Tag: review

Peter Rabbit Review

Peter Rabbit Review

Sesudah hari yang panjang… Aku mengakhiri hari dengan menonton film ini. Wait no, aku mengakhiri hari Senin ini dengan menulis review relatif pendek tentang film ini.

Jadi, film ini dibintangi James Corden… He’s a comedian, and he’s funny. Babah sih bilang bahwa James Corden itu, a British Jimmy Fallon.

Onwards, my friends! We shall hop to the review… Also, be cautious for Rabbit Traps in the form of spoilers.

You Just Want Attention…

James Corden, who unexpectedly is actually a pretty good choice of an actor to play a… rabbit, that’s heroic. Karena di Late Late Show nya, James Corden sering ditease karena dia ga bakalan pernah mainin main character or hero of the story, but of course… Dia akhirnya bisa beat teases yang dia dapetin. Not just being the funny sidekick, atau, kaya di Into The Woods, a singing husband… thing.

Jadi James Corden memainkan tokoh ini dengan suaranya. Course, dia mainin tokoh yang seekor… kelinci,  what do you expect. Semua hewan-hewanan di film ini CGI, tapi cukup kelihatan imut untuk jadi sesuatu yang loveable, dan… well, cute.

Anyways, Peter and his family lives in a tiny village in the country. Dia tinggal di dalam pohon yang berada tepat diantara kedua rumah. Salah satu penghuni rumah ini merupakan pelukis perempuan, yang sangat sayang sama Peter dan 4 kelinci imut lainnya. Nama Kelincinya siapa aja, aku lupa, tapi intinya ada 3 adik perempuannya Peter dan 1 sepupu-nya. (Ironically sepupu laki-laki ini dibuat gendut, kaya karakter sidekick yang James Corden sering mainin).

Nah, plot story-nya twist si pelukis yang sayang sama kelinci ini, dan ketemu sama cowo, who apparently rather dislikes rabbits, and wildlife. Karena dia control freak. Jadi, si kelinci-kelinci yang imut ini pretty much ditikung cowo lain. Kasian sekali ya…

Jadi sepanjang film ini, Peter Rabbit and his family and friends, seringkali usil untuk get back sama si cowo yang tinggal di rumah sebrang si perempuan “pemilik”-nya kelinci ini. Nah, karena apparently, Rabbits are smart, keusilannya mereka ini sangat-sangat… kebangetan. Ngapain aja, bisa ditonton, tapi siap-siap ngakak, and/or merasa sedih.

Jadi soundtrack alternatif film ini adalah… “You Just Want Attention”… (judulnya sih Attention by Charlie Puth, which is actually a rather good song…)

Deadpool Like Storytelling

Aku mungkin udah stress out beberapa kali (or not), kalau Deadpool ngomong di komiknya, suka ada satu dua strip dia ngomong ke pembaca. (I don’t read/watch Deadpool btw).

Nah, sebenernya sih aku yakin ada banyak lagi film/komik yang juga kaya gini gaya story telling nya, like Comic Book Spiderman for instance. Atau Teen Titans yang chibi-chibi.

Nah, gaya ngomongnya si narrator dan makhluk-makhluk ini juga terbilang satirical (sebenernya yang ngomong ke penonton tuh bukan tokoh di filmnya, tapi narrator-nya). Nah, satirical-nya dimana? Well, since apparently si Narrator teh bacain buku, ada suka content yang di input kaya gini.

“If this is one of those story books, I would definitely bet that Peter’s parents would say *insert wise words here*”

“Unfortunately they said this instead *literally nothing happened*”

Jadi satirical narration, dan style yang semi literal (kaya aku kalau nulis… 🙂 ) sangat menarik untuk ditonton. Dan kalau emang suka sama satire jokes, pasti akan seneng baca buku ini.

Closing Thoughts

(Not a conclusion since this is a review)

Jadi, sebagai closing thought, film ini rada lucu, dan create banyak ironically funny moments, complete with good and funny real life references. Which probably won’t be noticed if you don’t follow James Corden’s stories, dan to top it off, kalau ini diliat dari perspektif berbeda, bisa memberi insight untuk real life, and super complicated stuff.

Kaya apa? As usual, colonialism, Plato and his ideal world, Averroes’s law of philosophy, stuff, more stuff, and more more stuff. Kenapa ada banyak stuff ? Itu sebenernya kubebasin buat miss/mister reader untuk bayangkan sesudah menonton film ini.

Meski bisa diliat dari kacamata yang membuat film relatif simpel ini makin rese, anak-anak juga pasti suka nontonnya, karena, kelinci itu imut, dan lucu. Plus tingkah laku mereka bisa buat anak-anak yang rada gedean ketawa juga. Whilst still providing funny references for grown ups to enjoy.

The movie was good. It should overall satisfy your entire family…

Regardless, hope you enjoyed this (very) short article!

Pandora Escape Room Challenge: Prep Up And Try!

Pandora Escape Room Challenge: Prep Up And Try!

Serem lhooo… Pandora Escape Room ini sedikit menyeramkan, tapi at the same time juga… YAH gitu doang seremnya. Ga kok, ga serem… Kalau mas-nya bilang serem, mungkin harus samakan dulu definisi seremnya…

Anyways, abis kemarin membuat janji pas main Pandora di IG… (doing that for the discount, dan akun IG Dikakipelangi bukan aku yang manage, itu Bubi… aku masih ngerasa gak perlu :V)

Jadi, kemarin sih lumayan mind boggling puzzle-nya tapi fact is, ada faktor susah, tapi ga susah… (okay ini paradoks) mungkin susah ini terjadi purely gara-gara sebel, dan kangen sama yang namanya proper lighting, and/or panas (atau di ruangan ber AC, dingin).

Well, mungkin aku karena ga boleh ngasih ONE BIT spoiler mengenai satu pun game-nya, tapi aku udah mainin Temple of Doom, sama Amityville. Both of which aren’t scary, karena, aku punya definisi seram yang beda, jadi mungkin kalau mau nyobain Pandora ini bisa dimulai dengan… Well, ini bukan review sih… Aku kepengen ngereview, tapi karena aku ga bisa keep secrets, entar yang ada keluar spoiler, and artikel ini disuruh didelete sama pihak Pandora.. Let’s make sure that doesn’t happen.

On the subject of the article! Inilah hal-hal yang harus disiapkan kalau mau nyobain Pandora… tanpa panik.

A Team!

Captain Obvious Strikes Again!

Kalau mau main challenge ginian jangan lupa culik (baca: undang/ajak) tim… Since satu, minimal berdua, dan dua, kalau berdua kayanya bakalan gagal. Disarankan ada setidaknya berempat di sebuah tim. Kalau kelebihan juga ga bakalan beneran efisien sih, mungkin angka idealnya 3-5.

On top of that, bawa orang yang menurutmu pintar… since, kemungkinan ada beberapa jenis puzzle yang kamu perlu crack… Kalau kamu ngebawa team member yang end up ngedistract member lainnya ya gitu deh, malah kacau. On top of that, usahain juga bawa orang yang bisa back up your weaknesses.

Apa yang dimaksud dengan back up weak spots mu? Well, Bubi itu pinter kalau disuruh ngecrack kode macam huruf. Begitu disuruh angka, Bubi ga bisa sama sekali. Untungnya ada aku untuk hitung menghitung. Yeah, kalau bawanya orang yang jago pola semua, ketemu puzzle yang perlu ngayal yaaaaa…. sekali lagi, gitu deh…

Also, jangan juga… bawa orang yang kalau ketemu gambar yang mirip bilang begini… “It all looks the same to me!” It doesn’t help… really, it doesn’t.

Untungnya sih, ada Walkie Talkie yang bisa solve masalahmu. Kalau stuck ya tanya mas-nya aja. Ga ada limit pertanyaan kok

Define Your Fear

Cari dulu definisi menakutkanmu apa… Untungnya di Pandora ini gak ada yang namanya Jump scare, yang biasa nakutin Bubi. Ga ada surprises, paling ada… a bit of a creepy sound effect. Terus ada exposure ke hate crime, yang kejam. Worst case paling ada flickering lights.

Kalau definisi ketakutanmu adalah mendengar musik seram, tidak disarankan masuk. Kalau kamu claustrophobic juga sama, jangan masuk. Kalau kamu takut sama hate crime yang kejam, jangan masuk. Kalau kamu ga suka terpisah sendirian, jangan masuk…

Kayanya untuk apa saja jenis ketakutan orang udah kecover, sekarang ini jenis ketakutan yang probably aman.

Kalau kamu takut lihat darah, gapapa, chances masuk juga aman, ga banyak darah kok di dalem. Kalau kamu takut sama kejutan yang serem, masuk aman kok, gak ada jump scare. Kalau kamu takut sama team member kamu, jangan undang orang itu… Kalau kamu takut sama hewan liar, gapapa masuk. Kalau kamu takut gelap, juga gapapa masuk, ruangannya ga terlalu gelap kok.

Otherwise semuanya aman kok. Wait lupa satu hal… Kalau kamu takut didalam ruangan itu terlalu lama, sama juga, jangan masuk.

Train your Brain

Sometimes your body too though…

Puzzle di dalem ada yang rada susah, kalau ga latihan mind games sama brain games juga kayanya didalem bakalan susah. Kalau merasa kurang pintar, tidak disarankan masuk, you’re just wasting your money there…

(Oops kedengeran kejam). Maksudku, kalau merasa ga bakal bisa crack puzzle-nya, ada dua opsi, yaitu bawa temen yang mungkin bisa, or just… don’t enter. Ketemu puzzle yang susah itu rada nyebelin, considering puzzle itu jadi susah gara-gara banyak distraksi di ruangan itu. Nomor satu adalah faktor lampu yang kadang gelap, terus ada suara yang keras dan mengganggu.

Kalau ada yang nanya aku, puzzle ini jadi susah karena si Pandora udah berusaha mainin indra kita biar kita ngerasa panik dan bingung di dalem. Puzzle-nya sih cukup gampang…

Most puzzle di dalam clue-nya udah tertulis sih, tinggal cara kita aja connect the dots between 1 and 2 to add it up. Tapi aku ga yakin semua orang bisa connect the dots, atau even ngerti beberapa hal didalem ini. Also, mungkin kalau iseng, bisa polish up your english a bit. It’ll helo

Thankfully ada walkie talkie, sekali lagi ada backup plan kalau bener-bener males mikir, atau udah kepengen keluar.

The Review… In A Nutshell

It’s fun, tricky and mind boggling… Not scary

The Review… For Real

AH… Fun… Well, sebenernya, Pandora ini udah sangat bagus karena maksa pemain make semua indra, atau nutup beberapa indra lainnya biar ga overthink atau distracted. It basically opens our head to feel other senses to actually pass.

Ini bagus, karena banyak orang cuman make sense raba, dengar dan lihat. Kalau kita ga feel, atau ngerasain warmth juga, we won’t pass. Banyak orang ga ngerasain warmth atau even mengendus sesuatu. Jadinya ya gitu dehhh… (aku overuse ya gitu deh karena ga boleh ngasih spoiler ya).

On the other side, kita ga boleh biarin imajinasi kita run too wild, karena entar mestinya kita connect the dots between 1 and 2, malah nyambungin 1 dan 4. Jadi basically, Pandora’s challenges forces some people to open up their logic and ignore some of their main senses.

Sense utama kita dimanfaatkan sebagai distraksi sama Pandora, dan alhasil kita ga bakalan bisa fokus maksimal. Experience ini berguna lhooo.

Final compliments to Pandora… Thanks for the Walkie Talkie, dan mas-mas yang sabar mau dengerin complain-an kita. Another plus side adalah ternyata mas-nya juga disuruh kerjain semua level Pandora sendiri baru boleh diterima kerja. Jadi pasti mas-nya tahu sendiri apa yang dirasain sama orang-orang yang lagi di dalem dan mungkin ketakutan itu…

In Conclusion

Try new things in life, explore things you’ve not seen yet…

Setiap episode Pandora berisi sensasi dan challenge baru, dan sama dengan challenge baru itu, kita harus mau menggunakan set of skills yang baru, atau menggunakan senses yang kita jarang pake. I believe we’ve got 12 senses, lets use all of them. (Bubi harusnya bisa jelasin ini nih…)

Now, jangan takut mencoba hal baru, karena percaya sama aku… The Scariest Moment Is Just Before You Start.

A species’s greatest fear is the unknown. Let’s not let fear take over and take away our enjoyment and cause paranoia to us. Semoga seneng baca artikelnya!

[REVIEW HOTEL] Intercontinental Bandung Dago Pakar

[REVIEW HOTEL] Intercontinental Bandung Dago Pakar

Haiiiii, perjumpaan pertama di review hotel nih, moga-moga ke depannya bakal sering deh berbagi pengalaman tentang hotel ini…

Lokasi hotelnya sendiri sebetulnya masih di Bandung juga, mungkin pada bingung, lah ngapain nginep di hotel di Bandung juga? bukannya emang tinggal di Bandung? Ini review berbayar yah?

Tenang, ini bukan review berbayar kok, review mbayar malah, emang kebetulan aja ada  keluarga yang berkunjung ke Bandung dan mengajak kami turut menginap di sini juga, jadi berangkat deh.

Kami menginap selama 1 malam, check in tanggal 18 Juni 2017, check out tanggal 19 Juni 2017.

Ok, setelah menjemput rombongan di Stasiun Bandung, kami pun meluncur ke lokasi dan tiba sekitar pukul 1, tapi dikarenakan hari minggu dan banyak tamu yang late check out, maka beberapa kamar ada yang belum siap dan kami pun menunggu di lobby. Ruang tunggu lobby memiliki pemandangan hamparan kota Bandung dari sudut pandang perbukitan Dago, dan untuk anak-anak ada ruang tunggu khusus dimana anak-anak bisa bermain menghias kue, membaca buku ataupun bermain konsol game. Dinding lobby juga berfungsi sebagai galeri lukisan, sayangnya file foto lukisan yang dipajang milik saya corrupt sehingga tidak bisa diunggah.

                                         Pemandangan dari teras lobby / ruang tunggu

Akhirnya setelah kamar siap, kami pun menuju kamar, saya sendiri langsung menuju ke kolam renang untuk bersantai sore dan berenang. Dan mengingat di perbukitan Dago cuacanya dingin, tentunya yang diharapkan adalah kolam berair hangat, ternyata suhu kolamnya malah sangat dingin sekali, brrrr, ah mungkin pagi hari dibuat hangatnya, itu pikir saya, tidak lama berenang dan bermain bersama Neneng, saya pun bersantai sore di kursi pinggir kolam. Sambil bersantai, saya pun mengagumi arsitektur bangunan hotel ini sambil bertanya-tanya siapakah arsitek yang merancangnya (mungkin bisa menjadi masukan bagi hotel untuk memberi kredit pada arsitek yang yang merancang bangunan hotel mereka, melalui plakat di lobby mungkin)

                                                                                      Suasana di pinggir kolam

 

                                                 Cantik kan bangunannya? foto diambil dari kolam renang

Beres berenang dan bersantai sore, kami pun kembali dan bersiap-siap untuk berbuka puasa. Sepulang berbuka puasa dan berjalan-jalan, kami pun kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk beristirahat, tetapi neneng punya ide lain, neneng ingin bermain bubble dulu sambil membersihkan diri 😂😂😂

                                                                         Neneng bermain bubble sebelum tidur

Karena saat itu bulan Ramadan, kami mendapat informasi bahwa bila tidak mencapai 20 pax, maka Sahur akan dikirimkan ke kamar-masing, walaupun kemudian karena kuota tersebut tercapai, maka sahur pun diadakan di restoran di lobby. Saat sahur, kami pun turun. Menu yang tersaji cukup lengkap, walaupun tidak semua menu sarapan tersedia (toh mubazir juga sepertinya kalo disajikan full).

Di pagi harinya, karena saya harus bekerja, saya pun meninggalkan hotel lebih dulu, sambil tidak lupa mengambil satu foto kota Bandung di pagi hari

                                                                                   Kota Bandung di pagi hari

Dan berikut rangkuman dari kunjungan kami ke hotel ini :

(+)

  • Kenyamanan kamar yang sangat baik, mulai dari tempat tidur, kamar mandi hingga daybed
  • Ambience hotel yang sangat nyaman
  • Kesejukan daerah perbukitan Dago
  • A beautiful, well designed and well built building

(-)

  • Kolam yang dingin. Kolam tidak harus hangat terus menerus kok, karena agak kurang ramah lingkungan untuk menyalakan pemanas air terus menerus, tapi sedikit kehangatan wouldn’t hurt sepertinya 😀
  • Kesigapan waktu check in. Mungkin ada faktor timing juga, tapi mengingat perjalanan menuju ke sini tidak terlalu dekat juga dengan pusat kota, mungkin bisa lebih ditingkatkan efisiensinya

+ / – untuk menu sarapan tidak diberikan, karena belum merasakan full spread breakfast yang biasa disajikan, maybe next time 🙂

Ulasan Spider-Man Homecoming

Ulasan Spider-Man Homecoming

Hi, ulasan ini mungkin mengandung spoiler, jadi buat yang belum nonton, awas ranjau ya….

Yang belum nonton tapi emang kepo, silakan dilanjut, hehehe

Ulasan diisi oleh 3 kontributor kami, Babah, Bubi dan Jaja, jadi semoga bisa mewakili pandangan tentang film ini dari 3 sudut pandang yang berbeda, enjoy!

Bubi

Kalau Bubi sih mengingatnya cuma dengan 3 kata aja, Geek, T-shirt and Patient. 

Faktanya film ini anak-anak banget ya.. Jadi kayanya dikasih rating PG juga ga masalah deh. Meski memang film yg ada adegan kekerasannya biarpun cuma seulas mah bagusnya tetep PG-13 ya..

Dan senengnya karakter Peter Park digambarin masih anak-anak banget plus super geek-ish yang kemudian di deskripsikan sama Babah sbg “… a way to gain more money from their geeky rich fans..” or something like that lah ya.. Intinya karakter PP dibikin geek supaya para geek merasa lebih mudah relate dan mau menghabiskan lebih banyak uang utk belanja merchandise-nya.

Well, that maybe true in a way but it also work on the movie. It’s nice to see all the weakness and the ‘babysitting theme’ running around here and there through out the movie plus the I’m a geek and its cool swag. 😅😅

Segitu aja kayanya yak

Soalnya Neneng udh manggil-manggil minta puding.

Jaja

For the record, ini film Spider-Man pertamaku yang aku tonton dengan mengikuti ratingnya yang PG-13 dengan benar. Aku belum lebih dari 2 tahun sejak boleh nonton film superhero. Kenapa? Karena sebagian besar film superhero ratingnya PG-13, bukan untuk anak-anak lho…

Oke sekarang ke filmnya… Aku ga nonton sama Babah Bubi, tapi aku nonton sama 2 sepupuku. Sebelum film, Bubi suruh aku cari T-Shirt. Awalnya aku bingung, tapi ternyata tidak sampai 15 menit filmnya mulai, aku langsung tau T-Shirt yang Bubi maksud. Di T-Shirt itu ada slogan “The Physics Is Theoretical, But The Fun Is Real“. Begitu lihat, aku yang memang geek juga, seperti Peter Parker, langsung “WOW!!! I want that shirt

Komentarku ke Peter Parker portrayal Tom Holland sama kaya Bubi. Peter Parker di komik, dari dulu memang selalu punya Geek Persona. Tapi, baru pertama kali portrayal Peter Parker sukses pull off  geek-nya.

Plot-wise juga menarik, awalnya kukira alur ceritanya akan cenderung simpel, tapi writer ini sukses pull off plot twist yang mengagetkan. Spoiler? Jangan deh, nonton aja

Oh iya, satu hal lagi yang membuatku lebih suka Spiderman Homecoming dibandingkan yang sebelumnya. Di semua comic book, dan Marvel Cinematic Universe, meski sudah di reboot berkali-kali. Selalu ada scene atau strip komik yang sama. Scene yang kumaksud itu pas Uncle Ben, meninggal. Ini sudah jadi running joke sejak pertama kali Uncle Ben meninggal sampai sekarang. Untungnya di versi ini, Uncle Ben belum dipastikan identitas atau keberadaannya. Thumbs Up For Not Making These Memes Worse! Untungnya, Father Figure yang Peter Parker butuhkan, diwakili oleh Tony Stark, atau Iron Man.

Jaja Out 😀

Babah

Apaaaa? Reboot lagi? Itu tanggapan pertama saya saat mendengar kabar tentang akan bergantinya pemeran Spider-Man (ini sebelum kemunculan Spidey di Civil War). Tom Holland adalah pemeran Spidey ketiga di layar lebar setelah Tobey Maguire dan Andrew Garfield. Bahkan meme yang beredar pun berkelakar bahwa makin kesini, Spider-Man makin muda (pun dengan Bibi May).

Tapi mungkin reboot kali ini karena akhirnya Sony Pictures (sebagai pemegang lisensi film Spider-Man) paham juga bahwa kalo mau untung lebih gede dan filmnya ga dikutuk fenboi terus, ya harus kerja bareng Marvel Studios, bonusnya jadi bisa masuk ke Marvel Cinematic Universe juga deh….

Langsung bahas ke filmnya, di awal film langsung muncul Michael Keaton, yang udah nonton The Founder, pasti langsung sebel gitu liat dia nongol, tapi langsung waspada sambil mikir “Kan ga mungkin nanggap Michael Keaton buat jadi figuran doang, pasti nanti jadi penjahatnya… ngahahaha”. Jadi, Adrian ini awalnya dapet kontrak dari Pemkot New York buat beres-beres limbah alien, udah sengaja invest mobil dan lain-lain, tapi malah terus digusur sama Pemerintah Federal, inilah yang bikin dia sebel dan mulai mencari peluang baru 😀

Lanjut ke Peter, setelah selesai membantu #TeamIronMan di Civil War, Peter dipulangkan oleh Tony, dan Happy menjadi LO antara Peter dengan Tony. Peter pun mencoba peran baru menjadi pahlawan akamsi di Queens, dengan segala suka dukanya.

Dan ketika Peter bertemu dengan perampok ATM yang menggunakan senjata ajaib dengan teknologi alien, Peter mulai melacak asal muasal senjata tersebut, dan dari situlah filmnya berkembang.

All in all, film ini sangat menghibur, filmnya sih ringan, jadi cocok ditonton bareng anak-anak, dan untuk para moviebuff, sama halnya dengan Deadpool, film ini juga memiliki referensi ke film Ferris Bueller’s Day Out (seriously, yang belum nonton Ferris Bueller, segerakan).

Babah over and out.

Jadi begitulah ulasan Spider-Man Homecoming ala-ala kami, hatur nuhun 🙂