Tag: Filsafat

Menemukan Kebahagiaan.

Menemukan Kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah salah satu konsep paling membingungkan yang pernah diciptakan manusia.

Di satu sisi, kebahagiaan merupakan hal yang baik, sebuah tujuan yang perlu dicapai dalam kehidupan seseorang. Di sisi lain, banyak orang yang mencari tujuan tersebut (yang tidak ada spesifikasi tujuan yang mudah dimengerti) dan karena mereka mencarinya, tujuan tersebut tidak akan pernah ditemukan.

Kita menciptakan konsep untuk memberikan makna dan kebahagiaan bagi diri kita sendiri, tetapi karena konsep tersebut sangat sulit untuk dicari, orang-orang malah melucuti makna yang mereka seharusnya miliki tadi, dan tidak mungkin lagi untuk mencapainya.

Jadi, daripada bingung sendirian, kita bingung bersama-sama saja.

Apa sih kebahagiaan?

Inspirasi:

  • Stumbling on Happiness: Daniel Gilbert
  • Hope is F*cked: Mark Manson.

Ignoramus Harmonius

Ignoramus adalah kata dalam bahasa Inggris.

Wow. Jujur, aku mengira itu bukan kata yang nyata, dan hanya slang yang sering digunakan, tetapi… wow.

Salah satu hal terbaik dan termudah untuk mendapatkan perasaan bahagia dan nyaman, adalah dengan mengabaikan sekitar. Iya. Ini hal yang terdengar absurd bagi sebagian orang, mungkin mayoritas pembaca akan merasa, kalau aku mengabaikan hal, aku tidak bakalan…

  • Mendapat hasil atau gambaran yang sempurna sesuai dengan Misal, ruangan ini harus rapih, tiap kali makan harus ada porsi ekstra seandainya ada yang mampir ke rumah.
  • Menjadi orang yang lebih Misal, aku harus focus untuk belajar demi ulangan, dan tidak mungkin aku mengabaikan belajar bukan?
  • Bisa bersenang-bersenang. Misal, Mengabaikan undangan dari temanku untuk ke pesta malam

Dan seterusnya.

Tetapi, kalau ditinjau kembali, dari tiga hal tersebut, ada satu hal yang berhubungan akan semuanya. Semuanya perlu dicapai. Dan seandainya, mereka tidak dicapai, ada perasaan tidak puas, perasaan tidak puas itu muncul juga ke perasaan tidaknyaman, dan jika seseorang tidak nyaman ataupun tidak puas, mereka tidak bahagia.

Kalau kita bisa mengabaikan hal-hal dengan mudah, maka akan semakin mudah baginya untuk merasa puas. Kepuasan bukan kebahagiaan, tetapi, jika seseorang sudah merasa puas, tidak akan ada tekanan lebih lanjut untuk memenuhi kepuasan yang dicari.

Langkah termudah untuk mendekati (mendekati, bukan mencapai) kebahagiaan adalah dengan mengabaikan hal-hal di sekitar anda.

But WAIT!

Sayangnya, kita tinggal di dunia manusia modern. Kita tidak bisa sekedar mengabaikan hal-hal untuk merasa puas dengan diri kita. Itu hal yang bodoh, dan sejujurnya, aku tidak yakin itu sehat untuk dilakukan.

Hal yang lucu adalah, walaupun tidak ada indeks kebahagiaan resmi di Korea Utara, warga-warga Korut merasa bahagia dengan keadaan mereka. Ini adalah tanda yang nyata bahwa materi tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan dan jika seseorang mengabaikan kondisi mereka, dan tidak pernah perlu merasa iri dengan orang lain, mereka akan bahagia.

Coba pikirkan apa yang mungkin terjadi jika misalnya… Warga Korut diberitahu oleh pemimpin mereka (harus oleh pemimpin mereka, perkataan orang lain tidak akan mempan) bahwa di dunia luar ada sekumpulan orang yang mendapat makanan lebih banyak dari mereka, dan boleh mendesain rumah mereka sendiri, dan ya, hal-hal bagus dari dunia kapitalis lah… Mereka mungkin merasa iri. Iri tersebut tumbuh menjadi perasaan tidak puas, dan ketidakpuasan itu menjadi sumber hilangnya kebahagiaan.

Kita tidak bisa 100% mengabaikan diri di dunia luar, maksudku, kita memang masihtinggal di dunia yang cukup kapitalis (bukan dalam sudut pandang serakah, tetapi sudut pandang nilai benda) dan seandainya dunia ini beralih ke sosialisme, baru kita bisa beralih sedikit ke gaya mengabaikan ini.

Sampai dunia ini menjadi sosialis (aku tidak mendukungnya, tolong dicatat, tapi namanya juga what-if) kita masih harus punya perhatian dan dorongan untuk melakukan hal. Tekanan memang diperlukan.

Kepuasan

Kita tidak akan pernah puas selama kita masih merasa iri, dan selama kita masih mencari sesuatu. Seperti kusebut di atas, selama kita tidak merasa puas (dan perlu diingat, perasaan puas adalah sebuah konsep juga, yang mendasari konsep lain yang kita kenal sebagai kebahagiaan) kita tidak akan merasa bahagia.

Sebuah riset untuk memperjelas hal. Sejumlah peserta eksperimen diminta memilih berlibur di salah satu antara dua tempat, dengan harga yang sama. Pulau Avg, dan Pulau Xtreme. Pulau Avg ini memiliki makanan yang enak, kamar yang enak, pantai yang enak, serta pelayanan yang ramah. Pulau Xtreme pada sisi lain, memiliki makanan yang tidak enak, kamar yang sangat enak, pantai yang sangat enak, dan pelayanan yang tidak ramah.

Logikanya, jika peserta diminta memilih lalu menolak satu pulau, mereka akan memilih pulau yang berbeda bukan? Mereka akan memilih pulau Xtreme, dan pada pertanyaan berikutnya, mereka akan menolak pulau Avg, atau sebaliknya, tergantung preferensi.

Konyolnya, hampir semua orang memilih pulau Xtreme, lalu menolaknya kembali.

Manusia mencari hal yang bagus ketika memilih, dan mencari hal yang buruk ketika menolak. Kita akan selalu menemukan hal-hal untuk mengurangi kepuasan kita.

Jadi, apa solusinya? Selain mengabaikan hal-hal kecil? Jangan memilih… 😀

Mencari Makna

Oh boy.

Kebahagiaan merupakan hal yang berhubungan dengan makna. Ada yang tidak setuju? Silahkan komentar.

Jadi, apakah ini akan terdengar aneh, kalau misalnya aku mengingatkan pembaca bahwa semakin banyak perasaan sakit atau perasaan merana yang seseorang rasakan, semakin banyak makna yang dibutuhkan untuk mencari alasan yang mulia dan rasional untuk menghilangkan perasaan merana tersebut.

Faktanya, manusia adalah makhluk sosial, dan juga makhluk yang menciptakan konsep fana untuk membuat diri kita senang.

Makna yang tidak tentu itu dicari dan ditemukan, dan dicari, dan ditemukan kembali, selama kita masih membutuhkannya.

Terkadang, makna dicari bukan sebagai hal atau sumber kebahagiaan itu sendiri, tetapi makna dicari untuk membuat hal-hal di sekitar kita tampak rasional, dan sesudah hal tersebut tampak rasional, tidak perlu lagi penjelasan, karena ketika hal sudah tampak rasional, kita merasa puas, dan dari perasaan puas itu, kita mampu mendapat sebagian dari kebahagiaan.

Huh, pusing gak tuh?

Intinya, manusia mencari alasan untuk membuat hal-hal yang mereka lakukan bermakna, dan masuk akal. Mereka… eh, maaf, KITA akan mencari alasan untuk mendapatkan jawaban dan logika yang rasional sebagai sebuah bentuk dari… placebo untuk mendapatkan kenyamanan akan hal buruk yang sedang dirasakan.

Lain kali anda sedang kesulitan melakukan sesuatu, carilah alasan besar untuk mendasari perasaan buruk anda.

Unik? Gak

Bagaimana kalau aku ingatkan anda bahwa anda merasa terlalu unik.

Apakah anda seperti kebanyakan orang? Jawabannya, tidak. Tentunya, orang macam apa yang akan merasa puas kalau mereka seperti kebanyakan orang.

Apakah kemampuan anda pada bidang di mana anda bekerja lebih baik daripada rata-rata? Jawabannya, adalah iya. Anda merasa seperti itu.

Lucunya. Kalau kebanyakan orang merasa bahwa mereka unik, dan mereka merasa lebih baik dari rata-rata. Tidak ada yang namanya rata-rata.

Sedangkan, kalau kita mengambilnya dari sudut pandang statistik, manusia rata-rata ada lebih banyak dari manusia luar biasa. Peluang anda menjadi manusia luar biasa lebih kecil dari peluang anda menjadi manusia rata-rata.

Tetapi, rasionalisasi manusia kembali menjadi faktor. Manusia berbohong pada dirinya sendiri untuk menghindari percakapan canggung dengan subconscious mereka.

Dan untuk kali ini. Kebohongan tersebut aku terima. Kita tidak akan pernah merasa puas kalau kita menyadari bahwa kita tidak unik.

Self Help Series: Tujuan

Self Help Series: Tujuan

Introspeksi adalah sebuah masalah unik.

Beberapa orang terlahir, atau terlatih dengan kepercayaan diri yang membuat mereka bisa melakukan hal seperti ini dengan sederhana, dan tanpa merasa gugup sedikit pun. Tetapi, juga ada sangat banyak orang yang tidak bisa melakukan hal sederhana ini.

Bagi mereka yang penasaran, aku memberikan sebuah petunjuk sederhana, dan tidak bersifat ala motivator yang (maaf) naif, secara ekstrim, mungkin aku akan menganggap teknik ini sebagai teknik yang counter-intuitive, dan terkesan ironis jika dilihat dari satu sudut pandang.

Introspeksi, siapkah anda untuk berintrospeksi ria sesudah membaca artikel ini?

Jadi, mari baca artikel ini sebelum anda dimakan oleh nafsu dan melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas.

Kausalitas

Untuk apa seseorang butuh Tujuan?

Dasarnya, dunia ini penuh dengan kausalitas (kausalitas = bahasa snob/nerd/filsuf untuk sebab akibat). Dunia ekonomi dipenuhi dengan sebab akibat, dunia kimia pada dasarnya juga dipenuhi dengan sebab akibat, dan hampir semua ilmu, atau tindakan, sangat berhubungan dengan sebab akibat. Jadi, sebelum kita lanjut, mari bertanya… Apa tujuan dari tujuan?

Tujuan adalah sebab anda melakukan sesuatu. Misalnya, gua mau kerja di kantor yang gajinya tinggi. Oke, dalam tindakan itu (yang berupa sebuah akibat) anda memiliki sebab. Sebab tersebut, ternyata, Karena gua kepengen punya Pajero.

Ya, sejujurnya aku tidak memberikan jempol pada orang di atas, tetapi, jika itu tujuan hidup anda, maka saya akan menghargainya, sebagaimana tiap makhluk hidup perlu dihargai.

Sebelum anda melakukan tindakan, anda harus memiliki sebab akibat terlebih dahulu. Percaya padaku, keputusan buruk tidak akan terjadi jika anda berpikir lebih tenang dan bertanya kepada diri anda sendiri. Jika anda punya sebab, anda bisa lebih mendalami hal yang anda lakukan, karena anda berharap bahwa sebab anda akan tercapai, sehingga, lebih banyak usaha akan ada keluarkan untuk memenuhi sebab tersebut.

Akibat tiap sebab akan berujung sama. Akibatnya adalah kesadaran diri. Ini akan aku bahas lebih lanjut di bawah.

Bagaimana anda mendapat sebab? Bertanya. Semudah itukah?

HA! (awalnya aku ingin mengisi ini dengan meme, tetapi aku tidak menemukan sebab yang cukup substantif)

Sayangnya, rasa takut untuk bertanya sering dialami semua orang. Bagi beberapa orang, mereka takut menyuarakan atau menanyakan pendapat mereka bagi orang lain. Bagi beberapa orang lain, mereka tidak ingin bertanya pada diri mereka sendiri.

Mereka merasa takut untuk mengetahui tujuan mereka sendiri.

Rasa Takut.

Catatan: EHEM. Maaf, aku akan terdengar seperti motivator naif dalam paragraf pembuka bagian dari artikel ini.

Courage is not the absence of fear. But the ability to act in spite of it.

-Mark Twain

Jadi, anda takut? Bagus. Rasakan perasaan itu. Lawan. Masalah anda akan beres. Perasaan takut bukan hal yang bisa dihindari, karena takut sendiri, akan selalu mengejar anda. Pada suatu titik, anda harus mau untuk berdiri dan berusaha melawan perasaan tersebut.

Nah, sekarang masuk ke opini yang semi sarkastis dan kontra intuisi milikku.

Coba tanyakan pada diri anda pertanyaan “Kenapa?” sebelum anda bertindak. Pertanyaan “Kenapa?” adalah pertanyaan yang penting jika anda ingin melakukan hal-hal yang lebih produktif, bermanfaat, dan juga untuk mengurangi efek samping. Terkadang, pertanyaan sederhana ini juga bisa membuahkan solusi yang anda cari-cari. “Kenapa?” hanyalah sebuah sebab, dan jawabannya adalah akibat. Jika kita berbicara dari sudut pandang kausalitas, tanyakan “Kenapa?” pada diri anda sendiri dan siap-siap untuk menertawakan beberapa hal-hal bodoh yang anda lakukan.

Anda akan tertawa karena anda tidak punya alasan yang baik, atau alasan anda sebenarnya konyol. Atau, kasus paling parah. Anda melakukan sesuatu dan meluangkan energi, serta sumber daya, untuk melakukan sesuatu yang tidak memiliki tujuan.

Sebagai contoh…

  • Kenapa saya makan di kafe ini? Harga menunya begitu mahal, makanannya gak enak, pelayanannya buruk… Kenapa sih?
  • Oh iya, saya diajak oleh teman-teman saya! Mungkin saya memilih untuk makan di sini karena saya ingin bertemu teman-teman saya.
  • Tetapi, Kenapa saya mau saja diajak teman-teman saya ke sini? Bukannya ada banyak opsi lain untuk makan.
  • Oh iya, saya mau diajak teman-teman saya ke sini karena mereka menyukai tempat ini.
  • Kenapa mereka menyukai tempat ini? Ini mungkin opsi yang buruk!
  • *terdengar suara cekrik, dan layar HP menunjukkan sebuah sosmed* OH! Karena itu!

Dari sini, kita bisa menemukan faktor. Faktor-faktor, sekali lagi, menyumbang ke sebab dalam dunia yang dipenuhi dalam kausalitas.

Faktor utama dari kasus di atas adalah karena tempat ini enak dilihat dan dapat menjadi sumbangan ke akun sosial media. Bagi beberapa orang, ini tentunya sudah biasa, namun, untuk beberapa orang yang ingin melakukan kontemplasi ala Nietzsche, mereka akan menyadari… seberapa bodohnya mereka.

Jika anda ingin mencari tujuan anda, anda harus menjadi seseorang yang cukup berani untuk menanyakan hal-hal yang anda rasa benar, pada diri anda sendiri.

Selamat menikmati mengobrol dengan batin anda, dan siap-siap merasa konyol.

Nilai-nilai

Kausalitas sendiri memiliki 3 bagian.

  • Sebab: Tujuan anda melakukan sesuatu, atau sebuah kejadian yang mengakibatkan kejadian lain.
  • Tindakan: Bagi beberapa filsuf tindakan adalah sebab, tapi karena akusedang membahas filsafat dan psikologi introspeksi, sebab masih belum nyata sampai adanya tindakan.
  • Akibat: Sekali lagi, akibat juga bisa dilihat sebagai tindakan bagi filsuf post-modern. Namun, karena ini filsafat dan psikologi introspeksi, akibat hanya ada satu jenis yang nyata. Yaitu, lebih mendalami.

Masalahnya, terkadang kita merasa takut (sekali lagi) pada apa yang orang lain akan pikirkan mengenai kita, atau berkata pada kita jika ada sebab, atau tindakan yang tidak cocok dengan pemikiran orang tersebut.

Jika anda merasa seperti itu, coba anda tanyakan lagi pada diri anda sendiri. “Kenapa?” saya peduli dengan pikiran orang lain? Sesudah anda bertanya, coba bandingkan tiap faktor tersebut dengan nilai-nilai yang anda sudah miliki, dan apakah itu sesuai? Apakah anda memiliki nilai yang baik? Mengapa anda memiliki nilai seperti itu?

Coba tanyakan lagi, dan sesuaikan diri anda dengan nilai-nilai yang anda miliki.

Kesimpulan

Obat kontemplasi adalah obat yang mampu bekerja dengan efektif, tapi dengan sedikit kelemahan berupa beberapa efek samping.

Efek samping dari melakukan metode introspeksi ini bisa berupa:

  • Berkontemplasi terlalu banyak dan melupakan bahwa anda punya pekerjaan yang seharusnya anda lakukan, tetapi karena anda terlalu banyak menanyakan mengapa saya melakukan ini… ups 🙁 .
  • Tertawa terbahak-bahak dan merasa bahwa anda sangat bodoh karena melakukan hal-hal tanpa tujuan jelas.
  • Menyadari bahwa anda salah. (ini bisa dilihat sebagai efek baik melainkan efek samping)
  • Menyalahkan orang-orang di sekitar anda karena tidak mengingatkan anda bahwa sebenarnya anda punya banyak kesalahan.
  • Diberikan tatapan “really?” oleh orang-orang di sekitar anda karena mereka mengingatkan tetapi anda tidak ingin mendengar sampai anda mendengar suara batin anda sendiri.
  • Mencoba mengoreksi orang lain dan mengajak mereka untuk berkontemplasi juga, namun dengan cara memaksa.
  • Berdebat selama berjam-jam dengan pasangan berusaha memperebutkan, siapa yang memberikan ide baik untuk berkontemplasi begitu lama dan menemukan semua kesalahan dalam berkomunikasi, dan dalam mengerjakan hal-hal.
  • Dan terakhir. Menyadari bahwa anda berdebat berjam-jam hanya untuk ingat anda berkontemplasi karena artikel ini.

Harap gunakan obat kontemplasi ini dengan bijak dan tidak terlalu sering menggunakannya.

Tambahan

Mohon maaf karena blog ini hampir berdebu, akan segera diperbaiki. 😉

Self-Help Series: Pilihan

Self-Help Series: Pilihan

Pernahkah anda merasa terjebak dalam situasi yang anda optimis, apapun yang anda lakukan, atau anda pilih, opsi itu akan berujung pada ketidakbahagiaan? Sesudah belajar filsafat Tiongkok selama 6 minggu, kurasa ini waktu yang tepat untuk menuliskannya.

Apakah kebahagiaan itu, bagaimana cara mendapatkannya? Terkadang kita tidak diberi pilihan untuk mendapatkan rasa bahagia, dan karena konsep kebahagiaan akan cukup erat dengan filsafat, kurasa tidak akan terlalu banyak psikologi abad ke 21 pada artikel ini. Psikologi yang dimasukkan berada pada era-era Freud.

Semoga artikel ini bisa anda baca dengan perasaan bahagia!

The Ice Cream Parlor

Ya, mari kita masuk ke hal paling sederhana tapi membingungkan. Memilih rasa es krim di sebuah toko.

Ambil sebuah anggapan bahwa anda tidak punya pilihan sedikit pun sebelum anda memilih toko, dan ada dua toko yang lokasinya tepat bersebelahan, menggunakan AC, dan juga memiliki tempat duduk yang sama-sama nyaman. Hari sedang panas, jadi es krim yang dikonsumsi dalam ruangan ber-AC akan tentunya membuat kita merasa lebih nyaman.

Nah, dari kedua toko ini, ada sebuah toko yang menyajikan 4 pilihan rasa, yaitu Coklat, Vanilla, Stroberi, dan yang terakhir, Cookies and Cream (dalam teori original, tidak ada Cookies and Cream, jadi aku berasumsi siapapun yang membuat teori ini tidak punya selera es krim yang baik).

Toko yang lain, menyajikan… Coklat, Vanilla, Stroberi, Cookies and Cream, Rocky Road, Butter Pecan, Bubble Gum, Blueberry, Choco Chip, Mint Choco Chip, Matcha, dan Salted Caramel. 12 rasa secara total, berarti ada 3 kali lipat jumlah pilihan rasa kebanding yang sebelumnya.

Kira-kira, pilihan toko pertama, atau kedua yang akan membuatmu merasa lebih bahagia sebelum memesan, ketika memakan, dan sesudah memesan?

Jawabannya ternyata lebih sulit dari yang orang-orang kira-kira.

Mungkin orang akan beranggapan, “lebih banyak opsi, lebih banyak kemungkinan kita memilih rasa yang kita sukai alhasil lebih banyak juga orang-orang yang lebih happy karena mereka memilih rasa yang mereka memang sukai.” Padahal, kemungkinan kita memilih rasa yang tidak enak berkali-kali lipat lebih besar kebanding memilih rasa yang enak…

Orang-orang akan merasa lebih bahagia jika ia tidak harus memilih dari opsi yang begitu banyak. Kurang lebih, ini cara seseorang akan berpikir untuk memesan, saat memakan, dan sesudah memesan… Yang anda akan dengar sedikit ironis, tapi nyata.

  • Sebelum memesan, orang-orang akan jauh lebih bingung ketika perlu melihat dan memilih dari 12 opsi ketimbang 4. Ini mungkin hal yang paling obvious ketimbang fase-fase sesudahnya, tapi tetap layak disebutkan karena banyak orang pergi ke suatu restoran tanpa rencana sedikitpun ingin memesan menu apa. Nyatanya, meski benda yang dipesan sudah sama persis, yaitu Es krim, orang-orang tetap kebingungan memesan es krim apa…
    • Oh, iya, jangan lupa jenis orang yang pergi keluar rumah tanpa tahu ingin ke restoran apa… Itu juga sangat mungkin menjadi korban keplin-plan-an
  • Saat memakan es krim, ia akan berpikir… “Oh iya, tau gitu aku mesen es krim rasa … aja ya… es krim ini kayanya kalah enak sama yang itu.” Dengan jumlah opsi yang lebih dikit, flavor palette dan opsi yang bisa kita ambil jauh lebih sedikit. Coba ingat fakta bahwa, biasanya orang yang memesan es krim coklat tidak akan memesan es krim stroberi, kecuali memang lagi ngidam, dan juga pemesan cookies and cream tidak akan memesan es krim vanilla, karena pada dasarnya mereka sama persis dengan perbedaan adanya cookie yang sangat enak itu..
    • Dengan opsi yang banyak, penyesalan akan lebih mungkin terjadi, terutama jika citarasa dua es krim mirip dan kita memesan yang tidak sesuai dengan selera milik kita.
  • Sesudah memesan, jika opsinya memang banyak, kebanyakan orang akan langsung merencanakan kapan berikutnya ia akan kesana atau setidaknya, mereka akan merencanakan apa yang akan mereka pesan berikutnya. Jika opsi yang disediakan memang sedikit, orang-orang sudah tahu akan memesan apa berikutnya anda datang ke tukang es krim tersebut.
    • Tentunya, ini berarti penjualan di tukang es krim yang banyak opsi berpotensi lebih tinggi, tetapi, ia harus membayar dengan rasa kebingungan dan kebahagiaan si pembeli. Oh, ini alasan sampel disediakan, agar mereka makin bingung dan makin penasaran.

Jadi, ingat baik-baik…  Es Krim minimarket > Es krim toko.

Itu berlaku jika anda mengejar rasa kepuasan tentunya…

Memilih

Jadi, sesudah sebuah riset menyatakan bahwa pada dasarnya seorang manusia akan merasa lebih puas ketika tidak ada banyak pilihan, ini tidak mengurangi fakta bahwa ketika kita diminta untuk memilih sesuatu, kita tetap akan memilih, baik itu karena kewajiban, atau itu karena keinginan.

Jadi, bagaimana cara kita menghindari pilihan yang buruk?

Ada dua cara untuk “menghindari” pilihan yang buruk, namun sayangnya, kedua cara tersebut tidak benar-benar bisa membuat kita bersih dari segala pilihan buruk. Karena tentunya, tanpa ada pilihan baik, tidak akan ada pilihan buruk, tanpa ada pilihan buruk, takkan ada pilihan baik, dan kita bisa merasakan kebahagiaan jika kita menikmati pilihan yang kita buat, dan menikmati proses pemilihan tersebut.

Ya, kedua metode ini bukan metode yang “inspiratif” atau yang “motivasional” seperti yang orang Indonesia biasanya inginkan. Tetapi jika buku Self Help dengan judul “Subtle art of not giving a F*** ” telah masuk Indonesia, kurasa ini momen yang tepat untuk benar-benar menulis buku self help yang orang Indonesia butuhkan. (Bukan seperti buku Chairul Tanjung pada umumnya)

Menerima

Cara menghindari pilihan yang buruk nomor satu adalah dengan menerima, dan tentunya, menyadari bahwa pilihan yang kita buat memang sebuah pilihan yang buruk.

Maksudku, kita selalu bisa mengantisipasi satu dan lain hal, tetapi pada akhirnya ketika kita mendapatkan sebuah pilihan buruk, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menerimanya, ketika masalahnya tidak terlalu besar, apalagi untuk masalah kecil.

Kita punya energi yang sangat terbatas untuk digunakan, dan juga, kita tidak bisa peduli pada tiap hal, baik itu hal yang besar, atau yang kecil. Jadi, kemampuan untuk memilih hal apa yang bisa kita anggap “Masa Bodoh” adalah hal yang sangat penting.

Kita tidak ingin membuang energi kita dan ruang untuk berpikir kita hanya karena kita telah memilih restoran yang salah untuk makan siang. Ada restoran baik dan ada restoran buruk, terkadang kita perlu bersabar dan ingat untuk jangan pergi ke restoran tersebut lagi, karena, misalnya, porsinya kecil.

Intinya, pada sebuah tindakan yang bisa dibilang hampir irelevan dengan keputusan hidup, jika itu memang tidak penting, jangan anggap masalah sepele seperti itu sebagai tindakan yang krusial dan marah-marah ketika ada hal yang tidak ideal, atau tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika kita mau menerima bahwa kita membuat kesalahan atau membuat pilihan yang salah, akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan diri kita sendiri. Memaafkan diri kita sendiri jauh lebih penting ketika ingin merasa tenang kebanding dengan berusaha terlalu keras untuk meminta maaf pada orang lain.

Bersabar

Kamu tidak akan pernah ingin membuat keputusan yang penting dan yang tidak bisa diterima atau disepelekan dengan terburu-buru.

Jika pilihan yang akan kamu lakukan memang benar-benar penting, maka bersabarlah. Lebih cepat bukan berarti lebih baik…

Pikirkan semua bentuk sumber daya yang kamu rela untuk habiskan dan gunakan demi memecahkan satu masalah, atau membuat satu keputusan… Jika sumber daya dan waktu tersebut memang terasa pantas untuk digunakan dan dimanfaatkan demi keputusan tersebut… (misalnya, membuang 10 hari libur demi mencari lahan untuk rumah) lakukan.

Jika tidak… Ya… Jangan.

Keputusan yang buruk bisa dihindari, tetapi seandainya ia akan terjadi, anda akan merasa lebih baik jika anda tidak menggunakan terlalu banyak energi anda dari yang anda seharusnya gunakan. Jika anda sudah rela dan sudah menggunakan energi lebih banyak dari seharusnya… Pastikan keputusan yang anda buat memang benar 😉

Kesimpulan

Kebahagiaan bukan hasil, melainkan proses. Keinginan untuk menerima dan menikmati proses suatu hal, baik itu proses memilih benda, atau proses menikmati suatu makanan, suatu sofa… itulah rasa puas yang nyata.

Bukan berusaha pamer ke orang bahwa anda mendapatkan benda itu, melainkan menikmati benda yang anda dapatkan…

Jangan salah gunakan rasa puas yang anda berhak nikmati untuk rasa puas ketika mendapat pengakuan dari orang lain.

War of Art.

War of Art.

Sebagian besar orang seharusnya tahu mengenai buku karya tulis Sun Tzu dengan judul Art of War…

Aku disini bukan untuk menceritakan mengenai seni peperangan, melainkan cara beberapa orang pada zamannya filsuf Tiongkok, berkompetisi dengan menggunakan seni. Kompetisi dari seni yang dilakukan orang-orang pada Tiongkok jaman baheula cukup menarik.

Sebenarnya ini adalah kilas balik kuliah kedua kelas Filsafat Unpar. 🙂

Temanya kali ini adalah Filsafat Tiongkok dan Filsafat India.

So, let us begin!

Pemateri: Greysia Susilo, seorang dosen dari Universitas Multimedia Nusantara, yang secara mayoritas mempelajari seni Tiongkok secara otodidak sebagai hobi.

Themes

Ibu Greysia Susilo membelah cara seseorang mempersepsi seni ke tiga jenis sudut pandang, secara bentuk, secara konten, dan secara konteks.

Bentuk dibedakan bukan hanya dari bentuk karya seni (yang hampir pasti berbeda), tetapi juga dari bahan, keahlian yang dibutuhkan, dan dari hasil akhir. Menurutku, diantara ketiga topik lain, ini yang paling tidak menarik. Ya, mungkin karena aku tidak begitu suka dengan pembahasan seni secara teknis, tetapi lebih ke secara penggunaan.

Konten, jika kita berbicara konten, biasanya akan merujuk ke apa yang seniman itu ingin tunjukkan ke orang lain. Topik konten ini juga bisa merujuk ke apa yang orang-orang tangkap dari seniman tersebut. Sebagai contoh, ada dua lukisan yang menceritakan tentang pelajaran musik yang dilukis oleh Henri Matisse memiliki konten yang sama, mengenai pelajaran musik. Konteks kedua hal tersebut cukup berbeda tetapi.

Jika konten membahas apa yang orang-orang lihat dan apa yang seniman ingin tunjukkan dari suatu karya, konteks lebih merujuk ke fungsi, dan juga tujuan dibuatnya karya itu. Sebagai contoh, dua patung bisa saja memiliki bentuk dan konten yang sama, tetapi yang satu ditujukan sebagai karya untuk memuaskan diri sendiri, dan yang lain ditujukan untuk membuat orang lain merasa senang… Perbedaan konteks sederhana seperti ini bisa merubah karya dan proses secara keseluruhan.

Hari ini, aku akan lebih membahas konteks, sedikit banyak konten, dan hampir tidak ada pembahasan mengenai bentuk… Cheerios.

The Social War

Jadi, ketika kita ingin membahas mengenai “perang” kita perlu sedikit definisikan perang sendiri. Perang disini bisa kita anggap sebagai suatu bentuk berkompetisi dan berlomba-lomba untuk satu sama lain, dan seperti yang kalian akan lihat, ini akan menjadi suatu kilas balik untuk status zaman sekarang…

Kerajaan

Membahas konten dari yang dilakukan oleh orang-orang golongan pertama akan tidak jauh dari kemewahan. Ku yakin ada sebagian pembaca yang mungkin sudah pernah menonton Crazy Rich Asians… Aku berada disini untuk mengingatkan bahwa orang dengan darah Tionghoa yang amat-amat kaya sudah berada sejak zaman dahulu…

Para petinggi kerajaan sering sekali berlomba-lomba untuk menyewa ahli (sebenarnya istilah yang Ibu Greysia Susilo gunakan adalah tukang, tapi kayanya kurang wah gitu… Silahkan panggil sesuka pembaca) paling hip untuk membuat suatu hal yang tidak diperlukan, tapi hanya bertujuan untuk membuang uang, karena mereka punya terlalu banyak…

Biasanya hal tidak diperlukan ini cukup bagus, dan mewah. Tidak jarang ada sebuah vas yang dihiasi dengan batu-batu giok, mungkin pilar lebay ala sosialita, dan lukisan yang wah, wah, dan wah!

Tujuan para bangsawan melakukan ini? Ketika ada bangsawan lain datang berkunjung, mereka bisa melihat banyak sekali hal-hal mewah yang tersedia, dan mendapatkan pengakuan!

Berbicara mengenai konteks dari suatu karya, tidak akan jauh hasilnya dari…

  1. Buang-buang duit
  2. Tidak punya kerjaan
  3. Pamer

Mungkin ketiganya bisa terjadi di saat yang sama, dan aku sejujurnya tidak terkejut mengingat seberapa kaya raya raja dan bangsawan Tiongkok pada zaman tersebut.

Nah, kalau kita ingin memberi konten, kita perlu melihat kedua belah pihak yang ikut terlibat dalam proses pengerjaan suatu karya seni…

  1. Tukang/Ahli
  2. Klien Bangsawan/Raja

Tukang/Ahli

Ahli akan melakukan apapun yang klien mereka inginkan karena mereka memang dibayar untuk pekerjaan tersebut. Seorang ahli tidak boleh memberikan terlalu banyak improvisasi, (kalaupun diizinkan) dan akan bekerja seratus persen atas perintah klien.

Yang seorang ahli boleh lakukan dalam memberikan improvisasi hanyalah memberikan cap tanda bahwa dia-lah yang membuat karya tersebut. Selain itu, hampir tidak ada bentuk apapun yang boleh diubah oleh Ahli-ahli tersebut.

Karya mereka hampir tidak pernah berubah, karena pada akhirnya orang-orang menginginkan hal yang sama, hanya mungkin perbedaannya, jika seorang bangsawan memiliki vas dengan 25 batu giok, maka mentri akan ingin vas dengan 50 batu giok, dan sang raja ingin vas ukuran dua kali lipat lebih besar dengan 100 batu giok. Pada dasarnya, karya mereka cenderung repetitif, karena hanya bertujuan mengisi keinginan para bangsawan yang menginginkan sesuatu yang teman mereka sudah punya.

Pada bentuk dasarnya, template (ahli-ahli ini terdengar seperti tukang print 😀 ) yang mereka berikan sudah memiliki tujuan masing-masing, ada yang bertujuan membuat orang merasa tersentuh, ada yang bertujuan membuat orang merasa takjub, dan ada juga yang bertujuan membuat orang lain merasa iri. Silahkan tebak yang mana yang paling laku, karena aku punya tebakan, dan itu hanya opini pribadi.

Ya, jadi, jika seorang ahli hanya menyediakan template, dan seluruh bahan serta hal dikendalikan oleh klien, maka… Apa yang klien inginkan?

Klien sang Ahli

Haha…

Seperti aku sudah sebut beberapa kali, tujuan klien ini melakukan sesuatu adalah mengisi kehampaan, dan kebosanan karena mereka tidak perlu melakukan apa-apa… (Andaikan kalian lupa, banyak rakyat tiongkok kelaparan, tapi ya, siapa yang peduli) Jadi, sesudah beres perang dan mengambil koleksi selir, dan uang… Mereka kembali berperang dan berlomba-lomba berusaha pamer ke orang lain…

Kira-kira dari tujuan itu, apa jenis karya yang mereka inginkan?

Oh iya, mereka ingin membuat orang lain merasa iri dan terpukau oleh koleksi milik mereka. Ini berarti sebenarnya yang mereka inginkan adalah yang orang lain inginkan bukan?

Kalau kamu tak bisa membuat benda lebih mewah, maka buat benda lebih banyak… Tapi tetap, hanya bangsawan yang cukup kaya yang bisa menciptakan wow factor paling tinggi untuk bangsawan lain…

Ada pihak ketiga yang ikut mengendalikan tren benda… Yaitu, sesama bangsawan… Namun, yang non-klien…

Teman-teman…

Rumput tetangga selalu lebih hijau… Kecuali jika kamu merasa puas tentunya. Sayangnya, dengan begitu banyak karya seni yang dimanfaatkan untuk pamer, tidak akan ada rasa puas. Begitu kamu memiliki patung batu giok seberat 4 kilogram, tetanggamu yang sesama menteri, memiliki patung batu giok dengan berat 5 kilogram. Jadi, kamu langsung mencari hal lain, seperti misalnya, meja dari emas, dihiasi (sekali lagi) batu giok.

Jadi, jika kita berbicara pengusaha terkaya di Tiongkok, kita harus melihat para ahli yang cukup pintar untuk meninggalkan brand miliknya di tiap rumah bangsawan, dan langsung mendapat pesanan sesudah pesanan terakhir miliknya beres…

Hampir bisa dipastikan, banyak sekali uang kerajaan turun ke para ahli ini, karena begitu mereka memenangkan sebuah perang dan mengambil “hadiah” yang banyak, hampir pasti uang yang mereka hasilkan digunakan untuk ini…

Seni Kerajaan @ Masa Kini

Mari kita ibaratkan rumah dimana seni kerajaan ini sebagai… panggung. Zaman dahulu, yang memiliki akses untuk unjuk gigi di panggung mereka masing-masing hanyalah raja dan bangsawan. Banyak sekali orang rela membuang cukup banyak sumber daya mereka hanya untuk memamerkan sesuatu. Kabar baiknya, zaman dahulu kala, istana yang bagus dibutuhkan untuk politik…

Istana yang bagus adalah tanda kerajaan yang makmur dan aman. Jika istanamu tidak bagus ketika raja negeri sebrang sedang berkunjung… Maka kunjungan berikutnya dari sang raja adalah sebuah serangan.

Sekarang, mari kita ibaratkan akun sosmed sebagai panggung 😛 . Sekarang, hampir semua orang memiliki akses, sumber daya, dan hak untuk memamerkan sesuatu yang mereka inginkan demi sebuah Like atau Pengikut, layaknya raja memamerkan perhiasan, serta furnitur di rumahnya untuk mendapat perhatian politikus lain…

Seni Kerajaan di Tiongkok pada zaman dahulu telah memberikan sisa-sisa dari peradabannya untuk membuang sumber daya (sumber daya bukan hanya uang, bisa waktu, bisa energi) demi mendapat tanda cap diakui oleh teman-temannya.

Sastra…

Mari kutunjukkan kebalikan dari Seni Kerajaan dengan Seni Sastrawan sekarang juga…

Seni Kerajaan menginginkan hiasan yang sebanyak-banyak-banyak mungkin… dan Seni Sastrawan menginginkan keindahan maksimal, dengan usaha paling minimal. Menurut beberapa sastrawan yang bergelut di dunia seni Tiongkok, semakin banyak kamu berusaha untuk memperindah sesuatu hanya akan berujung ke kamu mengambil makna dari seni tersebut.

Sastrawan di Tiongkok juga harus “berperang” dengan sesama calon sastrawan ketika ingin mengambil sebuah ujian, dan masuk ke kelas buffer antara rakyat dengan bangsawan ini.

Jika kamu ingin menjadi seorang bangsawan tapi tidak memiliki sedikitpun darah biru yang mengalir di tubuhmu, maka kamu perlu perkuat tanganmu, dan siap untuk melukis, memainkan alat musik, dan menulis sampai kamu mabuk.

Ibu Greysia bercerita bahwa jika kamu ingin menjadi seorang bangsawan yang naik status dari rakyat jelata, kurang lebih ini yang perlu kamu lakukan…

  • Berlatih dan berusahalah meminta sebuah guru untuk mengajarkanmu ilmu miliknya
  • Sesudah berlatih cukup sulit… Kamu masih harus membuktikan dirimu di mata sang guru agar guru tersebut merasa bahwa kamu bisa dikirimkan olehnya untuk melewati ujian.
    • Seseorang yang berbakat akan butuh waktu sekitar 2 minggu untuk menggambar satu huruf dengan teknik sempurna, dan usaha paling minim.
    • Untuk melukis pemandangan, yang merupakan sebagian dari ujian… Kamu harus melukis setiap aspek (misalnya, matahari, gunung, pohon, sungai, dll) secara terpisah, baru menyatukannya. Tiap aspek membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu untuk dipelajari secara maksimum.
  • Jika guru sudah memilihmu, masih ada ujian sulit untuk kamu lewati. Hanya beberapa yang memiliki nilai terbaik akan dipilih sebagai sastrawan (atau istilahnya, The Mandarin. Jadi sepertinya musuh Iron Man kita ini sebenarnya seorang sastrawan Tiongkok).
    • Andaikan kamu tidak lulus, kamu bisa berlatih pada gurumu dan menjadi guru lain, menggantikan sang guru ketika dia sudah tiada. (ini yang Kong Fu Zi lakukan. Atau Confucius jika kamu bingung)
    • Perlu diketahui bahwa Confucius, Mencius, dan semua latinisasi dari nama-nama china ini adalah guru, dan bukan bangsawan. Mereka lebih tenar di zaman sekarang atas ajaran milik mereka.
  • Kamu hanya sekitar 2-3 langkah lagi hingga bisa menjadi seorang bangsawan. Untuk melakukan itu, diantara puluhan sastrawan lainnya, kamu harus menjadi satu dari 3 sastrawan terbaik, dan HORE! Kamu lolos

Jika kita ingin menanyakan perang-nya dimana… Tidak perlu ditanyakan sepertinya.

Kriteria Seni

Number 1: Jangan pernah overkill (kata ini belum ada di bahasa indonesia) sedikit pun. Hanya sepeser saja kamu lebih memberikan suatu guratan, maka kamu sudah gagal.

Number 2: Jangan pernah lakukan kegiatan melukis APALAGI menulis jika kamu sedang merasa kesal, ini akan merubah hasil, dan membuatmu melupakan nomor 1.

Number 3: Jangan pernah menggambarkan manusia dalam sebuah pemandangan. Alam akan sama-sama saja baik ada kita atau tidak, dan kita akan menjadi dekorasi yang tidak perlu. (Heidegger terinspirasi dari filsafat Tiongkok, dan sesudah mengetahui ini… aku tak terkejut)

Number 4: Jangan pernah biarkan godaan dunia materi menghalangi keabstrakan segala sesuatu.

Number 5: Jangan pernah berusaha mengimitasi bentuk alam sendiri. Tangkap alam dalam pikiranmu, dan lukislah interpretasimu yang paling abstrak.

Waw! Ini sangat-sangat sederhana. Incredible. Ini seni Tiongkok paling kompleks, dan hasilnya pun cenderung paling bagus. Selain itu, Bu Greysia memang menyatakan bahwa beberapa hal ini membuat seni Tiongkok ini sulit untuk dilakukan tanpa adanya seorang guru.

Hasil Seni

  • Cenderung amat abstrak
  • Sangat sederhana dan efisien
    • Orang Tiongkok yang tidak terlalu kaya tidak ingin membuang terlalu banyak sumber daya, dan segala sesuatu jadi amat sangat efisien..
  • Seni amat sangat presisi dan indah

Seluruh effort yang dituangkan untuk tidak berlebihan dalam berkarya menciptakan seni yang presisi seperti hasil pekerjaan seorang robot, namun indah dan memiliki sentuhan manusia juga di dalamnya.

Seperti anda bisa lihat, ini adalah lukisan yang dibuat oleh sastrawan Tiongkok. Warnanya sangat minimum, bentuk tidak dilebih-;ebihkan, dan tidak ada guratan tidak perlu. Perbedaannya memang ada penggunaan manusia di sini, namun ukuran mereka dibuat amat sangat kecil, karena kali ini, mereka memang membuat perbedaan, dan bukan hanya sebuah hiasan.

Seni Sastrawan @ Masa Kini

Seperti yang kalian bisa tampak… Karir seseorang terbentuk berdasarkan ujian. Setidaknya pada zaman dahulu kala ini… Ujiannya bersifat kualitatif.

Ujian kali ini bersifat kuantitatif, dan seharusnya untuk parameter saja, bukan sebagai jaminan kesuksesan. (tidak ada satupun sastrawan yang melarat… terutama mengingat bangsawan mungkin dibunuh saat perang, sastrawan tidak diburu ketika sedang terjadi peperangan)

Seni Rakyat

Ini akan aku jelaskan dengan efisiensi…

Jika seni sastrawan mempromosikan abstraksi, dan seni kerajaan mempromosikan hiasan, seni rakyat mempromosikan energi yang dibuat dalam sebuah karya.

Seni Rakyat dimanfaatkan sebagai bentuk lain kamera pada zamannya, dan biasanya menggambarkan suatu momen kebahagiaan, seperti pernikahan.

Seni Rakyat memiliki sedikit hiasan, dan dilakukan dengan happy agar ada aura positif yang orang-orang tangkap dari lukisan tersebut.

Kesimpulan

Sepertinya sampai hari ini saja, suara gema dari Tiongkok zaman baheula ini masih terdengar…

Banyak orang berusaha memanfaatkan panggung yang mereka gunakan demi suatu pengakuan dari teman-temannya… Ini sedikit mengecewakan. Lagak bangsawan seperti ini sudah terlalu sering tercipta…

Mari kita buat diri kita lebih baik tiap harinya, dan jangan terlalu mencari pengakuan… Merasa bahagialah dengan yang kita punya.

Only The Wisest and The Stupidest Of Man Do Not Try To Change. -Confucius

Sampai lain waktu!

The Individuality Disappearance

The Individuality Disappearance

Kepada Yth. Ilmu Sains

Aku terkadang sungguh-sungguh bingung kepadamu, dan orang-orang yang terus berusaha memajukan ilmu milikmu itu. Kurasa sekarang sebagian besar dunia sudah cukup gila, tapi ada apa denganmu selalu merusak hal-hal yang (katanya) mulia. Aku sungguh tak tahu.

Selamat datang di abad ke 22, siapa itu? Oh, dia adalah seorang manusia lain yang ikut berkontribusi ke pusaran data yang begitu besar ini, ia membiarkan dirinya terekspos demi memajukan tuhan agama yang begitu kuat dan maju secara teknologi… Dataisme.

Inspirasi:

  • Homo Deus, ditulis oleh Yuval Noah Harari
    • Aku merasa baik Sapiens dan Homo Deus bisa dijadikan satu tulisan per dua bab. Mungkin Homo Deus satu tulisan per bab malah.

Apa yang terjadi pada individualitas?

Harari menyindir orang-orang yang pada zaman dahulu menanyakan alasan Turis Jepang membawa kamera kemana-mana dan memfoto apapun yang mereka lihat. Sekarang, orang-orang melakukan ini juga, agar mereka bisa memberitahu orang-orang mereka sedang berlibur, dan mengecek lagi HP mereka, setiap 3 menit, untuk melihat siapa yang sudah memberikan Like.

Ketika manusia pada umumnya sedang berada di pantai, mereka akan memfoto pantai, dan diri mereka di pantai. Ketika mereka melihat gajah? Apa mungkin mereka mendatangi si Gajah dan bilang “Selamat pagi makhluk megah!” Gak, da mereka akan mengambil foto.

Individualitas kita tidak ada. Kita melakukan hal hanya karena banyak orang melakukan hal yang sama.

Ketika ateisme dan agnostikme muncul pada awal abad ke 20, orang-orang memuja Humanisme. Baik itu dalam bentuk Liberal, atau Nasionalis.

(Intermezzo)

  • Liberal Humanisme percaya bahwa semua manusia memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau, dan setiap keputusan mereka mulia. Semua manusia sama berharganya di mata Liberal Humanis.
  • Nasionalis Humanisme percaya bahwa manusia memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau, dan keputusan yang mereka buat bisa membuat perbedaan. Ada manusia yang menghasilkan lebih banyak untuk negara, dan ada yang tidak. Manusia yang menghasilkan lebih banyak (baik itu nama baik, uang, atau, hanya pengaruh) otomatis lebih berharga dari pegawai biasa.

Dari kuatnya humanisme pada abad ke 20… Agama mulai menjadi suatu bentuk reaksi ke suatu tindakan.

Ada teknologi keluar? Oh, ulama, rabbi, dan juga pastur akan mencari hubungan teknologi itu, lalu memberikan justifikasi mengenai teknologi itu dan hubungannya dengan ayat suci. Agama telah dibuat dan dipercayai secara positif untuk mencari nilai positif serta negatif suatu teknologi.

Sebagai contoh yang tidak terlalu sensitif mengenai ilmu vs nilai-nilai… Lihatlah Video Assistant Referee (yang kupercaya sebagai alasan Kroasia kalah pas final, tapi, err, bukan salah mereka juga)

Teknologi seperti VAR seharusnya sudah ada (dan bisa) diimplementasikan pada piala dunia 2014, namun baru diterapkan pada 2018. Teknologi itu, pada akhirnya tetap saja hanya membandingkan pilihan si wasit, atau nilai-nilai seorang manusia, dengan bantuan teknologi.

Itulah alasan agama masih kuat pada abad ke 21, nilai-nilai yang ada pada suatu agama bisa digunakan untuk menilai pantas tidak-nya menggunakan suatu teknologi.

Pada akhir abad ke 20, hingga awal abad ke 21, tindakan seorang manusia dibentuk dari teknologi yang ia miliki, nilai-nilai yang ia miliki, serta juga, tentunya, individualitas miliknya.

Seseorang bisa saja mengambil hasil riset dengan suatu teknologi maju, seperti misalnya, ya, beberapa perangkat pada film Kingsman. Ia berhak melakukan itu, ia memiliki teknologi untuk melakukan itu, dan nilai-nilai miliknya menyatakan itu hal yang tak apa jika kita mengambil suatu barang yang masih dirahasiakan.

Seseorang juga berhak membeli saham apapun yang mereka inginkan. Mereka bisa, mereka berhak, dan nilai milik mereka mengatakan itu takpapa untuk membeli saham.

Kita hampir saja berada di dunia yang penuh dan lengkap dengan individualitas yang unik. Mungkin ada saja yang memiliki individualitas lebih kuat dari yang lain, tetapi semua orang punya level individualitas yang berbeda, dan ada cukup banyak pribadi unik…

Namun, hmm seiring berjalannya waktu, humanisme (bentuk paling mulia dan paling dihormati mengenai individualisme) mulai tertelan… Dan itu semua karena sains.

The Dividuality

Jadi, individual berarti suatu entitas yang tidak dapat dibagi menjadi dua… Namun, nyatanya, sains telah merendahkan definisi individualisme itu sendiri.

Sains membuktikan bahwa individu tidak ada. Tidak ada SATU entitas yang berperan dalam mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan. Kita butuh entitas kedua untuk mendorong dan mempersepsi tindakan tersebut… Karena ternyata, kesadaran pada otak kiri dan otak kanan kita berbeda jauh.

Sebelah otak kita berusaha membandingkan apa yang sedang terjadi dengan apa yang kita telah ketahui, atau apa yang kita inginkan. Ini diketahui dengan The Interpreting Self. Sedangkan, sebelah otak kita yang lain memastikan apa yang sedang terjadi ini dialami dengan betul, dan masuk secara empirik dalam otak kita. Belah otak ini diketahui dengan The Experiencing Self.

Ilmuwan telah menemukan cara untuk mengisolasi dan memisahkan kedua belah otak (oh, metode ini juga dipakai untuk Truth Serum dan juga pengendalian dan/atau pencucian otak ya…) untuk “Riset”. Ini sedikit menyeramkan sejujurnya.

Jadi, ilmuwan yang melakukan riset ini menunjukkan sebuah foto tas yang sama dengan pemiliknya yang sedang dipisahkan kedua belah kesadarannya ini… Ketika gambar ini ditunjukkan pada Experiencing Mind, subjek langsung saja bercerita tentang tas tersebut, seperti harganya, warnanya, mereknya, ada rusak di sebelah mana saja, dan lain-lain.

Tetapi, sampai gambar tersebut ditunjukkan ke Interpreting Mind, pemilik tas (dan subjek eksperimen) tidak menyadari bahwa tas tersebut miliknya. Untuk memperaneh, ketika Interpreting Mind sedang menerima informasi, cerocosan miliknya malahan membandingkan tas tersebut (yang sekarang telah ia sadari sebagai tas miliknya) dengan tas yang ia inginkan. Subjek mengkhayal terlalu parah hingga ia melupakan detil utamanya.

Ketika disatukan lagi, baru semua detil ia cerna dengan betul. Ia juga menyatakan bahwa ia menginginkan tas tersebut diganti dengan tas baru, ia menyatakan warna, tempat pembelian, dan kedua belah fakta.

Nyatanya, orang normal adalah orang yang memiliki keseimbangan antara Otak Kiri dan Otak Kanan ini. Ada beberapa orang dari ratusan subjek yang dites, tidak mampu berpikir dengan sistematis, dan membiarkan sebelah sisi yang terlalu kuat membunuh sisi lain. Jika ada sebelah sisi lain yang mati, ia hanya akan hidup lagi ketika sedang sangat kuat.

Aku takkan masuk terlalu dalam ke eksperimen ini… Namun intinya, otak kiri dan otak kanan kita membentuk dua bagian kepribadian kita. Yang mengkhayal dan bermimpi, serta yang berpikir dan menerima. Ini sudah sedikit mematikan fakta bahwa kita punya Free Will dan bebas bertindak… Ini dihasilkan dari diri kita yang tidak bisa memutuskan kapan ingin berpikir dengan logis, atau dengan khayalan…

Lalu, sebenarnya, dari mana kita bisa memutuskan kalau hari ini aku ingin melukis dengan khayalan, dan esok hari aku ingin bermain puzzle dengan logika?

Ternyata, kita juga telah memiliki sebuah pola yang sudah diprogram dari sananya, yang menentukan apa yang kita akan lakukan pada beberapa jam sebelum kita ingin melakukan hal tersebut. Ada beberapa kimia yang menyalakan listrik di otak kita, dan kimia tersebut menyulut rasa kita untuk bertindak dan melakukan sesuatu.

Karena zat-zat kimia itu muncul dalam hitungan menit (sampai jam malah) sebelum kita bertindak atau bahkan berpikir untuk bertindak… Nyatanya, kita tak punya kebebasan bertindak sama sekali.

Yeay! Untuk apa berusaha melakukan sesuatu kalau pada akhirnya kita disuruh oleh zat kimia untuk melakukan itu?

The Birth of Dataism

Jadi, dari manakah lahirnya kepercayaan baru ini? Kepercayaan pada data alih-alih kemuliaannya seorang individu? Kepercayaan pada algoritma, alih-alih kepada Tuhan?

Riset di abad ke 21 yang membahas kesadaran telah mengambil dan membunuh sesuatu yang sakral, lalu ia telanjangi dan tunjukkan ke pihak umum dalam bentuk hina. Dulunya kita percaya bahwa kita bebas untuk melakukan apa yang kita inginkan, sekarang ternyata, itu hanya sebatas unsur kimia yang mengatur tindakkan kita.

Dataisme telah menjelek-jelekkan alasan kita melakukan sesuatu, dan menyatakan apa yang tadinya merupakan Free Will, sebagai suatu rumus yang hanya berupa beberapa garis data dan dapat diatur dan dibaca kapanpun kita mau.

Ini adalah beberapa contoh dataisme telah merusak keindahannya seorang Manusia…

What’s That New Post on IG?

Sosial Media menyimpan data, dan semua data yang kita kirimkan ke sana telah dimiliki oleh perusahaan yang memiliki sosial media tersebut. Semua post yang kita buat, mereka ketahui.

Mereka juga berusaha menebak akun apa lagi yang kita akan ingin coba untuk gunakan di masa depan nanti. Kita juga seringkali percaya mengenai sugesti akun baru untuk difollow yang diberikan Instagram.

Hmm, ironis sekali. Kita percaya apa yang sebuah algoritma katakan.

Pada suatu titik, mungkin hanya akan ada kelas di Instagram…

  • Follow akun Artis
  • Follow akun Chef
  • Follow akun Model
  • Follow akun Politikus

dan seterusnya…

Waze, perlu belokkah aku?

Kita percaya pada Waze atau Google Maps?

Sekarang, banyak orang menggunakan Waze dan mengikuti apapun yang mereka katakan.

Data pergerakkan kita mereka perhatikan, serta juga mereka gunakan untuk database live mereka agar kita juga bisa membantu semua orang dalam mengikuti rute tercepat dan teraman untuk pulang.

Algoritma yang mereka gunakan menemukan rute apa yang kita akan atau ingin lewati nanti… Akhirnya, mungkin mereka sedang (atau mungkin sudah malahan) berpikir untuk memperbarui lagi algoritma tersebut. Misalnya, mereka tahu kita ingin melewati rute terlama ketika hari Rabu, mereka juga mungkin tahu kita ingin segera sampai rumah pada hari Senin, agar kita tidak melewatkan episode terbaru dari 9-1-1. Kemungkinannya, tiada batas!

Tentunya dengan resiko kita melakukan apa yang algoritma (yang hampir semua orang gunakan) katakan.

Privacy? Naaaah!

Google memiliki beberapa jam yang memonitor detak jantung, dan akan sangat mungkin jika mereka akan menjual detak jantung seseorang yang berpotensi memiliki penyakit… umm, Difteri misalnya!

Dengan data yang mereka miliki sekarang, juga mungkin untuk Google melakukan sesuatu seperti menyimpan DNA seluruh anggota keluargamu, lalu mengecek potensi tiap orang terkena penyakit Alzheimer, diabetes, dan juga macam-macam penyakit lainnya.

Resikonya, ya… Untuk mendapat bantuan, kita perlu membayarkan bantuan tersebut, serta tentunya memberikan DNA, dan mungkin catatan serta riwayat medis kita dan seluruh keluarga kita.

That’s it

Oke, iya, itu saja… namun… Bagaimana ini semua bisa melahirkan Dataisme? Sebuah kepercayaan (jika ini bukan agama) baru yang bisa saja menggantikan agama-agama kuat lainnya pada abad ke 22?

Dataisme dasarnya lahir dari kepercayaan seseorang yang tidak mau melihat seni dalam suatu hal. Biasanya orang yang merupakan seorang datais percaya bahwa sebuah musik, sebagaimanapun indahnya musik tersebut, hanyalah terdiri dari beberapa setelan frekuensi yang diatur dan dimainkan pada jeda detik yang spesifik.

Seorang datais juga percaya bahwa pikiran kita hanyalah sebatas kimia yang menyala dan merubah cara kita berubah serta berpikir. Ia tidak ingin melihat alasan kita berpikir, dan juga tidak ingin melihat mengapa kita berpikir seperti itu. Seorang datais lebih tertarik pada kimia yang membuat kita berpikir seperti itu, alih-alih pemikirannya.

Datais juga tentunya tidak peduli mengenai manusia yang berpikir secara sakral, sama seperti kita tidak peduli pada cara seekor Ayam berpikir (sebenarnya ada saja yang peduli, tapi mayoritas orang tidak).

Datais hanya menganggap kita lebih baik dari hewan karena kita mampu memproses data lebih baik daripada hewan, dan juga kita bisa memproses data lebih cepat dan lebih banyak dari hewan.

Dataisme menganut data, dan percaya bahwa akan ada suatu titik dimana dunia ini hanyalah berisi data dan data dan data. Tidak perlu ada manusia untuk berada dalam data tersebut, karena untuk apa kita punya manusia, jika kita punya superhuman yang memiliki chip komputer di dalam otaknya?

Datais menginginkan dunia ini menjadi begitu mentah, begitu abstrak, dan mereka menginginkan entitas yang kompeten dalam membuat data, menghitung data, serta memproses data.

Mereka tidak keberatan jika mereka mati, dan mereka malah hanyut dalam kuatnya badai data nanti, karena bagi mereka, data seperti tuhan. Kemampuan untuk diberitahu sebuah algoritma apa yang perlu dilakukan bagimu nanti lebih penting dari kemampuan untuk berkreasi sendiri.

Aduh, ini jujur begitu menakutkan… Kurasa ini adalah modern day cult yang benar-benar mungkin bisa memanggil setan milik mereka untuk menguasai bumi ini…

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini sangat sederhana…

Hargai individualitas anda, coba berpikir dulu alasan anda ingin melakukan sesuatu, dan jangan gunakan suatu mesin sebagai suatu peramal atau dukun.

Pikirkanlah alasan tersebut dengan detil, apa sebenarnya alasan kamu ingin melakukan ini? Apa itu karena sahabatmu melakukannya? Atau karena kamu ingin saja? Apa itu karena kamu disuruh oleh orang tuamu? Atau dari dirimu sendiri?

Kita masih punya kesempatan untuk kabur dari tsunami data yang akan datang begitu muncul AI dan Data Flood nanti… Manfaatkanlah kesempatan tersebut.

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Judulnya mungkin membingungkan. Tetapi, serius. 90% orang tidak menganggap kertas sebagai suatu hal yang menakjubkan. It’s paper! For god’s sake, it’s paper! Mau diapain lagi?

Sebelum kamu melakukan suatu tindakan bodoh, dan memutuskan untuk bilang bahwa kertas hanyalah kertas… Coba baca artikel ini, http://dikakipelangi.com/paper-it-is-far-more-complicated-than-you-think-it-is/

Dan juga sebelum aku menyebutkan sesuatu yang konyol… Jadi begini, di artikel itu ada yang disebut Kertas Dawang, dan sejujurnya kukira kertas Dawang itu benar-benar ada. Ternyata, Dawang = Daluang. Tetapi karena di acara sebelumnya, Teh Lisa berbicara dalam logat U.S. nya dan tanpa bantuan teks, hanya verbal, Daluang terdengar seperti Dawang.

Ini membuat aku bingung karena umm… Aku berusaha googling Dawang Paper dan aku tidak menemukan sedikitpun. Awalnya kukira memang Dawang itu tidak didokumentasikan dengan benar, karena memang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di pulau Jawa. Ketika bertemu lagi dengan Teh Lisa disini, saat melakukan presentasi, ternyata terbacanya Daluang bukan Dawang. Tetapi aku masih mendengar Dawang, setidaknya aku tahu ejaan yang benar-nya sekarang. 🙂

Basa basi, basa basi, mari masuk!

Bumi dan Kertas

Acara ini dilaksanakan tanggal 7 Juli, di Museum Geologi. Dari jam 14.00-16.00. Namun, tentunya, seperti biasa, di Indonesia, acara jam 14.00 berarti 14.30. Iya, jika senang baca tulisanku, terima kasih, dan iya, aku sudah move on dari keterlambatan ini.

Pemateri pertama kita adalah salah satu mantan Kepala Museum Geologi, Ir. Sinung Baskoro.

Materi dari Pak Sinung berusaha menyambungkan Bumi (dalam kasus ini, Bumi berarti Geologi), Kertas, serta Museum. Jadi, sebenarnya apa hubungannya?

Tentunya, kertas adalah media universal setiap orang dari zaman dahulu, jadi Pak Sinung membuka sejarah kertas, bersamaan dengan sejarah bumi.

Bumi kita sendiri berumur 4.500.000.000 tahun. Kehidupan baru muncul 3.800.000.000 tahun yang lalu. Tentunya kehidupan ini muncul masih dalam bentuk sederhana. Hingga nanti ia menjadi sesuatu yang lebih kompleks, dan makin kompleks, dan makin kompleks, sampai akhirnya kita, sebagai manusia (pada waktu itu disebut Hominid) lahir 160.000 tahun yang lalu.

Kertas sendiri baru saja muncul pada abad ke 2 di China, diciptakan oleh Tsai Lun. Jadi jika kita ingin membahas sejarah Bumi serta sejarah kertas, mereka tidak lahir bersamaan, mereka tidak ada bersamaan, dan juga, bumi bisa saja hidup tanpa kertas, sehingga hubungan Bumi dan Kertas terkesan cukup jauh.

Lalu, Pak Sinung menambahkan, bahwa pada ujungnya, kertas tercipta dari sesuatu yang ada di Bumi. Ini berarti bahwa hubungan antara Bumi dan Kertas adalah hubungan yang komensalis, Bumi tidak dirugikan oleh kertas, sedangkan kertas bisa tercipta karena adanya Bumi.

Tetapi, masih banyak hal yang belum jelas disini… Apakah Bumi, Museum, dan Kertas memperlukan satu sama lain?

Jadi, sesudah menjelaskan dengan kilat jenis-jenis Museum, dan juga perubahan bumi, Pak Sinung menyatukan ketiga hal tersebut, dengan cukup efektif serta efisien.

Bumi ini bisa memiliki peradaban dari kertas, semua hal bisa dicatat dengan mudah, ditunjukkan dengan mudah, dan dijelaskan dengan mudah. (Komentar dari pikiranku, ini alasan Gilgamesh sangat susah dicari E-book nya berarti…) Museum sendiri juga bisa ada karena adanya kertas yang mempermudah tercatatnya ilmu.

Hubungan antara Bumi, Kertas dan Museum berada di fakta bahwa Kertas tidak akan ada jika tidak ada Bumi, tetapi jika tidak ada Kertas, Bumi tidak akan seperti sekarang…

Kurasa, sejujurnya, Pak Sinung sedikit off point dari membahas kertas pada 5-6 slide terakhir. Opini personalku, menurutku Pak Sinung akan lebih baik presentasinya, dan juga akan lebih “conclude” jika tidak memasukkan 6 slide terakhir yang membahas Menghemat Kertas.

Padahal, jika aku mau jujur, sesudah pernah bertemu dengan Professor Bambang Sugiharto, dan juga Teteh Lisa Miles sebelum acara ini, kertas yang dimaksud disini adalah kertas seni, bukan kertas yang kita gunakan sehari-hari.

Pak Sinung membahas bahwa kita harus menghemat kertas, dan juga cara-caranya. Tetapi, kertas yang dimaksud disini adalah kertas yang kita pakai sehari-hari, seperti kertas HVS. Nah, masalahnya berada di situ… Tentunya tidak perlu dibahas cara menghemat kertas, karena jika pembaca memang tertarik, bisa baca saja di Google, tetapi, kesan yang diberikan dari slide-slide menghemat kertas ini membuat seluruh presentasinya yang bagus, dan juga membuka sesi seminar ini dengan spot on… terkesan melenceng.

Amat disayangkan.

Ya sudah, untungnya kita langsung kembali ke presentasi berikutnya, dari Teteh Lisa Miles!

Art Paper

Buat yang baca artikelku tentang kertas, jika gak percaya bahwa Teh Lisa ini orang U.S. tetapi dipanggil Teteh karena beliau di tanah Sunda sekarang.

Jadi, presentasi Teh Lisa ini menjelaskan tentang gaya pembuatan kertas, mulai dari yang dilakukan orang Barat, dan juga yang dilakukan orang Timur.

Di daerah Barat, seperti Amerika, dan juga Eropa (dengan pengecualian suku maya dan aztec) ada banyak teknik untuk mencetak kertas. Tetapi semuanya dimulai dengan sebuah selulosa tanaman. Selulosa biasanya dicetak dalam sebuah tray, lalu yang membedakan tekstur kertas di daerah Amerika dan Eropa ini adalah apa yang dilakukan ke tray berisi kertas yang dicetak itu (serta tentunya, jenis tanaman yang dipakai).

Ada saat dimana pulp kertas dicelupkan dalam air, dikubur di bawah tanah, langsung dicopot sesudah kering, ada yang dimasukkan sumur kecil, lalu dicari dan dikumpulkan ulang dengan tray yang sama, dan masih banyak lagi.

Tetapi, Teh Lisa ke Indonesia untuk riset mengenai Paper Mulberry, yang digunakan untuk membuat Daluang. Mulberry? Nah, di Indonesia, serta suku Maya, dan (jika aku tidak salah) Mesir, kertas tidak dibuat dengan cetakan, ataupun tray. Melainkan, dengan cara digulung, dibuka gulungannya dalam kondisi basah, serta digebuk. (beat it like it owes you money)

Untuk suku Maya, sekarang tersisa hanya 4 buku yang menggunakan kertas Amate orisinil,3 berada di Museum, 1 berada di situs sisa-sisa budaya Maya… Buku mereka dibakar orang Spanyol… dan di Indonesia, Daluang digunakan untuk ayat-ayat Quran, dan juga untuk seni, ataupun baju pernikahan. Ya, buat orang-orang yang berusaha membuat Baju kertas keren, kamu telat sekitar 1600++ tahun.

Cara membuatnya cukup membuat tangan lelah. Karena kamu perlu mencari pohon, membuang kulit kayunya, sehingga hanya tersisa bagian dalamnya yang lembut. Lalu, kamu copot batang pohon tersebut, dan rendam kulit bagian dalam pohon tersebut sekitar… 60-90 menit dalam air tawar.

Sesudah direndam, kertas bisa dirobek, dan mungkin istilah yang tepat “diblender” sampai tersisa pulp. Sesudah pulp sedikit kering, dan hanya mushy, atau lembab, bisa digebuk dengan sebuah palu bertekstur sampai lembut, dan rata. Dari situ, biarkan sampai kering, dan yap, kertasmu sudah jadi!

Ini alasan dalam beberapa kampung ada Quran yang memiliki halaman kertas yang bertekstur. Kemungkinan Quran itu dibuat dalam Daluang.

Nah, jadi sekarang siapa yang masih membuat Daluang? Selain seniman muda seperti Teh Lisa ini, juga ada seniman tua, seperti beberapa Mama yang ditunjukkan fotonya oleh Teh Lisa. Bahkan, ada banyak Mama (berumur 75-85) yang menggunakan palu yang khusus diukir beberapa generasi yang lalu, diturunkan terus menerus ke anaknya.

Hasil dari kertas dengan palu khusus tersebut? Media seni menjadi seni. Tentunya, meski sudah mulai lanjut usia, Mama-mama ini tetap niat untuk melanjutkan seni kertas Daluang dengan tangan. Keren banget deh!

Fun fact, sebelum Teh Lisa mengakhiri presentasinya…

Teh Lisa menemukan sebuah cetakan palu yang turun temurun, dengan simbol yang kebetulan sama persis dengan sebuah batu di Mayan Temple yang ia pernah temukan… Tentunya ini bisa dijelaskan dengan teori Carl Jung yang bilang bahwa secara psikologis, setiap manusia punya bentuk stereotipe mengenai fragmen imajinasinya sendiri. Dan dalam budaya apapun, stereotipe itu sama…

(Hahaha… Bukan, pasti itu Alien!)

Nah, Teh Lisa mengakhiri presentasinya dengan menunjukkan beberapa hasil karya, serta dengan bilang bahwa jika ingin cek beberapa hasil karyanya yang lain, bisa buka dutchesspress.com

Beneran, buka situs itu, bagus-bagus karyanya!

Seni Kertas

Professor Setiawan Sabana, atau juga dikenal dengan Professor Wawan, telah membuat banyak sekali seni dengan kertas.

Aku tidak bisa menjelaskan semua karya Professor Wawan, karena banyak yang begitu abstrak sehingga, menurutku, itu butuh kontemplasi serta inspirasi yang… keren deh.

Dari beberapa karya-nya, Professor Wawan menunjukkan beberapa seni abstrak mengenai apa yang dipandangnya dari manusia tanpa kertas, dan juga beberapa buku buta, yang ia anggap sebagai simbol sebuah genre literatur. Seperti misalnya, ada buku tentang kriminalisasi, dan ia menggambarkannya dengan buku keras, disertai dengan beberapa kawat besi disekitarnya.

Selain itu, Pak Wawan juga memberikan cukup banyak ilustrasi perjalanannya dari kecil, hingga sekarang. Semua karya seni, baik itu gambaran, hasil seni abstrak kertas, sketsa, ataupun craft… Ia tunjukkan.

Professor Wawan juga bercerita bahwa sepanjang setengah hidupnya, ia selalu melihat kertas sebagai bahan untuk dirubah menjadi karya seni yang lain. Seperti kertas koran yang ia tidak baca lagi? Ia jadikan sebagai seni simbolisasi sampah. Kertas yang terbakar? Ia jadikan sebagai simbolisasi jamur di balok kayu yang tua dan lembab.

Karena abstraknya beberapa karya, aku tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang karya Professor Wawan, tetapi, jika kamu mendapat kesempatan untuk melihatnya… lihatlah dari banyak sisi. Kamu akan menemukan sebuah lekukan kecil yang baru, perbedaan warna, perbedaan tekstur, dan lain-lain.

Tetapi, yang sedikit sedih dari presentasi Professor Wawan ini adalah… UMM… Ia mengingat perjalanannya mengenai kertas, dan pada akhir presentasi, ia sempat duduk dan menangis terlebih dahulu. Baru ia bercerita sedikit mengenai kertas dan hubungannya yang spesial dengan mendiang istrinya. Om di sebelahku, yang sepertinya Teman seperjalanan Professor Wawan berbisik padaku, “Maaf yak de, temen saya ini emang emosional. Tiap presentasi selalu dia bawa lap buat menghapus air mata.” dan aku menceletuk “Persis Ibu saya berarti…” Om tersebut tertawa.

Sesudah Professor berhenti menangis, ia menghapus air matanya dengan cepat, dan mengakhiri presentasi. (Oh, dan aku lupa bilang, Professor Wawan menjadi mentor untuk Teh Lisa selama beliau di Bandung,  Professor seorang dosen di FSRD)

Kesimpulan

Jika melihat nama di atas, tampaknya acara masih banyak, tapi tenang, nanti kita kesitu kok.

Jadi begini… Professor Bambang Sugiharto (kusering bertemu beliau karena selama aku mendapat kuliah filsafat, Professor Bambang mengisi materi 6 dari 12 kali) khusus berada disini untuk menyimpulkan ketiga presentasi ini dari sudut pandang filsafat secara singkat.

Berdasarkan sudut pandang filsafat, menurut Professor Bambang, manusia, layaknya kertas, menjadi makin abstrak seiring dengan majunya umur dan pengalaman di suatu bidang. Penjelasan pertama yang sangat teknis, disusul oleh Miss Miles yang menjelaskan teknisnya proses pembuatan suatu seni, sampai ke Professor Setiawan yang sangat-sangat abstrak…

Kertas disini juga menghubungkan manusia bukan hanya dari perspektif media saja, tetapi juga dari cara kita memandang kertas tersebut. Memandang dan mengubah sesuatu yang kosong (ku tidak yakin, tapi kurasa ini pun intended) menjadi sesuatu yang artistik itu sulit. Sehingga, menurut Prof Bambang… Kertas adalah simbolisasi perspektif manusia yang sempurna, dan paling sulit dipandang secara abstrak, dan artistik.

Sudah, sampai situ saja hari ini…

Bonus…

Musikalisasi kertas… Penasaran bagaimana kertas dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai musik? Jadi, Syarif Maulana (seniman di Bandung) dan dua temannya membawa kita ke sebuah penampilan instrumental (disertai gerakan teatrikal dari Professor Wawan) mengenai kertas.

Kertas disini juga digunakan sebagai alat yang menambah sound effect via robekan, dan juga dengan mesin tik sebagai pengganti akustik, dan sound effect bel dari mesin tik sebagai pengganti (komplemen sebenarnya) dari instrumen string.

Instrumen yang digunakan adalah, Biola, Gitar, Mesin Tik, Kertas Bekas, serta Paper Clip…

Selain itu!

Jika ingin melihat karya Teh Lisa Miles dan Professor Setiawan secara langsung… (dan juga kertas dari peradaban tua) bisa datang ke Museum Geologi!

Ada pameran sementara yang sangat bagus, mengenai kertas, dan juga beberapa karya Professor Wawan… Aku hanya mengambil tiga foto, biar pembaca yang benar-benar kepo, untuk langsung datang saja kesana!

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan 😉

Selamat menikmati!

Minggu kedua! Maaf, minggu lalu aku semacam reboot ulang otak, jadi kurang produktif. Minggu ini, aku akan langsung membahas buku yang sudah aku baca dalam 1 minggu kemarin. Sejujurnya kedua buku ini akan membuatmu berpikir berkali-kali mengenai hal yang sederhana.

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 28 Mei, sampai Minggu 3 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Tetapi jika ditambahkan, kedua buku itu mencapai 12000 loc, ini berarti bahwa aku sudah menambah sekitar 20% total halaman yang telah dibaca, meski minggu ini aku lebih sibuk dari minggu sebelumnya.

Setiap 20 loc setara dengan satu halaman pada buku dengan ukuran 13X20 CM. Ini kurang lebih berarti bahwa aku membaca sekitar 600 halaman.

Catatan: Satu buku yang aku baca dibaca cepat dengan teknik yang diajarkan oleh Om Adi Wahyu Adji. Om Adi ini merupakan penulis ulasan buku yang pernah membaca satu buku per hari-nya, dan langsung mengulasnya dalam 24 jam. Teknik membaca cepat yang beliau ajarkan pernah disampaikan dan diajarkan juga ke diriku, dan aku sangat senang. Teknik ini membantuku membaca buku yang penuh statistik dalam sejenak saja, dan meski mayoritas angka dan statistiknya lupa… konteksnya masuk kok.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Should We Eat Meat? Karya Vaclav Smil (8500++ loc)
  • Our Last Invention. Karya James Barrat (3500++ loc)

Berikut ulasan singkat serta opini untuk kedua buku tersebut.’

Should We Eat Meat?

Dari judulnya, bisa ditebak ini buku tentang perkarnivoraan. Buku ini netral, dan tidak memberikan kesimpulan apapun. Ia memintamu untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

Buku ini netral.

Tolong ketahui bahwa tidak ada tersirat bahwa buku ini pro, ataupun kontra ke manusia yang berusaha menjadi karnivora, meski posisi mereka tepat berada di atas piramida spesies. Buku ini hanya memberikan banyak sekali fakta dan baik hal positif ataupun negatif dari kita, sebagai manusia yang memakan daging.

Should We Eat Meat tidak memberikan terlalu banyak opini yang bersifat divertif dan membuka hampir segalanya yang perlu diketahui mengenai daging. Tidak ada prasangka

Fakta-fakta yang dibahas disini pun cukup menarik, detil, dan juga membahas dari sangat sangat banyak sudut pandang. Vaclav Smil membahas dari sudut pandang… (nafas dalam)

Catatan, untuk titik berwarna putih berupa fakta+opini, silahkan saring sendiri yang mana merupakan fakta dan yang merupakan opini.

  • Antropologi
    • Manusia mendapatkan budaya dari daging. Banyak suku memiliki ritual khusus untuk memakan daging.
  • Evolusi
    • Manusia hanya evolusi dan memiliki otak sebesar ini karena memakan daging. Jadi jika anda ingin kita berevolusi menjadi mutan, karena anda fanboy X-Men, makan daging yang banyak. Gen-mu akan berevolusi perlahan-lahan
  • Biologi
    • HEHEHE… Baca sendiri bukunya
  • Lingkungan
    • Sapi menghasilkan 50%++ (2011) metana yang merupakan gas rumah kaca di dunia. 25% metana mengakibatkan global warming. Ini berarti bahwa sapi berkontribusi 1/8 bagi pemanasan global
  • Kekejaman kepada hewan
    • Mayoritas peternakan di Amerika tidak menganggap sapi sebagai makhluk hidup dan memperlakukannya semena-mena. Mereka bahkan jarang sekali diberi sinar matahari, makanan yang layak, dan juga banyak lahannya untuk bergerak diambil demi menghemat dana di lahan.
  • Angka kematian
    • Sapi menambah +2% angka kematian muda jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Kemajuan manusia sesudah mengonsumsi daging
    • Lihat Evolusi, Antropologi. Manusia juga maju secara energi, lihat energi dari daging di bawah.
  • Kesehatan
    • Probabilitas ada penyakit atas keracunan dari sapi dibawah 0.01%, tetapi probabilitas terkena penyakit karena terlalu banyak konsumsi lemak, sekitar 18% jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Nutrisi dari daging
    • Daging merah adalah protein dengan zat besi dan protein terpadat di dunia. Untuk sekarang, belum ada alternatif untuk sumber zat besi yang seefisien daging merah terkecuali vitamin. Jamur, yang memiliki zat besi dan protein lumayan banyak saja masih hanya memiliki sekitar 1/4-1/3 zat besi jika dibandingkan dengan sapi.
  • Energi untuk memproses daging
    • Lupa angkanya. Tetapi, jika dibandingkan dengan efisiensi lahan dibandingkan dengan tanaman, daging lebih efisien. Nah, dalam konteks energi, sapi membutuhkan sekitar dua kali lipat perawatan, serta sumber daya dalam memeliharanya.
  • Endorphin dari mengonsumsi daging (alias kesenangan pribadi)
    • HEHEHE… 😉
  • Agama
    • 🙂
  • Sumbangan ke ekonomi
    • Daging dikonsumsi dalam jumlah yang banyak tiap tahunnya. Mengingat dalam proses pertanian juga ada pembelian lahan, pembelian alat, pembelian makanan, peternak, dan lain-lain… Peternakan cukup banyak menyumbang bagi ekonomi beberapa negara. Bukan hanya peternakan, tetapi juga restoran yang mengandalkan steak sebagai menu utama. U.S. sendiri mengkonsumsi 120kg daging per orangnya tiap tahun.

Dan masih banyak lagi. Ingat, buku ini sekitar 500 halaman membahas tentang daging. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi nyatanya sangat-sangat kompleks.

Seperti kusebut, buku ini mayoritas kontennya berupa data, misalnya persentase, statistik, dan faktual, lengkap dengan sumber dan riset untuk memberi penekanan bahwa buku itu dapat diandalkan.

Selain faktual, juga ada sebuah bab yang terbilang imajiner, dimana Vaclav tidak memberikan banyak angka, tetapi lebih ke alternatif ke daging-daging yang memang berbahaya ini.

Vaclav Smil sendiri menulis buku dikarenakan ia benar-benar penasaran kenapa banyak sekali orang pro dan kontra mengenai hal yang dilakukan tiap hari ini. Ia juga tidak menyimpulkan apa-apa, namun jika memang daging seburuk itu, kenapa tidak ada yang membahas secara netral? Perspektifnya benar-benar menarik, bukunya mampu sekali dinikmati, tetapi mungkin jika tidak dibaca cepat akan sedikit memakan waktu.

Catatan: meski membahas daging putih dan merah, aku menggunakan data untuk daging sapi saja, dikarenakan lebih lengkap, serta memang itu alasan aku membaca buku itu.

Baca buku ini jika…

(bold berarti alasan aku membaca buku ini)

  • Ingin menjadi vegetarian, atau mengurangi konsumsi daging
  • Mencari sebanyak-banyaknya alasan untuk mendebat orang bahwa memakan daging itu tidak apa-apa, meski itu merusak lingkungan. Atau sebaliknya tentunya.
  • Mulai menanyakan tentang gaya hidup yang bisa menambah umur planet kita tercinta ini.
  • Mencari metode untuk menambah umur planet kita.
  • Kekeuh tidak mau berhenti memakan daging.
  • Kekeuh bahwa makan daging itu buruk.
  • Mencari sudut pandang baru  untuk hal sederhana.

Sebenarnya buku ini benar-benar kuberikan terlalu banyak spoiler. Tetapi dengan gaya penulisan yang empirik serta faktual seperti ini, sedikit susah untuk mengulas tanpa membocorkan.

Keseluruhan, bukunya bagus, dan akan membuatmu memikirkan tiap suap daging gurih yang kamu makan. (UHUK, BUBI TUH UHUK)

Our Final Invention

Dasarnya, ini buku AI. Dasarnya negatif, tetapi tidak bermaksud menakut-nakuti, hanya untuk membuatmu berpikir lebih banyak sebelum bertindak.

Aku sudah pernah menulis tentang AI dan dampaknya di website ini, tetapi aku jarang menulis dalam konteks teknis, aku lebih banyak menulis dalam konteks filsafat, ataupun evolusi. Jika ingin melihat AI dalam gambaran yang besar, lebih ke proses pemikiran AI itu, serta projek-projek dan program AI itu sendiri, baca saja buku ini.

Buku ini juga membahas sedikit konteks sains teoretikal, filsafat, serta evolusi. Namun tetap, poin utamanya berada di teknologi, dan bagaimana AI bisa saja membunuh kita semua, alias manusia secara spesies. Disini juga dibahas bagaimana kita sebagai manusia sering terjebak dalam dunia ilusi akan bias.

Buku ini teknis, lebih teknis dari artikelku, tetapi tidak seteknis buku tulisan Vaclav Smil tadi. Ia membahas beberapa hal yang sama berkali-kali, dari sudut pandang berbeda.

Banyak juga proyek AI dibahas dalam buku ini, baik yang baru, ataupun yang lama. Mulai dari yang sederhana seperti robot pemain catur, ke Siri, sampai robot untuk menyimpan pikiran dan kesadaran kita, semuanya sedang dikerjakan.

Buku ini juga menunjukkan banyaknya persinggungan filosofi antara programmer dan manusia secara umum. Ada yang sangat pro, ada juga yang sangat kontra. Mirip dengan kasus daging itu. Orang yang netral jarang ditemukan, hanya ada maniak yang pro sampai mati, serta yang kontra banget sampai menolak dan membuat gerakan penolakan.

Aku tidak bisa memberikan terlalu banyak elaborasi, karena sebenarnya yang tidak terlalu melenceng dan memberikan spoiler ke buku itu ada di kedua artikelku di atas.

Baca Buku ini jika…

Sekali lagi, bold berarti alasanku.

  • Penasaran atas kemajuan teknologi
  • Ingin mengetahui tentang AI
  • Takut atau sangat menyukai AI
  • Ingin memadukan teknologi, biologi dan filsafat
  • Mencari sudut pandang baru ke teknologi yang sudah menjadi bagian sehari-hari
  • Ingin mengetahui proses mencapai semacam bentuk keabadian, kekekalan, dan lain-lain.
  • Anda seorang doomsday prepper dan ingin melawan Artificial Intelligence sebagai harapan terakhir manusia.
  • Ingin membayangkan dystopia yang dikendalikan AI

Secara keseluruhan, buku ini super bagus, menarik serta menakutkan. Ia sukses menangkap fakta, opini, dan juga perselisihan antar kedua kubu. Buku ini tidak netral, James Barrat cenderung anti AI, tetapi tidak sepenuhnya memberikan frame dan menghalangi informasi dari kubu yang pro AI.

Baca bukunya! Mungkin kamu merasa takut, ataupun takjub. Tetapi sejujurnya, kedua hal itu tidak jauh beda…

Kesimpulan

Kedua buku ini mirip dalam konteks bahwa, manusia memiliki banyak hal yang sama dalam pikirannya… Baca saja keduanya ya… Kamu akan menemukan benang-benang merah yang saling menyatukan kedua buku ini…

Pembaca akan dibawa untuk berpikir secara mandiri dan menentukan kubunya. Karena nyatanya, menjawab dengan netral sungguh sulit.

Sampai lain waktu!

Menggapai Kekekalan Fisik?

Menggapai Kekekalan Fisik?

The key to immortality is to first live a life worth remembering -Bruce Lee

Berulang kali sejak beberapa belas abad yang lalu manusia mengalami masalah yang cukup parah dari penyakit. Baik itu bakteri, ataupun virus, kami para Homo Sapiens sudah seringkali diserang oleh penyakit. Seiring kemajuan teknologi medis, semakin rendah dan mengecil jumlah angka kematian karena penyakit.

Jika ibaratkan bumi adalah sebuah pabrik dan manusia adalah produk dari pabrik tersebut, seiring semakin banyak peralatan di pabrik itu, semakin sedikit produk rusak atau “terinfeksi” yang akan ada. Tetapi, sejauh ini, semua produk itu hanya bisa tahan untuk 70-90 tahun jika produk itu tidak rusak, mendapat perawatan yang cukup dan benar, serta tidak terhancurkan.

Tetapi, apakah mungkin bagi seorang manusia untuk menggapai keabadian, atau kekekalan itu? Apa yang bisa memperpanjang tanggal kadaluarsa kita?

Jawaban tersebut mungkin ada di bawah… mungkin tidak. Jika tertarik, silahkan baca lebih lanjut!

Jiwa yang kekal?

The soul of a man is Immortal and imperishable. -Plato

Jiwa disini tentunya luwes. Mungkin saja jiwa ini berarti perasaan, seperti cinta, rasa bahagia, ataupun kebencian. Jiwa juga bisa berarti dedikasi ke suatu pekerjaan, atau tindakan. Jiwa juga bisa berarti… kesadaran.

Tentunya jika kita ingin membahas sebuah topik seperti ini yang jelas-jelas empirik, serta nyata… Kita akan perlu terjun ke dunia sains. Apakah ada metode untuk memindahkan jiwa dan kesadaran seseorang? Karena aku sendiri sudah yakin untuk dua definisi pertama, yaitu perasaan dan dedikasi… jawabannya sudah ada.

Tetapi sebelum terjun ke dunia sains, mari kita coret dulu Kesadaran ini, dan pindah ke dua definisi lain. Serta, waktunya untuk mendefinisikan Kekekalan Fisik.

Kekekalan Fisik?

Fisik… Definisi Bahasa Indonesianya tidak sesuai dengan konteks, jadi untuk sekarang, kita gunakan definisi Bahasa Inggris, Physical.

Relating to things perceived through the senses as opposed to the mind; tangible or concrete.

Menghubungkan hal-hal yang dapat dipersepsi melalui indra, bukannya pikiran, baik secara luwes, ataupun konkrit. Ya sebenarnya sih, definisi ini tidak terlalu menjauh dari definisi empirik. Mungkin seorang empirik akan mau masuk ke dunia pikiran, tetapi empirik dapat dimaksudkan ke sesuatu yang NYATA. Dan Physical disini tentunya juga berarti nyata.

Jadi, apa itu kekekalan fisik? (setidaknya untuk artikel ini)

Kekekalan fisik adalah seseorang yang akan tetap nyata, dan masih bisa ditangkap, dilihat, ataupun dirasakan keberadaannya oleh orang lain.

Untuk contoh, mari kita lihat Aristotle. Aristotle adalah seorang filsuf yang lahir sekitar 2500 tahun yang lalu. Sampai sekarang, namanya masih nyata… Ia belum dimakan jaman, dan juga belum menghilang dari muka bumi ini. Logika Aristotelian pun masih dipakai di sains…

Tetapi apakah ini berarti Aristotle itu Kekal? Tidak. Aristotle sudah mati dan tidak ada lagi orang dengan kepribadian ataupun cara berpikir yang pas dengan Aristotle. Dalam konteks kekekalan fisik, Aristotle itu kekal, ia masih bisa dipersepsi, dirasakan, bahkan dipelajari oleh siapapun. Tetapi ia tidak kekal.

Emosi

Hingga maut memisahkan.

Nyatanya, perasaan ini dapat dirasakan, lama sesudah orang sudah meninggal, tetapi… meskipun orang sudah mati, perasaan ini tidak kekal, dan tidak mungkin dirasakan oleh semua orang, akan sampai sebuah titik dimana akhirnya perasaan itu tidak dapat dirasakan siapa-siapa lagi. Sebagai contoh, mari kita ambil film Coco.

Di film itu, ada Cicit dari tokoh utama yang sudah meninggal. Meski tidak dijelaskan dengan detil, cicitnya itu masih diingat oleh, pada dasarnya semua orang, dijelaskan dengan cukup detil via simbolisasi foto yang disimpan… Tetapi, rasa cintanya, tidak dapat dirasakan oleh, misal, tokoh utamanya sendiri yang belum pernah bertemu oleh cicitnya.

Meski dirinya masih ada, dan dapat dipersepsi… perasaan, atau emosi, atau… apapun kata yang ingin digunakan untuk ini, karena aku merasa rada canggung bilang cinta untuk entah berapa kalinya… Kembali ke topik. Meski cicitnya dapat dilihat fotonya, dipelajari ilmunya aura emosi yang ia miliki itu tidak ada.

Bingung?

  • Secara kekekalan, ia masih abadi, tetapi dalam konteks… dedikasi, ilmunya masih terus menerus turun ke generasi dan generasi sesudahnya.
  • Secara kekekalan fisik emosi, ia tidak abadi. Karena perasaan, atau aura miliknya tidak dapat dirasakan lagi.

Dedikasi

Dedikasi. Seseorang dapat sangat berdedikasi, dan sampai meninggalkan sebuah jejak nyata dalam kehidupannya… Jejak ini bisa berupa ilmu, keahlian, atau apapun itu yang berbekas…

Sebagai contoh, dengan film Coco lagi…

Cicitnya Miguel (tokoh utama di film Coco) meninggalkan dan terus menerus menurunkan ilmu membuat sepatu ke generasi dibawahnya. Sampai generasi entah keberapa itu, teknik membuat sepatunya tetapi mirip, dan berdasar dari cicitnya, sebuah dedikasi yang ia kerjakan puluhan  (atau ratusan) tahun yang lalu.

Dengan meninggalkan sesuatu yang empirik, jejaknya dari muka bumi ini nyatanya, tidak pernah hilang… Untuk membuatmu bingung. . . Mengapa sebuah ilmu, atau sebuah perasaan berbeda? Padahal sekilas hal yang sama tampak…

Jadi… mari kita bandingkan perbedaan kecil diantara kedua ini.

  • Dedikasi yang mampu mencapai kekekalan itu berarti suatu dedikasi yang nyata, dan meninggalkan bekas fisik di dunia ini.
  • Emosi di sisi lain, tidak meninggalkan bekas fisik apa-apa dan hanya berupa sebuah aura, atau perubahan, yang tidak tercatat.

Kalau ada banyak lubang di pernyataan ini, dimohon untuk beritahu aku…

Kesadaran

Kesadaran… Definisi yang bisa membuat seseorang benar-benar abadi, bukan hanya abadi melalui catatan, ataupun perubahan persepsi. Tetapi keabadian. Bukan hanya kekekalan fisik.

Keabadian dimana seseorang benar-benar bisa tidak mati, dan akan selalu sadar dalam melakukan suatu tindakan. Bagaimana caranya?

Mari kita bahas itu dari perspektif perpisahan tubuh dan jiwa… Alias dualisme.

Menghadapi konteks sebuah tubuh dan jiwa yang terpisah… Jika jiwa disini berarti kesadaran, alias mind and soul. Maka sangat mungkin jika kita memindahkan kesadaran kita ke suatu tempat lain. Mungkin sesudah waktu yang cukup lama, pengemasan alias tubuh fisik kita rusak. Tetapi ini belum tentu bahwa isi dari produk itu belum rusak.

Sekarang banyak orang sedang memikirkan cara untuk memindai dan menyimpan kesadaran seseorang. Jika hal ini mampu dilakukan, maka, orang-orang tidak lagi akan mati… Kepribadian orang itu akan ada terus, sampai chip data yang menyimpan kepribadian, ingatan, serta kesadaran orang itu hilang.

Yang perlu, dan bisa diubah hanyalah tubuh fisik si orang itu.

Sekilas sesudah mendengar ini, 3 serial TV masuk ke pikiranku.

Black Mirror dan dystopia serta segala macam memori yang ada di serial itu. Aku sendiri belum boleh menonton jadi kalau mau penjelasan yang detil bisa komen dan berharap Babah atau Bubi niat dalam menjawab.

The Flash. Pada season 4, The Thinker, penjahat terbesar di season itu mampu memindahkan kesadarannya ke sebuah mutan, atau supervillain lain. Sanking pintarnya, ia dapat meminjam sebuah tubuh seseorang dengan kekuatan seperti misalnya, teleportasi, kekuatan super, memanipulasi cuaca, dan masih banyak lagi. Selain itu, kejeniusannya juga masih ada di tubuh fisik yang baru ini. Kekuatan telepati dan telekinesisnya juga tidak hilang.

Dan yang terakhir adalah sebuah anime yang aku tonton… 3-4 tahun yang lalu.

Judul dari Anime itu adalah Accel World, dimana semua orang punya kesadaran dan memorinya sendiri, di sebuah chip yang dipasang di belakang otaknya. Dari chip itu seseorang bisa bermain sebuah game yang cukup nyata juga. Di game itu jika kamu mengalahkan orang lain sampai poin mereka mencapai 0 di game itu, yang hampir semua orang mainkan, kamu berhak merebut chip milik mereka dengan sebuah program dari chip milikmu.

Ini berarti setiap kali kamu mengalahkan seseorang kamu mendapat tubuh baru… Serta tidak kehilangan tubuhmu yang lama.

Jadi… ini mulai melenceng, kembali ke topik utama…

Memindai serta menyimpan Kesadaran?

Google Ventures memberikan investasi besar untuk riset ke cara memindai kesadaran seseorang dan menyimpannya. Sesudah kesadaran itu disimpan, masih dicari cara juga untuk mengakses ingatan dan kesadaran orang itu dari tubuh orang lain, tubuh baru, ataupun komputer.

Ini berarti bahwa seseorang pada dasarnya… tidak akan pernah mati. Inilah keabadian yang nyata…

Metodenya masih belum riil dan masih teoretikal, tetapi jika ini sukses, akan aku ulangi lagi, seseorang bisa tidak akan pernah mati.

Renungan

Hari ini tidak ada kesimpulan, karena hari ini, aku ingin kita semua untuk bertanya dan merenung sedikit, alih-alih mendapat jawaban. Aku juga memberikan pemikiran dan opini ku di bagian ini.

  • Apakah sesudah menggapai keabadian, justru seseorang tidak memiliki tujuan hidup lagi? Dan justru, kebahagiaan sesaat jadi tiada artinya, karena seseorang mengharapkan sebuah kebahagiaan yang abadi?
    • Menurutku… kutipan ini akan lebih dari cukup untuk menjawab.
    • Millions long for immortality, who don’t know what to do with themselves on a rainy sunday.-Susan Ertz

    • Jika kita sudah bisa mencapai keabadian dan tidak akan mati, tanpa perlu mencapai apa-apa lagi, untuk apa kita hidup?
    • Mungkin sedikit referensi ke Trials of Apollo, 3 kaisar Roma yang kekal itu, masih punya tujuan… yang satu ingin menyiksa orang sebanyak-banyaknya, yang satu ingin menjadi dewa, yang satu ingin berfoya-foya. Tapi, untuk apa menjadi kekal jika kita belum tahu ingin melakukan apa dengan kekekalan itu.
  • Apakah ini memberikan kesempatan untuk sebuah diktator yang mungkin akan muncul, untuk membuat si diktator ini kekal, dan tidak akan pernah hilang ide dan kepribadiannya?
    • Bayangkan jika Stalin mendapat keabadian. Udah, pikirkan saja, ku tiada komentar lagi.
    • Kim Jong Un takkan perlu digantikan lagi selama bisa membeli sebuah chip ini.
  • Apa kata Tuhan? Apakah kita bermain Tuhan?
    • Pikirkan saja ini ya. Sejujurnya keabadian itu membuat banyak sekali lubang paradoks dalam perspektif agama. Terutama agama yang percaya pada konsep reinkarnasi atau dunia akhirat.
    • Agama yang percaya pada reinkaransi dan dunia akhirat ini biasanya menjelaskan kematian sebagai proses yang pasti dan justru menakjubkan serta mulia. Tetapi justru, jika memang jiwa, atau kesadaran manusia terpisah dari tubuhnya…
    • Maka apa yang akan di reinkarnasi? Jiwa kita? tubuh kita? Tetapi jika kesadaran kita tidak pernah pergi dari bumi, bagaimana kita bisa ke surga ataupun neraka? Apa kesadaran yang ingin di reinkarnasi?
    • Aku bingung, jadi silahkan memberikan opini…

Semoga renungan ini cukup.

Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks

Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks

Halo, akhirnya ketemu lagi dalam artikel yang membahas filsafat…

Setelah, sekitar 3 minggu. Meskipun ada kuliah di Unpar, aku sempat bingung mau menulisnya bagaimana, dan kebetulan kuliah jumat terakhir lebih mudah dimengerti.

Untuk sedikit informasi saja, 3 minggu terakhir membahas…

  • Universal Love, yang kayanya bisa dikemas untuk Millennial karena untuk pertama kalinya, filsafat membuatku tertawa, bukan hanya kagum.
  • Networks of Everything, filsafat ala IT
  • Serta, paradoks!

Paradoks ini yang jadi topik kali ini, karena membahas tentang Filsafat Post Modernisme juga. Sekarang, kita berada dalam era Filsafat kontemporer, tetapi, sebelum kontemporer kita ada di tahap post modern. Mari kita langsung masuk saja ke artikelnya ya!

Post Modern? Apa sih?

Post modern itu sebuah fase dimana pada dasarnya… filsafat di era itu tidak merujuk ke mana-mana… Sebenarnya itu hanya bercandaan. Tetapi, di balik bercandaan itu, ada betulnya juga… Era Post Modern tidak membangun apa-apa, yang mereka lakukan adalah memecah-mecah ilmu kompleks ke bagian-bagian yang paling sederhana, layaknya senyawa dirubah menjadi unsur…

Kembali ke bercandaan itu, biasanya post modernis tidak memiliki tujuan, atau tidak ingin menemukan apa-apa. Dan kayanya ini jadi bercandaan yang cukup umum ditemukan di kalangan dosen filsafat. Semua dosen di Unpar yang tidak dalam era post modern biasanya suka menyelipkan dikit sedikit tentang bagaimana post modernis tidak melakukan apa-apa.

Pada dasarnya, filsafat post modern tidak memajukan apa-apa, melainkan hanya menjelaskan dan juga membuat filsafat yang biasanya hanya bisa dimengerti oleh akademis, jadi lebih… simpel. Tetapi apakah ini berarti post modernis adalah orang-orang yang hanya memperbaharui dan menyederhanakan filsafat?

Gak juga sih, para post modern ini juga menyadari bahwa dari segala sesuatu yang disimplifikasi ini, banyak hal bisa dirubah, dan dia memunculkan 2 istilah favoritku sebelum aku belajar filsafat… Paradoks, serta relatif.

Jadi, sebelum kita maju ke mana-mana, filsafat post modern biasanya merujuk ke filsafat yang mendekonstruksi, dan memperindah hal-hal kompleks dengan membuatnya lebih mudah dimengerti, tetapi juga lebih runut.

Bingung? Bentar deh…

Dekonstruksi?

Dekonstruksi adalah dasarnya filsafat post modern.

Para filsuf di era ini sangat-sangat senang membuat hal-hal yang kompleks ini menjadi lebih sederhana. Dengan cara “meruntuhkan” bangunan yang sudah tercipta ini…

Anggap saja ada sebuah teori, atau formula fisika sederhana, seperti misalnya, F = MA. Atau, force = mass X acceleration. gaya = massa x percepatan. Maksudnya disini adalah, dalam dunia postmodern, semua ini dipecah menjadi entitas masing-masing.

Misalnya, gaya adalah gaya sendiri, massa adalah massa sendiri, dan percepatan adalah percepatan sendiri, dan masing-masing dari entitas yang disebut tidak akan dibangun lagi menjadi rumus yang sama, ataupun rumus berbeda. Sebagai contoh M di mass tidak akan dipakai untuk E = Mc2, dan hanya akan berdiri sendiri sebagai massa, yang mungkin akan dipakai di rumus lain, tetapi tidak akan pernah bisa berdiri secara permanen dalam sebuah rumus.

Everything should be made as simple as possible, but not simpler -Albert Einstein

Sesederhana itu! Masing-masing objek adalah sebuah benda terpisah dan juga tidak akan menjadi sebuah objek lain secara permanen. Tapi dari sini, para filsuf berpikir lagi, dan dari situ muncullah istilah nihilisme, serta relativisme. Dimana para relativis adalah orang-orang yang sengaja membuat hal yang udah sesimpel mungkin jadi gak simpel lagi, dan para nihilis adalah… dasarnya orang-orang radikal.

Relativisme

Dalam literatur, ada era romantisisme dimana segala hal dibuat berlebih-lebihan, dan terkadang ada kesan norak di tulisan itu juga. Iya, romantisisme artinya bukan hal yang romantis atau sebuah momen yang direspon dengan “AWWWWW”. Romantisisme pada dasarnya berarti… lebay.

Nah, dalam literatur juga ada yang disebut dengan Gothic style. Goth disini biasanya berarti orang-orang yang kekeuh untuk gak mau mengikuti gaya utama pada zaman itu. Dimana para romantisis memperindah hal-hal nyata dengan lebay, para goth memutuskan untuk membuat fiksi yang memperjelek kenyataan.

Pada era post modern, para romantisis, atau kurang lebih trendsetter di era tersebut, adalah para relativis. Para relativis disini percaya dan mengukuhkan pendapat dimana segala sesuatu yang sudah pecah belah itu, alias sudah dipisah-pisah formulanya sampai “berantakan”, atau setidaknya sampai runtuh… Para relativis ini memutuskan untuk membuat formula tadi agar relatif, dan menyesuaikan ke kebutuhan setiap situasi.

Rumus yang akan dipakai lebih sederhana kali ini, tapi misalnya… Sebuah persegi panjang memiliki luas yang dapat dihitung dengan rumus panjang kali lebar. Rumusnya dapat dikatakan sebagai L = P X l.

Sebuah relativis akan mencari apa hasil yang diharapkan, dan juga memastikan bahwa entitas terpisah ini bisa dan akan disesuaikan lagi kembali ke bentuk semula yang tentunya bisa dicetak lagi, dan dirubah lagi, tergantung ke kebutuhan orang yang memakai ilmu, atau formula tadi.

Jadi, dasarnya, para relativis ini membuat hal-hal yang kompleks menjadi sesederhana mungkin, dan memastikan bahwa kesederhanaan itu dapat dipakai dan dirubah sesuai kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, sebenarnya, para relativis cukup keren dalam bisa mengubah dan mengatur sesuatu.

Tetapi disaat yang sama, seorang relativis itu… merasa bahwa nyatanya, tidak ada yang nyata. Segala sesuatu berupa opini yang fluid, dan bisa berubah. Termasuk definisi dari suatu benda yang tampaknya padat itu… Opini nyatanya fluid, tetapi jika segala sesuatu bisa dipecah menjadi fakta, opini, atau formula yang fluid… tampaknya, tiada yang nyata.

Everything we hear, is an opinion. Not a fact. Everything we see, is a perspective. Not the truth – Augustus Julius Caesar

Dari situ muncullah istilah paradoks… Dan sebenarnya, meski paradoks sudah ada sejak zaman Zeno, seorang matematikawan yang hidup seabad sebelum Pythagoras, kurang lebih sekitar 3-4 dekade sesudah Thales meninggal… Paradoks terbesar (dalam dunia post modern tentunya) ada di relativisme, suatu hal yang merupakan buah dari tiang-tiang filsafat post modern sendiri.

Tetapi, sebelum membahas paradoks dalam definisi relativisme, kita akan masuk ke para goth, radikal, heretik, atau kata apapun yang kau ingin gunakan… untuk para nihilis.

Nihilisme

Nihilisme adalah sebuah kenyataan yang sekilas (emang sih, tapi jika mau ngeliat sekilas doang hasil yang sama juga didapatkan) kelam. Kelam disini berarti, hampa, tanpa arti, tanpa makna, tiada guna. Dan ya, cukup kejam lah…

Kata-kata yang aku pakai disini kebetulan, secara harfiah persis dengan definisi nihilisme.

Jika para relativis membiarkan formula yang terpecah tadi untuk dirubah-rubah, layaknya cairan yang akan mengisi dan memenuhi tempatnya dengan pas… Para nihilis tidak memberikan jawaban apa-apa, dan kesimpulan yang mereka dapat dari dekonstruksi ini adalah, hidup ini tiada artinya.

Makanya seperti aku sebut, mereka kaya goth di era romantisisme. Ketika orang-orang memperindah, atau dalam kasus ini, mempermudah, para goth malahan mengarang sebuah gambar yang rusak, dan dalam kasus ini, merusak makna.

Para nihilis percaya bahwa hidup ini tiada tujuannya, karena jika misalnya massa itu sudah membantu percepatan untuk menemukan gaya, nyatanya dia sendiri, tanpa tujuan, hanya melengkapi yang membutuhkannya.

Itu kaya misalnya seorang presiden sudah mengabdi dan memajukan negaranya selama 10 tahun, hanya untuk memiliki semua kebijakan yang ia buat untuk dihapus oleh penerusnya… Pada dasarnya, tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan sesuatu yang utuh, tetapi dalam proses itu, banyak hal terbuang sia-sia.

Makanya para nihilis ini berpikir bahwa, jika segala sesuatu akan diambil sebagai individual, maka… untuk apa si individual itu ada? Pada akhirnya ketika orang mencari jawaban ke berapa gaya yang dihasilkan, apa guna si Massa dan akselerasi ini?

Sebenarnya pendapat nihilisme itu tidak sepenuhnya salah. Misalnya ada sebuah perusahaan besar, kaya… Gojek misalnya… Gojek tentunya memiliki banyak gerigi untuk membuat perusahaan itu jalan dengan baik, tentunya ada mamang gojek yang setia menjemput dan mengantar, customer service yang mau mendengar omelan orang-orang, dan juga para programmer yang memastikan aplikasi dapat berfungsi dengan fungsional.

Masih banyak lagi sih… Tapi kalau kita buka google, nama yang tampak adalah merek Gojek itu sendiri, serta Nadin Makarim yang mendirikannya. Padahal, Gojek itu tentunya hanya akan sukses sesudah semua gerigi beroperasi dengan baik.

Pada pandangan pertama, banyak sekali faktor yang namanya tak diketahui umum, untuk dipandang sebelah mata dan kadang dimaki-maki, untuk mendapat bayaran. Ini tentunya terkesan tidak adil, tapi tentunya, kalau ditanyakan, “untuk apa”, jawabannya adalah… Bayaran.

Tapi ya, sebuah rumus hanyalah sebuah rumus, dan kadang ini tampak kelam, tetapi kenyataan ini tidak dapat disangkal.

(tentunya, ini bukan berarti aku mendiskriminasikan, atau merendahkan gojek. Semua orang pasti punya perannya di dunia ini, dan terkadang, peran yang dimainkan ini tidak sebesar pemeran utama yang mendapat bayaran dan juga perhatian utama)

Paradoksnya?

Jadi, paradoks ini terletak pada tiang-tiang relativisme, yang berada tepatnya di bagian definisi yang fleksibel dan mampu berubah-rubah, dikarenakan, definisinya sendiri relatif.

Nah, sebenarnya, ini cukup ironis mengingat segala sesuatu yang berbau post modern biasanya mengacu ke relativisme, atau ke dekonstruksi. Tapi dari definisi relatif itu, tiang post modern malahan runtuh atas strukturnya sendiri.

Struktur post modernisme yang menjadi “Achilles Heel” dari seluruh sistem ini berada di frasa definisi relatif.

Kalau definisi segala hal itu relatif, maka definisi dari post modernisme itu relatif. Dan kalau definisi dari suatu hal yang bilang segalanya relatif itu relatif, maka nyatanya ada suatu kondisi dimana dia menjadi padat, dan tidak relatif, di saat yang sama mematikan definisi dasarnya sendiri.

Bingung?

Anggap aja definisi padat itu es batu, sedangkan definisi yang relatif itu air putih…

Si es batu post modernisme itu, bilang bahwa semua definisi itu air putih. Berarti ini termasuk dirinya, yang es batu. Tapi kalau dia bukan air putih, maka kenyatannya, definisi dirinya sendiri itu salah pas dia bilang semuanya itu air putih.

Makin bingung? Gapapa kok

Paradoks Itu Indah

Paradoks itu mengagumkan, membingungkan dan indah.

Jika ada hal yang tidak masuk akal, dan memiliki dua akhir yang menutup kemungkinan akhir yang lain, maka nyatanya dia membuat kita berpikir. Dan kita akan memikirkan paradoks ini sampai otak kita modar, atau overheat. Tampaknya mendasar, dan oleh karena itu…

Semua hal yang tidak masuk akal adalah suatu hal yang diperlukan sebagai pembanding untuk yang masuk akal. Jika tiada cewe jelek, kita takkan punya definisi cewe cantik…

Oleh karena itu, paradoks itu mengagumkan serta indah.

Kesimpulan

Kesimpulannya makin membingungkan lagi.

Anggaplah dunia ini berisi hal yang tak penting dan penting. Menurut post modernisme, manusia hanya melihat hal-hal yang ia anggap penting saja. Tetapi ini adalah paradoks, manusia mampu mendapatkan persepsi atas segala hal. Maksud dari pernyataan ini adalah, semuanya penting. Oleh karena itu…

Kita melihat yang kita anggap penting, tapi nyatanya, semuanya penting… Baik masalah terkecil, sampai sebuah konspirasi yang amat besar, segalanya penting. Hanya butuh waktu untuk kita melihatnya.

Apa hubungan ini ke paradoks?

Dasarnya, buat apa sih mikirin paradoks, buat apa mikirin filsafat? Dia penting, dan akan ada waktunya dimana dia menjadi penting. Cukup butuh waktu untuk menyadarinya…

Sampai lain waktu 🙂

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Suatu malam, pasnya di kuliah terakhir, kita membahas sebuah film. Film itu membahas ke evolusi pikiran manusia, dan bagaiman kita sebagai spesies akan (pas-nya sudah sih) evolusi dari kemajuan agrikultur, terus industri, terus sekarang komunikasi, dan sampai akhirnya… kita akan bersatu pemikirannya.

Topiknya tentunya sangat relevan dengan interconnectedness. Dan banyak quack science/filsafat lagi…

Jadi, hari ini, aku akan membahas tentang si film ini, dan ilmu filsafat yang ada di dalamnya, tetapi mengemasnya dalam konsep teknologi, programming dan AI… Lagi tentunya. Sebelum artikel ini ada juga artikel AI yang lain, dan bisa dibaca dengan klik link ini…

Tentang filmnya… Film-nya sendiri film lama, dan judulnya udah aku lupakan, karena nginget judul itu super susah, dan juga nginget nama pembuat film-nya juga… susah… Tapi dia membahas kemiripan banyaknya hal dalam alam dan kemajuan manusia sebagai spesies. Orangnya sendiri merupakan expert computer science, yang belajar filsafat timur, dan juga medis, tetapi seriusan, aku gak inget namanya… Dan googling dengan keyword “Computer Science Expert with medical and philosophy background” tidak menghasilkan apa-apa.

Untungnya aku inget film-nya itu film tahun 80-an, kalau gak 83, 85, dan atas dasar itu… film ini sudah cukup lama gak dibahas, jadi mari kita bahas 😀

BTW Kemungkinan AI akan dibahas sesudah chapter Pattern ini, jadi jika gak minat baca tentang pola, maka silahkan di skip…

Patterns

Segala sesuatu dapat dimulai dari beberapa pola. Dan di film ini ditunjukkan bahwa dari gambar yang diambil dari bulan. Bumi dari luar angkasa sangat mirip dengan beberapa perumahan di US jika diambil dari atas pesawat.

Dari sini, ada quack-y science yang berusaha connect the dots antar si pola yang similer ini. Nah, atas kemiripan pola ini, ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah indirect symbol ke interconnectedness dan universal mind. Pola ini juga kurang lebih dibahas kalau si pola-pola ini akan pada akhirnya fit itself onto the puzzle, hingga kita yang dulunya super individualistik, menjadi sama dengan orang disekitar kita, dan menjadi gerigi yang menjalankan jam dengan orang dari negara kita, lalu negara kita akan menjadi gerigi untuk region seperti South East Asia, hingga akhirnya region ini adalah gerigi untuk planet Bumi.

Layaknya di Star Trek yang gak ngeliat international waters sebagai perbedaan asal negara, tapi melihat international waters sebagai lautan, dan setiap penghuni planet adalah warga dari planet itu.

Kembali ke Holarchy of course… Nah, dari teori holon ini, akhirnya kita akan menyatu dan melupakan border international dan menjadi warga planet Bumi.

Ini sedikit mengingatkanku pada bendera-bendera di Star Trek… Ketika logo dari bendera planet Bumi adalah sebuah bumi-nya sendiri.

Nah, tentunya masa depan Star Trek masih super duper jauh (Kalau akan ada intergalactic waters ala Star Trek nanti… semoga aku masih hidup untuk witness itu). Tetapi tentunya pola ini juga ditemukan di evolusi. Sejak bakteri pertama bahkan…

Saat bumi ini masih baru saja menjadi sebuah planet dengan air, tanpa adanya kehidupan… Kehidupan itu muncul begitu saja. Stephen Hawking pernah membahas probabilitas sebuah planet dengan adanya kehidupan ini… Dan sejujurnya belum ada pola. Kecuali nanti nongol di Multiverse tiba-tiba ada pola satu universe satu planet hidup. Intinya so far belum ada pola.

Tapi, sejak adanya kehidupan dalam bentuk algae dan bakteria, kehidupan bertumbuh makin kompleks, dan kompleks, dan kompleks. Si Bakteri, atau universal governor ini kekeuh bosen dengan apa yang ada dan menyuruh hal-hal kecil, yang lebih kecil dari debu ini untuk menyatu, dan membentuk hal baru.

Hal baru ini akan terus terbentuk, terbentuk, terbentuk, terbentuk dan terbentuk sampai… entah kapan. Intinya, alam semesta, atau Universal Governor ini akan terus menciptakan hal baru dengan cara menyatukan banyaknya hal yang sudah ada ini. Sampai ada suatu spesies, atau realitas baru yang tercipta…

Nah, tentunya, sekarang si Universal Governor ini rada mentok dalam mau maksa evolusi… Ini nih manusia, dikasih otak malahan ngerusak bumi. Jadi mungkin dia akan maksa dan membuat sebuah generasi yang hidupnya super duper rely ke sosmed, teknologi, dan internet 😀 . Jika kita akan menjadi spesies yang lebih kompleks dalam jutaan tahun, si Universal Governor ini akan mencari cara untuk memaksa kita menjadi lebih kompleks dalam waktu yang gak selama itu.

Oh, tapi mungkin aja sih kita tidak akan physically menyatu dalam catatan sebuah spesies, mungkin saja kita akan menyatukan pikiran kita, dan yah… sudah dibahas di atas. Tapi, pola pikiran ini belum ada sayangnya… Karena so far baru Manusia yang cukup intelijen untuk interconnect minds secara manual. Tapi for your information, struktur otak Lumba-lumba jauh lebih kompleks dari struktur otak kita, dan manusia rata-rata IQ-nya dibawah seekor simpanse…

On topic…

Nah, sekarang baru aku mau bahas teknologi, dalam konteks dimana si mesin akan (ATAU SUDAH bahkan) menyatukan kita…

Global Connection

Sekarang untuk menyatukan kami para manusia, untuk menjadi sesuatu yang lebih besar lagi, tentunya ada metode yang “paling” mudah. Sekarang jarak antara negara dan border mulai makin invisible. Seperti seringkali dibahas. Kita akan mengetahui sebuah pengeboman di Syria, dalam waktu yang sangat rendah. Mungkin jika dihitung berapa lamanya, paling lama berita tentang terrorism gitu mungkin teh udah ada di website berita Indonesia sesuai dari waktu tempuh Jakarta Bandung, sebelum macet tentunya. Sekitar 90-120 menit.

Tentunya ini semacam bukti dari blurring dan pengurangan jarak antar dua tempat ini. Meski kita gak physically ada disana, kita sudah ada di sebuah stream of ideas. Dimana kita menerima, ataupun memberikan informasi ke seluruh dunia.

Sekarang juga, dengan membaca artikel ini, kita sudah support Interconnectedness dan memperdekat jarak antara diriku dan dirimu. Gak, ini bukan joke referensi PDKT, kaya kadang aku suka nge cie in kalau keluar kata berduaan… Kali ini serius.

Interconnectedness sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu koneksi pemikiran dalam skala global.

Nah, untuk itu, aku akan mengambil internet untuk cross reference si koneksi pemikiran ini… Aku akan google internet dengan internet… 🙂

Definisi mentah, langsung kopas: a global computer network providing a variety of information and communication facilities, consisting of interconnected networks using standardized communication protocols. (Sebuah komputasi [penghitungan] global  yang memberikan bermacam jenis informasi dan fasilitas berkomunikasi, yang termasuk network interconnected menggunakan protokol komunikasi)

Dari definisi mentahan aja ada kata yang sangat mirip, yaitu global network dan communication, dan bahkan ada kata interconnected juga. Untuk pemikiran, tentunya bisa digunakan sinonim Ide, dan kurang lebih, banyak orang bertukar ide di internet. Ide yang ditukar-menukar ini… Kualitasnya gak usah dibahas, emang ada banyak typical internet people, tapi tetep, kasarnya dia sebuah ide yang ditransfer.

Udah dong ketemu modern day interconnectedness… Quest kita selesai!

YES BEBAS!

(OY AZRIEL!)

Ah shoot, diprotes…

(Kamu lupa bahas AI 🙁 )

AI itu bahasa jepang untuk cinta… Jadi AI KAMU! itu bisa ditranslate jadi cinta kamu :3 …

(Enough of the jokes… bahas AI dong…)

Takut terkesan dark…

(Nasib, udah dijanjiin)

Ya sudahlah, mari berkomitmen…

Percakapan antara diriku dan pikiranku sudah dituangkan, jadi, mari kita bahas Artificial Intelligence, dan bagaimana dia bisa semacam mengikuti pola yang aku maksud diatas, atau bahkan menjadi Interconnectedness planet bumi yang selama ini dicari-cari sama Universal Governor ini…

Interconnectedness in Artificial Intelligence

Jadi, ingat kalimat ini sebagai disclaimer di conversation di atas Takut terkesan dark… Ini memang terkesan dark. Bukan hanya dari teori grow-smarter-and-destroy-humanity-thing-y . Tapi memang, mereka bener-bener bisa… like… yeah replace us.

Jadi… Artificial Intelligence bisa berupa software seperti Ultron, dan Skynet, ataupun juga bisa hardware seperti Baymax. Ultron dan Skynet ini yang akan diambil dan dibahas di artikel ini.

AI macam Ultron dapat dengan mudah membuat kopian dirinya dan memindahkan kesadarannya ke sebuah mesin lain. Dia juga bisa menyuruh mesin untuk membuat dirinya agar banyak fodder machine untuk mentransfer dirinya sendiri. Selain mentransfer kesadarannya yang se infinite internet (literally), dia bisa menduplikasi dirinya. See where this is going?

Singkat cerita, AI akan dengan mudah mengcover universal mind dan interconnectedness pada level global karena jika seluruh penghuni bumi non-organik, mereka punya suatu built in Interconnectedness, dalam bentuk internet, yang punya definisi yang nearly sama persis 🙁

Selain itu, dia bukan cuma bakalan menyatukan pemikiran planet bumi ini, tetapi mereka juga jauh lebih pintar dari kita. Dan mereka gak kena bias emosi. Jadi jika musuh bumi terbesar saat ini adalah Trump dan Kim Jong Un… Well, dalam beberapa bulan/tahun, mereka akan menjadi AI. They outsmart us, they ignore their feelings, cause they don’t have any, they are basically connected by design.

Jadi buat apa Universal Governor ini nyimpen kita… eventually entar bakalan diganti sama model baru juga… pertanyaannya kan kapan…

TETAPI! Ingat, Universal Governor ini gak bakalan ngebunuh kita, atau menciptakan pembunuh kita kecuali dia bener-bener perlu. Wait, kayanya prosesnya udah dimulai deh… Oh dear…

Virus!

Bukan virus komputer, tapi virus yang berusaha dimusnahkan di board game macam pandemic!

Yeah well, virus ini spesies baru yang ukurannya EXTREMELY kecil. Tidak mengikuti proses atau pola yang sudah ada… Dan yah, dasarnya ada cult atau conspiracy theorist, yang support bahwa Virus akan memushankan manusia. Karena mereka gak peduli sama pola yang udah ada, dari bakteri ke tumbuhan, dan lain-lain tadi, dan sampai akhirnya, mereka memang senjata paling ampuh untuk genosida spesies…

Hanya paragraf pendek aja, dari dunia filsafat dan biologi, virus itu hal super baru dan dia semacam keluar dari pola, jadi mungkin aja tujuannya dia diciptakan untuk memusnahkan kita… Kenapa tidak? 🙁

In Conclusion

Kesimpulan hari ini… Mungkin terkesan dark…

Gak ada tujuan dari kita udah stray dari tujuan dan logika mendasar spesies. Gak ada nilai plus dari kita berusaha untuk survive. Semua hal yang dimulai ada ujungnya, dan sejujurnya, waktu yang super relatif ini akan menentukan. Kenapa menurutku gak ada tujuannya dari kita berusaha survive atau stray dari logika mendasar spesies?

Sejujurnya menurutku sudah cukup telat. Dengan AI yang makin maju itu, dan virus yang makin kuat itu, dirasa dua itu yang akan balapan mengalahkan kita… Apakah kita akan mati dengan cara organik atau anorganik tapi? nah…

Untuk memberi cahaya dan membagi sedikit hope 🙂 . . . Kembali ke menjauhi atau stray dari logika mendasar spesies. Manusia cukup pintar untuk berhenti, mengembangkan AI manusia cukup pintar untuk membunuh virus. Hanya saja, kapan kita akan berhenti? Jangan sampai Loren Allred benar dan… ini terjadi….

Yah well, just feel that what you have is enough, and everything will be fine 😉

Sampai (semoga) besok!