Tag: ITB

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kembali lagi ke seri Kuliah Umum di ITB. Topik di tulisan hari ini membahas tentang manusia. Ada kabar baik dan buruk yang perlu diberikan sebelum membaca dan masuk ke artikel ini.

Kabar baiknya, siklus satu sudah habis! Ini adalah materi kedua dari terakhir, dan aku masih punya hutang tulisan karena aku sakit minggu lalu, dan tidak sempat menulis. Kabar buruknya, ini berarti aku tertinggal satu minggu, karena ada materi yang menjelaskan tentang kesadaran, yang diberikan hari selasa kemarin, tanggal 1 Oktober.

Kabar baik lainnya karena minggu depan kuliah umum Sains di ITB sedang istirahat… aku bisa mengejar tulisan tersebut tanpa ada tambahan tunggakan.

Sekarang, masuk ke topik, selamat menikmati.

Filosofis? Biologis?

Aku sempat kebingungan dan memberikan ekspektasi yang salah pada kuliah kali ini. Jangan anggap aku meremehkan, justru kuliah kali ini mengalahkan ekspektasi dengan jauh. Hanya saja dari sudut berbeda.

Sesudah kuliah umum sekitar 20 kali tentang Filsafat, dan sesudah membaca banyak mitologi dan sedikit sastra dari seluruh dunia dan banyak era, pertanyaan ini sering kupikirkan, tetapi tidak sekalipun aku tanyakan dari sudut pandang biologi.

Ternyata, aku berpikir terlalu kompleks. Ketika aku membandingkan manusia dengan hewan dari sudut pandang filosofis, dan yang tidak empirik sama sekali, aku akan mencari cara untuk menjelaskan alasan kita menyukai seni, kita menyukai sains, kita percaya pada pemimpin, kenapa ada agama, dan blablabla yang sangat panjang.

Jawaban yang diberikan Prof. Djoko dari SITH (calon dosen pas nanti kuliah berarti… Amin) tidak lebih kompleks dari kromosom dan kode genetika. Pelajaran SMA. Jadi untuk pertama kalinya, aku memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjelaskan tentang sains di blog ini!

Mengabaikan lelucon, aku yakin 100% aku berpikir terlalu jauh ketika aku ingin menanyakan pertanyaan, apa yang membuat kita manusia? Prof. Djoko tidak menjelaskan dengan rumit. Ia hanya menjelaskan bahwa 98% dari kode genetika manusia sama dengan simpanse, dan kode genetika kita juga sama dengan 40-60% dari lalat.

Lalu, kenapa 2% dari kode genetika tersebut menjadi pembeda yang signifikan? Kenapa kita pintar, bisa bicara, bisa menulis tulisan seperti ini, bisa menghitung dan mengkhayal, sementara simpanse tidak?

Oke, memang betul, Enzim penyusun simpanse berbeda jauh dengan manusia, tetapi kalau kita membandingkan makhluk yang enzim penyusunnya paling mirip dengan manusia, kita akan memandang diri kita lebih rendah lagi. (Makhluk dengan enzim penyusun paling mirip dengan manusia, mencapai 92% kesamaannya adalah… Babi.)

Untuk orang yang bingung, kita anggap saja bahwa enzim penyusun adalah bahan bangunan, sementara kode genetika adalah struktur yang dibangun.

Simpanse merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan kayu, Manusia merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan batu, sementara Babi merupakan rumah berbentuk bulat yang dibuat dengan batu. Bahan penyusun sama, dibentuk secara berbeda dalam kasus Babi, bahan penyusun beda, dirancang secara sama dalam kasus simpanse.

Jadi, sekedar 2% dari kode genetika dan 8% dari enzim penyusun yang membentuk manusia menjadi faktor yang sangat penting. Kenapa kita pintar, sedangkan simpanse dan babi tidak sepintar kita? (oke, sejujurnya kalau membaca komentar orang di situs-situs di Internet, aku khawatir simpanse lebih pintar dari kita, tapi anda mengerti maksudku)

Rahang, Otak, dan Telinga.

2% kode genetika tersebut lebih dari cukup untuk mengubah bentuk rahang, telinga, dan punggung. Hanya sekedar dua persen saja membuat kita pintar, karena dua persen tersebut adalah dua persen yang mengubah hal-hal yang tepat.

Rahang kita masuk lebih dalam, telinga kita dapat mengatur keseimbangan, dan punggung kita tegak.

Kubahas satu-satu.

Rahang

Ukuran rahang yang semakin dalam memberikan kepala yang ukurannya umum sama dengan primate lainnya, untuk memberikan tengkorak yang lebih besar. Tengkorak yang lebih besar, berarti ukuran otak yang bisa disimpan dalam tengkorak tersebut, lebih besar juga.

Tanpa kehilangan fungsi penting dari rahang untuk mengunyah daging serta sayuran, kita memiliki otak yang cukup besar untuk memproses informasi yang kompleks.

Dengan kehilangan gigi tonggos dan rahang maju, kita telah membuat diri kita sebagai manusia yang lebih intelijen

*OUT OF TOPIC: Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika manusia diberikan waktu untuk evolusi lebih lanjut, mungkin kita akan seperti professor X tetapi tidak punya mulut, dan mendapat nutrisi dari sumber lain, karena kepala kita terlalu besar untuk menyisakan tempat untuk mulut.

Telinga

Telinga kita berevolusi agar kita punya keseimbangan ketika kita berjalan. Ya. Telinga kita memiliki saluran untuk menjaga keseimbangan di seluruh tubuh.

Bagi orang-orang yang suka bermain game, atau tahu tentang senjata perang, ini alasan Flashbang mampu membuat seseorang bingung parah. Suaranya cukup untuk mengganggu saluran keseimbangan di telinga, dan membuat mereka jatuh sampai saluran tersebut kembali normal.

Ini subjek sensitif bagiku. Kenapa? Aku punya sedikit masalah keseimbangan. Maksudku, aku tidak bisa naik sepeda, aku punya masalah jalan di blok kayu tanpa terjatuh, dan isu kognitif lainnya.

Jadi, ketika aku mendengar bahwa saluran keseimbangan adalah salah satu alasan kita bisa menjadi lebih pintar, aku mengerti jelas kenapa diriku yang kecil punya isu dalam bergerak, dan tidak suka bermain seperti anak-anak lainnya yang tidak diberikan Gadget atau Televisi.

Kembali ke topik lagi. Kita butuh saluran keseimbangan ini untuk turun dari pohon dan tidak lagi perlu tinggal di pohon, dan pindah ke gua, lalu ke rumah. Ketika mulai berburu, kita bisa meninggalkan jejak dan berinteraksi lebih lanjut, dan kita menjadi manusia yang lebih pintar.

Punggung

Sesudah telinga kita mendapat update untuk menjaga keseimbangan. Tulang punggung kita beradaptasi agar tubuh kita lebih kaku, tetapi juga tambah kuat.

Kita memang tidak selentur simpanse, tetapi karena kita mulai bisa berjalan tegak, kelenturan itu tidak lagi dibutuhkan, sehingga kita menjadi lebih kaku, lebih kuat, dan lebih terstruktur.

Stamina kita bertambah, dan kekuatan kita bertambah, karena sekarang, kita punya tubuh yang mampu menahan keseimbangan ketika berjalan dengan tegak, tidak seperti Gorilla, atau Simpanse lagi. Dari sudut pandang fisik murni, tanpa latihan atau semacamnya, manusia sebagai spesies harusnya lebih kuat dari Gorilla dalam kasus berdiri atau bergerak.

Bagaimana kalau berantem? Kamu mau coba sendiri? Silahkan, tetapi aku tidak mau tanggung jawab.

Sebelum mengakhiri dengan beberapa statement di bagian selanjutnya ada klarifikasi terlebih dahulu tentang enzim penyusun, Enzim penyusun irelevan kalau kita membahas intelegensia, karena hal-hal yang diatur enzim adalah hal yang semua makhluk hidup harus miliki, seperti kemampuan bernafas, bergerak, makan, pipis, dan pup.

Perbedaan Etnis

Kalau kita membandingkan perbedaan antara spesies lain, setidaknya kita akan menemukan 2% bukan? Kerabat terdekat Homo sapiens yang sudah pintar seperti kita adalah simpanse, tetapi, berapa banyak perbedaan antara dua ras Homo sapiens?

Perbedaan tersebut hanya mencapai 0.02%. Sebuah perbedaan yang tidak dilihat oleh anak kecil, dan baru dilihat ketika sudah mencapai usia remaja.

Pesan untuk guru-guru TK dan SD: Jika anak-anak memilih-milih teman, tolong salahkan orangtua mereka. Secara genetik DAN evolusioner, mereka tidak mungkin memilih-milih teman.

Lalu kenapa angka intoleransi meningkat secara drastis?

Prof. Djoko menggunakan kata yang ia berikan disclaimer sebagai kata yang “kasar” yaitu cuci otak.

Prof. Djoko bukan ahli dalam bidang perbedaan budaya, itu diluar ranah biologi miliknya, namun ia yakin bahwa jika ada perbedaan etnis, atau ras, manusia tidak akan melihatnya kecuali ada yang menunjukkan hal tersebut. Ia tahu bahwa manusia melihat perbedaan secara budaya, bukan secara etnis.

Mulai dari paragraf ini, kata-kata di sini aku tambahkan sendiri ya, tidak ada kata dari Prof. Djoko atau Pak Hendra sebagai koordinator kuliah umum Sains ini. Aku menanggung semua kata-kata sesudah paragraf ini. (Oh iya, mengenai struktur enzim yang mirip dengan babi juga aku mengambil tanggung jawab penuh, itu atas riset sendiri)

Ini mungkin alasan partai-partai konservatif biasanya tidak menggunakan perbedaan etnis atau ras sebagai alasan utama mereka menciptakan “Boogeyman”, tetapi mereka menggunakannya sebagai pembeda, dan akhirnya turun dari pembeda tersebut stereotipe berdasarkan ras. Sama seperti yang Trump lakukan dengan Meksiko.

Contoh saja ya. Trump menyatakan bahwa imigran Meksiko merupakan kriminal dan berbahaya bagi negara Amerika. Ini merupakan tuduhan budaya, bukan tuduhan ras. Trump lalu menyatakan bahwa ia harus melindungi Amerika dari isu ini. Ini juga merupakan tuduhan budaya. Pendukungnya menyimpulkan bahwa orang-orang meksiko merupakan orang kriminal. Dari tuduhan budaya tersebut, muncullah tuduhan ras, sesudah ada kesadaran akan perbedaan budaya.

Permainan ini merupakan hal yang pintar, dan licik, karena orang yang memercik api pertama tidak berusaha untuk menyalahkan ras, tetapi menyalahkan tindakan yang dilakukan, dan menggantungkan penyalahan ras-nya oleh pendukung atau penerima informasi.

Jadi, apa pendapat anda tentang ini? Selamat merenung dan berpikir…

STEM Talks @ American Corner ITB, Advanced Manufacturing Pt. 1

STEM Talks @ American Corner ITB, Advanced Manufacturing Pt. 1

Okay, apologies for the title being a bit too long (or at least longer than the title of the articles I usually write). Today’s article would be about an event that I attended earlier this morning.

This talk is brought by Mrs. Leanne Gluck (hopefully I got this right because she did wear a wedding ring, and it’s gonna be a bit embarrassing if I turned out to be wrong about this), with the support of ITB’s American Corner. Miss Leanne Gluck was the Deputy Director of 3D Systems, one of the biggest 3D Manufacturing companies.

Apart from that she also had some experience in America Makes, some form of project incubator (or collaborative partner) that is usually supporting 3D printing involved projects.

Right now, though it’s not exactly mentioned, she works in Delaware Valley Industrial Resource Center. This information is attained through the joys of Internet. Thanks LinkedIn.

Anyways, enough about the introduction, let’s just head on to the article.

The topic of the talk is Advanced Manufacturing Ecosystems, and it’s gonna be a 2 part article, because, I’m a bit tired today, the second part would be available tomorrow, discussing about the ecosystems, and the ecosystems for advanced manufacturing.

Why was I actually here?

To be honest I had no idea… as a male teenager, we usually do lots of things because our mother made us. And though it isn’t exactly made us do, Bubi did play a part in telling me about this event and made me kinda sign up.

I didn’t really know exactly what this is about, but I’ll have to say, sometimes, stepping into the unknown isn’t exactly a bad idea. I’m certain, at least from the title, which by the way sounds cool “Advanced Manufacturing Ecosystem”… It’s gonna be a quite intriguing talk.

I didn’t really come here because my mother made me… But I did come here because I want to learn something new. And honestly, this new thing I might be learning today would be useful. At least after attending this talk here, I just know that it’ll be useful.

Indonesian Culture

Err, now you’re probably thinking why am I using “Indonesian Culture” as the headline. And well, this is quite a funny (satirical funny) story.

I arrived at the library of ITB at about 8.50, from the electronic flyer, the event is supposed to start at 9.00 o clock. Approximately at 8.55 Mrs. Gluck came with somebody from the U.S. Embassy at Indonesia, whose name, I unfortunately cannot remember, considering how terrible my memory with names is.

So, what’s exactly this “Indonesian Culture” I’m trying to say? Well, it’s the culture of being late. At 9.00 o’ clock, no one was here, and Mrs. Gluck was constantly checking her phone after prepping up her laptop, and she seems kind of confused as to why no one was here, even though it’s time.

Deep down I was ashamed, and I really wanted to say a joke, like “I’m sorry, everyone here often get confused between 9.00 and 9.30”, but being me who can’t really start a conversation unless it’s a previously planned one, I didn’t. She did however say How are you today, and to that I responded with an “I’m fine, how are you?” followed by a “I’m good, thank you”.

Well anyways, the people from American Corner ITB did stall them by taking them on a library tour, he must’ve sensed that discomfort, I’ve been feeling ever since she checked her phone at 9.00 .

Before she got back, I met a senior at Taman Bahasa named Mr. Moko, who spent 30 years in the US and is an engineer. Unlike me, Mr. Moko was able to chat with Mrs. Gluck just naturally.

I really should increase my conversation skills though, I have troubles starting a conversation for some reason.

Anyways, on topic… At 9.30, the talk finally starts, and it all began with this term.

Advanced Manufacturing

Well, what’s advanced manufacturing actually?

To put it simply, Miss Gluck split the two words, and took their dictionary definitions.

Advanced = Ahead of development and progress.

Manufacture = Make something on a large scale using machinery

Keywords are those in bold. Advanced Manufacturing basically means a large scale production of things using the newly developed, or technology that’s still developing.

In a nutshell, the term advanced is relative to its time, and there was a time where Henry Ford’s production chain is advanced, but we’ve come to the point of literally realizing 3D designs on photoshop. From Miss Gluck’s background she used 3D Printing as a theme.

It’s quite on point. When most of the advanced manufacturing does revolve on producing the soft copy of a model onto a real model, as well as making stuff more efficient…

Oh by the way, by definition Advanced Manufacturing includes 3D printing, Robotics, there’s also lightweighting heavier stuff, and also the coolest one is organ manufacturing.

On second thought, you may read coolest as creepiest. It’s a bit scary that there’s an actual organ manufacturing research institute that is researching about cells, growing itself equal to the mold, similarly to the way a bacteria would clone itself, but just… you know fitting the mold.

So hey, remembered how scary AI was? If you are familiar with Indonesian, please read this article about AI. Now, you can have an AI transport itself onto an organic body with this! Just, perfect 😀 . (or maybe not, considering how AI’s actually hate organic bodies)

Advancement of Industry?

Remember this article? http://dikakipelangi.com/evolusi-pikiran-apakah-teknologi-akan-atau-sudah-menyatukan-kita/ 

That article is actually written in Bahasa, but it does discuss onto how technology is the reason us humans are interconnected. Then there’s also the theory that we’re basically slowing down on the advancement of industry and also slowing down on the advancement of communications causing us to be a bit more interconnected.

On the contrary, advanced manufacturing actually “reverses” that. It makes us and machines more connected to one another, as well as increasing the rapid development of communications and the development of industry along with the help of communication.

So we’ve never really slowed down on industry, we’ve actually accelerated it with our communications!

What can you 3D Print actually?

Still on the theme of 3D printing, something that I actually learned out of an episode in The Big Bang Theory…

Miss Gluck showed us a video, about a bridge that’s 3D Printed. It took 6 months to print the whole bridge, but its actually cool to see how far we’ve come, and although that’s not quite efficient, it’s indeed a rather cool process when literally nothing becomes something! It’s not just materials, it’s basically “Ink” made out of metal, and also steel cables.

This bridge actually works… and people can now step on it… Course it’s still, a bridge, don’t expect it to do much, but it does function as a bridge.

Apart from really large 3D Prints, you can also print really small things, to those the level of a quantum particle. Nano Science facilities are actually using 3D printers to simulate materialization of particles on a quantum scale.

And, for the materials… Apart from the aforementioned cells inside a 3D printer, you can also 3D print food! This however is still rather theoretical, but should you change the filament of a 3D printer with paste, powder, or heck, liquids, you would be able to 3D print food!

Is a programmer an Advanced Manufacturer?

Intermezzo here…

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.orionlabs.OmTeloletTheGame

Late 2016, that game came out on the playstore, me and my friends made it. Since software IS included in the Umbrella Term of Advanced Manufacturing in the 21st Century, I made a software, so technically, I am an advanced manufacturer, since I did mass produce the APK of a game.

Hurrah!

So technically a programmer is an advanced manufacturer, should he produce a downloadable software available to the public! Again, hurrah!

Some interesting 3D print projects

A 3D Printed car is currently in the works. James Corden actually starred in its advertising video, the car’s name is Olli. It’s a 3D printed car that’s self driving, and also runs on electricity. It’s in the shape of a bus however. So, it’s basically a 3D printed Bus version of Tesla!

That reminds me a bit of low cost self driving cars…

On top of that, there’s that bridge thing…

Also, Mrs. Gluck brought a 3D printed bracelet that looks, well, cute… It’s made in a similar way a chocolate top ice cream is made. Firstly, it’s printed in steel or iron, you know, vanilla ice cream, and then there’s some bronze powder to lace and layer the metal with bronze. The bronze is the chocolate in this case. So, it’s basically a bronze bracelet from the outside, but it’s actually a steel bracelet.

If I heard it correctly, the Ganesha statue next to the 3D printer is 3D printed… Course, maybe that’s the reason it’s there in the first place.

Dreamcatcher

Before we conclude today’s short article about Advanced Manufacturing, this is going to be an off-topic leap.

Yes, it’s rather off-topic. Because we did skip about ecosystems, and this is a topic explored in the questions sessions. Though Mrs. Gluck wanted questions as soon as possible, we, the entire audience listened through it without much comments.

There’s a new software known as Dreamcatcher, which is an Autodesk Generative Design. It’s basically a software to randomly generate a calculated parameter of an object… 8 hours of this computers process could generate roughly 1000 designs with a not so complex parameter. Each one being unique, and of course, would fit the needs of the parameters we set.

For instance, we wanted to make a table, then we put in the parameters, four legs, able to hold 200 kilograms, weighs less than 2 kilograms, and then bla bla bla… Then we wait. After the wait, it’ll autogenerate the designs we might wanna see based on the parameters. It’s gonna be wacky, cool, and of course, spot on.

This reminds me of a program used to randomly generate strings in quantum physics. It’s basically an autodesk generative design to generate random strings in a multiverse and relate it to quantum physics, for the types of string available in a universe.

Mrs. Gluck seems very astounded with this fact, and she somehow correlated it with the dystopian Netflix Series Black Mirror… That’ll be for tomorrow.

In Conclusion

Sorry, I wrote in English because A. The talk is in english, and B. I want Mrs. Gluck to read this… (it’s just a want actually).

To conclude, let’s just say that, as a human being, we’ve reached the point of “Yeay technology makes stuff easier!”. Well, this is quite a cliffhanger. And, please, duly note that… There are downsides to this, and let’s not forget the Cambridge Analytics Facebook Data Leakage for a reminder of this… dark side.

Until tomorrow!

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

At the 29th of August Jaja joined a public lecture about Ionic Liquids in ITB by Professor Günter Grampp, who is a lecturer from Vienna, Austria. I found out about this public lecture when I was looking for lunch at ITB, because as usual, every Tuesday I join a lecture there. Luckily, I stumbled upon the banner above, and well, I decided to join this public lecture. Note that I didn’t even know what an Ionic Liquid is, until I joined this public lecture, but it’s a fun and interesting lecture, and I asked a question in the end.

The contents of this article will be my thoughts about the things I heard in the lecture, and me breaking it down…

What’s an Ionic Liquid?

By definition, an Ionic Liquid is a salt in liquid form. But, hold on… The chemical term of salt isn’t really what most people think a salt is. A salt in chemical terms is a solid crystal that is broken down. The solid crystal can only be stated as a salt if it is made from an acid, and a base that is usually a solid metal. If the acid reacts with the solid metal, and the reaction becomes a crystal, that crystal is called a salt, chemically speaking of course. Our common table salt is made with the reaction of Sodium for the base and Chloride for the acid. Their reaction would make the Sodium less metal-like and more like a crystal that is usually hammered down and ground onto powder.

That’s a bit off-topic, but some fun knowledge about salt can never be wrong am I right?

Anyways, back onto the lecture, the more chemically accurate term for “salts” are Ionic Compounds, which is the solid form of these liquids. Usually, Ionic Liquids are made by melting these Ionic Compounds that are made the usual way salts are made. But hang on a bit… Some people might ask, does that mean if I have some table salt, and mix it up with some water that is an Ionic Liquid? Well, No, it’s not… That is a mixture, which unlike a compound, that has mixed onto the molecular level, a mixture is mixed outside of the molecular structures, and isn’t forming any new types of chemical properties.

Uses Of Ionic Liquids

These Ionic Liquids are created mainly to be the conductors in batteries. These Ionic Liquids could enhance the ability of conduction in solid things, and are usually used to soak up batteries so they could conduct more optimally. Ionic Liquids could do this because of their higher electrolyte numbers, which are the properties of conductivity in a liquid. If you remember some commercials of electrolyte water, well… You’re basically drinking salt in liquid form, which in a sense might provide you some energy I guess? Don’t take my word for it 😀

Other uses for these Ionic Liquids are to dissolve harmful ingredients, which does interest me since that way, the waste that factories make can easily be dissolved and forgotten, because apparently, these Ionic Liquids can do that, and much more efficiently than our common solvents (solvents are liquids we use to dissolve waste).

Apparently efficient is in terms of liquid usage. Their cost comparison is still pretty far from one another. I couldn’t remember the difference exactly, but if I recall, the cheapest Ionic Liquid still costs 10-100 times more per liter than our common solvent. So, despite Ionic Liquids have efficiency in terms of liquid usage, and is more effective at dissolving waste, as there is no waste left after dissolved, compared to our current solvents which still makes lots of waste, the cost to invest is still not a priority in the eyes of governments and laboratories.

Professor Grumpp Is Explaining The Uses Of Ionic Liquids

Table Of Ionic Liquids..

I couldn’t understand this so much to be honest.. but, here’s a table of Ionic Liquids when compared to our regular solvents and I’ll try to explain it to you, but if you aren’t in the mood of complex thinking, you can skip this paragraph, as it’s pretty complex.

A Table Of Comparation, Professor Grampp used the exact same one

The factors listed and their meanings…

  • Number of Solvents are the efficiency per particle in dissolving forms of toxic waste
  • Applicability is pretty simple as in the functions of the liquid, and Ionic liquids have multiple uses other than dissolving things
  • Catalytic ability is the ability to function as a catalyst in poison absorption
  • Chirality is the symmetry between it’s particles, and the more symmetrical it is, the better the process of absorption and dissolving of objects
  • Vapor pressure is (like it’s name) the ability to counteract pressure from vapourous sources, this means that Ionic liquids are capable of absorbing gaseous wastes, opposed to the organic solvents
  • Flammability is pretty simple, and Ionic Liquids aren’t flammable and won’t detonate when coming to contact with heat
  • Polarity is the differences in area (which leads to separation) on a molecular level. If a molecule isn’t affected by Polarity they are “connected” to one another much more, and would have the same amounts of electromagnetic conductivity in each part of the molecule. (If this is confusing, don’t worry, I googled this first :D)
  • Tuneability is basically the range of liquids available to do this job, and Ionic liquids has a wide variety
  • Cost… well, I’ve mentioned this in the above
  • Recyclability isn’t really a “real” term, but from Professor Grampp’s explanation, it’s basically the “price” we have to pay to recycle the object. Our Organic Solvents will make the ecological side of things worse, while the Ionic Liquids need more investments to recycle
  • Viscosity is the value used to count how well an object would react when “pulled” to a point of stress. The higher the value, the more flexible an object is when they are “stressed”. (yes this is a pun)
  • Density is how dense an object is, the more dense it is, the higher the mass that it has on a smaller area.
  • Refractive Index is how well an object would refract light, this actually points more onto how clear an object is, and how light would react when sent pass the object.

My Question

I asked Professor Grampp this question: “How far do you think we are onto a cost efficient Ionic Liquid?”

Professor Grampp said that the only problem with us reaching cost efficiency with using Ionic Liquids as a solvent is that companies that invest in the making of these liquids are expecting to get their investments paid back. Scientists that make these liquids also expect payment for their work, and whilst it’s not impossible to use Ionic Liquids now it’s just not efficient because some people need to get paid, and unfortunately, the cheaper Ionic Liquids aren’t that different from our current Solvents, therefore, I think if companies finally decide it’s time to invest in the development of cheaper Ionic Liquids, only then we’d reach the point of efficiency.

I’m very satisfied with Professor Grampp’s answer, and I actually like that Professor Grampp used more objective words that isn’t actually blaming companies for their greed, because we do know that money doesn’t come without effort or for free. One day, I wish some company could invest in using some more expensive ingredients to make a more sustainable version of solvents, or anything else really.

Conclusion

Not only am I satisfied with the answers and knowledge provided in Professor Grampp’s lecture and answer, but I also enjoyed listening to his way of presenting the lecture as he did it casually while making jokes. I’m pretty certain that the lecturers I want when I go to college are those that are responsible, but can still lecture casually.

That’d be all from Jaja Azriel today, and thanks for reading!

[Azriel’s Late Post] Aquaporins Nobel Lecture

[Azriel’s Late Post] Aquaporins Nobel Lecture

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Foto Profesor Peter dari Laman Wikipedia beliau

At Wednesday, 22nd March I went to Sabuga because there is a Nobel Lecture from Professor Peter Agre, which is a Nobel winning biochemist. He won the nobel because he discovered Aquaporins, which he explains to be the plumbing system of your cells, more on that later. I registered for this seminar that I was excited for, 2 weeks before the D-Day.

Pre-Event:

Roughly 2 weeks before 22nd March I saw a promotion image for this seminar that I got from the HS Bandung Union group. A father of a friend of mine helped make the website for this seminar. I registered immediately and almost forgot about this event. Luckily I rechecked my images 5 days before this event and remembered its existence.

On the D-Day I was a bit late (30 minutes roughly, okay so not a bit, very late perhaps), and no it doesn’t really matter because I ended up queuing with less wait, because the gate only opened at 8.45 and I arrived at 8.30 with Arsyad, Afra (Arsyad’s older sister), Izzan, and Raka (who shared this event) queuing before me, so I would still end up on the same sitting spot even if I arrived early (These are one of those few moments where arriving late [compared to our expectation, not actual arrival time] is not a big deal). I got the second row because the first row’s central view is full, and I prefer getting a second or even third row that is close to the center.

Event:

Firstly, I got inside Sabuga at 9.00, however the event only started at 9.45. I used this time to Google and pre-search (I made this word; it’s a combination of Pre and Research). After getting a glimpse of Prof. Peter’s work and Aquaporins, a few people came with full uniforms? (Maybe Toga’s would fit too?) And sat on the stage. After listening to the choir standing on the left wing of the stage singing the ITB anthem, with Angklung from the right wing, Prof. Peter with 20-ish lecturers escorting him to the stage. Upon his arrival we sang the Indonesian National Anthem, Indonesia Raya.

After all that formality, there is still more speech before the lecture. ITB’s dean and head of science department gave a speech in English that is unclear due to the speaker blur, and accent from those 2. However I did catch a few words on not giving up at your dreams no matter how large though. The ITB Anthem is played again with angklung as well, and then the seminar starts. It started at 10.30 if I recall precisely.

Finally the lecture started. Prof. Peter starts by stating that water is the liquid of life, and without it, life cannot exist. After that Prof. Peter states that he wont explain about his work, because he said… “You can get that in many websites, so I don’t see any reason for me to explain it here” However he did explain that Aquaporins are the plumbing system of our cells, and closes if something with properties that is  not similar to water, but accelerates the flow of water. Now since he does not explain his work, exactly what did he explain? He explained how did he work to earn that Nobel.

Now like I said, he explained his work. He started by explaining that he was actually not looking into cells when he gathered his team, but he said that you might find what you are not looking for. Now I can’t really get 100% of what he is saying because once more, the speaker is blurry, and he speaks so fast, but I did hear him say that he was looking for diseases in some organ in the first place. When he saw a damaged cell, he took a closer look and he found that this damaged cell was in fact not flowing water as fast as normal cells. After discussion from this discovery, he and his team decided to take a leap of faith and study how cells process water.

After finding the basic plumbing system, he tried to classify it onto detail and he saw how cells in different organs work differently. Once classified, Prof. Peter and his team tries to see these specific parts of some cells and classified them onto Aqp1, Aqp2, and so on,  until Aqp6. 1 week after the discovery and publishing of his work. When he woke up in his lab if I recall precisely he actually sleeps in his lab when he and his team was working above 23.00) with the purpose of locating the disease that he was looking into before jumping onto aquaporins, he received a call from an unknown number and before even getting cleaned up, he heard “Good Morning Professor Agre, congratulations, you just won a Nobel prize, the conference will begin at 1.00 P.M.” (and he shared his reaction which I believe was like… “What?”) that was 10.00 in the morning. So he rushed home and cleaned himself up with some proper clothing and took his family and received the Nobel Prize that night. Upon receiving the Nobel, he actually thought that he has not succeeded because his main purpose of locating the disease is not complete. I think this is very humble, and should be taken example.

He followed with some history of his discovery. He started explaining that some other scientists a few decades before him have indeed known about the fact that water flows through cells faster than other fluids, but no one seems to be able to pinpoint why. He said that these previous theories include water’s unique property interaction with cells, but despite H20 has some unique properties, (such as Water Anomaly) there is no theory strong enough to back this anomaly up, which leads to a theory failure.

After all that is done, he decided that there is still time for him to explain more about Aquaporins. But, the speaker volume is still blurry, so I can only remember and listen, at the function of certain Aquaporins. I can’t remember its precise numbering, but we have Aquaporins on our blood cells, kidney, digestion system, and if I recall even our Brain has some. Prof. Peter also explained that the failure of these blood cells is not lethal, but can make some non-lethal things lethal, such as a common diarrhea can lead to very painful moments, even death. You would also need about twice drinking water values if you happen to have this condition, because waterflow with this condition is just terrible.

After this is done, comes the question session, which I am still slightly annoyed and disappointed until now. However I will still explain some questions that I remembered. Now this session is separated onto 2, one is for students, and the other is for scientists. With 3 people asking as many questions each. I remembered a scientist asking about how much fame Prof. Peter has achieved and has that accomplished his goal of fame. Prof. Peter. answered that he does not need fame, or pictures of him in lots of banners in the U.S. (on his way to Sabuga he saw several banners of his face) he doesn’t even feel like he needed to win that Nobel, as long as he can make people around him happy. He also said that his 2 granddaughters don’t know about the Nobel, but they do know about him being a nice guy and likes to buy ice cream for them. I like Prof. Peter because he is very humble. I cant remember other questions because I am still sad at how I don’t get to ask, but I guess that’s life. Also I was planning to ask, some questions about Aquaporins that I cant remember because I didn’t ask them, and how his team feels about Prof. Peter getting the Nobel.

After the 3rd time of the ITB song being sung, the event has officially ended with all of the lecturers escorting Prof. Peter outside.

Thoughts:
I feel honoured to hear Prof. Peter’s lecture and his humility. I am also amazed at his consistency at working, and just sees an award as a bonus, not a goal. I would actually love to ask, unfortunately I didn’t get a chance to make Prof. Peter remember that 14 year old asking him a question. But its ok, I’ll get my chance to ask in next year’s (or 2-3 years from now) Nobel Lecture.

[Azriel’s Late Post] String Theory Public Lecture

[Azriel’s Late Post] String Theory Public Lecture

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati🙂

Foto Prof. Peter Bouwknegt di Situs Kampusnya

Last Wednesday, I went to ITB to hear a public lecture from Prof. Peter Bouwknegt, who is Dutch but lives in Australia. This lecture is actually about general String Theory which I am already familiar with, but adds some more technicality towards it.

First of all Prof. Peter starts by explaining what String Theory is, its a Theory of everything that unifies gravity, weak nuclear, strong nuclear, and electromagnetism, if proven correct. Our current unification of the universe is a rather simple one, called the standard model, which cannot unify gravity.

String Theory runs on the foundation of belief that particles aren’t stagnant and can make vibrations. To define String Theory, we cannot use the Feynman Diagram. A Feynman Diagram is a path of particles that is only 2 dimensional. To form particles that support String Theory’s 10 dimensional unification, we need a different diagram. A 3 dimensional path is what we need. The shape of this diagram is infinite, and much weirder than a Feynman Diagram, as it is… Okay I cant explain the shape, let this picture explain. The image on the left is the Feynman Diagram, and the String Diagram is the one on the Right.

Prof. Peter also states that String Theory, despite can go to a multi dimensional form, should still be calculated on the basis of single dimensional being. Until string theory is quantified by default, only then multi dimensional basis of our dimensions can be defined. So, until we can define gravity, we can’t think of multi dimensional existence, as String Theory can exist without multiple universe’s existence.

 

 

Honestly this is done. But Prof. Peter did sum up the general idea of String Theory:

  • String Theory is a 3 dimensional moving version onto our current Standard Model
  • The amount of possible string form shapes are Infinite
  • Multidimensional existence is possible, but is not a must
  • Every type of matter can take this form, and weirdly since we don’t know 96% of our universe, I wonder the shape of Dark Matter strings
  • Gravity is defined by this, because if everything moves, gravity can make its weak pull.
  • Nothing is stagnant.

So pretty much this is all that is in that 30 minute lecture. The other 30 minutes are used to ask questions and university promotion. I asked what is Graviton (which is a hypothetical particle that forms the mediation between gravity and quantum fields, has enough force to perform a pull) and about some complex stuff regarding the end of our universe… precisely this is what I asked: “If the laws of physics are indeed a death warrant (as to what Prof. Michio Kaku said) to all intelligent life, and multiple dimensions exist, will the destruction of one universe lead to another?” Prof. Peter answered philosophically that we definitely don’t want that, especially if we are a new universe, then the old ones will just get consumed by Entropy, and lead to the Big Crunch, and trust me, no one wants that.

At the end of the lecture I talked a bit with a man that was promoting the physics institute that I cant remember, because Prof. Peter is unavailable, and got his name card. He told me that if I do get a scholarship (which he wishes me to get) please consider our university. As a matter of fact he thought I was a Physicist… Because I asked a complex question. Well, I’m not, I am a 14 year old homeschooler.

Thoughts:

Its a good lecture and very efficient judging by the 30 minute time stamp, but I personally enjoy the math and technicality added onto something I know.

[Azriel’s Late Post] Unnovation Seminar

[Azriel’s Late Post] Unnovation Seminar

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Aku pertama kali sampai di ITB pukul 8.00 dengan naik gojek. Gojeknya tidak mau mengantar sampai dalam kampus ITB. Beruntungnya, lokasi penyelenggaraan seminar tidak jauh dari gerbang, tepatnya di samping pintu gerbang, yaitu Aula Barat ITB. Ketika aku tiba ternyata peserta seminar belum boleh masuk ke dalam gedung seminar, padahal dalam jadwal disebutkan mulai pukul 8.00. Maka, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus ITB.

 

Pada pukul 8.45 aku sudah kembali ke Aula Barat dan sudah diperbolehkan masuk. Sudah ada bebereapa peserta di dalam ruangan namun masih belum terlalu ramai. Karena tempat duduk di barisan paling depan adalah untuk peserta lomba, maka aku memutuskan untuk duduk di barisan kedua sebelah kanan. Lucunya, seluruh peserta memilih untuk duduk di sebelah kiri sehingga kursi di sebelah kanan kosong.

Pak Arif Sasongko (Sumber foto situs ITB)

Acara dimulai pukul 9.15 dengan sambutan dari Kepala Program Studi Teknik Elektronika ITB, Arif Sasongko, S.T., M.Sc, Ph.D.. Sambutan berisi pentingnya tech-startup dalam ekosistem ekonomi sekarang. Menurutku, sambutan nya sangat menarik dan cocok dengan tema seminar. Sambutannya pun cukup pendek hanya sekitar 15menit. Cukup menarik bagiku, karena tidak ada sesi menyanyikan lagu Indonesia Raya pada seminar ini, biasanya bila aku mengikuti seminar selalu dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

 

Setelah sambutan usai, pembicara pertama adalah Aussie Wijaya, dari Boston Consulting Group. Boston Consulting Group, merupakan sebuah perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi decision making dalam sebuah bisnis. Sejak 2015, perusahaan ini lebih sering memberi advise tentang memberi sentuhan technology pada sebuah bisnis.

 

Beliau menunjukkan bahwa berdasarkan data, perubahan bisnis yang terjadi dari tahun 2012 hingga 2015 sangat drastis. Hal ini terlihat dalam sebuah perusahaan CD besar di Amerika Serikat kehilangan 100% value sahamnya, karena terkalahkan oleh Spotify dan iTunes. Selain perusahaan CD ada beberapa perusahaan lain yang terkena imbasnya, seperti Ace Hardware dan Electronic Solution. Perusahan-perusahaan ini kehilangan 30% salesnya, karena toko jual beli online seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak dan sebagainya. Masih banyak lagi perusahaan yang kehilangan penjualan tahunannya dengan angka sekitar 15-68%.

 

Sejak itu, maka Boston Consulting Group memutuskan untuk beralih dengan memberi saran berbasis teknologi untuk perusahaan-perusahaan yang menjadi clientnya. Berdasarkan data lagi, Indonesia, khususnya Pulau Jawa didominasi oleh ekonomi tingkat tengah dan menengah keatas. Kalangan ini, sebagian besar tidak punya banyak waktu untuk belanja sehingga mereka beralih ke belanja online. Bahkan, 80% dari kalangan ini memiliki gadget dan 60% memiliki akses ke wi-fi.

 

Kemudian, Pak Aussie menjelaskan cara memberi sentuhan teknologi dalam suatu bisnis. Penjelasannya, bahwa bisnis harus memiliki akses mudah dalam bentuk domain atau halaman toko online, untuk memudahkan kalangan dominan yaitu kalangan menengah yang sekarang lebih fokus dalam membeli barang via internet. Setelah itu beliau menutup dengan statement yang menyatakan bahwa apabila kita tidak melangkah masuk ke dunia digital maka kita akan tertinggal dengan kecepatan perubahan zaman.

Om Leon (Sumber foto situs ITB)

Pembicara kedua adalah Leontinus Alpha Edison – COO Tokopedia. Om Leon membuka dengan sejarah mengenai bagaimana tokopedia dimulai. Berdasarkan ceritanya, tokopedia mulai pada Januari 2009. Dimana ketika pertama kali launching baru ada 50 barang milik tokopedia sendiri. Dari kolaborasi Om Leon dan Om William Tanuwidjadja, yang sekarang menjadi CEO tokopedia.

 

Om Leon bercerita selama beliau menjadi (yang disebut oleh Om Leon sebagai) Half Engineer, beliau berkolaborasi dengan Om William untuk membuat sebuah website, yaitu tokopedia. Om Leon mendapatkan ide membuat tokopedia karena dia sempat mengalami kebingungan kala mengetahui promo sebuah brand ternama untuk produk mesin cuci. Ceritanya begini,di pagi hari Om Leon menghubungi dealer untuk mengklarifikasi sebuah promo yang beliau lihat. Kemudian beliau mendatangi dealer untuk membeli mesin cuci yang dipromokan. Namun, menurut dealer syarat dan ketentuan yang kurang sehingga mesin cuci tidak dibeli dengan harga promo. Selanjutnya, Om Leon kembali ke kantor untuk melanjutkan bekerja dan menyempatkan menghubungi dealer kembali dan diinformasikan bahwa barang sudah bisa dibeli. Pada jam istirahat, Om Leon datang kembali ke dealer dan katanya masih ada lagi syarat ketentuan yang kurang. Dan Om Leon kembali bekerja dan kembali lagi menghubungi via telp, pihak Customer Service dan diinformasikan bahwa promo tetap bisa diperoleh. Pada pukul 15.00 beliau kembali ke dealer hanya untuk menyampaikan keluhan tentang syarat dan ketentuan promo. Menurut Om Leon dan disampaikan ke pihak dealer syarat ketentuan promo tidak jelas, sehingga menimbulkan kebingungan. Dari pengalaman ini Om Leon berangan-angan memiliki online store dimana konsumen adalah prioritas.

 

Sekarang, tokopedia sudah menjadi sebuah perusahaan yang besar dan Om Leon menyampaikan DNA dari seluruh sistem operasi tokopedia. Prioritas pertama tokopedia adalah konsumen dan konsumen harus selalu menjadi prioritas tanpa terkecuali apapun. Tim tokopedia juga harus dapat bekerja sama dengan baik, karena setiap ada update dalam code tokopedia maka projectnya dilakukan secara bersama-sama dalam tim dan bukan perorangan. DNA terakhir dan menurutku paling penting adalah harus selalu mau berkembang, hal ini dapat dilihat dari perkembangan pesat tokopedia sejak 2009, dimana sekarang sudah ada jutaan jenis barang dan jutaan pengguna.

 

Kualitas DNA ini dapat dipertahankan oleh tokopedia dengan filter recruitment yang cukup ketat. Jika seseorang ingin menjadi bagian dari keluarga tokopedia, maka haruslah memiliki beberapa hal penting. Yang pertama, culture di rumah dan pendidikan rumah yang baik. Maksudnya, jika culture rumah dan kebiasaan si pelamar dirasa kurang cocok dengan culture tokopedia maka lamaran akan ditolak. Menurut Om Leon, jika seseorang tidak memiliki kebiasaan yang baik (yang dimulai dengan kebiasaan baik di rumah) maka dapat meberikan dampak negatif pada keseluruhan culture tokopedia. Setelah culture dari pelamar dirasa sesuai, maka yang dilihat adalah bagaimana pelamar dapat cocok dengan culture kerjasama dalam keluarga tokopedia. Apabila kedua culture tersebut sudah cocok, yang selanjutnya dinilai adalah pengalaman dan apakah si pelamar cukup kompeten. Langkah terakhir setelah kesemua syarat tersebut sesuai, adalah pihak tokopedia akan mencarikan tim yang tepat untuk rekan kerja si pelamar atau membuatkan tim baru yang sesuai.

 

Selanjutnya, Om Leon bercerita bahwa di tahun 2012 tokopedia memiliki akademi untuk bagian keluarga tokopedia. Akademi ini melatih keluarga tokopedia untuk menambah pengetahuan, kreativitas serta mempertajam DNA yang tertanam. Om Leon mendapatkan ide ini dari sebuah film yang beliau tonton bersama crew tokopedia (di tokopedia ada acara bernama movie day, yaitu sekali dalam satu bulan, keluarga tokopedia akan bersama-sama menonton sebuah film di bioskop) pada movie day, yang berjudul The Internship. Jadi dalam film berlatar belakang program magang sebagai seleksi untuk bekerja di Google. Karena tertarik dengan ide dari film tersebut, Om Leon memutuskan untuk membuat pelatihan tahunan, namanya adalah Nakama.

 

Nakama adalah event selama seminggu setiap tahunnya dimana crew tokopedia diberi tantangan untuk mengasah kemampuan dari crew. Kreativitas crew juga diuji dalam event ini. Seperti Om leon ceritakan bahwa diakhir minggu dari Nakama Academy ini, sudah ada ide baru yang kreatif untuk memperkuat environment tokopedia dari setiap tim. Tim dengan skor tertinggi di akhir minggu akan diapresiasi dengan Piala Nakama dan idenya akan diterima serta diimplementasikan.

 

Dari semua ide yang Om Leon ceritakan, yang paling menarik menurutku adalah bagaimana anak buah bisa menyampaikan report pada atasan. Yang membuat Om Leon menerima ide ini adalah karena ketika beliau masih menjadi Half-Engineer, beliau tidak suka pada bosnya yang menurut beliau cerewet dan tidak bisa apa-apa. Jadi beliau ingin memastikan bahwa dalam environment kerja tokopedia kekurangan ini tidak ada. Laporan haruslah memiliki 4 bagian, yaitu deskripsi mengenai bos, keuntungan memiliki bos tersebut sebagai atasan, kerugian memiliki bos tersebut sebagai atasan dan apa yang bisa diperbaiki.

 

Om Leon menutup presentasi dengan menyampaikan impiannya bahwa disuatu hari nanti tokopedia bisa memiliki sebuah kampus. Aku sangat senang mendengar presentasi dari Om Leon sehingga ketika presentasi selesai aku berlari cepat menuju Om Leon, mencegatnya dan memberikan kartu namaku. Om Leon cukup terkejut mengetahui aku memiliki kartu nama, dan aku pun meminta kartu nama Om Leon. Aku mengatakan keinginanku untuk magang di tokopedia, dan tanggapan Om Leon adalah bahwa biasanya tidak ada kesempatan magang untuk pihak luar. Tapi Om Leon berjanji akan menghubungiku apabila ada perubahan atau bila ada kesempatan untukku.

 

Sukan Makmuri (sumber foto Kudo)

Presentasi berikutnya adalah dari KUDO, dengan pembicara Sukan Makmuri, yang merupakan CTO dari KUDO. Aku menikmati presentasi dari Pak Sukan, beliau dahulu merupakan CEO dari Kaskus. Beliau mebuka dengan menceritakan apa itu Kudo. Kudo merupakan singkatan dari Kios Untuk Dagang Online.

 

Beliau menunjukkan data bahwa diluar pulau Jawa, orang yang meiliki akses ke Internet dan Smart Phone masih dibawah 20%. KUDO ingin dapat meningkatkan peluang perdagangan online ke daerah-daerah luar Jawa. Namun, banyak kendala yang harus diatasi, karena orang-orang di luar Jawa kurang teredukasi dalam hal internet dan kurang percaya jika tidak kenal dengan penjualnya. Salah satu faktor lain adalah kurang ATM untuk melakukan transaksi pembayaran belanja online.

 

Dalam hal inilah KUDO berperan. KUDO berusaha menghubungi warung terbesar dari satu daerah, kemudian diajak untuk menjadi partner KUDO. Setelah warung setuju, maka akan dipinjamkan smart phone yang telah terinstall aplikasi KUDO. Disini KUDO berperan memberi suplai barang dari daerah lain, misalnya beras dengan kualitas lebih baik. Aplikasi ini diharapkan memfasilitasi pedagang untuk menyediakan komoditas yang lebih baik dan variatif.

 

KUDO juga berperan meningkatkan value suatu warung karena aplikasi ini memiliki iklan, yang dapat menghasilkan uang. KUDO membagi sebagian penghasilan via iklan ini, serta membagi pada warung-warung setidaknya USD 100 dari hasil iklan. KUDO juga mengapresiasi warung dengan penghasilan terbanyak pada suatu pulau dengan memberikan smart phone yang awalnya dipinjamkan. Jika pada satu desa ada warung yang memiliki KUDO, maka menurutku secara tidak langsung warga-warga desa tersebut lebih teredukasi mengenai teknologi. Selain itu, bagi brand yang bekerja sama dengan KUDO dari pulau Jawa akan mendapatkan perluasan peluang bisnis.

 

Menurutku, meskipun Pak Sukan tidak menyebutnya secara langsung, KUDO sangat beneficial untuk orang di luar pulau Jawa dan bagi entrepreneur di dalam pulau Jawa. Ini yang membuatku menilai KUDO sebagai sociopreneursip. Aku sangat menikmati presentasi dari Pak Sukan dengan kontennya yang menarik dan baru kuketahui bahwa ada perusahaan seperti itu. Meskipun sebetulnya aku sudah cukup lama mengetahui tentang KUDO, karena ketika aku melewati Jalan Setiabudi disebelah jajaran tukang rotan ada kantor KUDO. Bahkan aku pernah mampir -ketika aku masih memainkan game online- untuk membeli voucher game. Tapi kala itu aku belum tahu bahwa KUDO memiliki benefit sedemikian rupa dan menambah value dari sebuah usaha di Indonesia.

 

Pembicara selanjutnya adalah Riri Satria, CEO dari value alignment group. Sayang sekali presentasinya kurang menarik sehingga membuatku tidak terlalu ingat akan materi yang disampaikan. Presentasi tersebut merupakan presentasi terakhir dari rangkaian presentasi dalam seminar ini. Menurutku, seminar ini secara keseluruhan menarik dan menyenangkan, karena selain mendapat ilmu dan wawasan baru, aku juga mendapat kesempatan bertemu orang-orang yang memberi inspirasi. Sayang sekali, seminar ini sepertinya tidak dipromosikan selain di dalam kampus ITB, meskipun aku bersyukur karena aku kebetulan berada di ITB tepat satu hari sebelum seminar sehingga aku melihat spanduk seminar hingga akhirnya mendaftar untuk menghadirinya. Akan lebih baik bila event-event seperti ini diinfokan melalui social media atau melalui komunitas juga agar lebih banyak yang bisa mengetahui.

[Azriel’s Late Post] OSCP Hacking Workshop

[Azriel’s Late Post] OSCP Hacking Workshop

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

Jumat kemarin tanggal 17 maret 2017, aku mengikuti workshop hacking berbasis tes OSCP. Pelatih di workshop ini adalah Pak Yoko, yang merupakan sebuah konsultan security aplikasi. Tes OSCP sendiri adalah sebuah tes hacking yang dilakukan secara remote, dengan OS Kali Linux. Aku menginstall VmWare workstation untuk menggunakan device Kali Linux-ku

Sebelum workshop dimulai, Pak Yoko memberikan kita overview dari tes sertifikasi security. Ada 2 jenis tes, yaitu management dan offensive, OSCP termasuk yang Offensive. Selain itu OSCP juga menggunakan system soal dan scoring. Tes OSCP sendiri dilaksanakan dalam waktu 24 jam di rumah masing-masing, dan dengan soal berbeda. Selain itu ada juga banyak sekali metode yang bisa kita gunakan untuk mengexploit sebuah system. Semakin ketat sebuah system maka semakin besar poin yang kita dapatkan dari soal tersebut.

Sesudah masuk ke virtual machine Kali Linux, kita langsung diberi set command untuk mencari tahu data di sebuah system dan berusaha membobolnya. Sesudah masuk ke satu server spesifik IP, dan dokumen-dokumen yang memaintain server dan OS yang juga ada di IP itu, aku langsung memodif user lain di OS pemegang server ini. Sesudah masuk, aku menambahkan user administratorku agar aku bisa akses system server. Ini bisa kulakukan karena server punya banyak sekali loophole untuk aku exploit. Sesudah mendapat akses, aku masuk ke device server dan mendisable administrator lain. Ketika aku satu-satunya user administrator yang tersisa, aku mengopi list kode untuk exploitasi dan mengeksploit semua kelemahan data dengan software bernama Mimikatz. Mimikatz berfungsi untuk membobol OS apapun yang diatas Windows Vista. Aku langsung mematikan server dan menghapus semua user lain di PC itu dan membuat server di IP tersebut mati untuk durasi yang cukup lama. Semua proses ini sebenarnya bisa dilakukan tanpa perlu retrieve IP dan password user terlebih dahulu, tapi justru proses itu yang sulit, karena aku bisa mendisable device orang lain asal tidak di password, dan aku punya IP. Proses ini juga dilakukan dengan aplikasi yang windows sendiri miliki dalam built in OS tanpa perlu download atau install apapun terlebih dahulu.

Aku menggunakan proses diatas untuk 2 soal, namun metode aku mendapatkan administratornya yang berbeda. Di soal yang menggunakan server SQL, aku cukup menggunakan list command built in SQL-nya, password didapatkan via brute force, dan lokasi server didapatkan dengan melakukan perintah Nmap Scan, dan ditemukannya file Robots.txt dan XAMPP. Di soal yang satunya lagi menggunakan server berbasis Tomcat. Untuk memasukkan command ke server Tomcat ini, aku perlu mengupload shell yang sudah berisi command ke server dan mengakses shellnya untuk melakukan command seperti di paragraph atas ini. Ketika aku sudah mendapatkan username dan lokasinya, baru aku bisa masuk dan membobol server ini. Sesudah ini selesai, aku langsun berjalan ke Masjid Salman dan sholat disana

Hari ini ada total 7 soal, namun kami hanya sempat mengerjakan 6 soal, karena tidak ada cukup waktu untuk mengerjakan soal nomor 7, yaitu soal paling susah. Soal paling susah ini bernama Stack Overflow, yang bertujuan memenuhi threshold sebuah server sampai servernya terlalu penuh. Pada pagi hari kita sudah sempat mengerjakan 2 soal. Tinggal tersisa 4 soal lagi dari Jam 13.00 sampai jam 17.30.

Ke empat soal ini memiliki flow yang sama, dan kurang lebih dikerjakan seperti ini,  cari page utama untuk server host-nya, cari hal yang bisa di exploit, (misal file, command, dan lain-lain) dari bahan yang bisa di exploit itu, buat user baru (contoh: Admin, Administrator, [NamaWebsitenya], dll), dengan password “P@ssw0rd”, brute force list password itu, cari yang benar, login dengan yang benar. Carilah ssh address yang mestinya sudah tampak ketika login, cari versi kernel server, cari daftar exploit di internet, dan tinggal download lalu compile command-nya. Laksanakan file compile-nya dan kamu sudah sukses menghack sebuah server. 4 soal itu dilakukan dengan flow yang sama, namun metode per soal beda, ada soal yang dilaksanakan dengan memasukkan username dan password yang paling common, ada yang perlu upload CMD terlebih dahulu, ada yang perlu command khusus, dan lain-lain.

Soal nomor 3 pada hari ini cukup simpel karena di IP yang Pak Yoko berikan (menggunakan server CuppaCMS) ada file .txt yang sudah ada address, username dan password. Sesudah masuk kita tinggal masukkan script via url, karena URL-nya support command langsung. Sesudah itu kita tinggal menambahkan username dan mem-brute force, di soal 3-5 semua proses sudah sama persis sesudah mem-brute force username dan passwordnya. Soal nomor 4 cukup mirip dengan soal nomor 3, tetapi karena menggunakan server Google Statistics, perlu upload command prompt terlebih daulu karena URL tidak bisa digunakan untuk menambahkan direct command. Untungnya, Google Statistics punya built in cloud untuk menjalankan file dan menguploadnya. Yang perlu dilakukan  sesudah login ke server, cukup upload CMD Google Statistics yang sudah ada di Kali Linux secara built in. Sesudah di upload tinggal jalankan command brute force, dan kita akan dapatkan akses server dan user. Soal nomor 5 lucunya lebih mudah lagi karena semua data sudah ada di file Robots.txt dan kita tidak perlu upload file lebih lanjut, karena sudah punya Cmd built in di website (tidak menggunakan link ataupun upload file, sama seperti textbox kode). Data langsung didapatkan dan system server juga cukup rusak.

Soal terakhir yang cukup sulit untukku adalah web calendar, untuk ini tidak ada CMD atau metode memasukkan kode sama sekali. Karena itu untuk input code kita membutuhkan shell open source dari github, buatan orang Indonesia, bernama B374k Shell. B374k Shell berguna untuk memasukkan kode ke file web yang hidden, karena semua web pasti punya server di sebuah PC. B374k memasukkan kodenya ke dalam PC yang menjalankan servernya, dan bukan servernya. Tapi untuk masuk ke dalam Shell B374k, kita butuh keluar dari “gerbang” yang membatasi Kali Linux. Untuk melakukan itu cukup masukkan sedikit kode di python dan dia akan mengkonversi ke Terminal Linux semi Python, dan Shell B374K bisa dimasukkan ke sini. Sesudah selesai bruteforcing, aku mulai tidak mengerti dan sedikit salah di bagian ini (ini bukan pas aku pegang HP kok). Tapi intinya flownya masih cukup mirip, hanya ada sedikit perbedaan di injeksi karena harus menggunakan B374K.

Sesudah soal nomor 6 selesai, aku langsung memberikan kartu namaku ke Pak Yoko yang cukup sering bercanda dan tertawa sepanjang workshop ini. Oh iya, kata Pak Yoko, terkadang hacking bisa membuatmu frustasi, jadi setiap menyelesaikan soal, wajib istirahat 5-10 menit dahulu. Ketika foto selesai aku langsung mengembalikan semua meja bersama kakak mahasiswa ke ruangannya di lantai 3, baru aku jalan ke Pico.

Thoughts and Experiences:

Aku sangat senang akhirnya bisa belajar Hacking. Sejujurnya aku tidak mengira scope hacking lebih luas dari perkiraanku sebelumnya, dan ternyata lebih mudah dari yang kukira (basicnya). Pak Yoko juga hobi bercanda selama workshop jadi workshopnya kerasa lebih casual. Aku senang bisa ikut acara dari ISG dan Isaca dan ingin belajar hacking lebih lanjut.

[Azriel’s Late Post] Workshop Digital Forensic

[Azriel’s Late Post] Workshop Digital Forensic

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Pada tanggal 17 februari kemarin, aku pergi ke ITB karena ada Workshop Digital Forensic. Workshop ini disertai Guest Host Pak Nuh yang merupakan kepala lab digital forensic. Kemarin malam sesudah menginstall software yang diperlukan, aku tidak sabar belajar digital forensic karena aku sempat tertarik dengan ini ketika menonton CSI: Cyber (yang pada akhirnya dicancel tanpa alasan jelas), namun belum menguliknya.

Sebelum masuk ke Workshop, Pak Nuh bercerita mengenai backgroundnya. Pak Nuh juga sempat bercerita bahwa ia sempat berpikir untuk menghack sebuah bank besar di Indonesia, dan sampai sekarang, masih ada program untuk melakukan itu. Untungnya karena Pak Nuh kuliah dengan bimbingan polisi, Pak Nuh menjadi Cyber Forensic, bukan Cyber Criminal.

Sumber foto dari hukumonline.com, aku lupa dokumentasi soalnya 😀

Workshop dimulai dengan teori dari Digital Forensic. Aku sudah cukup tahu dengan bentuk dan evidence dari Digital Forensic sebelumnya. Jenis buktinya tentu adalah software dan hardware, dimana software evidence biasa berisi dari jejak history sebuah PC, dan hardware evidence adalah PC-nya sendiri (sebagai contoh saja karena masih banyak lagi tentunya). Selain bentuk dan bukti, juga ada “code of conduct” yang harus dipatuhi oleh seorang forensic digital. Kode pertama untuk ini adalah untuk tidak pernah mengedit sebuah barang bukti, tanpa disecure atau write block terlebih dahulu. Dengan ini kita tidak akan merubah hash code sama sekali. Kode berikutnya adalah, “Untuk melakukan suatu tindakan forensic, orang harus tersertifikasi, dan tahu apa yang dia lakukan”, cukup self explanatory menurutku. Kode berikutnya: adalah untuk merekap dan meninggalkan jejak ke setiap tindakan, menurutku dan mungkin semua programmer (forensic atau bukan) ini penting agar kita dapat mentrace segala tindakan yang kita buat, dan mencari kesalahan atau kebenaran di sebuah barang bukti. Kode ke empat adalah “Setiap tindakan harus dimonitor dan dipertanggung jawabkan ke seorang supervisor”, ini untuk memastikan kerusakan data dan kegagalan satu kasus tidak terjadi.

Aku bertanya ke Pak Nuh, apakah kita diberi izin untuk mengubah hard disk dan mungkin merusak konten sebagai last resort? Pak Nuh pun memarahi aku dan bilang bahwa forensik itu bukan tuhan dan jika ada data yang terubah karena kerusakan maka ya barang bukti tidak valid lagi. Pak Nuh sepertinya galak dan aku menekan trigger button-nya. Pak Nuh melanjutkan penjelasan dengan galak lagi ke aku bahwa ada kemungkinan kalau kita melanggar code of conduct bisa membuat satu isi lab di ban dan dibubarkan, karena supervisor juga harus bertanggung jawab, jadi sebaiknya kita tidak perlu mengedit konten sama sekali… Sesudah ini aku tidak mengucapkan satu katapun ke Pak Nuh sepanjang workshop  aku takut mengeluarkan pertanyaan yang salah lagi, kan malu kalau dimarahin di umum pas workshop, bahkan aku tidak memberitahu umurku ke Pak Nuh.

Seusai code of conduct dijelaskan, Pak Nuh melanjutkan dengan contoh kasus Cyber Criminal. Karena muka pelaku tidak diketahui, CIA menghargai kepala sebuah mafia hacker asal Russia 1 Juta Dollar. Ya kasus Cyber Forensic memang mulai meningkat cukup pesat secara global ataupun local tahun ini. Bahkan peningkatannya sampai 80% dari 2014 ke 2015, menurut statistic milik Pak Nuh.

Sesudah itu Pak Nuh mendemokan Hash Calculator yang merupakan sebuah software untuk membaca encoding sebuah file. Cara menggunakannya sangat simple, cukup masukan file kedalam Hash Calculator-nya. Hash Calculator berguna untuk membaca apakah sebuah file pernah diedit atau belum. Hash Calculator juga bisa dipakai untuk membedakan 2 file yang tampak sama persis berdasarkan signature-nya. Hash Calculator menunjukkan data file dengan sejumlah karakter yang unik, dan akan berubah berdasarkan semua properti file yang berubah (baik secara sengaja atau tidak sengaja), Di windows, bahkan mengubah file, meski tidak di save perubahannya akan mengubah Hash Code-nya, jika di Linux ini tidak akan terjadi. Membaca Hash akan berguna untuk membedakan 2 file dan mencari mana file yang benarnya.

Sesudah Hash Calculator kucoba, waktu makan siang tiba dan aku jumatan sesudah itu langsung makan siang. Topik Khutbah Jumat hari itu adalah cara mempursue passion dengan gaya islami, dan kebetulan Pak Nuh bahas lagi saat workshop dimulai lagi. Selesai ISHOMA, aku visit lab Nano Sains dan say hi ke beberapa kakak disitu, lalu kembali lagi ke ruang rapat STEI.

Berikutnya aku mencoba software USB Write Block, yang berguna untuk memastikan kita tidak mengedit satupun hash code dari sebuah file. Cara pakainya pun sangat simple, cukup di toggle on dan off, ketika kucoba dengan USB, USB itu tidak bisa diedit sama sekali. Sayangnya aku lupa men-toggle fitur ini off ketika sampai rumah, dan membuat sebuah USB tidak bisa di edit. Ini adalah langkah yang simpel tapi wajib dilakukan kata Pak Nuh.

Sesudah selesai memblock USB dari editan apapun, aku pun mencoba mengkonversi sebuah USB menjadi database. Aplikasi ini butuh waktu lama untuk memproses sebuah USB 8 GB dan membaca isi file-nya. Aplikasi ini juga bisa membaca sebuah folder yang di delete, meskipun bisa membaca folder dan file yang sudah di delete,  kita tidak bisa melihat konten file selain namanya dan tanggal delete-nya. Pak Nuh juga bercerita bahwa dia hanya mau menyewa gamer ataupun eks-gamer karena hanya mereka yang punya stamina untuk dapat tahan melihat screen selama itu sambil membuat satu file jadi sebuah .ISO dan membaca ulangnya. Kadang Pak Nuh member mereka izin untuk main game sambil menunggu konten satu hard disk dibaca, dan dikonversi ke ISO. Di USB pinjamanku aku melihat beberapa folder yang sudah di delete, dan ternyata kita bisa melihat JPG yang sudah didelete. Sayangnya sebelum aku bisa eksplorasi lebih lanjut Pak Nuh yang sibuk harus pulang. Masih ada satu software untuk melakukan autopsy pada ISO yang belum sempat kita coba hari ini. Kata Pak Nuh software Autopsy ini bisa merecover file-file hilang. Pak Nuh memberi salam penutup dan mendoakan yang terbaik untuk kita semua ketika ia bersiap kembali ke labnya di Jakarta.

Thoughts:
Workshop ini overall menarik, dan aku sangat senang bisa belajar lebih lanjut mengenai topic yang dari dulu sudah ingin aku ulik. Bahkan meski Pak Nuh galak, dan membuatku malu, (untungnya para mahasiswa sebagian sudah tahu aku hanya seumuran dengan siswa SMP) tetap sangat menarik bertemu dengannya, karena Pak Nuh sudah punya pengalaman yang cukup banyak di bidang ini, dan sempat diberi keputusan untuk melakukan sesuatu yang berdosa dan illegal untuk uang yang sangat banyak, dan sesuatu yang tidak illegal, bahkan mendefend legalitas itu sendiri untuk uang yang sedikit.