Tag: Homeschooling Bandung

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Judulnya mungkin membingungkan. Tetapi, serius. 90% orang tidak menganggap kertas sebagai suatu hal yang menakjubkan. It’s paper! For god’s sake, it’s paper! Mau diapain lagi?

Sebelum kamu melakukan suatu tindakan bodoh, dan memutuskan untuk bilang bahwa kertas hanyalah kertas… Coba baca artikel ini, http://dikakipelangi.com/paper-it-is-far-more-complicated-than-you-think-it-is/

Dan juga sebelum aku menyebutkan sesuatu yang konyol… Jadi begini, di artikel itu ada yang disebut Kertas Dawang, dan sejujurnya kukira kertas Dawang itu benar-benar ada. Ternyata, Dawang = Daluang. Tetapi karena di acara sebelumnya, Teh Lisa berbicara dalam logat U.S. nya dan tanpa bantuan teks, hanya verbal, Daluang terdengar seperti Dawang.

Ini membuat aku bingung karena umm… Aku berusaha googling Dawang Paper dan aku tidak menemukan sedikitpun. Awalnya kukira memang Dawang itu tidak didokumentasikan dengan benar, karena memang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di pulau Jawa. Ketika bertemu lagi dengan Teh Lisa disini, saat melakukan presentasi, ternyata terbacanya Daluang bukan Dawang. Tetapi aku masih mendengar Dawang, setidaknya aku tahu ejaan yang benar-nya sekarang. πŸ™‚

Basa basi, basa basi, mari masuk!

Bumi dan Kertas

Acara ini dilaksanakan tanggal 7 Juli, di Museum Geologi. Dari jam 14.00-16.00. Namun, tentunya, seperti biasa, di Indonesia, acara jam 14.00 berarti 14.30. Iya, jika senang baca tulisanku, terima kasih, dan iya, aku sudah move on dari keterlambatan ini.

Pemateri pertama kita adalah salah satu mantan Kepala Museum Geologi, Ir. Sinung Baskoro.

Materi dari Pak Sinung berusaha menyambungkan Bumi (dalam kasus ini, Bumi berarti Geologi), Kertas, serta Museum. Jadi, sebenarnya apa hubungannya?

Tentunya, kertas adalah media universal setiap orang dari zaman dahulu, jadi Pak Sinung membuka sejarah kertas, bersamaan dengan sejarah bumi.

Bumi kita sendiri berumur 4.500.000.000 tahun. Kehidupan baru muncul 3.800.000.000 tahun yang lalu. Tentunya kehidupan ini muncul masih dalam bentuk sederhana. Hingga nanti ia menjadi sesuatu yang lebih kompleks, dan makin kompleks, dan makin kompleks, sampai akhirnya kita, sebagai manusia (pada waktu itu disebut Hominid) lahir 160.000 tahun yang lalu.

Kertas sendiri baru saja muncul pada abad ke 2 di China, diciptakan oleh Tsai Lun. Jadi jika kita ingin membahas sejarah Bumi serta sejarah kertas, mereka tidak lahir bersamaan, mereka tidak ada bersamaan, dan juga, bumi bisa saja hidup tanpa kertas, sehingga hubungan Bumi dan Kertas terkesan cukup jauh.

Lalu, Pak Sinung menambahkan, bahwa pada ujungnya, kertas tercipta dari sesuatu yang ada di Bumi. Ini berarti bahwa hubungan antara Bumi dan Kertas adalah hubungan yang komensalis, Bumi tidak dirugikan oleh kertas, sedangkan kertas bisa tercipta karena adanya Bumi.

Tetapi, masih banyak hal yang belum jelas disini… Apakah Bumi, Museum, dan Kertas memperlukan satu sama lain?

Jadi, sesudah menjelaskan dengan kilat jenis-jenis Museum, dan juga perubahan bumi, Pak Sinung menyatukan ketiga hal tersebut, dengan cukup efektif serta efisien.

Bumi ini bisa memiliki peradaban dari kertas, semua hal bisa dicatat dengan mudah, ditunjukkan dengan mudah, dan dijelaskan dengan mudah. (Komentar dari pikiranku, ini alasan Gilgamesh sangat susah dicari E-book nya berarti…) Museum sendiri juga bisa ada karena adanya kertas yang mempermudah tercatatnya ilmu.

Hubungan antara Bumi, Kertas dan Museum berada di fakta bahwa Kertas tidak akan ada jika tidak ada Bumi, tetapi jika tidak ada Kertas, Bumi tidak akan seperti sekarang…

Kurasa, sejujurnya, Pak Sinung sedikit off point dari membahas kertas pada 5-6 slide terakhir. Opini personalku, menurutku Pak Sinung akan lebih baik presentasinya, dan juga akan lebih “conclude” jika tidak memasukkan 6 slide terakhir yang membahas Menghemat Kertas.

Padahal, jika aku mau jujur, sesudah pernah bertemu dengan Professor Bambang Sugiharto, dan juga Teteh Lisa Miles sebelum acara ini, kertas yang dimaksud disini adalah kertas seni, bukan kertas yang kita gunakan sehari-hari.

Pak Sinung membahas bahwa kita harus menghemat kertas, dan juga cara-caranya. Tetapi, kertas yang dimaksud disini adalah kertas yang kita pakai sehari-hari, seperti kertas HVS. Nah, masalahnya berada di situ… Tentunya tidak perlu dibahas cara menghemat kertas, karena jika pembaca memang tertarik, bisa baca saja di Google, tetapi, kesan yang diberikan dari slide-slide menghemat kertas ini membuat seluruh presentasinya yang bagus, dan juga membuka sesi seminar ini dengan spot on… terkesan melenceng.

Amat disayangkan.

Ya sudah, untungnya kita langsung kembali ke presentasi berikutnya, dari Teteh Lisa Miles!

Art Paper

Buat yang baca artikelku tentang kertas, jika gak percaya bahwa Teh Lisa ini orang U.S. tetapi dipanggil Teteh karena beliau di tanah Sunda sekarang.

Jadi, presentasi Teh Lisa ini menjelaskan tentang gaya pembuatan kertas, mulai dari yang dilakukan orang Barat, dan juga yang dilakukan orang Timur.

Di daerah Barat, seperti Amerika, dan juga Eropa (dengan pengecualian suku maya dan aztec) ada banyak teknik untuk mencetak kertas. Tetapi semuanya dimulai dengan sebuah selulosa tanaman. Selulosa biasanya dicetak dalam sebuah tray, lalu yang membedakan tekstur kertas di daerah Amerika dan Eropa ini adalah apa yang dilakukan ke tray berisi kertas yang dicetak itu (serta tentunya, jenis tanaman yang dipakai).

Ada saat dimana pulp kertas dicelupkan dalam air, dikubur di bawah tanah, langsung dicopot sesudah kering, ada yang dimasukkan sumur kecil, lalu dicari dan dikumpulkan ulang dengan tray yang sama, dan masih banyak lagi.

Tetapi, Teh Lisa ke Indonesia untuk riset mengenai Paper Mulberry, yang digunakan untuk membuat Daluang. Mulberry? Nah, di Indonesia, serta suku Maya, dan (jika aku tidak salah) Mesir, kertas tidak dibuat dengan cetakan, ataupun tray. Melainkan, dengan cara digulung, dibuka gulungannya dalam kondisi basah, serta digebuk. (beat it like it owes you money)

Untuk suku Maya, sekarang tersisa hanya 4 buku yang menggunakan kertas Amate orisinil,3 berada di Museum, 1 berada di situs sisa-sisa budaya Maya… Buku mereka dibakar orang Spanyol… dan di Indonesia, Daluang digunakan untuk ayat-ayat Quran, dan juga untuk seni, ataupun baju pernikahan. Ya, buat orang-orang yang berusaha membuat Baju kertas keren, kamu telat sekitar 1600++ tahun.

Cara membuatnya cukup membuat tangan lelah. Karena kamu perlu mencari pohon, membuang kulit kayunya, sehingga hanya tersisa bagian dalamnya yang lembut. Lalu, kamu copot batang pohon tersebut, dan rendam kulit bagian dalam pohon tersebut sekitar… 60-90 menit dalam air tawar.

Sesudah direndam, kertas bisa dirobek, dan mungkin istilah yang tepat “diblender” sampai tersisa pulp. Sesudah pulp sedikit kering, dan hanya mushy, atau lembab, bisa digebuk dengan sebuah palu bertekstur sampai lembut, dan rata. Dari situ, biarkan sampai kering, dan yap, kertasmu sudah jadi!

Ini alasan dalam beberapa kampung ada Quran yang memiliki halaman kertas yang bertekstur. Kemungkinan Quran itu dibuat dalam Daluang.

Nah, jadi sekarang siapa yang masih membuat Daluang? Selain seniman muda seperti Teh Lisa ini, juga ada seniman tua, seperti beberapa Mama yang ditunjukkan fotonya oleh Teh Lisa. Bahkan, ada banyak Mama (berumur 75-85) yang menggunakan palu yang khusus diukir beberapa generasi yang lalu, diturunkan terus menerus ke anaknya.

Hasil dari kertas dengan palu khusus tersebut? Media seni menjadi seni. Tentunya, meski sudah mulai lanjut usia, Mama-mama ini tetap niat untuk melanjutkan seni kertas Daluang dengan tangan. Keren banget deh!

Fun fact, sebelum Teh Lisa mengakhiri presentasinya…

Teh Lisa menemukan sebuah cetakan palu yang turun temurun, dengan simbol yang kebetulan sama persis dengan sebuah batu di Mayan Temple yang ia pernah temukan… Tentunya ini bisa dijelaskan dengan teori Carl Jung yang bilang bahwa secara psikologis, setiap manusia punya bentuk stereotipe mengenai fragmen imajinasinya sendiri. Dan dalam budaya apapun, stereotipe itu sama…

(Hahaha… Bukan, pasti itu Alien!)

Nah, Teh Lisa mengakhiri presentasinya dengan menunjukkan beberapa hasil karya, serta dengan bilang bahwa jika ingin cek beberapa hasil karyanya yang lain, bisa buka dutchesspress.com

Beneran, buka situs itu, bagus-bagus karyanya!

Seni Kertas

Professor Setiawan Sabana, atau juga dikenal dengan Professor Wawan, telah membuat banyak sekali seni dengan kertas.

Aku tidak bisa menjelaskan semua karya Professor Wawan, karena banyak yang begitu abstrak sehingga, menurutku, itu butuh kontemplasi serta inspirasi yang… keren deh.

Dari beberapa karya-nya, Professor Wawan menunjukkan beberapa seni abstrak mengenai apa yang dipandangnya dari manusia tanpa kertas, dan juga beberapa buku buta, yang ia anggap sebagai simbol sebuah genre literatur. Seperti misalnya, ada buku tentang kriminalisasi, dan ia menggambarkannya dengan buku keras, disertai dengan beberapa kawat besi disekitarnya.

Selain itu, Pak Wawan juga memberikan cukup banyak ilustrasi perjalanannya dari kecil, hingga sekarang. Semua karya seni, baik itu gambaran, hasil seni abstrak kertas, sketsa, ataupun craft… Ia tunjukkan.

Professor Wawan juga bercerita bahwa sepanjang setengah hidupnya, ia selalu melihat kertas sebagai bahan untuk dirubah menjadi karya seni yang lain. Seperti kertas koran yang ia tidak baca lagi? Ia jadikan sebagai seni simbolisasi sampah. Kertas yang terbakar? Ia jadikan sebagai simbolisasi jamur di balok kayu yang tua dan lembab.

Karena abstraknya beberapa karya, aku tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang karya Professor Wawan, tetapi, jika kamu mendapat kesempatan untuk melihatnya… lihatlah dari banyak sisi. Kamu akan menemukan sebuah lekukan kecil yang baru, perbedaan warna, perbedaan tekstur, dan lain-lain.

Tetapi, yang sedikit sedih dari presentasi Professor Wawan ini adalah… UMM… Ia mengingat perjalanannya mengenai kertas, dan pada akhir presentasi, ia sempat duduk dan menangis terlebih dahulu. Baru ia bercerita sedikit mengenai kertas dan hubungannya yang spesial dengan mendiang istrinya. Om di sebelahku, yang sepertinya Teman seperjalanan Professor Wawan berbisik padaku, “Maaf yak de, temen saya ini emang emosional. Tiap presentasi selalu dia bawa lap buat menghapus air mata.” dan aku menceletuk “Persis Ibu saya berarti…” Om tersebut tertawa.

Sesudah Professor berhenti menangis, ia menghapus air matanya dengan cepat, dan mengakhiri presentasi. (Oh, dan aku lupa bilang, Professor Wawan menjadi mentor untuk Teh Lisa selama beliau di Bandung,  Professor seorang dosen di FSRD)

Kesimpulan

Jika melihat nama di atas, tampaknya acara masih banyak, tapi tenang, nanti kita kesitu kok.

Jadi begini… Professor Bambang Sugiharto (kusering bertemu beliau karena selama aku mendapat kuliah filsafat, Professor Bambang mengisi materi 6 dari 12 kali) khusus berada disini untuk menyimpulkan ketiga presentasi ini dari sudut pandang filsafat secara singkat.

Berdasarkan sudut pandang filsafat, menurut Professor Bambang, manusia, layaknya kertas, menjadi makin abstrak seiring dengan majunya umur dan pengalaman di suatu bidang. Penjelasan pertama yang sangat teknis, disusul oleh Miss Miles yang menjelaskan teknisnya proses pembuatan suatu seni, sampai ke Professor Setiawan yang sangat-sangat abstrak…

Kertas disini juga menghubungkan manusia bukan hanya dari perspektif media saja, tetapi juga dari cara kita memandang kertas tersebut. Memandang dan mengubah sesuatu yang kosong (ku tidak yakin, tapi kurasa ini pun intended) menjadi sesuatu yang artistik itu sulit. Sehingga, menurut Prof Bambang… Kertas adalah simbolisasi perspektif manusia yang sempurna, dan paling sulit dipandang secara abstrak, dan artistik.

Sudah, sampai situ saja hari ini…

Bonus…

Musikalisasi kertas… Penasaran bagaimana kertas dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai musik? Jadi, Syarif Maulana (seniman di Bandung) dan dua temannya membawa kita ke sebuah penampilan instrumental (disertai gerakan teatrikal dari Professor Wawan) mengenai kertas.

Kertas disini juga digunakan sebagai alat yang menambah sound effect via robekan, dan juga dengan mesin tik sebagai pengganti akustik, dan sound effect bel dari mesin tik sebagai pengganti (komplemen sebenarnya) dari instrumen string.

Instrumen yang digunakan adalah, Biola, Gitar, Mesin Tik, Kertas Bekas, serta Paper Clip…

Selain itu!

Jika ingin melihat karya Teh Lisa Miles dan Professor Setiawan secara langsung… (dan juga kertas dari peradaban tua) bisa datang ke Museum Geologi!

Ada pameran sementara yang sangat bagus, mengenai kertas, dan juga beberapa karya Professor Wawan… Aku hanya mengambil tiga foto, biar pembaca yang benar-benar kepo, untuk langsung datang saja kesana!

Moral Judgement As A Child Ep. 1

Moral Judgement As A Child Ep. 1

Serial ini adalah sebuah serial yang aku gunakan untuk menulis recap tentang diriku sendiri ketika aku masih anak-anak. Mengingat artikel recap buku tulisan Jean Piaget, aku ingin menuliskan sedikit tentang pengambilan keputusan yang aku buat selama aku masih anak-anak. Apa yang aku lakukan, mengapa, dan apa yang anak lain lakukan kepadaku atas tindakanku.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir dan dilihat ulang beberapa kali dari sudut berbeda, akan sedikit tampak bahwa aku termasuk anak yang berusaha mengambil alih, dan bukan mengikuti arus anak-anak pada umumnya. Tetapi aku sedikit (ehem, yakin sedikit?) banyak gagal, dan aku… ya, baca aja sendiri deh.

Episode ini hanya akan membahas ketika aku masih berumur 7 tahun, karena sisanya aku akan bahas nanti. Sebelum aku mencapai umur 7 tahun, aku masih lupa-lupa ingat tentang apa yang aku lakukan, dan ketika  sudah diingat mungkin bisa jadi episode 2, 3 dst. Untuk umur diatas itu, akan jadi jauh lebih rumit, untuk pilot, mungkin konfliknya bisa dibuat sederhana saja.

Basa basi sudah beres, langsung saja aku cerita.

(FYI aku Homeschool sekarang sebelum ada yang menanyakan aku sekolah dimana)

Disclaimer: Nama-nama disini adalah nama Pseudonym, aku tidak akan, dan tidak akan pernah menggunakan nama asli, kecuali untuk diriku sendiri

Case Review

  • Nama Klien: Azriel Muhammad A.H., ketika umurnya masih 7 tahun
  • Nama Kasus: Bermain Bola di Lapangan Basket
  • Waktu dan Tempat Kejadian: *Nama sekolah ketika klien masih sekolah disensor untuk menginformasikan bahwa ini bukan iklan*, sekitar 8 tahun yang lalu, klien tidak bisa mengingat tanggal yang pasti.
  • Overview (Ikhtisar, [aku tidak suka kata itu, jadi kita gunakan overview saja]):
    • Klien merasa temannya yang sedang menjadi alpha dalam kejadian ini tidak tahu cara bermain bola dengan benar. Temannya berusaha memberikan diktasi atas peraturan, namun klien merasa bahwa diktasi peraturannya sangat-sangat konyol. Klien memutuskan untuk kesal sendiri. Sesudah klien menenangkan diri, baru ia mencari solusi.

 

Ditandatangani, Azriel Muhammad A.H. dari masa kini.

Kejadian…

Day 1

Hari itu, tahun itu, klienku yang sekarang telah tidak pernah menyentuh bola sepak sejak kelas 6 SD, masih menyukai bermain sepak bola. Kurasa inilah dampak seseorang mengenal game komputer, langsung hilang minatnya bermain olahraga. Ia sedang bermain sepakbola bersama temannya, dan klienku sendiri mulai berpikir kritis dan berusaha membanding-bandingkan situasi di lapangan dengan situasi di televisi, ketika ia dan ayahnya menonton bola.

Klienku bercerita, bahwa pada hari itu, ia merasa bahwa temannya sudah kebangetan. Ia mengira bahwa tiap tim boleh melakukan tendangan pojok, atau corner kick, ketika tim musuh mengeluarkan bola ke gawangnya sendiri.

Sayangnya dikarenakan ia dianggap sebagai pemain yang sangat payah, (tentunya, aku sendiri, sebagai psikolog yakin bahwa ia tidak sepayah itu juga) ia dianggap tidak mengerti cara bermain sepak bola sama sekali. Padahal justru, menurut klienku, bukan berarti karena ia tidak bisa bermain sepak bola dengan baik, ini berarti bahwa ia tidak mengerti peraturannya.

Tiap kali sebuah tendangan pojok dilakukan oleh temannya, padahal yang seharusnya dilakukan adalah goal kick (tendangan gawang), ia protes, namun sayangnya, klien saya tidak didengar suaranya.

Ia berusaha memberitahu temannya yang sok tahu akan peraturan bahwa cara bermainnya itu, tidak seperti itu! Namun, sayangnya, semua orang temannya memutuskan untuk pura-pura tidak tahu akan peraturan sederhana itu. Ia diprotes, dan kata temannya jika ia diprotes terus, ia akan diganti oleh pemain lain, meskipun mereka berada di dua kubu berbeda, semua temannya mendengar.

Klien saya dengan sedihnya dikeluarkan dari permainan itu. Ia bilang ke saya bahwa ia sudah berusaha meyakinkan, tetapi sayangnya ia gagal. Ia menutupi istirahat makan siang itu dengan sebuah rencana penggulingan. (oke, aku yakin kata yang klien saya pakai bukan penggulingan, tetapi aku tidak mencatat, dan anggap saja ini semacam dystopia)

Hari itu, saat pulang, ia berjalan ke lobby sekolahnya (yang jaraknya sekitar 500 meter dari ruang kelas) bersama temannya. Temannya yang baik, sebut saja Alam (pseudonym) ini, bilang bahwa sebenarnya ia setuju dengan dia, memang yang boleh melakukan corner kick itu hanya tim yang sedang menyerang, tim bertahan diberikan goal kick, dan bukan corner ketika itu terjadi. Namun, ia diam saja, dan ia tidak mau membela karena tidak ingin ikut terlibat konflik.

Day 2

Klien saya bercerita bahwa pada hari kedua, kelas mereka sedang tidak diberi jatah untuk bermain di lapangan basket, mereka akan mendapat jatah mereka 2 hari lagi, sesudah angkatan kelas 3 dan 4 mendapat jatah bermain juga.

Sistem rolling ini bisa tercipta dikarenakan lapangan sepakbola yang mereka miliki tidak bisa digunakan, kecuali ingin harus mengambil bola ke pinggir sungai jika terjadi out. Amat disayangkan.

Untungnya, meskipun klienku (ia mengakui ini) menyebalkan ke teman-teman angkatannya, ia cukup dikenal sebagai anak baik dan pintar di sekolahnya dulu. Kemungkinan besar, anak-anak Kelas 3 dan Kelas 4 disitu juga cukup tahu padanya, meskipun ia baru kelas 2. Ia hebat sekali ya… πŸ˜€

Jadi, pada hari kedua, ia mendekati kakak-kakak kelas 4 yang sedang bermain. Ia mencari kakak yang cukup baik, setidaknya sepengetahuannya, bernama Leon. Kak Leon ini juga katanya termasuk salah satu pemain sepakbola yang paling jago.

Ia mendekatinya, dan ia berusaha curhat, menceritakan masalahnya. Kak Leon ini langsung bersimpati padanya, ia memberi sugesti ide, bahwa dua hari dari sekarang ia akan ikut bermain, dengan satu temannya agar tidak ada yang protes ada kakak kelas 4 di tim musuh, dan akan menjelaskan peraturannya.

Klienku yakin bahwa jika ada Kak Leon dengannya, ia akan sukses memberi tahu temannya akan peraturan yang sebenarnya, dan dia akan akhirnya bisa bermain sepakbola tanpa rusuh dan stres sendiri akan kesalahan peraturan setiap kali ada tendangan pojok.

Day 3

Hari ketiga, lucunya, kakak kelas 3 yang sudah booking lapangan tidak jadi mengambil lapangan itu. Jadi, kami dari kelas 2 langsung mengambil lapangan.

Kak Leon dan temannya Kak Didit yang ingin ikut bermain di esok hari sudah menyampaikan pesan bahwa ia akan ikut bermain besok, tidak ada yang protes, teman-temanku malah senang mendapat striker.

Dikarenakan ukuran angkatan yang kecil, kita bermain futsal/sepakbola dengan 7 vs 7. Klienku merasa terpaksa main, karena memang hanya ada 14 pemain. Awalnya, ia tidak ingin bermain agar dia tidak frustrasi akan error sederhana, namun ia menelan nasib saja, ia berkata pada dirinya bahwa ia bisa, dan akan tetap sabar.

Sayangnya itu gagal.

Ketika ia melakukan perebutan bola, terjadilah sebuah pelanggaran. Klienku langsung diberikan kartu kuning (menurut seluruh tim musuh, kami tidak punya wasit), padahal menurutnya pelanggaran itu masih dalam batas wajar, dan tidak perlu diberikan kartu kuning, cukup tendangan bebas saja.

Untungnya, kali ini, timnya membela, timnya bilang bahwa tidak semua pelanggaran harus diberikan kartu kuning. Sangat beruntung bahwa temannya Alam percaya padanya (dan juga memang sudah menonton pertandingan yang tidak memberikan kartu kuning setiap pelanggaran), sambil ikut bilang ke anggota timnya untuk bilang bahwa itu tidak perlu diberikan kartu kuning.

Tim lawan percaya, dan hanya pergi dengan tendangan bebas. 

Tetapi, hari itu, klienku sedang merasa sedikit frustrasi, dan tidak sabaran, ia tidak sabar menunggu hari dimana tidak ada lagi tendangan pojok defensif. Ia jadi, melakukan sebuah pelanggaran, tepat dihadapan kiper.

Lapangan basket tidak punya kotak penalti, iya, betul. Namun, sudah disepakati oleh semua orang, jika pelanggaran tepat dihadapan kiper, akan diberikan sebuah penalti.

Timnya semua setuju, klienku pun mengakui bahwa itu harus diberikan sebuah penalti. Tetapi, sayangnya temannya yang sok tahu ini, bernama Putra (teman yang sama yang bilang bahwa tendangan pojok itu… ya tahu lah ya), bilang bahwa, tiap kali ada Penalti, harus ada kartu merah.

Ini langsung ia protes, ia tidak terima, ia yakin tidak semua penalti harus dihukum dengan kartu merah, setidaknya terakhir kali ada penalti dalam salah satu pertandingan Liverpool di Premier League, ia yakin bahwa tidak seperti itu.

Jadi, ia membantah, dan ini adalah percakapan anak berumur 7 tahun, membahas sesuatu sesederhana (ehem, peraturannya 192 halaman sendiri) sepakbola…

  • Putra: Hey, kalau penalti itu langsung dikasih kartu merah tau!
  • Azriel: Gak ah, aku yakin gak dikasih kartu merah, terakhir kali Liverpool dapet penalti lawannya gak dikartu merah kok!
  • Putra: Ini kan futsal!
  • Azriel: Iya, tapi kan tetep aja, futsal peraturannya dasarnya mirip sepakbola
  • Putra: Iya, tapi kan kartu merah
  • Azriel: Kan futsal mestinya 5 orang, ini ada 7
  • Putra: Kan biar adil…
  • Teman nyeloteh (klienku tidak ingat itu siapa): Iya, masa kita jadi pake cadangan, entar semua orang gak bisa main dong!
  • Azriel: eh iya, maaf ya…
  • Putra: Iya, betul kan, berarti kartu merah aja ya!
  • Azriel: Kan gak sengaja, pelanggaran itu wajar lho!

Sayangnya seluruh tim lawan klienku sudah keburu sebal akan pernyataan yang ia bilang dimana mestinya futsal itu 5 lawan 5. Ia tidak diberi kesempatan untuk mendebat lagi. Jadi, dengan sedihnya, ia diberikan kartu merah sebagai hukuman sosial untuk tidak mengikuti alpha, dan juga untuk hukuman akan salah memberikan pernyataan.

Klienku mengaku bahwa ia sebal, dan ia mengakhiri hari dan istirahat makan siang menemani temannya yang menggambar. Temannya Eka tidak suka bermain sepakbola, dan klienku mengakui bahwa sahabatnya pada saat itu, dan terus sampai ia kelas enam, adalah si Eka ini. (Eka itu cowo ya, jangan salah, aku kurang kreatif membuat pseudonym)

Eksekusi Rencana

Day 4!

Klienku datang bersama Kak Leon dan Kak Didit untuk bermain bola, kali ini 8 lawan 8.

Ia berbisik ke Kak Leon, dan percakapan pendek mereka berujung seperti ini…

  • Azriel: Kak, langsung bilang ya, aku mulai kesel soalnya Kak, entar aku darah tinggi lagi… kebanyakan makan garam (btw, ini lelucon di kelasnya klienku, katanya jika orang marah-marah, disebut sebagai orang yang kebanyakan makan garam)
  • Kak Leon: Jangan dulu Zriel
  • Azriel: Hah? Kenapa?
  • Kak Leon: Nanti aja, biar bolanya keluar dulu…
  • Azriel: Oh iya, siap kak, siap…

Pada dasarnnya, anak-anak, seperti klien saya, sangat memandang tinggi senior yang masih masuk dalam golongan peer. Kak Leon disini merupakan kelas tertinggi di SD-nya dulu, belum ada kelas 5 pada saat Klien saya masih kelas 2. Klien saya sudah sangat senang bisa mengobrol dan didengar oleh anak kelas 4.

Sedikit offtrack, klien saya juga bercerita bahwa ketika ia sudah kelas 5, ia selalu mau meluangkan waktu untuk bermain ke anak kelas 3 dan anak kelas 2, kadang ikutan bermain apapun yang ia mainkan, ia senang bermain dengan junior yang melihatnya sebagai kakak kelas yang baik. Meski juga ada junior yang menyebalkan.

Nah, junioritas senioritas ini mulai bermain.

Ketika Kak Leon (menurutnya ini disengaja) mengeluarkan bola dan memberikan tendangan pojok ke tim musuh, ia menghentikan permainannya, dan menjelaskan peraturan yang nyata.

Semua orang yang masih seangkatan dengannya, dengan pengecualian Alam langsung takjub, mereka baru tahu ada yang namanya Goal kick, atau tendangan gawang. Karena senior yang menjelaskan, Putra langsung tunduk, dan tidak bertanya sedikitpun lagi, ia sudah yakin bahwa klienku benar.

Ah, tentunya sangat menyenangkan.

Ketika istirahat beres, klienku menjadi seorang anak yang sedikit… hmm, sok tahu. Ia bilang bahwa seharusnya selama ini teman-temannya dengarkan dia saja. Tentunya ini berujung buruk.

  • Azriel: Kan, tahu gitu dengarkan aku saja!
  • Putra: Iya, maaf ya, aku harusnya…
  • Azriel: Aku tahu kok aku bener
  • Putra: Maaf ya zriel, aku harusnya dengerin kamu
  • Azriel: Iya, emang betul, kan aku bener.

Hari itu berujung dengan seluruh temannya menanyakan peraturan bola ke dirinya. Dan ia sangat senang bahwa ia bisa bermain bola dengan benar.

Case Review

Bagi klien saya, ia tidak pernah ingin menjadi alpha. Bukan.

Ia memiliki potensi menjadi alpha, tetapi yang ia inginkan hanyalah untuk peraturan menjadi apa yang ia yakini sebagai peraturan. Semua hal sudah lurus, dan akhirnya, peraturannya dapat ia tegakkan. Ia tidak pernah mau menjadi alpha, dan yang ia yakini adalah, ia tahu peraturan yang benar, dan orang-orang harus mengikuti peraturan yang ia yakini sebagai benar.

Untuk melakukan itu, klien saya harus menjadi alpha, ia harus didengar.

Ia tidak bisa menjadi alpha, jadi ia mundurkan diri, dan mencari alpha yang lain. Ia sangat keren, dan juga resourceful dalam mencari solusi. Dua jempol ke klien saya πŸ˜€

Kesimpulan

Waw, menulis tentang diriku sendiri itu sangat lucu ya…

Bagaimanapun juga, ini adalah sebuah kasus psikologi, dan kuharap mampu dinikmati.

Aku sejujurnya merasa bahwa buat apa melihat psikologi orang lain! Lihat saja diri kita sendiri terlebih dahulu.

Tolong ketahui bahwa ini adalah true story, hanya nama yang fiksi, sangat beruntung aku bisa mengingat secara pas apa saja yang terjadi. Mungkin ada sedikit sih kata-kata yang direkayasa, tetapi intisari cerita itu, nyata.

Bagaimana pun juga, semoga intinya sampai, dan dapat dinikmati

Sampai lain waktu!

Mitologi Millennial: Legenda Situ Bagendit

Mitologi Millennial: Legenda Situ Bagendit

Mitologi Millennial kali ini berada dalam kisaran Cerita Daerah… Aku memutuskan untuk menampilkan cerita Legenda Situ Bagendit…

Seperti biasa, mitologi millennial adalah sebuah cerita daerah, ataupun mitologi yang dikonversi agar bisa dinikmati para millennial.

Selamat menikmati!

DISCLAIMER: Harap catat bahwa cerita ini sebagian besar ditulis ulang, dan jika ada teknologi yang belum ada di zaman itu, bayangkan saja apa yang aslinya dilakukan oleh orang-orang di zaman itu. Serta ada beberapa versi dari cerita Situ Bagendit ini, harap ketahui bahwa ini tidak pasti, namanya juga mitologi

Senang Ditinggal Suami…

Hiduplah seorang Janda di Jawa Barat. Lokasinya dimana mungkin pembaca bertanya? Entahlah, coba aja pake Google Maps cari sendiri. Tinggallah seorang istri, yang aku pastikan sebagai cewe cantik, karena ia memiliki suami kaya raya… Dengan nama Nyai Endit.

Suaminya seorang pengusaha beras, dengan lumbung padi yang besar, tapi mungkin di malam hari suaminya juga merupakan seorang Daytrader, dan bermain saham. Rumahnya sih katanya mewah, tapi seperti desain orang kaya pada umumnya, lebay, dan malah jadi nora.

Tidak lama sebelum mulainya cerita ini, Nyai Endit ini ditinggal suaminya yang meninggal.

Sesudah (pura-pura) sedih dan mengubur serta mendoakan suaminya, Nyai Endit membuat sebuah pesta. Kenapa? Tentu saja! Suaminya yang biasanya tidak memberikan uang jajan terlalu banyak buat belanja tas di mall desa, dan juga benda-benda lucu tapi tidak diperlukan di Tokopedia dan Shopee… akhirnya tidak ada! Uang yang biasa dipakai untuk beli saham, dan juga lahan padi bisa dipakai berfoya-foya!

Apa yang seharusnya membuatnya sedih?

(Catatan Penulis: Meski tidak dijelaskan, aku punya firasat Nyai Endit ini istri muda dan satu-satunya istri mendiang suaminya…)

Selain fakta bahwa suaminya kaya, suaminya juga memiliki preman… (WAH! Jangan-jangan… suami Nyai Endit ini Mafia Sunda!) Sebenarnya bukan preman juga sih, tepatnya bodyguard…

Sesudah kegirangan ditinggal suami tetapi, bodyguard ini betul dijadikan preman!

Masa Kejayaan Mafia Endit

Hari-hari menjadi gelap. Para Petani yang bekerja di lahan padi milik Godmother Nyai Endit ini terpaksa membayar pajak mahal, dan hanya bisa mendapat laba yang hanya sepeser kecil dari hasil penjualan padi miliknya. Hal yang sama terjadi, dengan amat disayangkan untuk para “pedagang” saham. Software bertukar saham yang tadinya gratis, sekarang berbayar! Mengapa mereka tidak bisa mengikuti jejak WhatsApp saja? Yang tadinya berbayar jadi gratis!’

Apa saja yang ia lakukan pada warga-warga, dan bagaimana ia menyiksa mereka? Mungkin itu ditanyakan, jadi…

  • Petani yang bekerja di lahannya harus membayar pajak ke dirinya, serta hanya diberikan sepeser hasil penjualan
  • Pedagang saham yang menggunakan software gratis buatan suaminya harus membayar.
  • Supir Gojek (ehem, dan Grab tentunya) semua dipaksa kerja keras, dan jika target poin nya tidak terpenuhi, maka ia tidak dibayar oleh Nyai Endit yang meminjamkan motor dan HP untuk menarik order.
  • Warung-warung pinggir jalan harus memberikan sebagian makanannya untuk Nyai Endit jika tidak ingin dipalak, dan masih banyak lagi…

Ini tentunya diprotes oleh warga-warga… Down With Godmother! Tetapi, disinilah dimana para preman berfungsi. Seperti yang dilakukan crime lord pada umumnya, wajib ada 2-4 orang preman, atau orang kuat yang bisa mengusir dan membunuh siapapun yang berusaha untuk protes dari kejahatan yang ia buat.

Jadi, jika ada yang protes dan meminta upah lebih besar, atau meminta pajaknya dipotong, atau bahkan berusaha mencari crack untuk software saham! Langsung diketok (baca, didobrak) pintunya oleh para preman. Biasanya mereka dipalak, terkadang kepalanya digetok, dan jika kejahatan yang mereka lakukan adalah crack software saham, komputer mereka dirusak.

JENG JENG JENG!

Tetapi, selama seluruh desa tak bernama itu melarat, apa yang dilakukan oleh Nyai Endit?

Marie Antoinette Sunda

Jadi, tentunya, sebagai seseorang yang terlalu kaya dan memiliki tentara sendiri, sebenarnya, mastermind dan orang kejamnya sendiri bersenang-senang. Setiap hari, layaknya Marie Antoinette (dia ratu Prancis yang kepalanya dipenggal di umum ketika semua warga Prancis masuk ke rumahnya dan teriak… VIVE LA REVOLUTION!) ketika ia masih hidup, ia berpesta pora.

Mungkin kalau Marie Antoinette doyan kue, kalau Nyai Endit lebih doyan Goyobod, Oncom atau Batagor lah, layaknya orang Sunda.

Tiap hari, warga yang kelaparan kerjaannya hanya mupeng aja di depan rumahnya. Ketika orang-orang yang ikut Mafia Nyai Endit, punya makanan enak, dimasak chef dengan bintang Michelin (oke, sebenernya ini dilebihkan, aku tidak punya lelucon untuk ini, peace out), mereka hanya makan nasi putih pake kecap. Itu pun kadang nasinya gajih…

Namun, pada suatu hari ada dua pemuda yang baru saja pindah ke sini, dan mereka langsung kelihatan punya niatan untuk mengubah kondisi ini, dengan menggulingkan Godmother Nyai Endit…

Revolusi!

Aku sebagai penulis yakin 100% bahwa ini sangat-sangat mirip dengan Suicide Bombing, tetapi sepertinya zaman dahulu kala belum ada konsep terrorrisme, jadi aku tidak punya komentar yang lebih banyak…

Kedua pemuda itu menghilang keesokan harinya, dan mereka kembali bersama Kakek-kakek, yang langsung datang ke rumah Nyai Endit. Mereka sudah punya rencana untuk merusak Crime Empire milik Nyai Endit.

Awalnya, Nyai Endit ingin langsung menyuruh para preman untuk membunuhnya, tetapi ia tidak terlalu keberatan, dan sesekali ia ingin menjadi orang sedikit baik. Jadi, Nyai Endit yang tidak pernah melihat orang ini sebelumnya berasumsi ia pengemis, dan ia berjalan bertatih-tatih dengan tas Louis Vuitton-nya, dan dengan sepatu high heel Gucci miliknya.

Sesampai di pintu, ia ditanyakan sedikit oleh Kakek itu, dalam percakapan seperti ini… Ternyata Kakek ini lebih cocok disebut sebagai seorang Sage, kaya Master Kura-Kura di Dragon Ball kebanding disebut seorang pengemis.

  • Kakek: Punten Teh, ari, ini kok warganya pada lapar begini ya?
  • Nyai Endit: Mereka kurang kerja Kang…
  • Kakek: Oh begitu toh… Katanya mereka sudah lelah, supir gojek udah narik 28, tapi karena belum 30 gak dikasih bonusnya sama Teteh, terus petaninya juga pada capek nyangkul seharian.
  • Nyai Endit: Memangnya kenapa Kang kalau mereka kurang kerja? Ini kan desa saya!
  • Kakek: Ari Teteh, Geulis, tapi meuni… jutek nya…
  • Nyai Endit: Pergi aja sana Kang, sebelum diusir Preman…
  • Kakek: Justru Teh, saya mau ngasih hadiah… Saya taro aja ya di tanah sebelah situ…
  • Nyai Endit: Hah?
  • Kakek: Kalau ditarik tuh tongkat entar keluar emas ya… Mau kan? Daripada lama ngeles sama saya, udah lah, itu hadiah untuk Teteh.

  • Nyai Endit: Makasih Kang yang saya belum pernah ketemu…

Kakek itu pun menaruh tongkatnya di halaman rumah Nyai Endit.

Ia menyuruh semua Premannya mencoba untuk melepas tongkat itu dari tanah, tetapi tidak ada yang bisa melepas tongkat di tanah itu. Sayangnya tidak ada preman yang bisa melakukan itu, jadi, Nyai Endit pun melakukannya sendiri…

Dan bomnya meledak…

Jadi, bom itu meledak. Sudah, sesederhana itu.

Tongkat itu meluarkan muntahan air yang sangat-sangat cepat, langsung menenggelamkan seluruh warga di desa tersebut. Hanya si kakek yang berhasil kabur. Kakek itu sepertinya guru untuk kedua pemuda yang hanya memanggilnya kesini, tetapi bahkan ia lupa mengajak muridnya pergi.

Air itu pun menenggelamkan seluruh desa, dan ya… termasuk warga-warga disitu. Layaknya seorang dewa, sang sage kaya kura-kura di Dragon Ball itu menghancurkan seluruh desa demi menghancurkan sebuah crime dynasty.

Sedikit kejam menurutku.

Ya setidaknya korban-korban itu, terutama yang kurang ajar punya banyak waktu untuk…

Oh iya, air ini disebut Situ Bagendit, dan sekarang katanya memiliki warna bergemilau jika terkena matahari. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana semua sepatu, tas, tiara, cincin, entah apa hal yang orang kebanyakan duit punya untuk bisa tidak rusak selama itu, tetapi ya… namanya mitologi πŸ™‚

Nikmati sajah!

Kesimpulan…

Aku bingung.

Dari banyaknya sumber aku membaca Situ Bagendit, semuanya selalu berujung ke desa ini hancur demi menaklukkan si Nyai Endit ini yang kejam…

Apakah tidak ada cara lain untuk meluruskan keadilan yang tidak adil ini? Pada dasarnya, sebenarnya Sage tak bernama ini teroris. Ia percaya ada suatu ketidakadilan dan kediktatoran dalam sistem pemerintahan ini, tetapi… hah…

Kenapa mesti diakhiri dengan cara yang kejam?

Sampai lain waktu!

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan πŸ˜‰

Selamat menikmati!

Minggu kedua! Maaf, minggu lalu aku semacam reboot ulang otak, jadi kurang produktif. Minggu ini, aku akan langsung membahas buku yang sudah aku baca dalam 1 minggu kemarin. Sejujurnya kedua buku ini akan membuatmu berpikir berkali-kali mengenai hal yang sederhana.

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 28 Mei, sampai Minggu 3 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Tetapi jika ditambahkan, kedua buku itu mencapai 12000 loc, ini berarti bahwa aku sudah menambah sekitar 20% total halaman yang telah dibaca, meski minggu ini aku lebih sibuk dari minggu sebelumnya.

Setiap 20 loc setara dengan satu halaman pada buku dengan ukuran 13X20 CM. Ini kurang lebih berarti bahwa aku membaca sekitar 600 halaman.

Catatan: Satu buku yang aku baca dibaca cepat dengan teknik yang diajarkan oleh Om Adi Wahyu Adji. Om Adi ini merupakan penulis ulasan buku yang pernah membaca satu buku per hari-nya, dan langsung mengulasnya dalam 24 jam. Teknik membaca cepat yang beliau ajarkan pernah disampaikan dan diajarkan juga ke diriku, dan aku sangat senang. Teknik ini membantuku membaca buku yang penuh statistik dalam sejenak saja, dan meski mayoritas angka dan statistiknya lupa… konteksnya masuk kok.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Should We Eat Meat? Karya Vaclav Smil (8500++ loc)
  • Our Last Invention. Karya James Barrat (3500++ loc)

Berikut ulasan singkat serta opini untuk kedua buku tersebut.’

Should We Eat Meat?

Dari judulnya, bisa ditebak ini buku tentang perkarnivoraan. Buku ini netral, dan tidak memberikan kesimpulan apapun. Ia memintamu untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

Buku ini netral.

Tolong ketahui bahwa tidak ada tersirat bahwa buku ini pro, ataupun kontra ke manusia yang berusaha menjadi karnivora, meski posisi mereka tepat berada di atas piramida spesies. Buku ini hanya memberikan banyak sekali fakta dan baik hal positif ataupun negatif dari kita, sebagai manusia yang memakan daging.

Should We Eat Meat tidak memberikan terlalu banyak opini yang bersifat divertif dan membuka hampir segalanya yang perlu diketahui mengenai daging. Tidak ada prasangka

Fakta-fakta yang dibahas disini pun cukup menarik, detil, dan juga membahas dari sangat sangat banyak sudut pandang. Vaclav Smil membahas dari sudut pandang… (nafas dalam)

Catatan, untuk titik berwarna putih berupa fakta+opini, silahkan saring sendiri yang mana merupakan fakta dan yang merupakan opini.

  • Antropologi
    • Manusia mendapatkan budaya dari daging. Banyak suku memiliki ritual khusus untuk memakan daging.
  • Evolusi
    • Manusia hanya evolusi dan memiliki otak sebesar ini karena memakan daging. Jadi jika anda ingin kita berevolusi menjadi mutan, karena anda fanboy X-Men, makan daging yang banyak. Gen-mu akan berevolusi perlahan-lahan
  • Biologi
    • HEHEHE… Baca sendiri bukunya
  • Lingkungan
    • Sapi menghasilkan 50%++ (2011) metana yang merupakan gas rumah kaca di dunia. 25% metana mengakibatkan global warming. Ini berarti bahwa sapi berkontribusi 1/8 bagi pemanasan global
  • Kekejaman kepada hewan
    • Mayoritas peternakan di Amerika tidak menganggap sapi sebagai makhluk hidup dan memperlakukannya semena-mena. Mereka bahkan jarang sekali diberi sinar matahari, makanan yang layak, dan juga banyak lahannya untuk bergerak diambil demi menghemat dana di lahan.
  • Angka kematian
    • Sapi menambah +2% angka kematian muda jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Kemajuan manusia sesudah mengonsumsi daging
    • Lihat Evolusi, Antropologi. Manusia juga maju secara energi, lihat energi dari daging di bawah.
  • Kesehatan
    • Probabilitas ada penyakit atas keracunan dari sapi dibawah 0.01%, tetapi probabilitas terkena penyakit karena terlalu banyak konsumsi lemak, sekitar 18% jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Nutrisi dari daging
    • Daging merah adalah protein dengan zat besi dan protein terpadat di dunia. Untuk sekarang, belum ada alternatif untuk sumber zat besi yang seefisien daging merah terkecuali vitamin. Jamur, yang memiliki zat besi dan protein lumayan banyak saja masih hanya memiliki sekitar 1/4-1/3 zat besi jika dibandingkan dengan sapi.
  • Energi untuk memproses daging
    • Lupa angkanya. Tetapi, jika dibandingkan dengan efisiensi lahan dibandingkan dengan tanaman, daging lebih efisien. Nah, dalam konteks energi, sapi membutuhkan sekitar dua kali lipat perawatan, serta sumber daya dalam memeliharanya.
  • Endorphin dari mengonsumsi daging (alias kesenangan pribadi)
    • HEHEHE… πŸ˜‰
  • Agama
    • πŸ™‚
  • Sumbangan ke ekonomi
    • Daging dikonsumsi dalam jumlah yang banyak tiap tahunnya. Mengingat dalam proses pertanian juga ada pembelian lahan, pembelian alat, pembelian makanan, peternak, dan lain-lain… Peternakan cukup banyak menyumbang bagi ekonomi beberapa negara. Bukan hanya peternakan, tetapi juga restoran yang mengandalkan steak sebagai menu utama. U.S. sendiri mengkonsumsi 120kg daging per orangnya tiap tahun.

Dan masih banyak lagi. Ingat, buku ini sekitar 500 halaman membahas tentang daging. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi nyatanya sangat-sangat kompleks.

Seperti kusebut, buku ini mayoritas kontennya berupa data, misalnya persentase, statistik, dan faktual, lengkap dengan sumber dan riset untuk memberi penekanan bahwa buku itu dapat diandalkan.

Selain faktual, juga ada sebuah bab yang terbilang imajiner, dimana Vaclav tidak memberikan banyak angka, tetapi lebih ke alternatif ke daging-daging yang memang berbahaya ini.

Vaclav Smil sendiri menulis buku dikarenakan ia benar-benar penasaran kenapa banyak sekali orang pro dan kontra mengenai hal yang dilakukan tiap hari ini. Ia juga tidak menyimpulkan apa-apa, namun jika memang daging seburuk itu, kenapa tidak ada yang membahas secara netral? Perspektifnya benar-benar menarik, bukunya mampu sekali dinikmati, tetapi mungkin jika tidak dibaca cepat akan sedikit memakan waktu.

Catatan: meski membahas daging putih dan merah, aku menggunakan data untuk daging sapi saja, dikarenakan lebih lengkap, serta memang itu alasan aku membaca buku itu.

Baca buku ini jika…

(bold berarti alasan aku membaca buku ini)

  • Ingin menjadi vegetarian, atau mengurangi konsumsi daging
  • Mencari sebanyak-banyaknya alasan untuk mendebat orang bahwa memakan daging itu tidak apa-apa, meski itu merusak lingkungan. Atau sebaliknya tentunya.
  • Mulai menanyakan tentang gaya hidup yang bisa menambah umur planet kita tercinta ini.
  • Mencari metode untuk menambah umur planet kita.
  • Kekeuh tidak mau berhenti memakan daging.
  • Kekeuh bahwa makan daging itu buruk.
  • Mencari sudut pandang baru  untuk hal sederhana.

Sebenarnya buku ini benar-benar kuberikan terlalu banyak spoiler. Tetapi dengan gaya penulisan yang empirik serta faktual seperti ini, sedikit susah untuk mengulas tanpa membocorkan.

Keseluruhan, bukunya bagus, dan akan membuatmu memikirkan tiap suap daging gurih yang kamu makan. (UHUK, BUBI TUH UHUK)

Our Final Invention

Dasarnya, ini buku AI. Dasarnya negatif, tetapi tidak bermaksud menakut-nakuti, hanya untuk membuatmu berpikir lebih banyak sebelum bertindak.

Aku sudah pernah menulis tentang AI dan dampaknya di website ini, tetapi aku jarang menulis dalam konteks teknis, aku lebih banyak menulis dalam konteks filsafat, ataupun evolusi. Jika ingin melihat AI dalam gambaran yang besar, lebih ke proses pemikiran AI itu, serta projek-projek dan program AI itu sendiri, baca saja buku ini.

Buku ini juga membahas sedikit konteks sains teoretikal, filsafat, serta evolusi. Namun tetap, poin utamanya berada di teknologi, dan bagaimana AI bisa saja membunuh kita semua, alias manusia secara spesies. Disini juga dibahas bagaimana kita sebagai manusia sering terjebak dalam dunia ilusi akan bias.

Buku ini teknis, lebih teknis dari artikelku, tetapi tidak seteknis buku tulisan Vaclav Smil tadi. Ia membahas beberapa hal yang sama berkali-kali, dari sudut pandang berbeda.

Banyak juga proyek AI dibahas dalam buku ini, baik yang baru, ataupun yang lama. Mulai dari yang sederhana seperti robot pemain catur, ke Siri, sampai robot untuk menyimpan pikiran dan kesadaran kita, semuanya sedang dikerjakan.

Buku ini juga menunjukkan banyaknya persinggungan filosofi antara programmer dan manusia secara umum. Ada yang sangat pro, ada juga yang sangat kontra. Mirip dengan kasus daging itu. Orang yang netral jarang ditemukan, hanya ada maniak yang pro sampai mati, serta yang kontra banget sampai menolak dan membuat gerakan penolakan.

Aku tidak bisa memberikan terlalu banyak elaborasi, karena sebenarnya yang tidak terlalu melenceng dan memberikan spoiler ke buku itu ada di kedua artikelku di atas.

Baca Buku ini jika…

Sekali lagi, bold berarti alasanku.

  • Penasaran atas kemajuan teknologi
  • Ingin mengetahui tentang AI
  • Takut atau sangat menyukai AI
  • Ingin memadukan teknologi, biologi dan filsafat
  • Mencari sudut pandang baru ke teknologi yang sudah menjadi bagian sehari-hari
  • Ingin mengetahui proses mencapai semacam bentuk keabadian, kekekalan, dan lain-lain.
  • Anda seorang doomsday prepper dan ingin melawan Artificial Intelligence sebagai harapan terakhir manusia.
  • Ingin membayangkan dystopia yang dikendalikan AI

Secara keseluruhan, buku ini super bagus, menarik serta menakutkan. Ia sukses menangkap fakta, opini, dan juga perselisihan antar kedua kubu. Buku ini tidak netral, James Barrat cenderung anti AI, tetapi tidak sepenuhnya memberikan frame dan menghalangi informasi dari kubu yang pro AI.

Baca bukunya! Mungkin kamu merasa takut, ataupun takjub. Tetapi sejujurnya, kedua hal itu tidak jauh beda…

Kesimpulan

Kedua buku ini mirip dalam konteks bahwa, manusia memiliki banyak hal yang sama dalam pikirannya… Baca saja keduanya ya… Kamu akan menemukan benang-benang merah yang saling menyatukan kedua buku ini…

Pembaca akan dibawa untuk berpikir secara mandiri dan menentukan kubunya. Karena nyatanya, menjawab dengan netral sungguh sulit.

Sampai lain waktu!

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Selamat menikmati!

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 21 Mei 2018, sampai hari Minggu 27 Mei, aku sudah membaca 3 buku. 2 buku yang kubaca merupakan buku nonfiksi. Buku tersebut jika ditambahkan mencapai kurang lebih 10000 loc di Kindle. Sekitar 20 loc (singkatan untuk location), setara dengan 1 halaman di buku yang berukuran 13X20 centimeter.

Jadi, jika ditotalkan, kurang lebih ada 500 halaman yang sudah kubaca. Hmm, sebenernya masih bisa ditingkatkan, tetapi ya sudahlah, ini masih minggu pertama…

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Stuff Matters karya Mark Miodownik
  • 1984 karya George Orwell
  • The Subtle Art of Not Giving A F*ck karya Mark Manson

Berikut ulasan singkat serta opini kepada buku-buku tersebut.

Stuff Matters.

Stuff Matters adalah sebuah buku yang menganut tema sains/sejarah, membahas benda-benda sehari-hari, tetapi dalam perspektif yang lebih mendalam…

 

Buku ini sangat cocok untuk orang sepertiku yang mau kepo sama segala sesuatu yang tampaknya sederhana. Mulai dari coklat, besi, sampai sel tubuh, Stuff Matters menjelaskan sesuatu yang sering dipandang sebelah mata, diduduki, atau mungkin ditelan dalam perspektif sains materi.

Sains materi adalah sains yang membahas segala sesuatu yang ada dalam level atomik atau subatomik. Biasanya orang yang meneliti sains materi melihat struktur dan ciri-ciri (atau properti) sebuah benda. Misalnya, semen memiliki struktur yang ketika cair, layaknya (ehh, tentunya) cairan (kan πŸ˜€ ), tidak terlalu ketat, dan tentunya tidak dibatasi “penjara” atomik apapun.

Tetapi, berdasarkan ciri semen dari komposisi kimianya, ia mampu memadat dengan sangat cepat. Ketika padat, struktur partikelnya, menyempit, mengikuti cetakannya, dan benar-benar rapat. Dalam level atomik, semen padat sangat “dense” atau mungkin, rapat. Tetapi, sanking besarnya cetakannya dalam level atomik, meskipun tercetak secara rapat, bentuk cetakannya sangat besar.

Karena kualitasnya yang mudah memadat ini, dan juga struktur atomiknya yang sangat kuat ini, semen sangat kuat, serta mudah dicetak.

Dasarnya sains materi mempelajari hal-hal sehari dalam perspektif fisika, kimia, dan juga tentunya, penggunaan seharinya.

Buku ini tidak hanya menceritakan perspektif materi ini secara sains saja, tetapi juga memberi tahu kita etimologi dari benda tersebut, jenis-jenis benda tersebut (misal, kertas dibahas bukan hanya kertas saja, tetapi juga… kertas kain, kertas uang, dan lain-lain), dan yang sama pentingnya, sejarah benda tersebut!

Penulisnya juga banyak sekali menceritakan opininya pada benda tersebut, dan juga bagaimana ia melihatnya sebagai anak-anak. Seperti ilmuwan inggris pada umumnya, Mark Miodownik memiliki selera humor yang sangat bagus!

Baca buku ini jika…

  • Kamu mau tahu bagaimana cara benda-benda sederhana dapat tercipta, ataupun diciptakan
  • Kamu penasaran atas teknologi terbaru dalam membuat hal-hal sehari-hari seperti ini bisa lebih efisien
  • Ingin melihat benda-benda rumah tangga dari sudut pandang baru
  • Ingin mempelajari sejarah benda-benda yang ada di buku ini.

(oke, maaf, aku gak mau bilang apa aja benda-bendanya yang ada secara spesifik, meski keceplosan sedikit banyak).

Secara keseluruhan, Stuff Matters adalah sebuah pintu masuk yang bagus untuk memicu rasa penasaran dalam sains materi.

1984

1984 adalah sebuah buku yang keluar tahun 1945, karya George Orwell. Buku ini bertema Dystopia, alias membahas apa yang mungkin saja terjadi jika pemerintahan di dunia ini berbelok ke arah yang salah. 1984 merupakan salah satu buku Dystopia pertama.

1984 memberikan kesan yang sangat… menyeramkan. Pertama-tama, ketahui aku sendiri sebenarnya belum pernah membaca atau menonton sebuah karya literatur yang Dystopian. 1984 memberikan kesan yang baik, tetapi buruk mengenai sebuah pemerintahan yang kacau.

Alkisah, dunia ini terbagi menjadi 3 kubu yang kuat, Oceania, Eurasia, dan Eastasia. (maaf, karena kemampuan geografiku yang buruk aku masih kurang mengerti lokasi masing-masing kubu) Setiap pemerintahan seringkali berperang.

Secara internal PNS (atau outer party) diberikan doktrin dan diperhatikan setiap gerak geriknya, agar tidak ada sedikitpun rencana untuk menggulingkan pemerintahan yang sangat kacau ini.

Lokasi buku ini berada di London, dalam sebuah bagian dari Oceania bernama Airstrip One (atau, tentunya, Inggris). George Orwell mampu menjelaskan tiap kalimat dan deskripsi seolah-olah dunia sudah bertolak belakang.

Bukan hanya pemerintahan yang dikacaukan, 1984 juga mengurangi konteks bahasa, agar makin rendah kemungkinan seseorang dapat membuat sebuah kalimat yang puitis atau lengkap, sebuah bahasa baru bernama (ini sangat… obvious) Newspeak diciptakan. Newspeak pada dasarnya membuat semua antomim hilang dan menghilangkan semua potensi ambigu sebuah kata.

Antomim pada dasarnya direpresentasikan oleh kata Un. Jika good adalah baik, dan bad adalah buruk, Newspeak mengganti bad dengan ungood. Untuk great alias lebih baik, diwakili dengan plusgood, dan… ya baca saja bukunya.

Tetapi, pemerintahan di 1984 mengatur segala hak bicara, hak privasi, serta paling parah… hak untuk bebas melakukan apapun.

Baca buku ini jika…

  • Ingin mendapat sebuah sensasi buku horror yang baru. (sebenarnya tidak terlalu seram, tapi… itu bisa jadi menyeramkan untuk beberapa orang).
  • Ingin melihat dunia yang sudah rusak.
  • Penasaran atas metode kontrol yang masuk sampai level diktator. (Nih, yang bilang Jokowi Diktator, baca dulu 1984, biar tahu diktator tuh gimana)
  • Mau mempelajari bahasa baru, yang sekarang masih fiktif. ( πŸ˜› )
  • Merasa ditindas, ataupun diberikan paksaan oleh pemerintah. Karena sesudah membaca buku ini, kamu akan merasa sangat-sangat bebas!

Dari cakupan bebas spoiler, 1984 menegangkan, menakutkan, dan juga “mengajarkan” sedikit tentang politik, serta psikologi pengendalian massa.

The Subtle Art of NOT Giving A F*ck

Iya, buku ini penuh dengan umpatan. Hindari jika kamu tidak ingin mendengar banyak umpatan. Bukan masalah besar bagiku, sayangnya ulasannya terlalu bagus, aku jadi penasaran. Buku ini masuk dalam genre self-help, tetapi tidak konyol, atau terlalu motivatif.

Menjelaskan buku ini dengan 10 kata, atau lebih pendek. Buku ini bodoh, tetapi sanking bodohnya, ia jadi benar.

Mark Manson mampu memberikan motivasi dengan metode yang sama sekali tidak seperti sebuah motivator. Motivator, dan buku self-help ala hippie pada umumnya meminta orang untuk menenangkan diri dengan bilang ke diri sendiri bahwa kamu tenang.

Padahal, nyatanya, orang yang tenang tidak akan perlu untuk bilang ke dirinya bahwa dia tenang. Ia cukup menelan fakta bahwa ia sedang tidak tenang.

Sesuai dengan slogannya, A counterintuitive approach to living a good life… Buku ini benar-benar penuh dengan metode yang ironis, tetapi benar, serta cara memperbaiki diri dengan konyol, tetapi sekali lagi benar. Sebenarnya jika aku memberikan sedikit terlalu banyak “hinaan” itu salah juga sih.

Buku ini penuh inspirasi, tetapi ditulis dengan nyeleneh, sehingga memberikan kesan yang bodoh dan konyol itu. Tetapi, layaknya sebuah orang yang suka bercanda, buku ini memiliki momen serius dimana benar-benar bersih dari nyelenehnya itu dan menjadi momen yang… inspiratif dan benar.

Seperti banyak buku self-help, penulisnya memberikan banyak sekali ceritanya sendiri, dan aku yakin orang pada umumnya mampu merasakan beberapa cerita yang ia selipkan disini, baik miliknya, atau milik orang lain yang curhat ke dia via blog miliknya.

Buku ini… benar-benar bagus.

Baca Buku ini Jika:

  • Kamu muak dengan motivator yang penuh dengan omong kosong dan “tetap positif meski segala sesuatu sudah buruk” miliknya itu.
  • Ingin mencoba cara baru untuk memperbaiki diri.
  • Sering memiliki sedikit masalah dan/atau marah-marah.
  • Suka membaca orang yang nyeleneh. (dengan cara positif tentunya)
  • Ingin tahu penggunaan kata umpatan. . .  yang tentunya variatif! (HMM)
  • Mencari inspirasi atau memiliki krisis identitas.

Seperti kubilang, buku ini benar-benar bagus, tetapi karena Mark Manson tetap menulis dengan gaya nyeleneh-nya itu… Buku ini jadi sumber humor, ironi, sarkasme, umpatan dan inspirasi di saat yang sama.

Kesimpulan

Daftar buku yang telah kubaca dalam minggu pertamaku dipenuhi humor, ketakutan, serta juga… pengetahuan. Sejujurnya, kamu tidak perlu terlalu bosan membaca terlalu banyak buku, selama buku yang kamu pilih menarik tentunya!

Selera buku orang-orang berbeda, dan layaknya memilih baju (atau pacar), pilihlah buku yang sesuai dengan seleramu.

Sampai lain waktu!

STEM Talks @ American Corner ITB, Advanced Manufacturing Pt. 1

STEM Talks @ American Corner ITB, Advanced Manufacturing Pt. 1

Okay, apologies for the title being a bit too long (or at least longer than the title of the articles I usually write). Today’s article would be about an event that I attended earlier this morning.

This talk is brought by Mrs. Leanne Gluck (hopefully I got this right because she did wear a wedding ring, and it’s gonna be a bit embarrassing if I turned out to be wrong about this), with the support of ITB’s American Corner. Miss Leanne Gluck was the Deputy Director of 3D Systems, one of the biggest 3D Manufacturing companies.

Apart from that she also had some experience in America Makes, some form of project incubator (or collaborative partner) that is usually supporting 3D printing involved projects.

Right now, though it’s not exactly mentioned, she works in Delaware Valley Industrial Resource Center. This information is attained through the joys of Internet. Thanks LinkedIn.

Anyways, enough about the introduction, let’s just head on to the article.

The topic of the talk is Advanced Manufacturing Ecosystems, and it’s gonna be a 2 part article, because, I’m a bit tired today, the second part would be available tomorrow, discussing about the ecosystems, and the ecosystems for advanced manufacturing.

Why was I actually here?

To be honest I had no idea… as a male teenager, we usually do lots of things because our mother made us. And though it isn’t exactly made us do, Bubi did play a part in telling me about this event and made me kinda sign up.

I didn’t really know exactly what this is about, but I’ll have to say, sometimes, stepping into the unknown isn’t exactly a bad idea. I’m certain, at least from the title, which by the way sounds cool “Advanced Manufacturing Ecosystem”… It’s gonna be a quite intriguing talk.

I didn’t really come here because my mother made me… But I did come here because I want to learn something new. And honestly, this new thing I might be learning today would be useful. At least after attending this talk here, I just know that it’ll be useful.

Indonesian Culture

Err, now you’re probably thinking why am I using “Indonesian Culture” as the headline. And well, this is quite a funny (satirical funny) story.

I arrived at the library of ITB at about 8.50, from the electronic flyer, the event is supposed to start at 9.00 o clock. Approximately at 8.55 Mrs. Gluck came with somebody from the U.S. Embassy at Indonesia, whose name, I unfortunately cannot remember, considering how terrible my memory with names is.

So, what’s exactly this “Indonesian Culture” I’m trying to say? Well, it’s the culture of being late. At 9.00 o’ clock, no one was here, and Mrs. Gluck was constantly checking her phone after prepping up her laptop, and she seems kind of confused as to why no one was here, even though it’s time.

Deep down I was ashamed, and I really wanted to say a joke, like “I’m sorry, everyone here often get confused between 9.00 and 9.30”, but being me who can’t really start a conversation unless it’s a previously planned one, I didn’t. She did however say How are you today, and to that I responded with an “I’m fine, how are you?” followed by a “I’m good, thank you”.

Well anyways, the people from American Corner ITB did stall them by taking them on a library tour, he must’ve sensed that discomfort, I’ve been feeling ever since she checked her phone at 9.00 .

Before she got back, I met a senior at Taman Bahasa named Mr. Moko, who spent 30 years in the US and is an engineer. Unlike me, Mr. Moko was able to chat with Mrs. Gluck just naturally.

I really should increase my conversation skills though, I have troubles starting a conversation for some reason.

Anyways, on topic… At 9.30, the talk finally starts, and it all began with this term.

Advanced Manufacturing

Well, what’s advanced manufacturing actually?

To put it simply, Miss Gluck split the two words, and took their dictionary definitions.

Advanced = Ahead of development and progress.

Manufacture = Make something on a large scale using machinery

Keywords are those in bold. Advanced Manufacturing basically means a large scale production of things using the newly developed, or technology that’s still developing.

In a nutshell, the term advanced is relative to its time, and there was a time where Henry Ford’s production chain is advanced, but we’ve come to the point of literally realizing 3D designs on photoshop. From Miss Gluck’s background she used 3D Printing as a theme.

It’s quite on point. When most of the advanced manufacturing does revolve on producing the soft copy of a model onto a real model, as well as making stuff more efficient…

Oh by the way, by definition Advanced Manufacturing includes 3D printing, Robotics, there’s also lightweighting heavier stuff, and also the coolest one is organ manufacturing.

On second thought, you may read coolest as creepiest. It’s a bit scary that there’s an actual organ manufacturing research institute that is researching about cells, growing itself equal to the mold, similarly to the way a bacteria would clone itself, but just… you know fitting the mold.

So hey, remembered how scary AI was? If you are familiar with Indonesian, please read this article about AI. Now, you can have an AI transport itself onto an organic body with this! Just, perfect πŸ˜€ . (or maybe not, considering how AI’s actually hate organic bodies)

Advancement of Industry?

Remember this article? http://dikakipelangi.com/evolusi-pikiran-apakah-teknologi-akan-atau-sudah-menyatukan-kita/ 

That article is actually written in Bahasa, but it does discuss onto how technology is the reason us humans are interconnected. Then there’s also the theory that we’re basically slowing down on the advancement of industry and also slowing down on the advancement of communications causing us to be a bit more interconnected.

On the contrary, advanced manufacturing actually “reverses” that. It makes us and machines more connected to one another, as well as increasing the rapid development of communications and the development of industry along with the help of communication.

So we’ve never really slowed down on industry, we’ve actually accelerated it with our communications!

What can you 3D Print actually?

Still on the theme of 3D printing, something that I actually learned out of an episode in The Big Bang Theory…

Miss Gluck showed us a video, about a bridge that’s 3D Printed. It took 6 months to print the whole bridge, but its actually cool to see how far we’ve come, and although that’s not quite efficient, it’s indeed a rather cool process when literally nothing becomes something! It’s not just materials, it’s basically “Ink” made out of metal, and also steel cables.

This bridge actually works… and people can now step on it… Course it’s still, a bridge, don’t expect it to do much, but it does function as a bridge.

Apart from really large 3D Prints, you can also print really small things, to those the level of a quantum particle. Nano Science facilities are actually using 3D printers to simulate materialization of particles on a quantum scale.

And, for the materials… Apart from the aforementioned cells inside a 3D printer, you can also 3D print food! This however is still rather theoretical, but should you change the filament of a 3D printer with paste, powder, or heck, liquids, you would be able to 3D print food!

Is a programmer an Advanced Manufacturer?

Intermezzo here…

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.orionlabs.OmTeloletTheGame

Late 2016, that game came out on the playstore, me and my friends made it. Since software IS included in the Umbrella Term of Advanced Manufacturing in the 21st Century, I made a software, so technically, I am an advanced manufacturer, since I did mass produce the APK of a game.

Hurrah!

So technically a programmer is an advanced manufacturer, should he produce a downloadable software available to the public! Again, hurrah!

Some interesting 3D print projects

A 3D Printed car is currently in the works. James Corden actually starred in its advertising video, the car’s name is Olli. It’s a 3D printed car that’s self driving, and also runs on electricity. It’s in the shape of a bus however. So, it’s basically a 3D printed Bus version of Tesla!

That reminds me a bit of low cost self driving cars…

On top of that, there’s that bridge thing…

Also, Mrs. Gluck brought a 3D printed bracelet that looks, well, cute… It’s made in a similar way a chocolate top ice cream is made. Firstly, it’s printed in steel or iron, you know, vanilla ice cream, and then there’s some bronze powder to lace and layer the metal with bronze. The bronze is the chocolate in this case. So, it’s basically a bronze bracelet from the outside, but it’s actually a steel bracelet.

If I heard it correctly, the Ganesha statue next to the 3D printer is 3D printed… Course, maybe that’s the reason it’s there in the first place.

Dreamcatcher

Before we conclude today’s short article about Advanced Manufacturing, this is going to be an off-topic leap.

Yes, it’s rather off-topic. Because we did skip about ecosystems, and this is a topic explored in the questions sessions. Though Mrs. Gluck wanted questions as soon as possible, we, the entire audience listened through it without much comments.

There’s a new software known as Dreamcatcher, which is an Autodesk Generative Design. It’s basically a software to randomly generate a calculated parameter of an object… 8 hours of this computers process could generate roughly 1000 designs with a not so complex parameter. Each one being unique, and of course, would fit the needs of the parameters we set.

For instance, we wanted to make a table, then we put in the parameters, four legs, able to hold 200 kilograms, weighs less than 2 kilograms, and then bla bla bla… Then we wait. After the wait, it’ll autogenerate the designs we might wanna see based on the parameters. It’s gonna be wacky, cool, and of course, spot on.

This reminds me of a program used to randomly generate strings in quantum physics. It’s basically an autodesk generative design to generate random strings in a multiverse and relate it to quantum physics, for the types of string available in a universe.

Mrs. Gluck seems very astounded with this fact, and she somehow correlated it with the dystopian Netflix Series Black Mirror… That’ll be for tomorrow.

In Conclusion

Sorry, I wrote in English because A. The talk is in english, and B. I want Mrs. Gluck to read this… (it’s just a want actually).

To conclude, let’s just say that, as a human being, we’ve reached the point of “Yeay technology makes stuff easier!”. Well, this is quite a cliffhanger. And, please, duly note that… There are downsides to this, and let’s not forget the Cambridge Analytics Facebook Data Leakage for a reminder of this… dark side.

Until tomorrow!

Layers Of Consciousness

Layers Of Consciousness

Sejujurnya kemarin aku baru saja mendapatkan kuliah filsafat (heck, materi) filsafat paling membingungkan so far. Funnily dosennya, Professor Matius Ali, yang langsung dari Institut Kesenian Jakarta bilang… kalau gak ngerti santai kok… ini biasanya orang-orang baru ngerti 10 tahun kemudian, gak jarang ada yang ga ngerti sampai 10 tahun kemudian.

Untungnya, Professor Matius juga punya sense of humor yang sangat baik, dan bisa membuatku ngakak entah berapa kali sepanjang kuliah. But regardless, daripada diem di sini menjelaskan hal yang aku belum ngerti, kujelasin yang aku dah ngerti aja deh.

Man Is A Rational Animal -Aristotle…

Noh, mulai dari quote itu deh. Manusia adalah hewan yang rasional. Yeah, just… that, I’ve got nothing else to say.

Kalau kita mau bahas layers of consciousness, kita sebagai manusia diciptakan tepat di tengah-tengah chart-nya. Hang on ku upload image deh.

Yang diajarkan kemarin ga persis jleb gitu sih, tapi ga beda-beda jauh. Chart diatas lebih membahas psikologi-nya, tapi kita ga mau bahas itu hari ini, namun itu emang layers of consciousness yang lebih sering dipakai orang. Gambar di atas itu sesuatu yang lebih bersifat empirikal, dan meski emang ada hubungannya, ini bukan topik yang membingungkan itu…

Hopefully this is more spot on and confusing…

Ini sebenernya udah sesuatu yang aku mengerti, and pernah di explore pas nonton Doctor Strange, tapi itu gak mau dibahas sekarang dulu… Langsung ke artikel aja deh…

Lower Triangle

Jadi dari dua gambar itu, ada segitiga yang ada di atas, dan ada yang di bawah.

Kemarin sih Professor Matius menjelaskan bahwa semakin ke bawah, semakin nyangkut kita dengan evidence dan hal-hal yang beneran. Semakin ke atas cara kita berpikir semakin transcend kita ke universe lain, dan semakin dekat kita dengan dunia yang… well in a sense mystic.

Nah, untuk sekarang kita mau bahas segitiga yang dibawah ini.

Physical Realm

Pertama-tama kalau kita liat di ujung segitiga yang dibawah itu, ditemukan Physical realm. Which yes, itu realm consciousness yang paling rendah. Sebuah realm yang semuanya itu… hanya temporal. Jadi apa sebenernya yang paling bawah itu? Well, diantara apa yang di bawah, and paling bawah itu, ada yang disebut materi, or worldly things.

Jadi, sebenernya mirip ke apa yang agama sering point out, materi bukan apa-apa kalau kamu gak punya meaning lain di hidup ini.

According to most Platonian (it is indeed a word…) philosophers, atau filsuf yang percaya pada Plato’s teachings and text, dunia ini cuma dunia KW 2, dan dunia nyatanya adalah dunia idea yang letaknya entah dimana itu…

Bentar dulu tapi, dunia ide disini kan gak ada di layers of consciousness itu? Okay, namanya beda

Astral Realm

Well, aku pernah baca sesuatu yang berbunyi seperti ini… “Humans do not fear the death of the body”. Well itu karena yang namanya mati itu cuman tubuh etheric dan physical realm doang. Itu satu-satunya hal yang temporal. Abis mati, kita akan naik ke emotional layer of consciousness, also known as the Astral Realm (Yes, sama persis sama Doctor Strange’s Astral Realm). Kalau Platonian bilangnya, Astral Realm itu dunia Ide karena, bentuk paling ideal-nya dunia itu ada di situ.

Kemarin sih, yang dijelaskan sama Professor Matius, kalau si Astral Plane ini ada di atas Etheric Realm, tapi dibawah Lower Mental. Jadi aku bahas ini duluan sebelum aku mau bahas ke Lower Mental. Meski urutannya beda.

So, what’s the point of this? Astral Realm adalah realm dimana kita akan succumb to our emotions, sampai at one point kita akan percaya pada apa yang di apply di Astral Plane, dan mengubah realita fisik.

Doctor Strange masih contoh yang bagus, karena… Di film itu, Cumberbatch with the arrogant doctor kinda guy, broke his hands, losing the ability to become a surgeon. Terus dia ditepak sama Sensei di Kamar Taj and dilempar ke Astral Plane, only to find out that, his actual hand is still perfectly functioning.

Now, Astral Realm ini udah mulai… immortal, karena physical body bisa saja mati, tapi astral realm ini akan balik ke… tempatnya. Kemarin Dr. Matius bilang untuk mengaksesnya, kita harus bisa channel our emotions and do stuff… I actually don’t get…

For now ini masih masuk dalam topik human nature. Tapi kalau kita mau bicara thought, yang udah diluar dari emosi dan physical things, ada di Lower Mental.

Lower Mental

Kalau kita mau bahas philosophically, orang yang masih percaya sama empirical solid thought… Itu kodratnya lebih rendah dari orang yang punya abstract thinking. Yes, terdengar kasar banget, tapi sebenernya ada betulnya.

Einstein pernah bilang bahwa Science Without Religion is Lame. Which is true, I mean, ini teh cuma angka dan rumus-rumus, yang sebenernya learnable tanpa perlu talent (or so I’ve been told). Orang yang hanya bisa empirical thought, itu biasanya boring.

Lower Mental ini berada di realm yang… hang on rada bingung jelasinnya… kukasih contoh deh.

Aristotle bilang bahwa Socrates is a man, and Men are mortal. Ya, orang yang tahu keduanya itu masih nyangkut di physical realm dengan ego mereka, closing their eyes. Tapi kalau kita angkat dikit, cuma dengan analisa simpel, Socrates is Mortal. Cuma dari adding 2+2 and getting 4, alhasil kita sudah sukses naik ke Lower Mental, dengan mau mulai membuka horizon dengan thinking empirical.

Tapi kaya aku bilang, ini itu sesuatu yang learnable tanpa perlu talent, tapi… kalau mau naik lagi… jadi apa dong?

Higher Triangle

Di segitiga yang atas itu sudah diluar batas manusia, karena… manusia terletak di antara kedua segitiga, balanced out, rational enough to beat animals who could only think based on evidence, tapi ga lebih tinggi dari… apapun yang ada di atas. Which is our true self.

Let’s discuss this bit by bit…

Higher Mental

Abstract thought, the ability to… feel what’s above us humans. Itu yang ada di Higher Mental.

Kata Professor Matius, biasanya orang-orang artistik yang lebih connected sama… higher mental ini. Sesuatu yang udah diatas grasp para manusia, karena bersifat abstrak. With all due respect, godly things are already a part of this.

Quote dari Einstein tadi baru setengah aja. Religion without science is Blind. Aku sih sebenernya percaya ini sesuatu yang beneran lho, karena sejujurnya kalau kita hanya mau melihat religion… kita akan menutup diri dari empirical knowledge, which is like… wrong.

Don’t get me wrong, abstract thought and beliefs are very important. Tapi kalau kita menutup diri dari simple thinking dan hanya mau masuk ke sesuatu yang abstrak, kita ga akan bisa form apa-apa…

Topik ini takutnya rada… kontroversial, jadi kita bahasnya segini aja.

Transcendental/Transpersonal

Ini simpel sih, kalau kita udah sampai ke titik ini, kita akan merasa lebih… well, care to others. Sama seperti segitiga psikologi di atas. Kalau kita udah bisa conquer emotional needs dan respect diri kita sendiri… Kita akan mulai merasa perlu untuk membantu higher cause, something that’s higher than us.

Ini berbeda-beda tergantung orangnya, tapi ada yang merasa bahwa hidup yang meaningful itu… hidup yang serve god, ada juga yang memutuskan untuk serve orang lain, by helping them. Intinya adalah, ketika kita sudah mencapai titik ini, kita sudah benar-benar mau mencapai… dan menyelesaikan higher… living? Aduh sebenernya bingung ini, tapi intinya… Life orang akan bener-bener meaningful ketika sudah bisa transcend.

On top of that, realm ini juga ada di intuisi kita. Kalau gut instinct kita merasakan sesuatu yang gak bener, ya… kita bakalan merasakannya, as a part of this transcendental intervention.

Orang yang ga punya instinct atau intuition to differ an intervention biasanya masih nyangkut di abstract thought.

True Self

This is a part of the, “takes 10 years to understand, be patient”…

Bener, bener bingung aku sebenernya tapi according to Buddhist beliefs, the true self is a self that has ignored all worldly temptations, fully serving god.

Ini sebenernya confusing, dan… ADUH pokoknya bingung we lah ya… tapi kalau di part sebelumnya kita membahas higher purpose, true self ini udah ignore purpose lain selain final purpose-nya kita.

Even then, aku masih bingung… Maaf ya, aku bener-bener bingung dan… astounded sama penjelasan kemarin.

Middle Realm

Sesudah malu dikit gara-gara bingung… Coba maju aja deh ke bagian tengah, sesuatu yang di claim sebagai realm milik kita. Kenapa semua manusia diciptakan tepat di tengah ini?

Kemarin sih… Professor Matius bilang bahwa ini adalah konsep Free Will. Kita sebagai manusia diberikan lokasi yang sama, tinggal dipilih aja, mau turun dan membahas sesuatu yang tampak real? Atau mau naik dan membahas sesuatu yang imajinatif dan… abstrak? Apakah kita akan ke atas banget dan akan menjadi orang yang sangat baik? Atau kita akan succumb ke Ego dan materi dengan turun ke bawah?

It’s all in our options, and choices.

In Conclusion

It’s all in our options, and choices.

This, again, yeah jedanya cuma 2 kata dan 2 mencet enter. Aku ga sepenuhnya ngerti kemarin, (okay, banyakan pusingnya daripada ngertinya), tapi kalau aku bisa conclude sesuatu dari kuliah kemarin, kita semua lahir tanpa tali, dan bebas mau memilih apa.

Tinggal di tentukan hidupnya kita akan digunakan untuk apa? Apakah untuk cari uang? Untuk pride dan ego kita? Atau kita akan membuat orang lain senang?

It’s all in our head, I just… brought up the facts. Karena banyak orang nyangkut di dunia empirik, dan gak mau lihat hal dengan abstraknya, atau ga mau percaya sama apa yang bisa dilihat.

Seeing isn’t believing… Believing is Realization.

Semoga suka sama artikelnya!