Tag: kuliah umum

War of Art.

War of Art.

Sebagian besar orang seharusnya tahu mengenai buku karya tulis Sun Tzu dengan judul Art of War…

Aku disini bukan untuk menceritakan mengenai seni peperangan, melainkan cara beberapa orang pada zamannya filsuf Tiongkok, berkompetisi dengan menggunakan seni. Kompetisi dari seni yang dilakukan orang-orang pada Tiongkok jaman baheula cukup menarik.

Sebenarnya ini adalah kilas balik kuliah kedua kelas Filsafat Unpar. 🙂

Temanya kali ini adalah Filsafat Tiongkok dan Filsafat India.

So, let us begin!

Pemateri: Greysia Susilo, seorang dosen dari Universitas Multimedia Nusantara, yang secara mayoritas mempelajari seni Tiongkok secara otodidak sebagai hobi.

Themes

Ibu Greysia Susilo membelah cara seseorang mempersepsi seni ke tiga jenis sudut pandang, secara bentuk, secara konten, dan secara konteks.

Bentuk dibedakan bukan hanya dari bentuk karya seni (yang hampir pasti berbeda), tetapi juga dari bahan, keahlian yang dibutuhkan, dan dari hasil akhir. Menurutku, diantara ketiga topik lain, ini yang paling tidak menarik. Ya, mungkin karena aku tidak begitu suka dengan pembahasan seni secara teknis, tetapi lebih ke secara penggunaan.

Konten, jika kita berbicara konten, biasanya akan merujuk ke apa yang seniman itu ingin tunjukkan ke orang lain. Topik konten ini juga bisa merujuk ke apa yang orang-orang tangkap dari seniman tersebut. Sebagai contoh, ada dua lukisan yang menceritakan tentang pelajaran musik yang dilukis oleh Henri Matisse memiliki konten yang sama, mengenai pelajaran musik. Konteks kedua hal tersebut cukup berbeda tetapi.

Jika konten membahas apa yang orang-orang lihat dan apa yang seniman ingin tunjukkan dari suatu karya, konteks lebih merujuk ke fungsi, dan juga tujuan dibuatnya karya itu. Sebagai contoh, dua patung bisa saja memiliki bentuk dan konten yang sama, tetapi yang satu ditujukan sebagai karya untuk memuaskan diri sendiri, dan yang lain ditujukan untuk membuat orang lain merasa senang… Perbedaan konteks sederhana seperti ini bisa merubah karya dan proses secara keseluruhan.

Hari ini, aku akan lebih membahas konteks, sedikit banyak konten, dan hampir tidak ada pembahasan mengenai bentuk… Cheerios.

The Social War

Jadi, ketika kita ingin membahas mengenai “perang” kita perlu sedikit definisikan perang sendiri. Perang disini bisa kita anggap sebagai suatu bentuk berkompetisi dan berlomba-lomba untuk satu sama lain, dan seperti yang kalian akan lihat, ini akan menjadi suatu kilas balik untuk status zaman sekarang…

Kerajaan

Membahas konten dari yang dilakukan oleh orang-orang golongan pertama akan tidak jauh dari kemewahan. Ku yakin ada sebagian pembaca yang mungkin sudah pernah menonton Crazy Rich Asians… Aku berada disini untuk mengingatkan bahwa orang dengan darah Tionghoa yang amat-amat kaya sudah berada sejak zaman dahulu…

Para petinggi kerajaan sering sekali berlomba-lomba untuk menyewa ahli (sebenarnya istilah yang Ibu Greysia Susilo gunakan adalah tukang, tapi kayanya kurang wah gitu… Silahkan panggil sesuka pembaca) paling hip untuk membuat suatu hal yang tidak diperlukan, tapi hanya bertujuan untuk membuang uang, karena mereka punya terlalu banyak…

Biasanya hal tidak diperlukan ini cukup bagus, dan mewah. Tidak jarang ada sebuah vas yang dihiasi dengan batu-batu giok, mungkin pilar lebay ala sosialita, dan lukisan yang wah, wah, dan wah!

Tujuan para bangsawan melakukan ini? Ketika ada bangsawan lain datang berkunjung, mereka bisa melihat banyak sekali hal-hal mewah yang tersedia, dan mendapatkan pengakuan!

Berbicara mengenai konteks dari suatu karya, tidak akan jauh hasilnya dari…

  1. Buang-buang duit
  2. Tidak punya kerjaan
  3. Pamer

Mungkin ketiganya bisa terjadi di saat yang sama, dan aku sejujurnya tidak terkejut mengingat seberapa kaya raya raja dan bangsawan Tiongkok pada zaman tersebut.

Nah, kalau kita ingin memberi konten, kita perlu melihat kedua belah pihak yang ikut terlibat dalam proses pengerjaan suatu karya seni…

  1. Tukang/Ahli
  2. Klien Bangsawan/Raja

Tukang/Ahli

Ahli akan melakukan apapun yang klien mereka inginkan karena mereka memang dibayar untuk pekerjaan tersebut. Seorang ahli tidak boleh memberikan terlalu banyak improvisasi, (kalaupun diizinkan) dan akan bekerja seratus persen atas perintah klien.

Yang seorang ahli boleh lakukan dalam memberikan improvisasi hanyalah memberikan cap tanda bahwa dia-lah yang membuat karya tersebut. Selain itu, hampir tidak ada bentuk apapun yang boleh diubah oleh Ahli-ahli tersebut.

Karya mereka hampir tidak pernah berubah, karena pada akhirnya orang-orang menginginkan hal yang sama, hanya mungkin perbedaannya, jika seorang bangsawan memiliki vas dengan 25 batu giok, maka mentri akan ingin vas dengan 50 batu giok, dan sang raja ingin vas ukuran dua kali lipat lebih besar dengan 100 batu giok. Pada dasarnya, karya mereka cenderung repetitif, karena hanya bertujuan mengisi keinginan para bangsawan yang menginginkan sesuatu yang teman mereka sudah punya.

Pada bentuk dasarnya, template (ahli-ahli ini terdengar seperti tukang print 😀 ) yang mereka berikan sudah memiliki tujuan masing-masing, ada yang bertujuan membuat orang merasa tersentuh, ada yang bertujuan membuat orang merasa takjub, dan ada juga yang bertujuan membuat orang lain merasa iri. Silahkan tebak yang mana yang paling laku, karena aku punya tebakan, dan itu hanya opini pribadi.

Ya, jadi, jika seorang ahli hanya menyediakan template, dan seluruh bahan serta hal dikendalikan oleh klien, maka… Apa yang klien inginkan?

Klien sang Ahli

Haha…

Seperti aku sudah sebut beberapa kali, tujuan klien ini melakukan sesuatu adalah mengisi kehampaan, dan kebosanan karena mereka tidak perlu melakukan apa-apa… (Andaikan kalian lupa, banyak rakyat tiongkok kelaparan, tapi ya, siapa yang peduli) Jadi, sesudah beres perang dan mengambil koleksi selir, dan uang… Mereka kembali berperang dan berlomba-lomba berusaha pamer ke orang lain…

Kira-kira dari tujuan itu, apa jenis karya yang mereka inginkan?

Oh iya, mereka ingin membuat orang lain merasa iri dan terpukau oleh koleksi milik mereka. Ini berarti sebenarnya yang mereka inginkan adalah yang orang lain inginkan bukan?

Kalau kamu tak bisa membuat benda lebih mewah, maka buat benda lebih banyak… Tapi tetap, hanya bangsawan yang cukup kaya yang bisa menciptakan wow factor paling tinggi untuk bangsawan lain…

Ada pihak ketiga yang ikut mengendalikan tren benda… Yaitu, sesama bangsawan… Namun, yang non-klien…

Teman-teman…

Rumput tetangga selalu lebih hijau… Kecuali jika kamu merasa puas tentunya. Sayangnya, dengan begitu banyak karya seni yang dimanfaatkan untuk pamer, tidak akan ada rasa puas. Begitu kamu memiliki patung batu giok seberat 4 kilogram, tetanggamu yang sesama menteri, memiliki patung batu giok dengan berat 5 kilogram. Jadi, kamu langsung mencari hal lain, seperti misalnya, meja dari emas, dihiasi (sekali lagi) batu giok.

Jadi, jika kita berbicara pengusaha terkaya di Tiongkok, kita harus melihat para ahli yang cukup pintar untuk meninggalkan brand miliknya di tiap rumah bangsawan, dan langsung mendapat pesanan sesudah pesanan terakhir miliknya beres…

Hampir bisa dipastikan, banyak sekali uang kerajaan turun ke para ahli ini, karena begitu mereka memenangkan sebuah perang dan mengambil “hadiah” yang banyak, hampir pasti uang yang mereka hasilkan digunakan untuk ini…

Seni Kerajaan @ Masa Kini

Mari kita ibaratkan rumah dimana seni kerajaan ini sebagai… panggung. Zaman dahulu, yang memiliki akses untuk unjuk gigi di panggung mereka masing-masing hanyalah raja dan bangsawan. Banyak sekali orang rela membuang cukup banyak sumber daya mereka hanya untuk memamerkan sesuatu. Kabar baiknya, zaman dahulu kala, istana yang bagus dibutuhkan untuk politik…

Istana yang bagus adalah tanda kerajaan yang makmur dan aman. Jika istanamu tidak bagus ketika raja negeri sebrang sedang berkunjung… Maka kunjungan berikutnya dari sang raja adalah sebuah serangan.

Sekarang, mari kita ibaratkan akun sosmed sebagai panggung 😛 . Sekarang, hampir semua orang memiliki akses, sumber daya, dan hak untuk memamerkan sesuatu yang mereka inginkan demi sebuah Like atau Pengikut, layaknya raja memamerkan perhiasan, serta furnitur di rumahnya untuk mendapat perhatian politikus lain…

Seni Kerajaan di Tiongkok pada zaman dahulu telah memberikan sisa-sisa dari peradabannya untuk membuang sumber daya (sumber daya bukan hanya uang, bisa waktu, bisa energi) demi mendapat tanda cap diakui oleh teman-temannya.

Sastra…

Mari kutunjukkan kebalikan dari Seni Kerajaan dengan Seni Sastrawan sekarang juga…

Seni Kerajaan menginginkan hiasan yang sebanyak-banyak-banyak mungkin… dan Seni Sastrawan menginginkan keindahan maksimal, dengan usaha paling minimal. Menurut beberapa sastrawan yang bergelut di dunia seni Tiongkok, semakin banyak kamu berusaha untuk memperindah sesuatu hanya akan berujung ke kamu mengambil makna dari seni tersebut.

Sastrawan di Tiongkok juga harus “berperang” dengan sesama calon sastrawan ketika ingin mengambil sebuah ujian, dan masuk ke kelas buffer antara rakyat dengan bangsawan ini.

Jika kamu ingin menjadi seorang bangsawan tapi tidak memiliki sedikitpun darah biru yang mengalir di tubuhmu, maka kamu perlu perkuat tanganmu, dan siap untuk melukis, memainkan alat musik, dan menulis sampai kamu mabuk.

Ibu Greysia bercerita bahwa jika kamu ingin menjadi seorang bangsawan yang naik status dari rakyat jelata, kurang lebih ini yang perlu kamu lakukan…

  • Berlatih dan berusahalah meminta sebuah guru untuk mengajarkanmu ilmu miliknya
  • Sesudah berlatih cukup sulit… Kamu masih harus membuktikan dirimu di mata sang guru agar guru tersebut merasa bahwa kamu bisa dikirimkan olehnya untuk melewati ujian.
    • Seseorang yang berbakat akan butuh waktu sekitar 2 minggu untuk menggambar satu huruf dengan teknik sempurna, dan usaha paling minim.
    • Untuk melukis pemandangan, yang merupakan sebagian dari ujian… Kamu harus melukis setiap aspek (misalnya, matahari, gunung, pohon, sungai, dll) secara terpisah, baru menyatukannya. Tiap aspek membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu untuk dipelajari secara maksimum.
  • Jika guru sudah memilihmu, masih ada ujian sulit untuk kamu lewati. Hanya beberapa yang memiliki nilai terbaik akan dipilih sebagai sastrawan (atau istilahnya, The Mandarin. Jadi sepertinya musuh Iron Man kita ini sebenarnya seorang sastrawan Tiongkok).
    • Andaikan kamu tidak lulus, kamu bisa berlatih pada gurumu dan menjadi guru lain, menggantikan sang guru ketika dia sudah tiada. (ini yang Kong Fu Zi lakukan. Atau Confucius jika kamu bingung)
    • Perlu diketahui bahwa Confucius, Mencius, dan semua latinisasi dari nama-nama china ini adalah guru, dan bukan bangsawan. Mereka lebih tenar di zaman sekarang atas ajaran milik mereka.
  • Kamu hanya sekitar 2-3 langkah lagi hingga bisa menjadi seorang bangsawan. Untuk melakukan itu, diantara puluhan sastrawan lainnya, kamu harus menjadi satu dari 3 sastrawan terbaik, dan HORE! Kamu lolos

Jika kita ingin menanyakan perang-nya dimana… Tidak perlu ditanyakan sepertinya.

Kriteria Seni

Number 1: Jangan pernah overkill (kata ini belum ada di bahasa indonesia) sedikit pun. Hanya sepeser saja kamu lebih memberikan suatu guratan, maka kamu sudah gagal.

Number 2: Jangan pernah lakukan kegiatan melukis APALAGI menulis jika kamu sedang merasa kesal, ini akan merubah hasil, dan membuatmu melupakan nomor 1.

Number 3: Jangan pernah menggambarkan manusia dalam sebuah pemandangan. Alam akan sama-sama saja baik ada kita atau tidak, dan kita akan menjadi dekorasi yang tidak perlu. (Heidegger terinspirasi dari filsafat Tiongkok, dan sesudah mengetahui ini… aku tak terkejut)

Number 4: Jangan pernah biarkan godaan dunia materi menghalangi keabstrakan segala sesuatu.

Number 5: Jangan pernah berusaha mengimitasi bentuk alam sendiri. Tangkap alam dalam pikiranmu, dan lukislah interpretasimu yang paling abstrak.

Waw! Ini sangat-sangat sederhana. Incredible. Ini seni Tiongkok paling kompleks, dan hasilnya pun cenderung paling bagus. Selain itu, Bu Greysia memang menyatakan bahwa beberapa hal ini membuat seni Tiongkok ini sulit untuk dilakukan tanpa adanya seorang guru.

Hasil Seni

  • Cenderung amat abstrak
  • Sangat sederhana dan efisien
    • Orang Tiongkok yang tidak terlalu kaya tidak ingin membuang terlalu banyak sumber daya, dan segala sesuatu jadi amat sangat efisien..
  • Seni amat sangat presisi dan indah

Seluruh effort yang dituangkan untuk tidak berlebihan dalam berkarya menciptakan seni yang presisi seperti hasil pekerjaan seorang robot, namun indah dan memiliki sentuhan manusia juga di dalamnya.

Seperti anda bisa lihat, ini adalah lukisan yang dibuat oleh sastrawan Tiongkok. Warnanya sangat minimum, bentuk tidak dilebih-;ebihkan, dan tidak ada guratan tidak perlu. Perbedaannya memang ada penggunaan manusia di sini, namun ukuran mereka dibuat amat sangat kecil, karena kali ini, mereka memang membuat perbedaan, dan bukan hanya sebuah hiasan.

Seni Sastrawan @ Masa Kini

Seperti yang kalian bisa tampak… Karir seseorang terbentuk berdasarkan ujian. Setidaknya pada zaman dahulu kala ini… Ujiannya bersifat kualitatif.

Ujian kali ini bersifat kuantitatif, dan seharusnya untuk parameter saja, bukan sebagai jaminan kesuksesan. (tidak ada satupun sastrawan yang melarat… terutama mengingat bangsawan mungkin dibunuh saat perang, sastrawan tidak diburu ketika sedang terjadi peperangan)

Seni Rakyat

Ini akan aku jelaskan dengan efisiensi…

Jika seni sastrawan mempromosikan abstraksi, dan seni kerajaan mempromosikan hiasan, seni rakyat mempromosikan energi yang dibuat dalam sebuah karya.

Seni Rakyat dimanfaatkan sebagai bentuk lain kamera pada zamannya, dan biasanya menggambarkan suatu momen kebahagiaan, seperti pernikahan.

Seni Rakyat memiliki sedikit hiasan, dan dilakukan dengan happy agar ada aura positif yang orang-orang tangkap dari lukisan tersebut.

Kesimpulan

Sepertinya sampai hari ini saja, suara gema dari Tiongkok zaman baheula ini masih terdengar…

Banyak orang berusaha memanfaatkan panggung yang mereka gunakan demi suatu pengakuan dari teman-temannya… Ini sedikit mengecewakan. Lagak bangsawan seperti ini sudah terlalu sering tercipta…

Mari kita buat diri kita lebih baik tiap harinya, dan jangan terlalu mencari pengakuan… Merasa bahagialah dengan yang kita punya.

Only The Wisest and The Stupidest Of Man Do Not Try To Change. -Confucius

Sampai lain waktu!

Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks

Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks

Halo, akhirnya ketemu lagi dalam artikel yang membahas filsafat…

Setelah, sekitar 3 minggu. Meskipun ada kuliah di Unpar, aku sempat bingung mau menulisnya bagaimana, dan kebetulan kuliah jumat terakhir lebih mudah dimengerti.

Untuk sedikit informasi saja, 3 minggu terakhir membahas…

  • Universal Love, yang kayanya bisa dikemas untuk Millennial karena untuk pertama kalinya, filsafat membuatku tertawa, bukan hanya kagum.
  • Networks of Everything, filsafat ala IT
  • Serta, paradoks!

Paradoks ini yang jadi topik kali ini, karena membahas tentang Filsafat Post Modernisme juga. Sekarang, kita berada dalam era Filsafat kontemporer, tetapi, sebelum kontemporer kita ada di tahap post modern. Mari kita langsung masuk saja ke artikelnya ya!

Post Modern? Apa sih?

Post modern itu sebuah fase dimana pada dasarnya… filsafat di era itu tidak merujuk ke mana-mana… Sebenarnya itu hanya bercandaan. Tetapi, di balik bercandaan itu, ada betulnya juga… Era Post Modern tidak membangun apa-apa, yang mereka lakukan adalah memecah-mecah ilmu kompleks ke bagian-bagian yang paling sederhana, layaknya senyawa dirubah menjadi unsur…

Kembali ke bercandaan itu, biasanya post modernis tidak memiliki tujuan, atau tidak ingin menemukan apa-apa. Dan kayanya ini jadi bercandaan yang cukup umum ditemukan di kalangan dosen filsafat. Semua dosen di Unpar yang tidak dalam era post modern biasanya suka menyelipkan dikit sedikit tentang bagaimana post modernis tidak melakukan apa-apa.

Pada dasarnya, filsafat post modern tidak memajukan apa-apa, melainkan hanya menjelaskan dan juga membuat filsafat yang biasanya hanya bisa dimengerti oleh akademis, jadi lebih… simpel. Tetapi apakah ini berarti post modernis adalah orang-orang yang hanya memperbaharui dan menyederhanakan filsafat?

Gak juga sih, para post modern ini juga menyadari bahwa dari segala sesuatu yang disimplifikasi ini, banyak hal bisa dirubah, dan dia memunculkan 2 istilah favoritku sebelum aku belajar filsafat… Paradoks, serta relatif.

Jadi, sebelum kita maju ke mana-mana, filsafat post modern biasanya merujuk ke filsafat yang mendekonstruksi, dan memperindah hal-hal kompleks dengan membuatnya lebih mudah dimengerti, tetapi juga lebih runut.

Bingung? Bentar deh…

Dekonstruksi?

Dekonstruksi adalah dasarnya filsafat post modern.

Para filsuf di era ini sangat-sangat senang membuat hal-hal yang kompleks ini menjadi lebih sederhana. Dengan cara “meruntuhkan” bangunan yang sudah tercipta ini…

Anggap saja ada sebuah teori, atau formula fisika sederhana, seperti misalnya, F = MA. Atau, force = mass X acceleration. gaya = massa x percepatan. Maksudnya disini adalah, dalam dunia postmodern, semua ini dipecah menjadi entitas masing-masing.

Misalnya, gaya adalah gaya sendiri, massa adalah massa sendiri, dan percepatan adalah percepatan sendiri, dan masing-masing dari entitas yang disebut tidak akan dibangun lagi menjadi rumus yang sama, ataupun rumus berbeda. Sebagai contoh M di mass tidak akan dipakai untuk E = Mc2, dan hanya akan berdiri sendiri sebagai massa, yang mungkin akan dipakai di rumus lain, tetapi tidak akan pernah bisa berdiri secara permanen dalam sebuah rumus.

Everything should be made as simple as possible, but not simpler -Albert Einstein

Sesederhana itu! Masing-masing objek adalah sebuah benda terpisah dan juga tidak akan menjadi sebuah objek lain secara permanen. Tapi dari sini, para filsuf berpikir lagi, dan dari situ muncullah istilah nihilisme, serta relativisme. Dimana para relativis adalah orang-orang yang sengaja membuat hal yang udah sesimpel mungkin jadi gak simpel lagi, dan para nihilis adalah… dasarnya orang-orang radikal.

Relativisme

Dalam literatur, ada era romantisisme dimana segala hal dibuat berlebih-lebihan, dan terkadang ada kesan norak di tulisan itu juga. Iya, romantisisme artinya bukan hal yang romantis atau sebuah momen yang direspon dengan “AWWWWW”. Romantisisme pada dasarnya berarti… lebay.

Nah, dalam literatur juga ada yang disebut dengan Gothic style. Goth disini biasanya berarti orang-orang yang kekeuh untuk gak mau mengikuti gaya utama pada zaman itu. Dimana para romantisis memperindah hal-hal nyata dengan lebay, para goth memutuskan untuk membuat fiksi yang memperjelek kenyataan.

Pada era post modern, para romantisis, atau kurang lebih trendsetter di era tersebut, adalah para relativis. Para relativis disini percaya dan mengukuhkan pendapat dimana segala sesuatu yang sudah pecah belah itu, alias sudah dipisah-pisah formulanya sampai “berantakan”, atau setidaknya sampai runtuh… Para relativis ini memutuskan untuk membuat formula tadi agar relatif, dan menyesuaikan ke kebutuhan setiap situasi.

Rumus yang akan dipakai lebih sederhana kali ini, tapi misalnya… Sebuah persegi panjang memiliki luas yang dapat dihitung dengan rumus panjang kali lebar. Rumusnya dapat dikatakan sebagai L = P X l.

Sebuah relativis akan mencari apa hasil yang diharapkan, dan juga memastikan bahwa entitas terpisah ini bisa dan akan disesuaikan lagi kembali ke bentuk semula yang tentunya bisa dicetak lagi, dan dirubah lagi, tergantung ke kebutuhan orang yang memakai ilmu, atau formula tadi.

Jadi, dasarnya, para relativis ini membuat hal-hal yang kompleks menjadi sesederhana mungkin, dan memastikan bahwa kesederhanaan itu dapat dipakai dan dirubah sesuai kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, sebenarnya, para relativis cukup keren dalam bisa mengubah dan mengatur sesuatu.

Tetapi disaat yang sama, seorang relativis itu… merasa bahwa nyatanya, tidak ada yang nyata. Segala sesuatu berupa opini yang fluid, dan bisa berubah. Termasuk definisi dari suatu benda yang tampaknya padat itu… Opini nyatanya fluid, tetapi jika segala sesuatu bisa dipecah menjadi fakta, opini, atau formula yang fluid… tampaknya, tiada yang nyata.

Everything we hear, is an opinion. Not a fact. Everything we see, is a perspective. Not the truth – Augustus Julius Caesar

Dari situ muncullah istilah paradoks… Dan sebenarnya, meski paradoks sudah ada sejak zaman Zeno, seorang matematikawan yang hidup seabad sebelum Pythagoras, kurang lebih sekitar 3-4 dekade sesudah Thales meninggal… Paradoks terbesar (dalam dunia post modern tentunya) ada di relativisme, suatu hal yang merupakan buah dari tiang-tiang filsafat post modern sendiri.

Tetapi, sebelum membahas paradoks dalam definisi relativisme, kita akan masuk ke para goth, radikal, heretik, atau kata apapun yang kau ingin gunakan… untuk para nihilis.

Nihilisme

Nihilisme adalah sebuah kenyataan yang sekilas (emang sih, tapi jika mau ngeliat sekilas doang hasil yang sama juga didapatkan) kelam. Kelam disini berarti, hampa, tanpa arti, tanpa makna, tiada guna. Dan ya, cukup kejam lah…

Kata-kata yang aku pakai disini kebetulan, secara harfiah persis dengan definisi nihilisme.

Jika para relativis membiarkan formula yang terpecah tadi untuk dirubah-rubah, layaknya cairan yang akan mengisi dan memenuhi tempatnya dengan pas… Para nihilis tidak memberikan jawaban apa-apa, dan kesimpulan yang mereka dapat dari dekonstruksi ini adalah, hidup ini tiada artinya.

Makanya seperti aku sebut, mereka kaya goth di era romantisisme. Ketika orang-orang memperindah, atau dalam kasus ini, mempermudah, para goth malahan mengarang sebuah gambar yang rusak, dan dalam kasus ini, merusak makna.

Para nihilis percaya bahwa hidup ini tiada tujuannya, karena jika misalnya massa itu sudah membantu percepatan untuk menemukan gaya, nyatanya dia sendiri, tanpa tujuan, hanya melengkapi yang membutuhkannya.

Itu kaya misalnya seorang presiden sudah mengabdi dan memajukan negaranya selama 10 tahun, hanya untuk memiliki semua kebijakan yang ia buat untuk dihapus oleh penerusnya… Pada dasarnya, tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan sesuatu yang utuh, tetapi dalam proses itu, banyak hal terbuang sia-sia.

Makanya para nihilis ini berpikir bahwa, jika segala sesuatu akan diambil sebagai individual, maka… untuk apa si individual itu ada? Pada akhirnya ketika orang mencari jawaban ke berapa gaya yang dihasilkan, apa guna si Massa dan akselerasi ini?

Sebenarnya pendapat nihilisme itu tidak sepenuhnya salah. Misalnya ada sebuah perusahaan besar, kaya… Gojek misalnya… Gojek tentunya memiliki banyak gerigi untuk membuat perusahaan itu jalan dengan baik, tentunya ada mamang gojek yang setia menjemput dan mengantar, customer service yang mau mendengar omelan orang-orang, dan juga para programmer yang memastikan aplikasi dapat berfungsi dengan fungsional.

Masih banyak lagi sih… Tapi kalau kita buka google, nama yang tampak adalah merek Gojek itu sendiri, serta Nadin Makarim yang mendirikannya. Padahal, Gojek itu tentunya hanya akan sukses sesudah semua gerigi beroperasi dengan baik.

Pada pandangan pertama, banyak sekali faktor yang namanya tak diketahui umum, untuk dipandang sebelah mata dan kadang dimaki-maki, untuk mendapat bayaran. Ini tentunya terkesan tidak adil, tapi tentunya, kalau ditanyakan, “untuk apa”, jawabannya adalah… Bayaran.

Tapi ya, sebuah rumus hanyalah sebuah rumus, dan kadang ini tampak kelam, tetapi kenyataan ini tidak dapat disangkal.

(tentunya, ini bukan berarti aku mendiskriminasikan, atau merendahkan gojek. Semua orang pasti punya perannya di dunia ini, dan terkadang, peran yang dimainkan ini tidak sebesar pemeran utama yang mendapat bayaran dan juga perhatian utama)

Paradoksnya?

Jadi, paradoks ini terletak pada tiang-tiang relativisme, yang berada tepatnya di bagian definisi yang fleksibel dan mampu berubah-rubah, dikarenakan, definisinya sendiri relatif.

Nah, sebenarnya, ini cukup ironis mengingat segala sesuatu yang berbau post modern biasanya mengacu ke relativisme, atau ke dekonstruksi. Tapi dari definisi relatif itu, tiang post modern malahan runtuh atas strukturnya sendiri.

Struktur post modernisme yang menjadi “Achilles Heel” dari seluruh sistem ini berada di frasa definisi relatif.

Kalau definisi segala hal itu relatif, maka definisi dari post modernisme itu relatif. Dan kalau definisi dari suatu hal yang bilang segalanya relatif itu relatif, maka nyatanya ada suatu kondisi dimana dia menjadi padat, dan tidak relatif, di saat yang sama mematikan definisi dasarnya sendiri.

Bingung?

Anggap aja definisi padat itu es batu, sedangkan definisi yang relatif itu air putih…

Si es batu post modernisme itu, bilang bahwa semua definisi itu air putih. Berarti ini termasuk dirinya, yang es batu. Tapi kalau dia bukan air putih, maka kenyatannya, definisi dirinya sendiri itu salah pas dia bilang semuanya itu air putih.

Makin bingung? Gapapa kok

Paradoks Itu Indah

Paradoks itu mengagumkan, membingungkan dan indah.

Jika ada hal yang tidak masuk akal, dan memiliki dua akhir yang menutup kemungkinan akhir yang lain, maka nyatanya dia membuat kita berpikir. Dan kita akan memikirkan paradoks ini sampai otak kita modar, atau overheat. Tampaknya mendasar, dan oleh karena itu…

Semua hal yang tidak masuk akal adalah suatu hal yang diperlukan sebagai pembanding untuk yang masuk akal. Jika tiada cewe jelek, kita takkan punya definisi cewe cantik…

Oleh karena itu, paradoks itu mengagumkan serta indah.

Kesimpulan

Kesimpulannya makin membingungkan lagi.

Anggaplah dunia ini berisi hal yang tak penting dan penting. Menurut post modernisme, manusia hanya melihat hal-hal yang ia anggap penting saja. Tetapi ini adalah paradoks, manusia mampu mendapatkan persepsi atas segala hal. Maksud dari pernyataan ini adalah, semuanya penting. Oleh karena itu…

Kita melihat yang kita anggap penting, tapi nyatanya, semuanya penting… Baik masalah terkecil, sampai sebuah konspirasi yang amat besar, segalanya penting. Hanya butuh waktu untuk kita melihatnya.

Apa hubungan ini ke paradoks?

Dasarnya, buat apa sih mikirin paradoks, buat apa mikirin filsafat? Dia penting, dan akan ada waktunya dimana dia menjadi penting. Cukup butuh waktu untuk menyadarinya…

Sampai lain waktu 🙂

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Suatu malam, pasnya di kuliah terakhir, kita membahas sebuah film. Film itu membahas ke evolusi pikiran manusia, dan bagaiman kita sebagai spesies akan (pas-nya sudah sih) evolusi dari kemajuan agrikultur, terus industri, terus sekarang komunikasi, dan sampai akhirnya… kita akan bersatu pemikirannya.

Topiknya tentunya sangat relevan dengan interconnectedness. Dan banyak quack science/filsafat lagi…

Jadi, hari ini, aku akan membahas tentang si film ini, dan ilmu filsafat yang ada di dalamnya, tetapi mengemasnya dalam konsep teknologi, programming dan AI… Lagi tentunya. Sebelum artikel ini ada juga artikel AI yang lain, dan bisa dibaca dengan klik link ini…

Tentang filmnya… Film-nya sendiri film lama, dan judulnya udah aku lupakan, karena nginget judul itu super susah, dan juga nginget nama pembuat film-nya juga… susah… Tapi dia membahas kemiripan banyaknya hal dalam alam dan kemajuan manusia sebagai spesies. Orangnya sendiri merupakan expert computer science, yang belajar filsafat timur, dan juga medis, tetapi seriusan, aku gak inget namanya… Dan googling dengan keyword “Computer Science Expert with medical and philosophy background” tidak menghasilkan apa-apa.

Untungnya aku inget film-nya itu film tahun 80-an, kalau gak 83, 85, dan atas dasar itu… film ini sudah cukup lama gak dibahas, jadi mari kita bahas 😀

BTW Kemungkinan AI akan dibahas sesudah chapter Pattern ini, jadi jika gak minat baca tentang pola, maka silahkan di skip…

Patterns

Segala sesuatu dapat dimulai dari beberapa pola. Dan di film ini ditunjukkan bahwa dari gambar yang diambil dari bulan. Bumi dari luar angkasa sangat mirip dengan beberapa perumahan di US jika diambil dari atas pesawat.

Dari sini, ada quack-y science yang berusaha connect the dots antar si pola yang similer ini. Nah, atas kemiripan pola ini, ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah indirect symbol ke interconnectedness dan universal mind. Pola ini juga kurang lebih dibahas kalau si pola-pola ini akan pada akhirnya fit itself onto the puzzle, hingga kita yang dulunya super individualistik, menjadi sama dengan orang disekitar kita, dan menjadi gerigi yang menjalankan jam dengan orang dari negara kita, lalu negara kita akan menjadi gerigi untuk region seperti South East Asia, hingga akhirnya region ini adalah gerigi untuk planet Bumi.

Layaknya di Star Trek yang gak ngeliat international waters sebagai perbedaan asal negara, tapi melihat international waters sebagai lautan, dan setiap penghuni planet adalah warga dari planet itu.

Kembali ke Holarchy of course… Nah, dari teori holon ini, akhirnya kita akan menyatu dan melupakan border international dan menjadi warga planet Bumi.

Ini sedikit mengingatkanku pada bendera-bendera di Star Trek… Ketika logo dari bendera planet Bumi adalah sebuah bumi-nya sendiri.

Nah, tentunya masa depan Star Trek masih super duper jauh (Kalau akan ada intergalactic waters ala Star Trek nanti… semoga aku masih hidup untuk witness itu). Tetapi tentunya pola ini juga ditemukan di evolusi. Sejak bakteri pertama bahkan…

Saat bumi ini masih baru saja menjadi sebuah planet dengan air, tanpa adanya kehidupan… Kehidupan itu muncul begitu saja. Stephen Hawking pernah membahas probabilitas sebuah planet dengan adanya kehidupan ini… Dan sejujurnya belum ada pola. Kecuali nanti nongol di Multiverse tiba-tiba ada pola satu universe satu planet hidup. Intinya so far belum ada pola.

Tapi, sejak adanya kehidupan dalam bentuk algae dan bakteria, kehidupan bertumbuh makin kompleks, dan kompleks, dan kompleks. Si Bakteri, atau universal governor ini kekeuh bosen dengan apa yang ada dan menyuruh hal-hal kecil, yang lebih kecil dari debu ini untuk menyatu, dan membentuk hal baru.

Hal baru ini akan terus terbentuk, terbentuk, terbentuk, terbentuk dan terbentuk sampai… entah kapan. Intinya, alam semesta, atau Universal Governor ini akan terus menciptakan hal baru dengan cara menyatukan banyaknya hal yang sudah ada ini. Sampai ada suatu spesies, atau realitas baru yang tercipta…

Nah, tentunya, sekarang si Universal Governor ini rada mentok dalam mau maksa evolusi… Ini nih manusia, dikasih otak malahan ngerusak bumi. Jadi mungkin dia akan maksa dan membuat sebuah generasi yang hidupnya super duper rely ke sosmed, teknologi, dan internet 😀 . Jika kita akan menjadi spesies yang lebih kompleks dalam jutaan tahun, si Universal Governor ini akan mencari cara untuk memaksa kita menjadi lebih kompleks dalam waktu yang gak selama itu.

Oh, tapi mungkin aja sih kita tidak akan physically menyatu dalam catatan sebuah spesies, mungkin saja kita akan menyatukan pikiran kita, dan yah… sudah dibahas di atas. Tapi, pola pikiran ini belum ada sayangnya… Karena so far baru Manusia yang cukup intelijen untuk interconnect minds secara manual. Tapi for your information, struktur otak Lumba-lumba jauh lebih kompleks dari struktur otak kita, dan manusia rata-rata IQ-nya dibawah seekor simpanse…

On topic…

Nah, sekarang baru aku mau bahas teknologi, dalam konteks dimana si mesin akan (ATAU SUDAH bahkan) menyatukan kita…

Global Connection

Sekarang untuk menyatukan kami para manusia, untuk menjadi sesuatu yang lebih besar lagi, tentunya ada metode yang “paling” mudah. Sekarang jarak antara negara dan border mulai makin invisible. Seperti seringkali dibahas. Kita akan mengetahui sebuah pengeboman di Syria, dalam waktu yang sangat rendah. Mungkin jika dihitung berapa lamanya, paling lama berita tentang terrorism gitu mungkin teh udah ada di website berita Indonesia sesuai dari waktu tempuh Jakarta Bandung, sebelum macet tentunya. Sekitar 90-120 menit.

Tentunya ini semacam bukti dari blurring dan pengurangan jarak antar dua tempat ini. Meski kita gak physically ada disana, kita sudah ada di sebuah stream of ideas. Dimana kita menerima, ataupun memberikan informasi ke seluruh dunia.

Sekarang juga, dengan membaca artikel ini, kita sudah support Interconnectedness dan memperdekat jarak antara diriku dan dirimu. Gak, ini bukan joke referensi PDKT, kaya kadang aku suka nge cie in kalau keluar kata berduaan… Kali ini serius.

Interconnectedness sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu koneksi pemikiran dalam skala global.

Nah, untuk itu, aku akan mengambil internet untuk cross reference si koneksi pemikiran ini… Aku akan google internet dengan internet… 🙂

Definisi mentah, langsung kopas: a global computer network providing a variety of information and communication facilities, consisting of interconnected networks using standardized communication protocols. (Sebuah komputasi [penghitungan] global  yang memberikan bermacam jenis informasi dan fasilitas berkomunikasi, yang termasuk network interconnected menggunakan protokol komunikasi)

Dari definisi mentahan aja ada kata yang sangat mirip, yaitu global network dan communication, dan bahkan ada kata interconnected juga. Untuk pemikiran, tentunya bisa digunakan sinonim Ide, dan kurang lebih, banyak orang bertukar ide di internet. Ide yang ditukar-menukar ini… Kualitasnya gak usah dibahas, emang ada banyak typical internet people, tapi tetep, kasarnya dia sebuah ide yang ditransfer.

Udah dong ketemu modern day interconnectedness… Quest kita selesai!

YES BEBAS!

(OY AZRIEL!)

Ah shoot, diprotes…

(Kamu lupa bahas AI 🙁 )

AI itu bahasa jepang untuk cinta… Jadi AI KAMU! itu bisa ditranslate jadi cinta kamu :3 …

(Enough of the jokes… bahas AI dong…)

Takut terkesan dark…

(Nasib, udah dijanjiin)

Ya sudahlah, mari berkomitmen…

Percakapan antara diriku dan pikiranku sudah dituangkan, jadi, mari kita bahas Artificial Intelligence, dan bagaimana dia bisa semacam mengikuti pola yang aku maksud diatas, atau bahkan menjadi Interconnectedness planet bumi yang selama ini dicari-cari sama Universal Governor ini…

Interconnectedness in Artificial Intelligence

Jadi, ingat kalimat ini sebagai disclaimer di conversation di atas Takut terkesan dark… Ini memang terkesan dark. Bukan hanya dari teori grow-smarter-and-destroy-humanity-thing-y . Tapi memang, mereka bener-bener bisa… like… yeah replace us.

Jadi… Artificial Intelligence bisa berupa software seperti Ultron, dan Skynet, ataupun juga bisa hardware seperti Baymax. Ultron dan Skynet ini yang akan diambil dan dibahas di artikel ini.

AI macam Ultron dapat dengan mudah membuat kopian dirinya dan memindahkan kesadarannya ke sebuah mesin lain. Dia juga bisa menyuruh mesin untuk membuat dirinya agar banyak fodder machine untuk mentransfer dirinya sendiri. Selain mentransfer kesadarannya yang se infinite internet (literally), dia bisa menduplikasi dirinya. See where this is going?

Singkat cerita, AI akan dengan mudah mengcover universal mind dan interconnectedness pada level global karena jika seluruh penghuni bumi non-organik, mereka punya suatu built in Interconnectedness, dalam bentuk internet, yang punya definisi yang nearly sama persis 🙁

Selain itu, dia bukan cuma bakalan menyatukan pemikiran planet bumi ini, tetapi mereka juga jauh lebih pintar dari kita. Dan mereka gak kena bias emosi. Jadi jika musuh bumi terbesar saat ini adalah Trump dan Kim Jong Un… Well, dalam beberapa bulan/tahun, mereka akan menjadi AI. They outsmart us, they ignore their feelings, cause they don’t have any, they are basically connected by design.

Jadi buat apa Universal Governor ini nyimpen kita… eventually entar bakalan diganti sama model baru juga… pertanyaannya kan kapan…

TETAPI! Ingat, Universal Governor ini gak bakalan ngebunuh kita, atau menciptakan pembunuh kita kecuali dia bener-bener perlu. Wait, kayanya prosesnya udah dimulai deh… Oh dear…

Virus!

Bukan virus komputer, tapi virus yang berusaha dimusnahkan di board game macam pandemic!

Yeah well, virus ini spesies baru yang ukurannya EXTREMELY kecil. Tidak mengikuti proses atau pola yang sudah ada… Dan yah, dasarnya ada cult atau conspiracy theorist, yang support bahwa Virus akan memushankan manusia. Karena mereka gak peduli sama pola yang udah ada, dari bakteri ke tumbuhan, dan lain-lain tadi, dan sampai akhirnya, mereka memang senjata paling ampuh untuk genosida spesies…

Hanya paragraf pendek aja, dari dunia filsafat dan biologi, virus itu hal super baru dan dia semacam keluar dari pola, jadi mungkin aja tujuannya dia diciptakan untuk memusnahkan kita… Kenapa tidak? 🙁

In Conclusion

Kesimpulan hari ini… Mungkin terkesan dark…

Gak ada tujuan dari kita udah stray dari tujuan dan logika mendasar spesies. Gak ada nilai plus dari kita berusaha untuk survive. Semua hal yang dimulai ada ujungnya, dan sejujurnya, waktu yang super relatif ini akan menentukan. Kenapa menurutku gak ada tujuannya dari kita berusaha survive atau stray dari logika mendasar spesies?

Sejujurnya menurutku sudah cukup telat. Dengan AI yang makin maju itu, dan virus yang makin kuat itu, dirasa dua itu yang akan balapan mengalahkan kita… Apakah kita akan mati dengan cara organik atau anorganik tapi? nah…

Untuk memberi cahaya dan membagi sedikit hope 🙂 . . . Kembali ke menjauhi atau stray dari logika mendasar spesies. Manusia cukup pintar untuk berhenti, mengembangkan AI manusia cukup pintar untuk membunuh virus. Hanya saja, kapan kita akan berhenti? Jangan sampai Loren Allred benar dan… ini terjadi….

Yah well, just feel that what you have is enough, and everything will be fine 😉

Sampai (semoga) besok!

Infinite Mind… dalam dunia filsafat…

Infinite Mind… dalam dunia filsafat…

Dalam dunia nyata, infinite mind bisa saja berarti sebagai sebuah terapi dari PTSD, dan abis baca-baca dikit tadi pagi yang terkesan adalah sebuah motivational-y things. Dan yah, itu rada-rada gak cocok sama bayanganku.

Nah, tapi Infinite Mind di dunia filsafat punya arti yang berbeda… karena sebenarnya dari topik interconnectedness dan universal mind, sebuah Infinite Mind adalah governor dari Universal Mind-nya sendiri. Dan dia semacam supir dari mobil alam semesta ini.

Catat sedikit dulu, bahwa pertanyaan hal yang membuat alam semesta ini tick dan tock selalu diberikan jawaban jelas, dan dogmatik. Terus jawaban ini juga biasanya terhubung dengan dunia supernatural, dan jawaban ini turun dari generasi-generasi sebelumnya, tanpa ada yang mau bother ngedebat sedikitpun… Atau kalau didebat dianggap rada-rada gila dan aneh orangnya.

Jawaban ini biasanya dijawab dengan jawaban… tuhan. Dan… err… yah turun dulu dikit dah.

Tapi, karena ini subyek sensitif, harap catat disclaimer ini dulu sebelum masuk dalam artikel:

Artikel ini membahas dari perspektif filsafat, jadi dimohon untuk jangan nyangkut di paradigma dari yang kita ketahui, dan tolong jangan menilai di muka…

Untuk sekarang juga tolong sedikit kesampingkan definisi tuhan dulu, karena jawaban itu sudah terlalu pasti dan solid sehingga tidak bisa didebat dari perspektif empiris.

Sesudah disclaimer rada panjang, langsung weee masuk yuk…

Defining Infinite

Nah, kalau kita mau masuk rada dalem… gak mungkin kalau gak punya definisi infinite… Nah, of course semua orang tahu logo infinite gimana, dan kurang lebih itu membahas sebuah cycle yang ga berhenti-henti, makanya dia logo-nya gak punya ujung. Tampak seperti sebuah loop…

Tapi, dasarnya Infinite itu berarti sesuatu yang… mengagumkan, tapi dia… err, menurut orang Yunani dengan konsep Apeiron mereka, infinite itu sia-sia, dan juga menakutkan…

Sebelum kujelasin, ada juga definisi lain dari infinity, yang berarti tak terbatas. Karena gak ada batasnya itu, dia jadi tak jelas, alias Gaje, dan juga, dia gak mau terikat dan terestriksi sama suatu peraturan… Alhasil, infinity adalah sesuatu yang… tampak… chaotic. Dari kata chaotic itu, dia branch out ke suatu hal yang kuat, tapi menggunakan kekuatannya untuk hal semena-mena.

Karena membaca paragraf rada panjang gitu mungkin aja membingungkan… jadinya kubuat jadi chart aja deh…

  • Infinity = mengagumkan. Menurut orang Yunani… Rasa kagum dari infinity itu menakutkan.
  • Infinity = sia-sia, karena dia tidak tak berbatas, info mengenai dirinya jadi gak jelas
  • Infinity = gak jelas, karena dia gak mau terikat ataupun terestriksi aturan, jadi dia gak punya bentuk. Menurut hukum alam, hal yang gak punya bentuk ataupun tujuan, itu hal yang… semena-mena.
  • Infinity = chaotic, tentunya kalau gak ada bentuk dia chaotic.

Nah, sekilas, sesuatu yang gak ada batasnya itu… negatif banget. Dan apakah sesuatu yang berbatas itu hal yang baik? Gak juga sih, kalau kita liat dalam perspektif seperti… ini.

  • Finite = terbatas, tertib, tertata, jelas, dan aman
  • Finite = pasti, hal yang aman biasanya aman karena dia jelas
  • Finite = Harus diperjelas, dan harus ditata, kalau belum jelas, buat sampai dia jelas.

Nah, jika ngeh, hal yang bersifat positif aku buat italic, dan aku ubah warna dari hal yang jelas negatif… Tapi, sekali lagi, coba pikir deh… Ini itu mirip banget sama konsep Order and Chaos dari orang Mesir. Jadi, infinite dan finite ini, konsep yang berarti order and chaos, dimana satu itu rapih dan tertata, dan satu itu berantakan, dan perlu ditata.

Keduanya sama-sama netral, gak ada yang negatif ataupun berbahaya…  karena sesuatu yang chaotic juga sebenernya ga selalu negatif kok. Cuman ya berantakan dan kacau aja 😉

Apakah Realitas Finite?

Nah, beres dapetin definisi, langsung masuk pertanyaan terbesar hari ini, dan sejujurnya ini akan membawa kita kembali ke Democritus, terus ke fisika quantum, dan sejujurnya sangat-sangat membingungkan.

Untuk mencari tahu apa realitas yang finite, kita harus cari bentuk-bentuk lain dari realitas tentunya. Selama ini, orang-orang (or at least physics) menjelaskan bahwa realitas berdasarkan dua cara, atau mungkin arah adalah istilah yang lebih tepat.

Ada orang yang melihat dari ukuran paling massive ke ukuran kecil, ada orang yang mencari tahu dari hal-hal yang lebih kecil dahulu sebelum melihat yang besar.

Dari situ kita bisa lihat, apakah ada hal yang infinitely small, dan apakah ada hal yang infinitely large?

Untuk patokan abstrak, cukup pake yang namanya angka 🙂 Abstraknya, ada satu hal yang infinite, dan ada angka yang belum ada batasnya, tapi terbatas. Jadi sayangnya untuk patokan abstrak, yang biasaku bahas, gak bisa dipake hari ini…

Nah, untuk pertama-tama, kita bahas yang paling kecil dulu sebelum kita masuk ke yang besar…

Infinitesimal (Infinitely Small)

Kembali ke Democritos, orang yang pertama kali memunculkan konsep Atom…

Dan konsep dari Atomos (ancient greek for Atom) sendiri adalah unsur yang tidak bisa dibagi lebih lanjut lagi menjadi hal yang lebih kecil, dan kecil lagi. Untuk itu, apakah karena dia gak bisa dibagi lagi dia jadi sesuatu yang, tidak terbatas?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan itu Atomos sendiri berarti, indivisible, dan andaikan kita mengambil tali sepanjang 30 centimeter, dan membaginya sampai habis, dan habis, dan habis, mengikuti Paradoks Zeno, mencari titik tengah dari suatu hal sampai tepar…

Coba bagi tali pendek, menjadi dua, dan bagi tali yang udah jadi dua itu jadi 4, dan ulangi lagi sampai jadi 8, dan ulangi sampai kamu pusing, dan serasa seolah-olah si tali itu udah gak ada batasnya… Well… umm… Yah, andaikan si tali itu udah dipotong menjadi kecil banget itu… dia tetap saja merupakan bagian dari satu tali yang finite itu… Kalau ini terkesan kaya holarchy, atau kaya quanta… sabar… (or click the holarchy article)

Menjawab pertanyaan di atas tadi…

Justru kebalikannya sih… Sanking kecilnya dia sebenarnya terbatas. Dia tidak cukup kecil untuk jadi sesuatu yang infinite, karena suatu hal itu tidak bisa terlalu kecil untuk menjadi berbatas. Eh tapi kan sekarang kita udah di abad ke 21, dan di abad ke 21 ini, konsep sesuatu yang paling kecil itu Quantum particles…

Yap itu ada betulnya, dan bahkan sampai sekarang, banyak hal yang terbilang serba relatif gara-gara Quantum Gravity… Tapi dari penemuan quantum fields, dll, banyak hal yang akan (atau sudah) berubah… Untuk itu development perspektif kita harusa kembali ke ruang-waktu dan partikel sejak zaman Isaac Newton…. relevansi akan nyusul di bawah.

Jadi, awalnya Newton bilang bahwa ruang dan waktu itu dua entitas terpisah, dan partikel itu sudah cukup untuk menciptakan suatu hal yang baru… karena dia adalah entitas sendiri… Dari sini lah

Terus nongol Faraday – Maxwell, dimana partikel itu gak ada artinya sampai adanya medan gelombang yang mengubah banyak hal. Then we have Einstein’s Special Relativity, yang setuju pada teori Faraday dan Maxwell yang bilang bahwa medan dan partikel itu terpisah… tapi ruang dan waktu itu nyatu dan saling bisa mempengaruhi satu sama lain…

Einstein pun belum beres sih, dia juga bilang di general relativity, secara teknis medan juga bisa mempengaruhi ruang, dan ruang bakalan mempengaruhi waktu. Hubungan segitiga antara medan,  ruang dan waktu ini disebut co variant fields.

Eh terus ada Quantum mechanics 🙂 yang pecah lagi, dan bilang bahwa dalam dunia quantum itu, medan dan partikel itu punya 2 way relationship yang mirip banget sama ruang-waktu. Tapi si Quantum mechanics pun malah jadi makin nyatu lagi… Nah, dari quantum mechanics ini, baru naik dia ke yang paling baru… quantum gravity. Dimana segala sesuatu itu relatif, dan akan berubah sambil mempengaruhi satu sama lain…

JAMIN PUSING! Iya kan? Jangan bohong lu… 😀

Kalau ga pusing bagus! Tapi kalaupun iya gapapa, it’s a bit hard to take in…

Nah, apa relevansi ini sama filsafat dari infinity? Well, intinya, teori mengenai alam semesta ini akan terus menerus berubah, dan kadang menjadi lebih sederhana… tapi seringnya sih jadi makin rese dan memberi migrain. Tapi, ya, ini menunjukkan bahwa suatu universe quanta yang infinite itu mungkin aja kok…

Oh wait, kita belum masuk quanta…

Bentar dulu, sebelum masuk quanta, so far, perspektif kita mengenai alam semesta ini makin kecil, dan mengecil, mengecil untuk sekarang, dan kayanya kalau kita bicara hal yang relatif ini, apakah mungkin kalau yang menjalankan alam semesta itu sebuah partikel yang infinitely small? Well balik lagi… nggak… Nah, sekarang baru masuk quanta…

P.S. sorry, se sorry-nya sorry kalau pusing, karena memang sejujurnya, ini overwhelming. Mengingat ada satu hal yang mematikan teori lain karena sebuah argumen absolut… Jadi, dia cukup rese… Ya, oleh karena itu… maaf banget kalau bingung.

Quanta! Pembunuh Argumen Infinitesimal

Menurut quantum physics, Quanta (atau bagian) dari realitas itu adalah benang-benang yang menenun dirinya menjadi suatu bentuk atau force yang fundamental. Pada dasarnya si realitas ini dibangun dari bagian yang finite, baru menjadi satu.

Tapi apakah si satu ini infinite? Yah sedikit menaikkan hope reader dulu… Hasil jaringan antar tenunan benang ini gak berbentuk! Wah cirinya Infinity!

Nah, sekarang membunuh argumen infinitesimal-nya… Gak dia gak infinite, cuman gak ada bentuknya aja… Kenapa bisa ada batasnya? Jadi ya, pertama-tama meski dia gak ada bentuknya, tenunan ini terbatas, dan bisa diukur… Meski dia gak pernah nyangkut dalam suatu stasis dan selalu berubah, dia selalu ada di masa kini, tanpa peduli apapun yang pernah ataupun akan terjadi.

Nah, tetapi sekali lagi, perubahan quanta ini terbatas, karena kembali lagi ke poin pertama… jaringnya sendiri sudah terbatas, dan suatu hal yang truly infinite itu pasti-nya fundamentally infinite… Dan lagian, kalau perubahannya bisa diatur dan diprediksi, meski dia diluar dari batas waktu, tetep aja finite.

Okay, jadi sesudah semacam membunuh definisi bottom to top dari infinite universe, sekarang coba nyatetnya dari bawah ke atas!

Infinitely Large?

Tanpa maksud memberi harapan palsu… err… jadi, ketahui saja bahwa alam semesta kita itu hanya satu dari sekian banyaknya alam semesta. Dan semua alam semesta ini bisa diukur dengan perubahan quanta, jadi ya, benang tadi masih merupakan aspek dari suatu angka infinity ini. Dan karena itu, kayanya kecil sekali kemungkinan ada suatu yang massively infinite… Maafkan…

Objection!

Layaknya sebuah lawyer yang gak terima kliennya bersalah, ada saja penolakan yang dibuat beberapa orang…

Big Bang and Black Hole

Segala sesuatu ada awal dan akhirnya… Nah, kita sudah somehow narrow it down bahwa, big bang akan menjadi awalan dari si alam semesta ini, dan diakhiri oleh black hole.

Layaknya order dan chaos, akhir dan awal juga sama aja, dan eventually suatu ledakkan energi yang akan menciptakan alam semesta ini akan dimakan gravitasi, yang dihasilkan oleh ledakkan yang sama.

Pertanyaannya adalah, kalau emang alam semesta itu terbatas, shrink dan grow dari si alam semesta itu gimana? Dia akan tumbuh dan mengecil terus, mengikuti sebuah cycle yang endless… Sampai-sampai, ya… kesannya infinite kan?

Before and After the Universe

Kan sekarang pasti ya, ada big bang dan black hole… berarti ada awal dan akhir kan?

Nah, sebelum si awalnya itu ada apaan? Sebelum big bang ada apa?  Ada vacuum? Ada tuhan? (UPS, tetep sih, katanya Thomas Aquinas emang gini)… Nah jawaban yang paling lucu berasal dari Benedictus Spinoza… “Sebelum tuhan menciptakan alam semesta, tuhan menciptakan neraka untuk orang yang menanyakan penciptaan alam semesta.”

Yeah well, ada betulnya juga sih… Apaan yang ada sebelum ada alam semesta ini, dan apa yang ada sesudahnya? Ini mungkin menciptakan kebingungan… Karena jika yang ada hanyalah kehampaan, baik sebelum atau sesudah, tentunya setidaknya ada yang terjadi dari kehampaan itu sampai-sampai ada big bang…

Tapi, menurut Aristotle juga, the universe has not always existed. Jadi, tentunya, ada suatu sense yang tak berhingga untuk menciptakan suatu hal yang berhingga…

Atau mungkin aja kehampaan ini gak ada batasnya… who knows?

Alam Semesta itu merecycle dirinya sendiri!

Yah, kembali ke yang pertama, ketika awal dan akhir itu ada, maka suatu hal itu tampak seolah-olah infinite, karena sesudah suatu hal berakhir, maka ada hal baru yang mulai.

Jadi, ada orang yang menanyakan seperti ini… “Apakah cycle alam semesta itu tak berhingga? Atau dimensi alam semesta yang tak berhingga?”.

Sejujurnya aku kurang mengerti penjelasan ini, tapi, kayanya gak beda-beda jauh dari argumen pertama…

 

Dan kayanya segitu aja argumen dari para lawyer yang membela ketidak-berhingga-an.

In Conclusion

Mari kita simpulkan artikel hari ini…

Aku yakin sih pada ngarep, lah ini orang… ayo cepet dong bilang… APAKAH ALAM SEMESTA INI TERBATAS ATAU GAK!?

Untuk itu, aku mau minta maaf, aku gak mau menyimpulkan itu, silahkan simpulkan sendiri…

Tolong jangan marah 😀

Lucu gak sebenernya kalau pada ngeh… artikel ini tidak membahas sedikit pun mengenai Infinite Mind ini… Tapi coba deh, inget dikit, apa yang kira-kira menjalankan alam semesta ini? Nah…

Untuk itu, aku akan quote mendiang Stephen Hawking (Yes, aku sering banget ngequote Professor Hawking). Keberuntungan adalah suatu hal yang presisi, dan dasarnya dialah sebuah fundamental dari hukum fisika yang gak bisa dijelaskan dengan mudah. Namun, sebuah keberuntungan tentunya dicocokan untuk tiap orang. Tanpa ilmu filsafat, kita takkan bisa menjelaskan keberuntungan. Keberedaan kita sendiri merupakan sebuah desain yang dicocokan untuk kita sendiri, dan jika kita ingin hidup, tidak banyak yang bisa diubah mengenai itu.

Bingung koneksinya apa? Nah, koneksinya itu ada di Infinite Mind… Tentunya, yang mengendalikan alam semesta ini adil, dan mampu memberikan tiap orang kekuatan dan kelemahannnya.

Semoga artikel ini,  dapat menghibur dan mencerahkan, sampai besok 😀

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Jadi sekarang beginilah caranya. Yes I really don’t have any other comments. Hanya begitulah… Aku bener-bener bakalan ngebahas poinnya satu-satu. Dengan pengecualian perspektif yang kelima karena perspektif kelima itu… sensitif dan aku tidak ingin offend siapa-siapa. Jadi langsung aja masuk ke artikelnya kali ya…

Oh btw, baca dulu artikel ini, dan artikel ini untuk perspektif materialis. Kedua artikel itu penting (especially yang pertama), dan emang kepake untuk referensi membaca di artikel ini.

Yes ini sebuah kuliah dijadiin sebuah serial artikel, mostly because memang bisa dikupas sedalam ini, dan minggu ini ga ada kuliah di Unpar karena tanggal merah… 🙁

So, sesudah 2 paragraf (3 sama ini), baru kita masuk ke artikelnya.

Definition

Perspektif Vitalis… No, it’s not the name of a soap brand, it’s not.

Pertanyaan yang ditanyakan adalah energi apa yang menggerakkan alam semesta ini?

Perspektif vitalis ini terbilang relatif baru, in the sense that… ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, tetapi tidak dalam konteks Interconnectedness dan Universal Mind. Di zaman dahulu jawaban energi yang menggerakan alam semesta ini ada di dewa-dewa, dan sampai sekarang pun tuhan (di agama apapun) masih cukup mencakup perspektif vitalis ini.

Tetapi, dalam aspek Universal Mind, Vitalis ini lebih masuk ke… energi, bukan pikiran itu sendiri. Alhasil aku tidak bisa memasukkan tuhan, ataupun dewa dalam perspektif Vitalis.

Nevertheless ini dah rada off topic, jadi kembali ke definisi yang ingin aku ambil…

Untuk perspektif vitalis di artikel ini, harap catat (don’t… it’s a metaphor) bahwa sebuah pikiran bukanlah energi (unlike the materialist perspective), dan energi ini lebih ke… suatu hal yang menjalankan pikirannya, bukan pikirannya sendiri… (bingung kan?)

Jadi jika alam semesta ini adalah sebuah mobil, para materialis akan membahas mobil itu sendiri secara detail, sedangkan para vitalis akan lebih fokus pada cara menjalankan si mobil itu, dan bensinnya si mobil.

So, I hope that analogy kinda clears your mind a bit, dan semoga ga terlalu pusing… karena ya… sekarang kita akan maju…

Also, andaikan belum cukup jelas atau masih bingung, ini lebih (heck, jauh lebih) scientific dari para materialis, karena seperti disebut di awal, memang beda era, dan era para vitalis ini sudah mencapai titik dimana… sains sudah develop, dan kita sudah tidak stuck ke bahan-bahan di alam semesta, melainkan sudah ke… apa yang membuat alam semesta berjalan.

Micro Biology

Spoiler Alert: kalau ga kedengeran kaya mikro biologi, atau biologi pada umumnya, sama kok aku juga berpikir begitu.

Yes, what you’re going to be reading is a work from Rupert Sheldrake, and to this day he’s still very relevant with microbiology.

Nah, jadi… Rupert Sheldrake menyebut bahwa energi, like… every single pieces of energy, be it, potential, actual, solid, theoretical, dan istilah lain-lain yang belum disebut, atau ada istilah yang ga bener tapi kesebut… intinya, semua energi tanpa didescribe asalnya, jumlahnya,  atau jenisnya sudah mulai menggerakkan alam semesta ini.

That is a hidden message for, don’t stereotype, really, don’t. It’s pointless, everyone’s got a use in life anyways. (ini bercanda yang serius btw)

Nah energi ini tidak punya bentuk yang solid, dia terlalu… shattered untuk memiliki bentuk. Dia terpecah-pecah, dan, pada dasarnya mirip ruh yang scientific. Dia butuh vessel untuk bisa bekerja. Mirip seperti bensin dalam mobil tadi, si bensin tidak punya real value sampai dia dimasukkan dalam mobil dan menggerakkan si mobil.

Nah, tapi, ada hal yang belum dibahas disini. Untuk si bensin bisa menggerakkan si mobil… mobilnya ga bakalan bisa gerak, kalau si mobil ini hanyalah frame dengan 4 roda. Nope, kita butuh mesin untuk memproses si minyak.

So far aku udah nemuin analogi buat alam semesta kita, which is a car, yang bergerak dan bekerja dengan bantuan energi, which dijadikan analogi bensin… tapi, umm… ada yang kurang, mana si mesin yang memproses si bensin? Di alam semesta kita, ada yang namanya medan, dan di medan ini, baru jenis energi mulai berpengaruh, karena si energi sudah tidak lagi abstrak.

Untuk menggunakan analogi lagi… ada beberapa jenis mobil, misalnya mobil diesel hanya bisa dikasih minum bensin diesel, supercar akan lebih efisien jika diberikan bensin yang… proper, dan di enhance dengan banyaknya chemical, city car cukup diberikan bensin model pertalite, pertamax tanpa harus terlalu peduli dengan jenis bensin-nya. Masih ada mobil yang hanya bisa mengonsumsi solar, dan ya… so on.

Medan ini, atau mesin di alam semesta kita ini, memilah energi yang diterima dan hanya bisa diberi energi yang “cocok” dengan medannya. Pada titik inilah aku bingung pas kuliah… “What on earth does this have to do with Microbiology?”.

Well, jadi to start it off, ada banyak medan, seperti, Medan Kuantum untuk Quantum Energy (branch: Physics), Medan Gravitasi, yang memanage daya tarik antar dua hal (Branch: Physics), medan elektromagnetik, yang memanage magnetism, also saying that opposites attract… 😉 (Branch, sekali lagi, PHYSICS), dan… yang terakhir… Morphic Resonance.

Apa itu Morphic Resonance? HAHAHA… Prepare to encounter confusion. Pada titik ini aku yakin ini sesuatu yang bilang… physics, more physics I guess… Tapi ternyata Morphic Resonance adalah gelombang supernatural (yes, Mr. Sheldrake wrote SUPERNATURAL in his work, aku ga ngarang) yang mengendalikan, atau mengatasi pikiran antar makhluk yang terpisah, dan menghubungkannya. Morphic resonance juga merupakan plane/medan untuk kesamaan pattern dalam tingkah laku hewan-hewan.

Jadi di titik inilah aku sedikit yakin ini ada hubungannya dengan Neurobiology, which does work pretty well with Microbiology, and has some relevance with it. Tapi kalau merhatiin ulang di paragraf atas, reader bakalan ngeh. Ngeh bahwa dari gaya wording dan tulisanku, berdasarkan Morphic Resonance, sebuah pikiran adalah energi. Dan dalam konteks interconnectedness dan Universal Mind, jika sebuah pikiran adalah energi yang harus masuk dalam suatu vessel, in this case, the highest mind, or our mind…

I’ll let you conclude, selamat berpikir! (P.S. Ini berarti perspektif vitalistik mungkin saja benar dengan bilang bahwa yang menggerakkan alam semesta ini memang sebuah energi, tetapi hanya dalam… format berbeda)

Also, no there really wasn’t much on microbiology and how it correlates here.

Quantum Physics

Cung kalau udah nonton Ant-Man! Sure, if you’re a geek you’ve watched that, aku yakin banyak yang nonton juga sih. Cung kalau belajar fisika kuantum beres nonton Ant-Man! No? Nobody? What? That was the most interesting part! (FYI kalau ada tolong bilang di comments section aja…)

Quantum physics adalah fisika yang membahas mekanisme dan hukum fisika dalam dunia subatomic. Dimana hukum fisika tidak lagi apply. Tapi disini, aku belum cukup banyak baca dan belum bisa conclude apakah ada hubungan dari dunia kuantum dan dunia nyata.

 According to quantum physics… Segala hal terjadi dan diciptakan oleh fluktuasi gelombang. Gelombang ini tidak pernah berhenti bergerak, dan dia adalah bagian dari energy field yang semuanya adalah bagian dari hal lain, dan juga merupakan satu kesatuan.

(OKAY hang on, aku tahu pasti pada pusing)

Singkat cerita, energi adalah gelombang, gelombang ini bergerak terus menciptakan dan merubah hal-hal. Gelombang dan dunia ini adalah satu kesatuan dan juga merupakan spare parts, dan komponen dari mesin yang lebih besar. Hopefully ini lebih jelas.

Semua hal disini terbilang kompleks, dan kita akan sering menemukan paradoks, dimana bahkan di tempat hampa tetap ada gelombang, dan suatu hal tidak akan pernah menjadi sebuah jawaban sampai dia kembali ke dunia nyata.

Semua hal, terjadi karena gelombang, gelombang inilah energi. Gelombang ini juga terjadi kalau ada gerakan, baik itu secara fisik (alias tubuh kita bergerak), atau itu sebuah ide baru yang baru kepikiran.

Karena sekarang topiknya gelombang, anggap saja sebuah pikiran adalah pemancar radio yang juga bisa menangkap gelombang lain, sekaligus mengirimkan gelombangnya sendiri. This exchange of ideas is the aspect of interconnectedness according to Quantum Physics.

Harusnya sih ga terlalu memusingkan aspek interconnectedness-nya. Of course yang bikin pusing tuh bukan interconnectedness-nya tapi quantum physics in general. Jadi akan sedikit kujelasin dulu deh.

Dalam fisika kuantum, sebuah vacuum bukan sebenarnya ruang hampa. Vacuum itu hanyalah suatu tempat yang sedang dijelajahi dan “dibentuk” oleh gelombang. Sesudah dibentuk oleh gelombang, hasilnya akan muncul, dan vacuum ini bukanlah sebuah ruang hampa lagi, karena bukan hanya sebuah probabilitas yang masih belum diexplore, melainkan sudah menjadi sesuatu yang solid.

Ini di apply oleh Erwin Schrodinger yang membuat eksperimen Schrodinger’s Cat… Di eksperimen itu, ada sebuah kucing yang diekspos dalam radiasi dan/atau gas beracun (ada beberapa versi), dan dimasukkan sebuah kotak. Dalam kotak itu kita tidak tahu apakah si kucing itu mati atau hidup. Jadi berdasarkan fisika kuantum… kucing itu not dead, neither it is alive. Itu paradoks sih.

Hasil dari Schrodinger’s cat tidak akan pernah terungkap sampai kita membuka kotak itu, karena begitu kita membuka kotak itu… fisika quantum tidak lagi apply dan kita kembali ke realm nyata. Ketika kucing itu masih dalam kotak tetapi, ruang hampa itu sedang ditentukan hasilnya melewati gelombang radio yang tadi dibahas.

Yes ini ga terlalu jelas interconnectedness-nya apa, tapi ini bukan cuma ngebahas interconnectedness, but also apparently physics in general

Kesimpulan dari bagian ini adalah… explore future possibilities! Sesuatu yang hampa hanyalah sesuatu yang belum ditemukan ataupun dicoba. (or, kalau mau yang mode easy-nya… You’ll never know till you try). Let’s not be stuck in a quantum stasis.

In Conclusion

Terkadang ada saat dimana kita sebagai manusia tidak punya energi atau merasa bahwa dirinya sedang tidak punya energi untuk menggerakkan dirinya sendiri. Fase ini disebut gabut… (atau mager, atau singkatan lain yang entah aku ga inget)

Tetapi sebenarnya, energi sudah menggerakkan dan membuat kita berpikir, dan energi ini sudah ada dari sana-nya!

It’s only up to us to grasp it, and hold the world and image that we seek.

AHA! Okay jadi ini half a conclusion, dan sebenernya masih bisa ditingkatkan lagi, tapi masih ada 2 perspektif lain untuk dibahas, jadi bersabar yaaa…

Until next time.

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Sesudah ending yang menggantung, seperti semua film Marvel… akan kubahas interconnectedness, dalam suatu image yang definitely… more detailed, dan membahas salah satu dari setiap perspektif yang ada, which is the Materialistic one.

Oh also, the introduction and stuff can be found within this article. Ini semacam sekuel ke short film dengan ending menggantung. But unlike most movies that end in a cliffhanger, jeda antar artikel hanya 6 jam! Tapi please baca dulu artikel pendek itu yaaaa, ada hal yang tidak akan diulangi.

Sebentar dulu, ada artikel lain yang penting dan defining this article in general… Definisi Interconnectedness dapat ditemukan di sini.

Definition

Kalau ada seseorang yang mendengar istilah materialistik, terkadang yang terkesan adalah orang itu ingin mencari worldly pleasure, usually in the form of… money, yang terkadang di reference sebagai materi, hence disebut materialis. Tapi sebenernya perspektif materialistik ini gak ada hubungannya dengan materi dalam konteks ekonomi.

Konteks Materi disini adalah, “matter”. What’s the matter with matter you ask? (Baa Dum Tss) Yah udah dijelasin di “preview” artikel ini sebleumnya sih.

Para materialis ini percaya interconnectedness terjadi karena alam semesta tercipta oleh suatu single substance. And that is kind of why this might seem old. Tapi udah kujelasin tadi, jadi sekarang kita langsung masuk ke bagian detailnya aja deh.

Greek Philosophy

Alam semesta ini memiliki banyak unsur. Tetapi semuanya masih merupakan bagian dari unsur utama. Nah, banyak sekali filsuf Yunani besar yang menyebut APA materi utama-nya ini.

Ada Thales yang bilang bahwa air adalah unsur utama, dan segala sesuatu di alam semesta ini merupakan air, at least sebagian-nya saja. Thales sedikit kurang tepat, karena belum ada konsep cahaya dan gelombang di zamannya, tetapi pemikiran ini cukup spot on.

Sampai sekarang pemikiran ini masih “terpakai” karena jika NASA (or any space organization in general) ingin mencari kehidupan, hal pertama yang berusaha dianalisis dari sebuah planet/satelit adalah keberadaannya air. Di zamannya, Thales sudah sangat maju dengan klaim simpel bahwa Air adalah sumber segalanya.

Tapi umm… Gimana air ini bisa play a part in the big machine of interconnectedness? Thales ga bahas itu explicitly, tapi aku yakin (just an opinion) kemungkinan Thales atau muridnya berasumsi mengenai endless cycle of water, also known as the water cycle… (Hurrah everybody, it’s Captain Obvious!)

Terus ada suatu teori menurut Democritus yang sampai sekarang masih cukup familier di Fisika. Meski Democritus (in a sense) dibuktikan kurang tepat, Democritus sendiri percaya bahwa atom adalah substansi utama, dan paling mendasar diantara molekul dan partikel lainnya. Now we know this is wrong. Ada quantum realm, dan electron dan… yah itu fisika. Bukan bahasanku hari ini.

Tapi tidak seperti banyak filsuf Yunani lainnya, Democritus yakin bahwa yang kita lihat dan rasakan itu bukan bentuk yang mendasar, dan segalanya bisa dipecahkan hingga lebih kecil lagi. Dia menyebut hal kecil ini sebagai atom, berdasarkan kata Atomos, yang berarti… Indivisible. (Or tidak bisa dibuat lebih kecil lagi). Aku ga yakin tapi kayanya ini ga diajarin di kelas Fisika di SMP… SO YEAY! More fun facts.

Koneksi Atom dengan interconnectedness itu apa? Well… let me tell you something. I actually have no clue. TAPI……. Inget, ini masih filsafat yang sangat “mendasar” karena dia memang masih di zaman orang Yunani, jadi teori Atom ini akan memberi kontribusi untuk perspektif lainnya.

CATATAN: Andaikan ada definisi atau miskonsepsi di bagian ini dan kurangnya benang merah dari tulisan yang ini dan yang sebelumnya mohon maaf. Catatan ini untuk memperjelas. Interconnectedness itu bisa berada dalam level Universal Mind yang menjalankan alam semesta ini, dan Interconnectedness juga bisa berada di level tengah, yaitu adanya persamaan pemikiran antar beberapa orang. Jika ada perspektif dan/atau opini yang masih rada gaje, tolong berikan comment, aku akan menjelaskan dengan senang hati.

Modern Science

Dunia ini adalah mesin, bekerja secara mekanis, kaya… well sebuah jam. Layaknya mesin dan alat, dunia ini bisa dianalisis melalui Sains.

But hang on, kenapa ini ada hubungannya dengan Interconnectedness?

Sebentar dulu ya… We’ll get there.

Say hello to the sun. No, not your son. That big thing in the sky you look away from because its so bright. Iya, itu, yang ada department store yang pake namanya dia.

Since 4.6 billion years ago… Matahari sudah menjadi titik tengah Solar System kita. Ada 8 planet yang mengitari-nya selama 4.6 milyar tahun itu. 9 kalau Pluto dihitung, tapi Pluto itu bukan Planet, jadi karena aku specifically nyebut Planet, sayangnya menurut astronomi modern, cycle Pluto sebagai planet putus… On topic.

Anyways, jadi selama 4.6 milyar tahun itu… Matahari mengalami hal yang sama berkali-kali, ia menikmati revolusi Merkurius setiap 1/12 (or satu bulan) dari Revolusi Bumi, dan Neptunus belum pernah gerak sama sekali. Setiap hari, hal yang sama diulang, diulang, diulang.

Nah! Ini merupakan suatu hal yang disebut predictable itu. Jadi, seperti yang aku bilang, semuanya bisa dianalisis karena pada dasarnya, hal yang sama berulang tiap hari, minggu, tahun, sewindu, atau seabadnya.

Ini alasan kenapa jauh sebelum zamannya Newton… Kejadian di alam yang pasti disebut sebagai Hukum. Sesuatu yang tidak bisa dilanggar. jadi, menurut sains modern, interconnectedness ini lebih masuk ke definisi yang menjalankan alam semesta ini, bukan hubungan antar pikiran.

Hukum yang kita temukan (Bukan ciptakan, Newton TIDAK menciptakan gravitasi, dia menemukan keberadaannya.) hanya merupakan penemuan dari endless cycle yang sudah jalan jauh sebelum kehidupan kita.

Jadi materi apa yang menciptakan alam semesta ini memang menentukan apa yang menjalankan alam semesta ini, karena… hukum yang kujelaskan di atas memang terkadang tidak bisa dilawan.

Anomaly?

Off topic dulu dikit…

Apakah kita, sebagai makhluk yang pintar, dan mungkin mendapatkan ilham terbanyak dari Universal Mind, sudah menjadi anomali? Nah… coba pikirin deh.

Semua makhluk hidup mengikuti cycle yang mirip, dan mengikuti hukum yang diberikan alam (salah satu otoritas tertinggi di semesta ini) padanya. Sedangkan kita masih berusaha untuk mencari jalan lain dengan hukum antar manusia, yang hanya otoritas sementara di dunia ini, dan jelas bukan yang paling tinggi di dunia filosofi.

Coba pikirin yaaaa… Just you know a bunch of short thoughts.

Contemporary Materialisticism

(Materialisticism is TOTALLY a word)

No it’s not… kata benerannya Materialism. Yes, ada perubahan kata dan etimologi mendasar.

Dalam materialisme kontemporer, sesuatu yang disebut fisikalisme (which in a sense might sound VERY unscientific, atau ironically, very scientific. Fisikalisme ini percaya bahwa segala sesuatu merupakan konstruksi dari sebuah materi. (Yang mengabaikan teori gelombang dan partikel itu, atau heck cahaya.) Konstruksi materi ini bisa dipahami melalui… fisika (since, it’s physics afterall), neuroscience (karena ide merupakan hasil electronic waves di otak), evolution theory (since… akan dibahas lusa, di perspektif para evolusionis), dan apparently… computer science (like Neuroscience, but not a brain).

Kalau membaca dengan detail  kayanya rada jelas bahwa ini sangat tidak scientific, dan in a sense ambiguous, karena… ada betulnya dan juga terkadang sangat scientific… It’s very confusing. . .

Ga usah dipikirin sih sebenernya… Jadi on topic!

Para fisikalisme ini naik lagi satu level dengan bilang bahwa, memang ada invisible path that connects our brain with other brains. Like.. you know, Wi-fi. Sepertinya masuk akal, tapi juga… ga masuk akal…

Ya ini sedikit mendefinisikan interconnectedness dengan cara yang… a bit odd, tapi efektif.

Ini mencover koneksi antar pikiran, karena jika sebuah ide adalah gelombang listrik (or an email), dan pikiran (otak) kita adalah komputer, kita cukup punya sebuah koneksi (in the form of matter apparently) untuk menjadi wifi yang menyambungkan sebuah ide ke komputer lain.

Not only that, this also, kinda covers that… universal mind that governs stuff theory, karena jika pikiran sendiri adalah sebuah substansi, tentunya punya suatu pikiran yang paling tinggi sangat masuk akal karena… Course, sebuah pikiran paling tinggi dapat mengatur hal-hal lain, karena pada dasarnya dia sebuah materi yang sangat… kuat.

Yeah kayanya pusing banget ya… Welcome to philosophy!

In Conclusion

Menggantung lagi, karena masih ada banyak hal yang emang belum aku cover, tapi untuk semua artikel dalam serial ini, akan aku bahas dengan semacam flashback, kembali ke artikel awal, dan tulisanku tentang Materialistic point of view. Seberapa spot on ilmu yang ku tangkap sebelum baca-baca ulang.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance.
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.

Untuk pertanyaan utama… Semesta ini memang terbuat dari banyak unsur, dengan banyak bentuk dan ukuran, tetapi semuanya memang bisa dibreakdown menjadi lebih kecil. So there’s some form of equality there?

Dia berhubungan dengan interconnectedness karena… well, substance yang sama bisa menjadi jembatan untuk ide dan pikiran. Selain itu, ada langit diatas langit, dan ada suatu hal yang memang di atas pikiran kita ini, jadi andaikan pikiran adalah materi… akan masuk akal jika ada matter yang lebih tinggi yang mengendalikannya.

Untuk poin terakhir… Yeah itu rada salah… Aku belum terlalu mengerti prinsip materialisme sepenuhnya tadi, tetapi ternyata materialisme tidak terbatas ke objektifikasi semesta ini (seperti para filsuf Yunani), tapi bisa lebih menyentuh… daerah lain, dan mencapai benda lain secara explicit. Jadi,karena itu banyak miskonsepsi karena… kurangnya pengalaman, oleh karena itu mohon maaf.

Semoga kesalahan ini tidak mengurangi kesetiaan reader pada blog ini, karena as you might know, everyone is still learning.

Till tomorrow!

Interconnectedness: Different Perspectives

Interconnectedness: Different Perspectives

3 lagi… (Posts to make to pay my debt, during last week’s camp)

Ya, sebenernya kuliah Jumat kemarin lebih pendek dari biasanya, jadi artikel ini juga ga bakalan terlalu panjang. Jadi, sesudah entah berapa artikel menyebut interconnectedness… Akhirnya ada kuliah yang memberikan beberapa perspektif berbeda. Karena sepertinya 1 perspektif tidak cukup memusingkan.

So, here we are!

The 5 Perspectives

Jadi ada 5 perspektif berbeda, in a sense, mereka melengkapi satu sama lain, but… yeah juga ada yang kontradiktif sih, jadi… begitulah (FYI, aku akan bilang begini kalau aku sudah speechless). Oh, dan bukan karena dia memusingkan jadi ga menarik. Justru menariknya gara-gara buat pusing.

Historically speaking, ada yang thinking disini terkesan less scientific, jadi di bagian ini aku juga mau jelasin biasanya filsuf era apa yang masih mikirin perspektif ini.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.
  • Vitalistic: Life Force… Daya/Energi/Kekuatan apa yang menggerakkan semesta ini?
    • Seperti adanya listrik di sebuah elektronik, atau koneksi internet di HP dan Gadget… Para vitalists percaya bahwa karena adanya universal Wi-Fi ini pikiran dapat mudah berhubung dengan satu sama lain. (Yes, in a nutshell, the vitalists believe that interconnectedness is practically a universal wi-fi, not a joke)
      • Perspektif ini lebih modern, karena sudah ditemukannya quantum physics, dan banyak medan-medan lain, seperti morphic resonance untuk menggerakkan suatu benda.
  • System Theory: Connections… Dengan pola seperti apa alam semesta ini dapat bekerja? Hubungan apa yang terbuat dalam sistem ini?
    • Mirip dengan Holon di Holarchy, System Theory percaya bahwa kita semua adalah sebuah… tiny cog inside the complicated engine of this realm. Semua gerigi akan berputar dan bekerja menyelesaikan tugasnya, sambil terhubung dan memutar gerigi lain. (Lengkapnya di artikel yang ada linknya di kata Holarchy itu yaaa)
      • Perspektif ini… sudah ada sejak zamannya Pythagoras, yang percaya bahwa setiap angka punya peran berbeda pada setiap sistem. Luckily, technology supports this theory far more than the materialists… dan sampai sekarang, teori ini masih sering dibahas.
  • Evolusionists: Process… Bagaimanakah semesta berkembang? Sejauh apa semesta ini telah berubah?
    • Para evolusionis percaya bahwa universal mind ini tercipta sesudah evolusi, dan sampai akhirnya kita terhubung satu sama lain, sesudah tiap spesies berevolusi. Bahkan proses evolusi in the first place ini tercipta karena some sort of random number generation oleh Universal Mind. Universal Mind ini pun menentukan siapa yang lebih kuat melewati seleksi alam. Kalau dilihat dari perspektif dark-nya, seleksi alam ini sebuah turnamen dan kita merupakan kompetitor yang ingin selalu bertahan hidup.
      • Perpsektif ini sudah ada sejak… Darwin. It’s rather modernistic. Course, ini terbilang modern karena root dasarnya adalah biologi dan evolusi yang dibuat Darwin.
  • Mystic: Consciousness… Apa perannya kesadaran dalam Interconnectedness?
    • Oh dear… Ini topik sensitif. It really is. Perspektif mistik ini bisa terbilang tercipta dari orang yang mendapatkan ilham/revelasi (or claims to have gotten a revelation, sayangnya meski ini ga scientific, itu salah untuk blindly percaya claim orang-orang), dan perspektif ini sangat relatif ke agama dan penerima-nya. Tetapi hampir semuanya kembali ke fakta bahwa consciousness manusia terpisah-pisah, padahal nyatanya hanyalah satu.
      • Perspektif ini sudah ada sejak agama monotheistic pertama muncul. Teori ini juga ada di culture Hindu, yang memiliki dewa yang tidak manusiawi (unlike European Gods). Sampai sekarang pun karena pentingnya agama di dunia ini, teori ini masih seringkali terpakai.

So after getting the perspectives out of the way, aku mau bahas masing-masing perspektif… di artikel lain… sorry, hari ini sepertinya aku sedikit… slow, dan karena aku emang rada ngutang beberapa tulisan… jadinya ini kupecah dua deh…

Well I really do hope you could understand 😀

The new article would be released later tonight 🙂 (And I’d link it if it was done)

In Conclusion

TO BE CONTINUED . . . .  🙂

A Universal Mind…

A Universal Mind…

 Okay, sebelum masuk ke artikelnya, sorry… Kemarin aku ada banyak hal yang salah… Firstly, philosophy itself emang bisa digunakan untuk memberi/mengemas makna suatu benda. Tapi basically, even empirical science is philosophy, soalnya emang pada dasarnya ilmu empirik dan logika turun dari Aristotle.

Jadi, filosofi sendiri bukan hanya… filosofi, tapi basically everything ada filosofinya… Okay, kalau bingung…

Imagine knowledge is a skyscraper. Lantai dasarnya itu pasti filosofi.

Now onto the article, dari zaman Plato dulu, sudah banyak didebatkan bahwa mind ini connected with each other. In fact, semakin kesini, definisi dari Universal Mind semakin… Universal… 😛 . Basically, yang disebut dengan universal mind itu… well definisinya ada banyak sih.

Kalau mau masuk dalam topiknya sendiri, each theory of what a universal mind is, gets deeper. Sampai makna terdalamnya itu saying that the universe is governed by a certain mind.

Kemarinnya sendiri sih, aku sempet ke Unpar untuk ikut kuliah filsafat mengenai subjek ini. Kuliah kemarin masih basic dan hanya introduction saja, dan dibawakan oleh Professor Bambang dari Fakultas Filsafat Unpar…

On topic, masuk dalam artikel!

Definition

Well, ada 3 definisi dari Universal Mind ini…

  • Principles that apply generally (Immanuel Kant)
  • A connection of thoughts on a global level (Bertrand Russell)
  • Cosmic Consciousness that governs the world (Max Planck)

Sedikit info aja, Max Planck itu physicist. Which still believes on philosophy.

Now, biar kudefine dulu each of the definitions…

Immanuel Kant

Kant sendiri sih paling terkenal karena teorinya yang bernama Transcendental Idealism, yang menyatukan both Innate knowledge and Empirical knowledge as to how a human thinks.

Tapi, yang Kant maksud disini itu, adalah prinsip yang diketahui semua orang waras, dan apply on a global level. For instance, HAM… Tentunya principle yang Kant maksud itu… Transforming sih. Mungkin pas era colonialism, belum tersirat image HAM itu seperti apa, jadi principle yang tersirat berbeda.

Now on the other hand, Universal Mind yang symbolize interconnected minds ini, bisa ditunjukkan saat colonialism dicabut, thoughts orang-orang secara globally berubah.

Therefore, seiring perubahan principle, interconnectedness plays a part here and changes the thought of humans globally. I mean, its basically universally known that killing is bad and racism isn’t good… Every sane person should know that (Cough, Trump, Cough)

Peter Russell

On the other hand, Peter Russell bilang bahwa interconnectedness between minds ini in terms of skills, or… well knowledge. The same doesn’t apply for opinions.

Lebih luas dari definisi Kant, karena sebagai contoh… Misalnya, ada tikus di London yang tahu cara menghindari racun tikus, atau rat traps. Then, tikus di Indonesia juga bakalan tahu bahwa racun tikus dan rat traps are dangerous, dan bakalan avoid those things.

Yeah, the thoughts here aren’t really limited to humans.

Jadi, layernya makin mendalam juga, karena bukan hanya principle, tapi juga knowledge dan skills, beyond humans. Anything that has a consciousness would have similar knowledge and skills, so long they’re physically capable.

Max Planck

Physicist Max Planck sendiri sih percaya bahwa ada universal consciousness that governs and makes the universe move. On a cosmic level, Max Planck bilang bahwa ada sesuatu yang menggerakan dunia ini, dan ini akan apply di semua hal yang hidup dan bahkan yang ga hidup.

Well ini sih basically simple. Max Planck believes that there’s something that moves this universe, and everything is governed by some form of mind and consciousness.

Well, as I’ve said, makin dalem juga maknanya. Planck bahkan bilang bahwa the universe itself has a mind. Including inanimate objects.

Metaphysics?

Jadi, sebenernya, branch dari Universal Mind ini itu apa sih?

Well, there’s Metaphysics in it. Since, a lot of people thought of mind as a substance. Substansi yang disebut mind itu semacam sesuatu yang compose this universe.

Then there is also a little something called Interconnectedness yang udah aku sebut beberapa kali. Interconnectedness itu ada korelasinya dengan thinking, dan juga dengan similarities in many different things. Jadi branch sebuah Universal Mind adalah Metaphysics, and Interconnectedness as a branch. Well, I’ll be discussing a lot of things here.

Perspective

Kalau mau bicara perspektif dari Universal Mind, ada banyak, since… Aku baru tahu kemarin bahwa empirical science dan esoteric knowledge does count as philosophy.

Nah, ada 4 perspektif yang akan dikupas dalam 11 minggu kedepan… (didn’t I tell you that there’ll be a lot of more articles coming up?).

  • Philosophy’s perspective, membahas metaphysics tadi, dan caranya sebuah universal mind bisa breathe fire onto the world. Sama seperti yang kemarin aku bahas, emang kalau philosphy harus pakai imajinasi, yang ditalar pakai logika, apa itu masuk akal atau gak. Basically, this is science…
  • Empirical Knowledge. Kembali ke data untuk melihat dan mengecek cara minds function. Kemarin kata Professor Bambang, ada 3 branch science dan empirically speaking, bakalan ada Neurobiology, karena emang mind itu berpusat di otak (captain obvious!), terus Quantum Physics, karena belum ada found substance yang bisa play a part sebagai mind. Last but not least juga bakalan ada microbiology, untuk alasan yang mirip dengan Quantum Physics.
  • Esoteric Vision(s). Basically, contemplation of one’s existence… Udah gitu doang… Sorry, aku belum pernah bener-bener contemplate urusan ini, jadinya, belum bisa buat ini terdengar keren… 🙂
  • Pseudo-Science… Campuran Empirical Knowledge dan Esoteric Vision, yang butuh both contemplation dan juga observation. Basically, putting imagination onto the found data.

Philosophy’s Perspective

Pertama-tama, mau bahas Philosophy dulu… Apparently Universal Mind sudah dibahas dari zamannya… Plato

Plato

Kayanya aku pernah bahas soal Plato ini… Pas kita ngebahas Star Wars dari perspektif philosophy… (FYI, kepengen bahas Star Trek juga… 🙂 patience).

Plato percaya bahwa dunia ini hanyalah dunia KW 2 dari Dunia ideal, yang kalau mau di analogikan. Semua manusia dapet glimpse dari dunia ideal ini. Kalau mereka melihat sesuatu, visi ideal kita play a part dan kita akan mengcompare dunia ideal dengan apa yang kita lihat.

Which, according to Plato, ini alasan kita ga pernah bisa actually puas sama sesuatu, and also, kenapa nothing will be perfect.

Now, Universal Mind ini bisa masuk disini gara-gara… Well, semua orang dapet innate knowledge yang sama. Makanya kita akan merasa interconnected between many things. Tapi, teori Plato ini ada sedikit ga masuk akal. Gara-gara, innate knowledge yang Plato present dari dunia ideal ini, tidak memberikan visi yang jelas atas perbedaan opini.

Regardless, metaphysical theory dari Plato ini masih masuk akal kok. Hang on, selain metaphysical, kalau mau baca lebih lanjut tentang Plato’s main theory, bisa cari Rationalism. Since, we have to rationalize everything and compare it to our ideal image of the world.

Benedictus Spinoza

Spinoza yang keluar sebagai philosopher di era Christianity yang sangat kuat, bilang bahwa interconnected minds bisa terjadi karena…

Everything is made of one substance. That substance is known as God.

According to Spinoza, segalanya adalah Tuhan, dan Tuhan adalah segalanya… sorry kalau pop up controversy… Tapi, regardless of the religion, filosofi Spinoza tetep keluar kok.

Now, Spinoza bilang bahwa kita semua terdiri dari satu substance, dan kalau substance itu grow, maka thoughts dan connected minds akan grow juga. Therefore, since even inanimate objects are made of this substance…

Basically, everything can have a mind. The same mind. (This is Spinoza’s work in a nutshell, since right now, I’m playing neutral to all religions)

Immanuel Kant

Immanuel Kant sendiri percaya bahwa kita punya innate knowledge sejak lahir, tapi segala sesuatu ditata dengan sedemikian rupa agar kita bisa menyerap ilmu itu dengan innate knowledge yang kita punya.

This stays in line with Kant’s opinion of a universal mind. Pas awal artikel ini kan aku bilang bahwa Kant itu memang percaya bahwa the only universal innate knowledge itu universal principles.

Ini juga sangat cocok dengan ilmu-nya Kant yang membahas Transcendental Idealism, yang bilang kita sebagai manusia punya innate knowledge, dan juga perlu observe things untuk grow as a person.

Teorinya Kant juga bilang ada some universal mind yang menata dan mengatur dunia ini agar manusia bisa mengerti apa yang ditata dan didefinisikan.

Break…

Sebelum maju, sebenarnya ada masih banyak lagi opini dari sekian banyak philosopher lain regarding this subject. Tapi, umm… aku hanya mengambil 3 classic philosophers itu. Why? Firstly, emang aku lebih suka classic philosophy, cause it is interesting to see something old, still apply in the modern world.

Secondly, karena kalau dibahas semua, aku akan modar mengetiknya… Jadi, kalau mau belajar lebih lanjut, anggap saja artikel ini gateway untuk belajar lebih lanjut ya 😉

Empirical Knowledge

Empiric… Kalau dari awal baca, and masih bingung artinya apa, Empirical knowledge itu ga ada hubungannya sama sekali dengan Empire di Star Wars. Empiric Knowledge means… Itu ilmu yang didapat dari hasil observasi.

Max Planck

Ooh! Him again!

Max Planck ini bilang bahwa consciousness sebuah manusia, (sesuatu yang masih coba dipecahkan oleh scientists and psychologists) derive from matter. Like, matter di fisika? Yeah, that matter.

Matter does Matter since, Max Planck sendiri percaya bahwa everything has a consciousness, dan everything juga tercipta dari matter, jadi Max Planck percaya bahwa Matter is what forms consciousness.

Yang Max Planck ini lakukan sama seperti apa yang dilakukan oleh Aristotle, basically adding 2+2 to make 4!

Kenapa sesimpel itu? Sebagai fisikawan, Max Planck knows that Matter exists in everything, whether dead or living. Nah, semua yang mati atau hidup juga pasti punya kesadaran agar mereka bisa function properly.

Aku sendiri sih kurang percaya ini masuk ke Empirical Knowledge ya… Tapi, itu mau aku bahas nanti.

Stephen Hawking

Kalau mau baca review bukunya, bisa banget, klik ini aja…

Kayanya Hawking itu cukup terkenal, in fact, I think he goes number three untuk scientists yang diketahui orang jaman sekarang. Nomor 1 dan 2 nya, Einstein and Newton.

On topic… Hawking sendiri sih, sebenernya (according to Professor Bambang, bukan aku), sedikit atheistic kalau mengutarakan pendapat, dan sangat empirical, since there is no empirical evidence of God…

Nah, Hawking sendiri bilang bahwa jika ada teori yang bisa Unify everything (like String Theory!), dan menjelaskan segalanya, masih ga ada “fire” and passion di unified universe itu.

Hawking sih penasaran apa yang bisa unify both consciousness, dan juga universe-nya sendiri.

Nah, ini kenapa menurutku opini Max Planck lebih tampak seperti Psedo sains. Actual empirical knowledge relies on the proof, dan Planck belum menemukan proof bahwa ada consciousness di sebuah inanimate object.

David Eagleman

Abis dua kali nyebut fisikawan, sekarang kita ngebahas Neuroscientist…

Based on David Eagleman’s own words, seiring molekul kita merge, dan kita punya proper mind… something that enables us to be the species we are now…

Sesudah every step of evolution dan survival of the fittest, David Eagleman yakin bahwa ada neural program outside our actual minds yang enable our creation in the first place, program ini ngasih ability and it basically triggers our amygdala when an event happens.

Okay, kalau bingung, intinya, David Eagleman yakin bahwa ada mind yang enable the creation of minds, dan juga ada interconnected thoughts between many living things. Sama kaya kenapa monyet dan kita sama-sama seneng kalau makan. Same goes for male Pandas, yang seneng liatin Panda cantik, dan juga sama kaya aku … eh bukan aku doang… cowo suka liatin cewe cantik…

Well, mungkin terdengar aneh kalau menyamakan humans dan… animals, tapi emang ada urges yang universal, dan brain part yang ketrigger itu similar kok.

Esoteric Visions

Okay, ini lebih sedikit dijelasinnya sama Professor Bambang. Since, words-nya sangat poetic, tapi… ya begitulah. Coba keep up saja, karena aku sendiri juga ga terlalu ngerti tentang ini, yang butuh deep contemplation and poetic-ness… (FYI, poetic-ness isn’t a word)

Buddha

Okay, basically, Buddha bilang bahwa everything has a mind, karena semuanya adalah living things. Every living things are equal and has a mind…

Okay, aku rada bingung, tapi quote-nya bagus, jadi copas quote aja ya…

As I am, so are these. As are these, so am I. Drawing the Parallel to yourself, neither kill, nor get others to kill.

Bingung kan kamu???

Sama aku juga bingung… (Btw, aku ngerti maksudnya apa, tapi yang aku ga ngerti teh masukkin ini ke perspektif Universal Mind)

Alex Grey

Now, Alex Grey, who is apparently a contemporary philosopher, bilang bahwa interconnectedness between minds itu ga ada ujungnya. It’s basically an endless loop. Like, how Japanese Philosophers used to draw a Rinne (endless circle of life). Okay, itu sebenarnya sedikit Naruto reference.

Alex Grey juga bilang bahwa there is no such thing as separation, or independence. Karena semua hal ada dalam awareness-mu dan semua hal terhubung pikirannya.

Confused…

Okay, ini emang rada ngebingungin bagian ini ya, aku sendiri sebenarnya ga… umm… ga terlalu ngerti. Like I’ve said, jadi apologies karena pendeknya bagian ini. Aku orangnya teknis banget, jadi rada bingung pas bahas imagine and meditate while contemplating existence.

Pseudo Science

Pseudo Science itu bukan FAKE science, itu salah. Sebenernya term yang lebih precise adalah semi Science, karena dia butuh contemplation dan imagination untuk picture these things.

Jadi, yang aku bahas kemarin di artikel filosofiku, lebih masuk akal untuk membahas Pseudo Science. Tapi kemarin juga ga salah sih, hanya… kurang akurat

Max Planck as pseudo Science

Sebelum masuk ke yang lain-lain, aku lebih mengira bahwa Max Planck masuk ke pseudo science karena ada faktor contemplation, dan ada sesuatu yang tidak ada proof-nya, meskipun ada Aristotelian Logic yang masuk ke dalam situ. Regardless, Professor Bambang menjelaskannya sebagai Empirical Knowledge, dan ini hanyalah opini.

Gregg Braden

Pas denger Professor Bambang bahas Gregg Braden, keingetan episode di Big Bang theory.

Gregg Braden bilang bahwa emotions are an electrical wave. And we’re creating a wave of energy when we have something in mind. Basically, the universe is communicating with one another because there are Waaaveees of energy when one thinks.

Hence, kalau satu wave bisa dirasakan wave lain, akan ada interconnected thoughts.

Ini similar ke Waldorf yang bilang bahwa humans could feel warmth. Dan misalnya di sebuah ruangan, jika ada seseorang yang dingin, kita akan merasakannya. Sama juga di ruangan yang panas kalau misalnya ada orang yang lagi marah. Jadi, Waldorf has an actual empirical proof to his theory!

Selain itu Gragg Braden juga pernah bilang bahwa everything has a mind in the sense that… something changes as soon as we observe it.

Beneran lho… bukan cuma orang yang bertingkah laku berbeda kalau diliatin, elektron juga berubah dari gelombang menjadi partikel kalau diobserve pakai mikroskop.

Peter Russell

YEAY! Peter Russell membahas paradox!

Sains menjelaskan apa yang terjadi di alam semesta, tapi itu ga bisa jelasin consciousness, and how it works. Kalau ga ada consciousness sendiri, mana ada science… tapi science sendiri has no clue apa itu consciousness.

Okay, sebenernya ini cuman translating quote-nya Russell, karena ada paradoks.

Tapi Universal Mind ini masuk karena, there is no science in a mind, but a mind does process science, so there must be some unknown mind to govern it.

Break

Again, another break… Paling menarik diantara Pseudo Sains itu, Gregg Braden, since he discusses emotion as a particle, wait no… as a wave.

Especially considering how something, very esoteric can be converted onto a wave. Dan mungkin kalau diobserve in detail, each emotion creates a different wave… One that corresponds to the emotion.

Misalnya, emotion marah radiate wave yang panas, emotion senang radiate wave hangat, emotion sedih radiate wave yang ga panas… or well dingin… tapi di fisika, ga ada yang namanya dingin. Coldness is a state of no heat.

Inanimate Consciousness

Well, ini cuman short part of the article yang menjelaskan bahwa inanimate objects like water does change its particle when given contact with Music.

Kenapa? Basically gelombang dari musiknya mengubah air itu yang indah menjadi rusak, or in fact, mereverse partikel air rusak menjadi kembali cantik.

Oh, dan ada murid Professor Bambang yang kepo, ternyata nasi makin cepet busuk kalau disimpen dalam container yang bertuliskan kata-kata kasar, while nasi lebih tahan lama kalau disimpen dalem container yang berisi kata-kata manis.

Jadi, kayanya Universal Mind ini ada betulnya in the sense that inanimate objects DO feel stuff.

In Conclusion…

Okay, ini bukan saat tepat untuk menarik conclusion regarding universal minds, karena journey yang membahas ini baru dimulai.

Tapi, kalau untuk sementara, kayanya it’s safe to say that… Everything has a mind, and basically notices these “waves” of emotion.

For now, aku perlu cari tahu a bit tentang PR yang dikasih Professor Bambang.

Salah satu membahas tentang kenapa philosophically menguap itu contagious, dan yang kedua, kalau ada couple yang lagi marah-marah dikasih kata kasar lagi, apakah makin marah atau jadi tenang, dan same goes for the opposite, kalau lagi marah dipuji apakah makin tenang?

Yang kedua mungkin obvious banget, but who knows really…

Considering aku ga punya couple, closest thing I have is a mom… yang kadang galak…

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!