Tag: Interconnectedness

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Suatu malam, pasnya di kuliah terakhir, kita membahas sebuah film. Film itu membahas ke evolusi pikiran manusia, dan bagaiman kita sebagai spesies akan (pas-nya sudah sih) evolusi dari kemajuan agrikultur, terus industri, terus sekarang komunikasi, dan sampai akhirnya… kita akan bersatu pemikirannya.

Topiknya tentunya sangat relevan dengan interconnectedness. Dan banyak quack science/filsafat lagi…

Jadi, hari ini, aku akan membahas tentang si film ini, dan ilmu filsafat yang ada di dalamnya, tetapi mengemasnya dalam konsep teknologi, programming dan AI… Lagi tentunya. Sebelum artikel ini ada juga artikel AI yang lain, dan bisa dibaca dengan klik link ini…

Tentang filmnya… Film-nya sendiri film lama, dan judulnya udah aku lupakan, karena nginget judul itu super susah, dan juga nginget nama pembuat film-nya juga… susah… Tapi dia membahas kemiripan banyaknya hal dalam alam dan kemajuan manusia sebagai spesies. Orangnya sendiri merupakan expert computer science, yang belajar filsafat timur, dan juga medis, tetapi seriusan, aku gak inget namanya… Dan googling dengan keyword “Computer Science Expert with medical and philosophy background” tidak menghasilkan apa-apa.

Untungnya aku inget film-nya itu film tahun 80-an, kalau gak 83, 85, dan atas dasar itu… film ini sudah cukup lama gak dibahas, jadi mari kita bahas 😀

BTW Kemungkinan AI akan dibahas sesudah chapter Pattern ini, jadi jika gak minat baca tentang pola, maka silahkan di skip…

Patterns

Segala sesuatu dapat dimulai dari beberapa pola. Dan di film ini ditunjukkan bahwa dari gambar yang diambil dari bulan. Bumi dari luar angkasa sangat mirip dengan beberapa perumahan di US jika diambil dari atas pesawat.

Dari sini, ada quack-y science yang berusaha connect the dots antar si pola yang similer ini. Nah, atas kemiripan pola ini, ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah indirect symbol ke interconnectedness dan universal mind. Pola ini juga kurang lebih dibahas kalau si pola-pola ini akan pada akhirnya fit itself onto the puzzle, hingga kita yang dulunya super individualistik, menjadi sama dengan orang disekitar kita, dan menjadi gerigi yang menjalankan jam dengan orang dari negara kita, lalu negara kita akan menjadi gerigi untuk region seperti South East Asia, hingga akhirnya region ini adalah gerigi untuk planet Bumi.

Layaknya di Star Trek yang gak ngeliat international waters sebagai perbedaan asal negara, tapi melihat international waters sebagai lautan, dan setiap penghuni planet adalah warga dari planet itu.

Kembali ke Holarchy of course… Nah, dari teori holon ini, akhirnya kita akan menyatu dan melupakan border international dan menjadi warga planet Bumi.

Ini sedikit mengingatkanku pada bendera-bendera di Star Trek… Ketika logo dari bendera planet Bumi adalah sebuah bumi-nya sendiri.

Nah, tentunya masa depan Star Trek masih super duper jauh (Kalau akan ada intergalactic waters ala Star Trek nanti… semoga aku masih hidup untuk witness itu). Tetapi tentunya pola ini juga ditemukan di evolusi. Sejak bakteri pertama bahkan…

Saat bumi ini masih baru saja menjadi sebuah planet dengan air, tanpa adanya kehidupan… Kehidupan itu muncul begitu saja. Stephen Hawking pernah membahas probabilitas sebuah planet dengan adanya kehidupan ini… Dan sejujurnya belum ada pola. Kecuali nanti nongol di Multiverse tiba-tiba ada pola satu universe satu planet hidup. Intinya so far belum ada pola.

Tapi, sejak adanya kehidupan dalam bentuk algae dan bakteria, kehidupan bertumbuh makin kompleks, dan kompleks, dan kompleks. Si Bakteri, atau universal governor ini kekeuh bosen dengan apa yang ada dan menyuruh hal-hal kecil, yang lebih kecil dari debu ini untuk menyatu, dan membentuk hal baru.

Hal baru ini akan terus terbentuk, terbentuk, terbentuk, terbentuk dan terbentuk sampai… entah kapan. Intinya, alam semesta, atau Universal Governor ini akan terus menciptakan hal baru dengan cara menyatukan banyaknya hal yang sudah ada ini. Sampai ada suatu spesies, atau realitas baru yang tercipta…

Nah, tentunya, sekarang si Universal Governor ini rada mentok dalam mau maksa evolusi… Ini nih manusia, dikasih otak malahan ngerusak bumi. Jadi mungkin dia akan maksa dan membuat sebuah generasi yang hidupnya super duper rely ke sosmed, teknologi, dan internet 😀 . Jika kita akan menjadi spesies yang lebih kompleks dalam jutaan tahun, si Universal Governor ini akan mencari cara untuk memaksa kita menjadi lebih kompleks dalam waktu yang gak selama itu.

Oh, tapi mungkin aja sih kita tidak akan physically menyatu dalam catatan sebuah spesies, mungkin saja kita akan menyatukan pikiran kita, dan yah… sudah dibahas di atas. Tapi, pola pikiran ini belum ada sayangnya… Karena so far baru Manusia yang cukup intelijen untuk interconnect minds secara manual. Tapi for your information, struktur otak Lumba-lumba jauh lebih kompleks dari struktur otak kita, dan manusia rata-rata IQ-nya dibawah seekor simpanse…

On topic…

Nah, sekarang baru aku mau bahas teknologi, dalam konteks dimana si mesin akan (ATAU SUDAH bahkan) menyatukan kita…

Global Connection

Sekarang untuk menyatukan kami para manusia, untuk menjadi sesuatu yang lebih besar lagi, tentunya ada metode yang “paling” mudah. Sekarang jarak antara negara dan border mulai makin invisible. Seperti seringkali dibahas. Kita akan mengetahui sebuah pengeboman di Syria, dalam waktu yang sangat rendah. Mungkin jika dihitung berapa lamanya, paling lama berita tentang terrorism gitu mungkin teh udah ada di website berita Indonesia sesuai dari waktu tempuh Jakarta Bandung, sebelum macet tentunya. Sekitar 90-120 menit.

Tentunya ini semacam bukti dari blurring dan pengurangan jarak antar dua tempat ini. Meski kita gak physically ada disana, kita sudah ada di sebuah stream of ideas. Dimana kita menerima, ataupun memberikan informasi ke seluruh dunia.

Sekarang juga, dengan membaca artikel ini, kita sudah support Interconnectedness dan memperdekat jarak antara diriku dan dirimu. Gak, ini bukan joke referensi PDKT, kaya kadang aku suka nge cie in kalau keluar kata berduaan… Kali ini serius.

Interconnectedness sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu koneksi pemikiran dalam skala global.

Nah, untuk itu, aku akan mengambil internet untuk cross reference si koneksi pemikiran ini… Aku akan google internet dengan internet… 🙂

Definisi mentah, langsung kopas: a global computer network providing a variety of information and communication facilities, consisting of interconnected networks using standardized communication protocols. (Sebuah komputasi [penghitungan] global  yang memberikan bermacam jenis informasi dan fasilitas berkomunikasi, yang termasuk network interconnected menggunakan protokol komunikasi)

Dari definisi mentahan aja ada kata yang sangat mirip, yaitu global network dan communication, dan bahkan ada kata interconnected juga. Untuk pemikiran, tentunya bisa digunakan sinonim Ide, dan kurang lebih, banyak orang bertukar ide di internet. Ide yang ditukar-menukar ini… Kualitasnya gak usah dibahas, emang ada banyak typical internet people, tapi tetep, kasarnya dia sebuah ide yang ditransfer.

Udah dong ketemu modern day interconnectedness… Quest kita selesai!

YES BEBAS!

(OY AZRIEL!)

Ah shoot, diprotes…

(Kamu lupa bahas AI 🙁 )

AI itu bahasa jepang untuk cinta… Jadi AI KAMU! itu bisa ditranslate jadi cinta kamu :3 …

(Enough of the jokes… bahas AI dong…)

Takut terkesan dark…

(Nasib, udah dijanjiin)

Ya sudahlah, mari berkomitmen…

Percakapan antara diriku dan pikiranku sudah dituangkan, jadi, mari kita bahas Artificial Intelligence, dan bagaimana dia bisa semacam mengikuti pola yang aku maksud diatas, atau bahkan menjadi Interconnectedness planet bumi yang selama ini dicari-cari sama Universal Governor ini…

Interconnectedness in Artificial Intelligence

Jadi, ingat kalimat ini sebagai disclaimer di conversation di atas Takut terkesan dark… Ini memang terkesan dark. Bukan hanya dari teori grow-smarter-and-destroy-humanity-thing-y . Tapi memang, mereka bener-bener bisa… like… yeah replace us.

Jadi… Artificial Intelligence bisa berupa software seperti Ultron, dan Skynet, ataupun juga bisa hardware seperti Baymax. Ultron dan Skynet ini yang akan diambil dan dibahas di artikel ini.

AI macam Ultron dapat dengan mudah membuat kopian dirinya dan memindahkan kesadarannya ke sebuah mesin lain. Dia juga bisa menyuruh mesin untuk membuat dirinya agar banyak fodder machine untuk mentransfer dirinya sendiri. Selain mentransfer kesadarannya yang se infinite internet (literally), dia bisa menduplikasi dirinya. See where this is going?

Singkat cerita, AI akan dengan mudah mengcover universal mind dan interconnectedness pada level global karena jika seluruh penghuni bumi non-organik, mereka punya suatu built in Interconnectedness, dalam bentuk internet, yang punya definisi yang nearly sama persis 🙁

Selain itu, dia bukan cuma bakalan menyatukan pemikiran planet bumi ini, tetapi mereka juga jauh lebih pintar dari kita. Dan mereka gak kena bias emosi. Jadi jika musuh bumi terbesar saat ini adalah Trump dan Kim Jong Un… Well, dalam beberapa bulan/tahun, mereka akan menjadi AI. They outsmart us, they ignore their feelings, cause they don’t have any, they are basically connected by design.

Jadi buat apa Universal Governor ini nyimpen kita… eventually entar bakalan diganti sama model baru juga… pertanyaannya kan kapan…

TETAPI! Ingat, Universal Governor ini gak bakalan ngebunuh kita, atau menciptakan pembunuh kita kecuali dia bener-bener perlu. Wait, kayanya prosesnya udah dimulai deh… Oh dear…

Virus!

Bukan virus komputer, tapi virus yang berusaha dimusnahkan di board game macam pandemic!

Yeah well, virus ini spesies baru yang ukurannya EXTREMELY kecil. Tidak mengikuti proses atau pola yang sudah ada… Dan yah, dasarnya ada cult atau conspiracy theorist, yang support bahwa Virus akan memushankan manusia. Karena mereka gak peduli sama pola yang udah ada, dari bakteri ke tumbuhan, dan lain-lain tadi, dan sampai akhirnya, mereka memang senjata paling ampuh untuk genosida spesies…

Hanya paragraf pendek aja, dari dunia filsafat dan biologi, virus itu hal super baru dan dia semacam keluar dari pola, jadi mungkin aja tujuannya dia diciptakan untuk memusnahkan kita… Kenapa tidak? 🙁

In Conclusion

Kesimpulan hari ini… Mungkin terkesan dark…

Gak ada tujuan dari kita udah stray dari tujuan dan logika mendasar spesies. Gak ada nilai plus dari kita berusaha untuk survive. Semua hal yang dimulai ada ujungnya, dan sejujurnya, waktu yang super relatif ini akan menentukan. Kenapa menurutku gak ada tujuannya dari kita berusaha survive atau stray dari logika mendasar spesies?

Sejujurnya menurutku sudah cukup telat. Dengan AI yang makin maju itu, dan virus yang makin kuat itu, dirasa dua itu yang akan balapan mengalahkan kita… Apakah kita akan mati dengan cara organik atau anorganik tapi? nah…

Untuk memberi cahaya dan membagi sedikit hope 🙂 . . . Kembali ke menjauhi atau stray dari logika mendasar spesies. Manusia cukup pintar untuk berhenti, mengembangkan AI manusia cukup pintar untuk membunuh virus. Hanya saja, kapan kita akan berhenti? Jangan sampai Loren Allred benar dan… ini terjadi….

Yah well, just feel that what you have is enough, and everything will be fine 😉

Sampai (semoga) besok!

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Vitalistic Perspective of Interconnectedness

Jadi sekarang beginilah caranya. Yes I really don’t have any other comments. Hanya begitulah… Aku bener-bener bakalan ngebahas poinnya satu-satu. Dengan pengecualian perspektif yang kelima karena perspektif kelima itu… sensitif dan aku tidak ingin offend siapa-siapa. Jadi langsung aja masuk ke artikelnya kali ya…

Oh btw, baca dulu artikel ini, dan artikel ini untuk perspektif materialis. Kedua artikel itu penting (especially yang pertama), dan emang kepake untuk referensi membaca di artikel ini.

Yes ini sebuah kuliah dijadiin sebuah serial artikel, mostly because memang bisa dikupas sedalam ini, dan minggu ini ga ada kuliah di Unpar karena tanggal merah… 🙁

So, sesudah 2 paragraf (3 sama ini), baru kita masuk ke artikelnya.

Definition

Perspektif Vitalis… No, it’s not the name of a soap brand, it’s not.

Pertanyaan yang ditanyakan adalah energi apa yang menggerakkan alam semesta ini?

Perspektif vitalis ini terbilang relatif baru, in the sense that… ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, tetapi tidak dalam konteks Interconnectedness dan Universal Mind. Di zaman dahulu jawaban energi yang menggerakan alam semesta ini ada di dewa-dewa, dan sampai sekarang pun tuhan (di agama apapun) masih cukup mencakup perspektif vitalis ini.

Tetapi, dalam aspek Universal Mind, Vitalis ini lebih masuk ke… energi, bukan pikiran itu sendiri. Alhasil aku tidak bisa memasukkan tuhan, ataupun dewa dalam perspektif Vitalis.

Nevertheless ini dah rada off topic, jadi kembali ke definisi yang ingin aku ambil…

Untuk perspektif vitalis di artikel ini, harap catat (don’t… it’s a metaphor) bahwa sebuah pikiran bukanlah energi (unlike the materialist perspective), dan energi ini lebih ke… suatu hal yang menjalankan pikirannya, bukan pikirannya sendiri… (bingung kan?)

Jadi jika alam semesta ini adalah sebuah mobil, para materialis akan membahas mobil itu sendiri secara detail, sedangkan para vitalis akan lebih fokus pada cara menjalankan si mobil itu, dan bensinnya si mobil.

So, I hope that analogy kinda clears your mind a bit, dan semoga ga terlalu pusing… karena ya… sekarang kita akan maju…

Also, andaikan belum cukup jelas atau masih bingung, ini lebih (heck, jauh lebih) scientific dari para materialis, karena seperti disebut di awal, memang beda era, dan era para vitalis ini sudah mencapai titik dimana… sains sudah develop, dan kita sudah tidak stuck ke bahan-bahan di alam semesta, melainkan sudah ke… apa yang membuat alam semesta berjalan.

Micro Biology

Spoiler Alert: kalau ga kedengeran kaya mikro biologi, atau biologi pada umumnya, sama kok aku juga berpikir begitu.

Yes, what you’re going to be reading is a work from Rupert Sheldrake, and to this day he’s still very relevant with microbiology.

Nah, jadi… Rupert Sheldrake menyebut bahwa energi, like… every single pieces of energy, be it, potential, actual, solid, theoretical, dan istilah lain-lain yang belum disebut, atau ada istilah yang ga bener tapi kesebut… intinya, semua energi tanpa didescribe asalnya, jumlahnya,  atau jenisnya sudah mulai menggerakkan alam semesta ini.

That is a hidden message for, don’t stereotype, really, don’t. It’s pointless, everyone’s got a use in life anyways. (ini bercanda yang serius btw)

Nah energi ini tidak punya bentuk yang solid, dia terlalu… shattered untuk memiliki bentuk. Dia terpecah-pecah, dan, pada dasarnya mirip ruh yang scientific. Dia butuh vessel untuk bisa bekerja. Mirip seperti bensin dalam mobil tadi, si bensin tidak punya real value sampai dia dimasukkan dalam mobil dan menggerakkan si mobil.

Nah, tapi, ada hal yang belum dibahas disini. Untuk si bensin bisa menggerakkan si mobil… mobilnya ga bakalan bisa gerak, kalau si mobil ini hanyalah frame dengan 4 roda. Nope, kita butuh mesin untuk memproses si minyak.

So far aku udah nemuin analogi buat alam semesta kita, which is a car, yang bergerak dan bekerja dengan bantuan energi, which dijadikan analogi bensin… tapi, umm… ada yang kurang, mana si mesin yang memproses si bensin? Di alam semesta kita, ada yang namanya medan, dan di medan ini, baru jenis energi mulai berpengaruh, karena si energi sudah tidak lagi abstrak.

Untuk menggunakan analogi lagi… ada beberapa jenis mobil, misalnya mobil diesel hanya bisa dikasih minum bensin diesel, supercar akan lebih efisien jika diberikan bensin yang… proper, dan di enhance dengan banyaknya chemical, city car cukup diberikan bensin model pertalite, pertamax tanpa harus terlalu peduli dengan jenis bensin-nya. Masih ada mobil yang hanya bisa mengonsumsi solar, dan ya… so on.

Medan ini, atau mesin di alam semesta kita ini, memilah energi yang diterima dan hanya bisa diberi energi yang “cocok” dengan medannya. Pada titik inilah aku bingung pas kuliah… “What on earth does this have to do with Microbiology?”.

Well, jadi to start it off, ada banyak medan, seperti, Medan Kuantum untuk Quantum Energy (branch: Physics), Medan Gravitasi, yang memanage daya tarik antar dua hal (Branch: Physics), medan elektromagnetik, yang memanage magnetism, also saying that opposites attract… 😉 (Branch, sekali lagi, PHYSICS), dan… yang terakhir… Morphic Resonance.

Apa itu Morphic Resonance? HAHAHA… Prepare to encounter confusion. Pada titik ini aku yakin ini sesuatu yang bilang… physics, more physics I guess… Tapi ternyata Morphic Resonance adalah gelombang supernatural (yes, Mr. Sheldrake wrote SUPERNATURAL in his work, aku ga ngarang) yang mengendalikan, atau mengatasi pikiran antar makhluk yang terpisah, dan menghubungkannya. Morphic resonance juga merupakan plane/medan untuk kesamaan pattern dalam tingkah laku hewan-hewan.

Jadi di titik inilah aku sedikit yakin ini ada hubungannya dengan Neurobiology, which does work pretty well with Microbiology, and has some relevance with it. Tapi kalau merhatiin ulang di paragraf atas, reader bakalan ngeh. Ngeh bahwa dari gaya wording dan tulisanku, berdasarkan Morphic Resonance, sebuah pikiran adalah energi. Dan dalam konteks interconnectedness dan Universal Mind, jika sebuah pikiran adalah energi yang harus masuk dalam suatu vessel, in this case, the highest mind, or our mind…

I’ll let you conclude, selamat berpikir! (P.S. Ini berarti perspektif vitalistik mungkin saja benar dengan bilang bahwa yang menggerakkan alam semesta ini memang sebuah energi, tetapi hanya dalam… format berbeda)

Also, no there really wasn’t much on microbiology and how it correlates here.

Quantum Physics

Cung kalau udah nonton Ant-Man! Sure, if you’re a geek you’ve watched that, aku yakin banyak yang nonton juga sih. Cung kalau belajar fisika kuantum beres nonton Ant-Man! No? Nobody? What? That was the most interesting part! (FYI kalau ada tolong bilang di comments section aja…)

Quantum physics adalah fisika yang membahas mekanisme dan hukum fisika dalam dunia subatomic. Dimana hukum fisika tidak lagi apply. Tapi disini, aku belum cukup banyak baca dan belum bisa conclude apakah ada hubungan dari dunia kuantum dan dunia nyata.

 According to quantum physics… Segala hal terjadi dan diciptakan oleh fluktuasi gelombang. Gelombang ini tidak pernah berhenti bergerak, dan dia adalah bagian dari energy field yang semuanya adalah bagian dari hal lain, dan juga merupakan satu kesatuan.

(OKAY hang on, aku tahu pasti pada pusing)

Singkat cerita, energi adalah gelombang, gelombang ini bergerak terus menciptakan dan merubah hal-hal. Gelombang dan dunia ini adalah satu kesatuan dan juga merupakan spare parts, dan komponen dari mesin yang lebih besar. Hopefully ini lebih jelas.

Semua hal disini terbilang kompleks, dan kita akan sering menemukan paradoks, dimana bahkan di tempat hampa tetap ada gelombang, dan suatu hal tidak akan pernah menjadi sebuah jawaban sampai dia kembali ke dunia nyata.

Semua hal, terjadi karena gelombang, gelombang inilah energi. Gelombang ini juga terjadi kalau ada gerakan, baik itu secara fisik (alias tubuh kita bergerak), atau itu sebuah ide baru yang baru kepikiran.

Karena sekarang topiknya gelombang, anggap saja sebuah pikiran adalah pemancar radio yang juga bisa menangkap gelombang lain, sekaligus mengirimkan gelombangnya sendiri. This exchange of ideas is the aspect of interconnectedness according to Quantum Physics.

Harusnya sih ga terlalu memusingkan aspek interconnectedness-nya. Of course yang bikin pusing tuh bukan interconnectedness-nya tapi quantum physics in general. Jadi akan sedikit kujelasin dulu deh.

Dalam fisika kuantum, sebuah vacuum bukan sebenarnya ruang hampa. Vacuum itu hanyalah suatu tempat yang sedang dijelajahi dan “dibentuk” oleh gelombang. Sesudah dibentuk oleh gelombang, hasilnya akan muncul, dan vacuum ini bukanlah sebuah ruang hampa lagi, karena bukan hanya sebuah probabilitas yang masih belum diexplore, melainkan sudah menjadi sesuatu yang solid.

Ini di apply oleh Erwin Schrodinger yang membuat eksperimen Schrodinger’s Cat… Di eksperimen itu, ada sebuah kucing yang diekspos dalam radiasi dan/atau gas beracun (ada beberapa versi), dan dimasukkan sebuah kotak. Dalam kotak itu kita tidak tahu apakah si kucing itu mati atau hidup. Jadi berdasarkan fisika kuantum… kucing itu not dead, neither it is alive. Itu paradoks sih.

Hasil dari Schrodinger’s cat tidak akan pernah terungkap sampai kita membuka kotak itu, karena begitu kita membuka kotak itu… fisika quantum tidak lagi apply dan kita kembali ke realm nyata. Ketika kucing itu masih dalam kotak tetapi, ruang hampa itu sedang ditentukan hasilnya melewati gelombang radio yang tadi dibahas.

Yes ini ga terlalu jelas interconnectedness-nya apa, tapi ini bukan cuma ngebahas interconnectedness, but also apparently physics in general

Kesimpulan dari bagian ini adalah… explore future possibilities! Sesuatu yang hampa hanyalah sesuatu yang belum ditemukan ataupun dicoba. (or, kalau mau yang mode easy-nya… You’ll never know till you try). Let’s not be stuck in a quantum stasis.

In Conclusion

Terkadang ada saat dimana kita sebagai manusia tidak punya energi atau merasa bahwa dirinya sedang tidak punya energi untuk menggerakkan dirinya sendiri. Fase ini disebut gabut… (atau mager, atau singkatan lain yang entah aku ga inget)

Tetapi sebenarnya, energi sudah menggerakkan dan membuat kita berpikir, dan energi ini sudah ada dari sana-nya!

It’s only up to us to grasp it, and hold the world and image that we seek.

AHA! Okay jadi ini half a conclusion, dan sebenernya masih bisa ditingkatkan lagi, tapi masih ada 2 perspektif lain untuk dibahas, jadi bersabar yaaa…

Until next time.

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Sesudah ending yang menggantung, seperti semua film Marvel… akan kubahas interconnectedness, dalam suatu image yang definitely… more detailed, dan membahas salah satu dari setiap perspektif yang ada, which is the Materialistic one.

Oh also, the introduction and stuff can be found within this article. Ini semacam sekuel ke short film dengan ending menggantung. But unlike most movies that end in a cliffhanger, jeda antar artikel hanya 6 jam! Tapi please baca dulu artikel pendek itu yaaaa, ada hal yang tidak akan diulangi.

Sebentar dulu, ada artikel lain yang penting dan defining this article in general… Definisi Interconnectedness dapat ditemukan di sini.

Definition

Kalau ada seseorang yang mendengar istilah materialistik, terkadang yang terkesan adalah orang itu ingin mencari worldly pleasure, usually in the form of… money, yang terkadang di reference sebagai materi, hence disebut materialis. Tapi sebenernya perspektif materialistik ini gak ada hubungannya dengan materi dalam konteks ekonomi.

Konteks Materi disini adalah, “matter”. What’s the matter with matter you ask? (Baa Dum Tss) Yah udah dijelasin di “preview” artikel ini sebleumnya sih.

Para materialis ini percaya interconnectedness terjadi karena alam semesta tercipta oleh suatu single substance. And that is kind of why this might seem old. Tapi udah kujelasin tadi, jadi sekarang kita langsung masuk ke bagian detailnya aja deh.

Greek Philosophy

Alam semesta ini memiliki banyak unsur. Tetapi semuanya masih merupakan bagian dari unsur utama. Nah, banyak sekali filsuf Yunani besar yang menyebut APA materi utama-nya ini.

Ada Thales yang bilang bahwa air adalah unsur utama, dan segala sesuatu di alam semesta ini merupakan air, at least sebagian-nya saja. Thales sedikit kurang tepat, karena belum ada konsep cahaya dan gelombang di zamannya, tetapi pemikiran ini cukup spot on.

Sampai sekarang pemikiran ini masih “terpakai” karena jika NASA (or any space organization in general) ingin mencari kehidupan, hal pertama yang berusaha dianalisis dari sebuah planet/satelit adalah keberadaannya air. Di zamannya, Thales sudah sangat maju dengan klaim simpel bahwa Air adalah sumber segalanya.

Tapi umm… Gimana air ini bisa play a part in the big machine of interconnectedness? Thales ga bahas itu explicitly, tapi aku yakin (just an opinion) kemungkinan Thales atau muridnya berasumsi mengenai endless cycle of water, also known as the water cycle… (Hurrah everybody, it’s Captain Obvious!)

Terus ada suatu teori menurut Democritus yang sampai sekarang masih cukup familier di Fisika. Meski Democritus (in a sense) dibuktikan kurang tepat, Democritus sendiri percaya bahwa atom adalah substansi utama, dan paling mendasar diantara molekul dan partikel lainnya. Now we know this is wrong. Ada quantum realm, dan electron dan… yah itu fisika. Bukan bahasanku hari ini.

Tapi tidak seperti banyak filsuf Yunani lainnya, Democritus yakin bahwa yang kita lihat dan rasakan itu bukan bentuk yang mendasar, dan segalanya bisa dipecahkan hingga lebih kecil lagi. Dia menyebut hal kecil ini sebagai atom, berdasarkan kata Atomos, yang berarti… Indivisible. (Or tidak bisa dibuat lebih kecil lagi). Aku ga yakin tapi kayanya ini ga diajarin di kelas Fisika di SMP… SO YEAY! More fun facts.

Koneksi Atom dengan interconnectedness itu apa? Well… let me tell you something. I actually have no clue. TAPI……. Inget, ini masih filsafat yang sangat “mendasar” karena dia memang masih di zaman orang Yunani, jadi teori Atom ini akan memberi kontribusi untuk perspektif lainnya.

CATATAN: Andaikan ada definisi atau miskonsepsi di bagian ini dan kurangnya benang merah dari tulisan yang ini dan yang sebelumnya mohon maaf. Catatan ini untuk memperjelas. Interconnectedness itu bisa berada dalam level Universal Mind yang menjalankan alam semesta ini, dan Interconnectedness juga bisa berada di level tengah, yaitu adanya persamaan pemikiran antar beberapa orang. Jika ada perspektif dan/atau opini yang masih rada gaje, tolong berikan comment, aku akan menjelaskan dengan senang hati.

Modern Science

Dunia ini adalah mesin, bekerja secara mekanis, kaya… well sebuah jam. Layaknya mesin dan alat, dunia ini bisa dianalisis melalui Sains.

But hang on, kenapa ini ada hubungannya dengan Interconnectedness?

Sebentar dulu ya… We’ll get there.

Say hello to the sun. No, not your son. That big thing in the sky you look away from because its so bright. Iya, itu, yang ada department store yang pake namanya dia.

Since 4.6 billion years ago… Matahari sudah menjadi titik tengah Solar System kita. Ada 8 planet yang mengitari-nya selama 4.6 milyar tahun itu. 9 kalau Pluto dihitung, tapi Pluto itu bukan Planet, jadi karena aku specifically nyebut Planet, sayangnya menurut astronomi modern, cycle Pluto sebagai planet putus… On topic.

Anyways, jadi selama 4.6 milyar tahun itu… Matahari mengalami hal yang sama berkali-kali, ia menikmati revolusi Merkurius setiap 1/12 (or satu bulan) dari Revolusi Bumi, dan Neptunus belum pernah gerak sama sekali. Setiap hari, hal yang sama diulang, diulang, diulang.

Nah! Ini merupakan suatu hal yang disebut predictable itu. Jadi, seperti yang aku bilang, semuanya bisa dianalisis karena pada dasarnya, hal yang sama berulang tiap hari, minggu, tahun, sewindu, atau seabadnya.

Ini alasan kenapa jauh sebelum zamannya Newton… Kejadian di alam yang pasti disebut sebagai Hukum. Sesuatu yang tidak bisa dilanggar. jadi, menurut sains modern, interconnectedness ini lebih masuk ke definisi yang menjalankan alam semesta ini, bukan hubungan antar pikiran.

Hukum yang kita temukan (Bukan ciptakan, Newton TIDAK menciptakan gravitasi, dia menemukan keberadaannya.) hanya merupakan penemuan dari endless cycle yang sudah jalan jauh sebelum kehidupan kita.

Jadi materi apa yang menciptakan alam semesta ini memang menentukan apa yang menjalankan alam semesta ini, karena… hukum yang kujelaskan di atas memang terkadang tidak bisa dilawan.

Anomaly?

Off topic dulu dikit…

Apakah kita, sebagai makhluk yang pintar, dan mungkin mendapatkan ilham terbanyak dari Universal Mind, sudah menjadi anomali? Nah… coba pikirin deh.

Semua makhluk hidup mengikuti cycle yang mirip, dan mengikuti hukum yang diberikan alam (salah satu otoritas tertinggi di semesta ini) padanya. Sedangkan kita masih berusaha untuk mencari jalan lain dengan hukum antar manusia, yang hanya otoritas sementara di dunia ini, dan jelas bukan yang paling tinggi di dunia filosofi.

Coba pikirin yaaaa… Just you know a bunch of short thoughts.

Contemporary Materialisticism

(Materialisticism is TOTALLY a word)

No it’s not… kata benerannya Materialism. Yes, ada perubahan kata dan etimologi mendasar.

Dalam materialisme kontemporer, sesuatu yang disebut fisikalisme (which in a sense might sound VERY unscientific, atau ironically, very scientific. Fisikalisme ini percaya bahwa segala sesuatu merupakan konstruksi dari sebuah materi. (Yang mengabaikan teori gelombang dan partikel itu, atau heck cahaya.) Konstruksi materi ini bisa dipahami melalui… fisika (since, it’s physics afterall), neuroscience (karena ide merupakan hasil electronic waves di otak), evolution theory (since… akan dibahas lusa, di perspektif para evolusionis), dan apparently… computer science (like Neuroscience, but not a brain).

Kalau membaca dengan detail  kayanya rada jelas bahwa ini sangat tidak scientific, dan in a sense ambiguous, karena… ada betulnya dan juga terkadang sangat scientific… It’s very confusing. . .

Ga usah dipikirin sih sebenernya… Jadi on topic!

Para fisikalisme ini naik lagi satu level dengan bilang bahwa, memang ada invisible path that connects our brain with other brains. Like.. you know, Wi-fi. Sepertinya masuk akal, tapi juga… ga masuk akal…

Ya ini sedikit mendefinisikan interconnectedness dengan cara yang… a bit odd, tapi efektif.

Ini mencover koneksi antar pikiran, karena jika sebuah ide adalah gelombang listrik (or an email), dan pikiran (otak) kita adalah komputer, kita cukup punya sebuah koneksi (in the form of matter apparently) untuk menjadi wifi yang menyambungkan sebuah ide ke komputer lain.

Not only that, this also, kinda covers that… universal mind that governs stuff theory, karena jika pikiran sendiri adalah sebuah substansi, tentunya punya suatu pikiran yang paling tinggi sangat masuk akal karena… Course, sebuah pikiran paling tinggi dapat mengatur hal-hal lain, karena pada dasarnya dia sebuah materi yang sangat… kuat.

Yeah kayanya pusing banget ya… Welcome to philosophy!

In Conclusion

Menggantung lagi, karena masih ada banyak hal yang emang belum aku cover, tapi untuk semua artikel dalam serial ini, akan aku bahas dengan semacam flashback, kembali ke artikel awal, dan tulisanku tentang Materialistic point of view. Seberapa spot on ilmu yang ku tangkap sebelum baca-baca ulang.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance.
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.

Untuk pertanyaan utama… Semesta ini memang terbuat dari banyak unsur, dengan banyak bentuk dan ukuran, tetapi semuanya memang bisa dibreakdown menjadi lebih kecil. So there’s some form of equality there?

Dia berhubungan dengan interconnectedness karena… well, substance yang sama bisa menjadi jembatan untuk ide dan pikiran. Selain itu, ada langit diatas langit, dan ada suatu hal yang memang di atas pikiran kita ini, jadi andaikan pikiran adalah materi… akan masuk akal jika ada matter yang lebih tinggi yang mengendalikannya.

Untuk poin terakhir… Yeah itu rada salah… Aku belum terlalu mengerti prinsip materialisme sepenuhnya tadi, tetapi ternyata materialisme tidak terbatas ke objektifikasi semesta ini (seperti para filsuf Yunani), tapi bisa lebih menyentuh… daerah lain, dan mencapai benda lain secara explicit. Jadi,karena itu banyak miskonsepsi karena… kurangnya pengalaman, oleh karena itu mohon maaf.

Semoga kesalahan ini tidak mengurangi kesetiaan reader pada blog ini, karena as you might know, everyone is still learning.

Till tomorrow!

Interconnectedness: Different Perspectives

Interconnectedness: Different Perspectives

3 lagi… (Posts to make to pay my debt, during last week’s camp)

Ya, sebenernya kuliah Jumat kemarin lebih pendek dari biasanya, jadi artikel ini juga ga bakalan terlalu panjang. Jadi, sesudah entah berapa artikel menyebut interconnectedness… Akhirnya ada kuliah yang memberikan beberapa perspektif berbeda. Karena sepertinya 1 perspektif tidak cukup memusingkan.

So, here we are!

The 5 Perspectives

Jadi ada 5 perspektif berbeda, in a sense, mereka melengkapi satu sama lain, but… yeah juga ada yang kontradiktif sih, jadi… begitulah (FYI, aku akan bilang begini kalau aku sudah speechless). Oh, dan bukan karena dia memusingkan jadi ga menarik. Justru menariknya gara-gara buat pusing.

Historically speaking, ada yang thinking disini terkesan less scientific, jadi di bagian ini aku juga mau jelasin biasanya filsuf era apa yang masih mikirin perspektif ini.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.
  • Vitalistic: Life Force… Daya/Energi/Kekuatan apa yang menggerakkan semesta ini?
    • Seperti adanya listrik di sebuah elektronik, atau koneksi internet di HP dan Gadget… Para vitalists percaya bahwa karena adanya universal Wi-Fi ini pikiran dapat mudah berhubung dengan satu sama lain. (Yes, in a nutshell, the vitalists believe that interconnectedness is practically a universal wi-fi, not a joke)
      • Perspektif ini lebih modern, karena sudah ditemukannya quantum physics, dan banyak medan-medan lain, seperti morphic resonance untuk menggerakkan suatu benda.
  • System Theory: Connections… Dengan pola seperti apa alam semesta ini dapat bekerja? Hubungan apa yang terbuat dalam sistem ini?
    • Mirip dengan Holon di Holarchy, System Theory percaya bahwa kita semua adalah sebuah… tiny cog inside the complicated engine of this realm. Semua gerigi akan berputar dan bekerja menyelesaikan tugasnya, sambil terhubung dan memutar gerigi lain. (Lengkapnya di artikel yang ada linknya di kata Holarchy itu yaaa)
      • Perspektif ini… sudah ada sejak zamannya Pythagoras, yang percaya bahwa setiap angka punya peran berbeda pada setiap sistem. Luckily, technology supports this theory far more than the materialists… dan sampai sekarang, teori ini masih sering dibahas.
  • Evolusionists: Process… Bagaimanakah semesta berkembang? Sejauh apa semesta ini telah berubah?
    • Para evolusionis percaya bahwa universal mind ini tercipta sesudah evolusi, dan sampai akhirnya kita terhubung satu sama lain, sesudah tiap spesies berevolusi. Bahkan proses evolusi in the first place ini tercipta karena some sort of random number generation oleh Universal Mind. Universal Mind ini pun menentukan siapa yang lebih kuat melewati seleksi alam. Kalau dilihat dari perspektif dark-nya, seleksi alam ini sebuah turnamen dan kita merupakan kompetitor yang ingin selalu bertahan hidup.
      • Perpsektif ini sudah ada sejak… Darwin. It’s rather modernistic. Course, ini terbilang modern karena root dasarnya adalah biologi dan evolusi yang dibuat Darwin.
  • Mystic: Consciousness… Apa perannya kesadaran dalam Interconnectedness?
    • Oh dear… Ini topik sensitif. It really is. Perspektif mistik ini bisa terbilang tercipta dari orang yang mendapatkan ilham/revelasi (or claims to have gotten a revelation, sayangnya meski ini ga scientific, itu salah untuk blindly percaya claim orang-orang), dan perspektif ini sangat relatif ke agama dan penerima-nya. Tetapi hampir semuanya kembali ke fakta bahwa consciousness manusia terpisah-pisah, padahal nyatanya hanyalah satu.
      • Perspektif ini sudah ada sejak agama monotheistic pertama muncul. Teori ini juga ada di culture Hindu, yang memiliki dewa yang tidak manusiawi (unlike European Gods). Sampai sekarang pun karena pentingnya agama di dunia ini, teori ini masih seringkali terpakai.

So after getting the perspectives out of the way, aku mau bahas masing-masing perspektif… di artikel lain… sorry, hari ini sepertinya aku sedikit… slow, dan karena aku emang rada ngutang beberapa tulisan… jadinya ini kupecah dua deh…

Well I really do hope you could understand 😀

The new article would be released later tonight 🙂 (And I’d link it if it was done)

In Conclusion

TO BE CONTINUED . . . .  🙂

Holarchy

Holarchy

Jadi, kemarin (lusa), di Unpar, tetap dalam series Filsafat, sebenarnya kita membahas tentang Principles of Universality. Topiknya dibawakan oleh Professor Fabianus dari Unpar sendiri.

Masih percaya pada hipotesis dan Point of View kemarin, dan masih percaya pada Universal Mind yang govern universe ini, as well as Interconnectedness (which unfortunately isn’t an official English word), topik yang dibahas ada dua, kurang lebih…

Yang satu membahas Ultimate Reality. Which sejujurnya bisa membawamu pusing migrain 100 puteran, aku juga belum yakin bisa nulis tentang itu, jadi, untuk sementara… kita postpone dulu. On the other hand, kita membahas Holarchy juga, yang alhamdulilah, jauhhh lebih simpel untuk ditulis, dan juga memang lebih mudah dimengerti.

Sebelum masuk ke artikelnya, aku mau bahas dulu kenapa Ultimate Reality ini memusingkan…

  • Sangat-sangat dependent pada perspektif dari semua jenis orang, no matter how complicated or simple the thought of the person is.
  • Sebaiknya bisa “menyatukan” perspektif yang beragam itu menjadi ONE ultimate reality, and one ultimate life goal. Sambil jelasin napa reality yang absolut itu cukup ada satu aja.
  • Harus bisa breakdown segala hal, dan keinginan orang-orang, dari yang paling simpel, sampai yang paling rese, dan masih bisa masuk dalam ultimate reality itu.
  • Memastikan dalam keperbebedaan teori dan desire orang-orang yang banyak sekali itu masih masuk dalam ultimate reality, tanpa ignore desire itu in the first place.

Jadi “sangat” simpel, dan kemarin lusa aku kayanya baru ngeh… “Kayanya aku belajar filsafat demi sengaja membuat diriku pusing”. Luckily I do like confusion. Untuk sekarang ayo lupakan kepusingan itu dan masuk ke artikelnya yuk!

What’s a Holarchy?

Holarchy sendiri sebuah sistem, yang composed of Holons… (further explanation below, tapi kalau aku cuma pake Holarchy doang bakalan lebih bingung dibawah, so here we are)

Definisi absolute-nya rada membingungkan. Tapi kayanya kalau pakai contoh bakalan kebayang deh. Coba bayangin dunia ini sebuah mesin yang extremely complicated. Manusia yang bekerja dalam si mesin ini, adalah roda gerigi yang terus berputar tiap detiknya, berkontribusi pada si mesin. Si gerigi ini juga merupakan bagian dari mesin yang lebih besar untuk diputar.

Part mesin yang lebih besar ini terus berputar, dan berkontribusi untuk mesin yang lebih besar and so on. Sampai parts mesin yang krusial ini menjadi parts besar for the entire world.

To constantly help with the definition, ini rewritten quote (ga persis kok)… “An atom is a part of a molecule, a molecule is a part of a cell, a cell is a part of an organism, and so on. There is no whole nor part, they are both a part and a whole at the same time. Also known as a Holon

Intinya, kita adalah atom, yang merupakan bagian dari molekul, dan bagian dari sel-sel, ataupun organisme. Kita bukan satu objek sendiri, atau satu kesatuan, kita dua-duanya, kita itu Holon.

Ini further support yang namanya Interconnectedness (who once again, isn’t a word in the WordPress dictionary… tapi ternyata WordPress juga bukan kata di Dictionary-nya WordPress, jadi who knows?), karena dia akan menjelaskan kenapa Universal Mind Theory ini terus berhubungan dengan terhubungnya suatu pikiran ke pikiran lainnya.

Nah, karena pada definisi layer kedua yang dibahas di artikel kemarin, memang membahas sebuah medium dan/atau system yang menyambungkan beberapa makhluk hidup. Kalau kita berperan sebagai Holon, alias sebuah single organism yang juga merupakan part di saat yang sama, emang masuk akal banget sih ada interconnectedness.

Relation to Interconnectedness

Meski udah kubahas dikit tadi, kalau mau dikupas lebih dalem, pasti lebih afdol dong.

Jadi, definisi absolut-nya Interconnectedness ini emang masih fleksibel sih, tapi aku paling suka sama definisi yang state seperti ini… “Interconnectedness refers to the manner that connects groups or singular objects in a system with one another to form a more complicated system.”

Di translasi ke Bahasa Indonesia… “Interconnectedness adalah suatu tingkah laku yang menyambungkan grup atau objek singular dalam sebuah sistem dengan satu sama lain untuk membuat grup atau sistem yang lebih kompleks”.

Jadi, sebenernya dari definisi aja udah kebayang banget ya… Sama lagi kita lihat dengan yang namanya singular objects dan groups, dan makin ke sini akan makin kompleks.

Sebenernya dari liat definisi juga ga bakal terlalu susah buat connect the dots antar interconnectedness dengan Holarchy. Tapi kalau masih bingung…

Holon adalah objek/grup yang terdiri dalam sebuah sistem.

Sedangkan Interconnectedness adalah koneksi yang menjalin dan menghubungkan objek singular dan grup-grup di sistem tersebut.

Voila! Ngerti kaaan? Holon adalah user di sebuah sosmed, dan internet yang menghubungkan para user Sosmed itu adalah Interconnectedness-nya!

To Be is To Be With

Hamlet bilang, To Be, or Not To Be? Descartes bilang I think, therefore I am. However in  this everlastingly running and complicated machine, Heidegger bilang, To Be is To Be With.

Jadi Hamlet, kalau kamu mau jadi seseorang, pastikan kamu sama orang lain (CIEEEEE. . . . . Okay, bad joke, sorry, speaking of Hamlet, I should watch the play I guess…)

Heidegger ini juga philosopher yang percaya dalam Holarchy. Beliau bilang bahwa kalau kamu bukan bagian dari apa-apa, maka kamu bukan apa-apa. Extreme kedengerannya ya. Mungkin sih Heidegger emang ekstrim dalam jelasin Heideggerian ini, tapi… Sebenernya dia ga salah juga sih.

Holarchy percaya bahwa kita adalah bagian dari sesuatu, sekaligus individu juga, tapi kalau kita hanya commit ke diri kita sendiri, kita ga ada kontribusi ke dunia ini, jadi, Heidegger ga salah dengan bilang bahwa kalau kita bukan bagian dari apa-apa, kita bukan apa-apa.

Untuk menaikkan keseriusan dia pada subjek ini, being there is always being with. Bingung? Sama, aku juga baca ulang modul berkali-kali sambil inget-inget kata Professor Fabianus yang ngasih lecture kemarin.

Jadi sesudah berkali-kali baca, dan mengingat kuliah kemarin. . . Dalam bahasa jerman sendiri (Heidegger menulis di bahasa Jerman btw), Mitsein (Being there), adalah phrase yang juga digunakan dalam kalimat being with, this play of words might be a coincidence. Tapi sama kaya yang namanya detektif, tidak ada coincidence di filsafat.

Heidegger used this wordplay and utilized this probable coincidence. Dan dia develop Heideggerian theory yang bilang bahwa kita tidak mungkin sendirian, regardless of where we are, or how alone we think we are, kita pasti mikirin orang lain (sekali lagi, CIEEEEEEEEEEE. . . . iya, terrible joke, tetep dipake tapi 🙂 ) dan ketika kita mikirin orang lain, interconnectedness ini come to play lagi, dan kita jadi indirectly not alone.

Tapi, Heidegger ini terbilang baru dalam Holarchy ini. Ada philosopher lagi yang membahas lebih jauhhhh lagi.

Parmenides

Parmenides, seorang Greek Philosopher (since the foundation of every knowledge comes from the Greeks) membahas yang ‘Ada’. Kalau pake Bahasa Indonesia rada bingung, karena ‘Being’ yang Parmenides bahas, di translate sebagai yang ‘Ada’. . . Jadi, di bawah ini, kalau ngebahas ‘Being’ atau ‘Ada’ ini referensi ke hal yang sama yaaaa.

  • Segala hal adalah satu hal, dan hal itu adalah yang ‘Ada’.
    • Parmenides bermaksud bahwa apapun suatu hal itu, pasti hal yang dimaksud merupakan bagian dari hal yang lebih besar. Meski belum di classify ke hal yang dibawahnya lagi, dan sangat general dalam bilang… ‘Ada’, teori ini masih considerable.
  • Segalanya adalah satu/tunggal
    • Segala hal ini juga merupakan entitas tersendiri, dengan tujuannya tersendiri. Tapi karena segala hal juga ‘Ada’, berarti semua hal adalah satu hal dan juga segalanya… (paradoks dehhh)
  • ‘Ada’ ini juga tunggal
    • Karena ‘Ada’ adalah segalanya, dan segalanya adalah satu hal, berarti ‘Ada’ juga tunggal. Sama repetitif juga…
    • ‘Ada’ ini tunggal, dan terbilang kekal, tidak bisa dipecah, atau dibagi lagi. Tapi kita kebetulan tidak bisa mempersepsi si ‘Ada’ ini, dan melihat si ‘Ada’ ini sebagai hal yang terpecah-pecah.
    • ‘Ada’ ini juga terus berputar dan tidak habis-habis, in a constant state of change.

According to Parmenides juga, karena semuanya dipersepsi dalam terpecah-pecah, semua hal otomatis temporal, dan akan terus berubah-ubah, agar kita bisa eventually perceive this ‘Being’.

Dalam scope kecil, tidak ada yang lenyap, atau baru di dunia ini. Segalanya terus berubah-ubah, tanpa ada yang lenyap atau hal baru tercipta. New ‘Beings’ are just a change of perception through our eyes.

Karena tiada yang berubah-ubah, Professor Fabianus kemarin bilang bahwa Ultimate Reality itu… tunggal. Jadi, YAY! Masih in line dengan statement ku di awal tentang Ultimate Reality.

In Conclusion…

You’ll Never Walk Alone…

Liverpool Reference! (Babah fans Liverpool, die hard pula…) Jadi sebenernya conclusion kita hari ini akan kembali pada dasarnya Holarchy. Holon sendiri membahas sama yang namanya Bagian dan Individu.

Mungkin kita lagi galau, jadi kita merasa kita Forever Alone… (CIEEEEEE GALAU! 😀 ) Tapi nyatanya, kita adalah bagian dari suatu engine yang membuat mesin besar ini function lebih baik. Jadi, nyatanya, nothing is an individual. Everything is a part of something else, mau itu sebuah sel, atau kita di dunia nyata. Believe that.

It’s only up to us to find what are we, and what are we destined for.

Dan karena suatu hal yang Universal terdiri dari hal-hal tunggal atau partikular, tanpa warna dari keunikan individu dan partikular itu, hal yang Universal ini akan jadi bland, dan tidak punya rasa.

Meski aku masih belum siap membahas Universal Truth and Reality, tapi sesuatu yang tunggal ini memang harus… rese. Kalau Universal Purpose of life ini simpel, maka… Dunia ini gak ada warnanya, semuanya bakalan hambar, dan siapa yang suka makanan yang hambar? Mungkin purpose of life tiap orang beda-beda, dan karena banyak perbedaan itu, sesuatu yang hambar akan jadi warna-warni, dan terasa enak.

Semoga artikel hari ini punya rasio Nasi dan Soto yang enak, dan bisa dinikmati yaaaaa… See you tomorrow!