Tag: psikologi

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Pro dari Kurangnya Budaya Literasi.

Tidak perlu disangkal lagi, Indonesia memiliki budaya literasi yang buruk. Sayangnya kata relatif tidak mudah untuk diberikan, karena kita berada di posisi ke 70 dari 74 negara, dan untuk patokan negara maju, angka itu buruk.

Mau dilihat dari beberapa sisi pun, sepertinya sangat sulit untuk menaikkan angka literasi milik kita. Jika kita mau membandingkan angka ini secara langsung dengan negara-negara berkembang lainnya, hampir tidak ada gunanya melakukan hal tersebut, karena kita akan jauh di atas mereka. Mayoritas negara di Afrika memiliki persentase literasi di bawah 75%, dan kita sudah mencapai angka 81% (negara-negara maju berada di angka 98% ke atas), jadi, apa sisi positif yang bisa kita ambil dari angka tersebut?

Tentunya, sisi positif termudah untuk di ambil adalah, angka literasi kita selalu naik, dan tidak akan turun begitu saja, tetapi, pada suatu titik, kita akan mulai untuk berpikir. Untuk apa kita punya angka literasi tinggi, jika budaya milik kita tidak menyokong literasi?

Bingung kah? Baca lebih lanjut saja yuk.

Budaya Baca vs Budaya Lisan

Kasarnya, tiap negara memiliki budaya baca dan budaya lisan. Indonesia lebih kuat di budaya lisan, dan sejujurnya, kedua budaya ini saling silang dan menolak satu sama lain.

Untuk melihat, mari kita bandingkan.

Budaya Baca

  • Terbiasa menerima informasi dari tulisan sejak zaman dahulu.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Bisa lebih mudah untuk kritis.
  • Tidak akan begitu saja mau membantu orang.
  • Dapat lebih tenang dan mampu mengatur emosi.

Budaya Lisan

  • Menerima informasi dari mulut ke mulut alih-alih dari tulisan.
  • Mudah untuk berkumpul dan lebih supel.
  • Lebih cepat menerima fakta.
  • Mudah bergotong royong.
  • Mudah terbawa perasaan.

Budaya baca di negara-negara luar mempermudah orang-orangnya untuk berhenti dan berpikir. Mempermudah orang-orang untuk menyerap informasi dan mencernanya alih-alih langsung menelannya.

Di negara-negara dengan budaya lisan yang kuat, informasi semua berupa opini, dan tidak begitu faktual. Perlunya berkumpul bersama membuat negara-negara dengan budaya lisan kuat juga mempererat tali silaturahmi antar warga. Semua orang lebih kenal dengan satu sama lain, semua orang juga lebih ramah.

Sayangnya, dengan mendapatkan keramahan, kehangatan, dan kedekatan antar orang, ada hal negatif yang tercipta. Perasaan dekat tersebut membuat kita mudah percaya dan langsung menelan opini yang diberikan.

Pada titik inilah, budaya baca dibutuhkan untuk menetralkan keinginan kita menelan fakta secara langsung.

Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah kemampuan yang dibutuhkan, dan sayangnya kita sangat kurang dalam bidang ini.

Untuk bisa berpikir kritis, kita cukup melakukan dua hal. Satu adalah berhenti, dan kedua adalah berpikir. Berpikir kritis tidak jauh berbeda dari berpikir, dan aku yakin siapapun yang cukup pintar dalam mencerna informasi dapat melakukannya.

Kurangnya bangsa dengan budaya lisan yang kuat adalah kemampuannya untuk berhenti dulu untuk mencerna. Terkadang, orang-orang yang baru saja menerima informasi dari luar, (terutama jika dalam kondisi tatap muka) harus mencerna perasaannya terlebih dahulu. Jika perasaan orang tersebut cocok dengan informasi yang diberikan, ia akan mudah setuju. Sebaliknya, jika perasaan orang tersebut tidak cocok dengan informasi yang diberikan, ia bisa langsung menolaknya.

Perasaan mengendalikan otak kita dari menggunakan logika dan kita tidak sempat berhenti. Kita keburu termakan perasaan, dan perasaan tersebut menjadi awan yang menghalangi logika kita untuk sampai ke kesimpulan yang benar.

Ini alasan kita bisa dengan mudah terjebak dalam frame, serta hoax yang diberikan orang-orang pada kita. Emosi kita mengambil alih fungsi dan fokus kita, dan kita tidak diberikan ruang untuk berhenti. Kita langsung gas ke kesimpulan sesudah mobil (analogi untuk logika) kita diberikan Nitrogen Oksida (atau fakta), rem kita tidak berjalan lagi.

Melodramatisme

Bagian ini menerima editan dari draft awal artikel. Mungkin sekitar 50% dari kontennya diubah (termasuk judul dan istilah karena aku baru saja mendapat istilah yang tepat)

Melodramatisme. Sejak zaman Yunani, ada banyak sekali drama yang didesain untuk orang-orang (maaf) rendah. Jika para Raja, pedagang, filsuf, penyair, dan para petinggi negara mengikuti teater Dionysus, berisi drama dengan konten kompleks dan mengharukan, para warga diberikan cerita mulut ke mulut yang hanya berisi drama saja tanpa konten kompleks yang perlu dipikirkan. Penikmat melodrama menginginkan sensasi yang enak tanpa perlu mencerna informasi yang bergizi bagi mereka.

Melodrama masih dijumpai sampai sekarang, dalam bentuk Drama Korea yang arus ceritanya njelimet tapi mengharukan, dan sinetron yang juga mengharukan tapi ceritanya… Ya, tahu sendiri lah.

Melodrama juga, dapat dibagi menjadi beberapa level. Ada melodrama paling rendah, seperti sinetron, dan juga ada melodrama yang hanya menjadi melodrama karena persepsi orang-orangnya, seperti film Keluarga Cemara.

Sensasi haru, amarah, gembira, dan semacamnya mudah sekali memengaruhi judgement seseorang. Dan jika orang bisa menikmati melodrama yang hanya memanfaatkan sensasi sebagai nilai jual, maka akan mudah bagi orang-orang tersebut untuk terpengaruhi oleh hoax dan berita palsu.

Bangsa yang melodramatis tidak akan membuang waktu untuk berhenti, dan akan langsung saja menerima suatu fakta secara bulat, tanpa berpikir dua kali.

Dan menyimpulkan.

Bukan kesimpulan kali ini, aku hanya akan menyimpulkan, juga jangan lupa untuk simpulkan artikel ini sendiri ya.

Kabar Buruk.

Sayangnya, dari masih banyaknya bangsa melodramatis seperti beberapa negara Asia tenggara lainnya, budaya negara kita mendapat campuran dari bangsa melodrama, dan bangsa lisan.

Akan sangat mudah bagi seorang warga Indonesia untuk menerima suatu fakta palsu, atau suatu kebohongan, atau janji seseorang yang tidak mungkin dikabulkan dan semacamnya.

Untuk memperburuk ini, dengan senjata melodramatisme sedikit, dan juga dengan fakta bahwa kita memang (mohon maaf) kurang pintar dalam mencerna info karena negara kita memiliki budaya lisan… Hoax akan mudah memakan kita. Just make it dramatic, and people would believe it.

Kabar Baik.

Ada untungnya kok.

Budaya lisan yang mudah percaya dan supel ini mampu membuat orang-orang mudah percaya dengan ikon. Kita akan dengan mudah percaya perkataan seorang… (misal) menteri, kebanding teman.

Dengan memanfaatkan ikon untuk membawa kabar baik, jujur, tidak begitu negatif dalam memberi tahu sesuatu, kita akan percaya.

Selain itu, bangsa kita juga mau bergotong royong dan membantu, serta informasi juga dapat mengalir dengan lebih cepat, bahkan sebelum adanya internet informasi dapat mengalir dengan cepat, apalagi sesudah adanya internet.

Kabar Buruk dari kabar baik.

Oh tidak.

Kabar baik tadi juga ada kabar buruknya.

Jika seorang ikon mau memperdaya seseorang dengan berita palsu, orang-orang kita juga akan menerimanya dengan cepat.

Karena mudahnya percaya, dan mudahnya informasi mengalir, jika sedikit saja limbah pabrik, atau berita palsu dituangkan dalam air sungai yang jernih, seluruh sumber mata air dari gunung akan rusak dengan cepat.

Ya, sayangnya, kekuatan kita dalam cepat menyebar dan cepat percaya serta sangat-sangat mudah terlibat dengan orang lain juga bisa jadi kelemahan jika ada yang menyalahgunakan.

Jangan salahgunakan kekuatan dan logika anda ya!

Sampai lain waktu!

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Minggu malam kemarin, topik ini dibahas di klub debatku, dan menurutku, ini topik menarik, dan tidak harus spesifik digunakan pada ikon-ikon remaja atau anak, karena kurasa efek yang similer dapat dimanfaatkan dan dicoba pada anak-anak yang tidak menerima tekanan sebanyak “Ikon-ikon” yang dimaksud.

Ikon disini dimaksudkan sebagai atlet, penyanyi, aktor, selebgram (sayangnya iya… selebgram), atau remaja dan anak apapun yang menerima tekanan dari dunia luar dan memang terkenal.

Bagaimanapun juga, ini topik menarik, jadi langsung saja kita masuk. Aku akan memberikan tiga contoh, ketiganya punya efek masing-masing.

Michael Jackson

Ah. Him.

Namanya langsung menciptakan image orang yang melakukan moonwalk, penyanyi pop, dan kemungkinan besar, orang-orang sudah dapat gambaran mengenai dirinya sedetik sesudah namanya disebutkan.

Sebelum ia menjadi solo artist (yang hebat, tentunya), Michael Jackson memulai karirnya di Boyband yang diurus dan dimanage oleh ayahnya sendiri, Jackson 5. Anggotanya adalah kakak-kakak nya, dan, pada saat memulai karirnya, ia masih berkulit hitam (ya, maaf, aku tidak bisa menggunakan istilah yang lebih politically correct, aku tahu). Tentunya ia termasuk golongan African-American.

Michael adalah anak paling muda dari kelima anggota boyband tersebut. Ia juga yang paling berbakat, dan kasarnya, ia juga yang paling labil. Tetapi, perlakuan ayahnya pada Michael tidak jauh berbeda dari keempat kakaknya.

Ritme harian Michael Jackson yang sedang berusaha keras untuk mendapatkan uang, ketenaran, dan juga agar keluarganya tidak perlu hidup “sulit” lagi (kurang lebih) berjalan seperti ini.

  • Bangun
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan siang
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan malam
  • Latihan/merekam lagu
  • Tidur
  • Protes? PETAK! Punggungmu dipukul dengan sabuk, atau kamu ditendang oleh ayahmu sendiri.

Oh iya, juga ada saat sesudah ia terkenal, latihan/merekam lagu berubah menjadi tampil. Jadwal Jackson 5 sangat penuh, dan mereka tidak bisa berkomentar atau meminta perubahan jadwal sedikitpun kepada ayah mereka.

Ya, menjadi orang african-american pada zaman itu memang sulit. Apalagi jika kamu ingin menjadi selebritis african-american.

Tentunya, Michael juga ingin menjadi anak yang lebih normal. Ia ingin pergi ke Disneyland, ia ingin pergi ke Kebun Binatang, ia ingin banyak hal. Mungkin keinginan dia yang paling sederhana adalah minum milkshake bersama ayahnya.

Ia tidak pernah mendapat kesempatan tersebut.

Sesudah tur, ia merekam album baru dengan tingkatan abuse yang sama (jika bukan lebih)

Tekanan dari dunia, dari orang tua, dan dari studio memberikan Michael Jackson efek yang sangat buruk ketika ia sudah dewasa. Memang ada efek positif ketika ia membuat amusement park, dan kebun binatang, mungkin untuk memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bersenang-senang ketika mereka masih punya waktunya.

Tetapi, efek negatifnya? Mulai dari merubah warna kulit (keluarganya sendiri menolak untuk menyatakan bahwa ia melakukan operasi karena ia tidak senang dengan kulitnya yang gelap. Oh tidak, keluarganya bilang ia memiliki kondisi kulit yang membuat warna hitam dari kulit tersebut memudar), sampai ke rumor-rumor kematiannya karena ia bunuh diri (albeit, there are other rumors).

Masa kecilnya begitu suram, sehingga hidup dewasanya terpengaruh.

Oh iya, satu hal lagi.

Ia tentunya sudah pernah juga hidup di zaman dimana dunia dapat lebih menerima orang-orang yang memiliki warna kulit berbeda. Aku berasumsi bahwa ia menyimpulkan jika ia tidak lahir dengan kulit hitam, atau lahir di zaman tersebut, ia akan memiliki hidup yang lebih bahagia.

Kesimpulan kasus

Terlalu banyak tekanan.

Macaulay Culkin

Oke, ini bukan kasus terkenal.

Tidak semua orang langsung tahu, siapa itu Macaulay Culkin. Tetapi, aku yakin, semua orang tahu, film Home Alone.

Ya, dia pemain di film tersebut, berperan jadi anak menyebalkan, tapi banyak akal.

Culkin terjerat narkoba pada tahun 2004. Ia juga kebetulan menjadi saksi atas kasus Michael Jackson.

Banyak laporan di sana dan di sini menjelaskan tentang cara ia terjerat narkoba, termasuk penggeledahan rumah, hotel, dan banyak lagi. Tentunya ia sudah masuk rehabilitasi narkoba, dan kurasa selama ia tidak berteman dengan orang-orang yang menjeratnya kembali, hidupnya akan mulus.

Kurasa Culkin adalah contoh yang pas untuk anak yang tidak diberikan tekanan yang cukup.

Ia dibiarkan melakukan apapun, dan orangtuanya tidak pernah memberikan tough love, atau tantangan. Ia juga kaya untuk hitungan anak berumur 10 tahun. Dan dalam beberapa wawancara ia juga pernah menyinggung fakta bahwa orangtuanya tidak pernah tampak peduli untuk apa yang ia lakukan di luar studio. (serius.)

Dari beberapa wawancara yang kusimpulkan, Culkin tidak jauh beda dari tokoh yang ia mainkan di film Richie Rich, dengan perbedaan bahwa ia sebenarnya memang bahagia karena tidak ada tekanan.

Dunia berkata lain sayangnya.

Ia bergaul di lingkaran yang salah dan menjadi pecandu narkoba. Ia juga mendapatkan jumlah kritikan yang tidak sedikit oleh fans-fans nya, karena sepertinya ia tidak pernah bermain di film lagi, dan, ya, ketenaran miliknya sudah hilang.

Untungnya ia sukses bounce back dari all time low miliknya… But, well, kita lihat saja nanti.

Kesimpulan Kasus

Tidak cukup banyak perhatian.

Kylian Mbappe

Ah, him.

Hanya 6 bulan yang lalu, ia memecahkan beberapa rekor. Rekor-rekor yang hanya Pele sendiri pernah penuhi. Ia menjadi remaja kedua (sesudah Pele) yang mencetak 2 gol dalam pertandingan piala dunia, dan ia juga menjadi remaja kedua (sekali lagi, sesudah Pele) yang mencetak gol di final piala dunia.

Baru minggu lalu, Pele mengaku bahwa ia percaya Mbappe dapat menjadi pemain yang lebih baik dari dirinya.

Kemarin, ia mencetak hat trick melawan Guingamp untuk PSG. Sayangnya, bola permainan diberikan ke Edinson Cavani yang mencetak gol ketiganya 11 menit sebelum Mbappe. Eh.

Oh iya, umurnya baru 20 tahun, dan… Kecepatan maksimalnya adalah 44.51 kilometer per jam, hanya 0.24 kilometer per jam lebih lambat dari Usain Bolt (sebelum berkomentar lebih lanjut mengenai siapa manusia tercepat di dunia, Usain Bolt dapat berlari sekitar 40 meter lebih jauh daripada sprint Mbappe pada umumnya)

Tentunya, ia memberikan kredit atas keberhasilannya sebagai atlit kepada kedua orangtuanya. Ketika menyindir jumlah uang yang ada di industri sepakbola dalam sebuah wawancara, ia sempat menyebutkan bahwa ia meminta sebuah jet pribadi untuk kedua orangtuanya.

Bagaimana ia bisa mendorong dirinya sejauh ini?

Tentunya, karena kedua orangtuanya.

Salah satu berperan sebagai orang yang mencintainya, dan yang lain berperan sebagai pendorong.

Ayahnya mendorongnya untuk menjadi pemain yang lebih bagus. Ayahnya menekannya untuk lebih fokus, memberikan target, memastikan target itu terpenuhi, dan ayahnya juga menjadi contoh yang baik untuknya.

Ibunya, pada sisi lain, (layaknya ibu untuk seorang anak laki-laki) mencintainya, tidak banyak berkomentar, dan memberikan dia izin untuk melakukan apa yang ia inginkan, selama permintaannya masih wajar tentunya.

Dan, Mbappe, sekarang menjadi salah satu pemain terbaik di dunia, sekaligus pemain muda yang masih bisa tumbuh dan menjadi lebih baik lagi. Just wait and see.

Kesimpulan Kasus

Tekanan dan cinta yang seimbang.

Banyak atlet mendapat perlakuan mirip seperti Mbappe, contoh: Tiger Woods…

The Vaccine Effect

Freud menjelaskan kesadaran dalam bentuk repressed memories, yang menjadi identitas kita, baik yang buruk, atau yang bagus. Identitas kita terbentuk dari ingatan yang tidak jelas, karena secara tidak sadar, ingatan tersebut kita tolak. Identitas terbagi menjadi 3 level. Ego, alias kepribadian/identitas yang jelas, Superego, alias kepribadian yang hanya tampak sesekali, tetapi ketika tampak, kepribadian tersebut lebih kuat. Yang terakhir, ID, ID atau Identitas adalah semua repressed memory yang menghasilkan diri kita, secara tidak sadar, semua keputusan yang kita buat diperintah oleh ID. Tiap kasus menciptakan identitas tiap pribadi masing-masing. Kepribadian tersebut yang mendorong mereka untuk membuat keputusan.

Seluruh kepribadian ini terbentuk pada usia 3-18, dan, memori yang ditekan ini mengatur cara seseorang sebenarnya berpikir. Pada fase pertumbuhan ini, orang tua harus memastikan anaknya mendapatkan tekanan yang cukup darinya sebagai… “vaksin” agar mereka siap mendapat tekanan dari dunia luar.

Kurang lebih vaksin yang dimaksud adalah tekanan ringan, agar anak nanti dapat siap untuk menerima tekanan yang mungkin memang berat, dari dunia luar.

Ini berpengaruh bukan hanya bagi ikon remaja atau anak, tetapi juga untuk semua anak. Mereka harus merasakan tekanan, serta juga mereka harus merasakan hal-hal yang memberikan hierarki, seperti bullying… Tanpa adanya tekanan tersebut, dan tanpa adanya bullying, atau dunia yang lebih keras… Kita akan lemah, dan tidak bisa ditekan sedikit pun.

This is bad of course.

Sampai lain waktu.

Apakah Hukum Murphy Merupakan Efek Psikologis?

Apakah Hukum Murphy Merupakan Efek Psikologis?

Who’s Murphy?

Nggak, serius, Murphy yang menciptakan Murphy’s Law, siapa dia?

Oke, meski sebenarnya banyak versi ke siapa yang menciptakan Murphy’s Law, aku ingin berpikir saja bahwa ada sedikit ironi bahwa pencipta hukum ini belum memastikan semua kondisi agar dia satu-satunya orang yang diingat sebagai pencipta Murphy’s Law.

Ya, bagaimanapun juga, aku ingin membahas sedikit banyak mengenai Murphy’s Law, karena terkadang, aku merasa bahwa efek dari Murphy’s Law ini lebih cenderung psikologis kebanding aktual. Seperti banyak hal di dunia ini (seperti perasaan nyaman, kasihan, dan dunia ekonomi sendiri), hukum Murphy hanyalah fiksi belaka yang diciptakan oleh otak manusia. Tentunya, otak kita yang begitu pintar ini mesti memiliki kelemahan, karena otak kita… sangat, sangat mudah ditipu.

Jadi, selamat menikmati!

Hukum Murphy?

“If something can go wrong, it will.”

Pada umumnya, ada 3 jenis interpretasi pada kalimat tersebut.

  1. Jika anda tidak memastikan sesuatu bisa berjalan dengan mulus sampai 100%, seberapa kecil kemungkinan ada kesalahan, maka kesalahan itu akan terjadi.
  2. Jika kalian sedang membuat kesalahan, itu akan muncul pada hari dan momen terburuk.
  3. Semua kesalahan yang mungkin terjadi, akan terjadi. (ini mungkin interpretasi paling harfiah, tapi, maknanya sedikit lebih dalam dari itu kok)

Interpretasinya tidak pernah diberikan istilah yang lebih mendalam atau jelas, tetapi aku akan memberi nama agar aku tidak menggunakan istilah interpretasi pertama, kedua, atau ketiga…

Interpretasi pertama akan kujelaskan dengan istilah Interpretasi Insinyur, nomor dua akan kusebutkan dengan istilah interpretasi keberuntungan, dan yang ketiga akan kusebut dengan interpretasi harfiah.

Oh iya, jika anda sudah mengerti, silahkan scroll ke bawah dan baca 300++ kata mengenai judul di atas, tetapi, jika masih ingin penjelasan akan interpretasi yang akan aku gunakan, jangan di skip ya 😉

Hari ini, aku akan menggunakan interpretasi keberuntungan…

Faktor Hoki

Apakah anda pernah berpikir bahwa anda sedang apes? Baru kemarin ada sedikit momen yang cocok dengan interpretasi kedua, dan terkadang, aku ingin berpikir mengenai faktor psikologis-nya…

Sebagai contoh…

“Sekarang pukul 10.20, kita perlu berangkat dari rumah pada pukul 10.45 sesudah memasak bekal. Jika tidak ada kesalahan apapun yang terjadi, makanan sudah akan siap pada 10.40. Sayangnya, gas di kompor habis. Ini berarti kita harus meluangkan waktu sekitar 10 menit untuk mengganti gas dan memastikan api di gas masih nyala. Gas pun diganti, dan waktu kita telah terbuang 10 menit.”

Berikutnya… Contoh-contoh yang ada dibawah ini lebih bisa diprediksi, tetapi sama-sama “apes”

“Aku terlambat masuk sekolah untuk pertama kalinya dalam satu tahun, saat berlari ke kelas, kebetulan, ada kepala sekolah yang memotong jalurku . Alhasil, aku dihukum dan mendapat 2 tugas ekstra sebagai hukuman.”

“Aku ingin pergi makan sate. Karena susah mendapat parkir, seorang pemesan yang membawa satenya pulang memesan 100 tusuk sebelum aku mendapat tempat duduk. Aku perlu menunggu 100 tusuk sate dimasak sebelum porsi punyaku dibuat.”

Intinya, banyak hal dapat terjadi pada momen apapun, namun, kita selalu melihat hal terburuk, dan mencari alasan untuk mengalihkan pikiran kita dari kabar buruk yang kita dapatkan. Kita mencari hal buruk agar kita bisa menjadi korban dan membuat diri kita merasa lebih baik.

Ya, alasan aku berasumsi bahwa momen-momen Hukum Murphy terkesan psikologis, lebih karena cara kita melihat suatu kejadian. Seperti sering dibahas oleh beberapa psikolog ternama, kita perlu 6 hal baik dalam 1 ingatan untuk menghapuskan 1 hal buruk dalam 1 ingatan. Tentunya, ini alasan perasaan puas susah didapatkan sesudah kita menghadapi satu kesalahan.

Psikologi Kesalahan

Tidak ada yang suka disalahkan untuk sesuatu. Terutama jika perasaan bersalah dan ditunjuk-tunjuk oleh orang itu mulai membuatmu merasa malu, atau membuatmu merasa lebih berantakan lagi dari seharusnya.

Ketika ada hal buruk terjadi, insting natural manusia adalah untuk menunjukkan jarinya pada orang lain, atau pada suatu pihak ketiga untuk menghilangkan ketidaknyamanan itu.

Anda perlu menunggu lebih lama untuk sate? UGH! Aku merasa kesal! Aku harus memberikan ketenangan pada kekesalanku. Oh iya, gara-gara tadi ada orang take-away 100 porsi tuh. HEUH! Sebel deh.

Huuu, aku gak pernah telat. Tetapi gara-gara aku telat pas kepala sekolah lagi lewat, aku jadi kena ekstra tugas deh. KESEL!

Yah, aku telat. Gas-nya abis sih! Tau gasnya abis kan masaknya lebih cepet!

Bagaimanapun seseorang ingin mengeluh, insting manusia untuk menenangkan diri mereka adalah mencari pihak ketiga (memang ada yang mencari orang lain untuk langsung disalahkan, tapi ini tidak umum dan sangat tidak sehat) untuk disalahkan agar ia dapat melepaskan diri dari tanggung jawab yang dibebankan oleh rasa bersalah dalam dirinya sendiri.

Nah, ini alasan aku melihat Murphy’s Law sebagai hal psikologis.

Orang yang tidak punya ketenangan dan pengendalian diri yang benar-benar baik hanya akan menenangkan diri mereka dengan menyalahkan orang lain dan melewatkan inti permasalah serta fakta-fakta yang sebenarnya ada di depan mata mereka.

Pada kasus keterlambatan tadi, mungkin memang tiap pagi, pada jam yang sama, kepala sekolah sedang lewat untuk memberikan berkas-berkas ke guru-guru lain.

Pada kasus gas, nyatanya gas kompor selalu diganti tiap bulannya, dan karena tidak ada yang memberikan jadwal atau rekapan gas yang jelas, gas perlu diganti secara tiba-tiba dan itu membuatmu merasa kaget mengingat momennya begitu tidak pas.

Pada kasus sate… Mungkin memang tiap Sabtu siang orang itu membeli 100 tusuk sate karena teman-temannya ingin datang, tetapi, anda tidak menyadari itu karena anda biasanya datang lebih cepat darinya.

Detil-detil kecil dan ringan ini sering dilewatkan orang-orang, karena mereka terlalu sibuk merasa kasihan pada diri mereka dan mengeluh. Orang-orang pada umumnya tidak akan melihat hal yang dapat diperbaiki, dan mereka melihatnya sebagai kejadian yang hanya terjadi sesekali, dan melupakannya begitu saja.

Ketenangan dan kepuasan yang didapat dari menyalahkan pihak ketiga, (dalam kasus ini, pihak ketiga yang paling sering kena tuduhan orang lain adalah keberuntungan) membuat orang-orang melupakan realita, serta fakta yang sedang mereka alami.

Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu, apakah hukum Murphy yang diinterpretasi seperti ini nyata? Ataukah itu hanya placebo untuk memberikan rasa tenang ketika kita sedang kesal akan sesuatu?

The Ultimate Placebo

Psikologi dan manusia sendiri dipenuhi oleh banyak hal-hal konyol dan tidak nyata.

Kita sangat mudah untuk ditipu orang dan terkadang, kita terbawa perasaan sehingga melupakan kenyataan yang sebenarnya ada.

Mungkin memang betul kita pintar, kita adalah spesies yang sangat pintar… Tapi, sayangnya, kita begitu emosional dan mudah ditipu, sehingga lebih dari setengah otak kita diisi oleh proses otomatis yang dibuat untuk menenangkan emosi-emosi yang kita miliki.

Pada akhirnya, daripada menyalahkan orang lain demi ketenangan jarak pendek, hal terbaik yang seorang manusia bisa lakukan adalah mencari solusi agar anda tidak perlu merasa tidak tenang untuk waktu yang terlalu banyak. Solusi jangka panjang lebih susah didapatkan, tetapi mendapatkannya memberikan kepuasan yang utuh, dan nyata. Kepuasan tersebut bukanlah placebo, karena anda telah sukses mendapatkannya tanpa perlu meyakinkan diri anda berkali-kali, kepuasan itu memang sudah ada di dalam diri kalian.

Psikologi: Shortcut Slip-up

Psikologi: Shortcut Slip-up

Selamat pagi lagi, kembali dengan tulisan dariku.

Aku memutuskan untuk pause dulu sebentar serial Road Trip-nya, dan kembali ke sedikit tulisan psikologi.

Dengan era Google Maps, Waze, dan aplikasi pencari rute kita biasa menemukan jalan-jalan kecil yang kemudian kita ingat kembali dan gunakan di kemudian hari ketika sedang tidak menggunakan aplikasi tersebut. Bahkan, suka ada saat dimana kita memilih untuk menggunakan jalan potong meski sebenarnya kita tidak perlu memotong jalan.

Namun, ada efek psikologis yang meliput jalan potong (atau shortcut) tersebut. Terkadang, kita merasa terlambat, terkadang kita merasa kita perlu memotong jalan, meski waktu yang dihabiskan sama saja.

Bingung? Mari diperjelas di bawah…

Time Scarce

Waktu, tidak semua orang punya waktu yang cukup untuk melakukan semua hal, dan terkadang, kita panik jika kita merasa kekurangan. Kepanikan ini sering kubahas ketika menggunakan S-word di atas (scarce/scarcity, bukan yang satunya lagi), dan seharusnya sudah bisa dimengerti.

Ketika kita kekurangan waktu, kita panik, ketika kita panik, kita bisa dan akan membuat keputusan yang salah. Ketika kita membuat keputusan salah ya… 🙂

Nah, jadi, anggap saja kita biasa melewati jalan potong, dan kita merasa bahwa kita menghemat 5 menit karena kita melewati jalan potong tersebut alih-alih melewati rute utama yang cenderung padat. Karena kita memutuskan untuk memotong jalan sebelum berangkat, kita bisa berangkat lebih telat, menggunakan waktu 5 menit tadi untuk sarapan.

(Tentunya tidak semua orang menggunakan waktu 5 menit untuk sarapan, dan juga tidak semua orang memiliki kemampuan dan rela untuk merencanakan sesuatu sampai titik menit yang cukup detil)

Ya, jalan potong dan rute alternatif membantu kita.

Meski, perasaan terbantu itu nyata, hampir tidak ada perbedaan jika jalanan berada dalam kondisi kosong. Mayoritas jalan potong hanya menghemat 100-500 meter, dan kurang lebih, itu menghemat 1-2 menit, mungkin lebih sedikit. Ada statistik yang menyatakan, bahwa jalan potong tidak sebenarnya membantu waktu tempuh yang kita gunakan.

Namun, statistik itu tidak diambil di Indonesia, (apalagi kota kaya Jakarta) jadi, sejujurnya, jalan potong memang membantu, namun, ketika jalanan kosong, fungsi jalan potong adalah sebagai “obat” atau “modifier” untuk membuat kita merasa lebih baik, dan santai.

Shortcut Slack

Slack. (sekali lagi, aku belum menemukan padanan bahasa Indonesianya). Perasaan yang kita dapatkan ketika kita punya suatu sumber daya, dan jumlahnya lebih dari yang kita butuhkan. Slack yang pas membuat kita merasa tenang. Sayangnya, terlalu banyak? Kita jadi malas dan tidak membuat keputusan yang dipikirkan luar-dalam. Terlalu sedikit? Kita jadi panik dan membuat keputusan dengan terburu-buru.

Dan, seandainya perasaan ini adalah uang, kita bisa membelinya dengan melakukan hal-hal yang mengurangi konsumsi sumber daya. Contohnya, dengan… Ya, menggunakan jalan potong.

Pengguna jalan potong (pada umumnya), atau pengguna aplikasi pencari rute, biasanya merasa terburu-buru, mereka merasa bahwa mereka kekurangan Slack, mereka tidak tenang, mereka takut mereka akan terkena macet, atau datang terlambat, jadi mereka memberikan kepala mereka sebuah obat dengan melewati sebuah jalan potong untuk menghilangkan perasaan panik tersebut.

Are we Clever?

Jika kita berbicara mengenai umat Indonesia, terutama yang tinggal di kota-kota macet seperti Jakarta, atau Bekasi, mayoritas manusia akan mengeluarkan respon dan rencana yang mirip.

Mereka tidak ingin merasa terburu-buru, kecuali memang sedang terpaksa, mereka tidak ingin merasa kesulitan, dan mereka ingin semua hal berada dalam kondisi sebaik mungkin.

Seperti disebutkan di atas, mayoritas orang yang menggunakan jalan potong memilih rute tersebut karena mereka memang sedang merasa tergesa-gesa, dan perasaan tergesa-gesa hanya terjadi karena perencanaan yang buruk.

Untungnya, perencanaan buruk tersebut bisa dirasakan, dan mesti didapat dari perasaan. Tidak ada cara absolut untuk menghindari perasaan terburu-buru atau panik. Berikut adalah 3 jenis orang yang menggunakan jalan potong. Sayangnya, ketiga pengguna jalan potong ini memiliki kekurangannya masing-masing… Dan, komentar serta tangkapanku… hanya satu dari 3 jenis yang bisa terbilang “pintar” .

The Emergency Runners

Jika anda terpaksa, atau memilih untuk melewati jalan potong sesekali, dan hanya melewati jalan potong ketika terburu-buru, anda masuk ke golongan pertama.

Golongan Emergency Runners ini merasa segala sesuatu perlu dikerjakans saat itu juga karena mereka tidak pernah merencanakan apa-apa dengan benar. Mereka selalu panik, selalu khawatir akan hal buruk, dan tidak berhenti untuk berpikir sebelum mengerjakan sesuatu.

Mereka tidak merencanakan rute yang mereka akan lewati, mereka akan menentukan rute ketika sudah berangkat, atau ketika sudah di jalan dan bingung akan pilihan yang mereka akan ambil.

Emergency Runners akan selalu merasa hal yang mereka perlu lakukan urgent dan mereka hanya akan melihat satu langkah ke depan, setiap masalah diselesaikan satu per satu dengan panik.

Mereka tidak pernah mendapatkan perasaan scarcity, tetapi, mereka akan menyelesaikan segalanya dengan benar, dan (semoga) on-time, meski, ya, dengan terburu-buru dan tanpa perasaan santai. Hidup mereka akan cepat stres jika tidak dimanage dengan baik…

Jalan potong digunakan emergency runner karena mereka merasa perlu melewatinya. Jika mereka tidak melewati jalan potong, mereka akan terlambat.

The Slack Creator

Slack Creator.

Jika Emergency Runners melihat hal hanya 1 hal ke depan, slack creators memutuskan untuk memanfaatkan semua slack yang mereka punya sekarang, untuk menciptakan momen-momen slack ke depannya.

Mereka butuh waktu diam 5-10 menit sebelum ada kesempatan untuk melihat apa yang akan mereka lakukan sampai siang atau malam hari. Mereka akan sedikit bernapas, lalu mereka akan menilai, mana opsi yang paling baik?

Para Slack Creator memutuskan untuk melewati jalan potong kapanpun mereka bisa, meski sebenarnya, mereka tidak perlu untuk memotong jalan.

Jika bingung, kuberikan saja contoh skenario.

  • Rudi harus sampai ke kantor pukul 8.00 pagi.
  • Ia bangun pukul 6.45 .
  • Karena ia ingin mandi dengan santai, ia memutuskan untuk mengambil jalan potong saja. Ia tidak menghitung, tapi karena ia butuh perasaan santai, ia akan melewati jalan potong. Semua jalan potong yang bisa ia lewati.
    • Dalam perasaannya, ia bisa sampai kantor dalam 15 menit perjalanan kebanding 25 menit yang biasa ia tembuh.
  • Karena ia merasa ia dapat sampai kantor dalam 15 menit, ia mandi sampai pukul 7.00 .
  • Ia siap berangkat pukul 7.10. Hmm, ada waktu cukup banyak.
  • Ah, sarapan dulu deh. Bikin yang rada repot juga gapapa.
  • Ia memasak… Umm, pancake misal! 10 menit untuk memasak, dan sekarang jam berada di 7.20. Hmm, aku santai. Makannya 10 menit juga bisa.
  • Karena ia makan dengan santai, ia melakukan cek-cek sosmed (yang tidak diperlukan) saat makan, dan waktu makan bertambah 5 menit lagi. 7.35 ia beres makan.
  • Ia berangkat langsung pada 7.37 sesudah memanaskan mobil dan sampai kantor tepat waktu.
    • Perubahan dari jalan potong hampir insignifikan, hanya berbeda 2 menit

Tetapi, jika ada sedikit kesalahan dari rencana ini, misalnya, perlu mengisi bensin, atau ada kemacetan yang tidak diduga, seluruh rencana ini buyar karena terlalu banyak slack yang digunakan oleh para slack creator.

Mereka merencanakan segala sesuatu agar bisa dikerjakan dengan santai, mereka sudah siap dan bisa melihat kapan ada waktu yang bisa dihemat, meski nyatanya, penghematan waktu itu hampir tidak ada, dan mereka merasa terlalu santai… Sedikit tekanan diberikan, dan POP! Balon mereka meledak.

Jalan potong berada untuk menghemat waktu dan memberikan ketenangan psikologis, agar mereka tidak perlu tergesa-gesa.

The Logical Planner

Ah, planner. Menurutku, jenis orang yang memanfaatkan slack seperti Planner tidak begitu buruk. Mereka merencanakan sesuatu dengan cermat, dan mereka adalah campuran antara kedua golongan. Mereka tidak punya sistem

Mereka merencanakan segala sesuatu dan benar-benar mengecek berapa banyak waktu yang bisa dihemat jika memotong jalan.

Huh, jalanan kosong… Aku memotong hanya akan melewat 2 menit, ah, ya sudahlah.

Tidak seperti kedua jenis orang lain, mereka akan mencoba menggunakan jalan potong dan benar-benar mengukur perbedaan waktunya, karena mereka berusaha mematikan psychological bias milik mereka, keputusan yang mereka buat lebih logis dan normal.

Biasanya mereka juga punya rencana emergency seandainya mereka terlambat, dan mereka siap untuk menghemat waktu dan menciptakan slack (bahkan dalam tekanan) kapanpun mereka bisa…

Kesimpulan

Yah, terlambat itu terasa payah, tetapi, sekarang, anda perlu menyadari… Jika jalanan kosong, jangan mau tertipu oleh Shortcut Slip-up dan terpeleset ketika anda merasa perlu mendapat bantuan psikologis.

Nyatanya, jika anda menggunakan logis-mu, anda tidak akan terlambat. Berencanalah dengan lebih baik 😉

Self Help Series: Tujuan

Self Help Series: Tujuan

Introspeksi adalah sebuah masalah unik.

Beberapa orang terlahir, atau terlatih dengan kepercayaan diri yang membuat mereka bisa melakukan hal seperti ini dengan sederhana, dan tanpa merasa gugup sedikit pun. Tetapi, juga ada sangat banyak orang yang tidak bisa melakukan hal sederhana ini.

Bagi mereka yang penasaran, aku memberikan sebuah petunjuk sederhana, dan tidak bersifat ala motivator yang (maaf) naif, secara ekstrim, mungkin aku akan menganggap teknik ini sebagai teknik yang counter-intuitive, dan terkesan ironis jika dilihat dari satu sudut pandang.

Introspeksi, siapkah anda untuk berintrospeksi ria sesudah membaca artikel ini?

Jadi, mari baca artikel ini sebelum anda dimakan oleh nafsu dan melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas.

Kausalitas

Untuk apa seseorang butuh Tujuan?

Dasarnya, dunia ini penuh dengan kausalitas (kausalitas = bahasa snob/nerd/filsuf untuk sebab akibat). Dunia ekonomi dipenuhi dengan sebab akibat, dunia kimia pada dasarnya juga dipenuhi dengan sebab akibat, dan hampir semua ilmu, atau tindakan, sangat berhubungan dengan sebab akibat. Jadi, sebelum kita lanjut, mari bertanya… Apa tujuan dari tujuan?

Tujuan adalah sebab anda melakukan sesuatu. Misalnya, gua mau kerja di kantor yang gajinya tinggi. Oke, dalam tindakan itu (yang berupa sebuah akibat) anda memiliki sebab. Sebab tersebut, ternyata, Karena gua kepengen punya Pajero.

Ya, sejujurnya aku tidak memberikan jempol pada orang di atas, tetapi, jika itu tujuan hidup anda, maka saya akan menghargainya, sebagaimana tiap makhluk hidup perlu dihargai.

Sebelum anda melakukan tindakan, anda harus memiliki sebab akibat terlebih dahulu. Percaya padaku, keputusan buruk tidak akan terjadi jika anda berpikir lebih tenang dan bertanya kepada diri anda sendiri. Jika anda punya sebab, anda bisa lebih mendalami hal yang anda lakukan, karena anda berharap bahwa sebab anda akan tercapai, sehingga, lebih banyak usaha akan ada keluarkan untuk memenuhi sebab tersebut.

Akibat tiap sebab akan berujung sama. Akibatnya adalah kesadaran diri. Ini akan aku bahas lebih lanjut di bawah.

Bagaimana anda mendapat sebab? Bertanya. Semudah itukah?

HA! (awalnya aku ingin mengisi ini dengan meme, tetapi aku tidak menemukan sebab yang cukup substantif)

Sayangnya, rasa takut untuk bertanya sering dialami semua orang. Bagi beberapa orang, mereka takut menyuarakan atau menanyakan pendapat mereka bagi orang lain. Bagi beberapa orang lain, mereka tidak ingin bertanya pada diri mereka sendiri.

Mereka merasa takut untuk mengetahui tujuan mereka sendiri.

Rasa Takut.

Catatan: EHEM. Maaf, aku akan terdengar seperti motivator naif dalam paragraf pembuka bagian dari artikel ini.

Courage is not the absence of fear. But the ability to act in spite of it.

-Mark Twain

Jadi, anda takut? Bagus. Rasakan perasaan itu. Lawan. Masalah anda akan beres. Perasaan takut bukan hal yang bisa dihindari, karena takut sendiri, akan selalu mengejar anda. Pada suatu titik, anda harus mau untuk berdiri dan berusaha melawan perasaan tersebut.

Nah, sekarang masuk ke opini yang semi sarkastis dan kontra intuisi milikku.

Coba tanyakan pada diri anda pertanyaan “Kenapa?” sebelum anda bertindak. Pertanyaan “Kenapa?” adalah pertanyaan yang penting jika anda ingin melakukan hal-hal yang lebih produktif, bermanfaat, dan juga untuk mengurangi efek samping. Terkadang, pertanyaan sederhana ini juga bisa membuahkan solusi yang anda cari-cari. “Kenapa?” hanyalah sebuah sebab, dan jawabannya adalah akibat. Jika kita berbicara dari sudut pandang kausalitas, tanyakan “Kenapa?” pada diri anda sendiri dan siap-siap untuk menertawakan beberapa hal-hal bodoh yang anda lakukan.

Anda akan tertawa karena anda tidak punya alasan yang baik, atau alasan anda sebenarnya konyol. Atau, kasus paling parah. Anda melakukan sesuatu dan meluangkan energi, serta sumber daya, untuk melakukan sesuatu yang tidak memiliki tujuan.

Sebagai contoh…

  • Kenapa saya makan di kafe ini? Harga menunya begitu mahal, makanannya gak enak, pelayanannya buruk… Kenapa sih?
  • Oh iya, saya diajak oleh teman-teman saya! Mungkin saya memilih untuk makan di sini karena saya ingin bertemu teman-teman saya.
  • Tetapi, Kenapa saya mau saja diajak teman-teman saya ke sini? Bukannya ada banyak opsi lain untuk makan.
  • Oh iya, saya mau diajak teman-teman saya ke sini karena mereka menyukai tempat ini.
  • Kenapa mereka menyukai tempat ini? Ini mungkin opsi yang buruk!
  • *terdengar suara cekrik, dan layar HP menunjukkan sebuah sosmed* OH! Karena itu!

Dari sini, kita bisa menemukan faktor. Faktor-faktor, sekali lagi, menyumbang ke sebab dalam dunia yang dipenuhi dalam kausalitas.

Faktor utama dari kasus di atas adalah karena tempat ini enak dilihat dan dapat menjadi sumbangan ke akun sosial media. Bagi beberapa orang, ini tentunya sudah biasa, namun, untuk beberapa orang yang ingin melakukan kontemplasi ala Nietzsche, mereka akan menyadari… seberapa bodohnya mereka.

Jika anda ingin mencari tujuan anda, anda harus menjadi seseorang yang cukup berani untuk menanyakan hal-hal yang anda rasa benar, pada diri anda sendiri.

Selamat menikmati mengobrol dengan batin anda, dan siap-siap merasa konyol.

Nilai-nilai

Kausalitas sendiri memiliki 3 bagian.

  • Sebab: Tujuan anda melakukan sesuatu, atau sebuah kejadian yang mengakibatkan kejadian lain.
  • Tindakan: Bagi beberapa filsuf tindakan adalah sebab, tapi karena akusedang membahas filsafat dan psikologi introspeksi, sebab masih belum nyata sampai adanya tindakan.
  • Akibat: Sekali lagi, akibat juga bisa dilihat sebagai tindakan bagi filsuf post-modern. Namun, karena ini filsafat dan psikologi introspeksi, akibat hanya ada satu jenis yang nyata. Yaitu, lebih mendalami.

Masalahnya, terkadang kita merasa takut (sekali lagi) pada apa yang orang lain akan pikirkan mengenai kita, atau berkata pada kita jika ada sebab, atau tindakan yang tidak cocok dengan pemikiran orang tersebut.

Jika anda merasa seperti itu, coba anda tanyakan lagi pada diri anda sendiri. “Kenapa?” saya peduli dengan pikiran orang lain? Sesudah anda bertanya, coba bandingkan tiap faktor tersebut dengan nilai-nilai yang anda sudah miliki, dan apakah itu sesuai? Apakah anda memiliki nilai yang baik? Mengapa anda memiliki nilai seperti itu?

Coba tanyakan lagi, dan sesuaikan diri anda dengan nilai-nilai yang anda miliki.

Kesimpulan

Obat kontemplasi adalah obat yang mampu bekerja dengan efektif, tapi dengan sedikit kelemahan berupa beberapa efek samping.

Efek samping dari melakukan metode introspeksi ini bisa berupa:

  • Berkontemplasi terlalu banyak dan melupakan bahwa anda punya pekerjaan yang seharusnya anda lakukan, tetapi karena anda terlalu banyak menanyakan mengapa saya melakukan ini… ups 🙁 .
  • Tertawa terbahak-bahak dan merasa bahwa anda sangat bodoh karena melakukan hal-hal tanpa tujuan jelas.
  • Menyadari bahwa anda salah. (ini bisa dilihat sebagai efek baik melainkan efek samping)
  • Menyalahkan orang-orang di sekitar anda karena tidak mengingatkan anda bahwa sebenarnya anda punya banyak kesalahan.
  • Diberikan tatapan “really?” oleh orang-orang di sekitar anda karena mereka mengingatkan tetapi anda tidak ingin mendengar sampai anda mendengar suara batin anda sendiri.
  • Mencoba mengoreksi orang lain dan mengajak mereka untuk berkontemplasi juga, namun dengan cara memaksa.
  • Berdebat selama berjam-jam dengan pasangan berusaha memperebutkan, siapa yang memberikan ide baik untuk berkontemplasi begitu lama dan menemukan semua kesalahan dalam berkomunikasi, dan dalam mengerjakan hal-hal.
  • Dan terakhir. Menyadari bahwa anda berdebat berjam-jam hanya untuk ingat anda berkontemplasi karena artikel ini.

Harap gunakan obat kontemplasi ini dengan bijak dan tidak terlalu sering menggunakannya.

Tambahan

Mohon maaf karena blog ini hampir berdebu, akan segera diperbaiki. 😉

Psychology of The Laugh Track

Psychology of The Laugh Track

Kita semua pasti sudah pernah menonton serial komedi.

Sebagian besar serial komedi memiliki sesuatu yang disebut sebagai… “canned laugh”. Kalian pasti tahu jika pernah menonton serial seperti Friends, atau Big Bang Theory, ketika ada sound effect tertawa di latar belakang, memberitahu kita bahwa itu lelucon, dan sebaiknya kita tertawa!

Jadi, sebagai tanda selebrasi pindah channel dari Last Man Standing, season terakhir dari Big Bang Theory, dan bulan Oktober yang aku sangat-sangat tunggu sebagai portal kembalinya serial!

Jadi, siap-siap mengisi alarm di HP-mu untuk mengingatkan kapan saja ada serial yang main! (or use Netflix… atau juga bisa menggunakan… Umm, portal film illegal [don’t])

The Canned Laugh

Canned Laugh…

Ada banyak sekali orang yang membencinya, dan juga ada orang yang sangat berterima kasih padanya! Tapi, dari mana asalnya?

Seperti pada kafe dan bistro yang mengizinkan stand up comedy, canned laugh tidak terlalu berbeda jauh dengan suara drum Ba-Dum-Tss di akhir sebuah acara… Konteksnya sama, hanya beda penempatan.

Namun, aku belum pernah melihat orang komplain pada suara Ba Dum Tss, sedangkan, untuk Canned Laughter… Wahahah, silahkan cari di Forum Movie Lover, atau dekat-dekat situ, dan mereka punya satu halaman khusus menyindir canned laughter tersebut…

Kalau kamu tidak suka pada Canned Laugh, maka Charley (iya, Charley, pake huruf Y) Douglass adalah orang yang akan kamu salahkan!

Coba cari dia di Google, dan kamu akan mengetahui bahwa dia orang kelahiran 1910, karirnya sudah berjalan sejak dia berada di awal usia 20-an. Pada zaman grey TV dan low tech itu, dia merupakan salah satu Sound Engineer paling dicari di U.S.A. dan kabarnya, jika dia berada di studio yang sudah memiliki film bagus, ia akan membuat suara dari film itu sempurna.

Bagi orang yang berpikir… “Hey, kasih saja aku kamera bagus! Aku bisa melakukan hal yang sama!” Coba ingat ini tahun 1930-an.

Pada awal karirnya, ia cukup membantu Amerika dalam membuat iklan-iklan seperti yang anda mungkin lihat di Captain America: First Avenger, dan tentunya, sedikit tayangan televisi.

Nama Charley Douglass sendiri baru tenar pada 1955-an, dan ada suatu studio yang ingin membuat suatu serial komedi… Karena difilmkan dalam Live Audience, serial komedi itu membutuhkan kemampuan editing suara yang spesial.

Siapa yang mereka cari? Charley Douglass…

Datang dan membantu proses pembuatan serial komedi itu, hal pertama yang ia lakukan… Mengeluh.

Menurutnya, dengan adanya live audience yang siap untuk ketawa sedikit (atau banyak) tiap kali ada momen lucu cukup merusak kualitas audio yang ada pada zaman itu.

Jadi, apa yang ia lakukan? Ia bilang, agar ia dan timnya tidak perlu terlalu banyak mengedit audio (alias, satu adegan, satu kali mengedit audio) karena susahnya mengedit dan melakukan filter audio.

Karena ia suka bekerja efisien, yang ia lakukan lebih konyol lagi… Ia meminta penonton tertawa sekali, dan ia mengisolasi suara itu, dan tiap kali penonton tertawa, alih-alih dia harus mengedit tertawaan yang baru, ia memasukkan klip suara tawa yang ia rekam, dan hanya bermain dengan fitur edit yang ada pada zaman tersebut, agar suara tawa yang menggelegar mendapatkan kesan variasi.

Surga efisiensi…

“Kemalasan” Douglass dalam mengerjakan tugasnya telah memberikan suatu ikon baru, yang masih menempel sampai sekarang, dan kembali mengingatkan orang-orang bahwa ada momen lucu yang mungkin saja kamu lewatkan.

Atau sebenarnya, ikonisnya Canned Laughter ini juga dibenci orang-orang yang sudah mengerti leluconnya dan merasa kesal karena mereka harus mendengar tawaan yang instan itu.

Istilah Canned Laughter sebenarnya muncul dari para hater, karena Charley Douglass sendiri menyebutnya Laugh Track. Menurut mereka, karena sound effect tawa menutupi lelucon yang berpotensi garing, dan cenderung tidak segar, tidak ada bedanya dengan memakan makanan kalengan. Jadi, ya, namanya berasal dari situ.

Do People Hate It?

Apakah orang-orang membenci Laugh Track/Canned Laughter?

Tergantung sebenarnya…

Jika kita melihat serial-serial (Catat bahwa aku tidak pernah melihat film layar lebar yang menggunakan Canned Laugh) komedi yang benar-benar sukses dan masih ditonton orang-orang 20-30 tahun setelahnya… (Maaf Bill Crosby Show) Sebagian besar memang menggunakan laugh track. Laugh Track yang dipakai pada zaman editing lebih modern juga dicampur dengan tertawa hanya untuk menutupi kegaringan, tepuk tangan jika ada momen seperti pernikahan, dan juga sound effect “Aww” kalau ada momen imut atau menyentuh.

Dan sekarang aku masih bingung mengapa sound effect sering diulangi di dunia nyata…

Intermezzo : Monty Python mungkin bisa dicatat sebagai salah satu karya yang tidak menggunakan canned laugh, menurut fans die hard dari Monty Python, canned laughter menyuruh kapan saja perlunya penonton untuk tertawa.

P.S. Aku sangat menyukai Monty Python and The Holy Grail, rasanya tidak penuh jika membahas komedi tanpa menyebut film ini.

Nah, kembali ke topik…

Sebuah tawaan yang diselipkan pada film-film seperti itu sering jadi topik pembahasan psikolog yang tidak punya kerjaan, dan memang suka menonton film komedi.

(Dalam proses pembuatan artikel ini, aku menemukan Psychology Stack Exchange, Movie Stack Exchange, Social Studies Stack Exchange, dan juga… Comedy Stack Exchange… Sepertinya mereka tidak tahu atau tidak menggunakan Quora)

Entah mengapa, Laugh Track sepertinya masih sangat populer dalam kalangan remaja. Semua TV Show Disney menggunakan Laugh Track…

Jika aku ingin mengaitkan ini ke psikologi, mungkin Laugh Track bisa jadi panduan untuk para remaja yang takut disindir dan berusaha keras untuk fit-in… Mereka lebih bisa mengikuti suatu kalimat komedis, dan tetap tertawa meski mereka tidak menganggap bagian tersebut sebagai bagian yang lucu.

Selain itu, jika memang ingin membahas top 5 acara komedi (menghitung serial yang masih berjalan pada tahun 2000… non kartun) hampir semuanya masih menggunakan Laugh Track. Ini merupakan perata-rataan dari beberapa web page…

  1. Friends (Dengan laugh track)
  2. Parks and Recreation (tanpa laugh track)
  3. The Office (tanpa laugh track)
  4. Big Bang Theory (dengan laugh track)
  5. How I Met Your Mother (dengan laugh track)

So, umm… Sejujurnya, jika kita bicara rating, sepertinya cukup rata. Ada orang yang ingin dipandu untuk tertawa, dan juga ada orang yang tidak ingin dipandu…

Selain itu, ada pola lain yang bisa aku temukan untuk jenis acara yang memang menggunakan laugh track, dan yang tidak menggunakan laugh track. Sepertinya, jika lingkaran acara fokus lebih banyak ke keluarga, atau ke teman, maka laugh track akan lebih sering digunakan (pengecualian di Modern Family), sedangkan, jika acara fokus ke lingkaran bekerja, laugh track tidak digunakan…

It’s just a random thought…

Dengan batas pengetahuanku, aku tidak mengetahui semuanya, tapi dari mayoritas daftar top 10 dan top 20 komedi yang aku temukan… mayoritas memiliki pola seperti di atas.

The Feels

Ketika kita bicara komedi, kita tidak bisa menggunakan psikologi untuk menciptakan adegan lucu… (tapi sejujurnya, aku mulai takut jika kita akan bisa menggunakan psikologi untuk membuat orang tertawa… Itu akan menjadi sebuah teknik murahan yang menjelek-jelekkan seni manusia) Kembali ke topik, humor merupakan sebagian bakat, dan sebagian juga turunan, tergantung sumbermu mendapat komedi…

Jadi, tentunya, kita perlu masuk ke daerah dimana selera humor yang baik bisa ditemukan di sana, di sini, dan di seluruh daerah tersebut… Mari kita berjalan ke… 🙂

Inggris!

Mari kita tanyakan “KENAPA” pada salah satu ahli komedi, Graham Linehan. Seperti orang yang tinggal di daerah Inggris pada umumnya (Linehan berasal dari Irlandia), ia memiliki sumber selera humor yang baik, dan sepertinya, bakatnya juga dialirkan dengan halus, sehingga ia cukup terkenal dan mampu menulis beberapa jenis sitcom yang sukses…

Menurutnya, komedi akan terasa lebih hampa jika hanya kamu saja yang tertawa, dan jika kamu ingin merasa lebih utuh, kita perlu seseorang untuk menemani kita tertawa, dan Linehan memutuskan untuk menambahkan Laugh Track pada tiap serialnya.

Meski memang ada yang gagal, Linehan juga cukup sering membuat sitkom sukses…

Tambahan komentar lainnnya dari Linehan…

Canned Laughter bukan jenis tawaan yang ia sukai, ia lebih menyukai laugh track yang diedit secara keseluruhan bersama audio utuh, dan ia menggunakan live audience yang suaranya akan diedit oleh tim editing miliknya…

Graham Linehan juga suka menyatakan bahwa adanya Live Audience akan membuat tim-timnya memaksa dirinya agar acara tersebut lebih lucu. Jadi, terkadang ada beberapa acara TV yang tidak menggunakan suara tawa sebagai alat bantu bagi penonton, tetapi sebagai sumber motivasi pemain, serta penulis naskah.

Linehan juga memberikan komentar tambahan… Jika serial itu memiliki konten yang cenderung kontroversial pada negara TV Show tersebut akan keluar… Akan jauh lebih baik jika kamu TIDAK memasukkan laugh track. Sebagai contoh, jika kamu membuat komedi yang menyindir ratu inggris, jangan tambahkan laugh track, karena itu akan menambah dan melipatgandakan kontroversi, karena dengan adanya laugh track, orang-orang tahu bahwa penulis menginginkan bagian dari acara tersebut sebagai bagian yang lucu.

The Psychology

Sebagaimanapun orang-orang tidak menyukai laugh track, mayoritas orang memang menyukainya…

Ada rasa tantangan dan drive dari pihak luar agar kita tertawa hanya demi menutupi rasa malu, juga ada rasa lebih penuh karena kita memiliki teman untuk tertawa bersama-sama dengan kita.

Acara yang tidak menggunakan laugh track memiliki kesempatan untuk sukses sebesar 20% lebih banyak kebanding yang tidak.

Masalahnya hanya berada pada orang-orang yang tidak menyukai laugh track dan menganggapnya sebagai suatu hidangan dari kaleng yang tidak segar… Biasanya orang seperti itu akan mengeluh, dan dari orang-orang tersebut, bisa keluar image buruk dari laugh track.

Jika kamu memang menginginkan uang, gunakanlah laugh track… Tapi jika tujuanmu membuat orang tertawa dan merasa yakin bisa melakukannya tanpa laugh track… go ahead!

Kesimpulan

Terkadang, kita tidak bisa merubah suatu keadaan… Dan juga, terkadang, banyak orang mengeluh terlalu banyak…

Well, jika kalian tidak suka dengan canned laughter maka silahkan, pilih serial yang tidak menggunakannya, namun, kurasa, tidak ada salahnya menerima dan menggunakan tawaan instan seperti itu sebagai alat bantu…

Terkadang canned laughter membuat kita kepo dan mencari tahu sebuah joke yang kalian tak mengerti… Kekepoan memang karakter dasar manusia… who can blame us…

Sampai lain waktu!

Apakah Ujian Kepribadian Dapat Diandalkan? Pt. 1

Apakah Ujian Kepribadian Dapat Diandalkan? Pt. 1

Statistika adalah sebuah sains yang amat-amat berhubungan dengan angka, dan biasanya, kuantitas. Jika seseorang ingin menanyakan apakah ujian kepribadian bisa dianggap sebagai suatu ujian yang hasilnya mampu diandalkan, kita perlu melihatnya secara statistik.

Tetapi, ada sebuah masalah krusial dari ujian kepribadian, terkadang, orang-orang tidak mau menerima hasil ujian kepribadian itu, dan menyalah-nyalahkan beberapa jawaban demi mendapatkan hasil yang diinginkan.

Masalah lain dari ujian kepribadian, adalah dari hasil yang didapatkan dari ujian tersebut. 90% dari hasil ujian kepribadian (terutama yang online, dan biasanya, yang online ini dijadikan patokan sebagai kepribadian seseorang dalam dunia nyata, bahkan ada orang yang dengan sengaja berlagak seperti kepribadian yang ditunjukkan oleh ujian tersebut) menggunakan kuantitas, layaknya statistika alih-alih kualitas, dan hasil pengamatan.

Psikologi memang cenderung mengarah ke statistika, tetapi, menurutku seni dan intisari psikologi bisa dianggap hilang jika memang betul psikologi akan mengarah ke statistika.

Untuk membuktikan bahwa psikologi bisa dianggap sebagai ilmu yang benar-benar dependen, meski tidak mengarah ke kuantitas lebih banyak daripada ke kualitas, kita perlu pertama-tama melihat ke dependensi ujian kepribadian pada hasil akhirnya.

Untuk ini, kita akan menggunakan ujian kepribadian MBTI, atau juga diketahui sebagai 16personalities. Tes paling umum dapat ditemukan di 16personalities.com

Part 1 akan menjelaskan teknis sebelum menguji statistik, sedangkan part 2 akan menguji statistik dengan semua faktor yang telah disampaikan pada part 1.

Cara Kerja Ujian Kepribadian

Biasanya, tiap ujian kepribadian menggunakan suatu jenis “poros” atau patokan untuk mendapatkan jawabannya. Yang Dimaksudkan disini adalah suatu template kepribadian yang cukup akurat. Pertanyaan digunakan sebagai metode untuk memilih template kepribadian milik kita.

Cukup mirip dengan political compass, dimana Kapitalisme dan Komunisme takkan mungkin berada di titik yang sama, seperti Nasionalisme dan Liberalisme takkan berada di titik yang sama… Introvert takkan mungkin menjadi Extrovert, Observant takkan mungkin menjadi Intuitive, dan seterusnya.

Pada dasarnya, template yang perlu diikuti sudah ada, ujian kepribadian hanya mengukur berdasarkan tingkah laku tiap kondisi, dan menunjukkan kita lebih condong ke sebelah mana.

Cara kerja ujian kepribadian biasanya fokus ke statistika dan tingkah laku seseorang dalam template tersebut jika dihadapkan ke sebuah situasi yang sama. Sebagai contoh, seorang extrovert takkan memutuskan untuk menyendiri ketika ada acara sosial, pada sisi lain, seorang introvert takkan mau untuk berada di tengah-tengah ruangan ketika ada sebuah kerumunan.

Jenis-jenis kepribadian MBTI

Poros-poros kompas MBTI kurang lebih seperti ini…

Introvert (I) Vs Extrovert (E)
Intuition (N) Vs Observation (S)

Thinking (T) Vs Feeling (F)
Judging (J) Vs Prospecting (P)

Selain itu juga ada satu poin lagi yang tidak ada hubungannya dengan hasil, tetapi lebih ke, kepercayaan diri kita saat memberikan jawaban.

Assertive (-A) Vs Turbulent (-T)

Semua poin ini akan dibandingkan dan diubah menjadi suatu hasil, jika kamu Extrovert yang menggunakan Intuisi, dan berpikir, serta suka berpikir berulang kali sebelum mengambil kesimpulan, maka kamu adalah seorang ENTP. Sesederhana itu sebenarnya. Hasil akhir tiap personality didapatkan dari sebuah daftar yang sudah ada, sebagai contoh, ENTP adalah seorang Debater, orang yang senang membuktikan orang lain salah dan mencari ide baru… dan seterusnya, bisa dicek saja di 16personalities.com tadi.

Introversion vs Extroversion

Pada dasarnya, Introvert vs Extrovert membedakan cara kita membuat diri kita sendiri lebih segar, dan aura yang kita keluarkan ketika kita bersama orang lain.

Sayangnya, kalau aku membahas secara statistik, Extroversion dan Introversion ini seringkali disalahmanfaatkan. Secara statistik, diantara 5 orang yang mendapat hasil Introvert pada ujian kepribadian, hanya 1 orang yang benar-benar introvert.

Alasan dari ini adalah, banyak orang tidak dapat mengambil atau melihat social circle yang mereka gunakan untuk test. Ada orang yang memang 100% extrovert pada hampir semua tes yang mereka ambil, karena pada situasi sosial manapun, mereka extrovert. Tetapi, ada orang yang merasa canggung pada social circle tertentu, seperti pada keluarga, atau dengan teman. Mereka hanya menggunakan satu lingkaran sosial, dan melupakan lingkaran sosial yang lain.

Oleh karena itu, biasanya Introversion dan Extroversion ini paling inakurat dibandingkan semua yang lain. Tanda terbaik untuk kegagalan dan ketidak dapat diandalkannya kepribadian data.

Intuition vs Observant

Intuisi dan Observasi ini biasanya merujuk melihat cara seseorang bertindak ketika melakukan sesuatu. Seseorang yang intuitif biasanya melakukan tindakannya secara langsung, dan lebih banyak improvisasi kebanding merencanakan. Seseorang yang observan justru sebaliknya, dan selalu memiliki rencana sebelum melakukan sesuatu.

Statistik ini biasanya cukup akurat, tetapi juga sering terjadi inakurasi dikarenakan orang yang menjawab tidak ingin mengakui dirinya sebagai orang yang… Tidak beraturan ketika bekerja.

Terkadang, seseorang yang dibesarkan atau berada dalam lingkungan yang dipenuhi orang observan, suka merasa bahwa mereka observan, seperti orang lain dalam lingkarannya, padahal mereka sebenarnya intuitif yang mengikuti rencana seorang observan.

Thinking vs Feeling

Ini mungkin faktor paling mudah, serta faktor paling akurat diantara keempat kompas ini.

Tentunya, seorang pemikir akan lebih mudah untuk menggunakan logika untuk menjawab sesuatu, dan biasanya, ia juga akan menggunakan logika, alih-alih perasaan dalam sebuah personality test.

Seseorang yang sensi-an dan mengikuti emosi, juga tidak akan berpikir dalam sebuah personality test, ia akan mengikuti apa yang ia rasakan.

Sayangnya, jika aku perhatikan, kualitas dan ciri-ciri seseorang yang berpikir ataupun merasa… Mereka cenderung menggunakan logika untuk merubah hasil asli dari personality test ini, sama seperti seseorang yang menggunakan emosi, membiarkan emosinya merubah hasil personality test yang mereka ambil.

Untungnya, Thinking vs Feeling ini tetaplah faktor dan ideologi paling akurat.

Judging vs Prospecting (or Perceiving. Kalau kamu bukan Millennial)

Jadi, sesudah kita melihat suatu hal dari beberapa sudut pandang, entah melakukannya dengan logika, perasaan, mengamati dengan lebih detil, atau dengan langsung loncat dengan menggunakan intuisi… Akan ada hasil akhir yang perlu diambil. Inilah cara orang-orang memutuskan untuk mengambil kesimpulan.

Ada orang yang langsung memutuskan untuk judge, terkadang, mereka tidak mau melihat apa-apa yang dilakukan dan langsung menggunakan opini mereka, alih-alih melihat dari sudut pandang lain. Orang yang memutuskan untuk Judge, biasanya tidak mau mendengar alasan Ba-Bi-Bu, tapi, atau apapun semacamnya. Mereka hanya melihat dari satu sisi, dan tidak melihat alasan di balik tindakan tersebut.

Tetapi, juga ada orang yang tidak menggunakan opini mereka, dan mereka memutuskan untuk berpikir, apa sudut pandang, apa alasan, apa yang membuat mereka bertindak atau berpikir seperti itu. Dari sini, mereka bisa memutuskan untuk menyukai, atau membenci tindakan tersebut.

Statistika antara Judging atau prospecting ini biasanya cukup stabil, meski ada sedikit kasus dimana seseorang ingin melihat grey area pada satu titik, dan ingin langsung mengambil kesimpulan pada kasus lain.

Masalah-Masalah…

Sayangnya, ketika seseorang ingin keluar dari statistika, hanya ada satu cara untuk mengeluarkan diri dari statistika tersebut… Statistika yang membuktikan bahwa statistika tersebut salah.

Masalah-masalah tersebut berada di… Cara hasil tersebut didapatkan.

Hasil didapatkan dari persentase, seberapa extrovert seseorang jika dibandingkan dengan Introversi miliknya. Sayangnya, ini terkadang bisa menciptakan sebuah error, dan ini kesalahan fundamental pada sistem tiap personality test, terutama yang online.

Terkadang ada seseorang yang memiliki perbedaan persentase antar keduanya hanya 2%. Misalnya, ada orang yang 49% Introvert, dan 51% Extrovert. Orang tersebut akan dinilai tetap sebagai Extrovert, meski ia sangat-sangat dekat untuk berubah menjadi seorang Introvert.

Aku sendiri untungnya tidak pernah mengalami masalah ini. Sesudah menyadari dan mengetahui bahwa menyalahjawabkan beberapa hasil itu tidak akurat, hampir semua persentase antara poros-porosku, memiliki perbedaan 40% atau lebih.

Extrovert 100%, Intuition 92%, Thinking 87%, dan Prospecting 92% juga.

Aku merasa cukup yakin ini betul karena aku paling senang ketika aku membuktikan orang lain salah, dan aku rasa hasil ini cukup memuaskan.

Tetapi, aku juga memiliki seorang teman yang mendapatkan hasil INTJ, tetapi hasilnya sangat-sangat tipis untuk berubah menjadi ESFP… Persentase tertingginya hanya 66%, sedangkan, yang lainnya mencapai 51/49, dan statistik lain juga kecil.

Selain itu, ada masalah lain, selain batas yang terkadang amat tipis ini, dan kadang bisa condong ke sisi lain ketika menjawab tes untuk kedua kalinya.

Karena mayoritas tes ini dilakukan online, ada masalah krusial… Ketika kita tidak mendapatkan human contact dan merasa malu ketika menjawabnya. Ironisnya, ada pertanyaan tentngang kepedulian kita pada perasaan orang lain… Ketika menjawab, ada orang yang berpikir tentang perasaan orang lain disekitarnya, tetapi, ia menjawab pertanyaan ini langsung secara kebalikannya.

Ya, masalah tidak ada human contact ketika melakukan tes bisa menjadi faktor.

Masalah terakhir…

Apakah testimoni bisa diandalkan?

Begini, terkadang ada orang yang memang mendapatkan hasilnya dengan benar, tetapi, ia hanya merasa bahwa hasil yang ia dapatkan sebagai sesuatu yang benar, karena ia senang bahwa personality miliknya mirip dengan… Elon Musk, misalnya, maka ia akan menganggap hasil itu benar, padahal, itu belum tentu…

To Be Continued

Apakah ujian kepribadian betul tidak dapat diandalkan 100%?

Aku hanya akan memberikan faktor dan masalah-masalah, lalu akan mengujinya, setelah mendapatkan statistik cukup banyak, pada minggu depan…

Sampai minggu depan ya!

Moral Judgement As A Child Ep. 1

Moral Judgement As A Child Ep. 1

Serial ini adalah sebuah serial yang aku gunakan untuk menulis recap tentang diriku sendiri ketika aku masih anak-anak. Mengingat artikel recap buku tulisan Jean Piaget, aku ingin menuliskan sedikit tentang pengambilan keputusan yang aku buat selama aku masih anak-anak. Apa yang aku lakukan, mengapa, dan apa yang anak lain lakukan kepadaku atas tindakanku.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir dan dilihat ulang beberapa kali dari sudut berbeda, akan sedikit tampak bahwa aku termasuk anak yang berusaha mengambil alih, dan bukan mengikuti arus anak-anak pada umumnya. Tetapi aku sedikit (ehem, yakin sedikit?) banyak gagal, dan aku… ya, baca aja sendiri deh.

Episode ini hanya akan membahas ketika aku masih berumur 7 tahun, karena sisanya aku akan bahas nanti. Sebelum aku mencapai umur 7 tahun, aku masih lupa-lupa ingat tentang apa yang aku lakukan, dan ketika  sudah diingat mungkin bisa jadi episode 2, 3 dst. Untuk umur diatas itu, akan jadi jauh lebih rumit, untuk pilot, mungkin konfliknya bisa dibuat sederhana saja.

Basa basi sudah beres, langsung saja aku cerita.

(FYI aku Homeschool sekarang sebelum ada yang menanyakan aku sekolah dimana)

Disclaimer: Nama-nama disini adalah nama Pseudonym, aku tidak akan, dan tidak akan pernah menggunakan nama asli, kecuali untuk diriku sendiri

Case Review

  • Nama Klien: Azriel Muhammad A.H., ketika umurnya masih 7 tahun
  • Nama Kasus: Bermain Bola di Lapangan Basket
  • Waktu dan Tempat Kejadian: *Nama sekolah ketika klien masih sekolah disensor untuk menginformasikan bahwa ini bukan iklan*, sekitar 8 tahun yang lalu, klien tidak bisa mengingat tanggal yang pasti.
  • Overview (Ikhtisar, [aku tidak suka kata itu, jadi kita gunakan overview saja]):
    • Klien merasa temannya yang sedang menjadi alpha dalam kejadian ini tidak tahu cara bermain bola dengan benar. Temannya berusaha memberikan diktasi atas peraturan, namun klien merasa bahwa diktasi peraturannya sangat-sangat konyol. Klien memutuskan untuk kesal sendiri. Sesudah klien menenangkan diri, baru ia mencari solusi.

 

Ditandatangani, Azriel Muhammad A.H. dari masa kini.

Kejadian…

Day 1

Hari itu, tahun itu, klienku yang sekarang telah tidak pernah menyentuh bola sepak sejak kelas 6 SD, masih menyukai bermain sepak bola. Kurasa inilah dampak seseorang mengenal game komputer, langsung hilang minatnya bermain olahraga. Ia sedang bermain sepakbola bersama temannya, dan klienku sendiri mulai berpikir kritis dan berusaha membanding-bandingkan situasi di lapangan dengan situasi di televisi, ketika ia dan ayahnya menonton bola.

Klienku bercerita, bahwa pada hari itu, ia merasa bahwa temannya sudah kebangetan. Ia mengira bahwa tiap tim boleh melakukan tendangan pojok, atau corner kick, ketika tim musuh mengeluarkan bola ke gawangnya sendiri.

Sayangnya dikarenakan ia dianggap sebagai pemain yang sangat payah, (tentunya, aku sendiri, sebagai psikolog yakin bahwa ia tidak sepayah itu juga) ia dianggap tidak mengerti cara bermain sepak bola sama sekali. Padahal justru, menurut klienku, bukan berarti karena ia tidak bisa bermain sepak bola dengan baik, ini berarti bahwa ia tidak mengerti peraturannya.

Tiap kali sebuah tendangan pojok dilakukan oleh temannya, padahal yang seharusnya dilakukan adalah goal kick (tendangan gawang), ia protes, namun sayangnya, klien saya tidak didengar suaranya.

Ia berusaha memberitahu temannya yang sok tahu akan peraturan bahwa cara bermainnya itu, tidak seperti itu! Namun, sayangnya, semua orang temannya memutuskan untuk pura-pura tidak tahu akan peraturan sederhana itu. Ia diprotes, dan kata temannya jika ia diprotes terus, ia akan diganti oleh pemain lain, meskipun mereka berada di dua kubu berbeda, semua temannya mendengar.

Klien saya dengan sedihnya dikeluarkan dari permainan itu. Ia bilang ke saya bahwa ia sudah berusaha meyakinkan, tetapi sayangnya ia gagal. Ia menutupi istirahat makan siang itu dengan sebuah rencana penggulingan. (oke, aku yakin kata yang klien saya pakai bukan penggulingan, tetapi aku tidak mencatat, dan anggap saja ini semacam dystopia)

Hari itu, saat pulang, ia berjalan ke lobby sekolahnya (yang jaraknya sekitar 500 meter dari ruang kelas) bersama temannya. Temannya yang baik, sebut saja Alam (pseudonym) ini, bilang bahwa sebenarnya ia setuju dengan dia, memang yang boleh melakukan corner kick itu hanya tim yang sedang menyerang, tim bertahan diberikan goal kick, dan bukan corner ketika itu terjadi. Namun, ia diam saja, dan ia tidak mau membela karena tidak ingin ikut terlibat konflik.

Day 2

Klien saya bercerita bahwa pada hari kedua, kelas mereka sedang tidak diberi jatah untuk bermain di lapangan basket, mereka akan mendapat jatah mereka 2 hari lagi, sesudah angkatan kelas 3 dan 4 mendapat jatah bermain juga.

Sistem rolling ini bisa tercipta dikarenakan lapangan sepakbola yang mereka miliki tidak bisa digunakan, kecuali ingin harus mengambil bola ke pinggir sungai jika terjadi out. Amat disayangkan.

Untungnya, meskipun klienku (ia mengakui ini) menyebalkan ke teman-teman angkatannya, ia cukup dikenal sebagai anak baik dan pintar di sekolahnya dulu. Kemungkinan besar, anak-anak Kelas 3 dan Kelas 4 disitu juga cukup tahu padanya, meskipun ia baru kelas 2. Ia hebat sekali ya… 😀

Jadi, pada hari kedua, ia mendekati kakak-kakak kelas 4 yang sedang bermain. Ia mencari kakak yang cukup baik, setidaknya sepengetahuannya, bernama Leon. Kak Leon ini juga katanya termasuk salah satu pemain sepakbola yang paling jago.

Ia mendekatinya, dan ia berusaha curhat, menceritakan masalahnya. Kak Leon ini langsung bersimpati padanya, ia memberi sugesti ide, bahwa dua hari dari sekarang ia akan ikut bermain, dengan satu temannya agar tidak ada yang protes ada kakak kelas 4 di tim musuh, dan akan menjelaskan peraturannya.

Klienku yakin bahwa jika ada Kak Leon dengannya, ia akan sukses memberi tahu temannya akan peraturan yang sebenarnya, dan dia akan akhirnya bisa bermain sepakbola tanpa rusuh dan stres sendiri akan kesalahan peraturan setiap kali ada tendangan pojok.

Day 3

Hari ketiga, lucunya, kakak kelas 3 yang sudah booking lapangan tidak jadi mengambil lapangan itu. Jadi, kami dari kelas 2 langsung mengambil lapangan.

Kak Leon dan temannya Kak Didit yang ingin ikut bermain di esok hari sudah menyampaikan pesan bahwa ia akan ikut bermain besok, tidak ada yang protes, teman-temanku malah senang mendapat striker.

Dikarenakan ukuran angkatan yang kecil, kita bermain futsal/sepakbola dengan 7 vs 7. Klienku merasa terpaksa main, karena memang hanya ada 14 pemain. Awalnya, ia tidak ingin bermain agar dia tidak frustrasi akan error sederhana, namun ia menelan nasib saja, ia berkata pada dirinya bahwa ia bisa, dan akan tetap sabar.

Sayangnya itu gagal.

Ketika ia melakukan perebutan bola, terjadilah sebuah pelanggaran. Klienku langsung diberikan kartu kuning (menurut seluruh tim musuh, kami tidak punya wasit), padahal menurutnya pelanggaran itu masih dalam batas wajar, dan tidak perlu diberikan kartu kuning, cukup tendangan bebas saja.

Untungnya, kali ini, timnya membela, timnya bilang bahwa tidak semua pelanggaran harus diberikan kartu kuning. Sangat beruntung bahwa temannya Alam percaya padanya (dan juga memang sudah menonton pertandingan yang tidak memberikan kartu kuning setiap pelanggaran), sambil ikut bilang ke anggota timnya untuk bilang bahwa itu tidak perlu diberikan kartu kuning.

Tim lawan percaya, dan hanya pergi dengan tendangan bebas. 

Tetapi, hari itu, klienku sedang merasa sedikit frustrasi, dan tidak sabaran, ia tidak sabar menunggu hari dimana tidak ada lagi tendangan pojok defensif. Ia jadi, melakukan sebuah pelanggaran, tepat dihadapan kiper.

Lapangan basket tidak punya kotak penalti, iya, betul. Namun, sudah disepakati oleh semua orang, jika pelanggaran tepat dihadapan kiper, akan diberikan sebuah penalti.

Timnya semua setuju, klienku pun mengakui bahwa itu harus diberikan sebuah penalti. Tetapi, sayangnya temannya yang sok tahu ini, bernama Putra (teman yang sama yang bilang bahwa tendangan pojok itu… ya tahu lah ya), bilang bahwa, tiap kali ada Penalti, harus ada kartu merah.

Ini langsung ia protes, ia tidak terima, ia yakin tidak semua penalti harus dihukum dengan kartu merah, setidaknya terakhir kali ada penalti dalam salah satu pertandingan Liverpool di Premier League, ia yakin bahwa tidak seperti itu.

Jadi, ia membantah, dan ini adalah percakapan anak berumur 7 tahun, membahas sesuatu sesederhana (ehem, peraturannya 192 halaman sendiri) sepakbola…

  • Putra: Hey, kalau penalti itu langsung dikasih kartu merah tau!
  • Azriel: Gak ah, aku yakin gak dikasih kartu merah, terakhir kali Liverpool dapet penalti lawannya gak dikartu merah kok!
  • Putra: Ini kan futsal!
  • Azriel: Iya, tapi kan tetep aja, futsal peraturannya dasarnya mirip sepakbola
  • Putra: Iya, tapi kan kartu merah
  • Azriel: Kan futsal mestinya 5 orang, ini ada 7
  • Putra: Kan biar adil…
  • Teman nyeloteh (klienku tidak ingat itu siapa): Iya, masa kita jadi pake cadangan, entar semua orang gak bisa main dong!
  • Azriel: eh iya, maaf ya…
  • Putra: Iya, betul kan, berarti kartu merah aja ya!
  • Azriel: Kan gak sengaja, pelanggaran itu wajar lho!

Sayangnya seluruh tim lawan klienku sudah keburu sebal akan pernyataan yang ia bilang dimana mestinya futsal itu 5 lawan 5. Ia tidak diberi kesempatan untuk mendebat lagi. Jadi, dengan sedihnya, ia diberikan kartu merah sebagai hukuman sosial untuk tidak mengikuti alpha, dan juga untuk hukuman akan salah memberikan pernyataan.

Klienku mengaku bahwa ia sebal, dan ia mengakhiri hari dan istirahat makan siang menemani temannya yang menggambar. Temannya Eka tidak suka bermain sepakbola, dan klienku mengakui bahwa sahabatnya pada saat itu, dan terus sampai ia kelas enam, adalah si Eka ini. (Eka itu cowo ya, jangan salah, aku kurang kreatif membuat pseudonym)

Eksekusi Rencana

Day 4!

Klienku datang bersama Kak Leon dan Kak Didit untuk bermain bola, kali ini 8 lawan 8.

Ia berbisik ke Kak Leon, dan percakapan pendek mereka berujung seperti ini…

  • Azriel: Kak, langsung bilang ya, aku mulai kesel soalnya Kak, entar aku darah tinggi lagi… kebanyakan makan garam (btw, ini lelucon di kelasnya klienku, katanya jika orang marah-marah, disebut sebagai orang yang kebanyakan makan garam)
  • Kak Leon: Jangan dulu Zriel
  • Azriel: Hah? Kenapa?
  • Kak Leon: Nanti aja, biar bolanya keluar dulu…
  • Azriel: Oh iya, siap kak, siap…

Pada dasarnnya, anak-anak, seperti klien saya, sangat memandang tinggi senior yang masih masuk dalam golongan peer. Kak Leon disini merupakan kelas tertinggi di SD-nya dulu, belum ada kelas 5 pada saat Klien saya masih kelas 2. Klien saya sudah sangat senang bisa mengobrol dan didengar oleh anak kelas 4.

Sedikit offtrack, klien saya juga bercerita bahwa ketika ia sudah kelas 5, ia selalu mau meluangkan waktu untuk bermain ke anak kelas 3 dan anak kelas 2, kadang ikutan bermain apapun yang ia mainkan, ia senang bermain dengan junior yang melihatnya sebagai kakak kelas yang baik. Meski juga ada junior yang menyebalkan.

Nah, junioritas senioritas ini mulai bermain.

Ketika Kak Leon (menurutnya ini disengaja) mengeluarkan bola dan memberikan tendangan pojok ke tim musuh, ia menghentikan permainannya, dan menjelaskan peraturan yang nyata.

Semua orang yang masih seangkatan dengannya, dengan pengecualian Alam langsung takjub, mereka baru tahu ada yang namanya Goal kick, atau tendangan gawang. Karena senior yang menjelaskan, Putra langsung tunduk, dan tidak bertanya sedikitpun lagi, ia sudah yakin bahwa klienku benar.

Ah, tentunya sangat menyenangkan.

Ketika istirahat beres, klienku menjadi seorang anak yang sedikit… hmm, sok tahu. Ia bilang bahwa seharusnya selama ini teman-temannya dengarkan dia saja. Tentunya ini berujung buruk.

  • Azriel: Kan, tahu gitu dengarkan aku saja!
  • Putra: Iya, maaf ya, aku harusnya…
  • Azriel: Aku tahu kok aku bener
  • Putra: Maaf ya zriel, aku harusnya dengerin kamu
  • Azriel: Iya, emang betul, kan aku bener.

Hari itu berujung dengan seluruh temannya menanyakan peraturan bola ke dirinya. Dan ia sangat senang bahwa ia bisa bermain bola dengan benar.

Case Review

Bagi klien saya, ia tidak pernah ingin menjadi alpha. Bukan.

Ia memiliki potensi menjadi alpha, tetapi yang ia inginkan hanyalah untuk peraturan menjadi apa yang ia yakini sebagai peraturan. Semua hal sudah lurus, dan akhirnya, peraturannya dapat ia tegakkan. Ia tidak pernah mau menjadi alpha, dan yang ia yakini adalah, ia tahu peraturan yang benar, dan orang-orang harus mengikuti peraturan yang ia yakini sebagai benar.

Untuk melakukan itu, klien saya harus menjadi alpha, ia harus didengar.

Ia tidak bisa menjadi alpha, jadi ia mundurkan diri, dan mencari alpha yang lain. Ia sangat keren, dan juga resourceful dalam mencari solusi. Dua jempol ke klien saya 😀

Kesimpulan

Waw, menulis tentang diriku sendiri itu sangat lucu ya…

Bagaimanapun juga, ini adalah sebuah kasus psikologi, dan kuharap mampu dinikmati.

Aku sejujurnya merasa bahwa buat apa melihat psikologi orang lain! Lihat saja diri kita sendiri terlebih dahulu.

Tolong ketahui bahwa ini adalah true story, hanya nama yang fiksi, sangat beruntung aku bisa mengingat secara pas apa saja yang terjadi. Mungkin ada sedikit sih kata-kata yang direkayasa, tetapi intisari cerita itu, nyata.

Bagaimana pun juga, semoga intinya sampai, dan dapat dinikmati

Sampai lain waktu!