Tag: homeschooling

Homeschooler’s Bias

Homeschooler’s Bias

Artikel ini akan menjelaskan sedikit mengenai apa yang aku, dan teman-temanku mungkin rasakan dan jenis-jenis judgement yang kita biasa terima, baik oleh anak-anak seumuran, guru-guru, dan masih banyak lagi…

Ketika kamu seorang homeschooler, percaya padaku, hidupmu akan terasa lebih enak! Tapi juga, percaya padaku, kamu harus mau mendengar dan menerima judgement dari orang lain… Sebagai orang yang memang sering beraktivitas di umum, komentar-komentar yang diberikan seperti ini bisa memberikanmu banyak reaksi kesal… Tapi nanti kau akan terbiasa sendiri, jadi santai saja!\

Jadi, mari kita masuk ke dalam artikel…

Typical Stigmas

Kalau kita bicara stigma, pertanyaan yang sudah hatam seperti gurunya datang ke rumah, ijazah, cara mulai dan blablabla… Tidak masuk. (aku sejujurnya lebih senang menjawab 10 pertanyaan tipikal seperti ini, daripada satu stigma yang tidak dibicarakan keras-keras)

Stigma adalah pikiran negatif, yang terkadang tidak perlu dikatakan, atau bahkan tidak pernah tampak dari ekspresi muka… Namun, dengan analisa yang baik, kita bisa mengetahui perasaan seseorang begitu kita memberikan fakta itu.

  • Homeschooling gak punya temen… *rolleyes*
  • Homeschooling mahal… *mengeluarkan sound effect… Eh*
  • Anak-anak homeschooling gak punya sopan santun karena tidak diajarkan social skills *tersenyum manis, tapi sinis*

Aku pernah bertemu orang yang langsung mengatakan stigma tersebut tanpa rasa malu, yang hanya membuat ekspresi muka, yang mengatakan stigma mereka dengan kalimat pembuka seperti “I’m not judging, I’m just saying” tetapi kalimat mereka penuh dan kaya akan judgement, dan yang berusaha memberikan konsultasi mengenai sebuah masalah… YANG SEBENARNYA TIDAK ADA!

Aku merasa lebih senang memberikan reaksi kepada orang yang menyatakan stigma tersebut keras-keras kebanding yang hanya membuat ekspresi muka, yang memberikan solusi mereka pada masalah yang fiktif, dan tentunya… jenis stigma lainnya.

How one must react towards those Stigmas…

Ada banyak reaksi yang bisa diberikan…

  • Angguk dan pura-pura bodoh
    • Kelebihan reaksi ini… Anda tidak perlu menjelaskan sesuatu kepada seseorang dan membuang 15-30 menit hidup anda demi menjelaskan suatu fakta yang kentara.
    • Kekurangannya… Lawan bicara anda bisa menerima dan menganggap stigma mereka sebagai fakta yang nyata…
  • Langsung berbicara SEBELUM lawan bicara memberikan stigma milik mereka
    • Kelebihan… Anda tidak perlu mendengar stigma yang sama beratus juta kali ketika diajak bicara. Dan juga, anda bisa merubah stigma lawan bicara anda sebelum stigma itu nyata.
    • Sedikit kesalahan, maka stigma milik lawan bicaramu benar-benar muncul. Oh, dan tentunya, orang yang kekeuh akan tetap menyatakan stigma yang sama jika pikirannya tak berubah…
  • Menunggu, lalu menjawab dengan jawaban sedetil mungkin
    • Baiknya adalah, kita bisa benar-benar mengetahui stigma lawan bicara kita, lalu menghilangkan pikiran lawan bicara kita mengenai stigma itu.
    • Buruknya, kita biasanya tetap kena stigma, dan terkadang, cara ini tidak berpengaruh, atau membuang waktu paling banyak.
  • Memberikan impresi baik tanpa perlu menjawab stigma, dan stigma tersebut hilang sendiri pada ujung percakapan.
    • Jika lawan bicara kita merasa lebih terkesan, maka stigma milik mereka hampir pasti bisa hilang.
    • Waktu terbuang paling banyak, dan tidak semua orang bisa membuat orang lain merasa terkesan semudah itu saja…

Reaksi ini tidak terlalu berhubungan dengan topik utama ku hari ini…. Namun, jika anda memang memiliki masalah, kurasa solusi ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kalian… Cheerios

Stigma Crisis

Ketika kita bicara stigma, kita bicara close mindedness, ketika kita bicara close mindedness, ada dua sisi dan asalnya pemikiran tersebut. Satu karena mereka memang tidak tahu opsi lain selain opsi yang mereka sudah percayai itu, dan yang kedua adalah karena mereka memang tidak mau berpikir terbuka.

Masalah kedua ini tidak bisa diperbaiki sama sekali, karena bagaimanapun juga, itu memang karakter. Untungnya, masalah pertama yang juga jadi hasil stigma, sama problematiknya dengan ketertutupan pikiran seseorang.

Solusi yang kuberikan untungnya telah menutup masalah pertama, dan itulah alasan kita perlu mengedukasi orang-orang seperti itu.

Stigma akan selalu ada, dan ketika kita keluar dari sistem, maka kita harus siap untuk dikritik dan dikomentari oleh orang-orang yang berada di dalam sistem tersebut. Namun, yang menjadi masalah adalah, banyak orang menyalahgunakan faktor dan motif dari suatu tindakan, lalu menyambungkannya dengan stigma milik mereka.

Contoh-contoh kasus

Case 1:

Sekelompok anak-anak dalam rentang usia 15-17 sedang terlibat dalam sebuah percakapan. Selama percakapan itu, ada 2 anak yang pendiam. Salah satu dari anak tersebut merupakan praktisi homeschool, sedangkan satu yang lain menggunakan seragam SMA.

Sesudah percakapan itu beres, kedua anak tersebut pergi terlebih dahulu.

Anak-anak (atau Remaja) tersebut memutuskan untuk melanjutkan percakapan lebih lanjut…

  • R1: Kasihan yah tadi… dia homeschooling, pasti introvert dan gak bisa sosialisasi tuh…
  • R2: Untung kita dibolehin sekolah, jadi kita bisa dan berani ngomong dan ngobrol…
  • R3: Perasaan tadi yang diem ada dua orang deh… Siapa sih yang satunya lagi…
  • R1: Ah, itu mah cuman karakter doang, biasa kalau ada orang yang mau diem kaya gitu
  • R2: Iya, wajar kok, di sekolah juga banyak yang pendiam

Jadi, masalahnya adalah… Ketika orang mengetahui suatu fakta yang aneh mengenai seseorang, mereka akan berasumsi bahwa fakta aneh tersebut adalah penyebab dari suatu tindakan.

Padahal, belum tentu lho fakta aneh itu penyebabnya… Masih saja ada kemungkinan besar bahwa fakta aneh itu memang ada, tapi penyebab dari tindakan atau aksi tersebut hanya karena suatu penyebab yang biasa…

Pada kasus tadi, penyebab itu suatu hal yang biasa, yaitu memang karakter remaja homeschool tersebut memang pendiam dan hanya merespon tanpa memulai suatu percakapan, sedangkan, ketika remaja yang lain sedang bersekolah formal, kenapa ia malah diberikan penilaian bahwa tindakan miliknya merupakan tindakan biasa?

Case 2:

Pada sebuah lomba yang tidak dinilai secara sistematis, melainkan secara subjektif… Seorang peserta yang merupakan seorang homeschooler diberi pertanyaan yang menanyakan tentang nilai-nilai miliknya.

Nilai-nilai miliknya bertentangan dengan norma umum, dan juri langsung memberi label padanya bahwa ia orang yang tidak berhak menang, karena dia homeschooling, juga karena dia memberikan jawaban yang tentunya sangat subjektif.

Sekali lagi, pada kasus ini…

Dikarenakan ada satu hal yang memang tidak wajar dari seseorang (which we all gotta have) secara otomatis, orang-orang yang mendengar ketidakwajaran itu, akan langsung memberi koneksi pada homeschooling sebagai faktor dan alasan suatu ketidakwajaran.

This stuff happens a lot…

The Issue

Jadi begini, sebagai praktisi, kita memang sudah terbiasa bertemu dan menerima komentar beserta kritikan dari orang-orang mengenai hal-hal seperti ini. Masalahnya adalah, ketika seseorang yang di luar sistem melakukan hal yang normal, orang-orang akan secara otomatis melihatnya sebagai suatu kondisi yang disebabkan karena dia berada di luar sistem tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang sangat judgemental dan sebenarnya, jika kita ingin memberikan judgement untuk orang-orang sesekali, itu hal yang normal…

The judgement itself is not and never will be the issue.

Masalahnya adalah, banyak orang, terutama di Indonesia, melihat hal dari satu sudut pandang dan percaya bahwa hasil judging mereka adalah kenyataan, meskipun itu hanya sebuah pemikiran.

Kesimpulan

People judge, and it’s normal.

Seperti aku bilang, manusia memang makhluk yang judgemental, tapi masalah (ups, masalah nomor dua terbesar) terbesarnya adalah fakta bahwa orang-orang memang langsung saja percaya pada penilaian dan loncatan kesimpulan mereka tersebut.

Masalah terbesar yang memang masalah terbesarnya ada di ketertutupannya pikiran seseorang.

Banyak orang tidak berpikir duaΒ  kali, dan juga banyak orang tidak pernah mau merubah pikiran mereka sama sekali. Kita harus mau melihat sisi baik dan kita harus mau melihat hal dari banyak sudut pandang, sebelum memberikan penilaian.

Jangan pernah mau terjebak dalam stigma, judgement, euforia, dan juga perasaan… Sampai kita benar-benar yakin, dan sudah memberikan penilaian terbaik yang kita bisa berikan.

Itu saja dariku, terima kasih, dan sampai lain waktu!

Psychology of Clickbait

Psychology of Clickbait

Sejujurnya, mengenai media di Indonesia, jauh lebih memalukan ketika kita melihat video rekomendasi dari YouTube Indonesia tanpa login, kebanding dengan melihat Clickbait dari berita.

Mengenai konten YouTube, sesudah cukup lama mengobrol dan juga iseng-iseng mengintip beberapa laman pada kemarin sore, harus diakui, saluran-saluran YouTube lokal, terutama saluran YouTuber Indonesia, terbilang, haduuuuh! Parah banget deh, beneran.

Bahasa bukan masalah yang terlalu besar (kecuali tentunya, jika ada kata-kata kasar) bagiku, menurutku justru, masalah utama mereka ada di konten, dan juga dari cara mereka memberikan judul.

Channel Indonesia seperti, umm, kalau gak salah ada yang namanya Calon Sarjana, dan juga tentunya beberapa channel YouTube lain, tanpa bias pada konten (lebih ke cara penyampaian konten) cenderung memiliki clickbait yang amat lebih parah dibandingkan dengan clickbait dari media berita.

Clickbait / Hoax? Clickbait+Hoax?

Clickbait Vs Hoax. Masalah terbesar diantara kedua hal tersebut adalah, dua-duanya cukup membingungkan dan juga memberikan gambaran salah dari pesan utama berita, informasi, tersebut.

Begini, dalam sebuah berita, informasi terbesar tentunya berada di alasan kita memutuskan untuk membaca berita tersebut. Jika sensasi penasaran tersebut timbul pada judul dalam bentuk ledakan, yang kita akan harapkan dari suatu berita atau informasi tersebut sebagai negatif.

Maka sejujurnya, clickbait tersebut sudah bisa menggeser inti utama dari pesan yang ingin dikirimkan. Meskipun konten bagus, sebuah clickbait bisa meninggikan ekspektasi kita, dan konten yang tadinya halus dan benar tersebut, akan cenderung diprospek sebagai konten yang buruk.

Mula-mula aku berpikir bahwa acara Trans TV (atau Trans7) On The Spot adalah satu dari sekian banyaknya siaran TV lokal yang biasanya jelek, sebagai siaran yang cenderung bagus. Memang betul, On The Spot mungkin cukup memberikan general knowledge yang tentunya menarik juga. Sayangnya, satu hal buruk yang On The Spot lakukan adalah dengan memberikan gaya penulisan clickbait pada tiap judulnya.

Contoh: 7 Tempat Di Dunia Dimana Kamu Takkan Mungkin Tenggelam

Acara TV itulah yang menjadi awal dari konten YouTube Indonesia dengan judul full capslock, dan biasanya penuh dengan clickbait, lebih penuh lagi malah daripada media.

YouTube yang biasanya mendapati kontennya diisi oleh sesama pengguna, akan menghasilkan jauh lebih banyak clickbait dibandingkan dengan reporter yang tentunya mengisi media dimana dia bekerja dengan setidaknya, hasil konten seorang professional. (meski iya, terkadang kontennya sama-sama sampah, setidaknya jika kita ingin mencerna, konten dari reporter tidak sesampah konten dari pengguna) Pada ujungnya, seorang reporter atau penulis artikel professional lebih intelijen dari orang-orang yang diberikan hasil karya tulisnya, dan jika mereka membuat hoax atau clickbait, akan jauh lebih parah, dan jauh lebih misleading.

Nah, bagi seseorang yang cukup cermat, menghindari clickbait tentunya mudah. Tetapi, jika kamu sudah termakan pada clickbait itu, biasanya kamu akan berujung ke salah satu dari 3 reaksi ini.

  • Clickbait mengecewakan, tidak ada bedanya (pada konten) jika artikel tersebut menggunakan clickbait kebanding dengan artikel yang tidak menggunakan clickbait.
  • Clickbait ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan konten.
  • Clickbait cukup menarik, dan ternyata, konten cukup sesuai dengan clickbait, dan sukses memenuhi sensasi.

Sesudah membaca beberapa riset psikologi oleh Professor Ekonomi (jadi begini, seorang ahli pemasar yang bagus dan ahli ekonomi yang bagus akan menemukan pola psikologi, dan juga sebaliknya, seorang psikologis yang bagus akan menggunakan ilmu psikologi untuk pemasaran serta ekonomi) George Loewenstein…

Kita cenderung memberikan ekspektasi jauh lebih banyak jika kita mendapatkan sensasi yang berupa ledakan di awal-awal. Jika rasa penasaran kita meledak pada awal sebuah artikel, kita akan meninggikan ekspektasi milik kita. Itulah alasan mengapa artikel non clickbait tidak akan mengecewakan, meski kontennya buruk, dan itu juga alasan mengapa (layaknya sebuah artikel) tiap merek, terutama yang sudah ternama, (E.G. Aqua) memiliki suatu judul, atau suatu tagline dan catchphrase.

Tagline tersebut berfungsi agar orang meninggikan ekspektasi saat meminum produk, atau ingin membeli produk tersebut. Jika produk sudah ternama, ekspektasi tersebut menambahkan sensasi ekstra, dan sensasi tersebut lah yang bisa membuat kita berpikir tidak jernih, dan membiarkan pikiran kita mempengaruhi indra kita. (Misalnya karena tagline, kita berpikir Aqua lebih enak dibandingkan merek lain)

Jadi, apa yang dilakukan oleh para media yang ingin menggait pembaca yang doyan dan mudah ditipu dengan clickbait? Diciptakanlah hoax yang banyak, agar reaksi yang didapatkan adalah reaksi yang positif atas clickbait, alih-alih reaksi negatif.

Seperti sering disebut, media pada umumnya adalah sebuah perusahaan yang bergerak demi keuntungan dan laba, (bukan laba-laba πŸ˜€ ) jika media memberikan apa yang orang-orang inginkan, ia akan mendapatkan pembaca, dan pembaca menghasilkan uang. Jika orang-orang menginginkan konten berkualitas, maka media akan menciptakan konten edukatif dan berkualitas.

Sayangnya, orang-orang Indonesia menginginkan sensasi, serta konten yang tak tentu kebenarannya. Untuk memperparah, orang Indonesia yang biasanya lebih mudah ditipu dan diberikan informasi salah, akan juga senang jika diberikan informasi yang salah, tetapi menggemparkan tersebut.

Hoax ditambahkan pada media agar orang-orang tidak kecewa pada clickbait. Orang-orang juga hanya menginginkan, dan akan lebih senang dengan clickbait.

Keduanya saling melengkapi dengan kuat.

Siklus Media Indonesia

Kita terjebak dalam sebuah siklus tanpa henti mengenai media dan konten yang sampah.

  • Media memberikan apa yang diinginkan pembaca
  • Pembaca menginginkan konten yang bombastis
  • Media memberikan konten bombastis jika ada
  • Pembaca puas, menunggu konten bombastis berikutnya
  • Jika tidak ada konten bombastis, media terpaksa menciptakan konten bombastis agar pembaca tetap datang.
  • Pembaca yang kurang intelijen mengira bahwa konten bombastis yang difabrikasi tadi sebagai sesuatu yang nyata dan tetap menginginkannya.
  • Media memberikan apa yang diinginkan pembaca
  • Terus menerus berputar siklus ini.

Makanya, akan amat diapresiasi jika ada sebuah portal media yang anti hoax, dan anti clickbait, itu akan membantu memperlambat siklus tanpa henti ini.

Tidak seperti rantai makanan yang sangat mudah didisrupsi, mendisrupsi siklus ini jauh lebih sulit tanpa edukasi pada konsumer media yang tanpa henti ini. Kita tidak perlu memiliki pasukan yang bisa mengajarkan orang-orang cara untuk lebih cermat dengan menganalisa hoax. Sebenarnya, bukan (hanya) hoax musuh utama kita…

Kalau berdasarkan analisa, akan lebih mudah jika media yang memiliki clickbait dipotong secara seutuhnya. Siklus tanpa henti ini takkan ada jika kita sebagai konsumer media meminta sesuatu yang bombastis. Penamaan sebuah menu tidak perlu terlalu menarik, asalkan kita tahu bahwa rasanya enak. Sayangnya, bagi orang Indonesia, nama menu tersebut jauh lebih penting dibandingkan dengan rasa makanan tersebut.

Jika clickbait dihilangkan, orang-orang takkan secara tidak sadar meninggikan ekspektasi pada awal artikel, dan media juga tidak akan perlu untuk memenuhi keinginan ekspektasi yang tinggi tersebut.

Siklus tanpa henti ini adalah langkah pertama untuk menciptakan warga Indonesia yang lebih kritis.

Kurangnya Kecermatan

Kesalahan dan blunder warga Indonesia dapat dengan mudah ditemukan dari banyaknya media yang menunjukkan arah agar orang-orang membenci atau tidak menyukai satu hal… Sayangnya, ada hal kontradiktif yang warga Indonesia dukung.

Jika ini membingungkan…

Aku sering menyebut dimana zaman sekarang (ini global issue, bukan hanya lokal, meski iya, di Indonesia cukup parah), banyak sekali orang menyalahpersepsikan Ideologi Politik.

  • Kapitalisme dilihat sebagai kekejaman demi keuntungan, padahal intinya berada di Kapitalisme yang mendukung pertumbuhan alih-alih menahan keseimbangan.
  • Nasionalisme sering dilihat sebagai Fasisme (the Politic F Word, Fascist), padahal nyatanya nasionalisme dan fasisme itu hal yang sama-sama mendukung cinta pada negara, serta cinta pada pemimpin, hanya saja, ada perbedaan dosis yang cukup banyak.
  • Komunisme (di Indonesia) dilihat sebagai ideologi tanpa agama, nyatanya komunisme bertujuan untuk menyamaratakan kodrat sosial masyarakat, dan mendukung keseimbangan ekonomi yang stabil.
  • Sosialisme di Indonesia cukup dicintai, padahal, sosialisme, (layaknya nasionalisme dan fasisme) dan komunisme adalah hal yang sangat mirip, hanya dengan dosis berbeda.
  • Orang Indonesia (setidaknya berdasarkan pengamatanku) tidak mengerti Imperialisme… Padahal jika mereka mengerti, imperialisme akan dilihat sebagai sesuatu yang lebih parah dari komunisme, dan sama juga, tidak punya agama.

Sosialisme vs Komunisme disini cukup ironis.

Seorang teman/tutorku bilang kemarin bahwa orang Indonesia benci komunisme, padahal mereka amat sangat mencintai produk sosialis, seperti BBM dengan subsidi, kesehatan yang ditanggung pemerintah, dan seterusnya.

Lucu sekali sebenarnya…

Kesalahpahaman sederhana ini terjadi karena kita kurang mau menganalisa, dan media (terutama di YouTube) tidak membantu dengan memberikan kita suatu konten yang tidak terlalu perlu di analisa, dan tinggal ditelan mentah-mentah.

The Media Mistake

Media, tentunya aku maksudkan bukan hanya yang di bawah naungan suatu perusahaan… Seperti pada Instagram, atau media seperti dikakipelangi.com ini membuat satu kesalahan fatal jika ingin memajukan ilmu warga Indonesia, serta konsumer media.

Banyak orang tidak diberikan ilmu dan tidak diberikan izin untuk menganalisa.

Mereka hanya diberikan suatu hasil kesimpulan seseorang, dan (secara terpaksa) disuruh menelan hasil analisa orang tersebut, karena kurangnya individualitas.

Sebagai contoh, aku sangat menginginkan untuk mengetahui apa itu Syiah, dan mengapa banyak orang tidak suka pada Syiah, dan apa juga bedanya dengan Sya’i.

Sesudah berusaha mencari di Google, aku diberikan 6-7 post dari blog yang mengulangi hadist yang berbeda, tetapi dengan makna yang sama.

Semua post tersebut pokoknya menyatakan bahwa… “Jangan ada syiah, syiah itu buruk, hindari syiah, dan bla bla bla bla bla” Tidak ada satupun artikel ataupun tulisan yang menjelaskan syiah itu apa, dan mengapa syiah sebaiknya dihindari.

Kita hanya diberikan masakan (masakan disini kumaksudkan sebagai analisa) dan tidak diberikan kesempatan untuk memasak bahan-bahan kita sendiri, menciptakan masakan kita sendiri.

Untungnya, aku dijelaskan perbedaan Sya’i dan Syiah oleh Babah, dan cukup beruntung juga, hehehe, ternyata Sya’i dan Syiah tidak begitu berbeda, setidaknya menurut analisaku, itu semacam sebuah perang saudara karena perbedaan filosofi.

Kenapa kita tidak diberikan kesempatan untuk menganalisa sendiri?

Semua blog, terutama yang di halaman pertama hanya memaksa kita untuk membenci syiah, dan kita tidak diberikan sedikit pun informasi yang bisa kita analisa sendiri.

Sungguh mengkhawatirkan sekali media Indonesia ini.

Kesimpulan

Seriusan, sebenarnya aku sudah menyimpulkan tiap bagian dari artikel ini beberapa kali.

Tetapi, kesimpulan utamanya ada di perubahan. Kita tidak bisa memulai perubahan sendiri, tetapi kita bisa berusaha untuk berubah sendiri, dan merubah orang-orang disekitar kita, agar pasukan pendukung perubahan ini akan terus bertambah.

Sampai lain waktu!

Epic Face Palm #1

Epic Face Palm #1

Ini adalah serial kilat, hanya digunakan untuk menyindir beberapa banyak hal yang aku temukan dalam satu bulan kemarin.

Semuanya adalah momen yang sangat cocok untuk diberikan gif ini…

Ya, aku mulai sangat suka dengan meme ini, jadi aku kepikiran untuk bikin serial mengenai ini. Selamat membaca dan ketawa miris!

Nonton Film Yuk!

Bukan aku yang menemukan. Aku kekeuh gak mau main sosial media.

Mari kita bahas setiap komentar secara merinci, dan kita bahas seberapa face palm worthy ini…

Entar petugas kebersihannya tugasnya apa dong? Bingung saya
Terus tugas petugas kebersihannya ngapain?

Nah, Teteh/akang, kira-kira petugas kebersihan tugasnya apa sih? Coba tuh, biasanya megang HP sehari 5-6 jam ada? Coba googling deh tugasnya petugas kebersihan. Buka halaman pertama, kedua ketiga, tiga-tiganya adalah petugas kebersihan puskesmas…

Jadi, sebenernya… apa kira-kira tugas utama petugas kebersihan? Tugas mereka pada dasarnya bersih-bersih (*Captain Obvious kambuh lagi*). Secara teknis, kedua orang ini tidak salah. Memang betul tugas mereka bersih-bersih… Tetapi, apakah sulit untuk mau gotong royong sedikit?

Begini, kira-kira dengan kondisi bioskop penuh (dan iya, ini bioskop besar, seperti misalnya Dolby Audio Studio 1 di Trans Studio Mall) dan semua orang memesan pop corn misalnya… Sekitar 3-4 petugas kebersihan perlu menghabiskan waktu sekitar… 2-4 detik setidaknya per sampah sisa popcorn. Mulai dari mengambil sampah, dan juga memasukkannya dalam trashbag.

Memang betul tidak semua orang memesan pop corn, ada yang sekeluarga cukup satu Pop Corn, dan juga ada yang seorang satu. Beda-beda… Tetapi dengan asumsi bahwa di dalam satu teater XXI besar, dengan jumlah rata-rata 300-350 kursi, berarti dibutuhkan waktu sekitar… misalnya ada 200 porsi popcorn yang dipesan, berarti 200 kali 3 (median 2 dan 4), 600 detik, hanya untuk sampah pop corn, dibutuhkan 10 menit. Jika teater penuh, ada banyak sampah, termasuk yang tidak di cup holder, tetapi juga yang di lantai, mungkin bisa mencapai 20 menit…

Tetapi dalam 20 menit itu… umm… kurasa, jeda antar film dalam satu teater sekitar 30 menit. Kurasa masih sesuai dengan waktu ya?

Eh, lupa! Ada yang namanya secret ending dan iklan kan? Belum harus nyapu… hahaha!

Iklan misalnya 10 menit, jadi jika jadwal masuk dalam teater adalah 18.35, berarti film dimulai 18.45. Berarti, petugas kebersihan hanya punya waktu 20 menit, tepat dengan estimasi untuk bersih-bersih. Memang sih, teater tidak selalu penuh. Jika iya bagaimana dong?

Tetapi aku ingat, saat aku menonton Thor: Ragnarok, jeda masuk ke teater telat sekitar 10 menit dari jadwal. Aku yakin pada saat itu, teater penuh, dan tidak ada orang yang mau membantu petugas kebersihan. Coba bayangkan jika orang-orang yang egois dan tidak mau membantu memungut sampahnya sendiri itu berada dalam posisi orang yang harus tertunda masuk teaternya. Pasti kesal kan?

Coba deh, bayangkan saja, apa salahnya membantu orang lain, demi kenyamanan dirimu sendiri, serta orang lain… Kurasa memungut sampahmu dan mengumpulkannya serta memasukkannya dalam plastik sampah membutuhkan waktu sekitar 10-20 detik. Jika detik itu diakumulasikan ke semua orang dalam bioskop… maka, akan ada banyak working hour yang didapat hanya dari investasi waktu pribadi.

Jangan terlalu egois, coba pikirkan berapa banyak orang yang kamu ambil haknya, serta berapa banyak kebaikan yang kamu lewati dari tidak memutuskan untuk tidak membuang sampah ke tempatnya. Ini daftarnya…

  • Kamu melewatkan kesempatan membantu petugas kebersihan
  • Kamu melewatkan kesempatan membuat sesama penonton merasa lebih nyaman
  • Kamu mengambil hak orang masuk ke bioskop tepat waktu
  • Kamu mengambil hak bioskop memasang iklan (jika orang-orang masuk telat, film langsung diputar sesudah 1 trailer. Setidaknya pas Thor: Ragnarok begitu)
  • Kamu mengambil hak sesama pengunjung punya teater yang rapih, dan bisa keluar dari kursi mereka dengan nyaman.

Sekarang tahu kenapa dengan meluangkan 30 detik saja pahalanya sangat banyak, serta banyak dosa yang dihindari?

Kan sudah Bayar
Kalo bantu petugas bioskop, digaji gak min? Kebangetan kalau sudah bayar tapi disuruh bantu-bantu

Apakah uang menyelesaikan semua masalah?

Seriusan…

Uang adalah hal yang penting, tanpa materi, kecil kemungkinan seseorang untuk bisa hidup, ataupun untuk bisa mendapat entertainment dan merasa senang. Tetapi, apakah uang itu segalanya?

Gini, aku gak mau preach soal agama… Tapi, apakah kita bisa menjadi seseorang yang baik dalam mata tuhanmu (agama apapun yang kau anut) hanya dengan uang? Apakah kamu bisa menjadi teman yang baik dengan uang? (OH, coba-coba jawab ya… Kalau menurutmu hanya dengan banyak traktir temanmu kamu diangggap teman yang baik, maka kurasa kamu telah dimanfaatkan teman-temanmu) Uang bukan segalanya.

Memang betul kita sudah bayar, tetapi seperti aku sudah sebut di atas, ini bukan masalah apa-apa, ini masalah gotong royong, dan membantu orang…

Coba pikir lagi, apa salahnya meluangkan 10-15 kalori (setara dengan 5 menit tidur), dan juga 20-30 detik waktumu untuk beres-beres sampah, demi menghindari mengambil hak orang, dan membuat orang merasa lebih senang…

Gak usah dibantu, nanti bayar gaji buta dan tambah pemalas

3 hal yang salah dengan kalimat ini…

  1. Bayar gaji buta? Umm… Mereka tetap harus sapu-sapu oke, mereka tetap harus buang sampahnya dan membawa trash bag yang sedikit berat. Mereka tetap kerja, dan ini bukan gaji buta.
  2. Tambah pemalas? Kamu yang malas… Buang 30 detik hidupmu buat bantu orang aja gak bisa. Sedangkan jika aku hitung gaya penulisan kalimatnya, setidaknya butuh 45-60 detik untuk membaca post, berpikir akan komentar ini, dan mengetik komentarnya…
  3. Kamu yakin orang-orang malah makin malas dengan dibantu orang lain? YAKIN? Justru gak… Mereka bersyukur ada yang bisa membantu mereka, dan mereka senang… Seriusan, kurasa kamu gak pikirin dulu deh kamu mau ngetik apa pas bilang ini…

Ini baru satu dari 3 hal yang bikin epic facepalm… HA! HA! HA!

Minum Kopi Yuk!

Aku speechless, dan di akun twitter itu sangat-sangat-sangat banyak hal yang membuat epic facepalm disitu. (Juga dishare Babah, silahkan klik namanya di atas)

Kayanya sih Om Indra itu Barista di Starbucks, dan dari tiap hari kerjanya ia menemukan banyak hal yang menyebalkan dan curhat di akun Twitter miliknya. Kurasa ini pantas diberikan hore ke Sosial Media for once…

Kenapa hore? Jaman dulu orang curhat gini paling ke Pacar/Sahabat/Istri/Suami/Diary…

Jadi sepertinya, salah satu budaya negatif kita selain datang terlambat (WAH! Ini mah udah dari kapan tahu!) adalah kita tidak tahu diri ketika sudah mengeluarkan uang.

Aku akan bahas secara sedikit singkat mengenai semua tweet itu, dari atas ke bawah.

  • Waw… Kayanya orang itu adalah model orang yang, kalau gak dia kadang buang sampah sembarangan, dia gak bisa lihat tuh tempat sampah ada dimana, jadi mumpung ada yang nyapu nih, buang ah…
  • Dasar gak modal… Tanggal tua kayanya tuh, atau gak… emang kopet dan gak tahu diri aja. Aku ingat pernah menemukan serangga di makananku sesudah setengah habis, dan aku bilang ke seorang waiter, katanya diganti, dan aku menolak, aku bilang aku hanya laporan saja. Dan ingat, aku menemukan serangga, memang sesuatu yang salah dari SoP… kalau urusan rasa sih, udah kamu minum, berarti gak ada yang salah mestinya!
  • Guy or girl has anger issues… Enough said
  • 3 tweet ini sama saja ya… satu part. Sekali lagi, orangnya cukup gak sopan buat bilang kata tolol ke seorang pegawai. Berikutnya, dia gak tahu peraturan makan, tapi ya, itu sedikit sering di Indonesia… Lagian juga, ngilangnya 30 menit… itu lama juga lho, wajar barista-nya beresin.
  • Atas nama siapa? Mmmrsch… Maaf mas, atas nama siapa? Ngomong tuh yang jelas kek… Kayanya lagi mainan HP tuh… Memang ya, HP itu udah kaya kacamata. Dibawa kemana-mana, dipakai kapanpun.
  • Ini sedih banget deh… Masa coba ada orang yang rela untuk ngebiarin ibunya dikawal orang lain ketika ia sendiri bisa ngawal… Aduh. Ibunya juga baik banget, terlalu baik malah sama anaknya. Hiks… :'(
  • Kembali ke masalah uang… Kan gak muat lagian… Aduhhhh
  • Astaga naga… Kampungan banget tuh orang, gak tahu yang namanya self service, lagian ini kalau memang starbucks bukannya internationally (or heck, globally) seperti itu? Yah, aku mah kasian sih kalau dia nganggap self service itu aneh, jangan-jangan emang betul orangnya kampungan…

Jadi ya, umm, dasar manusia… Tapi, sekarang, mari kita bahas Kulari ke Pantai.

Yuk Lari ke Pantai!

Jadi, ini baru kemarin, dan ini adalah dua hal bagiku. Pertama-tama, ini epitome of irony dari film Kulari ke Pantai sendiri… Epitome berarti contoh yang JLEB! pas banget. Kedua ini berarti bahwa kayanya banyak banget orang nonton film latah doang, dia nonton film demi nonton film, atau mungkin demi sosmed. Umm, itu juga simbol ironi yang dibahas di Kulari ke Pantai… Tetapi, itu untuk besok saja yah…

Jadi, Kulari ke Pantai punya banyak pesan sponsor… Kalau memerhatikan, ada pesan sponsor untuk…

  • Indomilk
  • Gojek
  • Tolak Angin
  • Bank Mandiri
  • DLL

Tetapi, sebenarnya, yang kumaksud bukan pesan sponsor seperti itu, melainkan pesan sponsor yang berarti message penting, bahkan juga salah satu sindiran di film tersebut…

  • Banyak orang melakukan hal demi posting ke sosmed
  • Kita terlalu fokus dengan HP kita masing-masing
  • Foto itu sekarang foto orangnya, bukan foto orang+pemandangan (gak sepenuhnya betul, tapi… betul)
  • Mimikri sudah mengambil alih budaya kita… (kekeuh Postkolonialisme πŸ˜› ) kita lebih sering menggunakan bahasa Inggris sekarang. Aduh!
  • Dan masih banyak lagi family values dan saran parenting di film tersebut. Banyak sekali contoh yang jangan dicontoh, tetapi juga banyak hal yang patut dicontoh…

Nah, jadi begini. Film dimulai dengan sekitar beberapa orang (ini dalam teater ya, bukan film) buru-buru membalas WhatsApp, kasih komen, atau… entahlah, aku tidak cukup cepat untuk menangkap 30 screen sekaligus. Sesudah 30 detik pertama sejak lampu mati, baru screen HP mati satu per satu.

Kukira orang-orang disini punya something important to do, dan mau bereskan urusan di HP, ya sudahlah, itu kuterima…

Eh, gak dong! GAK DONG!

Sekitar 45 menit menuju film, tepat pada adegan dimana salah satu tokoh utama yang fokus dengan gadget diambil gadget-nya oleh Tante-nya… Ada ibu-ibu mainan HP. Mata yang lain masih terpaku dengan screen, kurasa ini hal yang bagus, mungkin dari 50-an orang yang menonton, ada satu doang yang nonton for the sake of nonton.

Sekali lagi, aku salah.

Seiring dengan film maju, aku sukses menghitung 13 orang berbeda dari rombongan berbeda yang bergiliran (atau kadang bersamaan) memegang handphone, sekedar balas WhatsApp, scrolling IG, atau entahlah… Aku gak peduli. Eh, aku peduli, cuman aku gak peduli untuk tahu apa yang mereka lakukan…

Jadi, sesudah banyak sekali pesan sisipan bahwa orang-orang terlalu fokus dengan HP-nya di abad ke 21 ini, tetap saja ada orang yang kekeuh memegang HP dalam film yang literally berusaha membuat orang untuk melakukan sebaliknya.

Kesimpulan

WOW! 2019 mau ganti presiden? Aku takkan melarang opini politikmu, ataupun menyebut opini politikku sendiri, tetapi tolong… 2018gantiperilaku.

Yuk, share hashtag itu di sosmed, dan untuk sekarang gunakan sosmed untuk hal yang bermanfaat. #2018gantiperilaku tiap kali kamu menemukan sesuatu yang menyebalkan. Mungkin jika feed, timeline, or whatever your social media calls it is filled with that hashtag… Mungkin kamu akan berubah.

Aku tidak bermaksud menghina budaya kita, atau bahkan orang kita. Tetapi sejujurnya, memang banyak hal yang orang-orang kita lakukan yang… kebangetan, dan gak sopan. Aku dan beberapa temanku pernah membahas, mau pemimpin kita sekarismatik Hitler (karismanya doang yang diambil, kekejamannya gak), sepintar Einstein (sekali lagi, hanya kepintarannya, dia sedikit… gila soalnya), dan juga memiliki semangat Soekarno… Jika orang-orang dan rakyatnya tidak mau berubah, maka tidak akan ada pengaruh mau pemimpin kita seperti apa.

Jadi, sebelum 2019 mau ganti presiden, ganti mobil, atau ganti istri, terserah lah… Coba dulu, sebelum 2019, jadilah pribadi yang lebih baik… #2018gantiperilaku

Sebaiknya orang-orang adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sampai lain waktu! Aku masih hutang review film Kulari ke Pantai, dan juga beberapa hal lain. Semoga tetap mau mendengar opiniku, dan kumohon maaf jika menyinggung orang di artikel ini. Namaste!

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Judulnya mungkin membingungkan. Tetapi, serius. 90% orang tidak menganggap kertas sebagai suatu hal yang menakjubkan. It’s paper! For god’s sake, it’s paper! Mau diapain lagi?

Sebelum kamu melakukan suatu tindakan bodoh, dan memutuskan untuk bilang bahwa kertas hanyalah kertas… Coba baca artikel ini, http://dikakipelangi.com/paper-it-is-far-more-complicated-than-you-think-it-is/

Dan juga sebelum aku menyebutkan sesuatu yang konyol… Jadi begini, di artikel itu ada yang disebut Kertas Dawang, dan sejujurnya kukira kertas Dawang itu benar-benar ada. Ternyata, Dawang = Daluang. Tetapi karena di acara sebelumnya, Teh Lisa berbicara dalam logat U.S. nya dan tanpa bantuan teks, hanya verbal, Daluang terdengar seperti Dawang.

Ini membuat aku bingung karena umm… Aku berusaha googling Dawang Paper dan aku tidak menemukan sedikitpun. Awalnya kukira memang Dawang itu tidak didokumentasikan dengan benar, karena memang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di pulau Jawa. Ketika bertemu lagi dengan Teh Lisa disini, saat melakukan presentasi, ternyata terbacanya Daluang bukan Dawang. Tetapi aku masih mendengar Dawang, setidaknya aku tahu ejaan yang benar-nya sekarang. πŸ™‚

Basa basi, basa basi, mari masuk!

Bumi dan Kertas

Acara ini dilaksanakan tanggal 7 Juli, di Museum Geologi. Dari jam 14.00-16.00. Namun, tentunya, seperti biasa, di Indonesia, acara jam 14.00 berarti 14.30. Iya, jika senang baca tulisanku, terima kasih, dan iya, aku sudah move on dari keterlambatan ini.

Pemateri pertama kita adalah salah satu mantan Kepala Museum Geologi, Ir. Sinung Baskoro.

Materi dari Pak Sinung berusaha menyambungkan Bumi (dalam kasus ini, Bumi berarti Geologi), Kertas, serta Museum. Jadi, sebenarnya apa hubungannya?

Tentunya, kertas adalah media universal setiap orang dari zaman dahulu, jadi Pak Sinung membuka sejarah kertas, bersamaan dengan sejarah bumi.

Bumi kita sendiri berumur 4.500.000.000 tahun. Kehidupan baru muncul 3.800.000.000 tahun yang lalu. Tentunya kehidupan ini muncul masih dalam bentuk sederhana. Hingga nanti ia menjadi sesuatu yang lebih kompleks, dan makin kompleks, dan makin kompleks, sampai akhirnya kita, sebagai manusia (pada waktu itu disebut Hominid) lahir 160.000 tahun yang lalu.

Kertas sendiri baru saja muncul pada abad ke 2 di China, diciptakan oleh Tsai Lun. Jadi jika kita ingin membahas sejarah Bumi serta sejarah kertas, mereka tidak lahir bersamaan, mereka tidak ada bersamaan, dan juga, bumi bisa saja hidup tanpa kertas, sehingga hubungan Bumi dan Kertas terkesan cukup jauh.

Lalu, Pak Sinung menambahkan, bahwa pada ujungnya, kertas tercipta dari sesuatu yang ada di Bumi. Ini berarti bahwa hubungan antara Bumi dan Kertas adalah hubungan yang komensalis, Bumi tidak dirugikan oleh kertas, sedangkan kertas bisa tercipta karena adanya Bumi.

Tetapi, masih banyak hal yang belum jelas disini… Apakah Bumi, Museum, dan Kertas memperlukan satu sama lain?

Jadi, sesudah menjelaskan dengan kilat jenis-jenis Museum, dan juga perubahan bumi, Pak Sinung menyatukan ketiga hal tersebut, dengan cukup efektif serta efisien.

Bumi ini bisa memiliki peradaban dari kertas, semua hal bisa dicatat dengan mudah, ditunjukkan dengan mudah, dan dijelaskan dengan mudah. (Komentar dari pikiranku, ini alasan Gilgamesh sangat susah dicari E-book nya berarti…) Museum sendiri juga bisa ada karena adanya kertas yang mempermudah tercatatnya ilmu.

Hubungan antara Bumi, Kertas dan Museum berada di fakta bahwa Kertas tidak akan ada jika tidak ada Bumi, tetapi jika tidak ada Kertas, Bumi tidak akan seperti sekarang…

Kurasa, sejujurnya, Pak Sinung sedikit off point dari membahas kertas pada 5-6 slide terakhir. Opini personalku, menurutku Pak Sinung akan lebih baik presentasinya, dan juga akan lebih “conclude” jika tidak memasukkan 6 slide terakhir yang membahas Menghemat Kertas.

Padahal, jika aku mau jujur, sesudah pernah bertemu dengan Professor Bambang Sugiharto, dan juga Teteh Lisa Miles sebelum acara ini, kertas yang dimaksud disini adalah kertas seni, bukan kertas yang kita gunakan sehari-hari.

Pak Sinung membahas bahwa kita harus menghemat kertas, dan juga cara-caranya. Tetapi, kertas yang dimaksud disini adalah kertas yang kita pakai sehari-hari, seperti kertas HVS. Nah, masalahnya berada di situ… Tentunya tidak perlu dibahas cara menghemat kertas, karena jika pembaca memang tertarik, bisa baca saja di Google, tetapi, kesan yang diberikan dari slide-slide menghemat kertas ini membuat seluruh presentasinya yang bagus, dan juga membuka sesi seminar ini dengan spot on… terkesan melenceng.

Amat disayangkan.

Ya sudah, untungnya kita langsung kembali ke presentasi berikutnya, dari Teteh Lisa Miles!

Art Paper

Buat yang baca artikelku tentang kertas, jika gak percaya bahwa Teh Lisa ini orang U.S. tetapi dipanggil Teteh karena beliau di tanah Sunda sekarang.

Jadi, presentasi Teh Lisa ini menjelaskan tentang gaya pembuatan kertas, mulai dari yang dilakukan orang Barat, dan juga yang dilakukan orang Timur.

Di daerah Barat, seperti Amerika, dan juga Eropa (dengan pengecualian suku maya dan aztec) ada banyak teknik untuk mencetak kertas. Tetapi semuanya dimulai dengan sebuah selulosa tanaman. Selulosa biasanya dicetak dalam sebuah tray, lalu yang membedakan tekstur kertas di daerah Amerika dan Eropa ini adalah apa yang dilakukan ke tray berisi kertas yang dicetak itu (serta tentunya, jenis tanaman yang dipakai).

Ada saat dimana pulp kertas dicelupkan dalam air, dikubur di bawah tanah, langsung dicopot sesudah kering, ada yang dimasukkan sumur kecil, lalu dicari dan dikumpulkan ulang dengan tray yang sama, dan masih banyak lagi.

Tetapi, Teh Lisa ke Indonesia untuk riset mengenai Paper Mulberry, yang digunakan untuk membuat Daluang. Mulberry? Nah, di Indonesia, serta suku Maya, dan (jika aku tidak salah) Mesir, kertas tidak dibuat dengan cetakan, ataupun tray. Melainkan, dengan cara digulung, dibuka gulungannya dalam kondisi basah, serta digebuk. (beat it like it owes you money)

Untuk suku Maya, sekarang tersisa hanya 4 buku yang menggunakan kertas Amate orisinil,3 berada di Museum, 1 berada di situs sisa-sisa budaya Maya… Buku mereka dibakar orang Spanyol… dan di Indonesia, Daluang digunakan untuk ayat-ayat Quran, dan juga untuk seni, ataupun baju pernikahan. Ya, buat orang-orang yang berusaha membuat Baju kertas keren, kamu telat sekitar 1600++ tahun.

Cara membuatnya cukup membuat tangan lelah. Karena kamu perlu mencari pohon, membuang kulit kayunya, sehingga hanya tersisa bagian dalamnya yang lembut. Lalu, kamu copot batang pohon tersebut, dan rendam kulit bagian dalam pohon tersebut sekitar… 60-90 menit dalam air tawar.

Sesudah direndam, kertas bisa dirobek, dan mungkin istilah yang tepat “diblender” sampai tersisa pulp. Sesudah pulp sedikit kering, dan hanya mushy, atau lembab, bisa digebuk dengan sebuah palu bertekstur sampai lembut, dan rata. Dari situ, biarkan sampai kering, dan yap, kertasmu sudah jadi!

Ini alasan dalam beberapa kampung ada Quran yang memiliki halaman kertas yang bertekstur. Kemungkinan Quran itu dibuat dalam Daluang.

Nah, jadi sekarang siapa yang masih membuat Daluang? Selain seniman muda seperti Teh Lisa ini, juga ada seniman tua, seperti beberapa Mama yang ditunjukkan fotonya oleh Teh Lisa. Bahkan, ada banyak Mama (berumur 75-85) yang menggunakan palu yang khusus diukir beberapa generasi yang lalu, diturunkan terus menerus ke anaknya.

Hasil dari kertas dengan palu khusus tersebut? Media seni menjadi seni. Tentunya, meski sudah mulai lanjut usia, Mama-mama ini tetap niat untuk melanjutkan seni kertas Daluang dengan tangan. Keren banget deh!

Fun fact, sebelum Teh Lisa mengakhiri presentasinya…

Teh Lisa menemukan sebuah cetakan palu yang turun temurun, dengan simbol yang kebetulan sama persis dengan sebuah batu di Mayan Temple yang ia pernah temukan… Tentunya ini bisa dijelaskan dengan teori Carl Jung yang bilang bahwa secara psikologis, setiap manusia punya bentuk stereotipe mengenai fragmen imajinasinya sendiri. Dan dalam budaya apapun, stereotipe itu sama…

(Hahaha… Bukan, pasti itu Alien!)

Nah, Teh Lisa mengakhiri presentasinya dengan menunjukkan beberapa hasil karya, serta dengan bilang bahwa jika ingin cek beberapa hasil karyanya yang lain, bisa buka dutchesspress.com

Beneran, buka situs itu, bagus-bagus karyanya!

Seni Kertas

Professor Setiawan Sabana, atau juga dikenal dengan Professor Wawan, telah membuat banyak sekali seni dengan kertas.

Aku tidak bisa menjelaskan semua karya Professor Wawan, karena banyak yang begitu abstrak sehingga, menurutku, itu butuh kontemplasi serta inspirasi yang… keren deh.

Dari beberapa karya-nya, Professor Wawan menunjukkan beberapa seni abstrak mengenai apa yang dipandangnya dari manusia tanpa kertas, dan juga beberapa buku buta, yang ia anggap sebagai simbol sebuah genre literatur. Seperti misalnya, ada buku tentang kriminalisasi, dan ia menggambarkannya dengan buku keras, disertai dengan beberapa kawat besi disekitarnya.

Selain itu, Pak Wawan juga memberikan cukup banyak ilustrasi perjalanannya dari kecil, hingga sekarang. Semua karya seni, baik itu gambaran, hasil seni abstrak kertas, sketsa, ataupun craft… Ia tunjukkan.

Professor Wawan juga bercerita bahwa sepanjang setengah hidupnya, ia selalu melihat kertas sebagai bahan untuk dirubah menjadi karya seni yang lain. Seperti kertas koran yang ia tidak baca lagi? Ia jadikan sebagai seni simbolisasi sampah. Kertas yang terbakar? Ia jadikan sebagai simbolisasi jamur di balok kayu yang tua dan lembab.

Karena abstraknya beberapa karya, aku tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang karya Professor Wawan, tetapi, jika kamu mendapat kesempatan untuk melihatnya… lihatlah dari banyak sisi. Kamu akan menemukan sebuah lekukan kecil yang baru, perbedaan warna, perbedaan tekstur, dan lain-lain.

Tetapi, yang sedikit sedih dari presentasi Professor Wawan ini adalah… UMM… Ia mengingat perjalanannya mengenai kertas, dan pada akhir presentasi, ia sempat duduk dan menangis terlebih dahulu. Baru ia bercerita sedikit mengenai kertas dan hubungannya yang spesial dengan mendiang istrinya. Om di sebelahku, yang sepertinya Teman seperjalanan Professor Wawan berbisik padaku, “Maaf yak de, temen saya ini emang emosional. Tiap presentasi selalu dia bawa lap buat menghapus air mata.” dan aku menceletuk “Persis Ibu saya berarti…” Om tersebut tertawa.

Sesudah Professor berhenti menangis, ia menghapus air matanya dengan cepat, dan mengakhiri presentasi. (Oh, dan aku lupa bilang, Professor Wawan menjadi mentor untuk Teh Lisa selama beliau di Bandung,  Professor seorang dosen di FSRD)

Kesimpulan

Jika melihat nama di atas, tampaknya acara masih banyak, tapi tenang, nanti kita kesitu kok.

Jadi begini… Professor Bambang Sugiharto (kusering bertemu beliau karena selama aku mendapat kuliah filsafat, Professor Bambang mengisi materi 6 dari 12 kali) khusus berada disini untuk menyimpulkan ketiga presentasi ini dari sudut pandang filsafat secara singkat.

Berdasarkan sudut pandang filsafat, menurut Professor Bambang, manusia, layaknya kertas, menjadi makin abstrak seiring dengan majunya umur dan pengalaman di suatu bidang. Penjelasan pertama yang sangat teknis, disusul oleh Miss Miles yang menjelaskan teknisnya proses pembuatan suatu seni, sampai ke Professor Setiawan yang sangat-sangat abstrak…

Kertas disini juga menghubungkan manusia bukan hanya dari perspektif media saja, tetapi juga dari cara kita memandang kertas tersebut. Memandang dan mengubah sesuatu yang kosong (ku tidak yakin, tapi kurasa ini pun intended) menjadi sesuatu yang artistik itu sulit. Sehingga, menurut Prof Bambang… Kertas adalah simbolisasi perspektif manusia yang sempurna, dan paling sulit dipandang secara abstrak, dan artistik.

Sudah, sampai situ saja hari ini…

Bonus…

Musikalisasi kertas… Penasaran bagaimana kertas dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai musik? Jadi, Syarif Maulana (seniman di Bandung) dan dua temannya membawa kita ke sebuah penampilan instrumental (disertai gerakan teatrikal dari Professor Wawan) mengenai kertas.

Kertas disini juga digunakan sebagai alat yang menambah sound effect via robekan, dan juga dengan mesin tik sebagai pengganti akustik, dan sound effect bel dari mesin tik sebagai pengganti (komplemen sebenarnya) dari instrumen string.

Instrumen yang digunakan adalah, Biola, Gitar, Mesin Tik, Kertas Bekas, serta Paper Clip…

Selain itu!

Jika ingin melihat karya Teh Lisa Miles dan Professor Setiawan secara langsung… (dan juga kertas dari peradaban tua) bisa datang ke Museum Geologi!

Ada pameran sementara yang sangat bagus, mengenai kertas, dan juga beberapa karya Professor Wawan… Aku hanya mengambil tiga foto, biar pembaca yang benar-benar kepo, untuk langsung datang saja kesana!

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Tanggal 4-6 Juli kemarin, Pusat Penelitian Nanosains Nasional (PPNN) mengadakan acara lagi, yang berupa variasi, ke acara Nanoscience for Kids 2 tahun yang lalu… Aku sudah pernah mengikuti acara Nanoscience for Kids, dan, dikarenakan “kangen” dengan jalan-jalan dan praktikum di lab, aku memutuskan untuk ikut lagi!

Kali ini, acaranya disebut Nanoteens dikarenakan temanya lebih cocok untuk remaja. Tema ini juga disertai slogan, “Tampil menarik dengan Nanoteknologi”. Temanya kurang lebih kosmetik dan produk-produk yang menggunakan Nanosains. Betul saja, dikarenakan tema kosmetik ini, rasio perempuan banding laki-laki mencapai 2 : 1. Dari 18 perserta, ada 12 perempuan, dan 6 laki-laki.

Jadi, langsung saja kita mulai laporannya! Formatnya akan dibuat sedikit berdasarkan waktu…

Registrasi (8.30-9.00)

Suasana ruangan di kala masih sepi…

Ini mungkin salah satu bagian dimana aku paling sebal sepanjang ketiga hari dalam rangkaian acara Nanosains ini. Kenapa aku sebal dengan registrasi?

Bukan registrasinya, tetapi apa yang terjadi dalam 30 menit diantara pembukaan dan registrasi.

Sebenarnya proses registrasi berjalan lancar, tidak ada apa-apa yang salah, aku juga senang dengan bertemu teteh-teteh dan kakak-kakak yang masih ingat aku dari 2 tahun yang lalu. Tas, notebook, dan polo shirt kuambil juga sesudah memberikan tandatangan dan registrasi ulang.

Tetapi, aku mulai sebal begitu masuk dalam ruangan. Semua orang memegang handphone.

Ya, semua orang, baik SMP, atau SMA, sedang memegang HP mereka masing-masing. Jujur, aku sudah move on dari orang-orang yang memutuskan duduk di belakang atau ketiga dari depan sebuah ruangan karena takut ditegur, atau ditanya-tanya. Ya sudah, itu hak mereka. Tetapi, sayangnya, aku belum (UHUK, tidak akan pernah, UHUK) bisa berdamai jika melihat sekitar 13 pasang mata terkunci dalam layarnya masing-masing.

Dan ya, dikarnekan kepo, aku memutuskan untuk berjalan dua kali mengitari ruangan dan mengecek apa yang sedang mereka lakukan. Kurang lebih ini yang aku dapatkan.

  • Baca artikel tentang hukum-hukum aerodinamika. (Good Job!)
  • Menggunakan kamera selfie HP sebagai cermin… :'(
  • Scrolling Instagram, entah follow akun apa saja… πŸ™„
  • Story diri sendiri… *facepalm*

Ya, sudahlah, setidaknya aku berpikir bahwa mereka mungkin masih belum cukup akrab untuk mau berkenalan. Who can blame them? (Uhuk, tiap coffee break dan lunch break juga mereka tetap pegang HP sih, kecuali beberapa orang yang mengajakku ngobrol mau gimana lagi kayanya…)

Tetapi, akhirnya ada pembukaan dari Professor Adhitya Gandaryus Saputro. Mirip-mirip dengan pembukaan tahun lalu, membahas nanosains, dan jika aku ingin meringkas pembukaannya…

“Nanosains adalah sains yang bergerak dalam benda-benda berukuran sangat kecil. Perubahan yang terjadi pada dunia Nano biasanya tidak tampak, dan memberikan kesan insignifikan… Ya iya, orang gak kelihatan. Tetapi jika dimanfaatkan dengan benar, perubahan dalam skala nano akan berpengaruh dalam kehidupan kita sendiri-sendiri. Seperti misalnya Hydrophobia, Hydrophilia. Itu alasan menurutku Nanosains adalah ilmu yang sangat penting untuk dipelajari, meskipun kecil sekali perubahannya, hasilnya signifikan”

Sesudah memberikan penjelasan sedikit tentang Nanosains, Professor Adhitya memberikan sedikit preview ke apa saja yang akan kita lakukan. Seperti misalnya, hands on membuat sesuatu, lab tour, dan juga demonstrasi.

Kuliah Pengenalan (9.00-10.30)
Prof. Bambang Sunendar

Sesi pertama… Berdasarkan opini yang aku dapatkan dari teman-temanku, ini sesi paling membosankan menurut mereka. (oke, iya, aku juga menganggap ini lebih membosankan dari 2 tahun yang lalu.)

Professor Bambang Sunendar memberikan penjelasan mengenai Nanosains, baik definisinya, penerapannya, sejarah mendetilnya, bagaimana bisa dimanfaatkan di benda sehari-hari… Et cetera.

Professor Bambang, sama seperti tahun lalu berangkat dari pemahaman bahwa, uniknya, semakin kecil teknologi, semakin efisien dan signifikan pengaruhnya. Selain itu, Professor Bambang juga memberikan penjelasan mengenai Nanobiologi, cara memanipulasinya, Nanobots, bagaimana ia bisa membangun diri sendirinya dengan mudah, serta juga sedikit insight mengenai seberapa signifikan pengaruh nanosains dalam dunia nyata.

Tetapi, aku ingin sedikit mengkritisi analogi yang digunakan Professor Bambang menjelaskan dan menggunakan analogi untuk signifikannya ukuran Nano dalam kehidupan sehari-hari. Professor Bambang menyebutkan sebuah zat yang katanya merupakan bensin bekerjanya seorang manusia. Ia menanyakan ke semua peserta bahwa zat inilah yang membuat kita berjalan, hidup dan pintar, dan ini alasan orangtua kita memaksa kita makan makanan yang sehat.

Banyak kata-kata yang tidak bisa didengar dari ruangan, hanya berupa bisikan. Ada yang bilang “Zat Besi”, “Oksigen”, “Vitamin” dan seterusnya. (Aku memutuskan untuk diam, padahal aku yakin yang Professor maksud adalah Protein) Terus, sekitar 3 menit pengulangan fakta, Professor Bambang menyebutkan kalimat seperti ini. “Kalau kalian kekurangan zat ini, bisa bisa kalian autis, atau gak bodoh. Makanya zat ini penting sekali. Masa kalian gak tahu sih?” Sejujurnya, kurasa ini sedikit menyinggung dan kurang professional. Mohon maaf jika opiniku juga menyinggung.

Kuliah ini dilanjutkan dengan Professor Bambang menjelaskan fenomena penting yang melibatkan Nanosains, baik itu natural, tidak sengaja, atau memang sengaja diciptakan manusia.

Statement ini ditambahkan dengan Professor Bambang bilang bahwa “Untuk belajar Nanosains, tidak akan bisa hanya belajar fisika, kimia, atau biologi, harus belajar ketiganya. Tetapi, jika ingin lebih spesifik, baru bisa belajar sesuatu seperti misalnya, Nanobiologi, Nanokimia, dan lain-lain.”

Dari sini, muncul bagian paling menarik di kuliah Professor Bambang…

Sedang ada riset untuk menggunakan ulang sampah kepiting, jagung, dan pisang untuk bahan-bahan lain. Seperti misalnya, bahan bakar, sel pengganti, dan lain-lain! Ini sangat menarik untukku, karena aku doyan makan kepiting, dan ternyata ada 800 ribu ton sampah kepiting tiap tahunnya.

Sayangnya waktu sedikit habis, jadi professor Bambang sedikit flash forward. Dan langsung menyimpulkan.

Sejujurnya, aku tidak menangkap 100% kuliah 90 menit dari Professor Bambang ini. (Psikologi menyatakan bahwa kita ujung-ujungnya akan mengingat hanya 25% dari seluruh informasi yang otak kita terima) Tetapi amat disayangkan bahwa Professor Bambang memberikan sedikit kesan negatif pada tengah kuliah.

Secara keseluruhan, jika aku ingin membandingkan kuliah Professor Bambang di Nanoscience dan Nanoteens, kurasa Nanoscience for Kids lebih sukses dalam membuat kuliah pengenalan yang lebih mudah dimengerti, dan lebih terstruktur. Sayangnya, Nanoteens yang memang lebih condong ke aplikasi dan penerapan, tidak bisa keep up dengan pengenalan ke Nanosains yang lebih detil dan lebih luas jangkauannya, seperti di Nanoscience for Kids.

Aku sendiri sedikit bingung jika ingin memberikan sebuah kuliah mengenai sains yang kompleks ini ke anak SMA. Bukan hanya itu, hanya ada waktu 90 menit, dan kemungkinan membuat mereka merasa bosan sangat tinggi. Sekarang tantangannya bertambah, harus lebih spesifik ke penerapan, dan bukan hanya teori.

Kurasa penggunaan video juga menarik dan cocok untuk ini, sayangnya dalam kuliah pengenalan kali ini, tidak ada video yang ditunjukkan.

Nanokosmetik 10.45-12.00
Teteh Atsarina Larasati Anindya

Teh Laras memberikan materi berikutnya sebelum kita makan siang. Kali ini, temanya bukan penerapan nanosains secara luas, melainkan penerapan nanosains spesifik ke bidang kosmetik, dan hanya bidang kosmetik saja.

Pertama-tama, Nanokosmetik adalah kosmetik yang menggunakan teknologi Nano…

Oke, oke… Pernah melihat iklan produk make-up menggunakan emas, atau pasta gigi yang menggunakan arang? Atau mungkin yoghurt Sour (nama cewe) yang menggunakan Charcoal?

Jadi begini, pada dasarnya, semua produk diatas menggunakan nanoteknologi.

Semua nanoteknologi dalam kosmetik, menggunakan carrier untuk membawa alat yang bisa membawa benefitnya secara aman. Pada dasarnya, banyak zat yang sering digunakan dalam Nanokosmetik, seperti…

  • Emas. Emas bisa berubah warna, sesuai dengan nama Latin Emas yaitu Aurum, yang berarti Rainbow Metal. Dengan alterasi kimia yang tepat dan carrier yang pelan dalam memberikan paketnya, Emas bisa merubah warnanya, serta memberikan “glimmer” yang bagus. Sebuah cat rambut Nano dari Jepang dapat berubah warna tiap harinya, jika kita menyemprotnya dengan zat yang sudah disediakan sepaket dengan membelinya. Dan sekarang aku ingat kenapa orang Jepang suka membuat banyak fashion statement.
  • Perak. Seperti di mitologi Eropa, Perak dinyatakan bisa membunuh bakteri yang buruk. (iya, di mitologi dipakai untuk membunuh Lycanthrope, atau Werewolf) Biasanya perak ditemukan di pasta gigi, yang katanya lebih efektif dalam membersihkan suatu zat.
  • Silica. Silica adalah bahan pembuat kaca. Biasanya, Silica digunakan untuk bedak agar memberikan efek berkilau dan mengilap. Silica juga adalah bahan paling sering dibawa dalam nanokosmetik.

Masih banyak lagi, tetapi aku akan membahas sesuatu yang lebih penting lagi (dalam kacamataku). Carrier Nano. Ada banyak jenis Nanocarrier, banyak fungsi, dan banyak bentuk. Aku paling mengingat Carbon Nanotube, dan juga liposome, tetapi juga ada banyak lagi.

Pada dasarnya, Nanocarrier ini adalah Mang Gofood yang mengantarkan Makanan (seperti Emas, Perak, dan Silica di atas). Nanocarrier ini memastikan paket yang berupa unsur, atau zat yang penting bisa sampai tepat tujuan, serta juga memastikan bahwa paket itu tidak tercecer dengan berantakan, dan semua bagian yang membutuhkan si paket mendapatkannya.

Nanocarrier membuat objek beberapa kali lipat lebih efisien.

Eh, tetapi ingat ya, semakin mahal zat dan efisiensinya, harganya juga makin… wah… :O

Sebuah tube kecil nanokosmetik sejumlah 30ml berharga 450 dollar karena menggunakan emas dan platina. Harga per mililiternya seharga, 15 dollar… o_O

Teh Laras juga membahas beberapa banyak hal mengenai teknisnya menguji Nanokosmetik, serta Health Risk dari beberapa Nanokosmetik, dan cara kita mencermati nanokosmetik yang riskan dan lebih banyak menghasilkan pengaruh negatif dibanding positif.

Presentasi diakhiri dengan sebuah foto Syahrini (yang katanya dipilih karena dia menggunakan banyak sekali nanokosmetik) dan reminder untuk pintar memilih kosmetik.

Sesudah itu, kita makan siang dengan (restoran hanya akan disebut inisialnya saja biar tidak iklan) McD, dan aku yang ingin melihat pameran ITB di Aula Timur pergi ke situ, dan juga sholat di masjid salman, karena sudah sekalian ke depan πŸ˜‰ (oke, aku juga sholat disitu buat minum teh, tapi tetep sholat di masjid)

Membuat Sabun (13.00-14.30)
Teh Sri Ayu

Sabun! Kita membuat Sabun!

Fast forward 2 hari. Aku melupakan nama satu bahan yang sangat krusial dan aku dimarahin sama Bubi. Nasib. Untungnya aku menemukan nama bahan tersebut!

Sesudah makan siang, kita diberikan Jas Lab, dan dibagi kelompoknya. Aku sekelompok bersama 4 perempuan, dan kita mendapat asisten, atau lebih tepatnya guide, dari Kak Yusuf Yuda, atau boleh dipanggil Kak Ucup…

Jadi, pada dasarnya, membuat sabun itu sangat mudah! Prosesnya diberi contoh oleh Teh Sri Ayu, dengan beberapa bahan yang sudah ditimbang dan tinggal dicampur. Kita juga diberikan handout untuk teori dibalik si sabun, dan juga cara pembuatan, serta alat dan bahan.

Resep yang diberikan setara dengan 1 kali mencetak sabun, dan karena kita diminta membuat 3 batang sabun, rasio dari resep itu dikali tiga.

Bahan yang digunakan adalah…

  • Virgin Coconut Oil, Palm Oil, Olive Oil
  • NaOH padat (Juga diketahui sebagai, Lye Powder)
  • Vitamin C
  • Kopi bubuk untuk pewangi
  • Aquadest untuk melarutkan

Cara membuatnya pun cukup sederhana…

  • Campur VCO, Palm Oil, dan Olive Oil sesuai resep yang diikuti (perbedaan rasio berarti perbedaan tekstur dan mudahnya larut)
  • Larutkan ke dalam Beaker Glass dan aduk menggunakan stirrer. Panaskan sampai 40-50 derajat celsius.
  • Masukkan Vitamin C 0.1 gram, NaOH sesuai rasio dan resep, dan Kopi bubuk 0.01 gram ke dalam beaker glass. Biarkan teraduk sebentar.
  • Aduk, aduk, dan aduk sampai warna menjadi keputihan.
  • Cetak ke dalam cetakan!
  • Tunggu memadat, sekitar 18-24 jam. Keluarkan dari cetakan sesudah memadat
  • 2 minggu sesudah padat, sabun bisa digunakan.

Jika ada yang menanyakan ke aku, apa bagian paling sulit dalam membuat sabun DIY… Jawabannya adalah menimbang.

Aku sedang memasukkan VCO ke dalam timbangan… dan karena harus presisi, kita meneteskan sedikit, dan sedikit, dan sedikit sampai akhirnya jumlah tercukupi.

Itu tidak rumit, hanya butuh finesse dan ketelitian… Sayangnya aku tidak punya keduanya. Untungnya, tidak ada hal buruk terjadi! (belum)

Sekarang, hanya akan ada foto, karena beneran, membuat sabun itu sangat mudah

Mungkin stirrer tidak terlihat dengan jelas, tetapi, ada sebuah pil yang berputar karena elektromagnetisme di bawahnya. Jadi, sekarang, kita tidak perlu mengaduk manual! Hore!

Mesin dibawahnya disebut, (ya, captain obvious kembali…) Electromagnetic Stirrer.

Sesudah diaduk, tinggal dicetak, dan tinggal ditunggu padat! Hasil jadi akan ada di post yang akan kukeluarkan besok, karena ini baru laporan Day 1.

Masker Kaolin Clay (15.00-16.30)
Teh Sri Ayu

Sekali lagi, sesudah sholat ashar dan juga coffee break (FYI, aku juga comot beberapa hal untuk dibawa dan dikonsumsi di Hotel) praktikum kembali dimulai. Kali ini membuat masker dari Kaolin Clay, yang katanya bisa digunakan untuk mengencangkan kulit dan membuat seseorang awet muda. Aku dan mukaku yang boros ini mungkin malah jadi awet tua kalau pakai ini. Eh curcol detected.

Kaolin Clay juga diketahui dengan nama Aluminum Oksida, atau AlO2, tetapi yang berasal dan terkena hawa dingin dari pegunungan di China.

Dan sekali lagi, proses pembuatan masker ternyata juga cukup sederhana, berikut bahan, disusul dengan cara pembuatan.

  • Kaolin Clay
  • Vitamin C
  • Oatmeal
  • Pewarna Kosmetik

Maskernya berbentuk bubuk, dan cara membuatnya hanya dengan menumbuk dan mencampur.

  • Timbang 0.03 gram Vitamin C, 15 gram Kaolin Clay, dan 5 gram Oatmeal.
  • Masukkan Vitamin C dalam tempat penumbukkan (alu, jika aku tidak salah), berikan pewarna.
  • Masukkan Kaolin Clay, dan Oatmeal.
  • Tumbuk, tumbuk, tumbuk, dan tumbuk sampai menjadi bubuk.

Sudah, ternyata untuk membuat bonding level Nano cukup dengan menumbuk!

Tetapi, disinilah saat kelompokku membuat kesalahan.

Pertama-tama, pewarna hanya diberikan ke Vitamin C sebagai indikator bahwa, jika Kaolin Clay dan Oatmeal sudah menjadi warna biru, (atau setidaknya ada titik-titik biru) maka masker sudah tercampur. Nah, kita memasukkan vitamin C ke tempat Kaolin Clay dan Oatmeal sebelum diwarnai… Jadi, sekarang, maskernya sudah jadi, tapi kita tidak tahu seberapa tertumbuk hasil masker bubuk kita… ^^’

Selain itu, karena kita sudah tanggung mencampur Oatmeal dan Vitamin C, saat kita memasukkan Kaolin Clay, ada sedikit yang tumpah, jadi kita semua harus bersih-bersih, dan memastikan rasionya masih cukup.Untungnya, ini bukan praktikum yang resmi, atau yang dinilai, dan untungnya lagi, kita masih belajar. Jadi, mari kita lihat foto saja ya!

Kalau Bubi yang lihat foto ini mungkin reaksinya, “Azriel mah mana kuat numbuk, gak ada tenaganya.” Untungnya hasilnya tampak cukup tertumbuk kok… Lihat saja.

Hasil sesudah aku menumbuk 3 menit. Masih sedikit bertekstur, tetapi lebih rata.

Ya, setidaknya maskernya sudah bisa dipakai sesudah menumbuk 10-15 menit.

Tanganku sangat lelah beres menumbuk. Bahkan menulis 2250 kata pun tidak selelah menumbuk 15 menit.

Untungnya, aktivitas hari itu beres, dan aku kembali ke hotel!

Malam…

Hotel Neo di Dipatiukur, sesudah pulang malam, beres menonton Ant-man, kamarku.

Roommate ku sedang bermain dengan teman-temannya di kamar lain. Jadi, aku makan malam sesudah Ant-Man sendiri, dan langsung tidur.

Sabuk adalah hiasan, sengaja ditaroh disitu biar orang-orang bisa fokus ke satu objek.

Hari ini sudah beres, sampai besok!

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan πŸ˜‰

Selamat menikmati!

Minggu kedua! Maaf, minggu lalu aku semacam reboot ulang otak, jadi kurang produktif. Minggu ini, aku akan langsung membahas buku yang sudah aku baca dalam 1 minggu kemarin. Sejujurnya kedua buku ini akan membuatmu berpikir berkali-kali mengenai hal yang sederhana.

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 28 Mei, sampai Minggu 3 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Tetapi jika ditambahkan, kedua buku itu mencapai 12000 loc, ini berarti bahwa aku sudah menambah sekitar 20% total halaman yang telah dibaca, meski minggu ini aku lebih sibuk dari minggu sebelumnya.

Setiap 20 loc setara dengan satu halaman pada buku dengan ukuran 13X20 CM. Ini kurang lebih berarti bahwa aku membaca sekitar 600 halaman.

Catatan: Satu buku yang aku baca dibaca cepat dengan teknik yang diajarkan oleh Om Adi Wahyu Adji. Om Adi ini merupakan penulis ulasan buku yang pernah membaca satu buku per hari-nya, dan langsung mengulasnya dalam 24 jam. Teknik membaca cepat yang beliau ajarkan pernah disampaikan dan diajarkan juga ke diriku, dan aku sangat senang. Teknik ini membantuku membaca buku yang penuh statistik dalam sejenak saja, dan meski mayoritas angka dan statistiknya lupa… konteksnya masuk kok.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Should We Eat Meat? Karya Vaclav Smil (8500++ loc)
  • Our Last Invention. Karya James Barrat (3500++ loc)

Berikut ulasan singkat serta opini untuk kedua buku tersebut.’

Should We Eat Meat?

Dari judulnya, bisa ditebak ini buku tentang perkarnivoraan. Buku ini netral, dan tidak memberikan kesimpulan apapun. Ia memintamu untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

Buku ini netral.

Tolong ketahui bahwa tidak ada tersirat bahwa buku ini pro, ataupun kontra ke manusia yang berusaha menjadi karnivora, meski posisi mereka tepat berada di atas piramida spesies. Buku ini hanya memberikan banyak sekali fakta dan baik hal positif ataupun negatif dari kita, sebagai manusia yang memakan daging.

Should We Eat Meat tidak memberikan terlalu banyak opini yang bersifat divertif dan membuka hampir segalanya yang perlu diketahui mengenai daging. Tidak ada prasangka

Fakta-fakta yang dibahas disini pun cukup menarik, detil, dan juga membahas dari sangat sangat banyak sudut pandang. Vaclav Smil membahas dari sudut pandang… (nafas dalam)

Catatan, untuk titik berwarna putih berupa fakta+opini, silahkan saring sendiri yang mana merupakan fakta dan yang merupakan opini.

  • Antropologi
    • Manusia mendapatkan budaya dari daging. Banyak suku memiliki ritual khusus untuk memakan daging.
  • Evolusi
    • Manusia hanya evolusi dan memiliki otak sebesar ini karena memakan daging. Jadi jika anda ingin kita berevolusi menjadi mutan, karena anda fanboy X-Men, makan daging yang banyak. Gen-mu akan berevolusi perlahan-lahan
  • Biologi
    • HEHEHE… Baca sendiri bukunya
  • Lingkungan
    • Sapi menghasilkan 50%++ (2011) metana yang merupakan gas rumah kaca di dunia. 25% metana mengakibatkan global warming. Ini berarti bahwa sapi berkontribusi 1/8 bagi pemanasan global
  • Kekejaman kepada hewan
    • Mayoritas peternakan di Amerika tidak menganggap sapi sebagai makhluk hidup dan memperlakukannya semena-mena. Mereka bahkan jarang sekali diberi sinar matahari, makanan yang layak, dan juga banyak lahannya untuk bergerak diambil demi menghemat dana di lahan.
  • Angka kematian
    • Sapi menambah +2% angka kematian muda jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Kemajuan manusia sesudah mengonsumsi daging
    • Lihat Evolusi, Antropologi. Manusia juga maju secara energi, lihat energi dari daging di bawah.
  • Kesehatan
    • Probabilitas ada penyakit atas keracunan dari sapi dibawah 0.01%, tetapi probabilitas terkena penyakit karena terlalu banyak konsumsi lemak, sekitar 18% jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Nutrisi dari daging
    • Daging merah adalah protein dengan zat besi dan protein terpadat di dunia. Untuk sekarang, belum ada alternatif untuk sumber zat besi yang seefisien daging merah terkecuali vitamin. Jamur, yang memiliki zat besi dan protein lumayan banyak saja masih hanya memiliki sekitar 1/4-1/3 zat besi jika dibandingkan dengan sapi.
  • Energi untuk memproses daging
    • Lupa angkanya. Tetapi, jika dibandingkan dengan efisiensi lahan dibandingkan dengan tanaman, daging lebih efisien. Nah, dalam konteks energi, sapi membutuhkan sekitar dua kali lipat perawatan, serta sumber daya dalam memeliharanya.
  • Endorphin dari mengonsumsi daging (alias kesenangan pribadi)
    • HEHEHE… πŸ˜‰
  • Agama
    • πŸ™‚
  • Sumbangan ke ekonomi
    • Daging dikonsumsi dalam jumlah yang banyak tiap tahunnya. Mengingat dalam proses pertanian juga ada pembelian lahan, pembelian alat, pembelian makanan, peternak, dan lain-lain… Peternakan cukup banyak menyumbang bagi ekonomi beberapa negara. Bukan hanya peternakan, tetapi juga restoran yang mengandalkan steak sebagai menu utama. U.S. sendiri mengkonsumsi 120kg daging per orangnya tiap tahun.

Dan masih banyak lagi. Ingat, buku ini sekitar 500 halaman membahas tentang daging. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi nyatanya sangat-sangat kompleks.

Seperti kusebut, buku ini mayoritas kontennya berupa data, misalnya persentase, statistik, dan faktual, lengkap dengan sumber dan riset untuk memberi penekanan bahwa buku itu dapat diandalkan.

Selain faktual, juga ada sebuah bab yang terbilang imajiner, dimana Vaclav tidak memberikan banyak angka, tetapi lebih ke alternatif ke daging-daging yang memang berbahaya ini.

Vaclav Smil sendiri menulis buku dikarenakan ia benar-benar penasaran kenapa banyak sekali orang pro dan kontra mengenai hal yang dilakukan tiap hari ini. Ia juga tidak menyimpulkan apa-apa, namun jika memang daging seburuk itu, kenapa tidak ada yang membahas secara netral? Perspektifnya benar-benar menarik, bukunya mampu sekali dinikmati, tetapi mungkin jika tidak dibaca cepat akan sedikit memakan waktu.

Catatan: meski membahas daging putih dan merah, aku menggunakan data untuk daging sapi saja, dikarenakan lebih lengkap, serta memang itu alasan aku membaca buku itu.

Baca buku ini jika…

(bold berarti alasan aku membaca buku ini)

  • Ingin menjadi vegetarian, atau mengurangi konsumsi daging
  • Mencari sebanyak-banyaknya alasan untuk mendebat orang bahwa memakan daging itu tidak apa-apa, meski itu merusak lingkungan. Atau sebaliknya tentunya.
  • Mulai menanyakan tentang gaya hidup yang bisa menambah umur planet kita tercinta ini.
  • Mencari metode untuk menambah umur planet kita.
  • Kekeuh tidak mau berhenti memakan daging.
  • Kekeuh bahwa makan daging itu buruk.
  • Mencari sudut pandang baru  untuk hal sederhana.

Sebenarnya buku ini benar-benar kuberikan terlalu banyak spoiler. Tetapi dengan gaya penulisan yang empirik serta faktual seperti ini, sedikit susah untuk mengulas tanpa membocorkan.

Keseluruhan, bukunya bagus, dan akan membuatmu memikirkan tiap suap daging gurih yang kamu makan. (UHUK, BUBI TUH UHUK)

Our Final Invention

Dasarnya, ini buku AI. Dasarnya negatif, tetapi tidak bermaksud menakut-nakuti, hanya untuk membuatmu berpikir lebih banyak sebelum bertindak.

Aku sudah pernah menulis tentang AI dan dampaknya di website ini, tetapi aku jarang menulis dalam konteks teknis, aku lebih banyak menulis dalam konteks filsafat, ataupun evolusi. Jika ingin melihat AI dalam gambaran yang besar, lebih ke proses pemikiran AI itu, serta projek-projek dan program AI itu sendiri, baca saja buku ini.

Buku ini juga membahas sedikit konteks sains teoretikal, filsafat, serta evolusi. Namun tetap, poin utamanya berada di teknologi, dan bagaimana AI bisa saja membunuh kita semua, alias manusia secara spesies. Disini juga dibahas bagaimana kita sebagai manusia sering terjebak dalam dunia ilusi akan bias.

Buku ini teknis, lebih teknis dari artikelku, tetapi tidak seteknis buku tulisan Vaclav Smil tadi. Ia membahas beberapa hal yang sama berkali-kali, dari sudut pandang berbeda.

Banyak juga proyek AI dibahas dalam buku ini, baik yang baru, ataupun yang lama. Mulai dari yang sederhana seperti robot pemain catur, ke Siri, sampai robot untuk menyimpan pikiran dan kesadaran kita, semuanya sedang dikerjakan.

Buku ini juga menunjukkan banyaknya persinggungan filosofi antara programmer dan manusia secara umum. Ada yang sangat pro, ada juga yang sangat kontra. Mirip dengan kasus daging itu. Orang yang netral jarang ditemukan, hanya ada maniak yang pro sampai mati, serta yang kontra banget sampai menolak dan membuat gerakan penolakan.

Aku tidak bisa memberikan terlalu banyak elaborasi, karena sebenarnya yang tidak terlalu melenceng dan memberikan spoiler ke buku itu ada di kedua artikelku di atas.

Baca Buku ini jika…

Sekali lagi, bold berarti alasanku.

  • Penasaran atas kemajuan teknologi
  • Ingin mengetahui tentang AI
  • Takut atau sangat menyukai AI
  • Ingin memadukan teknologi, biologi dan filsafat
  • Mencari sudut pandang baru ke teknologi yang sudah menjadi bagian sehari-hari
  • Ingin mengetahui proses mencapai semacam bentuk keabadian, kekekalan, dan lain-lain.
  • Anda seorang doomsday prepper dan ingin melawan Artificial Intelligence sebagai harapan terakhir manusia.
  • Ingin membayangkan dystopia yang dikendalikan AI

Secara keseluruhan, buku ini super bagus, menarik serta menakutkan. Ia sukses menangkap fakta, opini, dan juga perselisihan antar kedua kubu. Buku ini tidak netral, James Barrat cenderung anti AI, tetapi tidak sepenuhnya memberikan frame dan menghalangi informasi dari kubu yang pro AI.

Baca bukunya! Mungkin kamu merasa takut, ataupun takjub. Tetapi sejujurnya, kedua hal itu tidak jauh beda…

Kesimpulan

Kedua buku ini mirip dalam konteks bahwa, manusia memiliki banyak hal yang sama dalam pikirannya… Baca saja keduanya ya… Kamu akan menemukan benang-benang merah yang saling menyatukan kedua buku ini…

Pembaca akan dibawa untuk berpikir secara mandiri dan menentukan kubunya. Karena nyatanya, menjawab dengan netral sungguh sulit.

Sampai lain waktu!

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Selamat menikmati!

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 21 Mei 2018, sampai hari Minggu 27 Mei, aku sudah membaca 3 buku. 2 buku yang kubaca merupakan buku nonfiksi. Buku tersebut jika ditambahkan mencapai kurang lebih 10000 loc di Kindle. Sekitar 20 loc (singkatan untuk location), setara dengan 1 halaman di buku yang berukuran 13X20 centimeter.

Jadi, jika ditotalkan, kurang lebih ada 500 halaman yang sudah kubaca. Hmm, sebenernya masih bisa ditingkatkan, tetapi ya sudahlah, ini masih minggu pertama…

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Stuff Matters karya Mark Miodownik
  • 1984 karya George Orwell
  • The Subtle Art of Not Giving A F*ck karya Mark Manson

Berikut ulasan singkat serta opini kepada buku-buku tersebut.

Stuff Matters.

Stuff Matters adalah sebuah buku yang menganut tema sains/sejarah, membahas benda-benda sehari-hari, tetapi dalam perspektif yang lebih mendalam…

 

Buku ini sangat cocok untuk orang sepertiku yang mau kepo sama segala sesuatu yang tampaknya sederhana. Mulai dari coklat, besi, sampai sel tubuh, Stuff Matters menjelaskan sesuatu yang sering dipandang sebelah mata, diduduki, atau mungkin ditelan dalam perspektif sains materi.

Sains materi adalah sains yang membahas segala sesuatu yang ada dalam level atomik atau subatomik. Biasanya orang yang meneliti sains materi melihat struktur dan ciri-ciri (atau properti) sebuah benda. Misalnya, semen memiliki struktur yang ketika cair, layaknya (ehh, tentunya) cairan (kan πŸ˜€ ), tidak terlalu ketat, dan tentunya tidak dibatasi “penjara” atomik apapun.

Tetapi, berdasarkan ciri semen dari komposisi kimianya, ia mampu memadat dengan sangat cepat. Ketika padat, struktur partikelnya, menyempit, mengikuti cetakannya, dan benar-benar rapat. Dalam level atomik, semen padat sangat “dense” atau mungkin, rapat. Tetapi, sanking besarnya cetakannya dalam level atomik, meskipun tercetak secara rapat, bentuk cetakannya sangat besar.

Karena kualitasnya yang mudah memadat ini, dan juga struktur atomiknya yang sangat kuat ini, semen sangat kuat, serta mudah dicetak.

Dasarnya sains materi mempelajari hal-hal sehari dalam perspektif fisika, kimia, dan juga tentunya, penggunaan seharinya.

Buku ini tidak hanya menceritakan perspektif materi ini secara sains saja, tetapi juga memberi tahu kita etimologi dari benda tersebut, jenis-jenis benda tersebut (misal, kertas dibahas bukan hanya kertas saja, tetapi juga… kertas kain, kertas uang, dan lain-lain), dan yang sama pentingnya, sejarah benda tersebut!

Penulisnya juga banyak sekali menceritakan opininya pada benda tersebut, dan juga bagaimana ia melihatnya sebagai anak-anak. Seperti ilmuwan inggris pada umumnya, Mark Miodownik memiliki selera humor yang sangat bagus!

Baca buku ini jika…

  • Kamu mau tahu bagaimana cara benda-benda sederhana dapat tercipta, ataupun diciptakan
  • Kamu penasaran atas teknologi terbaru dalam membuat hal-hal sehari-hari seperti ini bisa lebih efisien
  • Ingin melihat benda-benda rumah tangga dari sudut pandang baru
  • Ingin mempelajari sejarah benda-benda yang ada di buku ini.

(oke, maaf, aku gak mau bilang apa aja benda-bendanya yang ada secara spesifik, meski keceplosan sedikit banyak).

Secara keseluruhan, Stuff Matters adalah sebuah pintu masuk yang bagus untuk memicu rasa penasaran dalam sains materi.

1984

1984 adalah sebuah buku yang keluar tahun 1945, karya George Orwell. Buku ini bertema Dystopia, alias membahas apa yang mungkin saja terjadi jika pemerintahan di dunia ini berbelok ke arah yang salah. 1984 merupakan salah satu buku Dystopia pertama.

1984 memberikan kesan yang sangat… menyeramkan. Pertama-tama, ketahui aku sendiri sebenarnya belum pernah membaca atau menonton sebuah karya literatur yang Dystopian. 1984 memberikan kesan yang baik, tetapi buruk mengenai sebuah pemerintahan yang kacau.

Alkisah, dunia ini terbagi menjadi 3 kubu yang kuat, Oceania, Eurasia, dan Eastasia. (maaf, karena kemampuan geografiku yang buruk aku masih kurang mengerti lokasi masing-masing kubu) Setiap pemerintahan seringkali berperang.

Secara internal PNS (atau outer party) diberikan doktrin dan diperhatikan setiap gerak geriknya, agar tidak ada sedikitpun rencana untuk menggulingkan pemerintahan yang sangat kacau ini.

Lokasi buku ini berada di London, dalam sebuah bagian dari Oceania bernama Airstrip One (atau, tentunya, Inggris). George Orwell mampu menjelaskan tiap kalimat dan deskripsi seolah-olah dunia sudah bertolak belakang.

Bukan hanya pemerintahan yang dikacaukan, 1984 juga mengurangi konteks bahasa, agar makin rendah kemungkinan seseorang dapat membuat sebuah kalimat yang puitis atau lengkap, sebuah bahasa baru bernama (ini sangat… obvious) Newspeak diciptakan. Newspeak pada dasarnya membuat semua antomim hilang dan menghilangkan semua potensi ambigu sebuah kata.

Antomim pada dasarnya direpresentasikan oleh kata Un. Jika good adalah baik, dan bad adalah buruk, Newspeak mengganti bad dengan ungood. Untuk great alias lebih baik, diwakili dengan plusgood, dan… ya baca saja bukunya.

Tetapi, pemerintahan di 1984 mengatur segala hak bicara, hak privasi, serta paling parah… hak untuk bebas melakukan apapun.

Baca buku ini jika…

  • Ingin mendapat sebuah sensasi buku horror yang baru. (sebenarnya tidak terlalu seram, tapi… itu bisa jadi menyeramkan untuk beberapa orang).
  • Ingin melihat dunia yang sudah rusak.
  • Penasaran atas metode kontrol yang masuk sampai level diktator. (Nih, yang bilang Jokowi Diktator, baca dulu 1984, biar tahu diktator tuh gimana)
  • Mau mempelajari bahasa baru, yang sekarang masih fiktif. ( πŸ˜› )
  • Merasa ditindas, ataupun diberikan paksaan oleh pemerintah. Karena sesudah membaca buku ini, kamu akan merasa sangat-sangat bebas!

Dari cakupan bebas spoiler, 1984 menegangkan, menakutkan, dan juga “mengajarkan” sedikit tentang politik, serta psikologi pengendalian massa.

The Subtle Art of NOT Giving A F*ck

Iya, buku ini penuh dengan umpatan. Hindari jika kamu tidak ingin mendengar banyak umpatan. Bukan masalah besar bagiku, sayangnya ulasannya terlalu bagus, aku jadi penasaran. Buku ini masuk dalam genre self-help, tetapi tidak konyol, atau terlalu motivatif.

Menjelaskan buku ini dengan 10 kata, atau lebih pendek. Buku ini bodoh, tetapi sanking bodohnya, ia jadi benar.

Mark Manson mampu memberikan motivasi dengan metode yang sama sekali tidak seperti sebuah motivator. Motivator, dan buku self-help ala hippie pada umumnya meminta orang untuk menenangkan diri dengan bilang ke diri sendiri bahwa kamu tenang.

Padahal, nyatanya, orang yang tenang tidak akan perlu untuk bilang ke dirinya bahwa dia tenang. Ia cukup menelan fakta bahwa ia sedang tidak tenang.

Sesuai dengan slogannya, A counterintuitive approach to living a good life… Buku ini benar-benar penuh dengan metode yang ironis, tetapi benar, serta cara memperbaiki diri dengan konyol, tetapi sekali lagi benar. Sebenarnya jika aku memberikan sedikit terlalu banyak “hinaan” itu salah juga sih.

Buku ini penuh inspirasi, tetapi ditulis dengan nyeleneh, sehingga memberikan kesan yang bodoh dan konyol itu. Tetapi, layaknya sebuah orang yang suka bercanda, buku ini memiliki momen serius dimana benar-benar bersih dari nyelenehnya itu dan menjadi momen yang… inspiratif dan benar.

Seperti banyak buku self-help, penulisnya memberikan banyak sekali ceritanya sendiri, dan aku yakin orang pada umumnya mampu merasakan beberapa cerita yang ia selipkan disini, baik miliknya, atau milik orang lain yang curhat ke dia via blog miliknya.

Buku ini… benar-benar bagus.

Baca Buku ini Jika:

  • Kamu muak dengan motivator yang penuh dengan omong kosong dan “tetap positif meski segala sesuatu sudah buruk” miliknya itu.
  • Ingin mencoba cara baru untuk memperbaiki diri.
  • Sering memiliki sedikit masalah dan/atau marah-marah.
  • Suka membaca orang yang nyeleneh. (dengan cara positif tentunya)
  • Ingin tahu penggunaan kata umpatan. . .  yang tentunya variatif! (HMM)
  • Mencari inspirasi atau memiliki krisis identitas.

Seperti kubilang, buku ini benar-benar bagus, tetapi karena Mark Manson tetap menulis dengan gaya nyeleneh-nya itu… Buku ini jadi sumber humor, ironi, sarkasme, umpatan dan inspirasi di saat yang sama.

Kesimpulan

Daftar buku yang telah kubaca dalam minggu pertamaku dipenuhi humor, ketakutan, serta juga… pengetahuan. Sejujurnya, kamu tidak perlu terlalu bosan membaca terlalu banyak buku, selama buku yang kamu pilih menarik tentunya!

Selera buku orang-orang berbeda, dan layaknya memilih baju (atau pacar), pilihlah buku yang sesuai dengan seleramu.

Sampai lain waktu!

STEM Talks @ American Corner ITB, Advanced Manufacturing Pt. 1

STEM Talks @ American Corner ITB, Advanced Manufacturing Pt. 1

Okay, apologies for the title being a bit too long (or at least longer than the title of the articles I usually write). Today’s article would be about an event that I attended earlier this morning.

This talk is brought by Mrs. Leanne Gluck (hopefully I got this right because she did wear a wedding ring, and it’s gonna be a bit embarrassing if I turned out to be wrong about this), with the support of ITB’s American Corner. Miss Leanne Gluck was the Deputy Director of 3D Systems, one of the biggest 3D Manufacturing companies.

Apart from that she also had some experience in America Makes, some form of project incubator (or collaborative partner) that is usually supporting 3D printing involved projects.

Right now, though it’s not exactly mentioned, she works in Delaware Valley Industrial Resource Center. This information is attained through the joys of Internet. Thanks LinkedIn.

Anyways, enough about the introduction, let’s just head on to the article.

The topic of the talk is Advanced Manufacturing Ecosystems, and it’s gonna be a 2 part article, because, I’m a bit tired today, the second part would be available tomorrow, discussing about the ecosystems, and the ecosystems for advanced manufacturing.

Why was I actually here?

To be honest I had no idea… as a male teenager, we usually do lots of things because our mother made us. And though it isn’t exactly made us do, Bubi did play a part in telling me about this event and made me kinda sign up.

I didn’t really know exactly what this is about, but I’ll have to say, sometimes, stepping into the unknown isn’t exactly a bad idea. I’m certain, at least from the title, which by the way sounds cool “Advanced Manufacturing Ecosystem”… It’s gonna be a quite intriguing talk.

I didn’t really come here because my mother made me… But I did come here because I want to learn something new. And honestly, this new thing I might be learning today would be useful. At least after attending this talk here, I just know that it’ll be useful.

Indonesian Culture

Err, now you’re probably thinking why am I using “Indonesian Culture” as the headline. And well, this is quite a funny (satirical funny) story.

I arrived at the library of ITB at about 8.50, from the electronic flyer, the event is supposed to start at 9.00 o clock. Approximately at 8.55 Mrs. Gluck came with somebody from the U.S. Embassy at Indonesia, whose name, I unfortunately cannot remember, considering how terrible my memory with names is.

So, what’s exactly this “Indonesian Culture” I’m trying to say? Well, it’s the culture of being late. At 9.00 o’ clock, no one was here, and Mrs. Gluck was constantly checking her phone after prepping up her laptop, and she seems kind of confused as to why no one was here, even though it’s time.

Deep down I was ashamed, and I really wanted to say a joke, like “I’m sorry, everyone here often get confused between 9.00 and 9.30”, but being me who can’t really start a conversation unless it’s a previously planned one, I didn’t. She did however say How are you today, and to that I responded with an “I’m fine, how are you?” followed by a “I’m good, thank you”.

Well anyways, the people from American Corner ITB did stall them by taking them on a library tour, he must’ve sensed that discomfort, I’ve been feeling ever since she checked her phone at 9.00 .

Before she got back, I met a senior at Taman Bahasa named Mr. Moko, who spent 30 years in the US and is an engineer. Unlike me, Mr. Moko was able to chat with Mrs. Gluck just naturally.

I really should increase my conversation skills though, I have troubles starting a conversation for some reason.

Anyways, on topic… At 9.30, the talk finally starts, and it all began with this term.

Advanced Manufacturing

Well, what’s advanced manufacturing actually?

To put it simply, Miss Gluck split the two words, and took their dictionary definitions.

Advanced = Ahead of development and progress.

Manufacture = Make something on a large scale using machinery

Keywords are those in bold. Advanced Manufacturing basically means a large scale production of things using the newly developed, or technology that’s still developing.

In a nutshell, the term advanced is relative to its time, and there was a time where Henry Ford’s production chain is advanced, but we’ve come to the point of literally realizing 3D designs on photoshop. From Miss Gluck’s background she used 3D Printing as a theme.

It’s quite on point. When most of the advanced manufacturing does revolve on producing the soft copy of a model onto a real model, as well as making stuff more efficient…

Oh by the way, by definition Advanced Manufacturing includes 3D printing, Robotics, there’s also lightweighting heavier stuff, and also the coolest one is organ manufacturing.

On second thought, you may read coolest as creepiest. It’s a bit scary that there’s an actual organ manufacturing research institute that is researching about cells, growing itself equal to the mold, similarly to the way a bacteria would clone itself, but just… you know fitting the mold.

So hey, remembered how scary AI was? If you are familiar with Indonesian, please read this article about AI. Now, you can have an AI transport itself onto an organic body with this! Just, perfect πŸ˜€ . (or maybe not, considering how AI’s actually hate organic bodies)

Advancement of Industry?

Remember this article? http://dikakipelangi.com/evolusi-pikiran-apakah-teknologi-akan-atau-sudah-menyatukan-kita/ 

That article is actually written in Bahasa, but it does discuss onto how technology is the reason us humans are interconnected. Then there’s also the theory that we’re basically slowing down on the advancement of industry and also slowing down on the advancement of communications causing us to be a bit more interconnected.

On the contrary, advanced manufacturing actually “reverses” that. It makes us and machines more connected to one another, as well as increasing the rapid development of communications and the development of industry along with the help of communication.

So we’ve never really slowed down on industry, we’ve actually accelerated it with our communications!

What can you 3D Print actually?

Still on the theme of 3D printing, something that I actually learned out of an episode in The Big Bang Theory…

Miss Gluck showed us a video, about a bridge that’s 3D Printed. It took 6 months to print the whole bridge, but its actually cool to see how far we’ve come, and although that’s not quite efficient, it’s indeed a rather cool process when literally nothing becomes something! It’s not just materials, it’s basically “Ink” made out of metal, and also steel cables.

This bridge actually works… and people can now step on it… Course it’s still, a bridge, don’t expect it to do much, but it does function as a bridge.

Apart from really large 3D Prints, you can also print really small things, to those the level of a quantum particle. Nano Science facilities are actually using 3D printers to simulate materialization of particles on a quantum scale.

And, for the materials… Apart from the aforementioned cells inside a 3D printer, you can also 3D print food! This however is still rather theoretical, but should you change the filament of a 3D printer with paste, powder, or heck, liquids, you would be able to 3D print food!

Is a programmer an Advanced Manufacturer?

Intermezzo here…

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.orionlabs.OmTeloletTheGame

Late 2016, that game came out on the playstore, me and my friends made it. Since software IS included in the Umbrella Term of Advanced Manufacturing in the 21st Century, I made a software, so technically, I am an advanced manufacturer, since I did mass produce the APK of a game.

Hurrah!

So technically a programmer is an advanced manufacturer, should he produce a downloadable software available to the public! Again, hurrah!

Some interesting 3D print projects

A 3D Printed car is currently in the works. James Corden actually starred in its advertising video, the car’s name is Olli. It’s a 3D printed car that’s self driving, and also runs on electricity. It’s in the shape of a bus however. So, it’s basically a 3D printed Bus version of Tesla!

That reminds me a bit of low cost self driving cars…

On top of that, there’s that bridge thing…

Also, Mrs. Gluck brought a 3D printed bracelet that looks, well, cute… It’s made in a similar way a chocolate top ice cream is made. Firstly, it’s printed in steel or iron, you know, vanilla ice cream, and then there’s some bronze powder to lace and layer the metal with bronze. The bronze is the chocolate in this case. So, it’s basically a bronze bracelet from the outside, but it’s actually a steel bracelet.

If I heard it correctly, the Ganesha statue next to the 3D printer is 3D printed… Course, maybe that’s the reason it’s there in the first place.

Dreamcatcher

Before we conclude today’s short article about Advanced Manufacturing, this is going to be an off-topic leap.

Yes, it’s rather off-topic. Because we did skip about ecosystems, and this is a topic explored in the questions sessions. Though Mrs. Gluck wanted questions as soon as possible, we, the entire audience listened through it without much comments.

There’s a new software known as Dreamcatcher, which is an Autodesk Generative Design. It’s basically a software to randomly generate a calculated parameter of an object… 8 hours of this computers process could generate roughly 1000 designs with a not so complex parameter. Each one being unique, and of course, would fit the needs of the parameters we set.

For instance, we wanted to make a table, then we put in the parameters, four legs, able to hold 200 kilograms, weighs less than 2 kilograms, and then bla bla bla… Then we wait. After the wait, it’ll autogenerate the designs we might wanna see based on the parameters. It’s gonna be wacky, cool, and of course, spot on.

This reminds me of a program used to randomly generate strings in quantum physics. It’s basically an autodesk generative design to generate random strings in a multiverse and relate it to quantum physics, for the types of string available in a universe.

Mrs. Gluck seems very astounded with this fact, and she somehow correlated it with the dystopian Netflix Series Black Mirror… That’ll be for tomorrow.

In Conclusion

Sorry, I wrote in English because A. The talk is in english, and B. I want Mrs. Gluck to read this… (it’s just a want actually).

To conclude, let’s just say that, as a human being, we’ve reached the point of “Yeay technology makes stuff easier!”. Well, this is quite a cliffhanger. And, please, duly note that… There are downsides to this, and let’s not forget the Cambridge Analytics Facebook Data Leakage for a reminder of this… dark side.

Until tomorrow!

Determination and Appreciation of Japanese People

Determination and Appreciation of Japanese People

Jadi ada cerita kecil yang memberiku inspirasi untuk artikel hari ini… Topiknya akan berada di orang Jepang, tepatnya ke minor trinkets yang mereka buat dan perfeksionisme mereka.

Earlier this morning… ada temanku yang menanyakan kenapa ada suatu event di messenger Line, yang memberikan petal bunga sakura (Cherry Blossoms) berjatuhan di aplikasi Line biasa. Awalnya aku ga ngerti sih, karena aku make Line Lite, jadi aku minta Screenshot, dan ternyata betul, Line Messenger memberikan petal bunga sakura di template dasarnya.

So, atas dasar kekepoan, aku mencari tahu kenapa itu terjadi (of course it is Spring to be fair, harusnya rada obvious), dan aku menemukan beberapa hal… yang rada menarik.

Baca seterusnya di artikel ini πŸ˜‰

Spring Blossom

Jadi sepertinya banyak sekali orang jepang yang memang admire dan bangga sekali pada bunga Sakura ini. Dan setiap titik balik musim semi, atau titik dimana Sakura ini lagi in full bloom, developer aplikasi KHUSUS membuat layout baru dengan cherry blossoms seperti ini yang bermekaran untuk jatuh dan tertiup angin, menciptakan efek lucu dan cantik.

Nah sebenarnya ini dilakukan oleh, semua developer aplikasi Jepang. It seems they really enjoy their own culture, dan mereka merasa senang bahwa ada sesuatu yang dibanggakan oleh orang Jepang dan seluruh dunia juga.

Oleh karena itu, mereka berbondong-bondong menggantikan layout mereka ketika bunga Sakura ini sedang fully bloom. To remind the world, bunga ini indah lho, aku merasa bangga menjadi orang Jepang, karena kita punya bunga ini.

Apakah yang mereka lakukan salah? Mereka bangga pada sesuatu yang “unique” to their own country? Keep in mind bahwa sejak zaman dahulu kala, para penulis dan poet asal jepang udah hobi nulis dan ngelukis tentang cherry blossom. Mungkin ini adalah ekuivalen zaman sekarangnya.

 Jadi, sebenarnya mereka sudah bangga pada simbol musim semi mereka sejak kapan tahu, dan mereka ingin membagi keindahan cherry blossom ini ke semua orang, agar mereka bisa melakukan “Hanami” (proses duduk dan menikmati bunga sakura yang jatuh, common di orang pacaran, karena kayanya itu imut…) tanpa harus ada di Jepang.

Now, on topic, mereka melakukan hal yang sangat bagus lho sebenarnya. Mereka merasa bangga pada budaya mereka, alhasil mereka membagi budaya mereka ke seluruh dunia. Dan semoga semua orang bisa melakukan hal yang sama.

Dalam topik mimikri, kita sebenernya rada aneh bisa gak bangga sama budaya dan natural occurences atas keluarga kita, itu rada aneh, tapi ya udahlah, kita mau bahas aplikasi dan behaviour orang Jepang secara general sebenernya.

Japanese Appreciation For Things

Petani Jepang memberikan beras terbaik ke keluarganya, dan menjual sisanya. Ini karena mereka sudah cukup bangga pada hasil kerja kerasnya sendiri, mereka tidak butuh pujian dari orang lain untuk memberikan mereka perasaan yakin dan pede-nya itu lho.

Mereka sudah bisa appreciate hal-hal yang mereka buat, dan hal yang sama bisa dibicarakan tentang Anime, yang dulu aku tonton, tapi sekarang gak karena ngeh bahwa anime itu… cheesy dan lebay.

Intinya orang jepang tidak mencari recognition dan apresiasi dari orang lain karena mereka sudah bisa mengapresiasi ciptaan mereka sendiri. Selain itu, mereka juga tidak overestimate banyak hal, karena mereka cukup driven dan konsisten untu menciptakan sesuatu secara maksimal.

Lihat Shinkansen misalnya… Shinkansen adalah kereta Magnetic Levitation yang hanya mendapat gaya gesek dari udara karena mereka melayang, dan dijalankan dengan elektromagnet yang didesain untuk mendorong si Kereta ini. Kecepatannya sudah cukup maksimal karena gaya gesek yang memperlambatnya sangat lemah, tidak seperti gaya gesek pada roda. Karena efisien dan kuatnya dorongan dari electromagnet kereta Shinkansen ini, kecepatan yang ia buat bisa mencapai kecepatan 603 Kilometer per jam. Tetapi karena bahaya, kecepatan yang mereka gunakan dibatasi ke 320 kilometer per jam. Which is pretty fast (okay kalah sih sama kecepatan maks-nya Bugatti Veyron, but still).

Nah, orang jepang tidak semata-mata bangga pada transportasi umum secepat Superhero DC favoritku di serial TV pas season 1 itu (The Flash…). Mereka tetap yakin bahwa sebagai manusia, mereka bisa saja mengalami kegagalan operasi, dan kabarnya Shinkansen yang ga pernah telat ini, tetep saja menyediakan surat keterlambatan untuk kantor ataupun sekolah.

Seandainya kita telat, Shinkansen akan memberikan kita surat izin karena mereka telat, dan sejujurnya aku yakin ga ada yang ngira telatnya berapa lama sampai kita akan diberikan surat izin. Kalau kusuruh nebak, mungkin kepikirannya 10 menit, 30 menit… but nope, telat 1 menit juga udah dikasih surat, dan drivernya harus membuat public announcement, apology dan explanation πŸ™‚

Speechless kan?

In Conclusion

Loh kok udah beres?

Yah sebenernya masih banyak banget yang bisa di explore dari artikel hari ini, tetapi aku rasa banyak hal yang bisa dicari dari internet mengenai artikel hari ini, jadi… ya sebenarnya anggap saja ini firestarter kalau reader disini masih beneran kepo tentang determinasi dan apresiasi orang Jepang pada hal ciptaan mereka, dan budaya mereka.

Jadi apakah sudah ada yang kepikiran atau ngeh mengenai seberapa wah-nya sebenernya orang jepang ini? Apakah ada yang berharap untuk tinggal di Jepang aja? atau mungkin ada yang emang udah mau jadi orang jepang sebelum baca artikel ini, karena Anime, dll?

Jangan lupa bahwa kita sebagai budaya juga cukup keren lho… Yang aku mau tunjukkin hari ini adalah cara mengapresiasi sesuatu, karena orang Indonesia seringkali melupakan seberapa kerennya kita sebagai budaya. Aku bukan kesini sebagai orang yang hanya impressed oleh orang Jepang, tetapi aku disini mau membawa spirit of appreciation atas budaya kita sendiri, dan effort kita sendiri…

Kira-kira kita bisa ga kalau kita mau merasa bangga pada diri kita sendiri?

You can always try! Until next time!

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Sesudah ending yang menggantung, seperti semua film Marvel… akan kubahas interconnectedness, dalam suatu image yang definitely… more detailed, dan membahas salah satu dari setiap perspektif yang ada, which is the Materialistic one.

Oh also, the introduction and stuff can be found within this article. Ini semacam sekuel ke short film dengan ending menggantung. But unlike most movies that end in a cliffhanger, jeda antar artikel hanya 6 jam! Tapi please baca dulu artikel pendek itu yaaaa, ada hal yang tidak akan diulangi.

Sebentar dulu, ada artikel lain yang penting dan defining this article in general… Definisi Interconnectedness dapat ditemukan di sini.

Definition

Kalau ada seseorang yang mendengar istilah materialistik, terkadang yang terkesan adalah orang itu ingin mencari worldly pleasure, usually in the form of… money, yang terkadang di reference sebagai materi, hence disebut materialis. Tapi sebenernya perspektif materialistik ini gak ada hubungannya dengan materi dalam konteks ekonomi.

Konteks Materi disini adalah, “matter”. What’s the matter with matter you ask? (Baa Dum Tss) Yah udah dijelasin di “preview” artikel ini sebleumnya sih.

Para materialis ini percaya interconnectedness terjadi karena alam semesta tercipta oleh suatu single substance. And that is kind of why this might seem old. Tapi udah kujelasin tadi, jadi sekarang kita langsung masuk ke bagian detailnya aja deh.

Greek Philosophy

Alam semesta ini memiliki banyak unsur. Tetapi semuanya masih merupakan bagian dari unsur utama. Nah, banyak sekali filsuf Yunani besar yang menyebut APA materi utama-nya ini.

Ada Thales yang bilang bahwa air adalah unsur utama, dan segala sesuatu di alam semesta ini merupakan air, at least sebagian-nya saja. Thales sedikit kurang tepat, karena belum ada konsep cahaya dan gelombang di zamannya, tetapi pemikiran ini cukup spot on.

Sampai sekarang pemikiran ini masih “terpakai” karena jika NASA (or any space organization in general) ingin mencari kehidupan, hal pertama yang berusaha dianalisis dari sebuah planet/satelit adalah keberadaannya air. Di zamannya, Thales sudah sangat maju dengan klaim simpel bahwa Air adalah sumber segalanya.

Tapi umm… Gimana air ini bisa play a part in the big machine of interconnectedness? Thales ga bahas itu explicitly, tapi aku yakin (just an opinion) kemungkinan Thales atau muridnya berasumsi mengenai endless cycle of water, also known as the water cycle… (Hurrah everybody, it’s Captain Obvious!)

Terus ada suatu teori menurut Democritus yang sampai sekarang masih cukup familier di Fisika. Meski Democritus (in a sense) dibuktikan kurang tepat, Democritus sendiri percaya bahwa atom adalah substansi utama, dan paling mendasar diantara molekul dan partikel lainnya. Now we know this is wrong. Ada quantum realm, dan electron dan… yah itu fisika. Bukan bahasanku hari ini.

Tapi tidak seperti banyak filsuf Yunani lainnya, Democritus yakin bahwa yang kita lihat dan rasakan itu bukan bentuk yang mendasar, dan segalanya bisa dipecahkan hingga lebih kecil lagi. Dia menyebut hal kecil ini sebagai atom, berdasarkan kata Atomos, yang berarti… Indivisible. (Or tidak bisa dibuat lebih kecil lagi). Aku ga yakin tapi kayanya ini ga diajarin di kelas Fisika di SMP… SO YEAY! More fun facts.

Koneksi Atom dengan interconnectedness itu apa? Well… let me tell you something. I actually have no clue. TAPI……. Inget, ini masih filsafat yang sangat “mendasar” karena dia memang masih di zaman orang Yunani, jadi teori Atom ini akan memberi kontribusi untuk perspektif lainnya.

CATATAN: Andaikan ada definisi atau miskonsepsi di bagian ini dan kurangnya benang merah dari tulisan yang ini dan yang sebelumnya mohon maaf. Catatan ini untuk memperjelas. Interconnectedness itu bisa berada dalam level Universal Mind yang menjalankan alam semesta ini, dan Interconnectedness juga bisa berada di level tengah, yaitu adanya persamaan pemikiran antar beberapa orang. Jika ada perspektif dan/atau opini yang masih rada gaje, tolong berikan comment, aku akan menjelaskan dengan senang hati.

Modern Science

Dunia ini adalah mesin, bekerja secara mekanis, kaya… well sebuah jam. Layaknya mesin dan alat, dunia ini bisa dianalisis melalui Sains.

But hang on, kenapa ini ada hubungannya dengan Interconnectedness?

Sebentar dulu ya… We’ll get there.

Say hello to the sun. No, not your son. That big thing in the sky you look away from because its so bright. Iya, itu, yang ada department store yang pake namanya dia.

Since 4.6 billion years ago… Matahari sudah menjadi titik tengah Solar System kita. Ada 8 planet yang mengitari-nya selama 4.6 milyar tahun itu. 9 kalau Pluto dihitung, tapi Pluto itu bukan Planet, jadi karena aku specifically nyebut Planet, sayangnya menurut astronomi modern, cycle Pluto sebagai planet putus… On topic.

Anyways, jadi selama 4.6 milyar tahun itu… Matahari mengalami hal yang sama berkali-kali, ia menikmati revolusi Merkurius setiap 1/12 (or satu bulan) dari Revolusi Bumi, dan Neptunus belum pernah gerak sama sekali. Setiap hari, hal yang sama diulang, diulang, diulang.

Nah! Ini merupakan suatu hal yang disebut predictable itu. Jadi, seperti yang aku bilang, semuanya bisa dianalisis karena pada dasarnya, hal yang sama berulang tiap hari, minggu, tahun, sewindu, atau seabadnya.

Ini alasan kenapa jauh sebelum zamannya Newton… Kejadian di alam yang pasti disebut sebagai Hukum. Sesuatu yang tidak bisa dilanggar. jadi, menurut sains modern, interconnectedness ini lebih masuk ke definisi yang menjalankan alam semesta ini, bukan hubungan antar pikiran.

Hukum yang kita temukan (Bukan ciptakan, Newton TIDAK menciptakan gravitasi, dia menemukan keberadaannya.) hanya merupakan penemuan dari endless cycle yang sudah jalan jauh sebelum kehidupan kita.

Jadi materi apa yang menciptakan alam semesta ini memang menentukan apa yang menjalankan alam semesta ini, karena… hukum yang kujelaskan di atas memang terkadang tidak bisa dilawan.

Anomaly?

Off topic dulu dikit…

Apakah kita, sebagai makhluk yang pintar, dan mungkin mendapatkan ilham terbanyak dari Universal Mind, sudah menjadi anomali? Nah… coba pikirin deh.

Semua makhluk hidup mengikuti cycle yang mirip, dan mengikuti hukum yang diberikan alam (salah satu otoritas tertinggi di semesta ini) padanya. Sedangkan kita masih berusaha untuk mencari jalan lain dengan hukum antar manusia, yang hanya otoritas sementara di dunia ini, dan jelas bukan yang paling tinggi di dunia filosofi.

Coba pikirin yaaaa… Just you know a bunch of short thoughts.

Contemporary Materialisticism

(Materialisticism is TOTALLY a word)

No it’s not… kata benerannya Materialism. Yes, ada perubahan kata dan etimologi mendasar.

Dalam materialisme kontemporer, sesuatu yang disebut fisikalisme (which in a sense might sound VERY unscientific, atau ironically, very scientific. Fisikalisme ini percaya bahwa segala sesuatu merupakan konstruksi dari sebuah materi. (Yang mengabaikan teori gelombang dan partikel itu, atau heck cahaya.) Konstruksi materi ini bisa dipahami melalui… fisika (since, it’s physics afterall), neuroscience (karena ide merupakan hasil electronic waves di otak), evolution theory (since… akan dibahas lusa, di perspektif para evolusionis), dan apparently… computer science (like Neuroscience, but not a brain).

Kalau membaca dengan detail  kayanya rada jelas bahwa ini sangat tidak scientific, dan in a sense ambiguous, karena… ada betulnya dan juga terkadang sangat scientific… It’s very confusing. . .

Ga usah dipikirin sih sebenernya… Jadi on topic!

Para fisikalisme ini naik lagi satu level dengan bilang bahwa, memang ada invisible path that connects our brain with other brains. Like.. you know, Wi-fi. Sepertinya masuk akal, tapi juga… ga masuk akal…

Ya ini sedikit mendefinisikan interconnectedness dengan cara yang… a bit odd, tapi efektif.

Ini mencover koneksi antar pikiran, karena jika sebuah ide adalah gelombang listrik (or an email), dan pikiran (otak) kita adalah komputer, kita cukup punya sebuah koneksi (in the form of matter apparently) untuk menjadi wifi yang menyambungkan sebuah ide ke komputer lain.

Not only that, this also, kinda covers that… universal mind that governs stuff theory, karena jika pikiran sendiri adalah sebuah substansi, tentunya punya suatu pikiran yang paling tinggi sangat masuk akal karena… Course, sebuah pikiran paling tinggi dapat mengatur hal-hal lain, karena pada dasarnya dia sebuah materi yang sangat… kuat.

Yeah kayanya pusing banget ya… Welcome to philosophy!

In Conclusion

Menggantung lagi, karena masih ada banyak hal yang emang belum aku cover, tapi untuk semua artikel dalam serial ini, akan aku bahas dengan semacam flashback, kembali ke artikel awal, dan tulisanku tentang Materialistic point of view. Seberapa spot on ilmu yang ku tangkap sebelum baca-baca ulang.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance.
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.

Untuk pertanyaan utama… Semesta ini memang terbuat dari banyak unsur, dengan banyak bentuk dan ukuran, tetapi semuanya memang bisa dibreakdown menjadi lebih kecil. So there’s some form of equality there?

Dia berhubungan dengan interconnectedness karena… well, substance yang sama bisa menjadi jembatan untuk ide dan pikiran. Selain itu, ada langit diatas langit, dan ada suatu hal yang memang di atas pikiran kita ini, jadi andaikan pikiran adalah materi… akan masuk akal jika ada matter yang lebih tinggi yang mengendalikannya.

Untuk poin terakhir… Yeah itu rada salah… Aku belum terlalu mengerti prinsip materialisme sepenuhnya tadi, tetapi ternyata materialisme tidak terbatas ke objektifikasi semesta ini (seperti para filsuf Yunani), tapi bisa lebih menyentuh… daerah lain, dan mencapai benda lain secara explicit. Jadi,karena itu banyak miskonsepsi karena… kurangnya pengalaman, oleh karena itu mohon maaf.

Semoga kesalahan ini tidak mengurangi kesetiaan reader pada blog ini, karena as you might know, everyone is still learning.

Till tomorrow!