Tag: philosophy

Apa itu Uang?

Apa itu Uang?

Pertanyaan ini sederhana. Sebenarnya, apa itu uang? Dan bagaimana selembar uang bisa memiliki nilai? Terkadang banyak orang, tanpa memedulikan gelar ataupun pekerjaan (kecuali jika bekerja di bidang filsafat, atau misalnya, antropologi) sering bingung atas pertanyaan sederhana ini.

Jika kamu menanyakan pada penganut Marxism, atau penganut jenis komunisme lainnya, jawabannya akan cukup sederhana. “Uang adalah alat imajinatif dari para kapitalis.” Tetapi, semua orang menggunakan uang, semua orang memiliki uang (tanpa memedulikan nilainya), dan mayoritas orang, lucunya, tidak tahu apa peran uang dalam sejarah.

Aku sudah pernah membahas perannya Kapitalisme campur Kolonialisme dalam menambahkan kemajuan dari peradaban, tetapi, pada sisi lain, uang sendiri, takkan menjadi suatu hal yang bernilai tanpa adanya kapitalisme.

Umm, untuk mengurangi sedikit kebingungan dari apa yang terjadi pada serial Buku yang telah dibaca milikku, dan juga untuk memberi laporan buku-buku yang benar telah kubaca pada minggu ini, aku sepertinya akan membiasakan menuliskan inspirasi, dan juga beberapa kutipan dari sumber-sumber aku mendapatkan ilmu ini. (mungkin juga akan diselipkan komunitas dimana aku mendapat ide, sayangnya belum akan dilakukan untuk artikel ini.)

Sumber dan Inspirasi artikel:

  • Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, Written by Yuval Noah Harari
  • The Ascent of Money, Written by Niall Ferguson
  • Sapiens: A Brief History of Mankind, Written by Yuval Noah Harari

Apakah Kertas Begitu Bernilai?

Nyatanya, uang tidak akan punya nilai kecuali kita percaya bahwa uang tersebut memiliki nilai.

Tanya warga Myanmar ketika ada seorang diktator yang menyatakan bahwa semua uang yang anda miliki sekarang hanya boleh digunakan untuk membeli uang baru. Jika aku tidak salah, uang baru itu bernilai 10 kali lipat lebih mahal dari desain uang yang lama.

Tindakan diktator tersebut mampu membuat seluruh warga Myanmar sekarat dan miskin, tetapi para diktator kaya. (jadi, sebenarnya, uang tersebut hanya tidak bernilai di dalam negeri ^^’ )

Berikutnya, coba kita pikirkan hal ini dalam bentuk fisik…

Apa beda uang 1.000 rupiah (desain baru tentunya), dan uang 100.000 rupiah? (sekali lagi, desain baru) Tentunya ada perbedaan warna, gambar pahlawan yang berada di lembaran uang tersebut, dan juga ada perbedaan angka yang bertuliskan di selembar uang tersebut. (if you ask an American about this, they have fewer differences, just a different design)

Apakah ada perbedaan tekstur? Tentu saja tidak. Perbedaan ukuran, ada sih… sebenarnya ada perbedaan sedikit. Uang 100.000 lebih besar 2 milimeter dari 50.000, sedangkan uang 50.000 lebih besar 2 milimeter dari 20.000, dan seterusnya, sampai uang 1.000 lebih kecil 12 milimeter kebanding uang 100.000.

Tetapi, selain perbedaan fisik yang terbilang minim tersebut, apakah uang memiliki nilai berbeda? Orang akan menjawab iya. Namun, sayangnya, tidak! Jika kita memercayai sebuah uang 5.000 sebagai alat untuk membeli 3 buah Beng-Beng (bukan sponsor, hanya saja, Beng-Beng begitu enak) maka, uang 5.000 sebenarnya hanya senilai 3 buah Beng-Beng.

Itu alasan 10.000.000 Dollar Zimbabwe (yang begitu tidak stabil dan terkena Hiperinflasi sampai 3 kali) hanya bisa digunakan untuk membeli 3 butir telur, atau mungkin, 2 Beng-Beng.

Faktanya, kita sebagai manusia percaya bahwa 10.000.000 dollar Zimbabwe nilainya sama dengan 2 Beng-Beng. Kita sebagai manusia percaya juga, bahwa 5.000 rupiah nilainya sama dengan 3 Beng-Beng (oke-oke, Beng-Beng di toko dekat rumah itu 1.700, cuman kan bisa dibuat bulat)

Jadi, yang perlu ditanyakan sesudah bab ini ada tiga.

  1. Apakah uang perlu dinilai sebagai barang, alih-alih sebagai… err, uang?
  2. Mengapa kita percayai uang?
  3. Uang, apakah uang itu?

Nilai Uang.

Uang, oh uang. Apa nilaimu? Apa bentukmu? Apakah kami membutuhkanmu?

Pertanyaan sederhana. Kita membutuhkan uang, karena kita membutuhkan sesuatu yang bernilai, dan penting untuk kemakmuran dan keselamatan hidup kita.

Jadi, sebenarnya, mengapa kita butuh uang? Karena kita membutuhkan barang yang bisa dibeli dari uang tersebut. Untuk apa kita memiliki uang terlalu banyak jika kita tidak membutuhkan, eh ralat… Menginginkan barang terlalu banyak? Sejujurnya, Upah Minimum di tiap daerah dan negara kurasa telah cukup untuk memberikan standar kehidupan yang paling rendah untuk seseorang, tetapi, karena ada orang yang menginginkan Mercedes paling baru untuk sebuah standar hidup, dan juga ada orang yang akan bahagia ketika sudah sukses makan KFC, atau makan di restoran mewah, maka… dari situ lah kita membutuhkan uang. Untuk mendapatkan keinginan kita.

Uang takkan bernilai, kertas juga takkan bernilai, jika uang tidak bisa mendapatkan barang-barang yang kita butuhkan, atau inginkan.

Jadi, coba pikir lagi, buat apa kita memiliki uang? Buat apa ktia makan di restoran all you can eat? Buat apa kita membeli mobil mewah? Ujung-ujungnya, kita membutuhkan uang untuk membeli kebahagiaan, dan kebahagiaan tersebut berasal dari mana? Dari barang yang menghasilkan endorphin di otak kita. (seperti disebut tadi, kebahagiaan tiap orang berasal dari tempat berbeda)

Ironisme dari kehidupan manusia lagi… Kita terjebak di dalam siklus tanpa henti, persis seperti siklus tanpa henti sebuah media…

  • Kita membutuhkan uang.
  • Mengapa? Karena kita membutuhkan serta menginginkan barang yang didapat dari uang tersebut.
  • Kita berusaha mendapatkan uang.
  • Kita mendapatkan uang yang cukup untuk membeli (setidaknya jika kamu menggunakan uang dengan pintar) 10 buah barang yang kita inginkan.
  • Kita membeli barang yang kita inginkan.
  • Kita menginginkan uang lagi. Jadi kita menciptakan bisnis, atau membeli properti ketika kita ada uang lebih.
  • Mengapa? Karena kita menginginkan barang (lain) yang sekali lagi… didapat dari uang.

Kesimpulan sederhana. Uang tidak bernilai. Barang yang kita beli tidak bernilai. Yang bernilai adalah hormon yang kita dapatkan sesudah mendapatkan uang.

Bahagia itu sederhana sebenarnya. Kita cukup mengatur otak kita untuk mendapatkan hormon endorphin dan serotonin ketika kita melakukan sesuatu yang gratis!

Buddha benar… The end of all suffering is the end of all wanting. Atau, semacamnya. Ya google saja Quotes-nya Buddha, entar juga ketemu kok.

Wait, then again, bank-bank di seluruh sudah sukses menghasilkan jutaan dollar dari orang yang tidak sabar untuk mendapat keinginannya. I think that’s called a credit card…

Ya, sudah ada watermark untuk courtesy image, jadi tolong, WordPress jangan marah ketika aku lupa memberi courtesy sebuah gambar. Hatur Nuhun.

Ehem, tadi sampai mana?

Oh iya…

Dalam dunia kapitalistik, amat disayangkan bahwa uang sangat dihubungkan dengan erat dengan kebahagiaan. Sayangnya, tidak ada yang mengerti atau prihatin mengenai hal ini.

Jadi, berikutnya, mari kita bahas alasan kita percaya pada uang.

In Money, We Trust.

Secara faktual, kita sebagai manusia percaya pada cukup banyak hal yang aneh, dan juga tidak masuk akal.

Sebagai seorang Debater (ENTP), aku amat senang ketika bisa membuktikan seseorang yang lain salah.

Mari kita lihat statistik total uang palsu yang digunakan untuk membeli suatu benda lain, setidaknya, di India. (sebenarnya, aku memilih India karena angka uang palsu di India begitu besar)

Secara total, ada uang palsu (dalam mata uang Rupee) senilai 3.15 triliun Rupiah yang digunakan untuk membeli barang pada akhir 2017 di India. Untuk menambah sedikit kelucuan. 3.15 triliun (dalam Rupiah) uang tersebut hanyalah berupa uang yang ditemukan dalam bentuk kertas. Selalu ada kemungkinan bahwa uang palsu tersebut digunakan beberapa kali, misalnya dalam transaksi dengan toko, lalu dari toko tersebut sebagai kembalian, dan dari kembalian tersebut digunakan untuk transaksi dengan teman, lalu ke toko lain, dan seterusnya.

(Oh iya, satu hal lagi.) Sistem bank yang mencatat uang yang kita miliki juga relatif mudah untuk dibobol seorang hacker yang andal, serta tidak mudah menyerah.

Tetapi, entah mengapa, kita masih percaya pada uang.

Maksudku, statistik telah seringkali membuktikan bahwa uang itu suatu hal yang mudah untuk dirusak, dipalsukan, dicuri, dan diambil dari orang lain… Tetapi, kita masih percaya pada uang.

Mungkin, ini faktor evolusi, and all that God Spot stuff, tetapi tentunya, anda sudah membaca artikel itu. Atau belum. Err, kalau belum, cepat-cepat baca! Klik disini. dikakipelangi.com/kunci-evolusi-manusia-secara-psikologi

Pada dasarnya, mengapa kita percaya pada uang?

Bagi seorang yang tinggal di daerah komunis, uang takkan bernilai. Semua hal telah disediakan oleh pemerintah, sehingga, untuk apa kita punya uang? Selembar kertas itu, tak bernilai.

Maksudku, jika memang uang dipandang sebagai alat untuk mendapatkan benda yang bernilai, mengapa kita membutuhkan uang, alih-alih, misalnya, usaha?

Kapitalisme mendukung uang, karena dengan adanya uang, nilai benda yang didapatkan dari uang tersebut dapat diputar dengan lebih mudah. (baca artikel ini… )

Ini pertanyaan yang ketiga buku yang kugunakan sebagai sumber tersebut tidak dapat jawab, tanpa kita masuk ke pertanyaan ketiga.

Apa itu uang?

Uang…

Jadi, coba ingat sedikit…

Kita telah membahas nilai uang, namun, kita sebenarnya tidak tahu apa itu uang.

Sebagai seorang Millennial… To Google!

a current media of exchange in the form of coins and banknotes; coins and banknotes collectively

Jadi, satu, uang adalah sebuah media yang portabel, digunakan untuk bertukar. Bisa dianggap sebagai koin, atau sebagai lembaran uang.

Tapi, umm. Sekarang, lebih dari 80% transaksi terjadi tanpa menggunakan uang. Sekarang uang berupa saldo, dimana kita memindahkan nilai saldo di suatu tempat, misalnya, di rekening bank kita, ke aplikasi Gojek, untuk bepergian (atau membeli makanan, atau bersih-bersih, atau… yah, you got that part).

Apakah Gopay, atau Grabpay itu memiliki bentuk fisik? No! Of course not.

Tetapi, apakah Gopay atau Grabpay itu memiliki nilai? Tentu saja!

Bukan hanya dalam aplikasi, baik E-Commerce layak Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak, atau Electronic Transportation, layak Gojek, atau Grab, atau Uber… Tetapi, di bank juga, electronic banking juga bisa dihitung.

Sebenarnya, apa itu uang? Uang itu, saldo. Saldo untuk apa? Saldo yang berperan sebagai media untuk mendapatkan benda.

Mungkin anda berpikir bahwa nilai imajinatif serta saldo ini bukan hal yang penting sebelum ada pesatnya perkembangan teknologi. Namun, dari zaman dahulu, rekening bank kita tidak menyimpan uang tiap orang dalam brangkas masing-masing. Ada sebuah brangkas besar yang berisi uang, namun, jumlahnya, ku tidak tahu.

Apa yang disimpan secara pribadi oleh bank? Catatan. Bank mencatat uang yang kita miliki. Sesederhana itu… Bank hanya menghitung, menghitung, dan menghitung.

Jadi, mengapa kita percaya pada uang? Karena sekarang, tidak banyak media yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan benda. Dan sebagaimanapun juga ada pencurian uang, atau ada pemalsuan uang, tidak ada media yang begitu efektif, ataupun efisien dalam mendapatkan barang yang kita inginkan tersebut.

Nyatanya, meski ada uang elektrik berupa saldo, mata uang untuk hal tersebut sama saja… Bitcoin mungkin adalah sedikit perbedaan, namun… Hmm, kurasa ujung-ujungnya, sistem Bitcoin hanya mencatat dan mendapatkan uang, dan mungkin Bitcoin hanyalah sebuah mata uang baru.

Kesimpulan.

Humans trust many stupid things. But they’re smart enough to create it in the first place.

Jadi, sebenarnya, kutipan itu, cukup ironis. Kita percaya pada cukup banyak hal yang bodoh… Untuk menyebut beberapa…

  • Uang
  • Sosial Media
  • Hoax (apakah ini dihitung? Aku sih menghitungnya)
  • Hukum
  • Permainan
  • Kompetisi
  • Kesenjangan Sosial

Tetapi, di saat yang sama, kita cukup pintar untuk menciptakan benda itu.

Sepertinya kita adalah makhluk yang bersinar begitu terang, sampai-sampai cahaya dari tubuh kita membutakan diri kita sendiri.

Tetapi, ya, siapa yang bisa menyalahkan kita? Selain diri kita sendiri tentunya…

🙂

Yayoi Kusama Exhibit @ Museum MACAN

Yayoi Kusama Exhibit @ Museum MACAN

Spoiler Alert: Ternyata Museum MACAN bukan Museum tentang Macan, melainkan singkatan dari Modern and Contemporary Art in Nusantara. Jadi jangan terlalu berharap untuk menemukan sejarah kehidupan tentang Macan, atau fosil-fosil Macan purba.

Aku sendiri yakin bahwa Reader sudah lihat foto di sosmed, entah itu di Timeline (or… yah, itu lah ya, tergantung sosmed kan namanya, padahal bendanya itu-itu aja) atau di Story. Atau, kalau anda saya, dan tidak main sosmed, mungkin nemunya di Timeline LINE, atau di WhatsApp Status.

Entah kenapa aku gagal menemukan satu pun gambar di Timeline LINE, atau di WhatsApp Status mengenai Exhibit Blockbuster Museum MACAN tahun ini. Tetapi, sejujurnya, buat apa menikmati gambar di sosial media yang dipasang dengan tujuan untuk pamer (no offense Bubi, atau Babah). Tujuan dari Seni bukan untuk dipasang di Sosial Media lagian 🙂 tetapi untuk dinikmati.

Jadi, kumohon, jika Reader belum, dan ingin ke sini, tolong nikmati seni disini, bukan menikmati komentar dan Likes dari follower anda ya.

Nah, jadi sebenarnya, aku tahu tentang pameran Museum MACAN ini dari mana? Jadi begini… Aku menemukan sebuah tulisan di JakartaGlobe tentang pameran di Museum MACAN ini yang… Yah, aku gak mau bahas itu sejujurnya. Silahkan baca saja sendiri ya, yang ada aku jadi gregetan nih hehehe. http://jakartaglobe.id/features/instagram-slaves-damage-artworks-museum-macans-yayoi-kusama-exhibition/

Langsung saja ke artikelnya yah. Ini akan membahas sedikit banyak gaya seni Yayoi Kusama, serta sedikit riwayat hidupnya.

(FYI, yes, I am currently in Jakarta, and this post is written here, sementara berpisah dari Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Geologi, dan berjumpa dengan Museum Fatahilah [yang aku gak jadi datengin sayangnya] dan juga Museum MACAN)

Panorama Kusama

Yayoi Kusama terobsesi dengan titik-titik. Sepertinya hampir semua karya seni miliknya dicoreng titik di sana dan sini, dan semua karya miliknya yang populer bermain dengan polkadot, dan cenderung abstrak. Tetapi, tentu saja orang-orang sudah tahu tentang kedua hal ini.

Ada beberapa hal yang mungkin ingin anda ketahui, dan dari mana inspirasi Yayoi Kusama ini…

Pertama-tama, ia sering berhalusinasi. Ia sering membayangkan bahwa tanaman berbicara padanya, dan segala sesuatu yang ia lihat, sedikit demi sedikit menjadi abstrak, dan menjadi penuh dengan titik-titik warna-warni. Nah, jadi yang mungkin kita pandang sebagai karya seni dan lukisan, atau patung… Bagi Yayoi Kusama, mungkin itu adalah benda atau pandangan dunianya sehari-hari.

Dan uniknya, ia dan keluarganya tahu bahwa dia sedikit bermasalah.

Bahkan, ada satu titik di dalam karirnya, dimana Kusama memasukkan dirinya ke Rumah Sakit Jiwa, dan membeli tanah di sebrang rumah sakit jiwa tersebut. Kusama kemudian membangun studio di tanah yang ia beli, dan tiap hari, ia ditemani oleh suster untuk berkarya di studio tersebut.

Jadi, jika ingin ditanyakan, iya, Kusama memang gila.

Titik. Titik. Warna. Warni.

Semua lukisan Yayoi Kusama yang terbilang Family Friendly (ehem, beliau memiliki satu daftar karya seni mengenai kehidupan seorang “remaja” perempuan… Enough said) bermain dengan titik-titik dan warna dasar. Pada dasarnya, ia mewarnai sebuah kanvas dan membuat titik-titik di atas warna dasar tersebut.

Tiap titik menciptakan sebuah ilusi dan menumpuk dengan titik lain. Jika melihat gambarannya secara langsung, kamu mungkin akan pusing.

Selain itu, jika anda memang tahan melihat sesuatu yang begitu abstrak untuk waktu yang lama, akan ditemukan bahwa dalam setiap frame, ketebalan dan kontras cat yang digunakan konsisten. Gambar di atas ini menggambarkan titik merah yang tebal di bagian bawah, dan seiring naiknya lukisan, semakin tipis, dan semakin tipis.

One more thing, lukisan itu hanya satu dari sembilan lukisan dengan kanvas yang terhubung dengan satu sama lain.

Oke, mungkin itu terlalu gampang (untuk sekarang), jadi kita akan kasih lukisan lain…

Bentuk ini menjadi ilusi optik yang sangat sering ditemukan. Karya ini disebut Infinity Nets (hey, we have that now! It’s called the Internet) dan bukan Infinity War. . . *krik*

Tiap jaring menimpa jaring lain, dan sekali lagi, membuat anda pusing.

(2 jam di pameran ini, aku bergoyang ke kanan dan kiri…)

Kali ini, Kusama tidak menggambarkan pola yang konsisten, dan benar-benar hanya menggunakan garis, bentuk, serta warna untuk menyampaikan pikirannya.

Sebuah karya yang mirip dengan Infinity Nets di atas, adalah Infinity Nets lain, kali ini, berdasarkan beberapa sumber dan teks di Museum, terinspirasi dari bisikan laut di Jepang.

Sekali lagi, titik-titik. Kusama terobsesi dengan ini.

Mungkin tidak tampak dengan jelas, tetapi, seiring kita bergerak ke ujung lukisan ini, semakin mudah kita akan menyadari bahwa, jumlah titik lebih banyak, tetapi garis lebih sedikit.

Jika tiap blok yang terpisah dengan garis adalah simbolisasi untuk ombak, dan titik adalah air… Maka, kurasa, Kusama memberikan interpretasi bahwa sebuah ombak akan makin kuat semakin banyaknya ombak itu berisi dengan air, dan semakin erat ikatan antar gelombang yang bersatu untuk membuat ombak tersebut.

Manusia juga seharusnya seperti itu… Semakin banyak jenis dan orang, semakin kuat jika semakin bisa mengapresiasi perbedaan. HA! Selipan filsafat!

Speaking of Manusia… Ini adalah sebuah gambaran dari Kusama… Menggunakan gaya polkadot miliknya, dan juga dengan kawat besi dicat berwarna kuning untuk membelah mata kita lebih lanjut.

Aku tidak menangkap lebih banyak lagi dari karya yang ini… Tetapi, aku akan berikan Reader sebuah tantangan kecil… Bagi yang sukses memecahkan tantangan ini, akan diberikan hadiah berupa tiket akses ke Dikakipelangi.com secara gratis yang memang sudah dari sananya gratis. Jadi ya, lelucon ini garing, aku captain obvious, dan… EHEM, sorry, kembali ke topik utama.

Apa yang reader lihat di lukisan ini? CLUE: Anda sudah melihatnya.

Dan jika ini pameran… Ini adalah hal pertama yang anda lihat di Museum.

Staring into Infinity

Pernahkah reader ke mall dan berdiri di antara dua kaca yang bersebrangan?

Aku sendiri pernah, dan aku masih saja amazed ketika melihat ada jumlah bayangan dari cermin tersebut yang tak terhingga. Aku pertama menyadari itu ketika aku berumur 7 tahun, dan aku masih saja tercengang dan takjub ketika cahaya sedang bermain dengan pikiran kita.

Ini mungkin karya seni yang membuat Kusama paling terkenal.

Memanfaatkan cahaya dan cermin untuk membuat sebuah pantulan yang tidak akan pernah habis.

Aku mau cerita sedikit, bahwa sebagai anak kecil (7-8 tahun) aku sangat senang dengan cahaya, dan awalnya, aku bahkan tidak tahu tentang cahaya dan apa itu. Aku hanya ingat bahwa cahaya itu selalu menyenangkan untuk dimainkan. Jadi, ketika di sekolah aku membuat periskop dengan cermin, aku menggunakan senter kecil dan memanfaatkan periskop tersebut sebagai pemantul cahaya.

Dengan bantuan cermin, aku pernah menggunakan si periskop untuk menyentuh target di belakangku dengan cahaya kecil itu.

Those were good times.

Dan sekarang, aku bertemu dengan karya seni indah ini.

Cahaya masuk ke mata kita dan dipantulkan oleh cermin. Cahaya yang masuk ke mata kita, tetapi, sudah dipantulkan oleh cermin lain sebelum diproses otak. Dan itu terjadi terus menerus, dalam kecepatan cahaya…

Efek tersebut menciptakan sebuah ruang tanpa batas dalam sebuah segi enam dengan luas tidak lebih dari 15 meter.

Kusama sendiri pernah mengalami sebuah saat dalam hidupnya di mana Kusama harus mengintip melalui titik kecil, dan katanya, ia melihat cahaya yang dipantulkan terus menerus. Jadi, dengan jiwa seni miliknya, ia ingin membagi pengalaman tersebut dengan Infinity Room miliknya ini.

Tentunya, pengalaman ini juga dibagi ke feed dan story semua orang yang posting, so… yeah…

Imagination itself nows no bounds.

Coba tebak ada berapa balon berisi lampu di ruangan ini yang benar-benar asli, dan bukan pantulan cermin…

Bingung?

Kuhitung sampai 3 ya… 1, 2, 3.

Ada total, 3 balon berlampu, yang berputar dalam cahaya tanpa batas ini… Ya, ini membuat puyeng.

Ketahui bahwa anda hanya punya waktu 60 detik untuk menikmati, jadi tolong, manfaatkan sebaik mungkin, dan jangan rusak bola lampu di dalam benda tersebut.

Semua titik dan bola yang Kusama buat sepertinya hanya fragmen dari imajinasinya… Dan, sekarang, ada satu aspek lagi dari imajinasi beliau yang belum di eksplor… Tanaman yang berbicara.

Speak to me, Nature…

Alam mendapat seorang messenger berupa Yayoi Kusama, yang mengakui pernah mendengar tanaman berbicara. Sejujurnya, ini mungkin saja sekarang jika kita menemukan alat untuk menerjemahkan keinginan si tanaman (which currently… we only have a prototype). Tetapi, Yayoi mendengar tanaman berbicara saat ia masih anak kecil… Sebelum ada teknologi ini.

Kusama sangat senang dengan Labu (fakta samping, lukisan pertama miliknya, adalah lukisan labu dengan titik-titik polkadot), dan sepertinya, Labu adalah juara 3 di hatinya, sesudah titik dan cermin. Bahkan labu buatan beliau masih harus ada titik-titik polkadot khas Kusama, agar kita tahu itu karya milik siapa 😉

Pada penghujung pameran, kita bertemu dengan beberapa patung tanaman buatannya, yang… Ha, hold that thought.

Selain pahatan dan lukisannya yang sesuai dengan tanaman berbintik, Kusama sering memberikan satu dua selipan bentuk atau corak tanaman di lukisan infinity net atau lukisan abstrak miliknya. Gambar di atas ini memiliki corak bunga.

Dan, jika reader bingung, foto merah di atas, sesuai dengan gambar pertama yang reader lihat di artikel ku hari ini… 😉 Gotcha! Sukses menebak? Try this then…

 

Lukisan ini memiliki corak warna yang sesuai dengan salah satu patung di atas, dan seharusnya, hanya dalam sekilas mata, pembaca tahu yang mana…

Tampak mirip kah?

Indah kan?

Hehehe…

Renungan.

One Man’s Junk, is Another Man’s Treasure.

Coba bayangkan setiap hari, kamu harus menggunakan kacamata baru dan melihat dunia dari sudut pandang baru. Mungkin kamu akan lebih dari lelah… Tetapi, tentunya, kita harus mau melihat dunia dari sudut pandang orang lain… Jadi, mari kita intip sudut pandang beberapa pengunjung museum…

  • Instagram Slave
    • Bagi para Instagram Slave, mungkin semua karya seni di atas hanyalah sebuah alat untuk mendapatkan like, ataupun follower, atau mungkin story yang bagus, atau DP yang bagus untuk WA (Oke, ngaku dulu dikit, aku ganti DP aku pake foto infinity room, peace). Sebuah karya seni hanya sebatas… momen itu saja, dan hanya alat. Layaknya buruh, atau mesin pabrik yang menghasilkan sebuah produk.
  • Museum Addicts
    • Bagi para orang yang kecanduan museum, atau mungkin, penggiat museum… Mereka melihat dan mampu mengapresiasi tiap pameran. Belum tentu mereka bisa melihat apa arti atau intisari dari tiap karya, tetapi, hampir bisa dipastikan bahwa, seharusnya, mereka bisa respek dan mau ikut menjaga karya museum tersebut. Setiap pameran adalah bagian dari sejarah yang perlu dijaga, layaknya sebuah artifak, atau seorang… umm, aktor? mungkin? Tentunya, untuk dilihat, dan dinikmati.
  • Artists, Dreamers
    • Bagi para seniman dan juga para pemimpi… Mereka akan melihat dan memanfaatkan tiap karya seni untuk tentunya, melakukan kegiatan seni, serta menikmati satu dua hal. Mereka akan senang, terinspirasi, serta mereka juga akan menjaga dan menghormati tiap karya seni. Mereka juga akan berkontemplasi dan menimbang, melihat setiap karya dari banyak sudut pandang. Tiap karya berperan sebagai buku, dan sebagai mentor bagi mereka.
  • Yayoi Kusama
    • Membayangkan semua seni ini dalam mata Kusama… Aku sejujurnya merasa bahwa, bagi Kusama sendiri yang mengakui kegilaannya, tiap karya seni miliknya hanyalah interpretasi dari tiap tindakan dan tiap kali ia melihat sesuatu. Dunia seni miliknya yang unik dan menakjubkan ini hanyalah sebuah perspektif sehari-hari baginya… Then again, who knows?

To think like a Genius makes you crazy, to think like an Idiot makes you confused… Think like yourself, it’s the only way to grow. -Azriel Muhammad

Eh, tapi jangan lupa ya… Bukan berarti kita tidak boleh berpikir dalam sudut pandang orang lain, tetapi jangan maksa saja…

Sampai, lain, waktu!

7 Deadly Sins: Inspirasi Dari Tokoh Utama Spongebob

7 Deadly Sins: Inspirasi Dari Tokoh Utama Spongebob

Ada banyak teori di Reddit, dan banyak website lainnya, yang berisi banyak geek ga ada kerjaan. Dan kurang lebih mereka menemukan fakta bahwa tokoh utama dari film yang semestinya untuk anak-anak, yaitu Spongebob Squarepants, berasal dari 7 Deadly Sins.

Well teori ini udah sejak entah kapan sejujurnya, tapi aku sempet iseng baca Dante’s Inferno beberapa chapter a while ago, dan aku menjadi semacam kepo atas Christian Teaching ini, karena honestly it sounds a bit catchy, dan kayanya sering pisan nongol di literatur. Terus ketemu deh teori ini.

Eventually teori ini di confirm oleh Spongebob’s Father himself, Stephen Hillenburg. Dan ya, kadang ada yang obvious, tapi ada yang less obvious juga… jadi… karena sekali lagi, bingung pengen nulis apa, jadinya aku nulis ini aja…

Let us be carried by the waves, moving to the article!

7 Deadly Sins

Sebelum masuk ke representasi 7 Deadly Sins-nya sendiri, jadi, apa saja sifat buruk yang dianggap deadly ini? Well ada 7, dan kurasa analisis itu tidak terlalu susah. Ya, 7 Deadly Sins ini, berasal dari beberapa christian teachings, dan awalnya dia ditulis di bahasa Latin. Honestly untuk membahas ini secara dalam… it’s not my place here. Bukan agamaku, takut gak sopan, dan lain-lain. Jadi aku ga mau bahas sejarahnya, melainkan definisinya sajah.

Semua 7 Deadly Sins ini merupakan opposite dari Knightly Virtues, dan juga merupakan abuse dari sebuah hal yang normal dan dibutuhkan oleh seseorang. Pada dasarnya, ajaran mendasar di agama Islam, yaitu untuk menjadi orang yang content sudah bisa dengan mudah avoid ketujuh sin ini.

BTW, fakta ironis… 7 Deadly Sins jauh lebih terkenal dari 7 Knightly Virtues… Sedikit ngakak pas aku tahu bahwa ada opposite dari deadly sins ini sebenernya.

Oh, dan tokoh yang represent si dosa juga akan dimasukkan di bawahnya ya…

Wrath

Dikit-dikit marah, dikit-dikit marah. Ya, pada dasarnya Wrath biasanya ada di orang yang gak sabaran, dan tidak punya perlampiasan positif dari emosi amarahnya itu.

Definisi mendasarnya sebenarnya, Wrath adalah seseorang yang gak punya channeling emosi yang benar. Jika seseorang marah-marah padahal gak ada apa-apa yang terjadi, dia terbilang nyebelin. Selain itu, orang yang wrathful juga biasanya gak punya kontrol atas dirinya dan emosinya sendiri.

Wrath sendiri bukan merupakan sin yang berhubungan dengan barang kepunyaan, tetapi hanya merupakan sin yang berbahaya karena dia tanda orang yang… yah… marah-marah sih :/ aku semacam kurang kata-kata untuk sin pertama hari ini.

Also, Achilles adalah orang yang cuman punya drive gara-gara dia gak sabar. Jadi, meski dia godly sometimes, he’s just… a bad person actually… Off-topic dikit 🙂

Knightly Virtue, or the oppostie of wrath adalah… Patience, of course 🙂

Tokoh yang represent Wrath siapa? Meet Squidward Tentacles… Orang yang kerjaannya marah-marah, dan marah, dan marah, dan marah. Dikit-dikit dia sebel, dan dikit-dikit dia merasa ada hal yang ga ideal, sayangnya perlampiasannya rada-rada negatif. Ini cukup obvious sih… It’ll take you about 3 episodes to notice… that Squidward isn’t really that patient.

Greed/Avarice

Aku lebih suka avarice sebenernya, lebih catchy, tapi Greed ini lebih jelas.

Greed itu memiliki definisi fundamental dari seseorang yang tidak bisa melepas sesuatu kepunyaannya. Secara mendasar, orang yang serakah itu orang yang tidak bisa melepas kepunyaannnya, posesif, dan juga merebut apa yang semestinya punya lain.

Ini gak harus uang sih, meskipun biasanya emang uang yang dipake jadi patokan utamanya. Tetapi andaikan kita ingin memiliki power, jika kita tidak rela melepas kekuatan dan kekuasaan yang kita punya itu, kita sudah terbilang greedy. Jadi, bentuk apapun dari seseorang yang tidak mau melepas worldly things ini, juga termasuk sebagai greed…

Kebalikan dari Greed? Charity, atau orang yang well, content dan merasa puas dengan kepunyaan, ingin berbagi… yah… begitulah.

Nah, seringkali Greed itu berhubungan dengan uang, dan sejujurnya tidak ada yang lebih cocok untuk Greed daripada si Kepiting yang jadi boss-nya spongebob. Mr. Krabs ini pada dasarnya emang serakah, kopet, dan gak rela ngeluarin uang, sama kaya Wrath, Mr. Krabs juga cukup obvious dia masuk kriteria Greed, karena dia gak se gak jelas beberapa karakter lain disini.

Sloth

Sloth seringkali dihubungkan dengan kemalasan. Tetapi so far, ada suatu hal fundamental yang membedakan kemalasan ini, dengan sin lainnya, karena banyak definisi dosa Sloth ini…

Tetapi kemalasan ini sudah mulai banyak definisinya, da… cek aja itu, Gabut, dll… itu masuk Sloth ga sih? Sejujurnya aku kurang yakin, tapi Sloth memiliki definisi fundamental dari meninggalkan tanggung jawab. Dan meninggalkan tanggung jawab ini hal yang, yeah pretty bad.

Biasanya sih, Sloth ini ga bisa dikorelasikan dengan dosa lain, karena jika dosa lain dianggap seolah-olah memiliki terlalu banyak, Sloth ini kebalikannya. This sin focuses on, doing nothing, instead of doing too much. Jadi, harus diakui, Sloth ini rada memusingkan… bahkan di Wikipedia kalimat pertama untuk Sloth ini adalah… “peculiar jumble of notions and definitions”. Jadi di artikel ini, kita akan stick dengan definisi meninggalkan tanggung jawab.

Knightly Virtue dari Sloth (atau kebalikannya) adalah… diligence. Yah, kebalikan orang males apa? orang rajin… udah as simple as that…. (kadang lucu ya kalau kita mencari terlalu rese padahal jawabannya simpel… iya aku kira kebalikannya akan rada memusingkan)

Nah, Patrick Star seseorang yang kayanya ga pernah dikasih tanggung jawab apa-apa dan emang orang yang males. Bahkan ada satu episode dimana dia mengajarkan orang lain untuk tidak melakukan apa-apa. Sekali lagi, itu cukup obvious bahwa Patrick Star itu Sloth, karena dia meninggalkan tanggung jawabnya untuk bekerja seperti cowo pada umumnya.

Envy

Yah, Envy ini merupakan sin yang harusnya bisa direpresent dengan mudah oleh tokoh di film ini… Tapi tetep aja, mau kubahas.

Envy itself adalah sebuah sin yang berarti, iri, atau jealous atas kepunyaan orang lain. Baik kepunyaan ini adalah kepunyaan materi, penghargaan, achievement, atau cewe, apapun lah. Jadi kalau anda sebagai mantan iri, tahu bahwa mantan kalian udah ada yang punya lagi, yah kamu dah masuk Envy.

Nah, secara fundamental, Envy juga sama, merasa tidak pernah puas, mirip dengan Greed tadi, tapi, Envy ini berbeda dengan highlight bahwa orang yang jealous-an itu orang yang gak merasa cukup dengan cara yang… berbeda…

Jika orang Envious pada orang lain, dia sebenernya merasa tidak memiliki apa-apa, dan memandang dirinya terlalu rendah. Kurang lebih, ini terjadi di orang yang, kinda depressed, atau… ya emang jealous-an aja sih… Like I said, bukannya dia merasa tidak pernah puas, dia merasa… seolah-olah dirinya tidak punya apa-apa.

Envy sendiri juga merupakan nama model laptop dari merek HP yang dipakai Bubi. Knightly Virtue-nya adalah Kindness, yang merupakan kebalikan, daripada iri-an sama orang lain, kalau orangnya kind, dan compassionate dia akan merasa happy jika ada temannya yang happy.

Tokoh yang mewakili Envy siapa? Tuh, si Plankton. Gimana coba dia ga envious? Kayanya cukup obvious, sekali lagi. Dikit-dikit jealous dan bersiasat buat nyolong resepnya Mr. Krabs, dan seterusnya… Kalau masih belum bingung karena pemilihan tokohnya obvious, siap-siap untuk 3 sin terakhir.

Pride

Pride itu sering dijelaskan sebagai sin paling… Parah. Kaya, lu teh gimana sih, songong amat jadi orang. Kalau mau dibahas secara fundamental, kayanya, ini bakal rada rese… Tapi coba deh

Dasarnya, orang yang Prideful itu orang yang merasa dirinya adalah yang terbaik, dan dia juga ingin menjaga status itu. Sejak zaman Yunani, mitologi sudah despise banget sama sin ini. Dewa-dewi Olympus yang manusiawi itu semuanya sangat-sangat prideful, dan ingin bener-bener membuktikan ke semua orang bahwa dirinya yang terbaik.

Pride sendiri juga bisa berarti sebagai orang yang memandang dirinya terlalu tinggi, dan dia rada insecure karena itu, jadinya dia rela melakukan hal-hal demi membuktikan itu. (okay ini repetitif).

Jika dosa-dosa lain berbasis ke orang-orang yang mau punya, atau punya kebanyakan hal, dasarnya, Pride ini lebih fokus ke orang-orang yang merasa bahwa dirinya itu… gini-gini-gini, dan… yah begitulah. Keywordnya sudah di highlight… merasa.

Nyatanya orang yang prideful ini hanya merasa saja bahwa dirinya terlalu baik, atau ingin membuktikan bahwa dirinya yang terbaik, dan kadang dia juga ga ngeh bahwa dirinya prideful, tetapi seharusnya, ini sin paling… unrealistic. Gak realisitis soalnya dia ya… meninggikan dirinya, tanpa menganggap hal-hal lain.

Sekali lagi, kebalikan dari Pride, atau kesombongan ini adalah, humility, yang cukup obvious. Orang sombong, sama orang rendah hati… dah as simple as that.

Nah, tokoh yang represent pride ini, adalah si Tupai bawah Air, Sandy. Sandy dianggap prideful karena seringkali ada episode yang menunjukkan bahwa dia adalah orang yang ingin membuktikan hal-hal ke orang lain, dan juga memang dia orang yang sombong sih pada dasarnya. Selain itu, Sandy juga suka brag atas hal-hal yang dia achieve…

Lust

Lust, ah… sin yang didapat dari seseorang yang gak bisa menahan diri. Of course contoh dari beberapa acts yang lustful bukan sesuatu yang mau, dan boleh dibahas di family friendly website kaya Dikakipelangi.com ini, tapi intinya, lust adalah semacam overflowing compassion yang berubah menjadi hal negatif dan obsesi karena kurangnya kemampuan perlampiasan emosi.

Tetapi menurut definisinya, Lust tidak hanya untuk those adult stuffs… Lust itu adalah abuse dari sebuah human need. Tetapi karena banyaknya sin lain untuk represent abusiveness dari dosa itu, jadinya Lust itu seringkali mengalami miskonsepsi untuk… yah itu lah. Sekali lagi, family friendly

Selain itu, Lust untuk hal-hal lain seperti, Lust for Money, dapat dibedakan dengan Greed. Lust itu dianggap berbeda dengan Greed jika seseorang telah menjadi kecanduan pada uang atau power. Perbedaannya ada disitu…

Secara fundamental, Lust adalah sebuah dosa yang membuat seseorang berpikir bahwa sesuatu yang bersifat pleasure sebagai hal yang merupakan kebutuhan, dan merasa tidak bisa hidup tanpa itu. (Cough, online game addicts, COUGH).

Knightly Virtue (kualitas kesatriaan) dari Lust adalah Chastity, yang berarti seseorang dengan hati yang murni, dan intention yang murni juga.

Believe it or not, this 18+ sin di represent oleh… ahahaha… Spongebob himself.

WHAT!? KOK BISA SIH? Jadi keyword hari ini dimulai di… “Tidak Bisa Menahan Diri” dan dilanjut dengan “Overflowing Compassion”. Spongebob sendiri merupakan orang yang gak bisa menahan diri, as if itu ga cukup jelas. Dan kalau ngeh, overflowing compassion ini berarti dia terlalu adore sama beberapa orang, sampai ke titik dia “nyandu” ngegangguin orang. Yeah rada gak jelas, tetapi ini mungkin sin paling susah di represent di sebuah film anak-anak.

Gluttony

Gluttony… Augustus Gloop reminds me of this… Kayanya Charlie And The Chocolate Factory juga semacam memiliki koneksi dengan 7 Deadly Sins ini… Minor break dan off-topic btw Augustus (fat kid) itu gluttony, Violet (doyan bubble gum) itu Pride, Veruca (spoiled kid) itu Greed, dan Mike (TV Addict) itu Sloth…

On topic. Gluttony adalah sebuah sin yang fokus ke makan. Jika Lust tadi fokus ke tidak mau hidup tanpa sesuatu, Gluttons ini adalah orang-orang yang tidak mau berhenti makan. Tetapi, meski Gluttony itu seringkali membahas makanan, dan kebanyakan makan… Sebenernya secara fundamental, dia bukan itu.

Fundamentally, Gluttony adalah perasaan untuk tidak mau berhenti mendapatkan pleasure, yang terkadang juga membutakan orang dari rasa cukup. Overabusing sesuatu ketika seharusnya kita sudah cukup mendapatkan pleasure itu sudah bisa dan seharusnya dianggap sebagai gluttony.

Alhasil kalau kita mau liat perbedaan jika Gluttony ini ingin diberikan ke hal lain selain makanan, misalnya.. uang (iya, lagi) gitu? Gluttony adalah saat jika seseorang ga mau berhenti buat indulge dirinya sendiri ke si uang.

Jika Lust adalah saat seseorang menjadi addict dan tidak bisa hidup tanpanya, gluttony adalah overindulgence dan ketika seseorang udah bener-bener gak mau berhenti sampai dia “kenyang”.

Knightly Virtue, atau kebalikan dari Gluttony adalah Temperance, which represents… ya balance dan perasaan “sabar”.

Nah… tokoh yang merepresent gluttony di Spongebob itu… si peliharaannya Spongebob. That snail known as Gary.

Ini hal yang rada… gak jelas sebenernya 🙁 Like, gimana orang bisa nemuin benang merah antara si keong sama gluttons? Mungkin diantara sin dan tokoh lainnya ini paling gak jelas. Jadi ternyata, Gary ini sering membuat Spongebob harus pulang kerja cepet, sampai-sampai si Spongebob ini untuk… “Gary harus dikasih makan!” Karena, Gary ini ga bisa berhenti makan. Jadinya, dia semacam, Gluttony without the fatness.

In Conclusion

Aku capek…

Oh bukan ya… Hmm…

Every problem has a simple solution. Sometimes a solution can solve many problems.

Oke, jadi, jika kita anggap 7 Deadly Sins ini adalah sebuah hal yang negatif, dan ada 7 dosa yang dasarnya juga beda-beda. Sebenernya solusinya cuman satu lho…

Jadi orang yang content, dan merasa cukup pada dirinya, dan apa yang dia miliki. UDAH! CUKUP, semua sins itu terpecahkan dengan sebuah solusi mudah.

Also conclusion tambahan, spongebob kurang dibahas, tepuk jidad… tapi ya, semoga tidak terkesan clickbait, karenas seriusan, ini BUKAN clickbait. Tetapi aku terbawa arus dan jadi ngebahas 7 Deadly Sins dan melupakan tujuan utama artikel ini.

Dan btw, Spongebob itu film anak-anak dengan konflik orang dewasa, jadi please, watch with caution.

Until next time!

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Jadi sekarang beginilah caranya. Yes I really don’t have any other comments. Hanya begitulah… Aku bener-bener bakalan ngebahas poinnya satu-satu. Dengan pengecualian perspektif yang kelima karena perspektif kelima itu… sensitif dan aku tidak ingin offend siapa-siapa. Jadi langsung aja masuk ke artikelnya kali ya…

Oh btw, baca dulu artikel ini, dan artikel ini untuk perspektif materialis. Kedua artikel itu penting (especially yang pertama), dan emang kepake untuk referensi membaca di artikel ini.

Yes ini sebuah kuliah dijadiin sebuah serial artikel, mostly because memang bisa dikupas sedalam ini, dan minggu ini ga ada kuliah di Unpar karena tanggal merah… 🙁

So, sesudah 2 paragraf (3 sama ini), baru kita masuk ke artikelnya.

Definition

Perspektif Vitalis… No, it’s not the name of a soap brand, it’s not.

Pertanyaan yang ditanyakan adalah energi apa yang menggerakkan alam semesta ini?

Perspektif vitalis ini terbilang relatif baru, in the sense that… ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, tetapi tidak dalam konteks Interconnectedness dan Universal Mind. Di zaman dahulu jawaban energi yang menggerakan alam semesta ini ada di dewa-dewa, dan sampai sekarang pun tuhan (di agama apapun) masih cukup mencakup perspektif vitalis ini.

Tetapi, dalam aspek Universal Mind, Vitalis ini lebih masuk ke… energi, bukan pikiran itu sendiri. Alhasil aku tidak bisa memasukkan tuhan, ataupun dewa dalam perspektif Vitalis.

Nevertheless ini dah rada off topic, jadi kembali ke definisi yang ingin aku ambil…

Untuk perspektif vitalis di artikel ini, harap catat (don’t… it’s a metaphor) bahwa sebuah pikiran bukanlah energi (unlike the materialist perspective), dan energi ini lebih ke… suatu hal yang menjalankan pikirannya, bukan pikirannya sendiri… (bingung kan?)

Jadi jika alam semesta ini adalah sebuah mobil, para materialis akan membahas mobil itu sendiri secara detail, sedangkan para vitalis akan lebih fokus pada cara menjalankan si mobil itu, dan bensinnya si mobil.

So, I hope that analogy kinda clears your mind a bit, dan semoga ga terlalu pusing… karena ya… sekarang kita akan maju…

Also, andaikan belum cukup jelas atau masih bingung, ini lebih (heck, jauh lebih) scientific dari para materialis, karena seperti disebut di awal, memang beda era, dan era para vitalis ini sudah mencapai titik dimana… sains sudah develop, dan kita sudah tidak stuck ke bahan-bahan di alam semesta, melainkan sudah ke… apa yang membuat alam semesta berjalan.

Micro Biology

Spoiler Alert: kalau ga kedengeran kaya mikro biologi, atau biologi pada umumnya, sama kok aku juga berpikir begitu.

Yes, what you’re going to be reading is a work from Rupert Sheldrake, and to this day he’s still very relevant with microbiology.

Nah, jadi… Rupert Sheldrake menyebut bahwa energi, like… every single pieces of energy, be it, potential, actual, solid, theoretical, dan istilah lain-lain yang belum disebut, atau ada istilah yang ga bener tapi kesebut… intinya, semua energi tanpa didescribe asalnya, jumlahnya,  atau jenisnya sudah mulai menggerakkan alam semesta ini.

That is a hidden message for, don’t stereotype, really, don’t. It’s pointless, everyone’s got a use in life anyways. (ini bercanda yang serius btw)

Nah energi ini tidak punya bentuk yang solid, dia terlalu… shattered untuk memiliki bentuk. Dia terpecah-pecah, dan, pada dasarnya mirip ruh yang scientific. Dia butuh vessel untuk bisa bekerja. Mirip seperti bensin dalam mobil tadi, si bensin tidak punya real value sampai dia dimasukkan dalam mobil dan menggerakkan si mobil.

Nah, tapi, ada hal yang belum dibahas disini. Untuk si bensin bisa menggerakkan si mobil… mobilnya ga bakalan bisa gerak, kalau si mobil ini hanyalah frame dengan 4 roda. Nope, kita butuh mesin untuk memproses si minyak.

So far aku udah nemuin analogi buat alam semesta kita, which is a car, yang bergerak dan bekerja dengan bantuan energi, which dijadikan analogi bensin… tapi, umm… ada yang kurang, mana si mesin yang memproses si bensin? Di alam semesta kita, ada yang namanya medan, dan di medan ini, baru jenis energi mulai berpengaruh, karena si energi sudah tidak lagi abstrak.

Untuk menggunakan analogi lagi… ada beberapa jenis mobil, misalnya mobil diesel hanya bisa dikasih minum bensin diesel, supercar akan lebih efisien jika diberikan bensin yang… proper, dan di enhance dengan banyaknya chemical, city car cukup diberikan bensin model pertalite, pertamax tanpa harus terlalu peduli dengan jenis bensin-nya. Masih ada mobil yang hanya bisa mengonsumsi solar, dan ya… so on.

Medan ini, atau mesin di alam semesta kita ini, memilah energi yang diterima dan hanya bisa diberi energi yang “cocok” dengan medannya. Pada titik inilah aku bingung pas kuliah… “What on earth does this have to do with Microbiology?”.

Well, jadi to start it off, ada banyak medan, seperti, Medan Kuantum untuk Quantum Energy (branch: Physics), Medan Gravitasi, yang memanage daya tarik antar dua hal (Branch: Physics), medan elektromagnetik, yang memanage magnetism, also saying that opposites attract… 😉 (Branch, sekali lagi, PHYSICS), dan… yang terakhir… Morphic Resonance.

Apa itu Morphic Resonance? HAHAHA… Prepare to encounter confusion. Pada titik ini aku yakin ini sesuatu yang bilang… physics, more physics I guess… Tapi ternyata Morphic Resonance adalah gelombang supernatural (yes, Mr. Sheldrake wrote SUPERNATURAL in his work, aku ga ngarang) yang mengendalikan, atau mengatasi pikiran antar makhluk yang terpisah, dan menghubungkannya. Morphic resonance juga merupakan plane/medan untuk kesamaan pattern dalam tingkah laku hewan-hewan.

Jadi di titik inilah aku sedikit yakin ini ada hubungannya dengan Neurobiology, which does work pretty well with Microbiology, and has some relevance with it. Tapi kalau merhatiin ulang di paragraf atas, reader bakalan ngeh. Ngeh bahwa dari gaya wording dan tulisanku, berdasarkan Morphic Resonance, sebuah pikiran adalah energi. Dan dalam konteks interconnectedness dan Universal Mind, jika sebuah pikiran adalah energi yang harus masuk dalam suatu vessel, in this case, the highest mind, or our mind…

I’ll let you conclude, selamat berpikir! (P.S. Ini berarti perspektif vitalistik mungkin saja benar dengan bilang bahwa yang menggerakkan alam semesta ini memang sebuah energi, tetapi hanya dalam… format berbeda)

Also, no there really wasn’t much on microbiology and how it correlates here.

Quantum Physics

Cung kalau udah nonton Ant-Man! Sure, if you’re a geek you’ve watched that, aku yakin banyak yang nonton juga sih. Cung kalau belajar fisika kuantum beres nonton Ant-Man! No? Nobody? What? That was the most interesting part! (FYI kalau ada tolong bilang di comments section aja…)

Quantum physics adalah fisika yang membahas mekanisme dan hukum fisika dalam dunia subatomic. Dimana hukum fisika tidak lagi apply. Tapi disini, aku belum cukup banyak baca dan belum bisa conclude apakah ada hubungan dari dunia kuantum dan dunia nyata.

 According to quantum physics… Segala hal terjadi dan diciptakan oleh fluktuasi gelombang. Gelombang ini tidak pernah berhenti bergerak, dan dia adalah bagian dari energy field yang semuanya adalah bagian dari hal lain, dan juga merupakan satu kesatuan.

(OKAY hang on, aku tahu pasti pada pusing)

Singkat cerita, energi adalah gelombang, gelombang ini bergerak terus menciptakan dan merubah hal-hal. Gelombang dan dunia ini adalah satu kesatuan dan juga merupakan spare parts, dan komponen dari mesin yang lebih besar. Hopefully ini lebih jelas.

Semua hal disini terbilang kompleks, dan kita akan sering menemukan paradoks, dimana bahkan di tempat hampa tetap ada gelombang, dan suatu hal tidak akan pernah menjadi sebuah jawaban sampai dia kembali ke dunia nyata.

Semua hal, terjadi karena gelombang, gelombang inilah energi. Gelombang ini juga terjadi kalau ada gerakan, baik itu secara fisik (alias tubuh kita bergerak), atau itu sebuah ide baru yang baru kepikiran.

Karena sekarang topiknya gelombang, anggap saja sebuah pikiran adalah pemancar radio yang juga bisa menangkap gelombang lain, sekaligus mengirimkan gelombangnya sendiri. This exchange of ideas is the aspect of interconnectedness according to Quantum Physics.

Harusnya sih ga terlalu memusingkan aspek interconnectedness-nya. Of course yang bikin pusing tuh bukan interconnectedness-nya tapi quantum physics in general. Jadi akan sedikit kujelasin dulu deh.

Dalam fisika kuantum, sebuah vacuum bukan sebenarnya ruang hampa. Vacuum itu hanyalah suatu tempat yang sedang dijelajahi dan “dibentuk” oleh gelombang. Sesudah dibentuk oleh gelombang, hasilnya akan muncul, dan vacuum ini bukanlah sebuah ruang hampa lagi, karena bukan hanya sebuah probabilitas yang masih belum diexplore, melainkan sudah menjadi sesuatu yang solid.

Ini di apply oleh Erwin Schrodinger yang membuat eksperimen Schrodinger’s Cat… Di eksperimen itu, ada sebuah kucing yang diekspos dalam radiasi dan/atau gas beracun (ada beberapa versi), dan dimasukkan sebuah kotak. Dalam kotak itu kita tidak tahu apakah si kucing itu mati atau hidup. Jadi berdasarkan fisika kuantum… kucing itu not dead, neither it is alive. Itu paradoks sih.

Hasil dari Schrodinger’s cat tidak akan pernah terungkap sampai kita membuka kotak itu, karena begitu kita membuka kotak itu… fisika quantum tidak lagi apply dan kita kembali ke realm nyata. Ketika kucing itu masih dalam kotak tetapi, ruang hampa itu sedang ditentukan hasilnya melewati gelombang radio yang tadi dibahas.

Yes ini ga terlalu jelas interconnectedness-nya apa, tapi ini bukan cuma ngebahas interconnectedness, but also apparently physics in general

Kesimpulan dari bagian ini adalah… explore future possibilities! Sesuatu yang hampa hanyalah sesuatu yang belum ditemukan ataupun dicoba. (or, kalau mau yang mode easy-nya… You’ll never know till you try). Let’s not be stuck in a quantum stasis.

In Conclusion

Terkadang ada saat dimana kita sebagai manusia tidak punya energi atau merasa bahwa dirinya sedang tidak punya energi untuk menggerakkan dirinya sendiri. Fase ini disebut gabut… (atau mager, atau singkatan lain yang entah aku ga inget)

Tetapi sebenarnya, energi sudah menggerakkan dan membuat kita berpikir, dan energi ini sudah ada dari sana-nya!

It’s only up to us to grasp it, and hold the world and image that we seek.

AHA! Okay jadi ini half a conclusion, dan sebenernya masih bisa ditingkatkan lagi, tapi masih ada 2 perspektif lain untuk dibahas, jadi bersabar yaaa…

Until next time.

Layers Of Consciousness

Layers Of Consciousness

Sejujurnya kemarin aku baru saja mendapatkan kuliah filsafat (heck, materi) filsafat paling membingungkan so far. Funnily dosennya, Professor Matius Ali, yang langsung dari Institut Kesenian Jakarta bilang… kalau gak ngerti santai kok… ini biasanya orang-orang baru ngerti 10 tahun kemudian, gak jarang ada yang ga ngerti sampai 10 tahun kemudian.

Untungnya, Professor Matius juga punya sense of humor yang sangat baik, dan bisa membuatku ngakak entah berapa kali sepanjang kuliah. But regardless, daripada diem di sini menjelaskan hal yang aku belum ngerti, kujelasin yang aku dah ngerti aja deh.

Man Is A Rational Animal -Aristotle…

Noh, mulai dari quote itu deh. Manusia adalah hewan yang rasional. Yeah, just… that, I’ve got nothing else to say.

Kalau kita mau bahas layers of consciousness, kita sebagai manusia diciptakan tepat di tengah-tengah chart-nya. Hang on ku upload image deh.

Yang diajarkan kemarin ga persis jleb gitu sih, tapi ga beda-beda jauh. Chart diatas lebih membahas psikologi-nya, tapi kita ga mau bahas itu hari ini, namun itu emang layers of consciousness yang lebih sering dipakai orang. Gambar di atas itu sesuatu yang lebih bersifat empirikal, dan meski emang ada hubungannya, ini bukan topik yang membingungkan itu…

Hopefully this is more spot on and confusing…

Ini sebenernya udah sesuatu yang aku mengerti, and pernah di explore pas nonton Doctor Strange, tapi itu gak mau dibahas sekarang dulu… Langsung ke artikel aja deh…

Lower Triangle

Jadi dari dua gambar itu, ada segitiga yang ada di atas, dan ada yang di bawah.

Kemarin sih Professor Matius menjelaskan bahwa semakin ke bawah, semakin nyangkut kita dengan evidence dan hal-hal yang beneran. Semakin ke atas cara kita berpikir semakin transcend kita ke universe lain, dan semakin dekat kita dengan dunia yang… well in a sense mystic.

Nah, untuk sekarang kita mau bahas segitiga yang dibawah ini.

Physical Realm

Pertama-tama kalau kita liat di ujung segitiga yang dibawah itu, ditemukan Physical realm. Which yes, itu realm consciousness yang paling rendah. Sebuah realm yang semuanya itu… hanya temporal. Jadi apa sebenernya yang paling bawah itu? Well, diantara apa yang di bawah, and paling bawah itu, ada yang disebut materi, or worldly things.

Jadi, sebenernya mirip ke apa yang agama sering point out, materi bukan apa-apa kalau kamu gak punya meaning lain di hidup ini.

According to most Platonian (it is indeed a word…) philosophers, atau filsuf yang percaya pada Plato’s teachings and text, dunia ini cuma dunia KW 2, dan dunia nyatanya adalah dunia idea yang letaknya entah dimana itu…

Bentar dulu tapi, dunia ide disini kan gak ada di layers of consciousness itu? Okay, namanya beda

Astral Realm

Well, aku pernah baca sesuatu yang berbunyi seperti ini… “Humans do not fear the death of the body”. Well itu karena yang namanya mati itu cuman tubuh etheric dan physical realm doang. Itu satu-satunya hal yang temporal. Abis mati, kita akan naik ke emotional layer of consciousness, also known as the Astral Realm (Yes, sama persis sama Doctor Strange’s Astral Realm). Kalau Platonian bilangnya, Astral Realm itu dunia Ide karena, bentuk paling ideal-nya dunia itu ada di situ.

Kemarin sih, yang dijelaskan sama Professor Matius, kalau si Astral Plane ini ada di atas Etheric Realm, tapi dibawah Lower Mental. Jadi aku bahas ini duluan sebelum aku mau bahas ke Lower Mental. Meski urutannya beda.

So, what’s the point of this? Astral Realm adalah realm dimana kita akan succumb to our emotions, sampai at one point kita akan percaya pada apa yang di apply di Astral Plane, dan mengubah realita fisik.

Doctor Strange masih contoh yang bagus, karena… Di film itu, Cumberbatch with the arrogant doctor kinda guy, broke his hands, losing the ability to become a surgeon. Terus dia ditepak sama Sensei di Kamar Taj and dilempar ke Astral Plane, only to find out that, his actual hand is still perfectly functioning.

Now, Astral Realm ini udah mulai… immortal, karena physical body bisa saja mati, tapi astral realm ini akan balik ke… tempatnya. Kemarin Dr. Matius bilang untuk mengaksesnya, kita harus bisa channel our emotions and do stuff… I actually don’t get…

For now ini masih masuk dalam topik human nature. Tapi kalau kita mau bicara thought, yang udah diluar dari emosi dan physical things, ada di Lower Mental.

Lower Mental

Kalau kita mau bahas philosophically, orang yang masih percaya sama empirical solid thought… Itu kodratnya lebih rendah dari orang yang punya abstract thinking. Yes, terdengar kasar banget, tapi sebenernya ada betulnya.

Einstein pernah bilang bahwa Science Without Religion is Lame. Which is true, I mean, ini teh cuma angka dan rumus-rumus, yang sebenernya learnable tanpa perlu talent (or so I’ve been told). Orang yang hanya bisa empirical thought, itu biasanya boring.

Lower Mental ini berada di realm yang… hang on rada bingung jelasinnya… kukasih contoh deh.

Aristotle bilang bahwa Socrates is a man, and Men are mortal. Ya, orang yang tahu keduanya itu masih nyangkut di physical realm dengan ego mereka, closing their eyes. Tapi kalau kita angkat dikit, cuma dengan analisa simpel, Socrates is Mortal. Cuma dari adding 2+2 and getting 4, alhasil kita sudah sukses naik ke Lower Mental, dengan mau mulai membuka horizon dengan thinking empirical.

Tapi kaya aku bilang, ini itu sesuatu yang learnable tanpa perlu talent, tapi… kalau mau naik lagi… jadi apa dong?

Higher Triangle

Di segitiga yang atas itu sudah diluar batas manusia, karena… manusia terletak di antara kedua segitiga, balanced out, rational enough to beat animals who could only think based on evidence, tapi ga lebih tinggi dari… apapun yang ada di atas. Which is our true self.

Let’s discuss this bit by bit…

Higher Mental

Abstract thought, the ability to… feel what’s above us humans. Itu yang ada di Higher Mental.

Kata Professor Matius, biasanya orang-orang artistik yang lebih connected sama… higher mental ini. Sesuatu yang udah diatas grasp para manusia, karena bersifat abstrak. With all due respect, godly things are already a part of this.

Quote dari Einstein tadi baru setengah aja. Religion without science is Blind. Aku sih sebenernya percaya ini sesuatu yang beneran lho, karena sejujurnya kalau kita hanya mau melihat religion… kita akan menutup diri dari empirical knowledge, which is like… wrong.

Don’t get me wrong, abstract thought and beliefs are very important. Tapi kalau kita menutup diri dari simple thinking dan hanya mau masuk ke sesuatu yang abstrak, kita ga akan bisa form apa-apa…

Topik ini takutnya rada… kontroversial, jadi kita bahasnya segini aja.

Transcendental/Transpersonal

Ini simpel sih, kalau kita udah sampai ke titik ini, kita akan merasa lebih… well, care to others. Sama seperti segitiga psikologi di atas. Kalau kita udah bisa conquer emotional needs dan respect diri kita sendiri… Kita akan mulai merasa perlu untuk membantu higher cause, something that’s higher than us.

Ini berbeda-beda tergantung orangnya, tapi ada yang merasa bahwa hidup yang meaningful itu… hidup yang serve god, ada juga yang memutuskan untuk serve orang lain, by helping them. Intinya adalah, ketika kita sudah mencapai titik ini, kita sudah benar-benar mau mencapai… dan menyelesaikan higher… living? Aduh sebenernya bingung ini, tapi intinya… Life orang akan bener-bener meaningful ketika sudah bisa transcend.

On top of that, realm ini juga ada di intuisi kita. Kalau gut instinct kita merasakan sesuatu yang gak bener, ya… kita bakalan merasakannya, as a part of this transcendental intervention.

Orang yang ga punya instinct atau intuition to differ an intervention biasanya masih nyangkut di abstract thought.

True Self

This is a part of the, “takes 10 years to understand, be patient”…

Bener, bener bingung aku sebenernya tapi according to Buddhist beliefs, the true self is a self that has ignored all worldly temptations, fully serving god.

Ini sebenernya confusing, dan… ADUH pokoknya bingung we lah ya… tapi kalau di part sebelumnya kita membahas higher purpose, true self ini udah ignore purpose lain selain final purpose-nya kita.

Even then, aku masih bingung… Maaf ya, aku bener-bener bingung dan… astounded sama penjelasan kemarin.

Middle Realm

Sesudah malu dikit gara-gara bingung… Coba maju aja deh ke bagian tengah, sesuatu yang di claim sebagai realm milik kita. Kenapa semua manusia diciptakan tepat di tengah ini?

Kemarin sih… Professor Matius bilang bahwa ini adalah konsep Free Will. Kita sebagai manusia diberikan lokasi yang sama, tinggal dipilih aja, mau turun dan membahas sesuatu yang tampak real? Atau mau naik dan membahas sesuatu yang imajinatif dan… abstrak? Apakah kita akan ke atas banget dan akan menjadi orang yang sangat baik? Atau kita akan succumb ke Ego dan materi dengan turun ke bawah?

It’s all in our options, and choices.

In Conclusion

It’s all in our options, and choices.

This, again, yeah jedanya cuma 2 kata dan 2 mencet enter. Aku ga sepenuhnya ngerti kemarin, (okay, banyakan pusingnya daripada ngertinya), tapi kalau aku bisa conclude sesuatu dari kuliah kemarin, kita semua lahir tanpa tali, dan bebas mau memilih apa.

Tinggal di tentukan hidupnya kita akan digunakan untuk apa? Apakah untuk cari uang? Untuk pride dan ego kita? Atau kita akan membuat orang lain senang?

It’s all in our head, I just… brought up the facts. Karena banyak orang nyangkut di dunia empirik, dan gak mau lihat hal dengan abstraknya, atau ga mau percaya sama apa yang bisa dilihat.

Seeing isn’t believing… Believing is Realization.

Semoga suka sama artikelnya!

Holarchy

Holarchy

Jadi, kemarin (lusa), di Unpar, tetap dalam series Filsafat, sebenarnya kita membahas tentang Principles of Universality. Topiknya dibawakan oleh Professor Fabianus dari Unpar sendiri.

Masih percaya pada hipotesis dan Point of View kemarin, dan masih percaya pada Universal Mind yang govern universe ini, as well as Interconnectedness (which unfortunately isn’t an official English word), topik yang dibahas ada dua, kurang lebih…

Yang satu membahas Ultimate Reality. Which sejujurnya bisa membawamu pusing migrain 100 puteran, aku juga belum yakin bisa nulis tentang itu, jadi, untuk sementara… kita postpone dulu. On the other hand, kita membahas Holarchy juga, yang alhamdulilah, jauhhh lebih simpel untuk ditulis, dan juga memang lebih mudah dimengerti.

Sebelum masuk ke artikelnya, aku mau bahas dulu kenapa Ultimate Reality ini memusingkan…

  • Sangat-sangat dependent pada perspektif dari semua jenis orang, no matter how complicated or simple the thought of the person is.
  • Sebaiknya bisa “menyatukan” perspektif yang beragam itu menjadi ONE ultimate reality, and one ultimate life goal. Sambil jelasin napa reality yang absolut itu cukup ada satu aja.
  • Harus bisa breakdown segala hal, dan keinginan orang-orang, dari yang paling simpel, sampai yang paling rese, dan masih bisa masuk dalam ultimate reality itu.
  • Memastikan dalam keperbebedaan teori dan desire orang-orang yang banyak sekali itu masih masuk dalam ultimate reality, tanpa ignore desire itu in the first place.

Jadi “sangat” simpel, dan kemarin lusa aku kayanya baru ngeh… “Kayanya aku belajar filsafat demi sengaja membuat diriku pusing”. Luckily I do like confusion. Untuk sekarang ayo lupakan kepusingan itu dan masuk ke artikelnya yuk!

What’s a Holarchy?

Holarchy sendiri sebuah sistem, yang composed of Holons… (further explanation below, tapi kalau aku cuma pake Holarchy doang bakalan lebih bingung dibawah, so here we are)

Definisi absolute-nya rada membingungkan. Tapi kayanya kalau pakai contoh bakalan kebayang deh. Coba bayangin dunia ini sebuah mesin yang extremely complicated. Manusia yang bekerja dalam si mesin ini, adalah roda gerigi yang terus berputar tiap detiknya, berkontribusi pada si mesin. Si gerigi ini juga merupakan bagian dari mesin yang lebih besar untuk diputar.

Part mesin yang lebih besar ini terus berputar, dan berkontribusi untuk mesin yang lebih besar and so on. Sampai parts mesin yang krusial ini menjadi parts besar for the entire world.

To constantly help with the definition, ini rewritten quote (ga persis kok)… “An atom is a part of a molecule, a molecule is a part of a cell, a cell is a part of an organism, and so on. There is no whole nor part, they are both a part and a whole at the same time. Also known as a Holon

Intinya, kita adalah atom, yang merupakan bagian dari molekul, dan bagian dari sel-sel, ataupun organisme. Kita bukan satu objek sendiri, atau satu kesatuan, kita dua-duanya, kita itu Holon.

Ini further support yang namanya Interconnectedness (who once again, isn’t a word in the WordPress dictionary… tapi ternyata WordPress juga bukan kata di Dictionary-nya WordPress, jadi who knows?), karena dia akan menjelaskan kenapa Universal Mind Theory ini terus berhubungan dengan terhubungnya suatu pikiran ke pikiran lainnya.

Nah, karena pada definisi layer kedua yang dibahas di artikel kemarin, memang membahas sebuah medium dan/atau system yang menyambungkan beberapa makhluk hidup. Kalau kita berperan sebagai Holon, alias sebuah single organism yang juga merupakan part di saat yang sama, emang masuk akal banget sih ada interconnectedness.

Relation to Interconnectedness

Meski udah kubahas dikit tadi, kalau mau dikupas lebih dalem, pasti lebih afdol dong.

Jadi, definisi absolut-nya Interconnectedness ini emang masih fleksibel sih, tapi aku paling suka sama definisi yang state seperti ini… “Interconnectedness refers to the manner that connects groups or singular objects in a system with one another to form a more complicated system.”

Di translasi ke Bahasa Indonesia… “Interconnectedness adalah suatu tingkah laku yang menyambungkan grup atau objek singular dalam sebuah sistem dengan satu sama lain untuk membuat grup atau sistem yang lebih kompleks”.

Jadi, sebenernya dari definisi aja udah kebayang banget ya… Sama lagi kita lihat dengan yang namanya singular objects dan groups, dan makin ke sini akan makin kompleks.

Sebenernya dari liat definisi juga ga bakal terlalu susah buat connect the dots antar interconnectedness dengan Holarchy. Tapi kalau masih bingung…

Holon adalah objek/grup yang terdiri dalam sebuah sistem.

Sedangkan Interconnectedness adalah koneksi yang menjalin dan menghubungkan objek singular dan grup-grup di sistem tersebut.

Voila! Ngerti kaaan? Holon adalah user di sebuah sosmed, dan internet yang menghubungkan para user Sosmed itu adalah Interconnectedness-nya!

To Be is To Be With

Hamlet bilang, To Be, or Not To Be? Descartes bilang I think, therefore I am. However in  this everlastingly running and complicated machine, Heidegger bilang, To Be is To Be With.

Jadi Hamlet, kalau kamu mau jadi seseorang, pastikan kamu sama orang lain (CIEEEEE. . . . . Okay, bad joke, sorry, speaking of Hamlet, I should watch the play I guess…)

Heidegger ini juga philosopher yang percaya dalam Holarchy. Beliau bilang bahwa kalau kamu bukan bagian dari apa-apa, maka kamu bukan apa-apa. Extreme kedengerannya ya. Mungkin sih Heidegger emang ekstrim dalam jelasin Heideggerian ini, tapi… Sebenernya dia ga salah juga sih.

Holarchy percaya bahwa kita adalah bagian dari sesuatu, sekaligus individu juga, tapi kalau kita hanya commit ke diri kita sendiri, kita ga ada kontribusi ke dunia ini, jadi, Heidegger ga salah dengan bilang bahwa kalau kita bukan bagian dari apa-apa, kita bukan apa-apa.

Untuk menaikkan keseriusan dia pada subjek ini, being there is always being with. Bingung? Sama, aku juga baca ulang modul berkali-kali sambil inget-inget kata Professor Fabianus yang ngasih lecture kemarin.

Jadi sesudah berkali-kali baca, dan mengingat kuliah kemarin. . . Dalam bahasa jerman sendiri (Heidegger menulis di bahasa Jerman btw), Mitsein (Being there), adalah phrase yang juga digunakan dalam kalimat being with, this play of words might be a coincidence. Tapi sama kaya yang namanya detektif, tidak ada coincidence di filsafat.

Heidegger used this wordplay and utilized this probable coincidence. Dan dia develop Heideggerian theory yang bilang bahwa kita tidak mungkin sendirian, regardless of where we are, or how alone we think we are, kita pasti mikirin orang lain (sekali lagi, CIEEEEEEEEEEE. . . . iya, terrible joke, tetep dipake tapi 🙂 ) dan ketika kita mikirin orang lain, interconnectedness ini come to play lagi, dan kita jadi indirectly not alone.

Tapi, Heidegger ini terbilang baru dalam Holarchy ini. Ada philosopher lagi yang membahas lebih jauhhhh lagi.

Parmenides

Parmenides, seorang Greek Philosopher (since the foundation of every knowledge comes from the Greeks) membahas yang ‘Ada’. Kalau pake Bahasa Indonesia rada bingung, karena ‘Being’ yang Parmenides bahas, di translate sebagai yang ‘Ada’. . . Jadi, di bawah ini, kalau ngebahas ‘Being’ atau ‘Ada’ ini referensi ke hal yang sama yaaaa.

  • Segala hal adalah satu hal, dan hal itu adalah yang ‘Ada’.
    • Parmenides bermaksud bahwa apapun suatu hal itu, pasti hal yang dimaksud merupakan bagian dari hal yang lebih besar. Meski belum di classify ke hal yang dibawahnya lagi, dan sangat general dalam bilang… ‘Ada’, teori ini masih considerable.
  • Segalanya adalah satu/tunggal
    • Segala hal ini juga merupakan entitas tersendiri, dengan tujuannya tersendiri. Tapi karena segala hal juga ‘Ada’, berarti semua hal adalah satu hal dan juga segalanya… (paradoks dehhh)
  • ‘Ada’ ini juga tunggal
    • Karena ‘Ada’ adalah segalanya, dan segalanya adalah satu hal, berarti ‘Ada’ juga tunggal. Sama repetitif juga…
    • ‘Ada’ ini tunggal, dan terbilang kekal, tidak bisa dipecah, atau dibagi lagi. Tapi kita kebetulan tidak bisa mempersepsi si ‘Ada’ ini, dan melihat si ‘Ada’ ini sebagai hal yang terpecah-pecah.
    • ‘Ada’ ini juga terus berputar dan tidak habis-habis, in a constant state of change.

According to Parmenides juga, karena semuanya dipersepsi dalam terpecah-pecah, semua hal otomatis temporal, dan akan terus berubah-ubah, agar kita bisa eventually perceive this ‘Being’.

Dalam scope kecil, tidak ada yang lenyap, atau baru di dunia ini. Segalanya terus berubah-ubah, tanpa ada yang lenyap atau hal baru tercipta. New ‘Beings’ are just a change of perception through our eyes.

Karena tiada yang berubah-ubah, Professor Fabianus kemarin bilang bahwa Ultimate Reality itu… tunggal. Jadi, YAY! Masih in line dengan statement ku di awal tentang Ultimate Reality.

In Conclusion…

You’ll Never Walk Alone…

Liverpool Reference! (Babah fans Liverpool, die hard pula…) Jadi sebenernya conclusion kita hari ini akan kembali pada dasarnya Holarchy. Holon sendiri membahas sama yang namanya Bagian dan Individu.

Mungkin kita lagi galau, jadi kita merasa kita Forever Alone… (CIEEEEEE GALAU! 😀 ) Tapi nyatanya, kita adalah bagian dari suatu engine yang membuat mesin besar ini function lebih baik. Jadi, nyatanya, nothing is an individual. Everything is a part of something else, mau itu sebuah sel, atau kita di dunia nyata. Believe that.

It’s only up to us to find what are we, and what are we destined for.

Dan karena suatu hal yang Universal terdiri dari hal-hal tunggal atau partikular, tanpa warna dari keunikan individu dan partikular itu, hal yang Universal ini akan jadi bland, dan tidak punya rasa.

Meski aku masih belum siap membahas Universal Truth and Reality, tapi sesuatu yang tunggal ini memang harus… rese. Kalau Universal Purpose of life ini simpel, maka… Dunia ini gak ada warnanya, semuanya bakalan hambar, dan siapa yang suka makanan yang hambar? Mungkin purpose of life tiap orang beda-beda, dan karena banyak perbedaan itu, sesuatu yang hambar akan jadi warna-warni, dan terasa enak.

Semoga artikel hari ini punya rasio Nasi dan Soto yang enak, dan bisa dinikmati yaaaaa… See you tomorrow!

Philosophical Purpose of Humans

Philosophical Purpose of Humans

Pernah kepikiran ga sih, apa tujuannya diciptakan manusia in the first place… Kalau kita mau bicara philosophical purpose, ga semua hal bisa di korelasikan dengan science or religion, karena emang ada di konteks dan halaman berbeda.

Jadi, apa tujuannya diciptakan makhluk yang bernama manusia ini? Kalau kita mau bicara dari scientific perspective, I don’t think we do have a purpose, karena kita cuma ngikutin evolution chain spesies sebelumnya. Kalau mau dilihat dari religious point of view… Please look at your own holy texts. Tidak ingin memberi opini apa-apa.

Tapi kalau kita bicara philosophical purpose yang mau di govern sama sebuah universal mind, pasti ada tujuannya diciptakannya manusia. We do serve a purpose for the universe, but what is exactly our purpose?

Kalau mau tahu tujuannya artikel ini, dan tujuan manusia exist in the first place, monggo lanjut.

Our Actions…

Sebelum kita bisa look back dan melihat tujuan sebuah spesies, hal pertama yang bisa dilakukan adalah lihat apa saja yang kita lakukan dalam waktu yang relatif pendek untuk umur sebuah spesies (Civilization has existed for about 5000 years)

Dalam waktu pendek itu… Sebentar, andaikan yang baca ini bingung sama definisi pendek… 5000 tahun kok pendek sih? Naha, wong kita juga cuma hidup selama 80 tahun.

Yeah, about that, Dinosaurus hidup selama 135 juta tahun, Bakteri sudah hidup… entah berapa miliar tahun. (Kalau ga salah 4.000.000.0000 tahun), dan kalau kata Tulus, “seribu tahun lama-nya”, dalam hitungan spesies, 1000 tahun itu pendek, karena evolusi sendiri butuh jutaan tahun untuk menghasilkan sebuah spesies baru.

Jadi, sebenarnya sebuah spesies dengan umur sependek kita ga perlu treat nature dengan actions sekejam ini…

Lho, kenapa dibilang kejam? Coba deh pikirin, kalau ga ada kita, evolusi tidak akan melambat, atau tertunda. Maybe, just, maybe we’ve destroyed too much of earth, while using too much resources at the same time. Eh, kok pake mungkin sih, kayanya bumi udah berkurang masa pakai-nya deh… It’s a fact, not a theory.

Aku ga mau bahas deeply tentang itu, since, Climate change, degradasi lapisan ozone, dan lain-lain, harusnya udah cukup jadi bukti… since, Climate Change Is Real!

Kita sebagai spesies udah ga nurture habitat kita sendiri, sambil juga ngerusak dan cultivate hewan-hewan buat kita makan, bukan cuma berburu seperti spesies pada umumnya lakukan, kita memanipulasi sebuah spesies agar ada lebih banyak dari spesies itu agar bisa kita makan. Kita juga fast forward growth sebuah tanaman dan ga peduli sama yang namanya pestisida dalam food chain karena uang lebih penting…

Selain itu, actions manusia sebagai spesies sejak zaman dahulu kala tidak sama dengan hal yang spesies pada umumnya lakukan, which is making the food chain rotate, eating, and doing the same things over and over again. Kita terus mendevelop diri sebagai spesies, menciptakan hal baru, mengubah apapun yang kita sudah ketahui sebelumnya.

As we develop ourselves as a species, we exploit things for the sake of our knowledge. Selain itu, ada juga yang namanya perang dengan semua teknologi yang kita punya, merusak alam dan menghilangkan yang namanya keseimbangan… As far as I know, sebuah kingdom yang memang bisa “berantem” itu, atau basically create a form of war itu cuman mammalia. Itu pun yang deket-deket sama Primates. Homo Sapiens kan emang merupakan spesies primata ya…

Selain itu, masih di topic spesies dan/atau universal mind, sebuah spesies yang sebrutal kita dalam konflik itu cuman… simpanse. Salah satu spesies paling pintar di bumi, dan juga spesies primata yang kalau di ajarkan dengan benar, lebih pintar dari manusia pada umumnya. (Not a joke, the common human is sometimes outsmarted by a common chimpanzees in IQ tests).

Nah, si Simpanse ini yang emang lebih pinter dari primata pada umumnya juga seringkali membunuh suku Simpanse lain yang menginvade territory nya tanpa izin. Mirip kaya kita sih, kita kan sering berantem, sama aja kaya Simpanse. Mereka pintar, tapi aggressive dan sangat violent.

Now on the topic of a universal mind…

Jadi, intinya… we do ruin a lot of things on earth… Nah, dalam perspektif sebuah universal mind, apa sih yang ada di cosmic mind yang membelakangi segala pemikiran di dunia ini untuk bisa menciptakan sesuatu kaya kita?

Cik atuh dibahas yaaa..

Universal Mind’s Decision

Kalau ada single mind yang govern the world, dan menciptakan spesies by spesies, sambil interconnecting the world’s minds… Pasti si Universal mind ini akan punya tujuan untuk menciptakan sesuatu. Whatever that purpose may be, it’s safe to say, we should believe that there is a purpose in everything. Ini kan filsafat lagian, ga ada yang ga punya tujuan…

Tapi, seeing at how humans have transcended over the past few thousand years… Menggunakan dan memanfaatkan banyak hal di dunia ini… Aku sih bisa ngebayangin tujuan si Universal Mind ini apa dalam menciptakan sebuah makhluk dengan sebersit kemampuan Universal Mind ini berpikir itu apa…

Aku yakin tujuan awalnya Universal Mind ini dalam menciptakan sebuah spesies, that is known as humans is to… transcend knowledge, dan share a part of his mind to the world. Namun, at the time, this Universal Mind hadn’t considered that his plan might just actually backfire… (Senjata makan tuan atuh nya…)

Universal Mind ini ga kepikiran kalau kita ngasih sesuatu dengan power, kemampuan untuk berpikir apa yang akan terjadi. Mereka juga ga consider bahwa spesies ini akan menjadi sangat dominan untuk bisa take control of the world and forget what’s important to this world as well.

Selain itu, the universal Mind juga pasti ga consider bahwa splitting itself up onto a little species’ would create personality, and ego. 2 hal itu akan affect logical thinking yang dimiliki oleh si Universal Mind in the first place.

Jadi, sebenernya, issue terbesar sebuah makhluk dengan kemampuan berpikir sebagai kita adalah dua hal tadi, ego dan personality, yang sebuah single governing mind ga mungkin punya.

Dark Plot Twist

Kalau kepengen plot twist yang dark ke sebuah cerita tentang Universal Mind ini, kita bisa simply incorporate something known as… a self destruct button.

Mungkin si Universal Mind ini udah bosen banget sama yang namanya kehidupan, jadi mereka decide untuk extinguish life withing this short period. Jadi mereka membagi kekuatan berpikir yang awalnya hanya dimiliki oleh dirinya ke makhluk kecil yang diberi nama Manusia ini.

Maybe the first living organism was an accident. Mereka sudah lama berpikir cara mengakhirinya… Lalu, mereka memutuskan bahwa, it’s not worth fighting for. We must extinguish life.

Jadi mereka menciptakan kita… Makhluk pintar yang value ego-nya dan punya personality yang warna-warni untuk affect judgement-nya.

Sebenarnya, yang mereka ciptakan itu hanya excuse untuk membunuh kehidupan, karena mereka tidak bisa memberikan physical projection untuk destroy the meaning of life, jadi mereka memutuskan untuk menciptakan sesuatu… something to do their dirty work.

Alhasil, kita diciptakan.

Atau mungkin ada teori nomor 3… teori ini bilang bahwa, we’re the villains, not mere accomplices to the plan of this Universal Mind.

Experiment Gone Wrong

Mungkin ada saat si Universal Mind ini mulai bosen sama yang namanya life tanpa thinking… Jadi, mereka menciptakan sebuah makhluk bernama manusia… Untuk digunakan sebagai thought fodder. Sebagai sesuatu yang bisa mikir dan transcend the meaning of life.

Tapi eksperimen ini berjalan salah, karena manusia mungkin punya terlalu banyak ego dan kepinteran untuk Universal Mind ini cope… Jadi, mereka sekarang lagi devise a plan untuk menghabisi kita, dan membalikkan bumi ini ke semula. Meski pasti butuh waktu yang sangat lama…

Mungkin weapon yang Universal Mind ini ingin gunakan untuk menghancurkan kita sebagai spesies adalah Virus, since so far, that is indeed what makes us the weakest, and so far we are very prone to it. Even then, manusia cukup pinter buat devise vaccine dan melawan virus dan bakteri jahat yang ingin digunakan sebagai doomsday weapon..

Ini mungkin teori paling dark diantara 4 teori yang akan aku present di artikel ini, tapi teori ini sama masuk akalnya kok. Mungkin saja si Universal Mind ini ingin membuat hidup lebih bermakna dengan adanya sejarah civilization and stuff…

Tapi mereka gagal dalam membuat manusia yang bisa di control, dan… alhasil, kita terjadi, dan keseimbangan bumi ini jadi entirely rusak… Mereka sekarang sedang memprogram thoughtless killing machines kaya Virus… Purely for the sake of killing us.

Okay, so this is dark, sekarang teori terakhir adalah teori yan paling ringan dan bermakna kok.

Transcending Existence

Basically ini branch dari teori pertama… Dimana Universal Mind ini bener-bener mau membuat dunia ini lebih meaningful, dan ingin govern something that’s smarter than the common organism. Jadi mereka berusaha menciptakan kita, through evolution.

Sampai titik ini kita sudah memberi arti yang lebih bermakna untuk kehidupan. Tapi masih banyak hal yang ga bisa dikendalikan oleh Universal Mind ini…

Oleh karena itu, it’s up to us to fulfill our existence without breaking any rules in the process. Sesudah kita bisa melampaui existence and life in general, baru tujuan kita akan terpenuhi, dan Universal mind ini akan mengganti spesies dominan di dunia ini, sambil mengubah spesies apalagi yang merajai food chain…

Ini rada dark kayanya, tapi makhluk hidup dominan selalu berubah sejak ada kehidupan lho…

  • Awalnya, Bumi didominasi single celled organism, karena Universal Mind ini belum kepikiran mau membuat apa lagi…
  • Berikutnya, single celled organism ini berubah menjadi trillobites and ammonites, sampai pindah ke atas bumi, keluar dari air dan menjadi tanaman.
  • Sesudah tanaman merajai daratan, ikan yang awalnya masih bisa naik ke daratan masuk ke laut dan mendominasi bumi.
  • Terus… abis ikan, masuklah zaman Dinosaurus… Dimana Reptil jadi kings of the food chain.
  • Barulah, sesudah kepunahan dinosaurus, Mamalia, dan kita jadi spesies yang di atas.
  • Kayanya kita bakalan dibunuh sama virus, I believe in this theory
  • Abis Virus membunuh segalanya, Jamur akan jadi spesies paling kuat soalnya mereka menyerap dari hal mati, karena Virus butuh living organism to survive.

Teoriku akan kehidupan bakalan gini sih… Tapi kita belum tahu apakah kita akan cukup pinter untuk outsmart si Virus atau ga…

Footnote

Please duly note that this Universal mind is not a god, it’s the chain of ideas and consciousness that creates stuff in the universe.

These ideas are Humane, and are similar to human thought, although on a universal scale.

In Conclusion

WADUHHHH!!! Panjang dan pusing pasti nihhhh

Conclusion-nya rada pendekkk deh…

Di filsafat, semua hal di dunia ini PASTI punya tujuan, apapun tujuannya itu, mau positif atau gak… layaknya spesies yang di govern oleh Universal Mind ini, pasti kita sebagai manusia juga punya tujuan. Apapun itu, pasti ada tujuannya.. It’s only up to us to find what we can be, and find our purpose.

With all that out of the way, semoga artikelnya bisa dinikmati!

A Universal Mind…

A Universal Mind…

 Okay, sebelum masuk ke artikelnya, sorry… Kemarin aku ada banyak hal yang salah… Firstly, philosophy itself emang bisa digunakan untuk memberi/mengemas makna suatu benda. Tapi basically, even empirical science is philosophy, soalnya emang pada dasarnya ilmu empirik dan logika turun dari Aristotle.

Jadi, filosofi sendiri bukan hanya… filosofi, tapi basically everything ada filosofinya… Okay, kalau bingung…

Imagine knowledge is a skyscraper. Lantai dasarnya itu pasti filosofi.

Now onto the article, dari zaman Plato dulu, sudah banyak didebatkan bahwa mind ini connected with each other. In fact, semakin kesini, definisi dari Universal Mind semakin… Universal… 😛 . Basically, yang disebut dengan universal mind itu… well definisinya ada banyak sih.

Kalau mau masuk dalam topiknya sendiri, each theory of what a universal mind is, gets deeper. Sampai makna terdalamnya itu saying that the universe is governed by a certain mind.

Kemarinnya sendiri sih, aku sempet ke Unpar untuk ikut kuliah filsafat mengenai subjek ini. Kuliah kemarin masih basic dan hanya introduction saja, dan dibawakan oleh Professor Bambang dari Fakultas Filsafat Unpar…

On topic, masuk dalam artikel!

Definition

Well, ada 3 definisi dari Universal Mind ini…

  • Principles that apply generally (Immanuel Kant)
  • A connection of thoughts on a global level (Bertrand Russell)
  • Cosmic Consciousness that governs the world (Max Planck)

Sedikit info aja, Max Planck itu physicist. Which still believes on philosophy.

Now, biar kudefine dulu each of the definitions…

Immanuel Kant

Kant sendiri sih paling terkenal karena teorinya yang bernama Transcendental Idealism, yang menyatukan both Innate knowledge and Empirical knowledge as to how a human thinks.

Tapi, yang Kant maksud disini itu, adalah prinsip yang diketahui semua orang waras, dan apply on a global level. For instance, HAM… Tentunya principle yang Kant maksud itu… Transforming sih. Mungkin pas era colonialism, belum tersirat image HAM itu seperti apa, jadi principle yang tersirat berbeda.

Now on the other hand, Universal Mind yang symbolize interconnected minds ini, bisa ditunjukkan saat colonialism dicabut, thoughts orang-orang secara globally berubah.

Therefore, seiring perubahan principle, interconnectedness plays a part here and changes the thought of humans globally. I mean, its basically universally known that killing is bad and racism isn’t good… Every sane person should know that (Cough, Trump, Cough)

Peter Russell

On the other hand, Peter Russell bilang bahwa interconnectedness between minds ini in terms of skills, or… well knowledge. The same doesn’t apply for opinions.

Lebih luas dari definisi Kant, karena sebagai contoh… Misalnya, ada tikus di London yang tahu cara menghindari racun tikus, atau rat traps. Then, tikus di Indonesia juga bakalan tahu bahwa racun tikus dan rat traps are dangerous, dan bakalan avoid those things.

Yeah, the thoughts here aren’t really limited to humans.

Jadi, layernya makin mendalam juga, karena bukan hanya principle, tapi juga knowledge dan skills, beyond humans. Anything that has a consciousness would have similar knowledge and skills, so long they’re physically capable.

Max Planck

Physicist Max Planck sendiri sih percaya bahwa ada universal consciousness that governs and makes the universe move. On a cosmic level, Max Planck bilang bahwa ada sesuatu yang menggerakan dunia ini, dan ini akan apply di semua hal yang hidup dan bahkan yang ga hidup.

Well ini sih basically simple. Max Planck believes that there’s something that moves this universe, and everything is governed by some form of mind and consciousness.

Well, as I’ve said, makin dalem juga maknanya. Planck bahkan bilang bahwa the universe itself has a mind. Including inanimate objects.

Metaphysics?

Jadi, sebenernya, branch dari Universal Mind ini itu apa sih?

Well, there’s Metaphysics in it. Since, a lot of people thought of mind as a substance. Substansi yang disebut mind itu semacam sesuatu yang compose this universe.

Then there is also a little something called Interconnectedness yang udah aku sebut beberapa kali. Interconnectedness itu ada korelasinya dengan thinking, dan juga dengan similarities in many different things. Jadi branch sebuah Universal Mind adalah Metaphysics, and Interconnectedness as a branch. Well, I’ll be discussing a lot of things here.

Perspective

Kalau mau bicara perspektif dari Universal Mind, ada banyak, since… Aku baru tahu kemarin bahwa empirical science dan esoteric knowledge does count as philosophy.

Nah, ada 4 perspektif yang akan dikupas dalam 11 minggu kedepan… (didn’t I tell you that there’ll be a lot of more articles coming up?).

  • Philosophy’s perspective, membahas metaphysics tadi, dan caranya sebuah universal mind bisa breathe fire onto the world. Sama seperti yang kemarin aku bahas, emang kalau philosphy harus pakai imajinasi, yang ditalar pakai logika, apa itu masuk akal atau gak. Basically, this is science…
  • Empirical Knowledge. Kembali ke data untuk melihat dan mengecek cara minds function. Kemarin kata Professor Bambang, ada 3 branch science dan empirically speaking, bakalan ada Neurobiology, karena emang mind itu berpusat di otak (captain obvious!), terus Quantum Physics, karena belum ada found substance yang bisa play a part sebagai mind. Last but not least juga bakalan ada microbiology, untuk alasan yang mirip dengan Quantum Physics.
  • Esoteric Vision(s). Basically, contemplation of one’s existence… Udah gitu doang… Sorry, aku belum pernah bener-bener contemplate urusan ini, jadinya, belum bisa buat ini terdengar keren… 🙂
  • Pseudo-Science… Campuran Empirical Knowledge dan Esoteric Vision, yang butuh both contemplation dan juga observation. Basically, putting imagination onto the found data.

Philosophy’s Perspective

Pertama-tama, mau bahas Philosophy dulu… Apparently Universal Mind sudah dibahas dari zamannya… Plato

Plato

Kayanya aku pernah bahas soal Plato ini… Pas kita ngebahas Star Wars dari perspektif philosophy… (FYI, kepengen bahas Star Trek juga… 🙂 patience).

Plato percaya bahwa dunia ini hanyalah dunia KW 2 dari Dunia ideal, yang kalau mau di analogikan. Semua manusia dapet glimpse dari dunia ideal ini. Kalau mereka melihat sesuatu, visi ideal kita play a part dan kita akan mengcompare dunia ideal dengan apa yang kita lihat.

Which, according to Plato, ini alasan kita ga pernah bisa actually puas sama sesuatu, and also, kenapa nothing will be perfect.

Now, Universal Mind ini bisa masuk disini gara-gara… Well, semua orang dapet innate knowledge yang sama. Makanya kita akan merasa interconnected between many things. Tapi, teori Plato ini ada sedikit ga masuk akal. Gara-gara, innate knowledge yang Plato present dari dunia ideal ini, tidak memberikan visi yang jelas atas perbedaan opini.

Regardless, metaphysical theory dari Plato ini masih masuk akal kok. Hang on, selain metaphysical, kalau mau baca lebih lanjut tentang Plato’s main theory, bisa cari Rationalism. Since, we have to rationalize everything and compare it to our ideal image of the world.

Benedictus Spinoza

Spinoza yang keluar sebagai philosopher di era Christianity yang sangat kuat, bilang bahwa interconnected minds bisa terjadi karena…

Everything is made of one substance. That substance is known as God.

According to Spinoza, segalanya adalah Tuhan, dan Tuhan adalah segalanya… sorry kalau pop up controversy… Tapi, regardless of the religion, filosofi Spinoza tetep keluar kok.

Now, Spinoza bilang bahwa kita semua terdiri dari satu substance, dan kalau substance itu grow, maka thoughts dan connected minds akan grow juga. Therefore, since even inanimate objects are made of this substance…

Basically, everything can have a mind. The same mind. (This is Spinoza’s work in a nutshell, since right now, I’m playing neutral to all religions)

Immanuel Kant

Immanuel Kant sendiri percaya bahwa kita punya innate knowledge sejak lahir, tapi segala sesuatu ditata dengan sedemikian rupa agar kita bisa menyerap ilmu itu dengan innate knowledge yang kita punya.

This stays in line with Kant’s opinion of a universal mind. Pas awal artikel ini kan aku bilang bahwa Kant itu memang percaya bahwa the only universal innate knowledge itu universal principles.

Ini juga sangat cocok dengan ilmu-nya Kant yang membahas Transcendental Idealism, yang bilang kita sebagai manusia punya innate knowledge, dan juga perlu observe things untuk grow as a person.

Teorinya Kant juga bilang ada some universal mind yang menata dan mengatur dunia ini agar manusia bisa mengerti apa yang ditata dan didefinisikan.

Break…

Sebelum maju, sebenarnya ada masih banyak lagi opini dari sekian banyak philosopher lain regarding this subject. Tapi, umm… aku hanya mengambil 3 classic philosophers itu. Why? Firstly, emang aku lebih suka classic philosophy, cause it is interesting to see something old, still apply in the modern world.

Secondly, karena kalau dibahas semua, aku akan modar mengetiknya… Jadi, kalau mau belajar lebih lanjut, anggap saja artikel ini gateway untuk belajar lebih lanjut ya 😉

Empirical Knowledge

Empiric… Kalau dari awal baca, and masih bingung artinya apa, Empirical knowledge itu ga ada hubungannya sama sekali dengan Empire di Star Wars. Empiric Knowledge means… Itu ilmu yang didapat dari hasil observasi.

Max Planck

Ooh! Him again!

Max Planck ini bilang bahwa consciousness sebuah manusia, (sesuatu yang masih coba dipecahkan oleh scientists and psychologists) derive from matter. Like, matter di fisika? Yeah, that matter.

Matter does Matter since, Max Planck sendiri percaya bahwa everything has a consciousness, dan everything juga tercipta dari matter, jadi Max Planck percaya bahwa Matter is what forms consciousness.

Yang Max Planck ini lakukan sama seperti apa yang dilakukan oleh Aristotle, basically adding 2+2 to make 4!

Kenapa sesimpel itu? Sebagai fisikawan, Max Planck knows that Matter exists in everything, whether dead or living. Nah, semua yang mati atau hidup juga pasti punya kesadaran agar mereka bisa function properly.

Aku sendiri sih kurang percaya ini masuk ke Empirical Knowledge ya… Tapi, itu mau aku bahas nanti.

Stephen Hawking

Kalau mau baca review bukunya, bisa banget, klik ini aja…

Kayanya Hawking itu cukup terkenal, in fact, I think he goes number three untuk scientists yang diketahui orang jaman sekarang. Nomor 1 dan 2 nya, Einstein and Newton.

On topic… Hawking sendiri sih, sebenernya (according to Professor Bambang, bukan aku), sedikit atheistic kalau mengutarakan pendapat, dan sangat empirical, since there is no empirical evidence of God…

Nah, Hawking sendiri bilang bahwa jika ada teori yang bisa Unify everything (like String Theory!), dan menjelaskan segalanya, masih ga ada “fire” and passion di unified universe itu.

Hawking sih penasaran apa yang bisa unify both consciousness, dan juga universe-nya sendiri.

Nah, ini kenapa menurutku opini Max Planck lebih tampak seperti Psedo sains. Actual empirical knowledge relies on the proof, dan Planck belum menemukan proof bahwa ada consciousness di sebuah inanimate object.

David Eagleman

Abis dua kali nyebut fisikawan, sekarang kita ngebahas Neuroscientist…

Based on David Eagleman’s own words, seiring molekul kita merge, dan kita punya proper mind… something that enables us to be the species we are now…

Sesudah every step of evolution dan survival of the fittest, David Eagleman yakin bahwa ada neural program outside our actual minds yang enable our creation in the first place, program ini ngasih ability and it basically triggers our amygdala when an event happens.

Okay, kalau bingung, intinya, David Eagleman yakin bahwa ada mind yang enable the creation of minds, dan juga ada interconnected thoughts between many living things. Sama kaya kenapa monyet dan kita sama-sama seneng kalau makan. Same goes for male Pandas, yang seneng liatin Panda cantik, dan juga sama kaya aku … eh bukan aku doang… cowo suka liatin cewe cantik…

Well, mungkin terdengar aneh kalau menyamakan humans dan… animals, tapi emang ada urges yang universal, dan brain part yang ketrigger itu similar kok.

Esoteric Visions

Okay, ini lebih sedikit dijelasinnya sama Professor Bambang. Since, words-nya sangat poetic, tapi… ya begitulah. Coba keep up saja, karena aku sendiri juga ga terlalu ngerti tentang ini, yang butuh deep contemplation and poetic-ness… (FYI, poetic-ness isn’t a word)

Buddha

Okay, basically, Buddha bilang bahwa everything has a mind, karena semuanya adalah living things. Every living things are equal and has a mind…

Okay, aku rada bingung, tapi quote-nya bagus, jadi copas quote aja ya…

As I am, so are these. As are these, so am I. Drawing the Parallel to yourself, neither kill, nor get others to kill.

Bingung kan kamu???

Sama aku juga bingung… (Btw, aku ngerti maksudnya apa, tapi yang aku ga ngerti teh masukkin ini ke perspektif Universal Mind)

Alex Grey

Now, Alex Grey, who is apparently a contemporary philosopher, bilang bahwa interconnectedness between minds itu ga ada ujungnya. It’s basically an endless loop. Like, how Japanese Philosophers used to draw a Rinne (endless circle of life). Okay, itu sebenarnya sedikit Naruto reference.

Alex Grey juga bilang bahwa there is no such thing as separation, or independence. Karena semua hal ada dalam awareness-mu dan semua hal terhubung pikirannya.

Confused…

Okay, ini emang rada ngebingungin bagian ini ya, aku sendiri sebenarnya ga… umm… ga terlalu ngerti. Like I’ve said, jadi apologies karena pendeknya bagian ini. Aku orangnya teknis banget, jadi rada bingung pas bahas imagine and meditate while contemplating existence.

Pseudo Science

Pseudo Science itu bukan FAKE science, itu salah. Sebenernya term yang lebih precise adalah semi Science, karena dia butuh contemplation dan imagination untuk picture these things.

Jadi, yang aku bahas kemarin di artikel filosofiku, lebih masuk akal untuk membahas Pseudo Science. Tapi kemarin juga ga salah sih, hanya… kurang akurat

Max Planck as pseudo Science

Sebelum masuk ke yang lain-lain, aku lebih mengira bahwa Max Planck masuk ke pseudo science karena ada faktor contemplation, dan ada sesuatu yang tidak ada proof-nya, meskipun ada Aristotelian Logic yang masuk ke dalam situ. Regardless, Professor Bambang menjelaskannya sebagai Empirical Knowledge, dan ini hanyalah opini.

Gregg Braden

Pas denger Professor Bambang bahas Gregg Braden, keingetan episode di Big Bang theory.

Gregg Braden bilang bahwa emotions are an electrical wave. And we’re creating a wave of energy when we have something in mind. Basically, the universe is communicating with one another because there are Waaaveees of energy when one thinks.

Hence, kalau satu wave bisa dirasakan wave lain, akan ada interconnected thoughts.

Ini similar ke Waldorf yang bilang bahwa humans could feel warmth. Dan misalnya di sebuah ruangan, jika ada seseorang yang dingin, kita akan merasakannya. Sama juga di ruangan yang panas kalau misalnya ada orang yang lagi marah. Jadi, Waldorf has an actual empirical proof to his theory!

Selain itu Gragg Braden juga pernah bilang bahwa everything has a mind in the sense that… something changes as soon as we observe it.

Beneran lho… bukan cuma orang yang bertingkah laku berbeda kalau diliatin, elektron juga berubah dari gelombang menjadi partikel kalau diobserve pakai mikroskop.

Peter Russell

YEAY! Peter Russell membahas paradox!

Sains menjelaskan apa yang terjadi di alam semesta, tapi itu ga bisa jelasin consciousness, and how it works. Kalau ga ada consciousness sendiri, mana ada science… tapi science sendiri has no clue apa itu consciousness.

Okay, sebenernya ini cuman translating quote-nya Russell, karena ada paradoks.

Tapi Universal Mind ini masuk karena, there is no science in a mind, but a mind does process science, so there must be some unknown mind to govern it.

Break

Again, another break… Paling menarik diantara Pseudo Sains itu, Gregg Braden, since he discusses emotion as a particle, wait no… as a wave.

Especially considering how something, very esoteric can be converted onto a wave. Dan mungkin kalau diobserve in detail, each emotion creates a different wave… One that corresponds to the emotion.

Misalnya, emotion marah radiate wave yang panas, emotion senang radiate wave hangat, emotion sedih radiate wave yang ga panas… or well dingin… tapi di fisika, ga ada yang namanya dingin. Coldness is a state of no heat.

Inanimate Consciousness

Well, ini cuman short part of the article yang menjelaskan bahwa inanimate objects like water does change its particle when given contact with Music.

Kenapa? Basically gelombang dari musiknya mengubah air itu yang indah menjadi rusak, or in fact, mereverse partikel air rusak menjadi kembali cantik.

Oh, dan ada murid Professor Bambang yang kepo, ternyata nasi makin cepet busuk kalau disimpen dalam container yang bertuliskan kata-kata kasar, while nasi lebih tahan lama kalau disimpen dalem container yang berisi kata-kata manis.

Jadi, kayanya Universal Mind ini ada betulnya in the sense that inanimate objects DO feel stuff.

In Conclusion…

Okay, ini bukan saat tepat untuk menarik conclusion regarding universal minds, karena journey yang membahas ini baru dimulai.

Tapi, kalau untuk sementara, kayanya it’s safe to say that… Everything has a mind, and basically notices these “waves” of emotion.

For now, aku perlu cari tahu a bit tentang PR yang dikasih Professor Bambang.

Salah satu membahas tentang kenapa philosophically menguap itu contagious, dan yang kedua, kalau ada couple yang lagi marah-marah dikasih kata kasar lagi, apakah makin marah atau jadi tenang, dan same goes for the opposite, kalau lagi marah dipuji apakah makin tenang?

Yang kedua mungkin obvious banget, but who knows really…

Considering aku ga punya couple, closest thing I have is a mom… yang kadang galak…

What Is Right? What Is Wrong?

What Is Right? What Is Wrong?

Where have I been? Well… it’s a long story… For the past month I had a series of events, including sickness, binging on Stranger Things  (this isn’t really a productive thing, but still… I did this, there’s no turning back now), and I read a bunch of books, receiving Input before I output some writings in this blog. In addition to that I teach kids programming on Mondays.

If I’m a computer, I need some more information, or knowledge before I could give some writings, I was just done downloading lots of input and learned about some stuff, so I could write here.

Firstly, I apologize for the inactivities in this blog, but I hope you haven’t lost hope in me, after a month of inactivities that is. While I was sick, I read some Philosophy… Perhaps too much, but a man who feasts on knowledge is one whose hunger will never be sated. See? Told you I’ve read philosophy, and anyways, I want to write 3 articles  about philosophy before January, starting with this one. These articles are just random thoughts and some definitions according to some philosophers.

Enjoy reading!

Background

I feel like it’s necessary for me to write the background of this article, since I think without these conversations, I never would’ve made this article.

Anyways, I had a conversation with my friends a while ago, and I brought up Psychological Manipulation, I wonder, will there ever be a situation that could justify manipulation. During the discussion, which I couldn’t really say how’d it end, since the answer isn’t solid, neither it is clear… but it ended with me answering my own question.

A day after the discussion I remembered a bit about a discussion I had with Babah and Bubi, discussing about intent. A good intent could justify a bad act, a bad intent could disprove a good act.

Not so long ago, I read about Buddhism as a philosophy, and according to the book I read, Buddhism is a philosophy, just the way it is a religion, actually, the internet is full of debates between the two, but I’m playing it neutral here.

The connection between Buddhism, Philosophy, and the “right” thing to do is going to be explained below.

Anyways, I connected the dots between the 2, and I got the idea to do this article, explaining a bit about a good action, according to some philosophers, and psychologists.

DISCLAIMER:

Despite the discussion of some religions (in a philosophical way) here, I have my own set of beliefs whether religious beliefs, or philosophical, and even though I’m taking the philosophical roots of some religions, that doesn’t mean I’m practicing the aforementioned religions. The same applies for philosophical beliefs.

Defining A “Right” Action.

“There is nothing either good or bad, but thinking makes it so”William Shakespeare

Nothing in this world is good or bad, but a person can think and argue whether an act is good or bad. Well, under here I have some definitions of a right (or good) action based on some philosophies.

Philosophically speaking, everything can be right, as long as you can prove the action as a right one through your thinking. Fortunately, not all forms of philosophy makes sense, and since the world is still governed by laws, so no one could just justify killing someone through their thinking, unless the logic and arguments really are solid, and are counted as an exception. (For example, killing someone in terms of self defense)

Regardless, here are the definitions of right, based on some of the most appealing philosophies to me.

Dialectical Method

To define right, you need to have a concept of wrong, and a purpose, Socrates, an Ancient Greek philosopher said this. Just because you’re doing something that’s not wrong, doesn’t mean it’s right, you need to fulfill your purpose and have your action to not fit your concept of wrong, therefore you’re right.

The Dialectical method was invented by Socrates, a philosopher that is dubbed as the “Father of Western Philosophy”, purely because he questions everything. His questioning, writings and teachings are burned in public because he questioned the basic norms of the time, which was the Greek Gods governing the world.

Socrates questioned their existence, and was given a death sentence, or at the kings mercy, exile! But Socrates chose the death sentence since he believes that a life unexamined is one that is not worth living. (That’s his most famous quote, after all, he died because of that belief, more on that later)

I chose Socrates’s philosophy on right and wrong (though Socrates used the terms Good and Evil), because I think it fits my thoughts the most. Socrates said that Good and Evil are absolutes, which you can find by questioning an act (in a nutshell that’s literally what he did as a philosopher, questioning everything). If we question an act using a different basis, or different set of ethics, we can get the answer, though that would mean that Good and Evil aren’t absolutes.

Regardless, Socrates fits the philosophy of this article the most (yes, not just this part of the article, but including other philosophies), due to the fact that I like to question things, and he is still my basis on right or wrong, despite there’s one critical difference in the fact that Good and Evil as something that’s not absolute.

Anyways, Socrates lead himself to believe and utter his quote that killed him, through this thought process…

  • A life worth living is one that is a good life
  • I can only live a life that is good, if I know what’s Good, and what’s not good (or Evil, but evil is a harsh word)
  • Good and Evil are absolutes, one that can be found through a process of questioning and reasoning (commentaries from me: Socrates as a philosopher whose overall career is based on him questioning everything, but I have yet to find his definitions of good and evil, except for… read on below).
  • If Good and Evil is a moral, and questioning and reasoning is a knowledge, then morality and knowledge are bound together
  • A life where you don’t question or reason with anything, is one that’s ignorant.
  • An ignoring life is one that can’t find morality.
  • An unexamined life (or an ignoring life) is one that’s not worth living

If you’ve heard of that thought process before, it’s cause it isn’t mine, it is Socrates’s, and I just rewrote it.

For one to find the definitions of good and evil, you need to question everything, but firstly you need a basis of Good and Evil, or Right and Wrong. Read on below and see the philosophies and thought processing below.

Buddhism

I haven’t read too much about Buddhism itself, but the ultimate goal of Buddhism is to end the “cycle of suffering”, with the wish that we will be reborn onto a state where we are still at peace, without any suffering.

In order to end all suffering, you can’t have any temptations, since according to Gautama, temptations and pleasure is the source of all suffering, to do that, there’s a path for you to traverse.

More on that later, since our current topic is about a right action, and according to Siddharta, to reach “True Peace” you need to follow the Buddhist Code of Ethics, defining what a right action is. The code of ethics is known as “The Eightfold Path”, symbolized by The Dharma Wheel. To be able to reach the final goal of Buddhism teachings, which is to be reborn without any temptations, and stopping the cycle of suffering, you need to have all 8 paths going the right way, otherwise, you will still be reborn with temptations.

Buddhism already has a concept of wrong, and a purpose. According to Buddhism, fulfilling your temptations are wrong. By wrong I don’t mean wrong per se, but, the purpose of Buddhism is to purge temptations. Eventually you can perceive temptations as a wrong thing, and it wouldn’t really go against the general philosophy.

The main purpose of Buddhism is to gain peace (I know I said that it’s purpose is to purge temptations 2 sentences ago, but hear me out), and according to Siddharta Gautama, peace is gained from within, when you feel content with what you have, you won’t seek anything more than what you already own, therefore you wouldn’t be tempted by anything, and peace is achieved.

Feel confused? Philosophers use analogies, and I’ve just made an example for this case.

Currently my phone has 250 songs, all of them I would listen to if one of these songs pop up randomly in the radio. When I play them in my phone, there are 2 possible things I do if I listen to music.

Firstly is just shuffle my entire library, and put my phone in my pocket, ignoring whatever song gets played, because anyways, I’m satisfied with the 250 songs I currently have, whatever song gets played, I’m satisfied with it, because I do like all of them

The other option for me is to keep my phone in my sight, and each time it plays a song that doesn’t fit my ideal though, I would skip it, constantly pressing next until my phone shuffle gets a song I truly am satisfied with.

Putting this analogy into perspective, I have 250 songs which I am satisfied of, and I like all of them, but there are times where I can’t be satisfied with the song that’s playing, forcing me to put unnecessary effort, while feeling a bit annoyed as well, whilst I could just be happy with what song that’s currently being played, I mean, the song is in my phone since I like it.

So, the definition of right according to Buddhism Philosophy is doing an action that doesn’t disturb one’s peace, without fulfilling any one of your temptations. Now we have one step in order to be able to do the right actions, finding out the meaning of right for you.

Machiavellian

This isn’t a religion, it’s a philosophy, so apologies if you haven’t heard of it before.

Niccolo Machiavelli is an Italian Politician who wrote the book, “The Prince”. Haven’t heard of it? Well, The Prince is a book on Machiavellian philosophy, with the term “The end justifies the means”, as its main philosophy. Machiavelli said that a ruler can do whatever it takes to gain glory. Machiavellian philosophy is political philosophy, and he said some things that doesn’t fit common moral judgement, because it’s cruel.

Anything that benefits you, according to Machiavellian philosophy is deemed as a right action. For the end justifies the means, and any means, or actions, would be justified by the reward.

I really mean anything, Machiavelli even said that a ruler needs to utilize both fear and love to “control” their people. Preferably through fear as a priority. Spreading fear is… well it’s a terrible act, there’s not really anything to justify it, but Machiavelli said that a ruler is allowed to ignore moral laws, for personal benefit.

What’s the wrong act according to Machiavelli then? Any act that doesn’t benefit you? I mean, it’s pretty hard for you to find an act that has absolutely no benefits at all. I mean, even helping a kingdom, still grants you benefits, you gain a loyal ally, and despite your people loses a hint of their fear from you, an ally still benefits you more than fear from your people. So, any act that isn’t stupid (stupid in the way of a purposeless act, without any benefits), is right.

In conclusion, a right action according to Machiavelli isn’t a complex thing to find, just find an act, and regardless on how many norms, or what morals have you ignored, are deemed right, as long as one can benefit from it.

My Perspective

Protagoras, one of my favorite philosophers (or memorable) stated that “Man Is The Measure Of All Things”. It is a philosophy I use to this date, and it’s a world where I dream of existing as well. Protagoras stated that everything is measured by one’s perspective on things. As an example he used a case of two people visiting Athens during Spring. One from Sweden, One from Egypt. The Swedish visitor claims it’s warm, The Egyptian visitor claims that it’s cold. Both of them are right, and they shouldn’t fuss to each other about their opinions, everyone has their differences, deal with it.

Why do I dream of a world like this? Because, when one can choose to appreciate the opinion of others without letting any factor blind them (regardless what the factor may be, perhaps a difference in religion, perhaps your own opinion), then no conflict would be created. As long as one side of the war won’t disturb the other side, no war would be created. Tolerance and contentment is what the world needs.

I don’t believe in Good and Evil, I believe in 2 concepts. Majority and Minority, and 2 sides of a conflict. (I haven’t find a canon philosopher on these 2 concepts, so this part would be my thoughts).

Just because the minority is different from the majority, doesn’t mean that the majority is correct, and just because more people believes in something, doesn’t mean that the minority is incorrect. As simple as that.

In fact since the beginning of civilization, social conduct have always been in the same order, and have used the same set of levels in terms of flow and followers.

  • There are always leaders, trendsetters, maybe the king, or the famous celebrity that everyone follows. Usually 20% of the society are the trendsetters
  • There’s the followers, mainstream people who believe in the king, or buys the exact same clothes as a famous celebrity they are fans of. 60% of society think like this, although sometimes they agree with the last category instead.
  • There’s the anti-mainstream flow… People who disagree with the main trend, and just goes against the flow. These people are usually those that becomes the leaders or trendsetters when their time has come, replacing the previous trendsetters. Usually 20% of society are people like this.

You should guess where I belong…

I’m someone who supports differences, and believes that differences are a good thing, without differences, we would stay in the same place.

I don’t believe in good and evil, as I’ve stated, but there will always be 2 sides of a conflict, and I’m not one to take sides, unless if I have to. In fact, my article on Ragnarok is a good example of this. There are 2 sides, neither are right or wrong, just they’re fighting their own definitions of it, and the end is pointless, the end is just… they’re all dead.

So with my philosophical beliefs out of the way, I think I should let you know that, philosophically speaking, I have no belief in what is right or wrong. Does that mean I abandon religious laws and the laws of society? No, quite the contrary actually I follow them, because I’m not one who has a belief in philosophical version of right and wrong.

Why is that? Well, I believe in lots of things, but my main philosophical belief is that, opinions are relative, and nothing can be said as wrong or right without an argument, and I’m someone who relies on arguments to support a claim. This entire article is filled with facts and arguments to support a claim. Everyone can be right, everyone can be wrong, philosophically speaking, there is no right or wrong, unless one thinks of something as right, or as wrong. (Rewording and Remarking the Shakespeare Quote earlier on)

So, well, it’s okay to have no versions of right or wrong, just be sure to not break the law and to follow whatever your religions teachings are, we’re way past times of society following on a single set of beliefs.

Conclusion?

Hang on… if you are asking, “you’re concluding the article after 3 set of Philosophical beliefs?”

I am… all 3 beliefs are extremely different from each other. They’re pretty colorful and should give someone an impression to question your definitions of right or wrong.

There’s Buddhism which cares about every single thought before you act, whether it’s your intent or mindfulness, to the act and who is benefiting from it.

There’s Machiavellian who only cares about the end, and you can do whatever you want as long as you benefit from it.

Then there’s mine who practically doesn’t care about any definitions of right or wrong, just think of something, and there you have it… You’re either right or wrong.

All of these definitions of right or wrong ultimately comes back to your own definition of right and wrong. Whether you are a truly religious person, whether you are someone who believes in opinions and arguments, or whatever your thinking on this subject is, you have your opinions, people have theirs, don’t have a conflict about it.

There… It’s as simple as that…

If you want to live a good life, find your definition of good, the way Socrates questions everything, live your life based on your philosophy, don’t forget to remember you need to be religious, and follow social laws as well. Live your life using your opinion, don’t question the opinion of others, and there you have it… the key of your good life.

The problem with lots of people nowadays is that, they don’t even have a definition of right or wrong, and they’re not looking for it, neither they are trying to have a good life. How can you have a good life, without doing things you deem good, and how can you deem something as a good action if you don’t have a definition on good.

Living a good life starts with finding what the meaning of good is. That’s my conclusion, I hope you enjoy this article, and well, wait for my other articles. Thanks for reading, until next time! (this sounds like a TV show closing, but well… yeah)