Tag: kids activity

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!

Jaja Jadi Panitia Games Anak-Anak, Day 2!

Jaja Jadi Panitia Games Anak-Anak, Day 2!

Tanggal 31 Agustus Kemarin, Jaja kembali ke Metro Indah Mall untuk hari kedua menjadi panitia di acara Fun Games ini. Kalau belum baca acara hari pertama-nya, bisa di cek disini. Nah, sesudah acara hari pertama untuk anak TK selesai, aku ikut lagi untuk membantu di lomba anak SD.

Acara ini juga memiliki format yang mirip seperti kemarin, dan ternyata pos-pos TK kemarin belum ditutup, karena akan ada lagi batch kedua peserta TK untuk bermain. Aku membantu untuk kedua kategori tersebut, tetapi lebih banyak untuk yang TK.

Preparation Pre-Event

Sesampai ke MIM pukul 7.30, lampu ternyata masih belum dinyalakan. Miss Muliani padahal sudah meminta lampu dinyalakan dari jam 7.30 untuk preparasi lomba. Jadi kita masih kerja dengan gelap. Meskipun sudah request ke pihak mall, sepertinya tidak dapat dilaksanakan requestnya. Ya sudahlah, masih ada torch Hp, dan sinar matahari.

Tugas pertamaku untuk hari ini… Labirin buatanku kemarin perlu dipindahkan, karena lokasinya tepat di depan panggung, dan lomba untuk anak SD akan memakan tempat yang banyak di tengah. Jadi Labirinku perlu dipindahkan ke tempat yang tidak terlalu mengganggu. Semua booth lain juga dipindahkan lokasinya agar tidak terlalu mengambil daerah depan panggung. Oke siap deh!

Sayangnya, aku sedikit merusak formasi labirin, dan, labirinku perlu dibongkar dan dibuat ulang. Tahu gitu minta tolong orang lain bantu aku pindahkan labirinnya berdua agar tidak perlu dibuat ulang karena tali rafia banyak terlipat dan keriting, dan formasi tiang plastik sudah kacau.

Untuk sekarang aku break dulu dari membuat labirin, dan memindahkan meja. Tidak lama sesudah meja ditata, lampu menyala sekitar jam 8.00, dan meskipun telat.. setidaknya masih sebelum peserta datang. Dengan lampu menyala, dan bantuan dari Kakak Brightway, aku segera membuat ulang labirin, dan aku sukses membuat labirin berbeda, di lokasi berbeda. Hore!

Administrasi… Last Few Minutes

Administrasi peserta dimulai sekitar 30 menit sesudah Labirinku selesai, dan Kang Donny perlu menggunakan keahliannya dan memastikan anak-anaknya ada aktivitas, dan tidak jenuh… karena ada sebuah emergency…

Videografer  untuk dokumentasi acara ini sudah kehabisan data di memory card-nya, dan perlu memindahkan isinya. Aku dipanggil jadi “teknisi” abal-abal untuk memindahkan data ke USB yang lain. Miss Muliani butuh bantuanku karena salah satu port USB di laptop Miss Muliani rusak, tapi Miss Muliani tidak tahu, jadi ketika aku dipanggil untuk troubleshooting dan memperbaiki laptopnya, aku juga bilang ke Miss Muliani untuk menggunakan port di sebelah kiri, karena yang sebelah kanan rusak.

Untungnya, meski sedikit lemot, dan port USB juga error, Kang Donny tidak kehabisan trik untuk menghibur anak-anak kelas 2 yang datang.

Acara Dimulai… Eh, ga jadi…

Sebelum acara dimulai, kita mengecek ulang administrasi, dan ternyata, ada 20 peserta yang tidak terdaftar… Kenapanya, aku kurang yakin, sedikit tidak jelas sebenarnya. Tetapi ada kemungkinan sekolah yang mendaftar belum memberi data yang lengkap, atau banyak peserta datang sebelum daftar, dan langsung main ikut.

Jadi, kita meminta waktu 10 menit untuk mengecek data, dan peserta yang sudah masuk administrasi kita panggil satu persatu. Sayangnya karena kita terlambat dan sudah mepet, kita tidak sempat memanggil semua nama. Menurutku event-event yang berbayar seperti ini, sebenarnya harus di full check and recheck pendaftarannya dan sudah membayar atau belumnya, untuk menghindari kerugian. Aku sudah bilang ke Miss Muliani pas lunchbreak untuk check ulang di event berikutnya, agar tidak terjadi jebol kas.

Anyways, on with the story…

Jadi Contekan

Aku diberi tugas sederhana… aku disuruh memegang contekan… Lomba pertamanya adalah lomba puzzle, dan harus kuakui, ini lumayan tricky untuk anak-anak kelas 2. Puzzlenya adalah gambar kota dari perspektif skyline. Untuk memperumit puzzle ini, ada 2 tempat parkir lengkap dengan mobil, ada jalanan, ada kolam, ada taman dan ada skyscraper di puzzle tersebut. Kurang lebih gambarnya seperti ini, meski tidak sama persis…

Foto contoh skyline kota..

Oh, dan gambarnya dipotong tidak seperti puzzle jigsaw, melainkan dengan potongan horizontal, vertical, dan diagonal. Pusing kan? Kata Kakak dari Brightway sebenarnya gambar tersebut ditujukan ke anak kelas 4-6, tapi ternyata pendaftar tidak dari kisaran itu. Eh, Puzzle ini meski ada gambar originalnya tetap ada beberapa aturannya sih…

  • Skoring berdasarkan kecepatan
  • Gambar utuh dipegang di depan, dan untuk melihat, harus mengirim satu anggota untuk maju ke depan
  • Ketika ingin melihat gambar original, sebaiknya mengantri, dan jika antrian panjang, dibatasi ke 15 detik sebelum mengantri lagi
  • Gambar tidak boleh dibawa ke depan, dan juga hasil kerjaan tidak boleh dibawa ke depan juga.

Kurang lebih begitu sih, cukup simple.

Menunjukkan Jawaban 😀

Karena peraturan di atas, anak-anak jadi rada rusuh lari kesana-kesini buat cek ulang pekerjaan mereka dan gambar aslinya. Terus, karena aku sedikit usil, aku suka ngebercandain anak-anak yang berlari ke depan berkali-kali :D… kurang lebih scriptnya gini:

  • Adik-adik: Kak, liat lagi!
  • Jaja Azriel: Mau liat apa? Aku ganteng kok, tapi jangan dilihatin terus atuh
  • Adik-adik: Ih, jijik tau!
  • Jaja Azriel: Kok gitu sih? Mau liat puzzle kan? Ato Ngefans?
  • Adik-adik: Liat Puzzle atuh Kak!
  • Jaja Azriel: Makanya yang baik dong ke aku
  • Adik-adik: Cepetan deh Kak..
  • Jaja Azriel: Hehe, maaf, maaf..
  • Adik-adik: Makasih Kak

Mwahahahaha (Evil Laugh)… Usil itu menyenangkan…

Hebatnya, tim yang paling cepat selesai, mengalahkan kecepatan satu-satunya tim kakak kelas 5, dan betul yang menyelesaikan duluan adalah anak-anak kelas 2, bukan yang kakak-kakak. Thumbs Up!

Dealing With More Monsters…

Terkadang aku merasa menjaga anak seumuran Alice itu melelahkan. Ternyata 30 anak yang sedikit lebih besar dari Neneng Alice lebih melelahkan.

Oke, mundur dulu dikit. Sesudah aku menunjukkan foto, ada satu pos lempar bola (sama seperti posku kemarin) kosong, dan aku diberi tanggung jawab menjaga untuk anak-anak ini main. Kali ini, anak-anak sudah mengantri, karena sepertinya lebih cepat daripada yang kemarin, dan tidak ada Kakak Observer Brightway menemani, jadi aku harus mengajarkan anak-anak ini cara bermain, mencatat namanya, dan memberi penilaian berdasarkan field yang sudah disediakan.

Masalah untukku… Ada beberapa Tante yang kurang mengerti bahwa lempar bola harus dilakukan dengan Ibunya untuk bonding, dan aku disuruh menangkap, alhasil aku tidak bisa mencatat dan memberi penilaian karena antriannya penuh. Untungnya, aku masih mengingat beberapa hal, dan masih bisa mengeksekusinya dengan cukup efektif. Mungkin tidak efisien waktu yang kugunakan, karena antriannya jadi panjang sekali… Tetapi aku masih mengerjakan tugasku dengan cukup baik…

Mengendalikan “monster” kecil ini butuh keahlian, jadi aku salut sama Bubi dan Kang Donny punya kemampuan handle anak-anak banyakan, dan mereka tidak bosan.

They Are The Champions…

Ya, itu nyanyi :D. Jadi, pemenang lomba diumumkan, sayangnya aku tidak mengerti scoring penuh karena harus menjaga pos untuk anak TK. Tetapi, sepertinya anak-anak yang menang dan mendapat hadiah adalah anak-anak yang cepat tadi.

Sesudah pemenang diumumkan, lunch time! Kita makan Ayam Goreng, Aku lumayan suka Ayam Goreng-nya. Oh… dan para Panitia foto bersama, kecuali aku karena aku bukan tipe orang yang suka ikut foto pose bareng gini…

Panitia yang Narsis, Tapi Aku ga ikutan

Celebrate Good Times! Come On!

(Nyanyi lagi deh dia… Lagu rada jadul pula…) Anyways, sesudah makan siang, ada break sedikit, dan ngobrol-ngobrol santai, sekitar jam 14.00-an, Miss Muliani membeli es krim dari sponsor kita… Diamond! Dan kita makan! Untungnya Aku ga sakit gara-gara makan ini, itu mungkin terjadi, karena aku alergi makanan dingin, tetapi sejak aku makan es krim 4-5 kali terakhir tidak sakit kok, jadi aman.

Jam 14.00 lebih sedikit ada rapat keuangan, dan aku belum boleh intip-intip ini soalnya ini urusan orang dewasa, dan aku dipesankan gojek oleh Miss Muliani dari MIM untuk cara Miss Muliani say thank you…

Conclusion and Suggestions

Oke, ini bagian evaluasi, dan aku tidak bermaksud ngomong gak enak… tetapi aku ingin memberi nasihat konstruktif untuk event berikutnya… Aku sudah lihat hasil laporan keuangannya via Whatsapp, dan sejujurnya, kalau ada panitia lain visit kesini, pasti kurang memuaskan hasilnya. Jadi ini dari Jaja, hanya berupa daftar sugesti untuk melakukan acara seperti ini dengan lebih maksimal… dan aku mau minta maaf jika terdengar seolah-olah aku ngomong gak enak, tujuanku bukan itu soalnya…

  • Jika acaranya berbayar, akan lebih bagus jika peserta hanya diberi izin ikut ketika sudah membayar. Jika aku tidak salah dengar, ada peserta yang belum transfer, claim akan transfer segera, tapi sudah mengikuti meski belum terbayar
  • Akan lebih baik jika acara di share (setidaknya E-Flyer/Teasernya) sejak H-4 atau H-3, karena akan ada waktu lebih banyak untuk orang-orang mengosongkan jadwal, dan datang.
  • Pastikan ada atribut khusus untuk peserta yang sudah daftar ulang, untuk memastikan pembayaran, dan juga peserta yang datang bukan peserta gelap.
  • Persiapkan administrasi untuk handle wave yang banyak, jika dirasa orang yang datang kurang, mungkin bisa ditambah jumlah peserta-nya
  • Buka recruitment volunteer. Banyak lho orang-orang yang mau datang membantu untuk mendapatkan sertifikat. Merecruit volunteer akan lebih efektif daripada kewalahan handle banyak orang.

Sekian dari Jaja, dan sejujurnya Jaja senang sekali bisa ikut membantu di acara seperti ini.. Untuk itu, terima kasih ke Infinity sudah mau menampung aku untuk 2 hari berkegiatan di acara ini. Mohon maaf jika ada hal yang tidak benar-benar akurat (terutama urusan waktu, hehe, aku ga cek jam setiap ada event) dan juga kalau ada kata-kata yang kurang enak didengar, tujuannya sebenarnya bukan untuk menjelek-jelekkan, tetapi untuk memberi kritikan konstruktif…

Jaja Jadi Panitia Games Anak-Anak… Day 1!

Jaja Jadi Panitia Games Anak-Anak… Day 1!

Tanggal 30 Agustus kemarin, Jaja mencoba untuk menjadi panitia sebuah acara untuk bermain anak-anak di Metro Indah Mall. Acara tersebut dilaksanakan bersama Infinity, yang merupakan sebuah forum literasi di Bandung. Kalau ingat, waktu itu aku pernah post tentang lomba debat Erlangga dan menyebut soal Mentor-mentorku Ms. Muliani dan Mr. Eri kan? Nah, Miss Muliani dan Mr. Eri itu berasal dari Infinity.

Format acara ini mirip dengan Trip Pramukaku yang terakhir, yaitu dengan format pos-pos, dan anak-anak berotasi dari pos 1 – pos 8, masing-masing pos punya game-nya sendiri.

Disclaimer… Jaja tidak ikutan foto di hari pertama… Awalnya aku sudah minta Mr. Eri fotoin, namun sepertinya hilang, dan perlu dicari dulu. Sampai nanti fotonya sudah bisa ditemukan baru bisa kutambahkan ya… Mohon maaf.

Pre-Event Prep

Oke, jadi Miss Muliani, aku dan Mr. Eri sudah datang dari jam 7.30, dimana mall masih gelap gulita, dan lift belum dinyalakan, sekitar 15 menit kemudian, baru saja Lift menyala, dan kita naik ke spot lomba jam 7.45, dimana lampu masih belum menyala, dan aku mendapat tanggung jawab pertamaku, yaitu membuat labirin dari tali rafia dan tiang plastik kecil.

Kerjaanku Baru Akan Dimulai…

Spanduk lomba pun belum dipasang, stage dan spanduknya masih bekas acara kemarin. Seperti bisa dilihat, lampu masih mati, dan kata Miss Muliani, ingat-ingat untuk minta izin menyalakan lampu dari pagi, agar tidak perlu kerja dengan segelap ini…

Jadi, aku membuat labirin sesuai perintah, dan aku untungnya masih mengingat sedikit ilmu dari pramuka mengenai tali temali, jadi aku menyimpan 2 tongkat, mengikat masing-masing tongkat, dan membuat jalurnya. Tali disini berguna sebagai tembok, dan tiang digunakan sebagai patokan sudut, atau untuk patokan pintu. Pada akhirnya sih, sukses jadi, dan labirinku cukup menantang menurut kakak-kakak dari Brightway. Brightway adalah salah satu organisasi yang berada dibawah naungan forum literasi Infinity, Brightway adalah organisasi psikologi untuk anak-anak, dan berada di acara ini untuk menilai kemampuan anak.

Sekitar jam 8.30, sudah ada peserta datang mendaftar. Masalah untuk kita adalah, lampu saja belum menyala :(, jadi kita mengurus administrasi dengan bantuan torch HP. Untungnya, ketika batch peserta yang datang banyak, sekitar jam 9.00 tepatnya, lampu akhirnya menyala, HORE!

Last Preparations…

Ternyata Infinity sudah punya orang yang jago untuk stalling peserta yang masih dalam kisaran PG kecil ke TK, Kang Donny sepertinya jago sekali mengurus anak-anak sembari panitia lainnya menyiapkan booth games masing-masing. Kang Donny melakukan hal-hal yang familier untukku, karena Kang Donny melakukan rutinitas mirip seperti yang Bubi biasa lakukan dengan anak-anak, meskipun ada sedikit perbedaan sih. Anak-anak diajak menyanyi lagu, dibacakan dongeng, dan mengitari ruangan sambil menari.

Kang Donny Mengendalikan Para “Monster”

Lampu sudah nyala, dan spanduk sudah diganti juga… Kita sudah siap! Eh, boothnya belum ketang… False alarm 😀

Sekitar 15 menit kedepan, masing-masing booth menyiapkan observer dari Brightway untuk “menilai” kelebihan masing-masing anak, dan juga masing-masing booth guide untuk check and recheck aktivitas Booth.

Aktivitas Apa Ya Ini?

Ketika booth-booth hampir siap, kita butuh Trolley untuk salah satu booth games yang sudah ada di lantai kita, yaitu lantai 3. Tapi trolley ini milik Hypermart di lantai bawah, jadi aku diminta untuk menjadi messenger, dan aku meminta izin ke manager di lantai bawah. Untungnya Managerial Hypermart mengizinkan, asalkan tidak dipakai sampai rusak, dan asalkan aku membagi flyer Hypermart ke peserta-peserta. Aku lakukan itu, tapi aku tidak tahu… 200 katalog supermarket bisa lebih berat dari buku psikologi yang tebal. Ketika naik ke atas membawa kabar, aku beruntung ada orang yang bantu aku memencet lift, karena kalau tidak, pasti itu tumpukkan flyer berantakan, dan tumpah kemana-mana :D.

Let The Games Begin!

Oke sebentar, sebelum mulai… Kita back up dulu dikit, dan biar aku jelaskan daftar-daftar booth

  1. Booth pertama kita adalah booth mewarnai.
  2. Booth kedua adalah labirin buatanku. Anak-anak cukup mengitari labirin, seperti suka ada di buku maze, tetapi bedanya di dunia nyata, dan dilakukan dengan gerakan beneran (ya pasti atuh Jaja… :D).
  3. Booth ketiga adalah booth yang seharusnya kufoto, karena cukup menarik dan bisa dicontek untuk aktivitas rumah. Booth ketiga adalah booth yang ada tong dan dari dalamnya banyak benda dengan tekstur berbeda-beda, dan anak-anak disuruh menebak isi dari tong tersebut tanpa melihat.
  4. Booth keempat adalah booth yang sejujurnya aku kurang mengerti, tetapi sepertinya anak-anak diberi sebuah angka, dan mesti berdiri di angka yang mereka dapatkan, lalu berotasi dari satu angka ke angka yang lain.
  5. Booth kelima adalah booth hidroponik dan urban farming, dimana anak-anak diajarkan untuk bercocok tanam dengan ruang terbatas.
  6. Booth keenam adalah booth Sondah/Hopscotch, dimana orang-orang meloncat dari satu pijakan ke pijakan berikutnya, mengikuti pola angka.
  7. Booth ketujuh adalah booth lempar bola, dimana orangtua/guru anak diminta memegang kotak untuk target bola, dan anaknya melempar bola tersebut sampai 2 bola masuk.
  8. Booth terakhir adalah booth yang menggunakan trolley, dan anak-anak diminta mendorong teman-temannya dalam trolley. (semoga aktivitas ini adalah aktivitas masih dianggap aman oleh pihak Hypermart)

Dari 8 Booth, aku menjaga 2 booth yang cukup sederhana, dan beserta tim observer dari Brightway, aku mengajari anak-anak bermain di booth-ku. Aku mendapat booth nomor 6 dan 7. Aku yakin, tidak mungkin ada orang gagal dalam urusan sesederhana ini.

Selama di kedua booth ini, ada beberapa hal yang menarik perhatianku, diantaranya adalah…

  • Ada kakek yang mengantar cucunya lhooo. Awalnya aku melihat orang yang tampak lebih tua dari ayah dan ibu lainnya. Pas aku minta Kakek si cucu mengambil bola, karena penasaran (hehe) aku menggunakan kalimat “Ayo, sekarang Ayahnya yang pegang bolanya”. Si Kakek langsung mengkoreksi aku. Respect untuk Kakek yang niat untuk mengantar cucunya kesini, mungkin karena ayah-ibunya bekerja (dari analisaku).
  • Ada anak yang memasukkan bola dengan cara unik dan efisien… Bukannya melempar, anak itu meminjam tas belanja reusable yang dibawa ibunya, memasukkan banyak bola dalam tas tersebut, dan memindahkannya secara sekaligus dalam kotak. Aku suka melihat anak-anak seperti ini, karena menurutku, anak-anak yang think outside the box adalah anak-anak yang akan menanam benih-benih evolusi.
  • Terkadang mood-mood anak yang buruk karena di booth sebelumnya sempat dilarang ibunya karena takut merusak Hidroponik, bisa merusak mood semua anak di lingkungan itu. Grup anak-anak yang ada satu saja anak ngambek pas main di boothku, membuat anak-anak lainnya merasa buruk juga, dan jadi lebih malas main dengan benar.
  • Main Hopscotch berkali-kali itu melelahkan. Karena setiap grup yang datang, aku sebagai guide yang baik, mencontohkan. Terkadang kalau anak-anak belum mengerti, aku juga berkewajiban menunjukkan ulang cara mainnya.

Sesudah kewajiban di boothku selesai, aku ngemil snack dari Sari Roti, dan mengecek aktivitas booth lain…

Anak-anak dan Ibu-ibu sedang mewarnai

Sepertinya tujuan aktivitas ini belum sepenuhnya masuk ke Ibu-ibu ini. Karena Ibu-ibu ini terus menerus meminta anak-anak ini lebih serius dalam mewarnai, seolah-olah ini lomba, padahal kan bukan… Menurut Tante Deasy, dari komunitas HEbAT yang juga merupakan bagian dari panitia inti, tujuan aktivitas ini untuk menjadi “contekan” aktivitas anak-anak untuk dikerjakan dari rumah, dan juga sebagai games untuk anak-anak.

Post Event

Hari pertama acaranya diakhiri dengan anak-anak diajak ke panggung untuk menyanyi, dan dengan pembagian hadiah. Semua anak yang berpartisipasi berhak dapat hadiah…

Aku merasa senang diberi kesempatan untuk mengikuti acara ini, dan aku merasa berterima kasih Infinity sudah bisa percaya ke anak sepertiku, yang bahkan lulus SMA saja belum (iya sih, tugas yang kuterima tidak perlu terlalu banyak skill, tapi kan tetap saja).

Tapi… Acaranya bukan cuma sampe sini lhooo.. Ini adalah 2 day event, dan ini baru membahas hari pertama!

Tunggu lagi untuk event Day 2-nya!

Jaja Out!

 

Peeking Outside My Bubble, Jaja Jadi Relawan Di KAIL

Peeking Outside My Bubble, Jaja Jadi Relawan Di KAIL

Prologue

Pada tanggal 25 Agustus kemarin, aku jadi relawan di Bazaar Ulang Tahun KAIL. KAIL itu apa sih? KAIL itu sebenarnya singkatan dari Kuncup Padang Ilalang, yang (menurut di websitenya) adalah organisasi nirlaba yang bertujuan meningkatkan kapasitas individu, dan perubahan sosial. Aku sih nangkepnya dari cerita-cerita sebelum datang ke KAIL menurutku itu rumah belajar anak, dan hanya sebatas itu aja sih, untungnya pas di KAIL aku dapat gambaran yang lebih penuh dan sesuai… Lokasinya KAIL ini di Cigarugak, dan Cigarugak ini jauh banget dari rumahku. Untungnya dari menjadi relawan di acara ini aku menyadari beberapa hal yang sebenarnya aku belum pernah lihat langsung sebelumnya…

Aku tahu KAIL dan opportunity menjadi relawan disini dari Kak Deta. Kak Deta itu salah satu Kakak-kakak di Dongeng Bengkimut yang suka membacakan dongeng buat Alice dan anak-anak lain di Pustakalana. (Note to Babah: kita ada artikel buat aktivitas Lana-nya Alice? kalo ga tar aku mau buat) Kak Deta request ke aku untuk consider menjadi relawan.

Sebentar, off topic dulu dikit…

Bubi suka ngomong ke orang-orang dan seringkali menggunakan istilah Bubble. Artinya apa sih? Bubble itu metafor untuk Social Circle… atau Lingkup orang-orang yang aku temui secara umum. Satu orang mungkin punya beberapa Social Circle, dan dari Social Circle itu dapat lingkup Bubble-nya yang terkadang memfilter hal-hal yang kita lihat dan membuat orang tidak sadar (atau lupa) dari kenyataan di luar Bubble masing-masing orang.

Kebayang ga? Kalau belum, mending baca dulu artikelnya.

Sebentar, disclaimer dulu… aku lupa foto beberapa kali, jadi foto di artikel ini sangat terbatas, maafkan…

Event Day

Briefing

Pada Hari-H Bazaar, aku datang ke KAIL untuk mulai menjadi relawan, dan sesuai briefing di Grup Whatsapp, aku menjaga booth harga seribuan. Acara sih dimulai sore, tetapi jam 8.00 peserta sudah harus datang untuk briefing dan hal-hal lain. Pagi-pagi, sambil ngemil teh manis dan nagasari. Kita memulai Briefing dan perkenalan. Banyak yang gak sadar atau kaget pas denger aku masih 14 tahun, alias lebih muda dari Karang Taruna Cigarugak yang nanti ikut membantu acara ini.

Dari Briefing Do’s and Don’ts yang kudapat (dan perlu dikerjakan nanti pas bazaar) isinya:

  1. Ada Booth seharga seribuan di luar, 2 ribuan di lantai atas, 5, dan 10 ribu di lantai bawah, aku kebagian di booth 1 ribu.
  2. Pembayaran dilakukan dengan kupon yang dibeli di kasir. Kupon ada 2 value, yaitu yang 1 ribu dan 5 ribu, dengan maksimal 10 kupon per transaksi
  3. 1 Jam pertama, biarkan Anak-anak memilih sendiri, jangan biarkan ibu-ibu yang memilih barang-barang yang diinginkan, atau biarkan ibu-ibu bertransaksi. (Message extra yang kudapat meski tak disebut adalah, larang dan tolak transaksi Ibu-ibu di jam pertama)
  4. Dilarang nyetek (Ngetag? Booking?)… intinya dilarang menyisakan barang untuk diambil nanti sesudah beli kupon, karena kupon ngantri-nya panjang sekali.
  5. Disediakan kresek untuk yang banyak beli, tetapi sebaiknya bawa Kresek masing-masing.
  6. Antrian sebaiknya diatur dengan benar. (Just A Note To Self, tidak disebut, tapi aku suka kalau antrian rapih, dan ga rebutan)
Briefing Sebelum Tour KAIL, Ayo, Jaja Dimana?

Tour KAIL

Oke, jadi kita diajak Tour untuk menjawab pertanyaan “KAIL itu Apa Sih?” dan di tour ini, kita diajak melihat:

  1. Dapur KAIL, yang Zero Waste lhoo (Note To Babah, ini kita ada artikel yang bahas Zero Waste gak? penasaran aja)
  2. Kebun KAIL, lengkap dengan Raspberry yang enak (Asem-asem manis enak), oh dan meski ga ditunjukkan di Tour, ada Kandang Bebek juga (oke maaf aku ga foto, bayangkan saja dulu ya.. Aku pasti visit KAIL lagi di masa depan)
  3. Perpustakaan KAIL, yang lengkap dengan board game! (My kind of Library :D)
  4. Majalah KAIL yang belum lama dimulai lagi, sesudah berhenti untuk waktu yang cukup lama. Sayangnya aku lupa namanya, tetapi kalau kita menulis artikel di Majalah itu, kita akan”dibayar” dengan buku.
Jaja Lagi Baca Majalah KAIL Edisi Terbaru

Lunchtime!

YES! MAKAN! ups… Off Topic.. Oke, makanannya enak, dan pas perkenalan, salah satu kakak yang sudah menjadi relawan KAIL sebelumnya, bilang salah satu bonusnya adalah makanannya enak. Betul lho enak, dan kita makan di daun pisang bersama-sama. Meski aku hanya makan Nasi Liwet (F.Y.I. Wangiiiii deh), dan tempe bacem (oke, 4 biji tempenya, kan aku ga ngambil protein hewani-nya :D) tapi aku tetap kenyang.

Oh iya, sebelum makan ada sedikit acara dari KAIL untuk reward penulis, dan top 3 all year long volunteer di KAIL, yang disertai juga dengan Awug. Oh iya, kita cuci piring sendiri, ini ada gambarnya, (aku ga sadar sebenernya aku difoto, makanya hasilnya kurang bagus :D)

Cuci Sampe Bersih Ja

Bazaar Time!

Sesudah makan, kita mulai preparasi Bazaar dengan memindahkan meja, menata barang, menyiapkan kupon, dan briefing ulang peraturan tadi. Sekitar jam 13.45, orang-orang mulai datang, dan lokasi Bazaar makin penuh. Ketika kupon mulai dijual, pasti bakal rusuh, aku pikirannya langsung kesitu. Untuk membuat makin rusuh, aku kebagian lokasi Booth yang kena sinar matahari langsung. Boothku, juga berisi… mainan… Aku sudah kepikiran ini pasti dibanjiri anak-anak Booth-nya.

Sebelum kupon dibuka, meski sudah banyak banget yang mengantri anak-anak dan ibunya, MC mengingatkan, untuk Ibu-ibu agar tidak mengganggu anak-anak dan jadikan momen ini kesempatan anak-anak belajar berbelanja. Sekitar 3 kali statement itu diulang, Ibu-ibu berhenti mengantri di booth kupon. Masa ya perlu 3 kali diingatkannya?

Ketika pembelian kupon sudah diizinkan. Tidak sampai 5 menit, sampai booth aku dibanjiri Anak-anak dan Ibu-ibu, sebelum pembelian banyak, ada Kakak Karang Taruna dari Booth baju sebelahku yang disuap ibu-ibu dengan uang 10 ribu untuk menyisakan 10 baju yang sudah dipilih sebelumnya, karena meski belum boleh beli, belum ada larangan melihat-lihat. Untungnya, Kakak Karang Taruna-nya cukup self-righteous untuk melirik ke aku, dengan muka bertanya. Aku menyuruh ibu itu untuk ambil uangnya balik, dan memberi tahu ibu itu peraturannya bahwa suapan itu tidak boleh, dan dilarang menyetek.

Booth aku penuh, karena kalau anak-anak yang diberi izin membeli tanpa omelan ibu-ibunya, pasti anak-anak tertarik sama mainan. Mainannya banyak banget, ada: Boneka, gasing, figurin superhero/ninja, Happy Meal, mobil-mobilan, stik golf mainan, bola tenis, botol minum, tas, payung, dan masih banyak lagi.

Sekitar 5 menit berlalu dengan antrian penuh, dan situasi kacau yang aku ga inget apa saja yang terjadi…

Jaja Menawarkan Barang Ke Anak-Anak…

Cerita menarik berikutnya, ada anak laki-laki berikutnya yang ingin banget beli gasing… Tapi ditemani ibunya, dan masa ya… Ibu itu terus ngingetin anaknya gasing itu ga ada gunanya, ga bisa dimainin, dan rusak. Ibunya menyugestikan untuk beli mobil saja, tapi anaknya bersikeras ga mau, meski baru 3 (atau 4) tahun, anak tersebut sudah pintar memainkan bahasa tubuh untuk memberi signal, “Aku tuh mau yang ini tau”. Ibu itu terus saja ngejelek-jelekin gasing dan muji-muji mobil-mobilan yang seribu isi 3.

3 menit kemudian, Ibu itu pasrah dan maksa beli sendiri, aku larang dong, karena peraturan. Ibu-nya untungnya ga terlalu nyolot sih, tapi dia ambil gasing anaknya terus ditukar mobil-mobilan dipaksa masukkin tangan. Anaknya ambil lagi gasing yang beda (malah lebih jelek dari yang dia minta awal-awal), lalu dia menaruh mobilnya di meja. Aku lihat ada anak lain yang juga mau itu mobil dari tadi, tapi Ibunya pegang terus dari tadi. Anak yang mau itu pelan-pelan mau ambil mobilnya mumpung lagi lengah nih. Tapi Ibu itu buru-buru ambil lagi sebelum anak yang beneran mau mobil itu dapat kesempatan ngambil. *tepuk dahi* Masa ga malu sih Bu?.

Sampai-sampai ya, aku intervensi Ibu itu udah 5 menit, akhirnya anaknya ambil lagi gasingnya, tapi Ibu-nya larang, dan abis anaknya bilang “Ya mau yang mobil”, ibunya kasih kupon ke anaknya, meski dia ogah-ogahan. Aku tolak, dan kurang lebih script-nya gini:

  • Jaja: Bu, ini mesti anaknya lho yang beli.
  • Ibu: Kan emang anaknya yang beli, itu kuponnya dia yang kasih
  • Jaja: Tapi Bu, maksudnya beli itu bukan cuma bayarnya lho, milih barang dan ngambil barang juga bagian dari beli, kan ga adil kalo anaknya mau gasing tapi Ibunya kasih Mobil.
  • Ibu: Ih, dia kan mau mobilnya, iya kan de?
  • Adik: Ga mau
  • Ibu: Gasing kan jelek de, itu rusak, ga ada gunanya.
  • Adik: Maunya itu (nunjuk gasing)
  • Ibu: Mobil aja ya
  • Adik: (sudah pasrah) iya..
  • Jaja: (Sebenernya sih aku punya hak nolak, tapi kalo dah 7 menit waktuku terbuang, ya sudahlah.) Oke deh, makasih ya udah mau beli disini.

Ya ampun, Ibu itu rela ngorbanin keinginan anaknya demi dapet 3 mobil mainan yang bagus harga seribuan. Padahal kan anak-anak seneng itu lebih mahal daripada 3 mobil-mobilan. Bukan cuma itu, tapi aku juga lihat ada sisa kupon 1ribuan lagi, sekitar 2-3. Kalau emang bener-bener mau kan bisa aja nunggu sampe Ibu-ibu diizinkan beli. Pas murah banget, katanya kadang Ibu-ibu itu suka lupa diri, aku awalnya ga tahu ini beneran, sampai ikut jadi relawan di Bazaar ini.

Selama aku ngehandle Ibu itu, untungnya ga ada kasus aneh-aneh dari laporan Kakak Karang Taruna.

Oke, sebenernya situasi kacau di 15 menit pertama… setidaknya di boothku, karena Booth baju cuma diganggu Ibu yang mau nyetek tanpa anak-anaknya. Untungnya tampak gampang ditolak.

Aku penasaran situasi booth lain ya… Jadinya aku ngintip ke Booth sebrang, yang juga jualan baju seribuan. Aku belum sampai 30 detik di booth itu, cuma nonton, ada Ibu-ibu bawa kresek dan masukkin baju dalam kresek, terus bilang ke Kakak volunteernya, “Kang, tolong simpenin ya, ada 7 baju, entar saya ambil”. Langsung ditolak dan ditaruh keluar plastiknya. Ini aku bikin script lagi:

  • Kakak: Maaf bu, ga boleh begini
  • Ibu: Ya udah saya taruh belakang baju lain ya
  • Kakak: Ga Bu, kembaliin ke tempat tadi
  • Ibu: Ihh, nanti diambil atuh Kang
  • Kakak: Kan ga boleh di-tek bu (oh, ternyata di-tek toh *pikir Jaja*)
  • Ibu: Tapi kan saya milih duluan
  • Kakak: Maaf ya Bu, ini siapa cepet bayar, siapa dapet
  • Ibu: *Pergi dengan muka kesel*

Oke sampai 1 jam pertama tidak banyak chaos lagi, dan aku berusaha convince anak-anak beli barangnya, dan pastikan antriannya tidak kacau banget, emang kacau sih, tapi ga kacau banget kan :D. Iya sih, kadang ada Ibu yang berusaha nyetek, atau yang milihin barang, tapi untungnya ga nyolot, dan menerima nasib.

Sesudah pengalaman buruknya, dan mungkin 90 menit sejak acara mulai, aku ketemu Bapak-bapak yang dress up rapih, dan punya jam yang cukup bagus. Aku salut sama Bapak ini soalnya, gayanya santai, membiarkan anaknya memilih, dan belanja terpisah dari anaknya yang sudah rada besar. Aku sih yakin, sebenarnya Bapak ini emang mau belanja sendiri, tapi ikut bawa anaknya, dan daripada repot-repot tungguin kepanasan 60 menit pertama, mending dateng telat tapi ga rusuh. Bapak ini juga sopan banget pas minta kresek ke aku yang dia lupa bawa, malahan, sempet nawarin bukannya minta kresek, malahan dia nawarin mau beli 2 kresek seribuan. Tapi aku tetep kasih gratis sih untungnya.

Oh iya, Selama acara ini, Kak Debby yang jadi MC, udah ulangin berkali-kali bahwa:

  1. Ibu-ibu belum boleh diizinkan beli
  2. Jadikan ini kesempatan anaknya belajar, biar anak itu bisa belanja dengan kebebasan
  3. Harap jangan dekati booth dan berkumpul di tengah-tengah ya Bu
  4. Barang-barang masih banyak Bu, sabar aja ya
  5. Anaknya jangan dijadikan calo, kasian masih kecil udah jadi calo (buat kupon)

Cerita Bazaarnya sudah mau beres, tetapi kan aku hobi banget bawa Botol minum kemana-mana, botolnya bagus pula. Ada anak-anak yang hampir mau beli Botolku, karena kutaro meja. Aku cekikikan ketawa, sambil nolak pembeliannya, soalnya ini botolku, bukan barang jualan.

Di akhir Bazaar ada Kakak yang membuat klub literasi di MKAA (yang aku akan ikuti) datang main gitar dan menyanyikan lagu. Aku ingat aku pernah dengar lagu itu di salah satu holiday camp yang aku datangi. Camp itu ada di Ecocamp lalu aku tanyain, dan kata Kakak itu, aku betul!

Sesudah bazaar hampir kosong, aku memutuskan memborong Majalah Bobo. Kayanya aku dapet 60-80 Bobo dengan harga 10 ribu rupiah! AHHAHA! Aku seneng banget baca Bobo, dan karena Bobo yang dijual aku beli di saat sedang berhenti langganan, aku masih dapat buku banyak sekali, lengkap dengan Paman Kikuk yang Neneng Alice sangat doyan dibacain itu sama aku.

Tidak lama sesudah borong Bobo, aku langsung minum teh, dan istirahat sedikit. Tidak lama dari teh soreku, jam 5.00 lebih, entah berapa (aku lupa), aku menumpang salah satu Kakak untuk turun dari Cigarugak, dan sesampainya dibawah, aku mengangkot, melewati kemacetan ke Dago. Sesampai di Daerah Dago, aku dengan majalah Bobo sebanyak itu, (dear reader, doing this is some heavy exercise for the record) aku jalan ke Masjid Salman, untuk memesan Gojek dengan Wifi yang disediakan di Masjid Salman.. Sayangnya tidak ada yang ambil, jadi aku disuruh Babah makan malam di Warpas(boleh nyebut merek ga?) dan dijemput disana.

Conclusion:

Menjadi Relawan bukan hal yang gampang sih… Apalagi disini, dengan banyaknya orang, yang terkadang tidak mau mengikuti aturan. Untungnya aku senang karena bisa sesekali ngintip dunia luar Bubble-ku, dan pengalaman berbeda kali ini. Bukan cuma itu, aku juga senang aku bisa mendapat majalah Bobo yang banyak HAHAHA. Terima Kasih KAIL untuk memberiku kesempatan volunteering disini, dan Kak Deta sudah merekomendasikan aku ke KAIL.

Sesudah melihat situasi diluar Bubble-ku, aku kesamber petir dan akhirnya ngeh ke kenyataan bahwa, suapan itu ternyata nyata, dan terkadang orang bisa lupa diri dengan beberapa godaan. Untungnya pengalaman ini membantu aku menyadari realita di luar Bubble-ku, yang terkadang bisa tampak mengecewakan, tapi jika memang begitu kenyataannya, apakah lebih baik untuk diam di Bubble saja? Menurutku sih, tidak ya. Jika kita tinggal di filter Bubble seumur hidup kita, kita tidak bisa bersyukur dengan apa yang aku punya, dan menyadari bahwa kita itu orang yang beruntung.

Oh iya, fun fact! Siddharta Gautama juga mengalami cerita yang mirip dengan ini dan keluar dari Bubble-nya yaitu di Istana untuk menyadari kenyataan, yang ternyata dipenuhi orang-orang kurang beruntung dan meninggalkan agama Hindu untukmembuat agama Buddha.

Hahahah, jadi serius banget ini deh… Ya udah ya, hari ini segini dulu… Jaja Out!

Erlangga’s Back To School Competition

Erlangga’s Back To School Competition

Overview:

31st of July, till 7th of August, Erlangga Publishing made a competition in Ciwalk, and my Debating Mentors, Miss Muliani, and Mr. Eri asked me to come. So well, I came. More on them later, but I’ll share about LEDS Debating Community soon enough.

Miss Muliani, My Mentor As a Judge

Pre-Competition

I came one day before the High School Category’s Speech Competition, (Also, the finals would be a debate, not a speech). Someone from Erlangga, that I knew, and knew me, cause I met him once before in an event at the City Library, Mr. Deon, forbid me to join. He said it’s unfair because I was too good at debating. WHY? Honestly, I think as long as the category is still for High School, and I am still in High School after all, I should be able to join, regardless of my skill.

Competition Day

If you chose to not read the spoiler, jump here

The very next day, Mr. Deon didn’t come. YES! I joined 2 minutes before the registration closed, and prepped my speech on the spot, so I could win! I literally have no preparation, but I prepped a speech overview in less than an hour, re read it three times, and I didn’t look back, I just went on with it.

The speech is held under 4 booths, and Miss Muliani judged the booth that I didn’t join in. She fears her bias will make me win, and she wants me to win fair and square. So I chose another booth that isn’t hers.

Under here is my Speech, I literally copy pasted it from my 30 minutes speech prep, on the spot. The theme of the speech is “How Media Affects What We Think” That is just my concept, I removed some parts because of time limit.

Speech Overview:

Opening and Introduction Stuff

Contents:

Okay, so first of all, let me start off my speech with a term in psychology. It’s called the Crowd Control Effect. The crowd control effect is an effect caused by some older parts of our brain that hasn’t evolved yet, mainly because it’s part of something important.

See, a tiny part in our brain is always reminding us to stay with the group. This has always been an important part of our evolutionary line, since most of our mammal ancestors live in packs, and straying off the pack is not a good thing to do.

Now, what I’m saying has proof, psychologists have researched that a majority of people tend to buy items online if it has more buyers, even if there are items that are up to 10% cheaper. Not only online shopping, but even when choosing a place to eat, lots of people have a tendency to choose restaurants that has a queue, rather than an empty place that sells the same items, at about the same price.

Now, I probably went on about 2 minutes about psychology, but let’s jump onto the elephant in the room, Media. Now, especially in the digitalized era, media plays a bigger role since not only journalists can provide us information, but other people in Social Media can provide us information.

Whether we choose to believe it is not relevant with my topic, so let’s not talk about hoax.

But, now, as I have mentioned above mammals live in packs, and well, our Species the Homo sapiens are mammals, and if evolution showed us something, it is that straying off the pack is a bad thing, no seriously, that Gazelle that is outside of the pack ended up as dinners for lions. If you are a species, you must avoid that at all times.2

From evolution, we humans use a different aspect of straying off the pack called Popular Opinion. If you don’t follow popular opinion, that’s just, well, Society will stare at you and tell you that you are weird. That’s again, a bad thing, and means you are that Gazelle who got killed by the pack of lions.

Now, again back on topic to media, the one I am specifically referring to is, SOCIAL MEDIA. Now, if say, some celebrity in Indonesia said that They HATE Something via Social Media, then there are chances that some of the Celebrity’s followers would also say that. And well, a statement can chain onto a wildfire. That is an effect for being unwise with something as dangerous as media.

I’m discussing some sociology and philosophy next. Now, since mankind uses political views and stuff, so Ancient Greece will be my point of view here. There are always 3 categories of people. 20% of people sets the trend, most of the times they are kings or just important people like say, a general. 60% people join the trend, and they are normally just your common villager. The rest? They are the trend haters, and don’t like to follow. Back then, that could get you executed. So, the trend haters pretend to like the trend to save their heads.

Onto the modern world once more, these kinds of things still occur, and people tend to avoid conflict, especially in Indonesia, but let us say, that…

Celeb A becomes the trendsetter at a trend saying that say, takes selfies at the most popular cafe’s in the world. The followers of that celeb have a tendency to do the same thing. The haters won’t really do as that celeb does, but might either hate and share the hate, or just pretend to not hate, nor like.

Now, that effect for the haters might eventually change because of Popular Opinion, and the Crowd Control effects, so that is pretty much how Media affects what we think.

Is it a good thing? Since society has always been like this for the past 2 millennium, hard to say, but changing your opinions aren’t really a good thing isn’t it? I just know since TV and Social media, it has GONE WORSE. Because sharing opinions becomes MUCH-MUCH easier, and this could get you as someone hated in society much easier, so before posting in social media what you think about some topic. THINK about what your thinking is.

One thing is for certain, if we can’t hold on to our opinions cause of Popular Opinion, then we are not very fit to be the leaders of a trend, nor the haters, you’d just be an ordinary follower, and that has been like that since SOCIETY even began. Me, I’d rather be unique. For proof, I don’t even own social media.

Closing stuff

Speech Closed

I’m Delivering My Speech

Yes, I wrote that in half an hour

For the result… Did I win? Yeah, I made it onto the finals. I was also the last contestant. Now, right now you might think. You entered a competition last minute and won? Exactly. That’s me for you. I perform better without too much prep sometimes. Planning is important, but for me, preparation isn’t that necessary. Prepping just adds expectations, and sometimes if I expect too much from myself I crumble.

Speeches and presentations are way better without prep. That’s my opinion by the way. If you ask, Jaja, what about tests? Ok, that does need some prep.

I Won, YAY!

Debate Day, Finals

Okay, now, I did the debate with some prep in the morning. A debate requires proper case building, and you need to be able to counter any argument your opposition throws at you. You don’t want to be caught in a debate without the ability to counter a question, or question someone. In a debate that’s a bad move.

Now, there are 2 parts of this debate. The topic is about White Lies, and well… Okay, here goes nothing, this is prepped in less than an hour or so, and I didn’t practice it, not even once. Why? A good debater is one that doesn’t utilize on memorizing, but could adapt, and counter anything that the opposition used.

White Lies, Support Version, Less Preferred

Definition of My Motion: A White Lie is a lie often told for the benefit of the person we lie to, or in some cases, ourselves. In my case I would support white lies with people we meet, relationships between a couple, or a child and their parents. The term of lie I’m using, is not limited to saying the lie, but also includes us not telling anything at all.

Arguments:

  • Throwing out CERTAIN white lies empower social skills and bonding skills. As said by a research from Oxford University, certain lies actually increase your place in society onto a more liked person. How could that occur is the fact that if you try and lie to someone by complimenting, people really like others that are nice and compliments you about something.

Example: We tell someone we meet that they have a nice shirt (even though we do not think as such), and as normal people would, they would say Thank You, and slightly like the person some more. If we do that to everyone we meet, then we would be deemed as someone polite, and fun. While in reality, the compliments we have are white lies.

  • Hurting other people’s feelings are not a good thing, and when we really do need to lie to protect something in a relationship, whether it is our couple, or our child.

Example: We tell our child that Tooth Fairies exist so they don’t mind if their tooth falls off, because they get a coin cause of it.

Conclusion: I believe that White Lies, especially those that are properly chosen and constructed are important to build yourself up in society and in relationships, I believe as such because the facts point this as something good, and, a research proved some benefits from white lies. I also believe that getting people to like and remember you is important.

White Lies, Opposition, More Preferred

Definition of my Motion: My definition of a White Lie that I disagree with, is lying to give yourself and the person you are telling to some benefits, to avoid conflict, especially against family members, or to protect people from the truth.

Arguments:

  • Conflict helps increase the strength of a relationship. Yes, conflict as unavoidable or avoidable it is, can help you be a better person. A good person should be able to not get caught in a fight while there is a conflict. People tell white lies in order to avoid conflict most of the time.

Example: You tell the truth about how you dislike the fact that, for example, your husband’s sister is living with you, and should already be having a job. The conflict from a conversation can strengthen a relationship, and gives you solutions for similar problems like this.

  • Most people, if they cannot control themselves, would become a compulsive liar, and a lie for the greater good, could eventually make that person lie about most things. Some branches of psychology highlights, researches and prove this.

Example: I can’t really show an example regarding this, but I found a quote to prove this. “Watch your thoughts, they become words, Watch your words, for they become actions. Watch your actions, for they become habits. Watch your habits, they become character. Watch your character, as it becomes your destiny.” A Chinese Philosopher named Lao Tzu said that, and psychologically speaking, it is true that tiny actions to protect good things can eventually become a bad habit. A compulsive liar will be seen like that, as if whatever he said can never be the truth, like the Boy Who Cried Wolf. If you are a liar by character, then that just proves you are not a good person, regardless whatever your purpose of lying is.

 

Now, on that day… I have to support White Lies, I’m not liking this , but like I said, a good debater should be able to adapt to any situation. So I did, and I used my arguments and rethink about all of the things I could possibly say, while reviewing its validity

Okay, so I got to be the second to last debater, and I’m pretty sure my debate is fairly memorable, because Bubi said that some people are actually complimenting on how good my debate is. I think I haven’t done my best to be honest, but I’ve done well enough.

Although, when the judges asked me a question, I could not answer with my best answer, which kind of left me a bad impression, but I don’t mind. Debate’s shouldn’t really be scored based on the question the judges ask, and in official debates, those I practice, judges are only allowed to observe, and questions are left to the opposition.

When it was my turn to listen to my opposition, I found the perfect argument to counter him. He used Doctors as an example for White Lies, and he said that the Doctor should always tell the truth to the patients. I countered that argument by stating that there are some patients who don’t even want to hear the truth, should doctors still tell the truth? He answered reluctantly, which actually proves I’ve already aimed for his weak spot in that debate.

Not long after, the top 3 scores who was tied by the way, was announced and I wasn’t in the list. To be honest, I wasn’t satisfied, because 2 of the 3 winners used personal experience in that debate, and personal experience isn’t a justifiable argument in a debate. I was too upset, and I decided to just get out of there and go home with Bubi, I couldn’t even bother to listen to who won. I do admit that wasn’t very sportsmanlike of me, but not long after, I met Miss Muliani again.

Post Competition

Turns out, Mr. Deon who forbid me from coming ended up recording all of the Debates and shared it to Miss Muliani, who couldn’t come. Miss Muliani said that I should have gotten away with at least top 2. Why is that? Firstly, the other 4 debaters, minus the winners and me, only repeated the same facts over and over, which is boring and unacceptable in a debate. Then, the top 3 and me, 2 of them used personal experience, and didn’t even counter argument properly. In a debate, the ability to counter a statement is just as important.

Miss Muliani said I couldn’t win because there should be some fault in the judges. So I ended up googling the official debate scoring system, and here it is.

Official Score Sheet

Okay now, in an official debate, it is prohibited for the judges to ask a question. So that’s one thing gone wrong. If you noticed, each point is rated on a 1-4 scale, so judges cannot take the middle point, and is in fact, equal per factor. I’ve read an official debate scorecard, and each question, the more spot on it is, really added on to the score. I only made one question, but I’m pretty sure it should net me a 3/4 at least, due to how well I chose my question. Not only that, I gave lots of scientific evidence for my subject. I also properly structured my debate the way Mr. Eri teaches me to. I’m also certain everyone that heard me knew I made my debate clear, and nearly without any pauses. Despite my best effort I couldn’t win, and if I may quote Miss Muliani… It’s the judges fault, they don’t understand how a debate should work, and their official scoring system

I was quoting Miss Muliani, and I’m sure that one of the judges, the one who asked me a question, which unfortunately I couldn’t answer, seems biased and made a face at me when he asked what school I was from. I answered I was homeschooled, and Mr. Thomas from Wall Street Academy actually smiled, which I thought of as a good sign, but the judge that asked me a question showed a face that seems to show some feelings that they dislike homeschoolers.

I don’t want to give any prejudice, or anything, but I don’t think a judges bias towards the contestant, should cloud their decision making. I don’t mean to disrespect Erlangga in any way, but after checking sites of Official Debates, checking the official scoresheet, and reviewing my performance, Bubi, Miss Muliani (who is oftenly a judge or moderator at official debating competitions) and I both agreed that there must be some Fault from the judges, or that they aren’t following the official rules of a proper debate.

That will actually be all from me today. Thank You For Reading, and Have A Nice Day!

Pencil Grip

Pencil Grip

Neneng masih kurang baik dalam memegang pensil (atau spidol, crayon dan macam-macam alat tulis lainnya). Oleh karena itu, Bubi mulai cari-cari apa ya yg bisa dilakukan utk memperbaiki.

Dulu ketika Jaja berusia 4th, untuk koreksi pencil grip menggunakan alat bantu karet yang dipasang diujung pensilnya. Ini gambar alat sejenis yang Bubi temukan di tokopedia.

Untuk Neneng mungkin nanti bisa menggunakan alat serupa. Tapi saat ini Bubi menggunakan fingers sock untuk membantu. Dengan menggunting sedikit di bagian atas dan samping kaos kaki bekas Neneng.

Kemudian Neng memasukkan tangannya kedalam kaoskaki dan mengeluarkan jari telunjuk serta jempol. Baru memegang pensilnya. Seperti ini

Panduan tentang kemampuan anak memegang ada dalam tabel yang diperoleh dari pinterest. Memang ada beberapa anak yang sudah memiliki grip baik diatas usia pada tabel. Tapi untuk yang belum, semoga bisa mengurangi kecemasan ya. Masih ada waktu untuk terus berlatih.

Art for toddler

Art for toddler

Bubi mau nyoba bikin beberapa postingan art for toddler berdasarkan pengalaman berkegiatan sama neneng ya..

Hari ini, Senin 17 Juli, Bubi mengajak Neneng utk mewarnai lingkaran-lingkaran yang sudah dibuat bulan lalu.

Awalnya si lingkaran ini juga kegiatan art neneng, yang meilbatkan cat poster dan rol tisu bekas.. Cara mainnya cuma stamping ke kertas menggunakan rol tisu bekas sebagai capnya..

Nih, kaya gini…

Terus karena tadi Neneng pengen kegiatan pakai cat air.. Bubi minta Neng mewarnai lingkaran-lingkaran nya deh.. Syarat dari bubi tadi buat supaya lingkaran sebelahnya beda warna..
Dan neneng berkreasi deh..

Neneng bersemangat sekali mengerjakan kegiatan ini.. Oh iya sekedar teview yaa.. Cat air yg Neneng pakai ini merknya Giotto, beli di Gramedia dengan harga 50rb (pas beli dapat tambahan diskon 15% entah promo apa jadi lebih murah lagi.. Sebelumnya Neneng pakai cat air keras yg tanpa merk, beli di spm Borma harganya dibawah 10rb. Tapi sudah habis dan pas mau beli lagi, eh sudah ga ada barang tsb di Borma huhuhuu..

Oh iya alasan Bubi pakai cat air keras sebenernya relatif lebih irit dan ga banyak kotor balatak dibanding menggunakan cat air pasta.. Tapi, karena pengen Neneng kenal banyak jenis alat gambar, jadi Neng juga suka melukis menggunakan cat air pasta 😉
Dan inilah hasil akhirnya..