Tag: kids science

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

At the 29th of August Jaja joined a public lecture about Ionic Liquids in ITB by Professor Günter Grampp, who is a lecturer from Vienna, Austria. I found out about this public lecture when I was looking for lunch at ITB, because as usual, every Tuesday I join a lecture there. Luckily, I stumbled upon the banner above, and well, I decided to join this public lecture. Note that I didn’t even know what an Ionic Liquid is, until I joined this public lecture, but it’s a fun and interesting lecture, and I asked a question in the end.

The contents of this article will be my thoughts about the things I heard in the lecture, and me breaking it down…

What’s an Ionic Liquid?

By definition, an Ionic Liquid is a salt in liquid form. But, hold on… The chemical term of salt isn’t really what most people think a salt is. A salt in chemical terms is a solid crystal that is broken down. The solid crystal can only be stated as a salt if it is made from an acid, and a base that is usually a solid metal. If the acid reacts with the solid metal, and the reaction becomes a crystal, that crystal is called a salt, chemically speaking of course. Our common table salt is made with the reaction of Sodium for the base and Chloride for the acid. Their reaction would make the Sodium less metal-like and more like a crystal that is usually hammered down and ground onto powder.

That’s a bit off-topic, but some fun knowledge about salt can never be wrong am I right?

Anyways, back onto the lecture, the more chemically accurate term for “salts” are Ionic Compounds, which is the solid form of these liquids. Usually, Ionic Liquids are made by melting these Ionic Compounds that are made the usual way salts are made. But hang on a bit… Some people might ask, does that mean if I have some table salt, and mix it up with some water that is an Ionic Liquid? Well, No, it’s not… That is a mixture, which unlike a compound, that has mixed onto the molecular level, a mixture is mixed outside of the molecular structures, and isn’t forming any new types of chemical properties.

Uses Of Ionic Liquids

These Ionic Liquids are created mainly to be the conductors in batteries. These Ionic Liquids could enhance the ability of conduction in solid things, and are usually used to soak up batteries so they could conduct more optimally. Ionic Liquids could do this because of their higher electrolyte numbers, which are the properties of conductivity in a liquid. If you remember some commercials of electrolyte water, well… You’re basically drinking salt in liquid form, which in a sense might provide you some energy I guess? Don’t take my word for it 😀

Other uses for these Ionic Liquids are to dissolve harmful ingredients, which does interest me since that way, the waste that factories make can easily be dissolved and forgotten, because apparently, these Ionic Liquids can do that, and much more efficiently than our common solvents (solvents are liquids we use to dissolve waste).

Apparently efficient is in terms of liquid usage. Their cost comparison is still pretty far from one another. I couldn’t remember the difference exactly, but if I recall, the cheapest Ionic Liquid still costs 10-100 times more per liter than our common solvent. So, despite Ionic Liquids have efficiency in terms of liquid usage, and is more effective at dissolving waste, as there is no waste left after dissolved, compared to our current solvents which still makes lots of waste, the cost to invest is still not a priority in the eyes of governments and laboratories.

Professor Grumpp Is Explaining The Uses Of Ionic Liquids

Table Of Ionic Liquids..

I couldn’t understand this so much to be honest.. but, here’s a table of Ionic Liquids when compared to our regular solvents and I’ll try to explain it to you, but if you aren’t in the mood of complex thinking, you can skip this paragraph, as it’s pretty complex.

A Table Of Comparation, Professor Grampp used the exact same one

The factors listed and their meanings…

  • Number of Solvents are the efficiency per particle in dissolving forms of toxic waste
  • Applicability is pretty simple as in the functions of the liquid, and Ionic liquids have multiple uses other than dissolving things
  • Catalytic ability is the ability to function as a catalyst in poison absorption
  • Chirality is the symmetry between it’s particles, and the more symmetrical it is, the better the process of absorption and dissolving of objects
  • Vapor pressure is (like it’s name) the ability to counteract pressure from vapourous sources, this means that Ionic liquids are capable of absorbing gaseous wastes, opposed to the organic solvents
  • Flammability is pretty simple, and Ionic Liquids aren’t flammable and won’t detonate when coming to contact with heat
  • Polarity is the differences in area (which leads to separation) on a molecular level. If a molecule isn’t affected by Polarity they are “connected” to one another much more, and would have the same amounts of electromagnetic conductivity in each part of the molecule. (If this is confusing, don’t worry, I googled this first :D)
  • Tuneability is basically the range of liquids available to do this job, and Ionic liquids has a wide variety
  • Cost… well, I’ve mentioned this in the above
  • Recyclability isn’t really a “real” term, but from Professor Grampp’s explanation, it’s basically the “price” we have to pay to recycle the object. Our Organic Solvents will make the ecological side of things worse, while the Ionic Liquids need more investments to recycle
  • Viscosity is the value used to count how well an object would react when “pulled” to a point of stress. The higher the value, the more flexible an object is when they are “stressed”. (yes this is a pun)
  • Density is how dense an object is, the more dense it is, the higher the mass that it has on a smaller area.
  • Refractive Index is how well an object would refract light, this actually points more onto how clear an object is, and how light would react when sent pass the object.

My Question

I asked Professor Grampp this question: “How far do you think we are onto a cost efficient Ionic Liquid?”

Professor Grampp said that the only problem with us reaching cost efficiency with using Ionic Liquids as a solvent is that companies that invest in the making of these liquids are expecting to get their investments paid back. Scientists that make these liquids also expect payment for their work, and whilst it’s not impossible to use Ionic Liquids now it’s just not efficient because some people need to get paid, and unfortunately, the cheaper Ionic Liquids aren’t that different from our current Solvents, therefore, I think if companies finally decide it’s time to invest in the development of cheaper Ionic Liquids, only then we’d reach the point of efficiency.

I’m very satisfied with Professor Grampp’s answer, and I actually like that Professor Grampp used more objective words that isn’t actually blaming companies for their greed, because we do know that money doesn’t come without effort or for free. One day, I wish some company could invest in using some more expensive ingredients to make a more sustainable version of solvents, or anything else really.

Conclusion

Not only am I satisfied with the answers and knowledge provided in Professor Grampp’s lecture and answer, but I also enjoyed listening to his way of presenting the lecture as he did it casually while making jokes. I’m pretty certain that the lecturers I want when I go to college are those that are responsible, but can still lecture casually.

That’d be all from Jaja Azriel today, and thanks for reading!

[Azriel’s Late Post] Nano Science Camp For Kids

[Azriel’s Late Post] Nano Science Camp For Kids

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Nano Science For Kids

Experience Sharing By Azriel

Pra Acara:

Kurang lebih 15 hari sebelum Hari pertama Nano Science… Bubi menemukan acara ini untukku, namun sayangnya acara ini sudah full dan aku masuk waiting list. Bubi berusaha request ke CP untuk dapat kelonggaran, karena anak Homeschool sepertiku tidak bisa dapat informasi acara secepat anak-anak yang formal school. Aku juga sebenarnya mulai kehilangan harapan bisa ikut acara ini. Tapi Bubi memberi ide untuk berusaha langsung saja ke ITB dan request accelerate waiting list sendiri.

5 hari sesudah penolakan akselerasi Nano Science-ku, aku mengikuti saran bubi untuk ke ITB (Kebetulan aku ada seminar ke ITB hari itu.) Sesudah seminar itu selesai aku berjalan ke Pusat Penelitian Nano Science, dan masuk ke yang sepertinya, pintu eksklusif untuk dosen (pintu utama terkunci), untuk memberi kartu namaku dan request naik waiting list in person. Aku kurang ingat pembicaraan-nya secara detail. Namun selama itu aku sharing pengalaman homeschoolingku, magang, minatku di sains dan apa yang aku ketahui. Aku juga cerita cukup banyak mengenai pengetahuanku di Nano Sains. 3 kakak yang mendengar ceritaku, bilang ke aku untuk berusaha menaikkan aku di waiting listnya sebisa mungkin. Sesudah hari itu aku belum  mendapat konfirmasi lagi mengenai acara ini, dan aku rasa kemungkinan aku dapat acara ini cukup tipis.

Tanggal 8 Desember, Bubi ditelpon pihak Nano Science, untuk menginformasikan bahwa aku menjadi salah satu dari 28 anak untuk mengikuti acara Nano Science tersebut. Alhamdulilah aku masih bisa dapat spot untuk ikut acara ini. Ternyata kepala biro sendiri yang request langsung agar aku bisa mengikuti acara Nano Science ini.

Day 1, December 12th 2016

 

Berpose untuk membuktikan kehadiran 😛

Pada hari Senin, tanggal 12 desember, hari yang sudah kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Acara Nano Science For Kids and Teachers dimulai pada tanggal itu. Meski pada tanggal desember 12, aku baru check-in ke kamar di Hotel Sawunggaling. Setelah menunggu teman sekamarku cukup lama (ternyata dia belum akan datang hari itu, melainkan dia datang besok), aku memutuskan untuk kenalan saja bersama teman-temanku (yang tidak sekamar).

Aku memutuskan untuk turun kebawah dan minta list kamar-kamar yang diisi peserta Nano Science lain. Sambil turun, aku juga mendengar secara tidak sengaja bahwa akan ada anak gubernur jawa barat, tapi aku belum tahu yang mana, namun dari melihat list dan ada 4 anak yang belum datang, dan salah satu dari itu berasal dari Jakarta hanya tersisa 3 anak untuk aku cari tau. Setelah mendapat informasi kamar-kamar yang diisi aku mengetok 5 kamar dan hanya 3 kamar yang menjawab. 2 kamar yang lain mungkin belum ada orangnya karena aku mencoba mengetok sekali, dan kedua kalinya 15 menit kemudian. 2 dari kamar lain tidak tampak tertarik ngobrol lebih lanjut sesudah berkenalan. 1 kamar yang kuketok terakhir cukup baik dan mereka ingin ngobrol lagi sesudah mereka mandi.

20 menit kemudian, Joshua dan Dhewa, ikut makan malam di kamarku. Mereka berasal dari Salatiga, dan belum pernah ke Bandung sebelumnya. Tapi kedua ortu mereka alumni ITB yang mengantar mereka sambil reuni bersama alumni ITB lain, kurang lebih mereka bercerita seperti itu. Sesudah makan malam, kita bermain kartu Genie Labyrinth sambil mengobrol lebih lanjut. Pada pukul 19.30, Joshua dan Dhewa bilang mereka lapar dan ingin jalan-jalan. Jadi aku memutuskan untuk ajak mereka cari restoran. Tidak sampe 200 meter keluar hotel, Joshua dan Dhewa langsung bertanya harga dari Cafe Chingu mereka terkejut ada Cafe di Bandung yang semurah itu, dan kita akhirnya snack malam disana. Hari pertama sudah selesai dan aku langsung tidur karena aku mengantuk. Aku kembali ke kamar kurang lebih jam 9.30.

Fotoku di Chingu bersama Dhewa dan Joshua

Day 2, December 13th 2016

Pagi-pagi kurang lebih jam 6.00 aku bangun dan mandi, sesudah mandi aku turun dan sarapan. Menurutku sarapan di Sawunggaling cukup enak dank arena sifatnya buffet, sangat mengenyangankan. Aku duduk bersama Dhewa dan Joshua karena aku masih belum sempat berkenalan dengan orang lain. Sesudah makan kami berkumpul dan kelompok pun dibagi. Aku berkenalan dengan 4 dari 5 orang di kelompokku, karena salah satu baru akan aku temui di ITB.

Sesampai ITB kami disambut seminar dari Prof Bambang Sunendar dan bagaimana kemajuan nanoteknologi di kehidupan sehari-hari sampai tingkat penelitian. Sebelum masuk terlalu dalam, Prof Bambang memulai dengan membahas Makro dan Mikro, dimana Makro adalah teknologi dalam skala dan ukuran yang besar, dan Mikro adalah teknologi dalam skala dan ukuran yang kecil. Nanosains jelas masuk ke kategori Mikro. Menurut Prof Bambang, teknologi di dunia ini makin mengecil dan bertambah efisien karena dengan ukuran yang lebih kecil, performa sebuah alat tetap sama, atau bahkan meningkat. Sebelum lanjut, aku ditanya oleh teman sebelahku, kenapa kamu tidak mencatat, nanti klo ga hapal gimana? Dan aku menjawab bahwa, buat apa dihapalin? Kan yang penting ngerti.

Mulai masuk ke bagian yang mendalam kita bahas definisi terlebih dahulu, nanosains adalah nama dari sebuah cabang sains di fisika yang menggunakan fisika kuantum sebagai basis dasarnya. Tapi untuk mencapai sebuah tahap dimana sebuah teknologi ato rumus perlu dihitung dengan nanosains, dibutuhkan ukuran dalam satuan nanometer yaitu 1/1.000.000 dari sebuah milimeter. Dalam skala itu baru nanosains dan fisika kuantum baru bisa digunakan jelas Prof Bambang. Sesudah penjelasan definisi, Prof Bambang bertanya secara retorikal, disini ada yang sudah belajar kuantum fisika belum? Dan aku menjawab aku mengerti dasar dari fisika kuantum. Sesudah menjelaskan dengan kata-kata yang mirip dengan ini: “Kuantum fisika itu fisika yang digunakan dalam skala yang lebih kecil dari satu atom, dan dalam ukuran itu, hukum fisika jadi aneh dan cenderung kacau, jadi kita ga bisa lihat dunia kuantum dengan apa yang kita tahu dan rasakan sekarang”. Prof Bambang melanjutkan dan memberitahu bahwa definisiku benar tapi dengan bahasa yang lebih ilmiah. Sesudah menjelaskan Prof Bambang bertanya padaku aku bersekolah dimana, kok udah ngajarin fisika kuantum? Dan aku jawab, aku belajar sendiri kok pak, aku Homeschooling.

Setelah kita memaham definisi, Prof Bambang lanjut ke fungsi dan aplikasinya.  Nanosains sekarang sudah diterapkan di hampir semua bidang yang diketahui manusia. Contoh untuk  itu, jangankan Handphone atau kendaraan, bahkan makeup dan beberapa jenis lotion sudah menggunakan nanosains untuk menutup pori-pori lebih rapat lagi. Selain itu, juga masih banyak lagi aplikasi di dunia nyata, seperti: Sains Riset, Teknologi Informasi, Teknologi Transportasi, dan masih banyak lagi.

Sesudah itu kami menonton beberapa video mengenai demo Nanotechnology. Video pertama mengenai Hydrophobic coating dan aku merasa itu sangat keren, karena lapisan itu bisa membuat sebuah benda, benar-benar waterproof dan membuat semua benda terjatuh seolah-olah mereka terpeleset dari lapisan yang Hydrophobic itu. Hebatnya, bahkan ketika sudah tercemplung lumpur, minyak dan benda-benda kotor lainnya, tidak ada bekas sedikitpun. Kecuali mungkin ada bau tidak enak sedikit. Beberapa researcher sekarang lagi mendevelop smart clothing (Seperti biasa… Ambil hal sehari-hari, tambahkan kata smart dan dia terdengar sangat keren) dengan teknologi nano sains. Aku jujur saja kurang yakin atas teknologi ini, meski jika terwujud, aku yakin aku akan suka. Smart clothing ini nanti akan sering digunakan di rumah sakit untuk display live dari x-ray dan pulse rate.

Sesudah pergi dari ruang seminar kami berkumpul per kelompok dan pergi ke lab tujuan masing-masing. Lab yang aku tujui adalah lab SEM dan TEM (Scanning Electron Microscopes dan Transmission Electron Microscopes) Sebelum masuk lab, Ibu Damar Rastri yang merupakan lab host kita, “menjemput” kita di ruang seminar dan mengantar kita masuk lift yang butuh ID Card untuk masuk, dan juga sebuah pintu yang terkunci, dan butuh autentikasi (aku kurang ingat spesifiknya apa) untuk membukanya. Aku merasa ini lab classified dan berpikir bahwa ini lab keren. Semoga saya tidak dimarahin karena menulis mengenai lab ini :P.

Kami memulai dengan memotong-motong sampel kami, yaitu bunga, dan kami mengambil mahkota bunganya, putiknya, benang sarinya, dan batangnya. Kami lalu menempelkannya dengan pinset ke sample spot-nya. Semua proses ini dilakukan tanpa kontak langsung, dan bahkan tanpa kontak dengan sarung tangan, operasi ini dilakukan dengan alat-alat.

Sesudah bahan untuk dilihat SEM disiapkan, yaitu lalat yang disiapkan Ibu Damar dan bunga yang kita sendiri siapkan. Bahan tersebut dilapisi emas agar Mikroskop SEM dapat membaca bentuknya. Ini perlu dilakukan karena SEM hanya bisa membaca surface yang sudah konduktif, atau yang reflektif. Contoh material lain yang bisa jadi lapisan adalah karbon, perak, platinum dan besi. Namun yang paling efektif adalah emas.

Sambil menunggu emas dilapisi ke SEM, Ibu Damar menjelaskan cara kerja SEM. Secara singkat, SEM mengalirkan gelombang elektromagnet ke lapisan konduktifnya, dan membuatnya “bersinar”, sesudah gelombang elektromagnetik mengalir, gerakannya akan dibaca oleh SEM dan membentuk gambar di screen PC terpisah. PC tersebut terinstall software spesifik untuk membaca dan mendisplay hasil gambarnya. Sampel yang sudah dilapisi emas akan dimasukkan dan dibaca oleh SEM dan hasil gambar di transfer ke PC. Dalam PC itu kita bisa mengatur zoom in zoom out, mengambil gambar, dan banyak fitur lain.

Sesudah keluar dari laboratorium SEM-TEM, sebelum makan siang aku melanjutkan “investigasiku” karena aku penasaran siapa anak dari Gubernur, sambil menunggu makan siang, aku mencari nama 3 anak yang tersisa dan aku menemukan, bahwa ternyata teman sekelompokku, Abdul Hadi yang ternyata anaknya Gubernur. Aku bertanya ke dia dan dia pun mengaku. Hari itu makan siangnya Gokana, katsu paling enak di indonesia yang aku tahu, dan aku sangat suka. Sambil makan siang, Hadi ngobrol bersama gurunya, yang nanti ngobrol bersamaku beberapa kali.

Sesudah makan siang selesai aku langsung sholat dzuhur. Turun lagi dari sholat dzuhur, aku mengambil 5 sachet hot chocolate untuk dibagi dan diminum sendiri di hotel. Sambil meminum teh, aku bertemu seorang bapak2 yang aku asumsikan sebagai guru. Beliau bertanya metode homeschoolingku, mendapatkan ijazah, apa ada guru, sosialisasi dan beberapa hal lain. Aku menjawab dengan jawaban yang sama dengan jawaban biasaku. Seperti: “Aku belajar otodidak, fokusnya ke minat, aku minat di Programming dan Sains”, ” Ijazah nanti via Paket B, aku mengambil paket B tahun ini”, “Aku belajar otodidak tanpa guru, paling magang dan ngerjain projek”, “Sosialisasi aku enak kok pak, buktinya aku bisa fit-in sama anak lain yang seumuran”

Sesudah break lunch selesai, kami jalan ke Lab Air Kering. Dimana aku bertemu dengan bapak-bapak yang tadi mengobrol bersamaku, ternyata Pak Heri mahasiswa S3 di ITB. Pak Heri menjadi Lab Host untuk materi filter air dan memulai dengan menanyakan cita-cita kita nanti. Sambil cerita ini aku akan memperkenalkan orang-orang di kelompokku. Temanku Hadi yang tadi sudah aku sebut, ingin menjadi pengusaha seperti kakaknya, lanjut ke berikutnya adalah Daffa, yang sama cerewetnya dengan aku dan Hadi, ingin menjadi astronot, berikutnya ada temanku lagi Ibrahim, yang belum tahu ingin jadi apa, tapi dia tahu dia ingin berkuliah di ITB di fisika atau elektro, semua laki-laki di kelompokku asal bandung. 2 anggota lagi di kelompokku kebetulan perempuan, Vla ingin jadi psikologis, dan dia berasal dari Jakarta, anggota yang belum aku sebut, Hesti berasal dari garut dan ingin jadi guru. Kalau aku… Aku ingin jadi ilmuwan, atau programmer.

Kembali ke relevansi, Pak Heri membuka materi filter air dengan persentase air di dunia. Sesuai pengetahuanku sebelumnya, hanya dibawah 1% dari air di dunia yang bisa di konsumsi. Pengetahuan baruku adalah bahwa 1% air tersebut sudah cukup memberi makan manusia setidaknya 100.000 tahun dan jika di distribusikan dengan benar, daerah-daerah seperti Afrika pun bisa memiliki suplai air. Untuk memfilter 1% dari air laut, butuh filter air laut yang efektif, efisien dan stabil.

Filter Air Laut yang akan dijelaskan disini memakai 4 lapis membran, masing-masing membran bisa memfilter kotoran yang berbeda-beda. Ada banyak jenis membran untuk memfilter air, dan perbedaannya bisa dari kerapatan dan juga bahan membran. Bahan membran paling menarik untukku adalah yang dibuat dengan cara mencampur kapur ke air dan menggunakan electromagnetic stirrer untuk mengaduknya. Sesudah diaduk akan dipadatkan dan dibentuk untuk menjadi membran.

Pak Heri pun mengajak kita keluar untuk menganalisa cara kerja filter air tersebut. Caranya cukup simpel menurutku, hanya perlu masukkan air kotor ke pompa dan nyalakan tekanannya. Kalau tekanan cukup maka membran akan menahan benda-benda yang sifatnya kotor dan membiarkan sisanya lewat. Air bersih ini lalu dikumpulkan di satu kontainer.

Filter ini extra efektif untuk membersihkan air laut, namun juga berguna untuk air tawar. Pada hari jumat filter buatan ITB ini di pamerkan di Expo Teknologi di Hotel Horison. Aku masih yakin filter ini, meski sudah menggunakan membran nano, dan membran keramik, masih bisa lebih efektif lagi, karena air laut hampir tidak mungkin di pompa secara manual per liter.

Pak Heri menanyakan opini kita mengenai Filter Air ini, Aku beropini bahwa ini akan sangat berguna dan efektif jika bisa diterapkan di skala besar. Teman-temanku punya opini masing-masing, tapi menurutku opini Hadi yang paling menarik. Hadi beropini ke sisi bisnis dan bantuannya, Hadi berpikir bahwa jika pemerintah bisa funding untuk develop filter air ini dan mendistribusinya, daerah-daerah dengan kasus kekurangan air. Ia juga melihatnya dari sisi bisnis, dan jika Indonesia bisa ekspor ke luar negeri, Indonesia bisa punya potensi ekonomi yang meningkat. ITB-pun akan makin maju menurut dia. Itu opini yang sangat bagus menurutku.

Sesudah kita selesai, kita bersiap-siap pulang. Aku dan Hadi duduk bersebelahan di bis dan Hadi juga ditemani gurunya, Pak Okky. Selama perjalanan pulang, Pak Okky bertanya beberapa pertanyaan yang sama seperti dengan pertanyaan-nya Pak Heri ketika istirahat makan siang. Kujawab dengan jawaban yang similar, aku ditanyakan set pertanyaan itu 5-6 kali oleh semua lab host yang berbeda-beda dan juga oleh beberapa guru, jadi aku sudah mulai membiasakan.

Hasil gambar yang aku ambil dengan mikroskop SEM
Hasil gambar yang aku ambil dengan mikroskop SEM

 

 

 

 

 

 

 

 

Mikroskop TEM yang kita tidak pakai karena butuh persiapan bahan-bahan khusus.
Electromagnetic stirrer sedang mengaduk cairan kapur untuk dijadikan membran

Sesampai di hotel, aku sudah berencana mengobrol dengan Dhewa, Joshua, Hadi, dan teman sekamarku, yang belum sempat datang Ditto. Sayangnya Ditto memutuskan untuk pindah kamar agar dia bisa sekamar dengan temannya. Untungnya, Hadi setelah ku ajak, mau tidur di kamar bersamaku tapi barangnya dia simpan di kamarnya, ia juga kembali ke kamarnya setiap adzan shubuh. Sesudah makan malam, aku dan hadi menonton Charlie and The Chocolate Factory, dan tidur ketika sudah selesai. Kami bangun lagi saat Adzan Shubuh, dan sholat lalu bersiap-siap untuk aktifitas esok hari.

Gambar Kartu Namaku di pintu Lab SEM-TEM dan di Lab Air Kering.
Gambar Kartu Namaku di pintu Lab SEM-TEM dan di Lab Air Kering.

 

 

 

 

 

 

Day 3, December 14th 2016

Shubuh aku bangun dan langsung sholat jamaah bersama Hadi. Sesudah selesai sholat, Hadi langsung ke kamarnya. Sedangkan aku tidur lagi dan baru bangun lagi jam 5.30. Sesudah mandi dan sarapan, kami langsung berangkat ke ITB. Sesampainya ITB aku dan kelompokku langsung ke Lab Advanced Material Processing dan membahas Hidrophobia. Lab host kita kali ini adalah Kak Rani.

Sebelum masuk ke lab dan praktek, Kak Rani menjelaskan bahwa Hidrophobia adalah sebuah sifat benda yang terjadi karena kerapatan molekuler sebuah benda yang bersifat “anti” air. Hidrophobia sendiri adalah kondisi yang bisa di implementasikan dengan cara modifikasi partikel dalam skala nano. Lapisan ini dapat dibuat dengan beberapa bahan kimia khusus yang dipererat tali ikatan molekulernya sampai skala nano.

Kak Rani juga menjelaskan bahwa secara definisi, sebuah benda yang hidrofobik akan cenderung memisahkan diri dari benda hidrofilik, dan menolaknya. Cairan hidrofilik, di sisi lain akan menempel dan bercampur dengan airnya.

Sesudah teori dijelaskan, kami langsung praktek di lab, prakteknya cukup sederhana (ada 2 eksperimen), namun butuh lapisan hidrofobik yang digunakan ke sebuah permukaan. Pada eksperimen pertama, kami membakar sebuah fragmen kaca dan melapisinya dengan cairan hidrofobik coating, dan dengan bantuan sedikit air, kaca itu menjadi bersih berdasarkan seberapa panas titik di kaca yang kita siram. Saat eksperimen ini, aku dan Hadi membakar meja karena kita menumpahkan cairan ignition yang masih menyala ke meja, untungnya kita cukup cepat reaksinya untuk membunuh oksigen di sekitaran api agar apinya padam.

Eksperimen kedua lebih simple lagi, dan tidak menghasilkan ledakan api untungnya. Eksperimen dimulai dengan pelapisan cairan hidrofobik. Permukaan yang sudah dilapisi itu lalu dialiri cairan, jika cairan tersebut adalah cairan hidrofobik, dia akan jatuh seperti sebuah cairan yang menempel ke permukaan pada umumnya, dan ada kemungkinan meninggalkan bekas. Namun, jika cairannya adalah cairan hidrofilik, dia akan tergelincir dan turun seperti orang terpeleset di atas es tanpa meninggalkan bekas. Uniknya, ada benda (seperti tinta) yang bersifat hidrofobik-filik, air di tintanya adalah cairan hidrofilik, dan pewarnanya adalah cairan hidrofobik. Aku dan kelompokku pun mewarnai permukaan tersebut sampai lapisan hidrofobik coatingnya habis. Hasil dari kegiatan “seni” plus sains kita cukup bagus, namun aku lupa foto.

Eksperimen kedua menunjukkan bahwa air, kecap dan air di tinta adalah hidrofilik, sedangkan kecap, minyak, saus, dan pewarna di tinta sebagai hidrofobik. Kurang lebihnya eksperimen singkat kita selesai disitu dan kita melanjutkan ke “sharing” (karena masih sangat banyak waktu) apa yang membuat kita ikut acara nano sains ini, dan pesan kesannya. Aku sendiri sangat senang dengan materi ini, dan aku juga menjawab aku selalu ingin belajar nano sains. Untuk pesan aku tidak memberi terlalu banyak, dan hanya member satu, yaitu percepat sharing-an untuk anak homeschool juga agar adil. Kesanku mengenai acara ini senang bisa kenalan dengan banyak orang dan belajar banyak hal baru.

Karena masih ada 1 jam ke makan siang, kakak pendampingku, kak Khalid mengajak kita keliling ITB, dan kita melewati beberapa taman-taman dalam ITB dan beberapa fakultas. Setelah 30 menit berkeliling kita ke perpustakan untuk 15 menit dan sebenarnya tidak melakukan banyak hal selain melihat2 buku, karena perpustakan harus tutup.

Makan siang pun tiba dan aku mengambil beberapa kemasan hot chocolate lagi. Tapi kali ini, ada Guru yang lihat, dan mengobrol bersamaku mengenai homeschoolingku, ini kurang lebih pembicaraan ke 4 selama acara ini. Namun kali ini keluar beberapa pertanyaan yang berbeda, menanayakan bagaimana aku bisa mengerti fisika kuantum, karena sepertinya beliau ingat hari pertama. Aku menjawab aku googling sendiri, tapi penasaran soalnya aku suka nonton beberapa film sains fiksi, namun aku telusuri lebih lanjut agar ilmunya lebih lengkap. Karena aku juga senang mengobrol bersama Ibu Guru ini, aku mengantar satu cup hot chocolate ke kamarnya di malam hari.

Sesudah selesai break makan siang dan sholat dzuhur. Materi terakhir acara ini, yaitu DSSC  dilaksanakan di Lab Advanced Materials Processing. DSSC adalah Dye Sensitive Solar Cell, yang merupakan sebuah solar cell yang dicelupkan dalam “pewarna” agar bisa menyerap energi surya. DSSC lebih efisien dari solar cell pada umumnya dalam short term range jika diukur berdasarkan waktu. Jika diukur dengan ukuran, DSSC akan selalu lebih efisien dari solar cell pada umumnya karena biasanya ukuran DSSC 75-90% lebih kecil dari solar cell. Namun jika bicara biaya, DSSC hanya efisien untuk penggunaan di pabrik, karena perumahan belum bisa mengkonversi energi yang DSSC hasilkan dalam bulanan, dan biaya untuk “pewarna” untuk menyerap energi yang dihasilkan DSSC ini masih ada banyak energi yang terbuang.

Setelah teori yang cukup singkat, aku dan Hadi mulai membuat “Dye” dari bluberi. Aku jujur saja, tidak ingat seratus persen kenapa menggunakan bluberi, namun seingatku, bluberi digunakan karena mudah dicampur dengan cairan elektrolit untuk menyerap energinya. Kami juga membuat panel mini yang ukurannya hanya 3 cm dan melapisinya dengan “Dye” tersebut. Sesudah itu semua selesai, aku dan kelompokku mulai mencoba-coba DSSC di 3 sumber cahaya berbeda, yaitu, lampu LED, lampu substitute matahari (aku lupa nama ilmiahnya), dan cahaya matahari. Sayangnya DSSC kita ada design error di konduktornya, dan waktu sudah habis. Jadi hasil riset ini tidak bisa dipakai. Pada akhirnya kita hanya menghasilkan 0.09 KwH, dan itu sedikit mengecewakan. Namun untungnya kelompokku menyadari kesalahan itu dan menganggap ini sebagai kesempatan belajar.

Sesudah ini kita mendapat materi bonus untuk visualisasi atom dengan software ekslusif linux di labkom, Avogadro. Menurutku ini software “menggambar” paling mudah yang pernah aku gunakan, karena menggambar bentuk atom jadi sebatas ilmu kimia. Untuk menggambar atom dengan Avogadro cukup input kode di Python, atau C++ jika bisa programming, mengenai bentuk atom dan unsur-unsur yang akan digunakan. Bentuk atom itu akan tergambar sesudah compiling. Jika tidak bisa programming, kita juga bisa menggambar secara manual, meski menurutku lebih susah (tetap lebih mudah dari program menggambar lain).

Hari ke 3 di ITB pun selesai, dan esok hari kita tidak akan kembali ke sini lagi karena adanya outbound. Sepulang dari ITB aku dan Hadi langsung makan malam bersama-sama di kamar. Aku membuatkan Hot Chocolate untuk Ibu Guru yang tadi siang bertemu denganku, dan mengantarkannya. Sambil nonton bola di kamar paling besar yang ada peserta Nano Science-nya, aku mendownload film untuk nanti ditonton bersama Hadi sebelum tidur. Hadi dan aku memutuskan untuk nonton The Sorcerer’s Apprentice. Seiring berjalannya film, Hadi tertidur, dan aku baru tidur ketika filmnya habis. Aku juga sudah menyiapkan baju untuk Outbound esok harinya.

Hari ke 3 selesai disini, dan aku jujur tidak ingin cerita mengenai Outbound karena aku sangat buruk dalam koordinasi timnya, sampai salah satu teman sekelompokku minta aku untuk tenang berkali-kali dan jangan banyak bergoyang. Masalahnya aku tidak panik jadi tidak bisa menenangkan apa pun, untuk mengurangi getaran tubuhku.

Eksperimen Hidrofobik dan Hidrofilik
Eksperimen DSSC

 

 

 

 

 

 

Eksperimen DSSC
Eksperimen DSSC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Day 4, 15th December 2016

Aku jujur saja, sangat sedih acara ini selesai, karena aku masih ingin mengobrol dengan Hadi beberapa kali lagi, belajar nanosains lebih mendalam lagi. Namun untungnya aku sudah meminta nomor whatsapp Hadi untuk nanti kontak-kontakan dan ngobrol lebih lanjut. Ya namun semua hal baik akan berakhir. Sesuai paragraf sebelumnya aku tidak akan cerita mengenai outboundnya, karena itu sedikit mengganggu karena aku kesulitan.

Camp CIC Lokasi Outbound

Di perjalanan pergi yang kebetulan tertunda 1 jam karena bis yang mestinya menjemput kita mogok, tidak banyak yang terjadi, karena Hadi tertidur jadi aku tidak bisa ajak ngobrol sama sekali. Begitu pula perjalanan pulang, mungkin Hadi lelah. Sesudah mandi sore dan packing, aku dan Bubi yang sudah menjemput langsung menonton star wars, tapi cerita Nano Sains ku sudah berakhir disini.

Personal Thoughts And Experiences:

Pengalamannya sangat menyenangkan dan membantu aku melihat dunia nano dalam skala besar dan kecil. Jika dipecah-pecah per pengalaman, setiap workshop atau materi ada kelebihan dan kekurangannya, namun aku paling suka materi Hidrofobik dan Hidrofilik, dimana aku (dan Hadi) membakar meja karena kita sedikit ceroboh. Aku yakin kelompokku meninggalkan mark sendiri di setiap Lab Host, karena kelompokku paling cerewet jika kubandingkan dengan kelompok lain dan paling banyak komentar di hal-hal yang belum tentu perlu di komentarin, untungnya komentarnya seringkali bermutu.

Salah satu faktor tambahan yang membuatku senang mengikuti acara ini adalah bertemu dengan Hadi dan bahkan sekelompok, dan sekamar. Hadi itu menurut aku anak yang pintar dan bisa melihat hal-hal dalam sudut pandang bisnis, yang aku sangat jarang gunakan. Hadi juga enak diajak ngobrol dan gampang diajak bercanda. Meski dia anak gubernur, dia memandang dirinya sama seperti anak yang lain, dan bahkan jika dia bukan, aku akan tetep seringkali ajak dia ngobrol, karena dia menyenangkan dan menarik. Hadi dan aku masih sering chatting dan aku ingin bertemu dia lagi.

Oh iya.. Aku juga memberi semua Lab Host kartu namaku, dan aku juga menitipkan kartu namaku untuk Bapak-nya Hadi. Semoga semua orang yang aku temui bisa ingat aku kalau nanti ketemu lagi. Aku juga minta kontak dari: Hadi, Dhewa, Joshua, dan Daffa.

[Azriel’s Late Post] My Paper On CERN

[Azriel’s Late Post] My Paper On CERN

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

What is CERN? CERN is a council that does nuclear research, it uses French for its acronym what does it stand for? ConseilEuropéen pour la RechercheNucléaire (As I’ve said European council for nuclear research)

Location: Meyrin, Switzerland precisely in the Route de Meyrin.

History: The CERN lab was founded or created, at 29th September 1954, apparently that is when nuclear based tech starts to become famous, and there were 12 countries taking part in this project firstly(Switzerland, France, Belgium, Denmark, Germany, Greece, Italy,  Netherlands,  Norway,  Sweden, United Kingdom, and Yugoslavia), now there are 80.

Cyclotron: this is not from CERN but this might matter at the next part, a cyclotron is a particle accelerator that uses electronic forces and sends them to the particle accelerating it…

CERN’s first Accelerator: CERN was in to particle acceleration since it was created, and it is first ever accelerator was called the synchrocyclotron which focuses in nuclear science, and I think this thing accelerates particles to fuel nuclear energy. The difference of the synchrocyclotron, is, the electric shock used is not constant it increases depending on the particles speed, now this is the first particle accelerator reaching the near speed of light (probably hypersonic.) this accelerator was disabled at 1990

First particle collision: the first particle collision to happen at CERN, is using the proton synchrotron accelerator, uses special proton beams that jetted particles, and due to this collision (I believe it did not reach light speed I do not know for sure) a new world of particle physics is opened, and due to this collision the Large Hadron Collider existed!

Antiparticles: This is a project CERN has been working on actually, it regards antiparticles, and anyway what is this particle? The antiparticles are a coolparticle that has the same mass, but has an opposite particular structure and charges if compared to the original particle, also its positron has an opposite charge, apparently a few antiparticles are created in particle acceleration and collision.

Large Hadron Collider: The most famous particle accelerator ever in the history of CERN it is also the largest particle accelerator or collider in the world, it is created to answer dozens of physics based question, and my 3 favorite questions and projects include: the search of a parallel dimension or universe which actually means we might actually not be the prime universe, if we are not the prime universe what will happen in our alternate lives? Project ALICE is apparently a project that is trying to figure out what did the big bang created, one of the objects that the big bang created is an amazing particle called quark which uniquely is fluid, because if I am correct not much quarks are not solid, the quark that project ALICE is trying to recreate is called a quark-gluon plasma which is actually a liquid state of matter that theoretically would give us a clue about quantum mechanics, this liquid state of matter is hot or warm, and very thick (scientific language is high temperature and high density) lastly is project CMS which hunts for quantum mechanics and the Higgs Bosonor the god particles, which apparently is a particle created with weak electromagnetic fields and the Higgs Boson is theoretical, and hard to prove but, once we know it exists we know it’s everywhere, but if Higgs Boson exists, it is no use for non-scientists (theoretically)

Big Bang Energy: Large Hadron Collider would also try to find this energy of the big bang that started with a single hydrogen particle apparently CERN is trying to recreate this energy, only with 2 light speed Hydrogen particles, although it might cause a black hole, an energy explosion that destroys this planet, it could also open a new dimension, or even create a new universe and a new energy source, but it is still theoretical.

Conclusion: well apparently CERN could reopen possibilities of everything or end this universe, so my question to CERN is are your experiments dangerous or incredible??

Sources: