Tag: kuliah umum ITB

Why Is There Stuff? – Kuliah Umum ITB S2 – 2

Why Is There Stuff? – Kuliah Umum ITB S2 – 2

Kembali lagi ke serial kuliah umum. Kuliah umum kali ini berasal dari Reinard Primulando. Membahas tentang… Materi. Like, you know… Stuff.

Pemateri kita kali ini adalah DR. Reinard Primulando dari fisika Unpar.

Mungkin terdengar agak sederhana, tetapi aku berjanji, kuliah kali ini adalah kuliah dengan materi paling berat! Pertanyaan Why Is There Stuff ini mungkin terdengar sangat sederhana, seperti menentukan membeli Oreo Double Stuff atau yang biasa (Oh iya, Double Stuff gak enak, terlalu manis), tetapi, dalam proses menjawab pertanyaan ini, DR. Reinard menyebutkan dan memberikan referensi tentang Anti-Matter, Descartes, Big Bang, Particle Decay, dan masih banyak lagi!

Tentunya aku akan berusaha menjelaskan dengan cara yang sesederhana mungkin, karena seperti yang Einstein katakan… “It is possible to explain the laws of physics to a barmaid.” (tanpa tujuan menyindir barmaid).

Descartes si Fisikawan

Ketika kita browsing tentang nama Isaac Newton di Google, lalu kita pindah ke bagian News alih-alih All, Images, atau Video… akan muncul setidaknya satu artikel dengan judul clickbait seperti “Newton was Wrong! Here’s Why.” atau “Newton made a mistake that rewrote the laws of physics.” Dan semacamnya.

Konyolnya, artikel-artikel tersebut menjelaskan cara Newton melihat hal-hal yang baru ada di abad 20 akhir atau 21 awal. Hukum gravitasi Newton tidak salah, hanya saja ada hukum yang Newton tulis yang kurang akurat, sehingga perlu ada perbaikan yang minor agar bisa sesuai dengan fisika modern.

Jadi, jika anda melihat kata-kata seperti Hukum Fisika Gagal, atau Newton Salah di judul sebuah artikel, jangan langsung percaya.

Namun, kali ini, kegagalan hukum fisika agak konyol, dan dia konyol bukan karena ada hal yang tidak akurat sesudah bertambahnya ilmu di dunia.

Masuklah René Descartes. Kalimat paling terkenal yang ia katakan (sama seperti Apel milik Newton, E=Mc2 Einstein, cuma tentang filsafat) adalah “Aku berpikir, maka aku ada.” Dalam bahasan fisika, berpikir berarti melakukan hitungan atau prediksi.

Berdasarkan hitungan fisika, seharusnya, kita tidak ada. Jadi, kalimat Descartes tersebut tampak seperti lelucon. “Saya berpikir, berarti saya ada. Tapi hasil berpikir saya, saya harusnya tidak ada.”

Kuliah dari Dr. Reinard dimulai dengan pertanyaan ini!

Backtrack

Kita bisa dan telah memprediksi kehidupan di alam semesta dengan cukup akurat sampai ke 10 menit kehidupan awalnya. Alam semesta sudah ada untuk waktu yang lama dalam sudut pandang manusia, tetapi kita tidak bisa mengingat 10 menit pertamanya saja…

Lalu, sebenarnya apa yang terjadi pada 10 menit pertama tersebut? 10 menit pertama diteorikan sebagai proses terjadinya Big Bang. Ada nukleosintesis (ketika membahas fisika dengan orang-orang awam, gunakan kata ini, anda akan tampak pintar) yang menciptakan unsur-unsur dengan cara yang sejujurnya aku masih belum mengerti.

Mungkin juga terdengar agak konyol bahwa kita bisa memprediksi dengan akurasi yang signifikan bahwa masa depan alam semesta bukan rahasia yang jelas. Tetapi 10 menit (bagi alam semesta yang usianya 10 pangkat 34 tahun, 10 menit seperti kedipan mata di hidup manusia) awalnya hal yang gak jelas.

Seperti yang fisikawan ketahui… Kalau ada hal gak jelas, berarti itu hal-hal yang penting! 10 menit alam semesta ini pasti penting! (Anak SMA di 70 tahun ke depan mungkin harus mempelajari ini untuk masuk kuliah)

Kabar baiknya adalah… Hukum fisika berjalan dengan sempurna sejak 10 menit tersebut, dan belum ada satupun saat di mana alam semesta berfungsi tanpa adanya hukum fisika. Kita juga mengetahui bahwa sampai 10 menit pertama tersebut, hukum fisika belum berlaku.

Seperti percakapan yang ada di Avengers: End Game.

  • Thanos: I’ll destroy this universe, and create a new one with the stones
  • Captain America: A Universe… Born out of blood?
  • Thanos: They’ll never know it. Because you won’t be around to tell them!

Mengingat bahwa kita tidak mengetahui 10 menit pertama alam semesta kita, ada kemungkinan bahwa Thanos menciptakannya… (Or you know, the big bang theory is right…)

Antimatter.

10 menit pertama dilewati tanpa adanya jawaban (Aku mendukung teori Thanos!), kita masuk ke fase di mana alam semesta masih bayi… Ketika belum ada apa-apa yang tercipta sepertinya.

Sebagai geek (parah) aku punya hobi menonton film science fiction tentunya. Ada beberapa film science fiction yang membahas hal-hal seperti yang akan terjadi jika Azriel Muhammad bertemu Anti Azriel Muhammad.

Jenis personality-nya mungkin gak usah dibahas karena kayanya itu tidak diperlukan untuk artikel kali ini, tetapi semua film science fiction itu salah karena kalau aku bertemu dengan anti diriku sendiri, dan kita bersentuhan, kita berdua akan hilang, hanya menyisakan seberkas cahaya. Seperti yang DR. Reinard jelaskan, ada film di Netflix (aku tidak tahu apa itu Netflix Originals atau bukan) berjudul Angels and Demons dan film tersebut ada bagian yang memasukkan Bomb dari Anti Materi.

Fisikanya secara kasar dan agak tidak ilmiah seperti itu. Anti Materi bertemu materi, maka akan saling menghilangkan, meninggalkan cahaya, dan energi.

Mengingat bahwa di dunia nyata ada materi yang sangat banyak! Kalau ada anti materi terlalu banyak, hasilnya akan Boom-Boom dan kita tidak akan mampu melihat banyak hal. Kita sudah off-topic agak terlalu jauh, jadi mari kembali ke jalan yang benar…

Kalau Anti materi bertemu materi menciptakan energi dan cahaya, ini berarti bahwa energi yang ada di alam semesta kita berhubungan dengan reaksi antimateri tersebut.

Hal yang agak konyol dari reaksi materi dan anti materi ini adalah, logikanya, alam semesta tercipta dengan jumlah materi dan anti materi yang sama bukan? Kenapa masih ada materi yang tersisa kalau reaksi akan anti materi dan materi berperan dalam penciptaan alam semesta menjadi bentuknya sekarang? Ke mana perginya materi tersebut?

Sayangnya, kita mungkin tidak pernah tahu.

Paritas.

Bagi yang sudah bingung. Kusarankan pergi sekarang. Scroll ke bagian kesimpulan saja. Pertanyaan Why is There Stuff sudah kurang lebih terjawab di bagian antimateri dan materi. Ini hanya intermezzo yang terlalu menarik untuk dilewati dan tidak kutulis.

Bagian di sini agak membingungkan (dan seluruh artikel ini SUDAH membingungkan), dan kalau aku sedang bersemangat, harusnya paritas ini bisa jadi artikel lain, mungkin hanya 500-600 kata, tetapi aku lagi agak hemat, jadi paritas kubiarkan menjadi bagian sejumlah 200 kata di sini.

Energi dan medan bergerak ke satu arah di dunia nyata kan? Mereka bergerak ke arah sesuai berdasarkan posisi mereka. Medan yang menembus sebuah bidang secara vertikal pasti gerak searah jarum jam, medan yang menembus sebuah bidang secara horizontal bergerak melawan arah jarum jam.

Bahkan jika anda tidak memperhatikan guru fisika anda pas SMA, medan selalu berfungsi seperti itu, sampai ada istilah Right Hand Rule. Jempol anda menjadi penunjuk arah sebuah medan di sebuah gambar. Tidak usah pusing gerakkan tangan, percaya saja samaku.

Pernahkah anda bercermin? Mau cewek, mau cowo, mau seberapa gak peduli anda pada penampilan anda, pasti anda pernah bercermin.

Jika melihat sebuah cermin… Logikanya, medan tetap bergerak ke arah yang sama kan?

Nah, justru itu. Paritas di sini berhubungan dengan medan di dunia cermin. Energi di dunia cermin tidak bergerak dengan cara yang sama dengan energi di dunia nyata. Cerminan seseorang tidak mengalirkan energi atau menerima medan dengan cara yang sama dengan yang ada di dunia nyata! Sekarang anda tahu!

Kesimpulan.

Thanos created this universe. We just don’t know. Tony Stark didn’t actually finish Thanos’ Army… He died in the universe before this…

His blood is in our hands…

Hahaha, bercanda kok. Itu kan cuman fiksi *WINK WINK*

Why Do We Dream? Kuliah Umum ITB S2 – 1

Why Do We Dream? Kuliah Umum ITB S2 – 1

Kuliah Umum di ITB kali ini telah lanjut ke siklus keduanya. Bersambung dari tema kuliah nomor 5 tentang kesadaran, kita masuk ke subyek mimpi.

Sebelum masuk ke penjelasan tentang kuliahnya sendiri.

  1. Ini adalah kuliah keempat yang aku ikuti, dan ini pertama kalinya kuliahnya membahas hal secara tidak faktual. Benar-benar tidak faktual… Tentunya aku memaksudkan ini sebagai hal yang bagus karena beberapa subjek memang tidak bisa dihampiri dari sudut pandang yang faktual, topik ini termasuk salah satunya. Alih-alih memberikan data dan teman-teman dari data tersebut (seperti nama peneliti, dsb.), diberikan penjelasan tentang konsep-konsep yang nyata tetapi belum tentu telah dibuktikan secara ilmiah.
  2. Slideshow yang diberikan oleh pemateri kuliah hanya berisi 8 slide. Sekali lagi, ini hal yang bagus, karena hampir seluruh materi dan konteks kuliah disampaikan dalam bentuk cerita. Meskipun tidak ada “jangkar” atau patokan untuk topik presentasi, ilmu yang didapat tetap sampai, hanya saja dengan cara yang berbeda.
  3. Pemateri kita kali ini adalah seorang neurosurgeon. Mungkin pernah lihat atau dengar di Twitter… Namanya Dr. Ryu Hasan.

150 kata kemudian, kita akhirnya bisa masuk ke cerita tentang kuliahnya.

Out of Topic…

Sekitar 70% dari kuliah kemarin keluar dari topik utama yaitu alasan kita bermimpi. Kuliahnya menarik, disampaikan dengan elegan dan memberikan ilmu yang substansial, hanya saja sebagian besar kuliahnya hanya terhubung oleh benang merah ke topik “Why Do We Dream?” itu sendiri.

Selain itu, aku yang datang dan mencatat memberikan simbol khusus untuk menandai bagian mana yang on topic dengan pertanyaan Why Do We Dream, dan bagian mana yang off-topic.

Silahkan skip ke bagian berikutnya jika anda tidak sabar ingin tahu tentang alasan kita bermimpi.

Catatan kasar saja, untuk memberikan perspektif…

  • Berdasarkan pengamatanku, ada 9 pernyataan off-topic yang disampaikan, tepatnya tentang kedokteran dan ilmu biologi itu sendiri, sebelum masuk ke pembuka tentang alasan kita bermimpi.
  • Lalu ada 3 pertanyaan yang umum ditanyakan orang mengenai alasan kita bermimpi sebagai landasan dasar topik.
  • Disusul dengan 6 pernyataan off-topic tentang pengetahuan manusia, psikologi, kenyamanan manusia dan juga iman serta kepercayaan.
  • 6 fakta tentang mimpi, halusinasi, dan emosi secara ilmiah.
  • 1 pernyataan di luar topik tentang narasi dan kematian. Kembali ke subyek mimpi dengan 1 pernyataan lagi.
  • 2 Pernyataan off-topic lagi… Kali ini tentang Einstein dan Darwin.
  • Lalu 6 pernyataan yang menutup kuliah umum, sesuai dengan topik.

Dr. Ryu Hasan memberikan kuliah tanpa struktur yang jelas, tetapi dengan referensi yang bagus dan tepat, membentuk hubungan antara subyek yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mimpi, dan menghubungkannya dengan cara yang seharusnya bisa dimengerti anak SMP. Ini juga dilengkapi dengan candaan yang lucu (meski memang jika dilakukan di forum publik akan terdengar agak kontroversial, sehingga aku tidak akan memasukkan sebagian lelucon tersebut), sehingga kuliahnya tidak terasa membosankan.

Lalu sekarang anda ingin bertanya… Jadi Azriel, kapan kuliahnya dibahas?

Ada sedikit masalah di sini… Karena tidak ada struktur dasar kuliah secara verbal, aku mengalami sedikit kesulitan menuliskannya. Aku merasa ada klarifikasi dasar yang penting dan yang perlu diberikan untuk kejelasan tulisan. Oh iya, tulisan kuliah kali ini mencapai 1500 kata, jadi, tenang saja.

Mimpi Tidak Bermakna?

Salah satu miskonsepsi terbesar tentang mimpi adalah perubahan kata tersebut menjadi impian. Tapi aku loncat terlalu jauh, jadi sebentar dulu.

Hal-hal yang dilakukan manusia secara rasional, membutuhkan tindakan sadar. Sedangkan, hal-hal yang intuitif dilakukan berdasarkan emosi.

Otak manusia sendiri yakin pada hal-hal yang membuatnya merasa nyaman, bukan pada hal yang rasional. (ini disebutkan Nietzsche, Mark Manson [yes, him], dan masih banyak lagi)

Berdasarkan dua hal ini saja, bermimpi merupakan hal yang bergantung pada emosi, dan biasanya bersifat intuitif. Kita tidak punya kontrol akan mimpi kita, terkecuali lucid dreaming.

Jadi, kita akan masuk ke pernyataan pembuka. Tidak ada definisi biologis atau neurologis yang BAKU untuk mimpi. Kita tahu cukup banyak hal tentang mimpi, tetapi tidak ada definisi yang baku untuknya.

Untuk menambah pertanyaan pada awal kuliah. Mimpi tidak berguna, dan tidak berhubungan dengan subconscious. Freud semacam merusak fakta bahwa mimpi ada hubungan dengan subconscious, tetapi faktualnya tidak seperti itu.

Istilah impian sendiri ada di Bahasa Indonesia, tetapi Impian seharusnya tidak ada, dan gunakan saja kata Cita-Cita, karena itu memberikan terlalu banyak makna ke hal yang secara biologis tidak ada maknanya.

Kita percaya Mimpi bermakna lebih banyak daripada fakta biologisnya karena itu merupakan hal yang membuat kita merasa nyaman, bukan dengan kenyataan yang ada.

Rasionalisme… Membela Diri…

Oke, mungkin secara biologis tidak ada makna pada mimpi. Ada makna untuk tidur secara biologis, tetapi mimpi? Gak. Gak ada. Nah, bagaimana untuk makna secara psikologis? Lagi-lagi, perlu diingat bahwa mimpi juga merupakan produk dari otak yang bisa dipandang dari 4 sudut pandang berbeda, Biologi, Psikologi, Spiritual serta Filosofis. Untuk itu, kita coba masuk ke suatu subyek psikologis yang berperan mirip dengan mimpi saat kita masih bangun.

Mekanisme pembelaan ego (ini juga referensi ke Nietzsche dan Mark Manson [Mark Manson menuliskan psikologi jadul dengan gaya modern, jadi wajar kalau aku yang kelahiran 2002 ini menyebut namanya terus] lagi) adalah cara kita membuat diri kita sendiri lebih nyaman.

Sebagai contoh…

“Aku tidak pernah belajar sebelum ujian. Pada ujian tengah semester kemarin, nilai ujianku jelek karena aku tidak belajar. Sebelum ujian akhir semester, Ibuku sedang sakit. Ujian akhir semesterku berakhir dengan nilai yang jelek. Bagaimana aku bisa belajar? Ibuku lagi sakit, wajar kalau nilainya jelek.”

Pada dasarnya, otak kita berusaha mencari-cari alasan untuk membuat kita sendiri merasa lebih nyaman. Meskipun secara rasional, tidak ada relasinya sama sekali. Terkadang relasi itu dibuat murni hanya untuk membela ego dan memberikan makna yang lebih dalam dan penting untuk sesuatu.

Ini merupakan poin yang agak off-topic tapi ternyata berhubungan dari Dr. Ryu.

Namun Freud mengatakan bahwa mimpi tersebut memiliki makna yang lebih dalam dari seharusnya. Seolah-olah mereka terhubung. Semakin ke sini juga, mimpi semakin sering dielaborasi agak berlebihan oleh (mengutip kata per kata Dr. Ryu Hasan) “Ahli Nujum”.

Karena kita menghabiskan banyak sekali waktu bermimpi, banyak elaborasi tidak diperlukan untuk membela ego manusia tentang bermimpi itu sendiri. Ini akan dibahas lagi sedikit di bawah, tetapi masih ada sedikit fakta yang pembaca perlu ketahui terlebih dahulu.

So… Err… WHY DO WE DREAM?

Karena tidak ada jawaban dari sudut pandang psikologis, Dr. Ryu berpaling ke sudut pandang Biologis.

Pertama, 80% Mamalia (meski tidak disebut, aku cukup yakin yang dimaksud adalah jumlah spesies alih-alih jumlah populasi) merupakan hewan Nokturnal (Nokturnal berarti aktif di malam, diambil dari Latin untuk malam, yaitu Nox, dan Turnalia yaitu momen atau waktu. Noxturnalia adalah Latin untuk Momen Malam). Kelelawar, Kucing Besar, beberapa jenis Kera, beberapa Mamalia laut…

Kita termasuk 20% dari mamalia yang tidak nocturnal tersebut. Mungkin ini alasan kita bermimpi, otak mamalia kita yang mayoritas nocturnal ini memerintahkan kita untuk beraktivitas, dan aktivitas itu terjadi di otak, menciptakan mimpi.

Kedua, mimpi terjadi pada fase REM. Rapid Eye Movement Sleep. REM ini adalah fase di mana kita sudah tidur lebih dari 6 jam. Kita masuk ke fase REM ketika kita sudah perlu bangun.

Mungkin terdengar agak-agak kontraproduktif. Halo? Di Dunia Mimpi kemarin malam aku hampir sukses menguasai dunia dengan robot yang aku curi dari ruang bawah tanah seorang profesor yang bekerja buat pemerintahan (Wow, I dream like a 7 year old)! Kenapa aku dibangunin? Kenapa mimpi yang justru membuat kita ingin tidur lebih lama… malah berfungsi untuk membangunkan kita? Ini kan… Agak … Konyol.

REM sleep sendiri sebenarnya bukan seperti jam alarm yang menyuruh kita bangun, tetapi lebih cocok jika disamakan dengan cara kita melakukan pemanasan tubuh sebelum masuk kolam renang, agar kita tidak kram. Kalau kita tidak melakukan pemanasan, ada kemungkinan kita cepat lelah. REM Sleep dan mimpi berfungsi untuk memulai aktifitas otak kita (dengan cara mengkhayal) sebelum otak kita mengaktifkan kesadaran.

Dua poin sudah ada, sekarang poin ketiga secara biologis…

Mimpi adalah halusinasi. Karena kita mendapatkan reaksi dan kognisi tanpa adanya stimulasi, itu adalah halusinasi. Mimpi berfungsi sebagai batasan dunia halusinasi, dan untuk membatasi kita dari mengkhayal di dunia nyata.

Secara biologis, fungsi mimpi lebih cocok untuk disambungkan dengan semacam ruang pemanasan dan persiapan hari, seperti misalnya beli kopi sebelum ke kantor, atau pipis sebelum mandi pagi, mimpi seperti pemanasan…

Namun, ada riset yang masih kurang jelas menemukan korelasi mimpi dengan psikologi.

The Dream Clinic.

Sebuah riset menyatakan bahwa orang yang ekstrovert punya kemampuan menceritakan mimpinya, meski tidak bisa mengingatnya dengan jelas ataupun runut, sementara orang yang introvert tidak bisa menceritakan mimpinya, namun memiliki ingatan yang lebih jelas padanya.

Bermimpi juga merupakan cara otak kita mendifusi emosi. Semakin sering kita bermimpi yang penuh cerita, semakin rendah kemungkinan orang tersebut depresi. Sedangkan, semakin abstrak mimpinya seseorang, semakin besar kemungkinan orang tersebut mengalami depresi.

Riset ini tidak dilakukan spesifik mengenai mimpinya sendiri, tetapi lebih ke survei mengenai depresi dan bermimpi itu sendiri. Metode risetnya agak induktif, namun tampaknya ada korelasi ke mimpi dengan psikologis, hanya saja tidak  dengan cara yang diharapkan psikolog Freudian atau Jungian.

Aku tidak punya kepercayaan diri dan/atau kredibilitas untuk membuktikan riset ini, tetapi aku akan tetap memasangnya di sini, hanya sebagai informasi tambahan.

Kesimpulan.

Pada akhir hari, mimpi tersebut sendiri tidak memiliki satu pun hasil ataupun inti mengenai mimpinya sendiri. Tetapi, mimpi memiliki cukup banyak hasil akhir walaupun mimpinya sendiri hampa akan makna.

What Is Consciousness? – Kuliah Umum ITB #3

What Is Consciousness? – Kuliah Umum ITB #3

Pada tulisan ketiga tentang kuliah umum di ITB, aku menemukan 3 hal baru.

  1. Aku akan memberikan angka di judul tulisannya.
  2. Aku menemukan bahwa materi terakhir di siklus pertama (yang aku lewatkan dua pertemuan awalnya) pernah kupelajari dari sudut pandang filsafat selama 12 pertemuan.
  3. Aku baru mengetahui bahwa orang yang terbiasa mempelajari hal secara empirik, akan kebingungan jika bertemu dengan subyek yang butuh banyak sekali khayalan, tetapi tidak sebaliknya.

Pemateri kita kali ini berasal dari Jakarta, DR. Agnes, seorang Doktor di bidang Psikologi.

Kesadaran Filosofis.

Sekali lagi. Kuliah Sains kali ini telah mengambil subjek yang sangat abstrak dan mengubahnya menjadi subyek yang empirik. Jika sebelumnya Prof. Djoko dapat menjawab pertanyaan filosofis “What Makes Us Human?” dengan sangat efisien menggunakan ilmu empirik, DR. Agnes bertemu dengan pertanyaan yang lebih sulit dijawab secara empirik, karena bahkan secara filosofis jawabannya tidak ada.

Selama 2 millennia, bahkan sebelum kalendar milik Caesar diresmikan dan digunakan 2019 tahun yang lalu, pertanyaan yang sama telah ditanyakan oleh Plato, Aristotle, dan nama-nama Yunani lainnya.

Pada abad-abad 15, 16, 17 ada Benedictus Spinoza, Thomas Aquinas, dan banyak filsuf berbasis Gereja Katolik lainnya memperdebatkan hal tersebut. Oh, juga ada Descartes, jangan lupakan dia.

Pada akhir hari, jawabannya bahkan belum tampak akan muncul.

Kabar baiknya, kita bisa menjawab pertanyaan mengenai kesadaran secara empirik lebih mudah daripada secara filosofis. Sejujurnya, ini adalah momen-momen di mana aku setengah menyesal memutuskan untuk belajar filsafat karena terlanjur berpikir rumit bin ribet bin ajaib tetapi tidak melihat secara faktual terlebih dahulu.

  1. Agnes menjelaskan kesadaran sebagai bagian dari proses otak. Memang iya, penjelasannya tidak seefisien dan praktis kuliah pada minggu sebelumnya. Tetapi, mengingat bahwa sudah ada filsuf yang memperdebatkan ini selama 3000 tahun, aku rasa ini jawaban yang sempurna dan sederhana.

Namun melihat kanan dan kiri ke sesama peserta kuliah, aku menebak bahwa mereka tidak bisa menerima jawaban yang agak kurang empirik semudah aku.

Tapi ya, itu hanya firasat, aku tidak punya bukti empirik.

Respon, Memori, Kesadaran.

Kesadaran adalah sebuah “hub” yang menerima dan terdiri dari bagian-bagian sebuah proses yang berjalan di otak kita. Kesadaran terpisah dari Wakefulness (berapa persen dari proses di otak orang tersebut berjalan) serta Awareness (seberapa sadar orang tersebut akan sesuatu)

Dari sini, yang menentukan Awareness dan Wakefulness ada di Respon seseorang.

Respon menentukan seberapa aware seseorang akan suatu kejadian. Jika orang tersebut tidak merespon, berarti mereka tidak awas akan kejadian itu terjadi. Pesan sponsor: Jika anda ingin meminta tolong tentang sesuatu, pastikan orang yang anda minta tolong itu menjawab “IYA” atau “Sebentar” atau semacamnya. Berarti mereka memang benar-benar sadar.

Respon tumbuh menjadi pengalaman yang terdiri dari ingatan dan sensasi akan suatu kejadian.

Dari hal yang masih cukup empirikal ini, baru kita mulai mengkhayal. Aku tidak lihat kanan kiri tetapi aku sendiri yang sudah biasa mengkhayal kebingungan.

Statement yang memulai proses mengkhayal ini adalah “Pengalaman Subjektif, berbeda dengan proses fisikal.” Contoh pengalaman subjektif. ‘Kuliah hari ini menarik.’, ‘Aku tidak bisa belajar jika aku tidak menggunakan bantal leher’, ‘Aku tidak suka gudeg yang dibeli di jalan Mangga.’… Contoh proses fisikal. ‘Ketika aku kuliah, aku duduk di kursi berwarna merah.’ ‘Aku belajar dari pukul 12.00 siang.’, ‘Gudeg yang dibeli di jalan Mangga rasanya manis.’

Mungkin membedakannya bukan hal yang mudah, tetapi keduanya adalah hal yang memang berbeda. Agar tidak bingung, coba pikirkan dalam sudut pandang bahwa salah satu menggunakan opini, sedangkan yang lain membutuhkan fakta.

Kesadaran kita menganggap pengalaman subjektif dan proses fisikal sebagai dua hal berbeda.

British Detective.

Sebelum masuk ke bagian yang agak berbau Sherlock Holmes (terutama dalam membaca dan mengatur kesadaran…) ada sebuah iklan yang menarik.

Iklan ini menceritakan ada seorang pemilik rumah yang terbunuh, dan rumahnya sedang diinvestigasi seorang detektif, jelas dari Inggris sesudah mendengar logat. 3 orang menjadi tersangka dan masing-masing ditanyakan sebuah pertanyaan.

Dari proses menanyakan pertanyaan hingga pertanyaan tersebut dijawab oleh 3 tersangka (koki, maid, dan butler) ada lebih dari 20 hal yang berubah di adegan. Namun, adegan tersebut baru ditunjukkan berubah pada akhir video.

Aku sukses menyadari 7 dari 29 (kalau tidak salah ada 29) jadi… hore?

Oh iya, iklan ini adalah iklan layanan masyarakat dari London ya… Untuk meminta pengemudi mobil lebih berhati-hati dan lebih awas akan orang-orang yang menaiki sepeda.

Sekilas iklan ini mirip dengan eksperimen di mana peserta eksperimen diminta mengingat warna titik di tengah layar, dan catat berapa kali titik tersebut berubah warna, serta menjadi warna apa saja. Ketika ditanyakan, mayoritas orang dapat menjawab perubahan warna dengan benar, jumlahnya juga benar, tetapi mereka tidak menyadari bahwa ada gorilla yang muncul di video yang sama, dan gorilla tersebut muncul selama 10 detik.

Justru orang-orang yang menyadari adanya gorilla tersebut (minoritas orang) adalah orang-orang yang tidak menjawab perubahan warna dengan benar.

Intinya, “We don’t notice things that we are not looking for.”

Sistem Kesadaran.

Pada akhir hari… Sedikit konyol bahwa kita memiliki setidaknya 5 indra, namun kita tidak bisa memanfaatkan indra tersebut dengan maksimal.

  1. Agnes memberikan sebuah gambar yang menjelaskan secara imajinatif-empirik (gabungan keduanya, tetapi tidak lengkap jika tidak ada keduanya) bagaimana cara kita memproses sesuatu.

Gambaran tersebut agak begitu rumit untuk diingat, serta digambarkan ulang di sini, tetapi pesan utamanya adalah… “Kesadaran kita ada batasnya.”

Jika kesadaran kita adalah sebuah workspace, maka tiap indra, syaraf, dan perasa yang berfungsi adalah alat berbeda, untuk memproses hal-hal secara berbeda.

Sama seperti di dunia nyata, tidak ada manusia yang bisa menggunakan lebih dari satu alat secara bersamaan tanpa mengurangi efektivitas pekerjaan tersebut.

Ini kembali ke pesan Holmesian yang ada di tulisanku tentang berpikir seperti Sherlock… Kita harus secara sadar memerintah otak kita untuk mengerjakan suatu tugas jika ingin mengerjakannya dengan perhatian yang penuh.

Ada penjelasannya secara Neurobiologis ternyata. Jika otak kita menerima sebuah sensasi atau impuls, (terutama sensasi atau impuls yang minor) kita harus secara sadar memerintahkan impuls tersebut untuk mendorongnya ke ujung otak dan menerima informasinya secara utuh.

Jika impuls tersebut tidak didorong dan tidak diproses oleh semua alat yang ada di workspace kita, maka impuls tersebut tidak dibaca, seolah-olah tidak pernah terjadi.

Kesimpulan

Kesimpulan tulisan ini adalah… Berpikir seperti Sherlock?

Tidak juga sih. Pada akhir presentasi (yang sayangnya sedikit tergesa-gesa karena kurang waktu) DR. Agnes memberikan sebuah pernyataan bahwa individualitas dan identitas adalah bagian dari kesadaran tersebut.

Orang yang benar-benar sadar akan dirinya memiliki identitas yang sudah utuh. Jadi, jika anda masih melakukan plagiat, copy-paste, nyolong trend, dan semacamnya, anda belum sadar atau kenal akan diri anda sendiri…

Post Script.

Jika anda bertanya padaku apa bagian yang paling menyenangkan pada kuliah hari ini. Aku harus jujur, itu ada di muka-muka Kakak-kakak mahasiswa yang juga ikut kuliah umum. Sesudah terbiasa belajar empirik selama mereka sekolah, aku punya firasat mereka sedikit kebingungan ketika bertemu dengan informasi yang ada khayalan seperti ini.

Pak Hendra, penyelenggara/pencetus kuliah umum Sains ini khusus memberikan pernyataan jika masih ada yang kebingungan, itu karena ilmu mengenai kesadaran ini sendiri juga masih belum benar-benar jelas dan belum cukup empirik untuk bisa dimengerti secara faktual.

Toh, kesadaran merupakan sebuah pertanyaan…

Post Post Script.

Aku ada satu tulisan lagi tentang kuliah umum, dua minggu yang lalu, tanggal 15 Oktober. Tapi err, ada permintaan dari Prof. Hendra untuk tunda pengeluaran tulisan tersebut. Jadi, aku akan mengeluarkan tulisan kuliah tanggal 22 Oktober (mungkin hari Senin atau Selasa) sebelum tulisan tanggal 15.

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kembali lagi ke seri Kuliah Umum di ITB. Topik di tulisan hari ini membahas tentang manusia. Ada kabar baik dan buruk yang perlu diberikan sebelum membaca dan masuk ke artikel ini.

Kabar baiknya, siklus satu sudah habis! Ini adalah materi kedua dari terakhir, dan aku masih punya hutang tulisan karena aku sakit minggu lalu, dan tidak sempat menulis. Kabar buruknya, ini berarti aku tertinggal satu minggu, karena ada materi yang menjelaskan tentang kesadaran, yang diberikan hari selasa kemarin, tanggal 1 Oktober.

Kabar baik lainnya karena minggu depan kuliah umum Sains di ITB sedang istirahat… aku bisa mengejar tulisan tersebut tanpa ada tambahan tunggakan.

Sekarang, masuk ke topik, selamat menikmati.

Filosofis? Biologis?

Aku sempat kebingungan dan memberikan ekspektasi yang salah pada kuliah kali ini. Jangan anggap aku meremehkan, justru kuliah kali ini mengalahkan ekspektasi dengan jauh. Hanya saja dari sudut berbeda.

Sesudah kuliah umum sekitar 20 kali tentang Filsafat, dan sesudah membaca banyak mitologi dan sedikit sastra dari seluruh dunia dan banyak era, pertanyaan ini sering kupikirkan, tetapi tidak sekalipun aku tanyakan dari sudut pandang biologi.

Ternyata, aku berpikir terlalu kompleks. Ketika aku membandingkan manusia dengan hewan dari sudut pandang filosofis, dan yang tidak empirik sama sekali, aku akan mencari cara untuk menjelaskan alasan kita menyukai seni, kita menyukai sains, kita percaya pada pemimpin, kenapa ada agama, dan blablabla yang sangat panjang.

Jawaban yang diberikan Prof. Djoko dari SITH (calon dosen pas nanti kuliah berarti… Amin) tidak lebih kompleks dari kromosom dan kode genetika. Pelajaran SMA. Jadi untuk pertama kalinya, aku memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjelaskan tentang sains di blog ini!

Mengabaikan lelucon, aku yakin 100% aku berpikir terlalu jauh ketika aku ingin menanyakan pertanyaan, apa yang membuat kita manusia? Prof. Djoko tidak menjelaskan dengan rumit. Ia hanya menjelaskan bahwa 98% dari kode genetika manusia sama dengan simpanse, dan kode genetika kita juga sama dengan 40-60% dari lalat.

Lalu, kenapa 2% dari kode genetika tersebut menjadi pembeda yang signifikan? Kenapa kita pintar, bisa bicara, bisa menulis tulisan seperti ini, bisa menghitung dan mengkhayal, sementara simpanse tidak?

Oke, memang betul, Enzim penyusun simpanse berbeda jauh dengan manusia, tetapi kalau kita membandingkan makhluk yang enzim penyusunnya paling mirip dengan manusia, kita akan memandang diri kita lebih rendah lagi. (Makhluk dengan enzim penyusun paling mirip dengan manusia, mencapai 92% kesamaannya adalah… Babi.)

Untuk orang yang bingung, kita anggap saja bahwa enzim penyusun adalah bahan bangunan, sementara kode genetika adalah struktur yang dibangun.

Simpanse merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan kayu, Manusia merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan batu, sementara Babi merupakan rumah berbentuk bulat yang dibuat dengan batu. Bahan penyusun sama, dibentuk secara berbeda dalam kasus Babi, bahan penyusun beda, dirancang secara sama dalam kasus simpanse.

Jadi, sekedar 2% dari kode genetika dan 8% dari enzim penyusun yang membentuk manusia menjadi faktor yang sangat penting. Kenapa kita pintar, sedangkan simpanse dan babi tidak sepintar kita? (oke, sejujurnya kalau membaca komentar orang di situs-situs di Internet, aku khawatir simpanse lebih pintar dari kita, tapi anda mengerti maksudku)

Rahang, Otak, dan Telinga.

2% kode genetika tersebut lebih dari cukup untuk mengubah bentuk rahang, telinga, dan punggung. Hanya sekedar dua persen saja membuat kita pintar, karena dua persen tersebut adalah dua persen yang mengubah hal-hal yang tepat.

Rahang kita masuk lebih dalam, telinga kita dapat mengatur keseimbangan, dan punggung kita tegak.

Kubahas satu-satu.

Rahang

Ukuran rahang yang semakin dalam memberikan kepala yang ukurannya umum sama dengan primate lainnya, untuk memberikan tengkorak yang lebih besar. Tengkorak yang lebih besar, berarti ukuran otak yang bisa disimpan dalam tengkorak tersebut, lebih besar juga.

Tanpa kehilangan fungsi penting dari rahang untuk mengunyah daging serta sayuran, kita memiliki otak yang cukup besar untuk memproses informasi yang kompleks.

Dengan kehilangan gigi tonggos dan rahang maju, kita telah membuat diri kita sebagai manusia yang lebih intelijen

*OUT OF TOPIC: Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika manusia diberikan waktu untuk evolusi lebih lanjut, mungkin kita akan seperti professor X tetapi tidak punya mulut, dan mendapat nutrisi dari sumber lain, karena kepala kita terlalu besar untuk menyisakan tempat untuk mulut.

Telinga

Telinga kita berevolusi agar kita punya keseimbangan ketika kita berjalan. Ya. Telinga kita memiliki saluran untuk menjaga keseimbangan di seluruh tubuh.

Bagi orang-orang yang suka bermain game, atau tahu tentang senjata perang, ini alasan Flashbang mampu membuat seseorang bingung parah. Suaranya cukup untuk mengganggu saluran keseimbangan di telinga, dan membuat mereka jatuh sampai saluran tersebut kembali normal.

Ini subjek sensitif bagiku. Kenapa? Aku punya sedikit masalah keseimbangan. Maksudku, aku tidak bisa naik sepeda, aku punya masalah jalan di blok kayu tanpa terjatuh, dan isu kognitif lainnya.

Jadi, ketika aku mendengar bahwa saluran keseimbangan adalah salah satu alasan kita bisa menjadi lebih pintar, aku mengerti jelas kenapa diriku yang kecil punya isu dalam bergerak, dan tidak suka bermain seperti anak-anak lainnya yang tidak diberikan Gadget atau Televisi.

Kembali ke topik lagi. Kita butuh saluran keseimbangan ini untuk turun dari pohon dan tidak lagi perlu tinggal di pohon, dan pindah ke gua, lalu ke rumah. Ketika mulai berburu, kita bisa meninggalkan jejak dan berinteraksi lebih lanjut, dan kita menjadi manusia yang lebih pintar.

Punggung

Sesudah telinga kita mendapat update untuk menjaga keseimbangan. Tulang punggung kita beradaptasi agar tubuh kita lebih kaku, tetapi juga tambah kuat.

Kita memang tidak selentur simpanse, tetapi karena kita mulai bisa berjalan tegak, kelenturan itu tidak lagi dibutuhkan, sehingga kita menjadi lebih kaku, lebih kuat, dan lebih terstruktur.

Stamina kita bertambah, dan kekuatan kita bertambah, karena sekarang, kita punya tubuh yang mampu menahan keseimbangan ketika berjalan dengan tegak, tidak seperti Gorilla, atau Simpanse lagi. Dari sudut pandang fisik murni, tanpa latihan atau semacamnya, manusia sebagai spesies harusnya lebih kuat dari Gorilla dalam kasus berdiri atau bergerak.

Bagaimana kalau berantem? Kamu mau coba sendiri? Silahkan, tetapi aku tidak mau tanggung jawab.

Sebelum mengakhiri dengan beberapa statement di bagian selanjutnya ada klarifikasi terlebih dahulu tentang enzim penyusun, Enzim penyusun irelevan kalau kita membahas intelegensia, karena hal-hal yang diatur enzim adalah hal yang semua makhluk hidup harus miliki, seperti kemampuan bernafas, bergerak, makan, pipis, dan pup.

Perbedaan Etnis

Kalau kita membandingkan perbedaan antara spesies lain, setidaknya kita akan menemukan 2% bukan? Kerabat terdekat Homo sapiens yang sudah pintar seperti kita adalah simpanse, tetapi, berapa banyak perbedaan antara dua ras Homo sapiens?

Perbedaan tersebut hanya mencapai 0.02%. Sebuah perbedaan yang tidak dilihat oleh anak kecil, dan baru dilihat ketika sudah mencapai usia remaja.

Pesan untuk guru-guru TK dan SD: Jika anak-anak memilih-milih teman, tolong salahkan orangtua mereka. Secara genetik DAN evolusioner, mereka tidak mungkin memilih-milih teman.

Lalu kenapa angka intoleransi meningkat secara drastis?

Prof. Djoko menggunakan kata yang ia berikan disclaimer sebagai kata yang “kasar” yaitu cuci otak.

Prof. Djoko bukan ahli dalam bidang perbedaan budaya, itu diluar ranah biologi miliknya, namun ia yakin bahwa jika ada perbedaan etnis, atau ras, manusia tidak akan melihatnya kecuali ada yang menunjukkan hal tersebut. Ia tahu bahwa manusia melihat perbedaan secara budaya, bukan secara etnis.

Mulai dari paragraf ini, kata-kata di sini aku tambahkan sendiri ya, tidak ada kata dari Prof. Djoko atau Pak Hendra sebagai koordinator kuliah umum Sains ini. Aku menanggung semua kata-kata sesudah paragraf ini. (Oh iya, mengenai struktur enzim yang mirip dengan babi juga aku mengambil tanggung jawab penuh, itu atas riset sendiri)

Ini mungkin alasan partai-partai konservatif biasanya tidak menggunakan perbedaan etnis atau ras sebagai alasan utama mereka menciptakan “Boogeyman”, tetapi mereka menggunakannya sebagai pembeda, dan akhirnya turun dari pembeda tersebut stereotipe berdasarkan ras. Sama seperti yang Trump lakukan dengan Meksiko.

Contoh saja ya. Trump menyatakan bahwa imigran Meksiko merupakan kriminal dan berbahaya bagi negara Amerika. Ini merupakan tuduhan budaya, bukan tuduhan ras. Trump lalu menyatakan bahwa ia harus melindungi Amerika dari isu ini. Ini juga merupakan tuduhan budaya. Pendukungnya menyimpulkan bahwa orang-orang meksiko merupakan orang kriminal. Dari tuduhan budaya tersebut, muncullah tuduhan ras, sesudah ada kesadaran akan perbedaan budaya.

Permainan ini merupakan hal yang pintar, dan licik, karena orang yang memercik api pertama tidak berusaha untuk menyalahkan ras, tetapi menyalahkan tindakan yang dilakukan, dan menggantungkan penyalahan ras-nya oleh pendukung atau penerima informasi.

Jadi, apa pendapat anda tentang ini? Selamat merenung dan berpikir…

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Are We Alone In The Universe? – Kuliah Umum.

Aku kembali ikut kuliah umum berseri! Hore! Kali ini, aku ikut kuliah umum di ITB, dengan tujuan kembali ke dunia empirik sesudah banyak (banget) mengkhayal di Unpar.

Materi pertama yang kudapatkan di serial Kuliah Umum Sains arus 1 tentang… *masukkan drumroll* alien. Oke, mungkin bukan alien, istilah alien sendiri kurang tepat, lebih tepatnya kehidupan di planet lain.

Materi ini diberikan Ibu Avivah dari Langit Selatan.

(buat yang tidak berdomisili di Bandung, atau memang tidak tahu… Langit Selatan adalah sebuah organisasi yang lumayan sering mengadakan acara observasi bintang.)

Selamat menikmati recap + komentar dan opini dari kuliah umum kali ini!

Materi-Materi Pembentuk Kehidupan.

Sebelum masuk terlalu dalam ke konsep pencarian dan cara pencarian oleh astronom di dunia, pertama-tama mari kita masuk dan mencari apa yang sedang dicari.

Air

Materi nomor satu yang dicari. Air. Kenapa air? Dari zaman filsuf Yunani, tepatnya, Thales dari Miletus, salah satu bapak dari ilmu pengetahuan, air adalah benda yang paling krusial dalam pembentukan kehidupan.

Air berperan penting dalam kehidupan manusia, serta dalam suhu, serta tekanan udara di suatu planet.

Jika planet dapat menyokong air dalam bentuk cair, besar kemungkinan bisa ada makhluk hidup yang mampu tinggal di planet tersebut tanpa merasakan suhu terlalu panas, terlalu dingin, dan tanpa kehilangan oksigen.

Oksigen

Kehidupan yang similer, (walau berbeda bentuk) dengan manusia, kemungkinan besar menggunakan oksigen sebagai gas yang berperan dalam respirasi. Jika ada air, maka ada oksigen, dan jika ada oksigen, berarti ada makhluk hidup yang mampu memprosesnya.

Adanya air berarti adanya oksigen, walaupun tidak dalam bentuk murni, dan adanya oksigen berarti ada kemungkinan penyokongan air.

Alasan penggunaan air sebagai fluida dan Oksigen sebagai gas yang menjadi kriteria pencarian planet yang mungkin bisa menyokong kehidupan, ada di pentingnya air untuk kehidupan berbasis karbon. Faktanya, kehidupan berbasis karbon (seperti pada dasarnya semua makhluk hidup di bumi) membutuhkan air, dan tentunya oksigen untuk bisa hidup.

Pertanyaan, mungkin, apakah mungkin jika ada penyokongan kehidupan dengan unsur lain, selain karbon misalnya?

Meskipun tidak dicari (setidaknya tidak dalam demand sebesar karbon), jawabannya iya, ini hal yang mungkin. Sebagai contoh (yang memang borderline science fiction, tapi tetep…) kehidupan berbasis Silikon tidak butuh air ataupun oksigen. Kehidupan berbasis Silikon akan cenderung mekanikal/robotika.

Planet-Planet yang dicari?

Kita sudah tahu apa zat yang dicari… sekarang mari kita masuk ke planet-planet yang dicari.

Pertama-tama… Planet batuan, atau setidaknya, satelit dari planet batuan. Karena, kita tidak bisa berdiri di atas gas, dan planet es akan membekukan semua potensi kehidupan. Oh, dan gravitasi dari planet gas terlalu besar untuk bisa membiarkan kehidupan tumbuh.

Kedua, planet tersebut harus berada di zona Laik Kuning. Namun, karena nama Laik Kuning terdengar membosankan, kita akan mengenal zona Laik Kuning dengan istilah Zona Goldilocks, dinamakan dari cerita Goldilocks and the Three Bears. Not too hot, not too cold. Cari sup milik anak beruang, bukan Papa Beruang (yang terlalu panas), atau Mama Beruang (yang terlalu dingin).

Ketiga, kemungkinan besar, planet tersebut harus berada di tata surya dengan bintang berwarna merah atau kuning, dan tidak terlalu besar.

Kriteria pencarian sudah dicoret, sekarang mari kita masuk ke pencarian itu sendiri!

Tata Surya

Sebelum mencari terlalu jauh…

Kabar baik, di alam semesta ada tiga satelit yang memiliki potensi untuk punya air. Adanya air berarti adanya oksigen, dan ini memberikan kemungkinan adanya kehidupan, atau setidaknya bibit-bibit kehidupan yang bisa muncul dari hal tersebut.

Pertama-tama, ada dua Satelit Jupiter, Europa, serta Io. Keduanya diberi nama berdasarkan pacar dari Dewa Jupiter sendiri (seperti semua satelitnya yang lain, karena pacarnya Jupiter sangat banyak), dan Europa adalah alasan benua Eropa bernama Eropa.

Kedua satelit tersebut memiliki atmosfer serta tekanan udara yang cukup untuk menyokong air, dan tentunya oksigen, tetapi memiliki sedikit masalah karena terletak cukup jauh dari matahari, dan memiliki jumlah es yang tidak sedikit. Io, memiliki air di bawah lapisan es yang tebal…

Berikutnya, ada Enceladus, satelit dari Saturnus, dan diberi nama dari seorang raksasa yang merupakan adik dari Saturnus, yang lahir dari Ibunya, Terra. Enceladus lahir untuk melawan Dewi Kebijaksanaan Minerva (juga diketahui dengan nama Yunani-nya, Athena).

Enceladus sendiri tampak seperti bulan. Berwarna abu-abu, sedikit berdebu, dan memiliki beberapa jerawat…

Tetapi, Enceladus memiliki air, atau setidaknya cairan. Ada metana di bawah lapisan berdebu tersebut. Memang, tidak ada air, dan secara teknis, seharusnya tidak perlu pencarian karena tidak adanya air, tetapi, Enceladus begitu dekat sehingga tidak mungkin untuk mengabaikan fakta bahwa ada kemungkinan kehidupan muncul di satelit tersebut.

Mungkin pada titik ini anda akan bertanya… “Kalau ada alien di Enceladus, bentuknya seperti apa?” Aku akan masuk ke sini, tetapi… sabar sedikit.

The Rest of the Universe?

Selamat datang di bagian yang berisi banyak hitungan matematika yang sebenarnya tidak penting, dan tidak ada di kuliah umum, tetapi aku ingin melakukannya karena menurutku ini menyenangkan!

Jika ada 100.000.000.000 galaksi di alam semesta. (angka merupakan tebakan kasar dari banyak membaca buku dan sejujurnya, siapa yang tahu jumlah pastinya?)

Dalam tiap Galaksi, ada 100.000.000.000 Bintang. (Sama, tebakan kasar juga, lagian, siapa yang tahu?)

Jika kita asumsikan, satu Bintang memiliki 8 planet, berarti ada 800.000.000.000.000.000.000 planet yang memiliki potensi kehidupan. Sayangnya, bintang yang berwarna Merah atau Kuning, ataupun bintang katai merah (sedikit lebih kecil dari Matahari) hanya 1/10, mungkin lebih sedikit dari jumlah tersebut.

Berarti, kita ada 8.000.000 planet untuk dipikirkan. Berikutnya, dalam satu tata surya, hanya ada (paling banyak) 3 planet yang terletak di zona goldilocks. Berarti, dari 9-10 planet di satu tata surya, hanya 3 yang memiliki potensi kehidupan. Ini menyisakan 1.6 sekian juta…

Dari begitu banyak planet yang ada di tata surya… apakah anda bisa berpikir bahwa hanya di bawah dari 3% dari planet tersebut yang bisa menyokong kehidupan? Ini belum menghitung adanya oksigen atau air lho.

Jadi, apakah pencarian kehidupan merupakan hal yang realistis?

Hasil Pencarian…

Aku payah dalam mengingat angka.

Maaf.

Plus, aku belum sempat mendapatkan fotokopi karena masih terdaftar sebagai peserta sit-in.

Namun, total dari 9000-an planet yang dicari, ada sekitar 300 planet, mungkin lebih, yang mampu menyokong kehidupan, dan masih ada 50++ planet yang belum jelas kondisinya.

Lalu, datanglah pertanyaan besar. Bentuk kehidupan apa yang akan muncul dari planet-planet tersebut?

Sayangnya, ini masih science fiction. Tata surya kita tercipta dalam kondisi amat ideal, dan sayang sekali, masih banyak planet alam semesta yang belum bisa menciptakan bakteria terkecilpun dari lautannya yang mungkin luas.

Kehidupan semua berevolusi dari bakteria, dan jika tidak ada bakteria, berarti tidak ada moluska, tidak ada tumbuhan, tidak ada hewan, dan tidak ada manusia… Planet macam apa yang bisa menciptakan bakteria?

Jadi pikirkanlah. Seberapa beruntungnya manusia?

[Azriel’s Late Post] Aquaporins Nobel Lecture

[Azriel’s Late Post] Aquaporins Nobel Lecture

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Foto Profesor Peter dari Laman Wikipedia beliau

At Wednesday, 22nd March I went to Sabuga because there is a Nobel Lecture from Professor Peter Agre, which is a Nobel winning biochemist. He won the nobel because he discovered Aquaporins, which he explains to be the plumbing system of your cells, more on that later. I registered for this seminar that I was excited for, 2 weeks before the D-Day.

Pre-Event:

Roughly 2 weeks before 22nd March I saw a promotion image for this seminar that I got from the HS Bandung Union group. A father of a friend of mine helped make the website for this seminar. I registered immediately and almost forgot about this event. Luckily I rechecked my images 5 days before this event and remembered its existence.

On the D-Day I was a bit late (30 minutes roughly, okay so not a bit, very late perhaps), and no it doesn’t really matter because I ended up queuing with less wait, because the gate only opened at 8.45 and I arrived at 8.30 with Arsyad, Afra (Arsyad’s older sister), Izzan, and Raka (who shared this event) queuing before me, so I would still end up on the same sitting spot even if I arrived early (These are one of those few moments where arriving late [compared to our expectation, not actual arrival time] is not a big deal). I got the second row because the first row’s central view is full, and I prefer getting a second or even third row that is close to the center.

Event:

Firstly, I got inside Sabuga at 9.00, however the event only started at 9.45. I used this time to Google and pre-search (I made this word; it’s a combination of Pre and Research). After getting a glimpse of Prof. Peter’s work and Aquaporins, a few people came with full uniforms? (Maybe Toga’s would fit too?) And sat on the stage. After listening to the choir standing on the left wing of the stage singing the ITB anthem, with Angklung from the right wing, Prof. Peter with 20-ish lecturers escorting him to the stage. Upon his arrival we sang the Indonesian National Anthem, Indonesia Raya.

After all that formality, there is still more speech before the lecture. ITB’s dean and head of science department gave a speech in English that is unclear due to the speaker blur, and accent from those 2. However I did catch a few words on not giving up at your dreams no matter how large though. The ITB Anthem is played again with angklung as well, and then the seminar starts. It started at 10.30 if I recall precisely.

Finally the lecture started. Prof. Peter starts by stating that water is the liquid of life, and without it, life cannot exist. After that Prof. Peter states that he wont explain about his work, because he said… “You can get that in many websites, so I don’t see any reason for me to explain it here” However he did explain that Aquaporins are the plumbing system of our cells, and closes if something with properties that is  not similar to water, but accelerates the flow of water. Now since he does not explain his work, exactly what did he explain? He explained how did he work to earn that Nobel.

Now like I said, he explained his work. He started by explaining that he was actually not looking into cells when he gathered his team, but he said that you might find what you are not looking for. Now I can’t really get 100% of what he is saying because once more, the speaker is blurry, and he speaks so fast, but I did hear him say that he was looking for diseases in some organ in the first place. When he saw a damaged cell, he took a closer look and he found that this damaged cell was in fact not flowing water as fast as normal cells. After discussion from this discovery, he and his team decided to take a leap of faith and study how cells process water.

After finding the basic plumbing system, he tried to classify it onto detail and he saw how cells in different organs work differently. Once classified, Prof. Peter and his team tries to see these specific parts of some cells and classified them onto Aqp1, Aqp2, and so on,  until Aqp6. 1 week after the discovery and publishing of his work. When he woke up in his lab if I recall precisely he actually sleeps in his lab when he and his team was working above 23.00) with the purpose of locating the disease that he was looking into before jumping onto aquaporins, he received a call from an unknown number and before even getting cleaned up, he heard “Good Morning Professor Agre, congratulations, you just won a Nobel prize, the conference will begin at 1.00 P.M.” (and he shared his reaction which I believe was like… “What?”) that was 10.00 in the morning. So he rushed home and cleaned himself up with some proper clothing and took his family and received the Nobel Prize that night. Upon receiving the Nobel, he actually thought that he has not succeeded because his main purpose of locating the disease is not complete. I think this is very humble, and should be taken example.

He followed with some history of his discovery. He started explaining that some other scientists a few decades before him have indeed known about the fact that water flows through cells faster than other fluids, but no one seems to be able to pinpoint why. He said that these previous theories include water’s unique property interaction with cells, but despite H20 has some unique properties, (such as Water Anomaly) there is no theory strong enough to back this anomaly up, which leads to a theory failure.

After all that is done, he decided that there is still time for him to explain more about Aquaporins. But, the speaker volume is still blurry, so I can only remember and listen, at the function of certain Aquaporins. I can’t remember its precise numbering, but we have Aquaporins on our blood cells, kidney, digestion system, and if I recall even our Brain has some. Prof. Peter also explained that the failure of these blood cells is not lethal, but can make some non-lethal things lethal, such as a common diarrhea can lead to very painful moments, even death. You would also need about twice drinking water values if you happen to have this condition, because waterflow with this condition is just terrible.

After this is done, comes the question session, which I am still slightly annoyed and disappointed until now. However I will still explain some questions that I remembered. Now this session is separated onto 2, one is for students, and the other is for scientists. With 3 people asking as many questions each. I remembered a scientist asking about how much fame Prof. Peter has achieved and has that accomplished his goal of fame. Prof. Peter. answered that he does not need fame, or pictures of him in lots of banners in the U.S. (on his way to Sabuga he saw several banners of his face) he doesn’t even feel like he needed to win that Nobel, as long as he can make people around him happy. He also said that his 2 granddaughters don’t know about the Nobel, but they do know about him being a nice guy and likes to buy ice cream for them. I like Prof. Peter because he is very humble. I cant remember other questions because I am still sad at how I don’t get to ask, but I guess that’s life. Also I was planning to ask, some questions about Aquaporins that I cant remember because I didn’t ask them, and how his team feels about Prof. Peter getting the Nobel.

After the 3rd time of the ITB song being sung, the event has officially ended with all of the lecturers escorting Prof. Peter outside.

Thoughts:
I feel honoured to hear Prof. Peter’s lecture and his humility. I am also amazed at his consistency at working, and just sees an award as a bonus, not a goal. I would actually love to ask, unfortunately I didn’t get a chance to make Prof. Peter remember that 14 year old asking him a question. But its ok, I’ll get my chance to ask in next year’s (or 2-3 years from now) Nobel Lecture.