Tag: filsafat unpar

Self-Help Series: Pilihan

Self-Help Series: Pilihan

Pernahkah anda merasa terjebak dalam situasi yang anda optimis, apapun yang anda lakukan, atau anda pilih, opsi itu akan berujung pada ketidakbahagiaan? Sesudah belajar filsafat Tiongkok selama 6 minggu, kurasa ini waktu yang tepat untuk menuliskannya.

Apakah kebahagiaan itu, bagaimana cara mendapatkannya? Terkadang kita tidak diberi pilihan untuk mendapatkan rasa bahagia, dan karena konsep kebahagiaan akan cukup erat dengan filsafat, kurasa tidak akan terlalu banyak psikologi abad ke 21 pada artikel ini. Psikologi yang dimasukkan berada pada era-era Freud.

Semoga artikel ini bisa anda baca dengan perasaan bahagia!

The Ice Cream Parlor

Ya, mari kita masuk ke hal paling sederhana tapi membingungkan. Memilih rasa es krim di sebuah toko.

Ambil sebuah anggapan bahwa anda tidak punya pilihan sedikit pun sebelum anda memilih toko, dan ada dua toko yang lokasinya tepat bersebelahan, menggunakan AC, dan juga memiliki tempat duduk yang sama-sama nyaman. Hari sedang panas, jadi es krim yang dikonsumsi dalam ruangan ber-AC akan tentunya membuat kita merasa lebih nyaman.

Nah, dari kedua toko ini, ada sebuah toko yang menyajikan 4 pilihan rasa, yaitu Coklat, Vanilla, Stroberi, dan yang terakhir, Cookies and Cream (dalam teori original, tidak ada Cookies and Cream, jadi aku berasumsi siapapun yang membuat teori ini tidak punya selera es krim yang baik).

Toko yang lain, menyajikan… Coklat, Vanilla, Stroberi, Cookies and Cream, Rocky Road, Butter Pecan, Bubble Gum, Blueberry, Choco Chip, Mint Choco Chip, Matcha, dan Salted Caramel. 12 rasa secara total, berarti ada 3 kali lipat jumlah pilihan rasa kebanding yang sebelumnya.

Kira-kira, pilihan toko pertama, atau kedua yang akan membuatmu merasa lebih bahagia sebelum memesan, ketika memakan, dan sesudah memesan?

Jawabannya ternyata lebih sulit dari yang orang-orang kira-kira.

Mungkin orang akan beranggapan, “lebih banyak opsi, lebih banyak kemungkinan kita memilih rasa yang kita sukai alhasil lebih banyak juga orang-orang yang lebih happy karena mereka memilih rasa yang mereka memang sukai.” Padahal, kemungkinan kita memilih rasa yang tidak enak berkali-kali lipat lebih besar kebanding memilih rasa yang enak…

Orang-orang akan merasa lebih bahagia jika ia tidak harus memilih dari opsi yang begitu banyak. Kurang lebih, ini cara seseorang akan berpikir untuk memesan, saat memakan, dan sesudah memesan… Yang anda akan dengar sedikit ironis, tapi nyata.

  • Sebelum memesan, orang-orang akan jauh lebih bingung ketika perlu melihat dan memilih dari 12 opsi ketimbang 4. Ini mungkin hal yang paling obvious ketimbang fase-fase sesudahnya, tapi tetap layak disebutkan karena banyak orang pergi ke suatu restoran tanpa rencana sedikitpun ingin memesan menu apa. Nyatanya, meski benda yang dipesan sudah sama persis, yaitu Es krim, orang-orang tetap kebingungan memesan es krim apa…
    • Oh, iya, jangan lupa jenis orang yang pergi keluar rumah tanpa tahu ingin ke restoran apa… Itu juga sangat mungkin menjadi korban keplin-plan-an
  • Saat memakan es krim, ia akan berpikir… “Oh iya, tau gitu aku mesen es krim rasa … aja ya… es krim ini kayanya kalah enak sama yang itu.” Dengan jumlah opsi yang lebih dikit, flavor palette dan opsi yang bisa kita ambil jauh lebih sedikit. Coba ingat fakta bahwa, biasanya orang yang memesan es krim coklat tidak akan memesan es krim stroberi, kecuali memang lagi ngidam, dan juga pemesan cookies and cream tidak akan memesan es krim vanilla, karena pada dasarnya mereka sama persis dengan perbedaan adanya cookie yang sangat enak itu..
    • Dengan opsi yang banyak, penyesalan akan lebih mungkin terjadi, terutama jika citarasa dua es krim mirip dan kita memesan yang tidak sesuai dengan selera milik kita.
  • Sesudah memesan, jika opsinya memang banyak, kebanyakan orang akan langsung merencanakan kapan berikutnya ia akan kesana atau setidaknya, mereka akan merencanakan apa yang akan mereka pesan berikutnya. Jika opsi yang disediakan memang sedikit, orang-orang sudah tahu akan memesan apa berikutnya anda datang ke tukang es krim tersebut.
    • Tentunya, ini berarti penjualan di tukang es krim yang banyak opsi berpotensi lebih tinggi, tetapi, ia harus membayar dengan rasa kebingungan dan kebahagiaan si pembeli. Oh, ini alasan sampel disediakan, agar mereka makin bingung dan makin penasaran.

Jadi, ingat baik-baik…Β  Es Krim minimarket > Es krim toko.

Itu berlaku jika anda mengejar rasa kepuasan tentunya…

Memilih

Jadi, sesudah sebuah riset menyatakan bahwa pada dasarnya seorang manusia akan merasa lebih puas ketika tidak ada banyak pilihan, ini tidak mengurangi fakta bahwa ketika kita diminta untuk memilih sesuatu, kita tetap akan memilih, baik itu karena kewajiban, atau itu karena keinginan.

Jadi, bagaimana cara kita menghindari pilihan yang buruk?

Ada dua cara untuk “menghindari” pilihan yang buruk, namun sayangnya, kedua cara tersebut tidak benar-benar bisa membuat kita bersih dari segala pilihan buruk. Karena tentunya, tanpa ada pilihan baik, tidak akan ada pilihan buruk, tanpa ada pilihan buruk, takkan ada pilihan baik, dan kita bisa merasakan kebahagiaan jika kita menikmati pilihan yang kita buat, dan menikmati proses pemilihan tersebut.

Ya, kedua metode ini bukan metode yang “inspiratif” atau yang “motivasional” seperti yang orang Indonesia biasanya inginkan. Tetapi jika buku Self Help dengan judul “Subtle art of not giving a F*** ” telah masuk Indonesia, kurasa ini momen yang tepat untuk benar-benar menulis buku self help yang orang Indonesia butuhkan. (Bukan seperti buku Chairul Tanjung pada umumnya)

Menerima

Cara menghindari pilihan yang buruk nomor satu adalah dengan menerima, dan tentunya, menyadari bahwa pilihan yang kita buat memang sebuah pilihan yang buruk.

Maksudku, kita selalu bisa mengantisipasi satu dan lain hal, tetapi pada akhirnya ketika kita mendapatkan sebuah pilihan buruk, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menerimanya, ketika masalahnya tidak terlalu besar, apalagi untuk masalah kecil.

Kita punya energi yang sangat terbatas untuk digunakan, dan juga, kita tidak bisa peduli pada tiap hal, baik itu hal yang besar, atau yang kecil. Jadi, kemampuan untuk memilih hal apa yang bisa kita anggap “Masa Bodoh” adalah hal yang sangat penting.

Kita tidak ingin membuang energi kita dan ruang untuk berpikir kita hanya karena kita telah memilih restoran yang salah untuk makan siang. Ada restoran baik dan ada restoran buruk, terkadang kita perlu bersabar dan ingat untuk jangan pergi ke restoran tersebut lagi, karena, misalnya, porsinya kecil.

Intinya, pada sebuah tindakan yang bisa dibilang hampir irelevan dengan keputusan hidup, jika itu memang tidak penting, jangan anggap masalah sepele seperti itu sebagai tindakan yang krusial dan marah-marah ketika ada hal yang tidak ideal, atau tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika kita mau menerima bahwa kita membuat kesalahan atau membuat pilihan yang salah, akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan diri kita sendiri. Memaafkan diri kita sendiri jauh lebih penting ketika ingin merasa tenang kebanding dengan berusaha terlalu keras untuk meminta maaf pada orang lain.

Bersabar

Kamu tidak akan pernah ingin membuat keputusan yang penting dan yang tidak bisa diterima atau disepelekan dengan terburu-buru.

Jika pilihan yang akan kamu lakukan memang benar-benar penting, maka bersabarlah. Lebih cepat bukan berarti lebih baik…

Pikirkan semua bentuk sumber daya yang kamu rela untuk habiskan dan gunakan demi memecahkan satu masalah, atau membuat satu keputusan… Jika sumber daya dan waktu tersebut memangΒ terasa pantas untuk digunakan dan dimanfaatkan demi keputusan tersebut… (misalnya, membuang 10 hari libur demi mencari lahan untuk rumah) lakukan.

Jika tidak… Ya… Jangan.

Keputusan yang buruk bisa dihindari, tetapi seandainya ia akan terjadi, anda akan merasa lebih baik jika anda tidak menggunakan terlalu banyak energi anda dari yang anda seharusnya gunakan. Jika anda sudah rela dan sudah menggunakan energi lebih banyak dari seharusnya… Pastikan keputusan yang anda buat memang benar πŸ˜‰

Kesimpulan

Kebahagiaan bukan hasil, melainkan proses. Keinginan untuk menerima dan menikmati proses suatu hal, baik itu proses memilih benda, atau proses menikmati suatu makanan, suatu sofa… itulah rasa puas yang nyata.

Bukan berusaha pamer ke orang bahwa anda mendapatkan benda itu, melainkan menikmati benda yang anda dapatkan…

Jangan salah gunakan rasa puas yang anda berhak nikmati untuk rasa puas ketika mendapat pengakuan dari orang lain.

War of Art.

War of Art.

Sebagian besar orang seharusnya tahu mengenai buku karya tulis Sun Tzu dengan judul Art of War…

Aku disini bukan untuk menceritakan mengenai seni peperangan, melainkan cara beberapa orang pada zamannya filsuf Tiongkok, berkompetisi dengan menggunakan seni. Kompetisi dari seni yang dilakukan orang-orang pada Tiongkok jaman baheula cukup menarik.

Sebenarnya ini adalah kilas balik kuliah kedua kelas Filsafat Unpar. πŸ™‚

Temanya kali ini adalah Filsafat Tiongkok dan Filsafat India.

So, let us begin!

Pemateri: Greysia Susilo, seorang dosen dari Universitas Multimedia Nusantara, yang secara mayoritas mempelajari seni Tiongkok secara otodidak sebagai hobi.

Themes

Ibu Greysia Susilo membelah cara seseorang mempersepsi seni ke tiga jenis sudut pandang, secara bentuk, secara konten, dan secara konteks.

Bentuk dibedakan bukan hanya dari bentuk karya seni (yang hampir pasti berbeda), tetapi juga dari bahan, keahlian yang dibutuhkan, dan dari hasil akhir. Menurutku, diantara ketiga topik lain, ini yang paling tidak menarik. Ya, mungkin karena aku tidak begitu suka dengan pembahasan seni secara teknis, tetapi lebih ke secara penggunaan.

Konten, jika kita berbicara konten, biasanya akan merujuk ke apa yang seniman itu ingin tunjukkan ke orang lain. Topik konten ini juga bisa merujuk ke apa yang orang-orang tangkap dari seniman tersebut. Sebagai contoh, ada dua lukisan yang menceritakan tentang pelajaran musik yang dilukis oleh Henri Matisse memiliki konten yang sama, mengenai pelajaran musik. Konteks kedua hal tersebut cukup berbeda tetapi.

Jika konten membahas apa yang orang-orang lihat dan apa yang seniman ingin tunjukkan dari suatu karya, konteks lebih merujuk ke fungsi, dan juga tujuan dibuatnya karya itu. Sebagai contoh, dua patung bisa saja memiliki bentuk dan konten yang sama, tetapi yang satu ditujukan sebagai karya untuk memuaskan diri sendiri, dan yang lain ditujukan untuk membuat orang lain merasa senang… Perbedaan konteks sederhana seperti ini bisa merubah karya dan proses secara keseluruhan.

Hari ini, aku akan lebih membahas konteks, sedikit banyak konten, dan hampir tidak ada pembahasan mengenai bentuk… Cheerios.

The Social War

Jadi, ketika kita ingin membahas mengenai “perang” kita perlu sedikit definisikan perang sendiri. Perang disini bisa kita anggap sebagai suatu bentuk berkompetisi dan berlomba-lomba untuk satu sama lain, dan seperti yang kalian akan lihat, ini akan menjadi suatu kilas balik untuk status zaman sekarang…

Kerajaan

Membahas konten dari yang dilakukan oleh orang-orang golongan pertama akan tidak jauh dari kemewahan. Ku yakin ada sebagian pembaca yang mungkin sudah pernah menonton Crazy Rich Asians… Aku berada disini untuk mengingatkan bahwa orang dengan darah Tionghoa yang amat-amat kaya sudah berada sejak zaman dahulu…

Para petinggi kerajaan sering sekali berlomba-lomba untuk menyewa ahli (sebenarnya istilah yang Ibu Greysia Susilo gunakan adalah tukang, tapi kayanya kurang wah gitu… Silahkan panggil sesuka pembaca) paling hip untuk membuat suatu hal yang tidak diperlukan, tapi hanya bertujuan untuk membuang uang, karena mereka punya terlalu banyak…

Biasanya hal tidak diperlukan ini cukup bagus, dan mewah. Tidak jarang ada sebuah vas yang dihiasi dengan batu-batu giok, mungkin pilar lebay ala sosialita, dan lukisan yang wah, wah, dan wah!

Tujuan para bangsawan melakukan ini? Ketika ada bangsawan lain datang berkunjung, mereka bisa melihat banyak sekali hal-hal mewah yang tersedia, dan mendapatkan pengakuan!

Berbicara mengenai konteks dari suatu karya, tidak akan jauh hasilnya dari…

  1. Buang-buang duit
  2. Tidak punya kerjaan
  3. Pamer

Mungkin ketiganya bisa terjadi di saat yang sama, dan aku sejujurnya tidak terkejut mengingat seberapa kaya raya raja dan bangsawan Tiongkok pada zaman tersebut.

Nah, kalau kita ingin memberi konten, kita perlu melihat kedua belah pihak yang ikut terlibat dalam proses pengerjaan suatu karya seni…

  1. Tukang/Ahli
  2. Klien Bangsawan/Raja

Tukang/Ahli

Ahli akan melakukan apapun yang klien mereka inginkan karena mereka memang dibayar untuk pekerjaan tersebut. Seorang ahli tidak boleh memberikan terlalu banyak improvisasi, (kalaupun diizinkan) dan akan bekerja seratus persen atas perintah klien.

Yang seorang ahli boleh lakukan dalam memberikan improvisasi hanyalah memberikan cap tanda bahwa dia-lah yang membuat karya tersebut. Selain itu, hampir tidak ada bentuk apapun yang boleh diubah oleh Ahli-ahli tersebut.

Karya mereka hampir tidak pernah berubah, karena pada akhirnya orang-orang menginginkan hal yang sama, hanya mungkin perbedaannya, jika seorang bangsawan memiliki vas dengan 25 batu giok, maka mentri akan ingin vas dengan 50 batu giok, dan sang raja ingin vas ukuran dua kali lipat lebih besar dengan 100 batu giok. Pada dasarnya, karya mereka cenderung repetitif, karena hanya bertujuan mengisi keinginan para bangsawan yang menginginkan sesuatu yang teman mereka sudah punya.

Pada bentuk dasarnya, template (ahli-ahli ini terdengar seperti tukang print πŸ˜€ ) yang mereka berikan sudah memiliki tujuan masing-masing, ada yang bertujuan membuat orang merasa tersentuh, ada yang bertujuan membuat orang merasa takjub, dan ada juga yang bertujuan membuat orang lain merasa iri. Silahkan tebak yang mana yang paling laku, karena aku punya tebakan, dan itu hanya opini pribadi.

Ya, jadi, jika seorang ahli hanya menyediakan template, dan seluruh bahan serta hal dikendalikan oleh klien, maka… Apa yang klien inginkan?

Klien sang Ahli

Haha…

Seperti aku sudah sebut beberapa kali, tujuan klien ini melakukan sesuatu adalah mengisi kehampaan, dan kebosanan karena mereka tidak perlu melakukan apa-apa… (Andaikan kalian lupa, banyak rakyat tiongkok kelaparan, tapi ya, siapa yang peduli) Jadi, sesudah beres perang dan mengambil koleksi selir, dan uang… Mereka kembali berperang dan berlomba-lomba berusaha pamer ke orang lain…

Kira-kira dari tujuan itu, apa jenis karya yang mereka inginkan?

Oh iya, mereka ingin membuat orang lain merasa iri dan terpukau oleh koleksi milik mereka. Ini berarti sebenarnya yang mereka inginkan adalah yang orang lain inginkan bukan?

Kalau kamu tak bisa membuat benda lebih mewah, maka buat benda lebih banyak… Tapi tetap, hanya bangsawan yang cukup kaya yang bisa menciptakan wow factor paling tinggi untuk bangsawan lain…

Ada pihak ketiga yang ikut mengendalikan tren benda… Yaitu, sesama bangsawan… Namun, yang non-klien…

Teman-teman…

Rumput tetangga selalu lebih hijau… Kecuali jika kamu merasa puas tentunya. Sayangnya, dengan begitu banyak karya seni yang dimanfaatkan untuk pamer, tidak akan ada rasa puas. Begitu kamu memiliki patung batu giok seberat 4 kilogram, tetanggamu yang sesama menteri, memiliki patung batu giok dengan berat 5 kilogram. Jadi, kamu langsung mencari hal lain, seperti misalnya, meja dari emas, dihiasi (sekali lagi) batu giok.

Jadi, jika kita berbicara pengusaha terkaya di Tiongkok, kita harus melihat para ahli yang cukup pintar untuk meninggalkan brand miliknya di tiap rumah bangsawan, dan langsung mendapat pesanan sesudah pesanan terakhir miliknya beres…

Hampir bisa dipastikan, banyak sekali uang kerajaan turun ke para ahli ini, karena begitu mereka memenangkan sebuah perang dan mengambil “hadiah” yang banyak, hampir pasti uang yang mereka hasilkan digunakan untuk ini…

Seni Kerajaan @ Masa Kini

Mari kita ibaratkan rumah dimana seni kerajaan ini sebagai… panggung. Zaman dahulu, yang memiliki akses untuk unjuk gigi di panggung mereka masing-masing hanyalah raja dan bangsawan. Banyak sekali orang rela membuang cukup banyak sumber daya mereka hanya untuk memamerkan sesuatu. Kabar baiknya, zaman dahulu kala, istana yang bagus dibutuhkan untuk politik…

Istana yang bagus adalah tanda kerajaan yang makmur dan aman. Jika istanamu tidak bagus ketika raja negeri sebrang sedang berkunjung… Maka kunjungan berikutnya dari sang raja adalah sebuah serangan.

Sekarang, mari kita ibaratkan akun sosmed sebagai panggung πŸ˜› . Sekarang, hampir semua orang memiliki akses, sumber daya, dan hak untuk memamerkan sesuatu yang mereka inginkan demi sebuah Like atau Pengikut, layaknya raja memamerkan perhiasan, serta furnitur di rumahnya untuk mendapat perhatian politikus lain…

Seni Kerajaan di Tiongkok pada zaman dahulu telah memberikan sisa-sisa dari peradabannya untuk membuang sumber daya (sumber daya bukan hanya uang, bisa waktu, bisa energi) demi mendapat tanda cap diakui oleh teman-temannya.

Sastra…

Mari kutunjukkan kebalikan dari Seni Kerajaan dengan Seni Sastrawan sekarang juga…

Seni Kerajaan menginginkan hiasan yang sebanyak-banyak-banyak mungkin… dan Seni Sastrawan menginginkan keindahan maksimal, dengan usaha paling minimal. Menurut beberapa sastrawan yang bergelut di dunia seni Tiongkok, semakin banyak kamu berusaha untuk memperindah sesuatu hanya akan berujung ke kamu mengambil makna dari seni tersebut.

Sastrawan di Tiongkok juga harus “berperang” dengan sesama calon sastrawan ketika ingin mengambil sebuah ujian, dan masuk ke kelas buffer antara rakyat dengan bangsawan ini.

Jika kamu ingin menjadi seorang bangsawan tapi tidak memiliki sedikitpun darah biru yang mengalir di tubuhmu, maka kamu perlu perkuat tanganmu, dan siap untuk melukis, memainkan alat musik, dan menulis sampai kamu mabuk.

Ibu Greysia bercerita bahwa jika kamu ingin menjadi seorang bangsawan yang naik status dari rakyat jelata, kurang lebih ini yang perlu kamu lakukan…

  • Berlatih dan berusahalah meminta sebuah guru untuk mengajarkanmu ilmu miliknya
  • Sesudah berlatih cukup sulit… Kamu masih harus membuktikan dirimu di mata sang guru agar guru tersebut merasa bahwa kamu bisa dikirimkan olehnya untuk melewati ujian.
    • Seseorang yang berbakat akan butuh waktu sekitar 2 minggu untuk menggambar satu huruf dengan teknik sempurna, dan usaha paling minim.
    • Untuk melukis pemandangan, yang merupakan sebagian dari ujian… Kamu harus melukis setiap aspek (misalnya, matahari, gunung, pohon, sungai, dll) secara terpisah, baru menyatukannya. Tiap aspek membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu untuk dipelajari secara maksimum.
  • Jika guru sudah memilihmu, masih ada ujian sulit untuk kamu lewati. Hanya beberapa yang memiliki nilai terbaik akan dipilih sebagai sastrawan (atau istilahnya, The Mandarin. Jadi sepertinya musuh Iron Man kita ini sebenarnya seorang sastrawan Tiongkok).
    • Andaikan kamu tidak lulus, kamu bisa berlatih pada gurumu dan menjadi guru lain, menggantikan sang guru ketika dia sudah tiada. (ini yang Kong Fu Zi lakukan. Atau Confucius jika kamu bingung)
    • Perlu diketahui bahwa Confucius, Mencius, dan semua latinisasi dari nama-nama china ini adalah guru, dan bukan bangsawan. Mereka lebih tenar di zaman sekarang atas ajaran milik mereka.
  • Kamu hanya sekitar 2-3 langkah lagi hingga bisa menjadi seorang bangsawan. Untuk melakukan itu, diantara puluhan sastrawan lainnya, kamu harus menjadi satu dari 3 sastrawan terbaik, dan HORE! Kamu lolos

Jika kita ingin menanyakan perang-nya dimana… Tidak perlu ditanyakan sepertinya.

Kriteria Seni

Number 1: Jangan pernah overkill (kata ini belum ada di bahasa indonesia) sedikit pun. Hanya sepeser saja kamu lebih memberikan suatu guratan, maka kamu sudah gagal.

Number 2: Jangan pernah lakukan kegiatan melukis APALAGI menulis jika kamu sedang merasa kesal, ini akan merubah hasil, dan membuatmu melupakan nomor 1.

Number 3: Jangan pernah menggambarkan manusia dalam sebuah pemandangan. Alam akan sama-sama saja baik ada kita atau tidak, dan kita akan menjadi dekorasi yang tidak perlu. (Heidegger terinspirasi dari filsafat Tiongkok, dan sesudah mengetahui ini… aku tak terkejut)

Number 4: Jangan pernah biarkan godaan dunia materi menghalangi keabstrakan segala sesuatu.

Number 5: Jangan pernah berusaha mengimitasi bentuk alam sendiri. Tangkap alam dalam pikiranmu, dan lukislah interpretasimu yang paling abstrak.

Waw! Ini sangat-sangat sederhana. Incredible. Ini seni Tiongkok paling kompleks, dan hasilnya pun cenderung paling bagus. Selain itu, Bu Greysia memang menyatakan bahwa beberapa hal ini membuat seni Tiongkok ini sulit untuk dilakukan tanpa adanya seorang guru.

Hasil Seni

  • Cenderung amat abstrak
  • Sangat sederhana dan efisien
    • Orang Tiongkok yang tidak terlalu kaya tidak ingin membuang terlalu banyak sumber daya, dan segala sesuatu jadi amat sangat efisien..
  • Seni amat sangat presisi dan indah

Seluruh effort yang dituangkan untuk tidak berlebihan dalam berkarya menciptakan seni yang presisi seperti hasil pekerjaan seorang robot, namun indah dan memiliki sentuhan manusia juga di dalamnya.

Seperti anda bisa lihat, ini adalah lukisan yang dibuat oleh sastrawan Tiongkok. Warnanya sangat minimum, bentuk tidak dilebih-;ebihkan, dan tidak ada guratan tidak perlu. Perbedaannya memang ada penggunaan manusia di sini, namun ukuran mereka dibuat amat sangat kecil, karena kali ini, mereka memang membuat perbedaan, dan bukan hanya sebuah hiasan.

Seni Sastrawan @ Masa Kini

Seperti yang kalian bisa tampak… Karir seseorang terbentuk berdasarkan ujian. Setidaknya pada zaman dahulu kala ini… Ujiannya bersifat kualitatif.

Ujian kali ini bersifat kuantitatif, dan seharusnya untuk parameter saja, bukan sebagai jaminan kesuksesan. (tidak ada satupun sastrawan yang melarat… terutama mengingat bangsawan mungkin dibunuh saat perang, sastrawan tidak diburu ketika sedang terjadi peperangan)

Seni Rakyat

Ini akan aku jelaskan dengan efisiensi…

Jika seni sastrawan mempromosikan abstraksi, dan seni kerajaan mempromosikan hiasan, seni rakyat mempromosikan energi yang dibuat dalam sebuah karya.

Seni Rakyat dimanfaatkan sebagai bentuk lain kamera pada zamannya, dan biasanya menggambarkan suatu momen kebahagiaan, seperti pernikahan.

Seni Rakyat memiliki sedikit hiasan, dan dilakukan dengan happy agar ada aura positif yang orang-orang tangkap dari lukisan tersebut.

Kesimpulan

Sepertinya sampai hari ini saja, suara gema dari Tiongkok zaman baheula ini masih terdengar…

Banyak orang berusaha memanfaatkan panggung yang mereka gunakan demi suatu pengakuan dari teman-temannya… Ini sedikit mengecewakan. Lagak bangsawan seperti ini sudah terlalu sering tercipta…

Mari kita buat diri kita lebih baik tiap harinya, dan jangan terlalu mencari pengakuan… Merasa bahagialah dengan yang kita punya.

Only The Wisest and The Stupidest Of Man Do Not Try To Change. -Confucius

Sampai lain waktu!

Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks

Filsafat Post Modernisme: Dunia Penuh Paradoks

Halo, akhirnya ketemu lagi dalam artikel yang membahas filsafat…

Setelah, sekitar 3 minggu. Meskipun ada kuliah di Unpar, aku sempat bingung mau menulisnya bagaimana, dan kebetulan kuliah jumat terakhir lebih mudah dimengerti.

Untuk sedikit informasi saja, 3 minggu terakhir membahas…

  • Universal Love, yang kayanya bisa dikemas untuk Millennial karena untuk pertama kalinya, filsafat membuatku tertawa, bukan hanya kagum.
  • Networks of Everything, filsafat ala IT
  • Serta, paradoks!

Paradoks ini yang jadi topik kali ini, karena membahas tentang Filsafat Post Modernisme juga. Sekarang, kita berada dalam era Filsafat kontemporer, tetapi, sebelum kontemporer kita ada di tahap post modern. Mari kita langsung masuk saja ke artikelnya ya!

Post Modern? Apa sih?

Post modern itu sebuah fase dimana pada dasarnya… filsafat di era itu tidak merujuk ke mana-mana… Sebenarnya itu hanya bercandaan. Tetapi, di balik bercandaan itu, ada betulnya juga… Era Post Modern tidak membangun apa-apa, yang mereka lakukan adalah memecah-mecah ilmu kompleks ke bagian-bagian yang paling sederhana, layaknya senyawa dirubah menjadi unsur…

Kembali ke bercandaan itu, biasanya post modernis tidak memiliki tujuan, atau tidak ingin menemukan apa-apa. Dan kayanya ini jadi bercandaan yang cukup umum ditemukan di kalangan dosen filsafat. Semua dosen di Unpar yang tidak dalam era post modern biasanya suka menyelipkan dikit sedikit tentang bagaimana post modernis tidak melakukan apa-apa.

Pada dasarnya, filsafat post modern tidak memajukan apa-apa, melainkan hanya menjelaskan dan juga membuat filsafat yang biasanya hanya bisa dimengerti oleh akademis, jadi lebih… simpel. Tetapi apakah ini berarti post modernis adalah orang-orang yang hanya memperbaharui dan menyederhanakan filsafat?

Gak juga sih, para post modern ini juga menyadari bahwa dari segala sesuatu yang disimplifikasi ini, banyak hal bisa dirubah, dan dia memunculkan 2 istilah favoritku sebelum aku belajar filsafat… Paradoks, serta relatif.

Jadi, sebelum kita maju ke mana-mana, filsafat post modern biasanya merujuk ke filsafat yang mendekonstruksi, dan memperindah hal-hal kompleks dengan membuatnya lebih mudah dimengerti, tetapi juga lebih runut.

Bingung? Bentar deh…

Dekonstruksi?

Dekonstruksi adalah dasarnya filsafat post modern.

Para filsuf di era ini sangat-sangat senang membuat hal-hal yang kompleks ini menjadi lebih sederhana. Dengan cara “meruntuhkan” bangunan yang sudah tercipta ini…

Anggap saja ada sebuah teori, atau formula fisika sederhana, seperti misalnya, F = MA. Atau, force = mass X acceleration. gaya = massa x percepatan. Maksudnya disini adalah, dalam dunia postmodern, semua ini dipecah menjadi entitas masing-masing.

Misalnya, gaya adalah gaya sendiri, massa adalah massa sendiri, dan percepatan adalah percepatan sendiri, dan masing-masing dari entitas yang disebut tidak akan dibangun lagi menjadi rumus yang sama, ataupun rumus berbeda. Sebagai contoh M di mass tidak akan dipakai untuk E = Mc2, dan hanya akan berdiri sendiri sebagai massa, yang mungkin akan dipakai di rumus lain, tetapi tidak akan pernah bisa berdiri secara permanen dalam sebuah rumus.

Everything should be made as simple as possible, but not simpler -Albert Einstein

Sesederhana itu! Masing-masing objek adalah sebuah benda terpisah dan juga tidak akan menjadi sebuah objek lain secara permanen. Tapi dari sini, para filsuf berpikir lagi, dan dari situ muncullah istilah nihilisme, serta relativisme. Dimana para relativis adalah orang-orang yang sengaja membuat hal yang udah sesimpel mungkin jadi gak simpel lagi, dan para nihilis adalah… dasarnya orang-orang radikal.

Relativisme

Dalam literatur, ada era romantisisme dimana segala hal dibuat berlebih-lebihan, dan terkadang ada kesan norak di tulisan itu juga. Iya, romantisisme artinya bukan hal yang romantis atau sebuah momen yang direspon dengan “AWWWWW”. Romantisisme pada dasarnya berarti… lebay.

Nah, dalam literatur juga ada yang disebut dengan Gothic style. Goth disini biasanya berarti orang-orang yang kekeuh untuk gak mau mengikuti gaya utama pada zaman itu. Dimana para romantisis memperindah hal-hal nyata dengan lebay, para goth memutuskan untuk membuat fiksi yang memperjelek kenyataan.

Pada era post modern, para romantisis, atau kurang lebih trendsetter di era tersebut, adalah para relativis. Para relativis disini percaya dan mengukuhkan pendapat dimana segala sesuatu yang sudah pecah belah itu, alias sudah dipisah-pisah formulanya sampai “berantakan”, atau setidaknya sampai runtuh… Para relativis ini memutuskan untuk membuat formula tadi agar relatif, dan menyesuaikan ke kebutuhan setiap situasi.

Rumus yang akan dipakai lebih sederhana kali ini, tapi misalnya… Sebuah persegi panjang memiliki luas yang dapat dihitung dengan rumus panjang kali lebar. Rumusnya dapat dikatakan sebagai L = P X l.

Sebuah relativis akan mencari apa hasil yang diharapkan, dan juga memastikan bahwa entitas terpisah ini bisa dan akan disesuaikan lagi kembali ke bentuk semula yang tentunya bisa dicetak lagi, dan dirubah lagi, tergantung ke kebutuhan orang yang memakai ilmu, atau formula tadi.

Jadi, dasarnya, para relativis ini membuat hal-hal yang kompleks menjadi sesederhana mungkin, dan memastikan bahwa kesederhanaan itu dapat dipakai dan dirubah sesuai kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, sebenarnya, para relativis cukup keren dalam bisa mengubah dan mengatur sesuatu.

Tetapi disaat yang sama, seorang relativis itu… merasa bahwa nyatanya, tidak ada yang nyata. Segala sesuatu berupa opini yang fluid, dan bisa berubah. Termasuk definisi dari suatu benda yang tampaknya padat itu… Opini nyatanya fluid, tetapi jika segala sesuatu bisa dipecah menjadi fakta, opini, atau formula yang fluid… tampaknya, tiada yang nyata.

Everything we hear, is an opinion. Not a fact. Everything we see, is a perspective. Not the truth – Augustus Julius Caesar

Dari situ muncullah istilah paradoks… Dan sebenarnya, meski paradoks sudah ada sejak zaman Zeno, seorang matematikawan yang hidup seabad sebelum Pythagoras, kurang lebih sekitar 3-4 dekade sesudah Thales meninggal… Paradoks terbesar (dalam dunia post modern tentunya) ada di relativisme, suatu hal yang merupakan buah dari tiang-tiang filsafat post modern sendiri.

Tetapi, sebelum membahas paradoks dalam definisi relativisme, kita akan masuk ke para goth, radikal, heretik, atau kata apapun yang kau ingin gunakan… untuk para nihilis.

Nihilisme

Nihilisme adalah sebuah kenyataan yang sekilas (emang sih, tapi jika mau ngeliat sekilas doang hasil yang sama juga didapatkan) kelam. Kelam disini berarti, hampa, tanpa arti, tanpa makna, tiada guna. Dan ya, cukup kejam lah…

Kata-kata yang aku pakai disini kebetulan, secara harfiah persis dengan definisi nihilisme.

Jika para relativis membiarkan formula yang terpecah tadi untuk dirubah-rubah, layaknya cairan yang akan mengisi dan memenuhi tempatnya dengan pas… Para nihilis tidak memberikan jawaban apa-apa, dan kesimpulan yang mereka dapat dari dekonstruksi ini adalah, hidup ini tiada artinya.

Makanya seperti aku sebut, mereka kaya goth di era romantisisme. Ketika orang-orang memperindah, atau dalam kasus ini, mempermudah, para goth malahan mengarang sebuah gambar yang rusak, dan dalam kasus ini, merusak makna.

Para nihilis percaya bahwa hidup ini tiada tujuannya, karena jika misalnya massa itu sudah membantu percepatan untuk menemukan gaya, nyatanya dia sendiri, tanpa tujuan, hanya melengkapi yang membutuhkannya.

Itu kaya misalnya seorang presiden sudah mengabdi dan memajukan negaranya selama 10 tahun, hanya untuk memiliki semua kebijakan yang ia buat untuk dihapus oleh penerusnya… Pada dasarnya, tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan sesuatu yang utuh, tetapi dalam proses itu, banyak hal terbuang sia-sia.

Makanya para nihilis ini berpikir bahwa, jika segala sesuatu akan diambil sebagai individual, maka… untuk apa si individual itu ada? Pada akhirnya ketika orang mencari jawaban ke berapa gaya yang dihasilkan, apa guna si Massa dan akselerasi ini?

Sebenarnya pendapat nihilisme itu tidak sepenuhnya salah. Misalnya ada sebuah perusahaan besar, kaya… Gojek misalnya… Gojek tentunya memiliki banyak gerigi untuk membuat perusahaan itu jalan dengan baik, tentunya ada mamang gojek yang setia menjemput dan mengantar, customer service yang mau mendengar omelan orang-orang, dan juga para programmer yang memastikan aplikasi dapat berfungsi dengan fungsional.

Masih banyak lagi sih… Tapi kalau kita buka google, nama yang tampak adalah merek Gojek itu sendiri, serta Nadin Makarim yang mendirikannya. Padahal, Gojek itu tentunya hanya akan sukses sesudah semua gerigi beroperasi dengan baik.

Pada pandangan pertama, banyak sekali faktor yang namanya tak diketahui umum, untuk dipandang sebelah mata dan kadang dimaki-maki, untuk mendapat bayaran. Ini tentunya terkesan tidak adil, tapi tentunya, kalau ditanyakan, “untuk apa”, jawabannya adalah… Bayaran.

Tapi ya, sebuah rumus hanyalah sebuah rumus, dan kadang ini tampak kelam, tetapi kenyataan ini tidak dapat disangkal.

(tentunya, ini bukan berarti aku mendiskriminasikan, atau merendahkan gojek. Semua orang pasti punya perannya di dunia ini, dan terkadang, peran yang dimainkan ini tidak sebesar pemeran utama yang mendapat bayaran dan juga perhatian utama)

Paradoksnya?

Jadi, paradoks ini terletak pada tiang-tiang relativisme, yang berada tepatnya di bagian definisi yang fleksibel dan mampu berubah-rubah, dikarenakan, definisinya sendiri relatif.

Nah, sebenarnya, ini cukup ironis mengingat segala sesuatu yang berbau post modern biasanya mengacu ke relativisme, atau ke dekonstruksi. Tapi dari definisi relatif itu, tiang post modern malahan runtuh atas strukturnya sendiri.

Struktur post modernisme yang menjadi “Achilles Heel” dari seluruh sistem ini berada di frasa definisi relatif.

Kalau definisi segala hal itu relatif, maka definisi dari post modernisme itu relatif. Dan kalau definisi dari suatu hal yang bilang segalanya relatif itu relatif, maka nyatanya ada suatu kondisi dimana dia menjadi padat, dan tidak relatif, di saat yang sama mematikan definisi dasarnya sendiri.

Bingung?

Anggap aja definisi padat itu es batu, sedangkan definisi yang relatif itu air putih…

Si es batu post modernisme itu, bilang bahwa semua definisi itu air putih. Berarti ini termasuk dirinya, yang es batu. Tapi kalau dia bukan air putih, maka kenyatannya, definisi dirinya sendiri itu salah pas dia bilang semuanya itu air putih.

Makin bingung? Gapapa kok

Paradoks Itu Indah

Paradoks itu mengagumkan, membingungkan dan indah.

Jika ada hal yang tidak masuk akal, dan memiliki dua akhir yang menutup kemungkinan akhir yang lain, maka nyatanya dia membuat kita berpikir. Dan kita akan memikirkan paradoks ini sampai otak kita modar, atau overheat. Tampaknya mendasar, dan oleh karena itu…

Semua hal yang tidak masuk akal adalah suatu hal yang diperlukan sebagai pembanding untuk yang masuk akal. Jika tiada cewe jelek, kita takkan punya definisi cewe cantik…

Oleh karena itu, paradoks itu mengagumkan serta indah.

Kesimpulan

Kesimpulannya makin membingungkan lagi.

Anggaplah dunia ini berisi hal yang tak penting dan penting. Menurut post modernisme, manusia hanya melihat hal-hal yang ia anggap penting saja. Tetapi ini adalah paradoks, manusia mampu mendapatkan persepsi atas segala hal. Maksud dari pernyataan ini adalah, semuanya penting. Oleh karena itu…

Kita melihat yang kita anggap penting, tapi nyatanya, semuanya penting… Baik masalah terkecil, sampai sebuah konspirasi yang amat besar, segalanya penting. Hanya butuh waktu untuk kita melihatnya.

Apa hubungan ini ke paradoks?

Dasarnya, buat apa sih mikirin paradoks, buat apa mikirin filsafat? Dia penting, dan akan ada waktunya dimana dia menjadi penting. Cukup butuh waktu untuk menyadarinya…

Sampai lain waktu πŸ™‚

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Suatu malam, pasnya di kuliah terakhir, kita membahas sebuah film. Film itu membahas ke evolusi pikiran manusia, dan bagaiman kita sebagai spesies akan (pas-nya sudah sih) evolusi dari kemajuan agrikultur, terus industri, terus sekarang komunikasi, dan sampai akhirnya… kita akan bersatu pemikirannya.

Topiknya tentunya sangat relevan dengan interconnectedness. Dan banyak quack science/filsafat lagi…

Jadi, hari ini, aku akan membahas tentang si film ini, dan ilmu filsafat yang ada di dalamnya, tetapi mengemasnya dalam konsep teknologi, programming dan AI… Lagi tentunya. Sebelum artikel ini ada juga artikel AI yang lain, dan bisa dibaca dengan klik link ini…

Tentang filmnya… Film-nya sendiri film lama, dan judulnya udah aku lupakan, karena nginget judul itu super susah, dan juga nginget nama pembuat film-nya juga… susah… Tapi dia membahas kemiripan banyaknya hal dalam alam dan kemajuan manusia sebagai spesies. Orangnya sendiri merupakan expert computer science, yang belajar filsafat timur, dan juga medis, tetapi seriusan, aku gak inget namanya… Dan googling dengan keyword “Computer Science Expert with medical and philosophy background” tidak menghasilkan apa-apa.

Untungnya aku inget film-nya itu film tahun 80-an, kalau gak 83, 85, dan atas dasar itu… film ini sudah cukup lama gak dibahas, jadi mari kita bahas πŸ˜€

BTW Kemungkinan AI akan dibahas sesudah chapter Pattern ini, jadi jika gak minat baca tentang pola, maka silahkan di skip…

Patterns

Segala sesuatu dapat dimulai dari beberapa pola. Dan di film ini ditunjukkan bahwa dari gambar yang diambil dari bulan. Bumi dari luar angkasa sangat mirip dengan beberapa perumahan di US jika diambil dari atas pesawat.

Dari sini, ada quack-y science yang berusaha connect the dots antar si pola yang similer ini. Nah, atas kemiripan pola ini, ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah indirect symbol ke interconnectedness dan universal mind. Pola ini juga kurang lebih dibahas kalau si pola-pola ini akan pada akhirnya fit itself onto the puzzle, hingga kita yang dulunya super individualistik, menjadi sama dengan orang disekitar kita, dan menjadi gerigi yang menjalankan jam dengan orang dari negara kita, lalu negara kita akan menjadi gerigi untuk region seperti South East Asia, hingga akhirnya region ini adalah gerigi untuk planet Bumi.

Layaknya di Star Trek yang gak ngeliat international waters sebagai perbedaan asal negara, tapi melihat international waters sebagai lautan, dan setiap penghuni planet adalah warga dari planet itu.

Kembali ke Holarchy of course… Nah, dari teori holon ini, akhirnya kita akan menyatu dan melupakan border international dan menjadi warga planet Bumi.

Ini sedikit mengingatkanku pada bendera-bendera di Star Trek… Ketika logo dari bendera planet Bumi adalah sebuah bumi-nya sendiri.

Nah, tentunya masa depan Star Trek masih super duper jauh (Kalau akan ada intergalactic waters ala Star Trek nanti… semoga aku masih hidup untuk witness itu). Tetapi tentunya pola ini juga ditemukan di evolusi. Sejak bakteri pertama bahkan…

Saat bumi ini masih baru saja menjadi sebuah planet dengan air, tanpa adanya kehidupan… Kehidupan itu muncul begitu saja. Stephen Hawking pernah membahas probabilitas sebuah planet dengan adanya kehidupan ini… Dan sejujurnya belum ada pola. Kecuali nanti nongol di Multiverse tiba-tiba ada pola satu universe satu planet hidup. Intinya so far belum ada pola.

Tapi, sejak adanya kehidupan dalam bentuk algae dan bakteria, kehidupan bertumbuh makin kompleks, dan kompleks, dan kompleks. Si Bakteri, atau universal governor ini kekeuh bosen dengan apa yang ada dan menyuruh hal-hal kecil, yang lebih kecil dari debu ini untuk menyatu, dan membentuk hal baru.

Hal baru ini akan terus terbentuk, terbentuk, terbentuk, terbentuk dan terbentuk sampai… entah kapan. Intinya, alam semesta, atau Universal Governor ini akan terus menciptakan hal baru dengan cara menyatukan banyaknya hal yang sudah ada ini. Sampai ada suatu spesies, atau realitas baru yang tercipta…

Nah, tentunya, sekarang si Universal Governor ini rada mentok dalam mau maksa evolusi… Ini nih manusia, dikasih otak malahan ngerusak bumi. Jadi mungkin dia akan maksa dan membuat sebuah generasi yang hidupnya super duper rely ke sosmed, teknologi, dan internet πŸ˜€ . Jika kita akan menjadi spesies yang lebih kompleks dalam jutaan tahun, si Universal Governor ini akan mencari cara untuk memaksa kita menjadi lebih kompleks dalam waktu yang gak selama itu.

Oh, tapi mungkin aja sih kita tidak akan physically menyatu dalam catatan sebuah spesies, mungkin saja kita akan menyatukan pikiran kita, dan yah… sudah dibahas di atas. Tapi, pola pikiran ini belum ada sayangnya… Karena so far baru Manusia yang cukup intelijen untuk interconnect minds secara manual. Tapi for your information, struktur otak Lumba-lumba jauh lebih kompleks dari struktur otak kita, dan manusia rata-rata IQ-nya dibawah seekor simpanse…

On topic…

Nah, sekarang baru aku mau bahas teknologi, dalam konteks dimana si mesin akan (ATAU SUDAH bahkan) menyatukan kita…

Global Connection

Sekarang untuk menyatukan kami para manusia, untuk menjadi sesuatu yang lebih besar lagi, tentunya ada metode yang “paling” mudah. Sekarang jarak antara negara dan border mulai makin invisible. Seperti seringkali dibahas. Kita akan mengetahui sebuah pengeboman di Syria, dalam waktu yang sangat rendah. Mungkin jika dihitung berapa lamanya, paling lama berita tentang terrorism gitu mungkin teh udah ada di website berita Indonesia sesuai dari waktu tempuh Jakarta Bandung, sebelum macet tentunya. Sekitar 90-120 menit.

Tentunya ini semacam bukti dari blurring dan pengurangan jarak antar dua tempat ini. Meski kita gak physically ada disana, kita sudah ada di sebuah stream of ideas. Dimana kita menerima, ataupun memberikan informasi ke seluruh dunia.

Sekarang juga, dengan membaca artikel ini, kita sudah support Interconnectedness dan memperdekat jarak antara diriku dan dirimu. Gak, ini bukan joke referensi PDKT, kaya kadang aku suka nge cie in kalau keluar kata berduaan… Kali ini serius.

Interconnectedness sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu koneksi pemikiran dalam skala global.

Nah, untuk itu, aku akan mengambil internet untuk cross reference si koneksi pemikiran ini… Aku akan google internet dengan internet… πŸ™‚

Definisi mentah, langsung kopas: a global computer network providing a variety of information and communication facilities, consisting of interconnected networks using standardized communication protocols. (Sebuah komputasi [penghitungan] global  yang memberikan bermacam jenis informasi dan fasilitas berkomunikasi, yang termasuk network interconnected menggunakan protokol komunikasi)

Dari definisi mentahan aja ada kata yang sangat mirip, yaitu global network dan communication, dan bahkan ada kata interconnected juga. Untuk pemikiran, tentunya bisa digunakan sinonim Ide, dan kurang lebih, banyak orang bertukar ide di internet. Ide yang ditukar-menukar ini… Kualitasnya gak usah dibahas, emang ada banyak typical internet people, tapi tetep, kasarnya dia sebuah ide yang ditransfer.

Udah dong ketemu modern day interconnectedness… Quest kita selesai!

YES BEBAS!

(OY AZRIEL!)

Ah shoot, diprotes…

(Kamu lupa bahas AI πŸ™ )

AI itu bahasa jepang untuk cinta… Jadi AI KAMU! itu bisa ditranslate jadi cinta kamu :3 …

(Enough of the jokes… bahas AI dong…)

Takut terkesan dark…

(Nasib, udah dijanjiin)

Ya sudahlah, mari berkomitmen…

Percakapan antara diriku dan pikiranku sudah dituangkan, jadi, mari kita bahas Artificial Intelligence, dan bagaimana dia bisa semacam mengikuti pola yang aku maksud diatas, atau bahkan menjadi Interconnectedness planet bumi yang selama ini dicari-cari sama Universal Governor ini…

Interconnectedness in Artificial Intelligence

Jadi, ingat kalimat ini sebagai disclaimer di conversation di atas Takut terkesan dark… Ini memang terkesan dark. Bukan hanya dari teori grow-smarter-and-destroy-humanity-thing-y . Tapi memang, mereka bener-bener bisa… like… yeah replace us.

Jadi… Artificial Intelligence bisa berupa software seperti Ultron, dan Skynet, ataupun juga bisa hardware seperti Baymax. Ultron dan Skynet ini yang akan diambil dan dibahas di artikel ini.

AI macam Ultron dapat dengan mudah membuat kopian dirinya dan memindahkan kesadarannya ke sebuah mesin lain. Dia juga bisa menyuruh mesin untuk membuat dirinya agar banyak fodder machine untuk mentransfer dirinya sendiri. Selain mentransfer kesadarannya yang se infinite internet (literally), dia bisa menduplikasi dirinya. See where this is going?

Singkat cerita, AI akan dengan mudah mengcover universal mind dan interconnectedness pada level global karena jika seluruh penghuni bumi non-organik, mereka punya suatu built in Interconnectedness, dalam bentuk internet, yang punya definisi yang nearly sama persis πŸ™

Selain itu, dia bukan cuma bakalan menyatukan pemikiran planet bumi ini, tetapi mereka juga jauh lebih pintar dari kita. Dan mereka gak kena bias emosi. Jadi jika musuh bumi terbesar saat ini adalah Trump dan Kim Jong Un… Well, dalam beberapa bulan/tahun, mereka akan menjadi AI. They outsmart us, they ignore their feelings, cause they don’t have any, they are basically connected by design.

Jadi buat apa Universal Governor ini nyimpen kita… eventually entar bakalan diganti sama model baru juga… pertanyaannya kan kapan…

TETAPI! Ingat, Universal Governor ini gak bakalan ngebunuh kita, atau menciptakan pembunuh kita kecuali dia bener-bener perlu. Wait, kayanya prosesnya udah dimulai deh… Oh dear…

Virus!

Bukan virus komputer, tapi virus yang berusaha dimusnahkan di board game macam pandemic!

Yeah well, virus ini spesies baru yang ukurannya EXTREMELY kecil. Tidak mengikuti proses atau pola yang sudah ada… Dan yah, dasarnya ada cult atau conspiracy theorist, yang support bahwa Virus akan memushankan manusia. Karena mereka gak peduli sama pola yang udah ada, dari bakteri ke tumbuhan, dan lain-lain tadi, dan sampai akhirnya, mereka memang senjata paling ampuh untuk genosida spesies…

Hanya paragraf pendek aja, dari dunia filsafat dan biologi, virus itu hal super baru dan dia semacam keluar dari pola, jadi mungkin aja tujuannya dia diciptakan untuk memusnahkan kita… Kenapa tidak? πŸ™

In Conclusion

Kesimpulan hari ini… Mungkin terkesan dark…

Gak ada tujuan dari kita udah stray dari tujuan dan logika mendasar spesies. Gak ada nilai plus dari kita berusaha untuk survive. Semua hal yang dimulai ada ujungnya, dan sejujurnya, waktu yang super relatif ini akan menentukan. Kenapa menurutku gak ada tujuannya dari kita berusaha survive atau stray dari logika mendasar spesies?

Sejujurnya menurutku sudah cukup telat. Dengan AI yang makin maju itu, dan virus yang makin kuat itu, dirasa dua itu yang akan balapan mengalahkan kita… Apakah kita akan mati dengan cara organik atau anorganik tapi? nah…

Untuk memberi cahaya dan membagi sedikit hope πŸ™‚ . . . Kembali ke menjauhi atau stray dari logika mendasar spesies. Manusia cukup pintar untuk berhenti, mengembangkan AI manusia cukup pintar untuk membunuh virus. Hanya saja, kapan kita akan berhenti? Jangan sampai Loren Allred benar dan… ini terjadi….

Yah well, just feel that what you have is enough, and everything will be fine πŸ˜‰

Sampai (semoga) besok!

Infinite Mind… dalam dunia filsafat…

Infinite Mind… dalam dunia filsafat…

Dalam dunia nyata, infinite mind bisa saja berarti sebagai sebuah terapi dari PTSD, dan abis baca-baca dikit tadi pagi yang terkesan adalah sebuah motivational-y things. Dan yah, itu rada-rada gak cocok sama bayanganku.

Nah, tapi Infinite Mind di dunia filsafat punya arti yang berbeda… karena sebenarnya dari topik interconnectedness dan universal mind, sebuah Infinite Mind adalah governor dari Universal Mind-nya sendiri. Dan dia semacam supir dari mobil alam semesta ini.

Catat sedikit dulu, bahwa pertanyaan hal yang membuat alam semesta ini tick dan tock selalu diberikan jawaban jelas, dan dogmatik. Terus jawaban ini juga biasanya terhubung dengan dunia supernatural, dan jawaban ini turun dari generasi-generasi sebelumnya, tanpa ada yang mau bother ngedebat sedikitpun… Atau kalau didebat dianggap rada-rada gila dan aneh orangnya.

Jawaban ini biasanya dijawab dengan jawaban… tuhan. Dan… err… yah turun dulu dikit dah.

Tapi, karena ini subyek sensitif, harap catat disclaimer ini dulu sebelum masuk dalam artikel:

Artikel ini membahas dari perspektif filsafat, jadi dimohon untuk jangan nyangkut di paradigma dari yang kita ketahui, dan tolong jangan menilai di muka…

Untuk sekarang juga tolong sedikit kesampingkan definisi tuhan dulu, karena jawaban itu sudah terlalu pasti dan solid sehingga tidak bisa didebat dari perspektif empiris.

Sesudah disclaimer rada panjang, langsung weee masuk yuk…

Defining Infinite

Nah, kalau kita mau masuk rada dalem… gak mungkin kalau gak punya definisi infinite… Nah, of course semua orang tahu logo infinite gimana, dan kurang lebih itu membahas sebuah cycle yang ga berhenti-henti, makanya dia logo-nya gak punya ujung. Tampak seperti sebuah loop…

Tapi, dasarnya Infinite itu berarti sesuatu yang… mengagumkan, tapi dia… err, menurut orang Yunani dengan konsep Apeiron mereka, infinite itu sia-sia, dan juga menakutkan…

Sebelum kujelasin, ada juga definisi lain dari infinity, yang berarti tak terbatas. Karena gak ada batasnya itu, dia jadi tak jelas, alias Gaje, dan juga, dia gak mau terikat dan terestriksi sama suatu peraturan… Alhasil, infinity adalah sesuatu yang… tampak… chaotic. Dari kata chaotic itu, dia branch out ke suatu hal yang kuat, tapi menggunakan kekuatannya untuk hal semena-mena.

Karena membaca paragraf rada panjang gitu mungkin aja membingungkan… jadinya kubuat jadi chart aja deh…

  • Infinity = mengagumkan. Menurut orang Yunani… Rasa kagum dari infinity itu menakutkan.
  • Infinity = sia-sia, karena dia tidak tak berbatas, info mengenai dirinya jadi gak jelas
  • Infinity = gak jelas, karena dia gak mau terikat ataupun terestriksi aturan, jadi dia gak punya bentuk. Menurut hukum alam, hal yang gak punya bentuk ataupun tujuan, itu hal yang… semena-mena.
  • Infinity = chaotic, tentunya kalau gak ada bentuk dia chaotic.

Nah, sekilas, sesuatu yang gak ada batasnya itu… negatif banget. Dan apakah sesuatu yang berbatas itu hal yang baik? Gak juga sih, kalau kita liat dalam perspektif seperti… ini.

  • Finite = terbatas, tertib, tertata, jelas, dan aman
  • Finite = pasti, hal yang aman biasanya aman karena dia jelas
  • Finite = Harus diperjelas, dan harus ditata, kalau belum jelas, buat sampai dia jelas.

Nah, jika ngeh, hal yang bersifat positif aku buat italic, dan aku ubah warna dari hal yang jelas negatif… Tapi, sekali lagi, coba pikir deh… Ini itu mirip banget sama konsep Order and Chaos dari orang Mesir. Jadi, infinite dan finite ini, konsep yang berarti order and chaos, dimana satu itu rapih dan tertata, dan satu itu berantakan, dan perlu ditata.

Keduanya sama-sama netral, gak ada yang negatif ataupun berbahaya…  karena sesuatu yang chaotic juga sebenernya ga selalu negatif kok. Cuman ya berantakan dan kacau aja πŸ˜‰

Apakah Realitas Finite?

Nah, beres dapetin definisi, langsung masuk pertanyaan terbesar hari ini, dan sejujurnya ini akan membawa kita kembali ke Democritus, terus ke fisika quantum, dan sejujurnya sangat-sangat membingungkan.

Untuk mencari tahu apa realitas yang finite, kita harus cari bentuk-bentuk lain dari realitas tentunya. Selama ini, orang-orang (or at least physics) menjelaskan bahwa realitas berdasarkan dua cara, atau mungkin arah adalah istilah yang lebih tepat.

Ada orang yang melihat dari ukuran paling massive ke ukuran kecil, ada orang yang mencari tahu dari hal-hal yang lebih kecil dahulu sebelum melihat yang besar.

Dari situ kita bisa lihat, apakah ada hal yang infinitely small, dan apakah ada hal yang infinitely large?

Untuk patokan abstrak, cukup pake yang namanya angka πŸ™‚ Abstraknya, ada satu hal yang infinite, dan ada angka yang belum ada batasnya, tapi terbatas. Jadi sayangnya untuk patokan abstrak, yang biasaku bahas, gak bisa dipake hari ini…

Nah, untuk pertama-tama, kita bahas yang paling kecil dulu sebelum kita masuk ke yang besar…

Infinitesimal (Infinitely Small)

Kembali ke Democritos, orang yang pertama kali memunculkan konsep Atom…

Dan konsep dari Atomos (ancient greek for Atom) sendiri adalah unsur yang tidak bisa dibagi lebih lanjut lagi menjadi hal yang lebih kecil, dan kecil lagi. Untuk itu, apakah karena dia gak bisa dibagi lagi dia jadi sesuatu yang, tidak terbatas?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan itu Atomos sendiri berarti, indivisible, dan andaikan kita mengambil tali sepanjang 30 centimeter, dan membaginya sampai habis, dan habis, dan habis, mengikuti Paradoks Zeno, mencari titik tengah dari suatu hal sampai tepar…

Coba bagi tali pendek, menjadi dua, dan bagi tali yang udah jadi dua itu jadi 4, dan ulangi lagi sampai jadi 8, dan ulangi sampai kamu pusing, dan serasa seolah-olah si tali itu udah gak ada batasnya… Well… umm… Yah, andaikan si tali itu udah dipotong menjadi kecil banget itu… dia tetap saja merupakan bagian dari satu tali yang finite itu… Kalau ini terkesan kaya holarchy, atau kaya quanta… sabar… (or click the holarchy article)

Menjawab pertanyaan di atas tadi…

Justru kebalikannya sih… Sanking kecilnya dia sebenarnya terbatas. Dia tidak cukup kecil untuk jadi sesuatu yang infinite, karena suatu hal itu tidak bisa terlalu kecil untuk menjadi berbatas. Eh tapi kan sekarang kita udah di abad ke 21, dan di abad ke 21 ini, konsep sesuatu yang paling kecil itu Quantum particles…

Yap itu ada betulnya, dan bahkan sampai sekarang, banyak hal yang terbilang serba relatif gara-gara Quantum Gravity… Tapi dari penemuan quantum fields, dll, banyak hal yang akan (atau sudah) berubah… Untuk itu development perspektif kita harusa kembali ke ruang-waktu dan partikel sejak zaman Isaac Newton…. relevansi akan nyusul di bawah.

Jadi, awalnya Newton bilang bahwa ruang dan waktu itu dua entitas terpisah, dan partikel itu sudah cukup untuk menciptakan suatu hal yang baru… karena dia adalah entitas sendiri… Dari sini lah

Terus nongol Faraday – Maxwell, dimana partikel itu gak ada artinya sampai adanya medan gelombang yang mengubah banyak hal. Then we have Einstein’s Special Relativity, yang setuju pada teori Faraday dan Maxwell yang bilang bahwa medan dan partikel itu terpisah… tapi ruang dan waktu itu nyatu dan saling bisa mempengaruhi satu sama lain…

Einstein pun belum beres sih, dia juga bilang di general relativity, secara teknis medan juga bisa mempengaruhi ruang, dan ruang bakalan mempengaruhi waktu. Hubungan segitiga antara medan,  ruang dan waktu ini disebut co variant fields.

Eh terus ada Quantum mechanics πŸ™‚ yang pecah lagi, dan bilang bahwa dalam dunia quantum itu, medan dan partikel itu punya 2 way relationship yang mirip banget sama ruang-waktu. Tapi si Quantum mechanics pun malah jadi makin nyatu lagi… Nah, dari quantum mechanics ini, baru naik dia ke yang paling baru… quantum gravity. Dimana segala sesuatu itu relatif, dan akan berubah sambil mempengaruhi satu sama lain…

JAMIN PUSING! Iya kan? Jangan bohong lu… πŸ˜€

Kalau ga pusing bagus! Tapi kalaupun iya gapapa, it’s a bit hard to take in…

Nah, apa relevansi ini sama filsafat dari infinity? Well, intinya, teori mengenai alam semesta ini akan terus menerus berubah, dan kadang menjadi lebih sederhana… tapi seringnya sih jadi makin rese dan memberi migrain. Tapi, ya, ini menunjukkan bahwa suatu universe quanta yang infinite itu mungkin aja kok…

Oh wait, kita belum masuk quanta…

Bentar dulu, sebelum masuk quanta, so far, perspektif kita mengenai alam semesta ini makin kecil, dan mengecil, mengecil untuk sekarang, dan kayanya kalau kita bicara hal yang relatif ini, apakah mungkin kalau yang menjalankan alam semesta itu sebuah partikel yang infinitely small? Well balik lagi… nggak… Nah, sekarang baru masuk quanta…

P.S. sorry, se sorry-nya sorry kalau pusing, karena memang sejujurnya, ini overwhelming. Mengingat ada satu hal yang mematikan teori lain karena sebuah argumen absolut… Jadi, dia cukup rese… Ya, oleh karena itu… maaf banget kalau bingung.

Quanta! Pembunuh Argumen Infinitesimal

Menurut quantum physics, Quanta (atau bagian) dari realitas itu adalah benang-benang yang menenun dirinya menjadi suatu bentuk atau force yang fundamental. Pada dasarnya si realitas ini dibangun dari bagian yang finite, baru menjadi satu.

Tapi apakah si satu ini infinite? Yah sedikit menaikkan hope reader dulu… Hasil jaringan antar tenunan benang ini gak berbentuk! Wah cirinya Infinity!

Nah, sekarang membunuh argumen infinitesimal-nya… Gak dia gak infinite, cuman gak ada bentuknya aja… Kenapa bisa ada batasnya? Jadi ya, pertama-tama meski dia gak ada bentuknya, tenunan ini terbatas, dan bisa diukur… Meski dia gak pernah nyangkut dalam suatu stasis dan selalu berubah, dia selalu ada di masa kini, tanpa peduli apapun yang pernah ataupun akan terjadi.

Nah, tetapi sekali lagi, perubahan quanta ini terbatas, karena kembali lagi ke poin pertama… jaringnya sendiri sudah terbatas, dan suatu hal yang truly infinite itu pasti-nya fundamentally infinite… Dan lagian, kalau perubahannya bisa diatur dan diprediksi, meski dia diluar dari batas waktu, tetep aja finite.

Okay, jadi sesudah semacam membunuh definisi bottom to top dari infinite universe, sekarang coba nyatetnya dari bawah ke atas!

Infinitely Large?

Tanpa maksud memberi harapan palsu… err… jadi, ketahui saja bahwa alam semesta kita itu hanya satu dari sekian banyaknya alam semesta. Dan semua alam semesta ini bisa diukur dengan perubahan quanta, jadi ya, benang tadi masih merupakan aspek dari suatu angka infinity ini. Dan karena itu, kayanya kecil sekali kemungkinan ada suatu yang massively infinite… Maafkan…

Objection!

Layaknya sebuah lawyer yang gak terima kliennya bersalah, ada saja penolakan yang dibuat beberapa orang…

Big Bang and Black Hole

Segala sesuatu ada awal dan akhirnya… Nah, kita sudah somehow narrow it down bahwa, big bang akan menjadi awalan dari si alam semesta ini, dan diakhiri oleh black hole.

Layaknya order dan chaos, akhir dan awal juga sama aja, dan eventually suatu ledakkan energi yang akan menciptakan alam semesta ini akan dimakan gravitasi, yang dihasilkan oleh ledakkan yang sama.

Pertanyaannya adalah, kalau emang alam semesta itu terbatas, shrink dan grow dari si alam semesta itu gimana? Dia akan tumbuh dan mengecil terus, mengikuti sebuah cycle yang endless… Sampai-sampai, ya… kesannya infinite kan?

Before and After the Universe

Kan sekarang pasti ya, ada big bang dan black hole… berarti ada awal dan akhir kan?

Nah, sebelum si awalnya itu ada apaan? Sebelum big bang ada apa?  Ada vacuum? Ada tuhan? (UPS, tetep sih, katanya Thomas Aquinas emang gini)… Nah jawaban yang paling lucu berasal dari Benedictus Spinoza… “Sebelum tuhan menciptakan alam semesta, tuhan menciptakan neraka untuk orang yang menanyakan penciptaan alam semesta.”

Yeah well, ada betulnya juga sih… Apaan yang ada sebelum ada alam semesta ini, dan apa yang ada sesudahnya? Ini mungkin menciptakan kebingungan… Karena jika yang ada hanyalah kehampaan, baik sebelum atau sesudah, tentunya setidaknya ada yang terjadi dari kehampaan itu sampai-sampai ada big bang…

Tapi, menurut Aristotle juga, the universe has not always existed. Jadi, tentunya, ada suatu sense yang tak berhingga untuk menciptakan suatu hal yang berhingga…

Atau mungkin aja kehampaan ini gak ada batasnya… who knows?

Alam Semesta itu merecycle dirinya sendiri!

Yah, kembali ke yang pertama, ketika awal dan akhir itu ada, maka suatu hal itu tampak seolah-olah infinite, karena sesudah suatu hal berakhir, maka ada hal baru yang mulai.

Jadi, ada orang yang menanyakan seperti ini… “Apakah cycle alam semesta itu tak berhingga? Atau dimensi alam semesta yang tak berhingga?”.

Sejujurnya aku kurang mengerti penjelasan ini, tapi, kayanya gak beda-beda jauh dari argumen pertama…

 

Dan kayanya segitu aja argumen dari para lawyer yang membela ketidak-berhingga-an.

In Conclusion

Mari kita simpulkan artikel hari ini…

Aku yakin sih pada ngarep, lah ini orang… ayo cepet dong bilang… APAKAH ALAM SEMESTA INI TERBATAS ATAU GAK!?

Untuk itu, aku mau minta maaf, aku gak mau menyimpulkan itu, silahkan simpulkan sendiri…

Tolong jangan marah πŸ˜€

Lucu gak sebenernya kalau pada ngeh… artikel ini tidak membahas sedikit pun mengenai Infinite Mind ini… Tapi coba deh, inget dikit, apa yang kira-kira menjalankan alam semesta ini? Nah…

Untuk itu, aku akan quote mendiang Stephen Hawking (Yes, aku sering banget ngequote Professor Hawking). Keberuntungan adalah suatu hal yang presisi, dan dasarnya dialah sebuah fundamental dari hukum fisika yang gak bisa dijelaskan dengan mudah. Namun, sebuah keberuntungan tentunya dicocokan untuk tiap orang. Tanpa ilmu filsafat, kita takkan bisa menjelaskan keberuntungan. Keberedaan kita sendiri merupakan sebuah desain yang dicocokan untuk kita sendiri, dan jika kita ingin hidup, tidak banyak yang bisa diubah mengenai itu.

Bingung koneksinya apa? Nah, koneksinya itu ada di Infinite Mind… Tentunya, yang mengendalikan alam semesta ini adil, dan mampu memberikan tiap orang kekuatan dan kelemahannnya.

Semoga artikel ini,  dapat menghibur dan mencerahkan, sampai besok πŸ˜€