Tag: psychology

Psikologi: Shortcut Slip-up

Psikologi: Shortcut Slip-up

Selamat pagi lagi, kembali dengan tulisan dariku.

Aku memutuskan untuk pause dulu sebentar serial Road Trip-nya, dan kembali ke sedikit tulisan psikologi.

Dengan era Google Maps, Waze, dan aplikasi pencari rute kita biasa menemukan jalan-jalan kecil yang kemudian kita ingat kembali dan gunakan di kemudian hari ketika sedang tidak menggunakan aplikasi tersebut. Bahkan, suka ada saat dimana kita memilih untuk menggunakan jalan potong meski sebenarnya kita tidak perlu memotong jalan.

Namun, ada efek psikologis yang meliput jalan potong (atau shortcut) tersebut. Terkadang, kita merasa terlambat, terkadang kita merasa kita perlu memotong jalan, meski waktu yang dihabiskan sama saja.

Bingung? Mari diperjelas di bawah…

Time Scarce

Waktu, tidak semua orang punya waktu yang cukup untuk melakukan semua hal, dan terkadang, kita panik jika kita merasa kekurangan. Kepanikan ini sering kubahas ketika menggunakan S-word di atas (scarce/scarcity, bukan yang satunya lagi), dan seharusnya sudah bisa dimengerti.

Ketika kita kekurangan waktu, kita panik, ketika kita panik, kita bisa dan akan membuat keputusan yang salah. Ketika kita membuat keputusan salah ya… 🙂

Nah, jadi, anggap saja kita biasa melewati jalan potong, dan kita merasa bahwa kita menghemat 5 menit karena kita melewati jalan potong tersebut alih-alih melewati rute utama yang cenderung padat. Karena kita memutuskan untuk memotong jalan sebelum berangkat, kita bisa berangkat lebih telat, menggunakan waktu 5 menit tadi untuk sarapan.

(Tentunya tidak semua orang menggunakan waktu 5 menit untuk sarapan, dan juga tidak semua orang memiliki kemampuan dan rela untuk merencanakan sesuatu sampai titik menit yang cukup detil)

Ya, jalan potong dan rute alternatif membantu kita.

Meski, perasaan terbantu itu nyata, hampir tidak ada perbedaan jika jalanan berada dalam kondisi kosong. Mayoritas jalan potong hanya menghemat 100-500 meter, dan kurang lebih, itu menghemat 1-2 menit, mungkin lebih sedikit. Ada statistik yang menyatakan, bahwa jalan potong tidak sebenarnya membantu waktu tempuh yang kita gunakan.

Namun, statistik itu tidak diambil di Indonesia, (apalagi kota kaya Jakarta) jadi, sejujurnya, jalan potong memang membantu, namun, ketika jalanan kosong, fungsi jalan potong adalah sebagai “obat” atau “modifier” untuk membuat kita merasa lebih baik, dan santai.

Shortcut Slack

Slack. (sekali lagi, aku belum menemukan padanan bahasa Indonesianya). Perasaan yang kita dapatkan ketika kita punya suatu sumber daya, dan jumlahnya lebih dari yang kita butuhkan. Slack yang pas membuat kita merasa tenang. Sayangnya, terlalu banyak? Kita jadi malas dan tidak membuat keputusan yang dipikirkan luar-dalam. Terlalu sedikit? Kita jadi panik dan membuat keputusan dengan terburu-buru.

Dan, seandainya perasaan ini adalah uang, kita bisa membelinya dengan melakukan hal-hal yang mengurangi konsumsi sumber daya. Contohnya, dengan… Ya, menggunakan jalan potong.

Pengguna jalan potong (pada umumnya), atau pengguna aplikasi pencari rute, biasanya merasa terburu-buru, mereka merasa bahwa mereka kekurangan Slack, mereka tidak tenang, mereka takut mereka akan terkena macet, atau datang terlambat, jadi mereka memberikan kepala mereka sebuah obat dengan melewati sebuah jalan potong untuk menghilangkan perasaan panik tersebut.

Are we Clever?

Jika kita berbicara mengenai umat Indonesia, terutama yang tinggal di kota-kota macet seperti Jakarta, atau Bekasi, mayoritas manusia akan mengeluarkan respon dan rencana yang mirip.

Mereka tidak ingin merasa terburu-buru, kecuali memang sedang terpaksa, mereka tidak ingin merasa kesulitan, dan mereka ingin semua hal berada dalam kondisi sebaik mungkin.

Seperti disebutkan di atas, mayoritas orang yang menggunakan jalan potong memilih rute tersebut karena mereka memang sedang merasa tergesa-gesa, dan perasaan tergesa-gesa hanya terjadi karena perencanaan yang buruk.

Untungnya, perencanaan buruk tersebut bisa dirasakan, dan mesti didapat dari perasaan. Tidak ada cara absolut untuk menghindari perasaan terburu-buru atau panik. Berikut adalah 3 jenis orang yang menggunakan jalan potong. Sayangnya, ketiga pengguna jalan potong ini memiliki kekurangannya masing-masing… Dan, komentar serta tangkapanku… hanya satu dari 3 jenis yang bisa terbilang “pintar” .

The Emergency Runners

Jika anda terpaksa, atau memilih untuk melewati jalan potong sesekali, dan hanya melewati jalan potong ketika terburu-buru, anda masuk ke golongan pertama.

Golongan Emergency Runners ini merasa segala sesuatu perlu dikerjakans saat itu juga karena mereka tidak pernah merencanakan apa-apa dengan benar. Mereka selalu panik, selalu khawatir akan hal buruk, dan tidak berhenti untuk berpikir sebelum mengerjakan sesuatu.

Mereka tidak merencanakan rute yang mereka akan lewati, mereka akan menentukan rute ketika sudah berangkat, atau ketika sudah di jalan dan bingung akan pilihan yang mereka akan ambil.

Emergency Runners akan selalu merasa hal yang mereka perlu lakukan urgent dan mereka hanya akan melihat satu langkah ke depan, setiap masalah diselesaikan satu per satu dengan panik.

Mereka tidak pernah mendapatkan perasaan scarcity, tetapi, mereka akan menyelesaikan segalanya dengan benar, dan (semoga) on-time, meski, ya, dengan terburu-buru dan tanpa perasaan santai. Hidup mereka akan cepat stres jika tidak dimanage dengan baik…

Jalan potong digunakan emergency runner karena mereka merasa perlu melewatinya. Jika mereka tidak melewati jalan potong, mereka akan terlambat.

The Slack Creator

Slack Creator.

Jika Emergency Runners melihat hal hanya 1 hal ke depan, slack creators memutuskan untuk memanfaatkan semua slack yang mereka punya sekarang, untuk menciptakan momen-momen slack ke depannya.

Mereka butuh waktu diam 5-10 menit sebelum ada kesempatan untuk melihat apa yang akan mereka lakukan sampai siang atau malam hari. Mereka akan sedikit bernapas, lalu mereka akan menilai, mana opsi yang paling baik?

Para Slack Creator memutuskan untuk melewati jalan potong kapanpun mereka bisa, meski sebenarnya, mereka tidak perlu untuk memotong jalan.

Jika bingung, kuberikan saja contoh skenario.

  • Rudi harus sampai ke kantor pukul 8.00 pagi.
  • Ia bangun pukul 6.45 .
  • Karena ia ingin mandi dengan santai, ia memutuskan untuk mengambil jalan potong saja. Ia tidak menghitung, tapi karena ia butuh perasaan santai, ia akan melewati jalan potong. Semua jalan potong yang bisa ia lewati.
    • Dalam perasaannya, ia bisa sampai kantor dalam 15 menit perjalanan kebanding 25 menit yang biasa ia tembuh.
  • Karena ia merasa ia dapat sampai kantor dalam 15 menit, ia mandi sampai pukul 7.00 .
  • Ia siap berangkat pukul 7.10. Hmm, ada waktu cukup banyak.
  • Ah, sarapan dulu deh. Bikin yang rada repot juga gapapa.
  • Ia memasak… Umm, pancake misal! 10 menit untuk memasak, dan sekarang jam berada di 7.20. Hmm, aku santai. Makannya 10 menit juga bisa.
  • Karena ia makan dengan santai, ia melakukan cek-cek sosmed (yang tidak diperlukan) saat makan, dan waktu makan bertambah 5 menit lagi. 7.35 ia beres makan.
  • Ia berangkat langsung pada 7.37 sesudah memanaskan mobil dan sampai kantor tepat waktu.
    • Perubahan dari jalan potong hampir insignifikan, hanya berbeda 2 menit

Tetapi, jika ada sedikit kesalahan dari rencana ini, misalnya, perlu mengisi bensin, atau ada kemacetan yang tidak diduga, seluruh rencana ini buyar karena terlalu banyak slack yang digunakan oleh para slack creator.

Mereka merencanakan segala sesuatu agar bisa dikerjakan dengan santai, mereka sudah siap dan bisa melihat kapan ada waktu yang bisa dihemat, meski nyatanya, penghematan waktu itu hampir tidak ada, dan mereka merasa terlalu santai… Sedikit tekanan diberikan, dan POP! Balon mereka meledak.

Jalan potong berada untuk menghemat waktu dan memberikan ketenangan psikologis, agar mereka tidak perlu tergesa-gesa.

The Logical Planner

Ah, planner. Menurutku, jenis orang yang memanfaatkan slack seperti Planner tidak begitu buruk. Mereka merencanakan sesuatu dengan cermat, dan mereka adalah campuran antara kedua golongan. Mereka tidak punya sistem

Mereka merencanakan segala sesuatu dan benar-benar mengecek berapa banyak waktu yang bisa dihemat jika memotong jalan.

Huh, jalanan kosong… Aku memotong hanya akan melewat 2 menit, ah, ya sudahlah.

Tidak seperti kedua jenis orang lain, mereka akan mencoba menggunakan jalan potong dan benar-benar mengukur perbedaan waktunya, karena mereka berusaha mematikan psychological bias milik mereka, keputusan yang mereka buat lebih logis dan normal.

Biasanya mereka juga punya rencana emergency seandainya mereka terlambat, dan mereka siap untuk menghemat waktu dan menciptakan slack (bahkan dalam tekanan) kapanpun mereka bisa…

Kesimpulan

Yah, terlambat itu terasa payah, tetapi, sekarang, anda perlu menyadari… Jika jalanan kosong, jangan mau tertipu oleh Shortcut Slip-up dan terpeleset ketika anda merasa perlu mendapat bantuan psikologis.

Nyatanya, jika anda menggunakan logis-mu, anda tidak akan terlambat. Berencanalah dengan lebih baik 😉

Serial Self Help: Kekurangan.

Serial Self Help: Kekurangan.

Semua tempat dapat ditempuh dengan jalan kaki. Jika anda punya waktunya.

Percaya atau tidak, manusia harus dan akan mengalami saat dimana anda kekurangan sesuatu, baik itu kekurangan teman, kekurangan waktu, kekurangan uang, kekurangan sabun, atau kekurangan energi.

Jika anda tidak memiliki satu saatpun dimana anda memiliki lebih sedikit dari yang anda butuhkan, anda tidak akan berusaha terlalu keras. Kita membutuhkan perasaan kurang, dan kita tidak boleh merasa cukup, atau merasa lebih dari cukup terlalu sering.

Tulisan self help ini akan terkesan kontradiktif dengan beberapa opiniku, namun, yang aku maksudkan dengan “perasaan kurang” disini adalah kekurangan hal-hal yang tidak termasuk dalam materi seperti sumber daya atau uang.

Mari kita masuk.

Jumlah Rata-rata

Apa yang seseorang akan lakukan jika anda perlu mencuci muka anda sehari dua kali, dimana satu botol berukuran 30 ml dapat bertahan selama 2 minggu?

Pada umumnya, jika botol tersebut memang memiliki volume 30 ml, orang-orang akan langsung berpikir bahwa tiap kali kita mencuci muka, kita menggunakan 1.07 ml (30 dibagi dengan 28, dimana 28 berasal dari 14 hari dan 2 kali penggunaan tiap harinya).

Nyatanya, tidak seperti itu.

Manusia pada umumnya menggunakan 20% lebih banyak ketika botol tersebut terisi dengan penuh, atau diatas 70%, menggunakan jumlah rata-rata, ketika isi botol berada dalam kisaran 25-65%, dan menggunakan 30% lebih sedikit ketika isi botol di bawah seperempat.

Perasaan aman memberikan sensasi seolah-olah kita tidak butuh menghemat, toh kita punya lebih banyak. Dan sesudah jumlahnya bersisa sedikit, anda akan mengurangi porsi anda lebih signifikan, demi memenuhi kuota kebutuhan, dan agar jumlah benda yang anda gunakan tidak habis.

Terdengar sederhana? Tentu saja. Ketika kita masih menggunakan angka seperti ini, kita masih bisa menganggap satu dan lain hal terlalu sedikit, dan hal yang lain terlalu banyak, karena biasanya kita merasa tenang saat ingin melakukan hal sepele seperti ini.

Bagaimana kalau kita merasa bahwa kita kekurangan waktu? Tidak seperti sabun muka, ketika anda tidak punya cukup waktu anda tidak bisa menghemat dan berharap tenggat waktu anda dapat bertahan sedikit lebih lama saja…

Terlalu sedikit? Tambahkan? Kurangi?

Waktu.

Tidak seperti uang, sabun, atau sumber daya, cara kita menghemat tidak dapat dengan mengurangi. Kita tidak bisa mengurangi waktu yang ada, atau waktu yang kita pakai. Jadi, bagaimana cara kita mencermati kurangnya waktu?

Oh, gampang.

Mungkin kita tidak bisa meminjam waktu, tidak sama seperti yang di atas sebagai solusi pendek, tapi kita bisa melakukan sesuatu yang lebih efektif, suatu perasaan yang diberikan secara langsung oleh otak kita. Perasaan itu adalah tekanan. Tekanan ini mengubah dan mengatur anda, tergantung pada aktivitas yang anda sedang lakukan.

Seorang mahasiswa yang diberikan tugas pada tenggat waktu akan mengambil jatah waktu main, atau istirahat miliknya untuk mengerjakan tugas tersebut, dan tentunya, waktu yang akan diambil akan lebih banyak semakin sedikit dan cepat tenggat waktu yang diberikan.

Tekanan yang ada untuk mengerjakan tugas ini berdasarkan tenggat waktu akan mempercepat proses pengerjaan kita. Berdasarkan riset, mahasiswa yang diberikan tugas untuk membenarkan kesalahan gramatikal pada sebuah essay akan menemukan lebih banyak kesalahan jika waktu yang diberikan padanya lebih sedikit.

Riset pasnya memberikan data seperti ini.

  • Tenggat waktu: 2 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 37% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 1 minggu, jumlah kesalahan yang ditemukan, 52% dari total kesalahan
  • Tenggat waktu: 3 hari, jumlah kesalahan yang ditemukan, 78% dari total kesalahan

Tekanan memberikan kita performa yang lebih tinggi dari seharusnya, dan tekanan ini adalah alasan anda bisa mengerjakan sebuah tugas yang pada kondisi santai membutuhkan waktu 6 jam, dalam waktu 1 jam. Namun sayangnya, tekanan yang sama dapat mengurangi performa anda juga.

Ketika anda tidak mengerjakan sebuah tugas yang sedang berada dalam tenggat waktu, otak anda akan terus menerus memberikan perintah untuk memulai pengerjaan tugas tersebut, dan sampai anda membereskan tugas tersebut, tidak akan ada hal yang membuat anda merasa nyaman, meskipun itu hal seperti memakan makanan favorit anda. Otak yang normal akan menyuruh anda untuk terus menerus kembali ke tugas tersebut sampai itu beres.

Senjata Makan Tuan

Sayangnya, kondisi ini bisa berujung buruk…

Pada kondisi biasanya, ini hal yang baik. Stimulus ini memberikan anda perintah untuk bekerja dan untuk menjadi lebih produktif. Namun, jika seseorang memiliki banyak pikiran dan banyak hal untuk dikerjakan, ini akan membuat anda masuk dalam proses yang namanya… Juggling. Pikiran anda akan terus menerus memberikan stimulus untuk mengerjakan suatu tugas. Sayangnya, sebelum tugas itu beres, anda sudah akan kembali lagi dan stimulus yang lain memberikan anda peringatan untuk mengatur uang di rumah tangga anda. Sebelum itu, stimulus yang lain memperingati anda untuk mengerjakan poster yang anda sudah akan kerjakan sebagai poster freelance.

Sebelum masalah ini beres, anda melempar masalah itu, dan selama bola tersebut di udara, anda diingatkan akan masalah baru.

Ini alasan manajemen waktu TIDAK sepenting manajemen kesadaran yang memang berada di level subconscious, tapi tanpa adanya peringatan dari kita sendiri untuk tidak melempar bola dan memutar masalah, kita hanya akan memperlambat produktivitas kita sendiri, dan kita tidak akan sempat mengatur waktu untuk melakukan suatu hal yang memang produktif.

Jadi, jika anda merasa tertekan untuk menyelesaikan 6 tugas sekaligus… Jangan pikirkan tugas lain saat mengerjakan satu tugas. Masukkan seluruh kesadaran anda ke satu tugas tersebut.

Terowongan

Tunneling.

Ketika anda tidak punya cukup waktu, tekanan bisa sekali lagi menjadi sebuah senjata makan tuan. Dalam proses bernama tunneling ini, anda akan melupakan hal yang seharusnya anda kerjakan segera, tapi karena adanya tekanan, anda membuat suatu kesalahan buruk, dan hasilnya, seluruh proses yang sudah anda rencanakan jadi hilang begitu saja, murni karena anda hanya bisa melihat satu cahaya, yaitu masalah besarnya, yang berada di ujung terowongan.

Tunneling adalah sebuah proses dimana otak kita berubah gaya berpikirnya dari pemikiran yang berbasis proses ke pemikiran berbasis hasil.

Ketika kita di dalam tekanan, kita tidak akan berpikir banyak mengenai proses, dan kita akan sepenuhnya berpikir ke hasil akhir. Ini dapat berakhir ke kita melakukan pilihan yang buruk, atau tidak membuat tindakan sama sekali ketika kita memang perlu bertindak.

Sebagai contoh…

Tiap tahunnya, ada sekitar 80-100 petugas pemadam kebakaran yang harus “pergi” ketika bertugas di Amerika Serikat. Ironisnya, 60% dari pemadam kebakaran tersebut meninggal bukan karena kecelakaan pada bangunan yang sedang kebakaran, tetapi karena mereka tidak menggunakan sabuk pengaman, alias… seatbelt.

Oke, mungkin ini terkesan bodoh, atau tidak masuk akal, karena mereka dilatih hingga mereka cukup kompeten dan melupakan seatbelt adalah hal yang… seharusnya tidak terjadi.

Tetapi dalam kondisi darurat, seorang pemadam kebakaran tidak bisa (bukan tidak mau, memang tidak bisa) melihat proses lebih dari cahaya di ujung terowongan yang merupakan api yang perlu dipadamkan. Ini mengakibatkan mereka untuk melupakan hal-hal kecil tapi krusial seperti… seatbelt.

Jadi, jika ada pemadam kebakaran yang meninggal karena tidak menggunakan sabuk pengaman pada serial Fox ciptaan Brad Falchuk yang dikenal dengan 9-1-1 -yang memang dipenuhi kecelakaan tidak masuk akal- itu justru kecelakaan masuk akal!

Oke, mengheningkan cipta dulu sebentar…

Nah, dari sini, seharusnya kita bisa simpulkan bahwa dalam tekanan, kita tidak bisa memilih dan membuat keputusan krusial, terutama yang memiliki dampak long term paling sedikit. Pada umumnya, seorang manusia akan membuat keputusan yang relatif baik dan membenarkan solusi yang ada di depan mata, tanpa mengkalkukasi adanya kemungkinan bahwa solusi jangka pendek tersebut bisa berujung sangat buruk.

Oleh karena itu, jangan buat keputusan ketika anda sedang merasa tertekan, kemungkinan besar anda akan membuat keputusan yang buruk.

Kesimpulan

Kita harus merasa kekurangan.

Kurangnya waktu, kurangnya uang, kurangnya teman membuat kita ingin mencari lebih banyak, dan menghargai apa yang kita sudah punya sekarang, memastikan bahwa kita tidak akan menghilangkan terlalu banyak dari apa yang kita sudah punya.

Ini harusnya perasaan seseorang yang merasa kurang. Menghargai apa yang sudah dia punya dan menghematnya.

Reflek orang-orang yang kekurangan biasanya adalah suatu keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi, bukan menghargai dan menghemat yang sudah ada…

Sampai lain waktu, semoga artikel hari ini dapat dinikmati!

Hubungan Antara MBTI dan Temperamen Waldorf Pt. 1

Hubungan Antara MBTI dan Temperamen Waldorf Pt. 1

Kemarin, sesudah sedikit membahas kepribadian dengan Babah Bubi, aku semacam mendapat ide, dan penasaran… Apakah MBTI dan Temperamen Waldorf berhubungan?

Untuk yang belum tahu apa itu temperamen waldorf… -Karena tentunya, semua orang yang tahu tentang temperamen waldorf akan mengetahui MBTI itu apa-. Temperamen termasuk salah satu teori psikologi dan filsafat paling mendasar, dan diciptakan oleh Galen. Dahulu kala, Galen menyatakan bahwa temperamen adalah sumber penyakit, serta kepribadian.

Ada 4 temperamen, dan karena kita menggunakan Waldorf sebagai patokan, seseorang dapat memiliki 2, atau kadang 3 temperamen berbeda, selama temperamen tersebut bukanlah temperamen yang merupakan kebalikan dari temperamen milikmu.

4 Temperamen adalah, Choleric, Sanguine, Phlegmatic, dan Melancholic. Seorang yang dominan Choleric tidak mungkin menjadi setengah Phlegmatic, dan juga seorang yang dominan Melancholic, takkan memiliki kepribadian Sanguine. Begitu pula, sebaliknya.

Meski ada sedikit mistisisme yang tidak dapat aku masukkan ke dalam artikel ini (artikel ini sebuah artikel ilmiah), dapat dipastikan bahwa temperamen Waldorf ini ada, dan bisa dinyatakan sebagai benar. Disaat yang sama, kepribadian MBTI dapat dibuktikan dengan benar, dan memang takkan kudebat bahwa kepribadian MBTI cukup benar (kasus lain untuk akurasi dari tes MBTI, ada juga artikel mengenai itu… klik disini saja…), tetapi, apakah terkadang temperamen milik kita berkontradiksi dengan MBTI, atau justru, temperamen milik kita makin diperkuat oleh hasil tes MBTI?

Mari baca artikel ini!

Kompas MBTI

Sebelum masuk, kita akan masukkan kompas MBTI di awal artikel sebagai pembanding.

Introvert vs Extrovert
Observant vs Intuitive
Thinking vs Feeling
Judging vs Perceiving

Sekali lagi, silahkan klik artikel ini untuk informasi lengkap…

Apakah Ujian Kepribadian Dapat Diandalkan? Pt. 1

Keempat Temperamen

Berikut ini adalah keempat temperamen Waldorf, jika sudah mengetahui dan/atau tidak ingin mengetahui interpretasiku atas keempat temperamen ini, tetaplah baca, akan ada sedikit perbandingan dengan versi MBTI dari sebuah temperamen.

Choleric

🙂

Maafkan aku Bubi… (Ibuku seorang Choleric berat, jadi… ya begitulah)

Interpretasi Galen

Dahulu kala Choleric terjadi ketika seseorang minum terlalu banyak. Jika mereka kurang minum, mereka akan terkena penyakit Cholera. Oleh karena itu, pada era Yunani, orang-orang percaya bahwa untuk menyembuhkan Cholera, yang dilakukan cukup sederhana, yaitu untuk minum sebanyak mungkin.

Choleric sendiri, pada zaman Yunani digunakan Galen untuk orang-orang ambisius dan berapi-api, seperti Jendral dan Kaisar Romawi yang mengatur kekaisaran amat megah tersebut.

Waldorf Choleric

Seorang Choleric adalah seseorang yang amat-amat-amat kompetitif, dan biasanya sedikit insecure. Pada dasarnya, seorang Choleric juga akan memberikan effort maksimal untuk melakukan sesuatu dan mereka paling senang jika diberi kesempatan untuk memimpin.

Choleric pada dasarnya sangat cocok untuk dijadikan pemimpin, ambisi dan semangat berkompetisi yang mereka punya tidak mampu diganti oleh orang lain, dan mereka mampu melakukan manajemen, serta mengatur hal-hal dengan efisien.

Ide-ide yang mereka miliki juga biasanya jarang dimiliki orang lain.

Sayangnya, seorang Choleric ini memiliki niatan dan keinginan untuk menyuruh seseorang melakukan sesuatu karena sebenarnya ia tidak ingin melakukan tindakan tersebut. Kecuali suatu pekerjaan dianggap sebagai tantangan, maka kecil kemungkinan seorang Choleric akan melakukan sesuatu.

Selain itu, seorang Choleric juga sangat agressif ketika ingin melakukan atau mengerjakan sesuatu, keagresifan si Choleric ini cenderung berbahaya, dan terkadang, seorang Choleric bisa saja rela melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.

Choleric MBTI

Sejujurnya, kurasa dari kompas MBTI, Choleric seseorang cenderung untuk masuk ke Intuitive, serta Judging.

Karena temperamen Choleric cukup cepat saat melakukan sesuatu, ia akan melakukan sesuatu berdasarkan Intuisi kebanding dengan memerhatikan baru melakukan, proses berpikir seorang Choleric akan berdasarkan insting, kebanding pengalaman.

Selain itu, tentunya, agresifnya tindakan seorang Choleric amat Judge-y. Amat cocok menurutku.

Untuk terakhir, kurasa Choleric juga menambahkan sedikit saja Thinking, karena ia akan berpikir dan memastikan suatu tugas terlaksana. Mana ada pemimpin yang tidak berpikir? Haha

Sanguine

Berputar berdasarkan Kompas Waldorf ke arah jarum jam, Sanguine!

Interpretasi Galen

Sanguine, ah… Sebenarnya, Sanguine ini berhubungan dengan darah dan tekanan darah seseorang.

Seorang Sanguine biasanya menjadi seperti itu ketika darah miliknya “terlalu” banyak, dan juga mengalir melewati tubuhnya dengan santai.

Galen dulu menghubungkan Sanguine dengan para aktor teater. Mereka mampu melakukan sesuatu dengan senang, mereka tidak peduli pada apa-apa, dan mereka sangat-sangat sosial.

Pada zaman Yunani, ada sebuah penyakit bernama Sanguinas, itu terjadi ketika kita kekurangan darah, dan darah kita mengalir terlalu lambat. Untuk menyembuhkan penyakit itu, biasanya seorang “dokter” memberikan darah hewan untuk diminum.

Menjijikan.

Waldorf Sanguine

Sanguine pada dasarnya, merupakan Life of the Party.

Mereka orang yang senang menghibur dan juga senang berada di banyak teman-teman lainnya. Mereka sering bercanda, mereka juga cukup karismatik.

Selain itu, biasanya, seorang Sanguine juga amat sangat percaya diri atas diri mereka sendiri, mereka juga merasa yakin bahwa takkan ada hal buruk atau hal negatif yang terjadi.

Tanpa seorang Sanguine dalam lingkaran sosial akan membuat suatu hari yang amat-amat membosankan.

Kurangnya, terkadang mereka terlalu bahagia, sehingga mereka sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kenyataan. Kurangnya kepedulian ini bisa membuat mereka berujung ke mereka melakukan sesuatu sebelum beres, atau bahkan mereka lupa apa yang akan mereka kerjakan.

Seorang Sanguine juga biasanya cenderung tidak punya malu, sanking tidak pedulinya mereka pada keadaan. Intinya, mereka memastikan semua orang senang dan mereka akan melakukan segala sesuatu yang ia anggap menyenangkan.

Sanguine MBTI

Berdasarkan kompas Waldorf (Choleric di posisi utara, Sanguine berada di posisi timur, Phlegmatic di selatan, dan Melancholic di barat), serta kompas MBTI, aku yakin Sanguine paling cocok untuk dihubungkan dengan…

Extrovert, sebagai orang yang mudah berteman dan berkomunikasi dengan orang lain, serta juga (sekali lagi) Intuitive. Kurasa Sanguine lebih cocok dimiripkan dengan Intuisi, sebagai orang yang melakukan sesuatu tanpa pola, dan hanya mengerjakannya. (kadang tidak sampai beres malah)

Sebenarnya, aku ingin menyebut Thinking, dikarenakan polar opposite Sanguine, yaitu Melancholic amat erat dengan feeling, tetapi, Sanguine juga tidak terlalu banyak berpikir. Jadi aku bingung untuk poros MBTI paling lemah seorang Sanguine itu apa…

Aku sendiri merasa, sebagai kepribadian yang amat santai, ia akan cocok dengan Perceiving, karena tentunya, ia tidak terlalu peduli dan akan mau mendengar opini yang berbeda, serta melihat sudut pandang lain.

Phlegmatic

Sekarang, tinggal 2 temperamen lagi 😉

Interpretasi Galen

Sebagai seorang alchemist, Galen percaya bahwa seorang Phlegmatic diciptakan ketika seseorang terlalu sedikit bernafas dan/atau, terlalu banyak makan…

Aku, sebagai seorang millennial percaya bahwa Galen sedikit gila.

Bagaimanapun juga, Galen menghubungkan Phlegmatic dengan para buruh dan/atau budak, yang menjadi korban para Choleric melakukan sesuatu. (ouch, that’s cruel)

Note: Sebenarnya, Galen tidak secara eksplisit menyebut budak, atau buruh, ia lebih memaksudkan sebagai orang yang bekerja, namun, banyak ahli filsafat modern yang percaya bahwa ia memaksudkan pekerja sebagai buruh.

Phlegmatic biasanya cenderung melakukan sesuatu hanya ketika mereka sudah perlu melakukan itu, dan/atau ketika mereka tidak melakukan apa-apa. Sebagai polar opposite Choleric, seorang Phlegmatic lebih banyak berpikir agar ia tidak perlu mengeluarkan upaya terlalu banyak untuk mengerjakan sesuatu.

Phlegmatic dahulu dihubungkan dengan penyakit Phlegm. Apakah penyakit Phlegm? Penyakit yang berhubungan dengan pernafasan, dan jika seorang Phlegmatic terlalu banyak bernafas, maka Phlegm kurasa cukup cocok dan sesuai dengan definisi ini.

Dahulu Galen suka menyembuhkan Phlegm dengan makanan pedas, dan aku tidak mengerti mengapa.

Waldorf Phlegmatic

Seperti kata Galen, seorang Phlegmatic lebih suka berpikir kebanding melakukan.

Phlegmatic pada dasarnya akan berpikir dan berpikir terus sampai ia memiliki sistem untuk melakukan suatu tugas. Ia akan bekerja berdasarkan sistem itu dan ia akan merasa tidak nyaman jika sistem itu diganggu.

Phlegmatic juga biasanya cukup tenang dan merasa puas pada diri mereka. Seorang Phlegmatic tidak akan terlalu banyak berbicara hal yang tidak penting, karena ia biasanya memerhatikan sesuatu dulu sebelum melakukan dan mengerjakan tugas-tugasnya.

Selain itu, tampaknya mereka satu-satunya temperamen yang akan melakukan sesuatu tanpa ada yang menyuruh.

Kekurangan mereka ada di fakta dimana mereka terlalu banyak berpikir, dan juga amat mudah terkena penyakit malas.

Seorang Phlegmatic biasanya amat plin-plan, dan mereka tidak suka jika sistem mereka dirubah, atau mereka harus bekerja berdasarkan sistem lain.

Phlegmatic MBTI

Kurasa poros-poros MBTI Phlegmatic cukup jelas.

Phlegmatic adalah seseorang yang bekerja berdasarkan pengalaman serta pengamatan, maka tentunya, Phlegmatic adalah kepribadian yang Observant.

Selain itu, Phlegmatic juga sering dan suka berpikir, maka kepribadian lainnnya adalah, Thinking.

Aku juga merasa bahwa Phlegmatic bisa juga masuk ke Perceiving, sebagai orang yang sabar dan mau menunda pekerjaan sampai ada rencana yang matang, Phlegmatic akan amat cocok jika ingin menunggu mendapatkan semua faktor dan sudut pandang sebelum bertindak.

Melancholic

HWAAAA AKU LELAH! AKU INGIN INI BERES! :'(

Bercanda deng, itu hanya diriku yang ingin membuat suasana menjadi sedikit melankolis.

Interpretasi Galen

Galen oh Galen.

Aku ingin memulai dari penyakit temperamen sebelum masuk ke temperamennya untuk Melancholic.

Melancholism biasanya terjadi (FYI, Melancholism juga diketahui sebagai Depresi sekarang) ketika seseorang memiliki darah yang terlalu banyak, tetapi darah tersebut terlalu kental.

Ingin tahu cara menyembuhkannya? Buat dirimu terluka, pastikan semua darahmu terbuang, lalu minum yang banyak. Jika kamu cukup kaya, kamu bisa membeli lintah agar proses tidak begitu sakit.

Yap, kurasa Galen memang sedikit… gila.

Untuk memperparah, orang-orang depresi ini biasanya menjadi mati sesudah diberikan “obat dan terapi” ini.

Melancholic adalah kepribadian yang biasanya dieratkan oleh Scholar dan Penulis, setidaknya menurut Galen.

Para Melancholic senang berkontemplasi dengan perasaan yang berada dalam dirinya sendiri, dan cenderung suka menyendiri.

Melancholic Waldorf

Aku akan membalik order of appearance, sekali lagi, hanya untuk Melancholic.

Melancholic terlalu banyak khawatir pada suatu hal, ia sering kali lama menunda sebuah pekerjaan hanya demi memastikan semua kekhawatirannya hilang.

Ia juga dapat dengan mudah merasa rendah diri, entah mengapa. (sebenarnya Rudolf Steiner punya penjelasan, tetapi kurang ilmiah) Melancholic senang mengkhawatirkan dirinya sendiri dan juga merasakan pesimisme dalam dirinya. Ia sering merasa dan berkontemplasi pada hal-hal yang sebenarnya jarang dipikirkan orang lain.

Kabar baiknya! Melancholic yang sangat senang mengkhawatirkan hal-hal ini, biasanya satu-satunya orang yang cocok untuk memberi sugesti dan informasi atas hal-hal yang tidak akan terpikir oleh temperamen lainnya. MIsalnya, ketika sebuah tim menentukan rute, seorang Melancholic bisa saja mengingatkan bahwa pada akhir tahun, banyak jalan yang biasanya kosong dan pendek ditutup agar bisa diperbaiki.

Selain itu, Melancholic yang merasa kasihan pada dirinya sendiri dan orang lain juga bisa menjadi hati dan jiwa sekelompok tersebut. Ia bisa menjadi teman yang selalu mau mendengar serta bersimpati pada perasaanmu. Ia amat peka pada perasaan, dan cukup kreatif, karena ia paling banyak berkontemplasi hal-hal yang tidak perlu dikontemplasikan.

Galen mengakui dirinya sebagai Melancholic.

Melancholic MBTI

Nomor 1! Introvert! Seorang Extrovert tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk berpikir dan merasakan ketidaksenangan dirinya dengan keadaan. Melancholic juga cenderung mendapatkan energi dan merasa senang ketika ia hanya sendiri.

Nomor 2! Feeling! Sepertinya, memang hanya temperamen ini yang berhubungan dengan feeling. Untungnya, memang rasio orang Feeling vs Thinking cukup berat ke sisi Thinking.

Nomor 3! Judging. Mungkin akan ada yang merasa sedikit bingung mengenai ini, tetapi alasan aku menyebutkan judging dikarenakan Melancholic sering merasakan sesuatu tanpa ada bukti apapun untuk membelakanginya, sesudah fakta itu muncul, baru akan ada yang menanyakan…

Disclaimer: Artikel ini hanyalah sebuah sketsa asal berdasarkan ideku sendiri. Tidak ada suatu ilmu yang pasti, kecuali sudah berupa sejarah. Semua hal yang berada dibawah garis ini, hanyalah spekulasi, serta coretan asal.

Rekap

Sebelum kita masuk ke bagian dimana aku membandingkan MBTI dan Temperamen, aku akan melakukan rekap…

Dominan berarti suatu hal yang PASTI didapatkan oleh temperamen tersebut, sub dominan hampir pasti didapatkan jika dominan atau sub dominan dari temperamen kedua atau ketiga tidak mematikan hasil ini, dan Minor berarti suatu tambahan, hanya jika terjadi kebetulan dimana temperamen belum mengisi suatu kategori.

Selain itu, ada satu lagi yang tidak kusebutkan pada awal karakter yaitu, sub-minor. Seandainya seseorang itu murni hanya memiliki satu temperamen, maka kepribadiannya akan dibentuk dan menjadi seperti ini. Sub-minor dinilai dari kebiasaan, temperamen untuk cenderung lebih masuk ke sisi sebelah kanan, atau kiri.

Sub-Minor juga bisa dijadikan sebagai backup jika bahkan campuran dua kepribadian masih kurang satu kategori.

Choleric

  • Dominan: Intuitive
  • Sub-Dominan: Judging
  • Minor: Thinking
  • Sub-Minor: Extrovert

Pure Choleric akan menghasilkan ENTJ, atau Commander, orang yang hobi menyuruh-nyuruh orang lain.

Sanguine

  • Dominan: Extrovert
  • Sub-Dominan: Intuitive
  • Minor: Perceiving
  • Sub-Minor: Feeling

Pure Sanguine akan menghasilkan ENFP, juga diketahui sebagai Campaigner. Orang yang senang berkumpul dengan orang lain, mampu mempersuasi orang lain, dan juga sangat optimis.

Phlegmatic

  • Dominan: Observant
  • Sub-Dominan: Thinking
  • Minor: Perceiving
  • Sub-Minor: Introvert

Pure Phlegmatic akan menghasilkan ISTP, juga dikenal sebagai Virtuoso. Menurutku ini yang paling tidak cocok dengan kepribadian sebuah Phlegmatic murni. Seorang Virtuoso sangat senang mencoba hal baru, tetapi tetap memiliki dan mengikuti sistem yang ia miliki, ia akan terus memberikan update pada sistem miliknya. Kurasa ini tidak sepenuhnya salah, hanya tidak seratus persen benar juga…

Melancholic

  • Dominan: Introvert
  • Sub-Dominan: Feeling
  • Minor: Judging
  • Sub-Minor: Observant

Pure Melancholic akan menghasilkan kepribadian ISFJ, atau Defender. Seseorang yang selalu mau dan selalu baik hati pada orang lain. Ia selalu rela untuk membantu dan memastikan orang lain nyaman, meski ia terkadang tidak yakin pada dirinya sendiri.

The Arriadi-Hidayat System

Untungnya! Belum ada yang menciptakan sistem ini! Jadi aku bisa menyebut sistem ini sebagai milikku! HA!

Jadi, sistem ini bertujuan untuk membandingkan apakah hasil tes temperamenmu sesuai dengan MBTI milikmu? Untuk memastikan tes ini benar, bisa dicoba sendiri dengan mengikuti salah satu dari Waldorf Temperament test, dan juga tes MBTI di 16personalities.com untuk membandingkan.

Pada dasarnya, sistem ini akan memanfaatkan semua faktor yang telah dimasukkan tadi, dan membandingkannya dengan satu sama lain.

Sebagai contoh… (akan ada 4 contoh, masing-masing temperamen akan minimal jadi temperamen utama sekali)

Choleric dominan + Sanguine

Menciptakan pola ENTJ/ENFJ.

Hasil tersabut dihasilkan tergantung dominannya orang tersebut. Baik Protagonist ataupun Commander cukup cocok dalam menjawab kedua hal tersebut. Tentunya, Protagonist hanya akan mau menjadi pahlawan jika ia memang kompetitif, dan kurasa Commander memang benar imitasi lain dari Choleric.

Hasil tersebut didapat dari…

  • Choleric = Intuitive, Judging, Thinking
  • Sanguine = Extrovert, Intuitive, Feeling
  • Choleric + Sanguine = Extrovert, Intuitive, Thinking/Feeling, Judging
  • Hasil tersebut tidak didapatkan dengan asal, melainkan dengan membandingkan serta menggabungkan keduanya. Yang menentukan disini hanyalah lebih dominankah suatu sisi kebanding yang lain?

Contoh lain adalah…

Sanguine dominan + Phlegmatic

Menghasilkan pola ENTP/ESTP

Debater mungkin tampak lebih cocok untuk seorang Sanguine Choleric, tetapi, meski seorang Debater akan kompetitif, kurasa insting berpikir dan perencanaan seorang Phlegmatic mampu memberikan suplemen ke tingkat kepercayaan diri dan sosialnya seorang Sanguine, jadi kurasa, tidak benar-benar salah. ESTP, atau Entrepreneur, juga kurasa cocok. Entrepreneur cenderung memiliki pola bekerja dan sangat-sangat sosial, ia sering melihat dan melakukan sesuatu, dan mau untuk mendengar opini kedua, ketiga, dan seterusnya.

Hasil tersebut didapat dari…

  • Sanguine = Extrovert, Intuitive, Perceiving
  • Phlegmatic = Observant, Thinking, Perceiving
  • Sanguine + Phlegmatic = Extrovert, Intuitive/Observant, Thinking, Perceiving.

Phlegmatic dominan + Melancholic

Temperamen ini menghasilkan… ISFP/ISTJ

Mengapa? Sub Dominan dan Minor kedua hal ini sangat berlawanan, jadi akan sedikit menarik untuk membandingkannya. Untungnya, keduanya sama-sama Introvert yang melakukan pengamatan.

ISFP, atau Adventurer juga cocok dengan Phlegmatic + Melancholic yang memiliki karakter malas, sering berkontemplasi, mudah takut, tetapi kreatif dalam berkarya dan mau mencoba hal baru. Satu masalah adalah, penamaan Adventurer yang lebih cocok untuk para Sanguine, meski nyatanya mereka Introvert.

ISTJ, untuk seseorang yang lebih dominan sisi Thinking kebanding Feeling-nya… Mungkin paling cocok untuk Phlegmatic dan Melancholic. Phlegmatic tentunya selalu punya rencana, layaknya Logistician, dan kecemasan dari seorang Melancholic juga cocok untuk perencanaan yang tidak pernah tidak dimiliki seorang Logistician.

Hasil tersebut didapat dari…

  • Phlegmatic = Observant, Thinking, Perceiving
  • Melancholic = Introvert, Feeling, Judging
  • Phlegmatic + Melancholic = Introvert + Observant + Thinking/Feeling + Judging/Perceiving
  • Alasan hanya 2 dari 4 kemungkinan yang ditambahkan ke sini karena ingat bahwa ini campuran. Jika seseorang memiliki keduanya, Feeling dan Judging, maka ia seorang Melancholic murni, sedangkan jika seseorang memiliki kedua trait phlegmatic, yaitu Thinking dan Perceiving, maka ia seorang Phlegmatic murni.

Melancholic dominan + Choleric

Temperamen Melancholic dominan + Choleric, uniknya, menciptakan kedua personality MBTI yang hanya didapatkan 1 dari 100 orang untuk yang pertama, dan 1 dari 50 orang untuk kepribadian nomor dua… Temperamen ini menciptakan INTJ atau INFJ

Architect. (INTJ) Melancholic sebenarnya cukup cocok menjadi seorang visioner, tetapi ia kurang spark dan kepercayaan diri yang didapatkan dari sisi lain temperamen ini, yaitu Choleric. Architect adalah kepribadian yang amat jarang, dan kebetulan dimiliki Elon Musk. Architect adalah seorang alpha yang sedikit self centric, namun amat-amat punya banyak rencana. Melancholic dan Choleric menutup kedua ini.

Untuk satunya lagi, kita punya INFJ, atau Advocate. Kurang lebih, Advocate adalah Merlin. Selalu punya ide, selalu baik, dan selalu mau mengobrol denganmu. Ia orang yang kau datangi ketika kau membutuhkan, tetapi ia cukup kompetitif serta alpha untuk mendapatkan ilmu dan kebaikan yang ia miliki. Ia selalu mau menambahkan ilmu baru ke otaknya, dan seorang Advocate, takkan pernah lelah untuk memberi inspirasi pada orang lain.

Hasil tersebut, sekali lagi, dan untuk terakhir kalinya pada artikel ini… didapat dari

  • Melancholic = Introvert, Feeling, Judging
  • Choleric = Intuitive, Judging, Thinking
  • Melancholic + Choleric = Introvert, Intuitive, Feeling/Thinking, Judging.
  • Sebenarnya, Kemungkinan seorang Melancholic Choleric condong ke Feeling lebih tinggi, karena Choleric tidak selalu berkutat dengan Thinking, tetapi, potensi ada campuran temperamen ini memang ada… Tetapi langka.

Kesimpulan

Ini hanyalah sketsa dan coretan asal ketika bosan.

Jujur, aku tidak punya ide atau celotehan lain mengenai subyek ini, tetapi, mungkin akan ada saat aku membahas 8 kombinasi, atau lebih, jika ada misalnya… Choleric + Sanguine + Melancholic lainnya…

Karena sejujurnya, kurangnya Feeling (literally, kurangnya kepribadian feeling) disini membuatku sedikit khawatir bahwa ada beberapa temperamen yang tidak mencakup personality apapun, atau personality yang tidak mencakup temperamen apapun…

Sampai lain waktu!

Foresight Fallacy

Foresight Fallacy

Foresight Fallacy… Apa itu?

Sebenarnya, aku yakin, siapapun yang sudah pernah menonton sedikit serial dan/atau film Time Travel, atau AI, pernah mengerti, atau melihat teori unik ini.

Foresight Fallacy sendiri tercipta karena sifat manusia yang ada secara genetik. Tidak masalah apakah manusia itu kompetitif, santai, jahat, baik, atau bahkan megalomaniak… Semua manusia, secara spesies akan berkontribusi ke Foresight Fallacy.

Sebenarnya, Foresight Fallacy adalah hal yang amat sederhana, tetapi, banyak hal yang membuat kesederhanaan ini rusak, seperti tentunya, time travel sendiri yang pada dasarnya membuat orang-orang (terutama yang bukan penggiat science fiction) migraine tujuh galaksi.

Dan kupastikan, Foresight Fallacy adalah satu dari sedikit hal yang bisa memberikan warna ke spesies kita secara positif, jika dibandingkan dengan AI. Tentunya jika AI yang diciptakan tidak punya Human Drive, tapi, tentunya, siapa yang ingin AI dengan gaya berpikir seperti manusia?

Apa itu Foresight Fallacy?

Aku yakin semua orang pernah menonton suatu serial atau film dengan sedikit Foresight Fallacy.

Jadi, buatku yang baru belajar mengenai sifat manusia yang tidak bisa diprediksi itu, sebenarnya, buatku, Foresight Fallacy adalah alasan kenapa Season III dari The Flash adalah titik paling sampah serial tersebut.

Begini, akan kuberikan contoh mengenai kejadian dan human nature membingungkan ini… Dari serial tersebut…

Dalam 6 Bulan (waktu di serial) dari episode pertama season 3, Iris West-Allen, istri dari Barry Allen (The Flash) akan dibunuh oleh seorang makhluk yang berasal dari masa depan, dan bisa berlari lebih cepat daripada The Flash.

Manusia adalah makhluk yang memiliki drive, dan tentunya, meskipun Barry bukan lagi seorang manusia (he’s a metahuman 😉 ) ia tetap memiliki drive yang sama.

Jadi, dengan mengetahui pasti apa yang akan terjadi di masa depan, kita sebagai manusia akan berencana untuk mengubah apa yang kita ketahui secara pasti dan yang pasti tersebut, menjadi tidak pasti…

Skor rating The Flash turun dari 82 di Metacritic (which was good, or at least, decent) menjadi 64. Aku sih tetap nonton, meski aku tahu ujungnya, namanya Superhero, mereka akan menang. Plus pihak TV masih ada kontrak dengan pemeran Iris West-Allen untuk setidaknya 3 season lagi. Jadi, hampir dipastikan bahwa dia akan selamat, dan serial itu sudah mencapai titik… -_-”

Untungnya, season 4 cukup bagus. Meski villain utama dari season 4 terlalu overpowered, dan kemungkinan besar, bahkan pasukan Kryptonian pun masih kalah melawan dia…

EHEM, sorry, off topic.

Masih bingung kah?

Nah, sebenarnya, Foresight Fallacy dalam kasus di atas tampak bagus, dan tidak sesuai dengan istilah fallacy, yang berarti kegagalan. Jadi, sebenarnya, kenapa Foresight adalah hal yang buruk? Bukannya mengetahui masa depan berarti melihat kesuksesan, dan jika kita gagal di masa depan, kita bisa merubah diri agar sukses?

Sebenarnya, Foresight Fallacy bukan kegagalan dari manusia, melainkan kegagalan dari masa depan yang pasti itu, dan ini alasan utama mengapa menurutku, manusia tidak akan pernah digantikan oleh AI.

Sebagai orang yang tidak pro akan AI…

Kalau para nanobiologis berusaha untuk memastikan AI tidak bisa memasukkan tubuhnya ke dalam manusia, dan kalau para ilmuwan komputer memastikan AI tidak akan pernah tercipta, kurasa para psikolog, antropolog, dan filsuf akan berpikir bahwa, meski AI sudah ada, akan sangat sulit untuk melihat AI yang mempunyai drive untuk merubah sesuatu.

Kepastian dari Ketidakpastian

Satu hal yang kita bisa pastikan dari manusia sendiri adalah… karena manusia sangat-sangat… labil. Kita adalah makhluk yang pastinya akan membuat dan melakukan hal baru tiap harinya.

Sebagai spesies, kepastian yang manusia bisa dapatkan hanya dari tiadanya kepastian.

Sifat ketidakpastian manusia sendiri paling tercerminkan oleh pasar saham.

Kita tidak akan pernah tahu secara pasti bagaimana cara untuk memprediksi pasar saham, dan andaikan kita tahu caranya… Foresight Fallacy akan bermain.

Misalnya, sebuah AI yang bisa memprediksi kenaikan saham dengan tingkat akurasi 100% diciptakan dan ada secara gratis… That’s good! Freelancer yang main saham akan senang juga tentunya!

Dalam 24 jam launching, AI sudah digunakan oleh 5 juta orang…

Pada hari dimana AI sudah dipakai 5 juta orang, ada prediksi baru muncul… (Ini benar-benar asal, karena, sebenarnya, siapa yang tahu tentang manusia?)

  • Besok, harga saham dari klab sepakbola Juventus akan turun sebesar 12% dikarenakan pensiunnya Cristiano Ronaldo, dan perginya Paulo Dybala, Gonzalo Higuain, serta Andrea Barzagli. (semoga Google cukup up to date, karena aku bener-bener acak milih pemain dari list yang ada di google 😛 )
  • Besok, harga dari saham semua perusahaan minyak akan naik sebesar 100% dikarenakan, orang-orang makin menyukai minyak, dan entah mengapa, tidak ada enviromentalist yang sedang beraksi untuk menurunkan penggunaan minyak.
  • Dalam 8 jam, harga saham google akan turun 18% dikarenakan mereka lupa membayar pajak, dan akan menerima tuntutan hari ini juga, bisa berakhir bangkrut.

Berdasarkan prediksi ini, apa yang akan dilakukan orang yang bermain saham?

Jual semua saham yang dimiliki, terutama bagi yang memiliki saham dari Juventus, serta saham dari Google.. Segera beli saham minyak, selagi murah.

Dan disini, inilah saat ketidakpastian itu muncul…

  • Saham Juventus turun, dan bukan karena ditinggalkan beberapa pemain, melainkan karena AI bilang begitu.
  • Minyak? Naik! Sebelum esok hari, dia sudah naik, dikarenakan semakin sedikit orang mau menjual, dan banyak sekali yang menginginkannya.
  • Saham Google langsung dijual, dan ya, bisa saja tidak laku, jika betul mereka akan menerima tuntutan pajak dalam 8 jam, siapa yang ingin beli jika harganya mahal?

Jadi, berikutnnya, apa yang akan terjadi dari sini?

Human drive plays its part again.

Saham Juventus turun? Mungkin Ronaldo akan dibujuk untuk diam satu musim, dan Juventus akan beli beberapa pemain lagi, agar harga saham klub miliknya naik…

Minyak? Mungkin para “juragan” minyak puas dan bermalas-malasan, atau berhura-hura sampai uang habis, karena ia makin kaya… Mungkin semua pegawainya diajak liburan 2 minggu. Eh, pegawainya diajak liburan? Siapa yang kerja? Kualitas turun, harga anjlok dong?

Google? Mengetahui ia akan menerima tuntutan pajak, ia akan bersih-bersih dan bayar semua hutang perpajakannya sebelum ada tuntutan, dan harga saham google tetap stabil!

Menarik sekali ya manusia?

Jika ada hal yang pasti diprediksi oleh seseorang sebagai A, maka, yang terjadi malahan, B, dikarenakan kita akan melakukan A sebelum waktu prediksi A akan terjadi.

Kesimpulan.

Manusia adalah makhluk yang unik.

Kita memiliki kesadaran, kita memiliki pikiran, kita memiliki otak, dan paling penting, kita memiliki emosi.

Itulah intisari manusia yang sangat-sangat kompleks tetapi menarik ini.

Amat disayangkan bahwa kita sebagai manusia, sering lupa bahwa kita adalah makhluk yang tidak pasti, dan sangat… unik.

Antisipasi… Itulah alasan manusia tidak akan pernah digusur oleh Artificial intelligence, antisipasi manusia, dan emosi milik kita.

Sayangnya, terlalu banyak orang fokus ke emosi dan melupakan antisipasi, dan kelemahan itu, mungkin dimanfaatkan komputer untuk… ya, menggusur kita.

Sampai lain waktu ya!

Jaja’s Opinion on Millennials, and Tech Myths

Jaja’s Opinion on Millennials, and Tech Myths

Disclaimer: My opinions are not from a professional, but it’s considerable. Also, consider this a debate, and if you disagree, do comment your arguments.

Introduction:

Most teenagers in this century, or also known as the millennial generation, are commonly referred to as natives in technology, whether this is a good thing or not is debatable, as it depends on the common usage of technology by teenagers. As for the children born in this century, after seeing some of them, I personally think their parents are misusing technology to parent these children using a gadget, which is definitely not a good thing.

Teenagers:

Tech Savvy Teenagers, Is it true?

Firstly, I don’t think that most teenagers in Indonesia could comprehend how a program even works, and their knowledge is limited to using software, while it is still possible to learn how software could work. Sure, they check social media much more often and are way more updated in terms of information. But do they really stand out in terms of things other than usage? I’d answer no.

They might send like a hundred posts a day on Instagram, or make a million amounts of stories in a month. Adults still could do that. They just don’t want to, or maybe they don’t have the time. Yet us teenagers, those that do have the time, spend it posting selfies, or looking for memes on Instagram, who by the way is also too lazy to look for funny memes in the right place… Reddit. Unfortunately, Reddit is blocked in Indonesia, so if you want to look for memes there, you need a VPN, which would take time to set up, and not many teenagers even know how to set up a VPN service.

For example, a common thing I see from my elementary school friends, now in Middle School is using filters, to have a doggy ear and tongue, of which I disapprove cause… EW! what’s that? Do you know how that even works? I haven’t really asked anyone whether or not they know how this works, but maybe if I have time I’ll give it a shot at researching this. Without any research, I’m sure a majority of users don’t even know how that works.

To me just the ability to use something does not really mean comprehending, and so, teenagers (the common one) have a slight advantage when compared to the non-Tech Natives

Their slight advantage comes from their more updated ability to keep up with the latest news, and of course, younger brains work faster. In fact, I’m sure there are much more adult programmers than younger ones.

“Socializing Via Nongkrong”, Is It Still True?

Honestly, this isn’t a myth, it’s my observation… First of all a bit of an apology from me cause I used the phrase Nongkrong, which isn’t formal, but since this website post isn’t supposed to be that formal, I’ll keep it that way.

In the 21st century since phones have been invented, well, I’ll let a popular biscuit logo talk, and tell you about it.

This is supposed to be a joke, but somehow I think it’s true… Also, not my image, found it online, Babah told me that awhile ago and I remembered about this article, so I thought it’d be a fun correlation.

Now, when Bubi was a teenager, she did say she liked to hang out with her friends a lot, and I can’t really blame that, I mean they are teenagers. But back in Bubi’s time, they used to spend their time talking, and at the very least, they’re still involved with one another, meaning they are socializing, regardless what kind of topics they are actually talking about. The social interaction still exists.

Now, that Khong Guan image will become a fact… As I’ve seen with teenagers, they end up playing with their phones, doing a separate activity, and ignoring each other. Almost every High School student, or some Middle School students ask me how I socialize, and how many friends I’ve got. If I wanted to be a jerk, which is bad for image, and might prove them right, I’ll tell them, I’ve got friends that I do socialize with when we’re together, even when we aren’t we still talk, and I have friends I actually talk with. Sorry… i don’t mean to be rude, but sometimes, people do things without even knowing a bit on the subject.

Bubi told me several times why hanging out is now pointless… It’s phones, blame them, PHONES ruin the definition of socializing and playing for teenagers. OK, well I don’t do sports, but seriously, you’ve got friends, talk to them, don’t chat with them. The ability and wording while writing and speaking in a direct conversation is clearly different, if we don’t stop to talk, then teenagers would just lose the ability and life skill to properly form words in a direct conversation.

So, thanks to phones, we’ve just lost one possible activity, that could’ve been a discussion of ideas, and could be something useful. Thanks a lot! (of course, I’m not ignoring the function of smart phones entirely too, they are still useful)

Children:

Does YouTube Really Teach Children?

Okay, first of all, I hear lots of parents make excuses when someone tells a parent that YouTube is bad. Some of the excuses include that they learn about science and other things when watching YouTube. Let me ask… What would a 3 year old or maybe slightly more, like a 4-5 year old, would really benefit from YouTube? They don’t need science yet right? Besides, long term memory (on most children) won’t stick too well until you are about 6.

For the record, Alice never watches YouTube, yet she plays board games fairly well, has a lot of words in her vocabulary, is very active as a child, and loves reading books.

When I meet babies around her age, I immediately see a difference between those that do watch YouTube, and those who don’t. Hold on, before some of you say that it’s just their personality, some versions of developmental psychology states that children are empty slates, and every action we do is basically drawing on that slate, giving them personalities.

Those might be some personal examples, but if we are talking on a more scientific and global way… in case you didn’t notice, the amount of people with Speech Delays has risen up a lot this century, and if we look at the most important inventions people use for children in this century, its Gadgets, and GMO Foods. Blame GMO? Okay, I can’t really correct opinions, but I mean, not everyone eats GMO, but a majority of people uses YouTube as a parenting method.

So, does YouTube really teach children? Nope, think of a better argument to give gadgets to a child, don’t say it’s educational until you really have proof it’s educational.

Maybe YouTube parenting isn’t as bad as the Greek Gods and Titans when they are parenting, but it’s probably just under the list a bit.

You Don’t Want This… Trust Me

Negative Effects of YouTube Parenting

So, I have shared my basic argument on this subject, but what are the negative effects?

So, in the 21st century, a lot of things have changed in terms of children growth, and speech delayed, and tantrum-y children have risen up in numbers, I believe it’s YouTube parenting’s fault, but again, assume it is a debate and disagree with an argument.

Now, a couple of talks with Babah and Bubi, reading Psychology books, and observing some of Alice’s friends, have given me some of the negative effects, based on my opinion, with a supporting agreement to accompany.

  • Speech Delay
    • Delayed Speech is pretty straightforward, usually, if a child couldn’t speak at the age of 3 or 4, or lacks vocabulary and pronunciation skills.
    • YouTube doesn’t teach proper pronunciations, and is often times meaningless, unlike reading a story book to your child.
    • YouTube’s constant changing pictures really distract your child from focusing on the meaning, so even a good video; can really disrupt linguistic skills growth.
    • YouTube is a one way conversation, the child watching YouTube doesn’t even have to say a word, or interact with it to gain full benefits, in fact, the video amounts on YouTube is endless, a child could watch all day without a problem.
  • Loss of Appreciation on Things
    • A child would begin losing appreciation on anything unlike YouTube; they would dislike anything because they have insanely high expectations on entertainment.
    • YouTube is fairly memorable. Children would see YouTube as their basic standard of entertainment. Anything not YouTube is ugly, because YouTube itself is already something very eye-catching.
    • So, this means after a child is addicted to YouTube, then chances of rehabilitating that would be hard.
    • For adults YouTube is more OK (I didn’t say this is a good option, just an OK source of entertainment) because we already have a general view on nicer and less nice things (I meant this as in quality)
  • Less Active Children
    • This doesn’t always lead to bad things, as some basic personality could affect this and make children more silent and quiet. But most children affected by YouTube tend to be less active and move less than those who don’t.
    • Let’s say being an active baby is like doing a job. While being an inactive baby that can lie down and watch YouTube all day is basically a lazy day for employees. If you’re the baby, what would you choose? Don’t lie, of course you would be lazy and chill if it is possible.

Conclusion

Well, firstly, thanks a lot for reading, I might want to start on the fact, I’m a bit sorry this article is pretty short, regardless, I hope it’s useful, if you disagree with me, please leave a comment down below, and don’t forget to subscribe to our newsletter.

OK! That right there is how YouTubers usually close a vlog… (I watched a bit of YouTube, usually those regarding Superheroes, I’m a geek). Now, that, cannot be implemented on a writing or a conversation can it? Of course not, the wording should generally be different, and that just won’t work.

The future isn’t gonna be filled with robots who do the work for us, people would need to interact with each other, and one way conversations, or chatting just won’t work when you want to speak in public, or have a presentation. I personally don’t see a single possible reason why teenagers are actually wasting their time in social media, and doing their definition of socializing, but don’t change the current definition, please just do not.

Book Review: The Moral Judgement Of The Child By Jean Piaget

Book Review: The Moral Judgement Of The Child By Jean Piaget

Hello There, welcome back to another one of Jaja’s book reports.. This book is a book on psychology, specifically developmental psychology, which is about the psychological growth of a child/teenager. I chose this book because I got curious at how kids like Alice think. Note that this book is written on 1932, and for fun, I would like to apply some of these cases on children that are given gadgets, but that would be done in an article 2 days from now, so stay tuned…

Main Points:

Well, I’ve seen several info-graphics about these prior to reading the book, but well, Jean Piaget stated in this book that a child has growth stages in which they “evolve” in terms of thoughts and how they interact with each other. All of these stages (that I’m reviewing) are centered more on their habits while they are playing together.

  • Stage 1 (Ages 0-2): Simple Individual Regularity.
    • Children around these ages are only developing in terms of physical growth, and their motoric stimulation. Piaget said that there won’t be lots of info on this because he chooses to focus more on a child’s developmental social interaction, instead of their growth
  • Stage 2 (Ages 2-7): Senior Imitation With Ego-centrism.
    • Children ranging from 2-7 usually imitate the behavior of their adults, usually without thinking why they are imitating that rule. If they play a game (of say, chess), they usually play it for the sake of… well… Playing it. They don’t play for much purpose, and they just enjoy playing, but their regards to the rules will be pinpointed on the way their adults play.
  • Stage 3 (Ages 7-11): Cooperation.
    • Children in the third stage usually begin learning to cooperate with each other, and they play for the sake of social interaction. They play to cooperate with each other, and pretty much that’s all their purpose. The rules they play from are starting to blend from one another, and they choose the rule they think to be the most fair, and play together. Team based games are encouraged for these children.
  • Stage 4 (Ages 11-adults): Interest In Rules, For Their Own Sake
    • Tweens, Teenagers, and Adults now begin to pay more attention to rules. They play games with proper knowledge of the rules, and usually have more courage to defy a certain rule they deem unfair. Therefore, teenagers from these ages are much more suitable to play with a solid set of rules, and are much more open to fair judgement, and modification of certain rules.

Application, And Experimentation

Jean Piaget reviewed some of his theories and concluded several things from his tests on children, here are a few of my thoughts and some of his notes, sorted per stage, but stage 1 will use no Q and A like the other answers, and is just my explanation of it in a nutshell, but since my main interests are on stages 1-3, I won’t include stage 4, because it seems a bit bland for me, and well, my interest on it isn’t as much as my interest on the other stages.

Game Taken As Example: Marbles, which apparently has many different versions in France, unlike some of the traditional games that Indonesia has… The amount of versions available should affect the decision of the child because of the many versions that exist. Also, I don’t really understand the rules of the game that are explained in this book, but it’s basically using your marbles to knock the marbles placed in the center location.

The Marbles Game Piaget Described

Children from each stage are asked a set of questions, and they answered them while noticing points they seem to ignore because of their current views of rules and their purposes, here are the list of questions presented in the book and their answers. (note this isn’t exact, but it should give you a grasp, and it does have the same questions, only slightly different wording)

(Q is short for question that Jean Piaget asked and A is for the answers the child presents)

Stage 1… Simple Individual Regularity

Piaget stated that the sense of law for babies are already starting to grow ever since they are given a certain habit. If parents stick with the habit given, then the child will usually stick to it, and feel bad (usually with crying) if it isn’t accomplished. The more rites made and obeyed, the greater the sense of law for the children in the future. Although, this doesn’t develop any sense of obligation, but more like the fact that they will not stray away too far from the habits.

Piaget also gave heat as an example for this book. If (older) children are told that fire is hot, don’t touch fire or the stove, then they will touch anything… except the stove, to amuse themselves. Their simple minds couldn’t grasp on the why part.

Since I’m supposed to discuss the playing habits of a child, in this book. Well, younger children play with themselves, and usually follow their rites of playing. Now, since I’m supposed to use marbles as an example, when these children are given a set of marbles and left in a room alone with it (well, still observed), at noon, they group them on top of a box, and after dinnertime, they add more to the box, cleaning them up at night time. Eventually, this becomes something of a ritual to them, and if after dinner they don’t get to add more to the box, they cry, or show signs they are upset.

That’s actually pretty cool that a child already has a sense of duty when following a ritual. I should be more like them when doing things like cleaning my bathroom as a weekly activity, not monthly… But ah well… 😀

Stage 2… Senior Imitation With Ego-centrism.

Q: When this town was built, do kids back then play exactly the same as we do?
A: Yes, the same way
Q: So, where did you learn to play?
A: My Father taught me
Q: Well how did he know about the rules?
A: When he was my age he put the marbles in a square like we do now, and then they played it
Q: So, when you made it, did grown ups make it, or did children make it?
A: Grown-ups made it
Q: So, who invented the rules?
A: My daddy did
Q: Really? Then who is the oldest person ever?
A: God!
Q: Well, then what if someone played the game before your daddy?
A: Then, well someone must’ve invented it… I don’t know who…

This shows that the 7 year old child doesn’t even know where the rules come from (although he did know someone must’ve invented it), and therefore, isn’t playing to obey the rules or anything… They play for the sake of playing. In terms of real life, they would obey rules that they could comprehend, but telling them why would matter less to them… As you might see down below.

Q: I see, but since your Father taught you to play Marbles, do you know any other way to play?
A: I do (he shows a different version)
Q: I see, but would you add new rules?
A: I won’t
Q: Why wouldn’t you?
A: Because it’s not the same rules.
Q: Is it fair?
A: Yes, it is fair
Q: But if it is fair, why wouldn’t you add the new rules?
A: I still wouldn’t, because it’s not the same rules

This shows that the child insists on sticking with the rules they know, because they are actually still ignoring the purpose of the rules (which is to make things fair), and they don’t have a concept of adding new rules. They perceive any rule presented to them as fair, but they don’t understand why. Well, this is for games they play anyways…

Q: How did you know that your father, and his father played with the same rules as we are playing right now?
A: I don’t know
Q: Well, just so you know, there are many versions of Marbles, and you are only play one of the versions available. Making your own version won’t really matter, but would you?
A: No I won’t, cause it’s not fair.

From this Piaget proceeded with moving on and setting up a play field where children with different versions of rules play with each other. They proceeded to play with their own set of rules, and didn’t add or discard their rules, as they ignored each other’s rules, and played with their own… proving that they are playing without any purpose other than playing, and they are playing egoistically in a sense. Not all children are like this, but Piaget theorized that most do feel like this, even if they aren’t actually showing it.

Stage 2 is the one that left the most impression for me, cause this is Alice’s stage, and I do feel curious about how she thinks, but I’m a bit not sure about the last set of question and statement, cause Alice seems to care a lot about others obeying rules of the games she plays, and warns her friends if someone doesn’t obey the rules like she did. But the rest of the experiment makes sense to me.

Stage 3… Cooperation.

For stage 2, some of the answers presented are different, depending on who asked it, so there’s A1 and A2

Q: Do you know that there are many versions of marbles, and yours is just one of the many?
A1 and A2: Yeah we do
Q: So, how many versions of Marbles do you know?
A1 and A2: I think 4 or 5
Q: And which version are you playing?
A1: The one my friends want to play, we take turns deciding who gets to decide
A2: We mix up and make one that we agree on.

This is starting to show that they do cooperate from the beginning, before they even play, even when deciding, they still discuss the version of games that they are playing.

Piaget then proceeds to see the kids play… Apparently, they have a rule that if someone wins more than 3 times, one of them may say a keyword (I can’t remember what it was cause it’s in french), and then the winner must move out of their position, and change to a new position. Because maybe, that spot is “giving” them luck. That’s a pretty fun and unique rule as they do understand a concept of luck (or well, it’s just nice angle to shoot the set of marbles from), back on track..

Q: So, if your friends decide to make up a new rule, would you accept it?
A1: We’d vote for it, maybe we’d add some if we think it’s fair
A2: Maybe not, if it’s not the same rules it’s not fair

Not only does this show the differences of the children’s thoughts, but this also shows that there are children that despite they already belong to a certain stage, they still might have some habits of the previous stage.

Q: But well then what are the purpose of rules?
A1 and A2: To make sure that there is no quarreling between players.
Q: How did these rules begin then?
A1: Everyone has a different version, and we vote for them
A2: Some of the boys agreed on them, and made the rules.

By now we could definitely see that they now grasp on the concept of rules, and since their main purpose is to socialize, and a controlled environment would make the process more enjoyable.

Hang on off topic, a bit… So, Jean Piaget mentioned that he once watched kids from this stage play with snowballs, with a set of rules they made, and those rules needed protectors, a president, and attackers… To make sure that the rolling is fair, they took 15-20 minutes to decide who gets to be president, protectors and attackers. They also made sure people take turns to be president, a protector, or an attacker. Piaget must be amazed that these kids are keeping things as fair as possible, and to do so, they need to keep the field under control. Back on track..

Q: Then, could you invent a new rule and show me?
A1: (demonstrates a new rule that Azriel couldn’t really understand, but it’s luck based)
A2: (demonstrates a new rule to make the game a bit easier by enabling players to shoot an additional marble if they knocked more than one out)
Q: Could you play like that with your friends?
A1: This seems a bit luck based, and my friends might not like it
A2: This makes the game unfair, and my friends might disagree…
Q: But what if everyone plays the same way?
A1 and A2: Well that won’t be a problem then, we can play like that

This shows that they actually care a lot about their friend’s opinions, and even though they dislike their own rules, they prioritize their friends’ opinion on that. This also proves kids might have rules up their sleeves, since Piaget stated that it’s pretty fast for them to invent the rules. It isn’t stated about their personal opinions on the rule, but this actually shows that they care more about their friends opinions.

I’m concluding from the evidence presented to me from the things I have read and written for this stage, and this is an important stage for children to develop their empathy. This stage also left a mark on me cause I noticed how much kids tolerate each other to be able to play with them, and make a conflict-free environment so they could have fun with playing. Grown-ups should also be able to tolerate differences like kids do, what went wrong in the teenage stages… Oh… a lot of things went wrong? Never mind that

Conclusion and Personal Thoughts

Well, so firstly, I would conclude that it’s a very important thing to care for your kids playing games and interacting with each other. If one doesn’t grasp on the concept of rules, then chances of rebellion is getting worse. To make someone grasp the concept of rules, we can introduce to them with a simple way of asking them to play board games while they’re still young. Just because they don’t understand the “why” of rules, doesn’t mean they disobey them…

For my own thoughts, I personally enjoy this book a lot, and I believe that not everything stated in this book can be applied to the children of today… Which you can check out in my next few posts!