Tag: Sahabat Museum

Gojek Eks-SMKAA

Gojek Eks-SMKAA

Jadi, kemarin pulang dari MKAA sesudah mengevaluasi dan menyortir serta menerima dan menolak beberapa aplikan SMKAA. Mungkin semua yang dilakukan sudah beres, dan sektiar pukul 18.15 aku memesan Gojek. Hal yang biasa aku lakukan.

Tetapi, ada semacam petir yang menyambar, dan dari sekitar puluhan Gojek dalam radius 500 meter dari Museum, datanglah Gojek yang pada tahun lalu, yaitu 2017/2018, merupakan Admin dari SMKAA.

Long-long-long story, kalau aku perlu menjelaskan SMKAA itu apa, dan apa yang dilakukan di sana. Jika penasaran, bisa cari di google, bisa cari di website ini dan masih banyak tempat lain.

Tetapi, secara keseluruhan, jika kakak yang membaca merupakan admin, koordinator, atau anggota dari SMKAA, dan kebetulan kena broadcast dariku… Kurang lebih, ini cerita yang kudapatkan darinya.

Selamat menikmati!

Rutinitas dan Ketidaksengajaan

Seperti biasa, keluar dari sekretariat, langsunglah aku berjalan keluar, melalui pintu samping. Kaki kanan, kaki kiri, melangkah, berderap maju ke depan. Semakin mendekat aku dengan pintu, semakin ingat aku meninggalkan sesuatu.

Nametag! Tanpa itu, takkan mungkin aku bisa keluar… Sebenarnya mungkin saja sih, semua satpam yang mengizinkan orang keluar ataupun masuk hampir pasti ingat bahwa aku anggota aktif, dan kemungkinan besar, mereka akan ingat aku sebagai orang yang, menaruh nametag dalam dompet, dan ketika terburu-buru, larinya cukup cepat.

Ya, aku sudah ditegur beberapa kali untuk jangan berlari terlalu cepat. (terjadi dua kali pada open house, ketika booth hampir dibuka dan aku meninggalkan suatu barang dalam sekretariat, aku tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan itu)

Jadi, aku berjalan dengan cepat, dan kembali ke sekretariat, mengambil nametag milikku, dan seperti biasa, tiap kali aku meninggalkan kartu akses tersebut, aku diberikan pandangan seperti ini: -_-” atau, seperti ini ^^' .

Keluar, aku menunjukkan nametag, dan diizinkan keluar.

Tidak seperti biasanya, nametag milikku baru kuperbaiki dan kupasang tali yang baru, dan untuk pertama kalinya dalam 8-10 bulan, aku memakai nametag itu, alih-alih memasukkannya dalam dompet. (biasanya jika ini kulakukan, berikutnya aku datang ke Museum, nametag akan tertinggal di rumah 😐 )

Hampir tiap kali aku pulang, aku selalu meminta Mang Gojek untuk menjemput di Gedung Merdeka, meski ia tadinya berada di Kimia Farma, tepat di sebrang pintu keluar samping Museum.

Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, aku yang sedang menggunakan nametag, dan dijemput dengan Gojek, seperti biasa… langsung mendapat sapaan. “Mas, mas anak Globlit ya? Mas Azriel kan?”

Aku hanya mengangguk, dan dari situ, ceritanya mulai.

Sapaan, sampai Percakapan

Kang Sidik Permana.

Namanya sempat menggugah ingatanku sedikit, siapa ya, hmm, aku seperti pernah melihat ataupun membaca namanya pada suatu tempat… Siapa, dan dimana?

Aku sempat yakin bahwa aku pernah membaca nama tersebut, pada suatu tempat, entah dimana, melalui apa.

Ketika mengirimkan pesanan tersebut, aku masih berusaha mengingat-ingat. Aku bahkan sempat menggumamkan nama itu cukup keras, namun sepertinya tidak ada yang mendengarkan.

Jadi, aku berjalan, dan berjalan. Sekitar di tengah jalan, aku berusaha mengingatkan dan mencoba untuk mengingat siapakah dia. Sesampainya di pintu, seperti kuceritakan, aku berlari kembali ke sekretariat dengan perasaan tidak enak. Aku selalu merasa kurang baik jika membuat orang menunggu. Jadi, aku berlari, dan berlari, dan berlari, mengambil nametag, dan keluar lagi.

Aku tidak mengenal semua satpam secara pribadi, tetapi tidak ada yang berkomentar, dan ada beberapa yang menyapaku karena sepertinya sudah pada mengenal diriku.

Sesampainya aku pada Gedung Merdeka, dan sesudah aku naik pada motor, kita mulai mengobrol.

“Kang, Akang anak Globlit ya? (Globlit = Global Literacy)”

“Hah? Akang tahu dari mana?” Aku bertanya sembari mengingat-ingat beberapa anggota yang datang ke sekretariat memakai jaket Gojek atau Grab, seperti Akang Sidik di sini.

“Haha, saya admin waktu zamannya Fri jadi Koor Eksekutif. Tahun lalu”

“Oh, saya baru tahu, pantes aja namanya terkesan familier.”

“Tahu saya dari klab mana gak?”

“Uhhh…” Suaraku cukup segan menjawab, karena sepertinya aku pernah bertemu dengan Kang/Kak Sidik ini, tetapi, aku masih merasa tidak yakin dia siapa…

“Cinemaker bukan Kak?” Waktu itu, aku pernah melihat seseorang masuk ke sekretariat dengan nametag atas nama klab Cinemaker, yang menggunakan jaket Grab… Jadi, aku langsung menjawab, atas reflek tentunya, dan juga berdasarkan ingatan sementara.

“Bukan, ahahaha… Aku dari Maghribi.”

“OH! Berarti kenal Kak Sagia ya?” Kakak Sagia merupakan admin dan juga anggota paling aktif dari klub Maghribi, yang sekarang hampir vakum ini… Hiks.

“Kenal dong, masa gak kenal sih? Kak Sagia kan sudah lama di SMKAA. Ngomong-ngomong, tadi bahas apa?”

“Iya, tadi membahas penerimaan anggota sama juga upacara buat besok 17-an Kak”

“Oh… Berapa klub yang datang?”

Aku semacam menelan jawaban, karena mungkin hanya setengah dari 13 klab yang datang kemarin, dan aku tidak ingin memberi tahu Kak Sidik yang ceria, serta selalu tersenyum dan bercanda ini, bahwa SMKAA sedang sedikit kesulitan SDM dan anggota.

Aku memberikan jawaban yang jujur saja, sejujurnya aku tidak tahu cara memberikan lapisan gula pada coklat yang pahit ini. “Iya kak, hehe, tadi yang datang hanya Globlit, SahabArt, Journativist, Guriang, Edukator, Heiwa, dan juga Maghribi.”

“Waduh, dikit atuh ya? Eh, adminnya sekarang ada berapa sih?”

Dan, aku merasa makin putus asa. Kak Sidik yang dulunya merupakan admin, (berarti mungkin salah satu anggota paling aktif di SMKAA) dan selalu ceria ini, terpaksa mendengar sedikit kabar buruk.

“Sekarang adminnya setahuku, ada 5 Kak…”

“Siapa aja, bentar, inget-inget dulu… Koor Eksekutifnya Aria, terus ada Ulva, siapa lagi ya?”

“Ada Kak Sagia, ada Kak Emir, sama Kak Salsa”

(Koreksi fakta: Ternyata ada 8 admin, hanya saja, ketika rapat, admin ini juga memegang tugas sebagai koordinator, sehingga, aku tidak mengetahui bahwa mereka admin juga, mereka juga bekerja di balik layar)

“Sagia jadi admin lagi?”

Nadanya menyatakan pernyataan, dan aku sepertinya terpaksa menjawab… ugh.

“Iya kak, tidak terlalu banyak yang ingin jadi admin jadi Kak Sagia ditarik jadi admin, untungnya rekrutmennya tampak cukup lebih sukses kebanding tahun lalu. Semoga yang daftar konsisten.” Dalam hati aku merasa lebih senang bahwa jawabanku telah sukses dilapiskan sedikit kabar baik.

“Wah, berapa yang daftar tuh?”

“Aku belum dapat angka pasnya, tetapi kurang lebih dapat 250, lumayan banyak tuh.”

“Semoga yang kemakan seleksi alam gak banyak ya…”

Semoga…

Seleksi Alam

Semua komunitas, dan apapun yang bersifat kerelawanan memiliki satu masalah besar.

Banyak orang kurang berkomitmen dalam melakukan sesuatu.

Jadi, seleksi alam inilah alasan sebuah klub yang mendapat 20 pendaftar, hanya memiliki 4 anggota. Ini juga alasan bahwa sebuah klub yang mendapat 100 pendaftar, kesusahan mendapatkan koordinator.

Orang-orang merasa tidak sesuai dengan suatu hasil klub, dan tidak sesuai dengan bayangan mereka, dan menghilang. Jadi, aku memutuskan untuk bercerita… dan sedikit curhat.

“Kak, pas angkatanku tuh banyak banget yang menghilang, Globlit ada 20 anggota, bisa sisa cuman 4 anggota aktif. Klub-klub juga mulai banyak yang kesusahan Kak, ada Klub yang mendapatkan anggota dibawah 5 malahan.”

“Yah… Kamu teh jadi koor Zriel?”

“Wakil Koor, minimal jadi anggota 2 tahun untuk menjadi koor kalau di Globlit.”

“Okey… Padika sama Damar masih suka muncul?”

“Iya dong, mereka kan tutor.”

“Sebenarnya seleksi alam ini sudah jadi masalah yang cukup lama, dan terkadang, klub-klub hampir perlu vakum. Eh, ngomong-ngomong, sebenarnya… Maghribi nasibnya gimana sekarang?”

Dan, aku merasa cukup patah hati jika aku harus menyatakan kenyataan ini kepadanya.

Klub Maghribi, beserta Abada, sudah bisa dinyatakan vacuum. Koordinatornya menghilang, pas open house saja tidak muncul. Maghribi terkadang memiliki Kak Sagia, dan Abada memiliki Kang Wisnu, founder klub tersebut. Tetapi, klub tersebut sudah hampir mati.

“Kak, sebenarnya sih… Maghribi yang mendapatkan anggota yang kalau tidak pindah klub (Globlit mendapatkan satu anggota dari klub tersebut) benar-benar menghilang. Koordinatornya pun menghilang. Open House tidak ada kabar. Abada juga hampir mendapat nasib yang sama” Aku terpaksa menyatakan kenyataan ini padanya. Tetapi reaksinya cukup optimistis.

“Haha… Masalahnya sama saja sih kalau Maghribi teh. Yang diprioritaskan adalah yang memiliki bahasa Prancis paling bagus, koordinatornya memang sangat-sangat fasih bahasa Prancisnya, tetapi… Yah… Ia sangat sibuk.”

Mendengar dan merasakan aura positif dan selalu happy dari Kak Sidik ini membuatku mau untuk lebih terbuka.

“Iya Kak. Koor Maghribi bahkan diminta untuk ketemu Pak Desmond (kurator MKAA, dan founder SMKAA) tapi yah… Nongol aja gak, padahal Pak Desmond udah kosongkan jam kerja sampai tiga kali.”

“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, hehehe”

Sekali lagi, optimisme yang Kak Sidik miliki cukup membuatku kagum.

“Eh, tadi Pak Desmond udah balik ya?” Kak Sidik bertanya lagi, hmm, ia sudah melupakan masalah tadi, sungguh menyenangkan!

“Sudah sepertinya, aku gak liat sih.”

“Hahaha… eh, pas zamannya Fri tuh memang suka juga yang suka menghilang, untungnya bisa dikontak, berdasarkannya curhatanmu, kayanya susah untuk merubah komitmen orang nih, hehehe.”

Logika…

Mendengar kata Logika pada tengah-tengah percakapan, entah membahas apa, aku ditanya… “Eh, ngomong-ngomong soal Logika (koordinator eksekutif dua tahun yang lalu, 2016/2017), dia masih suka dateng gak sih?”

“Datang dong, hehehe, setidaknya pas acara. Hampir belum pernah menghilang terlalu lama. Tapi aku tuh sebenarnya belum pernah ketemu Kak Fri.”

“Fri lagi sibuk nih, hehehe.” sepertinya ia tahu soal ini.

“Tapi, aku merhatiin sih, Kak Logika kalau ke acara, sering banget datang bersama istrinya…” OOPS, this is totally not gossip

“Oh, Firda. Iya, Firda tuh admin, sama juga satu klub bareng aku di Maghribi… saat zamannya Logika, mereka emang sering kerja bareng. Mereka beruntung banget bisa ketemu di tempat yang sama.”

“Oh begitu toh…” Pikirku, mendapatkan orang untuk diajak bicara mengenai ini juga cukup beruntung.

Dari bincangan soal Logika, aku bertanya tentang bagaimana ia bisa sukses menjadi Koor Eksekutif, anggota yang daftar untuk SMKAA sudah hampir mencapai ribuan.

Curhat dan Curhat

Terus dan terus aku bercerita mengenai para klub, dan Kak Sidik selalu bertanya siapa koordinatornya. Ada beberapa anak baru yang ia tidak ketahui, dan ia tidak terkejut jika mereka jarang menampakkan muka.

Terus, entah bagaimana, Kak Sidik tahu bahwa aku meninggalkan sesuatu di Sekretariat. Mungkin ketika aku meminta maaf dan bilang bahwa aku mau masuk lagi sebentar, meski sudah keluar.

Bagaimanapun juga, ini berujung ke curhat… lagi.

Aku cerita bahwa nametag ku ketinggalan, dan kadang kalau itu nametag tidak kubawa, bisa-bisa saja dimarahi oleh salah satu dari banyaknya satpam. Aku bercerita satpam itu satpam yang paling galak diantara semua satpam lain.

Ia tertawa dan bertanya, “Rambutnya cepak ya?”

Aku hanya menjawab “Ya, betul”

“Oh iya, itu mah Pak Taryana. Kalau saya manggilnya Pak Komandan tapi… paling galak tuh.” nadanya seperti biasa sambil bercanda. Seiring berjalan, aku melihat kanan dan kiri, dan sayangnya, sebentar lagi aku akan sampai rumah.

“Iya sih, wajar lah kalau ada satpam yang galak. Cuman saya yang gak bawa nametag masa disuruh keluar lagi dan masuk lewat depan, kaya pengunjung…” Terus curhat nih… ^^'

“Emang gitu Pak Taryana. Untung aja pas kasus Laptop kecolongan yang jaga bukan dia. Kalau sama dia, itu satpam pada habis dimarahin semua.”

“Oh gitu…” Aku sejujurnya tidak terkejut sama sekali, meskipun Pak Taryana sudah kenal sama aku, tetap saja, ia akan mengikuti protokol. Orang seperti itu biasanya memang sangat taat peraturan.

Tidak banyak lagi sih yang perlu diceritakan, ada beberapa cerita dan sindiran lagi… Bagaimana kadang kita suka lupa waktu ketika di sekretariat, karena itu memang tempatnya sedikit punya sihir agar kita tidak pulang-pulang, ceritanya begitu.

Sayangnya, aku sudah sampai rumah, dan aku didoakan agar sukses terus…

Dengan perasaan senang aku hanya membalas terima kasih, dan memberikan jawaban amin dalam hati. Tidak ada banyak reaksi lain dariku.

Kesimpulan.

Ketidaksengajaan terjadi. Tetapi, ketidaksengajaan itu pasti punya alasan yang kuat dibelakangnya. Oleh karena itu, kurasa ketidaksengajaan kali ini, berbuah dengan sukses.

Terima Kasih Kak Sidik, hatur nuhun!

Meeting Some Young Diplomats. Pt. 2

Meeting Some Young Diplomats. Pt. 2

For those of you who are confused why this part is in English, it’s because the conversations I had there was in English, so, I will rewrite this in English too.

Oke, kecuali sedikit bagian dimana aku akan bicara dalam Bahasa Indonesia.

During the 1 hour ++ period where we were allowed to have a private conversation with these diplomats, I talked to 3 of them, and passively took part in one of them.

Nigerian Diplomat

My meeting with Akang (yes, I’m inputting sundanese here) Muhammad started because of the museum’s head of administrations help. Mr. Prima felt a bit guilty for taking away my front seat a while ago when Ms. Marsudi, our foreign minister visited the museum. So, I’m thankful for his help.

I wanted to ask a question that I’ve been planning to ask for all day, but I always got… outsped by other people in our fellowship and chats, so, I just asked this question to Akang Muhammad here.

I also felt that Nigeria is a country that is much-much similar to Indonesia in the terms of ethnic groups (the topic I’m about to ask) because there are… I have no exact number at the time, but well, more than 100, so a lot.

My question to him was this…

Indonesia has a lot, of Ethnic groups, and many cultures. It’s a large country, and I sometimes feel a bit bad for the other cultures and places that when someone mentions Indonesia, people would immediately think of “Bali, Rendang, Batik.” If I’m not mistaken, Nigeria too has a lot of ethnic groups, is there any attempted solution for now? and if there isn’t, what’s really caused the problem here?

Kang Muhammad asked me another question before answering it wholly… “Well, Nigeria hasΒ nearly 200 ethnic groups, with a population of 180 million, give or take, and if I’m not mistaken, Indonesia has around, 350 ethnic groups, with 250 million population, is that right?”

At first I wasn’t quite sure to answer with a yes or a no, I don’t want to give a wrong information. But, at the moment, as thoughts sped around my head, I knew that, if a Nigerian somehow knows about my country, it’s a good thing right? So, I try to remember a bit, and I said, “I’m not really sure, but yes, we have a lot of ethnic groups, and more than 200 million people populate Indonesia…”

He nodded, then continued. “Well, we’re facing the same problems here…” He paused a bit, and Googled something on his phone, he spoke deep in his African accent… “Tell me, which of these tribes do you think of as Nigeria?”

I wasn’t sure… I suck at geography, and well, my international history isn’t that good either, sure, I can tell you about Einstein’s personal life, or Alan Turing’s personal life, but… Well, I suck at history in general. So, I just pointed to one I’ve heard or read about, somewhere, the Yoruba Tribe. (fun fact: Dele Alli, Tottenham’s young Midfielder, and the Premier League’s rising star [kinda rising, he’s well known now], is the son of the Yoruban Tribe’s eldest prince, so, be sure to call him Prince Dele… Wait, no, don’t…)

“Yes, that’s our largest tribe indeed…” I just thought something like, where on earth did I hear that? But, well, I was relieved I wouldn’t be ashamed of pointing something else.

He continued by saying this… “Now, I’m sure that the both of us here, we’d want to have every tribe and ethnic group to be known by the world right?” I nodded, saying a short “Yeah”, waiting for him to continue. “I personally don’t think it’s possible, firstly, some people don’t really think of Indonesia as people from Bandung, Jakartans, and so on…” he stopped, and asked, “Is that right?”

I chuckled a bit, saying that “People who live in Bandung are Sundanese, people who originate from Jakarta are usually Batavian, and people from Bali is… Well, Balinese”.

As he continued, I just listened, enjoying his African accent… “Now, people who don’t live in the mentioned countries don’t see neither Indonesia nor Nigeria as the tribes that live in it… They just see the country, and they correlate it as such.” He stopped, rejecting a call from his phone, then he continued… “Well, most people come to Indonesia and think of Bali, and its beaches, well, it’s also partially because of media.”

I thought about this as he continued, it’s always the frame, the media shows what they want to show, and the media being a business, they want something that can generate money…

“The international media shows the showstoppers, they show what people from around the world wants to know. People who got a glimpse of Indonesia visit Bali, because that’s what the international media shown, then, people visit Bali…” I nodded, agreeing to this. “That’s why it’s important to give as many glimpses of your smaller cultures whenever international media is there. Show the world what you want to show…”

So, simply from this talk alone, I learned about manipulating the frame, so the media doesn’t completely frame it. The media shows what they want to show. Proper media, at least not the hoax-making, click-bait slave media… they show what people want to see, or show it entirely. But it’s still up to the people that is reported by the media to show what they want to show.

We talked a whole lot more, well, not a whole lot actually, about 15 minutes. He showed me his selfie with our Foreign Minister, he showed me some Nigerian clothing on his phone, and, he asked me about my club.

I talked about Global Literacy, and he asked me about some literature, those I’ve read at least, and well, he told me a few books that was written by Nigerian authors.

I mentioned about Nigeria and their Scrabble federation, and he just laughed, saying that when people get bored, they find something to do. We just gotta hope they found something useful to do.

Hey, what is our country #1 (on the top) again… hang on, let me google that… Oh shucks… Mobile Legends. 50% of the total Mobile Legends players come from Indonesia… Ah well.

Nigeria is pretty good in Soccer as well, with John Obi Mikel, and Alex Iwobi coming from there…

One can’t only hope that Indonesia would grow to be a better country, one that loves its culture as well. One must act…

Anyways, I rolled in to the next Junior Diplomat… One from Guyana. I had the most fun talking to him.

Guyanese Diplomat

Around the edge of the room I saw the Guyanese diplomat, just standing in the corner, hoping for someone to come by his face and talk to him. But well, no one did anyways… So, I decided to take initiative and I stepped up and talked to him.

Based on what I heard from him during the public discussion, it’s that he’s from Guyana, he’s a sports promoter, and he’s also a substitute for the Guyanese National Cricketing team. Apparently the Guyanese cricketing team is pretty large, so he’s gotta be pretty good if he can make it as a substitute.

I’m not that much of a sports fan, and I also don’t keep up with the sporting stuff they do nowadays… But fortunately enough, I do some soccer homework every year when the transfer market opens, and I google stuff, so when my father (who is a huge Liverpool fan) mentions a new player, or puts on some Soccer on TV, I won’t get too confused.

I missed this homework last year and I had no clue who Mohamed Salah was until Bubi saw him on TV during a big match and she said, “Who’s that? He looks good”

Well, I wanted to talk to him about many of hiss appealing details. Number 1 was his height… He’s like, very tall, almost 10 centimeters taller than me, and I’m not short as well, but he is an athlete, so no surprise there.

Then I moved to see what’s in his collar. There is a pin of the Guyanese national flag there, so I asked him a question about it… Well, here’s how the conversation between me and Akang… actually every single person who came there forgot his name (yes, I asked all 30 SMKAA members who came there, and none remembered his name). Myself included…

It was a rather African sounding name, and trust me, it’s not an easy name to remember. With names like Justin, Muhammad, Sheila, Miguel and Tomo there, his name was very easy to forget. I remembered 9 out of 10 names, except his…

  • Me: Nice pin you got there…
  • Oh this, you know what this is?
  • Me: Well, I think that’s an easy question, it’s the Guyanese National Flag…
  • Have you seen our flag before?
  • Me: No I haven’t
  • Well, that’s good, now you know our flag. Hahah
  • Me: Did you wear that because you want to, or…
  • No, actually I am wearing this because Guyanese diplomats need to stand out.
  • Me: *in my head* That’s cool…
  • Me: So, it’s there because you have to wear that?
  • It’s not wrong, but it’s there, because it is a piece of our country that we bring with us everywhere. It’s also a piece of our identity.
  • Me: Ah, I see…
  • There are currently 3 countries whose name sounds like Guyana, and trust me, people forget us all the time. So our foreign minister makes it a must for us to differ our identity with others, through this pin, and the way we speak English.
  • Me: Reminds me a bit of Slovenia and Slovakia… 2 countries where people mix each one with…
  • Guyana, Ghana, and Guinea, most people mix all 3 of those all the time. Lucky enough, they have very different flags, so we decided to wear our flag everywhere.
  • Me: I wish that Indonesians would be proud of themselves…
  • You know, you could give the museum a suggestion for their employees and guides to wear a flag of Indonesia. Tourists who visit Bandung visit the Museum a lot…
  • Me: That’s actually a good idea…

Then, we talked a bit more about sports.

Honestly, I haven’t talked that much about soccer since I was in fourth grade 7 years ago.

It all started with the question, “So, you’re a sports promoter?”

He said yes, and he also played Cricket and Football for the Guyanese national team. Both of them as a substitute, but honestly, just being able to make it onto the national team is an achievement in itself. Rabiot didn’t play any games at all for France last world cup, but he still took the Glory when they won.

His job is simply to travel around the world, and whisper the names of Guyanese players to scouts for many clubs. So, a sports promoter is basically Varys…

It’s not his job to scout out players, but more like, enticing the scouts to come there and possibly recruit players.

He then mentioned, it’s because of Sports Promoters that a team can know who is Mohamed Salah, who is Didier Drogba, and so on.

With the name of Didier Drogba mentioned, I thought a bit of players in the Premiere League nowadays… And, I shared a flash of inspiration…

It just came to me that Liverpool’s main forwards are Sadio Mane and Mohamed Salah, and the both of them are players from Africa. Naby Keita becoming an addition, also added up onto the already long list of African (and Asian, since this is the Asian African Museum after all πŸ˜‰ ) players in the Premiere League.

He then said, there’s a better example as to why Sports Promoters are necessary in African and Asian countries. Take a look at France, winning the last world cup…

They had many African players who are given the same opportunity with European players to get the same tactics and ideas that European players had. France won the world cup with Mbappe, Pogba, and Umtiti becoming powerful forces in their arsenal. All of them are of African descent, whilst still getting the techniques and tactics of European footballers.

He said that if these Africans were given a chance to experience the tactics and strategies of European football, maybe they would be better than European players.

With Mbappe mentioned, I thought to say how fast and how athletic he is. He said that there’s a huge chance Mbappe will be a legend one day, he’s not even 22 (full age of physical development) yet, and he is already showing really great signs of his skills.

And now, in present time I’m mourning my memory loss for not remembering his name… But remembering the names of 9 other diplomats.

I then mentioned the premiere league when he asked me about my favorite Premiere League team.

I told him I actually haven’t watched a premiere league game for the last… 3 to 4 years… But I also told him my father’s a Liverpool fan, and I’m liking Liverpool too. He on the other hand is a Chelsea fan, because of none other than Didier Drogba.

At 2004, perhaps, he was 12 or 13 at the time, he started watching Soccer and Drogba helped won the Premiere League for Chelsea. Being colored, and I think one of the most skilled African players in his prime, he liked Chelsea.

That’s a rather respectable reason to me.

When I told him that my family liked Liverpool, he then said to me that Naby Keita, was discovered partially because of one of his mentor’s helped.

At first I thought Keita was Guyanese, but he wasn’t… He’s from Guinea and NOT Guyana. Maybe this mentor of his was at Guinea, looking to promote some Guyanese talents when he met Keita and helped Leipzig purchase the Midfielder.

We moved on to tourism somehow, after that Naby Keita talk and Guyana Guinea confusion… I asked him how he related to Indonesia… Like, what’s his first memory when someone mentions Indonesia, and he said… Bali.

Well, no surprise there, but here’s some of the more… disappointing parts.

Not long when I discussed tourism, he told me that Guyana has the largest single drop Waterfall, and he’s really proud of it. He showed me a google search of Guyanese Tourist destinations and apart from waterfalls, and some rainforests for those wanting to hike or swim near a waterfall… There isn’t much. (I didn’t tell him that_

I then thought and talked to him, about Indonesia.

We have dozens of things to be proud of, we have Bali, we have Rote Ndao, (he asked me what it was, I told him it’s the Indonesian island that is closest to Australia) we have Raja Ampat, we have Bromo, we have the only Observatory in South East Asia, and so on…

But, I don’t know, why aren’t we proud of it? I mean, to be honest, having the largest single drop waterfall is a rather specific situation to meet. From far away it’ll look nice on pictures, but, seriously, jumping off there is borderline suicide… But… we have something less specific, we are the largest bunch of islands in the world… Has any Indonesian mentioned that to tourists? I don’t know…

Well, eventually, like most people working in foreign ministry, most of their works are… international, and he got a call he’s got to take, so I moved on to the Japanese diplomat for the last 7 minutes.

The topic wasn’t much though…

Japanese Diplomat

Akang Tomo was nice.

He spoke to me in Indonesian, and myself already knowing that he’s Japanese instead spoke to him in English… it was reflex.

Me, an Indonesian spoke to a Japanese in English, while he speaks to me in Indonesian… thumbs up πŸ™‚

EDIT: A friend of mine who saw this said that I speak in English when she spoke to me in Bahasa… At least I slip a bit of English in some of my phrases…

We spoke of nothing important, I commented on his shirt with cheese patterns and a 3 dimensional mouse coming out of the sleeve, he said to me that when you visit Tokyo, if you like shirts like these, you have to go to a store that sells these kinds of shirts. They’re informal shirts.

And you have to know, I loveeeeee wearing shirts, especially the informal ones.

Overall, the 7 minute conversation we had was… funny.

  • We talked about Japanese Shirts in two different languages.
  • I kept telling him I’m trying so hard to speak Bahasa with him (though I said that in English)
  • He tried to speak Bahasa with me so I speak Bahasa to him, we both laughed since I can’t stop speaking English.
  • I was rather embarrassed of myself, but he told me to not worry, it’s not rare that Indonesians who knows he can speak Indonesian, ended up speaking to him in English.

Conclusion

We should be more proud of ourselves…

It really is that simple.

We sometimes envy others too much that we forget that we have something others admire… Hence, we’re not proud of what we have.

We should appreciate what we have, and we shouldn’t let envy and impatience take over.

That’s all from me today, goodbye!

Bertemu dengan beberapa Diplomat Muda… Pt. 1

Bertemu dengan beberapa Diplomat Muda… Pt. 1

Jadi begini…

Sebenarnya aku sudah ingin menuliskan ini dari 2 minggu yang lalu, tetapi, dikarenakan satu dan lain hal, gak jadi…

Maaf sedikit (ehem, sedikit Zriel?)… Ugh… Maaf sangat ngaret.

Anyway, 22 Juli kemarin ada acara di Museum Konferensi Asia Afrika, yang mengajak kita bertemu dengan diplomat junior dari 10 negara… Aku tidak akan menceritakan semuanya dengan detil, terutama bagian dimana penanggung jawab acara ini dari Kemenlu secara spesifik bilang… “Tolong jangan beritahu ini ke umum ya, anggap saja ini bonus untuk anggota SMKAA yang memang sudah sering membantu museum.”

Acara dibagi menjadi dua sesi. Diawali dengan diskusi publik, dan obrolan santai, dimana para diplomat junior ini dikencar dan mengobrol dengan orang-orang secara private.

*COUGH, aku dan diriku yang sangat-sangat enjoy ketika dalam momen tersebut… Lupa mengambil satu pun foto… COUGH*

Bagaimanapun juga, mari kita masuk ke artikel hari ini…

Diplomats.

Courtesy: Viva Atas (kanan ke kiri) Guyana, Jepang, Meksiko, Portugal, Nigeria. Bawah (kanan ke kiri) Fiji, Myanmar, Ibu Retno Marsudi, Kamboja, Bangladesh, Papua Nugini

Foto para Diplomat kemarin. Karena umm… Aku lupa foto..

Open Discussion

Sesudah para diplomat dikenalkan oleh Penanggung Jawab, yang juga merupakan Direktur Diplomasi di Kemenlu… Kami langsung masuk ke sesi diskusi terbuka, dimana SMKAA bertanya kepada para diplomat, dan mereka bergantian menjawab.

Pertanyaan-pertanyaan saat Open Discussion cukup sederhana, dan lebih banyak ditanyakan ke semua orang sekaligus, tidak cenderung terlalu spesifik.

Aku memilih 3 pertanyaan yang menurutku paling menarik, di antara… sejujurnya aku tidak ingat ada berapa pertanyaan. (aku kurang beruntung dan tidak sempat bertanya di Open Discussion)

#1 How is Bandung so far?

Kurangkum saja ya…

Semua diplomat (ini hari kedua di Bandung, dan hari masih pagi) sepertinya menikmati dan juga senang sekali dengan Bandung. Komentar mereka tidak jauh dari…

  • Bandung is a more enjoyable and calm city, it’s slower than Jakarta here, and definitely closer to Nature.
  • I heard that Bandung is a city that’s filled with many creative industries in it, and Mr. Azis here said that it’s known as Paris Van Java.
  • For now, I prefer Bandung over Jakarta because it has far less smoke, and the people here seem friendlier.
    • Pak Azis (penanggung jawab, serta direktur diplomasi di Kemenlu) mengomentari “There are lots of pretty girls here in Bandung, you’re single right?”
    • Kami tertawa…

Diplomat dari Jepang, sudah cukup fasih berbahasa Indonesia, karena sempat berada di Indonesia untuk 6 bulan, melakukan riset (atau studi banding, aku tidak ingat dengan pasti) di Universitas Padjajaran.

Bahasa Indonesia yang ia gunakan sopan, lembut, dan juga… Baku. Tidak dicampur dengan Bahasa Inggris, dan secara keseluruhan, kurasa, lebih baik dan enak didengar daripada bahasa indonesia yang aku gunakan. Jadi, sepertinya, jika dibandingkan dengan bahasa millennial yang… ya, kacau balau, dan serba singkatan, seharusnya kami, sebagai orang Indonesia, sedikit malu dengan foreigner yang bisa berbicara bahasa ibu-nya. (Seriously, he’s that good, orang yang ketemu dengannya, kalau ia berbicara dengan Bahasa Indonesia, mungkin mengira dirinya sebagai WNI)

Kembali ke topik utama, ia menuturkan sedikit, “Saya mungkin paling kenal dengan Bandung daripada teman-temanku yang lain. Saya sempat belajar selama 6 bulan di Universitas Padjajaran, dan menurutku, Bandung itu kota yang indah, jajanannya… enak. Kata teman saya, Batagor di… umm, cafeteria kampus enak, dan saya sangat suka. Selain itu, saya juga senang bisa kembali mengunjungi Bandung…”

Dan, dari situ, aku melupakan apa yang dikatakan… Maklum, manusia hanya bisa mengingat 10-30% dari apa yang ia pelajari.

#2 How has the Asian African Conference affected your country?

Sekali, lagi, dirangkum saja…

  • It has changed, quite a lot really… Not only did it help our country feel less restrained to the remnants of the invasion there, not only did it help us gain our independence, it also gave us a strong fighting spirit to make the most out of it.
  • It’s not just the Asian African Conference that mattered, but also the aftershocks of what happened next. Like the, uh… Non aligned movement. Overall, the sound from Bandung at 1955 sounded loud around the world at the time and it still echoes until today.
  • Myanmar, or perhaps, Burma is still in gratitude of Indonesia for holding the Asian African Conference, and is very thankful for it. Dasasila Bandung helped us in building some of the foundations of our human rights, and we will not let go of such a large event.
  • I’m sure that several countries who were not independent yet at the time in both Asia and Africa became independent. (yes, that is what happened)

Kembali ke titik A…

Jadi, bertemu dengan diplomat-diplomat muda ini membuat aku makin, geleng-geleng kepala, dicampur dengan sedikit face-palm juga… Ke orang Indonesia.

Kita sudah melawan dan juga, tentunya mendapatkan kemerdekaan kita sendiri, dan kita memberikan serta membangkitkan semangat banyak negara lainnya untuk ikut merdeka. Tetapi apa? Kenapa, oh, kenapa? Kita, yang sudah diusung, dihormati, dan diberikan banyak tanda terima kasih dari negara luar, malahan… menyia-nyiakan kemerdekaan ini.

Ketika aku berumur 11 tahun, dan masih bersekolah formal, pada pelajaran PKn, diwajibkan untuk mengetahui cara mengamalkan pancasila, dan kurasa materi ini masih diberikan ke anak kelas 5 dan kelas 6 lainnya, tetapi… Masalahnya, mau diberitahu sesering apa tentang cara mengamalkan pancasila, kalau tidak diamalkan juga, tidak ada artinya dong…

Kesal kan? Gawat ini…

#3 Why did you become a diplomat? and How?

Pertanyaan sederhana, tetapi, jawabannya, kurasa, sangat-sangat relatif… Bisa saja, sudah direncanakan, bisa saja sederhana, dan bisa saja… karena kebetulan.

  • I became a diplomat because I love my country, and I want to share its culture with the world.
  • I am a sports promoter from Guyana, and, actually, I also played for the Guyanese Cricket Team. I always loved sports, but I myself know that I’m not really that good at it, so I chose to be a sports promoter instead…
  • As a child, I am actually one of the few people in Japan who is actually good at speaking English… So, I guess, being a diplomat in a country whose first language doesn’t use latin letters just, lead me here.
  • I used to be a reporter, back in Portugal that is… Well, it enabled me to travel around the country, catching whatever event happened there. Eventually, since I enjoy travelling, I knew that, if I’m a diplomat, I could experience different countries. So, I chose to be a diplomat instead of a reporter. Funny enough, I am actually an international relations graduate, but I enjoy writing. So, I guess, I went back to where I am supposed to be…

And so on…

Untuk pertanyaan, How, tetapi… dijawab oleh Pak Aziz.

Dan iya, tidak boleh disebarkan, Pak Aziz, benar-benar spesifik bilang bahwa ini khusus untuk SMKAA, so… boohoo πŸ˜›

Tetapi, mengutip sedikit, kuncinya di Interview, dan kamu bisa jadi diplomat jika kamu pantas, dan jika kamu mampu.

To Be Continued, Tomorrow… This time with names

Kenapa belum ada nama? Lupa…

Iya, aku bisa ingat cerita sepanjang ini, tetapi, aku seringkali melupakan nama.

On the bright side, ada daftar nama yang ada di Koordinator Eksekutif kita, dan akan dicari, segera πŸ˜‰

EDIT: Nama, gak jadi… Tetapi, aku sukses mengingat 6 dari 10 nama, mencari catatan di bukuku yang hanya berisi, coretan nama, bisi aku lupa… kedua perempuan dari Myanmar dan Kamboja, sayangnya tidak tercatat… Jadi… ada sedikit kemajuan!

Muhammad, dari Nigeria. Javier, dari Meksiko. Justin, dari Papua Nugini. Miguel, dari Portugal. Alanieta, dari Fiji. Sheila, dari Bangladesh.

Ironisnya, aku mengajak ngobrol Diplomat dari Guyana, dan melupakan namanya… Mengajak ngobrol diplomat dari Jepang, dan juga lupa namanya… Ada apa denganku…

Promotion: Open House SMKAA

Promotion: Open House SMKAA

Courtesy of Image: kemendikbud, program Budaya Kita.

Dear readers of Dikakipelangi.com…

Aku tidak dibayar sedikit pun oleh SMKAA… Promosi ini murni dilakukan karena aku seorang relawan di SMKAA yang sangat ingin untuk mengait dan mengajak orang-orang untuk ikut bergabung di komunitas relawan ini.

(dan umm, sejujurnya, karena belum terlalu banyak promosi di web, jadi, aku menawarkan diri untuk membuat post mempromosikan Open House SMKAA ini)

SMKAA bukan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan. Jangan seperti beberapa orang yang melihat singkatan SMKAA dan dengan umum memberi sebuah panggilan… SMK Asia Afrika…

Bagaimana responnya? (tentunya bukan salah dari pihak yang memberi pengumuman, kurasa SMKAA punya sedikit andil salah dalam kejadian ini)

Oke, semoga basa basinya tidak sampai basi, jadi… mari kita masuk, dan jelaskan mengenai open house dan SMKAA itu sendiri.

Dan semoga lelucon basa basi itu tidak garing. (oke, aku tahu itu garing, peace)

Apa itu SMKAA?

SMKAA adalah Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika. Dan jika reader disini belum sering membaca website milikku, kemungkinan ketemu broadcast dari mana, atau hanya kebetulan mampir Dikakipelangi.com, pasti belum tahu apa itu SMKAA.

(umm, terkecuali kalau memang sudah tahu, mungkin via IG, dari temannya, atau memang sudah anggota, atau mungkin…)

Ehem, sorry… Azriel, tetap fokus.

Sebenarnya, apa itu Sahabat Museum? Nah, bisa baca dulu dari sini… Mulai dari sejarahnya, tentunya.

Sejarah SMKAA

Pada tahun 2011, dan di titik paling “rendah” dari Musuem KAA sendiri, beberapa pegiat museum di Bandung, berkumpul di Museum Asia Afrika pada suatu malam.

Museum seperti Museum KAA sendiri yang statis, dan tidak bisa terlalu banyak menambahkan pameran sementara, merasa bahwa memiliki sesuatu yang hidup, atau lebih tepatnya, sesuatu yang menghidupi museum.

Jadi, karena Musuem tentunya akan butuh relawan, dan juga pasti akan membutuhkan kehidupan baru, diciptakanlah Sahabat Museum.

Peran dari sahabat museum ini apa?

Sebenarnya, Sahabat Museum ini, pada tahun terciptanya benar-benar hanya ada untuk memberikan relawan bagi Museum KAA. Anggota awalnya berisi pegiat Museum, Sejarah, ataupun Konferensi Asia Afrika sendiri.

Nah, namun, seiring bertambahnya anggota, ada suatu titik diantara umur 7 tahun SMKAA ini, untuk menghasilkan klub-klub di bawahnya, dan beberapa klub ini mungkin sudah diketahui sebelum seseorang tahu akan sahabat museum. Klub-klub ini kemudian digunakan untuk menarik masyarakat umum dan mengikuti Sahabat Museum, agar museum bisa mendapatkan relawan dan sumber daya manusia ketika ada acara yang membutuhkan kedua hal tersebut.

Aku sejujurnya belum bisa memberikan terlalu banyak informasi detil (terutama urusan tanggal dan tahun ^-^ ) mengenai sejarah SMKAA sendiri, tetapi, kurasa secara garis besar, ini cukup memadai.

Open House Schedule…

Open house dilaksanakan pada 4 Agustus 2018…

Pada open house kali ini, kita akan memberi kesempatan untuk masyarakat umum untuk mencoba 13 klub yang akan dipamerkan di open house dan bisa dicoba trial class-nya nanti.

Booth dibuka dari jam 9.00-16.00, jika ingin bertanya mengenai detil klab, bisa datang saja ke booth πŸ˜‰ . Detil SMKAA juga bisa ditanyakan ke booth, seandainya bingung.

Berikutnya ada trial class.

Sedikit kelemahan dari broadcast adalah, informasi yang dijajakan dan diberikan cenderung terbatas, jadi, aku ingin memberikan yang lebih mendetil, agar tidak ada kebingungan.

Trial Class dilaksanakan di dua venue, yaitu Galeri Museum, dan juga, ruangan Audiovisual. Pada tiap sesi, ada beberapa klab yang menyiapkan trial class.

Trial Class tiap klab sendiri berlangsung 30-45 menit. Dan iya, ini berarti satu sesi diisi tiga trial class dari tiga klab berbeda. Urutan tampil belum diumumkan, karena kami dari pihak SMKAA akan lebih senang jika orang-orang mengikuti ketiga trial class πŸ˜‰

Tetapi tentunya, kami tidak keberatan jika ingin pindah kelas ketika sudah mengikuti trial class klab yang ingin diikuti.

Kesimpulan

Tentunya, SMKAA ini, adalah sebuah pintu bagi seseorang untuk berkontribusi lebih untuk masyarakat. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain bukan?

Kurasa, kesimpulanku hari ini akan sederhana…

SMKAA akan cocok bagi orang yang berkomitmen, dan juga yang ingin berkontribusi lebih banyak untuk masyarakat, kesempatan masuk ke komunitas ini hanya sekali setahun, ayo, jangan sampai kelewatan πŸ˜‰

This article will be completed in Friday, with details on each of the clubs, (it’s 60% done) and only need fact rechecks.

Dear Museum Asia Afrika

Dear Museum Asia Afrika

Pernahkah anda merasa bahwa suatu hak milik anda direbut begitu saja? Sejujurnya aku merasakan itu hari ini… Tetapi, ya mau bagaimana lagi…

Jadi begini, ada acara dengan Ibu Menteri Luar Negeri kita, Retno L.P. Marsudi. Dan, oke… bentar dulu…

Catatan: Aku seorang Remaja, aku bisa dan akan merasa moody. Iya, bahkan remaja sesabar, sepintar, sekeren dan seganteng aku *Pembaca mau muntah* bisa merasa moody… Tolong tahu bahwa aku curhat, dan sekali lagi iya… aku curhat.

Jadi begini, jika remaja pada umumnya merasa galau kalau diputusin pacar, ditolak, di unfollow orang, di… apa aja sih? Umm… Itu lah ya.

Inilah cerita yang membuat aku sendiri, Azriel Muhammad… Galau.

SMKAA

Ah, SMKAA, sering sekali namanya kusebut, sering sekali aku berusaha kujelaskan (meski rada gagal, tapi tetep, ada usaha), dan juga sering sekali aku datangi acaranya. Aku belum pernah sekalipun kelewatan satu acara dari Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika ini. Hari ini kebetulan, ada acara dengan skala yang sangat besar, serta juga… melibatkan pihak atasan, dan juga pihak eksternal.

Hari ini, Ibu Menteri Luar Negeri kita, Retno Marsudi, diundang ke Gedung Merdeka, untuk memberikan talkshow 90 menit.

Mengenal aku, dan membaca tulisanku, aku niat, dan antusias pakai… BANGET! Aku datang jam 7.04, dan begitu sampai, aku langsung menaruh tasku di barisan depan, tepat di tengah. Aku belum mengambil foto, belum apa-apa, tetapi ya, aku sudah tek kursi paling depan.

Nah, sekarang ganti chapter.

Pendaftaran, Registrasi, Persiapan…

Entahlah, aku mulai kehilangan kontrol dan merasa sedikit kesal ketika menulis ini…

Jadi begini, pukul 8.00, pendaftaran telah dibuka. Aku langsung mendaftar dan menggunakan kaos, serta kembali ke kursiku, dengan ketakutan bahwa ada yang mungkin mau mengambil tempatku di tengah ini.

Sekitar 15-20 menit kemudian, orang-orang berdatangan. Dengan bantuan Usher Frontman (atau, apalah namanya), peserta dipandu dan diminta untuk duduk paling depan… Dan ini adalah momen yang cocok untuk flashback…

Flashback

(EHEM, tulisan ini tidak punya alur karena dia curhatan, bukan liputan)

Beberapa hari sebelumnya, Kakak Nimrod A. Aria, Koordinator Eksekutif dari SMKAA, pada dasarnya orang in charge paling atas dalam SMKAA, sudah bilang bahwa ini acara SMKAA, dan bukan ditujukan untuk umum, kecuali ada sisa kuota pada H-1. Nah, akan ada Usher frontman untuk mengatur kursi agar anggota SMKAA duduk paling depan.

Aku mah gak usah disuruh udah duduk di depan.

Sayangnya, kuota SMKAA tidak terpenuhi, hanya ada 70-an dari 200 batas… Sehingga, sisa kuota pun ditujukan untuk umum, dan pendaftaran dibuka…

Real Time.

HEUH… Tentunya, meski anggota SMKAA juga, tetap saja, ada yang namanya malu dan takut salah ini salah itu. Jadi, barisan depan terisi, dan hampir semua orang di barisan paling depan adalah peserta umum, mungkin ada andil salah di Usher dan juga panitia yang dari Kemenlu dan asal menyuruh orang untuk duduk di depan.

Aku belum keberatan, tentunya ketika anggota SMKAA sendiri diberikan kesempatan untuk duduk di depan, tetapi malu lah, atau apa lah.

Secara keseluruhan, diantara 25-an kursi yang berada di depan, 6 disisakan untuk pejabat Kemenlu, 3 (termasuk aku) disisakan untuk SMKAA, 6 untuk Paskibra dan Pramuka yang diundang, 10 sisanya diisi oleh tamu umum. Mahasiswa ITB, dan Unpad mengambil mayoritas.

Stroke of Bad Luck

Jadi begini, ingat, Kak Nimrod Aria yang aku sebut di atas? Belum ada yang tek kursi untuk Kak Aria… Sehingga, 3 anggota SMKAA yang berada di depan digusur, dan diminta untuk kembali ke belakang…

Ketiga anggota tersebut, sepengetahuanku digantikan oleh Kang Adew Habsta dan Kang Dani, keduanya adalah founder SMKAA.

Kursiku tetapi, digantikan oleh Kak Aria.

Awalnya, juga akan digusur peserta dari umum alih-alih peserta SMKAA, tetapi semua kakak-kakak kuliahan dari umum, menolak dan bilang bahwa mereka datang cepat, dan disuruh untuk duduk di depan. Aku, dan anggota SMKAA yang lain, diminta untuk mundur ke belakang dengan alasan…

“Ini bertiga sama-sama penting lho, ada 2 founder SMKAA, dan koordinator eksekutif-nya. Mundur ya? Sesama SMKAA…”

Jadi, umm, aku kesal.

Resolution…

Tentunya, aku bukan model orang yang mau dan tidak keberatan mengalah dan digusur ke barisan belakang… Aku jadi, tetap membiarkan kursiku diambil, tetapi aku berdiri di sisi pinggir…

Kurang lebih aku berdiri di sebelah situ.

Dan iya, aku berdiri di situ selama 90 menit++

Tetapi, pada akhirnya, panitia juga tahu aku bukan orang submisif, dan panitia juga tahu bahwa aku masih tidak ridho kursi aku diambil orang, dan aku diberikan kursi panitia di pinggir. Eh, aku gak bisa dan gak boleh bertanya, aku dihitung panitia, dan tujuan aku datang ke sini jadi terpotong setengah.

Ha, ya sudahlah, namanya juga nasib, setidaknya mendengar Bu Retno berbicara sudah cukup membuatku happy.

Tulisan A Day With Bu Menlu akan keluar esok malam, aku hanya menulis ini demi mengeluarkan amarah yang masih terpendam.

Iya, aku akan share ini dengan teman-teman di SMKAA, dan semoga masalah ini takkan terjadi lagi di lain waktu…

Project Preview: Sahabat Museum Geologi

Project Preview: Sahabat Museum Geologi

Mungkin yang sering main ke web ini seringkali denger, Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika, atau SMKAA (for short), nah… Sebenarnya Sahabat Museum ini, udah jadi keinginan beberapa Museum sejak SMKAA ini ngehits dan sukses selama 4 tahun kebelakang.

Jadi, aku dan sedikit kekepoanku pada ini, berusaha sounding ke Museum Geologi…

And oh boy, I’ll have to admit, this is… gonna be rather challenging.

Museum Geologi akan mengalami ulang tahun ke 90 pada 16 Mei… Dan… Pak Ma’mur, Kepala Divisi Edukasi dan Informasi, memintaku, atas sedikit requestan sana sini, untuk membantunya (dan menjalankan) Sahabat Museum Geologi yang diimpikan ada sejak 2 tahun yang lalu.

Pak Ma’mur sendiri cerita ke aku bahwa dibutuhkan Sahabat Museum, dan untuk posisi mengurusnya dibutuhkan cukup banyak hal… Seperti, konsistensi, determinasi, dan tentunya… anggota.

Untuk itu, ini akan menjadi sedikit project preview ke apa yang bisa diharapkan untuk dirilis setelat-telatnya bulan depan. Please, wish me luck…

Planned Clubs

Khasnya SMKAA adalah klub nya. Masing masing wajib melakukan sesuatu untuk mendapat sertifikat. Dan masing-masing klub juga diberikan akses ke events Museum, mendapatkan info pertama first hand, dan ya… Not here to discuss that actually…

Aku kepengen ngebahas klub apa aja yang mungkin direncanakan untuk Sahabat Museum Geologi ini… For now idenya baru ada empat… Tetapi semoga bisa dilaksanakan, dan tentunya bisa bermanfaat jika sudah resmi berjalan tadi.

Pak Ma’mur sendiri request untuk tolong membuat sebuah klub menulis, dan ceritakan dengan gaya santai tentang satu dan dua exhibit di Museum Geologi. Namanya masih TBD sih…

Selain itu, kayanya akan menarik jika ada klub yang membahas Earth Preservation, dan semacam gerakan go green dengan pembahasan lain-lain berdasarkan perspektif Geologi… Again, namanya TBD.

Mengikuti tenarnya Klab Edukator di Museum Asia Afrika, aku memberikan saran ke Pak Ma’mur untuk sebuah klub yang membahas guiding, touring, mungkin bahkan masuk ke ruangan storage-storage di Museum Geologi. Tentunya untuk mengenalkan Museum Geologi dalam in depth untuk yang memang dah in depth, dan juga dengan scope besar untuk publik. Of course, dengan tujuan untuk merespek nama Klab Edukator (aka Public Educator Corps), Namanya gak akan jauh-jauh dari Edukator. Perhaps, Geoeducators? I don’t know yet.

Dan terakhir, Pak Ma’mur dan aku berdiskusi kilat untuk sebuah klub yang akan gak main jauh-jauh dari sosmed… Untuk jadi agen promosi museum. Diantara empat ide klub ini, by far, ini yang paling belum mateng, jadi aku pun masih kurang yakin.

Jika klub sosmed/promosi ini gagal, atau kurang padat untuk dijadikan klub, aku sih kepengen Museum Geologi ini punya klub art. Menggambar secara abstrak tentang karya geologi, ataupun secara padat. Tapi ini mungkin rada sulit… Kita lihat dulu deh nanti.

Apakah ada yang menarik diantara keempat klub ini? Meski hanya gagasan, semoga bisa menjadi kenyataan.

Benefits?

Wah, ini sebenernya aku belum dapet scope nya sampai ikutan Milangkala SMKAA… Dan sejujurnya, Sahabat Museum Asia Afrika ini, dengan magis membuat orang-orang mau tetap dan berkontribusi, meski tidak diberi benefit yang banyak. Nah, aku sendiri mendapat info bahwa di Museum Geologi, 3 attempt sebelumnya membuat Sahabat Museum masih rada gagal karena kurang aura magis kaya SMKAA ini.

Jadi, sebenarnya, kalau membahas benefits yang bisa didapat dari Sahabat Museum Geologi, kira-kira apa ya?

Well, ada 3 hal menarik yang bisa ditawarkan ke Geolo-geeks, ataupun mahasiswa yang tertarik berkontribusi. Ketiga hal ini diusahakan tidak mengeluarkan dana banyak.

  • Storage Room Access! (Okay, ini perlu dibicarain dulu sama Pak Ma’mur, dan beberapa rekannya di Geologi)
    • Siapa sih yang gak mau masuk Behind The Scenes dari sebuah film? Kalau mungkin udah sukses dan mendapat izin untuk masuk ke Storage Room nya, mungkin sih gak bisa terlalu sering, tetapi tentunya ini akan menarik banyak Geolo-geek tadi, dan mungkin akses ke behind the scenes ini bisa menjadi metode PDKT utama ke geolo-geek ini…
  • Certificate
    • SMKAA berjalan karena 2 hal… Anggota lama yang senang berkontribusi, dan anggota baru yang awalnya cuma dateng buat sertifikat, tapi tiba-tiba jatuh cinta, jadi mau berkontribusi.  Yeah this is me, yang awalnya berencana mau gonta-ganti klub tiap tahun demi sertifikat… Tapi sekarang jadi super seneng dan juga kasihan sama club nya yang hanya punya 4 anggota, dan mau ikut mengurus.
  • Knowledge
    • Self Explanatory… Kalau orang ga dateng karena knowledge atau karena emang seneng, ini mungkin gak akan jalan. Jadi ini kayanya sebuah benefit penting, tapi obvious.

Tetapi, tentunya untuk ketiga benefit ini, diharapkan untuk juga mengkontribusikan waktu dan tenaga… Layaknya relawan yang dibayar dengan ilmu alih-alih uang seperti pegawai.

What to expect?

Di blog ini, harapkanlah tulisan tiap sabtunya…

Di dunia Museum Geologi? Mungkin bisa diharapkan… Bahwa ini akan berjalan. Aku akan sangat senang jika menerima kontributor ataupun calon anggota. Kabarkan saja, karena tentunya aku akan senang mengetahui bahwa dari gagasan yang menjadi tulisan ini… dapat menjadi sebuah kenyataan.

Tentunya, untuk Sahabat Museum Geologi ini, gak bakal bisa se fenomenal SMKAA, tetapi layaknya sebuah batu, ia akan mencapai bentuk penuhnya sesudah mengalami proses dan ditempa… Sebuah komunitas adalah sebuah proses. Banyak hal di dunia ini berproses… Kita tinggal bersabar dan membantunya berkembang.

In Conclusion

Terima kasih ke Pak Ma’mur… tanpanya, ini hanyalah impian.

Kesimpulan hari ini akan simpel, tetapi padat…

Make your dreams ideas, make your ideas a plan, make your plans a reality.

Aku akan sangat senang jika ada yang ingin spread the spirit of sharing, dan juga spread the love, tambahkan anggota satu atau dua, mencicil saja… Sampai akhirnya Sahabat Museum Geologi ini bisa menjadi kenyataan… Sudah sih, aku sejujurnya tidak ada tambahan lain…

Terima kasih ya… Ditunggu kontribusinya πŸ˜‰ .

Until tomorrow…