Tag: Institut Teknologi Bandung

Why Is There Stuff? – Kuliah Umum ITB S2 – 2

Why Is There Stuff? – Kuliah Umum ITB S2 – 2

Kembali lagi ke serial kuliah umum. Kuliah umum kali ini berasal dari Reinard Primulando. Membahas tentang… Materi. Like, you know… Stuff.

Pemateri kita kali ini adalah DR. Reinard Primulando dari fisika Unpar.

Mungkin terdengar agak sederhana, tetapi aku berjanji, kuliah kali ini adalah kuliah dengan materi paling berat! Pertanyaan Why Is There Stuff ini mungkin terdengar sangat sederhana, seperti menentukan membeli Oreo Double Stuff atau yang biasa (Oh iya, Double Stuff gak enak, terlalu manis), tetapi, dalam proses menjawab pertanyaan ini, DR. Reinard menyebutkan dan memberikan referensi tentang Anti-Matter, Descartes, Big Bang, Particle Decay, dan masih banyak lagi!

Tentunya aku akan berusaha menjelaskan dengan cara yang sesederhana mungkin, karena seperti yang Einstein katakan… “It is possible to explain the laws of physics to a barmaid.” (tanpa tujuan menyindir barmaid).

Descartes si Fisikawan

Ketika kita browsing tentang nama Isaac Newton di Google, lalu kita pindah ke bagian News alih-alih All, Images, atau Video… akan muncul setidaknya satu artikel dengan judul clickbait seperti “Newton was Wrong! Here’s Why.” atau “Newton made a mistake that rewrote the laws of physics.” Dan semacamnya.

Konyolnya, artikel-artikel tersebut menjelaskan cara Newton melihat hal-hal yang baru ada di abad 20 akhir atau 21 awal. Hukum gravitasi Newton tidak salah, hanya saja ada hukum yang Newton tulis yang kurang akurat, sehingga perlu ada perbaikan yang minor agar bisa sesuai dengan fisika modern.

Jadi, jika anda melihat kata-kata seperti Hukum Fisika Gagal, atau Newton Salah di judul sebuah artikel, jangan langsung percaya.

Namun, kali ini, kegagalan hukum fisika agak konyol, dan dia konyol bukan karena ada hal yang tidak akurat sesudah bertambahnya ilmu di dunia.

Masuklah René Descartes. Kalimat paling terkenal yang ia katakan (sama seperti Apel milik Newton, E=Mc2 Einstein, cuma tentang filsafat) adalah “Aku berpikir, maka aku ada.” Dalam bahasan fisika, berpikir berarti melakukan hitungan atau prediksi.

Berdasarkan hitungan fisika, seharusnya, kita tidak ada. Jadi, kalimat Descartes tersebut tampak seperti lelucon. “Saya berpikir, berarti saya ada. Tapi hasil berpikir saya, saya harusnya tidak ada.”

Kuliah dari Dr. Reinard dimulai dengan pertanyaan ini!

Backtrack

Kita bisa dan telah memprediksi kehidupan di alam semesta dengan cukup akurat sampai ke 10 menit kehidupan awalnya. Alam semesta sudah ada untuk waktu yang lama dalam sudut pandang manusia, tetapi kita tidak bisa mengingat 10 menit pertamanya saja…

Lalu, sebenarnya apa yang terjadi pada 10 menit pertama tersebut? 10 menit pertama diteorikan sebagai proses terjadinya Big Bang. Ada nukleosintesis (ketika membahas fisika dengan orang-orang awam, gunakan kata ini, anda akan tampak pintar) yang menciptakan unsur-unsur dengan cara yang sejujurnya aku masih belum mengerti.

Mungkin juga terdengar agak konyol bahwa kita bisa memprediksi dengan akurasi yang signifikan bahwa masa depan alam semesta bukan rahasia yang jelas. Tetapi 10 menit (bagi alam semesta yang usianya 10 pangkat 34 tahun, 10 menit seperti kedipan mata di hidup manusia) awalnya hal yang gak jelas.

Seperti yang fisikawan ketahui… Kalau ada hal gak jelas, berarti itu hal-hal yang penting! 10 menit alam semesta ini pasti penting! (Anak SMA di 70 tahun ke depan mungkin harus mempelajari ini untuk masuk kuliah)

Kabar baiknya adalah… Hukum fisika berjalan dengan sempurna sejak 10 menit tersebut, dan belum ada satupun saat di mana alam semesta berfungsi tanpa adanya hukum fisika. Kita juga mengetahui bahwa sampai 10 menit pertama tersebut, hukum fisika belum berlaku.

Seperti percakapan yang ada di Avengers: End Game.

  • Thanos: I’ll destroy this universe, and create a new one with the stones
  • Captain America: A Universe… Born out of blood?
  • Thanos: They’ll never know it. Because you won’t be around to tell them!

Mengingat bahwa kita tidak mengetahui 10 menit pertama alam semesta kita, ada kemungkinan bahwa Thanos menciptakannya… (Or you know, the big bang theory is right…)

Antimatter.

10 menit pertama dilewati tanpa adanya jawaban (Aku mendukung teori Thanos!), kita masuk ke fase di mana alam semesta masih bayi… Ketika belum ada apa-apa yang tercipta sepertinya.

Sebagai geek (parah) aku punya hobi menonton film science fiction tentunya. Ada beberapa film science fiction yang membahas hal-hal seperti yang akan terjadi jika Azriel Muhammad bertemu Anti Azriel Muhammad.

Jenis personality-nya mungkin gak usah dibahas karena kayanya itu tidak diperlukan untuk artikel kali ini, tetapi semua film science fiction itu salah karena kalau aku bertemu dengan anti diriku sendiri, dan kita bersentuhan, kita berdua akan hilang, hanya menyisakan seberkas cahaya. Seperti yang DR. Reinard jelaskan, ada film di Netflix (aku tidak tahu apa itu Netflix Originals atau bukan) berjudul Angels and Demons dan film tersebut ada bagian yang memasukkan Bomb dari Anti Materi.

Fisikanya secara kasar dan agak tidak ilmiah seperti itu. Anti Materi bertemu materi, maka akan saling menghilangkan, meninggalkan cahaya, dan energi.

Mengingat bahwa di dunia nyata ada materi yang sangat banyak! Kalau ada anti materi terlalu banyak, hasilnya akan Boom-Boom dan kita tidak akan mampu melihat banyak hal. Kita sudah off-topic agak terlalu jauh, jadi mari kembali ke jalan yang benar…

Kalau Anti materi bertemu materi menciptakan energi dan cahaya, ini berarti bahwa energi yang ada di alam semesta kita berhubungan dengan reaksi antimateri tersebut.

Hal yang agak konyol dari reaksi materi dan anti materi ini adalah, logikanya, alam semesta tercipta dengan jumlah materi dan anti materi yang sama bukan? Kenapa masih ada materi yang tersisa kalau reaksi akan anti materi dan materi berperan dalam penciptaan alam semesta menjadi bentuknya sekarang? Ke mana perginya materi tersebut?

Sayangnya, kita mungkin tidak pernah tahu.

Paritas.

Bagi yang sudah bingung. Kusarankan pergi sekarang. Scroll ke bagian kesimpulan saja. Pertanyaan Why is There Stuff sudah kurang lebih terjawab di bagian antimateri dan materi. Ini hanya intermezzo yang terlalu menarik untuk dilewati dan tidak kutulis.

Bagian di sini agak membingungkan (dan seluruh artikel ini SUDAH membingungkan), dan kalau aku sedang bersemangat, harusnya paritas ini bisa jadi artikel lain, mungkin hanya 500-600 kata, tetapi aku lagi agak hemat, jadi paritas kubiarkan menjadi bagian sejumlah 200 kata di sini.

Energi dan medan bergerak ke satu arah di dunia nyata kan? Mereka bergerak ke arah sesuai berdasarkan posisi mereka. Medan yang menembus sebuah bidang secara vertikal pasti gerak searah jarum jam, medan yang menembus sebuah bidang secara horizontal bergerak melawan arah jarum jam.

Bahkan jika anda tidak memperhatikan guru fisika anda pas SMA, medan selalu berfungsi seperti itu, sampai ada istilah Right Hand Rule. Jempol anda menjadi penunjuk arah sebuah medan di sebuah gambar. Tidak usah pusing gerakkan tangan, percaya saja samaku.

Pernahkah anda bercermin? Mau cewek, mau cowo, mau seberapa gak peduli anda pada penampilan anda, pasti anda pernah bercermin.

Jika melihat sebuah cermin… Logikanya, medan tetap bergerak ke arah yang sama kan?

Nah, justru itu. Paritas di sini berhubungan dengan medan di dunia cermin. Energi di dunia cermin tidak bergerak dengan cara yang sama dengan energi di dunia nyata. Cerminan seseorang tidak mengalirkan energi atau menerima medan dengan cara yang sama dengan yang ada di dunia nyata! Sekarang anda tahu!

Kesimpulan.

Thanos created this universe. We just don’t know. Tony Stark didn’t actually finish Thanos’ Army… He died in the universe before this…

His blood is in our hands…

Hahaha, bercanda kok. Itu kan cuman fiksi *WINK WINK*

Why Do We Dream? Kuliah Umum ITB S2 – 1

Why Do We Dream? Kuliah Umum ITB S2 – 1

Kuliah Umum di ITB kali ini telah lanjut ke siklus keduanya. Bersambung dari tema kuliah nomor 5 tentang kesadaran, kita masuk ke subyek mimpi.

Sebelum masuk ke penjelasan tentang kuliahnya sendiri.

  1. Ini adalah kuliah keempat yang aku ikuti, dan ini pertama kalinya kuliahnya membahas hal secara tidak faktual. Benar-benar tidak faktual… Tentunya aku memaksudkan ini sebagai hal yang bagus karena beberapa subjek memang tidak bisa dihampiri dari sudut pandang yang faktual, topik ini termasuk salah satunya. Alih-alih memberikan data dan teman-teman dari data tersebut (seperti nama peneliti, dsb.), diberikan penjelasan tentang konsep-konsep yang nyata tetapi belum tentu telah dibuktikan secara ilmiah.
  2. Slideshow yang diberikan oleh pemateri kuliah hanya berisi 8 slide. Sekali lagi, ini hal yang bagus, karena hampir seluruh materi dan konteks kuliah disampaikan dalam bentuk cerita. Meskipun tidak ada “jangkar” atau patokan untuk topik presentasi, ilmu yang didapat tetap sampai, hanya saja dengan cara yang berbeda.
  3. Pemateri kita kali ini adalah seorang neurosurgeon. Mungkin pernah lihat atau dengar di Twitter… Namanya Dr. Ryu Hasan.

150 kata kemudian, kita akhirnya bisa masuk ke cerita tentang kuliahnya.

Out of Topic…

Sekitar 70% dari kuliah kemarin keluar dari topik utama yaitu alasan kita bermimpi. Kuliahnya menarik, disampaikan dengan elegan dan memberikan ilmu yang substansial, hanya saja sebagian besar kuliahnya hanya terhubung oleh benang merah ke topik “Why Do We Dream?” itu sendiri.

Selain itu, aku yang datang dan mencatat memberikan simbol khusus untuk menandai bagian mana yang on topic dengan pertanyaan Why Do We Dream, dan bagian mana yang off-topic.

Silahkan skip ke bagian berikutnya jika anda tidak sabar ingin tahu tentang alasan kita bermimpi.

Catatan kasar saja, untuk memberikan perspektif…

  • Berdasarkan pengamatanku, ada 9 pernyataan off-topic yang disampaikan, tepatnya tentang kedokteran dan ilmu biologi itu sendiri, sebelum masuk ke pembuka tentang alasan kita bermimpi.
  • Lalu ada 3 pertanyaan yang umum ditanyakan orang mengenai alasan kita bermimpi sebagai landasan dasar topik.
  • Disusul dengan 6 pernyataan off-topic tentang pengetahuan manusia, psikologi, kenyamanan manusia dan juga iman serta kepercayaan.
  • 6 fakta tentang mimpi, halusinasi, dan emosi secara ilmiah.
  • 1 pernyataan di luar topik tentang narasi dan kematian. Kembali ke subyek mimpi dengan 1 pernyataan lagi.
  • 2 Pernyataan off-topic lagi… Kali ini tentang Einstein dan Darwin.
  • Lalu 6 pernyataan yang menutup kuliah umum, sesuai dengan topik.

Dr. Ryu Hasan memberikan kuliah tanpa struktur yang jelas, tetapi dengan referensi yang bagus dan tepat, membentuk hubungan antara subyek yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mimpi, dan menghubungkannya dengan cara yang seharusnya bisa dimengerti anak SMP. Ini juga dilengkapi dengan candaan yang lucu (meski memang jika dilakukan di forum publik akan terdengar agak kontroversial, sehingga aku tidak akan memasukkan sebagian lelucon tersebut), sehingga kuliahnya tidak terasa membosankan.

Lalu sekarang anda ingin bertanya… Jadi Azriel, kapan kuliahnya dibahas?

Ada sedikit masalah di sini… Karena tidak ada struktur dasar kuliah secara verbal, aku mengalami sedikit kesulitan menuliskannya. Aku merasa ada klarifikasi dasar yang penting dan yang perlu diberikan untuk kejelasan tulisan. Oh iya, tulisan kuliah kali ini mencapai 1500 kata, jadi, tenang saja.

Mimpi Tidak Bermakna?

Salah satu miskonsepsi terbesar tentang mimpi adalah perubahan kata tersebut menjadi impian. Tapi aku loncat terlalu jauh, jadi sebentar dulu.

Hal-hal yang dilakukan manusia secara rasional, membutuhkan tindakan sadar. Sedangkan, hal-hal yang intuitif dilakukan berdasarkan emosi.

Otak manusia sendiri yakin pada hal-hal yang membuatnya merasa nyaman, bukan pada hal yang rasional. (ini disebutkan Nietzsche, Mark Manson [yes, him], dan masih banyak lagi)

Berdasarkan dua hal ini saja, bermimpi merupakan hal yang bergantung pada emosi, dan biasanya bersifat intuitif. Kita tidak punya kontrol akan mimpi kita, terkecuali lucid dreaming.

Jadi, kita akan masuk ke pernyataan pembuka. Tidak ada definisi biologis atau neurologis yang BAKU untuk mimpi. Kita tahu cukup banyak hal tentang mimpi, tetapi tidak ada definisi yang baku untuknya.

Untuk menambah pertanyaan pada awal kuliah. Mimpi tidak berguna, dan tidak berhubungan dengan subconscious. Freud semacam merusak fakta bahwa mimpi ada hubungan dengan subconscious, tetapi faktualnya tidak seperti itu.

Istilah impian sendiri ada di Bahasa Indonesia, tetapi Impian seharusnya tidak ada, dan gunakan saja kata Cita-Cita, karena itu memberikan terlalu banyak makna ke hal yang secara biologis tidak ada maknanya.

Kita percaya Mimpi bermakna lebih banyak daripada fakta biologisnya karena itu merupakan hal yang membuat kita merasa nyaman, bukan dengan kenyataan yang ada.

Rasionalisme… Membela Diri…

Oke, mungkin secara biologis tidak ada makna pada mimpi. Ada makna untuk tidur secara biologis, tetapi mimpi? Gak. Gak ada. Nah, bagaimana untuk makna secara psikologis? Lagi-lagi, perlu diingat bahwa mimpi juga merupakan produk dari otak yang bisa dipandang dari 4 sudut pandang berbeda, Biologi, Psikologi, Spiritual serta Filosofis. Untuk itu, kita coba masuk ke suatu subyek psikologis yang berperan mirip dengan mimpi saat kita masih bangun.

Mekanisme pembelaan ego (ini juga referensi ke Nietzsche dan Mark Manson [Mark Manson menuliskan psikologi jadul dengan gaya modern, jadi wajar kalau aku yang kelahiran 2002 ini menyebut namanya terus] lagi) adalah cara kita membuat diri kita sendiri lebih nyaman.

Sebagai contoh…

“Aku tidak pernah belajar sebelum ujian. Pada ujian tengah semester kemarin, nilai ujianku jelek karena aku tidak belajar. Sebelum ujian akhir semester, Ibuku sedang sakit. Ujian akhir semesterku berakhir dengan nilai yang jelek. Bagaimana aku bisa belajar? Ibuku lagi sakit, wajar kalau nilainya jelek.”

Pada dasarnya, otak kita berusaha mencari-cari alasan untuk membuat kita sendiri merasa lebih nyaman. Meskipun secara rasional, tidak ada relasinya sama sekali. Terkadang relasi itu dibuat murni hanya untuk membela ego dan memberikan makna yang lebih dalam dan penting untuk sesuatu.

Ini merupakan poin yang agak off-topic tapi ternyata berhubungan dari Dr. Ryu.

Namun Freud mengatakan bahwa mimpi tersebut memiliki makna yang lebih dalam dari seharusnya. Seolah-olah mereka terhubung. Semakin ke sini juga, mimpi semakin sering dielaborasi agak berlebihan oleh (mengutip kata per kata Dr. Ryu Hasan) “Ahli Nujum”.

Karena kita menghabiskan banyak sekali waktu bermimpi, banyak elaborasi tidak diperlukan untuk membela ego manusia tentang bermimpi itu sendiri. Ini akan dibahas lagi sedikit di bawah, tetapi masih ada sedikit fakta yang pembaca perlu ketahui terlebih dahulu.

So… Err… WHY DO WE DREAM?

Karena tidak ada jawaban dari sudut pandang psikologis, Dr. Ryu berpaling ke sudut pandang Biologis.

Pertama, 80% Mamalia (meski tidak disebut, aku cukup yakin yang dimaksud adalah jumlah spesies alih-alih jumlah populasi) merupakan hewan Nokturnal (Nokturnal berarti aktif di malam, diambil dari Latin untuk malam, yaitu Nox, dan Turnalia yaitu momen atau waktu. Noxturnalia adalah Latin untuk Momen Malam). Kelelawar, Kucing Besar, beberapa jenis Kera, beberapa Mamalia laut…

Kita termasuk 20% dari mamalia yang tidak nocturnal tersebut. Mungkin ini alasan kita bermimpi, otak mamalia kita yang mayoritas nocturnal ini memerintahkan kita untuk beraktivitas, dan aktivitas itu terjadi di otak, menciptakan mimpi.

Kedua, mimpi terjadi pada fase REM. Rapid Eye Movement Sleep. REM ini adalah fase di mana kita sudah tidur lebih dari 6 jam. Kita masuk ke fase REM ketika kita sudah perlu bangun.

Mungkin terdengar agak-agak kontraproduktif. Halo? Di Dunia Mimpi kemarin malam aku hampir sukses menguasai dunia dengan robot yang aku curi dari ruang bawah tanah seorang profesor yang bekerja buat pemerintahan (Wow, I dream like a 7 year old)! Kenapa aku dibangunin? Kenapa mimpi yang justru membuat kita ingin tidur lebih lama… malah berfungsi untuk membangunkan kita? Ini kan… Agak … Konyol.

REM sleep sendiri sebenarnya bukan seperti jam alarm yang menyuruh kita bangun, tetapi lebih cocok jika disamakan dengan cara kita melakukan pemanasan tubuh sebelum masuk kolam renang, agar kita tidak kram. Kalau kita tidak melakukan pemanasan, ada kemungkinan kita cepat lelah. REM Sleep dan mimpi berfungsi untuk memulai aktifitas otak kita (dengan cara mengkhayal) sebelum otak kita mengaktifkan kesadaran.

Dua poin sudah ada, sekarang poin ketiga secara biologis…

Mimpi adalah halusinasi. Karena kita mendapatkan reaksi dan kognisi tanpa adanya stimulasi, itu adalah halusinasi. Mimpi berfungsi sebagai batasan dunia halusinasi, dan untuk membatasi kita dari mengkhayal di dunia nyata.

Secara biologis, fungsi mimpi lebih cocok untuk disambungkan dengan semacam ruang pemanasan dan persiapan hari, seperti misalnya beli kopi sebelum ke kantor, atau pipis sebelum mandi pagi, mimpi seperti pemanasan…

Namun, ada riset yang masih kurang jelas menemukan korelasi mimpi dengan psikologi.

The Dream Clinic.

Sebuah riset menyatakan bahwa orang yang ekstrovert punya kemampuan menceritakan mimpinya, meski tidak bisa mengingatnya dengan jelas ataupun runut, sementara orang yang introvert tidak bisa menceritakan mimpinya, namun memiliki ingatan yang lebih jelas padanya.

Bermimpi juga merupakan cara otak kita mendifusi emosi. Semakin sering kita bermimpi yang penuh cerita, semakin rendah kemungkinan orang tersebut depresi. Sedangkan, semakin abstrak mimpinya seseorang, semakin besar kemungkinan orang tersebut mengalami depresi.

Riset ini tidak dilakukan spesifik mengenai mimpinya sendiri, tetapi lebih ke survei mengenai depresi dan bermimpi itu sendiri. Metode risetnya agak induktif, namun tampaknya ada korelasi ke mimpi dengan psikologis, hanya saja tidak  dengan cara yang diharapkan psikolog Freudian atau Jungian.

Aku tidak punya kepercayaan diri dan/atau kredibilitas untuk membuktikan riset ini, tetapi aku akan tetap memasangnya di sini, hanya sebagai informasi tambahan.

Kesimpulan.

Pada akhir hari, mimpi tersebut sendiri tidak memiliki satu pun hasil ataupun inti mengenai mimpinya sendiri. Tetapi, mimpi memiliki cukup banyak hasil akhir walaupun mimpinya sendiri hampa akan makna.

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kuliah Umum: What Makes Us Human?

Kembali lagi ke seri Kuliah Umum di ITB. Topik di tulisan hari ini membahas tentang manusia. Ada kabar baik dan buruk yang perlu diberikan sebelum membaca dan masuk ke artikel ini.

Kabar baiknya, siklus satu sudah habis! Ini adalah materi kedua dari terakhir, dan aku masih punya hutang tulisan karena aku sakit minggu lalu, dan tidak sempat menulis. Kabar buruknya, ini berarti aku tertinggal satu minggu, karena ada materi yang menjelaskan tentang kesadaran, yang diberikan hari selasa kemarin, tanggal 1 Oktober.

Kabar baik lainnya karena minggu depan kuliah umum Sains di ITB sedang istirahat… aku bisa mengejar tulisan tersebut tanpa ada tambahan tunggakan.

Sekarang, masuk ke topik, selamat menikmati.

Filosofis? Biologis?

Aku sempat kebingungan dan memberikan ekspektasi yang salah pada kuliah kali ini. Jangan anggap aku meremehkan, justru kuliah kali ini mengalahkan ekspektasi dengan jauh. Hanya saja dari sudut berbeda.

Sesudah kuliah umum sekitar 20 kali tentang Filsafat, dan sesudah membaca banyak mitologi dan sedikit sastra dari seluruh dunia dan banyak era, pertanyaan ini sering kupikirkan, tetapi tidak sekalipun aku tanyakan dari sudut pandang biologi.

Ternyata, aku berpikir terlalu kompleks. Ketika aku membandingkan manusia dengan hewan dari sudut pandang filosofis, dan yang tidak empirik sama sekali, aku akan mencari cara untuk menjelaskan alasan kita menyukai seni, kita menyukai sains, kita percaya pada pemimpin, kenapa ada agama, dan blablabla yang sangat panjang.

Jawaban yang diberikan Prof. Djoko dari SITH (calon dosen pas nanti kuliah berarti… Amin) tidak lebih kompleks dari kromosom dan kode genetika. Pelajaran SMA. Jadi untuk pertama kalinya, aku memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjelaskan tentang sains di blog ini!

Mengabaikan lelucon, aku yakin 100% aku berpikir terlalu jauh ketika aku ingin menanyakan pertanyaan, apa yang membuat kita manusia? Prof. Djoko tidak menjelaskan dengan rumit. Ia hanya menjelaskan bahwa 98% dari kode genetika manusia sama dengan simpanse, dan kode genetika kita juga sama dengan 40-60% dari lalat.

Lalu, kenapa 2% dari kode genetika tersebut menjadi pembeda yang signifikan? Kenapa kita pintar, bisa bicara, bisa menulis tulisan seperti ini, bisa menghitung dan mengkhayal, sementara simpanse tidak?

Oke, memang betul, Enzim penyusun simpanse berbeda jauh dengan manusia, tetapi kalau kita membandingkan makhluk yang enzim penyusunnya paling mirip dengan manusia, kita akan memandang diri kita lebih rendah lagi. (Makhluk dengan enzim penyusun paling mirip dengan manusia, mencapai 92% kesamaannya adalah… Babi.)

Untuk orang yang bingung, kita anggap saja bahwa enzim penyusun adalah bahan bangunan, sementara kode genetika adalah struktur yang dibangun.

Simpanse merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan kayu, Manusia merupakan rumah berbentuk kotak yang dibuat dengan batu, sementara Babi merupakan rumah berbentuk bulat yang dibuat dengan batu. Bahan penyusun sama, dibentuk secara berbeda dalam kasus Babi, bahan penyusun beda, dirancang secara sama dalam kasus simpanse.

Jadi, sekedar 2% dari kode genetika dan 8% dari enzim penyusun yang membentuk manusia menjadi faktor yang sangat penting. Kenapa kita pintar, sedangkan simpanse dan babi tidak sepintar kita? (oke, sejujurnya kalau membaca komentar orang di situs-situs di Internet, aku khawatir simpanse lebih pintar dari kita, tapi anda mengerti maksudku)

Rahang, Otak, dan Telinga.

2% kode genetika tersebut lebih dari cukup untuk mengubah bentuk rahang, telinga, dan punggung. Hanya sekedar dua persen saja membuat kita pintar, karena dua persen tersebut adalah dua persen yang mengubah hal-hal yang tepat.

Rahang kita masuk lebih dalam, telinga kita dapat mengatur keseimbangan, dan punggung kita tegak.

Kubahas satu-satu.

Rahang

Ukuran rahang yang semakin dalam memberikan kepala yang ukurannya umum sama dengan primate lainnya, untuk memberikan tengkorak yang lebih besar. Tengkorak yang lebih besar, berarti ukuran otak yang bisa disimpan dalam tengkorak tersebut, lebih besar juga.

Tanpa kehilangan fungsi penting dari rahang untuk mengunyah daging serta sayuran, kita memiliki otak yang cukup besar untuk memproses informasi yang kompleks.

Dengan kehilangan gigi tonggos dan rahang maju, kita telah membuat diri kita sebagai manusia yang lebih intelijen

*OUT OF TOPIC: Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika manusia diberikan waktu untuk evolusi lebih lanjut, mungkin kita akan seperti professor X tetapi tidak punya mulut, dan mendapat nutrisi dari sumber lain, karena kepala kita terlalu besar untuk menyisakan tempat untuk mulut.

Telinga

Telinga kita berevolusi agar kita punya keseimbangan ketika kita berjalan. Ya. Telinga kita memiliki saluran untuk menjaga keseimbangan di seluruh tubuh.

Bagi orang-orang yang suka bermain game, atau tahu tentang senjata perang, ini alasan Flashbang mampu membuat seseorang bingung parah. Suaranya cukup untuk mengganggu saluran keseimbangan di telinga, dan membuat mereka jatuh sampai saluran tersebut kembali normal.

Ini subjek sensitif bagiku. Kenapa? Aku punya sedikit masalah keseimbangan. Maksudku, aku tidak bisa naik sepeda, aku punya masalah jalan di blok kayu tanpa terjatuh, dan isu kognitif lainnya.

Jadi, ketika aku mendengar bahwa saluran keseimbangan adalah salah satu alasan kita bisa menjadi lebih pintar, aku mengerti jelas kenapa diriku yang kecil punya isu dalam bergerak, dan tidak suka bermain seperti anak-anak lainnya yang tidak diberikan Gadget atau Televisi.

Kembali ke topik lagi. Kita butuh saluran keseimbangan ini untuk turun dari pohon dan tidak lagi perlu tinggal di pohon, dan pindah ke gua, lalu ke rumah. Ketika mulai berburu, kita bisa meninggalkan jejak dan berinteraksi lebih lanjut, dan kita menjadi manusia yang lebih pintar.

Punggung

Sesudah telinga kita mendapat update untuk menjaga keseimbangan. Tulang punggung kita beradaptasi agar tubuh kita lebih kaku, tetapi juga tambah kuat.

Kita memang tidak selentur simpanse, tetapi karena kita mulai bisa berjalan tegak, kelenturan itu tidak lagi dibutuhkan, sehingga kita menjadi lebih kaku, lebih kuat, dan lebih terstruktur.

Stamina kita bertambah, dan kekuatan kita bertambah, karena sekarang, kita punya tubuh yang mampu menahan keseimbangan ketika berjalan dengan tegak, tidak seperti Gorilla, atau Simpanse lagi. Dari sudut pandang fisik murni, tanpa latihan atau semacamnya, manusia sebagai spesies harusnya lebih kuat dari Gorilla dalam kasus berdiri atau bergerak.

Bagaimana kalau berantem? Kamu mau coba sendiri? Silahkan, tetapi aku tidak mau tanggung jawab.

Sebelum mengakhiri dengan beberapa statement di bagian selanjutnya ada klarifikasi terlebih dahulu tentang enzim penyusun, Enzim penyusun irelevan kalau kita membahas intelegensia, karena hal-hal yang diatur enzim adalah hal yang semua makhluk hidup harus miliki, seperti kemampuan bernafas, bergerak, makan, pipis, dan pup.

Perbedaan Etnis

Kalau kita membandingkan perbedaan antara spesies lain, setidaknya kita akan menemukan 2% bukan? Kerabat terdekat Homo sapiens yang sudah pintar seperti kita adalah simpanse, tetapi, berapa banyak perbedaan antara dua ras Homo sapiens?

Perbedaan tersebut hanya mencapai 0.02%. Sebuah perbedaan yang tidak dilihat oleh anak kecil, dan baru dilihat ketika sudah mencapai usia remaja.

Pesan untuk guru-guru TK dan SD: Jika anak-anak memilih-milih teman, tolong salahkan orangtua mereka. Secara genetik DAN evolusioner, mereka tidak mungkin memilih-milih teman.

Lalu kenapa angka intoleransi meningkat secara drastis?

Prof. Djoko menggunakan kata yang ia berikan disclaimer sebagai kata yang “kasar” yaitu cuci otak.

Prof. Djoko bukan ahli dalam bidang perbedaan budaya, itu diluar ranah biologi miliknya, namun ia yakin bahwa jika ada perbedaan etnis, atau ras, manusia tidak akan melihatnya kecuali ada yang menunjukkan hal tersebut. Ia tahu bahwa manusia melihat perbedaan secara budaya, bukan secara etnis.

Mulai dari paragraf ini, kata-kata di sini aku tambahkan sendiri ya, tidak ada kata dari Prof. Djoko atau Pak Hendra sebagai koordinator kuliah umum Sains ini. Aku menanggung semua kata-kata sesudah paragraf ini. (Oh iya, mengenai struktur enzim yang mirip dengan babi juga aku mengambil tanggung jawab penuh, itu atas riset sendiri)

Ini mungkin alasan partai-partai konservatif biasanya tidak menggunakan perbedaan etnis atau ras sebagai alasan utama mereka menciptakan “Boogeyman”, tetapi mereka menggunakannya sebagai pembeda, dan akhirnya turun dari pembeda tersebut stereotipe berdasarkan ras. Sama seperti yang Trump lakukan dengan Meksiko.

Contoh saja ya. Trump menyatakan bahwa imigran Meksiko merupakan kriminal dan berbahaya bagi negara Amerika. Ini merupakan tuduhan budaya, bukan tuduhan ras. Trump lalu menyatakan bahwa ia harus melindungi Amerika dari isu ini. Ini juga merupakan tuduhan budaya. Pendukungnya menyimpulkan bahwa orang-orang meksiko merupakan orang kriminal. Dari tuduhan budaya tersebut, muncullah tuduhan ras, sesudah ada kesadaran akan perbedaan budaya.

Permainan ini merupakan hal yang pintar, dan licik, karena orang yang memercik api pertama tidak berusaha untuk menyalahkan ras, tetapi menyalahkan tindakan yang dilakukan, dan menggantungkan penyalahan ras-nya oleh pendukung atau penerima informasi.

Jadi, apa pendapat anda tentang ini? Selamat merenung dan berpikir…

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Tanggal 4-6 Juli kemarin, Pusat Penelitian Nanosains Nasional (PPNN) mengadakan acara lagi, yang berupa variasi, ke acara Nanoscience for Kids 2 tahun yang lalu… Aku sudah pernah mengikuti acara Nanoscience for Kids, dan, dikarenakan “kangen” dengan jalan-jalan dan praktikum di lab, aku memutuskan untuk ikut lagi!

Kali ini, acaranya disebut Nanoteens dikarenakan temanya lebih cocok untuk remaja. Tema ini juga disertai slogan, “Tampil menarik dengan Nanoteknologi”. Temanya kurang lebih kosmetik dan produk-produk yang menggunakan Nanosains. Betul saja, dikarenakan tema kosmetik ini, rasio perempuan banding laki-laki mencapai 2 : 1. Dari 18 perserta, ada 12 perempuan, dan 6 laki-laki.

Jadi, langsung saja kita mulai laporannya! Formatnya akan dibuat sedikit berdasarkan waktu…

Registrasi (8.30-9.00)

Suasana ruangan di kala masih sepi…

Ini mungkin salah satu bagian dimana aku paling sebal sepanjang ketiga hari dalam rangkaian acara Nanosains ini. Kenapa aku sebal dengan registrasi?

Bukan registrasinya, tetapi apa yang terjadi dalam 30 menit diantara pembukaan dan registrasi.

Sebenarnya proses registrasi berjalan lancar, tidak ada apa-apa yang salah, aku juga senang dengan bertemu teteh-teteh dan kakak-kakak yang masih ingat aku dari 2 tahun yang lalu. Tas, notebook, dan polo shirt kuambil juga sesudah memberikan tandatangan dan registrasi ulang.

Tetapi, aku mulai sebal begitu masuk dalam ruangan. Semua orang memegang handphone.

Ya, semua orang, baik SMP, atau SMA, sedang memegang HP mereka masing-masing. Jujur, aku sudah move on dari orang-orang yang memutuskan duduk di belakang atau ketiga dari depan sebuah ruangan karena takut ditegur, atau ditanya-tanya. Ya sudah, itu hak mereka. Tetapi, sayangnya, aku belum (UHUK, tidak akan pernah, UHUK) bisa berdamai jika melihat sekitar 13 pasang mata terkunci dalam layarnya masing-masing.

Dan ya, dikarnekan kepo, aku memutuskan untuk berjalan dua kali mengitari ruangan dan mengecek apa yang sedang mereka lakukan. Kurang lebih ini yang aku dapatkan.

  • Baca artikel tentang hukum-hukum aerodinamika. (Good Job!)
  • Menggunakan kamera selfie HP sebagai cermin… :'(
  • Scrolling Instagram, entah follow akun apa saja… 🙄
  • Story diri sendiri… *facepalm*

Ya, sudahlah, setidaknya aku berpikir bahwa mereka mungkin masih belum cukup akrab untuk mau berkenalan. Who can blame them? (Uhuk, tiap coffee break dan lunch break juga mereka tetap pegang HP sih, kecuali beberapa orang yang mengajakku ngobrol mau gimana lagi kayanya…)

Tetapi, akhirnya ada pembukaan dari Professor Adhitya Gandaryus Saputro. Mirip-mirip dengan pembukaan tahun lalu, membahas nanosains, dan jika aku ingin meringkas pembukaannya…

“Nanosains adalah sains yang bergerak dalam benda-benda berukuran sangat kecil. Perubahan yang terjadi pada dunia Nano biasanya tidak tampak, dan memberikan kesan insignifikan… Ya iya, orang gak kelihatan. Tetapi jika dimanfaatkan dengan benar, perubahan dalam skala nano akan berpengaruh dalam kehidupan kita sendiri-sendiri. Seperti misalnya Hydrophobia, Hydrophilia. Itu alasan menurutku Nanosains adalah ilmu yang sangat penting untuk dipelajari, meskipun kecil sekali perubahannya, hasilnya signifikan”

Sesudah memberikan penjelasan sedikit tentang Nanosains, Professor Adhitya memberikan sedikit preview ke apa saja yang akan kita lakukan. Seperti misalnya, hands on membuat sesuatu, lab tour, dan juga demonstrasi.

Kuliah Pengenalan (9.00-10.30)
Prof. Bambang Sunendar

Sesi pertama… Berdasarkan opini yang aku dapatkan dari teman-temanku, ini sesi paling membosankan menurut mereka. (oke, iya, aku juga menganggap ini lebih membosankan dari 2 tahun yang lalu.)

Professor Bambang Sunendar memberikan penjelasan mengenai Nanosains, baik definisinya, penerapannya, sejarah mendetilnya, bagaimana bisa dimanfaatkan di benda sehari-hari… Et cetera.

Professor Bambang, sama seperti tahun lalu berangkat dari pemahaman bahwa, uniknya, semakin kecil teknologi, semakin efisien dan signifikan pengaruhnya. Selain itu, Professor Bambang juga memberikan penjelasan mengenai Nanobiologi, cara memanipulasinya, Nanobots, bagaimana ia bisa membangun diri sendirinya dengan mudah, serta juga sedikit insight mengenai seberapa signifikan pengaruh nanosains dalam dunia nyata.

Tetapi, aku ingin sedikit mengkritisi analogi yang digunakan Professor Bambang menjelaskan dan menggunakan analogi untuk signifikannya ukuran Nano dalam kehidupan sehari-hari. Professor Bambang menyebutkan sebuah zat yang katanya merupakan bensin bekerjanya seorang manusia. Ia menanyakan ke semua peserta bahwa zat inilah yang membuat kita berjalan, hidup dan pintar, dan ini alasan orangtua kita memaksa kita makan makanan yang sehat.

Banyak kata-kata yang tidak bisa didengar dari ruangan, hanya berupa bisikan. Ada yang bilang “Zat Besi”, “Oksigen”, “Vitamin” dan seterusnya. (Aku memutuskan untuk diam, padahal aku yakin yang Professor maksud adalah Protein) Terus, sekitar 3 menit pengulangan fakta, Professor Bambang menyebutkan kalimat seperti ini. “Kalau kalian kekurangan zat ini, bisa bisa kalian autis, atau gak bodoh. Makanya zat ini penting sekali. Masa kalian gak tahu sih?” Sejujurnya, kurasa ini sedikit menyinggung dan kurang professional. Mohon maaf jika opiniku juga menyinggung.

Kuliah ini dilanjutkan dengan Professor Bambang menjelaskan fenomena penting yang melibatkan Nanosains, baik itu natural, tidak sengaja, atau memang sengaja diciptakan manusia.

Statement ini ditambahkan dengan Professor Bambang bilang bahwa “Untuk belajar Nanosains, tidak akan bisa hanya belajar fisika, kimia, atau biologi, harus belajar ketiganya. Tetapi, jika ingin lebih spesifik, baru bisa belajar sesuatu seperti misalnya, Nanobiologi, Nanokimia, dan lain-lain.”

Dari sini, muncul bagian paling menarik di kuliah Professor Bambang…

Sedang ada riset untuk menggunakan ulang sampah kepiting, jagung, dan pisang untuk bahan-bahan lain. Seperti misalnya, bahan bakar, sel pengganti, dan lain-lain! Ini sangat menarik untukku, karena aku doyan makan kepiting, dan ternyata ada 800 ribu ton sampah kepiting tiap tahunnya.

Sayangnya waktu sedikit habis, jadi professor Bambang sedikit flash forward. Dan langsung menyimpulkan.

Sejujurnya, aku tidak menangkap 100% kuliah 90 menit dari Professor Bambang ini. (Psikologi menyatakan bahwa kita ujung-ujungnya akan mengingat hanya 25% dari seluruh informasi yang otak kita terima) Tetapi amat disayangkan bahwa Professor Bambang memberikan sedikit kesan negatif pada tengah kuliah.

Secara keseluruhan, jika aku ingin membandingkan kuliah Professor Bambang di Nanoscience dan Nanoteens, kurasa Nanoscience for Kids lebih sukses dalam membuat kuliah pengenalan yang lebih mudah dimengerti, dan lebih terstruktur. Sayangnya, Nanoteens yang memang lebih condong ke aplikasi dan penerapan, tidak bisa keep up dengan pengenalan ke Nanosains yang lebih detil dan lebih luas jangkauannya, seperti di Nanoscience for Kids.

Aku sendiri sedikit bingung jika ingin memberikan sebuah kuliah mengenai sains yang kompleks ini ke anak SMA. Bukan hanya itu, hanya ada waktu 90 menit, dan kemungkinan membuat mereka merasa bosan sangat tinggi. Sekarang tantangannya bertambah, harus lebih spesifik ke penerapan, dan bukan hanya teori.

Kurasa penggunaan video juga menarik dan cocok untuk ini, sayangnya dalam kuliah pengenalan kali ini, tidak ada video yang ditunjukkan.

Nanokosmetik 10.45-12.00
Teteh Atsarina Larasati Anindya

Teh Laras memberikan materi berikutnya sebelum kita makan siang. Kali ini, temanya bukan penerapan nanosains secara luas, melainkan penerapan nanosains spesifik ke bidang kosmetik, dan hanya bidang kosmetik saja.

Pertama-tama, Nanokosmetik adalah kosmetik yang menggunakan teknologi Nano…

Oke, oke… Pernah melihat iklan produk make-up menggunakan emas, atau pasta gigi yang menggunakan arang? Atau mungkin yoghurt Sour (nama cewe) yang menggunakan Charcoal?

Jadi begini, pada dasarnya, semua produk diatas menggunakan nanoteknologi.

Semua nanoteknologi dalam kosmetik, menggunakan carrier untuk membawa alat yang bisa membawa benefitnya secara aman. Pada dasarnya, banyak zat yang sering digunakan dalam Nanokosmetik, seperti…

  • Emas. Emas bisa berubah warna, sesuai dengan nama Latin Emas yaitu Aurum, yang berarti Rainbow Metal. Dengan alterasi kimia yang tepat dan carrier yang pelan dalam memberikan paketnya, Emas bisa merubah warnanya, serta memberikan “glimmer” yang bagus. Sebuah cat rambut Nano dari Jepang dapat berubah warna tiap harinya, jika kita menyemprotnya dengan zat yang sudah disediakan sepaket dengan membelinya. Dan sekarang aku ingat kenapa orang Jepang suka membuat banyak fashion statement.
  • Perak. Seperti di mitologi Eropa, Perak dinyatakan bisa membunuh bakteri yang buruk. (iya, di mitologi dipakai untuk membunuh Lycanthrope, atau Werewolf) Biasanya perak ditemukan di pasta gigi, yang katanya lebih efektif dalam membersihkan suatu zat.
  • Silica. Silica adalah bahan pembuat kaca. Biasanya, Silica digunakan untuk bedak agar memberikan efek berkilau dan mengilap. Silica juga adalah bahan paling sering dibawa dalam nanokosmetik.

Masih banyak lagi, tetapi aku akan membahas sesuatu yang lebih penting lagi (dalam kacamataku). Carrier Nano. Ada banyak jenis Nanocarrier, banyak fungsi, dan banyak bentuk. Aku paling mengingat Carbon Nanotube, dan juga liposome, tetapi juga ada banyak lagi.

Pada dasarnya, Nanocarrier ini adalah Mang Gofood yang mengantarkan Makanan (seperti Emas, Perak, dan Silica di atas). Nanocarrier ini memastikan paket yang berupa unsur, atau zat yang penting bisa sampai tepat tujuan, serta juga memastikan bahwa paket itu tidak tercecer dengan berantakan, dan semua bagian yang membutuhkan si paket mendapatkannya.

Nanocarrier membuat objek beberapa kali lipat lebih efisien.

Eh, tetapi ingat ya, semakin mahal zat dan efisiensinya, harganya juga makin… wah… :O

Sebuah tube kecil nanokosmetik sejumlah 30ml berharga 450 dollar karena menggunakan emas dan platina. Harga per mililiternya seharga, 15 dollar… o_O

Teh Laras juga membahas beberapa banyak hal mengenai teknisnya menguji Nanokosmetik, serta Health Risk dari beberapa Nanokosmetik, dan cara kita mencermati nanokosmetik yang riskan dan lebih banyak menghasilkan pengaruh negatif dibanding positif.

Presentasi diakhiri dengan sebuah foto Syahrini (yang katanya dipilih karena dia menggunakan banyak sekali nanokosmetik) dan reminder untuk pintar memilih kosmetik.

Sesudah itu, kita makan siang dengan (restoran hanya akan disebut inisialnya saja biar tidak iklan) McD, dan aku yang ingin melihat pameran ITB di Aula Timur pergi ke situ, dan juga sholat di masjid salman, karena sudah sekalian ke depan 😉 (oke, aku juga sholat disitu buat minum teh, tapi tetep sholat di masjid)

Membuat Sabun (13.00-14.30)
Teh Sri Ayu

Sabun! Kita membuat Sabun!

Fast forward 2 hari. Aku melupakan nama satu bahan yang sangat krusial dan aku dimarahin sama Bubi. Nasib. Untungnya aku menemukan nama bahan tersebut!

Sesudah makan siang, kita diberikan Jas Lab, dan dibagi kelompoknya. Aku sekelompok bersama 4 perempuan, dan kita mendapat asisten, atau lebih tepatnya guide, dari Kak Yusuf Yuda, atau boleh dipanggil Kak Ucup…

Jadi, pada dasarnya, membuat sabun itu sangat mudah! Prosesnya diberi contoh oleh Teh Sri Ayu, dengan beberapa bahan yang sudah ditimbang dan tinggal dicampur. Kita juga diberikan handout untuk teori dibalik si sabun, dan juga cara pembuatan, serta alat dan bahan.

Resep yang diberikan setara dengan 1 kali mencetak sabun, dan karena kita diminta membuat 3 batang sabun, rasio dari resep itu dikali tiga.

Bahan yang digunakan adalah…

  • Virgin Coconut Oil, Palm Oil, Olive Oil
  • NaOH padat (Juga diketahui sebagai, Lye Powder)
  • Vitamin C
  • Kopi bubuk untuk pewangi
  • Aquadest untuk melarutkan

Cara membuatnya pun cukup sederhana…

  • Campur VCO, Palm Oil, dan Olive Oil sesuai resep yang diikuti (perbedaan rasio berarti perbedaan tekstur dan mudahnya larut)
  • Larutkan ke dalam Beaker Glass dan aduk menggunakan stirrer. Panaskan sampai 40-50 derajat celsius.
  • Masukkan Vitamin C 0.1 gram, NaOH sesuai rasio dan resep, dan Kopi bubuk 0.01 gram ke dalam beaker glass. Biarkan teraduk sebentar.
  • Aduk, aduk, dan aduk sampai warna menjadi keputihan.
  • Cetak ke dalam cetakan!
  • Tunggu memadat, sekitar 18-24 jam. Keluarkan dari cetakan sesudah memadat
  • 2 minggu sesudah padat, sabun bisa digunakan.

Jika ada yang menanyakan ke aku, apa bagian paling sulit dalam membuat sabun DIY… Jawabannya adalah menimbang.

Aku sedang memasukkan VCO ke dalam timbangan… dan karena harus presisi, kita meneteskan sedikit, dan sedikit, dan sedikit sampai akhirnya jumlah tercukupi.

Itu tidak rumit, hanya butuh finesse dan ketelitian… Sayangnya aku tidak punya keduanya. Untungnya, tidak ada hal buruk terjadi! (belum)

Sekarang, hanya akan ada foto, karena beneran, membuat sabun itu sangat mudah

Mungkin stirrer tidak terlihat dengan jelas, tetapi, ada sebuah pil yang berputar karena elektromagnetisme di bawahnya. Jadi, sekarang, kita tidak perlu mengaduk manual! Hore!

Mesin dibawahnya disebut, (ya, captain obvious kembali…) Electromagnetic Stirrer.

Sesudah diaduk, tinggal dicetak, dan tinggal ditunggu padat! Hasil jadi akan ada di post yang akan kukeluarkan besok, karena ini baru laporan Day 1.

Masker Kaolin Clay (15.00-16.30)
Teh Sri Ayu

Sekali lagi, sesudah sholat ashar dan juga coffee break (FYI, aku juga comot beberapa hal untuk dibawa dan dikonsumsi di Hotel) praktikum kembali dimulai. Kali ini membuat masker dari Kaolin Clay, yang katanya bisa digunakan untuk mengencangkan kulit dan membuat seseorang awet muda. Aku dan mukaku yang boros ini mungkin malah jadi awet tua kalau pakai ini. Eh curcol detected.

Kaolin Clay juga diketahui dengan nama Aluminum Oksida, atau AlO2, tetapi yang berasal dan terkena hawa dingin dari pegunungan di China.

Dan sekali lagi, proses pembuatan masker ternyata juga cukup sederhana, berikut bahan, disusul dengan cara pembuatan.

  • Kaolin Clay
  • Vitamin C
  • Oatmeal
  • Pewarna Kosmetik

Maskernya berbentuk bubuk, dan cara membuatnya hanya dengan menumbuk dan mencampur.

  • Timbang 0.03 gram Vitamin C, 15 gram Kaolin Clay, dan 5 gram Oatmeal.
  • Masukkan Vitamin C dalam tempat penumbukkan (alu, jika aku tidak salah), berikan pewarna.
  • Masukkan Kaolin Clay, dan Oatmeal.
  • Tumbuk, tumbuk, tumbuk, dan tumbuk sampai menjadi bubuk.

Sudah, ternyata untuk membuat bonding level Nano cukup dengan menumbuk!

Tetapi, disinilah saat kelompokku membuat kesalahan.

Pertama-tama, pewarna hanya diberikan ke Vitamin C sebagai indikator bahwa, jika Kaolin Clay dan Oatmeal sudah menjadi warna biru, (atau setidaknya ada titik-titik biru) maka masker sudah tercampur. Nah, kita memasukkan vitamin C ke tempat Kaolin Clay dan Oatmeal sebelum diwarnai… Jadi, sekarang, maskernya sudah jadi, tapi kita tidak tahu seberapa tertumbuk hasil masker bubuk kita… ^^’

Selain itu, karena kita sudah tanggung mencampur Oatmeal dan Vitamin C, saat kita memasukkan Kaolin Clay, ada sedikit yang tumpah, jadi kita semua harus bersih-bersih, dan memastikan rasionya masih cukup.Untungnya, ini bukan praktikum yang resmi, atau yang dinilai, dan untungnya lagi, kita masih belajar. Jadi, mari kita lihat foto saja ya!

Kalau Bubi yang lihat foto ini mungkin reaksinya, “Azriel mah mana kuat numbuk, gak ada tenaganya.” Untungnya hasilnya tampak cukup tertumbuk kok… Lihat saja.

Hasil sesudah aku menumbuk 3 menit. Masih sedikit bertekstur, tetapi lebih rata.

Ya, setidaknya maskernya sudah bisa dipakai sesudah menumbuk 10-15 menit.

Tanganku sangat lelah beres menumbuk. Bahkan menulis 2250 kata pun tidak selelah menumbuk 15 menit.

Untungnya, aktivitas hari itu beres, dan aku kembali ke hotel!

Malam…

Hotel Neo di Dipatiukur, sesudah pulang malam, beres menonton Ant-man, kamarku.

Roommate ku sedang bermain dengan teman-temannya di kamar lain. Jadi, aku makan malam sesudah Ant-Man sendiri, dan langsung tidur.

Sabuk adalah hiasan, sengaja ditaroh disitu biar orang-orang bisa fokus ke satu objek.

Hari ini sudah beres, sampai besok!

Akun Instagram: Sir Isaac Newton

Akun Instagram: Sir Isaac Newton

Serial baru lagi! Horeee!

Pernah membayangkan kalau orang-orang di zaman dahulu kala punya yang namanya Instagram? Kayanya lucu ya kalau orang-orang dengan nama sebesar Julius Caesar, Alexander The Great, Isaac Newton, Rene Descartes, William Shakespeare dan sebagainya… punya yang namanya Instagram. Serial ini akan mengupas secara historikal (dengan cara yang lucu tentunya), beberapa hal-hal yang sebuah tokoh pernah lakukan, dan kira-kira gimana kalau mereka punya akun Instagram. Apa yang akan mereka masukkan dalam story, atau apa yang mereka pernah post, dan tentunya banyak lagi.

Bagaimanapun juga, selamat menikmati! Tokoh hari ini adalah Isaac Newton. Dan sejujurnya, dengan adanya Instagram, (kalau mereka aktif), banyak hal yang dulunya tampak seperti sebuah rahasia, menjadi sesuatu yang diketahui umum.

Background

Serial ini dimulai disaat aku melihat Bubi, yang menurutku gak ada kerjaan, membuat sebuah posting di Story-nya, yang berupa Bubi menuangkan coklat ke sebuah gelas berisi Es dan susu. Mungkin follower Bubi relatif banyak, mencapai level 2500++, namun… tetap saja… Ini membingungkan.

Kenapa bisa ada orang yang punya image bagus, dan terkadang keren mau meluangkan waktu sekitar 5 menitan untuk membuat sebuah jejak di dunia Internet, yang akan hilang dalam 24 jam? Itu sungguh membingungkan.

Jadi, aku memutuskan untuk mencari tahu alasannya dengan “berkenalan” dengan sebuah tokoh, secara cukup dekat, dan berasumsi, apa yang akan ada di riwayat post, story, dan mungkin juga deskripsi (atau apalah istilahnya) akun instagram tersebut.

Mungkin cukup basa basinya, jadi mari kita masuk ke akun Instagram milik Newton!

Deskripsi Akun

Catatan: Newton seseorang yang berasal dari Inggris, tetapi ini akan ditulis di Bahasa Indonesia, alias ditranslasi

Followers: 20k / Posts: 314 (diatur agar pas, sesuai ke jumlah Pi) / Following 32

Professor Lucasian sejak tahun 1669
Membuktikan banyak sekali hal
Seperti gravitasi, fluxion, dan teori binomial
Datang  ke Universitas Cambridge dan dengarkan kuliahku…
Setiap Rabu dan Jumat, sepanjang hari, tanyakan lokasi ke resepsionis.

Segitu saja deskripsi akun Newton.

Oh tentunya, Newton mendapat beberapa hater yang memberikan komentar kejam atau mungkin, gak sopan di beberapa post miliknya, seperti Robert Hooke dan Gottfried Leibniz.

Beberapa Post Miliknya…

Berikut ini adalah beberapa post milik Newton, lengkap dengan caption. Ada beberapa yang lucu (setidaknya mungkin menurutnya lucu), meski dia bukan orang yang terlalu humoris, tapi sebagian besar post miliknya serius, dan beberapa bahkan bertujuan menyindir beberapa saingannya.

Ruang Kuliah Kosong

ZZZZZZZ… Sepertinya beginilah nasib professor Lucasian kalian… Terpaksa memberi kuliah… ke ruangan kosong. Tapi tentunya meski itu sudah kupasang di deskripsi akun, siapa yang peduli? Tentunya kalian hanya mau hasil jadinya saja

Siapa yang peduli tentang proses menarik dalam mendapatkan Theorem Binomial? Gak, tentunya orang-orang hanya ingin lihat Theorem Binomialnya saja sesudah jadi.

Ruangan kuliah kosong seperti ini mengingatkanku pada teman sekelasku dahulu ketika aku serius kuliah. Di saat saya, belajar 24/7, semua “teman-temanku” malahan membuang waktu berpesta pora.

Ini menciptakan perbedaan saat lulus, dimana aku sukses menemukan gradien, fluxion, dan juga teori Binomial dalam 6 bulan, teman-temanku mungkin kembali pulang, atau bahkan tidak lulus.

Tapi ya tentunya, siapa yang peduli sama kuliahku yang dibilang memusingkan ini…

#lucasianprofessor #kuliahkosong #muridtidakniat

Likes: 20

Top Comments:

  • (Nama Disensor): EH! Itu aku lho yang ketiduran! Kenapa gak di tag ya sama Professor?
  • G.Leibniz: Newton, istilahnya bukan Fluxion! Ketika kamu jelas-jelas mencontek pekerjaanku, telan saja, sebut itu Calculus.
    • Replying to G.Leibniz: Kamu telat 15 tahun Leibniz… Lihat catatanku!

Post ini tidak terlalu terkenal. Aku pun bingung ada apa dengan Newton ketika ia menulis caption seperti itu, apakah mungkin dia bercanda garing? Entah…

Prisma Cahaya

Tentunya, siapapun yang menggambar ini perlu mendapat pujian.

Pada eksperimen itu, aku memutuskan untuk memecah cahaya menggunakan sebuah Prisma. Cahaya itu menjadi pecah, mengembang ke 7 warna berbeda. Jika kau disana kau akan melihat seberapa indahnya cahaya yang pecah itu.

Lucunya dua minggu sebelum aku menggunakan prisma itu aku menggunakan tongkat dan mencolok kedua mataku, dengan harapan aku bisa melihat warna yang tembus melalui mata seorang manusia.

Tetapi yang aku dapatkan hanyalah 7 warna dan itu hampir membuatku buta. Setidaknya aku melihat ketujuh warna itu sebelum aku tidak melihat apa-apa kecuali hitam dalam 14 hari kedepan, lol!

#cahaya #prisma #pelangi #dikakipelangi

Likes: 47

Top Comments:

  • (Unknown): Waw, professor kita nekat, colok-colok mata
  • RobertHooke: ISAAC! Aku ingat persis bahwa kamu bilang bahwa cahaya adalah sebuah partikel ketika kamu bilang bahwa tidak ada yang namanya Eter. Mungkin kamu benar, tetapi Cahaya adalah sebuah gelombang!
    • Replying to RobertHooke: Hooke. Eter emang tidak ada, dan jangan berani-beraninya kamu bilang bahwa cahaya adalah gelombang tanpa bukti. Aku tahu bahwa aku juga tidak menyatakan bukti apa-apa ketika aku bilang bahwa cahaya adalah partikel, tetapi setidaknya aku pernah melakukan suatu eksperimen.
    • Replying to IsaacNewton: Aku belum pernah melakukan suatu eksperimen? Hah? Mikroskop tuh aku yang bikin tahu!
    • Replying to RobertHooke: -_-” Oke, tetapi ini eksperimen dalam memecah cahaya, bukan memfokuskannya.
    • Replying to IsaacNewton: AHA! Kamu mulai bikin alasan!

Pada balasan Hooke ke 3, Newton mulai malas meladeni dia, dan suatu titik lain dalam hidupnya ia mempermalukan Robert Hooke. Post ini juga sama gak terlalu terkenal, karena sebenarnya ketika orang ingin memberikan like, berikutnya kamu akan mulai merasa… aneh ketika seseorang bilang ke umum bahwa dia mencolok matanya tanpa alasan jelas.

Teori Binomial

Di atas ini adalah sebuah coretan membahas teori ciptaanku.

Sejujurnya ini tidak salah, tetapi HA! Harusnya kamu tahu bahwa ketika aku mulai menulis Binomial Theorem… lebih dari 20 papan tulis kupakai di rumahku di Woolthorpe. Untungnya selama berhari-hari aku bekerja, ibuku tidak menegurku.

#teoribinomial #numbers #desimal

Likes: 1000++

Top Comments: –

Tidak banyak komentar menarik di post ini, hanya ada banyak like, dan lain-lain… Tetapi Isaac Newton sukses memancing like yang tidak terlalu banyak dengan sebuah penjelasan singkat mengenai Theorem Binomial yang tidak dipenuhi dengan ejekan, atau sindiran ke siapa-siapa. Hidup netral itu baik.

Tetapi sesudah ini, ada post lain yang menarik…

CATATAN: Ketahui bahwa seandainya ada Instagram di zaman Newton, post ini sebenarnya tidak mungkin dia buat kecuali buku itu ia keluarkan sebelum ia meninggal, karena menurut penanggalannya, buku itu keluar 1736, sekitar 9 tahun sesudah Newton meninggal.

@G.Leibniz

Kamu masih mau berani-beraninya bilang bahwa “Calculus” yang sekarang terkenal itu ciptaanmu? Mungkin kamu beruntung karena kamu menerbitkan pekerjaanmu sebelum aku, jadi orang-orang lebih mengingat Calculus daripada Fluxion. Tapi jangan sedetikpun mengira bahwa kamu yang menemukan dan menciptakan Calculus-mu itu.

AKU menemukan metode itu! Dan jika kamu memang seberani itu, silahkan berikan aku pertanyaan apapun mengenai metode buatanmu itu, termasuk yang kamu belum bisa jawab! Dan akan aku selesaikan.

#Calculus #rivalry #calculusitugampang #fluxion

CATATAN 2: Satu hal lagi, Newton juga punya banyak catatan yang ia tidak terbitkan mengenai banyaknya pengunaan dan metode Calculus.

Likes: 500-600-an

Top Comments:

  • G.Leibniz: Cek! Sekarang juga! Dalam inboxmu sudah aku kirimkan sebuah puzzle yang seluruh matematikawan Jerman, dan bahkan satu Eropa berusaha pecahkan mengenai Calculus, dan jika kamu memang menciptakan itu… Aku tak akan menolak fakta bahwa kamu menciptakan Calculus.
    • In reply to G.Leibniz: Sudah beres. 12 jam
  • (Unknown): Mr. Newton! Kumohon, ciptaanmu ini telah membuat puluhan temanku menyesal ia mempelajari matematika! Kenapa ini susah banget!

Apel!

Ini adalah post kedua terakhir yang aku tunjukkan disini dari Newton, dan sejujurnya, ini post miliknya yang paling populer.

20 tahun yang lalu, sebelum aku menjadi Lucasian Professor aku mengingat sebuah pagi sejuk dimana aku duduk di bawah sebuah pohon yang sangat dicintai oleh Ibuku. Di kebun milik keluarga Newton, Alice, si pohon apel sudah memberikanku tempat teduh seperti biasanya.

Tetapi hari itu, aku mendapat sebuah gagasan baru. Di bawah rumput yang lembab sehabis hujan kemarin itu, Alice menjatuhkan sebuah Apel.

Pada umumnya, apa yang akan anda pikirkan ketika ada apel yang jatuh ke kepalamu? Begitu Alice menjatuhkan apel itu ke kepalaku, aku memirkan banyak gagasan yang pendek, tetapi instan.

“Mengapa apel ini jatuh?” Aku bertanya… “Semua benda jatuh ke Bumi…” Tentunya, ini suatu hal yang pasti, tetapi… “Mengapa benda bisa terjatuh?”. Ketahuilah bahwa semakin banyak kamu bertanya semakin banyak jawaban yang dapat kamu temukan. “Pasti, ada sesuatu yang menariknya ke Bumi!” Dari situ, segalanya menjadi lebih jelas… Dari semua catatanku dan pekerjaanku kau akan tahu tentunya…

Apa yang kamu pikirkan jika kepalamu terkena apel? #apaapelmu

#apeljatuh #gravitas #alicetree

Likes: 5000++

Top Comments:

  • (Unknown): Aku akan memakan apel itu kalau itu jatuh!
  • Fatio.Duillier: Professor, aku masih saja mengagumi dirimu sampai hari ini. Terima kasih atas semua ajaran dan bimbinganmu selama ini.
  • J.Locke: Pekerjaanmu sangat mengagumkan, dan kurasa dengan aksesku untuk menerbitkan buku, segalanya akan lebih mudah untuk membuatmu makin terkenal.
    • Replying J.Locke: Japri aku! Aku sudah punya banyak tulisan untuk diterbitkan!

Dan masih banyak lagi… Tetapi itu terima kasih ke John Locke buku miliknya, Principia dapat diterbitkan di luar Inggris. Seluruh Eropa dapat menikmati Principia (entar akan ada info lebih lengkap nanti), sesudah kerjasama Locke-Newton ini.

FYI: riwayat hidup Newton baru ada sesudah diterbitkan suami keponakannya…

Principia

Philosophie Naturalis Principia Mathematica.

Buku ini merupakan buku yang berisi kompilasi seluruh pekerjaanku selama 20 tahun terakhir. Di dalamnya ada banyak hal yang membahas Gravitasi, dan sebenarnya seluruh buku ini membahas gaya dan gerakan dengan cara yang orang-orang belum pernah pikirkan sebelumnya.

Aku juga menuliskan 3 hukum fundamental mengenai Fisika di sini, tentunya ini sangat menarik, dan kurasa dia sudah cukup sederhana untuk dimengerti orang-orang seperti @RobertHooke.

Tetapi, mungkin belum tentu juga…

Bagaimanapun juga, buku ini dapat dibeli dan ditemukan di beberapa perpustakaan terbesar di Inggris, serta toko buku pada umumnya.

CATATAN: Ah, Newton, sangat-sangat sopan dan tidak memprovokasi.

Likes: 2000++

Top Comments:

  • RobertHooke: Tulisanmu ini tidak ada artinya sama sekali, dia hanya berisi sampah, dan juga banyak lubang di teorinya! Aku yakin aku bisa menulis yang ratusan kali lebih baik lagi dari ini!
    • In reply to RobertHooke: Huh… Baiklah, lihat dalam beberapa tahun kedepan ketika sambungan ke Principia akan kukeluarkan.
    • In reply to IsaacNewton: Mari kita lihat ya! Bukumu itu nanti tiada artinya!
  • J.Locke: Untuk yang tinggal di luar Inggris, bisa membeli buku ini dalam 1 bulan ya! Atau kontak saya untuk Pre Order!
  • Fatio.Duillier: Sekali lagi, sebuah karya yang menginspirasi

Sebuah post yang sekilas hanyalah sebuah promosi, tapi Philosphie Naturalis Principia Mathematica ini cukup penting, dan sampai sekarang pun, Matematikanya banyak yang tidak tergantikan.

Oh dan untuk tanggapan Newton ke Hooke… Ia menulis Principia III, dengan bahasa kompleks dan matematika yang hanya akan bisa dimengerti orang-orang yang membaca Principia I dan II dengan detil. Hooke pun tidak bisa mengkritik Newton yang mungkin ia tidak dapat mengerti bahasa rumitnya, dan matematika bersambungnya itu…

Tepuk tangan untuk Newton!

Kesimpulan

Mungkin jika dibaca dengan sekilas, artikel ini agak membosankan. Tapi nyatanya, ketika kita ingin mengenakan sepatu seorang jenius… Ini yang kita akan dapatkan. Newton itu orang membosankan, provokatif, serta… Sebenarnya dia tidak punya terlalu banyak teman dekat.

Mungkin teman dekat yang ia miliki dibawah 10, hanya Fatio Duillier, Wickins (yang berpisah sesudah Newton lulus kuliah), dan… ada beberapa lagi sih.

Selain itu, Newton juga menarik sangat banyak hater, seperti Gottfried Leibniz, John Locke, dan juga beberapa pengikut mereka. Tetapi kenyataannya Newton itu seseorang yang tentunya sangat menarik… Dan mungkin riwayat post Newton tidak akan jauh berbeda dari yang sudah ada disini

Untuk story, aku yakin Newton bukan orang yang rela meluangkan waktu untuk mengeluarkan Story. Atau mungkin ini alasan… Siapa yang tahu pasti? 😛

Jika artikel ini menarik, terima kasih! Jika artikel ini membosankan, ini Newton, apa yang kau harapkan? (sekali lagi, mungkin ini alasan untuk “Azriel, kamu tidak bisa menulis post IG, main sosmed aja gak. Tetapi, siapa yang tahu pasti?)

Sampai lain waktu!

Oh dan disclaimer di akhir…

Ini hanya prediksi dan perumpamaan dari apa yang SUDAH terjadi. Semua fakta ini nyata, tetapi tidak ditulis seutuhnya dengan cara ini.

Untuk jumlah follower, Newton hanya terkenal di Inggris dan sedikit bagian dari Eropa, jadi sejujurnnya followernya tidak akan sebanyak itu juga. Bagaimanapun juga, Isaac lebih terkenal sesudah ia meninggal, dan matematika kompleks ciptaannya itu menjadi lebih mudah dimengerti. (pada zamannya gravitasi itu kompleks ya)

Appendix

Riwayat hidup Newton diluar matematikanya, ada di sebuah jurnal, atau mungkin memoir tulisannya. Seluruh catatan dan pengerjaan miliknya sudah dibukukan dan diberikan nama, dan siap untuk diterbitkan oleh siapapun yang menemukannya…

Di akhir hidupnya Newton memilih mati tanpa sebuah “blessing” atau berkat dari seorang pendeta.

Seluruh jurnal hidupnya pun ditulis dan dicatat oleh John Conduit, suami dari keponakannya yang mengurus Newton sampai ia meninggal. Kalau itu bukan karena Conduit mungkin Sir Isaac Newton takkan memiliki cerita menarik sebanyak ini.

FUN FACT: Newton mengakhiri hidupnya sebagai seseorang yang memastikan semua koin di Inggris bersih dari pemalsuan.

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

Public Lecture About Ionic Liquids @ ITB

At the 29th of August Jaja joined a public lecture about Ionic Liquids in ITB by Professor Günter Grampp, who is a lecturer from Vienna, Austria. I found out about this public lecture when I was looking for lunch at ITB, because as usual, every Tuesday I join a lecture there. Luckily, I stumbled upon the banner above, and well, I decided to join this public lecture. Note that I didn’t even know what an Ionic Liquid is, until I joined this public lecture, but it’s a fun and interesting lecture, and I asked a question in the end.

The contents of this article will be my thoughts about the things I heard in the lecture, and me breaking it down…

What’s an Ionic Liquid?

By definition, an Ionic Liquid is a salt in liquid form. But, hold on… The chemical term of salt isn’t really what most people think a salt is. A salt in chemical terms is a solid crystal that is broken down. The solid crystal can only be stated as a salt if it is made from an acid, and a base that is usually a solid metal. If the acid reacts with the solid metal, and the reaction becomes a crystal, that crystal is called a salt, chemically speaking of course. Our common table salt is made with the reaction of Sodium for the base and Chloride for the acid. Their reaction would make the Sodium less metal-like and more like a crystal that is usually hammered down and ground onto powder.

That’s a bit off-topic, but some fun knowledge about salt can never be wrong am I right?

Anyways, back onto the lecture, the more chemically accurate term for “salts” are Ionic Compounds, which is the solid form of these liquids. Usually, Ionic Liquids are made by melting these Ionic Compounds that are made the usual way salts are made. But hang on a bit… Some people might ask, does that mean if I have some table salt, and mix it up with some water that is an Ionic Liquid? Well, No, it’s not… That is a mixture, which unlike a compound, that has mixed onto the molecular level, a mixture is mixed outside of the molecular structures, and isn’t forming any new types of chemical properties.

Uses Of Ionic Liquids

These Ionic Liquids are created mainly to be the conductors in batteries. These Ionic Liquids could enhance the ability of conduction in solid things, and are usually used to soak up batteries so they could conduct more optimally. Ionic Liquids could do this because of their higher electrolyte numbers, which are the properties of conductivity in a liquid. If you remember some commercials of electrolyte water, well… You’re basically drinking salt in liquid form, which in a sense might provide you some energy I guess? Don’t take my word for it 😀

Other uses for these Ionic Liquids are to dissolve harmful ingredients, which does interest me since that way, the waste that factories make can easily be dissolved and forgotten, because apparently, these Ionic Liquids can do that, and much more efficiently than our common solvents (solvents are liquids we use to dissolve waste).

Apparently efficient is in terms of liquid usage. Their cost comparison is still pretty far from one another. I couldn’t remember the difference exactly, but if I recall, the cheapest Ionic Liquid still costs 10-100 times more per liter than our common solvent. So, despite Ionic Liquids have efficiency in terms of liquid usage, and is more effective at dissolving waste, as there is no waste left after dissolved, compared to our current solvents which still makes lots of waste, the cost to invest is still not a priority in the eyes of governments and laboratories.

Professor Grumpp Is Explaining The Uses Of Ionic Liquids

Table Of Ionic Liquids..

I couldn’t understand this so much to be honest.. but, here’s a table of Ionic Liquids when compared to our regular solvents and I’ll try to explain it to you, but if you aren’t in the mood of complex thinking, you can skip this paragraph, as it’s pretty complex.

A Table Of Comparation, Professor Grampp used the exact same one

The factors listed and their meanings…

  • Number of Solvents are the efficiency per particle in dissolving forms of toxic waste
  • Applicability is pretty simple as in the functions of the liquid, and Ionic liquids have multiple uses other than dissolving things
  • Catalytic ability is the ability to function as a catalyst in poison absorption
  • Chirality is the symmetry between it’s particles, and the more symmetrical it is, the better the process of absorption and dissolving of objects
  • Vapor pressure is (like it’s name) the ability to counteract pressure from vapourous sources, this means that Ionic liquids are capable of absorbing gaseous wastes, opposed to the organic solvents
  • Flammability is pretty simple, and Ionic Liquids aren’t flammable and won’t detonate when coming to contact with heat
  • Polarity is the differences in area (which leads to separation) on a molecular level. If a molecule isn’t affected by Polarity they are “connected” to one another much more, and would have the same amounts of electromagnetic conductivity in each part of the molecule. (If this is confusing, don’t worry, I googled this first :D)
  • Tuneability is basically the range of liquids available to do this job, and Ionic liquids has a wide variety
  • Cost… well, I’ve mentioned this in the above
  • Recyclability isn’t really a “real” term, but from Professor Grampp’s explanation, it’s basically the “price” we have to pay to recycle the object. Our Organic Solvents will make the ecological side of things worse, while the Ionic Liquids need more investments to recycle
  • Viscosity is the value used to count how well an object would react when “pulled” to a point of stress. The higher the value, the more flexible an object is when they are “stressed”. (yes this is a pun)
  • Density is how dense an object is, the more dense it is, the higher the mass that it has on a smaller area.
  • Refractive Index is how well an object would refract light, this actually points more onto how clear an object is, and how light would react when sent pass the object.

My Question

I asked Professor Grampp this question: “How far do you think we are onto a cost efficient Ionic Liquid?”

Professor Grampp said that the only problem with us reaching cost efficiency with using Ionic Liquids as a solvent is that companies that invest in the making of these liquids are expecting to get their investments paid back. Scientists that make these liquids also expect payment for their work, and whilst it’s not impossible to use Ionic Liquids now it’s just not efficient because some people need to get paid, and unfortunately, the cheaper Ionic Liquids aren’t that different from our current Solvents, therefore, I think if companies finally decide it’s time to invest in the development of cheaper Ionic Liquids, only then we’d reach the point of efficiency.

I’m very satisfied with Professor Grampp’s answer, and I actually like that Professor Grampp used more objective words that isn’t actually blaming companies for their greed, because we do know that money doesn’t come without effort or for free. One day, I wish some company could invest in using some more expensive ingredients to make a more sustainable version of solvents, or anything else really.

Conclusion

Not only am I satisfied with the answers and knowledge provided in Professor Grampp’s lecture and answer, but I also enjoyed listening to his way of presenting the lecture as he did it casually while making jokes. I’m pretty certain that the lecturers I want when I go to college are those that are responsible, but can still lecture casually.

That’d be all from Jaja Azriel today, and thanks for reading!

[Azriel’s Late Post] Aquaporins Nobel Lecture

[Azriel’s Late Post] Aquaporins Nobel Lecture

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Foto Profesor Peter dari Laman Wikipedia beliau

At Wednesday, 22nd March I went to Sabuga because there is a Nobel Lecture from Professor Peter Agre, which is a Nobel winning biochemist. He won the nobel because he discovered Aquaporins, which he explains to be the plumbing system of your cells, more on that later. I registered for this seminar that I was excited for, 2 weeks before the D-Day.

Pre-Event:

Roughly 2 weeks before 22nd March I saw a promotion image for this seminar that I got from the HS Bandung Union group. A father of a friend of mine helped make the website for this seminar. I registered immediately and almost forgot about this event. Luckily I rechecked my images 5 days before this event and remembered its existence.

On the D-Day I was a bit late (30 minutes roughly, okay so not a bit, very late perhaps), and no it doesn’t really matter because I ended up queuing with less wait, because the gate only opened at 8.45 and I arrived at 8.30 with Arsyad, Afra (Arsyad’s older sister), Izzan, and Raka (who shared this event) queuing before me, so I would still end up on the same sitting spot even if I arrived early (These are one of those few moments where arriving late [compared to our expectation, not actual arrival time] is not a big deal). I got the second row because the first row’s central view is full, and I prefer getting a second or even third row that is close to the center.

Event:

Firstly, I got inside Sabuga at 9.00, however the event only started at 9.45. I used this time to Google and pre-search (I made this word; it’s a combination of Pre and Research). After getting a glimpse of Prof. Peter’s work and Aquaporins, a few people came with full uniforms? (Maybe Toga’s would fit too?) And sat on the stage. After listening to the choir standing on the left wing of the stage singing the ITB anthem, with Angklung from the right wing, Prof. Peter with 20-ish lecturers escorting him to the stage. Upon his arrival we sang the Indonesian National Anthem, Indonesia Raya.

After all that formality, there is still more speech before the lecture. ITB’s dean and head of science department gave a speech in English that is unclear due to the speaker blur, and accent from those 2. However I did catch a few words on not giving up at your dreams no matter how large though. The ITB Anthem is played again with angklung as well, and then the seminar starts. It started at 10.30 if I recall precisely.

Finally the lecture started. Prof. Peter starts by stating that water is the liquid of life, and without it, life cannot exist. After that Prof. Peter states that he wont explain about his work, because he said… “You can get that in many websites, so I don’t see any reason for me to explain it here” However he did explain that Aquaporins are the plumbing system of our cells, and closes if something with properties that is  not similar to water, but accelerates the flow of water. Now since he does not explain his work, exactly what did he explain? He explained how did he work to earn that Nobel.

Now like I said, he explained his work. He started by explaining that he was actually not looking into cells when he gathered his team, but he said that you might find what you are not looking for. Now I can’t really get 100% of what he is saying because once more, the speaker is blurry, and he speaks so fast, but I did hear him say that he was looking for diseases in some organ in the first place. When he saw a damaged cell, he took a closer look and he found that this damaged cell was in fact not flowing water as fast as normal cells. After discussion from this discovery, he and his team decided to take a leap of faith and study how cells process water.

After finding the basic plumbing system, he tried to classify it onto detail and he saw how cells in different organs work differently. Once classified, Prof. Peter and his team tries to see these specific parts of some cells and classified them onto Aqp1, Aqp2, and so on,  until Aqp6. 1 week after the discovery and publishing of his work. When he woke up in his lab if I recall precisely he actually sleeps in his lab when he and his team was working above 23.00) with the purpose of locating the disease that he was looking into before jumping onto aquaporins, he received a call from an unknown number and before even getting cleaned up, he heard “Good Morning Professor Agre, congratulations, you just won a Nobel prize, the conference will begin at 1.00 P.M.” (and he shared his reaction which I believe was like… “What?”) that was 10.00 in the morning. So he rushed home and cleaned himself up with some proper clothing and took his family and received the Nobel Prize that night. Upon receiving the Nobel, he actually thought that he has not succeeded because his main purpose of locating the disease is not complete. I think this is very humble, and should be taken example.

He followed with some history of his discovery. He started explaining that some other scientists a few decades before him have indeed known about the fact that water flows through cells faster than other fluids, but no one seems to be able to pinpoint why. He said that these previous theories include water’s unique property interaction with cells, but despite H20 has some unique properties, (such as Water Anomaly) there is no theory strong enough to back this anomaly up, which leads to a theory failure.

After all that is done, he decided that there is still time for him to explain more about Aquaporins. But, the speaker volume is still blurry, so I can only remember and listen, at the function of certain Aquaporins. I can’t remember its precise numbering, but we have Aquaporins on our blood cells, kidney, digestion system, and if I recall even our Brain has some. Prof. Peter also explained that the failure of these blood cells is not lethal, but can make some non-lethal things lethal, such as a common diarrhea can lead to very painful moments, even death. You would also need about twice drinking water values if you happen to have this condition, because waterflow with this condition is just terrible.

After this is done, comes the question session, which I am still slightly annoyed and disappointed until now. However I will still explain some questions that I remembered. Now this session is separated onto 2, one is for students, and the other is for scientists. With 3 people asking as many questions each. I remembered a scientist asking about how much fame Prof. Peter has achieved and has that accomplished his goal of fame. Prof. Peter. answered that he does not need fame, or pictures of him in lots of banners in the U.S. (on his way to Sabuga he saw several banners of his face) he doesn’t even feel like he needed to win that Nobel, as long as he can make people around him happy. He also said that his 2 granddaughters don’t know about the Nobel, but they do know about him being a nice guy and likes to buy ice cream for them. I like Prof. Peter because he is very humble. I cant remember other questions because I am still sad at how I don’t get to ask, but I guess that’s life. Also I was planning to ask, some questions about Aquaporins that I cant remember because I didn’t ask them, and how his team feels about Prof. Peter getting the Nobel.

After the 3rd time of the ITB song being sung, the event has officially ended with all of the lecturers escorting Prof. Peter outside.

Thoughts:
I feel honoured to hear Prof. Peter’s lecture and his humility. I am also amazed at his consistency at working, and just sees an award as a bonus, not a goal. I would actually love to ask, unfortunately I didn’t get a chance to make Prof. Peter remember that 14 year old asking him a question. But its ok, I’ll get my chance to ask in next year’s (or 2-3 years from now) Nobel Lecture.

[Azriel’s Late Post] String Theory Public Lecture

[Azriel’s Late Post] String Theory Public Lecture

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati🙂

Foto Prof. Peter Bouwknegt di Situs Kampusnya

Last Wednesday, I went to ITB to hear a public lecture from Prof. Peter Bouwknegt, who is Dutch but lives in Australia. This lecture is actually about general String Theory which I am already familiar with, but adds some more technicality towards it.

First of all Prof. Peter starts by explaining what String Theory is, its a Theory of everything that unifies gravity, weak nuclear, strong nuclear, and electromagnetism, if proven correct. Our current unification of the universe is a rather simple one, called the standard model, which cannot unify gravity.

String Theory runs on the foundation of belief that particles aren’t stagnant and can make vibrations. To define String Theory, we cannot use the Feynman Diagram. A Feynman Diagram is a path of particles that is only 2 dimensional. To form particles that support String Theory’s 10 dimensional unification, we need a different diagram. A 3 dimensional path is what we need. The shape of this diagram is infinite, and much weirder than a Feynman Diagram, as it is… Okay I cant explain the shape, let this picture explain. The image on the left is the Feynman Diagram, and the String Diagram is the one on the Right.

Prof. Peter also states that String Theory, despite can go to a multi dimensional form, should still be calculated on the basis of single dimensional being. Until string theory is quantified by default, only then multi dimensional basis of our dimensions can be defined. So, until we can define gravity, we can’t think of multi dimensional existence, as String Theory can exist without multiple universe’s existence.

 

 

Honestly this is done. But Prof. Peter did sum up the general idea of String Theory:

  • String Theory is a 3 dimensional moving version onto our current Standard Model
  • The amount of possible string form shapes are Infinite
  • Multidimensional existence is possible, but is not a must
  • Every type of matter can take this form, and weirdly since we don’t know 96% of our universe, I wonder the shape of Dark Matter strings
  • Gravity is defined by this, because if everything moves, gravity can make its weak pull.
  • Nothing is stagnant.

So pretty much this is all that is in that 30 minute lecture. The other 30 minutes are used to ask questions and university promotion. I asked what is Graviton (which is a hypothetical particle that forms the mediation between gravity and quantum fields, has enough force to perform a pull) and about some complex stuff regarding the end of our universe… precisely this is what I asked: “If the laws of physics are indeed a death warrant (as to what Prof. Michio Kaku said) to all intelligent life, and multiple dimensions exist, will the destruction of one universe lead to another?” Prof. Peter answered philosophically that we definitely don’t want that, especially if we are a new universe, then the old ones will just get consumed by Entropy, and lead to the Big Crunch, and trust me, no one wants that.

At the end of the lecture I talked a bit with a man that was promoting the physics institute that I cant remember, because Prof. Peter is unavailable, and got his name card. He told me that if I do get a scholarship (which he wishes me to get) please consider our university. As a matter of fact he thought I was a Physicist… Because I asked a complex question. Well, I’m not, I am a 14 year old homeschooler.

Thoughts:

Its a good lecture and very efficient judging by the 30 minute time stamp, but I personally enjoy the math and technicality added onto something I know.