Tag: homeschool bandung

Psychology of Clickbait

Psychology of Clickbait

Sejujurnya, mengenai media di Indonesia, jauh lebih memalukan ketika kita melihat video rekomendasi dari YouTube Indonesia tanpa login, kebanding dengan melihat Clickbait dari berita.

Mengenai konten YouTube, sesudah cukup lama mengobrol dan juga iseng-iseng mengintip beberapa laman pada kemarin sore, harus diakui, saluran-saluran YouTube lokal, terutama saluran YouTuber Indonesia, terbilang, haduuuuh! Parah banget deh, beneran.

Bahasa bukan masalah yang terlalu besar (kecuali tentunya, jika ada kata-kata kasar) bagiku, menurutku justru, masalah utama mereka ada di konten, dan juga dari cara mereka memberikan judul.

Channel Indonesia seperti, umm, kalau gak salah ada yang namanya Calon Sarjana, dan juga tentunya beberapa channel YouTube lain, tanpa bias pada konten (lebih ke cara penyampaian konten) cenderung memiliki clickbait yang amat lebih parah dibandingkan dengan clickbait dari media berita.

Clickbait / Hoax? Clickbait+Hoax?

Clickbait Vs Hoax. Masalah terbesar diantara kedua hal tersebut adalah, dua-duanya cukup membingungkan dan juga memberikan gambaran salah dari pesan utama berita, informasi, tersebut.

Begini, dalam sebuah berita, informasi terbesar tentunya berada di alasan kita memutuskan untuk membaca berita tersebut. Jika sensasi penasaran tersebut timbul pada judul dalam bentuk ledakan, yang kita akan harapkan dari suatu berita atau informasi tersebut sebagai negatif.

Maka sejujurnya, clickbait tersebut sudah bisa menggeser inti utama dari pesan yang ingin dikirimkan. Meskipun konten bagus, sebuah clickbait bisa meninggikan ekspektasi kita, dan konten yang tadinya halus dan benar tersebut, akan cenderung diprospek sebagai konten yang buruk.

Mula-mula aku berpikir bahwa acara Trans TV (atau Trans7) On The Spot adalah satu dari sekian banyaknya siaran TV lokal yang biasanya jelek, sebagai siaran yang cenderung bagus. Memang betul, On The Spot mungkin cukup memberikan general knowledge yang tentunya menarik juga. Sayangnya, satu hal buruk yang On The Spot lakukan adalah dengan memberikan gaya penulisan clickbait pada tiap judulnya.

Contoh: 7 Tempat Di Dunia Dimana Kamu Takkan Mungkin Tenggelam

Acara TV itulah yang menjadi awal dari konten YouTube Indonesia dengan judul full capslock, dan biasanya penuh dengan clickbait, lebih penuh lagi malah daripada media.

YouTube yang biasanya mendapati kontennya diisi oleh sesama pengguna, akan menghasilkan jauh lebih banyak clickbait dibandingkan dengan reporter yang tentunya mengisi media dimana dia bekerja dengan setidaknya, hasil konten seorang professional. (meski iya, terkadang kontennya sama-sama sampah, setidaknya jika kita ingin mencerna, konten dari reporter tidak sesampah konten dari pengguna) Pada ujungnya, seorang reporter atau penulis artikel professional lebih intelijen dari orang-orang yang diberikan hasil karya tulisnya, dan jika mereka membuat hoax atau clickbait, akan jauh lebih parah, dan jauh lebih misleading.

Nah, bagi seseorang yang cukup cermat, menghindari clickbait tentunya mudah. Tetapi, jika kamu sudah termakan pada clickbait itu, biasanya kamu akan berujung ke salah satu dari 3 reaksi ini.

  • Clickbait mengecewakan, tidak ada bedanya (pada konten) jika artikel tersebut menggunakan clickbait kebanding dengan artikel yang tidak menggunakan clickbait.
  • Clickbait ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan konten.
  • Clickbait cukup menarik, dan ternyata, konten cukup sesuai dengan clickbait, dan sukses memenuhi sensasi.

Sesudah membaca beberapa riset psikologi oleh Professor Ekonomi (jadi begini, seorang ahli pemasar yang bagus dan ahli ekonomi yang bagus akan menemukan pola psikologi, dan juga sebaliknya, seorang psikologis yang bagus akan menggunakan ilmu psikologi untuk pemasaran serta ekonomi) George Loewenstein…

Kita cenderung memberikan ekspektasi jauh lebih banyak jika kita mendapatkan sensasi yang berupa ledakan di awal-awal. Jika rasa penasaran kita meledak pada awal sebuah artikel, kita akan meninggikan ekspektasi milik kita. Itulah alasan mengapa artikel non clickbait tidak akan mengecewakan, meski kontennya buruk, dan itu juga alasan mengapa (layaknya sebuah artikel) tiap merek, terutama yang sudah ternama, (E.G. Aqua) memiliki suatu judul, atau suatu tagline dan catchphrase.

Tagline tersebut berfungsi agar orang meninggikan ekspektasi saat meminum produk, atau ingin membeli produk tersebut. Jika produk sudah ternama, ekspektasi tersebut menambahkan sensasi ekstra, dan sensasi tersebut lah yang bisa membuat kita berpikir tidak jernih, dan membiarkan pikiran kita mempengaruhi indra kita. (Misalnya karena tagline, kita berpikir Aqua lebih enak dibandingkan merek lain)

Jadi, apa yang dilakukan oleh para media yang ingin menggait pembaca yang doyan dan mudah ditipu dengan clickbait? Diciptakanlah hoax yang banyak, agar reaksi yang didapatkan adalah reaksi yang positif atas clickbait, alih-alih reaksi negatif.

Seperti sering disebut, media pada umumnya adalah sebuah perusahaan yang bergerak demi keuntungan dan laba, (bukan laba-laba πŸ˜€ ) jika media memberikan apa yang orang-orang inginkan, ia akan mendapatkan pembaca, dan pembaca menghasilkan uang. Jika orang-orang menginginkan konten berkualitas, maka media akan menciptakan konten edukatif dan berkualitas.

Sayangnya, orang-orang Indonesia menginginkan sensasi, serta konten yang tak tentu kebenarannya. Untuk memperparah, orang Indonesia yang biasanya lebih mudah ditipu dan diberikan informasi salah, akan juga senang jika diberikan informasi yang salah, tetapi menggemparkan tersebut.

Hoax ditambahkan pada media agar orang-orang tidak kecewa pada clickbait. Orang-orang juga hanya menginginkan, dan akan lebih senang dengan clickbait.

Keduanya saling melengkapi dengan kuat.

Siklus Media Indonesia

Kita terjebak dalam sebuah siklus tanpa henti mengenai media dan konten yang sampah.

  • Media memberikan apa yang diinginkan pembaca
  • Pembaca menginginkan konten yang bombastis
  • Media memberikan konten bombastis jika ada
  • Pembaca puas, menunggu konten bombastis berikutnya
  • Jika tidak ada konten bombastis, media terpaksa menciptakan konten bombastis agar pembaca tetap datang.
  • Pembaca yang kurang intelijen mengira bahwa konten bombastis yang difabrikasi tadi sebagai sesuatu yang nyata dan tetap menginginkannya.
  • Media memberikan apa yang diinginkan pembaca
  • Terus menerus berputar siklus ini.

Makanya, akan amat diapresiasi jika ada sebuah portal media yang anti hoax, dan anti clickbait, itu akan membantu memperlambat siklus tanpa henti ini.

Tidak seperti rantai makanan yang sangat mudah didisrupsi, mendisrupsi siklus ini jauh lebih sulit tanpa edukasi pada konsumer media yang tanpa henti ini. Kita tidak perlu memiliki pasukan yang bisa mengajarkan orang-orang cara untuk lebih cermat dengan menganalisa hoax. Sebenarnya, bukan (hanya) hoax musuh utama kita…

Kalau berdasarkan analisa, akan lebih mudah jika media yang memiliki clickbait dipotong secara seutuhnya. Siklus tanpa henti ini takkan ada jika kita sebagai konsumer media meminta sesuatu yang bombastis. Penamaan sebuah menu tidak perlu terlalu menarik, asalkan kita tahu bahwa rasanya enak. Sayangnya, bagi orang Indonesia, nama menu tersebut jauh lebih penting dibandingkan dengan rasa makanan tersebut.

Jika clickbait dihilangkan, orang-orang takkan secara tidak sadar meninggikan ekspektasi pada awal artikel, dan media juga tidak akan perlu untuk memenuhi keinginan ekspektasi yang tinggi tersebut.

Siklus tanpa henti ini adalah langkah pertama untuk menciptakan warga Indonesia yang lebih kritis.

Kurangnya Kecermatan

Kesalahan dan blunder warga Indonesia dapat dengan mudah ditemukan dari banyaknya media yang menunjukkan arah agar orang-orang membenci atau tidak menyukai satu hal… Sayangnya, ada hal kontradiktif yang warga Indonesia dukung.

Jika ini membingungkan…

Aku sering menyebut dimana zaman sekarang (ini global issue, bukan hanya lokal, meski iya, di Indonesia cukup parah), banyak sekali orang menyalahpersepsikan Ideologi Politik.

  • Kapitalisme dilihat sebagai kekejaman demi keuntungan, padahal intinya berada di Kapitalisme yang mendukung pertumbuhan alih-alih menahan keseimbangan.
  • Nasionalisme sering dilihat sebagai Fasisme (the Politic F Word, Fascist), padahal nyatanya nasionalisme dan fasisme itu hal yang sama-sama mendukung cinta pada negara, serta cinta pada pemimpin, hanya saja, ada perbedaan dosis yang cukup banyak.
  • Komunisme (di Indonesia) dilihat sebagai ideologi tanpa agama, nyatanya komunisme bertujuan untuk menyamaratakan kodrat sosial masyarakat, dan mendukung keseimbangan ekonomi yang stabil.
  • Sosialisme di Indonesia cukup dicintai, padahal, sosialisme, (layaknya nasionalisme dan fasisme) dan komunisme adalah hal yang sangat mirip, hanya dengan dosis berbeda.
  • Orang Indonesia (setidaknya berdasarkan pengamatanku) tidak mengerti Imperialisme… Padahal jika mereka mengerti, imperialisme akan dilihat sebagai sesuatu yang lebih parah dari komunisme, dan sama juga, tidak punya agama.

Sosialisme vs Komunisme disini cukup ironis.

Seorang teman/tutorku bilang kemarin bahwa orang Indonesia benci komunisme, padahal mereka amat sangat mencintai produk sosialis, seperti BBM dengan subsidi, kesehatan yang ditanggung pemerintah, dan seterusnya.

Lucu sekali sebenarnya…

Kesalahpahaman sederhana ini terjadi karena kita kurang mau menganalisa, dan media (terutama di YouTube) tidak membantu dengan memberikan kita suatu konten yang tidak terlalu perlu di analisa, dan tinggal ditelan mentah-mentah.

The Media Mistake

Media, tentunya aku maksudkan bukan hanya yang di bawah naungan suatu perusahaan… Seperti pada Instagram, atau media seperti dikakipelangi.com ini membuat satu kesalahan fatal jika ingin memajukan ilmu warga Indonesia, serta konsumer media.

Banyak orang tidak diberikan ilmu dan tidak diberikan izin untuk menganalisa.

Mereka hanya diberikan suatu hasil kesimpulan seseorang, dan (secara terpaksa) disuruh menelan hasil analisa orang tersebut, karena kurangnya individualitas.

Sebagai contoh, aku sangat menginginkan untuk mengetahui apa itu Syiah, dan mengapa banyak orang tidak suka pada Syiah, dan apa juga bedanya dengan Sya’i.

Sesudah berusaha mencari di Google, aku diberikan 6-7 post dari blog yang mengulangi hadist yang berbeda, tetapi dengan makna yang sama.

Semua post tersebut pokoknya menyatakan bahwa… “Jangan ada syiah, syiah itu buruk, hindari syiah, dan bla bla bla bla bla” Tidak ada satupun artikel ataupun tulisan yang menjelaskan syiah itu apa, dan mengapa syiah sebaiknya dihindari.

Kita hanya diberikan masakan (masakan disini kumaksudkan sebagai analisa) dan tidak diberikan kesempatan untuk memasak bahan-bahan kita sendiri, menciptakan masakan kita sendiri.

Untungnya, aku dijelaskan perbedaan Sya’i dan Syiah oleh Babah, dan cukup beruntung juga, hehehe, ternyata Sya’i dan Syiah tidak begitu berbeda, setidaknya menurut analisaku, itu semacam sebuah perang saudara karena perbedaan filosofi.

Kenapa kita tidak diberikan kesempatan untuk menganalisa sendiri?

Semua blog, terutama yang di halaman pertama hanya memaksa kita untuk membenci syiah, dan kita tidak diberikan sedikit pun informasi yang bisa kita analisa sendiri.

Sungguh mengkhawatirkan sekali media Indonesia ini.

Kesimpulan

Seriusan, sebenarnya aku sudah menyimpulkan tiap bagian dari artikel ini beberapa kali.

Tetapi, kesimpulan utamanya ada di perubahan. Kita tidak bisa memulai perubahan sendiri, tetapi kita bisa berusaha untuk berubah sendiri, dan merubah orang-orang disekitar kita, agar pasukan pendukung perubahan ini akan terus bertambah.

Sampai lain waktu!

Epic Face Palm #1

Epic Face Palm #1

Ini adalah serial kilat, hanya digunakan untuk menyindir beberapa banyak hal yang aku temukan dalam satu bulan kemarin.

Semuanya adalah momen yang sangat cocok untuk diberikan gif ini…

Ya, aku mulai sangat suka dengan meme ini, jadi aku kepikiran untuk bikin serial mengenai ini. Selamat membaca dan ketawa miris!

Nonton Film Yuk!

Bukan aku yang menemukan. Aku kekeuh gak mau main sosial media.

Mari kita bahas setiap komentar secara merinci, dan kita bahas seberapa face palm worthy ini…

Entar petugas kebersihannya tugasnya apa dong? Bingung saya
Terus tugas petugas kebersihannya ngapain?

Nah, Teteh/akang, kira-kira petugas kebersihan tugasnya apa sih? Coba tuh, biasanya megang HP sehari 5-6 jam ada? Coba googling deh tugasnya petugas kebersihan. Buka halaman pertama, kedua ketiga, tiga-tiganya adalah petugas kebersihan puskesmas…

Jadi, sebenernya… apa kira-kira tugas utama petugas kebersihan? Tugas mereka pada dasarnya bersih-bersih (*Captain Obvious kambuh lagi*). Secara teknis, kedua orang ini tidak salah. Memang betul tugas mereka bersih-bersih… Tetapi, apakah sulit untuk mau gotong royong sedikit?

Begini, kira-kira dengan kondisi bioskop penuh (dan iya, ini bioskop besar, seperti misalnya Dolby Audio Studio 1 di Trans Studio Mall) dan semua orang memesan pop corn misalnya… Sekitar 3-4 petugas kebersihan perlu menghabiskan waktu sekitar… 2-4 detik setidaknya per sampah sisa popcorn. Mulai dari mengambil sampah, dan juga memasukkannya dalam trashbag.

Memang betul tidak semua orang memesan pop corn, ada yang sekeluarga cukup satu Pop Corn, dan juga ada yang seorang satu. Beda-beda… Tetapi dengan asumsi bahwa di dalam satu teater XXI besar, dengan jumlah rata-rata 300-350 kursi, berarti dibutuhkan waktu sekitar… misalnya ada 200 porsi popcorn yang dipesan, berarti 200 kali 3 (median 2 dan 4), 600 detik, hanya untuk sampah pop corn, dibutuhkan 10 menit. Jika teater penuh, ada banyak sampah, termasuk yang tidak di cup holder, tetapi juga yang di lantai, mungkin bisa mencapai 20 menit…

Tetapi dalam 20 menit itu… umm… kurasa, jeda antar film dalam satu teater sekitar 30 menit. Kurasa masih sesuai dengan waktu ya?

Eh, lupa! Ada yang namanya secret ending dan iklan kan? Belum harus nyapu… hahaha!

Iklan misalnya 10 menit, jadi jika jadwal masuk dalam teater adalah 18.35, berarti film dimulai 18.45. Berarti, petugas kebersihan hanya punya waktu 20 menit, tepat dengan estimasi untuk bersih-bersih. Memang sih, teater tidak selalu penuh. Jika iya bagaimana dong?

Tetapi aku ingat, saat aku menonton Thor: Ragnarok, jeda masuk ke teater telat sekitar 10 menit dari jadwal. Aku yakin pada saat itu, teater penuh, dan tidak ada orang yang mau membantu petugas kebersihan. Coba bayangkan jika orang-orang yang egois dan tidak mau membantu memungut sampahnya sendiri itu berada dalam posisi orang yang harus tertunda masuk teaternya. Pasti kesal kan?

Coba deh, bayangkan saja, apa salahnya membantu orang lain, demi kenyamanan dirimu sendiri, serta orang lain… Kurasa memungut sampahmu dan mengumpulkannya serta memasukkannya dalam plastik sampah membutuhkan waktu sekitar 10-20 detik. Jika detik itu diakumulasikan ke semua orang dalam bioskop… maka, akan ada banyak working hour yang didapat hanya dari investasi waktu pribadi.

Jangan terlalu egois, coba pikirkan berapa banyak orang yang kamu ambil haknya, serta berapa banyak kebaikan yang kamu lewati dari tidak memutuskan untuk tidak membuang sampah ke tempatnya. Ini daftarnya…

  • Kamu melewatkan kesempatan membantu petugas kebersihan
  • Kamu melewatkan kesempatan membuat sesama penonton merasa lebih nyaman
  • Kamu mengambil hak orang masuk ke bioskop tepat waktu
  • Kamu mengambil hak bioskop memasang iklan (jika orang-orang masuk telat, film langsung diputar sesudah 1 trailer. Setidaknya pas Thor: Ragnarok begitu)
  • Kamu mengambil hak sesama pengunjung punya teater yang rapih, dan bisa keluar dari kursi mereka dengan nyaman.

Sekarang tahu kenapa dengan meluangkan 30 detik saja pahalanya sangat banyak, serta banyak dosa yang dihindari?

Kan sudah Bayar
Kalo bantu petugas bioskop, digaji gak min? Kebangetan kalau sudah bayar tapi disuruh bantu-bantu

Apakah uang menyelesaikan semua masalah?

Seriusan…

Uang adalah hal yang penting, tanpa materi, kecil kemungkinan seseorang untuk bisa hidup, ataupun untuk bisa mendapat entertainment dan merasa senang. Tetapi, apakah uang itu segalanya?

Gini, aku gak mau preach soal agama… Tapi, apakah kita bisa menjadi seseorang yang baik dalam mata tuhanmu (agama apapun yang kau anut) hanya dengan uang? Apakah kamu bisa menjadi teman yang baik dengan uang? (OH, coba-coba jawab ya… Kalau menurutmu hanya dengan banyak traktir temanmu kamu diangggap teman yang baik, maka kurasa kamu telah dimanfaatkan teman-temanmu) Uang bukan segalanya.

Memang betul kita sudah bayar, tetapi seperti aku sudah sebut di atas, ini bukan masalah apa-apa, ini masalah gotong royong, dan membantu orang…

Coba pikir lagi, apa salahnya meluangkan 10-15 kalori (setara dengan 5 menit tidur), dan juga 20-30 detik waktumu untuk beres-beres sampah, demi menghindari mengambil hak orang, dan membuat orang merasa lebih senang…

Gak usah dibantu, nanti bayar gaji buta dan tambah pemalas

3 hal yang salah dengan kalimat ini…

  1. Bayar gaji buta? Umm… Mereka tetap harus sapu-sapu oke, mereka tetap harus buang sampahnya dan membawa trash bag yang sedikit berat. Mereka tetap kerja, dan ini bukan gaji buta.
  2. Tambah pemalas? Kamu yang malas… Buang 30 detik hidupmu buat bantu orang aja gak bisa. Sedangkan jika aku hitung gaya penulisan kalimatnya, setidaknya butuh 45-60 detik untuk membaca post, berpikir akan komentar ini, dan mengetik komentarnya…
  3. Kamu yakin orang-orang malah makin malas dengan dibantu orang lain? YAKIN? Justru gak… Mereka bersyukur ada yang bisa membantu mereka, dan mereka senang… Seriusan, kurasa kamu gak pikirin dulu deh kamu mau ngetik apa pas bilang ini…

Ini baru satu dari 3 hal yang bikin epic facepalm… HA! HA! HA!

Minum Kopi Yuk!

Aku speechless, dan di akun twitter itu sangat-sangat-sangat banyak hal yang membuat epic facepalm disitu. (Juga dishare Babah, silahkan klik namanya di atas)

Kayanya sih Om Indra itu Barista di Starbucks, dan dari tiap hari kerjanya ia menemukan banyak hal yang menyebalkan dan curhat di akun Twitter miliknya. Kurasa ini pantas diberikan hore ke Sosial Media for once…

Kenapa hore? Jaman dulu orang curhat gini paling ke Pacar/Sahabat/Istri/Suami/Diary…

Jadi sepertinya, salah satu budaya negatif kita selain datang terlambat (WAH! Ini mah udah dari kapan tahu!) adalah kita tidak tahu diri ketika sudah mengeluarkan uang.

Aku akan bahas secara sedikit singkat mengenai semua tweet itu, dari atas ke bawah.

  • Waw… Kayanya orang itu adalah model orang yang, kalau gak dia kadang buang sampah sembarangan, dia gak bisa lihat tuh tempat sampah ada dimana, jadi mumpung ada yang nyapu nih, buang ah…
  • Dasar gak modal… Tanggal tua kayanya tuh, atau gak… emang kopet dan gak tahu diri aja. Aku ingat pernah menemukan serangga di makananku sesudah setengah habis, dan aku bilang ke seorang waiter, katanya diganti, dan aku menolak, aku bilang aku hanya laporan saja. Dan ingat, aku menemukan serangga, memang sesuatu yang salah dari SoP… kalau urusan rasa sih, udah kamu minum, berarti gak ada yang salah mestinya!
  • Guy or girl has anger issues… Enough said
  • 3 tweet ini sama saja ya… satu part. Sekali lagi, orangnya cukup gak sopan buat bilang kata tolol ke seorang pegawai. Berikutnya, dia gak tahu peraturan makan, tapi ya, itu sedikit sering di Indonesia… Lagian juga, ngilangnya 30 menit… itu lama juga lho, wajar barista-nya beresin.
  • Atas nama siapa? Mmmrsch… Maaf mas, atas nama siapa? Ngomong tuh yang jelas kek… Kayanya lagi mainan HP tuh… Memang ya, HP itu udah kaya kacamata. Dibawa kemana-mana, dipakai kapanpun.
  • Ini sedih banget deh… Masa coba ada orang yang rela untuk ngebiarin ibunya dikawal orang lain ketika ia sendiri bisa ngawal… Aduh. Ibunya juga baik banget, terlalu baik malah sama anaknya. Hiks… :'(
  • Kembali ke masalah uang… Kan gak muat lagian… Aduhhhh
  • Astaga naga… Kampungan banget tuh orang, gak tahu yang namanya self service, lagian ini kalau memang starbucks bukannya internationally (or heck, globally) seperti itu? Yah, aku mah kasian sih kalau dia nganggap self service itu aneh, jangan-jangan emang betul orangnya kampungan…

Jadi ya, umm, dasar manusia… Tapi, sekarang, mari kita bahas Kulari ke Pantai.

Yuk Lari ke Pantai!

Jadi, ini baru kemarin, dan ini adalah dua hal bagiku. Pertama-tama, ini epitome of irony dari film Kulari ke Pantai sendiri… Epitome berarti contoh yang JLEB! pas banget. Kedua ini berarti bahwa kayanya banyak banget orang nonton film latah doang, dia nonton film demi nonton film, atau mungkin demi sosmed. Umm, itu juga simbol ironi yang dibahas di Kulari ke Pantai… Tetapi, itu untuk besok saja yah…

Jadi, Kulari ke Pantai punya banyak pesan sponsor… Kalau memerhatikan, ada pesan sponsor untuk…

  • Indomilk
  • Gojek
  • Tolak Angin
  • Bank Mandiri
  • DLL

Tetapi, sebenarnya, yang kumaksud bukan pesan sponsor seperti itu, melainkan pesan sponsor yang berarti message penting, bahkan juga salah satu sindiran di film tersebut…

  • Banyak orang melakukan hal demi posting ke sosmed
  • Kita terlalu fokus dengan HP kita masing-masing
  • Foto itu sekarang foto orangnya, bukan foto orang+pemandangan (gak sepenuhnya betul, tapi… betul)
  • Mimikri sudah mengambil alih budaya kita… (kekeuh Postkolonialisme πŸ˜› ) kita lebih sering menggunakan bahasa Inggris sekarang. Aduh!
  • Dan masih banyak lagi family values dan saran parenting di film tersebut. Banyak sekali contoh yang jangan dicontoh, tetapi juga banyak hal yang patut dicontoh…

Nah, jadi begini. Film dimulai dengan sekitar beberapa orang (ini dalam teater ya, bukan film) buru-buru membalas WhatsApp, kasih komen, atau… entahlah, aku tidak cukup cepat untuk menangkap 30 screen sekaligus. Sesudah 30 detik pertama sejak lampu mati, baru screen HP mati satu per satu.

Kukira orang-orang disini punya something important to do, dan mau bereskan urusan di HP, ya sudahlah, itu kuterima…

Eh, gak dong! GAK DONG!

Sekitar 45 menit menuju film, tepat pada adegan dimana salah satu tokoh utama yang fokus dengan gadget diambil gadget-nya oleh Tante-nya… Ada ibu-ibu mainan HP. Mata yang lain masih terpaku dengan screen, kurasa ini hal yang bagus, mungkin dari 50-an orang yang menonton, ada satu doang yang nonton for the sake of nonton.

Sekali lagi, aku salah.

Seiring dengan film maju, aku sukses menghitung 13 orang berbeda dari rombongan berbeda yang bergiliran (atau kadang bersamaan) memegang handphone, sekedar balas WhatsApp, scrolling IG, atau entahlah… Aku gak peduli. Eh, aku peduli, cuman aku gak peduli untuk tahu apa yang mereka lakukan…

Jadi, sesudah banyak sekali pesan sisipan bahwa orang-orang terlalu fokus dengan HP-nya di abad ke 21 ini, tetap saja ada orang yang kekeuh memegang HP dalam film yang literally berusaha membuat orang untuk melakukan sebaliknya.

Kesimpulan

WOW! 2019 mau ganti presiden? Aku takkan melarang opini politikmu, ataupun menyebut opini politikku sendiri, tetapi tolong… 2018gantiperilaku.

Yuk, share hashtag itu di sosmed, dan untuk sekarang gunakan sosmed untuk hal yang bermanfaat. #2018gantiperilaku tiap kali kamu menemukan sesuatu yang menyebalkan. Mungkin jika feed, timeline, or whatever your social media calls it is filled with that hashtag… Mungkin kamu akan berubah.

Aku tidak bermaksud menghina budaya kita, atau bahkan orang kita. Tetapi sejujurnya, memang banyak hal yang orang-orang kita lakukan yang… kebangetan, dan gak sopan. Aku dan beberapa temanku pernah membahas, mau pemimpin kita sekarismatik Hitler (karismanya doang yang diambil, kekejamannya gak), sepintar Einstein (sekali lagi, hanya kepintarannya, dia sedikit… gila soalnya), dan juga memiliki semangat Soekarno… Jika orang-orang dan rakyatnya tidak mau berubah, maka tidak akan ada pengaruh mau pemimpin kita seperti apa.

Jadi, sebelum 2019 mau ganti presiden, ganti mobil, atau ganti istri, terserah lah… Coba dulu, sebelum 2019, jadilah pribadi yang lebih baik… #2018gantiperilaku

Sebaiknya orang-orang adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sampai lain waktu! Aku masih hutang review film Kulari ke Pantai, dan juga beberapa hal lain. Semoga tetap mau mendengar opiniku, dan kumohon maaf jika menyinggung orang di artikel ini. Namaste!

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Nanoteens 2019: Day 1 Report

Tanggal 4-6 Juli kemarin, Pusat Penelitian Nanosains Nasional (PPNN) mengadakan acara lagi, yang berupa variasi, ke acara Nanoscience for Kids 2 tahun yang lalu… Aku sudah pernah mengikuti acara Nanoscience for Kids, dan, dikarenakan “kangen” dengan jalan-jalan dan praktikum di lab, aku memutuskan untuk ikut lagi!

Kali ini, acaranya disebut Nanoteens dikarenakan temanya lebih cocok untuk remaja. Tema ini juga disertai slogan, “Tampil menarik dengan Nanoteknologi”. Temanya kurang lebih kosmetik dan produk-produk yang menggunakan Nanosains. Betul saja, dikarenakan tema kosmetik ini, rasio perempuan banding laki-laki mencapai 2 : 1. Dari 18 perserta, ada 12 perempuan, dan 6 laki-laki.

Jadi, langsung saja kita mulai laporannya! Formatnya akan dibuat sedikit berdasarkan waktu…

Registrasi (8.30-9.00)

Suasana ruangan di kala masih sepi…

Ini mungkin salah satu bagian dimana aku paling sebal sepanjang ketiga hari dalam rangkaian acara Nanosains ini. Kenapa aku sebal dengan registrasi?

Bukan registrasinya, tetapi apa yang terjadi dalam 30 menit diantara pembukaan dan registrasi.

Sebenarnya proses registrasi berjalan lancar, tidak ada apa-apa yang salah, aku juga senang dengan bertemu teteh-teteh dan kakak-kakak yang masih ingat aku dari 2 tahun yang lalu. Tas, notebook, dan polo shirt kuambil juga sesudah memberikan tandatangan dan registrasi ulang.

Tetapi, aku mulai sebal begitu masuk dalam ruangan. Semua orang memegang handphone.

Ya, semua orang, baik SMP, atau SMA, sedang memegang HP mereka masing-masing. Jujur, aku sudah move on dari orang-orang yang memutuskan duduk di belakang atau ketiga dari depan sebuah ruangan karena takut ditegur, atau ditanya-tanya. Ya sudah, itu hak mereka. Tetapi, sayangnya, aku belum (UHUK, tidak akan pernah, UHUK) bisa berdamai jika melihat sekitar 13 pasang mata terkunci dalam layarnya masing-masing.

Dan ya, dikarnekan kepo, aku memutuskan untuk berjalan dua kali mengitari ruangan dan mengecek apa yang sedang mereka lakukan. Kurang lebih ini yang aku dapatkan.

  • Baca artikel tentang hukum-hukum aerodinamika. (Good Job!)
  • Menggunakan kamera selfie HP sebagai cermin… :'(
  • Scrolling Instagram, entah follow akun apa saja… πŸ™„
  • Story diri sendiri… *facepalm*

Ya, sudahlah, setidaknya aku berpikir bahwa mereka mungkin masih belum cukup akrab untuk mau berkenalan. Who can blame them? (Uhuk, tiap coffee break dan lunch break juga mereka tetap pegang HP sih, kecuali beberapa orang yang mengajakku ngobrol mau gimana lagi kayanya…)

Tetapi, akhirnya ada pembukaan dari Professor Adhitya Gandaryus Saputro. Mirip-mirip dengan pembukaan tahun lalu, membahas nanosains, dan jika aku ingin meringkas pembukaannya…

“Nanosains adalah sains yang bergerak dalam benda-benda berukuran sangat kecil. Perubahan yang terjadi pada dunia Nano biasanya tidak tampak, dan memberikan kesan insignifikan… Ya iya, orang gak kelihatan. Tetapi jika dimanfaatkan dengan benar, perubahan dalam skala nano akan berpengaruh dalam kehidupan kita sendiri-sendiri. Seperti misalnya Hydrophobia, Hydrophilia. Itu alasan menurutku Nanosains adalah ilmu yang sangat penting untuk dipelajari, meskipun kecil sekali perubahannya, hasilnya signifikan”

Sesudah memberikan penjelasan sedikit tentang Nanosains, Professor Adhitya memberikan sedikit preview ke apa saja yang akan kita lakukan. Seperti misalnya, hands on membuat sesuatu, lab tour, dan juga demonstrasi.

Kuliah Pengenalan (9.00-10.30)
Prof. Bambang Sunendar

Sesi pertama… Berdasarkan opini yang aku dapatkan dari teman-temanku, ini sesi paling membosankan menurut mereka. (oke, iya, aku juga menganggap ini lebih membosankan dari 2 tahun yang lalu.)

Professor Bambang Sunendar memberikan penjelasan mengenai Nanosains, baik definisinya, penerapannya, sejarah mendetilnya, bagaimana bisa dimanfaatkan di benda sehari-hari… Et cetera.

Professor Bambang, sama seperti tahun lalu berangkat dari pemahaman bahwa, uniknya, semakin kecil teknologi, semakin efisien dan signifikan pengaruhnya. Selain itu, Professor Bambang juga memberikan penjelasan mengenai Nanobiologi, cara memanipulasinya, Nanobots, bagaimana ia bisa membangun diri sendirinya dengan mudah, serta juga sedikit insight mengenai seberapa signifikan pengaruh nanosains dalam dunia nyata.

Tetapi, aku ingin sedikit mengkritisi analogi yang digunakan Professor Bambang menjelaskan dan menggunakan analogi untuk signifikannya ukuran Nano dalam kehidupan sehari-hari. Professor Bambang menyebutkan sebuah zat yang katanya merupakan bensin bekerjanya seorang manusia. Ia menanyakan ke semua peserta bahwa zat inilah yang membuat kita berjalan, hidup dan pintar, dan ini alasan orangtua kita memaksa kita makan makanan yang sehat.

Banyak kata-kata yang tidak bisa didengar dari ruangan, hanya berupa bisikan. Ada yang bilang “Zat Besi”, “Oksigen”, “Vitamin” dan seterusnya. (Aku memutuskan untuk diam, padahal aku yakin yang Professor maksud adalah Protein) Terus, sekitar 3 menit pengulangan fakta, Professor Bambang menyebutkan kalimat seperti ini. “Kalau kalian kekurangan zat ini, bisa bisa kalian autis, atau gak bodoh. Makanya zat ini penting sekali. Masa kalian gak tahu sih?” Sejujurnya, kurasa ini sedikit menyinggung dan kurang professional. Mohon maaf jika opiniku juga menyinggung.

Kuliah ini dilanjutkan dengan Professor Bambang menjelaskan fenomena penting yang melibatkan Nanosains, baik itu natural, tidak sengaja, atau memang sengaja diciptakan manusia.

Statement ini ditambahkan dengan Professor Bambang bilang bahwa “Untuk belajar Nanosains, tidak akan bisa hanya belajar fisika, kimia, atau biologi, harus belajar ketiganya. Tetapi, jika ingin lebih spesifik, baru bisa belajar sesuatu seperti misalnya, Nanobiologi, Nanokimia, dan lain-lain.”

Dari sini, muncul bagian paling menarik di kuliah Professor Bambang…

Sedang ada riset untuk menggunakan ulang sampah kepiting, jagung, dan pisang untuk bahan-bahan lain. Seperti misalnya, bahan bakar, sel pengganti, dan lain-lain! Ini sangat menarik untukku, karena aku doyan makan kepiting, dan ternyata ada 800 ribu ton sampah kepiting tiap tahunnya.

Sayangnya waktu sedikit habis, jadi professor Bambang sedikit flash forward. Dan langsung menyimpulkan.

Sejujurnya, aku tidak menangkap 100% kuliah 90 menit dari Professor Bambang ini. (Psikologi menyatakan bahwa kita ujung-ujungnya akan mengingat hanya 25% dari seluruh informasi yang otak kita terima) Tetapi amat disayangkan bahwa Professor Bambang memberikan sedikit kesan negatif pada tengah kuliah.

Secara keseluruhan, jika aku ingin membandingkan kuliah Professor Bambang di Nanoscience dan Nanoteens, kurasa Nanoscience for Kids lebih sukses dalam membuat kuliah pengenalan yang lebih mudah dimengerti, dan lebih terstruktur. Sayangnya, Nanoteens yang memang lebih condong ke aplikasi dan penerapan, tidak bisa keep up dengan pengenalan ke Nanosains yang lebih detil dan lebih luas jangkauannya, seperti di Nanoscience for Kids.

Aku sendiri sedikit bingung jika ingin memberikan sebuah kuliah mengenai sains yang kompleks ini ke anak SMA. Bukan hanya itu, hanya ada waktu 90 menit, dan kemungkinan membuat mereka merasa bosan sangat tinggi. Sekarang tantangannya bertambah, harus lebih spesifik ke penerapan, dan bukan hanya teori.

Kurasa penggunaan video juga menarik dan cocok untuk ini, sayangnya dalam kuliah pengenalan kali ini, tidak ada video yang ditunjukkan.

Nanokosmetik 10.45-12.00
Teteh Atsarina Larasati Anindya

Teh Laras memberikan materi berikutnya sebelum kita makan siang. Kali ini, temanya bukan penerapan nanosains secara luas, melainkan penerapan nanosains spesifik ke bidang kosmetik, dan hanya bidang kosmetik saja.

Pertama-tama, Nanokosmetik adalah kosmetik yang menggunakan teknologi Nano…

Oke, oke… Pernah melihat iklan produk make-up menggunakan emas, atau pasta gigi yang menggunakan arang? Atau mungkin yoghurt Sour (nama cewe) yang menggunakan Charcoal?

Jadi begini, pada dasarnya, semua produk diatas menggunakan nanoteknologi.

Semua nanoteknologi dalam kosmetik, menggunakan carrier untuk membawa alat yang bisa membawa benefitnya secara aman. Pada dasarnya, banyak zat yang sering digunakan dalam Nanokosmetik, seperti…

  • Emas. Emas bisa berubah warna, sesuai dengan nama Latin Emas yaitu Aurum, yang berarti Rainbow Metal. Dengan alterasi kimia yang tepat dan carrier yang pelan dalam memberikan paketnya, Emas bisa merubah warnanya, serta memberikan “glimmer” yang bagus. Sebuah cat rambut Nano dari Jepang dapat berubah warna tiap harinya, jika kita menyemprotnya dengan zat yang sudah disediakan sepaket dengan membelinya. Dan sekarang aku ingat kenapa orang Jepang suka membuat banyak fashion statement.
  • Perak. Seperti di mitologi Eropa, Perak dinyatakan bisa membunuh bakteri yang buruk. (iya, di mitologi dipakai untuk membunuh Lycanthrope, atau Werewolf) Biasanya perak ditemukan di pasta gigi, yang katanya lebih efektif dalam membersihkan suatu zat.
  • Silica. Silica adalah bahan pembuat kaca. Biasanya, Silica digunakan untuk bedak agar memberikan efek berkilau dan mengilap. Silica juga adalah bahan paling sering dibawa dalam nanokosmetik.

Masih banyak lagi, tetapi aku akan membahas sesuatu yang lebih penting lagi (dalam kacamataku). Carrier Nano. Ada banyak jenis Nanocarrier, banyak fungsi, dan banyak bentuk. Aku paling mengingat Carbon Nanotube, dan juga liposome, tetapi juga ada banyak lagi.

Pada dasarnya, Nanocarrier ini adalah Mang Gofood yang mengantarkan Makanan (seperti Emas, Perak, dan Silica di atas). Nanocarrier ini memastikan paket yang berupa unsur, atau zat yang penting bisa sampai tepat tujuan, serta juga memastikan bahwa paket itu tidak tercecer dengan berantakan, dan semua bagian yang membutuhkan si paket mendapatkannya.

Nanocarrier membuat objek beberapa kali lipat lebih efisien.

Eh, tetapi ingat ya, semakin mahal zat dan efisiensinya, harganya juga makin… wah… :O

Sebuah tube kecil nanokosmetik sejumlah 30ml berharga 450 dollar karena menggunakan emas dan platina. Harga per mililiternya seharga, 15 dollar… o_O

Teh Laras juga membahas beberapa banyak hal mengenai teknisnya menguji Nanokosmetik, serta Health Risk dari beberapa Nanokosmetik, dan cara kita mencermati nanokosmetik yang riskan dan lebih banyak menghasilkan pengaruh negatif dibanding positif.

Presentasi diakhiri dengan sebuah foto Syahrini (yang katanya dipilih karena dia menggunakan banyak sekali nanokosmetik) dan reminder untuk pintar memilih kosmetik.

Sesudah itu, kita makan siang dengan (restoran hanya akan disebut inisialnya saja biar tidak iklan) McD, dan aku yang ingin melihat pameran ITB di Aula Timur pergi ke situ, dan juga sholat di masjid salman, karena sudah sekalian ke depan πŸ˜‰ (oke, aku juga sholat disitu buat minum teh, tapi tetep sholat di masjid)

Membuat Sabun (13.00-14.30)
Teh Sri Ayu

Sabun! Kita membuat Sabun!

Fast forward 2 hari. Aku melupakan nama satu bahan yang sangat krusial dan aku dimarahin sama Bubi. Nasib. Untungnya aku menemukan nama bahan tersebut!

Sesudah makan siang, kita diberikan Jas Lab, dan dibagi kelompoknya. Aku sekelompok bersama 4 perempuan, dan kita mendapat asisten, atau lebih tepatnya guide, dari Kak Yusuf Yuda, atau boleh dipanggil Kak Ucup…

Jadi, pada dasarnya, membuat sabun itu sangat mudah! Prosesnya diberi contoh oleh Teh Sri Ayu, dengan beberapa bahan yang sudah ditimbang dan tinggal dicampur. Kita juga diberikan handout untuk teori dibalik si sabun, dan juga cara pembuatan, serta alat dan bahan.

Resep yang diberikan setara dengan 1 kali mencetak sabun, dan karena kita diminta membuat 3 batang sabun, rasio dari resep itu dikali tiga.

Bahan yang digunakan adalah…

  • Virgin Coconut Oil, Palm Oil, Olive Oil
  • NaOH padat (Juga diketahui sebagai, Lye Powder)
  • Vitamin C
  • Kopi bubuk untuk pewangi
  • Aquadest untuk melarutkan

Cara membuatnya pun cukup sederhana…

  • Campur VCO, Palm Oil, dan Olive Oil sesuai resep yang diikuti (perbedaan rasio berarti perbedaan tekstur dan mudahnya larut)
  • Larutkan ke dalam Beaker Glass dan aduk menggunakan stirrer. Panaskan sampai 40-50 derajat celsius.
  • Masukkan Vitamin C 0.1 gram, NaOH sesuai rasio dan resep, dan Kopi bubuk 0.01 gram ke dalam beaker glass. Biarkan teraduk sebentar.
  • Aduk, aduk, dan aduk sampai warna menjadi keputihan.
  • Cetak ke dalam cetakan!
  • Tunggu memadat, sekitar 18-24 jam. Keluarkan dari cetakan sesudah memadat
  • 2 minggu sesudah padat, sabun bisa digunakan.

Jika ada yang menanyakan ke aku, apa bagian paling sulit dalam membuat sabun DIY… Jawabannya adalah menimbang.

Aku sedang memasukkan VCO ke dalam timbangan… dan karena harus presisi, kita meneteskan sedikit, dan sedikit, dan sedikit sampai akhirnya jumlah tercukupi.

Itu tidak rumit, hanya butuh finesse dan ketelitian… Sayangnya aku tidak punya keduanya. Untungnya, tidak ada hal buruk terjadi! (belum)

Sekarang, hanya akan ada foto, karena beneran, membuat sabun itu sangat mudah

Mungkin stirrer tidak terlihat dengan jelas, tetapi, ada sebuah pil yang berputar karena elektromagnetisme di bawahnya. Jadi, sekarang, kita tidak perlu mengaduk manual! Hore!

Mesin dibawahnya disebut, (ya, captain obvious kembali…) Electromagnetic Stirrer.

Sesudah diaduk, tinggal dicetak, dan tinggal ditunggu padat! Hasil jadi akan ada di post yang akan kukeluarkan besok, karena ini baru laporan Day 1.

Masker Kaolin Clay (15.00-16.30)
Teh Sri Ayu

Sekali lagi, sesudah sholat ashar dan juga coffee break (FYI, aku juga comot beberapa hal untuk dibawa dan dikonsumsi di Hotel) praktikum kembali dimulai. Kali ini membuat masker dari Kaolin Clay, yang katanya bisa digunakan untuk mengencangkan kulit dan membuat seseorang awet muda. Aku dan mukaku yang boros ini mungkin malah jadi awet tua kalau pakai ini. Eh curcol detected.

Kaolin Clay juga diketahui dengan nama Aluminum Oksida, atau AlO2, tetapi yang berasal dan terkena hawa dingin dari pegunungan di China.

Dan sekali lagi, proses pembuatan masker ternyata juga cukup sederhana, berikut bahan, disusul dengan cara pembuatan.

  • Kaolin Clay
  • Vitamin C
  • Oatmeal
  • Pewarna Kosmetik

Maskernya berbentuk bubuk, dan cara membuatnya hanya dengan menumbuk dan mencampur.

  • Timbang 0.03 gram Vitamin C, 15 gram Kaolin Clay, dan 5 gram Oatmeal.
  • Masukkan Vitamin C dalam tempat penumbukkan (alu, jika aku tidak salah), berikan pewarna.
  • Masukkan Kaolin Clay, dan Oatmeal.
  • Tumbuk, tumbuk, tumbuk, dan tumbuk sampai menjadi bubuk.

Sudah, ternyata untuk membuat bonding level Nano cukup dengan menumbuk!

Tetapi, disinilah saat kelompokku membuat kesalahan.

Pertama-tama, pewarna hanya diberikan ke Vitamin C sebagai indikator bahwa, jika Kaolin Clay dan Oatmeal sudah menjadi warna biru, (atau setidaknya ada titik-titik biru) maka masker sudah tercampur. Nah, kita memasukkan vitamin C ke tempat Kaolin Clay dan Oatmeal sebelum diwarnai… Jadi, sekarang, maskernya sudah jadi, tapi kita tidak tahu seberapa tertumbuk hasil masker bubuk kita… ^^’

Selain itu, karena kita sudah tanggung mencampur Oatmeal dan Vitamin C, saat kita memasukkan Kaolin Clay, ada sedikit yang tumpah, jadi kita semua harus bersih-bersih, dan memastikan rasionya masih cukup.Untungnya, ini bukan praktikum yang resmi, atau yang dinilai, dan untungnya lagi, kita masih belajar. Jadi, mari kita lihat foto saja ya!

Kalau Bubi yang lihat foto ini mungkin reaksinya, “Azriel mah mana kuat numbuk, gak ada tenaganya.” Untungnya hasilnya tampak cukup tertumbuk kok… Lihat saja.

Hasil sesudah aku menumbuk 3 menit. Masih sedikit bertekstur, tetapi lebih rata.

Ya, setidaknya maskernya sudah bisa dipakai sesudah menumbuk 10-15 menit.

Tanganku sangat lelah beres menumbuk. Bahkan menulis 2250 kata pun tidak selelah menumbuk 15 menit.

Untungnya, aktivitas hari itu beres, dan aku kembali ke hotel!

Malam…

Hotel Neo di Dipatiukur, sesudah pulang malam, beres menonton Ant-man, kamarku.

Roommate ku sedang bermain dengan teman-temannya di kamar lain. Jadi, aku makan malam sesudah Ant-Man sendiri, dan langsung tidur.

Sabuk adalah hiasan, sengaja ditaroh disitu biar orang-orang bisa fokus ke satu objek.

Hari ini sudah beres, sampai besok!

Moral Judgement As A Child Ep. 1

Moral Judgement As A Child Ep. 1

Serial ini adalah sebuah serial yang aku gunakan untuk menulis recap tentang diriku sendiri ketika aku masih anak-anak. Mengingat artikel recap buku tulisan Jean Piaget, aku ingin menuliskan sedikit tentang pengambilan keputusan yang aku buat selama aku masih anak-anak. Apa yang aku lakukan, mengapa, dan apa yang anak lain lakukan kepadaku atas tindakanku.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir dan dilihat ulang beberapa kali dari sudut berbeda, akan sedikit tampak bahwa aku termasuk anak yang berusaha mengambil alih, dan bukan mengikuti arus anak-anak pada umumnya. Tetapi aku sedikit (ehem, yakin sedikit?) banyak gagal, dan aku… ya, baca aja sendiri deh.

Episode ini hanya akan membahas ketika aku masih berumur 7 tahun, karena sisanya aku akan bahas nanti. Sebelum aku mencapai umur 7 tahun, aku masih lupa-lupa ingat tentang apa yang aku lakukan, dan ketika  sudah diingat mungkin bisa jadi episode 2, 3 dst. Untuk umur diatas itu, akan jadi jauh lebih rumit, untuk pilot, mungkin konfliknya bisa dibuat sederhana saja.

Basa basi sudah beres, langsung saja aku cerita.

(FYI aku Homeschool sekarang sebelum ada yang menanyakan aku sekolah dimana)

Disclaimer: Nama-nama disini adalah nama Pseudonym, aku tidak akan, dan tidak akan pernah menggunakan nama asli, kecuali untuk diriku sendiri

Case Review

  • Nama Klien: Azriel Muhammad A.H., ketika umurnya masih 7 tahun
  • Nama Kasus: Bermain Bola di Lapangan Basket
  • Waktu dan Tempat Kejadian: *Nama sekolah ketika klien masih sekolah disensor untuk menginformasikan bahwa ini bukan iklan*, sekitar 8 tahun yang lalu, klien tidak bisa mengingat tanggal yang pasti.
  • Overview (Ikhtisar, [aku tidak suka kata itu, jadi kita gunakan overview saja]):
    • Klien merasa temannya yang sedang menjadi alpha dalam kejadian ini tidak tahu cara bermain bola dengan benar. Temannya berusaha memberikan diktasi atas peraturan, namun klien merasa bahwa diktasi peraturannya sangat-sangat konyol. Klien memutuskan untuk kesal sendiri. Sesudah klien menenangkan diri, baru ia mencari solusi.

 

Ditandatangani, Azriel Muhammad A.H. dari masa kini.

Kejadian…

Day 1

Hari itu, tahun itu, klienku yang sekarang telah tidak pernah menyentuh bola sepak sejak kelas 6 SD, masih menyukai bermain sepak bola. Kurasa inilah dampak seseorang mengenal game komputer, langsung hilang minatnya bermain olahraga. Ia sedang bermain sepakbola bersama temannya, dan klienku sendiri mulai berpikir kritis dan berusaha membanding-bandingkan situasi di lapangan dengan situasi di televisi, ketika ia dan ayahnya menonton bola.

Klienku bercerita, bahwa pada hari itu, ia merasa bahwa temannya sudah kebangetan. Ia mengira bahwa tiap tim boleh melakukan tendangan pojok, atau corner kick, ketika tim musuh mengeluarkan bola ke gawangnya sendiri.

Sayangnya dikarenakan ia dianggap sebagai pemain yang sangat payah, (tentunya, aku sendiri, sebagai psikolog yakin bahwa ia tidak sepayah itu juga) ia dianggap tidak mengerti cara bermain sepak bola sama sekali. Padahal justru, menurut klienku, bukan berarti karena ia tidak bisa bermain sepak bola dengan baik, ini berarti bahwa ia tidak mengerti peraturannya.

Tiap kali sebuah tendangan pojok dilakukan oleh temannya, padahal yang seharusnya dilakukan adalah goal kick (tendangan gawang), ia protes, namun sayangnya, klien saya tidak didengar suaranya.

Ia berusaha memberitahu temannya yang sok tahu akan peraturan bahwa cara bermainnya itu, tidak seperti itu! Namun, sayangnya, semua orang temannya memutuskan untuk pura-pura tidak tahu akan peraturan sederhana itu. Ia diprotes, dan kata temannya jika ia diprotes terus, ia akan diganti oleh pemain lain, meskipun mereka berada di dua kubu berbeda, semua temannya mendengar.

Klien saya dengan sedihnya dikeluarkan dari permainan itu. Ia bilang ke saya bahwa ia sudah berusaha meyakinkan, tetapi sayangnya ia gagal. Ia menutupi istirahat makan siang itu dengan sebuah rencana penggulingan. (oke, aku yakin kata yang klien saya pakai bukan penggulingan, tetapi aku tidak mencatat, dan anggap saja ini semacam dystopia)

Hari itu, saat pulang, ia berjalan ke lobby sekolahnya (yang jaraknya sekitar 500 meter dari ruang kelas) bersama temannya. Temannya yang baik, sebut saja Alam (pseudonym) ini, bilang bahwa sebenarnya ia setuju dengan dia, memang yang boleh melakukan corner kick itu hanya tim yang sedang menyerang, tim bertahan diberikan goal kick, dan bukan corner ketika itu terjadi. Namun, ia diam saja, dan ia tidak mau membela karena tidak ingin ikut terlibat konflik.

Day 2

Klien saya bercerita bahwa pada hari kedua, kelas mereka sedang tidak diberi jatah untuk bermain di lapangan basket, mereka akan mendapat jatah mereka 2 hari lagi, sesudah angkatan kelas 3 dan 4 mendapat jatah bermain juga.

Sistem rolling ini bisa tercipta dikarenakan lapangan sepakbola yang mereka miliki tidak bisa digunakan, kecuali ingin harus mengambil bola ke pinggir sungai jika terjadi out. Amat disayangkan.

Untungnya, meskipun klienku (ia mengakui ini) menyebalkan ke teman-teman angkatannya, ia cukup dikenal sebagai anak baik dan pintar di sekolahnya dulu. Kemungkinan besar, anak-anak Kelas 3 dan Kelas 4 disitu juga cukup tahu padanya, meskipun ia baru kelas 2. Ia hebat sekali ya… πŸ˜€

Jadi, pada hari kedua, ia mendekati kakak-kakak kelas 4 yang sedang bermain. Ia mencari kakak yang cukup baik, setidaknya sepengetahuannya, bernama Leon. Kak Leon ini juga katanya termasuk salah satu pemain sepakbola yang paling jago.

Ia mendekatinya, dan ia berusaha curhat, menceritakan masalahnya. Kak Leon ini langsung bersimpati padanya, ia memberi sugesti ide, bahwa dua hari dari sekarang ia akan ikut bermain, dengan satu temannya agar tidak ada yang protes ada kakak kelas 4 di tim musuh, dan akan menjelaskan peraturannya.

Klienku yakin bahwa jika ada Kak Leon dengannya, ia akan sukses memberi tahu temannya akan peraturan yang sebenarnya, dan dia akan akhirnya bisa bermain sepakbola tanpa rusuh dan stres sendiri akan kesalahan peraturan setiap kali ada tendangan pojok.

Day 3

Hari ketiga, lucunya, kakak kelas 3 yang sudah booking lapangan tidak jadi mengambil lapangan itu. Jadi, kami dari kelas 2 langsung mengambil lapangan.

Kak Leon dan temannya Kak Didit yang ingin ikut bermain di esok hari sudah menyampaikan pesan bahwa ia akan ikut bermain besok, tidak ada yang protes, teman-temanku malah senang mendapat striker.

Dikarenakan ukuran angkatan yang kecil, kita bermain futsal/sepakbola dengan 7 vs 7. Klienku merasa terpaksa main, karena memang hanya ada 14 pemain. Awalnya, ia tidak ingin bermain agar dia tidak frustrasi akan error sederhana, namun ia menelan nasib saja, ia berkata pada dirinya bahwa ia bisa, dan akan tetap sabar.

Sayangnya itu gagal.

Ketika ia melakukan perebutan bola, terjadilah sebuah pelanggaran. Klienku langsung diberikan kartu kuning (menurut seluruh tim musuh, kami tidak punya wasit), padahal menurutnya pelanggaran itu masih dalam batas wajar, dan tidak perlu diberikan kartu kuning, cukup tendangan bebas saja.

Untungnya, kali ini, timnya membela, timnya bilang bahwa tidak semua pelanggaran harus diberikan kartu kuning. Sangat beruntung bahwa temannya Alam percaya padanya (dan juga memang sudah menonton pertandingan yang tidak memberikan kartu kuning setiap pelanggaran), sambil ikut bilang ke anggota timnya untuk bilang bahwa itu tidak perlu diberikan kartu kuning.

Tim lawan percaya, dan hanya pergi dengan tendangan bebas. 

Tetapi, hari itu, klienku sedang merasa sedikit frustrasi, dan tidak sabaran, ia tidak sabar menunggu hari dimana tidak ada lagi tendangan pojok defensif. Ia jadi, melakukan sebuah pelanggaran, tepat dihadapan kiper.

Lapangan basket tidak punya kotak penalti, iya, betul. Namun, sudah disepakati oleh semua orang, jika pelanggaran tepat dihadapan kiper, akan diberikan sebuah penalti.

Timnya semua setuju, klienku pun mengakui bahwa itu harus diberikan sebuah penalti. Tetapi, sayangnya temannya yang sok tahu ini, bernama Putra (teman yang sama yang bilang bahwa tendangan pojok itu… ya tahu lah ya), bilang bahwa, tiap kali ada Penalti, harus ada kartu merah.

Ini langsung ia protes, ia tidak terima, ia yakin tidak semua penalti harus dihukum dengan kartu merah, setidaknya terakhir kali ada penalti dalam salah satu pertandingan Liverpool di Premier League, ia yakin bahwa tidak seperti itu.

Jadi, ia membantah, dan ini adalah percakapan anak berumur 7 tahun, membahas sesuatu sesederhana (ehem, peraturannya 192 halaman sendiri) sepakbola…

  • Putra: Hey, kalau penalti itu langsung dikasih kartu merah tau!
  • Azriel: Gak ah, aku yakin gak dikasih kartu merah, terakhir kali Liverpool dapet penalti lawannya gak dikartu merah kok!
  • Putra: Ini kan futsal!
  • Azriel: Iya, tapi kan tetep aja, futsal peraturannya dasarnya mirip sepakbola
  • Putra: Iya, tapi kan kartu merah
  • Azriel: Kan futsal mestinya 5 orang, ini ada 7
  • Putra: Kan biar adil…
  • Teman nyeloteh (klienku tidak ingat itu siapa): Iya, masa kita jadi pake cadangan, entar semua orang gak bisa main dong!
  • Azriel: eh iya, maaf ya…
  • Putra: Iya, betul kan, berarti kartu merah aja ya!
  • Azriel: Kan gak sengaja, pelanggaran itu wajar lho!

Sayangnya seluruh tim lawan klienku sudah keburu sebal akan pernyataan yang ia bilang dimana mestinya futsal itu 5 lawan 5. Ia tidak diberi kesempatan untuk mendebat lagi. Jadi, dengan sedihnya, ia diberikan kartu merah sebagai hukuman sosial untuk tidak mengikuti alpha, dan juga untuk hukuman akan salah memberikan pernyataan.

Klienku mengaku bahwa ia sebal, dan ia mengakhiri hari dan istirahat makan siang menemani temannya yang menggambar. Temannya Eka tidak suka bermain sepakbola, dan klienku mengakui bahwa sahabatnya pada saat itu, dan terus sampai ia kelas enam, adalah si Eka ini. (Eka itu cowo ya, jangan salah, aku kurang kreatif membuat pseudonym)

Eksekusi Rencana

Day 4!

Klienku datang bersama Kak Leon dan Kak Didit untuk bermain bola, kali ini 8 lawan 8.

Ia berbisik ke Kak Leon, dan percakapan pendek mereka berujung seperti ini…

  • Azriel: Kak, langsung bilang ya, aku mulai kesel soalnya Kak, entar aku darah tinggi lagi… kebanyakan makan garam (btw, ini lelucon di kelasnya klienku, katanya jika orang marah-marah, disebut sebagai orang yang kebanyakan makan garam)
  • Kak Leon: Jangan dulu Zriel
  • Azriel: Hah? Kenapa?
  • Kak Leon: Nanti aja, biar bolanya keluar dulu…
  • Azriel: Oh iya, siap kak, siap…

Pada dasarnnya, anak-anak, seperti klien saya, sangat memandang tinggi senior yang masih masuk dalam golongan peer. Kak Leon disini merupakan kelas tertinggi di SD-nya dulu, belum ada kelas 5 pada saat Klien saya masih kelas 2. Klien saya sudah sangat senang bisa mengobrol dan didengar oleh anak kelas 4.

Sedikit offtrack, klien saya juga bercerita bahwa ketika ia sudah kelas 5, ia selalu mau meluangkan waktu untuk bermain ke anak kelas 3 dan anak kelas 2, kadang ikutan bermain apapun yang ia mainkan, ia senang bermain dengan junior yang melihatnya sebagai kakak kelas yang baik. Meski juga ada junior yang menyebalkan.

Nah, junioritas senioritas ini mulai bermain.

Ketika Kak Leon (menurutnya ini disengaja) mengeluarkan bola dan memberikan tendangan pojok ke tim musuh, ia menghentikan permainannya, dan menjelaskan peraturan yang nyata.

Semua orang yang masih seangkatan dengannya, dengan pengecualian Alam langsung takjub, mereka baru tahu ada yang namanya Goal kick, atau tendangan gawang. Karena senior yang menjelaskan, Putra langsung tunduk, dan tidak bertanya sedikitpun lagi, ia sudah yakin bahwa klienku benar.

Ah, tentunya sangat menyenangkan.

Ketika istirahat beres, klienku menjadi seorang anak yang sedikit… hmm, sok tahu. Ia bilang bahwa seharusnya selama ini teman-temannya dengarkan dia saja. Tentunya ini berujung buruk.

  • Azriel: Kan, tahu gitu dengarkan aku saja!
  • Putra: Iya, maaf ya, aku harusnya…
  • Azriel: Aku tahu kok aku bener
  • Putra: Maaf ya zriel, aku harusnya dengerin kamu
  • Azriel: Iya, emang betul, kan aku bener.

Hari itu berujung dengan seluruh temannya menanyakan peraturan bola ke dirinya. Dan ia sangat senang bahwa ia bisa bermain bola dengan benar.

Case Review

Bagi klien saya, ia tidak pernah ingin menjadi alpha. Bukan.

Ia memiliki potensi menjadi alpha, tetapi yang ia inginkan hanyalah untuk peraturan menjadi apa yang ia yakini sebagai peraturan. Semua hal sudah lurus, dan akhirnya, peraturannya dapat ia tegakkan. Ia tidak pernah mau menjadi alpha, dan yang ia yakini adalah, ia tahu peraturan yang benar, dan orang-orang harus mengikuti peraturan yang ia yakini sebagai benar.

Untuk melakukan itu, klien saya harus menjadi alpha, ia harus didengar.

Ia tidak bisa menjadi alpha, jadi ia mundurkan diri, dan mencari alpha yang lain. Ia sangat keren, dan juga resourceful dalam mencari solusi. Dua jempol ke klien saya πŸ˜€

Kesimpulan

Waw, menulis tentang diriku sendiri itu sangat lucu ya…

Bagaimanapun juga, ini adalah sebuah kasus psikologi, dan kuharap mampu dinikmati.

Aku sejujurnya merasa bahwa buat apa melihat psikologi orang lain! Lihat saja diri kita sendiri terlebih dahulu.

Tolong ketahui bahwa ini adalah true story, hanya nama yang fiksi, sangat beruntung aku bisa mengingat secara pas apa saja yang terjadi. Mungkin ada sedikit sih kata-kata yang direkayasa, tetapi intisari cerita itu, nyata.

Bagaimana pun juga, semoga intinya sampai, dan dapat dinikmati

Sampai lain waktu!

Book Memoir: Minggu Tiga

Book Memoir: Minggu Tiga

Judul serial ini dirubah menjadi Book Memoir untuk memberikan kesan… classy. πŸ˜›

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan 😉

Selamat menikmati!

Selama itikaf, aku mungkin mengurangi dosis buku. Oleh karena itu, buku ini berisi buku yang dibaca selama 2 minggu kemarin, dikarenakan aku tidak membaca buku (selain quran) selama 12-17 Juni. Jadi, buku disini adalah buku yang dibaca selama 5-11 Juni. Dengan pengecualian 7 bab terakhir dari salah satu buku yang kubaca, baru aku bereskan pukul 1 pagi, hari ini.

Jadi, minggu ketiga ini berisi buku yang kubaca ketika aku sempat tidak aktif. Selamat menikmati!

Daftar Buku

Senin, 5 Juni, sampai Senin 11 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Meskipun hanya dua buku, salah satu buku yang kubaca mencapai… *tarik nafas* 12000 loc. Oke, sebenarnya aku tidak baca 12000 loc-nya secara utuh mengingat sekitar 7000 loc dari 12000 loc itu merupakan komentar, dan aku mungkin hanya membaca sekitar… setengah dari komentar editor dan penerjemah. Kurang lebih, 8500 loc.

Ditotalkan, secara kasar aku mencapai 13000 loc, ini berarti kecepatan membacaku bertambah sekitar 1000 loc per minggu. Setiap 20 loc setara dengan 1 halaman buku berukuran 13X20 cm, jadi aku membaca sekitar 650 halaman. (aku membaca format Mobi dengan kindle)

Aku sebenarnya tidak terlalu banyak speedreading kali ini, karena bukunya sangat mudah dinikmati, dan terlalu membingungkan serta padat untuk dibaca dengan cepat.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Life of Pi karya Yann Martel (4500 loc)
  • Dante’s Divine Comedy, Part 1, the Inferno. Karya… Dante, terjemahan dan komentar dari Jean Hollander, seorang dosen yang secara eksklusif memberikan kuliah pada puisi tulisan Dante. (8500 loc)

Life of Pi

Mungkin film nya cukup menarik untuk ditonton, tetapi buku ini akan memberikan gambaran dan pesan yang lebih tepat kebanding filmnya.

Sebenarnya aku membaca Inferno sebelum Life of Pi.  Tetapi aku hanyut diantara banyaknya metafora dan simbolisasi dengan puisi tulisan Dante (dengan komentar yang lebih panjang dari bukunya sendiri), jadi aku akan menjelasakan dan memberikan opini mengenai Life of Pi sebelum Inferno.

Jadi, seperti pembaca mungkin ketahui dari film-nya, Piscine Patel adalah seorang remaja “biasa”, dengan kedua orangtua yang memiliki sebuah kebun binatang di India.

Dari awal buku, Piscine (atau Pi, karena dia dibully dengan diberikan julukan Pissing) menjelaskan dirinya sebagai remaja yang biasa, tetapi yang menikmati hewan dan perhewanan. Selama ia masih di India, ia menemukan banyak agama, yang menurutnya pada intinya memiliki kepercayaan yang sama.

Sebagai seseorang yang hidup di India, kehidupannya dipenuhi dengan variasi agama, ada orang Muslim, ada orang Katolik, ada orang Kristen, serta orang Hindu tentunya. Tidak seperti remaja pada umumnya tetapi, Piscine menganut ketiga agama itu, dan ia menyadari bahwa dasarnya ketiga agama memiliki tujuan yang sama, untuk mencintai tuhan. Hanya saja, ritualnya berbeda.

Selama ia masih di India, Yann Martel membawa kita untuk melihat coexistence serta kehidupan mendasar Pi, yang mampu membuatnya tetap teguh dan akhirnya selamat dalam perjalanannya.

Skip saja, kita langsung dibawa ke lautan atlantik. Dimana Pi dan keluarganya harus pindah ke Toronto. Nasibnya di kapal sangat-sangat tidak beruntung. Ia sampai-sampai tersangkut dalam sebuah kapal penyelamat bersama Zebra, Orangutan, Hyena… dan Harimau.

Oh, kapalnya tenggelam ya.

Selama ia mengapung tanpa henti di lautan, ia menemui cukup banyak hal, semua hal yang ia temui disini merupakan simbolisasi ke sebuah situasi di dunia nyata, dan juga ke konflik batin si tokoh utama.

Sebagai contoh utama, Richard Parker, Harimau yang mengusir Hyena (Hyena tersebut juga membunuh Zebra dan Orangutan ya) tersebut, dan juga Harimau yang menjadi hiburan Piscine, serta tantangannya adalah sebuah simbol ketakutan, dan juga kehampaan.

Konflik dalam kapal tersebut yang membunuh si Zebra, Orangutan dan Hyena juga adalah sebuah simbol kepercayaan seseorang. Pada umumnya, seseorang akan harus memilih sebuah kepercayaan. Bukan berdasarkan amarah (Hyena), bukan berdasarkan cinta (orangutan), dan juga bukan karena keterpaksaan (Zebra). Jika seseorang memang harus memilih kepercayaan, (kecuali memutuskan untuk tidak percaya agama apapun), ia akan memilih berdasarkan ketakutan.

Buku ini melukis bagaimana seseorang mampu selamat dari suatu tragedi, dan buku ini juga sukses mengisahkan konflik batin yang “umum”, dengan sebuah metafora, menutupinya dengan gambar yang mampu diambil secara harfiah.

Secara keseluruhan, Buku ini adalah opsi yang baik untuk belajar perumpamaan, serta alegori mendasar dalam sastra. Bukunya sangat bagus, dan tentunya juga cukup menarik dan modern, karena tentunya buku ini baru ditulis di tahun 2001.

Dante’s Inferno

Ini buku bagus. Tapi membingungkan.

Dari mana aku mulai… Heeeuh.

Buku sebelumnya merupakan contoh sangat baik untuk metafora yang bisa diambil secara literal. Life of Pi super cocok untuk pemula sastra. Dante’s Inferno adalah opsi yang ratusan kali lebih menarik, serta, jika bicara religius… juga lebih religius. Brutal? Iya, Dante juga lebih brutal.

Nah… The Inferno adalah sebuah puisi, berisi 34 part, chapter, atau tepatnya untuk puisi, Canto. (Kanto? Mungkin untuk Bahasa Indonesia).

Jadi, buku ini sebenarnya bukan opsi terbaik untuk yang tidak siap mendapatkan bayangan kejam, dan tidak bisa dihapuskan dari kepala, selain itu, aku tidak menyarankan buku ini jika tidak ada niatan sedikit pun untuk mempelajari sedikit budaya nasrani.

Jadi, sejujurnya aku tidak akan mengerti buku ini menjelaskan apa jika tidak ada sedikitpun komentar dari Jean Hollander. Mengapa? Hehehe. Jadi, Inferno ini penuh dengan ratusan metafora, serta bahasa yang dengan sengaja dibuat untuk tidak bisa dicerna oleh orang-orang yang tidak ingin sedikitpun berimajinasi.

Selama Dante berusaha masuk dan melihat ke dalam neraka ini, ia ditemani seorang penyair asal romawi, namanya Virgil, penulis mitologi tentang Aeneas, pahlawan Romawi pertama, yang juga memulai kerajaan dan kekaisaran maha kuat tersebut.

Nah, jadi, tentunya gurunya Dante bukan orang yang main-main. Seorang (atau err, arwah dari) penyair terbaik dari kerajaan terkuat sepanjang masa tentunya mungkin salah satu guru terbaik yang seorang penyair bisa dapatkan.

Pada dasarnya sepanjang epik ini, Dante berusaha mengemas nasib orang-orang yang membuat sebuah dosa. Apapun dosanya, seberapa baik orangnya, jika ada sedikitpun dosa, maka ia akan masuk Inferno. Hukuman yang diterima oleh para pembuat dosa ini juga cukup kejam, dan disesuaikan secara spesifik ke dosanya. Misalnya, para orang serakah (Greed) dipaksa untuk berjalan dengan menggendong uang yang sangat berat.

Aku sejujurnya TIDAK menyarankan orang untuk membaca puisi/buku ini dengan santai. Jika anda memiliki niatan untuk membaca buku ini, harap lakukan dengan serius. Terlalu banyak adegan dan bayangan kejam yang tidak akan bisa ditoleransi oleh warga Indonesia.

(Tapi, hngg, buat apa orang baca buku ini kalau tidak diwajibkan oleh kampus lagian)

Selain banyaknya budaya nasrani dan kristianisme di puisi ini, juga ada guratan mitologi Romawi dan Yunani di buku ini. Misalnya, ada Raja Minos di tingkatan tertinggi neraka, untuk menentukan siapa yang dimasukkan ke tingkat apa. Juga ada Cerberus untuk menghukum para orang-orang yang rakus (Gluttony).

Secara keseluruhan, aku tidak bisa bercerita banyak mengenai Inferno tanpa melanggar beberapa kode etik pribadi mengenai apa yang layak dituliskan di blog ini dan apa yang tidak. Jika aku harus mengemas buku ini dalam sebuah kalimat pendek…

Buku ini terlalu membingungkan. Kebingungan yang didapat dari membacanya adalah alasan buku ini sangat bagus.

Terima kasih Professor Jean Hollander untuk E-Book Dante’s Inferno yang gratis dan lengkap dengan komentar yang membantuku mengerti apa yang sedang terjadi dalam untaian kata tulisan Dante Alighieri. Layaknya Virgil menuntun Dante dalam perjalanannya.

Kesimpulan

Jadi, sejujurnya perjalananku dalam Inferno tidak terlalu mulus. Namun, sangat beruntung aku dapat menemukan simbolisasi yang mirip, serta juga masih bisa ditarik benang merahnya dalam Life of Pi.

Hidup seperti itu (-_-“), jika kita kesusahan melakukan suatu hal, mungkin kita akan diberikan jalan lain yang mampu membuat hidup kita lebih mudah.

Oke, ini terkesan show-off.

Intinya, banyak jalan, banyak cara. Ingin belajar alegori? Bisa belajar ke Inferno! Bingung? Life of Pi saja! Itu dibiarkan ke kita untuk memilih jalan dan rute agar kita bisa mencapai yang kita ingin capai… dengan metode seefisien mungkin

Sampai lain waktu!

Dikakipelangi.com, Es Krim Kit Kat, dan Lebaran…

Dikakipelangi.com, Es Krim Kit Kat, dan Lebaran…

AZRIEL! KAMU KEMANA AJA?

Sebenarnya lucu juga tidak ada orang yang mencari aku, ataupun komentar menanyakan bolongnya One Day One Post ku.

Alhamdulilah traffic blog masih terjamin dengan artikel Arti dari Salut Wakanda Forever yang sekarang telah mencapai view ke 5500 (dan masih bertambah πŸ˜‰ ). Tiap harinya, artikel itu bisa menjaring setidaknya 100 view, dan jika sedang bagus rejekinya, artikel itu menjaring view diatas 500.

Seperti reader ketahui, Libur Lebaran pun belum beres. Sekarang masih cukup banyak hal untuk dikerjakan, dan aku pun baru hari ini mendapat hari yang tidak berujung denganku keluar rumah. Sejak Sabtu tanggal 9 Juni kemarin, aku belum sempat menyentuh laptop, dan… ya, aku membuat sebuah cerpen pendek (bentar, cerpen tuh singkatan apa ya?) untuk menjelaskan aktivitasku 9 hari kebelakang.

Es Krim Kit Kat

Semua itu bermula dengan es krim. Bukan Es Krim biasa, bukan… Es Krim itu hasil manufaktur Nestle (maaf, aku belum menemukan cara menambah aksen dengan keyboard wordpress). Es Krim itu khusus dibelikan Ibunda tercinta di bulan Ramadhan.

Tanggal 8 Juni kemarin, Bubi pergi ke Supermarket, untuk membeli cemilan malam. Cukup banyak, dan kalau dihemat-hemat ngemilnya, cemilan yang dibeli kemarin seharusnya bisa tahan sampai sekitar… kurasa 4-5 hari.

Aku tidak dibelikan apa-apa. Kecuali satu hal, Es Krim Coklat buatan Nestle tadi, yang merupakan spin-off dari resep coklat wafer sangat enak bernama Kit Kat, diubah menjadi sebuah es krim. Sambil memberikan es krim tersebut padaku, aku diberikan pesan… “Ja, ini es krim buat kamu ya, tapi kamu kalau makan ini bagi buat aku ya…”

Pesan itu menggema di kepalaku. Aku memang berencana membagi es krim tersebut, tetapi ini berarti aku tidak bisa ataupun boleh membuka es krim tersebut tanpa Bubi hadir.

Bukan masalah, kayanya. Masalahnya adalah aku hanya bisa makan ketika tidak ada matahari, dikarenakan aku sedang beribadah shaum…

HMM, itu pun bukan masalah sebenarnya. Langsung saja kumakan, memang sudah jam buka kok, kenapa tidak. Tetapi, hari ini, kurasa aku sudah cukup banyak makan manis, jadi seharusnya aku bisa menunggu besok.

Ternyata itu kesalahan yang sangat besar. . .

9 Juni 2018

Hari Sabtu, pagi hari kita memiliki beberapa agenda, yang termasuk aku memotong rambutku dan lain-lain. Sayangnya pilihanku untuk tidak memakan es krim di hari kemarin adalah opsi buruk.

Jadi, beberapa hari yang lalu, aku diundang untuk Itikaf bersama temanku. Meskipun itikaf-nya sendiri dimulai dari 21 Ramadhan, aku belum ingat untuk datang, sampai tanggal 9 juni kemarin. Biasanya, atau orang-orang pada umumnya itikaf hanya dari malam ke pagi. Tetapi, dengan sedikit bantuan temanku, kita bisa itikaf seharian, dan kita juga dipersilahkan menginap di masjid.

Tentunya ini sangat-sangat memudahkan, proses beribadah, jadi kenapa tidak? Aku bisa menghemat uang untuk gopay, gojek ke rumah hanya perlu dilakukan ketika ingin mengambil baju jika memang kekurangan, atau sudah habis.

Sayangnya, keputusan untuk menginap di masjid sampai H-1 Lebaran ini… membuat aku melupakan es krim kit kat tersebut selama Itikaf. Sama seperti aku melupakan keberadaan blog ini…

JENG JENG JENG!

Selama Itikaf…

Hari demi hari berlalu, Juz demi Juz kubaca, Tajil demi Tajil dinikmati, rakaat demi rakaat dilakukan… Sementara itu.

Blog ini terbengkalai kosong, mendapatkan dinginnya penulisnya yang sedang beribadah, melupakan keberadaan blog ini, tidak mengecek blog ini sekali pun, dan blog ini pun merasakan dinginnya… Kulkas. (Freezer deng), sama seperti Es Krim kit kat yang semestinya dimakan itu, dibiarkan saja. Ketika ada yang membuka freezer itu, atau dalam kasus blog… dilihat, ia hanya berharap tujuannya dapat terpenuhi.

Blog ini tidak diisi, layaknya Es Krim Kit Kat itu tidak dikonsumsi.

OH! SUNGGUH PAHITNYA KEHIDUPAN!

(Catatan: penulis sedang membaca puisi tulisan Virgil, Dante, serta Homer. Tulisannya akan menjadi 20-100 kali lipat lebih lebay sampai ia bosan membaca ketiga penulis tersebut)

Kepulangan dalam Kepergian

Aku pulang… Masih dalam lembayung senja, aku dijemput seorang driver gojek yang baru saja beres sahur dan langsung mencari rejeki mengantarku pulang.

Matahari telah naik, mulai memberi ciuman sinarnya, menandakan ini sudah bukan waktunya lagi untuk makan. Aku yang lelah, sesudah bangun semalaman ingin segera mengganti baju, dan menidurkan diri, sampai pagi setidaknya.

Aku tidak kuat untuk terbangun lebih lama lagi, jadi aku langsung saja membuat diriku tak sadarkan lagi, terbang, melayang dalam alam mimpi (oke, aku gak mimpi sedikitpun)

Paginya, sesudah terbangun, aku harus segera bersiap. Masih banyak hal yang perlu dilakukan.

Mudik.

Mungkin memang sudah telat untuk Mudik, tetapi jika engkau seorang yang pulang kampung ke kota, maka… Ini waktu yang tepat.

Jakarta kosong, tidak banyak orang pulang ke Jakarta. Sebaliknya, banyak orang meninggalkan rasanya kota metropolitan untuk kembali ke akarnya. Menjadi udik, alias Mudik. (ceunah istilah mudik dari situ)

Pergi dari rumah, es krim kit kat belum bisa dimakan, aku pergi dari rumah sebelum dzuhur, dan sampai Jakarta sesudah ashar. Jika aku membawa es krim tersebut, dapat dijamin bahwa dirinya akan lumer.

Sama seperti blog ini, ia kutinggalkan. Meskipun kubawa, aku yakin tiada akan (Catatan: Ia melebaykan tiap kata, dikarenakan… ia ingin melebaykan) waktu dan tempat yang cocok untuk menyelesaikan tugasku.

Aku telah Pulang!

Kembali ke Bandung, aku masih lupa akan beberapa hal. Kita masih punya banyak hal untuk dilakukan, meski dengan mulainya Piala Dunia, tidak banyak waktu yang aku miliki untuk menulis.

Sabtu pagi diisi dengan acara halal bihalal dengan keluarga yang bertempat di Bandung, seharian aku diluar rumah, dan selama aku di rumah… Tubuh sudah lelah, batas manis telah dipenuhi.

Minggu kemarin, bisa dibilang aku bersenang-senang, dari pagi, sampai malam aku diluar rumah. Sekali lagi, tubuh masih lelah, manis sudah cukup.

Aku tak tahan lagi, aku tidak bisa menunda pekerjaan ini lagi. Ini tidak dapat dibiarkan.

Pagi ini, hari dimulai dengan berlari, aku perlu bergerak sesudah makan sebanyak itu selama lebaran (semur nenek memang legendaris, lapis legit miliknya juga).

Sesudah menghabisi buku, aku makan makanan berat, dan aku harus menyelesaikan tugasku.

Rumah karyaku! Aku pulang!

Kesimpulan

WHAT ON EARTH DID I JUST WRITE?

Aku baru saja membiarkan jari bergerak, dan pikiran mengalir menghasilkan apapun yang telah kutulis.

Semoga tulisan itu menarik, dan mampu dinikmati, aku tidak berpikir banyak saat menulisnya.

Sampai lain waktu!

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Buku yang telah dibaca: Minggu 1

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Selamat menikmati!

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 21 Mei 2018, sampai hari Minggu 27 Mei, aku sudah membaca 3 buku. 2 buku yang kubaca merupakan buku nonfiksi. Buku tersebut jika ditambahkan mencapai kurang lebih 10000 loc di Kindle. Sekitar 20 loc (singkatan untuk location), setara dengan 1 halaman di buku yang berukuran 13X20 centimeter.

Jadi, jika ditotalkan, kurang lebih ada 500 halaman yang sudah kubaca. Hmm, sebenernya masih bisa ditingkatkan, tetapi ya sudahlah, ini masih minggu pertama…

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Stuff Matters karya Mark Miodownik
  • 1984 karya George Orwell
  • The Subtle Art of Not Giving A F*ck karya Mark Manson

Berikut ulasan singkat serta opini kepada buku-buku tersebut.

Stuff Matters.

Stuff Matters adalah sebuah buku yang menganut tema sains/sejarah, membahas benda-benda sehari-hari, tetapi dalam perspektif yang lebih mendalam…

 

Buku ini sangat cocok untuk orang sepertiku yang mau kepo sama segala sesuatu yang tampaknya sederhana. Mulai dari coklat, besi, sampai sel tubuh, Stuff Matters menjelaskan sesuatu yang sering dipandang sebelah mata, diduduki, atau mungkin ditelan dalam perspektif sains materi.

Sains materi adalah sains yang membahas segala sesuatu yang ada dalam level atomik atau subatomik. Biasanya orang yang meneliti sains materi melihat struktur dan ciri-ciri (atau properti) sebuah benda. Misalnya, semen memiliki struktur yang ketika cair, layaknya (ehh, tentunya) cairan (kan πŸ˜€ ), tidak terlalu ketat, dan tentunya tidak dibatasi “penjara” atomik apapun.

Tetapi, berdasarkan ciri semen dari komposisi kimianya, ia mampu memadat dengan sangat cepat. Ketika padat, struktur partikelnya, menyempit, mengikuti cetakannya, dan benar-benar rapat. Dalam level atomik, semen padat sangat “dense” atau mungkin, rapat. Tetapi, sanking besarnya cetakannya dalam level atomik, meskipun tercetak secara rapat, bentuk cetakannya sangat besar.

Karena kualitasnya yang mudah memadat ini, dan juga struktur atomiknya yang sangat kuat ini, semen sangat kuat, serta mudah dicetak.

Dasarnya sains materi mempelajari hal-hal sehari dalam perspektif fisika, kimia, dan juga tentunya, penggunaan seharinya.

Buku ini tidak hanya menceritakan perspektif materi ini secara sains saja, tetapi juga memberi tahu kita etimologi dari benda tersebut, jenis-jenis benda tersebut (misal, kertas dibahas bukan hanya kertas saja, tetapi juga… kertas kain, kertas uang, dan lain-lain), dan yang sama pentingnya, sejarah benda tersebut!

Penulisnya juga banyak sekali menceritakan opininya pada benda tersebut, dan juga bagaimana ia melihatnya sebagai anak-anak. Seperti ilmuwan inggris pada umumnya, Mark Miodownik memiliki selera humor yang sangat bagus!

Baca buku ini jika…

  • Kamu mau tahu bagaimana cara benda-benda sederhana dapat tercipta, ataupun diciptakan
  • Kamu penasaran atas teknologi terbaru dalam membuat hal-hal sehari-hari seperti ini bisa lebih efisien
  • Ingin melihat benda-benda rumah tangga dari sudut pandang baru
  • Ingin mempelajari sejarah benda-benda yang ada di buku ini.

(oke, maaf, aku gak mau bilang apa aja benda-bendanya yang ada secara spesifik, meski keceplosan sedikit banyak).

Secara keseluruhan, Stuff Matters adalah sebuah pintu masuk yang bagus untuk memicu rasa penasaran dalam sains materi.

1984

1984 adalah sebuah buku yang keluar tahun 1945, karya George Orwell. Buku ini bertema Dystopia, alias membahas apa yang mungkin saja terjadi jika pemerintahan di dunia ini berbelok ke arah yang salah. 1984 merupakan salah satu buku Dystopia pertama.

1984 memberikan kesan yang sangat… menyeramkan. Pertama-tama, ketahui aku sendiri sebenarnya belum pernah membaca atau menonton sebuah karya literatur yang Dystopian. 1984 memberikan kesan yang baik, tetapi buruk mengenai sebuah pemerintahan yang kacau.

Alkisah, dunia ini terbagi menjadi 3 kubu yang kuat, Oceania, Eurasia, dan Eastasia. (maaf, karena kemampuan geografiku yang buruk aku masih kurang mengerti lokasi masing-masing kubu) Setiap pemerintahan seringkali berperang.

Secara internal PNS (atau outer party) diberikan doktrin dan diperhatikan setiap gerak geriknya, agar tidak ada sedikitpun rencana untuk menggulingkan pemerintahan yang sangat kacau ini.

Lokasi buku ini berada di London, dalam sebuah bagian dari Oceania bernama Airstrip One (atau, tentunya, Inggris). George Orwell mampu menjelaskan tiap kalimat dan deskripsi seolah-olah dunia sudah bertolak belakang.

Bukan hanya pemerintahan yang dikacaukan, 1984 juga mengurangi konteks bahasa, agar makin rendah kemungkinan seseorang dapat membuat sebuah kalimat yang puitis atau lengkap, sebuah bahasa baru bernama (ini sangat… obvious) Newspeak diciptakan. Newspeak pada dasarnya membuat semua antomim hilang dan menghilangkan semua potensi ambigu sebuah kata.

Antomim pada dasarnya direpresentasikan oleh kata Un. Jika good adalah baik, dan bad adalah buruk, Newspeak mengganti bad dengan ungood. Untuk great alias lebih baik, diwakili dengan plusgood, dan… ya baca saja bukunya.

Tetapi, pemerintahan di 1984 mengatur segala hak bicara, hak privasi, serta paling parah… hak untuk bebas melakukan apapun.

Baca buku ini jika…

  • Ingin mendapat sebuah sensasi buku horror yang baru. (sebenarnya tidak terlalu seram, tapi… itu bisa jadi menyeramkan untuk beberapa orang).
  • Ingin melihat dunia yang sudah rusak.
  • Penasaran atas metode kontrol yang masuk sampai level diktator. (Nih, yang bilang Jokowi Diktator, baca dulu 1984, biar tahu diktator tuh gimana)
  • Mau mempelajari bahasa baru, yang sekarang masih fiktif. ( πŸ˜› )
  • Merasa ditindas, ataupun diberikan paksaan oleh pemerintah. Karena sesudah membaca buku ini, kamu akan merasa sangat-sangat bebas!

Dari cakupan bebas spoiler, 1984 menegangkan, menakutkan, dan juga “mengajarkan” sedikit tentang politik, serta psikologi pengendalian massa.

The Subtle Art of NOT Giving A F*ck

Iya, buku ini penuh dengan umpatan. Hindari jika kamu tidak ingin mendengar banyak umpatan. Bukan masalah besar bagiku, sayangnya ulasannya terlalu bagus, aku jadi penasaran. Buku ini masuk dalam genre self-help, tetapi tidak konyol, atau terlalu motivatif.

Menjelaskan buku ini dengan 10 kata, atau lebih pendek. Buku ini bodoh, tetapi sanking bodohnya, ia jadi benar.

Mark Manson mampu memberikan motivasi dengan metode yang sama sekali tidak seperti sebuah motivator. Motivator, dan buku self-help ala hippie pada umumnya meminta orang untuk menenangkan diri dengan bilang ke diri sendiri bahwa kamu tenang.

Padahal, nyatanya, orang yang tenang tidak akan perlu untuk bilang ke dirinya bahwa dia tenang. Ia cukup menelan fakta bahwa ia sedang tidak tenang.

Sesuai dengan slogannya, A counterintuitive approach to living a good life… Buku ini benar-benar penuh dengan metode yang ironis, tetapi benar, serta cara memperbaiki diri dengan konyol, tetapi sekali lagi benar. Sebenarnya jika aku memberikan sedikit terlalu banyak “hinaan” itu salah juga sih.

Buku ini penuh inspirasi, tetapi ditulis dengan nyeleneh, sehingga memberikan kesan yang bodoh dan konyol itu. Tetapi, layaknya sebuah orang yang suka bercanda, buku ini memiliki momen serius dimana benar-benar bersih dari nyelenehnya itu dan menjadi momen yang… inspiratif dan benar.

Seperti banyak buku self-help, penulisnya memberikan banyak sekali ceritanya sendiri, dan aku yakin orang pada umumnya mampu merasakan beberapa cerita yang ia selipkan disini, baik miliknya, atau milik orang lain yang curhat ke dia via blog miliknya.

Buku ini… benar-benar bagus.

Baca Buku ini Jika:

  • Kamu muak dengan motivator yang penuh dengan omong kosong dan “tetap positif meski segala sesuatu sudah buruk” miliknya itu.
  • Ingin mencoba cara baru untuk memperbaiki diri.
  • Sering memiliki sedikit masalah dan/atau marah-marah.
  • Suka membaca orang yang nyeleneh. (dengan cara positif tentunya)
  • Ingin tahu penggunaan kata umpatan. . .  yang tentunya variatif! (HMM)
  • Mencari inspirasi atau memiliki krisis identitas.

Seperti kubilang, buku ini benar-benar bagus, tetapi karena Mark Manson tetap menulis dengan gaya nyeleneh-nya itu… Buku ini jadi sumber humor, ironi, sarkasme, umpatan dan inspirasi di saat yang sama.

Kesimpulan

Daftar buku yang telah kubaca dalam minggu pertamaku dipenuhi humor, ketakutan, serta juga… pengetahuan. Sejujurnya, kamu tidak perlu terlalu bosan membaca terlalu banyak buku, selama buku yang kamu pilih menarik tentunya!

Selera buku orang-orang berbeda, dan layaknya memilih baju (atau pacar), pilihlah buku yang sesuai dengan seleramu.

Sampai lain waktu!

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Sesudah ending yang menggantung, seperti semua film Marvel… akan kubahas interconnectedness, dalam suatu image yang definitely… more detailed, dan membahas salah satu dari setiap perspektif yang ada, which is the Materialistic one.

Oh also, the introduction and stuff can be found within this article. Ini semacam sekuel ke short film dengan ending menggantung. But unlike most movies that end in a cliffhanger, jeda antar artikel hanya 6 jam! Tapi please baca dulu artikel pendek itu yaaaa, ada hal yang tidak akan diulangi.

Sebentar dulu, ada artikel lain yang penting dan defining this article in general… Definisi Interconnectedness dapat ditemukan di sini.

Definition

Kalau ada seseorang yang mendengar istilah materialistik, terkadang yang terkesan adalah orang itu ingin mencari worldly pleasure, usually in the form of… money, yang terkadang di reference sebagai materi, hence disebut materialis. Tapi sebenernya perspektif materialistik ini gak ada hubungannya dengan materi dalam konteks ekonomi.

Konteks Materi disini adalah, “matter”. What’s the matter with matter you ask? (Baa Dum Tss) Yah udah dijelasin di “preview” artikel ini sebleumnya sih.

Para materialis ini percaya interconnectedness terjadi karena alam semesta tercipta oleh suatu single substance. And that is kind of why this might seem old. Tapi udah kujelasin tadi, jadi sekarang kita langsung masuk ke bagian detailnya aja deh.

Greek Philosophy

Alam semesta ini memiliki banyak unsur. Tetapi semuanya masih merupakan bagian dari unsur utama. Nah, banyak sekali filsuf Yunani besar yang menyebut APA materi utama-nya ini.

Ada Thales yang bilang bahwa air adalah unsur utama, dan segala sesuatu di alam semesta ini merupakan air, at least sebagian-nya saja. Thales sedikit kurang tepat, karena belum ada konsep cahaya dan gelombang di zamannya, tetapi pemikiran ini cukup spot on.

Sampai sekarang pemikiran ini masih “terpakai” karena jika NASA (or any space organization in general) ingin mencari kehidupan, hal pertama yang berusaha dianalisis dari sebuah planet/satelit adalah keberadaannya air. Di zamannya, Thales sudah sangat maju dengan klaim simpel bahwa Air adalah sumber segalanya.

Tapi umm… Gimana air ini bisa play a part in the big machine of interconnectedness? Thales ga bahas itu explicitly, tapi aku yakin (just an opinion) kemungkinan Thales atau muridnya berasumsi mengenai endless cycle of water, also known as the water cycle… (Hurrah everybody, it’s Captain Obvious!)

Terus ada suatu teori menurut Democritus yang sampai sekarang masih cukup familier di Fisika. Meski Democritus (in a sense) dibuktikan kurang tepat, Democritus sendiri percaya bahwa atom adalah substansi utama, dan paling mendasar diantara molekul dan partikel lainnya. Now we know this is wrong. Ada quantum realm, dan electron dan… yah itu fisika. Bukan bahasanku hari ini.

Tapi tidak seperti banyak filsuf Yunani lainnya, Democritus yakin bahwa yang kita lihat dan rasakan itu bukan bentuk yang mendasar, dan segalanya bisa dipecahkan hingga lebih kecil lagi. Dia menyebut hal kecil ini sebagai atom, berdasarkan kata Atomos, yang berarti… Indivisible. (Or tidak bisa dibuat lebih kecil lagi). Aku ga yakin tapi kayanya ini ga diajarin di kelas Fisika di SMP… SO YEAY! More fun facts.

Koneksi Atom dengan interconnectedness itu apa? Well… let me tell you something. I actually have no clue. TAPI……. Inget, ini masih filsafat yang sangat “mendasar” karena dia memang masih di zaman orang Yunani, jadi teori Atom ini akan memberi kontribusi untuk perspektif lainnya.

CATATAN: Andaikan ada definisi atau miskonsepsi di bagian ini dan kurangnya benang merah dari tulisan yang ini dan yang sebelumnya mohon maaf. Catatan ini untuk memperjelas. Interconnectedness itu bisa berada dalam level Universal Mind yang menjalankan alam semesta ini, dan Interconnectedness juga bisa berada di level tengah, yaitu adanya persamaan pemikiran antar beberapa orang. Jika ada perspektif dan/atau opini yang masih rada gaje, tolong berikan comment, aku akan menjelaskan dengan senang hati.

Modern Science

Dunia ini adalah mesin, bekerja secara mekanis, kaya… well sebuah jam. Layaknya mesin dan alat, dunia ini bisa dianalisis melalui Sains.

But hang on, kenapa ini ada hubungannya dengan Interconnectedness?

Sebentar dulu ya… We’ll get there.

Say hello to the sun. No, not your son. That big thing in the sky you look away from because its so bright. Iya, itu, yang ada department store yang pake namanya dia.

Since 4.6 billion years ago… Matahari sudah menjadi titik tengah Solar System kita. Ada 8 planet yang mengitari-nya selama 4.6 milyar tahun itu. 9 kalau Pluto dihitung, tapi Pluto itu bukan Planet, jadi karena aku specifically nyebut Planet, sayangnya menurut astronomi modern, cycle Pluto sebagai planet putus… On topic.

Anyways, jadi selama 4.6 milyar tahun itu… Matahari mengalami hal yang sama berkali-kali, ia menikmati revolusi Merkurius setiap 1/12 (or satu bulan) dari Revolusi Bumi, dan Neptunus belum pernah gerak sama sekali. Setiap hari, hal yang sama diulang, diulang, diulang.

Nah! Ini merupakan suatu hal yang disebut predictable itu. Jadi, seperti yang aku bilang, semuanya bisa dianalisis karena pada dasarnya, hal yang sama berulang tiap hari, minggu, tahun, sewindu, atau seabadnya.

Ini alasan kenapa jauh sebelum zamannya Newton… Kejadian di alam yang pasti disebut sebagai Hukum. Sesuatu yang tidak bisa dilanggar. jadi, menurut sains modern, interconnectedness ini lebih masuk ke definisi yang menjalankan alam semesta ini, bukan hubungan antar pikiran.

Hukum yang kita temukan (Bukan ciptakan, Newton TIDAK menciptakan gravitasi, dia menemukan keberadaannya.) hanya merupakan penemuan dari endless cycle yang sudah jalan jauh sebelum kehidupan kita.

Jadi materi apa yang menciptakan alam semesta ini memang menentukan apa yang menjalankan alam semesta ini, karena… hukum yang kujelaskan di atas memang terkadang tidak bisa dilawan.

Anomaly?

Off topic dulu dikit…

Apakah kita, sebagai makhluk yang pintar, dan mungkin mendapatkan ilham terbanyak dari Universal Mind, sudah menjadi anomali? Nah… coba pikirin deh.

Semua makhluk hidup mengikuti cycle yang mirip, dan mengikuti hukum yang diberikan alam (salah satu otoritas tertinggi di semesta ini) padanya. Sedangkan kita masih berusaha untuk mencari jalan lain dengan hukum antar manusia, yang hanya otoritas sementara di dunia ini, dan jelas bukan yang paling tinggi di dunia filosofi.

Coba pikirin yaaaa… Just you know a bunch of short thoughts.

Contemporary Materialisticism

(Materialisticism is TOTALLY a word)

No it’s not… kata benerannya Materialism. Yes, ada perubahan kata dan etimologi mendasar.

Dalam materialisme kontemporer, sesuatu yang disebut fisikalisme (which in a sense might sound VERY unscientific, atau ironically, very scientific. Fisikalisme ini percaya bahwa segala sesuatu merupakan konstruksi dari sebuah materi. (Yang mengabaikan teori gelombang dan partikel itu, atau heck cahaya.) Konstruksi materi ini bisa dipahami melalui… fisika (since, it’s physics afterall), neuroscience (karena ide merupakan hasil electronic waves di otak), evolution theory (since… akan dibahas lusa, di perspektif para evolusionis), dan apparently… computer science (like Neuroscience, but not a brain).

Kalau membaca dengan detail  kayanya rada jelas bahwa ini sangat tidak scientific, dan in a sense ambiguous, karena… ada betulnya dan juga terkadang sangat scientific… It’s very confusing. . .

Ga usah dipikirin sih sebenernya… Jadi on topic!

Para fisikalisme ini naik lagi satu level dengan bilang bahwa, memang ada invisible path that connects our brain with other brains. Like.. you know, Wi-fi. Sepertinya masuk akal, tapi juga… ga masuk akal…

Ya ini sedikit mendefinisikan interconnectedness dengan cara yang… a bit odd, tapi efektif.

Ini mencover koneksi antar pikiran, karena jika sebuah ide adalah gelombang listrik (or an email), dan pikiran (otak) kita adalah komputer, kita cukup punya sebuah koneksi (in the form of matter apparently) untuk menjadi wifi yang menyambungkan sebuah ide ke komputer lain.

Not only that, this also, kinda covers that… universal mind that governs stuff theory, karena jika pikiran sendiri adalah sebuah substansi, tentunya punya suatu pikiran yang paling tinggi sangat masuk akal karena… Course, sebuah pikiran paling tinggi dapat mengatur hal-hal lain, karena pada dasarnya dia sebuah materi yang sangat… kuat.

Yeah kayanya pusing banget ya… Welcome to philosophy!

In Conclusion

Menggantung lagi, karena masih ada banyak hal yang emang belum aku cover, tapi untuk semua artikel dalam serial ini, akan aku bahas dengan semacam flashback, kembali ke artikel awal, dan tulisanku tentang Materialistic point of view. Seberapa spot on ilmu yang ku tangkap sebelum baca-baca ulang.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance.
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.

Untuk pertanyaan utama… Semesta ini memang terbuat dari banyak unsur, dengan banyak bentuk dan ukuran, tetapi semuanya memang bisa dibreakdown menjadi lebih kecil. So there’s some form of equality there?

Dia berhubungan dengan interconnectedness karena… well, substance yang sama bisa menjadi jembatan untuk ide dan pikiran. Selain itu, ada langit diatas langit, dan ada suatu hal yang memang di atas pikiran kita ini, jadi andaikan pikiran adalah materi… akan masuk akal jika ada matter yang lebih tinggi yang mengendalikannya.

Untuk poin terakhir… Yeah itu rada salah… Aku belum terlalu mengerti prinsip materialisme sepenuhnya tadi, tetapi ternyata materialisme tidak terbatas ke objektifikasi semesta ini (seperti para filsuf Yunani), tapi bisa lebih menyentuh… daerah lain, dan mencapai benda lain secara explicit. Jadi,karena itu banyak miskonsepsi karena… kurangnya pengalaman, oleh karena itu mohon maaf.

Semoga kesalahan ini tidak mengurangi kesetiaan reader pada blog ini, karena as you might know, everyone is still learning.

Till tomorrow!

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis πŸ˜€ .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet πŸ˜€ .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya πŸ˜€

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… πŸ˜€

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak πŸ˜€ Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!