Tag: homeschool

Homeschooler’s Bias

Homeschooler’s Bias

Artikel ini akan menjelaskan sedikit mengenai apa yang aku, dan teman-temanku mungkin rasakan dan jenis-jenis judgement yang kita biasa terima, baik oleh anak-anak seumuran, guru-guru, dan masih banyak lagi…

Ketika kamu seorang homeschooler, percaya padaku, hidupmu akan terasa lebih enak! Tapi juga, percaya padaku, kamu harus mau mendengar dan menerima judgement dari orang lain… Sebagai orang yang memang sering beraktivitas di umum, komentar-komentar yang diberikan seperti ini bisa memberikanmu banyak reaksi kesal… Tapi nanti kau akan terbiasa sendiri, jadi santai saja!\

Jadi, mari kita masuk ke dalam artikel…

Typical Stigmas

Kalau kita bicara stigma, pertanyaan yang sudah hatam seperti gurunya datang ke rumah, ijazah, cara mulai dan blablabla… Tidak masuk. (aku sejujurnya lebih senang menjawab 10 pertanyaan tipikal seperti ini, daripada satu stigma yang tidak dibicarakan keras-keras)

Stigma adalah pikiran negatif, yang terkadang tidak perlu dikatakan, atau bahkan tidak pernah tampak dari ekspresi muka… Namun, dengan analisa yang baik, kita bisa mengetahui perasaan seseorang begitu kita memberikan fakta itu.

  • Homeschooling gak punya temen… *rolleyes*
  • Homeschooling mahal… *mengeluarkan sound effect… Eh*
  • Anak-anak homeschooling gak punya sopan santun karena tidak diajarkan social skills *tersenyum manis, tapi sinis*

Aku pernah bertemu orang yang langsung mengatakan stigma tersebut tanpa rasa malu, yang hanya membuat ekspresi muka, yang mengatakan stigma mereka dengan kalimat pembuka seperti “I’m not judging, I’m just saying” tetapi kalimat mereka penuh dan kaya akan judgement, dan yang berusaha memberikan konsultasi mengenai sebuah masalah… YANG SEBENARNYA TIDAK ADA!

Aku merasa lebih senang memberikan reaksi kepada orang yang menyatakan stigma tersebut keras-keras kebanding yang hanya membuat ekspresi muka, yang memberikan solusi mereka pada masalah yang fiktif, dan tentunya… jenis stigma lainnya.

How one must react towards those Stigmas…

Ada banyak reaksi yang bisa diberikan…

  • Angguk dan pura-pura bodoh
    • Kelebihan reaksi ini… Anda tidak perlu menjelaskan sesuatu kepada seseorang dan membuang 15-30 menit hidup anda demi menjelaskan suatu fakta yang kentara.
    • Kekurangannya… Lawan bicara anda bisa menerima dan menganggap stigma mereka sebagai fakta yang nyata…
  • Langsung berbicara SEBELUM lawan bicara memberikan stigma milik mereka
    • Kelebihan… Anda tidak perlu mendengar stigma yang sama beratus juta kali ketika diajak bicara. Dan juga, anda bisa merubah stigma lawan bicara anda sebelum stigma itu nyata.
    • Sedikit kesalahan, maka stigma milik lawan bicaramu benar-benar muncul. Oh, dan tentunya, orang yang kekeuh akan tetap menyatakan stigma yang sama jika pikirannya tak berubah…
  • Menunggu, lalu menjawab dengan jawaban sedetil mungkin
    • Baiknya adalah, kita bisa benar-benar mengetahui stigma lawan bicara kita, lalu menghilangkan pikiran lawan bicara kita mengenai stigma itu.
    • Buruknya, kita biasanya tetap kena stigma, dan terkadang, cara ini tidak berpengaruh, atau membuang waktu paling banyak.
  • Memberikan impresi baik tanpa perlu menjawab stigma, dan stigma tersebut hilang sendiri pada ujung percakapan.
    • Jika lawan bicara kita merasa lebih terkesan, maka stigma milik mereka hampir pasti bisa hilang.
    • Waktu terbuang paling banyak, dan tidak semua orang bisa membuat orang lain merasa terkesan semudah itu saja…

Reaksi ini tidak terlalu berhubungan dengan topik utama ku hari ini…. Namun, jika anda memang memiliki masalah, kurasa solusi ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kalian… Cheerios

Stigma Crisis

Ketika kita bicara stigma, kita bicara close mindedness, ketika kita bicara close mindedness, ada dua sisi dan asalnya pemikiran tersebut. Satu karena mereka memang tidak tahu opsi lain selain opsi yang mereka sudah percayai itu, dan yang kedua adalah karena mereka memang tidak mau berpikir terbuka.

Masalah kedua ini tidak bisa diperbaiki sama sekali, karena bagaimanapun juga, itu memang karakter. Untungnya, masalah pertama yang juga jadi hasil stigma, sama problematiknya dengan ketertutupan pikiran seseorang.

Solusi yang kuberikan untungnya telah menutup masalah pertama, dan itulah alasan kita perlu mengedukasi orang-orang seperti itu.

Stigma akan selalu ada, dan ketika kita keluar dari sistem, maka kita harus siap untuk dikritik dan dikomentari oleh orang-orang yang berada di dalam sistem tersebut. Namun, yang menjadi masalah adalah, banyak orang menyalahgunakan faktor dan motif dari suatu tindakan, lalu menyambungkannya dengan stigma milik mereka.

Contoh-contoh kasus

Case 1:

Sekelompok anak-anak dalam rentang usia 15-17 sedang terlibat dalam sebuah percakapan. Selama percakapan itu, ada 2 anak yang pendiam. Salah satu dari anak tersebut merupakan praktisi homeschool, sedangkan satu yang lain menggunakan seragam SMA.

Sesudah percakapan itu beres, kedua anak tersebut pergi terlebih dahulu.

Anak-anak (atau Remaja) tersebut memutuskan untuk melanjutkan percakapan lebih lanjut…

  • R1: Kasihan yah tadi… dia homeschooling, pasti introvert dan gak bisa sosialisasi tuh…
  • R2: Untung kita dibolehin sekolah, jadi kita bisa dan berani ngomong dan ngobrol…
  • R3: Perasaan tadi yang diem ada dua orang deh… Siapa sih yang satunya lagi…
  • R1: Ah, itu mah cuman karakter doang, biasa kalau ada orang yang mau diem kaya gitu
  • R2: Iya, wajar kok, di sekolah juga banyak yang pendiam

Jadi, masalahnya adalah… Ketika orang mengetahui suatu fakta yang aneh mengenai seseorang, mereka akan berasumsi bahwa fakta aneh tersebut adalah penyebab dari suatu tindakan.

Padahal, belum tentu lho fakta aneh itu penyebabnya… Masih saja ada kemungkinan besar bahwa fakta aneh itu memang ada, tapi penyebab dari tindakan atau aksi tersebut hanya karena suatu penyebab yang biasa…

Pada kasus tadi, penyebab itu suatu hal yang biasa, yaitu memang karakter remaja homeschool tersebut memang pendiam dan hanya merespon tanpa memulai suatu percakapan, sedangkan, ketika remaja yang lain sedang bersekolah formal, kenapa ia malah diberikan penilaian bahwa tindakan miliknya merupakan tindakan biasa?

Case 2:

Pada sebuah lomba yang tidak dinilai secara sistematis, melainkan secara subjektif… Seorang peserta yang merupakan seorang homeschooler diberi pertanyaan yang menanyakan tentang nilai-nilai miliknya.

Nilai-nilai miliknya bertentangan dengan norma umum, dan juri langsung memberi label padanya bahwa ia orang yang tidak berhak menang, karena dia homeschooling, juga karena dia memberikan jawaban yang tentunya sangat subjektif.

Sekali lagi, pada kasus ini…

Dikarenakan ada satu hal yang memang tidak wajar dari seseorang (which we all gotta have) secara otomatis, orang-orang yang mendengar ketidakwajaran itu, akan langsung memberi koneksi pada homeschooling sebagai faktor dan alasan suatu ketidakwajaran.

This stuff happens a lot…

The Issue

Jadi begini, sebagai praktisi, kita memang sudah terbiasa bertemu dan menerima komentar beserta kritikan dari orang-orang mengenai hal-hal seperti ini. Masalahnya adalah, ketika seseorang yang di luar sistem melakukan hal yang normal, orang-orang akan secara otomatis melihatnya sebagai suatu kondisi yang disebabkan karena dia berada di luar sistem tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang sangat judgemental dan sebenarnya, jika kita ingin memberikan judgement untuk orang-orang sesekali, itu hal yang normal…

The judgement itself is not and never will be the issue.

Masalahnya adalah, banyak orang, terutama di Indonesia, melihat hal dari satu sudut pandang dan percaya bahwa hasil judging mereka adalah kenyataan, meskipun itu hanya sebuah pemikiran.

Kesimpulan

People judge, and it’s normal.

Seperti aku bilang, manusia memang makhluk yang judgemental, tapi masalah (ups, masalah nomor dua terbesar) terbesarnya adalah fakta bahwa orang-orang memang langsung saja percaya pada penilaian dan loncatan kesimpulan mereka tersebut.

Masalah terbesar yang memang masalah terbesarnya ada di ketertutupannya pikiran seseorang.

Banyak orang tidak berpikir dua  kali, dan juga banyak orang tidak pernah mau merubah pikiran mereka sama sekali. Kita harus mau melihat sisi baik dan kita harus mau melihat hal dari banyak sudut pandang, sebelum memberikan penilaian.

Jangan pernah mau terjebak dalam stigma, judgement, euforia, dan juga perasaan… Sampai kita benar-benar yakin, dan sudah memberikan penilaian terbaik yang kita bisa berikan.

Itu saja dariku, terima kasih, dan sampai lain waktu!

Kunci Evolusi Manusia Secara Psikologis

Kunci Evolusi Manusia Secara Psikologis

Charles Darwin adalah bapak dari teori evolusi, dan sejujurnya, Charles Darwin dan para biologis atau antropolog yang memuja dirinya, membuat sebuah blunder yang menurutku amat sangat krusial, tetapi tentunya, ini bukan salah Darwin dikarenakan ia kurang berantisipasi.

Di beberapa budaya, dan/atau sekolah yang amat sangat religius cenderung untuk menghina Darwin, mengatakannya sebagai kafir, atau hinaan apapun yang dalam konteks sama. Mengapa? Teori evolusi Darwin sepenuhnya mematikan kemungkinan adanya tuhan.

Artikel ini mungkin kontroversial, ataupun juga sedikit menyinggung subjek sedikit sensitif, tetapi, ini sebenarnya lebih ke, menginformasikan cara mempersepsi teori Darwin yang diajarkan pada tingkat SMA di seluruh dunia itu…

Bagaimanapun juga, Darwin telah berkontribusi banyak untuk sains, dan itu alasan aku ingin membela dirinya, tetapi bukan dengan cara yang mati-matian membenarkan, melainkan dengan memberikan persepsi lain agar tidak ada kesalahpahaman antar Biologi Evolusioner dan Agama seseorang.

The Blunder

Blunder bisa berupa banyak hal.

Terkadang blunder bisa terjadi karena ketidaksengajaan, seperti saat Mario Mandzukic melakukan gol bunuh diri pada final piala dunia.

Terkadang juga, blunder bisa terjadi karena kurangnya antisipasi, seperti ketika kamu meninggalkan payung pada awal musim hujan.

Uniknya, blunder Charles Darwin ini, bukan keduanya… Ia cukup banyak mengantisipasi pada zamannya karena Charles Darwin sendiri adalah seorang pribadi yang religius, dan ia, seperti ilmuan fiktif Rajesh Koothrapali dari The Big Bang Theory… Memiliki dua pandangan yang sengaja ia pisahkan. Satu untuk sains miliknya, dan satunya lagi untuk religi.

Darwin mengetahui bahwa pekerjaan yang ia lakukan dalam bidang sains bisa-bisa mematikan seluruh kepercayaan miliknya.

Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan Isaac Newton. Seiring Newton semakin yakin pada sains yang ia pelajari, semakin tidak yakin atas keberadaan tuhannya.

Darwin tidak juga melewatkan suatu hal yang berhubungan dengan tuhan secara tidak sengaja. Darwin cukup detil menjelaskan evolusi yang sekarang disimpulkan dengan 1 kalimat, jika bukan 1 paragraf, 1 halaman, atau 1 bab pada buku biologi tingkat SMA.

Darwin menulis sebuah buku yang amat sangat tebal mengenai evolusi, dan aku sendiri pun belum membacanya, tetapi dari membaca cukup banyak mengenai tulisan miliknya… Dapat disimpulkan bahwa Darwin tidak sepenuhnya mematikan kemungkinan adanya pihak ketiga selain genetik dan makhluk hidup sendiri atas adanya evolusi.

Jadi, sebenarnya, apa Blunder Darwin?

Kesalahan terbesar Darwin ada di fakta bahwa ia melewatkan psikologi pada abad ke 21 (bukan salahnya sama sekali), serta agama-agama diluar agama miliknya, yaitu Kristen (sekali lagi, bukan salahnya sama sekali, dan juga dengan sekarang kuatnya media dalam menjelek-jelekkan sesuatu… Itu juga bukan salahnya sama sekali) dalam pembuatan teori evolusi.

Modern Day Psychology

Sederhananya, Darwin melewatkan fakta krusial dimana sekarang, psikologi bukan hanya sebatas apa yang dilakukan dan mengapa yang dilakukan seorang manusia… Melainkan, psikologi juga branch out ke, apa yang terjadi pada otak kita.

Telah ditemukan sebuah bagian dari otak kita yang bernama God’s Spot.

God’s Spot ini amat sangat kecil, dan juga tidak akan terdeteksi tanpa peralatan khusus untuk melihat gelombang otak, serta aktivitas otak ketika sesuatu terjadi.

God’s Spot mampu meningkatkan koordinasi, reflek, serta juga kreativitas secara short term (tentunya dengan seringnya melatih God Spot, ini bisa menjadi permanen). God’s Spot mampu diaktifkan dengan sering melakukan tindakan yang berhubungan dengan suatu higher force.

Apapun Higher Force itu, baik itu animisme, dinamisme, ataupun agama yang sekarang sudah mencapai level global, seperti Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, apapun itu, tinggal disebutkan.

Manusia sendiri mencapai evolusi agar bisa kreatif dalam cara berburu bukan hanya karena otak kita lebih kuat dan pintar dari seluruh hewan lain. Maksudku, Orca, dan Lumba-lumba memiliki IQ rata-rata yang di atas lebih dari setengah manusia di dunia, jadi, kurasa kita bukan hewan paling pintar.

Tetapi, kita mendapatkan kreatifitas kita dari God’s Spot ini, dan jika itu bukan karena God’s Spot, mungkin kita hanya akan menjadi sebatas makhluk yang hampir sepintar Simpanse, tetapi kalah jauh dari Lumba-Lumba dan Orca.

Mungkin itu salah satu alasan Atlit cenderung memiliki kepercayaan yang sedikit, bisa dibilang klenik. Didier Drogba memiliki ritual memasuki lapangan, dan mungkin, ketika ia mulai percaya bahwa ritual itu adalah suatu ritual yang mampu membuat dia bermain lebih baik, God’s Spot mulai aktif dan meningkatkan koordinasi, reflek, serta kreativitasnya. Apa yang terjadi ketika God’s Spot sukses meningkatkan kualitas syaraf kita? Kita bermain lebih baik…

Wow, itu terdengar sangat-sangat merusak kepercayaan klenik para atlit… Ehem, maafkan.

Dan jika ingin dipikir dari sisi lain koin ini, mungkin ini alasan orang-orang pintar dan ateistik cenderung lebih ceroboh dari orang-orang yang memegang kuat kepercayaannya.

Ini juga bisa memperkuat fakta bahwa tentunya Tuhan, dan kreasionisme dapat bermain peran kuat dalam evolusi. Bisa saja yang merubah struktur otak kita adalah pihak ketiga yang memiliki kekuatan tanpa batas. (ini akan dibahas sedikit di bawah, karena sebenarnya tidak melawan masalah terbesar dari penganut agama yang religius)

The Creativity Evolution

Darwin telah sukses mengupas evolusi manusia secara fisik, memang betul, jika kita tidak memiliki IQ dasar yang kuat, mungkin kita akan jauh kalah dibandingkan spesies lain, karena para primata, terutama saudara dekat kita menurut Darwin, seperti Simpanse dan Bonobo, cenderung memiliki fisik yang amat-amat lemah, tetapi intelegensia yang kuat.

Tanpa IQ dengan level yang sama seperti kita, meskipun kita cukup kreatif, kemungkinan kita tidak akan cukup pintar untuk menyadari bahwa makanan menjadi lebih sehat dan membuat kita merasa lebih baik jika dimasak, besi lebih kuat dan lebih mudah dibentuk dibanding batu, serta banyak hadiah dari evolusi lainnya.

Tetapi, evolusi yang akan kubahas adalah evolusi kita secara mental, alih-alih fisik…

Logika manusia menjadi kuat karena God Spot yang memberikan kita ide-ide baru yang belum pernah dipikirkan sebelumnya.

Seorang Simpanse, manusia Neanderthal, atau Homo Erectus, cukup pintar untuk mengetahui bahwa jika kita ingin mendapatkan pisang, cara paling efisien adalah dengan menggoyang-goyang pohon pisang hingga semua pisang jatuh, lalu berbagi hasil panen tersebut. Monyet pada umumnya akan memanjat dan mengambil pisang itu sendiri.

Itu adalah jenis spesies yang kita dapatkan apabila logika adalah satu-satunya bekal yang kita dapatkan dari evolusi dan juga dari Tuhan.

Tetapi, dengan bantuan God’s Spot, kita yang memang tahu bahwa alat mampu membantu berburu dan panen, akan lebih kreatif dalam menciptakan alat. Kita akan menggunakan batu, dan membentuk alat yang bisa melukai hewan lebih efektif, mungkin alat yang bisa dilempar. WHOOSH, terciptalah tombak.

Darwinian Religion

Sebenarnya, apakah Charles Darwin salah?

Darwin sering dikritisi atas kesalahannya dalam tidak menyebut tuhan, padahal Darwin seorang Kristen yang amat religius, dan tidak mau membiarkan kepercayaannya rusak oleh sains yang ia ciptakan.

Charles Darwin seringkali dikutip, dan menyatakan bahwa teori Evolusi yang ia buat biasanya cenderung untuk tidak merujuk pada perubahan mental manusia sendiri. God’s Spot adalah sebuah bagian kecil otak yang mungkin tidak mencapai seperseratus dari otak kita sendiri, dan hanya berfungsi sebagai pabrik produksi hormon dan zat untuk membenarkan syaraf.

Pada sisi lain, Darwin juga hanya menyatakan bahwa kita berasal dari Simpanse dan Australopithecus murni karena itu yang paling mirip struktur fisiknya dengan Sapiens, dan kedua makhluk tersebut amat sangat intelijen.

Darwin hanya menyatakan bahwa manusia, secara struktur fisik, (ini termasuk bentuk otak) berasal dari kedua makhluk tersebut. Tidak ada satupun hubungan antara Darwin menyatakan bahwa kita setara dengan hewan jika dibandingkan dengan makhluk lain.

Nah, Agama dalam konteks Darwin disini akan bermaksud untuk memberikan perspektif religius atas teori evolusi Darwinian.

Darwin menyatakan bahwa secara fisik, kita memang tidak jauh berbeda dari kera, tetapi kita memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh mereka, dan dari sudut pandang itulah kurasa teori evolusi Darwin dapat dipandang secara religius.

Banyak penganut agama menganggap Darwin salah karena menurut mereka, Darwin merendahkan kodrat manusia, dan disamakan pada kera, yang hanya merupakan binatang.

Seharusnya, mereka melihat dari sudut pandang lain.

Tuhan mengaktifkan sebuah titik di otak kita yang membuat kita berpikir dan berimajinasi, jika bukan karena Tuhan, kita hanya akan menjadi makhluk dengan fisik sedikit lebih kuat dari simpanse, dan parahnya lagi, tidak sepintar simpanse.

Kita menjadi lebih kuat dan mulia dibanding hewan bukan karena kita pintar, tanpa ilmu bahasa dan kreativitas, kita sebenarnya hanya masuk top 5 dari dunia hewan.

Intelegensia tidak sebatas intelegensia, terutama jika kita tidak dapat, ataupun tidak tahu cara menyalurkannya. Hanya karena kita memiliki titik psikologis yang mampu mengaktifkan kreativitas yang terpendam dalam ingatan kitalah, manusia bisa menjadi spesies yang kuat.

Kesimpulan

Kurasa, Darwin cukup benar, jika kita pandang sains miliknya secara hukum, ia cukup memanfaatkan area dimana ia tidak salah ataupun benar, dan area itu berasal dari kepercayaannya.

Simplifikasi teori Darwin begitu tidak tepat. Suatu teori yang indah dirubah menjadi kalimat sederhana yang ditangkap oleh murid sebagai… “Nenek moyang manusia adalah monyet” (ini jauh lebih menghina terutama di budaya yang sangat mengapresiasi leluhur, seperti di Asia dan di Afrika)

Padahal, seharusnya, jika memang ingin disederhanakan, akan lebih baik jika kalimatnya dirubah menjadi “Manusia telah mencapai kodrat yang lebih tinggi dari kera dan simpanse karena Evolusi.”

Sampai lain waktu!

Epic Face Palm #1

Epic Face Palm #1

Ini adalah serial kilat, hanya digunakan untuk menyindir beberapa banyak hal yang aku temukan dalam satu bulan kemarin.

Semuanya adalah momen yang sangat cocok untuk diberikan gif ini…

Ya, aku mulai sangat suka dengan meme ini, jadi aku kepikiran untuk bikin serial mengenai ini. Selamat membaca dan ketawa miris!

Nonton Film Yuk!

Bukan aku yang menemukan. Aku kekeuh gak mau main sosial media.

Mari kita bahas setiap komentar secara merinci, dan kita bahas seberapa face palm worthy ini…

Entar petugas kebersihannya tugasnya apa dong? Bingung saya
Terus tugas petugas kebersihannya ngapain?

Nah, Teteh/akang, kira-kira petugas kebersihan tugasnya apa sih? Coba tuh, biasanya megang HP sehari 5-6 jam ada? Coba googling deh tugasnya petugas kebersihan. Buka halaman pertama, kedua ketiga, tiga-tiganya adalah petugas kebersihan puskesmas…

Jadi, sebenernya… apa kira-kira tugas utama petugas kebersihan? Tugas mereka pada dasarnya bersih-bersih (*Captain Obvious kambuh lagi*). Secara teknis, kedua orang ini tidak salah. Memang betul tugas mereka bersih-bersih… Tetapi, apakah sulit untuk mau gotong royong sedikit?

Begini, kira-kira dengan kondisi bioskop penuh (dan iya, ini bioskop besar, seperti misalnya Dolby Audio Studio 1 di Trans Studio Mall) dan semua orang memesan pop corn misalnya… Sekitar 3-4 petugas kebersihan perlu menghabiskan waktu sekitar… 2-4 detik setidaknya per sampah sisa popcorn. Mulai dari mengambil sampah, dan juga memasukkannya dalam trashbag.

Memang betul tidak semua orang memesan pop corn, ada yang sekeluarga cukup satu Pop Corn, dan juga ada yang seorang satu. Beda-beda… Tetapi dengan asumsi bahwa di dalam satu teater XXI besar, dengan jumlah rata-rata 300-350 kursi, berarti dibutuhkan waktu sekitar… misalnya ada 200 porsi popcorn yang dipesan, berarti 200 kali 3 (median 2 dan 4), 600 detik, hanya untuk sampah pop corn, dibutuhkan 10 menit. Jika teater penuh, ada banyak sampah, termasuk yang tidak di cup holder, tetapi juga yang di lantai, mungkin bisa mencapai 20 menit…

Tetapi dalam 20 menit itu… umm… kurasa, jeda antar film dalam satu teater sekitar 30 menit. Kurasa masih sesuai dengan waktu ya?

Eh, lupa! Ada yang namanya secret ending dan iklan kan? Belum harus nyapu… hahaha!

Iklan misalnya 10 menit, jadi jika jadwal masuk dalam teater adalah 18.35, berarti film dimulai 18.45. Berarti, petugas kebersihan hanya punya waktu 20 menit, tepat dengan estimasi untuk bersih-bersih. Memang sih, teater tidak selalu penuh. Jika iya bagaimana dong?

Tetapi aku ingat, saat aku menonton Thor: Ragnarok, jeda masuk ke teater telat sekitar 10 menit dari jadwal. Aku yakin pada saat itu, teater penuh, dan tidak ada orang yang mau membantu petugas kebersihan. Coba bayangkan jika orang-orang yang egois dan tidak mau membantu memungut sampahnya sendiri itu berada dalam posisi orang yang harus tertunda masuk teaternya. Pasti kesal kan?

Coba deh, bayangkan saja, apa salahnya membantu orang lain, demi kenyamanan dirimu sendiri, serta orang lain… Kurasa memungut sampahmu dan mengumpulkannya serta memasukkannya dalam plastik sampah membutuhkan waktu sekitar 10-20 detik. Jika detik itu diakumulasikan ke semua orang dalam bioskop… maka, akan ada banyak working hour yang didapat hanya dari investasi waktu pribadi.

Jangan terlalu egois, coba pikirkan berapa banyak orang yang kamu ambil haknya, serta berapa banyak kebaikan yang kamu lewati dari tidak memutuskan untuk tidak membuang sampah ke tempatnya. Ini daftarnya…

  • Kamu melewatkan kesempatan membantu petugas kebersihan
  • Kamu melewatkan kesempatan membuat sesama penonton merasa lebih nyaman
  • Kamu mengambil hak orang masuk ke bioskop tepat waktu
  • Kamu mengambil hak bioskop memasang iklan (jika orang-orang masuk telat, film langsung diputar sesudah 1 trailer. Setidaknya pas Thor: Ragnarok begitu)
  • Kamu mengambil hak sesama pengunjung punya teater yang rapih, dan bisa keluar dari kursi mereka dengan nyaman.

Sekarang tahu kenapa dengan meluangkan 30 detik saja pahalanya sangat banyak, serta banyak dosa yang dihindari?

Kan sudah Bayar
Kalo bantu petugas bioskop, digaji gak min? Kebangetan kalau sudah bayar tapi disuruh bantu-bantu

Apakah uang menyelesaikan semua masalah?

Seriusan…

Uang adalah hal yang penting, tanpa materi, kecil kemungkinan seseorang untuk bisa hidup, ataupun untuk bisa mendapat entertainment dan merasa senang. Tetapi, apakah uang itu segalanya?

Gini, aku gak mau preach soal agama… Tapi, apakah kita bisa menjadi seseorang yang baik dalam mata tuhanmu (agama apapun yang kau anut) hanya dengan uang? Apakah kamu bisa menjadi teman yang baik dengan uang? (OH, coba-coba jawab ya… Kalau menurutmu hanya dengan banyak traktir temanmu kamu diangggap teman yang baik, maka kurasa kamu telah dimanfaatkan teman-temanmu) Uang bukan segalanya.

Memang betul kita sudah bayar, tetapi seperti aku sudah sebut di atas, ini bukan masalah apa-apa, ini masalah gotong royong, dan membantu orang…

Coba pikir lagi, apa salahnya meluangkan 10-15 kalori (setara dengan 5 menit tidur), dan juga 20-30 detik waktumu untuk beres-beres sampah, demi menghindari mengambil hak orang, dan membuat orang merasa lebih senang…

Gak usah dibantu, nanti bayar gaji buta dan tambah pemalas

3 hal yang salah dengan kalimat ini…

  1. Bayar gaji buta? Umm… Mereka tetap harus sapu-sapu oke, mereka tetap harus buang sampahnya dan membawa trash bag yang sedikit berat. Mereka tetap kerja, dan ini bukan gaji buta.
  2. Tambah pemalas? Kamu yang malas… Buang 30 detik hidupmu buat bantu orang aja gak bisa. Sedangkan jika aku hitung gaya penulisan kalimatnya, setidaknya butuh 45-60 detik untuk membaca post, berpikir akan komentar ini, dan mengetik komentarnya…
  3. Kamu yakin orang-orang malah makin malas dengan dibantu orang lain? YAKIN? Justru gak… Mereka bersyukur ada yang bisa membantu mereka, dan mereka senang… Seriusan, kurasa kamu gak pikirin dulu deh kamu mau ngetik apa pas bilang ini…

Ini baru satu dari 3 hal yang bikin epic facepalm… HA! HA! HA!

Minum Kopi Yuk!

Aku speechless, dan di akun twitter itu sangat-sangat-sangat banyak hal yang membuat epic facepalm disitu. (Juga dishare Babah, silahkan klik namanya di atas)

Kayanya sih Om Indra itu Barista di Starbucks, dan dari tiap hari kerjanya ia menemukan banyak hal yang menyebalkan dan curhat di akun Twitter miliknya. Kurasa ini pantas diberikan hore ke Sosial Media for once…

Kenapa hore? Jaman dulu orang curhat gini paling ke Pacar/Sahabat/Istri/Suami/Diary…

Jadi sepertinya, salah satu budaya negatif kita selain datang terlambat (WAH! Ini mah udah dari kapan tahu!) adalah kita tidak tahu diri ketika sudah mengeluarkan uang.

Aku akan bahas secara sedikit singkat mengenai semua tweet itu, dari atas ke bawah.

  • Waw… Kayanya orang itu adalah model orang yang, kalau gak dia kadang buang sampah sembarangan, dia gak bisa lihat tuh tempat sampah ada dimana, jadi mumpung ada yang nyapu nih, buang ah…
  • Dasar gak modal… Tanggal tua kayanya tuh, atau gak… emang kopet dan gak tahu diri aja. Aku ingat pernah menemukan serangga di makananku sesudah setengah habis, dan aku bilang ke seorang waiter, katanya diganti, dan aku menolak, aku bilang aku hanya laporan saja. Dan ingat, aku menemukan serangga, memang sesuatu yang salah dari SoP… kalau urusan rasa sih, udah kamu minum, berarti gak ada yang salah mestinya!
  • Guy or girl has anger issues… Enough said
  • 3 tweet ini sama saja ya… satu part. Sekali lagi, orangnya cukup gak sopan buat bilang kata tolol ke seorang pegawai. Berikutnya, dia gak tahu peraturan makan, tapi ya, itu sedikit sering di Indonesia… Lagian juga, ngilangnya 30 menit… itu lama juga lho, wajar barista-nya beresin.
  • Atas nama siapa? Mmmrsch… Maaf mas, atas nama siapa? Ngomong tuh yang jelas kek… Kayanya lagi mainan HP tuh… Memang ya, HP itu udah kaya kacamata. Dibawa kemana-mana, dipakai kapanpun.
  • Ini sedih banget deh… Masa coba ada orang yang rela untuk ngebiarin ibunya dikawal orang lain ketika ia sendiri bisa ngawal… Aduh. Ibunya juga baik banget, terlalu baik malah sama anaknya. Hiks… :'(
  • Kembali ke masalah uang… Kan gak muat lagian… Aduhhhh
  • Astaga naga… Kampungan banget tuh orang, gak tahu yang namanya self service, lagian ini kalau memang starbucks bukannya internationally (or heck, globally) seperti itu? Yah, aku mah kasian sih kalau dia nganggap self service itu aneh, jangan-jangan emang betul orangnya kampungan…

Jadi ya, umm, dasar manusia… Tapi, sekarang, mari kita bahas Kulari ke Pantai.

Yuk Lari ke Pantai!

Jadi, ini baru kemarin, dan ini adalah dua hal bagiku. Pertama-tama, ini epitome of irony dari film Kulari ke Pantai sendiri… Epitome berarti contoh yang JLEB! pas banget. Kedua ini berarti bahwa kayanya banyak banget orang nonton film latah doang, dia nonton film demi nonton film, atau mungkin demi sosmed. Umm, itu juga simbol ironi yang dibahas di Kulari ke Pantai… Tetapi, itu untuk besok saja yah…

Jadi, Kulari ke Pantai punya banyak pesan sponsor… Kalau memerhatikan, ada pesan sponsor untuk…

  • Indomilk
  • Gojek
  • Tolak Angin
  • Bank Mandiri
  • DLL

Tetapi, sebenarnya, yang kumaksud bukan pesan sponsor seperti itu, melainkan pesan sponsor yang berarti message penting, bahkan juga salah satu sindiran di film tersebut…

  • Banyak orang melakukan hal demi posting ke sosmed
  • Kita terlalu fokus dengan HP kita masing-masing
  • Foto itu sekarang foto orangnya, bukan foto orang+pemandangan (gak sepenuhnya betul, tapi… betul)
  • Mimikri sudah mengambil alih budaya kita… (kekeuh Postkolonialisme 😛 ) kita lebih sering menggunakan bahasa Inggris sekarang. Aduh!
  • Dan masih banyak lagi family values dan saran parenting di film tersebut. Banyak sekali contoh yang jangan dicontoh, tetapi juga banyak hal yang patut dicontoh…

Nah, jadi begini. Film dimulai dengan sekitar beberapa orang (ini dalam teater ya, bukan film) buru-buru membalas WhatsApp, kasih komen, atau… entahlah, aku tidak cukup cepat untuk menangkap 30 screen sekaligus. Sesudah 30 detik pertama sejak lampu mati, baru screen HP mati satu per satu.

Kukira orang-orang disini punya something important to do, dan mau bereskan urusan di HP, ya sudahlah, itu kuterima…

Eh, gak dong! GAK DONG!

Sekitar 45 menit menuju film, tepat pada adegan dimana salah satu tokoh utama yang fokus dengan gadget diambil gadget-nya oleh Tante-nya… Ada ibu-ibu mainan HP. Mata yang lain masih terpaku dengan screen, kurasa ini hal yang bagus, mungkin dari 50-an orang yang menonton, ada satu doang yang nonton for the sake of nonton.

Sekali lagi, aku salah.

Seiring dengan film maju, aku sukses menghitung 13 orang berbeda dari rombongan berbeda yang bergiliran (atau kadang bersamaan) memegang handphone, sekedar balas WhatsApp, scrolling IG, atau entahlah… Aku gak peduli. Eh, aku peduli, cuman aku gak peduli untuk tahu apa yang mereka lakukan…

Jadi, sesudah banyak sekali pesan sisipan bahwa orang-orang terlalu fokus dengan HP-nya di abad ke 21 ini, tetap saja ada orang yang kekeuh memegang HP dalam film yang literally berusaha membuat orang untuk melakukan sebaliknya.

Kesimpulan

WOW! 2019 mau ganti presiden? Aku takkan melarang opini politikmu, ataupun menyebut opini politikku sendiri, tetapi tolong… 2018gantiperilaku.

Yuk, share hashtag itu di sosmed, dan untuk sekarang gunakan sosmed untuk hal yang bermanfaat. #2018gantiperilaku tiap kali kamu menemukan sesuatu yang menyebalkan. Mungkin jika feed, timeline, or whatever your social media calls it is filled with that hashtag… Mungkin kamu akan berubah.

Aku tidak bermaksud menghina budaya kita, atau bahkan orang kita. Tetapi sejujurnya, memang banyak hal yang orang-orang kita lakukan yang… kebangetan, dan gak sopan. Aku dan beberapa temanku pernah membahas, mau pemimpin kita sekarismatik Hitler (karismanya doang yang diambil, kekejamannya gak), sepintar Einstein (sekali lagi, hanya kepintarannya, dia sedikit… gila soalnya), dan juga memiliki semangat Soekarno… Jika orang-orang dan rakyatnya tidak mau berubah, maka tidak akan ada pengaruh mau pemimpin kita seperti apa.

Jadi, sebelum 2019 mau ganti presiden, ganti mobil, atau ganti istri, terserah lah… Coba dulu, sebelum 2019, jadilah pribadi yang lebih baik… #2018gantiperilaku

Sebaiknya orang-orang adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sampai lain waktu! Aku masih hutang review film Kulari ke Pantai, dan juga beberapa hal lain. Semoga tetap mau mendengar opiniku, dan kumohon maaf jika menyinggung orang di artikel ini. Namaste!

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Judulnya mungkin membingungkan. Tetapi, serius. 90% orang tidak menganggap kertas sebagai suatu hal yang menakjubkan. It’s paper! For god’s sake, it’s paper! Mau diapain lagi?

Sebelum kamu melakukan suatu tindakan bodoh, dan memutuskan untuk bilang bahwa kertas hanyalah kertas… Coba baca artikel ini, http://dikakipelangi.com/paper-it-is-far-more-complicated-than-you-think-it-is/

Dan juga sebelum aku menyebutkan sesuatu yang konyol… Jadi begini, di artikel itu ada yang disebut Kertas Dawang, dan sejujurnya kukira kertas Dawang itu benar-benar ada. Ternyata, Dawang = Daluang. Tetapi karena di acara sebelumnya, Teh Lisa berbicara dalam logat U.S. nya dan tanpa bantuan teks, hanya verbal, Daluang terdengar seperti Dawang.

Ini membuat aku bingung karena umm… Aku berusaha googling Dawang Paper dan aku tidak menemukan sedikitpun. Awalnya kukira memang Dawang itu tidak didokumentasikan dengan benar, karena memang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di pulau Jawa. Ketika bertemu lagi dengan Teh Lisa disini, saat melakukan presentasi, ternyata terbacanya Daluang bukan Dawang. Tetapi aku masih mendengar Dawang, setidaknya aku tahu ejaan yang benar-nya sekarang. 🙂

Basa basi, basa basi, mari masuk!

Bumi dan Kertas

Acara ini dilaksanakan tanggal 7 Juli, di Museum Geologi. Dari jam 14.00-16.00. Namun, tentunya, seperti biasa, di Indonesia, acara jam 14.00 berarti 14.30. Iya, jika senang baca tulisanku, terima kasih, dan iya, aku sudah move on dari keterlambatan ini.

Pemateri pertama kita adalah salah satu mantan Kepala Museum Geologi, Ir. Sinung Baskoro.

Materi dari Pak Sinung berusaha menyambungkan Bumi (dalam kasus ini, Bumi berarti Geologi), Kertas, serta Museum. Jadi, sebenarnya apa hubungannya?

Tentunya, kertas adalah media universal setiap orang dari zaman dahulu, jadi Pak Sinung membuka sejarah kertas, bersamaan dengan sejarah bumi.

Bumi kita sendiri berumur 4.500.000.000 tahun. Kehidupan baru muncul 3.800.000.000 tahun yang lalu. Tentunya kehidupan ini muncul masih dalam bentuk sederhana. Hingga nanti ia menjadi sesuatu yang lebih kompleks, dan makin kompleks, dan makin kompleks, sampai akhirnya kita, sebagai manusia (pada waktu itu disebut Hominid) lahir 160.000 tahun yang lalu.

Kertas sendiri baru saja muncul pada abad ke 2 di China, diciptakan oleh Tsai Lun. Jadi jika kita ingin membahas sejarah Bumi serta sejarah kertas, mereka tidak lahir bersamaan, mereka tidak ada bersamaan, dan juga, bumi bisa saja hidup tanpa kertas, sehingga hubungan Bumi dan Kertas terkesan cukup jauh.

Lalu, Pak Sinung menambahkan, bahwa pada ujungnya, kertas tercipta dari sesuatu yang ada di Bumi. Ini berarti bahwa hubungan antara Bumi dan Kertas adalah hubungan yang komensalis, Bumi tidak dirugikan oleh kertas, sedangkan kertas bisa tercipta karena adanya Bumi.

Tetapi, masih banyak hal yang belum jelas disini… Apakah Bumi, Museum, dan Kertas memperlukan satu sama lain?

Jadi, sesudah menjelaskan dengan kilat jenis-jenis Museum, dan juga perubahan bumi, Pak Sinung menyatukan ketiga hal tersebut, dengan cukup efektif serta efisien.

Bumi ini bisa memiliki peradaban dari kertas, semua hal bisa dicatat dengan mudah, ditunjukkan dengan mudah, dan dijelaskan dengan mudah. (Komentar dari pikiranku, ini alasan Gilgamesh sangat susah dicari E-book nya berarti…) Museum sendiri juga bisa ada karena adanya kertas yang mempermudah tercatatnya ilmu.

Hubungan antara Bumi, Kertas dan Museum berada di fakta bahwa Kertas tidak akan ada jika tidak ada Bumi, tetapi jika tidak ada Kertas, Bumi tidak akan seperti sekarang…

Kurasa, sejujurnya, Pak Sinung sedikit off point dari membahas kertas pada 5-6 slide terakhir. Opini personalku, menurutku Pak Sinung akan lebih baik presentasinya, dan juga akan lebih “conclude” jika tidak memasukkan 6 slide terakhir yang membahas Menghemat Kertas.

Padahal, jika aku mau jujur, sesudah pernah bertemu dengan Professor Bambang Sugiharto, dan juga Teteh Lisa Miles sebelum acara ini, kertas yang dimaksud disini adalah kertas seni, bukan kertas yang kita gunakan sehari-hari.

Pak Sinung membahas bahwa kita harus menghemat kertas, dan juga cara-caranya. Tetapi, kertas yang dimaksud disini adalah kertas yang kita pakai sehari-hari, seperti kertas HVS. Nah, masalahnya berada di situ… Tentunya tidak perlu dibahas cara menghemat kertas, karena jika pembaca memang tertarik, bisa baca saja di Google, tetapi, kesan yang diberikan dari slide-slide menghemat kertas ini membuat seluruh presentasinya yang bagus, dan juga membuka sesi seminar ini dengan spot on… terkesan melenceng.

Amat disayangkan.

Ya sudah, untungnya kita langsung kembali ke presentasi berikutnya, dari Teteh Lisa Miles!

Art Paper

Buat yang baca artikelku tentang kertas, jika gak percaya bahwa Teh Lisa ini orang U.S. tetapi dipanggil Teteh karena beliau di tanah Sunda sekarang.

Jadi, presentasi Teh Lisa ini menjelaskan tentang gaya pembuatan kertas, mulai dari yang dilakukan orang Barat, dan juga yang dilakukan orang Timur.

Di daerah Barat, seperti Amerika, dan juga Eropa (dengan pengecualian suku maya dan aztec) ada banyak teknik untuk mencetak kertas. Tetapi semuanya dimulai dengan sebuah selulosa tanaman. Selulosa biasanya dicetak dalam sebuah tray, lalu yang membedakan tekstur kertas di daerah Amerika dan Eropa ini adalah apa yang dilakukan ke tray berisi kertas yang dicetak itu (serta tentunya, jenis tanaman yang dipakai).

Ada saat dimana pulp kertas dicelupkan dalam air, dikubur di bawah tanah, langsung dicopot sesudah kering, ada yang dimasukkan sumur kecil, lalu dicari dan dikumpulkan ulang dengan tray yang sama, dan masih banyak lagi.

Tetapi, Teh Lisa ke Indonesia untuk riset mengenai Paper Mulberry, yang digunakan untuk membuat Daluang. Mulberry? Nah, di Indonesia, serta suku Maya, dan (jika aku tidak salah) Mesir, kertas tidak dibuat dengan cetakan, ataupun tray. Melainkan, dengan cara digulung, dibuka gulungannya dalam kondisi basah, serta digebuk. (beat it like it owes you money)

Untuk suku Maya, sekarang tersisa hanya 4 buku yang menggunakan kertas Amate orisinil,3 berada di Museum, 1 berada di situs sisa-sisa budaya Maya… Buku mereka dibakar orang Spanyol… dan di Indonesia, Daluang digunakan untuk ayat-ayat Quran, dan juga untuk seni, ataupun baju pernikahan. Ya, buat orang-orang yang berusaha membuat Baju kertas keren, kamu telat sekitar 1600++ tahun.

Cara membuatnya cukup membuat tangan lelah. Karena kamu perlu mencari pohon, membuang kulit kayunya, sehingga hanya tersisa bagian dalamnya yang lembut. Lalu, kamu copot batang pohon tersebut, dan rendam kulit bagian dalam pohon tersebut sekitar… 60-90 menit dalam air tawar.

Sesudah direndam, kertas bisa dirobek, dan mungkin istilah yang tepat “diblender” sampai tersisa pulp. Sesudah pulp sedikit kering, dan hanya mushy, atau lembab, bisa digebuk dengan sebuah palu bertekstur sampai lembut, dan rata. Dari situ, biarkan sampai kering, dan yap, kertasmu sudah jadi!

Ini alasan dalam beberapa kampung ada Quran yang memiliki halaman kertas yang bertekstur. Kemungkinan Quran itu dibuat dalam Daluang.

Nah, jadi sekarang siapa yang masih membuat Daluang? Selain seniman muda seperti Teh Lisa ini, juga ada seniman tua, seperti beberapa Mama yang ditunjukkan fotonya oleh Teh Lisa. Bahkan, ada banyak Mama (berumur 75-85) yang menggunakan palu yang khusus diukir beberapa generasi yang lalu, diturunkan terus menerus ke anaknya.

Hasil dari kertas dengan palu khusus tersebut? Media seni menjadi seni. Tentunya, meski sudah mulai lanjut usia, Mama-mama ini tetap niat untuk melanjutkan seni kertas Daluang dengan tangan. Keren banget deh!

Fun fact, sebelum Teh Lisa mengakhiri presentasinya…

Teh Lisa menemukan sebuah cetakan palu yang turun temurun, dengan simbol yang kebetulan sama persis dengan sebuah batu di Mayan Temple yang ia pernah temukan… Tentunya ini bisa dijelaskan dengan teori Carl Jung yang bilang bahwa secara psikologis, setiap manusia punya bentuk stereotipe mengenai fragmen imajinasinya sendiri. Dan dalam budaya apapun, stereotipe itu sama…

(Hahaha… Bukan, pasti itu Alien!)

Nah, Teh Lisa mengakhiri presentasinya dengan menunjukkan beberapa hasil karya, serta dengan bilang bahwa jika ingin cek beberapa hasil karyanya yang lain, bisa buka dutchesspress.com

Beneran, buka situs itu, bagus-bagus karyanya!

Seni Kertas

Professor Setiawan Sabana, atau juga dikenal dengan Professor Wawan, telah membuat banyak sekali seni dengan kertas.

Aku tidak bisa menjelaskan semua karya Professor Wawan, karena banyak yang begitu abstrak sehingga, menurutku, itu butuh kontemplasi serta inspirasi yang… keren deh.

Dari beberapa karya-nya, Professor Wawan menunjukkan beberapa seni abstrak mengenai apa yang dipandangnya dari manusia tanpa kertas, dan juga beberapa buku buta, yang ia anggap sebagai simbol sebuah genre literatur. Seperti misalnya, ada buku tentang kriminalisasi, dan ia menggambarkannya dengan buku keras, disertai dengan beberapa kawat besi disekitarnya.

Selain itu, Pak Wawan juga memberikan cukup banyak ilustrasi perjalanannya dari kecil, hingga sekarang. Semua karya seni, baik itu gambaran, hasil seni abstrak kertas, sketsa, ataupun craft… Ia tunjukkan.

Professor Wawan juga bercerita bahwa sepanjang setengah hidupnya, ia selalu melihat kertas sebagai bahan untuk dirubah menjadi karya seni yang lain. Seperti kertas koran yang ia tidak baca lagi? Ia jadikan sebagai seni simbolisasi sampah. Kertas yang terbakar? Ia jadikan sebagai simbolisasi jamur di balok kayu yang tua dan lembab.

Karena abstraknya beberapa karya, aku tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang karya Professor Wawan, tetapi, jika kamu mendapat kesempatan untuk melihatnya… lihatlah dari banyak sisi. Kamu akan menemukan sebuah lekukan kecil yang baru, perbedaan warna, perbedaan tekstur, dan lain-lain.

Tetapi, yang sedikit sedih dari presentasi Professor Wawan ini adalah… UMM… Ia mengingat perjalanannya mengenai kertas, dan pada akhir presentasi, ia sempat duduk dan menangis terlebih dahulu. Baru ia bercerita sedikit mengenai kertas dan hubungannya yang spesial dengan mendiang istrinya. Om di sebelahku, yang sepertinya Teman seperjalanan Professor Wawan berbisik padaku, “Maaf yak de, temen saya ini emang emosional. Tiap presentasi selalu dia bawa lap buat menghapus air mata.” dan aku menceletuk “Persis Ibu saya berarti…” Om tersebut tertawa.

Sesudah Professor berhenti menangis, ia menghapus air matanya dengan cepat, dan mengakhiri presentasi. (Oh, dan aku lupa bilang, Professor Wawan menjadi mentor untuk Teh Lisa selama beliau di Bandung,  Professor seorang dosen di FSRD)

Kesimpulan

Jika melihat nama di atas, tampaknya acara masih banyak, tapi tenang, nanti kita kesitu kok.

Jadi begini… Professor Bambang Sugiharto (kusering bertemu beliau karena selama aku mendapat kuliah filsafat, Professor Bambang mengisi materi 6 dari 12 kali) khusus berada disini untuk menyimpulkan ketiga presentasi ini dari sudut pandang filsafat secara singkat.

Berdasarkan sudut pandang filsafat, menurut Professor Bambang, manusia, layaknya kertas, menjadi makin abstrak seiring dengan majunya umur dan pengalaman di suatu bidang. Penjelasan pertama yang sangat teknis, disusul oleh Miss Miles yang menjelaskan teknisnya proses pembuatan suatu seni, sampai ke Professor Setiawan yang sangat-sangat abstrak…

Kertas disini juga menghubungkan manusia bukan hanya dari perspektif media saja, tetapi juga dari cara kita memandang kertas tersebut. Memandang dan mengubah sesuatu yang kosong (ku tidak yakin, tapi kurasa ini pun intended) menjadi sesuatu yang artistik itu sulit. Sehingga, menurut Prof Bambang… Kertas adalah simbolisasi perspektif manusia yang sempurna, dan paling sulit dipandang secara abstrak, dan artistik.

Sudah, sampai situ saja hari ini…

Bonus…

Musikalisasi kertas… Penasaran bagaimana kertas dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai musik? Jadi, Syarif Maulana (seniman di Bandung) dan dua temannya membawa kita ke sebuah penampilan instrumental (disertai gerakan teatrikal dari Professor Wawan) mengenai kertas.

Kertas disini juga digunakan sebagai alat yang menambah sound effect via robekan, dan juga dengan mesin tik sebagai pengganti akustik, dan sound effect bel dari mesin tik sebagai pengganti (komplemen sebenarnya) dari instrumen string.

Instrumen yang digunakan adalah, Biola, Gitar, Mesin Tik, Kertas Bekas, serta Paper Clip…

Selain itu!

Jika ingin melihat karya Teh Lisa Miles dan Professor Setiawan secara langsung… (dan juga kertas dari peradaban tua) bisa datang ke Museum Geologi!

Ada pameran sementara yang sangat bagus, mengenai kertas, dan juga beberapa karya Professor Wawan… Aku hanya mengambil tiga foto, biar pembaca yang benar-benar kepo, untuk langsung datang saja kesana!

Moral Judgement As A Child Ep. 1

Moral Judgement As A Child Ep. 1

Serial ini adalah sebuah serial yang aku gunakan untuk menulis recap tentang diriku sendiri ketika aku masih anak-anak. Mengingat artikel recap buku tulisan Jean Piaget, aku ingin menuliskan sedikit tentang pengambilan keputusan yang aku buat selama aku masih anak-anak. Apa yang aku lakukan, mengapa, dan apa yang anak lain lakukan kepadaku atas tindakanku.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir dan dilihat ulang beberapa kali dari sudut berbeda, akan sedikit tampak bahwa aku termasuk anak yang berusaha mengambil alih, dan bukan mengikuti arus anak-anak pada umumnya. Tetapi aku sedikit (ehem, yakin sedikit?) banyak gagal, dan aku… ya, baca aja sendiri deh.

Episode ini hanya akan membahas ketika aku masih berumur 7 tahun, karena sisanya aku akan bahas nanti. Sebelum aku mencapai umur 7 tahun, aku masih lupa-lupa ingat tentang apa yang aku lakukan, dan ketika  sudah diingat mungkin bisa jadi episode 2, 3 dst. Untuk umur diatas itu, akan jadi jauh lebih rumit, untuk pilot, mungkin konfliknya bisa dibuat sederhana saja.

Basa basi sudah beres, langsung saja aku cerita.

(FYI aku Homeschool sekarang sebelum ada yang menanyakan aku sekolah dimana)

Disclaimer: Nama-nama disini adalah nama Pseudonym, aku tidak akan, dan tidak akan pernah menggunakan nama asli, kecuali untuk diriku sendiri

Case Review

  • Nama Klien: Azriel Muhammad A.H., ketika umurnya masih 7 tahun
  • Nama Kasus: Bermain Bola di Lapangan Basket
  • Waktu dan Tempat Kejadian: *Nama sekolah ketika klien masih sekolah disensor untuk menginformasikan bahwa ini bukan iklan*, sekitar 8 tahun yang lalu, klien tidak bisa mengingat tanggal yang pasti.
  • Overview (Ikhtisar, [aku tidak suka kata itu, jadi kita gunakan overview saja]):
    • Klien merasa temannya yang sedang menjadi alpha dalam kejadian ini tidak tahu cara bermain bola dengan benar. Temannya berusaha memberikan diktasi atas peraturan, namun klien merasa bahwa diktasi peraturannya sangat-sangat konyol. Klien memutuskan untuk kesal sendiri. Sesudah klien menenangkan diri, baru ia mencari solusi.

 

Ditandatangani, Azriel Muhammad A.H. dari masa kini.

Kejadian…

Day 1

Hari itu, tahun itu, klienku yang sekarang telah tidak pernah menyentuh bola sepak sejak kelas 6 SD, masih menyukai bermain sepak bola. Kurasa inilah dampak seseorang mengenal game komputer, langsung hilang minatnya bermain olahraga. Ia sedang bermain sepakbola bersama temannya, dan klienku sendiri mulai berpikir kritis dan berusaha membanding-bandingkan situasi di lapangan dengan situasi di televisi, ketika ia dan ayahnya menonton bola.

Klienku bercerita, bahwa pada hari itu, ia merasa bahwa temannya sudah kebangetan. Ia mengira bahwa tiap tim boleh melakukan tendangan pojok, atau corner kick, ketika tim musuh mengeluarkan bola ke gawangnya sendiri.

Sayangnya dikarenakan ia dianggap sebagai pemain yang sangat payah, (tentunya, aku sendiri, sebagai psikolog yakin bahwa ia tidak sepayah itu juga) ia dianggap tidak mengerti cara bermain sepak bola sama sekali. Padahal justru, menurut klienku, bukan berarti karena ia tidak bisa bermain sepak bola dengan baik, ini berarti bahwa ia tidak mengerti peraturannya.

Tiap kali sebuah tendangan pojok dilakukan oleh temannya, padahal yang seharusnya dilakukan adalah goal kick (tendangan gawang), ia protes, namun sayangnya, klien saya tidak didengar suaranya.

Ia berusaha memberitahu temannya yang sok tahu akan peraturan bahwa cara bermainnya itu, tidak seperti itu! Namun, sayangnya, semua orang temannya memutuskan untuk pura-pura tidak tahu akan peraturan sederhana itu. Ia diprotes, dan kata temannya jika ia diprotes terus, ia akan diganti oleh pemain lain, meskipun mereka berada di dua kubu berbeda, semua temannya mendengar.

Klien saya dengan sedihnya dikeluarkan dari permainan itu. Ia bilang ke saya bahwa ia sudah berusaha meyakinkan, tetapi sayangnya ia gagal. Ia menutupi istirahat makan siang itu dengan sebuah rencana penggulingan. (oke, aku yakin kata yang klien saya pakai bukan penggulingan, tetapi aku tidak mencatat, dan anggap saja ini semacam dystopia)

Hari itu, saat pulang, ia berjalan ke lobby sekolahnya (yang jaraknya sekitar 500 meter dari ruang kelas) bersama temannya. Temannya yang baik, sebut saja Alam (pseudonym) ini, bilang bahwa sebenarnya ia setuju dengan dia, memang yang boleh melakukan corner kick itu hanya tim yang sedang menyerang, tim bertahan diberikan goal kick, dan bukan corner ketika itu terjadi. Namun, ia diam saja, dan ia tidak mau membela karena tidak ingin ikut terlibat konflik.

Day 2

Klien saya bercerita bahwa pada hari kedua, kelas mereka sedang tidak diberi jatah untuk bermain di lapangan basket, mereka akan mendapat jatah mereka 2 hari lagi, sesudah angkatan kelas 3 dan 4 mendapat jatah bermain juga.

Sistem rolling ini bisa tercipta dikarenakan lapangan sepakbola yang mereka miliki tidak bisa digunakan, kecuali ingin harus mengambil bola ke pinggir sungai jika terjadi out. Amat disayangkan.

Untungnya, meskipun klienku (ia mengakui ini) menyebalkan ke teman-teman angkatannya, ia cukup dikenal sebagai anak baik dan pintar di sekolahnya dulu. Kemungkinan besar, anak-anak Kelas 3 dan Kelas 4 disitu juga cukup tahu padanya, meskipun ia baru kelas 2. Ia hebat sekali ya… 😀

Jadi, pada hari kedua, ia mendekati kakak-kakak kelas 4 yang sedang bermain. Ia mencari kakak yang cukup baik, setidaknya sepengetahuannya, bernama Leon. Kak Leon ini juga katanya termasuk salah satu pemain sepakbola yang paling jago.

Ia mendekatinya, dan ia berusaha curhat, menceritakan masalahnya. Kak Leon ini langsung bersimpati padanya, ia memberi sugesti ide, bahwa dua hari dari sekarang ia akan ikut bermain, dengan satu temannya agar tidak ada yang protes ada kakak kelas 4 di tim musuh, dan akan menjelaskan peraturannya.

Klienku yakin bahwa jika ada Kak Leon dengannya, ia akan sukses memberi tahu temannya akan peraturan yang sebenarnya, dan dia akan akhirnya bisa bermain sepakbola tanpa rusuh dan stres sendiri akan kesalahan peraturan setiap kali ada tendangan pojok.

Day 3

Hari ketiga, lucunya, kakak kelas 3 yang sudah booking lapangan tidak jadi mengambil lapangan itu. Jadi, kami dari kelas 2 langsung mengambil lapangan.

Kak Leon dan temannya Kak Didit yang ingin ikut bermain di esok hari sudah menyampaikan pesan bahwa ia akan ikut bermain besok, tidak ada yang protes, teman-temanku malah senang mendapat striker.

Dikarenakan ukuran angkatan yang kecil, kita bermain futsal/sepakbola dengan 7 vs 7. Klienku merasa terpaksa main, karena memang hanya ada 14 pemain. Awalnya, ia tidak ingin bermain agar dia tidak frustrasi akan error sederhana, namun ia menelan nasib saja, ia berkata pada dirinya bahwa ia bisa, dan akan tetap sabar.

Sayangnya itu gagal.

Ketika ia melakukan perebutan bola, terjadilah sebuah pelanggaran. Klienku langsung diberikan kartu kuning (menurut seluruh tim musuh, kami tidak punya wasit), padahal menurutnya pelanggaran itu masih dalam batas wajar, dan tidak perlu diberikan kartu kuning, cukup tendangan bebas saja.

Untungnya, kali ini, timnya membela, timnya bilang bahwa tidak semua pelanggaran harus diberikan kartu kuning. Sangat beruntung bahwa temannya Alam percaya padanya (dan juga memang sudah menonton pertandingan yang tidak memberikan kartu kuning setiap pelanggaran), sambil ikut bilang ke anggota timnya untuk bilang bahwa itu tidak perlu diberikan kartu kuning.

Tim lawan percaya, dan hanya pergi dengan tendangan bebas. 

Tetapi, hari itu, klienku sedang merasa sedikit frustrasi, dan tidak sabaran, ia tidak sabar menunggu hari dimana tidak ada lagi tendangan pojok defensif. Ia jadi, melakukan sebuah pelanggaran, tepat dihadapan kiper.

Lapangan basket tidak punya kotak penalti, iya, betul. Namun, sudah disepakati oleh semua orang, jika pelanggaran tepat dihadapan kiper, akan diberikan sebuah penalti.

Timnya semua setuju, klienku pun mengakui bahwa itu harus diberikan sebuah penalti. Tetapi, sayangnya temannya yang sok tahu ini, bernama Putra (teman yang sama yang bilang bahwa tendangan pojok itu… ya tahu lah ya), bilang bahwa, tiap kali ada Penalti, harus ada kartu merah.

Ini langsung ia protes, ia tidak terima, ia yakin tidak semua penalti harus dihukum dengan kartu merah, setidaknya terakhir kali ada penalti dalam salah satu pertandingan Liverpool di Premier League, ia yakin bahwa tidak seperti itu.

Jadi, ia membantah, dan ini adalah percakapan anak berumur 7 tahun, membahas sesuatu sesederhana (ehem, peraturannya 192 halaman sendiri) sepakbola…

  • Putra: Hey, kalau penalti itu langsung dikasih kartu merah tau!
  • Azriel: Gak ah, aku yakin gak dikasih kartu merah, terakhir kali Liverpool dapet penalti lawannya gak dikartu merah kok!
  • Putra: Ini kan futsal!
  • Azriel: Iya, tapi kan tetep aja, futsal peraturannya dasarnya mirip sepakbola
  • Putra: Iya, tapi kan kartu merah
  • Azriel: Kan futsal mestinya 5 orang, ini ada 7
  • Putra: Kan biar adil…
  • Teman nyeloteh (klienku tidak ingat itu siapa): Iya, masa kita jadi pake cadangan, entar semua orang gak bisa main dong!
  • Azriel: eh iya, maaf ya…
  • Putra: Iya, betul kan, berarti kartu merah aja ya!
  • Azriel: Kan gak sengaja, pelanggaran itu wajar lho!

Sayangnya seluruh tim lawan klienku sudah keburu sebal akan pernyataan yang ia bilang dimana mestinya futsal itu 5 lawan 5. Ia tidak diberi kesempatan untuk mendebat lagi. Jadi, dengan sedihnya, ia diberikan kartu merah sebagai hukuman sosial untuk tidak mengikuti alpha, dan juga untuk hukuman akan salah memberikan pernyataan.

Klienku mengaku bahwa ia sebal, dan ia mengakhiri hari dan istirahat makan siang menemani temannya yang menggambar. Temannya Eka tidak suka bermain sepakbola, dan klienku mengakui bahwa sahabatnya pada saat itu, dan terus sampai ia kelas enam, adalah si Eka ini. (Eka itu cowo ya, jangan salah, aku kurang kreatif membuat pseudonym)

Eksekusi Rencana

Day 4!

Klienku datang bersama Kak Leon dan Kak Didit untuk bermain bola, kali ini 8 lawan 8.

Ia berbisik ke Kak Leon, dan percakapan pendek mereka berujung seperti ini…

  • Azriel: Kak, langsung bilang ya, aku mulai kesel soalnya Kak, entar aku darah tinggi lagi… kebanyakan makan garam (btw, ini lelucon di kelasnya klienku, katanya jika orang marah-marah, disebut sebagai orang yang kebanyakan makan garam)
  • Kak Leon: Jangan dulu Zriel
  • Azriel: Hah? Kenapa?
  • Kak Leon: Nanti aja, biar bolanya keluar dulu…
  • Azriel: Oh iya, siap kak, siap…

Pada dasarnnya, anak-anak, seperti klien saya, sangat memandang tinggi senior yang masih masuk dalam golongan peer. Kak Leon disini merupakan kelas tertinggi di SD-nya dulu, belum ada kelas 5 pada saat Klien saya masih kelas 2. Klien saya sudah sangat senang bisa mengobrol dan didengar oleh anak kelas 4.

Sedikit offtrack, klien saya juga bercerita bahwa ketika ia sudah kelas 5, ia selalu mau meluangkan waktu untuk bermain ke anak kelas 3 dan anak kelas 2, kadang ikutan bermain apapun yang ia mainkan, ia senang bermain dengan junior yang melihatnya sebagai kakak kelas yang baik. Meski juga ada junior yang menyebalkan.

Nah, junioritas senioritas ini mulai bermain.

Ketika Kak Leon (menurutnya ini disengaja) mengeluarkan bola dan memberikan tendangan pojok ke tim musuh, ia menghentikan permainannya, dan menjelaskan peraturan yang nyata.

Semua orang yang masih seangkatan dengannya, dengan pengecualian Alam langsung takjub, mereka baru tahu ada yang namanya Goal kick, atau tendangan gawang. Karena senior yang menjelaskan, Putra langsung tunduk, dan tidak bertanya sedikitpun lagi, ia sudah yakin bahwa klienku benar.

Ah, tentunya sangat menyenangkan.

Ketika istirahat beres, klienku menjadi seorang anak yang sedikit… hmm, sok tahu. Ia bilang bahwa seharusnya selama ini teman-temannya dengarkan dia saja. Tentunya ini berujung buruk.

  • Azriel: Kan, tahu gitu dengarkan aku saja!
  • Putra: Iya, maaf ya, aku harusnya…
  • Azriel: Aku tahu kok aku bener
  • Putra: Maaf ya zriel, aku harusnya dengerin kamu
  • Azriel: Iya, emang betul, kan aku bener.

Hari itu berujung dengan seluruh temannya menanyakan peraturan bola ke dirinya. Dan ia sangat senang bahwa ia bisa bermain bola dengan benar.

Case Review

Bagi klien saya, ia tidak pernah ingin menjadi alpha. Bukan.

Ia memiliki potensi menjadi alpha, tetapi yang ia inginkan hanyalah untuk peraturan menjadi apa yang ia yakini sebagai peraturan. Semua hal sudah lurus, dan akhirnya, peraturannya dapat ia tegakkan. Ia tidak pernah mau menjadi alpha, dan yang ia yakini adalah, ia tahu peraturan yang benar, dan orang-orang harus mengikuti peraturan yang ia yakini sebagai benar.

Untuk melakukan itu, klien saya harus menjadi alpha, ia harus didengar.

Ia tidak bisa menjadi alpha, jadi ia mundurkan diri, dan mencari alpha yang lain. Ia sangat keren, dan juga resourceful dalam mencari solusi. Dua jempol ke klien saya 😀

Kesimpulan

Waw, menulis tentang diriku sendiri itu sangat lucu ya…

Bagaimanapun juga, ini adalah sebuah kasus psikologi, dan kuharap mampu dinikmati.

Aku sejujurnya merasa bahwa buat apa melihat psikologi orang lain! Lihat saja diri kita sendiri terlebih dahulu.

Tolong ketahui bahwa ini adalah true story, hanya nama yang fiksi, sangat beruntung aku bisa mengingat secara pas apa saja yang terjadi. Mungkin ada sedikit sih kata-kata yang direkayasa, tetapi intisari cerita itu, nyata.

Bagaimana pun juga, semoga intinya sampai, dan dapat dinikmati

Sampai lain waktu!

Dikakipelangi.com, Es Krim Kit Kat, dan Lebaran…

Dikakipelangi.com, Es Krim Kit Kat, dan Lebaran…

AZRIEL! KAMU KEMANA AJA?

Sebenarnya lucu juga tidak ada orang yang mencari aku, ataupun komentar menanyakan bolongnya One Day One Post ku.

Alhamdulilah traffic blog masih terjamin dengan artikel Arti dari Salut Wakanda Forever yang sekarang telah mencapai view ke 5500 (dan masih bertambah 😉 ). Tiap harinya, artikel itu bisa menjaring setidaknya 100 view, dan jika sedang bagus rejekinya, artikel itu menjaring view diatas 500.

Seperti reader ketahui, Libur Lebaran pun belum beres. Sekarang masih cukup banyak hal untuk dikerjakan, dan aku pun baru hari ini mendapat hari yang tidak berujung denganku keluar rumah. Sejak Sabtu tanggal 9 Juni kemarin, aku belum sempat menyentuh laptop, dan… ya, aku membuat sebuah cerpen pendek (bentar, cerpen tuh singkatan apa ya?) untuk menjelaskan aktivitasku 9 hari kebelakang.

Es Krim Kit Kat

Semua itu bermula dengan es krim. Bukan Es Krim biasa, bukan… Es Krim itu hasil manufaktur Nestle (maaf, aku belum menemukan cara menambah aksen dengan keyboard wordpress). Es Krim itu khusus dibelikan Ibunda tercinta di bulan Ramadhan.

Tanggal 8 Juni kemarin, Bubi pergi ke Supermarket, untuk membeli cemilan malam. Cukup banyak, dan kalau dihemat-hemat ngemilnya, cemilan yang dibeli kemarin seharusnya bisa tahan sampai sekitar… kurasa 4-5 hari.

Aku tidak dibelikan apa-apa. Kecuali satu hal, Es Krim Coklat buatan Nestle tadi, yang merupakan spin-off dari resep coklat wafer sangat enak bernama Kit Kat, diubah menjadi sebuah es krim. Sambil memberikan es krim tersebut padaku, aku diberikan pesan… “Ja, ini es krim buat kamu ya, tapi kamu kalau makan ini bagi buat aku ya…”

Pesan itu menggema di kepalaku. Aku memang berencana membagi es krim tersebut, tetapi ini berarti aku tidak bisa ataupun boleh membuka es krim tersebut tanpa Bubi hadir.

Bukan masalah, kayanya. Masalahnya adalah aku hanya bisa makan ketika tidak ada matahari, dikarenakan aku sedang beribadah shaum…

HMM, itu pun bukan masalah sebenarnya. Langsung saja kumakan, memang sudah jam buka kok, kenapa tidak. Tetapi, hari ini, kurasa aku sudah cukup banyak makan manis, jadi seharusnya aku bisa menunggu besok.

Ternyata itu kesalahan yang sangat besar. . .

9 Juni 2018

Hari Sabtu, pagi hari kita memiliki beberapa agenda, yang termasuk aku memotong rambutku dan lain-lain. Sayangnya pilihanku untuk tidak memakan es krim di hari kemarin adalah opsi buruk.

Jadi, beberapa hari yang lalu, aku diundang untuk Itikaf bersama temanku. Meskipun itikaf-nya sendiri dimulai dari 21 Ramadhan, aku belum ingat untuk datang, sampai tanggal 9 juni kemarin. Biasanya, atau orang-orang pada umumnya itikaf hanya dari malam ke pagi. Tetapi, dengan sedikit bantuan temanku, kita bisa itikaf seharian, dan kita juga dipersilahkan menginap di masjid.

Tentunya ini sangat-sangat memudahkan, proses beribadah, jadi kenapa tidak? Aku bisa menghemat uang untuk gopay, gojek ke rumah hanya perlu dilakukan ketika ingin mengambil baju jika memang kekurangan, atau sudah habis.

Sayangnya, keputusan untuk menginap di masjid sampai H-1 Lebaran ini… membuat aku melupakan es krim kit kat tersebut selama Itikaf. Sama seperti aku melupakan keberadaan blog ini…

JENG JENG JENG!

Selama Itikaf…

Hari demi hari berlalu, Juz demi Juz kubaca, Tajil demi Tajil dinikmati, rakaat demi rakaat dilakukan… Sementara itu.

Blog ini terbengkalai kosong, mendapatkan dinginnya penulisnya yang sedang beribadah, melupakan keberadaan blog ini, tidak mengecek blog ini sekali pun, dan blog ini pun merasakan dinginnya… Kulkas. (Freezer deng), sama seperti Es Krim kit kat yang semestinya dimakan itu, dibiarkan saja. Ketika ada yang membuka freezer itu, atau dalam kasus blog… dilihat, ia hanya berharap tujuannya dapat terpenuhi.

Blog ini tidak diisi, layaknya Es Krim Kit Kat itu tidak dikonsumsi.

OH! SUNGGUH PAHITNYA KEHIDUPAN!

(Catatan: penulis sedang membaca puisi tulisan Virgil, Dante, serta Homer. Tulisannya akan menjadi 20-100 kali lipat lebih lebay sampai ia bosan membaca ketiga penulis tersebut)

Kepulangan dalam Kepergian

Aku pulang… Masih dalam lembayung senja, aku dijemput seorang driver gojek yang baru saja beres sahur dan langsung mencari rejeki mengantarku pulang.

Matahari telah naik, mulai memberi ciuman sinarnya, menandakan ini sudah bukan waktunya lagi untuk makan. Aku yang lelah, sesudah bangun semalaman ingin segera mengganti baju, dan menidurkan diri, sampai pagi setidaknya.

Aku tidak kuat untuk terbangun lebih lama lagi, jadi aku langsung saja membuat diriku tak sadarkan lagi, terbang, melayang dalam alam mimpi (oke, aku gak mimpi sedikitpun)

Paginya, sesudah terbangun, aku harus segera bersiap. Masih banyak hal yang perlu dilakukan.

Mudik.

Mungkin memang sudah telat untuk Mudik, tetapi jika engkau seorang yang pulang kampung ke kota, maka… Ini waktu yang tepat.

Jakarta kosong, tidak banyak orang pulang ke Jakarta. Sebaliknya, banyak orang meninggalkan rasanya kota metropolitan untuk kembali ke akarnya. Menjadi udik, alias Mudik. (ceunah istilah mudik dari situ)

Pergi dari rumah, es krim kit kat belum bisa dimakan, aku pergi dari rumah sebelum dzuhur, dan sampai Jakarta sesudah ashar. Jika aku membawa es krim tersebut, dapat dijamin bahwa dirinya akan lumer.

Sama seperti blog ini, ia kutinggalkan. Meskipun kubawa, aku yakin tiada akan (Catatan: Ia melebaykan tiap kata, dikarenakan… ia ingin melebaykan) waktu dan tempat yang cocok untuk menyelesaikan tugasku.

Aku telah Pulang!

Kembali ke Bandung, aku masih lupa akan beberapa hal. Kita masih punya banyak hal untuk dilakukan, meski dengan mulainya Piala Dunia, tidak banyak waktu yang aku miliki untuk menulis.

Sabtu pagi diisi dengan acara halal bihalal dengan keluarga yang bertempat di Bandung, seharian aku diluar rumah, dan selama aku di rumah… Tubuh sudah lelah, batas manis telah dipenuhi.

Minggu kemarin, bisa dibilang aku bersenang-senang, dari pagi, sampai malam aku diluar rumah. Sekali lagi, tubuh masih lelah, manis sudah cukup.

Aku tak tahan lagi, aku tidak bisa menunda pekerjaan ini lagi. Ini tidak dapat dibiarkan.

Pagi ini, hari dimulai dengan berlari, aku perlu bergerak sesudah makan sebanyak itu selama lebaran (semur nenek memang legendaris, lapis legit miliknya juga).

Sesudah menghabisi buku, aku makan makanan berat, dan aku harus menyelesaikan tugasku.

Rumah karyaku! Aku pulang!

Kesimpulan

WHAT ON EARTH DID I JUST WRITE?

Aku baru saja membiarkan jari bergerak, dan pikiran mengalir menghasilkan apapun yang telah kutulis.

Semoga tulisan itu menarik, dan mampu dinikmati, aku tidak berpikir banyak saat menulisnya.

Sampai lain waktu!

Why You Should: Speak English

Why You Should: Speak English

So, you’ve read this article? http://dikakipelangi.com/programming-skill-penting-di-era-digital

I am officially making a “Why You Should” series now! After some success with the programming article, I’ll do my best to help explain some of the things I’m doing as a homeschooler… Of course with some of my rather unique activities it would be rather intriguing to pull one or two things together and form an article.

Of course, what’s the point of learning something, if you don’t have a reason to learn the thing? So, that’s what this article is for… to give you a reason, a justification, or whatever word you wanna use, to learn something. It’s important!

Like, it’s really funny when you have someone learn something because they must, not because they want to, or because they can benefit from it… Oh wait, that’s basically our education system… Gee, isn’t it surprising when people don’t wanna go to school.

Some of these answers would be taken from a meeting at Taman Bahasa Bandung and Capetang, 2 communities that can help you to practice your English communication skills, and also from LEDS, a place where you can practice debates in English and argue with people…

Their locations will be included below, and note that this is not a sponsored post, it’s time to give back to communities who have given me important experience and knowledge.

So, let’s head on to the article… (Btw normalnya mah serial ini akan ditulis pakai bahasa Indonesia, tapi karena artikelnya tentang ngomong Bahasa Inggris, jadi ini bakalan ditulis pake bahasa Inggris.)

Intercommunicative… Intercommunication

Intercommunicative… a word I seriously just made up 10 seconds ago… And to prove its existence I googled it… it doesn’t exist…

Intercommunication, engaging in a two way conversation, or communication. (This word does exist, in fact Google autocorrected intercommunicative with intercommunication)

Interconnectedness…

A Universal Mind

Holarchy

Evolution of Mind

And some other articles discussing about philosophy.. and stuff so complicated I don’t really wanna explain it here… But, overall it’s discussed that us humans will eventually develop and become a citizen of planet earth. And especially in the Evolution of mind article, we are eventually going to reach the point of complete evolution and become the voices of Earth.

English is a language that’s currently the most spoken language in the world, and for now, it’s the language that is globally used by everyone, anywhere, and I believe it’s also a language that can make the world more connected.

Right now, the world is basically connected… I’ve mentioned one or two times on how easy it is to get a bombing news in say, Palestine, than it is to get news about a theft near your house. And now, thanks to information technology on the complex levels, such as remotely controlling a satellite, and to the simpler ones, such as social media… We have a world linked with the touch of a finger.

But, seriously though, it would be really ironic for you to use social media (since I don’t use social media), to use google while searching and manipulating some images… Basically connect with the world, but you lose that capability to communicate with them. You may be connected, but you may not really communicate?

Isn’t it… devastating? You’re one step closer to the world, or perhaps, even you’re one keystroke away from communicating with the world… Yet, you’re unable to do so… because of the one barrier left… Linguistic barrier. (Wait, there’s also the emotional and physical barrier too, but those… are other things, that’s out of context)

So, speak English! It’s one way to connect with the world.

Conclusion of this chapter… Internet connects the world, English enables people to experience the world.

Culture

Culture is disappearing each day in the flickers of light from globalization, and honestly, through tourism, we can preserve the heritages left by the country. Take it from museums who have some of their guides require English Speaking capabilities, or have some of the English text on their displays.

Not only does English as a language helps us link and connect with other cultures, it also helps to make our culture more well known to the world, whilst indirectly enables our culture to be preserved, and not getting… “Swallowed” by other cultures. Because there comes a time where we must influence instead of getting influenced. And to influence, you would need a language to connect with everyone.

To influence is to lead, to be influenced is to follow.

Other than culture preservation, tourism enables a country to gain income, and of course, income is always a need, be it for a person, or a country.

Now, of course, leading is a good thing, and should we spread our culture, and “influence” other countries through our culture, following isn’t always a bad thing. There are times when we really do need to follow, and sometimes, we’ll have to deal with following.

And once again, we can’t share our own culture, nor experience a slice of other cultures without a language that should easily be introduced to countries. Of course, when you really want to learn about a culture, language is a crucial part of it, but when we want to experience slices of experiences, a global language would be most helpful.

Therefore, to conclude this part… Culture must be preserved, and shared, share it through a universal language.

Universal Language

Closing the conclusion of culture, we’ll move on to reason number 3, a reason that’s important, of course, but when you only give it a brief look, it’s no different than reason number 1, or number 2. Therefore, I’m discussing this.

In Star Trek, every species to join the Federation must be able to speak English, and fun fact, Lieutenant Uhura speaks 200 interspatial languages. Now, the only species that I know of to not speak English are the Klingons, course, they’re Klingons, and with their “Remain pure” stuff… The Klingons do have a right to not speak English.

On topic… When you take your time to get more than one look in Star Trek, the Universal Language is still… ENGLISH. And in our scale, for now, the language that citizens of Earth, or perhaps Humans as a species use to communicate is… English.

Can we agree?

Now, as to why this is different with the Intercommunication topic in the first paragraph… This sees English as a noun, whilst intercommunication is a verb, a process where English helps people communicate… Now, English isn’t a process, at least not in this paragraph. It’s an identity. It’s proof. Proof that you are… indeed, a citizen of Earth.

Does this mean that English is something people must speak English to be a citizen of Earth? Course not, but to be honest, why shouldn’t we speak English? I’ve heard people complain about patriotism, while truth is, it’s a matter of post colonialism trauma and not exactly a loss of patriotism.

For now, I’ll let you think as to WHY you’d not want to speak English, because right now, it appears to be more than a demand, or a skill… it’s a need.

English Completes Me

In an overkill-y sense, English is a language that completes a person. Why is that? Is this person so… “hopeless” he or she can’t find a spouse or partner, so they use English instead? PFFT… No, not really.

Currently, English is the most complete language, containing many words that newborn languages don’t have yet. And for some intellectuals, or people who wants to speak in a very comprehensive manner, using English is probably one of your best bets.

Since making a complicated sentence isn’t quite easy when you know a word, but you don’t know it in other languages, that’s basically why English exists. This universal language enables you to find newer words, and then discover their meaning, or perhaps “make” a word in your own language.

Isn’t that rather enjoyable?

Though, please note that this doesn’t necessarily mean you can only speak intellectually in English, it just makes it easier… And of course, don’t forget to respect and love your own culture and language… It’d be quite a pity to actually use English as an excuse to not know some words in your own Language…

That does happen to me though, sometimes I know the English word, but not the Indonesian word… Happens.

Concluding this chapter… Consider English as a very complete Language, and it’ll help you complete your own language. Respect both, and love both… Especially your own.

Special Thanks

Before we conclude, special thanks to… (in no particular order)

Taman Bahasa, for the spirit of all the members and ideas there, young and not so young… Your spirit and consistency amazes me.

LEDS, for the countless debates and all the knowledge, chats, arguments and news there… Your creativity in topics constantly intrigues me.

Capetang, for the conversations, and chats to keep me satisfied, and to learn new things once in a while… Thanks for the Public Relations and how you care about the community and their English speaking skills.

Now it’s time to conclude…

Conclusion

So, to conclude today, how, oh how, does one speak English… 1 word… PRACTICE!

English is best learned through practice, and through interaction, not through formulas in textbooks. What is this, math?

Language is an art, and according to many cultural studies, art is best learned through practice. Of course, theories help, but if we don’t use all the theories we gained, our skill would be very limited, and they’d be… borderline useless…

So therefore, practice, practice, and practice! With help, you’d be able to speak English pretty fluently…

In fact you can try and join some of the communities I thanked there…

LEDS has its meeting during Saturdays at Baltos’s Top Floor in the foodcourt, starting from 16, or 16.30. Please come on time, otherwise you’ll miss some funny chats, or theories onto how you could, or should debate. Search LEDS in Instagram for further details, and please contact through the account.

Taman Bahasa holds its meeting Every Sunday from 8.00-10.30, it’s okay to come late… though you’ll miss some intriguing conversations. Held at ITB, right across the main entrance you’ll find a banner. Taman Bahasa has a Facebook fanpage, you can find it on your own 🙂 .

Capetang has its meeting Every Thursday, starting from 15.30, and again, it’s okay to come late, and its held at Taman Sejarah. Usually Capetang is bombed to the world through Humas Bandung’s Instagram account, so you can just check it out…

It doesn’t really matter who you are, where you’re from or what you did on all of these 3 communities, just come and practice your English…

Until next time of course, good night 🙂

In The Event Of A Zombie Apocalypse…

In The Event Of A Zombie Apocalypse…

In the event of a zombie apocalypse… Apa yang akan kamu lakukan untuk survive?

ADUHHH, itu mah boring question atuh. Kalau ada yang ngebahas zombie apocalypse (outside of the fictionalized series and/or movies), pasti mahhh ngebahas itu… apa yang akan dilakukan seorang manusia untuk selamat, melewati zombie apocalypse?

Well let me give you an alternate question… In the event of a Zombie Apocalypse… What kind of superpower would you like to have?

Pertanyaan ini lebih membutuhkan kreativitas untuk si penjawab pertanyaan lebih bisa merespons… Jadi sebenernya pertanyaan ini akan jauh lebih bagus untuk mengasah pemahaman literasi seseorang. Or plainly, pertanyaan ini jauhhh lebih fun.

Firstly, special thanks to a friend of mine who asked me (and apparently, most of his/her [keeping anonimity in check 😀 ] friends too, including me) this question. Jasamu dalam inspirasi untuk artikel ini tak akan terlupakan, in fact I hope you’re reading this article… Karena, aku share…

Okay on topic!

Healing, Absolute Healing

The power to heal something, absolutely extinguishing and immunizing the person from the virus. Dalam kasus Absolute Healing, aku yakin seharusnya ini juga bisa cure death, yang sayangnya topple the balance of life and death, jadi… ya gitu deh… Power ini opsi yang cukup baik di sebuah Zombie Apocalypse..

Examples

Aku ga yakin ada Superhero di komik yang punya superpower sekuat ini. Karena, ini akan easily membuat semua superhero di dunia ini jadi boring, kaya gini lho… “Plot twist of the series, Superman is dead”, here’s how it went…

  • News: The world currently mourns for Superman’s death while fighting against the gigantic monster known as Doomsday.
  • Lois: NOOOO CLARK!!!! WHY!?
  • Wonder Woman: Although this seems inevitable, and is indeed a sad moment, Green Lantern seems to have a solution…
  • Green Lantern: Hahaha, we’ll just get *masukkan nama superhero yang punya absolute healing untuk heal orang lain disini* him/her to help us.
  • Narrator Spongebob: 1 Hour Later
  • News: The world is now at its happiest moment after Superman is brought back to life…

Yaaaa, superhero macam itu membuat plots lebih boring.

TAPIIIIIIIIII…. ada example dari seseorang di Greek Mythology.

Namanya Asclepius, dia anak dari Apollo. Asclepius ini full time doctor, ga kaya Apollo yang juga part time oracle, part time archer, part time musician, part time womanizer, dan part time doctor. Asclepius ini pernah menyembuhkan orang mati, karena ditodong sama Artemis. Jadi yaaaaa… Keesokan harinya. Dia kesetrum petir sama… (you know who) dan mati, tapi karena dia ga punya self regen stuff happens….

Thoughts

Boring! (Ummmm aku juga bilang power yang aku mau itu ini sih) Wong yang namanya Virus itu, perlu dicounter dengan a form of cure. Which exists in a vaccine, or antidote… Karena cara kerja vaksin tidak seperti yang orang-orang pada umumnya tahu… (semoga bisa jadi artikel juga, tapi namanya harus prepare, jadi… Vaksin memprevent virus menginfeksi orang lain, antidote membuat diri si orang imun dari virusnya)

Tapi andaikan ada rabid infection yang secepet Zombie Apocalypse, kita ga bakal sempet nyiptain Antidote/Vaksin. Jadi untuk orang yang mau play it safe, ambil aja ini, sebagai opsi.

Honestly untuk mau jadi lifesaver dan salvation for this planet, ga bakalan ada opsi lain selain Absolute Healing. Tapi kalau ini end dalam conclusion yang… “Pilih Absolute Healing, ini opsi yang paling tampak heroik”. Artikelnya akan boring, jadi, ayo kita break down alasan seseorang memilih superpower ini!

Looking Heroic

Ini jawaban dari diriku, karena, kayanya keren kalau aku bisa jadi salvation of this planet and whatever title I want to call myself should I be able to do this. Iya, ironically aku sendiri yang bilang gini, tapi regardless, orang kaya aku bakalan seneng banget kalau bisa melakukan sesuatu yang heroik.

Jadi, secara singkat, aku bilang power ini boring, tapi aku milih power ini, untuk alasan yang aku sendiri juga bilang, sedikit membosankan dan membunuh potensi plot twist… And I thought Asclepius’s death is Ironic…

Lonely….

Temanku menjawab something like… Karena kalau ga ada orang lain aku bakalan kesepian. Yeah, it’s a bit sad. Tapi jawaban dia literally… “ABSOLUTE HEALING! Karena tanpa orang lain aku bakalan kesepian 😀 “.

Jawaban ini ga salah sih, dan bisa dibilang rada lucu juga… but like I said, no opinions are lower than others, dan karena ini emang sandbox untuk kita bayangkan sendiri, maka… it’s really up to you.

Wise Guy Talk

Kayanya ini bakalan terdengar sangat keren dan berwibawa… Jawabannya rada panjang, tapi aku lose chat history ini, karena… long story. Tapi, dalam sebuah nutshell, ini jawaban salah satu temanku…

Aku bisa saja memilih kekuatan yang keren, atau egois seperti super strength atau kemampuan untuk bisa terbang, dan akan sangat enjoy memiliki kekuatan itu. Tapi aku tidak sanggup menahan beban dunia yang bisa saja aku selamatkan dengan memilih kekuatan untuk menyembuhkan orang lain. Jadi aku milih healing powers.

Okay… let’s let the wise guy talk speak for itself. Kayanya aku belum bisa ngomong kaya gitu… 🙁

Teleportation

Minor spoiler, nanti ada yang jawab… Light Speed, tapi alasannya sangat berbeda dengan ini, jadi aku bedakan.

Kemampuan teleportasi. Sesuatu yang semua orang mungkin mau miliki bahkan tanpa adanya Zombie Apocalypse. I mean, teleportation is basically a free ride to anywhere you want every single day. Teleportasi bisa menyelamatkanmu dari apapun, tapi aku yakin dalam event zombie apocalypse, ini ga bakalan berfungsi sebagai Go-teleport untuk transport mechanism, tapi lebih berfungsi sebagai… escape mechanism. Since, it’s a safe bet to escape via teleportation.

Examples

To name a few, Nightcrawler, dari X-Men. Blink, dari X-Men juga, Scarlet Witch from the comics, dari Avengers, Vision, sama juga dari komik, karena ga bisa di film (#kecewa), terus dari DC ada Supergirl, dan Doctor Fate (DC’s version of Doctor Strange, but better [hanya opini]). Oh dan jangan lupa sama yang namanya… GOKU!

Thoughts

Sama kaya healing, ini safe option juga, ga terlalu aneh, ga terlalu eksentrik, rada-rada… ya gitu dehhhhh… Tapi, menurutku ini sedikit lebih fun, dan less boring dari absolute healing.

Kenapa aku berpikir begitu? Well for starters, thrill yang didapat dari teleportasi itu sebuah emosi yang ga bakalan didapetin dari experience lain seperti terbang, atau, whatever anything else. Aku ga tahu apa yang Nightcrawler rasain pas dia teleportasi, tapi aku yakin perasaan yang didapat dari menutup mata terus membagi partikelmu sendiri menjadi banyak dan materialize somewhere else itu pasti perasaan yang sangat fun.

Alhasil, tension dari memecah diri dan materialize somewhere else itu suatu perasaan yang ga akan didapat dari hal lain, jadi… menurutku ini opsi fun and safe!

Reason

Safe option… (Yeah that’s it, tapi aku lebaykan tadi)

Light Speed!

Kemampuan untuk lari dalam kecepatan cahaya… this sounds like… well… my favorite superhero. Jadi, andaikan kamu bisa lari dalam kecepatan cahaya… pretty much gini doang sih… Kamu lari sangat cepat!

Examples

THE FLASH! Tidak ada yang lebih keren dari Flash (in my opinion). Kenapa? Flash bisa lari ke timeline manapun (NO, not social media timeline), dan dia bisa lari secepat cahaya. Unlike Quicksilver, yang ga secepet cahaya, dan bisa backtrack sekitar 7-14 hari. Tapi tetep, menurutku lebih kerenan Flash, no contest there.

Also, kalau mau bicara kecepatan cahaya, ada contoh lain yaitu, pesawat yang lari di Warp Speed di Star Trek, which is every ship. Yang bahkan bisa surpass light speed, btw.

And then last but not least, Hermes, god of messengers could travel in the speed of light… (Kalau mau ngitung dan scale jarak antar Erebos or Underworld ke Olympus, dan dia bolak balik anterin semua orang ke bumi, terus underworld dalam hitungan detik).

Thoughts

Jadi sebenarnya, ini sangat keren, dan opsi yang bagus. Tapi menurutku, kalau kita bisa lari secepat cahaya, ga bakalan efektif kalau kita cuman manfaatkan momentum dari velocity kita buat ngegebukin Zombie. Kita kalau punya Light Speed, kita harusnya bisa time travel…

Kalau kita bisa reverse bumi dan membalikkan revolusi bumi sampai waktu sebelum ada zombie dan mencegah virus para zombie ini tercipta in the first place… Harusnya bisa, dan kita bisa selametin bumi! Although… sayangnya, takkan ada yang tahu jasamu… Jadi ya sangat disayangkan.

Also, daripada repot-repot reverse revolusi bumi dan membalikkan waktu seperti yang Superman lakukan, ada opsi untuk time travel saja, tanpa rese-rese melakukan… reverse revolution, thing…

Reason…

Oh dear…

Kalau ingin memukul orang dengan sangat sakit, kalau kita bisa lari dengan kecepatan cahaya, kita akan bisa memukul orang dengan maksimal… Ini karena Force = Mass X Acceleration, dan jika kita bisa lari dalam kecepatan cahaya, theoretically, waktu akan berhenti di sekitar anda, dan kita akan diam di satu titik stasis itu, aman dari semua zombie.

Jadi, yang jawab ini emang… sangat technical orangnya.

Super Strength

Basically, ini… kekuatan untuk menjadi super kuat… yes gitu doang…

Examples

Superman, Captain America, Hulk, whatever, just insert your generic superhero here.

Thoughts

Kalau ga ngeh dari seberapa pendek aku nulis paragraf ini, ini sangat boring, ga bring that much benefit… dan… lastly, super strength ga guarantee bahwa dirimu ga bakalan ketular sama yang namanya virus zombie-nya.

Jadi, ini mah, udah boring (karena very generic), banyak sekali downside-nya.

Reason

Aku setengah lupa, tapi pasnya sih, sebenernya… reason-nya rada simpel, kaya… “what more do you need?” tapi ga sepolos itu kok.

Vampiric Touch

Hmm… ini sebenernya sedikit mengingatkanku pada beberapa vampire/creeps di beberapa card game, atau superhero movies. Vampiric Touch itu power yang bisa nyedot life and energy out of the things this person touches. Ini sedikit creepy, tapi di saat yang sama juga… keren. (I bet there’s a cult praising Vlad Dracula).

Examples

Rogue, dari X-Men, mutan ranking A yang aku deem paling dekat ke S level Mutant. Blood Benders dari Legend of Korra juga punya kekuatan ini.Kayanya juga ada beberapa karakter lagi di film creepy lainnya. Most of the times yang punya Vampiric touch itu… Anti-hero, but not a villain, atau edgelord dari respective movie/game.

Thoughts

HUMSSSS… HUUUMMM…

Sebenernya ini… power ini… sedikit… odd in the events of a zombie apocalypse. Karena, honestly, kamu ga bakalan mau nyedot life dari hal yang technically… dead. Tapi karena ini sangat-sangat theoretical, aku mau coba breakdown…

  • Zombie itu makhluk mati, tapi masih punya kinetic charge untuk bergerak karena sebuah virus yang inhabit dan mengendalikan otak suatu makhluk.
  • Vampiric Touch tidak hanya menyedot life source, tapi juga menyedot energi…
  • At the same time, kalau life source si Zombie (Virusnya), disedot sama Vampire-nya, virusnya HARUSNYA bisa transport dan occupy si host.
  • Tapi, harusnya sih, Vampiric Touch juga bisa nyedot capability si virus itu occupy and manipulate the host, sama kaya Rogue nyedot kekuatan orang yang dia sentuh.

In conclusion… Vampiric Touch masih menang, dan ini bukan opsi yang bener-bener buruk.

Reasons…

Karena kalau kita bisa nyedot energi dari zombie ini kita bakalan hidup terus, dan zombie juga akan mati di saat yang sama.

A very efficient and good reason actually. Dengan ini kita ga harus mikirin makan, ataupun ngebunuh zombie karena sepaket! Siapa yang ga suka buy 1 get 1?

In Conclusion…

Sebenernya kalau ada yang nanya ke aku, sesudah 2 bulan conversation ini lewat, apa yang sebenernya paling kepake?

Well punya kekuatan untuk jadi mutant half mushroom half human. Karena jamur sangat kuat sesudah feed dari hal yang mati, jadi jamur ini bisa makan dari mayat-mayat zombie ini dan jadi makin kuat, sambil memakan si Zombie, mirip vampiric touch, tapi lebih efisien lagi! Sayangnya ga ada yang kepikiran (including me), bahwa… kalau kita bisa feed dari hal mati, kita akan aman.

Nah, sebenernya conclusion benerannya apaan ya?

Also, itu aku tambahin super strength biar ada warna boring di sini, mungkin, untuk signify captain obvious, or things like that. Ga ada yang cukup polos buat bilang itu kok.

Be creative! Dunia ini akan lebih berwarna kalau kita kreatif…

Speaking of creative… Nah, aku sebenernya rada penasaran sama yang lagi baca nih… mau ga share kira-kira di Zombie Apocalypse apa superpower yang ingin dimiliki?

Thanks for reading, and pleaseeee… comment…

What Is Right? What Is Wrong?

What Is Right? What Is Wrong?

Where have I been? Well… it’s a long story… For the past month I had a series of events, including sickness, binging on Stranger Things  (this isn’t really a productive thing, but still… I did this, there’s no turning back now), and I read a bunch of books, receiving Input before I output some writings in this blog. In addition to that I teach kids programming on Mondays.

If I’m a computer, I need some more information, or knowledge before I could give some writings, I was just done downloading lots of input and learned about some stuff, so I could write here.

Firstly, I apologize for the inactivities in this blog, but I hope you haven’t lost hope in me, after a month of inactivities that is. While I was sick, I read some Philosophy… Perhaps too much, but a man who feasts on knowledge is one whose hunger will never be sated. See? Told you I’ve read philosophy, and anyways, I want to write 3 articles  about philosophy before January, starting with this one. These articles are just random thoughts and some definitions according to some philosophers.

Enjoy reading!

Background

I feel like it’s necessary for me to write the background of this article, since I think without these conversations, I never would’ve made this article.

Anyways, I had a conversation with my friends a while ago, and I brought up Psychological Manipulation, I wonder, will there ever be a situation that could justify manipulation. During the discussion, which I couldn’t really say how’d it end, since the answer isn’t solid, neither it is clear… but it ended with me answering my own question.

A day after the discussion I remembered a bit about a discussion I had with Babah and Bubi, discussing about intent. A good intent could justify a bad act, a bad intent could disprove a good act.

Not so long ago, I read about Buddhism as a philosophy, and according to the book I read, Buddhism is a philosophy, just the way it is a religion, actually, the internet is full of debates between the two, but I’m playing it neutral here.

The connection between Buddhism, Philosophy, and the “right” thing to do is going to be explained below.

Anyways, I connected the dots between the 2, and I got the idea to do this article, explaining a bit about a good action, according to some philosophers, and psychologists.

DISCLAIMER:

Despite the discussion of some religions (in a philosophical way) here, I have my own set of beliefs whether religious beliefs, or philosophical, and even though I’m taking the philosophical roots of some religions, that doesn’t mean I’m practicing the aforementioned religions. The same applies for philosophical beliefs.

Defining A “Right” Action.

“There is nothing either good or bad, but thinking makes it so”William Shakespeare

Nothing in this world is good or bad, but a person can think and argue whether an act is good or bad. Well, under here I have some definitions of a right (or good) action based on some philosophies.

Philosophically speaking, everything can be right, as long as you can prove the action as a right one through your thinking. Fortunately, not all forms of philosophy makes sense, and since the world is still governed by laws, so no one could just justify killing someone through their thinking, unless the logic and arguments really are solid, and are counted as an exception. (For example, killing someone in terms of self defense)

Regardless, here are the definitions of right, based on some of the most appealing philosophies to me.

Dialectical Method

To define right, you need to have a concept of wrong, and a purpose, Socrates, an Ancient Greek philosopher said this. Just because you’re doing something that’s not wrong, doesn’t mean it’s right, you need to fulfill your purpose and have your action to not fit your concept of wrong, therefore you’re right.

The Dialectical method was invented by Socrates, a philosopher that is dubbed as the “Father of Western Philosophy”, purely because he questions everything. His questioning, writings and teachings are burned in public because he questioned the basic norms of the time, which was the Greek Gods governing the world.

Socrates questioned their existence, and was given a death sentence, or at the kings mercy, exile! But Socrates chose the death sentence since he believes that a life unexamined is one that is not worth living. (That’s his most famous quote, after all, he died because of that belief, more on that later)

I chose Socrates’s philosophy on right and wrong (though Socrates used the terms Good and Evil), because I think it fits my thoughts the most. Socrates said that Good and Evil are absolutes, which you can find by questioning an act (in a nutshell that’s literally what he did as a philosopher, questioning everything). If we question an act using a different basis, or different set of ethics, we can get the answer, though that would mean that Good and Evil aren’t absolutes.

Regardless, Socrates fits the philosophy of this article the most (yes, not just this part of the article, but including other philosophies), due to the fact that I like to question things, and he is still my basis on right or wrong, despite there’s one critical difference in the fact that Good and Evil as something that’s not absolute.

Anyways, Socrates lead himself to believe and utter his quote that killed him, through this thought process…

  • A life worth living is one that is a good life
  • I can only live a life that is good, if I know what’s Good, and what’s not good (or Evil, but evil is a harsh word)
  • Good and Evil are absolutes, one that can be found through a process of questioning and reasoning (commentaries from me: Socrates as a philosopher whose overall career is based on him questioning everything, but I have yet to find his definitions of good and evil, except for… read on below).
  • If Good and Evil is a moral, and questioning and reasoning is a knowledge, then morality and knowledge are bound together
  • A life where you don’t question or reason with anything, is one that’s ignorant.
  • An ignoring life is one that can’t find morality.
  • An unexamined life (or an ignoring life) is one that’s not worth living

If you’ve heard of that thought process before, it’s cause it isn’t mine, it is Socrates’s, and I just rewrote it.

For one to find the definitions of good and evil, you need to question everything, but firstly you need a basis of Good and Evil, or Right and Wrong. Read on below and see the philosophies and thought processing below.

Buddhism

I haven’t read too much about Buddhism itself, but the ultimate goal of Buddhism is to end the “cycle of suffering”, with the wish that we will be reborn onto a state where we are still at peace, without any suffering.

In order to end all suffering, you can’t have any temptations, since according to Gautama, temptations and pleasure is the source of all suffering, to do that, there’s a path for you to traverse.

More on that later, since our current topic is about a right action, and according to Siddharta, to reach “True Peace” you need to follow the Buddhist Code of Ethics, defining what a right action is. The code of ethics is known as “The Eightfold Path”, symbolized by The Dharma Wheel. To be able to reach the final goal of Buddhism teachings, which is to be reborn without any temptations, and stopping the cycle of suffering, you need to have all 8 paths going the right way, otherwise, you will still be reborn with temptations.

Buddhism already has a concept of wrong, and a purpose. According to Buddhism, fulfilling your temptations are wrong. By wrong I don’t mean wrong per se, but, the purpose of Buddhism is to purge temptations. Eventually you can perceive temptations as a wrong thing, and it wouldn’t really go against the general philosophy.

The main purpose of Buddhism is to gain peace (I know I said that it’s purpose is to purge temptations 2 sentences ago, but hear me out), and according to Siddharta Gautama, peace is gained from within, when you feel content with what you have, you won’t seek anything more than what you already own, therefore you wouldn’t be tempted by anything, and peace is achieved.

Feel confused? Philosophers use analogies, and I’ve just made an example for this case.

Currently my phone has 250 songs, all of them I would listen to if one of these songs pop up randomly in the radio. When I play them in my phone, there are 2 possible things I do if I listen to music.

Firstly is just shuffle my entire library, and put my phone in my pocket, ignoring whatever song gets played, because anyways, I’m satisfied with the 250 songs I currently have, whatever song gets played, I’m satisfied with it, because I do like all of them

The other option for me is to keep my phone in my sight, and each time it plays a song that doesn’t fit my ideal though, I would skip it, constantly pressing next until my phone shuffle gets a song I truly am satisfied with.

Putting this analogy into perspective, I have 250 songs which I am satisfied of, and I like all of them, but there are times where I can’t be satisfied with the song that’s playing, forcing me to put unnecessary effort, while feeling a bit annoyed as well, whilst I could just be happy with what song that’s currently being played, I mean, the song is in my phone since I like it.

So, the definition of right according to Buddhism Philosophy is doing an action that doesn’t disturb one’s peace, without fulfilling any one of your temptations. Now we have one step in order to be able to do the right actions, finding out the meaning of right for you.

Machiavellian

This isn’t a religion, it’s a philosophy, so apologies if you haven’t heard of it before.

Niccolo Machiavelli is an Italian Politician who wrote the book, “The Prince”. Haven’t heard of it? Well, The Prince is a book on Machiavellian philosophy, with the term “The end justifies the means”, as its main philosophy. Machiavelli said that a ruler can do whatever it takes to gain glory. Machiavellian philosophy is political philosophy, and he said some things that doesn’t fit common moral judgement, because it’s cruel.

Anything that benefits you, according to Machiavellian philosophy is deemed as a right action. For the end justifies the means, and any means, or actions, would be justified by the reward.

I really mean anything, Machiavelli even said that a ruler needs to utilize both fear and love to “control” their people. Preferably through fear as a priority. Spreading fear is… well it’s a terrible act, there’s not really anything to justify it, but Machiavelli said that a ruler is allowed to ignore moral laws, for personal benefit.

What’s the wrong act according to Machiavelli then? Any act that doesn’t benefit you? I mean, it’s pretty hard for you to find an act that has absolutely no benefits at all. I mean, even helping a kingdom, still grants you benefits, you gain a loyal ally, and despite your people loses a hint of their fear from you, an ally still benefits you more than fear from your people. So, any act that isn’t stupid (stupid in the way of a purposeless act, without any benefits), is right.

In conclusion, a right action according to Machiavelli isn’t a complex thing to find, just find an act, and regardless on how many norms, or what morals have you ignored, are deemed right, as long as one can benefit from it.

My Perspective

Protagoras, one of my favorite philosophers (or memorable) stated that “Man Is The Measure Of All Things”. It is a philosophy I use to this date, and it’s a world where I dream of existing as well. Protagoras stated that everything is measured by one’s perspective on things. As an example he used a case of two people visiting Athens during Spring. One from Sweden, One from Egypt. The Swedish visitor claims it’s warm, The Egyptian visitor claims that it’s cold. Both of them are right, and they shouldn’t fuss to each other about their opinions, everyone has their differences, deal with it.

Why do I dream of a world like this? Because, when one can choose to appreciate the opinion of others without letting any factor blind them (regardless what the factor may be, perhaps a difference in religion, perhaps your own opinion), then no conflict would be created. As long as one side of the war won’t disturb the other side, no war would be created. Tolerance and contentment is what the world needs.

I don’t believe in Good and Evil, I believe in 2 concepts. Majority and Minority, and 2 sides of a conflict. (I haven’t find a canon philosopher on these 2 concepts, so this part would be my thoughts).

Just because the minority is different from the majority, doesn’t mean that the majority is correct, and just because more people believes in something, doesn’t mean that the minority is incorrect. As simple as that.

In fact since the beginning of civilization, social conduct have always been in the same order, and have used the same set of levels in terms of flow and followers.

  • There are always leaders, trendsetters, maybe the king, or the famous celebrity that everyone follows. Usually 20% of the society are the trendsetters
  • There’s the followers, mainstream people who believe in the king, or buys the exact same clothes as a famous celebrity they are fans of. 60% of society think like this, although sometimes they agree with the last category instead.
  • There’s the anti-mainstream flow… People who disagree with the main trend, and just goes against the flow. These people are usually those that becomes the leaders or trendsetters when their time has come, replacing the previous trendsetters. Usually 20% of society are people like this.

You should guess where I belong…

I’m someone who supports differences, and believes that differences are a good thing, without differences, we would stay in the same place.

I don’t believe in good and evil, as I’ve stated, but there will always be 2 sides of a conflict, and I’m not one to take sides, unless if I have to. In fact, my article on Ragnarok is a good example of this. There are 2 sides, neither are right or wrong, just they’re fighting their own definitions of it, and the end is pointless, the end is just… they’re all dead.

So with my philosophical beliefs out of the way, I think I should let you know that, philosophically speaking, I have no belief in what is right or wrong. Does that mean I abandon religious laws and the laws of society? No, quite the contrary actually I follow them, because I’m not one who has a belief in philosophical version of right and wrong.

Why is that? Well, I believe in lots of things, but my main philosophical belief is that, opinions are relative, and nothing can be said as wrong or right without an argument, and I’m someone who relies on arguments to support a claim. This entire article is filled with facts and arguments to support a claim. Everyone can be right, everyone can be wrong, philosophically speaking, there is no right or wrong, unless one thinks of something as right, or as wrong. (Rewording and Remarking the Shakespeare Quote earlier on)

So, well, it’s okay to have no versions of right or wrong, just be sure to not break the law and to follow whatever your religions teachings are, we’re way past times of society following on a single set of beliefs.

Conclusion?

Hang on… if you are asking, “you’re concluding the article after 3 set of Philosophical beliefs?”

I am… all 3 beliefs are extremely different from each other. They’re pretty colorful and should give someone an impression to question your definitions of right or wrong.

There’s Buddhism which cares about every single thought before you act, whether it’s your intent or mindfulness, to the act and who is benefiting from it.

There’s Machiavellian who only cares about the end, and you can do whatever you want as long as you benefit from it.

Then there’s mine who practically doesn’t care about any definitions of right or wrong, just think of something, and there you have it… You’re either right or wrong.

All of these definitions of right or wrong ultimately comes back to your own definition of right and wrong. Whether you are a truly religious person, whether you are someone who believes in opinions and arguments, or whatever your thinking on this subject is, you have your opinions, people have theirs, don’t have a conflict about it.

There… It’s as simple as that…

If you want to live a good life, find your definition of good, the way Socrates questions everything, live your life based on your philosophy, don’t forget to remember you need to be religious, and follow social laws as well. Live your life using your opinion, don’t question the opinion of others, and there you have it… the key of your good life.

The problem with lots of people nowadays is that, they don’t even have a definition of right or wrong, and they’re not looking for it, neither they are trying to have a good life. How can you have a good life, without doing things you deem good, and how can you deem something as a good action if you don’t have a definition on good.

Living a good life starts with finding what the meaning of good is. That’s my conclusion, I hope you enjoy this article, and well, wait for my other articles. Thanks for reading, until next time! (this sounds like a TV show closing, but well… yeah)

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?