Tag: dikakipelangi

[Road Trip] Eps. 1. Preparasi Perjalanan

[Road Trip] Eps. 1. Preparasi Perjalanan

Ini adalah sebuah serial yang mengupas road trip keluarga ke Jawa Tengah. Akan ada 10 episode, kurang lebih 1 episode per hari, + 2 episode untuk preparasi dan juga evaluasi. Berikut adalah sedikit tips dariku sesudah melihat persiapan dan akhirnya kembali pulang dari Jateng (yang hanya memasang 1 banner dari Gubernur mereka, Ganjar Pranowo, setidaknya di 4 kota/kabupaten yang aku datangi), dan apa yang bisa kita lakukan, sesuai dengan buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much, dan akan isu-isu kecil seperti packing dan planning yang seseorang akan hadapi jika mereka ingin melakukan road trip.

Selamat menikmati episode pertama!

Scarcity Trip

Catatan: Tidak ada satupun kata di Bahasa Indonesia yang cocok untuk menjelaskan Scarcity dalam konteks yang aku inginkan. Jadi, mohon maaf karena aku akan menggunakan istilah Scarcity alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia.

Scarcity. Semakin sedikit benda yang kita punya, maka semakin bernilai benda tersebut. Kasarnya, itu yang membuat seseorang menilai, memilah, dan memilih benda yang akan dibawa dalam sebuah road trip.

Ketika packing dan bersiap untuk sebuah perjalanan, ada 4 hal yang perlu anda perhatikan. Karena pada suatu titik, anda akan kehabisan salah satu dari 4 sumber daya yang mungkin dirasa penting ini.

  1. Space…
  2. Pace…
  3. Attire…
  4. Money…

Atau… SPAM! Shoot, that doesn’t sound right.

EHEM, ralat.

  1. Money
  2. Attire
  3. Pace
  4. Space

Atau, MAPS! Nah, kan enak.

Jika anda sedang kekurangan salah satu dari 4 sumber daya ini, mungkin sudah waktunya anda menghemat. Jika anda sudah kehabisan salah satu dari sumber daya ini, sebaiknya anda pulang, dan hentikan perjalanan, karena sebenarnya anda sudah telat.

Atau, anda bisa membuat rencana agar anda tidak kehabisan, dan pulang sesuai jadwal! Tetapi, sayangnya, tidak semua orang bisa membuat atau mengikuti rencana, dan seandainya tidak ada rencana yang dibuat, maka ini hal yang perlu anda lakukan untuk mencermati sumber-sumber daya di atas…

Money

Oke, ini mungkin hal yang paling sulit untuk diukur karena kemampuan finansial tiap orang berbeda, dan terkadang ada orang atau keluarga yang memaksakan untuk liburan meskipun kemampuan finansial mereka tidak mencukupi, alhasil mereka menghemat dan takut untuk mengeluarkan terlalu banyak uang, sehingga perjalanannya tidak dapat mereka menikmati.

Sebelum anda berangkat, atau sebelum anda bahkan berpikir untuk melakukan liburan, pastikan finansial keluarga anda cukup, serta anda yakin bahwa anda bisa bertahan selama anda sedang berlibur. Jika anda memaksakan liburan, akan lebih baik demi kewarasan dan kesabaran tiap orang untuk tidak memaksakan berlibur.

Tentunya, definisi cukup tiap orang berbeda, jadi sesuaikan dengan ekspektasi masing-masing.

How To Plan.

Jika anda bukan orang yang suka berencana terlalu panjang, setidaknya, uang adalah hal yang perlu anda perhatikan. Kita tidak ingin berlibur jika tidak ada cukup uang untuk melakukan hal-hal yang anda inginkan bukan? Anda ingin membeli batagor sepuasnya di Bandung, dan anda ingin mencoba semua Lunpia yang ada di Semarang? Silahkan, hanya saja, akan lebih bijak jika anda tidak mengambil jatah finansial di luar perencanaan awal anda.

Sebenarnya, merencanakan budget untuk uang yang akan dihabiskan saat berlibur tidak sulit. Semua orang dapat dengan mudah bilang bahwa mereka hanya akan menghabiskan sejumlah uang tiap harinya, tetapi… Mereka tidak dapat menahan diri dan… WUUSH! Dua kali lipat uang dari rencana awal dihabiskan.

Jadi, perencanaan yang anda dapat lakukan dengan uang cukup sederhana… Pengendalian diri.

Money Scarcity

Apa yang anda dapat, serta perlu lakukan jika anda sedang melewati fase berlibur dimana anggaran pembelanjaan anda bersisa ke 20% terakhir, atau mungkin, lebih sedikit? Tipsnya cukup sederhana.

  • Turunkan kelas, turunkan ekspektasi.
    • Terkadang, ada beberapa orang yang memaksakan diri mereka untuk makan dengan anggaran yang sama seperti yang mereka miliki ketika 80% dari anggaran mereka masih tersisa. Ini sulit untuk dilakukan jika anggarannya tersisa sedikit, jadi hal terbaik dan terefisien yang seseorang bisa lakukan adalah menurunkan pengeluaran anda. Tidak apa-apa kok untuk tidur di hotel yang tidak sesuai dengan ekspektasi anda jika hanya untuk semalam πŸ˜‰ .
  • Berhenti untuk berpikir.
    • Kasarnya. Jangan membeli hal-hal yang anda tidak perlukan. Sebelum membeli sesuatu, atau memilih tempat makan, berhenti untuk sejenak, berpikir. Apakah saya benar-benar membutuhkan ini? Apakah saya perlu membeli ini? Kenapa saya perlu membeli ini? Silahkan berkontemplasi dan pikirkan. Jika anda memang menilai bahwa anda perlu mengeluarkan uang untuk hal tersebut, lakukan saja.
  • Modis = Modal Diskon, Atau, Modal Gratis
    • Ya, dengan Traveloka, Trivago, atau AirBNB kita bisa mendapatkan promosi dan menghemat uang. Ini bermanfaat tentunya πŸ˜‰
  • Sisakan uang untuk pulang.
    • Ya, berlibur termasuk pulang pergi. Jangan lupa jika anda masih harus lewat tol untuk pulang, atau membeli tiket kereta, itu juga mengonsumsi sepeser dari anggaran anda.
    • Oh iya. Jika anda cukup pintar, anda bisa melewati jalur alternatif dan membayar lebih sedikit daripada jika anda melewati tol. Tapi ya, jangan lupa, jika jalur alternatif tersebut berarti anda harus melewati 2 jam ekstra karena macet, maka itu resiko yang perlu diambil.

Benefits of Money.

Uang dapat anda manfaatkan untuk memperbaharui beberapa sumber daya lain yang anda butuhkan. Jika anda memang tidak sedang dalam kondisi kekurangan uang, anda dapat memanfaatkannya untuk jasa Laundry dan mendapatkan kembali pakaian. Anda juga bisa mengirimkan barang yang anda tidak perlukan lagi untuk mendapatkan ruang kembali. Tentunya, jika digunakan dengan bijak, anda tidak akan merasa kekurangan uang, alih-alih, anda akan merasa mendapat pakaian lebih, ruang lebih, dan mungkin, waktu lebih.

Attire

Attire, atau… Baju.

Ya, ini sedikit menarik. Tidak seperti Uang, Baju justru menyedot beberapa sumber daya lain yang kita miliki. Jadi, membahasnya akan menjadi hal yang menarik tentunya.

Baju secara tidak langsung mengukur waktu kita bisa berlibur, dan baju juga mengurangi ruang yang kita miliki di mobil, jadi, kita perlu membawa baju dengan bijak.

How To Plan

Sesuaikan jumlah baju dengan hari anda sudah yakin akan pergi. Semakin luas mobil atau alat transportasi anda, semakin mudah anda dapat merencanakan baju-baju yang anda akan bawa. Jika anda cukup pintar dengan manajemen ruang anda, dan mampu melakukan packing gulung, di mobil yang cukup luas, maka anda bisa menciptakan sedikit atau banyak room for comfort. Ruang untuk kenyamanan anda ini, dapat mencegah adanya kekurangan baju.

Attire Scarcity

Oke, anda masih ada 3 hari lagi untuk berlibur, tetapi, baju anda tersisa ke 1 stel baju pergi, dan 1 stel baju tidur. Apa yang anda bisa lakukan?

  • Pakai dua kali.
    • Oke, ini terkesan menjijikan bagi beberapa orang, tetapi menggunakan baju dua kali adalah hal yang bijak, terutama bagi baju tidur. Percaya padaku, baju tidur anda tidak akan kotor dalam satu malam, jadi menggunakan satu baju tidur untuk dua malam adalah ide yang baik untuk menghemat. Tidak sepenuhnya disarankan untuk baju pergi meski bisa dilakukan ketika sudah mepet banget.
  • Manfaatkan Laundry.
    • Manajemen waktu, taruh barang ke Laundry, dan ambil pada pagi berikutnya. Gunakan jasa express jika anda sedang buru-buru tentunya. Baju kembali bisa dipakai!
  • Tidur dengan baju pergi.
    • Tepat sebelum anda tidur, gunakan baju pergi sebelum masuk kasur. Pergi dengan baju itu esok paginya, dan anda dapat menghemat satu stel baju!
  • Beli baju.
    • Bukan saran terbaik karena ini mengambil ruang yang berharga, serta uang yang juga berharga, tetapi ini bisa dimanfaatkan juga tentunya.

Benefits of Attire

Semakin banyak baju yang anda miliki, semakin besar kemungkinan anda bisa memperpanjang liburan anda di luar rencana. Tetapi, perhatikan sumber daya yang lain juga ya πŸ˜‰

Pace

 

Pace, alias waktu. Waktu membatasi beberapa orang, terutama yang bekerja. Jika anda sudah menyisakan satu hari untuk beristirahat, anda dapat beristirahat pada hari tersebut, tetapi, ternyata, satu hari sesudahnya adalah hari kerja, dan anda ingin berlibur satu hari lebih lama! Ya, hari istirahat anda dapat diambil. Sayangnya, hari kerja anda… tidak dapat diambil. πŸ™

Jadi, bagaimana cara melawan waktu?

How To Plan

Ini ironis. Anda akan merencanakan sesuatu berdasarkan energi atau waktu yang anda miliki. Sayangnya, anda tidak bisa mendapatkan gambaran yang bagus mengenai waktu itu sendiri, jika anda tidak punya rencana. Untuk merencanakan sesuatu dan mendapatkan waktu terbanyak, pilihlah saat anda tidak memiliki banyak pekerjaan untuk dilakukan, dan ciptakan “slack” atau room-for-comfort agar anda tidak terpepet ketika ingin pulang.

Time Scarcity

Dalam waktu 13 jam anda sudah harus berada di kantor. Google Maps memberikan anda jalan tol dan perjalanan tersebut akan memakan waktu 4 jam 30 menit. Kemungkinan, anda harus memotong jam tidur, apa yang anda bisa lakukan?

  • Rute/Transportasi alternatif
    • Anda bisa menghemat waktu 90 menitan jika anda melewati Subang dari Cirebon ke Bandung. Jika anda pintar dan mau berpikir untuk sebentar, anda bisa menemukan rute alternatif dan menghemat sedikit waktu.
  • CEGAH ADANYA TIME SCARCITY
    • Jika anda sedang dalam krisis waktu, memang tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali memotong jam tidur, atau berburu-buru, atau mencari rute alternatif. Jadi, hal terbaik yang anda bisa lakukan adalah mencegah adanya time scarcity dengan planning yang baik. Sejujurnya, dengan tidak memiliki room-for-comfort dan lebih awas dalam perencanaan, itu sepertinya satu-satunya cara untuk mengatasi time scarcity.
    • Once you’re in it, you’re doomed. πŸ˜€

Benefits of Time

Space

Space. The final frontier. These are the vacations of the starship Enterprise. Its five-week mission: to explore strange new cities, to seek out new places and new tourist destinations, to boldly go where no man has gone before.

EHEM! Bukan Space luar angkasa bro. Space = Ruang.

Ini adalah hal terakhir yang akan aku bahas, dan… Ini dapat dicegah dengan mudah juga.

How To Plan

Pack light.

*thumbs up*

Serius sih, perencanaan dan manajemen ruang yang bagus, seperti menyisakan satu tas khusus untuk baju kotor, atau satu tas khusus untuk barang belanjaan adalah contoh manajemen ruang yang efektif.

Manajemen ruang terbaik dapat dilakukan dengan menyediakan satu tas, atau tempat khusus untuk benda-benda seperti baju kotor, barang belanjaan, serta hal-hal yang diperlukan secara darurat.

Space Scarcity

HAH! Anda butuh ruang di bagasi?

  • Stop. Beli. Hal. Yang. Anda. Tidak. Butuhkan.
    • Sama seperti uang, jangan beli hal yang anda tidak butuhkan. Anda harus mau berkompromi sesekali, jangan beli sesuatu sampai anda yakin anda membutuhkannya.
  • Kirim barang ke rumah.
    • πŸ™‚ Manfaatkan JNE, atau TIKI, dan kirim barang milik anda ke rumah anda sendiri. Masalah anda akan selesai. Ada ruang yang dibebaskan, dan anda bisa memasukkan lebih banyak barang dalam bagasi!

Kesimpulan

Tanganku lelah, dan sekarang aku perlu menikmati time room-for-comfort yang sudah aku ciptakan.

Cheerios!

Homeschooler’s Bias

Homeschooler’s Bias

Artikel ini akan menjelaskan sedikit mengenai apa yang aku, dan teman-temanku mungkin rasakan dan jenis-jenis judgement yang kita biasa terima, baik oleh anak-anak seumuran, guru-guru, dan masih banyak lagi…

Ketika kamu seorang homeschooler, percaya padaku, hidupmu akan terasa lebih enak! Tapi juga, percaya padaku, kamu harus mau mendengar dan menerima judgement dari orang lain… Sebagai orang yang memang sering beraktivitas di umum, komentar-komentar yang diberikan seperti ini bisa memberikanmu banyak reaksi kesal… Tapi nanti kau akan terbiasa sendiri, jadi santai saja!\

Jadi, mari kita masuk ke dalam artikel…

Typical Stigmas

Kalau kita bicara stigma, pertanyaan yang sudah hatam seperti gurunya datang ke rumah, ijazah, cara mulai dan blablabla… Tidak masuk. (aku sejujurnya lebih senang menjawab 10 pertanyaan tipikal seperti ini, daripada satu stigma yang tidak dibicarakan keras-keras)

Stigma adalah pikiran negatif, yang terkadang tidak perlu dikatakan, atau bahkan tidak pernah tampak dari ekspresi muka… Namun, dengan analisa yang baik, kita bisa mengetahui perasaan seseorang begitu kita memberikan fakta itu.

  • Homeschooling gak punya temen… *rolleyes*
  • Homeschooling mahal… *mengeluarkan sound effect… Eh*
  • Anak-anak homeschooling gak punya sopan santun karena tidak diajarkan social skills *tersenyum manis, tapi sinis*

Aku pernah bertemu orang yang langsung mengatakan stigma tersebut tanpa rasa malu, yang hanya membuat ekspresi muka, yang mengatakan stigma mereka dengan kalimat pembuka seperti “I’m not judging, I’m just saying” tetapi kalimat mereka penuh dan kaya akan judgement, dan yang berusaha memberikan konsultasi mengenai sebuah masalah… YANG SEBENARNYA TIDAK ADA!

Aku merasa lebih senang memberikan reaksi kepada orang yang menyatakan stigma tersebut keras-keras kebanding yang hanya membuat ekspresi muka, yang memberikan solusi mereka pada masalah yang fiktif, dan tentunya… jenis stigma lainnya.

How one must react towards those Stigmas…

Ada banyak reaksi yang bisa diberikan…

  • Angguk dan pura-pura bodoh
    • Kelebihan reaksi ini… Anda tidak perlu menjelaskan sesuatu kepada seseorang dan membuang 15-30 menit hidup anda demi menjelaskan suatu fakta yang kentara.
    • Kekurangannya… Lawan bicara anda bisa menerima dan menganggap stigma mereka sebagai fakta yang nyata…
  • Langsung berbicara SEBELUM lawan bicara memberikan stigma milik mereka
    • Kelebihan… Anda tidak perlu mendengar stigma yang sama beratus juta kali ketika diajak bicara. Dan juga, anda bisa merubah stigma lawan bicara anda sebelum stigma itu nyata.
    • Sedikit kesalahan, maka stigma milik lawan bicaramu benar-benar muncul. Oh, dan tentunya, orang yang kekeuh akan tetap menyatakan stigma yang sama jika pikirannya tak berubah…
  • Menunggu, lalu menjawab dengan jawaban sedetil mungkin
    • Baiknya adalah, kita bisa benar-benar mengetahui stigma lawan bicara kita, lalu menghilangkan pikiran lawan bicara kita mengenai stigma itu.
    • Buruknya, kita biasanya tetap kena stigma, dan terkadang, cara ini tidak berpengaruh, atau membuang waktu paling banyak.
  • Memberikan impresi baik tanpa perlu menjawab stigma, dan stigma tersebut hilang sendiri pada ujung percakapan.
    • Jika lawan bicara kita merasa lebih terkesan, maka stigma milik mereka hampir pasti bisa hilang.
    • Waktu terbuang paling banyak, dan tidak semua orang bisa membuat orang lain merasa terkesan semudah itu saja…

Reaksi ini tidak terlalu berhubungan dengan topik utama ku hari ini…. Namun, jika anda memang memiliki masalah, kurasa solusi ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kalian… Cheerios

Stigma Crisis

Ketika kita bicara stigma, kita bicara close mindedness, ketika kita bicara close mindedness, ada dua sisi dan asalnya pemikiran tersebut. Satu karena mereka memang tidak tahu opsi lain selain opsi yang mereka sudah percayai itu, dan yang kedua adalah karena mereka memang tidak mau berpikir terbuka.

Masalah kedua ini tidak bisa diperbaiki sama sekali, karena bagaimanapun juga, itu memang karakter. Untungnya, masalah pertama yang juga jadi hasil stigma, sama problematiknya dengan ketertutupan pikiran seseorang.

Solusi yang kuberikan untungnya telah menutup masalah pertama, dan itulah alasan kita perlu mengedukasi orang-orang seperti itu.

Stigma akan selalu ada, dan ketika kita keluar dari sistem, maka kita harus siap untuk dikritik dan dikomentari oleh orang-orang yang berada di dalam sistem tersebut. Namun, yang menjadi masalah adalah, banyak orang menyalahgunakan faktor dan motif dari suatu tindakan, lalu menyambungkannya dengan stigma milik mereka.

Contoh-contoh kasus

Case 1:

Sekelompok anak-anak dalam rentang usia 15-17 sedang terlibat dalam sebuah percakapan. Selama percakapan itu, ada 2 anak yang pendiam. Salah satu dari anak tersebut merupakan praktisi homeschool, sedangkan satu yang lain menggunakan seragam SMA.

Sesudah percakapan itu beres, kedua anak tersebut pergi terlebih dahulu.

Anak-anak (atau Remaja) tersebut memutuskan untuk melanjutkan percakapan lebih lanjut…

  • R1: Kasihan yah tadi… dia homeschooling, pasti introvert dan gak bisa sosialisasi tuh…
  • R2: Untung kita dibolehin sekolah, jadi kita bisa dan berani ngomong dan ngobrol…
  • R3: Perasaan tadi yang diem ada dua orang deh… Siapa sih yang satunya lagi…
  • R1: Ah, itu mah cuman karakter doang, biasa kalau ada orang yang mau diem kaya gitu
  • R2: Iya, wajar kok, di sekolah juga banyak yang pendiam

Jadi, masalahnya adalah… Ketika orang mengetahui suatu fakta yang aneh mengenai seseorang, mereka akan berasumsi bahwa fakta aneh tersebut adalah penyebab dari suatu tindakan.

Padahal, belum tentu lho fakta aneh itu penyebabnya… Masih saja ada kemungkinan besar bahwa fakta aneh itu memang ada, tapi penyebab dari tindakan atau aksi tersebut hanya karena suatu penyebab yang biasa…

Pada kasus tadi, penyebab itu suatu hal yang biasa, yaitu memang karakter remaja homeschool tersebut memang pendiam dan hanya merespon tanpa memulai suatu percakapan, sedangkan, ketika remaja yang lain sedang bersekolah formal, kenapa ia malah diberikan penilaian bahwa tindakan miliknya merupakan tindakan biasa?

Case 2:

Pada sebuah lomba yang tidak dinilai secara sistematis, melainkan secara subjektif… Seorang peserta yang merupakan seorang homeschooler diberi pertanyaan yang menanyakan tentang nilai-nilai miliknya.

Nilai-nilai miliknya bertentangan dengan norma umum, dan juri langsung memberi label padanya bahwa ia orang yang tidak berhak menang, karena dia homeschooling, juga karena dia memberikan jawaban yang tentunya sangat subjektif.

Sekali lagi, pada kasus ini…

Dikarenakan ada satu hal yang memang tidak wajar dari seseorang (which we all gotta have) secara otomatis, orang-orang yang mendengar ketidakwajaran itu, akan langsung memberi koneksi pada homeschooling sebagai faktor dan alasan suatu ketidakwajaran.

This stuff happens a lot…

The Issue

Jadi begini, sebagai praktisi, kita memang sudah terbiasa bertemu dan menerima komentar beserta kritikan dari orang-orang mengenai hal-hal seperti ini. Masalahnya adalah, ketika seseorang yang di luar sistem melakukan hal yang normal, orang-orang akan secara otomatis melihatnya sebagai suatu kondisi yang disebabkan karena dia berada di luar sistem tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang sangat judgemental dan sebenarnya, jika kita ingin memberikan judgement untuk orang-orang sesekali, itu hal yang normal…

The judgement itself is not and never will be the issue.

Masalahnya adalah, banyak orang, terutama di Indonesia, melihat hal dari satu sudut pandang dan percaya bahwa hasil judging mereka adalah kenyataan, meskipun itu hanya sebuah pemikiran.

Kesimpulan

People judge, and it’s normal.

Seperti aku bilang, manusia memang makhluk yang judgemental, tapi masalah (ups, masalah nomor dua terbesar) terbesarnya adalah fakta bahwa orang-orang memang langsung saja percaya pada penilaian dan loncatan kesimpulan mereka tersebut.

Masalah terbesar yang memang masalah terbesarnya ada di ketertutupannya pikiran seseorang.

Banyak orang tidak berpikir duaΒ  kali, dan juga banyak orang tidak pernah mau merubah pikiran mereka sama sekali. Kita harus mau melihat sisi baik dan kita harus mau melihat hal dari banyak sudut pandang, sebelum memberikan penilaian.

Jangan pernah mau terjebak dalam stigma, judgement, euforia, dan juga perasaan… Sampai kita benar-benar yakin, dan sudah memberikan penilaian terbaik yang kita bisa berikan.

Itu saja dariku, terima kasih, dan sampai lain waktu!

Promosi: Workshop Menulis Review Film

Promosi: Workshop Menulis Review Film

Hai Hai!

Ini Azriel! Aku sedang mengikuti lomba untuk menjadi Ambassador Bioskop Alternatif di Bandung nih… Sebagai tantangan, ada permintaan untuk membuat sebuah acara di Indicinema… Alhasil, sebagai seseorang yang memang suka menulis, dan juga suka film… Bagaimana jika aku membuat workshop yang akan berkutat di penulisan review film?

Sedikit detail lebih lanjut mengenai acara ini…

  • Lokasi di Indicinema, Jalan Banda No. 40, Gedung Bale Motekar
  • Ada donasi bagi Indicinema yang sudah menyediakan tempat, donasi senilai 10.000, dan itu sudah termasuk Pop Corn, serta air mineral.
  • Akan ada doorprize berupa voucher nonton film di Indicinema, bagi orang yang ingin membawa review film miliknya! 3 Review terbaik akan memenangkan doorprize!
  • Acara dilaksanakan tanggal 27 September, Pukul 16.00 sore sampai selesai, jangan terlambat ya, open gate sudah dari pukul 15.30.
  • Kalian akan bertemu denganku nanti! πŸ˜›
  • Untuk informasi lebih lanjut dan reservasi bisa kontak 08122146852
  • Acara ini terbatas! Jadi segera reservasi dengan format: Nama-Instansi-Workshop DKP

Sampai ketemu tanggal 27 September nanti!

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Pada serial ini, aku ingin mengupas ciptaan dan kreasi manusia dari yang paling mendasar hingga yang paling kompleks. Manusia telah berusaha membuat hidup mereka lebih mudah dinikmati, serta lebih nyaman untuk dilakukan sejak manusia lahir sebagai spesies. Namun, seiring perjalanan ini dilewati, kita telah berubah menjadi spesies lain, hanya karena apa yang telah kita ciptakan.

Ah Manusia…

Pada satu sisi, kita sangat sangat pintar. Kita menciptakan banyak hal untuk melakukan hal-hal yang kita tidak ingin lakukan, tapi pada sisi lain, kita cukup bodoh untuk membiarkan ciptaan kita mengatur gaya hidup kita sendiri.

Jadi, apakah manusia itu makhluk yang pintar? Ataukah manusia itu makhluk hidup yang justru, bodoh?

Inspirasi:

  • Sapiens (lagi) ditulis oleh Yuval Noah Harari
  • Essential Sh*t. Bollocks, why didn’t I think of that? ditulis oleh Anthony Rubino Jr.
  • Meditations, ditulis oleh Marcus Aurelius
    • Kaisar Roma terakhir yang waras dan tidak punya ambisi untuk membunuh dan/atau memperbudak manusia, menaklukkan dan/atau menguasai dunia.
  • Sedikit pembicaraan di Museum Geologi, dan juga Museum Konferensi Asia Afrika.
    • Geologi mengenai senjata dan evolusi manusia
    • MKAA mengenai perubahan dan sifat rakus manusia.

Footnote: Siapapun yang mendidik Commodus sesudah meninggalnya Marcus Aurelius merusak seluruh era bijak para keturunan Nerva-Antonine. Dari situ semua Roman Emperor segila (atau mungkin lebih gila dari) Hitler.

Hangatnya Kenyamanan

Nomor satu…

Ingatkan aku, pernahkah anda ke museum, situs arkeolog, gua purba, atau apapun yang berbau geologi/arkeologi, dan menemukan manusia purba? Nenek moyang kita?

Ingin tahu penyebab kematian nenek moyang kita yang paling sering, dan juga paling ditakuti. Ditusuk oleh Babi Hutan misalnya? Keinjak Mammoth? Terbunuh suku lain? Oh tidak.

Kita bicara era jauh sebelum era berburu. Dulu ketika kita masih nomaden dan herbivora.

Kita bicara sebuah waktu sebelum manusia takut mati kelaparan. Ketika masih cukup banyak pohon berbuah untuk makan di sebuah daerah selama lebih dari 1 bulan.

Sebelum kita berburu, kita paling takut oleh dingin.

Sebagai makhluk yang amat kreatif dan pintar, kita melakukan suatu hal lain untuk menghindari kedinginan. Terciptalah “ciptaan” pertama kita. Api.

Sejujurnya, jatuhnya api ke tangan manusia purba masih cukup jauh dari pemahaman antropolog, atau arkeolog yang sudah handal. Tetapi, layaknya teori pembuatan piramida, tiap orang memiliki teori masing-masing, dan teori itu sama-sama masuk akalnya.

Ada yang menyatakan bahwa kita menemukan api ketika sedang hujan deras, dan ada petir yang menyalakan sebuah pohon. Ketika kita mendekat, kita merasakan kehangatan dan kelembutan dari api itu. Tiap langkah yang kita ambil membuat kita lebih tertarik, dan tertarik atas kehangatan pada dinginnya hujan ini. Ketika kita biasa bersembunyi di dalam gua. Akhirnya kita mau untuk keluar ketika hujan, dengan api sebagai pelindung.

Ada juga yang berteori bahwa kita menemukan api karena ketidaksengajaan menggesek dan menggosok dua buah batu sampai ada percikan yang menyalakan api. Percikan itu jadi sumber kehidupan, dan kehangatan para manusia. Hore! Kita telah menciptakan sesuatu.

Ada juga yang percaya bahwa kita menemukan api sehabis gemuruh petir yang membakar dan menyalakan sebuah pohon, lalu kita mengambil sebilah tongkat kayu, dan membawa sumber hangat dan panas itu kemana-mana. Sampai api tersebut akhirnya mati, dan kita mencari percikan kehidupan sekali lagi.

Ya, bagaimanapun juga, ketika kita lihat manusia prasejarah menciptakan api, kita perlu melihat alasan mereka menciptakan api.

Kenapa mereka menciptakan api? Karena tentunya, mereka merasa lebih nyaman. Jauh lebih nyaman kebanding harus berjalan telanjang sambil menggigil karena dingin, atau berbaring di tenggorokan sebuah gua, hanya ditemani kehangatan tanah, yang lembab, dan terasa begitu dingin.

Api telah menjadi sebuah kebutuhan, karena manusia selalu ingin apa yang paling nyaman untuk mereka. Seiring jalannya waktu, leluhur kita sudah tak kuat lagi berjalan telanjang. Kita mulai berburu karena ternyata kita lebih kenyang sebagai karnivora (dan para pencinta daging pasti akan membela habis-habisan pentingnya kita sebagai karnivora untuk evolusi) dan kita memanfaatkan baju tebal sebagai suplemen dari kehangatannya api.

Ini hanya mengupas apa yang terjadi di daerah tropis. Ketika manusia bermigrasi ke daerah yang bersalju, kita sudah mulai berburu, dan kita menggunakan baju yang tebal. (para arkeolog dan antropolog begitu penasaran mengapa para Neanderthal bisa bertahan dengan baju yang lebih sedikit dari Sapiens dalam cuaca yang lebih dingin)

Apa yang api ciptakan?

Sederhana. Karena hangatnya api ini begitu enak. Kita jadi menciptakan banyak hal lain untuk memperkuat rasa hangat tersebut. Kita menciptakan senjata karena daging yang berminyak dan lemak tersebut membuat diri kita merasa lebih hangat, baik karena persediaan lemak yang bertambah di tubuh kita dan juga karena struktur nutrisi milik daging.

Kita memanfaatkan kulit hewan buruan kita sebagai baju, karena kita tidak pernah puas. Kita selalu menginginkan apa yang lebih nyaman, dan kehangatan = nyaman. 2 tambah 2 jadi 4, sehingga, BAM! Tercipta lagi baju tebal.

Kalau nenek moyang kita tidak menemukan atau memanfaatkan api puluhan ribu tahun yang lalu… Kita mungkin akan berjalan dalam kondisi telanjang kemanapun kita pergi.

Ini mungkin hal yang normal beberapa puluh ribu tahun yang lalu, namun sekarang, ini telah menjadi suatu taboo.

Kebutuhan Api?

Kita membutuhkan api, bahkan puluh ribuan tahun dari kita mulai tahu cara memanfaatkannya. Beberapa antropolog die hard bahkan menyatakan bahwa kita sudah diperbudak oleh api, kita mencari cara untuk memastikan bahwa api selalu ada, karena tanpanya kita bisa merasa kedinginan, makanan tidak bisa dimasak dengan benar, dan kita takkan bisa mandi dengan air panas.

Sudah ada puluhan cara menciptakan api, semakin lama api yang diciptakan lebih panas, lebih membara, dan semakin lama, semakin sedikit bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan api. Pada dasarnya, kita tetap menciptakan hal yang sama, kita tidak menciptakan api jenis B, api jenis C, mau apapun warnanya, seberapa besar atau seberapa panas zatnya, bara api yang digunakan para Homo erectus dan manusia modern tetap sama.

Tetapi, meski kita telah mau diperbudak oleh api, dengan menciptakannya terus menerus, kita tetap membutuhkannya. Lagipula, siapa yang tidak mau hidup nyaman dan hangat?

Tajamnya Kekejaman

Manusia selalu berusaha melakukan apapun yang mereka bisa lakukan sebagai spesies untuk mendapatkan apa yang mereka nilai sebagai paling nyaman. Menahan diri sepertinya tidak mungkin sekarang.

Seiring mereka berusaha untuk membuat suatu hal lebih nyaman dan mudah untuk mereka, seiring mereka melakukan sesuatu untuk mempermudah apa yang mereka lakukan.

Oleh karena itu… Terciptalah senjata.

Senjata pertama-tama digunakan sebagai alat untuk berburu. Dengan bentuk dasar, sebuah tombak. Senjata paling efisien, paling kuat, dan paling mudah digunakan untuk membunuh.

Pada bentuk mentahnya, senjata tombak ini hanyalah sebuah batang kayu yang diperhalus menggunakan batu, lalu ditempelkan ke batu lain, yang dibentuk dengan khusus, sehingga memiliki mata tombak yang panjang.

Tombak ini cukup versatil dan bisa digunakan untuk menusuk dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri, untuk dilempar, untuk memukul, dan tentunya, untuk membunuh.

Kata terakhir itu perlu diberikan sebuah catatan dengan sound effect “ding-ding-ding”.

Dari memburu dan membunuh hewan karena kita ingin merasa nyaman dengan perut penuh, dan lidah yang puas menyentuh daging matang (meski tidak dibumbui sama sekali), kita juga merasa bahwa jika ada manusia lain berusaha menyentuh hewan calon buruan kita… Kita akan mneyerang.

Senjata yang tadi kita manfaatkan untuk berburu, dialihfungsikan.

Kita juga membunuh, dan berperang, demi mendapatkan sumber daya paling kaya dan paling nikmat. Mungkin peperangan pertama bermula dari seorang manusia yang berburu lembu dan tiba-tiba mereka bertemu dengan kelompok manusia lain, yang juga berburu lembu.

Karena ia bukan makhluk rasional, dan amat serakah, ia merasa bahwa akan lebih baik makan dua lembu dengan perjuangan yang berat, daripada bekerja sama dan membunuh dua lembu, lalu membagi hasil.

Dari situ, terjadilah konflik sederhana atas sumber daya. When has that stopped?

 

Apa yang telah diciptakan senjata?

Sebuah tombak sederhana yang bisa digunakan dari dekat dan juga dari jauh telah sukses mencoreng nama baik manusia. Namun, tombak juga telah berubah bentuk ratus ribuan kali, sampai ia menjadi senjata yang paling ampuh bagi para infantri.

Sekarang, infantri cenderung menggunakan senjata api, yang terkadang digunakan di jarak dekat juga (meski hanya untuk sekedar, membuat orang pingsan), desain multifungsi dan bisa digunakan dari jarak jauh dan dekat ini masih tercermin sampai sekarang.

Senjata manusia purba telah memberi sedikit inspirasi desain senjata modern, apalagi pada era kerajaan, dimana senjata masih menggunakan pedang dan perisai.

Tetapi, ketika kita berbicara mengenai senjata… Ciptaan terkuatnya tentunya adalah rasa iri, serta rasa rakus. Dari kedua emosi dasar yang berasal dari simpanse tersebut… Muncullah perang.

Kebutuhan Senjata?

Senjata tentunya telah menjadi kebutuhan… Kita membutuhkan senjata untuk berperang, karena…

Sejujurnya alasan manusia berperang sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku. Kurasa senjata hanyalah cermin dari keserakahan manusia, tapi ya, siapa yang sebenarnya peduli? :'(

Kita takkan berperang kecuali kita mampu mendapatkan sesuatu dari perang tersebut. Hanya saja, banyak orang melewatkan apa yang mereka mungkin dapatkan jika sumber daya tersebut dimanfaatkan dari sudut lain.

Memang, kita takkan pernah bisa lepas dari berebut, dari konflik, dari keserakahan, dan juga dari kebutuhan senjata. Senjata ada sebagai alat untuk mengambil, dan memastikan apa yang kita punya tidak diambil. Ia sebuah simbol keamanan, serta simbol peperangan.

Kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin merasa aman, kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin berperang. Manusia terjebak dalam sebuah zona dimana kita terpaksa untuk memiliki senjata, karena tanpanya, takkan ada jaminan bahwa kita akan memiliki suatu bentuk keamanan. Pada sisi lain, kita hanya butuh senjata karena sudah ada yang memiliki senjata, yang mengancam keamanan dan kesejahteraan milik kita.

Siapapun yang memercik api konflik duluan telah membawa kita ke siklus tanpa henti ini.

BERSAMBUNG!

Mitologi Millennial: Legenda Situ Bagendit

Mitologi Millennial: Legenda Situ Bagendit

Mitologi Millennial kali ini berada dalam kisaran Cerita Daerah… Aku memutuskan untuk menampilkan cerita Legenda Situ Bagendit…

Seperti biasa, mitologi millennial adalah sebuah cerita daerah, ataupun mitologi yang dikonversi agar bisa dinikmati para millennial.

Selamat menikmati!

DISCLAIMER: Harap catat bahwa cerita ini sebagian besar ditulis ulang, dan jika ada teknologi yang belum ada di zaman itu, bayangkan saja apa yang aslinya dilakukan oleh orang-orang di zaman itu. Serta ada beberapa versi dari cerita Situ Bagendit ini, harap ketahui bahwa ini tidak pasti, namanya juga mitologi

Senang Ditinggal Suami…

Hiduplah seorang Janda di Jawa Barat. Lokasinya dimana mungkin pembaca bertanya? Entahlah, coba aja pake Google Maps cari sendiri. Tinggallah seorang istri, yang aku pastikan sebagai cewe cantik, karena ia memiliki suami kaya raya… Dengan nama Nyai Endit.

Suaminya seorang pengusaha beras, dengan lumbung padi yang besar, tapi mungkin di malam hari suaminya juga merupakan seorang Daytrader, dan bermain saham. Rumahnya sih katanya mewah, tapi seperti desain orang kaya pada umumnya, lebay, dan malah jadi nora.

Tidak lama sebelum mulainya cerita ini, Nyai Endit ini ditinggal suaminya yang meninggal.

Sesudah (pura-pura) sedih dan mengubur serta mendoakan suaminya, Nyai Endit membuat sebuah pesta. Kenapa? Tentu saja! Suaminya yang biasanya tidak memberikan uang jajan terlalu banyak buat belanja tas di mall desa, dan juga benda-benda lucu tapi tidak diperlukan di Tokopedia dan Shopee… akhirnya tidak ada! Uang yang biasa dipakai untuk beli saham, dan juga lahan padi bisa dipakai berfoya-foya!

Apa yang seharusnya membuatnya sedih?

(Catatan Penulis: Meski tidak dijelaskan, aku punya firasat Nyai Endit ini istri muda dan satu-satunya istri mendiang suaminya…)

Selain fakta bahwa suaminya kaya, suaminya juga memiliki preman… (WAH! Jangan-jangan… suami Nyai Endit ini Mafia Sunda!) Sebenarnya bukan preman juga sih, tepatnya bodyguard…

Sesudah kegirangan ditinggal suami tetapi, bodyguard ini betul dijadikan preman!

Masa Kejayaan Mafia Endit

Hari-hari menjadi gelap. Para Petani yang bekerja di lahan padi milik Godmother Nyai Endit ini terpaksa membayar pajak mahal, dan hanya bisa mendapat laba yang hanya sepeser kecil dari hasil penjualan padi miliknya. Hal yang sama terjadi, dengan amat disayangkan untuk para “pedagang” saham. Software bertukar saham yang tadinya gratis, sekarang berbayar! Mengapa mereka tidak bisa mengikuti jejak WhatsApp saja? Yang tadinya berbayar jadi gratis!’

Apa saja yang ia lakukan pada warga-warga, dan bagaimana ia menyiksa mereka? Mungkin itu ditanyakan, jadi…

  • Petani yang bekerja di lahannya harus membayar pajak ke dirinya, serta hanya diberikan sepeser hasil penjualan
  • Pedagang saham yang menggunakan software gratis buatan suaminya harus membayar.
  • Supir Gojek (ehem, dan Grab tentunya) semua dipaksa kerja keras, dan jika target poin nya tidak terpenuhi, maka ia tidak dibayar oleh Nyai Endit yang meminjamkan motor dan HP untuk menarik order.
  • Warung-warung pinggir jalan harus memberikan sebagian makanannya untuk Nyai Endit jika tidak ingin dipalak, dan masih banyak lagi…

Ini tentunya diprotes oleh warga-warga… Down With Godmother! Tetapi, disinilah dimana para preman berfungsi. Seperti yang dilakukan crime lord pada umumnya, wajib ada 2-4 orang preman, atau orang kuat yang bisa mengusir dan membunuh siapapun yang berusaha untuk protes dari kejahatan yang ia buat.

Jadi, jika ada yang protes dan meminta upah lebih besar, atau meminta pajaknya dipotong, atau bahkan berusaha mencari crack untuk software saham! Langsung diketok (baca, didobrak) pintunya oleh para preman. Biasanya mereka dipalak, terkadang kepalanya digetok, dan jika kejahatan yang mereka lakukan adalah crack software saham, komputer mereka dirusak.

JENG JENG JENG!

Tetapi, selama seluruh desa tak bernama itu melarat, apa yang dilakukan oleh Nyai Endit?

Marie Antoinette Sunda

Jadi, tentunya, sebagai seseorang yang terlalu kaya dan memiliki tentara sendiri, sebenarnya, mastermind dan orang kejamnya sendiri bersenang-senang. Setiap hari, layaknya Marie Antoinette (dia ratu Prancis yang kepalanya dipenggal di umum ketika semua warga Prancis masuk ke rumahnya dan teriak… VIVE LA REVOLUTION!) ketika ia masih hidup, ia berpesta pora.

Mungkin kalau Marie Antoinette doyan kue, kalau Nyai Endit lebih doyan Goyobod, Oncom atau Batagor lah, layaknya orang Sunda.

Tiap hari, warga yang kelaparan kerjaannya hanya mupeng aja di depan rumahnya. Ketika orang-orang yang ikut Mafia Nyai Endit, punya makanan enak, dimasak chef dengan bintang Michelin (oke, sebenernya ini dilebihkan, aku tidak punya lelucon untuk ini, peace out), mereka hanya makan nasi putih pake kecap. Itu pun kadang nasinya gajih…

Namun, pada suatu hari ada dua pemuda yang baru saja pindah ke sini, dan mereka langsung kelihatan punya niatan untuk mengubah kondisi ini, dengan menggulingkan Godmother Nyai Endit…

Revolusi!

Aku sebagai penulis yakin 100% bahwa ini sangat-sangat mirip dengan Suicide Bombing, tetapi sepertinya zaman dahulu kala belum ada konsep terrorrisme, jadi aku tidak punya komentar yang lebih banyak…

Kedua pemuda itu menghilang keesokan harinya, dan mereka kembali bersama Kakek-kakek, yang langsung datang ke rumah Nyai Endit. Mereka sudah punya rencana untuk merusak Crime Empire milik Nyai Endit.

Awalnya, Nyai Endit ingin langsung menyuruh para preman untuk membunuhnya, tetapi ia tidak terlalu keberatan, dan sesekali ia ingin menjadi orang sedikit baik. Jadi, Nyai Endit yang tidak pernah melihat orang ini sebelumnya berasumsi ia pengemis, dan ia berjalan bertatih-tatih dengan tas Louis Vuitton-nya, dan dengan sepatu high heel Gucci miliknya.

Sesampai di pintu, ia ditanyakan sedikit oleh Kakek itu, dalam percakapan seperti ini… Ternyata Kakek ini lebih cocok disebut sebagai seorang Sage, kaya Master Kura-Kura di Dragon Ball kebanding disebut seorang pengemis.

  • Kakek: Punten Teh, ari, ini kok warganya pada lapar begini ya?
  • Nyai Endit: Mereka kurang kerja Kang…
  • Kakek: Oh begitu toh… Katanya mereka sudah lelah, supir gojek udah narik 28, tapi karena belum 30 gak dikasih bonusnya sama Teteh, terus petaninya juga pada capek nyangkul seharian.
  • Nyai Endit: Memangnya kenapa Kang kalau mereka kurang kerja? Ini kan desa saya!
  • Kakek: Ari Teteh, Geulis, tapi meuni… jutek nya…
  • Nyai Endit: Pergi aja sana Kang, sebelum diusir Preman…
  • Kakek: Justru Teh, saya mau ngasih hadiah… Saya taro aja ya di tanah sebelah situ…
  • Nyai Endit: Hah?
  • Kakek: Kalau ditarik tuh tongkat entar keluar emas ya… Mau kan? Daripada lama ngeles sama saya, udah lah, itu hadiah untuk Teteh.

  • Nyai Endit: Makasih Kang yang saya belum pernah ketemu…

Kakek itu pun menaruh tongkatnya di halaman rumah Nyai Endit.

Ia menyuruh semua Premannya mencoba untuk melepas tongkat itu dari tanah, tetapi tidak ada yang bisa melepas tongkat di tanah itu. Sayangnya tidak ada preman yang bisa melakukan itu, jadi, Nyai Endit pun melakukannya sendiri…

Dan bomnya meledak…

Jadi, bom itu meledak. Sudah, sesederhana itu.

Tongkat itu meluarkan muntahan air yang sangat-sangat cepat, langsung menenggelamkan seluruh warga di desa tersebut. Hanya si kakek yang berhasil kabur. Kakek itu sepertinya guru untuk kedua pemuda yang hanya memanggilnya kesini, tetapi bahkan ia lupa mengajak muridnya pergi.

Air itu pun menenggelamkan seluruh desa, dan ya… termasuk warga-warga disitu. Layaknya seorang dewa, sang sage kaya kura-kura di Dragon Ball itu menghancurkan seluruh desa demi menghancurkan sebuah crime dynasty.

Sedikit kejam menurutku.

Ya setidaknya korban-korban itu, terutama yang kurang ajar punya banyak waktu untuk…

Oh iya, air ini disebut Situ Bagendit, dan sekarang katanya memiliki warna bergemilau jika terkena matahari. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana semua sepatu, tas, tiara, cincin, entah apa hal yang orang kebanyakan duit punya untuk bisa tidak rusak selama itu, tetapi ya… namanya mitologi πŸ™‚

Nikmati sajah!

Kesimpulan…

Aku bingung.

Dari banyaknya sumber aku membaca Situ Bagendit, semuanya selalu berujung ke desa ini hancur demi menaklukkan si Nyai Endit ini yang kejam…

Apakah tidak ada cara lain untuk meluruskan keadilan yang tidak adil ini? Pada dasarnya, sebenarnya Sage tak bernama ini teroris. Ia percaya ada suatu ketidakadilan dan kediktatoran dalam sistem pemerintahan ini, tetapi… hah…

Kenapa mesti diakhiri dengan cara yang kejam?

Sampai lain waktu!

Book Memoir: Minggu Tiga

Book Memoir: Minggu Tiga

Judul serial ini dirubah menjadi Book Memoir untuk memberikan kesan… classy. πŸ˜›

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan 😉

Selamat menikmati!

Selama itikaf, aku mungkin mengurangi dosis buku. Oleh karena itu, buku ini berisi buku yang dibaca selama 2 minggu kemarin, dikarenakan aku tidak membaca buku (selain quran) selama 12-17 Juni. Jadi, buku disini adalah buku yang dibaca selama 5-11 Juni. Dengan pengecualian 7 bab terakhir dari salah satu buku yang kubaca, baru aku bereskan pukul 1 pagi, hari ini.

Jadi, minggu ketiga ini berisi buku yang kubaca ketika aku sempat tidak aktif. Selamat menikmati!

Daftar Buku

Senin, 5 Juni, sampai Senin 11 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Meskipun hanya dua buku, salah satu buku yang kubaca mencapai… *tarik nafas* 12000 loc. Oke, sebenarnya aku tidak baca 12000 loc-nya secara utuh mengingat sekitar 7000 loc dari 12000 loc itu merupakan komentar, dan aku mungkin hanya membaca sekitar… setengah dari komentar editor dan penerjemah. Kurang lebih, 8500 loc.

Ditotalkan, secara kasar aku mencapai 13000 loc, ini berarti kecepatan membacaku bertambah sekitar 1000 loc per minggu. Setiap 20 loc setara dengan 1 halaman buku berukuran 13X20 cm, jadi aku membaca sekitar 650 halaman. (aku membaca format Mobi dengan kindle)

Aku sebenarnya tidak terlalu banyak speedreading kali ini, karena bukunya sangat mudah dinikmati, dan terlalu membingungkan serta padat untuk dibaca dengan cepat.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Life of Pi karya Yann Martel (4500 loc)
  • Dante’s Divine Comedy, Part 1, the Inferno. Karya… Dante, terjemahan dan komentar dari Jean Hollander, seorang dosen yang secara eksklusif memberikan kuliah pada puisi tulisan Dante. (8500 loc)

Life of Pi

Mungkin film nya cukup menarik untuk ditonton, tetapi buku ini akan memberikan gambaran dan pesan yang lebih tepat kebanding filmnya.

Sebenarnya aku membaca Inferno sebelum Life of Pi.  Tetapi aku hanyut diantara banyaknya metafora dan simbolisasi dengan puisi tulisan Dante (dengan komentar yang lebih panjang dari bukunya sendiri), jadi aku akan menjelasakan dan memberikan opini mengenai Life of Pi sebelum Inferno.

Jadi, seperti pembaca mungkin ketahui dari film-nya, Piscine Patel adalah seorang remaja “biasa”, dengan kedua orangtua yang memiliki sebuah kebun binatang di India.

Dari awal buku, Piscine (atau Pi, karena dia dibully dengan diberikan julukan Pissing) menjelaskan dirinya sebagai remaja yang biasa, tetapi yang menikmati hewan dan perhewanan. Selama ia masih di India, ia menemukan banyak agama, yang menurutnya pada intinya memiliki kepercayaan yang sama.

Sebagai seseorang yang hidup di India, kehidupannya dipenuhi dengan variasi agama, ada orang Muslim, ada orang Katolik, ada orang Kristen, serta orang Hindu tentunya. Tidak seperti remaja pada umumnya tetapi, Piscine menganut ketiga agama itu, dan ia menyadari bahwa dasarnya ketiga agama memiliki tujuan yang sama, untuk mencintai tuhan. Hanya saja, ritualnya berbeda.

Selama ia masih di India, Yann Martel membawa kita untuk melihat coexistence serta kehidupan mendasar Pi, yang mampu membuatnya tetap teguh dan akhirnya selamat dalam perjalanannya.

Skip saja, kita langsung dibawa ke lautan atlantik. Dimana Pi dan keluarganya harus pindah ke Toronto. Nasibnya di kapal sangat-sangat tidak beruntung. Ia sampai-sampai tersangkut dalam sebuah kapal penyelamat bersama Zebra, Orangutan, Hyena… dan Harimau.

Oh, kapalnya tenggelam ya.

Selama ia mengapung tanpa henti di lautan, ia menemui cukup banyak hal, semua hal yang ia temui disini merupakan simbolisasi ke sebuah situasi di dunia nyata, dan juga ke konflik batin si tokoh utama.

Sebagai contoh utama, Richard Parker, Harimau yang mengusir Hyena (Hyena tersebut juga membunuh Zebra dan Orangutan ya) tersebut, dan juga Harimau yang menjadi hiburan Piscine, serta tantangannya adalah sebuah simbol ketakutan, dan juga kehampaan.

Konflik dalam kapal tersebut yang membunuh si Zebra, Orangutan dan Hyena juga adalah sebuah simbol kepercayaan seseorang. Pada umumnya, seseorang akan harus memilih sebuah kepercayaan. Bukan berdasarkan amarah (Hyena), bukan berdasarkan cinta (orangutan), dan juga bukan karena keterpaksaan (Zebra). Jika seseorang memang harus memilih kepercayaan, (kecuali memutuskan untuk tidak percaya agama apapun), ia akan memilih berdasarkan ketakutan.

Buku ini melukis bagaimana seseorang mampu selamat dari suatu tragedi, dan buku ini juga sukses mengisahkan konflik batin yang “umum”, dengan sebuah metafora, menutupinya dengan gambar yang mampu diambil secara harfiah.

Secara keseluruhan, Buku ini adalah opsi yang baik untuk belajar perumpamaan, serta alegori mendasar dalam sastra. Bukunya sangat bagus, dan tentunya juga cukup menarik dan modern, karena tentunya buku ini baru ditulis di tahun 2001.

Dante’s Inferno

Ini buku bagus. Tapi membingungkan.

Dari mana aku mulai… Heeeuh.

Buku sebelumnya merupakan contoh sangat baik untuk metafora yang bisa diambil secara literal. Life of Pi super cocok untuk pemula sastra. Dante’s Inferno adalah opsi yang ratusan kali lebih menarik, serta, jika bicara religius… juga lebih religius. Brutal? Iya, Dante juga lebih brutal.

Nah… The Inferno adalah sebuah puisi, berisi 34 part, chapter, atau tepatnya untuk puisi, Canto. (Kanto? Mungkin untuk Bahasa Indonesia).

Jadi, buku ini sebenarnya bukan opsi terbaik untuk yang tidak siap mendapatkan bayangan kejam, dan tidak bisa dihapuskan dari kepala, selain itu, aku tidak menyarankan buku ini jika tidak ada niatan sedikit pun untuk mempelajari sedikit budaya nasrani.

Jadi, sejujurnya aku tidak akan mengerti buku ini menjelaskan apa jika tidak ada sedikitpun komentar dari Jean Hollander. Mengapa? Hehehe. Jadi, Inferno ini penuh dengan ratusan metafora, serta bahasa yang dengan sengaja dibuat untuk tidak bisa dicerna oleh orang-orang yang tidak ingin sedikitpun berimajinasi.

Selama Dante berusaha masuk dan melihat ke dalam neraka ini, ia ditemani seorang penyair asal romawi, namanya Virgil, penulis mitologi tentang Aeneas, pahlawan Romawi pertama, yang juga memulai kerajaan dan kekaisaran maha kuat tersebut.

Nah, jadi, tentunya gurunya Dante bukan orang yang main-main. Seorang (atau err, arwah dari) penyair terbaik dari kerajaan terkuat sepanjang masa tentunya mungkin salah satu guru terbaik yang seorang penyair bisa dapatkan.

Pada dasarnya sepanjang epik ini, Dante berusaha mengemas nasib orang-orang yang membuat sebuah dosa. Apapun dosanya, seberapa baik orangnya, jika ada sedikitpun dosa, maka ia akan masuk Inferno. Hukuman yang diterima oleh para pembuat dosa ini juga cukup kejam, dan disesuaikan secara spesifik ke dosanya. Misalnya, para orang serakah (Greed) dipaksa untuk berjalan dengan menggendong uang yang sangat berat.

Aku sejujurnya TIDAK menyarankan orang untuk membaca puisi/buku ini dengan santai. Jika anda memiliki niatan untuk membaca buku ini, harap lakukan dengan serius. Terlalu banyak adegan dan bayangan kejam yang tidak akan bisa ditoleransi oleh warga Indonesia.

(Tapi, hngg, buat apa orang baca buku ini kalau tidak diwajibkan oleh kampus lagian)

Selain banyaknya budaya nasrani dan kristianisme di puisi ini, juga ada guratan mitologi Romawi dan Yunani di buku ini. Misalnya, ada Raja Minos di tingkatan tertinggi neraka, untuk menentukan siapa yang dimasukkan ke tingkat apa. Juga ada Cerberus untuk menghukum para orang-orang yang rakus (Gluttony).

Secara keseluruhan, aku tidak bisa bercerita banyak mengenai Inferno tanpa melanggar beberapa kode etik pribadi mengenai apa yang layak dituliskan di blog ini dan apa yang tidak. Jika aku harus mengemas buku ini dalam sebuah kalimat pendek…

Buku ini terlalu membingungkan. Kebingungan yang didapat dari membacanya adalah alasan buku ini sangat bagus.

Terima kasih Professor Jean Hollander untuk E-Book Dante’s Inferno yang gratis dan lengkap dengan komentar yang membantuku mengerti apa yang sedang terjadi dalam untaian kata tulisan Dante Alighieri. Layaknya Virgil menuntun Dante dalam perjalanannya.

Kesimpulan

Jadi, sejujurnya perjalananku dalam Inferno tidak terlalu mulus. Namun, sangat beruntung aku dapat menemukan simbolisasi yang mirip, serta juga masih bisa ditarik benang merahnya dalam Life of Pi.

Hidup seperti itu (-_-“), jika kita kesusahan melakukan suatu hal, mungkin kita akan diberikan jalan lain yang mampu membuat hidup kita lebih mudah.

Oke, ini terkesan show-off.

Intinya, banyak jalan, banyak cara. Ingin belajar alegori? Bisa belajar ke Inferno! Bingung? Life of Pi saja! Itu dibiarkan ke kita untuk memilih jalan dan rute agar kita bisa mencapai yang kita ingin capai… dengan metode seefisien mungkin

Sampai lain waktu!

Dikakipelangi.com, Es Krim Kit Kat, dan Lebaran…

Dikakipelangi.com, Es Krim Kit Kat, dan Lebaran…

AZRIEL! KAMU KEMANA AJA?

Sebenarnya lucu juga tidak ada orang yang mencari aku, ataupun komentar menanyakan bolongnya One Day One Post ku.

Alhamdulilah traffic blog masih terjamin dengan artikel Arti dari Salut Wakanda Forever yang sekarang telah mencapai view ke 5500 (dan masih bertambah πŸ˜‰ ). Tiap harinya, artikel itu bisa menjaring setidaknya 100 view, dan jika sedang bagus rejekinya, artikel itu menjaring view diatas 500.

Seperti reader ketahui, Libur Lebaran pun belum beres. Sekarang masih cukup banyak hal untuk dikerjakan, dan aku pun baru hari ini mendapat hari yang tidak berujung denganku keluar rumah. Sejak Sabtu tanggal 9 Juni kemarin, aku belum sempat menyentuh laptop, dan… ya, aku membuat sebuah cerpen pendek (bentar, cerpen tuh singkatan apa ya?) untuk menjelaskan aktivitasku 9 hari kebelakang.

Es Krim Kit Kat

Semua itu bermula dengan es krim. Bukan Es Krim biasa, bukan… Es Krim itu hasil manufaktur Nestle (maaf, aku belum menemukan cara menambah aksen dengan keyboard wordpress). Es Krim itu khusus dibelikan Ibunda tercinta di bulan Ramadhan.

Tanggal 8 Juni kemarin, Bubi pergi ke Supermarket, untuk membeli cemilan malam. Cukup banyak, dan kalau dihemat-hemat ngemilnya, cemilan yang dibeli kemarin seharusnya bisa tahan sampai sekitar… kurasa 4-5 hari.

Aku tidak dibelikan apa-apa. Kecuali satu hal, Es Krim Coklat buatan Nestle tadi, yang merupakan spin-off dari resep coklat wafer sangat enak bernama Kit Kat, diubah menjadi sebuah es krim. Sambil memberikan es krim tersebut padaku, aku diberikan pesan… “Ja, ini es krim buat kamu ya, tapi kamu kalau makan ini bagi buat aku ya…”

Pesan itu menggema di kepalaku. Aku memang berencana membagi es krim tersebut, tetapi ini berarti aku tidak bisa ataupun boleh membuka es krim tersebut tanpa Bubi hadir.

Bukan masalah, kayanya. Masalahnya adalah aku hanya bisa makan ketika tidak ada matahari, dikarenakan aku sedang beribadah shaum…

HMM, itu pun bukan masalah sebenarnya. Langsung saja kumakan, memang sudah jam buka kok, kenapa tidak. Tetapi, hari ini, kurasa aku sudah cukup banyak makan manis, jadi seharusnya aku bisa menunggu besok.

Ternyata itu kesalahan yang sangat besar. . .

9 Juni 2018

Hari Sabtu, pagi hari kita memiliki beberapa agenda, yang termasuk aku memotong rambutku dan lain-lain. Sayangnya pilihanku untuk tidak memakan es krim di hari kemarin adalah opsi buruk.

Jadi, beberapa hari yang lalu, aku diundang untuk Itikaf bersama temanku. Meskipun itikaf-nya sendiri dimulai dari 21 Ramadhan, aku belum ingat untuk datang, sampai tanggal 9 juni kemarin. Biasanya, atau orang-orang pada umumnya itikaf hanya dari malam ke pagi. Tetapi, dengan sedikit bantuan temanku, kita bisa itikaf seharian, dan kita juga dipersilahkan menginap di masjid.

Tentunya ini sangat-sangat memudahkan, proses beribadah, jadi kenapa tidak? Aku bisa menghemat uang untuk gopay, gojek ke rumah hanya perlu dilakukan ketika ingin mengambil baju jika memang kekurangan, atau sudah habis.

Sayangnya, keputusan untuk menginap di masjid sampai H-1 Lebaran ini… membuat aku melupakan es krim kit kat tersebut selama Itikaf. Sama seperti aku melupakan keberadaan blog ini…

JENG JENG JENG!

Selama Itikaf…

Hari demi hari berlalu, Juz demi Juz kubaca, Tajil demi Tajil dinikmati, rakaat demi rakaat dilakukan… Sementara itu.

Blog ini terbengkalai kosong, mendapatkan dinginnya penulisnya yang sedang beribadah, melupakan keberadaan blog ini, tidak mengecek blog ini sekali pun, dan blog ini pun merasakan dinginnya… Kulkas. (Freezer deng), sama seperti Es Krim kit kat yang semestinya dimakan itu, dibiarkan saja. Ketika ada yang membuka freezer itu, atau dalam kasus blog… dilihat, ia hanya berharap tujuannya dapat terpenuhi.

Blog ini tidak diisi, layaknya Es Krim Kit Kat itu tidak dikonsumsi.

OH! SUNGGUH PAHITNYA KEHIDUPAN!

(Catatan: penulis sedang membaca puisi tulisan Virgil, Dante, serta Homer. Tulisannya akan menjadi 20-100 kali lipat lebih lebay sampai ia bosan membaca ketiga penulis tersebut)

Kepulangan dalam Kepergian

Aku pulang… Masih dalam lembayung senja, aku dijemput seorang driver gojek yang baru saja beres sahur dan langsung mencari rejeki mengantarku pulang.

Matahari telah naik, mulai memberi ciuman sinarnya, menandakan ini sudah bukan waktunya lagi untuk makan. Aku yang lelah, sesudah bangun semalaman ingin segera mengganti baju, dan menidurkan diri, sampai pagi setidaknya.

Aku tidak kuat untuk terbangun lebih lama lagi, jadi aku langsung saja membuat diriku tak sadarkan lagi, terbang, melayang dalam alam mimpi (oke, aku gak mimpi sedikitpun)

Paginya, sesudah terbangun, aku harus segera bersiap. Masih banyak hal yang perlu dilakukan.

Mudik.

Mungkin memang sudah telat untuk Mudik, tetapi jika engkau seorang yang pulang kampung ke kota, maka… Ini waktu yang tepat.

Jakarta kosong, tidak banyak orang pulang ke Jakarta. Sebaliknya, banyak orang meninggalkan rasanya kota metropolitan untuk kembali ke akarnya. Menjadi udik, alias Mudik. (ceunah istilah mudik dari situ)

Pergi dari rumah, es krim kit kat belum bisa dimakan, aku pergi dari rumah sebelum dzuhur, dan sampai Jakarta sesudah ashar. Jika aku membawa es krim tersebut, dapat dijamin bahwa dirinya akan lumer.

Sama seperti blog ini, ia kutinggalkan. Meskipun kubawa, aku yakin tiada akan (Catatan: Ia melebaykan tiap kata, dikarenakan… ia ingin melebaykan) waktu dan tempat yang cocok untuk menyelesaikan tugasku.

Aku telah Pulang!

Kembali ke Bandung, aku masih lupa akan beberapa hal. Kita masih punya banyak hal untuk dilakukan, meski dengan mulainya Piala Dunia, tidak banyak waktu yang aku miliki untuk menulis.

Sabtu pagi diisi dengan acara halal bihalal dengan keluarga yang bertempat di Bandung, seharian aku diluar rumah, dan selama aku di rumah… Tubuh sudah lelah, batas manis telah dipenuhi.

Minggu kemarin, bisa dibilang aku bersenang-senang, dari pagi, sampai malam aku diluar rumah. Sekali lagi, tubuh masih lelah, manis sudah cukup.

Aku tak tahan lagi, aku tidak bisa menunda pekerjaan ini lagi. Ini tidak dapat dibiarkan.

Pagi ini, hari dimulai dengan berlari, aku perlu bergerak sesudah makan sebanyak itu selama lebaran (semur nenek memang legendaris, lapis legit miliknya juga).

Sesudah menghabisi buku, aku makan makanan berat, dan aku harus menyelesaikan tugasku.

Rumah karyaku! Aku pulang!

Kesimpulan

WHAT ON EARTH DID I JUST WRITE?

Aku baru saja membiarkan jari bergerak, dan pikiran mengalir menghasilkan apapun yang telah kutulis.

Semoga tulisan itu menarik, dan mampu dinikmati, aku tidak berpikir banyak saat menulisnya.

Sampai lain waktu!