zaman sekarang, atau mungkin Kids Zaman Now itu kekeuh main game, dan emang super suka make sosmed, ya, itu kayanya nasib… Aku sih no, tapi… kalau yang yes mau digimanain lagi…

Nah, kalau anak-anak belajar programming, setidaknya sosmed atau game ini gak bakalan bener-bener in vain, karena well, dengan skill programming mendasar, anak-anak bakalan mencoba connect the dots antara kedua hal ini… Karena dasarnya mereka dibuat oleh kode yang mirip-mirip, meski pada skala berbeda…

Untuk analogi… Misalnya internet, sosmed, dan apapun yang ada di HP itu di analogikan sebagai mobil, nah, si anak-anak ini diajarin cara nyetir mobilnya, dan sering pisan nyetir mobil itu. Kalau anak-anak itu diajarin engineering maka dia bakalan tahu cara si mobil itu jalan, dan bensin itu memutar mesin, yang memutar roda, dan rodanya berputar membuat mobilnya jalan.

Setidaknya dengan logika dasar itu, si anak juga bisa membuat suatu hal yang meaningful dan berguna, meski tidak bisa digunakan di real life layaknya sebuah mobil yang jauh lebih kompleks dari simple engineering, karena harus mikirin enak diliat lah (dalam kasus app dan game: Grafik), speedometer (user interface), fuel consumption (battery consumption), speaker, klakson (audio dan musik) dan lain-lain…

Tapi dengan skill programming mendasar, tentunya meski tidak bisa membuat mobil yang berjalan dan siap jual, membuat mesin sederhana untuk berputarnya saja bisa dong…

Nah itu lah pentingnya untuk tahu fungsi dan cara kerja suatu hal…

Persistensi

Waduh ini mah sebenernya suatu masalah yang juga bisa diatasi dengan banyak cara…

Programming salah satunya kok 😉 tetapi aku juga membahas sedikit tentang menulis dan cara itu membuatmu lebih persisten… Silahkan cek di link ini

Nah, kenapa seorang programmer harus persisten? Intinya, sebuah tantangan di programming gak bisa asal aja di atasi… Karena sebuah programmer yang bener-bener talented itu harusnya bisa memastikan suatu masalah tercover tanpa banyak lubang yang membuat bug, atau ngadatnya sebuah proses (proses programnya, bukan proses di dunia nyata).

Believe me, persistensi adalah hal yang sangat susah untuk didapatkan, tetapi kadang meski “maksa” juga, persistensi dapat didapatkan melalui cara yang unik, hanya saja caranya berbeda, dan tergantung orangnya. Ada yang harus persisten melawan challenge, ada yang gak persisten ngelawan challenge, tapi persisten dalam berkreasi…

Dalam konteks programming, seseorang harus persisten tidak hanya dalam menciptakan, tapi dalam membenarkan dan memperlembut jalannya program. WADUH itu mah… kalau ngebenerin kode, kita harus mau niat ngebaca dan ngebenerin, karena satu titik dua kelewatan dalam program 10000 line, maka ya… err… silahkan dicari 🙂

Selain itu, menciptakan program bukan hal yang susah-susah amat. Jauh lebih susah untuk memperlembut si program ini, biar dia yang tadinya kasar dan gak nyaman buat user jadi sesuatu yang lebih nyaman, gak banyak bug, dan juga lebih enak untuk dipakai…

Intinya, persistensi itu suatu hal yang dapat ditemukan melalui programming…

Creative Thinking

Berpikir kreatif… Ini suatu hal yang masih sangat relevan dengan persistensi…

Andaikan seseorang persisten, tapi dia gak mau berpikir kreatif, dia gak bakalan bisa nyelesain tantangan itu… So far sih, biasanya persistensi dan creative thinking ini relationship dua arah… Kalau orang berpikir kreatif, tapi gak persisten gak bakalan bisa selesai, kalau orang persisten, tapi gak terlalu kreatif mikirnya… ya… gitu deh.

Khusus untuk persistensi dan creative thinking ini, sebenernya dia semacam manfaat, tetapi menjadi alasan juga… Dengan sering-sering programming, seseorang akan mau berusaha untuk berpikir kreatif, dan jika dia gak bisa berpikir kreatif, dia akan stuck di sebuah challenge.

Ini semacam benefit karena, ini suatu hal yang seseorang bisa dapetin dari sering-sering programming. Dia akan mau mencari jalan lain, kalau jalan ini gak jalan, dan dia mau coba metode A sambil menimbang bahwa si A lebih efisien dari metode B.

Dan tentunya, creative thinking ini bukan hanya manfaat yang “stuck” di Programming doang. Dia akan pada akhirnya pindah dalam problem solving di dunia nyata… Course, ini penting dong…

Nah off topic dulu, sebenernya programming ini bisa saja diajarkan melalui suatu hal yang membutuhkan creative thinking. Kaya misalnya ngerjain maze, tapi maze ini mesti manual, dan gak boleh pake pensil melainkan lisan. Atau misal ngestack cup pakai perintah lisan… Yah banyak lah metodenya 🙂

Efisiensi

Efisiensi… Efisiensi… Efisiensi…

Ini hal yang seringkali didebat banyak orang… Efisiensi atau efektif? Jadi, efisiensi itu berarti… mendapatkan hasil semaksimal mungkin tapi dengan effort sepantasnya. Effort yang dikeluarin untuk hasil yang didapat sesuai.

Ini perlu di programming. Karena kadang ada program yang hanya melakukan A, tetapi butuh dikerjakan dengan WXYZ. Sedangkan juga ada program yang melakukan BCDEF, dengan pengerjaan V doang. Jadi, programmer yang talented, atau skilled biasanya bisa mengerjakan sebanyak-banyaknya, dengan kode seminim mungkin.

Ada joke di bahasa C++ kalau kita nulis variabel, bisa diketik dengan ;  sesudah variabelnya, dan juga bisa diketik dengan Enter, lalu ; didepan variabel yang baru.

Well, sebenernya ini gak ada bedanya, hasil keluar programmingnya sama-sama aja. Tapi kedua cara cocok dan masing-masing bisa menghemat 3 keystroke jika digunakan dengan benar. Kadang kalau nggak peduli sih… gak ngaruh… Tapi ya… kalau emang mau efisien banget, wah! Cucok ngehemat 3 keystroke dengan mencet ; dan Enter ; .

Kalau gak ngerti joke-nya gapapa, emang ngebingungin. Tapi intinya, programmer C yang super efisien bakalan merhatiin ; dan enter-nya mereka karena itu akan menghemat.

Selain itu, efisiensi disini tidak sebatas teks, tetapi juga untuk berpikir. Programmer yang skilled akan menyuruh komputernya untuk mengerjakan lebih banyak dengan perintah yang minimum… Yah, mungkin bakalan rada bingung, tapi begitulah.

Untuk menyimpulkan chapter ini, efisiensi disini dapat dilatih dan didapatkan dari programmer yang persisten. Semakin efisien sebuah programmer, maka akan lebih mudah juga untuk menyelesaikan kode tanpa harus banyak-banyak memberi perintah. Tentunya, ini mungkin saja bisa tercermin di dunia nyata, tergantung orangnya juga sih, kalau aku gak… dan kalau aku ngakunya iya, siap-siap diomelin Bubi… “Kamu tuh mungkin programming efisien, nyuci baju aja mesti 4 load”. Atau apa lah… 😀

In Conclusion

Btw, ada sedikit gangguan dari wordpress, sehingga hasil pekerjaan bulan kemarin akan di posting di link lain, yang nanti akan ada link-nya disini…

Nah, tapi untuk kesimpulan hari ini… Segala sesuatu pasti ada manfaatnya. Dan terkadang manfaat itu bisa langsung, tidak langsung, ataupun hanya sebuah trait atau personality change saja… Nah, tetapi, jika diberikan sebuah kata manfaat, manfaat itu relatif 😀

Manfaat dari narkoba atau rokok misalnya, apaan coba… Tanya ke addict kedua hal itu, pasti ada manfaatnya. Jadi sebenernya manfaat itu gak selalu positif lho.

Nah, untuk itu sebenernya penting untuk introspeksi diri dan melihat apakah manfaat yang kita rasa kita dapatkan bagus atau gak? Cocok dan worth-it gak? Kalau gak cocok kan sebenernya… rada-rada redundan. Karena sebenernya konyol lho… 🙁 kalau kita melakukan atau membeli suatu yang dirasa ada manfaatnya padahal nyatanya gak ada manfaatnya.

Oleh karena itu, disinilah dimana critical thinking dan creative thinking play a part. Kalau kita mau kreatif, mencari manfaat bukan hal yang susah. Kalau kita kritis, kita bisa tahu manfaat hal yang kita cari itu beneran bermanfaat, dan bukan cuma asal ngomong doang.

Until next time 🙂 semoga artikelnya enjoyable…

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Jadi sekarang beginilah caranya. Yes I really don’t have any other comments. Hanya begitulah… Aku bener-bener bakalan ngebahas poinnya satu-satu. Dengan pengecualian perspektif yang kelima karena perspektif kelima itu… sensitif dan aku tidak ingin offend siapa-siapa. Jadi langsung aja masuk ke artikelnya kali ya…

Oh btw, baca dulu artikel ini, dan artikel ini untuk perspektif materialis. Kedua artikel itu penting (especially yang pertama), dan emang kepake untuk referensi membaca di artikel ini.

Yes ini sebuah kuliah dijadiin sebuah serial artikel, mostly because memang bisa dikupas sedalam ini, dan minggu ini ga ada kuliah di Unpar karena tanggal merah… 🙁

So, sesudah 2 paragraf (3 sama ini), baru kita masuk ke artikelnya.

Definition

Perspektif Vitalis… No, it’s not the name of a soap brand, it’s not.

Pertanyaan yang ditanyakan adalah energi apa yang menggerakkan alam semesta ini?

Perspektif vitalis ini terbilang relatif baru, in the sense that… ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, tetapi tidak dalam konteks Interconnectedness dan Universal Mind. Di zaman dahulu jawaban energi yang menggerakan alam semesta ini ada di dewa-dewa, dan sampai sekarang pun tuhan (di agama apapun) masih cukup mencakup perspektif vitalis ini.

Tetapi, dalam aspek Universal Mind, Vitalis ini lebih masuk ke… energi, bukan pikiran itu sendiri. Alhasil aku tidak bisa memasukkan tuhan, ataupun dewa dalam perspektif Vitalis.

Nevertheless ini dah rada off topic, jadi kembali ke definisi yang ingin aku ambil…

Untuk perspektif vitalis di artikel ini, harap catat (don’t… it’s a metaphor) bahwa sebuah pikiran bukanlah energi (unlike the materialist perspective), dan energi ini lebih ke… suatu hal yang menjalankan pikirannya, bukan pikirannya sendiri… (bingung kan?)

Jadi jika alam semesta ini adalah sebuah mobil, para materialis akan membahas mobil itu sendiri secara detail, sedangkan para vitalis akan lebih fokus pada cara menjalankan si mobil itu, dan bensinnya si mobil.

So, I hope that analogy kinda clears your mind a bit, dan semoga ga terlalu pusing… karena ya… sekarang kita akan maju…

Also, andaikan belum cukup jelas atau masih bingung, ini lebih (heck, jauh lebih) scientific dari para materialis, karena seperti disebut di awal, memang beda era, dan era para vitalis ini sudah mencapai titik dimana… sains sudah develop, dan kita sudah tidak stuck ke bahan-bahan di alam semesta, melainkan sudah ke… apa yang membuat alam semesta berjalan.

Micro Biology

Spoiler Alert: kalau ga kedengeran kaya mikro biologi, atau biologi pada umumnya, sama kok aku juga berpikir begitu.

Yes, what you’re going to be reading is a work from Rupert Sheldrake, and to this day he’s still very relevant with microbiology.

Nah, jadi… Rupert Sheldrake menyebut bahwa energi, like… every single pieces of energy, be it, potential, actual, solid, theoretical, dan istilah lain-lain yang belum disebut, atau ada istilah yang ga bener tapi kesebut… intinya, semua energi tanpa didescribe asalnya, jumlahnya,  atau jenisnya sudah mulai menggerakkan alam semesta ini.

That is a hidden message for, don’t stereotype, really, don’t. It’s pointless, everyone’s got a use in life anyways. (ini bercanda yang serius btw)

Nah energi ini tidak punya bentuk yang solid, dia terlalu… shattered untuk memiliki bentuk. Dia terpecah-pecah, dan, pada dasarnya mirip ruh yang scientific. Dia butuh vessel untuk bisa bekerja. Mirip seperti bensin dalam mobil tadi, si bensin tidak punya real value sampai dia dimasukkan dalam mobil dan menggerakkan si mobil.

Nah, tapi, ada hal yang belum dibahas disini. Untuk si bensin bisa menggerakkan si mobil… mobilnya ga bakalan bisa gerak, kalau si mobil ini hanyalah frame dengan 4 roda. Nope, kita butuh mesin untuk memproses si minyak.

So far aku udah nemuin analogi buat alam semesta kita, which is a car, yang bergerak dan bekerja dengan bantuan energi, which dijadikan analogi bensin… tapi, umm… ada yang kurang, mana si mesin yang memproses si bensin? Di alam semesta kita, ada yang namanya medan, dan di medan ini, baru jenis energi mulai berpengaruh, karena si energi sudah tidak lagi abstrak.

Untuk menggunakan analogi lagi… ada beberapa jenis mobil, misalnya mobil diesel hanya bisa dikasih minum bensin diesel, supercar akan lebih efisien jika diberikan bensin yang… proper, dan di enhance dengan banyaknya chemical, city car cukup diberikan bensin model pertalite, pertamax tanpa harus terlalu peduli dengan jenis bensin-nya. Masih ada mobil yang hanya bisa mengonsumsi solar, dan ya… so on.

Medan ini, atau mesin di alam semesta kita ini, memilah energi yang diterima dan hanya bisa diberi energi yang “cocok” dengan medannya. Pada titik inilah aku bingung pas kuliah… “What on earth does this have to do with Microbiology?”.

Well, jadi to start it off, ada banyak medan, seperti, Medan Kuantum untuk Quantum Energy (branch: Physics), Medan Gravitasi, yang memanage daya tarik antar dua hal (Branch: Physics), medan elektromagnetik, yang memanage magnetism, also saying that opposites attract… 😉 (Branch, sekali lagi, PHYSICS), dan… yang terakhir… Morphic Resonance.

Apa itu Morphic Resonance? HAHAHA… Prepare to encounter confusion. Pada titik ini aku yakin ini sesuatu yang bilang… physics, more physics I guess… Tapi ternyata Morphic Resonance adalah gelombang supernatural (yes, Mr. Sheldrake wrote SUPERNATURAL in his work, aku ga ngarang) yang mengendalikan, atau mengatasi pikiran antar makhluk yang terpisah, dan menghubungkannya. Morphic resonance juga merupakan plane/medan untuk kesamaan pattern dalam tingkah laku hewan-hewan.

Jadi di titik inilah aku sedikit yakin ini ada hubungannya dengan Neurobiology, which does work pretty well with Microbiology, and has some relevance with it. Tapi kalau merhatiin ulang di paragraf atas, reader bakalan ngeh. Ngeh bahwa dari gaya wording dan tulisanku, berdasarkan Morphic Resonance, sebuah pikiran adalah energi. Dan dalam konteks interconnectedness dan Universal Mind, jika sebuah pikiran adalah energi yang harus masuk dalam suatu vessel, in this case, the highest mind, or our mind…

I’ll let you conclude, selamat berpikir! (P.S. Ini berarti perspektif vitalistik mungkin saja benar dengan bilang bahwa yang menggerakkan alam semesta ini memang sebuah energi, tetapi hanya dalam… format berbeda)

Also, no there really wasn’t much on microbiology and how it correlates here.

Quantum Physics

Cung kalau udah nonton Ant-Man! Sure, if you’re a geek you’ve watched that, aku yakin banyak yang nonton juga sih. Cung kalau belajar fisika kuantum beres nonton Ant-Man! No? Nobody? What? That was the most interesting part! (FYI kalau ada tolong bilang di comments section aja…)

Quantum physics adalah fisika yang membahas mekanisme dan hukum fisika dalam dunia subatomic. Dimana hukum fisika tidak lagi apply. Tapi disini, aku belum cukup banyak baca dan belum bisa conclude apakah ada hubungan dari dunia kuantum dan dunia nyata.

 According to quantum physics… Segala hal terjadi dan diciptakan oleh fluktuasi gelombang. Gelombang ini tidak pernah berhenti bergerak, dan dia adalah bagian dari energy field yang semuanya adalah bagian dari hal lain, dan juga merupakan satu kesatuan.

(OKAY hang on, aku tahu pasti pada pusing)

Singkat cerita, energi adalah gelombang, gelombang ini bergerak terus menciptakan dan merubah hal-hal. Gelombang dan dunia ini adalah satu kesatuan dan juga merupakan spare parts, dan komponen dari mesin yang lebih besar. Hopefully ini lebih jelas.

Semua hal disini terbilang kompleks, dan kita akan sering menemukan paradoks, dimana bahkan di tempat hampa tetap ada gelombang, dan suatu hal tidak akan pernah menjadi sebuah jawaban sampai dia kembali ke dunia nyata.

Semua hal, terjadi karena gelombang, gelombang inilah energi. Gelombang ini juga terjadi kalau ada gerakan, baik itu secara fisik (alias tubuh kita bergerak), atau itu sebuah ide baru yang baru kepikiran.

Karena sekarang topiknya gelombang, anggap saja sebuah pikiran adalah pemancar radio yang juga bisa menangkap gelombang lain, sekaligus mengirimkan gelombangnya sendiri. This exchange of ideas is the aspect of interconnectedness according to Quantum Physics.

Harusnya sih ga terlalu memusingkan aspek interconnectedness-nya. Of course yang bikin pusing tuh bukan interconnectedness-nya tapi quantum physics in general. Jadi akan sedikit kujelasin dulu deh.

Dalam fisika kuantum, sebuah vacuum bukan sebenarnya ruang hampa. Vacuum itu hanyalah suatu tempat yang sedang dijelajahi dan “dibentuk” oleh gelombang. Sesudah dibentuk oleh gelombang, hasilnya akan muncul, dan vacuum ini bukanlah sebuah ruang hampa lagi, karena bukan hanya sebuah probabilitas yang masih belum diexplore, melainkan sudah menjadi sesuatu yang solid.

Ini di apply oleh Erwin Schrodinger yang membuat eksperimen Schrodinger’s Cat… Di eksperimen itu, ada sebuah kucing yang diekspos dalam radiasi dan/atau gas beracun (ada beberapa versi), dan dimasukkan sebuah kotak. Dalam kotak itu kita tidak tahu apakah si kucing itu mati atau hidup. Jadi berdasarkan fisika kuantum… kucing itu not dead, neither it is alive. Itu paradoks sih.

Hasil dari Schrodinger’s cat tidak akan pernah terungkap sampai kita membuka kotak itu, karena begitu kita membuka kotak itu… fisika quantum tidak lagi apply dan kita kembali ke realm nyata. Ketika kucing itu masih dalam kotak tetapi, ruang hampa itu sedang ditentukan hasilnya melewati gelombang radio yang tadi dibahas.

Yes ini ga terlalu jelas interconnectedness-nya apa, tapi ini bukan cuma ngebahas interconnectedness, but also apparently physics in general

Kesimpulan dari bagian ini adalah… explore future possibilities! Sesuatu yang hampa hanyalah sesuatu yang belum ditemukan ataupun dicoba. (or, kalau mau yang mode easy-nya… You’ll never know till you try). Let’s not be stuck in a quantum stasis.

In Conclusion

Terkadang ada saat dimana kita sebagai manusia tidak punya energi atau merasa bahwa dirinya sedang tidak punya energi untuk menggerakkan dirinya sendiri. Fase ini disebut gabut… (atau mager, atau singkatan lain yang entah aku ga inget)

Tetapi sebenarnya, energi sudah menggerakkan dan membuat kita berpikir, dan energi ini sudah ada dari sana-nya!

It’s only up to us to grasp it, and hold the world and image that we seek.

AHA! Okay jadi ini half a conclusion, dan sebenernya masih bisa ditingkatkan lagi, tapi masih ada 2 perspektif lain untuk dibahas, jadi bersabar yaaa…

Until next time.

Philosophical Purpose of Humans

Philosophical Purpose of Humans

Pernah kepikiran ga sih, apa tujuannya diciptakan manusia in the first place… Kalau kita mau bicara philosophical purpose, ga semua hal bisa di korelasikan dengan science or religion, karena emang ada di konteks dan halaman berbeda.

Jadi, apa tujuannya diciptakan makhluk yang bernama manusia ini? Kalau kita mau bicara dari scientific perspective, I don’t think we do have a purpose, karena kita cuma ngikutin evolution chain spesies sebelumnya. Kalau mau dilihat dari religious point of view… Please look at your own holy texts. Tidak ingin memberi opini apa-apa.

Tapi kalau kita bicara philosophical purpose yang mau di govern sama sebuah universal mind, pasti ada tujuannya diciptakannya manusia. We do serve a purpose for the universe, but what is exactly our purpose?

Kalau mau tahu tujuannya artikel ini, dan tujuan manusia exist in the first place, monggo lanjut.

Our Actions…

Sebelum kita bisa look back dan melihat tujuan sebuah spesies, hal pertama yang bisa dilakukan adalah lihat apa saja yang kita lakukan dalam waktu yang relatif pendek untuk umur sebuah spesies (Civilization has existed for about 5000 years)

Dalam waktu pendek itu… Sebentar, andaikan yang baca ini bingung sama definisi pendek… 5000 tahun kok pendek sih? Naha, wong kita juga cuma hidup selama 80 tahun.

Yeah, about that, Dinosaurus hidup selama 135 juta tahun, Bakteri sudah hidup… entah berapa miliar tahun. (Kalau ga salah 4.000.000.0000 tahun), dan kalau kata Tulus, “seribu tahun lama-nya”, dalam hitungan spesies, 1000 tahun itu pendek, karena evolusi sendiri butuh jutaan tahun untuk menghasilkan sebuah spesies baru.

Jadi, sebenarnya sebuah spesies dengan umur sependek kita ga perlu treat nature dengan actions sekejam ini…

Lho, kenapa dibilang kejam? Coba deh pikirin, kalau ga ada kita, evolusi tidak akan melambat, atau tertunda. Maybe, just, maybe we’ve destroyed too much of earth, while using too much resources at the same time. Eh, kok pake mungkin sih, kayanya bumi udah berkurang masa pakai-nya deh… It’s a fact, not a theory.

Aku ga mau bahas deeply tentang itu, since, Climate change, degradasi lapisan ozone, dan lain-lain, harusnya udah cukup jadi bukti… since, Climate Change Is Real!

Kita sebagai spesies udah ga nurture habitat kita sendiri, sambil juga ngerusak dan cultivate hewan-hewan buat kita makan, bukan cuma berburu seperti spesies pada umumnya lakukan, kita memanipulasi sebuah spesies agar ada lebih banyak dari spesies itu agar bisa kita makan. Kita juga fast forward growth sebuah tanaman dan ga peduli sama yang namanya pestisida dalam food chain karena uang lebih penting…

Selain itu, actions manusia sebagai spesies sejak zaman dahulu kala tidak sama dengan hal yang spesies pada umumnya lakukan, which is making the food chain rotate, eating, and doing the same things over and over again. Kita terus mendevelop diri sebagai spesies, menciptakan hal baru, mengubah apapun yang kita sudah ketahui sebelumnya.

As we develop ourselves as a species, we exploit things for the sake of our knowledge. Selain itu, ada juga yang namanya perang dengan semua teknologi yang kita punya, merusak alam dan menghilangkan yang namanya keseimbangan… As far as I know, sebuah kingdom yang memang bisa “berantem” itu, atau basically create a form of war itu cuman mammalia. Itu pun yang deket-deket sama Primates. Homo Sapiens kan emang merupakan spesies primata ya…

Selain itu, masih di topic spesies dan/atau universal mind, sebuah spesies yang sebrutal kita dalam konflik itu cuman… simpanse. Salah satu spesies paling pintar di bumi, dan juga spesies primata yang kalau di ajarkan dengan benar, lebih pintar dari manusia pada umumnya. (Not a joke, the common human is sometimes outsmarted by a common chimpanzees in IQ tests).

Nah, si Simpanse ini yang emang lebih pinter dari primata pada umumnya juga seringkali membunuh suku Simpanse lain yang menginvade territory nya tanpa izin. Mirip kaya kita sih, kita kan sering berantem, sama aja kaya Simpanse. Mereka pintar, tapi aggressive dan sangat violent.

Now on the topic of a universal mind…

Jadi, intinya… we do ruin a lot of things on earth… Nah, dalam perspektif sebuah universal mind, apa sih yang ada di cosmic mind yang membelakangi segala pemikiran di dunia ini untuk bisa menciptakan sesuatu kaya kita?

Cik atuh dibahas yaaa..

Universal Mind’s Decision

Kalau ada single mind yang govern the world, dan menciptakan spesies by spesies, sambil interconnecting the world’s minds… Pasti si Universal mind ini akan punya tujuan untuk menciptakan sesuatu. Whatever that purpose may be, it’s safe to say, we should believe that there is a purpose in everything. Ini kan filsafat lagian, ga ada yang ga punya tujuan…

Tapi, seeing at how humans have transcended over the past few thousand years… Menggunakan dan memanfaatkan banyak hal di dunia ini… Aku sih bisa ngebayangin tujuan si Universal Mind ini apa dalam menciptakan sebuah makhluk dengan sebersit kemampuan Universal Mind ini berpikir itu apa…

Aku yakin tujuan awalnya Universal Mind ini dalam menciptakan sebuah spesies, that is known as humans is to… transcend knowledge, dan share a part of his mind to the world. Namun, at the time, this Universal Mind hadn’t considered that his plan might just actually backfire… (Senjata makan tuan atuh nya…)

Universal Mind ini ga kepikiran kalau kita ngasih sesuatu dengan power, kemampuan untuk berpikir apa yang akan terjadi. Mereka juga ga consider bahwa spesies ini akan menjadi sangat dominan untuk bisa take control of the world and forget what’s important to this world as well.

Selain itu, the universal Mind juga pasti ga consider bahwa splitting itself up onto a little species’ would create personality, and ego. 2 hal itu akan affect logical thinking yang dimiliki oleh si Universal Mind in the first place.

Jadi, sebenernya, issue terbesar sebuah makhluk dengan kemampuan berpikir sebagai kita adalah dua hal tadi, ego dan personality, yang sebuah single governing mind ga mungkin punya.

Dark Plot Twist

Kalau kepengen plot twist yang dark ke sebuah cerita tentang Universal Mind ini, kita bisa simply incorporate something known as… a self destruct button.

Mungkin si Universal Mind ini udah bosen banget sama yang namanya kehidupan, jadi mereka decide untuk extinguish life withing this short period. Jadi mereka membagi kekuatan berpikir yang awalnya hanya dimiliki oleh dirinya ke makhluk kecil yang diberi nama Manusia ini.

Maybe the first living organism was an accident. Mereka sudah lama berpikir cara mengakhirinya… Lalu, mereka memutuskan bahwa, it’s not worth fighting for. We must extinguish life.

Jadi mereka menciptakan kita… Makhluk pintar yang value ego-nya dan punya personality yang warna-warni untuk affect judgement-nya.

Sebenarnya, yang mereka ciptakan itu hanya excuse untuk membunuh kehidupan, karena mereka tidak bisa memberikan physical projection untuk destroy the meaning of life, jadi mereka memutuskan untuk menciptakan sesuatu… something to do their dirty work.

Alhasil, kita diciptakan.

Atau mungkin ada teori nomor 3… teori ini bilang bahwa, we’re the villains, not mere accomplices to the plan of this Universal Mind.

Experiment Gone Wrong

Mungkin ada saat si Universal Mind ini mulai bosen sama yang namanya life tanpa thinking… Jadi, mereka menciptakan sebuah makhluk bernama manusia… Untuk digunakan sebagai thought fodder. Sebagai sesuatu yang bisa mikir dan transcend the meaning of life.

Tapi eksperimen ini berjalan salah, karena manusia mungkin punya terlalu banyak ego dan kepinteran untuk Universal Mind ini cope… Jadi, mereka sekarang lagi devise a plan untuk menghabisi kita, dan membalikkan bumi ini ke semula. Meski pasti butuh waktu yang sangat lama…

Mungkin weapon yang Universal Mind ini ingin gunakan untuk menghancurkan kita sebagai spesies adalah Virus, since so far, that is indeed what makes us the weakest, and so far we are very prone to it. Even then, manusia cukup pinter buat devise vaccine dan melawan virus dan bakteri jahat yang ingin digunakan sebagai doomsday weapon..

Ini mungkin teori paling dark diantara 4 teori yang akan aku present di artikel ini, tapi teori ini sama masuk akalnya kok. Mungkin saja si Universal Mind ini ingin membuat hidup lebih bermakna dengan adanya sejarah civilization and stuff…

Tapi mereka gagal dalam membuat manusia yang bisa di control, dan… alhasil, kita terjadi, dan keseimbangan bumi ini jadi entirely rusak… Mereka sekarang sedang memprogram thoughtless killing machines kaya Virus… Purely for the sake of killing us.

Okay, so this is dark, sekarang teori terakhir adalah teori yan paling ringan dan bermakna kok.

Transcending Existence

Basically ini branch dari teori pertama… Dimana Universal Mind ini bener-bener mau membuat dunia ini lebih meaningful, dan ingin govern something that’s smarter than the common organism. Jadi mereka berusaha menciptakan kita, through evolution.

Sampai titik ini kita sudah memberi arti yang lebih bermakna untuk kehidupan. Tapi masih banyak hal yang ga bisa dikendalikan oleh Universal Mind ini…

Oleh karena itu, it’s up to us to fulfill our existence without breaking any rules in the process. Sesudah kita bisa melampaui existence and life in general, baru tujuan kita akan terpenuhi, dan Universal mind ini akan mengganti spesies dominan di dunia ini, sambil mengubah spesies apalagi yang merajai food chain…

Ini rada dark kayanya, tapi makhluk hidup dominan selalu berubah sejak ada kehidupan lho…

  • Awalnya, Bumi didominasi single celled organism, karena Universal Mind ini belum kepikiran mau membuat apa lagi…
  • Berikutnya, single celled organism ini berubah menjadi trillobites and ammonites, sampai pindah ke atas bumi, keluar dari air dan menjadi tanaman.
  • Sesudah tanaman merajai daratan, ikan yang awalnya masih bisa naik ke daratan masuk ke laut dan mendominasi bumi.
  • Terus… abis ikan, masuklah zaman Dinosaurus… Dimana Reptil jadi kings of the food chain.
  • Barulah, sesudah kepunahan dinosaurus, Mamalia, dan kita jadi spesies yang di atas.
  • Kayanya kita bakalan dibunuh sama virus, I believe in this theory
  • Abis Virus membunuh segalanya, Jamur akan jadi spesies paling kuat soalnya mereka menyerap dari hal mati, karena Virus butuh living organism to survive.

Teoriku akan kehidupan bakalan gini sih… Tapi kita belum tahu apakah kita akan cukup pinter untuk outsmart si Virus atau ga…

Footnote

Please duly note that this Universal mind is not a god, it’s the chain of ideas and consciousness that creates stuff in the universe.

These ideas are Humane, and are similar to human thought, although on a universal scale.

In Conclusion

WADUHHHH!!! Panjang dan pusing pasti nihhhh

Conclusion-nya rada pendekkk deh…

Di filsafat, semua hal di dunia ini PASTI punya tujuan, apapun tujuannya itu, mau positif atau gak… layaknya spesies yang di govern oleh Universal Mind ini, pasti kita sebagai manusia juga punya tujuan. Apapun itu, pasti ada tujuannya.. It’s only up to us to find what we can be, and find our purpose.

With all that out of the way, semoga artikelnya bisa dinikmati!

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

At the 29th of August Jaja joined a public lecture about Ionic Liquids in ITB by Professor Günter Grampp, who is a lecturer from Vienna, Austria. I found out about this public lecture when I was looking for lunch at ITB, because as usual, every Tuesday I join a lecture there. Luckily, I stumbled upon the banner above, and well, I decided to join this public lecture. Note that I didn’t even know what an Ionic Liquid is, until I joined this public lecture, but it’s a fun and interesting lecture, and I asked a question in the end.

The contents of this article will be my thoughts about the things I heard in the lecture, and me breaking it down…

What’s an Ionic Liquid?

By definition, an Ionic Liquid is a salt in liquid form. But, hold on… The chemical term of salt isn’t really what most people think a salt is. A salt in chemical terms is a solid crystal that is broken down. The solid crystal can only be stated as a salt if it is made from an acid, and a base that is usually a solid metal. If the acid reacts with the solid metal, and the reaction becomes a crystal, that crystal is called a salt, chemically speaking of course. Our common table salt is made with the reaction of Sodium for the base and Chloride for the acid. Their reaction would make the Sodium less metal-like and more like a crystal that is usually hammered down and ground onto powder.

That’s a bit off-topic, but some fun knowledge about salt can never be wrong am I right?

Anyways, back onto the lecture, the more chemically accurate term for “salts” are Ionic Compounds, which is the solid form of these liquids. Usually, Ionic Liquids are made by melting these Ionic Compounds that are made the usual way salts are made. But hang on a bit… Some people might ask, does that mean if I have some table salt, and mix it up with some water that is an Ionic Liquid? Well, No, it’s not… That is a mixture, which unlike a compound, that has mixed onto the molecular level, a mixture is mixed outside of the molecular structures, and isn’t forming any new types of chemical properties.

Uses Of Ionic Liquids

These Ionic Liquids are created mainly to be the conductors in batteries. These Ionic Liquids could enhance the ability of conduction in solid things, and are usually used to soak up batteries so they could conduct more optimally. Ionic Liquids could do this because of their higher electrolyte numbers, which are the properties of conductivity in a liquid. If you remember some commercials of electrolyte water, well… You’re basically drinking salt in liquid form, which in a sense might provide you some energy I guess? Don’t take my word for it 😀

Other uses for these Ionic Liquids are to dissolve harmful ingredients, which does interest me since that way, the waste that factories make can easily be dissolved and forgotten, because apparently, these Ionic Liquids can do that, and much more efficiently than our common solvents (solvents are liquids we use to dissolve waste).

Apparently efficient is in terms of liquid usage. Their cost comparison is still pretty far from one another. I couldn’t remember the difference exactly, but if I recall, the cheapest Ionic Liquid still costs 10-100 times more per liter than our common solvent. So, despite Ionic Liquids have efficiency in terms of liquid usage, and is more effective at dissolving waste, as there is no waste left after dissolved, compared to our current solvents which still makes lots of waste, the cost to invest is still not a priority in the eyes of governments and laboratories.

Professor Grumpp Is Explaining The Uses Of Ionic Liquids

Table Of Ionic Liquids..

I couldn’t understand this so much to be honest.. but, here’s a table of Ionic Liquids when compared to our regular solvents and I’ll try to explain it to you, but if you aren’t in the mood of complex thinking, you can skip this paragraph, as it’s pretty complex.

A Table Of Comparation, Professor Grampp used the exact same one

The factors listed and their meanings…

  • Number of Solvents are the efficiency per particle in dissolving forms of toxic waste
  • Applicability is pretty simple as in the functions of the liquid, and Ionic liquids have multiple uses other than dissolving things
  • Catalytic ability is the ability to function as a catalyst in poison absorption
  • Chirality is the symmetry between it’s particles, and the more symmetrical it is, the better the process of absorption and dissolving of objects
  • Vapor pressure is (like it’s name) the ability to counteract pressure from vapourous sources, this means that Ionic liquids are capable of absorbing gaseous wastes, opposed to the organic solvents
  • Flammability is pretty simple, and Ionic Liquids aren’t flammable and won’t detonate when coming to contact with heat
  • Polarity is the differences in area (which leads to separation) on a molecular level. If a molecule isn’t affected by Polarity they are “connected” to one another much more, and would have the same amounts of electromagnetic conductivity in each part of the molecule. (If this is confusing, don’t worry, I googled this first :D)
  • Tuneability is basically the range of liquids available to do this job, and Ionic liquids has a wide variety
  • Cost… well, I’ve mentioned this in the above
  • Recyclability isn’t really a “real” term, but from Professor Grampp’s explanation, it’s basically the “price” we have to pay to recycle the object. Our Organic Solvents will make the ecological side of things worse, while the Ionic Liquids need more investments to recycle
  • Viscosity is the value used to count how well an object would react when “pulled” to a point of stress. The higher the value, the more flexible an object is when they are “stressed”. (yes this is a pun)
  • Density is how dense an object is, the more dense it is, the higher the mass that it has on a smaller area.
  • Refractive Index is how well an object would refract light, this actually points more onto how clear an object is, and how light would react when sent pass the object.

My Question

I asked Professor Grampp this question: “How far do you think we are onto a cost efficient Ionic Liquid?”

Professor Grampp said that the only problem with us reaching cost efficiency with using Ionic Liquids as a solvent is that companies that invest in the making of these liquids are expecting to get their investments paid back. Scientists that make these liquids also expect payment for their work, and whilst it’s not impossible to use Ionic Liquids now it’s just not efficient because some people need to get paid, and unfortunately, the cheaper Ionic Liquids aren’t that different from our current Solvents, therefore, I think if companies finally decide it’s time to invest in the development of cheaper Ionic Liquids, only then we’d reach the point of efficiency.

I’m very satisfied with Professor Grampp’s answer, and I actually like that Professor Grampp used more objective words that isn’t actually blaming companies for their greed, because we do know that money doesn’t come without effort or for free. One day, I wish some company could invest in using some more expensive ingredients to make a more sustainable version of solvents, or anything else really.

Conclusion

Not only am I satisfied with the answers and knowledge provided in Professor Grampp’s lecture and answer, but I also enjoyed listening to his way of presenting the lecture as he did it casually while making jokes. I’m pretty certain that the lecturers I want when I go to college are those that are responsible, but can still lecture casually.

That’d be all from Jaja Azriel today, and thanks for reading!

A Brief Review Of “A Brief History Of The Universe”

A Brief Review Of “A Brief History Of The Universe”

 

This book has been updated several times, and may be different depending on which version you are reading.

A Brief History Of Time is a book written by none other than Stephen Hawking, a very important 21st century physicist. This book discusses simpler things such as time in a more complex perspective, and it also explains complex things like Black Holes in a simpler perspective. This book contains philosophical views and physical views of the universe. Not to mention, Hawking has a great sense of humor while explaining this book. He even shared that he lost a gamble of a 1 year subscription to a magazine because he theorized something incorrectly, but his friend’s theory is correct.

Although there are parts I don’t understand, The parts that I do understand and struck me the most will be explained (plus opinions and personal views) in this review.

Shape Of The Universe

Firstly, let’s get things straight.

The Universe is round, I said the universe, NOT the earth (I’m not saying it’s flat either). Why? The universe expands, it’s not immobile, it moves, and it’s growing by the second you’re reading this. If something expands, chances are it’s in the shape of a balloon, round. Have you ever seen a square balloon? I’m sure it’s a no. That’s cause for something to expand, it needs a flexible shape that can stretch, until it pops, like a balloon.

Wait? The universe can pop? Yes, it can. 20 million years ++ from now, the universe will end. What will happen? End to all known intelligence life? No, that’ll happen 5 million years from now, at least if there are no aliens. How?  The sun has limited fuel, and it’ll stop running one day, like a car without fuel, only if it’s a car, it stops, if it’s a star? It explodes. Let’s hope we can get out of earth by 4 million years from now.

Now We’ve gotten the universal shape of the universe out of the way? What about the earth? Let’s take a step back. Over the past few hundred years, many scientists and philosophers have their views on the earth’s shape.

  1. Ptolemaic Earth, developed by Ptolemy, a Greek Philosopher.
    • He Believes the Earth is round, with the universe revolving around it
  2. Flat Earth, developed from multiple catholic, and christian beliefs.
    • They believe the earth is flat, and the universe revolves around it
  3.  Heliocentric Earth, developed by Galileo Galei, completed by Sir Isaac Newton
    • This form of the universe is the one we adopt today, the earth is round, and it revolves around the sun.

Which one I believe? Heliocentric Earth, of course.

Space? Time? Which Is Which?

Do note that this is still theoretical. There are several views regarding Space and Time, so here are some of them.

  1. Space And Time
    • This form believes Space and Time as a separate entity
    • One can travel through space, but cannot travel through time.
    • We exist in space with this belief.
    • The flow of time does change space, but it cannot change.
  2. Space-Time
    • This form believes Space and Time as an individual united entity, consisting of 6 dimensions
    • Space-Time exists, but we do not exist in it
    • Space-Time is a wall, not a room, you don’t live in a wall, but you have to break the wall in order to get out. Time travel is debatable
    • Time flows and Space expands separately
  3. Time Warps and Space
    • This form believes of time as warps that curves to make it flow. The view on space is similar to the 1st theory
    • By warping or re-warping time, we can travel through it.
    • The flow of time is separate to space.
  4. Multiverse
    • This form believes of a universe being nothing but one of millions
    • Space expands and collides between multiple universes, and some say that Multiverses include past versions of time.
    • Time travel is debatable, so do dimensional travel.
    • Time flows as Space expands.

Right, not all of those forms are included in this book, but I’m mentioning them anyways because they are still relevant. Out of the many forms, Stephen Hawking jokes “So what is Time? Only Time will tell, whatever that is”. So far none seem to be correct or incorrect, we may never know.

Black Holes, stop Racism!

For the record, they aren’t black. . . No seriously, here is why

Black Holes are formed when a star dies and decays. Their insane mass creates a gravitational pull which is the signature of Black Holes. A strong vacuum that sucks things. What was once a star became a Black Hole, but the star-like qualities of them having light and producing energy is still there. A black hole still has energy, therefore it still generates light as well.

So stop Racism by calling Black Holes Black. They’re glowing, has energy and definitely not black!

F.Y.I The bet I mentioned earlier that Stephen Hawking lost is when he said is when he said black holes are black, his friend, said it radiates energy. This proves that even the greatest minds make mistakes.

So, why are they called black holes again? Their gravitational pull prevents light from escaping. This creates an illusion, of its own Gravity pulling it’s own light, making it seem black. Math shows that they must have energy, and everything is not what it seems, especially when seeing things through a telescope, and that thing is a few million light years away.

Writing style

As I’ve said, as a physicist, Stephen Hawking makes a lot of jokes in this book, and writes in a very casual manner. Not only that, after reading some other physicists books, and have listened to a Nobel Prize winner’s presentation/lecture at ITB, I’m certain that most scientists are casual, and has a sense of humor, except maybe when working.

This book might not be understandable by everyone, but it is still rather simplistic for a book in physics. The philosophical views might be slightly confusing, but this book is rather enjoyable, and can be read casually if you do like the book, and can remember stuff in it.

 

 

 

 

 

 

[Azriel’s Late Post] Nano Science Camp For Kids

[Azriel’s Late Post] Nano Science Camp For Kids

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Nano Science For Kids

Experience Sharing By Azriel

Pra Acara:

Kurang lebih 15 hari sebelum Hari pertama Nano Science… Bubi menemukan acara ini untukku, namun sayangnya acara ini sudah full dan aku masuk waiting list. Bubi berusaha request ke CP untuk dapat kelonggaran, karena anak Homeschool sepertiku tidak bisa dapat informasi acara secepat anak-anak yang formal school. Aku juga sebenarnya mulai kehilangan harapan bisa ikut acara ini. Tapi Bubi memberi ide untuk berusaha langsung saja ke ITB dan request accelerate waiting list sendiri.

5 hari sesudah penolakan akselerasi Nano Science-ku, aku mengikuti saran bubi untuk ke ITB (Kebetulan aku ada seminar ke ITB hari itu.) Sesudah seminar itu selesai aku berjalan ke Pusat Penelitian Nano Science, dan masuk ke yang sepertinya, pintu eksklusif untuk dosen (pintu utama terkunci), untuk memberi kartu namaku dan request naik waiting list in person. Aku kurang ingat pembicaraan-nya secara detail. Namun selama itu aku sharing pengalaman homeschoolingku, magang, minatku di sains dan apa yang aku ketahui. Aku juga cerita cukup banyak mengenai pengetahuanku di Nano Sains. 3 kakak yang mendengar ceritaku, bilang ke aku untuk berusaha menaikkan aku di waiting listnya sebisa mungkin. Sesudah hari itu aku belum  mendapat konfirmasi lagi mengenai acara ini, dan aku rasa kemungkinan aku dapat acara ini cukup tipis.

Tanggal 8 Desember, Bubi ditelpon pihak Nano Science, untuk menginformasikan bahwa aku menjadi salah satu dari 28 anak untuk mengikuti acara Nano Science tersebut. Alhamdulilah aku masih bisa dapat spot untuk ikut acara ini. Ternyata kepala biro sendiri yang request langsung agar aku bisa mengikuti acara Nano Science ini.

Day 1, December 12th 2016

 

Berpose untuk membuktikan kehadiran 😛

Pada hari Senin, tanggal 12 desember, hari yang sudah kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Acara Nano Science For Kids and Teachers dimulai pada tanggal itu. Meski pada tanggal desember 12, aku baru check-in ke kamar di Hotel Sawunggaling. Setelah menunggu teman sekamarku cukup lama (ternyata dia belum akan datang hari itu, melainkan dia datang besok), aku memutuskan untuk kenalan saja bersama teman-temanku (yang tidak sekamar).

Aku memutuskan untuk turun kebawah dan minta list kamar-kamar yang diisi peserta Nano Science lain. Sambil turun, aku juga mendengar secara tidak sengaja bahwa akan ada anak gubernur jawa barat, tapi aku belum tahu yang mana, namun dari melihat list dan ada 4 anak yang belum datang, dan salah satu dari itu berasal dari Jakarta hanya tersisa 3 anak untuk aku cari tau. Setelah mendapat informasi kamar-kamar yang diisi aku mengetok 5 kamar dan hanya 3 kamar yang menjawab. 2 kamar yang lain mungkin belum ada orangnya karena aku mencoba mengetok sekali, dan kedua kalinya 15 menit kemudian. 2 dari kamar lain tidak tampak tertarik ngobrol lebih lanjut sesudah berkenalan. 1 kamar yang kuketok terakhir cukup baik dan mereka ingin ngobrol lagi sesudah mereka mandi.

20 menit kemudian, Joshua dan Dhewa, ikut makan malam di kamarku. Mereka berasal dari Salatiga, dan belum pernah ke Bandung sebelumnya. Tapi kedua ortu mereka alumni ITB yang mengantar mereka sambil reuni bersama alumni ITB lain, kurang lebih mereka bercerita seperti itu. Sesudah makan malam, kita bermain kartu Genie Labyrinth sambil mengobrol lebih lanjut. Pada pukul 19.30, Joshua dan Dhewa bilang mereka lapar dan ingin jalan-jalan. Jadi aku memutuskan untuk ajak mereka cari restoran. Tidak sampe 200 meter keluar hotel, Joshua dan Dhewa langsung bertanya harga dari Cafe Chingu mereka terkejut ada Cafe di Bandung yang semurah itu, dan kita akhirnya snack malam disana. Hari pertama sudah selesai dan aku langsung tidur karena aku mengantuk. Aku kembali ke kamar kurang lebih jam 9.30.

Fotoku di Chingu bersama Dhewa dan Joshua

Day 2, December 13th 2016

Pagi-pagi kurang lebih jam 6.00 aku bangun dan mandi, sesudah mandi aku turun dan sarapan. Menurutku sarapan di Sawunggaling cukup enak dank arena sifatnya buffet, sangat mengenyangankan. Aku duduk bersama Dhewa dan Joshua karena aku masih belum sempat berkenalan dengan orang lain. Sesudah makan kami berkumpul dan kelompok pun dibagi. Aku berkenalan dengan 4 dari 5 orang di kelompokku, karena salah satu baru akan aku temui di ITB.

Sesampai ITB kami disambut seminar dari Prof Bambang Sunendar dan bagaimana kemajuan nanoteknologi di kehidupan sehari-hari sampai tingkat penelitian. Sebelum masuk terlalu dalam, Prof Bambang memulai dengan membahas Makro dan Mikro, dimana Makro adalah teknologi dalam skala dan ukuran yang besar, dan Mikro adalah teknologi dalam skala dan ukuran yang kecil. Nanosains jelas masuk ke kategori Mikro. Menurut Prof Bambang, teknologi di dunia ini makin mengecil dan bertambah efisien karena dengan ukuran yang lebih kecil, performa sebuah alat tetap sama, atau bahkan meningkat. Sebelum lanjut, aku ditanya oleh teman sebelahku, kenapa kamu tidak mencatat, nanti klo ga hapal gimana? Dan aku menjawab bahwa, buat apa dihapalin? Kan yang penting ngerti.

Mulai masuk ke bagian yang mendalam kita bahas definisi terlebih dahulu, nanosains adalah nama dari sebuah cabang sains di fisika yang menggunakan fisika kuantum sebagai basis dasarnya. Tapi untuk mencapai sebuah tahap dimana sebuah teknologi ato rumus perlu dihitung dengan nanosains, dibutuhkan ukuran dalam satuan nanometer yaitu 1/1.000.000 dari sebuah milimeter. Dalam skala itu baru nanosains dan fisika kuantum baru bisa digunakan jelas Prof Bambang. Sesudah penjelasan definisi, Prof Bambang bertanya secara retorikal, disini ada yang sudah belajar kuantum fisika belum? Dan aku menjawab aku mengerti dasar dari fisika kuantum. Sesudah menjelaskan dengan kata-kata yang mirip dengan ini: “Kuantum fisika itu fisika yang digunakan dalam skala yang lebih kecil dari satu atom, dan dalam ukuran itu, hukum fisika jadi aneh dan cenderung kacau, jadi kita ga bisa lihat dunia kuantum dengan apa yang kita tahu dan rasakan sekarang”. Prof Bambang melanjutkan dan memberitahu bahwa definisiku benar tapi dengan bahasa yang lebih ilmiah. Sesudah menjelaskan Prof Bambang bertanya padaku aku bersekolah dimana, kok udah ngajarin fisika kuantum? Dan aku jawab, aku belajar sendiri kok pak, aku Homeschooling.

Setelah kita memaham definisi, Prof Bambang lanjut ke fungsi dan aplikasinya.  Nanosains sekarang sudah diterapkan di hampir semua bidang yang diketahui manusia. Contoh untuk  itu, jangankan Handphone atau kendaraan, bahkan makeup dan beberapa jenis lotion sudah menggunakan nanosains untuk menutup pori-pori lebih rapat lagi. Selain itu, juga masih banyak lagi aplikasi di dunia nyata, seperti: Sains Riset, Teknologi Informasi, Teknologi Transportasi, dan masih banyak lagi.

Sesudah itu kami menonton beberapa video mengenai demo Nanotechnology. Video pertama mengenai Hydrophobic coating dan aku merasa itu sangat keren, karena lapisan itu bisa membuat sebuah benda, benar-benar waterproof dan membuat semua benda terjatuh seolah-olah mereka terpeleset dari lapisan yang Hydrophobic itu. Hebatnya, bahkan ketika sudah tercemplung lumpur, minyak dan benda-benda kotor lainnya, tidak ada bekas sedikitpun. Kecuali mungkin ada bau tidak enak sedikit. Beberapa researcher sekarang lagi mendevelop smart clothing (Seperti biasa… Ambil hal sehari-hari, tambahkan kata smart dan dia terdengar sangat keren) dengan teknologi nano sains. Aku jujur saja kurang yakin atas teknologi ini, meski jika terwujud, aku yakin aku akan suka. Smart clothing ini nanti akan sering digunakan di rumah sakit untuk display live dari x-ray dan pulse rate.

Sesudah pergi dari ruang seminar kami berkumpul per kelompok dan pergi ke lab tujuan masing-masing. Lab yang aku tujui adalah lab SEM dan TEM (Scanning Electron Microscopes dan Transmission Electron Microscopes) Sebelum masuk lab, Ibu Damar Rastri yang merupakan lab host kita, “menjemput” kita di ruang seminar dan mengantar kita masuk lift yang butuh ID Card untuk masuk, dan juga sebuah pintu yang terkunci, dan butuh autentikasi (aku kurang ingat spesifiknya apa) untuk membukanya. Aku merasa ini lab classified dan berpikir bahwa ini lab keren. Semoga saya tidak dimarahin karena menulis mengenai lab ini :P.

Kami memulai dengan memotong-motong sampel kami, yaitu bunga, dan kami mengambil mahkota bunganya, putiknya, benang sarinya, dan batangnya. Kami lalu menempelkannya dengan pinset ke sample spot-nya. Semua proses ini dilakukan tanpa kontak langsung, dan bahkan tanpa kontak dengan sarung tangan, operasi ini dilakukan dengan alat-alat.

Sesudah bahan untuk dilihat SEM disiapkan, yaitu lalat yang disiapkan Ibu Damar dan bunga yang kita sendiri siapkan. Bahan tersebut dilapisi emas agar Mikroskop SEM dapat membaca bentuknya. Ini perlu dilakukan karena SEM hanya bisa membaca surface yang sudah konduktif, atau yang reflektif. Contoh material lain yang bisa jadi lapisan adalah karbon, perak, platinum dan besi. Namun yang paling efektif adalah emas.

Sambil menunggu emas dilapisi ke SEM, Ibu Damar menjelaskan cara kerja SEM. Secara singkat, SEM mengalirkan gelombang elektromagnet ke lapisan konduktifnya, dan membuatnya “bersinar”, sesudah gelombang elektromagnetik mengalir, gerakannya akan dibaca oleh SEM dan membentuk gambar di screen PC terpisah. PC tersebut terinstall software spesifik untuk membaca dan mendisplay hasil gambarnya. Sampel yang sudah dilapisi emas akan dimasukkan dan dibaca oleh SEM dan hasil gambar di transfer ke PC. Dalam PC itu kita bisa mengatur zoom in zoom out, mengambil gambar, dan banyak fitur lain.

Sesudah keluar dari laboratorium SEM-TEM, sebelum makan siang aku melanjutkan “investigasiku” karena aku penasaran siapa anak dari Gubernur, sambil menunggu makan siang, aku mencari nama 3 anak yang tersisa dan aku menemukan, bahwa ternyata teman sekelompokku, Abdul Hadi yang ternyata anaknya Gubernur. Aku bertanya ke dia dan dia pun mengaku. Hari itu makan siangnya Gokana, katsu paling enak di indonesia yang aku tahu, dan aku sangat suka. Sambil makan siang, Hadi ngobrol bersama gurunya, yang nanti ngobrol bersamaku beberapa kali.

Sesudah makan siang selesai aku langsung sholat dzuhur. Turun lagi dari sholat dzuhur, aku mengambil 5 sachet hot chocolate untuk dibagi dan diminum sendiri di hotel. Sambil meminum teh, aku bertemu seorang bapak2 yang aku asumsikan sebagai guru. Beliau bertanya metode homeschoolingku, mendapatkan ijazah, apa ada guru, sosialisasi dan beberapa hal lain. Aku menjawab dengan jawaban yang sama dengan jawaban biasaku. Seperti: “Aku belajar otodidak, fokusnya ke minat, aku minat di Programming dan Sains”, ” Ijazah nanti via Paket B, aku mengambil paket B tahun ini”, “Aku belajar otodidak tanpa guru, paling magang dan ngerjain projek”, “Sosialisasi aku enak kok pak, buktinya aku bisa fit-in sama anak lain yang seumuran”

Sesudah break lunch selesai, kami jalan ke Lab Air Kering. Dimana aku bertemu dengan bapak-bapak yang tadi mengobrol bersamaku, ternyata Pak Heri mahasiswa S3 di ITB. Pak Heri menjadi Lab Host untuk materi filter air dan memulai dengan menanyakan cita-cita kita nanti. Sambil cerita ini aku akan memperkenalkan orang-orang di kelompokku. Temanku Hadi yang tadi sudah aku sebut, ingin menjadi pengusaha seperti kakaknya, lanjut ke berikutnya adalah Daffa, yang sama cerewetnya dengan aku dan Hadi, ingin menjadi astronot, berikutnya ada temanku lagi Ibrahim, yang belum tahu ingin jadi apa, tapi dia tahu dia ingin berkuliah di ITB di fisika atau elektro, semua laki-laki di kelompokku asal bandung. 2 anggota lagi di kelompokku kebetulan perempuan, Vla ingin jadi psikologis, dan dia berasal dari Jakarta, anggota yang belum aku sebut, Hesti berasal dari garut dan ingin jadi guru. Kalau aku… Aku ingin jadi ilmuwan, atau programmer.

Kembali ke relevansi, Pak Heri membuka materi filter air dengan persentase air di dunia. Sesuai pengetahuanku sebelumnya, hanya dibawah 1% dari air di dunia yang bisa di konsumsi. Pengetahuan baruku adalah bahwa 1% air tersebut sudah cukup memberi makan manusia setidaknya 100.000 tahun dan jika di distribusikan dengan benar, daerah-daerah seperti Afrika pun bisa memiliki suplai air. Untuk memfilter 1% dari air laut, butuh filter air laut yang efektif, efisien dan stabil.

Filter Air Laut yang akan dijelaskan disini memakai 4 lapis membran, masing-masing membran bisa memfilter kotoran yang berbeda-beda. Ada banyak jenis membran untuk memfilter air, dan perbedaannya bisa dari kerapatan dan juga bahan membran. Bahan membran paling menarik untukku adalah yang dibuat dengan cara mencampur kapur ke air dan menggunakan electromagnetic stirrer untuk mengaduknya. Sesudah diaduk akan dipadatkan dan dibentuk untuk menjadi membran.

Pak Heri pun mengajak kita keluar untuk menganalisa cara kerja filter air tersebut. Caranya cukup simpel menurutku, hanya perlu masukkan air kotor ke pompa dan nyalakan tekanannya. Kalau tekanan cukup maka membran akan menahan benda-benda yang sifatnya kotor dan membiarkan sisanya lewat. Air bersih ini lalu dikumpulkan di satu kontainer.

Filter ini extra efektif untuk membersihkan air laut, namun juga berguna untuk air tawar. Pada hari jumat filter buatan ITB ini di pamerkan di Expo Teknologi di Hotel Horison. Aku masih yakin filter ini, meski sudah menggunakan membran nano, dan membran keramik, masih bisa lebih efektif lagi, karena air laut hampir tidak mungkin di pompa secara manual per liter.

Pak Heri menanyakan opini kita mengenai Filter Air ini, Aku beropini bahwa ini akan sangat berguna dan efektif jika bisa diterapkan di skala besar. Teman-temanku punya opini masing-masing, tapi menurutku opini Hadi yang paling menarik. Hadi beropini ke sisi bisnis dan bantuannya, Hadi berpikir bahwa jika pemerintah bisa funding untuk develop filter air ini dan mendistribusinya, daerah-daerah dengan kasus kekurangan air. Ia juga melihatnya dari sisi bisnis, dan jika Indonesia bisa ekspor ke luar negeri, Indonesia bisa punya potensi ekonomi yang meningkat. ITB-pun akan makin maju menurut dia. Itu opini yang sangat bagus menurutku.

Sesudah kita selesai, kita bersiap-siap pulang. Aku dan Hadi duduk bersebelahan di bis dan Hadi juga ditemani gurunya, Pak Okky. Selama perjalanan pulang, Pak Okky bertanya beberapa pertanyaan yang sama seperti dengan pertanyaan-nya Pak Heri ketika istirahat makan siang. Kujawab dengan jawaban yang similar, aku ditanyakan set pertanyaan itu 5-6 kali oleh semua lab host yang berbeda-beda dan juga oleh beberapa guru, jadi aku sudah mulai membiasakan.

Hasil gambar yang aku ambil dengan mikroskop SEM
Hasil gambar yang aku ambil dengan mikroskop SEM

 

 

 

 

 

 

 

 

Mikroskop TEM yang kita tidak pakai karena butuh persiapan bahan-bahan khusus.
Electromagnetic stirrer sedang mengaduk cairan kapur untuk dijadikan membran

Sesampai di hotel, aku sudah berencana mengobrol dengan Dhewa, Joshua, Hadi, dan teman sekamarku, yang belum sempat datang Ditto. Sayangnya Ditto memutuskan untuk pindah kamar agar dia bisa sekamar dengan temannya. Untungnya, Hadi setelah ku ajak, mau tidur di kamar bersamaku tapi barangnya dia simpan di kamarnya, ia juga kembali ke kamarnya setiap adzan shubuh. Sesudah makan malam, aku dan hadi menonton Charlie and The Chocolate Factory, dan tidur ketika sudah selesai. Kami bangun lagi saat Adzan Shubuh, dan sholat lalu bersiap-siap untuk aktifitas esok hari.

Gambar Kartu Namaku di pintu Lab SEM-TEM dan di Lab Air Kering.
Gambar Kartu Namaku di pintu Lab SEM-TEM dan di Lab Air Kering.

 

 

 

 

 

 

Day 3, December 14th 2016

Shubuh aku bangun dan langsung sholat jamaah bersama Hadi. Sesudah selesai sholat, Hadi langsung ke kamarnya. Sedangkan aku tidur lagi dan baru bangun lagi jam 5.30. Sesudah mandi dan sarapan, kami langsung berangkat ke ITB. Sesampainya ITB aku dan kelompokku langsung ke Lab Advanced Material Processing dan membahas Hidrophobia. Lab host kita kali ini adalah Kak Rani.

Sebelum masuk ke lab dan praktek, Kak Rani menjelaskan bahwa Hidrophobia adalah sebuah sifat benda yang terjadi karena kerapatan molekuler sebuah benda yang bersifat “anti” air. Hidrophobia sendiri adalah kondisi yang bisa di implementasikan dengan cara modifikasi partikel dalam skala nano. Lapisan ini dapat dibuat dengan beberapa bahan kimia khusus yang dipererat tali ikatan molekulernya sampai skala nano.

Kak Rani juga menjelaskan bahwa secara definisi, sebuah benda yang hidrofobik akan cenderung memisahkan diri dari benda hidrofilik, dan menolaknya. Cairan hidrofilik, di sisi lain akan menempel dan bercampur dengan airnya.

Sesudah teori dijelaskan, kami langsung praktek di lab, prakteknya cukup sederhana (ada 2 eksperimen), namun butuh lapisan hidrofobik yang digunakan ke sebuah permukaan. Pada eksperimen pertama, kami membakar sebuah fragmen kaca dan melapisinya dengan cairan hidrofobik coating, dan dengan bantuan sedikit air, kaca itu menjadi bersih berdasarkan seberapa panas titik di kaca yang kita siram. Saat eksperimen ini, aku dan Hadi membakar meja karena kita menumpahkan cairan ignition yang masih menyala ke meja, untungnya kita cukup cepat reaksinya untuk membunuh oksigen di sekitaran api agar apinya padam.

Eksperimen kedua lebih simple lagi, dan tidak menghasilkan ledakan api untungnya. Eksperimen dimulai dengan pelapisan cairan hidrofobik. Permukaan yang sudah dilapisi itu lalu dialiri cairan, jika cairan tersebut adalah cairan hidrofobik, dia akan jatuh seperti sebuah cairan yang menempel ke permukaan pada umumnya, dan ada kemungkinan meninggalkan bekas. Namun, jika cairannya adalah cairan hidrofilik, dia akan tergelincir dan turun seperti orang terpeleset di atas es tanpa meninggalkan bekas. Uniknya, ada benda (seperti tinta) yang bersifat hidrofobik-filik, air di tintanya adalah cairan hidrofilik, dan pewarnanya adalah cairan hidrofobik. Aku dan kelompokku pun mewarnai permukaan tersebut sampai lapisan hidrofobik coatingnya habis. Hasil dari kegiatan “seni” plus sains kita cukup bagus, namun aku lupa foto.

Eksperimen kedua menunjukkan bahwa air, kecap dan air di tinta adalah hidrofilik, sedangkan kecap, minyak, saus, dan pewarna di tinta sebagai hidrofobik. Kurang lebihnya eksperimen singkat kita selesai disitu dan kita melanjutkan ke “sharing” (karena masih sangat banyak waktu) apa yang membuat kita ikut acara nano sains ini, dan pesan kesannya. Aku sendiri sangat senang dengan materi ini, dan aku juga menjawab aku selalu ingin belajar nano sains. Untuk pesan aku tidak memberi terlalu banyak, dan hanya member satu, yaitu percepat sharing-an untuk anak homeschool juga agar adil. Kesanku mengenai acara ini senang bisa kenalan dengan banyak orang dan belajar banyak hal baru.

Karena masih ada 1 jam ke makan siang, kakak pendampingku, kak Khalid mengajak kita keliling ITB, dan kita melewati beberapa taman-taman dalam ITB dan beberapa fakultas. Setelah 30 menit berkeliling kita ke perpustakan untuk 15 menit dan sebenarnya tidak melakukan banyak hal selain melihat2 buku, karena perpustakan harus tutup.

Makan siang pun tiba dan aku mengambil beberapa kemasan hot chocolate lagi. Tapi kali ini, ada Guru yang lihat, dan mengobrol bersamaku mengenai homeschoolingku, ini kurang lebih pembicaraan ke 4 selama acara ini. Namun kali ini keluar beberapa pertanyaan yang berbeda, menanayakan bagaimana aku bisa mengerti fisika kuantum, karena sepertinya beliau ingat hari pertama. Aku menjawab aku googling sendiri, tapi penasaran soalnya aku suka nonton beberapa film sains fiksi, namun aku telusuri lebih lanjut agar ilmunya lebih lengkap. Karena aku juga senang mengobrol bersama Ibu Guru ini, aku mengantar satu cup hot chocolate ke kamarnya di malam hari.

Sesudah selesai break makan siang dan sholat dzuhur. Materi terakhir acara ini, yaitu DSSC  dilaksanakan di Lab Advanced Materials Processing. DSSC adalah Dye Sensitive Solar Cell, yang merupakan sebuah solar cell yang dicelupkan dalam “pewarna” agar bisa menyerap energi surya. DSSC lebih efisien dari solar cell pada umumnya dalam short term range jika diukur berdasarkan waktu. Jika diukur dengan ukuran, DSSC akan selalu lebih efisien dari solar cell pada umumnya karena biasanya ukuran DSSC 75-90% lebih kecil dari solar cell. Namun jika bicara biaya, DSSC hanya efisien untuk penggunaan di pabrik, karena perumahan belum bisa mengkonversi energi yang DSSC hasilkan dalam bulanan, dan biaya untuk “pewarna” untuk menyerap energi yang dihasilkan DSSC ini masih ada banyak energi yang terbuang.

Setelah teori yang cukup singkat, aku dan Hadi mulai membuat “Dye” dari bluberi. Aku jujur saja, tidak ingat seratus persen kenapa menggunakan bluberi, namun seingatku, bluberi digunakan karena mudah dicampur dengan cairan elektrolit untuk menyerap energinya. Kami juga membuat panel mini yang ukurannya hanya 3 cm dan melapisinya dengan “Dye” tersebut. Sesudah itu semua selesai, aku dan kelompokku mulai mencoba-coba DSSC di 3 sumber cahaya berbeda, yaitu, lampu LED, lampu substitute matahari (aku lupa nama ilmiahnya), dan cahaya matahari. Sayangnya DSSC kita ada design error di konduktornya, dan waktu sudah habis. Jadi hasil riset ini tidak bisa dipakai. Pada akhirnya kita hanya menghasilkan 0.09 KwH, dan itu sedikit mengecewakan. Namun untungnya kelompokku menyadari kesalahan itu dan menganggap ini sebagai kesempatan belajar.

Sesudah ini kita mendapat materi bonus untuk visualisasi atom dengan software ekslusif linux di labkom, Avogadro. Menurutku ini software “menggambar” paling mudah yang pernah aku gunakan, karena menggambar bentuk atom jadi sebatas ilmu kimia. Untuk menggambar atom dengan Avogadro cukup input kode di Python, atau C++ jika bisa programming, mengenai bentuk atom dan unsur-unsur yang akan digunakan. Bentuk atom itu akan tergambar sesudah compiling. Jika tidak bisa programming, kita juga bisa menggambar secara manual, meski menurutku lebih susah (tetap lebih mudah dari program menggambar lain).

Hari ke 3 di ITB pun selesai, dan esok hari kita tidak akan kembali ke sini lagi karena adanya outbound. Sepulang dari ITB aku dan Hadi langsung makan malam bersama-sama di kamar. Aku membuatkan Hot Chocolate untuk Ibu Guru yang tadi siang bertemu denganku, dan mengantarkannya. Sambil nonton bola di kamar paling besar yang ada peserta Nano Science-nya, aku mendownload film untuk nanti ditonton bersama Hadi sebelum tidur. Hadi dan aku memutuskan untuk nonton The Sorcerer’s Apprentice. Seiring berjalannya film, Hadi tertidur, dan aku baru tidur ketika filmnya habis. Aku juga sudah menyiapkan baju untuk Outbound esok harinya.

Hari ke 3 selesai disini, dan aku jujur tidak ingin cerita mengenai Outbound karena aku sangat buruk dalam koordinasi timnya, sampai salah satu teman sekelompokku minta aku untuk tenang berkali-kali dan jangan banyak bergoyang. Masalahnya aku tidak panik jadi tidak bisa menenangkan apa pun, untuk mengurangi getaran tubuhku.

Eksperimen Hidrofobik dan Hidrofilik
Eksperimen DSSC

 

 

 

 

 

 

Eksperimen DSSC
Eksperimen DSSC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Day 4, 15th December 2016

Aku jujur saja, sangat sedih acara ini selesai, karena aku masih ingin mengobrol dengan Hadi beberapa kali lagi, belajar nanosains lebih mendalam lagi. Namun untungnya aku sudah meminta nomor whatsapp Hadi untuk nanti kontak-kontakan dan ngobrol lebih lanjut. Ya namun semua hal baik akan berakhir. Sesuai paragraf sebelumnya aku tidak akan cerita mengenai outboundnya, karena itu sedikit mengganggu karena aku kesulitan.

Camp CIC Lokasi Outbound

Di perjalanan pergi yang kebetulan tertunda 1 jam karena bis yang mestinya menjemput kita mogok, tidak banyak yang terjadi, karena Hadi tertidur jadi aku tidak bisa ajak ngobrol sama sekali. Begitu pula perjalanan pulang, mungkin Hadi lelah. Sesudah mandi sore dan packing, aku dan Bubi yang sudah menjemput langsung menonton star wars, tapi cerita Nano Sains ku sudah berakhir disini.

Personal Thoughts And Experiences:

Pengalamannya sangat menyenangkan dan membantu aku melihat dunia nano dalam skala besar dan kecil. Jika dipecah-pecah per pengalaman, setiap workshop atau materi ada kelebihan dan kekurangannya, namun aku paling suka materi Hidrofobik dan Hidrofilik, dimana aku (dan Hadi) membakar meja karena kita sedikit ceroboh. Aku yakin kelompokku meninggalkan mark sendiri di setiap Lab Host, karena kelompokku paling cerewet jika kubandingkan dengan kelompok lain dan paling banyak komentar di hal-hal yang belum tentu perlu di komentarin, untungnya komentarnya seringkali bermutu.

Salah satu faktor tambahan yang membuatku senang mengikuti acara ini adalah bertemu dengan Hadi dan bahkan sekelompok, dan sekamar. Hadi itu menurut aku anak yang pintar dan bisa melihat hal-hal dalam sudut pandang bisnis, yang aku sangat jarang gunakan. Hadi juga enak diajak ngobrol dan gampang diajak bercanda. Meski dia anak gubernur, dia memandang dirinya sama seperti anak yang lain, dan bahkan jika dia bukan, aku akan tetep seringkali ajak dia ngobrol, karena dia menyenangkan dan menarik. Hadi dan aku masih sering chatting dan aku ingin bertemu dia lagi.

Oh iya.. Aku juga memberi semua Lab Host kartu namaku, dan aku juga menitipkan kartu namaku untuk Bapak-nya Hadi. Semoga semua orang yang aku temui bisa ingat aku kalau nanti ketemu lagi. Aku juga minta kontak dari: Hadi, Dhewa, Joshua, dan Daffa.

[Azriel’s Late Post] My Paper On CERN

[Azriel’s Late Post] My Paper On CERN

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

What is CERN? CERN is a council that does nuclear research, it uses French for its acronym what does it stand for? ConseilEuropéen pour la RechercheNucléaire (As I’ve said European council for nuclear research)

Location: Meyrin, Switzerland precisely in the Route de Meyrin.

History: The CERN lab was founded or created, at 29th September 1954, apparently that is when nuclear based tech starts to become famous, and there were 12 countries taking part in this project firstly(Switzerland, France, Belgium, Denmark, Germany, Greece, Italy,  Netherlands,  Norway,  Sweden, United Kingdom, and Yugoslavia), now there are 80.

Cyclotron: this is not from CERN but this might matter at the next part, a cyclotron is a particle accelerator that uses electronic forces and sends them to the particle accelerating it…

CERN’s first Accelerator: CERN was in to particle acceleration since it was created, and it is first ever accelerator was called the synchrocyclotron which focuses in nuclear science, and I think this thing accelerates particles to fuel nuclear energy. The difference of the synchrocyclotron, is, the electric shock used is not constant it increases depending on the particles speed, now this is the first particle accelerator reaching the near speed of light (probably hypersonic.) this accelerator was disabled at 1990

First particle collision: the first particle collision to happen at CERN, is using the proton synchrotron accelerator, uses special proton beams that jetted particles, and due to this collision (I believe it did not reach light speed I do not know for sure) a new world of particle physics is opened, and due to this collision the Large Hadron Collider existed!

Antiparticles: This is a project CERN has been working on actually, it regards antiparticles, and anyway what is this particle? The antiparticles are a coolparticle that has the same mass, but has an opposite particular structure and charges if compared to the original particle, also its positron has an opposite charge, apparently a few antiparticles are created in particle acceleration and collision.

Large Hadron Collider: The most famous particle accelerator ever in the history of CERN it is also the largest particle accelerator or collider in the world, it is created to answer dozens of physics based question, and my 3 favorite questions and projects include: the search of a parallel dimension or universe which actually means we might actually not be the prime universe, if we are not the prime universe what will happen in our alternate lives? Project ALICE is apparently a project that is trying to figure out what did the big bang created, one of the objects that the big bang created is an amazing particle called quark which uniquely is fluid, because if I am correct not much quarks are not solid, the quark that project ALICE is trying to recreate is called a quark-gluon plasma which is actually a liquid state of matter that theoretically would give us a clue about quantum mechanics, this liquid state of matter is hot or warm, and very thick (scientific language is high temperature and high density) lastly is project CMS which hunts for quantum mechanics and the Higgs Bosonor the god particles, which apparently is a particle created with weak electromagnetic fields and the Higgs Boson is theoretical, and hard to prove but, once we know it exists we know it’s everywhere, but if Higgs Boson exists, it is no use for non-scientists (theoretically)

Big Bang Energy: Large Hadron Collider would also try to find this energy of the big bang that started with a single hydrogen particle apparently CERN is trying to recreate this energy, only with 2 light speed Hydrogen particles, although it might cause a black hole, an energy explosion that destroys this planet, it could also open a new dimension, or even create a new universe and a new energy source, but it is still theoretical.

Conclusion: well apparently CERN could reopen possibilities of everything or end this universe, so my question to CERN is are your experiments dangerous or incredible??

Sources: