Tag: computer science

Programming: Skill Penting Di Era Digital

Programming: Skill Penting Di Era Digital

Jadi, sering banget aku nyelipin dikit aku ngajar programming. Dan, akhirnya, akan ditulis juga, yeay…

Tulisan hari ini akan showcase beberapa hal kenapa belajar programming itu penting di abad ke 21 ini. Dan mungkin yang udah punya anak dalam kisaran umur 8-13 mau nitip anaknya ke aku di Kota Bandung ini dan belajar Programming? Monggo aja sih…

Well, mungkin bisa tinggalkan comment dan akan aku email kontak-nya ya…

On topic. Artikel hari ini akan membahas kepentingannya belajar programming di abad ke 21, sebuah skill yang memang kepakai, dan semoga tidak akan di take over oleh Artificial Intelligence…

Shoutout ke Procode CG untuk mengajarkanku programming dan mengizinkanku mengajar disana, sampai aku bisa membuka kelas sendiri. Terima kasih 🙂

Anyways, juga akan ada hasil programming dengan Turtle juga selama 6 minggu kemarin.

Life Skill

Definisi Life Skill ini gak boleh solid. Dia sesuatu yang harus fluid dan mengikuti jaman-nya. Mungkin di zaman industri, life skill paling berharga adalah… misalnya menjahit. Meski sekarang skill menjahit masih terpakai, tentunya tidak salah juga belajar life skill yang lebih sesuai dengan zamannya.

Pada zaman informasi dan digital ini, tentunya life skill yang paling penting dan sesuai zaman adalah programming. Di Indonesia sendiri, dari banyaknya fakultas, STEI, atau Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB adalah yang paling diminati. Meski untuk memasukki STEI sendiri skill programming semacam irelevan… Jika nanti memang ingin kuliah di bidang ini, headstart dan iseng-iseng nyoba make bahasa kaya Python dan lain-lain ini akan sangat membantu.

Intermezzo dikit, survival skills juga akan selalu terpakai, dan bisa dibilang, sangat sedikit life skill yang gak akan kepake lagi di masa depannya. Karena ironisnya, ketika zaman industri mempermudah penciptaan sebuah baju atau meja, dasar itu… yang namanya manusia ketika ada suatu hal yang gampang dibuat, 20 tahun kemudian harga baju atau meja handmade naik…

Nah, jadi alasan pertama untuk belajar programming adalah, ini life skill yang sekarang sangat relevan pada zamannya.

Fungsi dan cara kerja

Fungsi… kata yang bisa jadi ambigu karena programming memang punya istilah fungsi. Tapi, fungsi disini maksudku adalah mencari tahu cara kerja suatu hal…

Aku pernah main DOTA, #ngakuaja…

Dan sebenernnya fase aku main dota ini mirip-mirip dengan fase aku mulai belajar programming… Well, sesudah mencapai titik yang rada dalem, aku akhirnya kayak ngeh gitu… Oh, jadi kalau mau ngeprogram si karakter A, caranya gini-gini-gini. Ya… mungkin pakai analogi aja deh… Anak-anak zaman sekarang, atau mungkin Kids Zaman Now itu kekeuh main game, dan emang super suka make sosmed, ya, itu kayanya nasib… Aku sih no, tapi… kalau yang yes mau digimanain lagi…

Nah, kalau anak-anak belajar programming, setidaknya sosmed atau game ini gak bakalan bener-bener in vain, karena well, dengan skill programming mendasar, anak-anak bakalan mencoba connect the dots antara kedua hal ini… Karena dasarnya mereka dibuat oleh kode yang mirip-mirip, meski pada skala berbeda…

Untuk analogi… Misalnya internet, sosmed, dan apapun yang ada di HP itu di analogikan sebagai mobil, nah, si anak-anak ini diajarin cara nyetir mobilnya, dan sering pisan nyetir mobil itu. Kalau anak-anak itu diajarin engineering maka dia bakalan tahu cara si mobil itu jalan, dan bensin itu memutar mesin, yang memutar roda, dan rodanya berputar membuat mobilnya jalan.

Setidaknya dengan logika dasar itu, si anak juga bisa membuat suatu hal yang meaningful dan berguna, meski tidak bisa digunakan di real life layaknya sebuah mobil yang jauh lebih kompleks dari simple engineering, karena harus mikirin enak diliat lah (dalam kasus app dan game: Grafik), speedometer (user interface), fuel consumption (battery consumption), speaker, klakson (audio dan musik) dan lain-lain…

Tapi dengan skill programming mendasar, tentunya meski tidak bisa membuat mobil yang berjalan dan siap jual, membuat mesin sederhana untuk berputarnya saja bisa dong…

Nah itu lah pentingnya untuk tahu fungsi dan cara kerja suatu hal…

Persistensi

Waduh ini mah sebenernya suatu masalah yang juga bisa diatasi dengan banyak cara…

Programming salah satunya kok 😉 tetapi aku juga membahas sedikit tentang menulis dan cara itu membuatmu lebih persisten… Silahkan cek di link ini

Nah, kenapa seorang programmer harus persisten? Intinya, sebuah tantangan di programming gak bisa asal aja di atasi… Karena sebuah programmer yang bener-bener talented itu harusnya bisa memastikan suatu masalah tercover tanpa banyak lubang yang membuat bug, atau ngadatnya sebuah proses (proses programnya, bukan proses di dunia nyata).

Believe me, persistensi adalah hal yang sangat susah untuk didapatkan, tetapi kadang meski “maksa” juga, persistensi dapat didapatkan melalui cara yang unik, hanya saja caranya berbeda, dan tergantung orangnya. Ada yang harus persisten melawan challenge, ada yang gak persisten ngelawan challenge, tapi persisten dalam berkreasi…

Dalam konteks programming, seseorang harus persisten tidak hanya dalam menciptakan, tapi dalam membenarkan dan memperlembut jalannya program. WADUH itu mah… kalau ngebenerin kode, kita harus mau niat ngebaca dan ngebenerin, karena satu titik dua kelewatan dalam program 10000 line, maka ya… err… silahkan dicari 🙂

Selain itu, menciptakan program bukan hal yang susah-susah amat. Jauh lebih susah untuk memperlembut si program ini, biar dia yang tadinya kasar dan gak nyaman buat user jadi sesuatu yang lebih nyaman, gak banyak bug, dan juga lebih enak untuk dipakai…

Intinya, persistensi itu suatu hal yang dapat ditemukan melalui programming…

Creative Thinking

Berpikir kreatif… Ini suatu hal yang masih sangat relevan dengan persistensi…

Andaikan seseorang persisten, tapi dia gak mau berpikir kreatif, dia gak bakalan bisa nyelesain tantangan itu… So far sih, biasanya persistensi dan creative thinking ini relationship dua arah… Kalau orang berpikir kreatif, tapi gak persisten gak bakalan bisa selesai, kalau orang persisten, tapi gak terlalu kreatif mikirnya… ya… gitu deh.

Khusus untuk persistensi dan creative thinking ini, sebenernya dia semacam manfaat, tetapi menjadi alasan juga… Dengan sering-sering programming, seseorang akan mau berusaha untuk berpikir kreatif, dan jika dia gak bisa berpikir kreatif, dia akan stuck di sebuah challenge.

Ini semacam benefit karena, ini suatu hal yang seseorang bisa dapetin dari sering-sering programming. Dia akan mau mencari jalan lain, kalau jalan ini gak jalan, dan dia mau coba metode A sambil menimbang bahwa si A lebih efisien dari metode B.

Dan tentunya, creative thinking ini bukan hanya manfaat yang “stuck” di Programming doang. Dia akan pada akhirnya pindah dalam problem solving di dunia nyata… Course, ini penting dong…

Nah off topic dulu, sebenernya programming ini bisa saja diajarkan melalui suatu hal yang membutuhkan creative thinking. Kaya misalnya ngerjain maze, tapi maze ini mesti manual, dan gak boleh pake pensil melainkan lisan. Atau misal ngestack cup pakai perintah lisan… Yah banyak lah metodenya 🙂

Efisiensi

Efisiensi… Efisiensi… Efisiensi…

Ini hal yang seringkali didebat banyak orang… Efisiensi atau efektif? Jadi, efisiensi itu berarti… mendapatkan hasil semaksimal mungkin tapi dengan effort sepantasnya. Effort yang dikeluarin untuk hasil yang didapat sesuai.

Ini perlu di programming. Karena kadang ada program yang hanya melakukan A, tetapi butuh dikerjakan dengan WXYZ. Sedangkan juga ada program yang melakukan BCDEF, dengan pengerjaan V doang. Jadi, programmer yang talented, atau skilled biasanya bisa mengerjakan sebanyak-banyaknya, dengan kode seminim mungkin.

Ada joke di bahasa C++ kalau kita nulis variabel, bisa diketik dengan ;  sesudah variabelnya, dan juga bisa diketik dengan Enter, lalu ; didepan variabel yang baru.

Well, sebenernya ini gak ada bedanya, hasil keluar programmingnya sama-sama aja. Tapi kedua cara cocok dan masing-masing bisa menghemat 3 keystroke jika digunakan dengan benar. Kadang kalau nggak peduli sih… gak ngaruh… Tapi ya… kalau emang mau efisien banget, wah! Cucok ngehemat 3 keystroke dengan mencet ; dan Enter ; .

Kalau gak ngerti joke-nya gapapa, emang ngebingungin. Tapi intinya, programmer C yang super efisien bakalan merhatiin ; dan enter-nya mereka karena itu akan menghemat.

Selain itu, efisiensi disini tidak sebatas teks, tetapi juga untuk berpikir. Programmer yang skilled akan menyuruh komputernya untuk mengerjakan lebih banyak dengan perintah yang minimum… Yah, mungkin bakalan rada bingung, tapi begitulah.

Untuk menyimpulkan chapter ini, efisiensi disini dapat dilatih dan didapatkan dari programmer yang persisten. Semakin efisien sebuah programmer, maka akan lebih mudah juga untuk menyelesaikan kode tanpa harus banyak-banyak memberi perintah. Tentunya, ini mungkin saja bisa tercermin di dunia nyata, tergantung orangnya juga sih, kalau aku gak… dan kalau aku ngakunya iya, siap-siap diomelin Bubi… “Kamu tuh mungkin programming efisien, nyuci baju aja mesti 4 load”. Atau apa lah… 😀

In Conclusion

Btw, ada sedikit gangguan dari wordpress, sehingga hasil pekerjaan bulan kemarin akan di posting di link lain, yang nanti akan ada link-nya disini…

Nah, tapi untuk kesimpulan hari ini… Segala sesuatu pasti ada manfaatnya. Dan terkadang manfaat itu bisa langsung, tidak langsung, ataupun hanya sebuah trait atau personality change saja… Nah, tetapi, jika diberikan sebuah kata manfaat, manfaat itu relatif 😀

Manfaat dari narkoba atau rokok misalnya, apaan coba… Tanya ke addict kedua hal itu, pasti ada manfaatnya. Jadi sebenernya manfaat itu gak selalu positif lho.

Nah, untuk itu sebenernya penting untuk introspeksi diri dan melihat apakah manfaat yang kita rasa kita dapatkan bagus atau gak? Cocok dan worth-it gak? Kalau gak cocok kan sebenernya… rada-rada redundan. Karena sebenernya konyol lho… 🙁 kalau kita melakukan atau membeli suatu yang dirasa ada manfaatnya padahal nyatanya gak ada manfaatnya.

Oleh karena itu, disinilah dimana critical thinking dan creative thinking play a part. Kalau kita mau kreatif, mencari manfaat bukan hal yang susah. Kalau kita kritis, kita bisa tahu manfaat hal yang kita cari itu beneran bermanfaat, dan bukan cuma asal ngomong doang.

Until next time 🙂 semoga artikelnya enjoyable…

[Azriel’s Late Post] Unnovation Seminar

[Azriel’s Late Post] Unnovation Seminar

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Aku pertama kali sampai di ITB pukul 8.00 dengan naik gojek. Gojeknya tidak mau mengantar sampai dalam kampus ITB. Beruntungnya, lokasi penyelenggaraan seminar tidak jauh dari gerbang, tepatnya di samping pintu gerbang, yaitu Aula Barat ITB. Ketika aku tiba ternyata peserta seminar belum boleh masuk ke dalam gedung seminar, padahal dalam jadwal disebutkan mulai pukul 8.00. Maka, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus ITB.

 

Pada pukul 8.45 aku sudah kembali ke Aula Barat dan sudah diperbolehkan masuk. Sudah ada bebereapa peserta di dalam ruangan namun masih belum terlalu ramai. Karena tempat duduk di barisan paling depan adalah untuk peserta lomba, maka aku memutuskan untuk duduk di barisan kedua sebelah kanan. Lucunya, seluruh peserta memilih untuk duduk di sebelah kiri sehingga kursi di sebelah kanan kosong.

Pak Arif Sasongko (Sumber foto situs ITB)

Acara dimulai pukul 9.15 dengan sambutan dari Kepala Program Studi Teknik Elektronika ITB, Arif Sasongko, S.T., M.Sc, Ph.D.. Sambutan berisi pentingnya tech-startup dalam ekosistem ekonomi sekarang. Menurutku, sambutan nya sangat menarik dan cocok dengan tema seminar. Sambutannya pun cukup pendek hanya sekitar 15menit. Cukup menarik bagiku, karena tidak ada sesi menyanyikan lagu Indonesia Raya pada seminar ini, biasanya bila aku mengikuti seminar selalu dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

 

Setelah sambutan usai, pembicara pertama adalah Aussie Wijaya, dari Boston Consulting Group. Boston Consulting Group, merupakan sebuah perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi decision making dalam sebuah bisnis. Sejak 2015, perusahaan ini lebih sering memberi advise tentang memberi sentuhan technology pada sebuah bisnis.

 

Beliau menunjukkan bahwa berdasarkan data, perubahan bisnis yang terjadi dari tahun 2012 hingga 2015 sangat drastis. Hal ini terlihat dalam sebuah perusahaan CD besar di Amerika Serikat kehilangan 100% value sahamnya, karena terkalahkan oleh Spotify dan iTunes. Selain perusahaan CD ada beberapa perusahaan lain yang terkena imbasnya, seperti Ace Hardware dan Electronic Solution. Perusahan-perusahaan ini kehilangan 30% salesnya, karena toko jual beli online seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak dan sebagainya. Masih banyak lagi perusahaan yang kehilangan penjualan tahunannya dengan angka sekitar 15-68%.

 

Sejak itu, maka Boston Consulting Group memutuskan untuk beralih dengan memberi saran berbasis teknologi untuk perusahaan-perusahaan yang menjadi clientnya. Berdasarkan data lagi, Indonesia, khususnya Pulau Jawa didominasi oleh ekonomi tingkat tengah dan menengah keatas. Kalangan ini, sebagian besar tidak punya banyak waktu untuk belanja sehingga mereka beralih ke belanja online. Bahkan, 80% dari kalangan ini memiliki gadget dan 60% memiliki akses ke wi-fi.

 

Kemudian, Pak Aussie menjelaskan cara memberi sentuhan teknologi dalam suatu bisnis. Penjelasannya, bahwa bisnis harus memiliki akses mudah dalam bentuk domain atau halaman toko online, untuk memudahkan kalangan dominan yaitu kalangan menengah yang sekarang lebih fokus dalam membeli barang via internet. Setelah itu beliau menutup dengan statement yang menyatakan bahwa apabila kita tidak melangkah masuk ke dunia digital maka kita akan tertinggal dengan kecepatan perubahan zaman.

Om Leon (Sumber foto situs ITB)

Pembicara kedua adalah Leontinus Alpha Edison – COO Tokopedia. Om Leon membuka dengan sejarah mengenai bagaimana tokopedia dimulai. Berdasarkan ceritanya, tokopedia mulai pada Januari 2009. Dimana ketika pertama kali launching baru ada 50 barang milik tokopedia sendiri. Dari kolaborasi Om Leon dan Om William Tanuwidjadja, yang sekarang menjadi CEO tokopedia.

 

Om Leon bercerita selama beliau menjadi (yang disebut oleh Om Leon sebagai) Half Engineer, beliau berkolaborasi dengan Om William untuk membuat sebuah website, yaitu tokopedia. Om Leon mendapatkan ide membuat tokopedia karena dia sempat mengalami kebingungan kala mengetahui promo sebuah brand ternama untuk produk mesin cuci. Ceritanya begini,di pagi hari Om Leon menghubungi dealer untuk mengklarifikasi sebuah promo yang beliau lihat. Kemudian beliau mendatangi dealer untuk membeli mesin cuci yang dipromokan. Namun, menurut dealer syarat dan ketentuan yang kurang sehingga mesin cuci tidak dibeli dengan harga promo. Selanjutnya, Om Leon kembali ke kantor untuk melanjutkan bekerja dan menyempatkan menghubungi dealer kembali dan diinformasikan bahwa barang sudah bisa dibeli. Pada jam istirahat, Om Leon datang kembali ke dealer dan katanya masih ada lagi syarat ketentuan yang kurang. Dan Om Leon kembali bekerja dan kembali lagi menghubungi via telp, pihak Customer Service dan diinformasikan bahwa promo tetap bisa diperoleh. Pada pukul 15.00 beliau kembali ke dealer hanya untuk menyampaikan keluhan tentang syarat dan ketentuan promo. Menurut Om Leon dan disampaikan ke pihak dealer syarat ketentuan promo tidak jelas, sehingga menimbulkan kebingungan. Dari pengalaman ini Om Leon berangan-angan memiliki online store dimana konsumen adalah prioritas.

 

Sekarang, tokopedia sudah menjadi sebuah perusahaan yang besar dan Om Leon menyampaikan DNA dari seluruh sistem operasi tokopedia. Prioritas pertama tokopedia adalah konsumen dan konsumen harus selalu menjadi prioritas tanpa terkecuali apapun. Tim tokopedia juga harus dapat bekerja sama dengan baik, karena setiap ada update dalam code tokopedia maka projectnya dilakukan secara bersama-sama dalam tim dan bukan perorangan. DNA terakhir dan menurutku paling penting adalah harus selalu mau berkembang, hal ini dapat dilihat dari perkembangan pesat tokopedia sejak 2009, dimana sekarang sudah ada jutaan jenis barang dan jutaan pengguna.

 

Kualitas DNA ini dapat dipertahankan oleh tokopedia dengan filter recruitment yang cukup ketat. Jika seseorang ingin menjadi bagian dari keluarga tokopedia, maka haruslah memiliki beberapa hal penting. Yang pertama, culture di rumah dan pendidikan rumah yang baik. Maksudnya, jika culture rumah dan kebiasaan si pelamar dirasa kurang cocok dengan culture tokopedia maka lamaran akan ditolak. Menurut Om Leon, jika seseorang tidak memiliki kebiasaan yang baik (yang dimulai dengan kebiasaan baik di rumah) maka dapat meberikan dampak negatif pada keseluruhan culture tokopedia. Setelah culture dari pelamar dirasa sesuai, maka yang dilihat adalah bagaimana pelamar dapat cocok dengan culture kerjasama dalam keluarga tokopedia. Apabila kedua culture tersebut sudah cocok, yang selanjutnya dinilai adalah pengalaman dan apakah si pelamar cukup kompeten. Langkah terakhir setelah kesemua syarat tersebut sesuai, adalah pihak tokopedia akan mencarikan tim yang tepat untuk rekan kerja si pelamar atau membuatkan tim baru yang sesuai.

 

Selanjutnya, Om Leon bercerita bahwa di tahun 2012 tokopedia memiliki akademi untuk bagian keluarga tokopedia. Akademi ini melatih keluarga tokopedia untuk menambah pengetahuan, kreativitas serta mempertajam DNA yang tertanam. Om Leon mendapatkan ide ini dari sebuah film yang beliau tonton bersama crew tokopedia (di tokopedia ada acara bernama movie day, yaitu sekali dalam satu bulan, keluarga tokopedia akan bersama-sama menonton sebuah film di bioskop) pada movie day, yang berjudul The Internship. Jadi dalam film berlatar belakang program magang sebagai seleksi untuk bekerja di Google. Karena tertarik dengan ide dari film tersebut, Om Leon memutuskan untuk membuat pelatihan tahunan, namanya adalah Nakama.

 

Nakama adalah event selama seminggu setiap tahunnya dimana crew tokopedia diberi tantangan untuk mengasah kemampuan dari crew. Kreativitas crew juga diuji dalam event ini. Seperti Om leon ceritakan bahwa diakhir minggu dari Nakama Academy ini, sudah ada ide baru yang kreatif untuk memperkuat environment tokopedia dari setiap tim. Tim dengan skor tertinggi di akhir minggu akan diapresiasi dengan Piala Nakama dan idenya akan diterima serta diimplementasikan.

 

Dari semua ide yang Om Leon ceritakan, yang paling menarik menurutku adalah bagaimana anak buah bisa menyampaikan report pada atasan. Yang membuat Om Leon menerima ide ini adalah karena ketika beliau masih menjadi Half-Engineer, beliau tidak suka pada bosnya yang menurut beliau cerewet dan tidak bisa apa-apa. Jadi beliau ingin memastikan bahwa dalam environment kerja tokopedia kekurangan ini tidak ada. Laporan haruslah memiliki 4 bagian, yaitu deskripsi mengenai bos, keuntungan memiliki bos tersebut sebagai atasan, kerugian memiliki bos tersebut sebagai atasan dan apa yang bisa diperbaiki.

 

Om Leon menutup presentasi dengan menyampaikan impiannya bahwa disuatu hari nanti tokopedia bisa memiliki sebuah kampus. Aku sangat senang mendengar presentasi dari Om Leon sehingga ketika presentasi selesai aku berlari cepat menuju Om Leon, mencegatnya dan memberikan kartu namaku. Om Leon cukup terkejut mengetahui aku memiliki kartu nama, dan aku pun meminta kartu nama Om Leon. Aku mengatakan keinginanku untuk magang di tokopedia, dan tanggapan Om Leon adalah bahwa biasanya tidak ada kesempatan magang untuk pihak luar. Tapi Om Leon berjanji akan menghubungiku apabila ada perubahan atau bila ada kesempatan untukku.

 

Sukan Makmuri (sumber foto Kudo)

Presentasi berikutnya adalah dari KUDO, dengan pembicara Sukan Makmuri, yang merupakan CTO dari KUDO. Aku menikmati presentasi dari Pak Sukan, beliau dahulu merupakan CEO dari Kaskus. Beliau mebuka dengan menceritakan apa itu Kudo. Kudo merupakan singkatan dari Kios Untuk Dagang Online.

 

Beliau menunjukkan data bahwa diluar pulau Jawa, orang yang meiliki akses ke Internet dan Smart Phone masih dibawah 20%. KUDO ingin dapat meningkatkan peluang perdagangan online ke daerah-daerah luar Jawa. Namun, banyak kendala yang harus diatasi, karena orang-orang di luar Jawa kurang teredukasi dalam hal internet dan kurang percaya jika tidak kenal dengan penjualnya. Salah satu faktor lain adalah kurang ATM untuk melakukan transaksi pembayaran belanja online.

 

Dalam hal inilah KUDO berperan. KUDO berusaha menghubungi warung terbesar dari satu daerah, kemudian diajak untuk menjadi partner KUDO. Setelah warung setuju, maka akan dipinjamkan smart phone yang telah terinstall aplikasi KUDO. Disini KUDO berperan memberi suplai barang dari daerah lain, misalnya beras dengan kualitas lebih baik. Aplikasi ini diharapkan memfasilitasi pedagang untuk menyediakan komoditas yang lebih baik dan variatif.

 

KUDO juga berperan meningkatkan value suatu warung karena aplikasi ini memiliki iklan, yang dapat menghasilkan uang. KUDO membagi sebagian penghasilan via iklan ini, serta membagi pada warung-warung setidaknya USD 100 dari hasil iklan. KUDO juga mengapresiasi warung dengan penghasilan terbanyak pada suatu pulau dengan memberikan smart phone yang awalnya dipinjamkan. Jika pada satu desa ada warung yang memiliki KUDO, maka menurutku secara tidak langsung warga-warga desa tersebut lebih teredukasi mengenai teknologi. Selain itu, bagi brand yang bekerja sama dengan KUDO dari pulau Jawa akan mendapatkan perluasan peluang bisnis.

 

Menurutku, meskipun Pak Sukan tidak menyebutnya secara langsung, KUDO sangat beneficial untuk orang di luar pulau Jawa dan bagi entrepreneur di dalam pulau Jawa. Ini yang membuatku menilai KUDO sebagai sociopreneursip. Aku sangat menikmati presentasi dari Pak Sukan dengan kontennya yang menarik dan baru kuketahui bahwa ada perusahaan seperti itu. Meskipun sebetulnya aku sudah cukup lama mengetahui tentang KUDO, karena ketika aku melewati Jalan Setiabudi disebelah jajaran tukang rotan ada kantor KUDO. Bahkan aku pernah mampir -ketika aku masih memainkan game online- untuk membeli voucher game. Tapi kala itu aku belum tahu bahwa KUDO memiliki benefit sedemikian rupa dan menambah value dari sebuah usaha di Indonesia.

 

Pembicara selanjutnya adalah Riri Satria, CEO dari value alignment group. Sayang sekali presentasinya kurang menarik sehingga membuatku tidak terlalu ingat akan materi yang disampaikan. Presentasi tersebut merupakan presentasi terakhir dari rangkaian presentasi dalam seminar ini. Menurutku, seminar ini secara keseluruhan menarik dan menyenangkan, karena selain mendapat ilmu dan wawasan baru, aku juga mendapat kesempatan bertemu orang-orang yang memberi inspirasi. Sayang sekali, seminar ini sepertinya tidak dipromosikan selain di dalam kampus ITB, meskipun aku bersyukur karena aku kebetulan berada di ITB tepat satu hari sebelum seminar sehingga aku melihat spanduk seminar hingga akhirnya mendaftar untuk menghadirinya. Akan lebih baik bila event-event seperti ini diinfokan melalui social media atau melalui komunitas juga agar lebih banyak yang bisa mengetahui.

[Azriel’s Late Post] Seminar Explore Bandung Open Data – XBOT

[Azriel’s Late Post] Seminar Explore Bandung Open Data – XBOT

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

Aku mendapat email pada pukul 16.15 bahwa kita harus sampai pada pukul 16.30 atau tidak diberi izin untuk mengikuti seminar. Ini membuatku kaget dan kecewa, karena pengumumannya sangat mendadak. Aku diantar oleh bubi dan kami sudah berangkat pukul 15.50, namun jalanan padat sehingga untuk tiba pukul 16.30 ke lokasi rasanya tidak memungkinkan. Untungnya kami akhirnya tiba pukul 16.40, dan ternyata ruangan seminar pun masih kosong.Setelah menunggu sampai pukul 17.15, akhirnya acara dimulai. Dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama, dengan band hotel. Band hotel ini sepanjang seminar hanya duduk di tempat band sampai seminar usai.

Seminar dimulai dengan sambutan dari Ibu Henny S. Widyaningsih (mantan wakil ketua Komisi Informasi Pusat). Beliau tampak tergesa-gesa dalam memberikan sambutan, sehingga sambutannya cukup singkat (dan aku kurang bisa mengingat materi sambutannya). Setelah memberikan sambutan, Ibu Henny langsung segera pergi meninggalkan acara seminar, tanpa ada sesi tanya jawab.

Kemudian ada presentasi pembuka dari Bpk. Asep Cahyadi, yang menjelaskan bahwa Bandung sedang melangkah menuju creative city. Pak Asep menjelaskan bahwa menurut negara lain, Bandung sudah sangat dekat menjadi Creative City, namun anehnya orang Indonesia berpikir sebaliknya yaitu Bandung masih jauh dari Creative City. Jika ingin menjadi creative city, maka sebuah kota haruslah memiliki sistem data yang terbuka.

Bandung sekarang sudah memiliki 800 bahkan hampir 900 file data. Pak Asep juga menjelaskan jika sebuah kota ingin menjadi creative city, data sangat berperan untuk membuka tindak pidana pencucian uang, membantu memperbaiki masalah publik lainnya. Kota-kota lain di dunia banyak yang memiliki data yang lebih sedikit daripada kota Bandung. Namun di kota lain tersebut data lebih terperinci sedangkan di Bandung lebih mengutamakan kuantitas sebagai moral booster bagi para data miner dan warga-waraga dalam mengekspos data.

Lucunya adalah setelah bagian ini disampaikan, Pak Asep melewatkan beberapa slide yang menurutku penting, karena itu menunjukkan cara orang yang kurang familiar dengan data mining tentang bagaimana cara membuka data di Bandung. Setelah melewatkan beberapa slide tadi, Pak Asep langsung menutup sesi presentasi tanpa membuka sesi tanya jawab. Lalu pergi dengan tergesa-gesa dan memberi alasan bahwa ada acara lain.

Presentasi selanjutnya dari pihak Data Analyst Indonesia, sayang sekali aku tidak mendapatkan namanya dan juga tidak ada informasi di poster. Beliau yang membawakan presentasi menggantikan Bpk. Dio yang namanya tercantum di poster. Bapak pembicara menjelaskan bahwa Data Analyst Indonesia berdiri di Jakarta dan mencari klien yang ingin datanya diekstrak untuk kemudian disimpan atau dipost secara publik. Data Analyst Indonesia belum memiliki kantor tetap di Bandung, dan baru memiliki kantor tetap di Jakarta dan Yogyakarta.

Data Analyst Indonesia adalah menjadi tempat untuk data mining, yang dilakukan Data Analyst Indonesia adalah melihat dahulu format data yang disediakan klien, apabila format nya mudah untuk dibaca maka hanya disortir dan divualisasikan saja. Dan apabila data nya membutuhkan proses data mining, maka akan dilakukan proses mining data terlebih dahulu untuk kemudian di sortir dan divisualisasikan.

Data Analyst Indonesa juga menyediakan pelatihan data mining, yang berlangsung selama 3 bulan. Pelatihannya berupa Project Based Learning dimana setiap minggu peserta akan diajarkan teknik baru, serta mereview project sebelumnya dan diberikan project baru untuk dikerjakan selanjutnya.Selama proses ini akan ada selingan berupa seminar yang dilaksanakan pada hari kerja setelah jam kerja, karena mayoritas peserta sudah bekerja. Terkadang seminar ini dibuka juga untuk publik dan untuk peserta dari batch pelatihan sebelumnya. Baru ada satu batch pelatihan data mining yang berakhir pada pertengahan tahun 2016.

Presentasi diakhiri dengan tawaran untuk ikut menjadi data miner di Data Analyst Indonesia. Kemudian sesi tanya jawab dibuka, dan aku berdiri sambil mengangkat tangan dengan harapan aku dipilih untuk dapat mengajukan pertanyaan.

Aku bertanya 2 pertanyaan, dalam pertanyaan pertamaku aku bertanya apakah Data Analyst Indonesia sudah mulai memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk proses data mining. Beliau menjawab bahwa sekarang Data Analyst Indonesia sudah mulai developing sebuah AI untuk mengambil data dan menulisnya, namun sepertinya setelah membandingkan data dari prototipe AI dan pengambilan data manual, tampak lebih cepat untuk melakukan ekstrasi data secara manual. Dalam pertanyaan keduaku aku bertanya apakah ada kesempatan magang di Data Analyst Indonesia, dan ternyata belum ada kesempatan untuk sekarang.

Seusai presentasi, waktu istirahat dimulai dan aku bergegas memberikan kartu namaku ke bapak data miner, dan aku minta untuk dikontak jika ada kesempatan magang, atau batch pelatihan kedua. Lucunya, ketika aku sudah selesai memberikan kartu nama, seorang mahasiswa menanyakan padaku apakah aku kenal dengan Kak Febriyan, yang merupakan bosku di Pleasurra. Aku menjawab bahwa aku kenal, dan saat seminar ini, aku baru saja diberikan tawaran magang di Pleasurra.

Pada istirahat makan malam, aku sangat menikmati menu makan malam tersebut, dan aku mengambil makanan yang cukup banyak. Aku merasa bahwa makanan ini berupa bonus dari seminar, dan aku sangat bersyukur dan berterimakasih pada panitia karena sudah memberikan aku menu makanan yang lengkap, mulai dari cemilan, sampai ke makan malamnya.

Seusai istirahat, presentasi berikutnya berasal dari kak Aris Budi Wibowo yaitu co-founder dari Python ITB, Python ITB adalah sebuah komunitas yang fokus untuk membantu mahasiswa belajar Bahasa pemrogaman python. Kak Aris membuka presentasi dengan data pengguna social media atau search engine di dunia, dan aku ingat bahwa dalam 1 menit ada lebih dari 2 juta search di Google, dan hamper 3 juta video ditonton di Youtube.

Sesudah data ini di buka, Kak Aris memberi intermezzo dengan sebuah film berjudul “Money Ball”, dimana sesuai cerita Kak Aris, ada sebuah tim bernama Oakland Atlantics yang bermain di liga Major League Baseball yang memanfaatkan data untuk mendapatkan peluang menang terbaik. Pelatih dari tim ini (Billy Beane) menggunakan data dan persentase untuk mengukur keberhasilan sukses suatu pemain, dan tim ini telah memperoleh 26 permainan tanpa kalah, yang menurut aku sangat hebat, dan makin membuktikan bahwa olahraga dan matematika sangat berhubungan.

Kak Aris berkomentar mengenai presentasi pembuka dari Pak Asep, karena menurut Kak Aris, kota yang patut dicontoh baik dalam kuantitas file data, atau dalam kualitasnya adalah San Francisco, yang sekarang sudah memiliki lebih dari 1500 file data yang cukup runut. Beliau juga menyebut bahwa sekarang departemen polisi di San Francisco sekarang sudah menyiapkan 1 squad khusus untuk satu jenis tindakan kriminal, yang diarahkan ke pusat permasalahan tersebut. Ini membuktikan pentingnya peranan data dalam kehidupan sehari-hari.

Sesudah menyampaikan peranan data, Kak Aris memberi informasi mengenai beberapasoftware yang berguna untuk data mining, dan cara dasar dari data mining. Berdasarkan survey yang diambil ke orang-orang professional dalam bidang ini, software yang paling sering digunakan adalah R. Menurut Kak Aris, R adalah software yang cocok untuk data miner yang berpengalaman karena fleksibilitasnya, namun R sendiri adalah softwareyang kompleks. Software yang memang cocok untuk pemula adalah Excel, dan Python.

Menurut data dan Kak Aris orang pada umumnya tidak bisa memanfaatkan Microsoft Excel dengan sempurna, setelah slide yang menunjukkan statistik ini dilewati, Kak Aris menyebut bahwa beliau pernah mengikuti tutorial dengan judul “How To Use Excel”, ternyata tutorial ini menjelaskan penggunaan Excel untuk seorang Data Miner, yang ternyata mudah untuk diikuti pemula.

Beliau menutup presentasi dengan sejumlah tutorial website, seperti Udacity, EDX, dan beberapa website lagi yang namanya kulupakan. Sesudah menjelaskan keuntungan dan kekurangan dari sebuah website, Kak Aris mengajak mahasiswa untuk bergabung dengan Python ITB, dan aku tertarik, sehingga aku langsung add username line (yang Kak Aris display di screen utama) tersebut ke HP-ku, dan berharap untuk bisa ikut.

Presentasi berikutnya adalah presentasi terakhir yang dibawakan oleh Kak Erin Erina, yang bekerja di DataViz, yaitu sebuah perusahaan yang menjadi konsultan dari sebuah hasil data mining. Kak Erin membuka presentasi dengan analogi dari data. Menurut beliau, data bagai superpower yang mesti diketahui kegunaannya dan cara memanfaatkannya, aku suka analogi ini.

Kak Erin melanjutkan presentasi dengan menunjukkan sebuah kumpulan angka yang tidak rapih, dan meminta peserta untuk menghitung jumlah angka 7, dan aku tidak bisa menemukannya sampai Kak Erin memberikan warna kepada angka 7 yang ada di halaman itu, Kak Erin mengulang ini beberapa kali, namun dengan sampel data berbeda, dan cara berbeda seperti, penggelapan warna, pemberian bentuk, mewarnai graph, dan lain-lain

Kak Erin menjelaskan bahwa untuk memproses data, ada proses yang harus dilewati, dan ternyata, sebelum mengambil data, sebuah bisnis harus menentukan tujuan dari data mining ini. Sesudah tujuan ditentukan, maka bisnis tersebut harus menentukan jenis data yang diambil, dan dari mana. Jika kedua poin itu sudah ditentukan, maka data akan diproses (data mine), dan jika dirasa kurang lengkap bisa dipoles dan diperbaiki. Sesudah data mine dilakukan, maka proses berikutnya adalah memproses data itu dan menulisnya, sesudah itu data baru divisualisasikan, dan dianalisis untuk perbaikan bisnis.

Presentasi dilanjutkan dengan beberapa software yang mudah untuk digunakan data mining. Kak Erin merekomendasikan software Tableau karena Tableau tidak butuh pengalaman programming. Selain Tableau software lain yang bisa dilakukan tanpa pengalaman programming adalah Oracle, namun Oracle tidak sefleksibel Tableau karena hanya bisa memproses file-file dalam format native ke Oracle atau Java. Kak Erin merekomendasikan Tableau karena keringanannya, kecepatannya, fleksibilitasnya dan yang menurutku paling penting adalah kemudahan dipakainya. Kak Erin bercerita bahwa ia pernah melatih orang-orang yang mungkin kurang mengerti teknologi, karena berdasarkan cerita Kak Erin, peserta pelatihan ini sudah cukup berumur, dan bahkan tidak memiliki smartphone. Namun Tableau tetap mudah untuk dipakai dan dimengerti dengan baik oleh peserta pelatihan ini.

Poin penting terakhir dari presentasi Kak Erin adalah fungsi data dalam pembenahan masalah. Kak Erin menunjukkan data bahwa di Indonesia, daerah yang paling sering terkena Demam Berdarah adalah Jawa Timur, dan Kak Erin berpendapat bahwa pemerintah sebaiknya lebih memonitor dan mendidik warga di Jawa Timur dalam kasus Demam Berdarah.

Kak Erin menutup presentasi terakhir pada malam ini dengan menunjukkan bahwa di Bandung, banyak anak-anak yang tidak sekolah di daerah Bojong Soang, yang merupakan titik nomor satu paling banyak anak tidak bersekolah. Nomor 2 di data ini adalah Sarijadi, yang membuatku merasa tersindir, karena aku homeschool. Kak Erin menjelaskan bahwa anak-anak di daerah ini sebaiknya diedukasi pentingnya sekolah, agar mereka minat untuk bersekolah.

Aku cukup senang bisa ikut seminar ini, karena presentasinya menarik, dan cocok untukku yang suka membanding-bandingkan beberapa hal dengan data. Aku juga senang karena bisa berkenalan dengan kakak-kakak mahasiswa yang memiliki minat programming juga. Sebagai pelengkap, menu makan malam di seminar ini sangat enak.So I have feed my brain with precious information and feed my tummy with yummy food, thank you bubi for signing me to this seminar.

[Azriel’s Late Post] OSCP Hacking Workshop

[Azriel’s Late Post] OSCP Hacking Workshop

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

Jumat kemarin tanggal 17 maret 2017, aku mengikuti workshop hacking berbasis tes OSCP. Pelatih di workshop ini adalah Pak Yoko, yang merupakan sebuah konsultan security aplikasi. Tes OSCP sendiri adalah sebuah tes hacking yang dilakukan secara remote, dengan OS Kali Linux. Aku menginstall VmWare workstation untuk menggunakan device Kali Linux-ku

Sebelum workshop dimulai, Pak Yoko memberikan kita overview dari tes sertifikasi security. Ada 2 jenis tes, yaitu management dan offensive, OSCP termasuk yang Offensive. Selain itu OSCP juga menggunakan system soal dan scoring. Tes OSCP sendiri dilaksanakan dalam waktu 24 jam di rumah masing-masing, dan dengan soal berbeda. Selain itu ada juga banyak sekali metode yang bisa kita gunakan untuk mengexploit sebuah system. Semakin ketat sebuah system maka semakin besar poin yang kita dapatkan dari soal tersebut.

Sesudah masuk ke virtual machine Kali Linux, kita langsung diberi set command untuk mencari tahu data di sebuah system dan berusaha membobolnya. Sesudah masuk ke satu server spesifik IP, dan dokumen-dokumen yang memaintain server dan OS yang juga ada di IP itu, aku langsung memodif user lain di OS pemegang server ini. Sesudah masuk, aku menambahkan user administratorku agar aku bisa akses system server. Ini bisa kulakukan karena server punya banyak sekali loophole untuk aku exploit. Sesudah mendapat akses, aku masuk ke device server dan mendisable administrator lain. Ketika aku satu-satunya user administrator yang tersisa, aku mengopi list kode untuk exploitasi dan mengeksploit semua kelemahan data dengan software bernama Mimikatz. Mimikatz berfungsi untuk membobol OS apapun yang diatas Windows Vista. Aku langsung mematikan server dan menghapus semua user lain di PC itu dan membuat server di IP tersebut mati untuk durasi yang cukup lama. Semua proses ini sebenarnya bisa dilakukan tanpa perlu retrieve IP dan password user terlebih dahulu, tapi justru proses itu yang sulit, karena aku bisa mendisable device orang lain asal tidak di password, dan aku punya IP. Proses ini juga dilakukan dengan aplikasi yang windows sendiri miliki dalam built in OS tanpa perlu download atau install apapun terlebih dahulu.

Aku menggunakan proses diatas untuk 2 soal, namun metode aku mendapatkan administratornya yang berbeda. Di soal yang menggunakan server SQL, aku cukup menggunakan list command built in SQL-nya, password didapatkan via brute force, dan lokasi server didapatkan dengan melakukan perintah Nmap Scan, dan ditemukannya file Robots.txt dan XAMPP. Di soal yang satunya lagi menggunakan server berbasis Tomcat. Untuk memasukkan command ke server Tomcat ini, aku perlu mengupload shell yang sudah berisi command ke server dan mengakses shellnya untuk melakukan command seperti di paragraph atas ini. Ketika aku sudah mendapatkan username dan lokasinya, baru aku bisa masuk dan membobol server ini. Sesudah ini selesai, aku langsun berjalan ke Masjid Salman dan sholat disana

Hari ini ada total 7 soal, namun kami hanya sempat mengerjakan 6 soal, karena tidak ada cukup waktu untuk mengerjakan soal nomor 7, yaitu soal paling susah. Soal paling susah ini bernama Stack Overflow, yang bertujuan memenuhi threshold sebuah server sampai servernya terlalu penuh. Pada pagi hari kita sudah sempat mengerjakan 2 soal. Tinggal tersisa 4 soal lagi dari Jam 13.00 sampai jam 17.30.

Ke empat soal ini memiliki flow yang sama, dan kurang lebih dikerjakan seperti ini,  cari page utama untuk server host-nya, cari hal yang bisa di exploit, (misal file, command, dan lain-lain) dari bahan yang bisa di exploit itu, buat user baru (contoh: Admin, Administrator, [NamaWebsitenya], dll), dengan password “P@ssw0rd”, brute force list password itu, cari yang benar, login dengan yang benar. Carilah ssh address yang mestinya sudah tampak ketika login, cari versi kernel server, cari daftar exploit di internet, dan tinggal download lalu compile command-nya. Laksanakan file compile-nya dan kamu sudah sukses menghack sebuah server. 4 soal itu dilakukan dengan flow yang sama, namun metode per soal beda, ada soal yang dilaksanakan dengan memasukkan username dan password yang paling common, ada yang perlu upload CMD terlebih dahulu, ada yang perlu command khusus, dan lain-lain.

Soal nomor 3 pada hari ini cukup simpel karena di IP yang Pak Yoko berikan (menggunakan server CuppaCMS) ada file .txt yang sudah ada address, username dan password. Sesudah masuk kita tinggal masukkan script via url, karena URL-nya support command langsung. Sesudah itu kita tinggal menambahkan username dan mem-brute force, di soal 3-5 semua proses sudah sama persis sesudah mem-brute force username dan passwordnya. Soal nomor 4 cukup mirip dengan soal nomor 3, tetapi karena menggunakan server Google Statistics, perlu upload command prompt terlebih daulu karena URL tidak bisa digunakan untuk menambahkan direct command. Untungnya, Google Statistics punya built in cloud untuk menjalankan file dan menguploadnya. Yang perlu dilakukan  sesudah login ke server, cukup upload CMD Google Statistics yang sudah ada di Kali Linux secara built in. Sesudah di upload tinggal jalankan command brute force, dan kita akan dapatkan akses server dan user. Soal nomor 5 lucunya lebih mudah lagi karena semua data sudah ada di file Robots.txt dan kita tidak perlu upload file lebih lanjut, karena sudah punya Cmd built in di website (tidak menggunakan link ataupun upload file, sama seperti textbox kode). Data langsung didapatkan dan system server juga cukup rusak.

Soal terakhir yang cukup sulit untukku adalah web calendar, untuk ini tidak ada CMD atau metode memasukkan kode sama sekali. Karena itu untuk input code kita membutuhkan shell open source dari github, buatan orang Indonesia, bernama B374k Shell. B374k Shell berguna untuk memasukkan kode ke file web yang hidden, karena semua web pasti punya server di sebuah PC. B374k memasukkan kodenya ke dalam PC yang menjalankan servernya, dan bukan servernya. Tapi untuk masuk ke dalam Shell B374k, kita butuh keluar dari “gerbang” yang membatasi Kali Linux. Untuk melakukan itu cukup masukkan sedikit kode di python dan dia akan mengkonversi ke Terminal Linux semi Python, dan Shell B374K bisa dimasukkan ke sini. Sesudah selesai bruteforcing, aku mulai tidak mengerti dan sedikit salah di bagian ini (ini bukan pas aku pegang HP kok). Tapi intinya flownya masih cukup mirip, hanya ada sedikit perbedaan di injeksi karena harus menggunakan B374K.

Sesudah soal nomor 6 selesai, aku langsung memberikan kartu namaku ke Pak Yoko yang cukup sering bercanda dan tertawa sepanjang workshop ini. Oh iya, kata Pak Yoko, terkadang hacking bisa membuatmu frustasi, jadi setiap menyelesaikan soal, wajib istirahat 5-10 menit dahulu. Ketika foto selesai aku langsung mengembalikan semua meja bersama kakak mahasiswa ke ruangannya di lantai 3, baru aku jalan ke Pico.

Thoughts and Experiences:

Aku sangat senang akhirnya bisa belajar Hacking. Sejujurnya aku tidak mengira scope hacking lebih luas dari perkiraanku sebelumnya, dan ternyata lebih mudah dari yang kukira (basicnya). Pak Yoko juga hobi bercanda selama workshop jadi workshopnya kerasa lebih casual. Aku senang bisa ikut acara dari ISG dan Isaca dan ingin belajar hacking lebih lanjut.

[Azriel’s Late Post] Devcember

[Azriel’s Late Post] Devcember

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Pada tanggal 17 Desember kemarin, aku pergi ke Co&Co Workshare untuk acara Devcember 2016. Devcember adalah sebuah event tahunan di Co&Co pada setiap bulan desember dimana developer bandung pada level skill apapun boleh sharing hasil development mereka.

Pada Devcember, acara di bagi-bagi per “bar”, dan memiliki jadwal sharing masing-masing. Semua orang yang melakukan sharing disebut dengan bartender. Setiap bartender sharing materi berbeda-beda sesuai keahlian mereka. Bartender termuda adalah mahasiswa kuliah lho.

Meski pada akhirnya aku tidak ikut yang Google Polymer dan Firebase Account Management karena mereka telat dan jadi bentrok dengan acara lain yang aku lebih prioritaskan.

 

Aku memulai Devcember dengan sharing mengenai programming with rust… Aku sayangnya tidak mengingat banyak mengenai bahasa open source ini selain fakta bahwa dia versatile dan dapat menggunakan logic external. Selain itu, Rust juga cocok untuk logic building karena dia bisa import ataupun export ke banyak bahasa. Setelah acara ini selesai aku langsung makan siang sambil menunggu Tante Chika datang…

Sesudah aku makan siang, aku kembali lagi ke Co&Co dan menunggu Tante Chika yang kebetulan mengisi materi enkripsi di Python ini. Aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya bersama Tante Chika di ProcodeCG. Tapi aku tetap ikut untuk menonton Tante Chika. Enkripsi adalah proses untuk “menutupi” konten yang ada di sebuah teks. Biasanya Enkripsi digunakan dengan memajukan atau memundurkan huruf-huruf beberapa alfabet. Misalnya,

Text dienkripsi: Azriel Ganteng

Kunci: +1

Hasil enkripsi: Basjfm Hboufoh

Kurang lebih seperti itu. Untuk mendekripsi itu cukup mengubah kunci menjadi -1 dan memasukkan hasil enkripsi menjadi text dienkripsi. Tante Chika juga menceritakan ProCodeCG dan kegiatannya, dan bagaimana ProCode bisa sebesar sekarang. Aku yang ada disitu juga ditunjuk Tante Chika sebagai kapten dan salah satu member paling lama.

Aku diam di Bar 3 dan bertemu dengan Kak Arief yang sharing Google Assistant. Google Assistant adalah sebuah tool dengan built in AI untuk memproses word by word response dari kita. Menurutku ini hanyalah sebuah bonus entertainment saja. Tetapi aku pun mengerti bahwa Google Assistant lucu dan cukup bagus karena jika diprogram dengan benar bisa menghasilkan teman virtual. Menurut Babah Google Assistant hanyalah metode untuk Google memonitor kehidupan sehari-hari kita. Kalau bertanya ke aku sih… Aku kurang setuju karena meski Google melanggar privacy orang, Google juga memberikan kita banyak hal seperti Search Engine yang up to date, OS Smartphone paling banyak dipakai yang open source, dan banyak development tool yang open source. Tetapi ya ini hanya menurutku saja sih. Dan kita sudah sedikit off topic jadi kembali ke topic utama…

Berikutnya aku ke acara terakhir Devcember ini dan aku bertemu Kak Ibnu Sina dari GITS… Spoiler Alert: (kalau baca yang ini duluan) Aku bertemu Kak Ibnu beberapa kali sesudah ini… Kak Ibnu menceritakan mengenai Data Binding di Android… Data Binding adalah proses update data yang real time dan efektif menurutku. Data Binding juga merupakan metode memberi kehidupan yang unik untuk sebuah aplikasi karena, programming disini hanya dilakukan di layout dan string, dan tidak butuh logic dari Java. Data binding secara singkat adalah memasukkan data dari OS, dan mengupdatenya dari aplikasi. Ini tidak butuh banyak logic java karena bersifat internal. Aku pada akhirnya memakai ilmu ini di aplikasi yang belum kurilis, tetapi sudah ada… Yaitu Timer Earth Hour… Hore ada ilmu terpakai dari workshop ini…

Sesudah Kak Ibnu selesai aku pun langsung mengambil makan malam yang ada extra stok kelebihan untuk para bartender dan panitia. Aku pun langsung pulang dan aku naik angkot untuk ketemu babah bubi.

 

Personal Thoughts:

Aku senang bisa ikut Devcember, dan aku sangat senang karena ini adalah salah satu saat dimana aku dapat memanfaatkan ilmu dari sharing ini, aku juga senang bisa bertemu CEO dari Gits (Kak Ibnu) untuk ke 2 kalinya. Mungkin aku akan bertemu Kak Ibnu lagi.

[Azriel’s Late Post] Bandung Azure IOT

[Azriel’s Late Post] Bandung Azure IOT

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

 

Pada tanggal 23 desember 2017, aku mengikuti acara Azure IOT Meetup  di gedung Bale Motekar. Acara ini di sponsori Microsoft untuk memajukan para peserta dalam bidang IoT, dan platform-platform Microsoft.

Pak Budi Rahardjo (Foto Dokumentasi Panitia)

Aku datang dan langsung menunggu speaker pertama, yaitu Tante Chika, dan Pak Budi, guru programmingku, dan gurunya guru programmingku :D. Materi yang Tante Chika berikan adalah materi Hacking IoT. Tante Chika mengajarkan kita untuk menggunakan dan memodifikasi development board yang cenderung murah. Tante Chika juga mengajarkan kita untuk (secara singkat) memrogram device IoT kita dan memberi device tersebut akses ke benda lain. Kata Tante Chika dan Pak Budi, jika dilakukan dengan benar, kita bisa mengetahui keadaan rumah kita seperti temperature, atau alarm jika ada malin masuk misalnya. Ternyata Python sekarang sudah memiliki modul yang support IoT, namun aku sih sebenarnya karena kurang tertarik hardware mungkin cukup di programmingnya saja.

Sesudah Tante Chika selesai, pembicara berikutnya adalah Kak Rezha Rochadi yang merupakan developer IoT. Aku sih dari mendengar presentasinya lebih cocok menjadi branding Azure IoT agar Microsoft bisa panen data dari pabrik-pabrik. Kak Reza bilang secara jelas bahwa sesudah device pabrik kita di support dengan Azure, maka kita cukup biarkan Microsoft mendapatkan data device kita, lalu mengirimnya lagi ke kita. Data ini bisa dipakai untuk mengetahui kondisi sebuah mesin dan performanya, dan juga di update secara real time. Aku pun bertanya ke Kak Rezha, kalau kita keberatan dengan data kita di ambil bagaimana? Katanya Kak Rezha, sekarang mah Google, Microsoft, Whatsapp, sudah jadi dewanya data, jadi sekarang sudah waktunya untuk kurangi kepedulian akan privacy kita, karena Google saja bisa tahu lokasi kita secara real time. Aku lalu bertanya lagi, tapi kalau misal data pabrik di jual oleh Microsoft dan diexploit oleh pabrik saingan bagaimana? Kak Rezha menjawab lagi, bukan masalah besar kok, Microsoft tidak menjual data tapi menyimpannya. Dalam pikiranku, buat apa menyimpan data jika tidak dijual, dan juga aku curiga bahwa Microsoft bisa mengalahkan Google dalam status evil empire, karena sebenarnya masih banyak opsi lain ke Microsoft Azure, tetapi entah kenapa pabrik-pabrik memilih opsi paling mudah dan murah.

Karena sedikit kesal dengan gaya bicara dan jawaban Kak Rezha, aku kurang memerhatikan demo yang Kak Rezha berikan, dan alasan kita harus menggunakan Azure (ini alasan aku melihat ini lebih ke marketing daripada sharing :D) dan langsung bersiap jumatan ketika sudah hampir selesai. Sesudah jumatan aku diberi makan siang yaitu Gudeg, aku menukar krecek yang ada di paketku dengan salah satu gudeg kakak panitia. Oh iya, karena aku bertanya, aku diberi Voucher Makestro DyCodeX lhooo.

Setelah sesi yang sedikit menyebalkan, berikutnya ada Kak Endang Suwarna dari Buitenzorg Makers Club. Kak Endang membawa materi mengenai development aplikasi di Azure Hub. Azure Hub adalah store aplikasi milik Microsoft yang bisa mengintegrasi IoT kedalam aplikasinya. Azure Hub juga punya system chat bot yang similar ke chat bot line dan menyetor datanya ke server. Kak Endang sendiri sudah  membuat aplikasi untuk melaporkan tindakan criminal atau masalah di kota dengan Azure Hub ini. Selain aplikasi mobile, juga tersedia aplikasi web, Kak Endang pernah membuat sosmed dengan identifikasi gambar untuk hasil yang lebih aman dan terfilter. Sayangnya market Azure Hub masih sangat eksklusif dan belum bisa generate uang dengan cara efektif. Untungnya Kak Endang dapat menjelaskan Azure Hub ini dengan gaya yang fun jadi aku cukup senang mendengarnya. Kak Endang sendiri belum membuat aplikasi yang  terintegrasi dengan IoT, namun pernah membuat mock up Azure dalam skala kecil yang belum dirilis. Jadi seperti tadi aku bilang, Azure hanya sering dipilih karena mudah dibuat dan digunakan. Padahal masih banyak bentuk lain SCADA yang bisa dipakai, atau dibuat.

Sesudah Kak Endang selesai, ada acara terakhir dari Kak Yugie Nugraha. Kak Yugie Nugraha adalah developer aplikasi di Holo Lens. Holo Lens sendiri adalah sebuah device yang similar ke sebuah computer dengan octoprocessor yang ringan, tetapi berbentuk seperti engine VR. Virtual Reality bukanlah jenis Reality yang di integrasikan ke Holo Lens. Holo Lens menggunakan bentuk reality yang similar ke AR, yang berfungsi untuk memasukkan benda-benda ke gambaran camera yang ditunjukkan di screen, nama reality ini adalah Mixed Reality. Holo Lens juga dikontrol dengan tangan si pengguna, jadi tidak butuh mouse. Demo Holo Lens ini adalah yang pertama di Indonesia lho. Harganya memang sangat mahal sih, dan belum ada di Indonesia.

Holo Lens dapat mengidentifikasi keadaan sekeliling, dan mengintegrasikan versi virtual kita. Sebagai contoh, kita bisa bermain FPS di Holo Lens, dan map di FPS itu ditentukan oleh bentuk ruanngan yang kita tempati. Alias peta akan selalu berubah tergantung lokasi kita bermain. Selain itu, Holo Lens juga bise mengidentifikasi benda-benda seperti meja, kursi, pintu, jendela dan tembok. Holo Lens sekarang memiliki teknologi space mapping terbaik.

Karena aku menjawab pertanyaan dari Kak Yugie, yang menanyakan definisi mixed reality, aku mencoba Holo Lens . Aku cukup suka menggunakan Holo Lens, tapi tetap belum bisa melihat Holo Lens menggantikan laptop, apalagi HP. Sesudah Kak Yugie selesai, acara pun ditutup dan aku memesan gojek, dan pulang ke kolenang.

Thoughts and Experiences

Aku cukup enjoy ikuti acara ini, dan mesti ada satu sesi yang sedikit zonk, aku menganggap zonk itu sebagai bukti bahwa akan ada zaman nanti, dimana kita bisa mengetahui apa yang seseorang telah lakukan dalam satu klik jari. Haduh dunia ini makin terbuka saja. Kalau menanyakan aku sih aku tidak terlalu keberatan dengan google, tapi kalau mengambil data pabrik dan ada potensi membuka aib sih sudah kelewatan.

[Azriel’s Late Post] Workshop Augmented Reality BINER UNJ

[Azriel’s Late Post] Workshop Augmented Reality BINER UNJ

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

Pre Workshop:

Pada 24 Februari kemarin, aku dan Om Alle pergi ke Jakarta. Esoknya kami ada workshop Augmented Reality di UNJ. Aku dan Om Alle pergi ke Jakarta dengan kereta. Di perjalanan pergi kami mengobrol mengenai banyak hal. Mulai dari Augmented Reality, Pt. Freeport dan alasan dia diusir, konten negative di internet, perbedaan gaya sosialisasi anak Homeschool dan Formal, meme mengenai Bekasi yang dibully karena jauh kemana-mana, dan banyak banjir… dan percakapan yang menurutku paling penting dan menarik… alasan Reddit di block di Indonesia.

Sesampai di Jakarta kita berusaha memesan Gojek, dan sambil menunggu, kita ngemil di 7 Eleven. Sesudah 45 menit menunggu sayangnya kita tidak dapatkan . Jadi aku whatsapp Bubi dan Babah untuk ide transportasi lain.  Kitapun memesan Uber dan kita mendapatkan supir Uber yang enak diajak ngobrol. Selama perjalanan kita mengobrol rute macet di Jakarta, kebanjiran di Jakarta, dan banyak masalah-masalah Jakarta lainnya yang aku tidak ingat.

Sesampai di rumah Nyanya, aku dan Om Alle langsung bersih-bersih dan menyiapkan kasur untuk tidur. Ketika Pak De Iqbal sampai rumah, Om Alle dan aku main Fifa di Xbox selama 1 jam, dan kita juga menunggu makan malam dari Nyanya sampai. Aku dan Om Alle makan Carl’s Jr. yang kebetulan buy 1 get 1 free, jadi kita juga dapat makan malam untuk di kereta esoknya. Sambil makan malam, aku dan Om Alle mengobrol bersama Nyanya mengenai beberapa topic yang ku tidak ingat. Kita langsung tertidur sesudah kita kenyang.

Esok paginya kita bangun dan bersiap-siap untuk workshop, sesudah sarapan kita pamit dengan Nyanya karena kita tidak ada rencana kembali lagi, dan langsung berangkat.

Workshop:

Sesampai di UNJ dan daftar, kita diberi tahu peraturan mengenai workshop dan langsung menyalakan laptop. Kami pun langsung menginstal AR Camera dan semua modul di Unity milik kita. Semua peserta workshop langsung mengenalkan diri, dan yang homeschool hanya aku dan Om Alle. Aku berharap dengan ada 2 homeschooler yang berteman dan rela pergi dari Bandung untuk mengikuti acara ini, dapat mengurangi bias orang-orang ke homeschooler yang di judge sebagai antisocial dan dilarang keluar, dan juga tidak bisa presentasi. Sebelum workshop dimulai, kita ditanyakan definisi AR. Aku menjawab bahwa AR adalah projeksi virtual dari kamera kita jika kamera kita melihat suatu gambar. Kak Ade, yang merupakan pemateri workshop ini mengafirmasi statementku.

Kami pun langsung melanjutkan dengan proses pembuatan AR. Sebelum memulai, Kak Ade menjelaskan bahwa resource AR dapat dibentuk di website official AR Camera Open Source Unity, dan kita bisa langsung membuat resource sendiri dengan memasukkan beberapa file ke website tersebut. Ketika kita memulai dengan import resource ke Unity, ada error di Unity-ku dan milik Om Alle, alhasil aku sedikit tertinggal karena resource yang diberikan tidak kompatibel dengan Unity milikku. Aku perlu menginstal ulang aplikasi Unity dan menginput modul lagi. Tidak lama sesudah itu, aku langsung berusaha mengejar, dan lucunya… Proses pembuatan program AR cenderung mudah untuk para programmer, dan bahkan tidak butuh suara. Untuk membuat sebuah program AR yang perlu dilakukan hanyalah memasukkan image target, (yaitu gambar untuk di-baca agar menghasilkan image 3D ketika gambar itu masuk kamera) dan di atasnya memasukkan sebuah gambar untuk output. Sesudah itu selesai kita cukup memodifikasi beberapa variable lain agar program AR kita smooth. Meski tampak tidak perlu programming, aku pun memprogram sedikit agar objek AR tersebut dapat diputar-putar dan dilihat dari sudut berbeda. Sesudah kita selesai melakukan ini dan mengetestnya, ISHOMA mulai.

Seusai Ishoma, dan acara mulai lagi, aku yang sekarang sudah setara progressnya dengan yang lain melanjutkan pembuatan projek kita dengan dadu sekarang, dan berusaha agar benda dapat dipindahkan ke titik berbeda. Untuk melakukan ini hal yang perlu kita lakukan hanyalah memasukkan beberapa line kode jika kedua benda menempel. Hasilnya, kurang lebih selama image target masih ada di screen, kedua benda akan tetap tampak dan tetap bisa dipindahkan. Benda yang sebelumnya berpindah tempat akan muncul di tempat yang sama, sampai dikembalikan ke Image Target. Sayangnya main game drag and drop AR ini sangat-sangat membuat kita frustasi karena kita butuh memegang kamera di HP kita, dan dua image target. Untuk melakukan ini aku memegang image target dengan dua tangan dan meminta tolong kamera agar dipegang Kakak pendamping. Tetapi meski sedikit menyenangkan, aku merasa permainan ini borderline impossible karena sangat menyebalkan (dengan cara yang tidak adiktif, tidak seperti flappy bird) ketika dimainkan.

Ketika stress dari memindahkan benda virtual di camera selesai, kita pun maju ke sesuatu yang lebih mudah dari kedua hal tadi… Gyroscope AR camera. Jika menggunakan Gyroscope, kita cukup memasukkan benda ke tengah view unity dan sudah… Kita cukup melakukan itu, dan nanti di kamera AR-nya akan muncul benda 3D di tengah-tengah screen kamera jika HP kita memiliki Gyroscope. Sesudah itu Workshop ditutup dan selesai 1 jam lebih cepat, jadi aku dan Om Alle terpikir untuk ketemu Nyanya lagi dan mungkin makan lagi agar kita tidak terlalu lapar nanti di kereta.

Ternyata membuat game AR jauh lebih mudah dari perkiraanku, namun sepertinya graphic designer sebuah game studio akan memiliki kerjaan yang menumpuk karena untuk setiap Image Target (misalkan, kartu remi), perlu resource 3D. Aku dan Om Alle sempat berusaha diskusi konsep Game AR yang tidak akan terlalu memberatkan Graphic Designer, namun aku dan Om Alle belum menemukan.

Post Workshop:

Kita kembali ke Asem Baris, dan mengemil sereal Lucky Charms di rumah Nyanya. Sepertinya kita ada waktu 1 jam kurang lebih sampai kita perlu naik gojek ke Gambir. Nyanya dan Pakde mengajak kita ngobrol mengenai kuliah kita nanti, karena Om Alle sudah hampir mau kuliah. Om Alle kepikiran untuk kuliah elektro di luar. Nyanya juga sangat senang lho ketemu Om Alle, Nyanya bahkan sempat mengajak Om Alle untuk balik ketemu Nyanya lagi soalnya menurut Nyanya Om Alle itu orangnya fun dan enak diajak ngobrol. Bagus menurutku sih, semoga setelah bertemu Om Alle, Nyanya bisa melihat Homeschooling dengan persepsi bahwa homeschooler itu bukan antisosial kok.

Sesampai Gambir, Om Alle dan aku mengemil lagi di 7 Eleven Gambir, dan kita bertemu Ibu-Ibu asal Solo yang hobi travelling, Ibu yang namanya aku belum ketahui itu (Lupa nanya aku) seringkali ke Jakarta naik kereta dan lagi menunggu dijemput anaknya. Kita mengobrol banyak hal seperti aku dan Om Alle, alasan kita pergi ke Jakarta, dan kebiasaan bepergian Ibu. Ibu yang namanya aku tidak ingat itu belum pernah ke Bandung, tetapi sudah pernah ke semua pulau besar di Indonesia! Selain itu, Ibu itu hobi pergi ke sebuah kota naik kereta dengan baju terbatas, dan balik esok harinya khusus untuk belanja oleh-oleh. Sebagai contoh Ibu itu pernah ke Malang hanya untuk beli apel sebanyak-banyaknya dan membawanya pulang. Bahkan karena Ibu itu cukup menarik aku memberi kartu namaku padanya, dan meminta untuk mengontak aku ketika akhirnya bisa ke Bandung. Entar aku ajak makan Baso Tahu, dan Yamien yang enak. Ibu itu pun tertawa dan Om Alle dan aku yang hampir lupa waktu berburu-buru ke kereta dan bersiap naik kereta. Kita tertidur sesudah makan malam.

Thoughts and Experiences:

Aku senang bisa mengajak Om Alle ke Jakarta karena Om Alle orangnya sangat fun dan bisa dengan mudah mengajak orang mengobrol. Karena Om Alle aku juga bisa mengobrol dengan Ibu yang hobi travelling, Supir Uber yang aware atas masalah-masalah di Jakarta, dan membantu Nyanya lebih setuju agar aku Homeschooling. Oh Iya… Jadi lupa… Kalau untuk Workshop-nya aku cukup takjub karena membuat AR ternyata sangat mudah untuk programmer-nya, dan ilmu itu sangat bermanfaat menurutku.

[Azriel’s Late Post] Workshop Digital Forensic

[Azriel’s Late Post] Workshop Digital Forensic

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Pada tanggal 17 februari kemarin, aku pergi ke ITB karena ada Workshop Digital Forensic. Workshop ini disertai Guest Host Pak Nuh yang merupakan kepala lab digital forensic. Kemarin malam sesudah menginstall software yang diperlukan, aku tidak sabar belajar digital forensic karena aku sempat tertarik dengan ini ketika menonton CSI: Cyber (yang pada akhirnya dicancel tanpa alasan jelas), namun belum menguliknya.

Sebelum masuk ke Workshop, Pak Nuh bercerita mengenai backgroundnya. Pak Nuh juga sempat bercerita bahwa ia sempat berpikir untuk menghack sebuah bank besar di Indonesia, dan sampai sekarang, masih ada program untuk melakukan itu. Untungnya karena Pak Nuh kuliah dengan bimbingan polisi, Pak Nuh menjadi Cyber Forensic, bukan Cyber Criminal.

Sumber foto dari hukumonline.com, aku lupa dokumentasi soalnya 😀

Workshop dimulai dengan teori dari Digital Forensic. Aku sudah cukup tahu dengan bentuk dan evidence dari Digital Forensic sebelumnya. Jenis buktinya tentu adalah software dan hardware, dimana software evidence biasa berisi dari jejak history sebuah PC, dan hardware evidence adalah PC-nya sendiri (sebagai contoh saja karena masih banyak lagi tentunya). Selain bentuk dan bukti, juga ada “code of conduct” yang harus dipatuhi oleh seorang forensic digital. Kode pertama untuk ini adalah untuk tidak pernah mengedit sebuah barang bukti, tanpa disecure atau write block terlebih dahulu. Dengan ini kita tidak akan merubah hash code sama sekali. Kode berikutnya adalah, “Untuk melakukan suatu tindakan forensic, orang harus tersertifikasi, dan tahu apa yang dia lakukan”, cukup self explanatory menurutku. Kode berikutnya: adalah untuk merekap dan meninggalkan jejak ke setiap tindakan, menurutku dan mungkin semua programmer (forensic atau bukan) ini penting agar kita dapat mentrace segala tindakan yang kita buat, dan mencari kesalahan atau kebenaran di sebuah barang bukti. Kode ke empat adalah “Setiap tindakan harus dimonitor dan dipertanggung jawabkan ke seorang supervisor”, ini untuk memastikan kerusakan data dan kegagalan satu kasus tidak terjadi.

Aku bertanya ke Pak Nuh, apakah kita diberi izin untuk mengubah hard disk dan mungkin merusak konten sebagai last resort? Pak Nuh pun memarahi aku dan bilang bahwa forensik itu bukan tuhan dan jika ada data yang terubah karena kerusakan maka ya barang bukti tidak valid lagi. Pak Nuh sepertinya galak dan aku menekan trigger button-nya. Pak Nuh melanjutkan penjelasan dengan galak lagi ke aku bahwa ada kemungkinan kalau kita melanggar code of conduct bisa membuat satu isi lab di ban dan dibubarkan, karena supervisor juga harus bertanggung jawab, jadi sebaiknya kita tidak perlu mengedit konten sama sekali… Sesudah ini aku tidak mengucapkan satu katapun ke Pak Nuh sepanjang workshop  aku takut mengeluarkan pertanyaan yang salah lagi, kan malu kalau dimarahin di umum pas workshop, bahkan aku tidak memberitahu umurku ke Pak Nuh.

Seusai code of conduct dijelaskan, Pak Nuh melanjutkan dengan contoh kasus Cyber Criminal. Karena muka pelaku tidak diketahui, CIA menghargai kepala sebuah mafia hacker asal Russia 1 Juta Dollar. Ya kasus Cyber Forensic memang mulai meningkat cukup pesat secara global ataupun local tahun ini. Bahkan peningkatannya sampai 80% dari 2014 ke 2015, menurut statistic milik Pak Nuh.

Sesudah itu Pak Nuh mendemokan Hash Calculator yang merupakan sebuah software untuk membaca encoding sebuah file. Cara menggunakannya sangat simple, cukup masukan file kedalam Hash Calculator-nya. Hash Calculator berguna untuk membaca apakah sebuah file pernah diedit atau belum. Hash Calculator juga bisa dipakai untuk membedakan 2 file yang tampak sama persis berdasarkan signature-nya. Hash Calculator menunjukkan data file dengan sejumlah karakter yang unik, dan akan berubah berdasarkan semua properti file yang berubah (baik secara sengaja atau tidak sengaja), Di windows, bahkan mengubah file, meski tidak di save perubahannya akan mengubah Hash Code-nya, jika di Linux ini tidak akan terjadi. Membaca Hash akan berguna untuk membedakan 2 file dan mencari mana file yang benarnya.

Sesudah Hash Calculator kucoba, waktu makan siang tiba dan aku jumatan sesudah itu langsung makan siang. Topik Khutbah Jumat hari itu adalah cara mempursue passion dengan gaya islami, dan kebetulan Pak Nuh bahas lagi saat workshop dimulai lagi. Selesai ISHOMA, aku visit lab Nano Sains dan say hi ke beberapa kakak disitu, lalu kembali lagi ke ruang rapat STEI.

Berikutnya aku mencoba software USB Write Block, yang berguna untuk memastikan kita tidak mengedit satupun hash code dari sebuah file. Cara pakainya pun sangat simple, cukup di toggle on dan off, ketika kucoba dengan USB, USB itu tidak bisa diedit sama sekali. Sayangnya aku lupa men-toggle fitur ini off ketika sampai rumah, dan membuat sebuah USB tidak bisa di edit. Ini adalah langkah yang simpel tapi wajib dilakukan kata Pak Nuh.

Sesudah selesai memblock USB dari editan apapun, aku pun mencoba mengkonversi sebuah USB menjadi database. Aplikasi ini butuh waktu lama untuk memproses sebuah USB 8 GB dan membaca isi file-nya. Aplikasi ini juga bisa membaca sebuah folder yang di delete, meskipun bisa membaca folder dan file yang sudah di delete,  kita tidak bisa melihat konten file selain namanya dan tanggal delete-nya. Pak Nuh juga bercerita bahwa dia hanya mau menyewa gamer ataupun eks-gamer karena hanya mereka yang punya stamina untuk dapat tahan melihat screen selama itu sambil membuat satu file jadi sebuah .ISO dan membaca ulangnya. Kadang Pak Nuh member mereka izin untuk main game sambil menunggu konten satu hard disk dibaca, dan dikonversi ke ISO. Di USB pinjamanku aku melihat beberapa folder yang sudah di delete, dan ternyata kita bisa melihat JPG yang sudah didelete. Sayangnya sebelum aku bisa eksplorasi lebih lanjut Pak Nuh yang sibuk harus pulang. Masih ada satu software untuk melakukan autopsy pada ISO yang belum sempat kita coba hari ini. Kata Pak Nuh software Autopsy ini bisa merecover file-file hilang. Pak Nuh memberi salam penutup dan mendoakan yang terbaik untuk kita semua ketika ia bersiap kembali ke labnya di Jakarta.

Thoughts:
Workshop ini overall menarik, dan aku sangat senang bisa belajar lebih lanjut mengenai topic yang dari dulu sudah ingin aku ulik. Bahkan meski Pak Nuh galak, dan membuatku malu, (untungnya para mahasiswa sebagian sudah tahu aku hanya seumuran dengan siswa SMP) tetap sangat menarik bertemu dengannya, karena Pak Nuh sudah punya pengalaman yang cukup banyak di bidang ini, dan sempat diberi keputusan untuk melakukan sesuatu yang berdosa dan illegal untuk uang yang sangat banyak, dan sesuatu yang tidak illegal, bahkan mendefend legalitas itu sendiri untuk uang yang sedikit.

[Azriel’s Late Post] Bandung Dev Tech Talk #1

[Azriel’s Late Post] Bandung Dev Tech Talk #1

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

 

Pada tanggal 6 Februari kemarin, aku pergi ke DICODING Space untuk mengikuti Dev Tech Talk pertama tahun ini. Dev Tech Talk adalah sebuah serial acara yang diadakan untuk Android Developer. Bandung Dev Tech Talk kali ini ada 4 pembicara dengan topik masing-masing. Para pembicara kita kali ini adalah: Kak Elsen Novraditya dari Prism, Kak Andrew Kurniadi yang merupakan salah satu Google Dev Expert di Bandung, Kak Ibnu Sina yang merupakan CEO dari GITS, dan Kak Ahmad Imaddudin dari Dicoding.

Pembicara pertama kita adalah Kak Elsen dari Prism. Prism adalah sebuah messenger dengan built in tools untuk konversi message menjadi transaksi. Prism ini biasa dipakai untuk pedagang online yang ingin menggunakan satu aplikasi untuk berjualan, karena Prism juga sudah lengkap dengan toko online didalamnya. Prism sekarang baru mensupport Kartu Kredit, COD, Bitcoin milik Prism, dan Paypal untuk sekarang.

Prism memang harus sangat secure, dan Kak Elsen cerita untuk mendapat security-nya itu, Prism di program dengan Kotlin yang merupakan sebuah “mod” ke Java. Kotlin bersifat sebagai simplifier bahasa Java dan bisa memperpendek 5-20 line kode, menjadi 2-4 kode. Kotlin juga perlu deprogram dengan teliti tapi, karena Kotlin bisa menyebabkan leak parah jika tidak ditangani dengan benar. Menurut Kak Elsen, Kotlin adalah modifier language yang perlu dikuasai sebelum memulai development dengan itu. Kotlin adalah mod yang secure karena Kotlin memiliki list command yang terbatas, tapi luas, maksud dari statement itu adalah Kotlin dapat mengerti banyak list command, tapi perlu di-identifikasi lagi untuk memastikan security. Jika kita tidak identifikasi sebuah fungsi dengan beberapa list tanda baca, (!, ?, ??, !! yang sudah disupport Kotlin, masing-masing memiliki definisi identifier tersendiri) maka kemungkinan ada leak sangat tinggi. Untuk memastikan bahwa Kotlin tidak ada leak, coba gunakan software open source Leak Canary di Github, baru publish aplikasinya ketika sudah bersih dari leak.

Berikutnya Kak Andrew Kurniadi yang membawakan materi. Materi Kak Andrew adalah development aplikasi di Smart Watch. Kak Andrew bilang bahwa development di Smart Watch sangat mudah dan bahkan lebih mudah daripada development aplikasi di Android. Tetapi menjual aplikasi di smart watch akan jauh lebih susah karena orang-orang tidak akan download aplikasi secara “asal” di Smart Watch. Kak Andrew juga kemudian bertanya apa disini ada yang pernah membuat aplikasi di Smart Watch sebelumnya. Aku menjawab aku pernah… Kak Andrew lalu bertanya aplikasi apa, dan aku pun menjawab aku pernah mencontreng semua target devices di Android Studio sebelum aku mengerti cara memakainya. Semua orang di ruangan pun tertawa, termasuk Kak Andrew.

Kak Andrew pun menjelaskan cara untuk development di Smart Watch. Ternyata development di Smart Watch hampir persis ke development di Smart Phone, bahkan lebih mudah. Namun ada beberapa tips dari Kak Andrew untuk dev di Smart Watch. Pertama, pastikan punya 2 bentuk layout aplikasi, satu untuk jam yang berbentuk kotak, dan satu untuk yang berbentuk bulat, karena Smart Watch bukan hanya memiliki ukuran berbeda (yang bisa di scale jika di HP), tapi juga punya bentuk berbeda. Tips kedua adalah untuk memastikan activity tidak bertumpukan dan buat sedikit split. Maksud Kak Andrew adalah, pastikan aplikasi punya setidaknya 3 page dengan fungsi masing-masing agar aplikasi tidak berat dan masih bisa digunakan seefisien mungkin. Tips terakhir adalah sediakan mode battery saver, karena smart watch biasa diisi aplikasi yang bisa digunakan di background, dengan adanya mode battery saver (yang juga mengurangi brightness device kita) aktivitas akan lebih efisien dalam konteks battery usage. Alasan lain untuk tip ini adalah karena battery di smart watch kita biasanya hanya setengah atau kadang lebih kecil dari smartphone.

Sesudah Kak Andrew selesai, ada Kak Ahmad dari Dicoding yang menjelaskan tentang widget. Widget menurut Kak Ahmad adalah sebuah “preview” dari aplikasi yang bisa diakses dari main screen. Kurang lebih hanya itu penjelasan dari Kak Ahmad. Sesudah menjelaskan, Kak Ahmad langsung memrogram widget. Widget sendiri sebenarnya sangat similar dengan cara membuat aplikasi, namun butuh beberapa line khusus di file manifest untuk membedakan widget dan aplikasi. Memprogram logic dan layout widget mirip dengan aplikasi, tapi dalam skala yang lebih kecil, dan size yang lebih kecil. Gambar dan angka juga bisa dimasukkan ke widget, tetapi dengan cara menggunakan string. Secara singkat membuat widget adalah membuat aplikasi dengan logic dan ukuran kecil, dan di definisikan ulang.

Sharing terakhir berasal dari Kak Ibnu Sina dari GITS. Kak Ibnu menjelaskan tentang Firebase, yang merupakan sebuah database berdasarkan Javascript milik google. Firebase adalah sebuah database yang secure, realtime dan dengan akses yang tepat, bisa dimodif. Firebase biasa digunakan aplikasi yang butuh data realtime seperti stock market, dan aplikasi transportasi. Firebase karena buatan google, dapat langsung di masukkan sebagai alat di Android Studio. Bukan hanya itu, tapi semua aplikasi dapat mengedit database jika mempunyai izin untuk mengedit database tersebut. Firebase dapat dibuat langsung dengan akun google apapun, dan untuk management security dapat dilakukan dengan mudah, karena writer dari suatu database langsung memiliki akses admin dan bisa membuat program, atau user lain sebagai editor, viewer ataupun admin. Membuat database di firebase mirip dengan menulis kode di HTML, namun butuh extra hati-hati karena beberapa penulisan data yang tidak teliti bisa membuat data leak. Jika dalam data ada informasi personal, pastikan data ditulis dengan secure agar tidak ada orang yang tidak punya izin membaca informasi personal.

 

 

Personal thoughts:

Acara ini menarik dan aku sangat menyukainya. Semua ilmu disini bisa dipakai nanti untuk aplikasi yang lebih kompleks. Meski aku baru sampai rumah jam 10.00 malem dan tertidur di Uber perjalanan pulang, aku rasa acara ini sangat worth it. Aku ingin mengikuti Dev Tech Talk #2 atau mungkin lebih.

[Azriel’s Late Post] Bandung Dev Day

[Azriel’s Late Post] Bandung Dev Day

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati 🙂

Pada 18 Februari kemarin, di Unikom tepatnya, ada acara Bandung Developer Day yang ke-6. Bandung Dev Day adalah acara dimana expert-expert dalam mobile development (baik iOS, Microsoft atau Android). Sharing sebuah platform atau bahasa untuk development. Pada acara ini ada 3 platform yang dijelaskan yaitu Android Studio, Xamarin, dan juga Swift. Pembicara pada Dev Day ini ada Kak Ibnu Sina (sebelumnya pernah bertemu di Devcember dan Dev Tech Talk 1) dari GITS, Kak Puja Pramudya dari radyalabs, dan Kak Andri Yadi yang merupakan CEO dari DyCode.

Sebelum kita masuk ke acaranya, aku sempat kesal karena acara ini butuh pendaftaran dan link pendaftarannya hanya ada di Poster-poster yang tertera di UNIKOM. Sedangkan aku tahu acara ini via Instagramnya Ibu Ari. Untungnya ada beberapa spot kosong karena aku datang sebelum jam mulai, jadi aku membayar biaya pendaftaran on the spot, dan langsung masuk. Katanya Bubi, rejeki anak sholeh, Alhamdulilah aku dapat spot di acara ini, yang menurutku menarik.

Pertama-tama Kak Iboen (panggilan orang-orang untuk Kak Ibnu), mengajarkan basic dari Android Studio. Sebagai software development non game yang paling sering kupakai, aku sudah cukup familiar dengan ini, jadi aku hanya akan menjelaskan tips-tips enhancement Android Studio-nya, dan kenapa sebaiknya kita menggunakan Android Studio (Menurut Kak Iboen)

Kak Iboen bilang bahwa Android Studio memiliki UI paling bagus dan interaktif dibandingkan dengan editor java lain. Selain itu Android Studio juga bisa memprogram dan membuat layout langsung dengan sudut pandang sebuah device android, sejauh ini belum ada program native android yang sudah bisa melakukan itu. Selain itu, Android Studio bisa langsung mengimport tools-tools external lain, seperti Firebase dan Account Manager.

Tips pertama dari Kak Iboen adalah untuk memberi dan mengingat-ingat Keybinding semua command, missal untuk “Create Class” bisa dengan keybinding Ctrl+Shift+N, dan masih banyak lagi. Kak Iboen bilang bahwa dengan menghapalkan keybinding ini, proses membuat program bisa berkurang 1-2 jam. Tip berikutnya adalah tip untuk instalasi, sebelum menginstal pastikan bahwa Android SDK sudah terinstall di directory yang terbuka agar masih bisa dipakai di program lain dan mengurangi size consumption sekitar 400-500 MB. Tips terakhir dari Kak Iboen cukup simple, untuk mengurangi size dan keberantakan-nya sebuah folder, Buat satu folder khusus untuk projek Android Studio, dan buat satu folder khusus lagi per projek. Satu projek di Android Studio bisa menghasilkan 3-4 folder dan beberapa file tambahan, hanya dengan melakukan ini akan menjaga directory-mu agar tetap tampak rapih dan mempermudah mencari projek dan file lain.

Sesudah Kak Iboen selesai, Kak Puja melanjutkan dengan platform development Xamarin. Xamarin adalah platform untuk development di mobile device ke 3 platform smartphone, yaitu Android, iOS dan Microsoft Phone. Xamarin bersifat sebagai converter dari satu platform ke platform lain hanya dengan satu kali programming dengan bahasa manapun. Xamarin dimulai dari ide beberapa orang yang tidak bisa memprogram di multiple platform untuk  melakukannya. Mereka pun mengeluarkan Xamarin di Github dan Xamarin pun cukup hits. Setelah kesuksesannya, Xamarin dibeli Microsoft karena “kegagalannya” dalam penjualan Mobile Device, jadi mereka memutuskan untuk membuat platform software untuk development yang dibiarkan open source dan menghasilkan uang dari Xamarin.

Xamarin sendiri bisa mengkonversi 60% kode jika menggunakan versi lama yang sebelumnya belum bisa konversi XML dan File Layout lain. Namun baru bulan lalu keluar Xamarin versi baru yang bisa mengkonversi kode hingga 95%. Jika aplikasi menggunakan aplikasi external seperti maps dan location, maka kode yang terkonversi biasanya hanya 90% karena di beda OS akan butuh aplikasi maps berbeda. Selain itu, kode lain yang Xamarin tidak bisa konversi juga manifest atau detail aplikasi, dan nama aplikasi. Sesudah presentasi mengenai Xamarin selesai, aku bertanya perbedaan Xamarin dengan ReactNative. Kak Puja menjawab bahwa sebenarnya programming-wise, tidak ada perbedaan kecuali platform. ReactNative bisa mengkonversi dari web ke Android dan iOS atau sebaliknya, sedangkan Xamarin bisa mengkonversi dari Android ke platform mobile apapun. Kak Puja juga melanjutkan dengan menyatakan bahwa sebenarnya perbedaan antara kedua itu juga dengan UI dan Style Code yang berbeda. Karena belum tentu semua web programmer akan senang dengan React Native jika menurutnya ReactNative kurang reaktif.

Kak Puja juga menceritakan Microsoft Dream Cup, namun aku belum bisa ikut karena aku belum 16 tahun ataupun SMA. Kak Puja juga menceritakan bahwa radyalabs bermula dari Kak Puja mengikuti Microsoft Dream Cup ini. Kata Kak Puja, Microsoft Dream Cup itu butuh orang yang bisa membuat aplikasi, dan yang presentasi, karena biasanya tidak banyak programmer yang jago public speaking menurut Kak Puja. Untung aku bisa presentasi dan programming juga ya 😀 .

Sharing terakhir datang dari Kak Andri Yadi, CEO DyCode. Kak Andri Yadi menceritakan tentang development di iOS menggunakan Swift. Swift adalah satu-satunya (untuk sekarang), projek Open Source yang disupport Apple. Swift juga merupakan bahasa yang unik, karena Swift bersifat realtime dan hasil program kita akan langsung ditampilkan tanpa perlu compiling. Swift sayangnya meski Open Source, tetap butuh laptop Mac untuk menggunakannya, padahal aku ingin belajar Swift yang tampaknya seperti bahasa menarik. Selain Real Time, Swift juga hype karena cukup versatile dan bisa memasukkan logic python, java atau C ke aplikasi Mac kita. Sayangnya Kak Andri tidak memberi demo swift selain menunjukkan bahwa swift itu real time. Meski begitu aku cukup senang mendengar bahwa Apple akhirnya berani menyupport suatu projek yang Open Source.

 

Final Thoughts:

Aku senang bisa belajar lebih lanjut mengenai development di mobile device, dan meski aku agak kecewa dengan pendaftaran yang bersifat cenderung eksklusif ke mahasiswa UNIKOM, masih menyenangkan untuk kuikuti. Plus aku dapat stiker kucing lucu (yang Ibu Ari sangat suka) karena aku menanyakan pertanyaan bagus di acara ini.