Tag: Parenting

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Tekanan dari Orangtua pada Ikon-ikon anak atau Remaja.

Minggu malam kemarin, topik ini dibahas di klub debatku, dan menurutku, ini topik menarik, dan tidak harus spesifik digunakan pada ikon-ikon remaja atau anak, karena kurasa efek yang similer dapat dimanfaatkan dan dicoba pada anak-anak yang tidak menerima tekanan sebanyak “Ikon-ikon” yang dimaksud.

Ikon disini dimaksudkan sebagai atlet, penyanyi, aktor, selebgram (sayangnya iya… selebgram), atau remaja dan anak apapun yang menerima tekanan dari dunia luar dan memang terkenal.

Bagaimanapun juga, ini topik menarik, jadi langsung saja kita masuk. Aku akan memberikan tiga contoh, ketiganya punya efek masing-masing.

Michael Jackson

Ah. Him.

Namanya langsung menciptakan image orang yang melakukan moonwalk, penyanyi pop, dan kemungkinan besar, orang-orang sudah dapat gambaran mengenai dirinya sedetik sesudah namanya disebutkan.

Sebelum ia menjadi solo artist (yang hebat, tentunya), Michael Jackson memulai karirnya di Boyband yang diurus dan dimanage oleh ayahnya sendiri, Jackson 5. Anggotanya adalah kakak-kakak nya, dan, pada saat memulai karirnya, ia masih berkulit hitam (ya, maaf, aku tidak bisa menggunakan istilah yang lebih politically correct, aku tahu). Tentunya ia termasuk golongan African-American.

Michael adalah anak paling muda dari kelima anggota boyband tersebut. Ia juga yang paling berbakat, dan kasarnya, ia juga yang paling labil. Tetapi, perlakuan ayahnya pada Michael tidak jauh berbeda dari keempat kakaknya.

Ritme harian Michael Jackson yang sedang berusaha keras untuk mendapatkan uang, ketenaran, dan juga agar keluarganya tidak perlu hidup “sulit” lagi (kurang lebih) berjalan seperti ini.

  • Bangun
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan siang
  • Latihan/merekam lagu
  • Makan malam
  • Latihan/merekam lagu
  • Tidur
  • Protes? PETAK! Punggungmu dipukul dengan sabuk, atau kamu ditendang oleh ayahmu sendiri.

Oh iya, juga ada saat sesudah ia terkenal, latihan/merekam lagu berubah menjadi tampil. Jadwal Jackson 5 sangat penuh, dan mereka tidak bisa berkomentar atau meminta perubahan jadwal sedikitpun kepada ayah mereka.

Ya, menjadi orang african-american pada zaman itu memang sulit. Apalagi jika kamu ingin menjadi selebritis african-american.

Tentunya, Michael juga ingin menjadi anak yang lebih normal. Ia ingin pergi ke Disneyland, ia ingin pergi ke Kebun Binatang, ia ingin banyak hal. Mungkin keinginan dia yang paling sederhana adalah minum milkshake bersama ayahnya.

Ia tidak pernah mendapat kesempatan tersebut.

Sesudah tur, ia merekam album baru dengan tingkatan abuse yang sama (jika bukan lebih)

Tekanan dari dunia, dari orang tua, dan dari studio memberikan Michael Jackson efek yang sangat buruk ketika ia sudah dewasa. Memang ada efek positif ketika ia membuat amusement park, dan kebun binatang, mungkin untuk memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bersenang-senang ketika mereka masih punya waktunya.

Tetapi, efek negatifnya? Mulai dari merubah warna kulit (keluarganya sendiri menolak untuk menyatakan bahwa ia melakukan operasi karena ia tidak senang dengan kulitnya yang gelap. Oh tidak, keluarganya bilang ia memiliki kondisi kulit yang membuat warna hitam dari kulit tersebut memudar), sampai ke rumor-rumor kematiannya karena ia bunuh diri (albeit, there are other rumors).

Masa kecilnya begitu suram, sehingga hidup dewasanya terpengaruh.

Oh iya, satu hal lagi.

Ia tentunya sudah pernah juga hidup di zaman dimana dunia dapat lebih menerima orang-orang yang memiliki warna kulit berbeda. Aku berasumsi bahwa ia menyimpulkan jika ia tidak lahir dengan kulit hitam, atau lahir di zaman tersebut, ia akan memiliki hidup yang lebih bahagia.

Kesimpulan kasus

Terlalu banyak tekanan.

Macaulay Culkin

Oke, ini bukan kasus terkenal.

Tidak semua orang langsung tahu, siapa itu Macaulay Culkin. Tetapi, aku yakin, semua orang tahu, film Home Alone.

Ya, dia pemain di film tersebut, berperan jadi anak menyebalkan, tapi banyak akal.

Culkin terjerat narkoba pada tahun 2004. Ia juga kebetulan menjadi saksi atas kasus Michael Jackson.

Banyak laporan di sana dan di sini menjelaskan tentang cara ia terjerat narkoba, termasuk penggeledahan rumah, hotel, dan banyak lagi. Tentunya ia sudah masuk rehabilitasi narkoba, dan kurasa selama ia tidak berteman dengan orang-orang yang menjeratnya kembali, hidupnya akan mulus.

Kurasa Culkin adalah contoh yang pas untuk anak yang tidak diberikan tekanan yang cukup.

Ia dibiarkan melakukan apapun, dan orangtuanya tidak pernah memberikan tough love, atau tantangan. Ia juga kaya untuk hitungan anak berumur 10 tahun. Dan dalam beberapa wawancara ia juga pernah menyinggung fakta bahwa orangtuanya tidak pernah tampak peduli untuk apa yang ia lakukan di luar studio. (serius.)

Dari beberapa wawancara yang kusimpulkan, Culkin tidak jauh beda dari tokoh yang ia mainkan di film Richie Rich, dengan perbedaan bahwa ia sebenarnya memang bahagia karena tidak ada tekanan.

Dunia berkata lain sayangnya.

Ia bergaul di lingkaran yang salah dan menjadi pecandu narkoba. Ia juga mendapatkan jumlah kritikan yang tidak sedikit oleh fans-fans nya, karena sepertinya ia tidak pernah bermain di film lagi, dan, ya, ketenaran miliknya sudah hilang.

Untungnya ia sukses bounce back dari all time low miliknya… But, well, kita lihat saja nanti.

Kesimpulan Kasus

Tidak cukup banyak perhatian.

Kylian Mbappe

Ah, him.

Hanya 6 bulan yang lalu, ia memecahkan beberapa rekor. Rekor-rekor yang hanya Pele sendiri pernah penuhi. Ia menjadi remaja kedua (sesudah Pele) yang mencetak 2 gol dalam pertandingan piala dunia, dan ia juga menjadi remaja kedua (sekali lagi, sesudah Pele) yang mencetak gol di final piala dunia.

Baru minggu lalu, Pele mengaku bahwa ia percaya Mbappe dapat menjadi pemain yang lebih baik dari dirinya.

Kemarin, ia mencetak hat trick melawan Guingamp untuk PSG. Sayangnya, bola permainan diberikan ke Edinson Cavani yang mencetak gol ketiganya 11 menit sebelum Mbappe. Eh.

Oh iya, umurnya baru 20 tahun, dan… Kecepatan maksimalnya adalah 44.51 kilometer per jam, hanya 0.24 kilometer per jam lebih lambat dari Usain Bolt (sebelum berkomentar lebih lanjut mengenai siapa manusia tercepat di dunia, Usain Bolt dapat berlari sekitar 40 meter lebih jauh daripada sprint Mbappe pada umumnya)

Tentunya, ia memberikan kredit atas keberhasilannya sebagai atlit kepada kedua orangtuanya. Ketika menyindir jumlah uang yang ada di industri sepakbola dalam sebuah wawancara, ia sempat menyebutkan bahwa ia meminta sebuah jet pribadi untuk kedua orangtuanya.

Bagaimana ia bisa mendorong dirinya sejauh ini?

Tentunya, karena kedua orangtuanya.

Salah satu berperan sebagai orang yang mencintainya, dan yang lain berperan sebagai pendorong.

Ayahnya mendorongnya untuk menjadi pemain yang lebih bagus. Ayahnya menekannya untuk lebih fokus, memberikan target, memastikan target itu terpenuhi, dan ayahnya juga menjadi contoh yang baik untuknya.

Ibunya, pada sisi lain, (layaknya ibu untuk seorang anak laki-laki) mencintainya, tidak banyak berkomentar, dan memberikan dia izin untuk melakukan apa yang ia inginkan, selama permintaannya masih wajar tentunya.

Dan, Mbappe, sekarang menjadi salah satu pemain terbaik di dunia, sekaligus pemain muda yang masih bisa tumbuh dan menjadi lebih baik lagi. Just wait and see.

Kesimpulan Kasus

Tekanan dan cinta yang seimbang.

Banyak atlet mendapat perlakuan mirip seperti Mbappe, contoh: Tiger Woods…

The Vaccine Effect

Freud menjelaskan kesadaran dalam bentuk repressed memories, yang menjadi identitas kita, baik yang buruk, atau yang bagus. Identitas kita terbentuk dari ingatan yang tidak jelas, karena secara tidak sadar, ingatan tersebut kita tolak. Identitas terbagi menjadi 3 level. Ego, alias kepribadian/identitas yang jelas, Superego, alias kepribadian yang hanya tampak sesekali, tetapi ketika tampak, kepribadian tersebut lebih kuat. Yang terakhir, ID, ID atau Identitas adalah semua repressed memory yang menghasilkan diri kita, secara tidak sadar, semua keputusan yang kita buat diperintah oleh ID. Tiap kasus menciptakan identitas tiap pribadi masing-masing. Kepribadian tersebut yang mendorong mereka untuk membuat keputusan.

Seluruh kepribadian ini terbentuk pada usia 3-18, dan, memori yang ditekan ini mengatur cara seseorang sebenarnya berpikir. Pada fase pertumbuhan ini, orang tua harus memastikan anaknya mendapatkan tekanan yang cukup darinya sebagai… “vaksin” agar mereka siap mendapat tekanan dari dunia luar.

Kurang lebih vaksin yang dimaksud adalah tekanan ringan, agar anak nanti dapat siap untuk menerima tekanan yang mungkin memang berat, dari dunia luar.

Ini berpengaruh bukan hanya bagi ikon remaja atau anak, tetapi juga untuk semua anak. Mereka harus merasakan tekanan, serta juga mereka harus merasakan hal-hal yang memberikan hierarki, seperti bullying… Tanpa adanya tekanan tersebut, dan tanpa adanya bullying, atau dunia yang lebih keras… Kita akan lemah, dan tidak bisa ditekan sedikit pun.

This is bad of course.

Sampai lain waktu.

Peran Pendidikan Dalam Merubah Tingkah Laku

Peran Pendidikan Dalam Merubah Tingkah Laku

Dalam dunia pendidikan, tidak jarang jika seseorang hanya mengkorelasikan pendidikan dengan ilmu, atau subjek-subjek yang dipelajari di sekolah, atau kuliah yang didengarkan dalam kampus. Tetapi, ironisnya, definisi Pendidikan dalam KBBI, serta Education dalam kamus Merriam-Webster, definisi pendidikan hampir tidak pernah dibatasi ke persekolahan, pekuliahan, ataupun hanya dalam subjek-subjek.

Dalam KBBI, definisi Pendidikan berbunyi seperti ini: Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Sedangkan, dalam Merriam-Webster, definisi education tertulis seperti ini.

A: the action or process of educating or of being educated.

B: the knowledge and development resulting from an educational process.

Dalam kedua definisi tersebut, dapat dianalisa dan disimpulkan dengan cukup jelas bahwa definisi pendidikan tidak selalu (bahkan, lebih jarang) berhubungan dengan sekolah, subjek, persekolahan, ataupun dengan akademis. Jadi, amat disayangkan ketika di Indonesia, ketika orang menyambungkan pendidikan dengan persekolahan.

Tingkah Laku yang Salah?

Apa hubungan dari pendidikan dan tingkah laku? Sebenarnya, harus diakui, dalam persekolahan, mau ada sebanyak apapun pendidikan karakter, atau acara yang bertujuan untuk menambah kedisiplinan, dan ketekunan seorang murid, lebih sering pendidikan ilmu tersebut tidak menempel, dan tidak dipedulikan oleh peserta pendidikan karakter tersebut.

(Sejujurnya, aku belum pernah mengikuti pendidikan karakter lebih dari sekali, dan yang pernah kuikuti pun, bisa dibilang, ironis. Pendidikan karakter tentang kedisiplinan dan yang memberikan pendidikan karakter tersebut tidak cukup disiplin untuk datang tepat waktu.)

Tetapi, jika dihubungkan dan dikorelasikan beberapa kali, apakah itu tugas dari sekolah untuk merubah, dan menambah kedisiplinan seorang siswa atau siswi? Mungkin sebuah sekolah akan sangat kecewa jika ada satu dua murid yang kurang disiplin dan menurunkan nilai rata-rata dari sekolah tersebut, maka, sekolah merasa wajib untuk membuat siswa-siswi tersebut lebih disiplin dari sebelumnya. Tujuan dari tindakan tersebut apa? Menjaga gengsi dan kebanggaan sekolah atas muridnya.

Jadi, sebenarnya, tugas siapakah itu untuk menjaga tingkah laku seorang remaja?

Pendidikan rumah. Setidaknya untuk menjaga siswa tersebut dari pengaruh buruk dari luar.

Kembali ke definisi awal, pendidikan lebih cocok untuk dipasangkan dengan kata berkembang, alih-alih dengan kata sekolah.

Jika ingin berkembang, apa yang perlu dilakukan seseorang? Atau mungkin, apa yang perlu dilakukan orang lain demi membantu perkembangan seseorang tersebut?

Tentunya, untuk menjaga tingkah laku, seseorang perlu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Individualitas

Bagaimana jika kita coba renungkan sedikit, sebenarnya, apa yang dilakukan siswa-siswi SMA ketika mereka ke sekolah? Atau mungkin, apa yang mereka ingin lakukan di sekolah?

Mengingat gaya hidup generasi Z yang amat sangat erat dengan teknologi, kurasa mayoritas (lebih dari setengah) pergi ke sekolah lebih untuk bertemu teman-temannya, kebanding untuk belajar. Mungkin beberapa orang pembaca akan terkejut, dan mungkin juga ada yang merasa bahwa anak/keponakan/sepupu anda tidak seperti itu, namun, aku yakin bahwa lebih banyak pelajar yang tidak suka pergi ke sekolah jika ia tidak memiliki teman.

Jadi, mereka ingin ke sekolah untuk bertemu teman-temannya? Sesudah bertemu, apa yang mereka ingin lakukan? Aku sendiri tidak jarang untuk pergi ke mall dan melihat serta mengamati anak-anak SMA pada jam pulang sekolah, ataupun pada weekend, dan apa yang mereka sebenarnya lakukan ketika mereka bersama? Menggunakan gadget mereka masing-masing dan entah menggunakan sosmed, atau bermain game. Kali ini, mungkin reaksi beberapa pembaca tidak akan takjub, melainkan lebih ke “Oh, itu mah sudah biasa.”

Kuingatkan sedikit bahwa, suatu hal yang biasa bukan berarti suatu hal yang bagus. Tetapi, aku tidak akan membahas gawai dan gaya hidup yang erat dengan teknologi itu terlalu dalam kali ini.

Dalam subjek tingkah laku yang salah, sebenarnya, apa yang salah?

Salah-Benar suatu tindakan itu relatif, dan akan berbeda-beda tergantung ke yang menilainya. Tetapi, seorang remaja akan melakukan sesuatu yang dinilai masyarakat sebagai sesuatu yang salah, hanya jika diberikan terlalu banyak kebebasan, diberikan terlalu sedikit kebebasan, atau tidak diberi perhatian yang cukup.

Peran pendidikan disini, dan hubungannya pada tingkah laku seseorang berada di pengenalan, dan juga penegakkan tingkah laku yang dirasa benar.

Jika individualitas seseorang kurang kuat (biasanya dikarenakan kurangnya pendidikan rumah yang tepat) maka, akan sangat mungkin, seseorang akan terbawa dalam tingkah laku yang tidak baik ini.

Akan lebih baik menjadi seseorang yang terlalu memegang kuat pendapatnya sendiri, daripada seseorang yang tidak memiliki pendapat sendiri, dan hanya memihak dengan tujuan mengikuti, atau mendukung orang lain.

Menanamkan Individualitas

Jika gambaran mengenai pentingnya pendidikan dalam subjek ini sudah tersampaikan, biasanya akan muncul pertanyaan, caranya untuk mendidik dan menanamkan individualitas.

Seorang remaja biasanya sudah mulai memiliki pemikirannya sendiri, dan terkadang, jika gagasan dan/atau opini tersebut tidak dieksplorasi oleh seseorang yang ingin mengetahui opini-opini tersebut, serta asalnya, akan mudah terhapuskan lagi.

Orang tua dari seorang remaja tentunya akan merasa jauh lebih senang jika anaknya memiliki opini yang mirip dengannya, tetapi, jika seorang remaja memiliki perbedaan opini, apa salahnya untuk mendengar perbedaan opini tersebut?

Tetapi, perlu diingat bahwa dalam perbedaan opini, jangan sampai opini tersebut kosong, dan tidak didukung dengan fakta lain, pastikan ketika sedang berdiskusi mengenai opini seorang remaja, ada fakta atau kompensasi yang mendukung opini tersebut.

Untuk menanamkan individualitas, hal-hal yang perlu dilakukan sebenarnya cukup sederhana. Metode yang kurasa sebagai metode yang efektif adalah (ketika situasi sedang santai) dengan berdiskusi akan opininya dalam kasus atau masalah tersebut.

Tiap kali ada opini yang menarik, akan sangat baik jika orangtua ingin tahu mengapa pendapat tersebut bisa muncul, dan darimana asalnya. Jika opini itu dibelakangi dengan alasan yang bagus dan masih sesuai dengan nilai-nilai keluarga yang ditanamkan, meski tidak sama persis pun, kurasa tidak ada salahnya untuk menerima perbedaan pendapat tersebut.

Dengan berdiskusi dengan remaja dan membiarkannya mengeluarkan opini-opini serta gagasan yang ia miliki, maka remaja akan merasa lebih yakin akan opininya sendiri.

Tentunya, menanamkan individualitas tidak sebatas berdiskusi saja, masih ada cara lain. Tetapi, berdiskusi adalah cara paling efisien dan cukup efektif untuk mengetahui opini seorang remaja, merubah opini dan pandangan tersebut jika ada yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga, serta memastikan ia merasa percaya diri pada pendapatnya sendiri.

Percakapan yang bagus dan efektif adalah percakapan yang dua arah, dan bukan hanya yang satu.

Menariknya tulisan dan celotehanku ini, dikarenakan ide-ide disini dapat dengan mudah diterapkan ke tiap anak dan tiap keluarga, dikarenakan seberapa bebas nilai-nilai seorang keluarga, baik yang condong untuk agama, condong ke akademisi, ataupun condong ke kepribadian yang kuat.

Cukup saja artikel hari ini, dan sampai lain waktu!

Jaja’s Opinion on Millennials, and Tech Myths

Jaja’s Opinion on Millennials, and Tech Myths

Disclaimer: My opinions are not from a professional, but it’s considerable. Also, consider this a debate, and if you disagree, do comment your arguments.

Introduction:

Most teenagers in this century, or also known as the millennial generation, are commonly referred to as natives in technology, whether this is a good thing or not is debatable, as it depends on the common usage of technology by teenagers. As for the children born in this century, after seeing some of them, I personally think their parents are misusing technology to parent these children using a gadget, which is definitely not a good thing.

Teenagers:

Tech Savvy Teenagers, Is it true?

Firstly, I don’t think that most teenagers in Indonesia could comprehend how a program even works, and their knowledge is limited to using software, while it is still possible to learn how software could work. Sure, they check social media much more often and are way more updated in terms of information. But do they really stand out in terms of things other than usage? I’d answer no.

They might send like a hundred posts a day on Instagram, or make a million amounts of stories in a month. Adults still could do that. They just don’t want to, or maybe they don’t have the time. Yet us teenagers, those that do have the time, spend it posting selfies, or looking for memes on Instagram, who by the way is also too lazy to look for funny memes in the right place… Reddit. Unfortunately, Reddit is blocked in Indonesia, so if you want to look for memes there, you need a VPN, which would take time to set up, and not many teenagers even know how to set up a VPN service.

For example, a common thing I see from my elementary school friends, now in Middle School is using filters, to have a doggy ear and tongue, of which I disapprove cause… EW! what’s that? Do you know how that even works? I haven’t really asked anyone whether or not they know how this works, but maybe if I have time I’ll give it a shot at researching this. Without any research, I’m sure a majority of users don’t even know how that works.

To me just the ability to use something does not really mean comprehending, and so, teenagers (the common one) have a slight advantage when compared to the non-Tech Natives

Their slight advantage comes from their more updated ability to keep up with the latest news, and of course, younger brains work faster. In fact, I’m sure there are much more adult programmers than younger ones.

“Socializing Via Nongkrong”, Is It Still True?

Honestly, this isn’t a myth, it’s my observation… First of all a bit of an apology from me cause I used the phrase Nongkrong, which isn’t formal, but since this website post isn’t supposed to be that formal, I’ll keep it that way.

In the 21st century since phones have been invented, well, I’ll let a popular biscuit logo talk, and tell you about it.

This is supposed to be a joke, but somehow I think it’s true… Also, not my image, found it online, Babah told me that awhile ago and I remembered about this article, so I thought it’d be a fun correlation.

Now, when Bubi was a teenager, she did say she liked to hang out with her friends a lot, and I can’t really blame that, I mean they are teenagers. But back in Bubi’s time, they used to spend their time talking, and at the very least, they’re still involved with one another, meaning they are socializing, regardless what kind of topics they are actually talking about. The social interaction still exists.

Now, that Khong Guan image will become a fact… As I’ve seen with teenagers, they end up playing with their phones, doing a separate activity, and ignoring each other. Almost every High School student, or some Middle School students ask me how I socialize, and how many friends I’ve got. If I wanted to be a jerk, which is bad for image, and might prove them right, I’ll tell them, I’ve got friends that I do socialize with when we’re together, even when we aren’t we still talk, and I have friends I actually talk with. Sorry… i don’t mean to be rude, but sometimes, people do things without even knowing a bit on the subject.

Bubi told me several times why hanging out is now pointless… It’s phones, blame them, PHONES ruin the definition of socializing and playing for teenagers. OK, well I don’t do sports, but seriously, you’ve got friends, talk to them, don’t chat with them. The ability and wording while writing and speaking in a direct conversation is clearly different, if we don’t stop to talk, then teenagers would just lose the ability and life skill to properly form words in a direct conversation.

So, thanks to phones, we’ve just lost one possible activity, that could’ve been a discussion of ideas, and could be something useful. Thanks a lot! (of course, I’m not ignoring the function of smart phones entirely too, they are still useful)

Children:

Does YouTube Really Teach Children?

Okay, first of all, I hear lots of parents make excuses when someone tells a parent that YouTube is bad. Some of the excuses include that they learn about science and other things when watching YouTube. Let me ask… What would a 3 year old or maybe slightly more, like a 4-5 year old, would really benefit from YouTube? They don’t need science yet right? Besides, long term memory (on most children) won’t stick too well until you are about 6.

For the record, Alice never watches YouTube, yet she plays board games fairly well, has a lot of words in her vocabulary, is very active as a child, and loves reading books.

When I meet babies around her age, I immediately see a difference between those that do watch YouTube, and those who don’t. Hold on, before some of you say that it’s just their personality, some versions of developmental psychology states that children are empty slates, and every action we do is basically drawing on that slate, giving them personalities.

Those might be some personal examples, but if we are talking on a more scientific and global way… in case you didn’t notice, the amount of people with Speech Delays has risen up a lot this century, and if we look at the most important inventions people use for children in this century, its Gadgets, and GMO Foods. Blame GMO? Okay, I can’t really correct opinions, but I mean, not everyone eats GMO, but a majority of people uses YouTube as a parenting method.

So, does YouTube really teach children? Nope, think of a better argument to give gadgets to a child, don’t say it’s educational until you really have proof it’s educational.

Maybe YouTube parenting isn’t as bad as the Greek Gods and Titans when they are parenting, but it’s probably just under the list a bit.

You Don’t Want This… Trust Me

Negative Effects of YouTube Parenting

So, I have shared my basic argument on this subject, but what are the negative effects?

So, in the 21st century, a lot of things have changed in terms of children growth, and speech delayed, and tantrum-y children have risen up in numbers, I believe it’s YouTube parenting’s fault, but again, assume it is a debate and disagree with an argument.

Now, a couple of talks with Babah and Bubi, reading Psychology books, and observing some of Alice’s friends, have given me some of the negative effects, based on my opinion, with a supporting agreement to accompany.

  • Speech Delay
    • Delayed Speech is pretty straightforward, usually, if a child couldn’t speak at the age of 3 or 4, or lacks vocabulary and pronunciation skills.
    • YouTube doesn’t teach proper pronunciations, and is often times meaningless, unlike reading a story book to your child.
    • YouTube’s constant changing pictures really distract your child from focusing on the meaning, so even a good video; can really disrupt linguistic skills growth.
    • YouTube is a one way conversation, the child watching YouTube doesn’t even have to say a word, or interact with it to gain full benefits, in fact, the video amounts on YouTube is endless, a child could watch all day without a problem.
  • Loss of Appreciation on Things
    • A child would begin losing appreciation on anything unlike YouTube; they would dislike anything because they have insanely high expectations on entertainment.
    • YouTube is fairly memorable. Children would see YouTube as their basic standard of entertainment. Anything not YouTube is ugly, because YouTube itself is already something very eye-catching.
    • So, this means after a child is addicted to YouTube, then chances of rehabilitating that would be hard.
    • For adults YouTube is more OK (I didn’t say this is a good option, just an OK source of entertainment) because we already have a general view on nicer and less nice things (I meant this as in quality)
  • Less Active Children
    • This doesn’t always lead to bad things, as some basic personality could affect this and make children more silent and quiet. But most children affected by YouTube tend to be less active and move less than those who don’t.
    • Let’s say being an active baby is like doing a job. While being an inactive baby that can lie down and watch YouTube all day is basically a lazy day for employees. If you’re the baby, what would you choose? Don’t lie, of course you would be lazy and chill if it is possible.

Conclusion

Well, firstly, thanks a lot for reading, I might want to start on the fact, I’m a bit sorry this article is pretty short, regardless, I hope it’s useful, if you disagree with me, please leave a comment down below, and don’t forget to subscribe to our newsletter.

OK! That right there is how YouTubers usually close a vlog… (I watched a bit of YouTube, usually those regarding Superheroes, I’m a geek). Now, that, cannot be implemented on a writing or a conversation can it? Of course not, the wording should generally be different, and that just won’t work.

The future isn’t gonna be filled with robots who do the work for us, people would need to interact with each other, and one way conversations, or chatting just won’t work when you want to speak in public, or have a presentation. I personally don’t see a single possible reason why teenagers are actually wasting their time in social media, and doing their definition of socializing, but don’t change the current definition, please just do not.