Tag: physics

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Jadi sekarang beginilah caranya. Yes I really don’t have any other comments. Hanya begitulah… Aku bener-bener bakalan ngebahas poinnya satu-satu. Dengan pengecualian perspektif yang kelima karena perspektif kelima itu… sensitif dan aku tidak ingin offend siapa-siapa. Jadi langsung aja masuk ke artikelnya kali ya…

Oh btw, baca dulu artikel ini, dan artikel ini untuk perspektif materialis. Kedua artikel itu penting (especially yang pertama), dan emang kepake untuk referensi membaca di artikel ini.

Yes ini sebuah kuliah dijadiin sebuah serial artikel, mostly because memang bisa dikupas sedalam ini, dan minggu ini ga ada kuliah di Unpar karena tanggal merah… 🙁

So, sesudah 2 paragraf (3 sama ini), baru kita masuk ke artikelnya.

Definition

Perspektif Vitalis… No, it’s not the name of a soap brand, it’s not.

Pertanyaan yang ditanyakan adalah energi apa yang menggerakkan alam semesta ini?

Perspektif vitalis ini terbilang relatif baru, in the sense that… ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, tetapi tidak dalam konteks Interconnectedness dan Universal Mind. Di zaman dahulu jawaban energi yang menggerakan alam semesta ini ada di dewa-dewa, dan sampai sekarang pun tuhan (di agama apapun) masih cukup mencakup perspektif vitalis ini.

Tetapi, dalam aspek Universal Mind, Vitalis ini lebih masuk ke… energi, bukan pikiran itu sendiri. Alhasil aku tidak bisa memasukkan tuhan, ataupun dewa dalam perspektif Vitalis.

Nevertheless ini dah rada off topic, jadi kembali ke definisi yang ingin aku ambil…

Untuk perspektif vitalis di artikel ini, harap catat (don’t… it’s a metaphor) bahwa sebuah pikiran bukanlah energi (unlike the materialist perspective), dan energi ini lebih ke… suatu hal yang menjalankan pikirannya, bukan pikirannya sendiri… (bingung kan?)

Jadi jika alam semesta ini adalah sebuah mobil, para materialis akan membahas mobil itu sendiri secara detail, sedangkan para vitalis akan lebih fokus pada cara menjalankan si mobil itu, dan bensinnya si mobil.

So, I hope that analogy kinda clears your mind a bit, dan semoga ga terlalu pusing… karena ya… sekarang kita akan maju…

Also, andaikan belum cukup jelas atau masih bingung, ini lebih (heck, jauh lebih) scientific dari para materialis, karena seperti disebut di awal, memang beda era, dan era para vitalis ini sudah mencapai titik dimana… sains sudah develop, dan kita sudah tidak stuck ke bahan-bahan di alam semesta, melainkan sudah ke… apa yang membuat alam semesta berjalan.

Micro Biology

Spoiler Alert: kalau ga kedengeran kaya mikro biologi, atau biologi pada umumnya, sama kok aku juga berpikir begitu.

Yes, what you’re going to be reading is a work from Rupert Sheldrake, and to this day he’s still very relevant with microbiology.

Nah, jadi… Rupert Sheldrake menyebut bahwa energi, like… every single pieces of energy, be it, potential, actual, solid, theoretical, dan istilah lain-lain yang belum disebut, atau ada istilah yang ga bener tapi kesebut… intinya, semua energi tanpa didescribe asalnya, jumlahnya,  atau jenisnya sudah mulai menggerakkan alam semesta ini.

That is a hidden message for, don’t stereotype, really, don’t. It’s pointless, everyone’s got a use in life anyways. (ini bercanda yang serius btw)

Nah energi ini tidak punya bentuk yang solid, dia terlalu… shattered untuk memiliki bentuk. Dia terpecah-pecah, dan, pada dasarnya mirip ruh yang scientific. Dia butuh vessel untuk bisa bekerja. Mirip seperti bensin dalam mobil tadi, si bensin tidak punya real value sampai dia dimasukkan dalam mobil dan menggerakkan si mobil.

Nah, tapi, ada hal yang belum dibahas disini. Untuk si bensin bisa menggerakkan si mobil… mobilnya ga bakalan bisa gerak, kalau si mobil ini hanyalah frame dengan 4 roda. Nope, kita butuh mesin untuk memproses si minyak.

So far aku udah nemuin analogi buat alam semesta kita, which is a car, yang bergerak dan bekerja dengan bantuan energi, which dijadikan analogi bensin… tapi, umm… ada yang kurang, mana si mesin yang memproses si bensin? Di alam semesta kita, ada yang namanya medan, dan di medan ini, baru jenis energi mulai berpengaruh, karena si energi sudah tidak lagi abstrak.

Untuk menggunakan analogi lagi… ada beberapa jenis mobil, misalnya mobil diesel hanya bisa dikasih minum bensin diesel, supercar akan lebih efisien jika diberikan bensin yang… proper, dan di enhance dengan banyaknya chemical, city car cukup diberikan bensin model pertalite, pertamax tanpa harus terlalu peduli dengan jenis bensin-nya. Masih ada mobil yang hanya bisa mengonsumsi solar, dan ya… so on.

Medan ini, atau mesin di alam semesta kita ini, memilah energi yang diterima dan hanya bisa diberi energi yang “cocok” dengan medannya. Pada titik inilah aku bingung pas kuliah… “What on earth does this have to do with Microbiology?”.

Well, jadi to start it off, ada banyak medan, seperti, Medan Kuantum untuk Quantum Energy (branch: Physics), Medan Gravitasi, yang memanage daya tarik antar dua hal (Branch: Physics), medan elektromagnetik, yang memanage magnetism, also saying that opposites attract… 😉 (Branch, sekali lagi, PHYSICS), dan… yang terakhir… Morphic Resonance.

Apa itu Morphic Resonance? HAHAHA… Prepare to encounter confusion. Pada titik ini aku yakin ini sesuatu yang bilang… physics, more physics I guess… Tapi ternyata Morphic Resonance adalah gelombang supernatural (yes, Mr. Sheldrake wrote SUPERNATURAL in his work, aku ga ngarang) yang mengendalikan, atau mengatasi pikiran antar makhluk yang terpisah, dan menghubungkannya. Morphic resonance juga merupakan plane/medan untuk kesamaan pattern dalam tingkah laku hewan-hewan.

Jadi di titik inilah aku sedikit yakin ini ada hubungannya dengan Neurobiology, which does work pretty well with Microbiology, and has some relevance with it. Tapi kalau merhatiin ulang di paragraf atas, reader bakalan ngeh. Ngeh bahwa dari gaya wording dan tulisanku, berdasarkan Morphic Resonance, sebuah pikiran adalah energi. Dan dalam konteks interconnectedness dan Universal Mind, jika sebuah pikiran adalah energi yang harus masuk dalam suatu vessel, in this case, the highest mind, or our mind…

I’ll let you conclude, selamat berpikir! (P.S. Ini berarti perspektif vitalistik mungkin saja benar dengan bilang bahwa yang menggerakkan alam semesta ini memang sebuah energi, tetapi hanya dalam… format berbeda)

Also, no there really wasn’t much on microbiology and how it correlates here.

Quantum Physics

Cung kalau udah nonton Ant-Man! Sure, if you’re a geek you’ve watched that, aku yakin banyak yang nonton juga sih. Cung kalau belajar fisika kuantum beres nonton Ant-Man! No? Nobody? What? That was the most interesting part! (FYI kalau ada tolong bilang di comments section aja…)

Quantum physics adalah fisika yang membahas mekanisme dan hukum fisika dalam dunia subatomic. Dimana hukum fisika tidak lagi apply. Tapi disini, aku belum cukup banyak baca dan belum bisa conclude apakah ada hubungan dari dunia kuantum dan dunia nyata.

 According to quantum physics… Segala hal terjadi dan diciptakan oleh fluktuasi gelombang. Gelombang ini tidak pernah berhenti bergerak, dan dia adalah bagian dari energy field yang semuanya adalah bagian dari hal lain, dan juga merupakan satu kesatuan.

(OKAY hang on, aku tahu pasti pada pusing)

Singkat cerita, energi adalah gelombang, gelombang ini bergerak terus menciptakan dan merubah hal-hal. Gelombang dan dunia ini adalah satu kesatuan dan juga merupakan spare parts, dan komponen dari mesin yang lebih besar. Hopefully ini lebih jelas.

Semua hal disini terbilang kompleks, dan kita akan sering menemukan paradoks, dimana bahkan di tempat hampa tetap ada gelombang, dan suatu hal tidak akan pernah menjadi sebuah jawaban sampai dia kembali ke dunia nyata.

Semua hal, terjadi karena gelombang, gelombang inilah energi. Gelombang ini juga terjadi kalau ada gerakan, baik itu secara fisik (alias tubuh kita bergerak), atau itu sebuah ide baru yang baru kepikiran.

Karena sekarang topiknya gelombang, anggap saja sebuah pikiran adalah pemancar radio yang juga bisa menangkap gelombang lain, sekaligus mengirimkan gelombangnya sendiri. This exchange of ideas is the aspect of interconnectedness according to Quantum Physics.

Harusnya sih ga terlalu memusingkan aspek interconnectedness-nya. Of course yang bikin pusing tuh bukan interconnectedness-nya tapi quantum physics in general. Jadi akan sedikit kujelasin dulu deh.

Dalam fisika kuantum, sebuah vacuum bukan sebenarnya ruang hampa. Vacuum itu hanyalah suatu tempat yang sedang dijelajahi dan “dibentuk” oleh gelombang. Sesudah dibentuk oleh gelombang, hasilnya akan muncul, dan vacuum ini bukanlah sebuah ruang hampa lagi, karena bukan hanya sebuah probabilitas yang masih belum diexplore, melainkan sudah menjadi sesuatu yang solid.

Ini di apply oleh Erwin Schrodinger yang membuat eksperimen Schrodinger’s Cat… Di eksperimen itu, ada sebuah kucing yang diekspos dalam radiasi dan/atau gas beracun (ada beberapa versi), dan dimasukkan sebuah kotak. Dalam kotak itu kita tidak tahu apakah si kucing itu mati atau hidup. Jadi berdasarkan fisika kuantum… kucing itu not dead, neither it is alive. Itu paradoks sih.

Hasil dari Schrodinger’s cat tidak akan pernah terungkap sampai kita membuka kotak itu, karena begitu kita membuka kotak itu… fisika quantum tidak lagi apply dan kita kembali ke realm nyata. Ketika kucing itu masih dalam kotak tetapi, ruang hampa itu sedang ditentukan hasilnya melewati gelombang radio yang tadi dibahas.

Yes ini ga terlalu jelas interconnectedness-nya apa, tapi ini bukan cuma ngebahas interconnectedness, but also apparently physics in general

Kesimpulan dari bagian ini adalah… explore future possibilities! Sesuatu yang hampa hanyalah sesuatu yang belum ditemukan ataupun dicoba. (or, kalau mau yang mode easy-nya… You’ll never know till you try). Let’s not be stuck in a quantum stasis.

In Conclusion

Terkadang ada saat dimana kita sebagai manusia tidak punya energi atau merasa bahwa dirinya sedang tidak punya energi untuk menggerakkan dirinya sendiri. Fase ini disebut gabut… (atau mager, atau singkatan lain yang entah aku ga inget)

Tetapi sebenarnya, energi sudah menggerakkan dan membuat kita berpikir, dan energi ini sudah ada dari sana-nya!

It’s only up to us to grasp it, and hold the world and image that we seek.

AHA! Okay jadi ini half a conclusion, dan sebenernya masih bisa ditingkatkan lagi, tapi masih ada 2 perspektif lain untuk dibahas, jadi bersabar yaaa…

Until next time.

Layers Of Consciousness

Layers Of Consciousness

Sejujurnya kemarin aku baru saja mendapatkan kuliah filsafat (heck, materi) filsafat paling membingungkan so far. Funnily dosennya, Professor Matius Ali, yang langsung dari Institut Kesenian Jakarta bilang… kalau gak ngerti santai kok… ini biasanya orang-orang baru ngerti 10 tahun kemudian, gak jarang ada yang ga ngerti sampai 10 tahun kemudian.

Untungnya, Professor Matius juga punya sense of humor yang sangat baik, dan bisa membuatku ngakak entah berapa kali sepanjang kuliah. But regardless, daripada diem di sini menjelaskan hal yang aku belum ngerti, kujelasin yang aku dah ngerti aja deh.

Man Is A Rational Animal -Aristotle…

Noh, mulai dari quote itu deh. Manusia adalah hewan yang rasional. Yeah, just… that, I’ve got nothing else to say.

Kalau kita mau bahas layers of consciousness, kita sebagai manusia diciptakan tepat di tengah-tengah chart-nya. Hang on ku upload image deh.

Yang diajarkan kemarin ga persis jleb gitu sih, tapi ga beda-beda jauh. Chart diatas lebih membahas psikologi-nya, tapi kita ga mau bahas itu hari ini, namun itu emang layers of consciousness yang lebih sering dipakai orang. Gambar di atas itu sesuatu yang lebih bersifat empirikal, dan meski emang ada hubungannya, ini bukan topik yang membingungkan itu…

Hopefully this is more spot on and confusing…

Ini sebenernya udah sesuatu yang aku mengerti, and pernah di explore pas nonton Doctor Strange, tapi itu gak mau dibahas sekarang dulu… Langsung ke artikel aja deh…

Lower Triangle

Jadi dari dua gambar itu, ada segitiga yang ada di atas, dan ada yang di bawah.

Kemarin sih Professor Matius menjelaskan bahwa semakin ke bawah, semakin nyangkut kita dengan evidence dan hal-hal yang beneran. Semakin ke atas cara kita berpikir semakin transcend kita ke universe lain, dan semakin dekat kita dengan dunia yang… well in a sense mystic.

Nah, untuk sekarang kita mau bahas segitiga yang dibawah ini.

Physical Realm

Pertama-tama kalau kita liat di ujung segitiga yang dibawah itu, ditemukan Physical realm. Which yes, itu realm consciousness yang paling rendah. Sebuah realm yang semuanya itu… hanya temporal. Jadi apa sebenernya yang paling bawah itu? Well, diantara apa yang di bawah, and paling bawah itu, ada yang disebut materi, or worldly things.

Jadi, sebenernya mirip ke apa yang agama sering point out, materi bukan apa-apa kalau kamu gak punya meaning lain di hidup ini.

According to most Platonian (it is indeed a word…) philosophers, atau filsuf yang percaya pada Plato’s teachings and text, dunia ini cuma dunia KW 2, dan dunia nyatanya adalah dunia idea yang letaknya entah dimana itu…

Bentar dulu tapi, dunia ide disini kan gak ada di layers of consciousness itu? Okay, namanya beda

Astral Realm

Well, aku pernah baca sesuatu yang berbunyi seperti ini… “Humans do not fear the death of the body”. Well itu karena yang namanya mati itu cuman tubuh etheric dan physical realm doang. Itu satu-satunya hal yang temporal. Abis mati, kita akan naik ke emotional layer of consciousness, also known as the Astral Realm (Yes, sama persis sama Doctor Strange’s Astral Realm). Kalau Platonian bilangnya, Astral Realm itu dunia Ide karena, bentuk paling ideal-nya dunia itu ada di situ.

Kemarin sih, yang dijelaskan sama Professor Matius, kalau si Astral Plane ini ada di atas Etheric Realm, tapi dibawah Lower Mental. Jadi aku bahas ini duluan sebelum aku mau bahas ke Lower Mental. Meski urutannya beda.

So, what’s the point of this? Astral Realm adalah realm dimana kita akan succumb to our emotions, sampai at one point kita akan percaya pada apa yang di apply di Astral Plane, dan mengubah realita fisik.

Doctor Strange masih contoh yang bagus, karena… Di film itu, Cumberbatch with the arrogant doctor kinda guy, broke his hands, losing the ability to become a surgeon. Terus dia ditepak sama Sensei di Kamar Taj and dilempar ke Astral Plane, only to find out that, his actual hand is still perfectly functioning.

Now, Astral Realm ini udah mulai… immortal, karena physical body bisa saja mati, tapi astral realm ini akan balik ke… tempatnya. Kemarin Dr. Matius bilang untuk mengaksesnya, kita harus bisa channel our emotions and do stuff… I actually don’t get…

For now ini masih masuk dalam topik human nature. Tapi kalau kita mau bicara thought, yang udah diluar dari emosi dan physical things, ada di Lower Mental.

Lower Mental

Kalau kita mau bahas philosophically, orang yang masih percaya sama empirical solid thought… Itu kodratnya lebih rendah dari orang yang punya abstract thinking. Yes, terdengar kasar banget, tapi sebenernya ada betulnya.

Einstein pernah bilang bahwa Science Without Religion is Lame. Which is true, I mean, ini teh cuma angka dan rumus-rumus, yang sebenernya learnable tanpa perlu talent (or so I’ve been told). Orang yang hanya bisa empirical thought, itu biasanya boring.

Lower Mental ini berada di realm yang… hang on rada bingung jelasinnya… kukasih contoh deh.

Aristotle bilang bahwa Socrates is a man, and Men are mortal. Ya, orang yang tahu keduanya itu masih nyangkut di physical realm dengan ego mereka, closing their eyes. Tapi kalau kita angkat dikit, cuma dengan analisa simpel, Socrates is Mortal. Cuma dari adding 2+2 and getting 4, alhasil kita sudah sukses naik ke Lower Mental, dengan mau mulai membuka horizon dengan thinking empirical.

Tapi kaya aku bilang, ini itu sesuatu yang learnable tanpa perlu talent, tapi… kalau mau naik lagi… jadi apa dong?

Higher Triangle

Di segitiga yang atas itu sudah diluar batas manusia, karena… manusia terletak di antara kedua segitiga, balanced out, rational enough to beat animals who could only think based on evidence, tapi ga lebih tinggi dari… apapun yang ada di atas. Which is our true self.

Let’s discuss this bit by bit…

Higher Mental

Abstract thought, the ability to… feel what’s above us humans. Itu yang ada di Higher Mental.

Kata Professor Matius, biasanya orang-orang artistik yang lebih connected sama… higher mental ini. Sesuatu yang udah diatas grasp para manusia, karena bersifat abstrak. With all due respect, godly things are already a part of this.

Quote dari Einstein tadi baru setengah aja. Religion without science is Blind. Aku sih sebenernya percaya ini sesuatu yang beneran lho, karena sejujurnya kalau kita hanya mau melihat religion… kita akan menutup diri dari empirical knowledge, which is like… wrong.

Don’t get me wrong, abstract thought and beliefs are very important. Tapi kalau kita menutup diri dari simple thinking dan hanya mau masuk ke sesuatu yang abstrak, kita ga akan bisa form apa-apa…

Topik ini takutnya rada… kontroversial, jadi kita bahasnya segini aja.

Transcendental/Transpersonal

Ini simpel sih, kalau kita udah sampai ke titik ini, kita akan merasa lebih… well, care to others. Sama seperti segitiga psikologi di atas. Kalau kita udah bisa conquer emotional needs dan respect diri kita sendiri… Kita akan mulai merasa perlu untuk membantu higher cause, something that’s higher than us.

Ini berbeda-beda tergantung orangnya, tapi ada yang merasa bahwa hidup yang meaningful itu… hidup yang serve god, ada juga yang memutuskan untuk serve orang lain, by helping them. Intinya adalah, ketika kita sudah mencapai titik ini, kita sudah benar-benar mau mencapai… dan menyelesaikan higher… living? Aduh sebenernya bingung ini, tapi intinya… Life orang akan bener-bener meaningful ketika sudah bisa transcend.

On top of that, realm ini juga ada di intuisi kita. Kalau gut instinct kita merasakan sesuatu yang gak bener, ya… kita bakalan merasakannya, as a part of this transcendental intervention.

Orang yang ga punya instinct atau intuition to differ an intervention biasanya masih nyangkut di abstract thought.

True Self

This is a part of the, “takes 10 years to understand, be patient”…

Bener, bener bingung aku sebenernya tapi according to Buddhist beliefs, the true self is a self that has ignored all worldly temptations, fully serving god.

Ini sebenernya confusing, dan… ADUH pokoknya bingung we lah ya… tapi kalau di part sebelumnya kita membahas higher purpose, true self ini udah ignore purpose lain selain final purpose-nya kita.

Even then, aku masih bingung… Maaf ya, aku bener-bener bingung dan… astounded sama penjelasan kemarin.

Middle Realm

Sesudah malu dikit gara-gara bingung… Coba maju aja deh ke bagian tengah, sesuatu yang di claim sebagai realm milik kita. Kenapa semua manusia diciptakan tepat di tengah ini?

Kemarin sih… Professor Matius bilang bahwa ini adalah konsep Free Will. Kita sebagai manusia diberikan lokasi yang sama, tinggal dipilih aja, mau turun dan membahas sesuatu yang tampak real? Atau mau naik dan membahas sesuatu yang imajinatif dan… abstrak? Apakah kita akan ke atas banget dan akan menjadi orang yang sangat baik? Atau kita akan succumb ke Ego dan materi dengan turun ke bawah?

It’s all in our options, and choices.

In Conclusion

It’s all in our options, and choices.

This, again, yeah jedanya cuma 2 kata dan 2 mencet enter. Aku ga sepenuhnya ngerti kemarin, (okay, banyakan pusingnya daripada ngertinya), tapi kalau aku bisa conclude sesuatu dari kuliah kemarin, kita semua lahir tanpa tali, dan bebas mau memilih apa.

Tinggal di tentukan hidupnya kita akan digunakan untuk apa? Apakah untuk cari uang? Untuk pride dan ego kita? Atau kita akan membuat orang lain senang?

It’s all in our head, I just… brought up the facts. Karena banyak orang nyangkut di dunia empirik, dan gak mau lihat hal dengan abstraknya, atau ga mau percaya sama apa yang bisa dilihat.

Seeing isn’t believing… Believing is Realization.

Semoga suka sama artikelnya!

A Brief History of Time… Travel

A Brief History of Time… Travel

Kalau mau nanya kenapa judulnya dipisah, itu soalnya ini reference ke Buku mendiang Stephen Hawking. You should read it, its a very good, and funny book. . . (No, still couldn’t bring myself up to write a proper tribute to Professor Stephen Hawking…)

Jadi, sebenernya, hari ini aku lagi fase gabut lagi, awalnya mau nulis filsafat, yang like… filsafat-filsafat tapi… AAAGH pusing… jadi aku mau bahas time travel sajah, namun karena emang hari Jumat jadwalnya bahas filsafat, akan sedikit dibahas philosophically, dan sesuai judulnya, sejarahnya juga.

And umm… yaaah, putus juga deh abis nulis cukup konsisten selama 2 minggu, one day one post. Distraksiku di hari Jumat membuatku rada ngadat, jadi maaf, aku ga bisa cukup konsisten.

Tapi on topic…

Time Travel itu hal yang sering kuungkit dikit-dikit di website ini, mostly kalau bahas superhero, especially The Flash, atau kadang juga kalau bahas fisika juga suka kuungkit.

Kalau bicara sama yang namanya time travel biasanya ga jauh-jauh amat dari topik fisika, dan space-time continuum yang rada-rada rese itu. Tapi karena sekarang mau bahas time travel dari perspektif filsafat, fisika-nya ga akan kuungkit dulu, karena, konteksnya rada-rada beda.

With that out of the way, let’s go ahead and spend a few minutes to read this article.

Traveling to the Past…

Jadi pertama-tama, kita akan jalan sedikit di memory lane untuk mencari inspirasi dan insight mengenai sejarahnya time travel sendiri.

Karena aku juga suka membahas sesuatu secara kronologis, Time Travel sendiri udah ada cukup lama. Di Mahabharata, ada cerita tentang raja Raivata yang iseng ngegangguin Brahma, terus dihukum sama Brahma dengan dilempar ke masa depan, melewati banyak sekali zaman, and dia gila terus bunuh diri, and other stuff…

Di dunia fisika sih, time travel baru dianggap sesuatu yang serius sejak Einstein bilang bahwa waktu dan ruang itu satu kesatuan, dan kita ga tinggal di either ruang dan waktu, tapi si space-time continuum ini cuman sebatas. . . sesuatu yang ada…

Teori ini sering direfer sebagai teori relativitas, dimana kalau Einstein sendiri sih make contoh ada kembar identik dengan perbedaan detik lahir yang tipis, satu tetap di bumi dan satu dikirim ke luar angkasa di kecepatan cahaya, si kembaran yang di bumi akan lebih cepet menua, terus yang dikirim ke luar angkasa… lebih awet muda.

Course ini theoretical… read on below

Nah, jadi kalau kita mau melakukan yang namanya time travel, kita harus bisa menerobos si space-time continuum ini. Kalau udah diterobos, kita bisa mengakses timeline lain. Untuk menerobosnya masih sangat theoretical, ada yang bilang kita harus mencapai kecepatan cahaya, yang sebenernya, so far gak mungkin… karena cahaya sendiri bukan gelombang ataupun partikel.

It’s a bit confusing, yes I do admit that. Tapi, cahaya bisa secepat itu karena cahaya itu bukan sebuah partikel padat, ataupun sebuah gelombang yang hanya menggetarkan hal-hal. Nanti kubahas deh, di artikel lain. For now, karena kita sebuah partikel, ini gak mungkin…

Si Time Travel ini emang punya sejarah yang rada panjang di dunia fisika, dan emang banyak orang yang kritis dengan bilang bahwa, kalau aku menciptakan mesin waktu, aku akan pindah ke masa lalu di titik ini juga. Tapi 10 detik kemudian tidak ada apa-apa yang terjadi. So, there’s not really much proof we can travel through the past.

Tapi kalau kita mau bahas sejarah fisika-nya, ada tempat yang lebih baik… Like you know, reading books, or Wikipedia.

Aku mau bahas timeline time travel di pop culture…

Movies

So, the first ever movie to incorporate minor aspects of time travel is… in 1921, where a man dreams to have backtracked to times of King Arthur. Then 1930, a dream cause he’s struck by lightning, so on and on, most of time traveling is just a dream… that is until… Time Flies di tahun 1944, tapi Time Flies pun masih belum jelas aspek fisikanya. Karena masih menggunakan mystic-y things.

Tapi pas 1960, ada film yang loncat ke tahun 2024, karena si pilot yang jadi tokoh utama disuruh menjadi tester pesawat experimental super cepat. Di film Beyond The Time Barrier ini, si pilot ini lihat bahwa 6 tahun dari sekarang, dunia ini hanyalah berisi underground humans, and super cruel mutants. Like a… controlled zombie apocalypse.

The first movie to actually incorporate time travel successfully, and is quite a classic to this day is… Back To The Future. Wow, siapa yang ngira… (Ga sih, kalau bahas film time travel, non-milennials kayanya bakalan merujuk ke Back To The Future).

Sayangnya Back to the Future ini, memprediksi apa yang akan terjadi 30 tahun di release date-nya. Which was, hovercrafts, flying cars and flight related stuff. Aku sendiri belum pernah nonton 🙁 tapi yang aku tahu sih, hovercraft, dan flying car(s).

Back To The Future kan rilis 1985, lalu 30 tahun kedepan, which was 3 years ago… membuktikan bahwa teori Back To The Future tentang tech di 2015 itu salah… yaaahhhh.

Film yang incorporate time travel biasanya ga selengkap serial sih… Kenapa? Karena kalau mau buat time traveling sequence yang detail, perlu dibahas episode by episode, dengan cerita yang gapapa putus-putus, asalkan masih ada benang merahnya.

Jadi, read on below!

Series

Nah kan tadi bahas movie ya, aku juga mau bahas serial…

Ga usah lama-lama… Doctor Who. Sampe sekarang masih jalan, dari dulu juga laku, and fanboys dari serial ini pasti kepengen banget punya yang namanya Tardis. Who I think is a bit outdated, when you consider phone boxes in the UK aren’t even used anymore.

1963 itu season pertama Doctor Who keluar, dan although udah finale pas 1989, sekarang ada lagi Revival Doctor Who. Yang udah ada selama 12 tahun, and I don’t think it’s going to stop anytime soon. Role The Doctor di film itu juga lumayan keren di mata para geek, heck, kalau ga salah bahkan pernah ada Doctor Who cewe kan?

Time Travel juga pernah dibuat serial yang tahan 6 tahun, which sebenernya aku meski belum pernah nonton, ceritanya kebayang kocak. Goodnight Sweetheart menceritakan cowo yang punya double life, satu di timeline sekarang, satunya lagi jadi tentara di World War II. 1993-1999, I’m gonna try to watch an episode if it’s not R Rated.

Nah dari 2014, Time Travel mulai sering dipake sama DC, untuk enable crossover dari dua universe berbeda.

Serial yang emang revolve di time travel dan day to day activity-nya adalah Time Travel adalah Legends of Tomorrow, yang ga kuikutin lagi, karena… honestly, the only good season from that series is Season 2, don’t watch anything else.

The Flash, seperti kusebut juga sering incorporate time travel dengan berlari SUPERRR cepat. Dengan kecepatannya dia, Barry Allen udah sering utak-atik timeline, dan sampe sekarang masih kuikutin. Tapi umm, season 4 belum ada time travel aneh-aneh.

Well, serial TV paling gede sih emang Doctor Who, tapi abis baca list serial TV yang include time travel, banyak yang komedi juga, kalau ga mau mikir sekeras DC Fanboy…

In the subject of thinking, it’s gonna be one heck of a ride now… Brace your Brain for a mind boggling journey…

Paradoxes?

Sebelum bahas filosofi-nya time travel, ada banyak sekali paradoks dari Time Travel sendiri… It truly is something confusing.

For starters, di 2005 ada yang namanya Perth Destination Day, di mana diselenggarakan sebuah event yang rada besar, dan event itu ditujukan untuk time traveler yang bingung mencari destinasi. Of course, gak ada yang nongol.

Tapi apakah berarti kalau ga ada yang nongol time travel itu ga mungkin? Well the answer is a… “maybe”.

Kalaupun ada time travel di masa depan, kita ga tahu apakah itu diregulasi untuk kembali ke masa lalu atau ga… Kita juga ga tahu kalau apakah bener-bener ada time traveler yang dateng? Mungkin ada yang dateng, tapi biar si time traveler itu ga ditodong dan maksa technology sharing (thus changing history), dia mendisguise dirinya biar ga ketahuan. Mungkin juga emang ga ada yang dateng karena mereka lupa atas Perth Destination Day itu?

Intinya terlalu banyak probabilitas yang kita ga punya kendali pada dan menciptakan sangaaaattttt banyak paradoxile moments. Which trust me only confuses me more.

Bayangkan suatu saat dimana seluruh dunia bilang… “Andaikan aku menemukan mesin waktu, aku akan kembali ke titik ini juga!” Tapi pas dia nemuin si mesin waktu, dia dilarang untuk balik ke titik itu. And stuff happens, thus present day us menjadi kecewa karena kita kira kita ga nemuin mesin waktu.

Atau yang nemuin mesin waktu memang belum lahir saat ini juga. Entahlah, terlalu membingungkan, mending jangan di overthink, ada banyak hal yang lebih perlu difokuskan ke saat ini juga.

Philosophy of Time Travel

Baiklah, ternyata abis baca beberapa hal dari philosophy of time travel ini, 90% dari teorinya paradoks. Bayangkan apa yang akan terjadi jika paradoks dan filsafat yang equally mind boggling ditubrukkin jadi satu. Good Luck… bagian ini akan membuatmu lebih pusing dari mencari alasan… Napa Wakanda yang ga pernah dijajah menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari-hari.

Grandfather Paradox…

Ini yang paling menarik buatku abis baca-baca tentang philosophy of time travel. Mostly karena (SPOILER ALERT): Villain dari Flash di Season pertama mati gara-gara ini.

Andaikan ada orang yang nemuin mesin waktu, dan dia kembali ke masa lalu untuk membunuh kakeknya. Terus kalau dia ga punya kakek yang jadi ayah dari ibu/ayahnya dia ga punya ibu/ayah, si orang ga bakalan exist in the first place. Sama kalau si kakek bunuh diri sebelum punya anak.

Eventually waktu akan mengejar si cucu time traveler ini dan membuatnya mati. Kalau dia mati, time travel ga mungkin ada in the first place, dan kalau ga ada time travel in the first place, kakek-nya ga bakalan mati dong?

Paradoks! WAW!

Yeah, so this is what makes hardcore Flash fanboys spend their weekend learning physics. (Not me though… 😀 )

Eternalism vs Presentism

Paradoks ini semacam dua kali lipat… Meski aku ga bisa ngerjain rumus fisikanya, ini filsafat, jadi semuanya bebas menghayal technically…

Jadi ada dua perspektif time travel secara timeline-nya sendiri, yang satu namanya Eternalism, yang satu lagi namanya Presentism.

Eternalism membahas bahwa apa yang terjadi di masa lalu sudah solid dan padat, dan masa depan hanyalah daftar probabilitas dan takdir yang bisa dipilih dan terjadi karena cause and effect. Masa kini di Eternalism adalah course of event yang mungkin affect the future yang masih… berisi probabilitas. Setiap aksi yang kita ambil, semakin padat si masa depan ini…

On the other hand, presentism adalah filosofi yang percaya bahwa apapun yang kita lakukan di masa kini bisa mempengaruhi masa depan ataupun masa lalu, karena adanya hubungan dari diri kita dan astral realm kita, yang honestly… ga terhubung dengan physical things like time. Kemarin ini dibahas pas kuliah filsafat, artikelnya akan ada besok yaaaa…

Mungkin kalau percaya presentism orang itu akan semacam ga ngeh pada apa saja yang ia telah lakukan di masa lalu dan… alhasil dia merasa yang telah terjadi itu ga terjadi…

Aku sih lebih suka sama Eternalism karena ga ada yang namanya going back in time, dan kalau eternalists itu percaya bahwa masa depan itu hanyalah set of probabilities, dari apa yang kita lakukan sekarang.

Untuk time travel, akan aku tinggalkan ke reader untuk ditalar sendiri, aku yakin pasti bisa, since honestly it’s a bit simple… Yang satu hanya menggagalkan probabilitas, dan memprevent apa yang akan terjadi di akhirnya, yang satu bilang bahwa time travel itu cuman perubahan di diri kita pada masa kini…

In Conclusion…

Learn from your mistakes, never look back, and believe in yourself…

Kalau reader merasa bahwa time travel itu berbahaya, cukup percaya pada diri sendiri, jangan lihat terlalu banyak ke belakang, dan belajar dari kesalahan…

Kalau seseorang sudah bisa cover itu tiga, dia ga bakalan perlu time travel untuk mem-back up kesalahan yang dia telah buat…

Semoga artikelnya dapat dimengerti! Dan of course, menarik untuk dibaca….

A Brief Review Of “A Brief History Of The Universe”

A Brief Review Of “A Brief History Of The Universe”

 

This book has been updated several times, and may be different depending on which version you are reading.

A Brief History Of Time is a book written by none other than Stephen Hawking, a very important 21st century physicist. This book discusses simpler things such as time in a more complex perspective, and it also explains complex things like Black Holes in a simpler perspective. This book contains philosophical views and physical views of the universe. Not to mention, Hawking has a great sense of humor while explaining this book. He even shared that he lost a gamble of a 1 year subscription to a magazine because he theorized something incorrectly, but his friend’s theory is correct.

Although there are parts I don’t understand, The parts that I do understand and struck me the most will be explained (plus opinions and personal views) in this review.

Shape Of The Universe

Firstly, let’s get things straight.

The Universe is round, I said the universe, NOT the earth (I’m not saying it’s flat either). Why? The universe expands, it’s not immobile, it moves, and it’s growing by the second you’re reading this. If something expands, chances are it’s in the shape of a balloon, round. Have you ever seen a square balloon? I’m sure it’s a no. That’s cause for something to expand, it needs a flexible shape that can stretch, until it pops, like a balloon.

Wait? The universe can pop? Yes, it can. 20 million years ++ from now, the universe will end. What will happen? End to all known intelligence life? No, that’ll happen 5 million years from now, at least if there are no aliens. How?  The sun has limited fuel, and it’ll stop running one day, like a car without fuel, only if it’s a car, it stops, if it’s a star? It explodes. Let’s hope we can get out of earth by 4 million years from now.

Now We’ve gotten the universal shape of the universe out of the way? What about the earth? Let’s take a step back. Over the past few hundred years, many scientists and philosophers have their views on the earth’s shape.

  1. Ptolemaic Earth, developed by Ptolemy, a Greek Philosopher.
    • He Believes the Earth is round, with the universe revolving around it
  2. Flat Earth, developed from multiple catholic, and christian beliefs.
    • They believe the earth is flat, and the universe revolves around it
  3.  Heliocentric Earth, developed by Galileo Galei, completed by Sir Isaac Newton
    • This form of the universe is the one we adopt today, the earth is round, and it revolves around the sun.

Which one I believe? Heliocentric Earth, of course.

Space? Time? Which Is Which?

Do note that this is still theoretical. There are several views regarding Space and Time, so here are some of them.

  1. Space And Time
    • This form believes Space and Time as a separate entity
    • One can travel through space, but cannot travel through time.
    • We exist in space with this belief.
    • The flow of time does change space, but it cannot change.
  2. Space-Time
    • This form believes Space and Time as an individual united entity, consisting of 6 dimensions
    • Space-Time exists, but we do not exist in it
    • Space-Time is a wall, not a room, you don’t live in a wall, but you have to break the wall in order to get out. Time travel is debatable
    • Time flows and Space expands separately
  3. Time Warps and Space
    • This form believes of time as warps that curves to make it flow. The view on space is similar to the 1st theory
    • By warping or re-warping time, we can travel through it.
    • The flow of time is separate to space.
  4. Multiverse
    • This form believes of a universe being nothing but one of millions
    • Space expands and collides between multiple universes, and some say that Multiverses include past versions of time.
    • Time travel is debatable, so do dimensional travel.
    • Time flows as Space expands.

Right, not all of those forms are included in this book, but I’m mentioning them anyways because they are still relevant. Out of the many forms, Stephen Hawking jokes “So what is Time? Only Time will tell, whatever that is”. So far none seem to be correct or incorrect, we may never know.

Black Holes, stop Racism!

For the record, they aren’t black. . . No seriously, here is why

Black Holes are formed when a star dies and decays. Their insane mass creates a gravitational pull which is the signature of Black Holes. A strong vacuum that sucks things. What was once a star became a Black Hole, but the star-like qualities of them having light and producing energy is still there. A black hole still has energy, therefore it still generates light as well.

So stop Racism by calling Black Holes Black. They’re glowing, has energy and definitely not black!

F.Y.I The bet I mentioned earlier that Stephen Hawking lost is when he said is when he said black holes are black, his friend, said it radiates energy. This proves that even the greatest minds make mistakes.

So, why are they called black holes again? Their gravitational pull prevents light from escaping. This creates an illusion, of its own Gravity pulling it’s own light, making it seem black. Math shows that they must have energy, and everything is not what it seems, especially when seeing things through a telescope, and that thing is a few million light years away.

Writing style

As I’ve said, as a physicist, Stephen Hawking makes a lot of jokes in this book, and writes in a very casual manner. Not only that, after reading some other physicists books, and have listened to a Nobel Prize winner’s presentation/lecture at ITB, I’m certain that most scientists are casual, and has a sense of humor, except maybe when working.

This book might not be understandable by everyone, but it is still rather simplistic for a book in physics. The philosophical views might be slightly confusing, but this book is rather enjoyable, and can be read casually if you do like the book, and can remember stuff in it.

 

 

 

 

 

 

[Azriel’s Late Post] String Theory Public Lecture

[Azriel’s Late Post] String Theory Public Lecture

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati🙂

Foto Prof. Peter Bouwknegt di Situs Kampusnya

Last Wednesday, I went to ITB to hear a public lecture from Prof. Peter Bouwknegt, who is Dutch but lives in Australia. This lecture is actually about general String Theory which I am already familiar with, but adds some more technicality towards it.

First of all Prof. Peter starts by explaining what String Theory is, its a Theory of everything that unifies gravity, weak nuclear, strong nuclear, and electromagnetism, if proven correct. Our current unification of the universe is a rather simple one, called the standard model, which cannot unify gravity.

String Theory runs on the foundation of belief that particles aren’t stagnant and can make vibrations. To define String Theory, we cannot use the Feynman Diagram. A Feynman Diagram is a path of particles that is only 2 dimensional. To form particles that support String Theory’s 10 dimensional unification, we need a different diagram. A 3 dimensional path is what we need. The shape of this diagram is infinite, and much weirder than a Feynman Diagram, as it is… Okay I cant explain the shape, let this picture explain. The image on the left is the Feynman Diagram, and the String Diagram is the one on the Right.

Prof. Peter also states that String Theory, despite can go to a multi dimensional form, should still be calculated on the basis of single dimensional being. Until string theory is quantified by default, only then multi dimensional basis of our dimensions can be defined. So, until we can define gravity, we can’t think of multi dimensional existence, as String Theory can exist without multiple universe’s existence.

 

 

Honestly this is done. But Prof. Peter did sum up the general idea of String Theory:

  • String Theory is a 3 dimensional moving version onto our current Standard Model
  • The amount of possible string form shapes are Infinite
  • Multidimensional existence is possible, but is not a must
  • Every type of matter can take this form, and weirdly since we don’t know 96% of our universe, I wonder the shape of Dark Matter strings
  • Gravity is defined by this, because if everything moves, gravity can make its weak pull.
  • Nothing is stagnant.

So pretty much this is all that is in that 30 minute lecture. The other 30 minutes are used to ask questions and university promotion. I asked what is Graviton (which is a hypothetical particle that forms the mediation between gravity and quantum fields, has enough force to perform a pull) and about some complex stuff regarding the end of our universe… precisely this is what I asked: “If the laws of physics are indeed a death warrant (as to what Prof. Michio Kaku said) to all intelligent life, and multiple dimensions exist, will the destruction of one universe lead to another?” Prof. Peter answered philosophically that we definitely don’t want that, especially if we are a new universe, then the old ones will just get consumed by Entropy, and lead to the Big Crunch, and trust me, no one wants that.

At the end of the lecture I talked a bit with a man that was promoting the physics institute that I cant remember, because Prof. Peter is unavailable, and got his name card. He told me that if I do get a scholarship (which he wishes me to get) please consider our university. As a matter of fact he thought I was a Physicist… Because I asked a complex question. Well, I’m not, I am a 14 year old homeschooler.

Thoughts:

Its a good lecture and very efficient judging by the 30 minute time stamp, but I personally enjoy the math and technicality added onto something I know.

[Azriel’s Late Post] My Paper On CERN

[Azriel’s Late Post] My Paper On CERN

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

What is CERN? CERN is a council that does nuclear research, it uses French for its acronym what does it stand for? ConseilEuropéen pour la RechercheNucléaire (As I’ve said European council for nuclear research)

Location: Meyrin, Switzerland precisely in the Route de Meyrin.

History: The CERN lab was founded or created, at 29th September 1954, apparently that is when nuclear based tech starts to become famous, and there were 12 countries taking part in this project firstly(Switzerland, France, Belgium, Denmark, Germany, Greece, Italy,  Netherlands,  Norway,  Sweden, United Kingdom, and Yugoslavia), now there are 80.

Cyclotron: this is not from CERN but this might matter at the next part, a cyclotron is a particle accelerator that uses electronic forces and sends them to the particle accelerating it…

CERN’s first Accelerator: CERN was in to particle acceleration since it was created, and it is first ever accelerator was called the synchrocyclotron which focuses in nuclear science, and I think this thing accelerates particles to fuel nuclear energy. The difference of the synchrocyclotron, is, the electric shock used is not constant it increases depending on the particles speed, now this is the first particle accelerator reaching the near speed of light (probably hypersonic.) this accelerator was disabled at 1990

First particle collision: the first particle collision to happen at CERN, is using the proton synchrotron accelerator, uses special proton beams that jetted particles, and due to this collision (I believe it did not reach light speed I do not know for sure) a new world of particle physics is opened, and due to this collision the Large Hadron Collider existed!

Antiparticles: This is a project CERN has been working on actually, it regards antiparticles, and anyway what is this particle? The antiparticles are a coolparticle that has the same mass, but has an opposite particular structure and charges if compared to the original particle, also its positron has an opposite charge, apparently a few antiparticles are created in particle acceleration and collision.

Large Hadron Collider: The most famous particle accelerator ever in the history of CERN it is also the largest particle accelerator or collider in the world, it is created to answer dozens of physics based question, and my 3 favorite questions and projects include: the search of a parallel dimension or universe which actually means we might actually not be the prime universe, if we are not the prime universe what will happen in our alternate lives? Project ALICE is apparently a project that is trying to figure out what did the big bang created, one of the objects that the big bang created is an amazing particle called quark which uniquely is fluid, because if I am correct not much quarks are not solid, the quark that project ALICE is trying to recreate is called a quark-gluon plasma which is actually a liquid state of matter that theoretically would give us a clue about quantum mechanics, this liquid state of matter is hot or warm, and very thick (scientific language is high temperature and high density) lastly is project CMS which hunts for quantum mechanics and the Higgs Bosonor the god particles, which apparently is a particle created with weak electromagnetic fields and the Higgs Boson is theoretical, and hard to prove but, once we know it exists we know it’s everywhere, but if Higgs Boson exists, it is no use for non-scientists (theoretically)

Big Bang Energy: Large Hadron Collider would also try to find this energy of the big bang that started with a single hydrogen particle apparently CERN is trying to recreate this energy, only with 2 light speed Hydrogen particles, although it might cause a black hole, an energy explosion that destroys this planet, it could also open a new dimension, or even create a new universe and a new energy source, but it is still theoretical.

Conclusion: well apparently CERN could reopen possibilities of everything or end this universe, so my question to CERN is are your experiments dangerous or incredible??

Sources: