Tag: Institut Teknologi Bandung

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Tanggal 4-6 Juli kemarin, Pusat Penelitian Nanosains Nasional (PPNN) mengadakan acara lagi, yang berupa variasi, ke acara Nanoscience for Kids 2 tahun yang lalu… Aku sudah pernah mengikuti acara Nanoscience for Kids, dan, dikarenakan “kangen” dengan jalan-jalan dan praktikum di lab, aku memutuskan untuk ikut lagi!

Kali ini, acaranya disebut Nanoteens dikarenakan temanya lebih cocok untuk remaja. Tema ini juga disertai slogan, “Tampil menarik dengan Nanoteknologi”. Temanya kurang lebih kosmetik dan produk-produk yang menggunakan Nanosains. Betul saja, dikarenakan tema kosmetik ini, rasio perempuan banding laki-laki mencapai 2 : 1. Dari 18 perserta, ada 12 perempuan, dan 6 laki-laki.

Jadi, langsung saja kita mulai laporannya! Formatnya akan dibuat sedikit berdasarkan waktu…

Registrasi (8.30-9.00)

Suasana ruangan di kala masih sepi…

Ini mungkin salah satu bagian dimana aku paling sebal sepanjang ketiga hari dalam rangkaian acara Nanosains ini. Kenapa aku sebal dengan registrasi?

Bukan registrasinya, tetapi apa yang terjadi dalam 30 menit diantara pembukaan dan registrasi.

Sebenarnya proses registrasi berjalan lancar, tidak ada apa-apa yang salah, aku juga senang dengan bertemu teteh-teteh dan kakak-kakak yang masih ingat aku dari 2 tahun yang lalu. Tas, notebook, dan polo shirt kuambil juga sesudah memberikan tandatangan dan registrasi ulang.

Tetapi, aku mulai sebal begitu masuk dalam ruangan. Semua orang memegang handphone.

Ya, semua orang, baik SMP, atau SMA, sedang memegang HP mereka masing-masing. Jujur, aku sudah move on dari orang-orang yang memutuskan duduk di belakang atau ketiga dari depan sebuah ruangan karena takut ditegur, atau ditanya-tanya. Ya sudah, itu hak mereka. Tetapi, sayangnya, aku belum (UHUK, tidak akan pernah, UHUK) bisa berdamai jika melihat sekitar 13 pasang mata terkunci dalam layarnya masing-masing.

Dan ya, dikarnekan kepo, aku memutuskan untuk berjalan dua kali mengitari ruangan dan mengecek apa yang sedang mereka lakukan. Kurang lebih ini yang aku dapatkan.

  • Baca artikel tentang hukum-hukum aerodinamika. (Good Job!)
  • Menggunakan kamera selfie HP sebagai cermin… :'(
  • Scrolling Instagram, entah follow akun apa saja… 🙄
  • Story diri sendiri… *facepalm*

Ya, sudahlah, setidaknya aku berpikir bahwa mereka mungkin masih belum cukup akrab untuk mau berkenalan. Who can blame them? (Uhuk, tiap coffee break dan lunch break juga mereka tetap pegang HP sih, kecuali beberapa orang yang mengajakku ngobrol mau gimana lagi kayanya…)

Tetapi, akhirnya ada pembukaan dari Professor Adhitya Gandaryus Saputro. Mirip-mirip dengan pembukaan tahun lalu, membahas nanosains, dan jika aku ingin meringkas pembukaannya…

“Nanosains adalah sains yang bergerak dalam benda-benda berukuran sangat kecil. Perubahan yang terjadi pada dunia Nano biasanya tidak tampak, dan memberikan kesan insignifikan… Ya iya, orang gak kelihatan. Tetapi jika dimanfaatkan dengan benar, perubahan dalam skala nano akan berpengaruh dalam kehidupan kita sendiri-sendiri. Seperti misalnya Hydrophobia, Hydrophilia. Itu alasan menurutku Nanosains adalah ilmu yang sangat penting untuk dipelajari, meskipun kecil sekali perubahannya, hasilnya signifikan”

Sesudah memberikan penjelasan sedikit tentang Nanosains, Professor Adhitya memberikan sedikit preview ke apa saja yang akan kita lakukan. Seperti misalnya, hands on membuat sesuatu, lab tour, dan juga demonstrasi.

Kuliah Pengenalan (9.00-10.30)
Prof. Bambang Sunendar

Sesi pertama… Berdasarkan opini yang aku dapatkan dari teman-temanku, ini sesi paling membosankan menurut mereka. (oke, iya, aku juga menganggap ini lebih membosankan dari 2 tahun yang lalu.)

Professor Bambang Sunendar memberikan penjelasan mengenai Nanosains, baik definisinya, penerapannya, sejarah mendetilnya, bagaimana bisa dimanfaatkan di benda sehari-hari… Et cetera.

Professor Bambang, sama seperti tahun lalu berangkat dari pemahaman bahwa, uniknya, semakin kecil teknologi, semakin efisien dan signifikan pengaruhnya. Selain itu, Professor Bambang juga memberikan penjelasan mengenai Nanobiologi, cara memanipulasinya, Nanobots, bagaimana ia bisa membangun diri sendirinya dengan mudah, serta juga sedikit insight mengenai seberapa signifikan pengaruh nanosains dalam dunia nyata.

Tetapi, aku ingin sedikit mengkritisi analogi yang digunakan Professor Bambang menjelaskan dan menggunakan analogi untuk signifikannya ukuran Nano dalam kehidupan sehari-hari. Professor Bambang menyebutkan sebuah zat yang katanya merupakan bensin bekerjanya seorang manusia. Ia menanyakan ke semua peserta bahwa zat inilah yang membuat kita berjalan, hidup dan pintar, dan ini alasan orangtua kita memaksa kita makan makanan yang sehat.

Banyak kata-kata yang tidak bisa didengar dari ruangan, hanya berupa bisikan. Ada yang bilang “Zat Besi”, “Oksigen”, “Vitamin” dan seterusnya. (Aku memutuskan untuk diam, padahal aku yakin yang Professor maksud adalah Protein) Terus, sekitar 3 menit pengulangan fakta, Professor Bambang menyebutkan kalimat seperti ini. “Kalau kalian kekurangan zat ini, bisa bisa kalian autis, atau gak bodoh. Makanya zat ini penting sekali. Masa kalian gak tahu sih?” Sejujurnya, kurasa ini sedikit menyinggung dan kurang professional. Mohon maaf jika opiniku juga menyinggung.

Kuliah ini dilanjutkan dengan Professor Bambang menjelaskan fenomena penting yang melibatkan Nanosains, baik itu natural, tidak sengaja, atau memang sengaja diciptakan manusia.

Statement ini ditambahkan dengan Professor Bambang bilang bahwa “Untuk belajar Nanosains, tidak akan bisa hanya belajar fisika, kimia, atau biologi, harus belajar ketiganya. Tetapi, jika ingin lebih spesifik, baru bisa belajar sesuatu seperti misalnya, Nanobiologi, Nanokimia, dan lain-lain.”

Dari sini, muncul bagian paling menarik di kuliah Professor Bambang…

Sedang ada riset untuk menggunakan ulang sampah kepiting, jagung, dan pisang untuk bahan-bahan lain. Seperti misalnya, bahan bakar, sel pengganti, dan lain-lain! Ini sangat menarik untukku, karena aku doyan makan kepiting, dan ternyata ada 800 ribu ton sampah kepiting tiap tahunnya.

Sayangnya waktu sedikit habis, jadi professor Bambang sedikit flash forward. Dan langsung menyimpulkan.

Sejujurnya, aku tidak menangkap 100% kuliah 90 menit dari Professor Bambang ini. (Psikologi menyatakan bahwa kita ujung-ujungnya akan mengingat hanya 25% dari seluruh informasi yang otak kita terima) Tetapi amat disayangkan bahwa Professor Bambang memberikan sedikit kesan negatif pada tengah kuliah.

Secara keseluruhan, jika aku ingin membandingkan kuliah Professor Bambang di Nanoscience dan Nanoteens, kurasa Nanoscience for Kids lebih sukses dalam membuat kuliah pengenalan yang lebih mudah dimengerti, dan lebih terstruktur. Sayangnya, Nanoteens yang memang lebih condong ke aplikasi dan penerapan, tidak bisa keep up dengan pengenalan ke Nanosains yang lebih detil dan lebih luas jangkauannya, seperti di Nanoscience for Kids.

Aku sendiri sedikit bingung jika ingin memberikan sebuah kuliah mengenai sains yang kompleks ini ke anak SMA. Bukan hanya itu, hanya ada waktu 90 menit, dan kemungkinan membuat mereka merasa bosan sangat tinggi. Sekarang tantangannya bertambah, harus lebih spesifik ke penerapan, dan bukan hanya teori.

Kurasa penggunaan video juga menarik dan cocok untuk ini, sayangnya dalam kuliah pengenalan kali ini, tidak ada video yang ditunjukkan.

Nanokosmetik 10.45-12.00
Teteh Atsarina Larasati Anindya

Teh Laras memberikan materi berikutnya sebelum kita makan siang. Kali ini, temanya bukan penerapan nanosains secara luas, melainkan penerapan nanosains spesifik ke bidang kosmetik, dan hanya bidang kosmetik saja.

Pertama-tama, Nanokosmetik adalah kosmetik yang menggunakan teknologi Nano…

Oke, oke… Pernah melihat iklan produk make-up menggunakan emas, atau pasta gigi yang menggunakan arang? Atau mungkin yoghurt Sour (nama cewe) yang menggunakan Charcoal?

Jadi begini, pada dasarnya, semua produk diatas menggunakan nanoteknologi.

Semua nanoteknologi dalam kosmetik, menggunakan carrier untuk membawa alat yang bisa membawa benefitnya secara aman. Pada dasarnya, banyak zat yang sering digunakan dalam Nanokosmetik, seperti…

  • Emas. Emas bisa berubah warna, sesuai dengan nama Latin Emas yaitu Aurum, yang berarti Rainbow Metal. Dengan alterasi kimia yang tepat dan carrier yang pelan dalam memberikan paketnya, Emas bisa merubah warnanya, serta memberikan “glimmer” yang bagus. Sebuah cat rambut Nano dari Jepang dapat berubah warna tiap harinya, jika kita menyemprotnya dengan zat yang sudah disediakan sepaket dengan membelinya. Dan sekarang aku ingat kenapa orang Jepang suka membuat banyak fashion statement.
  • Perak. Seperti di mitologi Eropa, Perak dinyatakan bisa membunuh bakteri yang buruk. (iya, di mitologi dipakai untuk membunuh Lycanthrope, atau Werewolf) Biasanya perak ditemukan di pasta gigi, yang katanya lebih efektif dalam membersihkan suatu zat.
  • Silica. Silica adalah bahan pembuat kaca. Biasanya, Silica digunakan untuk bedak agar memberikan efek berkilau dan mengilap. Silica juga adalah bahan paling sering dibawa dalam nanokosmetik.

Masih banyak lagi, tetapi aku akan membahas sesuatu yang lebih penting lagi (dalam kacamataku). Carrier Nano. Ada banyak jenis Nanocarrier, banyak fungsi, dan banyak bentuk. Aku paling mengingat Carbon Nanotube, dan juga liposome, tetapi juga ada banyak lagi.

Pada dasarnya, Nanocarrier ini adalah Mang Gofood yang mengantarkan Makanan (seperti Emas, Perak, dan Silica di atas). Nanocarrier ini memastikan paket yang berupa unsur, atau zat yang penting bisa sampai tepat tujuan, serta juga memastikan bahwa paket itu tidak tercecer dengan berantakan, dan semua bagian yang membutuhkan si paket mendapatkannya.

Nanocarrier membuat objek beberapa kali lipat lebih efisien.

Eh, tetapi ingat ya, semakin mahal zat dan efisiensinya, harganya juga makin… wah… :O

Sebuah tube kecil nanokosmetik sejumlah 30ml berharga 450 dollar karena menggunakan emas dan platina. Harga per mililiternya seharga, 15 dollar… o_O

Teh Laras juga membahas beberapa banyak hal mengenai teknisnya menguji Nanokosmetik, serta Health Risk dari beberapa Nanokosmetik, dan cara kita mencermati nanokosmetik yang riskan dan lebih banyak menghasilkan pengaruh negatif dibanding positif.

Presentasi diakhiri dengan sebuah foto Syahrini (yang katanya dipilih karena dia menggunakan banyak sekali nanokosmetik) dan reminder untuk pintar memilih kosmetik.

Sesudah itu, kita makan siang dengan (restoran hanya akan disebut inisialnya saja biar tidak iklan) McD, dan aku yang ingin melihat pameran ITB di Aula Timur pergi ke situ, dan juga sholat di masjid salman, karena sudah sekalian ke depan 😉 (oke, aku juga sholat disitu buat minum teh, tapi tetep sholat di masjid)

Membuat Sabun (13.00-14.30)
Teh Sri Ayu

Sabun! Kita membuat Sabun!

Fast forward 2 hari. Aku melupakan nama satu bahan yang sangat krusial dan aku dimarahin sama Bubi. Nasib. Untungnya aku menemukan nama bahan tersebut!

Sesudah makan siang, kita diberikan Jas Lab, dan dibagi kelompoknya. Aku sekelompok bersama 4 perempuan, dan kita mendapat asisten, atau lebih tepatnya guide, dari Kak Yusuf Yuda, atau boleh dipanggil Kak Ucup…

Jadi, pada dasarnya, membuat sabun itu sangat mudah! Prosesnya diberi contoh oleh Teh Sri Ayu, dengan beberapa bahan yang sudah ditimbang dan tinggal dicampur. Kita juga diberikan handout untuk teori dibalik si sabun, dan juga cara pembuatan, serta alat dan bahan.

Resep yang diberikan setara dengan 1 kali mencetak sabun, dan karena kita diminta membuat 3 batang sabun, rasio dari resep itu dikali tiga.

Bahan yang digunakan adalah…

  • Virgin Coconut Oil, Palm Oil, Olive Oil
  • NaOH padat (Juga diketahui sebagai, Lye Powder)
  • Vitamin C
  • Kopi bubuk untuk pewangi
  • Aquadest untuk melarutkan

Cara membuatnya pun cukup sederhana…

  • Campur VCO, Palm Oil, dan Olive Oil sesuai resep yang diikuti (perbedaan rasio berarti perbedaan tekstur dan mudahnya larut)
  • Larutkan ke dalam Beaker Glass dan aduk menggunakan stirrer. Panaskan sampai 40-50 derajat celsius.
  • Masukkan Vitamin C 0.1 gram, NaOH sesuai rasio dan resep, dan Kopi bubuk 0.01 gram ke dalam beaker glass. Biarkan teraduk sebentar.
  • Aduk, aduk, dan aduk sampai warna menjadi keputihan.
  • Cetak ke dalam cetakan!
  • Tunggu memadat, sekitar 18-24 jam. Keluarkan dari cetakan sesudah memadat
  • 2 minggu sesudah padat, sabun bisa digunakan.

Jika ada yang menanyakan ke aku, apa bagian paling sulit dalam membuat sabun DIY… Jawabannya adalah menimbang.

Aku sedang memasukkan VCO ke dalam timbangan… dan karena harus presisi, kita meneteskan sedikit, dan sedikit, dan sedikit sampai akhirnya jumlah tercukupi.

Itu tidak rumit, hanya butuh finesse dan ketelitian… Sayangnya aku tidak punya keduanya. Untungnya, tidak ada hal buruk terjadi! (belum)

Sekarang, hanya akan ada foto, karena beneran, membuat sabun itu sangat mudah

Mungkin stirrer tidak terlihat dengan jelas, tetapi, ada sebuah pil yang berputar karena elektromagnetisme di bawahnya. Jadi, sekarang, kita tidak perlu mengaduk manual! Hore!

Mesin dibawahnya disebut, (ya, captain obvious kembali…) Electromagnetic Stirrer.

Sesudah diaduk, tinggal dicetak, dan tinggal ditunggu padat! Hasil jadi akan ada di post yang akan kukeluarkan besok, karena ini baru laporan Day 1.

Masker Kaolin Clay (15.00-16.30)
Teh Sri Ayu

Sekali lagi, sesudah sholat ashar dan juga coffee break (FYI, aku juga comot beberapa hal untuk dibawa dan dikonsumsi di Hotel) praktikum kembali dimulai. Kali ini membuat masker dari Kaolin Clay, yang katanya bisa digunakan untuk mengencangkan kulit dan membuat seseorang awet muda. Aku dan mukaku yang boros ini mungkin malah jadi awet tua kalau pakai ini. Eh curcol detected.

Kaolin Clay juga diketahui dengan nama Aluminum Oksida, atau AlO2, tetapi yang berasal dan terkena hawa dingin dari pegunungan di China.

Dan sekali lagi, proses pembuatan masker ternyata juga cukup sederhana, berikut bahan, disusul dengan cara pembuatan.

  • Kaolin Clay
  • Vitamin C
  • Oatmeal
  • Pewarna Kosmetik

Maskernya berbentuk bubuk, dan cara membuatnya hanya dengan menumbuk dan mencampur.

  • Timbang 0.03 gram Vitamin C, 15 gram Kaolin Clay, dan 5 gram Oatmeal.
  • Masukkan Vitamin C dalam tempat penumbukkan (alu, jika aku tidak salah), berikan pewarna.
  • Masukkan Kaolin Clay, dan Oatmeal.
  • Tumbuk, tumbuk, tumbuk, dan tumbuk sampai menjadi bubuk.

Sudah, ternyata untuk membuat bonding level Nano cukup dengan menumbuk!

Tetapi, disinilah saat kelompokku membuat kesalahan.

Pertama-tama, pewarna hanya diberikan ke Vitamin C sebagai indikator bahwa, jika Kaolin Clay dan Oatmeal sudah menjadi warna biru, (atau setidaknya ada titik-titik biru) maka masker sudah tercampur. Nah, kita memasukkan vitamin C ke tempat Kaolin Clay dan Oatmeal sebelum diwarnai… Jadi, sekarang, maskernya sudah jadi, tapi kita tidak tahu seberapa tertumbuk hasil masker bubuk kita… ^^’

Selain itu, karena kita sudah tanggung mencampur Oatmeal dan Vitamin C, saat kita memasukkan Kaolin Clay, ada sedikit yang tumpah, jadi kita semua harus bersih-bersih, dan memastikan rasionya masih cukup.Untungnya, ini bukan praktikum yang resmi, atau yang dinilai, dan untungnya lagi, kita masih belajar. Jadi, mari kita lihat foto saja ya!

Kalau Bubi yang lihat foto ini mungkin reaksinya, “Azriel mah mana kuat numbuk, gak ada tenaganya.” Untungnya hasilnya tampak cukup tertumbuk kok… Lihat saja.

Hasil sesudah aku menumbuk 3 menit. Masih sedikit bertekstur, tetapi lebih rata.

Ya, setidaknya maskernya sudah bisa dipakai sesudah menumbuk 10-15 menit.

Tanganku sangat lelah beres menumbuk. Bahkan menulis 2250 kata pun tidak selelah menumbuk 15 menit.

Untungnya, aktivitas hari itu beres, dan aku kembali ke hotel!

Malam…

Hotel Neo di Dipatiukur, sesudah pulang malam, beres menonton Ant-man, kamarku.

Roommate ku sedang bermain dengan teman-temannya di kamar lain. Jadi, aku makan malam sesudah Ant-Man sendiri, dan langsung tidur.

Sabuk adalah hiasan, sengaja ditaroh disitu biar orang-orang bisa fokus ke satu objek.

Hari ini sudah beres, sampai besok!

Akun Instagram: Sir Isaac Newton

Akun Instagram: Sir Isaac Newton

Serial baru lagi! Horeee!

Pernah membayangkan kalau orang-orang di zaman dahulu kala punya yang namanya Instagram? Kayanya lucu ya kalau orang-orang dengan nama sebesar Julius Caesar, Alexander The Great, Isaac Newton, Rene Descartes, William Shakespeare dan sebagainya… punya yang namanya Instagram. Serial ini akan mengupas secara historikal (dengan cara yang lucu tentunya), beberapa hal-hal yang sebuah tokoh pernah lakukan, dan kira-kira gimana kalau mereka punya akun Instagram. Apa yang akan mereka masukkan dalam story, atau apa yang mereka pernah post, dan tentunya banyak lagi.

Bagaimanapun juga, selamat menikmati! Tokoh hari ini adalah Isaac Newton. Dan sejujurnya, dengan adanya Instagram, (kalau mereka aktif), banyak hal yang dulunya tampak seperti sebuah rahasia, menjadi sesuatu yang diketahui umum.

Background

Serial ini dimulai disaat aku melihat Bubi, yang menurutku gak ada kerjaan, membuat sebuah posting di Story-nya, yang berupa Bubi menuangkan coklat ke sebuah gelas berisi Es dan susu. Mungkin follower Bubi relatif banyak, mencapai level 2500++, namun… tetap saja… Ini membingungkan.

Kenapa bisa ada orang yang punya image bagus, dan terkadang keren mau meluangkan waktu sekitar 5 menitan untuk membuat sebuah jejak di dunia Internet, yang akan hilang dalam 24 jam? Itu sungguh membingungkan.

Jadi, aku memutuskan untuk mencari tahu alasannya dengan “berkenalan” dengan sebuah tokoh, secara cukup dekat, dan berasumsi, apa yang akan ada di riwayat post, story, dan mungkin juga deskripsi (atau apalah istilahnya) akun instagram tersebut.

Mungkin cukup basa basinya, jadi mari kita masuk ke akun Instagram milik Newton!

Deskripsi Akun

Catatan: Newton seseorang yang berasal dari Inggris, tetapi ini akan ditulis di Bahasa Indonesia, alias ditranslasi

Followers: 20k / Posts: 314 (diatur agar pas, sesuai ke jumlah Pi) / Following 32

Professor Lucasian sejak tahun 1669
Membuktikan banyak sekali hal
Seperti gravitasi, fluxion, dan teori binomial
Datang  ke Universitas Cambridge dan dengarkan kuliahku…
Setiap Rabu dan Jumat, sepanjang hari, tanyakan lokasi ke resepsionis.

Segitu saja deskripsi akun Newton.

Oh tentunya, Newton mendapat beberapa hater yang memberikan komentar kejam atau mungkin, gak sopan di beberapa post miliknya, seperti Robert Hooke dan Gottfried Leibniz.

Beberapa Post Miliknya…

Berikut ini adalah beberapa post milik Newton, lengkap dengan caption. Ada beberapa yang lucu (setidaknya mungkin menurutnya lucu), meski dia bukan orang yang terlalu humoris, tapi sebagian besar post miliknya serius, dan beberapa bahkan bertujuan menyindir beberapa saingannya.

Ruang Kuliah Kosong

ZZZZZZZ… Sepertinya beginilah nasib professor Lucasian kalian… Terpaksa memberi kuliah… ke ruangan kosong. Tapi tentunya meski itu sudah kupasang di deskripsi akun, siapa yang peduli? Tentunya kalian hanya mau hasil jadinya saja

Siapa yang peduli tentang proses menarik dalam mendapatkan Theorem Binomial? Gak, tentunya orang-orang hanya ingin lihat Theorem Binomialnya saja sesudah jadi.

Ruangan kuliah kosong seperti ini mengingatkanku pada teman sekelasku dahulu ketika aku serius kuliah. Di saat saya, belajar 24/7, semua “teman-temanku” malahan membuang waktu berpesta pora.

Ini menciptakan perbedaan saat lulus, dimana aku sukses menemukan gradien, fluxion, dan juga teori Binomial dalam 6 bulan, teman-temanku mungkin kembali pulang, atau bahkan tidak lulus.

Tapi ya tentunya, siapa yang peduli sama kuliahku yang dibilang memusingkan ini…

#lucasianprofessor #kuliahkosong #muridtidakniat

Likes: 20

Top Comments:

  • (Nama Disensor): EH! Itu aku lho yang ketiduran! Kenapa gak di tag ya sama Professor?
  • G.Leibniz: Newton, istilahnya bukan Fluxion! Ketika kamu jelas-jelas mencontek pekerjaanku, telan saja, sebut itu Calculus.
    • Replying to G.Leibniz: Kamu telat 15 tahun Leibniz… Lihat catatanku!

Post ini tidak terlalu terkenal. Aku pun bingung ada apa dengan Newton ketika ia menulis caption seperti itu, apakah mungkin dia bercanda garing? Entah…

Prisma Cahaya

Tentunya, siapapun yang menggambar ini perlu mendapat pujian.

Pada eksperimen itu, aku memutuskan untuk memecah cahaya menggunakan sebuah Prisma. Cahaya itu menjadi pecah, mengembang ke 7 warna berbeda. Jika kau disana kau akan melihat seberapa indahnya cahaya yang pecah itu.

Lucunya dua minggu sebelum aku menggunakan prisma itu aku menggunakan tongkat dan mencolok kedua mataku, dengan harapan aku bisa melihat warna yang tembus melalui mata seorang manusia.

Tetapi yang aku dapatkan hanyalah 7 warna dan itu hampir membuatku buta. Setidaknya aku melihat ketujuh warna itu sebelum aku tidak melihat apa-apa kecuali hitam dalam 14 hari kedepan, lol!

#cahaya #prisma #pelangi #dikakipelangi

Likes: 47

Top Comments:

  • (Unknown): Waw, professor kita nekat, colok-colok mata
  • RobertHooke: ISAAC! Aku ingat persis bahwa kamu bilang bahwa cahaya adalah sebuah partikel ketika kamu bilang bahwa tidak ada yang namanya Eter. Mungkin kamu benar, tetapi Cahaya adalah sebuah gelombang!
    • Replying to RobertHooke: Hooke. Eter emang tidak ada, dan jangan berani-beraninya kamu bilang bahwa cahaya adalah gelombang tanpa bukti. Aku tahu bahwa aku juga tidak menyatakan bukti apa-apa ketika aku bilang bahwa cahaya adalah partikel, tetapi setidaknya aku pernah melakukan suatu eksperimen.
    • Replying to IsaacNewton: Aku belum pernah melakukan suatu eksperimen? Hah? Mikroskop tuh aku yang bikin tahu!
    • Replying to RobertHooke: -_-” Oke, tetapi ini eksperimen dalam memecah cahaya, bukan memfokuskannya.
    • Replying to IsaacNewton: AHA! Kamu mulai bikin alasan!

Pada balasan Hooke ke 3, Newton mulai malas meladeni dia, dan suatu titik lain dalam hidupnya ia mempermalukan Robert Hooke. Post ini juga sama gak terlalu terkenal, karena sebenarnya ketika orang ingin memberikan like, berikutnya kamu akan mulai merasa… aneh ketika seseorang bilang ke umum bahwa dia mencolok matanya tanpa alasan jelas.

Teori Binomial

Di atas ini adalah sebuah coretan membahas teori ciptaanku.

Sejujurnya ini tidak salah, tetapi HA! Harusnya kamu tahu bahwa ketika aku mulai menulis Binomial Theorem… lebih dari 20 papan tulis kupakai di rumahku di Woolthorpe. Untungnya selama berhari-hari aku bekerja, ibuku tidak menegurku.

#teoribinomial #numbers #desimal

Likes: 1000++

Top Comments: –

Tidak banyak komentar menarik di post ini, hanya ada banyak like, dan lain-lain… Tetapi Isaac Newton sukses memancing like yang tidak terlalu banyak dengan sebuah penjelasan singkat mengenai Theorem Binomial yang tidak dipenuhi dengan ejekan, atau sindiran ke siapa-siapa. Hidup netral itu baik.

Tetapi sesudah ini, ada post lain yang menarik…

CATATAN: Ketahui bahwa seandainya ada Instagram di zaman Newton, post ini sebenarnya tidak mungkin dia buat kecuali buku itu ia keluarkan sebelum ia meninggal, karena menurut penanggalannya, buku itu keluar 1736, sekitar 9 tahun sesudah Newton meninggal.

@G.Leibniz

Kamu masih mau berani-beraninya bilang bahwa “Calculus” yang sekarang terkenal itu ciptaanmu? Mungkin kamu beruntung karena kamu menerbitkan pekerjaanmu sebelum aku, jadi orang-orang lebih mengingat Calculus daripada Fluxion. Tapi jangan sedetikpun mengira bahwa kamu yang menemukan dan menciptakan Calculus-mu itu.

AKU menemukan metode itu! Dan jika kamu memang seberani itu, silahkan berikan aku pertanyaan apapun mengenai metode buatanmu itu, termasuk yang kamu belum bisa jawab! Dan akan aku selesaikan.

#Calculus #rivalry #calculusitugampang #fluxion

CATATAN 2: Satu hal lagi, Newton juga punya banyak catatan yang ia tidak terbitkan mengenai banyaknya pengunaan dan metode Calculus.

Likes: 500-600-an

Top Comments:

  • G.Leibniz: Cek! Sekarang juga! Dalam inboxmu sudah aku kirimkan sebuah puzzle yang seluruh matematikawan Jerman, dan bahkan satu Eropa berusaha pecahkan mengenai Calculus, dan jika kamu memang menciptakan itu… Aku tak akan menolak fakta bahwa kamu menciptakan Calculus.
    • In reply to G.Leibniz: Sudah beres. 12 jam
  • (Unknown): Mr. Newton! Kumohon, ciptaanmu ini telah membuat puluhan temanku menyesal ia mempelajari matematika! Kenapa ini susah banget!

Apel!

Ini adalah post kedua terakhir yang aku tunjukkan disini dari Newton, dan sejujurnya, ini post miliknya yang paling populer.

20 tahun yang lalu, sebelum aku menjadi Lucasian Professor aku mengingat sebuah pagi sejuk dimana aku duduk di bawah sebuah pohon yang sangat dicintai oleh Ibuku. Di kebun milik keluarga Newton, Alice, si pohon apel sudah memberikanku tempat teduh seperti biasanya.

Tetapi hari itu, aku mendapat sebuah gagasan baru. Di bawah rumput yang lembab sehabis hujan kemarin itu, Alice menjatuhkan sebuah Apel.

Pada umumnya, apa yang akan anda pikirkan ketika ada apel yang jatuh ke kepalamu? Begitu Alice menjatuhkan apel itu ke kepalaku, aku memirkan banyak gagasan yang pendek, tetapi instan.

“Mengapa apel ini jatuh?” Aku bertanya… “Semua benda jatuh ke Bumi…” Tentunya, ini suatu hal yang pasti, tetapi… “Mengapa benda bisa terjatuh?”. Ketahuilah bahwa semakin banyak kamu bertanya semakin banyak jawaban yang dapat kamu temukan. “Pasti, ada sesuatu yang menariknya ke Bumi!” Dari situ, segalanya menjadi lebih jelas… Dari semua catatanku dan pekerjaanku kau akan tahu tentunya…

Apa yang kamu pikirkan jika kepalamu terkena apel? #apaapelmu

#apeljatuh #gravitas #alicetree

Likes: 5000++

Top Comments:

  • (Unknown): Aku akan memakan apel itu kalau itu jatuh!
  • Fatio.Duillier: Professor, aku masih saja mengagumi dirimu sampai hari ini. Terima kasih atas semua ajaran dan bimbinganmu selama ini.
  • J.Locke: Pekerjaanmu sangat mengagumkan, dan kurasa dengan aksesku untuk menerbitkan buku, segalanya akan lebih mudah untuk membuatmu makin terkenal.
    • Replying J.Locke: Japri aku! Aku sudah punya banyak tulisan untuk diterbitkan!

Dan masih banyak lagi… Tetapi itu terima kasih ke John Locke buku miliknya, Principia dapat diterbitkan di luar Inggris. Seluruh Eropa dapat menikmati Principia (entar akan ada info lebih lengkap nanti), sesudah kerjasama Locke-Newton ini.

FYI: riwayat hidup Newton baru ada sesudah diterbitkan suami keponakannya…

Principia

Philosophie Naturalis Principia Mathematica.

Buku ini merupakan buku yang berisi kompilasi seluruh pekerjaanku selama 20 tahun terakhir. Di dalamnya ada banyak hal yang membahas Gravitasi, dan sebenarnya seluruh buku ini membahas gaya dan gerakan dengan cara yang orang-orang belum pernah pikirkan sebelumnya.

Aku juga menuliskan 3 hukum fundamental mengenai Fisika di sini, tentunya ini sangat menarik, dan kurasa dia sudah cukup sederhana untuk dimengerti orang-orang seperti @RobertHooke.

Tetapi, mungkin belum tentu juga…

Bagaimanapun juga, buku ini dapat dibeli dan ditemukan di beberapa perpustakaan terbesar di Inggris, serta toko buku pada umumnya.

CATATAN: Ah, Newton, sangat-sangat sopan dan tidak memprovokasi.

Likes: 2000++

Top Comments:

  • RobertHooke: Tulisanmu ini tidak ada artinya sama sekali, dia hanya berisi sampah, dan juga banyak lubang di teorinya! Aku yakin aku bisa menulis yang ratusan kali lebih baik lagi dari ini!
    • In reply to RobertHooke: Huh… Baiklah, lihat dalam beberapa tahun kedepan ketika sambungan ke Principia akan kukeluarkan.
    • In reply to IsaacNewton: Mari kita lihat ya! Bukumu itu nanti tiada artinya!
  • J.Locke: Untuk yang tinggal di luar Inggris, bisa membeli buku ini dalam 1 bulan ya! Atau kontak saya untuk Pre Order!
  • Fatio.Duillier: Sekali lagi, sebuah karya yang menginspirasi

Sebuah post yang sekilas hanyalah sebuah promosi, tapi Philosphie Naturalis Principia Mathematica ini cukup penting, dan sampai sekarang pun, Matematikanya banyak yang tidak tergantikan.

Oh dan untuk tanggapan Newton ke Hooke… Ia menulis Principia III, dengan bahasa kompleks dan matematika yang hanya akan bisa dimengerti orang-orang yang membaca Principia I dan II dengan detil. Hooke pun tidak bisa mengkritik Newton yang mungkin ia tidak dapat mengerti bahasa rumitnya, dan matematika bersambungnya itu…

Tepuk tangan untuk Newton!

Kesimpulan

Mungkin jika dibaca dengan sekilas, artikel ini agak membosankan. Tapi nyatanya, ketika kita ingin mengenakan sepatu seorang jenius… Ini yang kita akan dapatkan. Newton itu orang membosankan, provokatif, serta… Sebenarnya dia tidak punya terlalu banyak teman dekat.

Mungkin teman dekat yang ia miliki dibawah 10, hanya Fatio Duillier, Wickins (yang berpisah sesudah Newton lulus kuliah), dan… ada beberapa lagi sih.

Selain itu, Newton juga menarik sangat banyak hater, seperti Gottfried Leibniz, John Locke, dan juga beberapa pengikut mereka. Tetapi kenyataannya Newton itu seseorang yang tentunya sangat menarik… Dan mungkin riwayat post Newton tidak akan jauh berbeda dari yang sudah ada disini

Untuk story, aku yakin Newton bukan orang yang rela meluangkan waktu untuk mengeluarkan Story. Atau mungkin ini alasan… Siapa yang tahu pasti? 😛

Jika artikel ini menarik, terima kasih! Jika artikel ini membosankan, ini Newton, apa yang kau harapkan? (sekali lagi, mungkin ini alasan untuk “Azriel, kamu tidak bisa menulis post IG, main sosmed aja gak. Tetapi, siapa yang tahu pasti?)

Sampai lain waktu!

Oh dan disclaimer di akhir…

Ini hanya prediksi dan perumpamaan dari apa yang SUDAH terjadi. Semua fakta ini nyata, tetapi tidak ditulis seutuhnya dengan cara ini.

Untuk jumlah follower, Newton hanya terkenal di Inggris dan sedikit bagian dari Eropa, jadi sejujurnnya followernya tidak akan sebanyak itu juga. Bagaimanapun juga, Isaac lebih terkenal sesudah ia meninggal, dan matematika kompleks ciptaannya itu menjadi lebih mudah dimengerti. (pada zamannya gravitasi itu kompleks ya)

Appendix

Riwayat hidup Newton diluar matematikanya, ada di sebuah jurnal, atau mungkin memoir tulisannya. Seluruh catatan dan pengerjaan miliknya sudah dibukukan dan diberikan nama, dan siap untuk diterbitkan oleh siapapun yang menemukannya…

Di akhir hidupnya Newton memilih mati tanpa sebuah “blessing” atau berkat dari seorang pendeta.

Seluruh jurnal hidupnya pun ditulis dan dicatat oleh John Conduit, suami dari keponakannya yang mengurus Newton sampai ia meninggal. Kalau itu bukan karena Conduit mungkin Sir Isaac Newton takkan memiliki cerita menarik sebanyak ini.

FUN FACT: Newton mengakhiri hidupnya sebagai seseorang yang memastikan semua koin di Inggris bersih dari pemalsuan.

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

At the 29th of August Jaja joined a public lecture about Ionic Liquids in ITB by Professor Günter Grampp, who is a lecturer from Vienna, Austria. I found out about this public lecture when I was looking for lunch at ITB, because as usual, every Tuesday I join a lecture there. Luckily, I stumbled upon the banner above, and well, I decided to join this public lecture. Note that I didn’t even know what an Ionic Liquid is, until I joined this public lecture, but it’s a fun and interesting lecture, and I asked a question in the end.

The contents of this article will be my thoughts about the things I heard in the lecture, and me breaking it down…

What’s an Ionic Liquid?

By definition, an Ionic Liquid is a salt in liquid form. But, hold on… The chemical term of salt isn’t really what most people think a salt is. A salt in chemical terms is a solid crystal that is broken down. The solid crystal can only be stated as a salt if it is made from an acid, and a base that is usually a solid metal. If the acid reacts with the solid metal, and the reaction becomes a crystal, that crystal is called a salt, chemically speaking of course. Our common table salt is made with the reaction of Sodium for the base and Chloride for the acid. Their reaction would make the Sodium less metal-like and more like a crystal that is usually hammered down and ground onto powder.

That’s a bit off-topic, but some fun knowledge about salt can never be wrong am I right?

Anyways, back onto the lecture, the more chemically accurate term for “salts” are Ionic Compounds, which is the solid form of these liquids. Usually, Ionic Liquids are made by melting these Ionic Compounds that are made the usual way salts are made. But hang on a bit… Some people might ask, does that mean if I have some table salt, and mix it up with some water that is an Ionic Liquid? Well, No, it’s not… That is a mixture, which unlike a compound, that has mixed onto the molecular level, a mixture is mixed outside of the molecular structures, and isn’t forming any new types of chemical properties.

Uses Of Ionic Liquids

These Ionic Liquids are created mainly to be the conductors in batteries. These Ionic Liquids could enhance the ability of conduction in solid things, and are usually used to soak up batteries so they could conduct more optimally. Ionic Liquids could do this because of their higher electrolyte numbers, which are the properties of conductivity in a liquid. If you remember some commercials of electrolyte water, well… You’re basically drinking salt in liquid form, which in a sense might provide you some energy I guess? Don’t take my word for it 😀

Other uses for these Ionic Liquids are to dissolve harmful ingredients, which does interest me since that way, the waste that factories make can easily be dissolved and forgotten, because apparently, these Ionic Liquids can do that, and much more efficiently than our common solvents (solvents are liquids we use to dissolve waste).

Apparently efficient is in terms of liquid usage. Their cost comparison is still pretty far from one another. I couldn’t remember the difference exactly, but if I recall, the cheapest Ionic Liquid still costs 10-100 times more per liter than our common solvent. So, despite Ionic Liquids have efficiency in terms of liquid usage, and is more effective at dissolving waste, as there is no waste left after dissolved, compared to our current solvents which still makes lots of waste, the cost to invest is still not a priority in the eyes of governments and laboratories.

Professor Grumpp Is Explaining The Uses Of Ionic Liquids

Table Of Ionic Liquids..

I couldn’t understand this so much to be honest.. but, here’s a table of Ionic Liquids when compared to our regular solvents and I’ll try to explain it to you, but if you aren’t in the mood of complex thinking, you can skip this paragraph, as it’s pretty complex.

A Table Of Comparation, Professor Grampp used the exact same one

The factors listed and their meanings…

  • Number of Solvents are the efficiency per particle in dissolving forms of toxic waste
  • Applicability is pretty simple as in the functions of the liquid, and Ionic liquids have multiple uses other than dissolving things
  • Catalytic ability is the ability to function as a catalyst in poison absorption
  • Chirality is the symmetry between it’s particles, and the more symmetrical it is, the better the process of absorption and dissolving of objects
  • Vapor pressure is (like it’s name) the ability to counteract pressure from vapourous sources, this means that Ionic liquids are capable of absorbing gaseous wastes, opposed to the organic solvents
  • Flammability is pretty simple, and Ionic Liquids aren’t flammable and won’t detonate when coming to contact with heat
  • Polarity is the differences in area (which leads to separation) on a molecular level. If a molecule isn’t affected by Polarity they are “connected” to one another much more, and would have the same amounts of electromagnetic conductivity in each part of the molecule. (If this is confusing, don’t worry, I googled this first :D)
  • Tuneability is basically the range of liquids available to do this job, and Ionic liquids has a wide variety
  • Cost… well, I’ve mentioned this in the above
  • Recyclability isn’t really a “real” term, but from Professor Grampp’s explanation, it’s basically the “price” we have to pay to recycle the object. Our Organic Solvents will make the ecological side of things worse, while the Ionic Liquids need more investments to recycle
  • Viscosity is the value used to count how well an object would react when “pulled” to a point of stress. The higher the value, the more flexible an object is when they are “stressed”. (yes this is a pun)
  • Density is how dense an object is, the more dense it is, the higher the mass that it has on a smaller area.
  • Refractive Index is how well an object would refract light, this actually points more onto how clear an object is, and how light would react when sent pass the object.

My Question

I asked Professor Grampp this question: “How far do you think we are onto a cost efficient Ionic Liquid?”

Professor Grampp said that the only problem with us reaching cost efficiency with using Ionic Liquids as a solvent is that companies that invest in the making of these liquids are expecting to get their investments paid back. Scientists that make these liquids also expect payment for their work, and whilst it’s not impossible to use Ionic Liquids now it’s just not efficient because some people need to get paid, and unfortunately, the cheaper Ionic Liquids aren’t that different from our current Solvents, therefore, I think if companies finally decide it’s time to invest in the development of cheaper Ionic Liquids, only then we’d reach the point of efficiency.

I’m very satisfied with Professor Grampp’s answer, and I actually like that Professor Grampp used more objective words that isn’t actually blaming companies for their greed, because we do know that money doesn’t come without effort or for free. One day, I wish some company could invest in using some more expensive ingredients to make a more sustainable version of solvents, or anything else really.

Conclusion

Not only am I satisfied with the answers and knowledge provided in Professor Grampp’s lecture and answer, but I also enjoyed listening to his way of presenting the lecture as he did it casually while making jokes. I’m pretty certain that the lecturers I want when I go to college are those that are responsible, but can still lecture casually.

That’d be all from Jaja Azriel today, and thanks for reading!

[Azriel’s Late Post] Aquaporins Nobel Lecture

[Azriel’s Late Post] Aquaporins Nobel Lecture

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Foto Profesor Peter dari Laman Wikipedia beliau

At Wednesday, 22nd March I went to Sabuga because there is a Nobel Lecture from Professor Peter Agre, which is a Nobel winning biochemist. He won the nobel because he discovered Aquaporins, which he explains to be the plumbing system of your cells, more on that later. I registered for this seminar that I was excited for, 2 weeks before the D-Day.

Pre-Event:

Roughly 2 weeks before 22nd March I saw a promotion image for this seminar that I got from the HS Bandung Union group. A father of a friend of mine helped make the website for this seminar. I registered immediately and almost forgot about this event. Luckily I rechecked my images 5 days before this event and remembered its existence.

On the D-Day I was a bit late (30 minutes roughly, okay so not a bit, very late perhaps), and no it doesn’t really matter because I ended up queuing with less wait, because the gate only opened at 8.45 and I arrived at 8.30 with Arsyad, Afra (Arsyad’s older sister), Izzan, and Raka (who shared this event) queuing before me, so I would still end up on the same sitting spot even if I arrived early (These are one of those few moments where arriving late [compared to our expectation, not actual arrival time] is not a big deal). I got the second row because the first row’s central view is full, and I prefer getting a second or even third row that is close to the center.

Event:

Firstly, I got inside Sabuga at 9.00, however the event only started at 9.45. I used this time to Google and pre-search (I made this word; it’s a combination of Pre and Research). After getting a glimpse of Prof. Peter’s work and Aquaporins, a few people came with full uniforms? (Maybe Toga’s would fit too?) And sat on the stage. After listening to the choir standing on the left wing of the stage singing the ITB anthem, with Angklung from the right wing, Prof. Peter with 20-ish lecturers escorting him to the stage. Upon his arrival we sang the Indonesian National Anthem, Indonesia Raya.

After all that formality, there is still more speech before the lecture. ITB’s dean and head of science department gave a speech in English that is unclear due to the speaker blur, and accent from those 2. However I did catch a few words on not giving up at your dreams no matter how large though. The ITB Anthem is played again with angklung as well, and then the seminar starts. It started at 10.30 if I recall precisely.

Finally the lecture started. Prof. Peter starts by stating that water is the liquid of life, and without it, life cannot exist. After that Prof. Peter states that he wont explain about his work, because he said… “You can get that in many websites, so I don’t see any reason for me to explain it here” However he did explain that Aquaporins are the plumbing system of our cells, and closes if something with properties that is  not similar to water, but accelerates the flow of water. Now since he does not explain his work, exactly what did he explain? He explained how did he work to earn that Nobel.

Now like I said, he explained his work. He started by explaining that he was actually not looking into cells when he gathered his team, but he said that you might find what you are not looking for. Now I can’t really get 100% of what he is saying because once more, the speaker is blurry, and he speaks so fast, but I did hear him say that he was looking for diseases in some organ in the first place. When he saw a damaged cell, he took a closer look and he found that this damaged cell was in fact not flowing water as fast as normal cells. After discussion from this discovery, he and his team decided to take a leap of faith and study how cells process water.

After finding the basic plumbing system, he tried to classify it onto detail and he saw how cells in different organs work differently. Once classified, Prof. Peter and his team tries to see these specific parts of some cells and classified them onto Aqp1, Aqp2, and so on,  until Aqp6. 1 week after the discovery and publishing of his work. When he woke up in his lab if I recall precisely he actually sleeps in his lab when he and his team was working above 23.00) with the purpose of locating the disease that he was looking into before jumping onto aquaporins, he received a call from an unknown number and before even getting cleaned up, he heard “Good Morning Professor Agre, congratulations, you just won a Nobel prize, the conference will begin at 1.00 P.M.” (and he shared his reaction which I believe was like… “What?”) that was 10.00 in the morning. So he rushed home and cleaned himself up with some proper clothing and took his family and received the Nobel Prize that night. Upon receiving the Nobel, he actually thought that he has not succeeded because his main purpose of locating the disease is not complete. I think this is very humble, and should be taken example.

He followed with some history of his discovery. He started explaining that some other scientists a few decades before him have indeed known about the fact that water flows through cells faster than other fluids, but no one seems to be able to pinpoint why. He said that these previous theories include water’s unique property interaction with cells, but despite H20 has some unique properties, (such as Water Anomaly) there is no theory strong enough to back this anomaly up, which leads to a theory failure.

After all that is done, he decided that there is still time for him to explain more about Aquaporins. But, the speaker volume is still blurry, so I can only remember and listen, at the function of certain Aquaporins. I can’t remember its precise numbering, but we have Aquaporins on our blood cells, kidney, digestion system, and if I recall even our Brain has some. Prof. Peter also explained that the failure of these blood cells is not lethal, but can make some non-lethal things lethal, such as a common diarrhea can lead to very painful moments, even death. You would also need about twice drinking water values if you happen to have this condition, because waterflow with this condition is just terrible.

After this is done, comes the question session, which I am still slightly annoyed and disappointed until now. However I will still explain some questions that I remembered. Now this session is separated onto 2, one is for students, and the other is for scientists. With 3 people asking as many questions each. I remembered a scientist asking about how much fame Prof. Peter has achieved and has that accomplished his goal of fame. Prof. Peter. answered that he does not need fame, or pictures of him in lots of banners in the U.S. (on his way to Sabuga he saw several banners of his face) he doesn’t even feel like he needed to win that Nobel, as long as he can make people around him happy. He also said that his 2 granddaughters don’t know about the Nobel, but they do know about him being a nice guy and likes to buy ice cream for them. I like Prof. Peter because he is very humble. I cant remember other questions because I am still sad at how I don’t get to ask, but I guess that’s life. Also I was planning to ask, some questions about Aquaporins that I cant remember because I didn’t ask them, and how his team feels about Prof. Peter getting the Nobel.

After the 3rd time of the ITB song being sung, the event has officially ended with all of the lecturers escorting Prof. Peter outside.

Thoughts:
I feel honoured to hear Prof. Peter’s lecture and his humility. I am also amazed at his consistency at working, and just sees an award as a bonus, not a goal. I would actually love to ask, unfortunately I didn’t get a chance to make Prof. Peter remember that 14 year old asking him a question. But its ok, I’ll get my chance to ask in next year’s (or 2-3 years from now) Nobel Lecture.

[Azriel’s Late Post] String Theory Public Lecture

[Azriel’s Late Post] String Theory Public Lecture

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati🙂

Foto Prof. Peter Bouwknegt di Situs Kampusnya

Last Wednesday, I went to ITB to hear a public lecture from Prof. Peter Bouwknegt, who is Dutch but lives in Australia. This lecture is actually about general String Theory which I am already familiar with, but adds some more technicality towards it.

First of all Prof. Peter starts by explaining what String Theory is, its a Theory of everything that unifies gravity, weak nuclear, strong nuclear, and electromagnetism, if proven correct. Our current unification of the universe is a rather simple one, called the standard model, which cannot unify gravity.

String Theory runs on the foundation of belief that particles aren’t stagnant and can make vibrations. To define String Theory, we cannot use the Feynman Diagram. A Feynman Diagram is a path of particles that is only 2 dimensional. To form particles that support String Theory’s 10 dimensional unification, we need a different diagram. A 3 dimensional path is what we need. The shape of this diagram is infinite, and much weirder than a Feynman Diagram, as it is… Okay I cant explain the shape, let this picture explain. The image on the left is the Feynman Diagram, and the String Diagram is the one on the Right.

Prof. Peter also states that String Theory, despite can go to a multi dimensional form, should still be calculated on the basis of single dimensional being. Until string theory is quantified by default, only then multi dimensional basis of our dimensions can be defined. So, until we can define gravity, we can’t think of multi dimensional existence, as String Theory can exist without multiple universe’s existence.

 

 

Honestly this is done. But Prof. Peter did sum up the general idea of String Theory:

  • String Theory is a 3 dimensional moving version onto our current Standard Model
  • The amount of possible string form shapes are Infinite
  • Multidimensional existence is possible, but is not a must
  • Every type of matter can take this form, and weirdly since we don’t know 96% of our universe, I wonder the shape of Dark Matter strings
  • Gravity is defined by this, because if everything moves, gravity can make its weak pull.
  • Nothing is stagnant.

So pretty much this is all that is in that 30 minute lecture. The other 30 minutes are used to ask questions and university promotion. I asked what is Graviton (which is a hypothetical particle that forms the mediation between gravity and quantum fields, has enough force to perform a pull) and about some complex stuff regarding the end of our universe… precisely this is what I asked: “If the laws of physics are indeed a death warrant (as to what Prof. Michio Kaku said) to all intelligent life, and multiple dimensions exist, will the destruction of one universe lead to another?” Prof. Peter answered philosophically that we definitely don’t want that, especially if we are a new universe, then the old ones will just get consumed by Entropy, and lead to the Big Crunch, and trust me, no one wants that.

At the end of the lecture I talked a bit with a man that was promoting the physics institute that I cant remember, because Prof. Peter is unavailable, and got his name card. He told me that if I do get a scholarship (which he wishes me to get) please consider our university. As a matter of fact he thought I was a Physicist… Because I asked a complex question. Well, I’m not, I am a 14 year old homeschooler.

Thoughts:

Its a good lecture and very efficient judging by the 30 minute time stamp, but I personally enjoy the math and technicality added onto something I know.

[Azriel’s Late Post] Unnovation Seminar

[Azriel’s Late Post] Unnovation Seminar

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Aku pertama kali sampai di ITB pukul 8.00 dengan naik gojek. Gojeknya tidak mau mengantar sampai dalam kampus ITB. Beruntungnya, lokasi penyelenggaraan seminar tidak jauh dari gerbang, tepatnya di samping pintu gerbang, yaitu Aula Barat ITB. Ketika aku tiba ternyata peserta seminar belum boleh masuk ke dalam gedung seminar, padahal dalam jadwal disebutkan mulai pukul 8.00. Maka, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus ITB.

 

Pada pukul 8.45 aku sudah kembali ke Aula Barat dan sudah diperbolehkan masuk. Sudah ada bebereapa peserta di dalam ruangan namun masih belum terlalu ramai. Karena tempat duduk di barisan paling depan adalah untuk peserta lomba, maka aku memutuskan untuk duduk di barisan kedua sebelah kanan. Lucunya, seluruh peserta memilih untuk duduk di sebelah kiri sehingga kursi di sebelah kanan kosong.

Pak Arif Sasongko (Sumber foto situs ITB)

Acara dimulai pukul 9.15 dengan sambutan dari Kepala Program Studi Teknik Elektronika ITB, Arif Sasongko, S.T., M.Sc, Ph.D.. Sambutan berisi pentingnya tech-startup dalam ekosistem ekonomi sekarang. Menurutku, sambutan nya sangat menarik dan cocok dengan tema seminar. Sambutannya pun cukup pendek hanya sekitar 15menit. Cukup menarik bagiku, karena tidak ada sesi menyanyikan lagu Indonesia Raya pada seminar ini, biasanya bila aku mengikuti seminar selalu dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

 

Setelah sambutan usai, pembicara pertama adalah Aussie Wijaya, dari Boston Consulting Group. Boston Consulting Group, merupakan sebuah perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi decision making dalam sebuah bisnis. Sejak 2015, perusahaan ini lebih sering memberi advise tentang memberi sentuhan technology pada sebuah bisnis.

 

Beliau menunjukkan bahwa berdasarkan data, perubahan bisnis yang terjadi dari tahun 2012 hingga 2015 sangat drastis. Hal ini terlihat dalam sebuah perusahaan CD besar di Amerika Serikat kehilangan 100% value sahamnya, karena terkalahkan oleh Spotify dan iTunes. Selain perusahaan CD ada beberapa perusahaan lain yang terkena imbasnya, seperti Ace Hardware dan Electronic Solution. Perusahan-perusahaan ini kehilangan 30% salesnya, karena toko jual beli online seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak dan sebagainya. Masih banyak lagi perusahaan yang kehilangan penjualan tahunannya dengan angka sekitar 15-68%.

 

Sejak itu, maka Boston Consulting Group memutuskan untuk beralih dengan memberi saran berbasis teknologi untuk perusahaan-perusahaan yang menjadi clientnya. Berdasarkan data lagi, Indonesia, khususnya Pulau Jawa didominasi oleh ekonomi tingkat tengah dan menengah keatas. Kalangan ini, sebagian besar tidak punya banyak waktu untuk belanja sehingga mereka beralih ke belanja online. Bahkan, 80% dari kalangan ini memiliki gadget dan 60% memiliki akses ke wi-fi.

 

Kemudian, Pak Aussie menjelaskan cara memberi sentuhan teknologi dalam suatu bisnis. Penjelasannya, bahwa bisnis harus memiliki akses mudah dalam bentuk domain atau halaman toko online, untuk memudahkan kalangan dominan yaitu kalangan menengah yang sekarang lebih fokus dalam membeli barang via internet. Setelah itu beliau menutup dengan statement yang menyatakan bahwa apabila kita tidak melangkah masuk ke dunia digital maka kita akan tertinggal dengan kecepatan perubahan zaman.

Om Leon (Sumber foto situs ITB)

Pembicara kedua adalah Leontinus Alpha Edison – COO Tokopedia. Om Leon membuka dengan sejarah mengenai bagaimana tokopedia dimulai. Berdasarkan ceritanya, tokopedia mulai pada Januari 2009. Dimana ketika pertama kali launching baru ada 50 barang milik tokopedia sendiri. Dari kolaborasi Om Leon dan Om William Tanuwidjadja, yang sekarang menjadi CEO tokopedia.

 

Om Leon bercerita selama beliau menjadi (yang disebut oleh Om Leon sebagai) Half Engineer, beliau berkolaborasi dengan Om William untuk membuat sebuah website, yaitu tokopedia. Om Leon mendapatkan ide membuat tokopedia karena dia sempat mengalami kebingungan kala mengetahui promo sebuah brand ternama untuk produk mesin cuci. Ceritanya begini,di pagi hari Om Leon menghubungi dealer untuk mengklarifikasi sebuah promo yang beliau lihat. Kemudian beliau mendatangi dealer untuk membeli mesin cuci yang dipromokan. Namun, menurut dealer syarat dan ketentuan yang kurang sehingga mesin cuci tidak dibeli dengan harga promo. Selanjutnya, Om Leon kembali ke kantor untuk melanjutkan bekerja dan menyempatkan menghubungi dealer kembali dan diinformasikan bahwa barang sudah bisa dibeli. Pada jam istirahat, Om Leon datang kembali ke dealer dan katanya masih ada lagi syarat ketentuan yang kurang. Dan Om Leon kembali bekerja dan kembali lagi menghubungi via telp, pihak Customer Service dan diinformasikan bahwa promo tetap bisa diperoleh. Pada pukul 15.00 beliau kembali ke dealer hanya untuk menyampaikan keluhan tentang syarat dan ketentuan promo. Menurut Om Leon dan disampaikan ke pihak dealer syarat ketentuan promo tidak jelas, sehingga menimbulkan kebingungan. Dari pengalaman ini Om Leon berangan-angan memiliki online store dimana konsumen adalah prioritas.

 

Sekarang, tokopedia sudah menjadi sebuah perusahaan yang besar dan Om Leon menyampaikan DNA dari seluruh sistem operasi tokopedia. Prioritas pertama tokopedia adalah konsumen dan konsumen harus selalu menjadi prioritas tanpa terkecuali apapun. Tim tokopedia juga harus dapat bekerja sama dengan baik, karena setiap ada update dalam code tokopedia maka projectnya dilakukan secara bersama-sama dalam tim dan bukan perorangan. DNA terakhir dan menurutku paling penting adalah harus selalu mau berkembang, hal ini dapat dilihat dari perkembangan pesat tokopedia sejak 2009, dimana sekarang sudah ada jutaan jenis barang dan jutaan pengguna.

 

Kualitas DNA ini dapat dipertahankan oleh tokopedia dengan filter recruitment yang cukup ketat. Jika seseorang ingin menjadi bagian dari keluarga tokopedia, maka haruslah memiliki beberapa hal penting. Yang pertama, culture di rumah dan pendidikan rumah yang baik. Maksudnya, jika culture rumah dan kebiasaan si pelamar dirasa kurang cocok dengan culture tokopedia maka lamaran akan ditolak. Menurut Om Leon, jika seseorang tidak memiliki kebiasaan yang baik (yang dimulai dengan kebiasaan baik di rumah) maka dapat meberikan dampak negatif pada keseluruhan culture tokopedia. Setelah culture dari pelamar dirasa sesuai, maka yang dilihat adalah bagaimana pelamar dapat cocok dengan culture kerjasama dalam keluarga tokopedia. Apabila kedua culture tersebut sudah cocok, yang selanjutnya dinilai adalah pengalaman dan apakah si pelamar cukup kompeten. Langkah terakhir setelah kesemua syarat tersebut sesuai, adalah pihak tokopedia akan mencarikan tim yang tepat untuk rekan kerja si pelamar atau membuatkan tim baru yang sesuai.

 

Selanjutnya, Om Leon bercerita bahwa di tahun 2012 tokopedia memiliki akademi untuk bagian keluarga tokopedia. Akademi ini melatih keluarga tokopedia untuk menambah pengetahuan, kreativitas serta mempertajam DNA yang tertanam. Om Leon mendapatkan ide ini dari sebuah film yang beliau tonton bersama crew tokopedia (di tokopedia ada acara bernama movie day, yaitu sekali dalam satu bulan, keluarga tokopedia akan bersama-sama menonton sebuah film di bioskop) pada movie day, yang berjudul The Internship. Jadi dalam film berlatar belakang program magang sebagai seleksi untuk bekerja di Google. Karena tertarik dengan ide dari film tersebut, Om Leon memutuskan untuk membuat pelatihan tahunan, namanya adalah Nakama.

 

Nakama adalah event selama seminggu setiap tahunnya dimana crew tokopedia diberi tantangan untuk mengasah kemampuan dari crew. Kreativitas crew juga diuji dalam event ini. Seperti Om leon ceritakan bahwa diakhir minggu dari Nakama Academy ini, sudah ada ide baru yang kreatif untuk memperkuat environment tokopedia dari setiap tim. Tim dengan skor tertinggi di akhir minggu akan diapresiasi dengan Piala Nakama dan idenya akan diterima serta diimplementasikan.

 

Dari semua ide yang Om Leon ceritakan, yang paling menarik menurutku adalah bagaimana anak buah bisa menyampaikan report pada atasan. Yang membuat Om Leon menerima ide ini adalah karena ketika beliau masih menjadi Half-Engineer, beliau tidak suka pada bosnya yang menurut beliau cerewet dan tidak bisa apa-apa. Jadi beliau ingin memastikan bahwa dalam environment kerja tokopedia kekurangan ini tidak ada. Laporan haruslah memiliki 4 bagian, yaitu deskripsi mengenai bos, keuntungan memiliki bos tersebut sebagai atasan, kerugian memiliki bos tersebut sebagai atasan dan apa yang bisa diperbaiki.

 

Om Leon menutup presentasi dengan menyampaikan impiannya bahwa disuatu hari nanti tokopedia bisa memiliki sebuah kampus. Aku sangat senang mendengar presentasi dari Om Leon sehingga ketika presentasi selesai aku berlari cepat menuju Om Leon, mencegatnya dan memberikan kartu namaku. Om Leon cukup terkejut mengetahui aku memiliki kartu nama, dan aku pun meminta kartu nama Om Leon. Aku mengatakan keinginanku untuk magang di tokopedia, dan tanggapan Om Leon adalah bahwa biasanya tidak ada kesempatan magang untuk pihak luar. Tapi Om Leon berjanji akan menghubungiku apabila ada perubahan atau bila ada kesempatan untukku.

 

Sukan Makmuri (sumber foto Kudo)

Presentasi berikutnya adalah dari KUDO, dengan pembicara Sukan Makmuri, yang merupakan CTO dari KUDO. Aku menikmati presentasi dari Pak Sukan, beliau dahulu merupakan CEO dari Kaskus. Beliau mebuka dengan menceritakan apa itu Kudo. Kudo merupakan singkatan dari Kios Untuk Dagang Online.

 

Beliau menunjukkan data bahwa diluar pulau Jawa, orang yang meiliki akses ke Internet dan Smart Phone masih dibawah 20%. KUDO ingin dapat meningkatkan peluang perdagangan online ke daerah-daerah luar Jawa. Namun, banyak kendala yang harus diatasi, karena orang-orang di luar Jawa kurang teredukasi dalam hal internet dan kurang percaya jika tidak kenal dengan penjualnya. Salah satu faktor lain adalah kurang ATM untuk melakukan transaksi pembayaran belanja online.

 

Dalam hal inilah KUDO berperan. KUDO berusaha menghubungi warung terbesar dari satu daerah, kemudian diajak untuk menjadi partner KUDO. Setelah warung setuju, maka akan dipinjamkan smart phone yang telah terinstall aplikasi KUDO. Disini KUDO berperan memberi suplai barang dari daerah lain, misalnya beras dengan kualitas lebih baik. Aplikasi ini diharapkan memfasilitasi pedagang untuk menyediakan komoditas yang lebih baik dan variatif.

 

KUDO juga berperan meningkatkan value suatu warung karena aplikasi ini memiliki iklan, yang dapat menghasilkan uang. KUDO membagi sebagian penghasilan via iklan ini, serta membagi pada warung-warung setidaknya USD 100 dari hasil iklan. KUDO juga mengapresiasi warung dengan penghasilan terbanyak pada suatu pulau dengan memberikan smart phone yang awalnya dipinjamkan. Jika pada satu desa ada warung yang memiliki KUDO, maka menurutku secara tidak langsung warga-warga desa tersebut lebih teredukasi mengenai teknologi. Selain itu, bagi brand yang bekerja sama dengan KUDO dari pulau Jawa akan mendapatkan perluasan peluang bisnis.

 

Menurutku, meskipun Pak Sukan tidak menyebutnya secara langsung, KUDO sangat beneficial untuk orang di luar pulau Jawa dan bagi entrepreneur di dalam pulau Jawa. Ini yang membuatku menilai KUDO sebagai sociopreneursip. Aku sangat menikmati presentasi dari Pak Sukan dengan kontennya yang menarik dan baru kuketahui bahwa ada perusahaan seperti itu. Meskipun sebetulnya aku sudah cukup lama mengetahui tentang KUDO, karena ketika aku melewati Jalan Setiabudi disebelah jajaran tukang rotan ada kantor KUDO. Bahkan aku pernah mampir -ketika aku masih memainkan game online- untuk membeli voucher game. Tapi kala itu aku belum tahu bahwa KUDO memiliki benefit sedemikian rupa dan menambah value dari sebuah usaha di Indonesia.

 

Pembicara selanjutnya adalah Riri Satria, CEO dari value alignment group. Sayang sekali presentasinya kurang menarik sehingga membuatku tidak terlalu ingat akan materi yang disampaikan. Presentasi tersebut merupakan presentasi terakhir dari rangkaian presentasi dalam seminar ini. Menurutku, seminar ini secara keseluruhan menarik dan menyenangkan, karena selain mendapat ilmu dan wawasan baru, aku juga mendapat kesempatan bertemu orang-orang yang memberi inspirasi. Sayang sekali, seminar ini sepertinya tidak dipromosikan selain di dalam kampus ITB, meskipun aku bersyukur karena aku kebetulan berada di ITB tepat satu hari sebelum seminar sehingga aku melihat spanduk seminar hingga akhirnya mendaftar untuk menghadirinya. Akan lebih baik bila event-event seperti ini diinfokan melalui social media atau melalui komunitas juga agar lebih banyak yang bisa mengetahui.

[Azriel’s Late Post] OSCP Hacking Workshop

[Azriel’s Late Post] OSCP Hacking Workshop

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

Jumat kemarin tanggal 17 maret 2017, aku mengikuti workshop hacking berbasis tes OSCP. Pelatih di workshop ini adalah Pak Yoko, yang merupakan sebuah konsultan security aplikasi. Tes OSCP sendiri adalah sebuah tes hacking yang dilakukan secara remote, dengan OS Kali Linux. Aku menginstall VmWare workstation untuk menggunakan device Kali Linux-ku

Sebelum workshop dimulai, Pak Yoko memberikan kita overview dari tes sertifikasi security. Ada 2 jenis tes, yaitu management dan offensive, OSCP termasuk yang Offensive. Selain itu OSCP juga menggunakan system soal dan scoring. Tes OSCP sendiri dilaksanakan dalam waktu 24 jam di rumah masing-masing, dan dengan soal berbeda. Selain itu ada juga banyak sekali metode yang bisa kita gunakan untuk mengexploit sebuah system. Semakin ketat sebuah system maka semakin besar poin yang kita dapatkan dari soal tersebut.

Sesudah masuk ke virtual machine Kali Linux, kita langsung diberi set command untuk mencari tahu data di sebuah system dan berusaha membobolnya. Sesudah masuk ke satu server spesifik IP, dan dokumen-dokumen yang memaintain server dan OS yang juga ada di IP itu, aku langsung memodif user lain di OS pemegang server ini. Sesudah masuk, aku menambahkan user administratorku agar aku bisa akses system server. Ini bisa kulakukan karena server punya banyak sekali loophole untuk aku exploit. Sesudah mendapat akses, aku masuk ke device server dan mendisable administrator lain. Ketika aku satu-satunya user administrator yang tersisa, aku mengopi list kode untuk exploitasi dan mengeksploit semua kelemahan data dengan software bernama Mimikatz. Mimikatz berfungsi untuk membobol OS apapun yang diatas Windows Vista. Aku langsung mematikan server dan menghapus semua user lain di PC itu dan membuat server di IP tersebut mati untuk durasi yang cukup lama. Semua proses ini sebenarnya bisa dilakukan tanpa perlu retrieve IP dan password user terlebih dahulu, tapi justru proses itu yang sulit, karena aku bisa mendisable device orang lain asal tidak di password, dan aku punya IP. Proses ini juga dilakukan dengan aplikasi yang windows sendiri miliki dalam built in OS tanpa perlu download atau install apapun terlebih dahulu.

Aku menggunakan proses diatas untuk 2 soal, namun metode aku mendapatkan administratornya yang berbeda. Di soal yang menggunakan server SQL, aku cukup menggunakan list command built in SQL-nya, password didapatkan via brute force, dan lokasi server didapatkan dengan melakukan perintah Nmap Scan, dan ditemukannya file Robots.txt dan XAMPP. Di soal yang satunya lagi menggunakan server berbasis Tomcat. Untuk memasukkan command ke server Tomcat ini, aku perlu mengupload shell yang sudah berisi command ke server dan mengakses shellnya untuk melakukan command seperti di paragraph atas ini. Ketika aku sudah mendapatkan username dan lokasinya, baru aku bisa masuk dan membobol server ini. Sesudah ini selesai, aku langsun berjalan ke Masjid Salman dan sholat disana

Hari ini ada total 7 soal, namun kami hanya sempat mengerjakan 6 soal, karena tidak ada cukup waktu untuk mengerjakan soal nomor 7, yaitu soal paling susah. Soal paling susah ini bernama Stack Overflow, yang bertujuan memenuhi threshold sebuah server sampai servernya terlalu penuh. Pada pagi hari kita sudah sempat mengerjakan 2 soal. Tinggal tersisa 4 soal lagi dari Jam 13.00 sampai jam 17.30.

Ke empat soal ini memiliki flow yang sama, dan kurang lebih dikerjakan seperti ini,  cari page utama untuk server host-nya, cari hal yang bisa di exploit, (misal file, command, dan lain-lain) dari bahan yang bisa di exploit itu, buat user baru (contoh: Admin, Administrator, [NamaWebsitenya], dll), dengan password “P@ssw0rd”, brute force list password itu, cari yang benar, login dengan yang benar. Carilah ssh address yang mestinya sudah tampak ketika login, cari versi kernel server, cari daftar exploit di internet, dan tinggal download lalu compile command-nya. Laksanakan file compile-nya dan kamu sudah sukses menghack sebuah server. 4 soal itu dilakukan dengan flow yang sama, namun metode per soal beda, ada soal yang dilaksanakan dengan memasukkan username dan password yang paling common, ada yang perlu upload CMD terlebih dahulu, ada yang perlu command khusus, dan lain-lain.

Soal nomor 3 pada hari ini cukup simpel karena di IP yang Pak Yoko berikan (menggunakan server CuppaCMS) ada file .txt yang sudah ada address, username dan password. Sesudah masuk kita tinggal masukkan script via url, karena URL-nya support command langsung. Sesudah itu kita tinggal menambahkan username dan mem-brute force, di soal 3-5 semua proses sudah sama persis sesudah mem-brute force username dan passwordnya. Soal nomor 4 cukup mirip dengan soal nomor 3, tetapi karena menggunakan server Google Statistics, perlu upload command prompt terlebih daulu karena URL tidak bisa digunakan untuk menambahkan direct command. Untungnya, Google Statistics punya built in cloud untuk menjalankan file dan menguploadnya. Yang perlu dilakukan  sesudah login ke server, cukup upload CMD Google Statistics yang sudah ada di Kali Linux secara built in. Sesudah di upload tinggal jalankan command brute force, dan kita akan dapatkan akses server dan user. Soal nomor 5 lucunya lebih mudah lagi karena semua data sudah ada di file Robots.txt dan kita tidak perlu upload file lebih lanjut, karena sudah punya Cmd built in di website (tidak menggunakan link ataupun upload file, sama seperti textbox kode). Data langsung didapatkan dan system server juga cukup rusak.

Soal terakhir yang cukup sulit untukku adalah web calendar, untuk ini tidak ada CMD atau metode memasukkan kode sama sekali. Karena itu untuk input code kita membutuhkan shell open source dari github, buatan orang Indonesia, bernama B374k Shell. B374k Shell berguna untuk memasukkan kode ke file web yang hidden, karena semua web pasti punya server di sebuah PC. B374k memasukkan kodenya ke dalam PC yang menjalankan servernya, dan bukan servernya. Tapi untuk masuk ke dalam Shell B374k, kita butuh keluar dari “gerbang” yang membatasi Kali Linux. Untuk melakukan itu cukup masukkan sedikit kode di python dan dia akan mengkonversi ke Terminal Linux semi Python, dan Shell B374K bisa dimasukkan ke sini. Sesudah selesai bruteforcing, aku mulai tidak mengerti dan sedikit salah di bagian ini (ini bukan pas aku pegang HP kok). Tapi intinya flownya masih cukup mirip, hanya ada sedikit perbedaan di injeksi karena harus menggunakan B374K.

Sesudah soal nomor 6 selesai, aku langsung memberikan kartu namaku ke Pak Yoko yang cukup sering bercanda dan tertawa sepanjang workshop ini. Oh iya, kata Pak Yoko, terkadang hacking bisa membuatmu frustasi, jadi setiap menyelesaikan soal, wajib istirahat 5-10 menit dahulu. Ketika foto selesai aku langsung mengembalikan semua meja bersama kakak mahasiswa ke ruangannya di lantai 3, baru aku jalan ke Pico.

Thoughts and Experiences:

Aku sangat senang akhirnya bisa belajar Hacking. Sejujurnya aku tidak mengira scope hacking lebih luas dari perkiraanku sebelumnya, dan ternyata lebih mudah dari yang kukira (basicnya). Pak Yoko juga hobi bercanda selama workshop jadi workshopnya kerasa lebih casual. Aku senang bisa ikut acara dari ISG dan Isaca dan ingin belajar hacking lebih lanjut.

[Azriel’s Late Post] Workshop Digital Forensic

[Azriel’s Late Post] Workshop Digital Forensic

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Pada tanggal 17 februari kemarin, aku pergi ke ITB karena ada Workshop Digital Forensic. Workshop ini disertai Guest Host Pak Nuh yang merupakan kepala lab digital forensic. Kemarin malam sesudah menginstall software yang diperlukan, aku tidak sabar belajar digital forensic karena aku sempat tertarik dengan ini ketika menonton CSI: Cyber (yang pada akhirnya dicancel tanpa alasan jelas), namun belum menguliknya.

Sebelum masuk ke Workshop, Pak Nuh bercerita mengenai backgroundnya. Pak Nuh juga sempat bercerita bahwa ia sempat berpikir untuk menghack sebuah bank besar di Indonesia, dan sampai sekarang, masih ada program untuk melakukan itu. Untungnya karena Pak Nuh kuliah dengan bimbingan polisi, Pak Nuh menjadi Cyber Forensic, bukan Cyber Criminal.

Sumber foto dari hukumonline.com, aku lupa dokumentasi soalnya 😀

Workshop dimulai dengan teori dari Digital Forensic. Aku sudah cukup tahu dengan bentuk dan evidence dari Digital Forensic sebelumnya. Jenis buktinya tentu adalah software dan hardware, dimana software evidence biasa berisi dari jejak history sebuah PC, dan hardware evidence adalah PC-nya sendiri (sebagai contoh saja karena masih banyak lagi tentunya). Selain bentuk dan bukti, juga ada “code of conduct” yang harus dipatuhi oleh seorang forensic digital. Kode pertama untuk ini adalah untuk tidak pernah mengedit sebuah barang bukti, tanpa disecure atau write block terlebih dahulu. Dengan ini kita tidak akan merubah hash code sama sekali. Kode berikutnya adalah, “Untuk melakukan suatu tindakan forensic, orang harus tersertifikasi, dan tahu apa yang dia lakukan”, cukup self explanatory menurutku. Kode berikutnya: adalah untuk merekap dan meninggalkan jejak ke setiap tindakan, menurutku dan mungkin semua programmer (forensic atau bukan) ini penting agar kita dapat mentrace segala tindakan yang kita buat, dan mencari kesalahan atau kebenaran di sebuah barang bukti. Kode ke empat adalah “Setiap tindakan harus dimonitor dan dipertanggung jawabkan ke seorang supervisor”, ini untuk memastikan kerusakan data dan kegagalan satu kasus tidak terjadi.

Aku bertanya ke Pak Nuh, apakah kita diberi izin untuk mengubah hard disk dan mungkin merusak konten sebagai last resort? Pak Nuh pun memarahi aku dan bilang bahwa forensik itu bukan tuhan dan jika ada data yang terubah karena kerusakan maka ya barang bukti tidak valid lagi. Pak Nuh sepertinya galak dan aku menekan trigger button-nya. Pak Nuh melanjutkan penjelasan dengan galak lagi ke aku bahwa ada kemungkinan kalau kita melanggar code of conduct bisa membuat satu isi lab di ban dan dibubarkan, karena supervisor juga harus bertanggung jawab, jadi sebaiknya kita tidak perlu mengedit konten sama sekali… Sesudah ini aku tidak mengucapkan satu katapun ke Pak Nuh sepanjang workshop  aku takut mengeluarkan pertanyaan yang salah lagi, kan malu kalau dimarahin di umum pas workshop, bahkan aku tidak memberitahu umurku ke Pak Nuh.

Seusai code of conduct dijelaskan, Pak Nuh melanjutkan dengan contoh kasus Cyber Criminal. Karena muka pelaku tidak diketahui, CIA menghargai kepala sebuah mafia hacker asal Russia 1 Juta Dollar. Ya kasus Cyber Forensic memang mulai meningkat cukup pesat secara global ataupun local tahun ini. Bahkan peningkatannya sampai 80% dari 2014 ke 2015, menurut statistic milik Pak Nuh.

Sesudah itu Pak Nuh mendemokan Hash Calculator yang merupakan sebuah software untuk membaca encoding sebuah file. Cara menggunakannya sangat simple, cukup masukan file kedalam Hash Calculator-nya. Hash Calculator berguna untuk membaca apakah sebuah file pernah diedit atau belum. Hash Calculator juga bisa dipakai untuk membedakan 2 file yang tampak sama persis berdasarkan signature-nya. Hash Calculator menunjukkan data file dengan sejumlah karakter yang unik, dan akan berubah berdasarkan semua properti file yang berubah (baik secara sengaja atau tidak sengaja), Di windows, bahkan mengubah file, meski tidak di save perubahannya akan mengubah Hash Code-nya, jika di Linux ini tidak akan terjadi. Membaca Hash akan berguna untuk membedakan 2 file dan mencari mana file yang benarnya.

Sesudah Hash Calculator kucoba, waktu makan siang tiba dan aku jumatan sesudah itu langsung makan siang. Topik Khutbah Jumat hari itu adalah cara mempursue passion dengan gaya islami, dan kebetulan Pak Nuh bahas lagi saat workshop dimulai lagi. Selesai ISHOMA, aku visit lab Nano Sains dan say hi ke beberapa kakak disitu, lalu kembali lagi ke ruang rapat STEI.

Berikutnya aku mencoba software USB Write Block, yang berguna untuk memastikan kita tidak mengedit satupun hash code dari sebuah file. Cara pakainya pun sangat simple, cukup di toggle on dan off, ketika kucoba dengan USB, USB itu tidak bisa diedit sama sekali. Sayangnya aku lupa men-toggle fitur ini off ketika sampai rumah, dan membuat sebuah USB tidak bisa di edit. Ini adalah langkah yang simpel tapi wajib dilakukan kata Pak Nuh.

Sesudah selesai memblock USB dari editan apapun, aku pun mencoba mengkonversi sebuah USB menjadi database. Aplikasi ini butuh waktu lama untuk memproses sebuah USB 8 GB dan membaca isi file-nya. Aplikasi ini juga bisa membaca sebuah folder yang di delete, meskipun bisa membaca folder dan file yang sudah di delete,  kita tidak bisa melihat konten file selain namanya dan tanggal delete-nya. Pak Nuh juga bercerita bahwa dia hanya mau menyewa gamer ataupun eks-gamer karena hanya mereka yang punya stamina untuk dapat tahan melihat screen selama itu sambil membuat satu file jadi sebuah .ISO dan membaca ulangnya. Kadang Pak Nuh member mereka izin untuk main game sambil menunggu konten satu hard disk dibaca, dan dikonversi ke ISO. Di USB pinjamanku aku melihat beberapa folder yang sudah di delete, dan ternyata kita bisa melihat JPG yang sudah didelete. Sayangnya sebelum aku bisa eksplorasi lebih lanjut Pak Nuh yang sibuk harus pulang. Masih ada satu software untuk melakukan autopsy pada ISO yang belum sempat kita coba hari ini. Kata Pak Nuh software Autopsy ini bisa merecover file-file hilang. Pak Nuh memberi salam penutup dan mendoakan yang terbaik untuk kita semua ketika ia bersiap kembali ke labnya di Jakarta.

Thoughts:
Workshop ini overall menarik, dan aku sangat senang bisa belajar lebih lanjut mengenai topic yang dari dulu sudah ingin aku ulik. Bahkan meski Pak Nuh galak, dan membuatku malu, (untungnya para mahasiswa sebagian sudah tahu aku hanya seumuran dengan siswa SMP) tetap sangat menarik bertemu dengannya, karena Pak Nuh sudah punya pengalaman yang cukup banyak di bidang ini, dan sempat diberi keputusan untuk melakukan sesuatu yang berdosa dan illegal untuk uang yang sangat banyak, dan sesuatu yang tidak illegal, bahkan mendefend legalitas itu sendiri untuk uang yang sedikit.