Tag: bandung

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Bumi Kertas, Bumi dan Kertas… Kertas?

Judulnya mungkin membingungkan. Tetapi, serius. 90% orang tidak menganggap kertas sebagai suatu hal yang menakjubkan. It’s paper! For god’s sake, it’s paper! Mau diapain lagi?

Sebelum kamu melakukan suatu tindakan bodoh, dan memutuskan untuk bilang bahwa kertas hanyalah kertas… Coba baca artikel ini, http://dikakipelangi.com/paper-it-is-far-more-complicated-than-you-think-it-is/

Dan juga sebelum aku menyebutkan sesuatu yang konyol… Jadi begini, di artikel itu ada yang disebut Kertas Dawang, dan sejujurnya kukira kertas Dawang itu benar-benar ada. Ternyata, Dawang = Daluang. Tetapi karena di acara sebelumnya, Teh Lisa berbicara dalam logat U.S. nya dan tanpa bantuan teks, hanya verbal, Daluang terdengar seperti Dawang.

Ini membuat aku bingung karena umm… Aku berusaha googling Dawang Paper dan aku tidak menemukan sedikitpun. Awalnya kukira memang Dawang itu tidak didokumentasikan dengan benar, karena memang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu di pulau Jawa. Ketika bertemu lagi dengan Teh Lisa disini, saat melakukan presentasi, ternyata terbacanya Daluang bukan Dawang. Tetapi aku masih mendengar Dawang, setidaknya aku tahu ejaan yang benar-nya sekarang. 🙂

Basa basi, basa basi, mari masuk!

Bumi dan Kertas

Acara ini dilaksanakan tanggal 7 Juli, di Museum Geologi. Dari jam 14.00-16.00. Namun, tentunya, seperti biasa, di Indonesia, acara jam 14.00 berarti 14.30. Iya, jika senang baca tulisanku, terima kasih, dan iya, aku sudah move on dari keterlambatan ini.

Pemateri pertama kita adalah salah satu mantan Kepala Museum Geologi, Ir. Sinung Baskoro.

Materi dari Pak Sinung berusaha menyambungkan Bumi (dalam kasus ini, Bumi berarti Geologi), Kertas, serta Museum. Jadi, sebenarnya apa hubungannya?

Tentunya, kertas adalah media universal setiap orang dari zaman dahulu, jadi Pak Sinung membuka sejarah kertas, bersamaan dengan sejarah bumi.

Bumi kita sendiri berumur 4.500.000.000 tahun. Kehidupan baru muncul 3.800.000.000 tahun yang lalu. Tentunya kehidupan ini muncul masih dalam bentuk sederhana. Hingga nanti ia menjadi sesuatu yang lebih kompleks, dan makin kompleks, dan makin kompleks, sampai akhirnya kita, sebagai manusia (pada waktu itu disebut Hominid) lahir 160.000 tahun yang lalu.

Kertas sendiri baru saja muncul pada abad ke 2 di China, diciptakan oleh Tsai Lun. Jadi jika kita ingin membahas sejarah Bumi serta sejarah kertas, mereka tidak lahir bersamaan, mereka tidak ada bersamaan, dan juga, bumi bisa saja hidup tanpa kertas, sehingga hubungan Bumi dan Kertas terkesan cukup jauh.

Lalu, Pak Sinung menambahkan, bahwa pada ujungnya, kertas tercipta dari sesuatu yang ada di Bumi. Ini berarti bahwa hubungan antara Bumi dan Kertas adalah hubungan yang komensalis, Bumi tidak dirugikan oleh kertas, sedangkan kertas bisa tercipta karena adanya Bumi.

Tetapi, masih banyak hal yang belum jelas disini… Apakah Bumi, Museum, dan Kertas memperlukan satu sama lain?

Jadi, sesudah menjelaskan dengan kilat jenis-jenis Museum, dan juga perubahan bumi, Pak Sinung menyatukan ketiga hal tersebut, dengan cukup efektif serta efisien.

Bumi ini bisa memiliki peradaban dari kertas, semua hal bisa dicatat dengan mudah, ditunjukkan dengan mudah, dan dijelaskan dengan mudah. (Komentar dari pikiranku, ini alasan Gilgamesh sangat susah dicari E-book nya berarti…) Museum sendiri juga bisa ada karena adanya kertas yang mempermudah tercatatnya ilmu.

Hubungan antara Bumi, Kertas dan Museum berada di fakta bahwa Kertas tidak akan ada jika tidak ada Bumi, tetapi jika tidak ada Kertas, Bumi tidak akan seperti sekarang…

Kurasa, sejujurnya, Pak Sinung sedikit off point dari membahas kertas pada 5-6 slide terakhir. Opini personalku, menurutku Pak Sinung akan lebih baik presentasinya, dan juga akan lebih “conclude” jika tidak memasukkan 6 slide terakhir yang membahas Menghemat Kertas.

Padahal, jika aku mau jujur, sesudah pernah bertemu dengan Professor Bambang Sugiharto, dan juga Teteh Lisa Miles sebelum acara ini, kertas yang dimaksud disini adalah kertas seni, bukan kertas yang kita gunakan sehari-hari.

Pak Sinung membahas bahwa kita harus menghemat kertas, dan juga cara-caranya. Tetapi, kertas yang dimaksud disini adalah kertas yang kita pakai sehari-hari, seperti kertas HVS. Nah, masalahnya berada di situ… Tentunya tidak perlu dibahas cara menghemat kertas, karena jika pembaca memang tertarik, bisa baca saja di Google, tetapi, kesan yang diberikan dari slide-slide menghemat kertas ini membuat seluruh presentasinya yang bagus, dan juga membuka sesi seminar ini dengan spot on… terkesan melenceng.

Amat disayangkan.

Ya sudah, untungnya kita langsung kembali ke presentasi berikutnya, dari Teteh Lisa Miles!

Art Paper

Buat yang baca artikelku tentang kertas, jika gak percaya bahwa Teh Lisa ini orang U.S. tetapi dipanggil Teteh karena beliau di tanah Sunda sekarang.

Jadi, presentasi Teh Lisa ini menjelaskan tentang gaya pembuatan kertas, mulai dari yang dilakukan orang Barat, dan juga yang dilakukan orang Timur.

Di daerah Barat, seperti Amerika, dan juga Eropa (dengan pengecualian suku maya dan aztec) ada banyak teknik untuk mencetak kertas. Tetapi semuanya dimulai dengan sebuah selulosa tanaman. Selulosa biasanya dicetak dalam sebuah tray, lalu yang membedakan tekstur kertas di daerah Amerika dan Eropa ini adalah apa yang dilakukan ke tray berisi kertas yang dicetak itu (serta tentunya, jenis tanaman yang dipakai).

Ada saat dimana pulp kertas dicelupkan dalam air, dikubur di bawah tanah, langsung dicopot sesudah kering, ada yang dimasukkan sumur kecil, lalu dicari dan dikumpulkan ulang dengan tray yang sama, dan masih banyak lagi.

Tetapi, Teh Lisa ke Indonesia untuk riset mengenai Paper Mulberry, yang digunakan untuk membuat Daluang. Mulberry? Nah, di Indonesia, serta suku Maya, dan (jika aku tidak salah) Mesir, kertas tidak dibuat dengan cetakan, ataupun tray. Melainkan, dengan cara digulung, dibuka gulungannya dalam kondisi basah, serta digebuk. (beat it like it owes you money)

Untuk suku Maya, sekarang tersisa hanya 4 buku yang menggunakan kertas Amate orisinil,3 berada di Museum, 1 berada di situs sisa-sisa budaya Maya… Buku mereka dibakar orang Spanyol… dan di Indonesia, Daluang digunakan untuk ayat-ayat Quran, dan juga untuk seni, ataupun baju pernikahan. Ya, buat orang-orang yang berusaha membuat Baju kertas keren, kamu telat sekitar 1600++ tahun.

Cara membuatnya cukup membuat tangan lelah. Karena kamu perlu mencari pohon, membuang kulit kayunya, sehingga hanya tersisa bagian dalamnya yang lembut. Lalu, kamu copot batang pohon tersebut, dan rendam kulit bagian dalam pohon tersebut sekitar… 60-90 menit dalam air tawar.

Sesudah direndam, kertas bisa dirobek, dan mungkin istilah yang tepat “diblender” sampai tersisa pulp. Sesudah pulp sedikit kering, dan hanya mushy, atau lembab, bisa digebuk dengan sebuah palu bertekstur sampai lembut, dan rata. Dari situ, biarkan sampai kering, dan yap, kertasmu sudah jadi!

Ini alasan dalam beberapa kampung ada Quran yang memiliki halaman kertas yang bertekstur. Kemungkinan Quran itu dibuat dalam Daluang.

Nah, jadi sekarang siapa yang masih membuat Daluang? Selain seniman muda seperti Teh Lisa ini, juga ada seniman tua, seperti beberapa Mama yang ditunjukkan fotonya oleh Teh Lisa. Bahkan, ada banyak Mama (berumur 75-85) yang menggunakan palu yang khusus diukir beberapa generasi yang lalu, diturunkan terus menerus ke anaknya.

Hasil dari kertas dengan palu khusus tersebut? Media seni menjadi seni. Tentunya, meski sudah mulai lanjut usia, Mama-mama ini tetap niat untuk melanjutkan seni kertas Daluang dengan tangan. Keren banget deh!

Fun fact, sebelum Teh Lisa mengakhiri presentasinya…

Teh Lisa menemukan sebuah cetakan palu yang turun temurun, dengan simbol yang kebetulan sama persis dengan sebuah batu di Mayan Temple yang ia pernah temukan… Tentunya ini bisa dijelaskan dengan teori Carl Jung yang bilang bahwa secara psikologis, setiap manusia punya bentuk stereotipe mengenai fragmen imajinasinya sendiri. Dan dalam budaya apapun, stereotipe itu sama…

(Hahaha… Bukan, pasti itu Alien!)

Nah, Teh Lisa mengakhiri presentasinya dengan menunjukkan beberapa hasil karya, serta dengan bilang bahwa jika ingin cek beberapa hasil karyanya yang lain, bisa buka dutchesspress.com

Beneran, buka situs itu, bagus-bagus karyanya!

Seni Kertas

Professor Setiawan Sabana, atau juga dikenal dengan Professor Wawan, telah membuat banyak sekali seni dengan kertas.

Aku tidak bisa menjelaskan semua karya Professor Wawan, karena banyak yang begitu abstrak sehingga, menurutku, itu butuh kontemplasi serta inspirasi yang… keren deh.

Dari beberapa karya-nya, Professor Wawan menunjukkan beberapa seni abstrak mengenai apa yang dipandangnya dari manusia tanpa kertas, dan juga beberapa buku buta, yang ia anggap sebagai simbol sebuah genre literatur. Seperti misalnya, ada buku tentang kriminalisasi, dan ia menggambarkannya dengan buku keras, disertai dengan beberapa kawat besi disekitarnya.

Selain itu, Pak Wawan juga memberikan cukup banyak ilustrasi perjalanannya dari kecil, hingga sekarang. Semua karya seni, baik itu gambaran, hasil seni abstrak kertas, sketsa, ataupun craft… Ia tunjukkan.

Professor Wawan juga bercerita bahwa sepanjang setengah hidupnya, ia selalu melihat kertas sebagai bahan untuk dirubah menjadi karya seni yang lain. Seperti kertas koran yang ia tidak baca lagi? Ia jadikan sebagai seni simbolisasi sampah. Kertas yang terbakar? Ia jadikan sebagai simbolisasi jamur di balok kayu yang tua dan lembab.

Karena abstraknya beberapa karya, aku tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang karya Professor Wawan, tetapi, jika kamu mendapat kesempatan untuk melihatnya… lihatlah dari banyak sisi. Kamu akan menemukan sebuah lekukan kecil yang baru, perbedaan warna, perbedaan tekstur, dan lain-lain.

Tetapi, yang sedikit sedih dari presentasi Professor Wawan ini adalah… UMM… Ia mengingat perjalanannya mengenai kertas, dan pada akhir presentasi, ia sempat duduk dan menangis terlebih dahulu. Baru ia bercerita sedikit mengenai kertas dan hubungannya yang spesial dengan mendiang istrinya. Om di sebelahku, yang sepertinya Teman seperjalanan Professor Wawan berbisik padaku, “Maaf yak de, temen saya ini emang emosional. Tiap presentasi selalu dia bawa lap buat menghapus air mata.” dan aku menceletuk “Persis Ibu saya berarti…” Om tersebut tertawa.

Sesudah Professor berhenti menangis, ia menghapus air matanya dengan cepat, dan mengakhiri presentasi. (Oh, dan aku lupa bilang, Professor Wawan menjadi mentor untuk Teh Lisa selama beliau di Bandung,  Professor seorang dosen di FSRD)

Kesimpulan

Jika melihat nama di atas, tampaknya acara masih banyak, tapi tenang, nanti kita kesitu kok.

Jadi begini… Professor Bambang Sugiharto (kusering bertemu beliau karena selama aku mendapat kuliah filsafat, Professor Bambang mengisi materi 6 dari 12 kali) khusus berada disini untuk menyimpulkan ketiga presentasi ini dari sudut pandang filsafat secara singkat.

Berdasarkan sudut pandang filsafat, menurut Professor Bambang, manusia, layaknya kertas, menjadi makin abstrak seiring dengan majunya umur dan pengalaman di suatu bidang. Penjelasan pertama yang sangat teknis, disusul oleh Miss Miles yang menjelaskan teknisnya proses pembuatan suatu seni, sampai ke Professor Setiawan yang sangat-sangat abstrak…

Kertas disini juga menghubungkan manusia bukan hanya dari perspektif media saja, tetapi juga dari cara kita memandang kertas tersebut. Memandang dan mengubah sesuatu yang kosong (ku tidak yakin, tapi kurasa ini pun intended) menjadi sesuatu yang artistik itu sulit. Sehingga, menurut Prof Bambang… Kertas adalah simbolisasi perspektif manusia yang sempurna, dan paling sulit dipandang secara abstrak, dan artistik.

Sudah, sampai situ saja hari ini…

Bonus…

Musikalisasi kertas… Penasaran bagaimana kertas dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai musik? Jadi, Syarif Maulana (seniman di Bandung) dan dua temannya membawa kita ke sebuah penampilan instrumental (disertai gerakan teatrikal dari Professor Wawan) mengenai kertas.

Kertas disini juga digunakan sebagai alat yang menambah sound effect via robekan, dan juga dengan mesin tik sebagai pengganti akustik, dan sound effect bel dari mesin tik sebagai pengganti (komplemen sebenarnya) dari instrumen string.

Instrumen yang digunakan adalah, Biola, Gitar, Mesin Tik, Kertas Bekas, serta Paper Clip…

Selain itu!

Jika ingin melihat karya Teh Lisa Miles dan Professor Setiawan secara langsung… (dan juga kertas dari peradaban tua) bisa datang ke Museum Geologi!

Ada pameran sementara yang sangat bagus, mengenai kertas, dan juga beberapa karya Professor Wawan… Aku hanya mengambil tiga foto, biar pembaca yang benar-benar kepo, untuk langsung datang saja kesana!

ATCS Bandung. Intip Kedisiplinan Pengguna Jalan

ATCS Bandung. Intip Kedisiplinan Pengguna Jalan

Sore tadi, dari jam 15.30-17.15, aku mengambil kursi di ATCS Bandung.

ATCS adalah singkatan dari Area Traffic Control System. Untuk Bandung, kita sudah memiliki sistem untuk mengontrol lalu lintas berupa CCTV dan juga speaker untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan yang tidak menepati peraturan, ataupun rambu lalu lintas.

Selain itu software yang digunakan oleh kakak-kakak di ATCS ini juga bisa digunakan untuk mengatur lampu merah jika ada kepadatan.

Tetapi, ada sedikit hal yang menarik di ATCS hari ini. Setiap Rabu dan Minggu, ATCS membuka ruangannnya untuk umum agar warga kota Bandung bisa melihat cara kerja CCTV dan speaker di Kota Bandung.

Aku baru saja datang ke sana hari ini, dan aku juga mencatat beberapa hal… Menurutku rada-rada menarik, dan ironis bahwa pengguna jalan (aku cukup yakin mayoritasnya sih) berpuasa, sebuah ibadah untuk melatih menahan nafsu, dan kesabaran… Tetapi tidak bisa menahan diri untuk mengambil hak orang, dan juga berburu-buru. Mereka juga bahkan ada yang gak peduli keamanan diri sendiri dan keluarganya.

Jika aku perlu mengambil satu kata saja untuk menjelaskan pekerjaan para admin (aku belum diberikan istilah resminya sih, jadi kita gunakan admin ya 😀 ) ATCS ini secara singkat dan padat. Kata yang akan aku ambil adalah gregetan.

AAAHHH GREGET aja pokoknya… Kenapa? Mari kita lihat artikel hari ini…

Apa yang dilakukan dalam Intip Disiplin?

Sekilasnya yang dilakukan oleh peserta Intip Disiplin tiap harinya adalah…

  • Mengambil kursi, CCTV dan juga mic para Admin ATCS dalam menertibkan jalan.
  • Mempelajari sedikit tentang cara kerja ATCS, software yang digunakan, serta cara menegur (atau menghimbau) seseorang yang melanggar hukum.
  • Tentunya, juga melihat kemacetan dan arus lalu lintas di jam sibuk tersebut (15.00-17.00 merupakan rush hour selama bulan Ramadan, dan lalu lintas hampir pasti padat).

Tentunya tidak sebatas ini saja, tetapi selama 2 jam yang kuhabiskan di sana, gambaran luasnya seperti itu.

Langsung saja, kita akan masuk ke pekerjaan tadi, baru kita masuk ke hasil monitor hari ini.

Pekerjaan Kita…

Kita diberi hak untuk menegur dan menghimbau orang-orang. Tetapi menegurnya tidak sembarangan, tentunya ada naskah yang perlu diikuti, lengkap dengan salam pembuka, perkenalan, serta peringatan yang umum. Baru kita masuk ke peneguran dan himbauan.

Untuk menghimbau pun, tidak bisa asal, dan ada eskalasinya untuk menjaga kesopanan dan privasi orang-orang ini. Meski mereka melanggar, hak mereka masih “terjamin”. Untuk menegur, kurang lebih (atas pengamatanku) ini tingkat eskalasinya…

  1. Himbauan anonim, yang hanya merujuk tindakan yang melanggar tersebut.
  2. Jika himbauan tersebut tidak ampuh (karena orangnya gak tahu diri), akan ada pengulangan dengan nada lebih tegas.
  3. Kalau sudah diulangi dan belum ada reaksi apa-apa, spesifikasi motor, dimulai dari warna kendaraan, jenis kendaraan, sampai plat nomor akan disebut.
  4. Jika orang itu gak tahu malu, atau mungkin gak peduli… Sampai plat nomor disebut pun gak ngaruh.Titik eskalasi nomor 4 ini adalah level dimana kami gregetan, dan foto plat nomor dan pelanggaran tersebut itu diambil. Menurut admin-admin di ATCS, banyak foto di upload ke Facebook untuk memanfaatkan rasa malu.
  5. Keburu lampu hijau sehingga tidak bisa menghimbau lagi.

Sebelum masuk hasil monitor hari ini, coba tebak dulu deh… Berapa persen orang  yang patuh, dan berapa yang tidak. Kalau mau tebak mereka patuh pada himbauan ke berapa juga silahkan… Karena sebenarnya… Ini membuatku merasa… malu.

Kalau mau nebak, kukasih tahu jawabannya sesudah hasil monitor ya.

Hasil Monitor Hari Ini

Aku mencatat tentunya. Dengan buku catatan SMKAA-ku, aku mencoret, dan mencatat tiap orang yang melanggar, serta yang patuh sesudah melanggar juga.

Baiklah jadi, hasil monitor hari ini akan dibuat tidak terlalu merinci… Tetapi dari hasil monitor di…

  • Simpang Cikutra
  • Tol Pasteur
  • Simpang Pasirkoja
  • Sayap-sayap Riau, yang termasuk tetapi tidak terbatas ke… Lombok, Anggrek, Cihapit
  • Dan juga jalan Laswi.
  • Pasir Kaliki, sebelum naik ke Pasteur

Jam yang digunakan hanya 1 jam, dari jam 16.15 sampai 17.15.

Ketahui bahwa satu screen hanya bisa melihat 4 CCTV sekaligus, dan jalan yang di monitor butuh 8 CCTV, jadi sangat mungkin ada yang terlewat saat menghimbau di kamera lain, karena yang menghimbau di Intip Disiplin hanya 3 orang…

Jadi, inilah statistiknya. (ingat, ini hanya satu jam, dan sangat rentan ke Human Error)

47 kendaraan melewati garis stop dan mengambil ruang di Zebra Cross.

  • 12 dari ini merupakan kendaraan beroda 4, yang benar-benar membuat kagok orang-orang yang menyebrang.
  • 35 kendaraan lainnya adalah kendaraan beroda 2.
  • Dari 47 kendaraan tersebut, sekitar 36 mengabaikan, atau bahasa Gen Z-nya, ngacangin himbauan yang kita berikan. (tentunya tidak semuanya bisa mundur, tetapi setengah dari kendaraan yang kucatat masih ada ruang untuk mundur)
  • 11 kendaraan lainnya melakukan perintah pada himbauan ke 3.
  • Tidak satu kendaraan pun sadar bahwa mereka mengambil ruang di zebra cross yang merupakan hak pejalan kaki pada peringatan pertama (yang anonim, tanpa menyebut spesifikasi kendaraan).

Jadi, di bulan Ramadhan ini, yang penuh berkah, dan bermaksud membantu kita melakukan lebih banyak hal baik… Cukup banyak orang yang gak tahu diri sampai ngambil hak orang.

60 orang (orang bukan kendaraan, dihitung jumlah kepala) yang mengendarai sepeda motor tidak menggunakan helm. Perlu diketahui bahwa menemukan orang tanpa helm bukan hal yang mudah, dan karena diperlukan zoom dan kami tidak bisa mengerjakan beberapa kamera secara simultan… Hanya 1 kamera yang bisa dicek tiap saatnya.

  • 19 dari 60 tersebut merupakan balita.
    • Dan semua orangtua yang diberikan himbauan tidak memberikan reaksi sedikit pun. Gimana gak greget coba. Bagaimana cara kita sebagai negara mau menjaga balita kita dari dampak buruk di dunia luar kalau yang namanya ngejagain kepala anaknya sendiri aja kagak bisa… (ups, mulai terkesan kasar… maaf)
  • Dari 41 orang yang tidak menggunakan helm, sekitar 32 merupakan penumpang, dan 9 lagi merupakan pengendara.
    • Untuk pengendara, ada 5 dari 9 yang bereaksi pada himbauan dan memutuskan untuk memutar balik untuk mengambil helm sesuai himbauan.
    • 5 lainnya selamat karena lampu hijau, atau beneran tidak peduli, jadi kita capture.
    • Untuk penumpang, ada 16 yang tidak menanggapi, 11 panik (kelihatan dari mukanya), tetapi tidak turun dan selamat karena lampu hijau, dan 6 lainnya… paling kebangetan.
    • 6 orang ini turun, dan untuk sesaat kita merasa mereka taat. Tetapi ternyata sesudah lampu hijau naik lagi ke motor tersebut. Tahu gak sih seberapa sakitnya di PHP-in sama orang-orang kaya gini? ADUHHHH BENERAN DEH!
    • Untuk penumpang, tidak ada satupun yang patuh, dan mengikuti himbauan dan turun dari motornya…

Jadi, kalau mau dihitung persentase, seberapa banyak orang yang patuh… Untuk helm, ada 5 dari 60 orang yang patuh, dan ini berarti persentase suksesnya adalah… 11%. Pada rush hour atau jam sibuk. Kalau mau menghitung yang panik juga sebagai sukses, angkanya tentunya membaik, menjadi 16 dari 60, atau sekitar 26.5%

Untuk garis stop, nilainya lebih baik… 11 dari 47 menerima dan melaksanakan himbauan, ini berarti sekitar… 23.5% (ish, tidak pasti). Hampir seperempat…

Akan jauh lebih menarik jika kita akan memonitor 4 jalan saja, tanpa mengganti kamera, dan benar-benar mencatat dengan super fokus, pada bulan ramadhan. Lalu kita juga bisa melakukan yang sama di bulan lainnya. Apakah ramadhan dan puasa ini benar-benar diamalkan? atau hanya sebatas simbolis gak makan minum sampai Maghrib saja?

Sebelum kesimpulan atau renungan… (hehehe, liat nanti ya artikel hari ini mau menyimpulkan atau merenung). Aku ingin memberikan pujian dan terima kasih untuk Kakak-kakak Admin di ATCS

Special Thanks 🙂

Pertama-tama, pujian dulu bagi admin di ATCS.

  • Hebat, akang teteh Admin ini bisa sabar ngeliatin orang-orang nyebelin dan gak tahu diri ini. Selain itu Admin disini juga tidak menyerah beres ketemu orang-orang gregetan yang bahkan make helm aja gak mau.
  • Selama aku disini, aku tidak bisa memonitor lebih dari 4 kamera dengan teliti, itu pun seringkali kameranya salah diputar dan jadinya… blindspot. Aku juga takjub dengan ketelitian dan konsistensi admin di ATCS ini deh… Jempol
  • Admin-admin ATCS juga sangat santun, tapi tegas dalam memberikan himbauan. Aku kalau ngomong dan memberikan warning kaya gini, kalau gak ngeliat naskah bisa lupa, dan bahkan sampai salah ngomong, atau kelupaan satu dua kata. Hebat dalam mengatur kata dan memberi himbauan

Serta terima kasih ke Admin di ATCS, dan juga Kak Laras yang mau sabar kalau ngedenger aku salah ngomong pas ngasih himbauan, dan terus mau memberikan aku bimbingan…

Terima kasih untuk kesempatannya! (kalau baca artikel ini, tolong diberikan komentar yaaaa… aku penasaran)

Renungan

😛 renungan yaaaa

Nyatanya, meski ada sistem yang sangat keren, canggih, serta berisi orang-orang yang konsisten dalam memberi peringatan… Semuanya kembali ke orangnya.

Aku yakin ada orang yang tidak memakai helm, dan merasa sangat-sangat malu ketika plat nomornya disebut keras-keras di speaker. Setidaknya, rasa malu ini bisa dimanfaatkan untuk memperingati orang-orang ini untuk patuh pada lain waktu.

Dan kalau mau bicara persentase, diantara banyak yang tidak mematuhi, tentunya, masih lebih banyak yang mematuhi. Berdasarkan yang aku ketahui, mungkin yang mematuhi ini dulunya tidak, tetapi merasa malu dan kapok ditunjuk-tunjuk oleh speaker, jadi mereka memutuskan untuk menggunakan helm.

Meski tidak sesuai dengan tujuan utama dari penggunaan helm, tujuan utama membuat pengguna jalan yang lebih patuh terpenuhi…

Sekarang untuk merenung… Masih banyak orang yang tidak peduli, dan juga tidak tahu malu… Apa perasaanmu mengetahui bahwa warga yang satu tanah air sama anda, berperilaku seperti itu?

Tidak usah bahas agama atau apapun, cukup bahas sesama warga Indonesia… apa perasaan anda mengenai kondisi-kondisi seperti ini?

Sampai lain waktu!

Laporan Camping Rancaupas: Trip dengan Pramuka HS

Laporan Camping Rancaupas: Trip dengan Pramuka HS

Oleh: Azriel Muhammad Arriadi Hidayat

Berikut laporan camping Rancaupas kemarin, ada beberapa alasan camping ini terbilang… “menarik”, dan juga ada alasan camping ini menyenangkan, tetapi juga ada sedih, atau kegagalannya.

Secara keseluruhan, format camping lomba seperti ini menjadi tantangan tersendiri, dan juga membantu introspeksi diri, karena… yah lucu gitu kalah lomba Dasadarma sama anak penggalang… (Iya, aku penegak, calon bantara, tapi masih suka lupa-lupa dasadarma).

Aku dan reguku, yang beranggotakan Aan dan Fauzi, sudah siap untuk menelan nasib, dan juga berkompetisi dengan regu lainnya.

Oh, dan catat… tidak ada foto untuk sekarang, dikarenakan foto masih nyangkut dan disita oleh Pembina kita sampai semua laporan beres!

Day 1

Tiba di Rancaupas…

Yeay, nyampe… Kita pun segera mendapat barang kita disita langsung sesudah kita sampai Rancaupas… Yes, kayanya bagian ini cuman bisa berisi ini doang.

Penyitaan Barang

Sebelum memakan makanan yang kita bawa dari rumah, barang pun dikumpulkan di dekat Kak Ato dan kawan-kawan, dan kita diizinkan membawa alat sholat, minum, dan juga alat makan. Oh, serta tas kosong!

Selain itu, semua barang disita panitia, dan kita harus menelan nasib, dan berharap mendapatkan tenda, atau apapun itu… melalui lomba.

Sesudah penyitaan barang dan makan, kita langsung bersiap memulai acara melalui apel/upacara. Sesudah upacara dimulai, dan juga dibereskan, kita diberi sedikit waktu (dibawah 7 menit) untuk memulai lomba…

Lomba pertamanya adalah lomba yel-yel.

Kami berpose centil… demi tenda

Untuk pembaca yang tidak di sana pas camping, tolong ketahui bahwa… orang-orang benar-benar ngakakakakakakakakakakakak pada bagian ini. Terkadang demi mendapatkan suatu hadiah kami harus berusaha, dan terkadang… jika hadiah ini bersifat hidup atau mati, kita hanya bisa menelan nasib, dan membuang sedikit saja harga diri milik kita.

Jadi, sesudah waktu yang tipis itu beres diantara upacara dan lomba yel-yel, aku dan reguku, yang sudah memilih nama Panda… Sudah punya yel-yel.

Yel-yel nya berbunyi seperti ini… “Ada panda dalam tenda/ Putih, Imut, Besar / Kami dari regu putih/ Sigap, Kuat, Ceria/ HALO! Kami dari regu putih…/ CEKRIK”. Ketika kita melakukan cekrik ini, kita lengkap dengan pose yang nggak banget deh. 3 Cowo yang tampak strong, berpose centil… Demi dapetin tenda. Bahkan, Bu Dita, juri, serta juga ibunya Fauzi tertawa dengan sangat puas ketika kita sampai ke bait terakhir, yaitu Cekrik.

Alhasil, meski malu, tenda pun sukses kita bawa ke markas! Yang gak dapet tenda sayangnya, harus membuat bivak dengan jas hujan. Yang sedikit mengecewakan adalah, kita mendapat tenda tanpa pintu. Untungnya ini belum jadi masalah.

Perlombaan!

Lomba Morse… . . .  – – –  . . .

Singkat cerita, lomba morse dan semaphore dilaksanakan berbarengan, dan kita sudah cukup skilled untuk memecah diri dan memberikan Aan, yang tentunya paling hapal semaphore (dan juga kepramukaan secara umum) diantara kita bertiga, untuk lomba itu. SPOILER: Aan, mendapat nilai sempurna.

Lalu, Fauzi dan aku yang tahu bahwa berusaha memenangkan Morse itu gak sesusah Semaphore, dan untungnya karena 4 / 8 kelompok dengan skor tertinggi akan mendapat hadiah, jadi… kita #maksa, dan mencoba memenangkan tuh lomba Morse.

Ketika Morse diulangi, Fauzi dan aku hanya mendapat ilmu baru bahwa T = – . Untungnya, selain itu, kita berdua sudah hapal huruf vokal, dan juga B, C dan M,  dan S.

Dengan pengetahuan 10 huruf atas gabungan kedua ilmu kita, pasnya huruf, A, B, C, E, I, M, O, T, S, U, kita menang! Dengan hanya menjawab 4 soal, dan mengisi semua huruf yang kita tahu itu, kita menang… Dan kita cukup beruntung untuk mendapat hadiah berupa lampu tempel..

Aan yang mendapat nilai sempurna memenangkan papan dada. Sedangkan kita, dengan nilai pas-pasan, tapi tetep top 50% mendapat yang namanya… Lampu Tempel.

Pramuka Itu… (OH TIDAK)

Pernahkan anda merasa… putus asa, dan malu? Jadi sesudah lomba semaphore, morse dan membuat tenda atau bivak, kita dipanggil untuk lomba. Lombanya itu ada 3, dilaksanakan berbarengan, lomba trisatya, lomba dasadarma, dan lomba UUD 45.

Regu kita sudah bersiap untuk ini, aku mendapat UUD 45 yang tinggal baca dengan gaya keren, Fauzi untuk trisatya, yang gak susah-susah amat, dan Aan untuk dasadarma, yang relatif paling susah, dan paling gampang untuk merasa tertekan.

Sayangnya karena lomba gak dikasih tahu, aku dan Aan tertukar. Dan saat ditanya Dasadarma itu apa aja, aku hanya menjawab, poin 1 sampai 3, dan 8 sampai 10. Jadi, nilainya bolong-bolong lah. Tentunya, aku gagal membawa pulang matras, disaat Fauzi (meski katanya nilainya pas-pasan) dan Aan membawa pulang hadiah masing-masing. Kalau gak salah, gas sama kompor.

Disaat ini, aku mulai merasa bahwa, udahlah bawa happy aja, kalau rejeki menang, kalau gak ya… kurang hoki.

Tapi tetep, sebagai permohonan maaf… Kutulis Dasadarma, tanpa ngeliat internet.

  1. Takwa kepada tuhan yang maha esa
  2. Cinta alam dan kasih saying sesame manusia
  3. Patriot yang sopan dan ksatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. LUPA!
  7. Hemat, cermat, dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan

Kalau ada yang salah… ya gitu lah… maafkan.

KIM Jong Un… eh?

Sorry, salah, bukan Kim Jong Un, tapi KIM, dalam artian indra. Aku mendapat KIM Cium dan juga KIM Dengar. Fauzi diminta mengerjakan KIM Lihat, dan juga KIM Raba. Aan mendapat KIM Rasa, dan juga Puzzle.

Untuk kedua anggotaku itu, aku tidak bisa menjamin, tapi setahuku kita menangin semuanya… Gawat, sebenarnya aku merasa kasihan sama penggalang yang pada gak dapet beberapa hal, tapi ya udah atuh, mau gimana lagi.

Saat KIM cium, aku mencium banyak aroma yang wangi, dan juga enakeun buat dicium, dan lain-lain, kurang lebih sih, dia bahan masakan, bumbu, teh, ataupun minyak untuk bayi. Pas mencium aku dipasangin blindfold.

Saat KIM Jong Un… EH! KIM Dengar, aku mendapat seri di posisi 4 dan 5, dengan nilai 85, sesudah mendapat cerita yang rada lucu dan dipenuhi detil disana dan disini.  Detil ini rada susah ditangkep sayangnya, jadi ada 1 ½ soal yang miss, dan alhasil aku kalah suit sebagai tiebreaker. Jadi aku gak dapet barang yang jadi hadiah.

Sayang sekali…

Thales dan Piramida Giza. Azriel dan Pohon Gaje.

Hadiah kali ini berupa wajan. Dan untuk pertama kalinya, aku diberikan lomba yang paling susah! Lomba yang aku dapatkan berupa tafsir ukur, dan aku diminta mengukur sebuah pohon yang rada tinggi.

Gimana cara ngitungnya? Untungnya, aku sempat baca dan jadinya bisa mengukur jarak tanpa penggaris. Nah, tapi bukan cuma jarak yang jadi issue, karena untuk mengukur tinggi gak bisa pake metode itu. Aku menggunakan metode ala Thales ketika dia mampir ke Mesir, Piramida Giza.

Thales yang katanya pintar ini menghitung piramida yang tinggi nan megah itu menggunakan sebuah tongkat. Ia mengukur bayangan kedua hal ketika matahari lagi pas gak ditengah, lalu menghitungnya dengan aljabar dan skala untuk mendapatkan tinggi si pohon. Ketika yang lain membandingkannya dengan sebuah model bernama Oris dengan tinggi 150 cm, aku menggunakan ranting sepanjang tanganku (yang kurang lebih 30 centimeter panjangnya) dan mengukur bayangannya. Dihitung dan bla, bla, bla, bla… mendapat angka 12 meter.

Angka yang kudapat hampir benar (sesudah diukur oleh Kak Ato, karena awalnya ada miskomunikasi dan salah ngitung ketika perkiraannya 18 meter, padahal punyaku lebih tepat), dan kita memenangkan wajan! Hurrah!

Masterchef: Edisi Pudding.

Harus diakui, ini lomba menantang, dan rada susah. Sejujurnya kelompokku gak punya banyak masalah dengan kompor, gas, wajan, dan juga wadah saat membuat Pudding. Tapi, kita kurang bahan.

Hadiah lomba pudding adalah sleeping bag, dan sayangnya kita gak dapetin tuh Sleeping Bag.

Kenapa bisa gak dapet? WELP! Kita kalah, karena menurut Chef Dita dari dewan juri, pudding kita akan menang kalau ditambahin air dikit. Tapi lucunya dari semua orangtua, ini super ketat and beda-beda tipis rasanya. Kenapa? Karena semuanya jelek.

Jadi Pudding ini sebenarnya aku yang masak, tapi karena gak ada gelas ukur, rasionya kurang tepat, dan pudding kita hanya berbahan gula, susu, dan agar-agar swallow. Ya nasib… at least ada tenda. Padahal, pudding kita memadat paling cepat, karena kita gak ada masalah dengan kompor dan lain-lain. Ya sudahlah, menelan nasib saja. Setidaknya puddingnya enak menemani makan malam nasi dan telur. (ini masih nanti ya, lomba pudding tuh sore, tapi baru kita makan malam-malam)

Sore hari!

Berburu Fotografer Prewedding.

Sorean, kita diminta berburu bahan-bahan, pasnya bertepatan dengan penjurian pudding. Sayangnya, selain melihat beberapa orang foto prewedding, tidak banyak hal menarik atau yang teringat sampai sekarang dari berusaha mencari sayur ini. Jadi ya, jika hal yang paling berkesan adalah orang-orang foto prewedding, maka kayanya sebenernya rada membosankan perjalanan ini.

Makan Gak Kamu!

Sesudah hunting fotografer prewedding, kami diminta untuk beristirahat, serta memasak dan juga makan. Ketika berkeliaran dan memastikan masakan dan lain-lain sudah siap, kami dari para penggalang dan juga penegak, memasak bersama nasi dan telur untuk makan malam.

Sambil makan pudding dan juga nasi telor (alias menu makan siang kalau males mikir pas di rumah), regu kami ngobrol dan menyiapkan penampilan untuk api unggun nanti malam. Untungnya, Nira cukup pintar dalam membantu kami mencari ide, karena dia keceplosan kata “panda” dan aku jadi connect untuk membuat sebuah drama berdasarkan board game Takenoko. Mengenai Raja, Panda dan Petani pas api unggun.

Ketika api unggun menyala, beres makan tentunya… dengan banyak hal simbolis yang aku gak siap ceritakan disini, karena hal simbolis bukan hal-hal yang aku beneran suka jelasin, kita langsung disambut MC dan juga memulai penampilan sebagai regu paling tua. EH! Senior.

Raja, Panda, dan Petani.

Penampilannya kurang lebih seperti ini.

Narrator (Azriel): Alkisah, hiduplah seorang raja, yang baru saja merayakan anniversary ke-5 dengan istrinya. Raja ini sangat suka dengan tumbuhan dan juga ia ingin punya kebun bambu yang rapih. Kebun bambu ini dirawat oleh petaninya. Tetapi saat anniversary ke 5, ia dibelikan sebuah Panda, dan ceritanya seperti ini…

Raja (Azriel): Oy, Om Petani, sini sebentar boleh?

Petani (Fauzi): Iya Paduka Raja?

Raja: Kenalan ya, sama Pandaku (Aan), dia doyan makan Bambu, dan kayanya akan kuizinin dia makan bambu di kebunku. Tapi, jangan berarti ini jadi alasan buat kamu nggak numbuhin bambu yang rapih ya… mentang-mentang dimakan jadi gak rapih…

Petani: Bisa Paduka Raja.

Narrator: Keesokan harinya si Petani menumbuhkan Bambunya sampai 5 tingkat, seperti keinginan si Raja, tetapi, si panda nyomot-nyomot semua bambu yang udah tumbuh ini.

Petani: EH PANDA! KUMOHON JANGAN BEGITU!

Panda: …?

Petani: Akan kulaporkan pada Raja! Paduka Raja, boleh minta waktunya sebentar?

Raja: Ha? Sebentar, saya lagi stalking ratu negeri sebrang.

Petani: Paduka, mengapa anda stalking ratu negeri sebrang?

Raja: ANDA BERANI MENYURUH SAYA MELAKUKAN SESUATU?

Petani: Tidak, maaf. Gini, Panda anda memakan Bambu saya terus, gimana mau ini tumbuh 5 tingkat?

Raja: Alah, kamu banyak alasan, lakuin yang bener emang susah? Tumbuhin sampai 5 tingkat aja, udah, kalau iya sukses, kamu gajinya kunaikin, bisa beliin Istrimu sepatu baru.

Petani: Saya tidak punya istri Paduka.

Raja: Ya udah, ceritanya punya.

Narrator: Keesokan harinya hal yang sama terjadi.

Petani: OH TIDAK PANDA! Kenapa kamu ambil lagi?

Panda: Hah?

Petani: Akan kuadu pada Raja! Paduka, Bambumu hampir habis dimakan si Panda!

Raja: Hah? Bentar, aku lagi main ML

Narrator: 15 minutes later!

Raja: Kenapa Petani?

Petani: Anu, bambumu dimakan Panda, apakah boleh besok saya minta Paduka melihat Panda ini makan? Karena dia makan banyak banget!

Raja: Ha? Sambil main ML ya.

Petani: Tapi tolong dilihat Paduka… Aku mulai kewalahan.

Raja: Ya udah deh, daripada kalah terus aku berhenti main sampai lusa.

Narrator: Keesokan harinya, si Raja ini lagi gak mainan HP, jadi dia ngeliat si Panda makan secepat apa.

Petani: Raja, raja sudah liat sendiri kan kenapa itu Bambu gak tumbuh-tumbuh.

Raja: Udah, pokoknya kamu bikin kandang terbatas,  dan tanam Bambu yang banyak di kandang Bambu itu. Tiap kali si Panda mau makan, tumbuhin, dan masuk dalam kandangnya, bisa?

Petani: Bisa raja…

Raja: SIAPNYA DIPAKAI!

Petani: Siap Bisa Siap.

Narrator: Keesokan harinya, semua senang, dan pagar untuk si panda tercipta. Si raja senang karena tamannya rapih dan dia bisa mainan HP tanpa diganggu, si petani gajinya naik dua kali lipat, dan si Panda senang bisa makan!

Evaluasi malam

Sesudah penampilan gak berfaedah dan gak jelas dari Penegak putri, dan penampilan lucu dari siaga, kita diberikan evaluasi tenda. Evaluasi ini cukup menarik, dan juga sedikit membuatku merasa kasihan.

Ya, aku tak punya banyak komen sebenarnya.

Tepar

ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ……

Day 2

Pagi Hari!

Senam

Hari dimulai dengan senam. Tidak punya banyak komentar sebenarnya… Selain fakta dari 100% waktu aku di depan untuk pendinginan, 90% diisi teori, 5% diisi diam, 3% diisi ngahuleng, dan 2% baru ngerjain pendinginan. Kayanya perlu nyiapin deh materi senam lebih lengkap sebelum camping. (Untuk diriku sendiri, bukan untuk seluruh pasukan PHS)

Jalan Pagi

Sesudah sarapan, dan juga masak, kami diberikan opsi oleh Kak Ato untuk jalan-jalan pagi, atau untuk ke puncak itu gunung, yang aku lupa namanya apaan!

Jadi, sesudah kita ngobrol, dan belajar Bahasa Konglomerat-nya Kak Ato, yang terdiri antara Bahasa Sunda, Inggris, serta Indonesia dicampur… Kita langsung Jalan Pagi. Di jalan, aku diberi tugas untuk mengambil sampel biji-bijian, dan/atau bunga.

Sekitar 1/2 jam berjalan kemudian, kita diberi tahu oleh dua anggota TNI (dengan kamera yang sangat keren) bahwa mereka menemukan setidaknya 2 harimau. Ini tentunya menakutkan, dan sekitar 5 menit mendapat fakta ini, kami dari pasukan PHS segera berkumpul, dan juga duduk.

Tidak lama dari bertemu TNI, Kak Ato memberikan perintah agar kami segera balik, dengan pengecualian regu Kodok, berisi Nugi, Arya, serta Hilmy. Karena kepo, aku memerhatikan mereka… Tetapi aku diusir oleh Kak Ato, karena kayanya ini urusan privat.

Kabarnya kemarin Arya ingin mengundurkan diri… JENG JENG!

Kepo adalah sebuah anugrah

Atas dasar kekepoan… aku pun berjalan sambil memikirkan tentang regu kodok tadi…

Aku serta pasukan PHS pun sampai di bawah, dan sambil menunggu ketiga anggota regu kodok itu kembali… Kami berbincang-bincang tentang, entah apa… Sambil melihat rusa dan juga couple sedang prewedding, cewenya juga tampak memiliki… err.. kebanyakan duit, dengan gaun super lebay.

Okay, ini mulai diatas batas wajar kepo-nya.

Sesudah mereka kembali, kami berfoto, dan fotonya ada di Facebook milik Kak Ato! Gak ada di laporan ini, adanya di Facebook Kak Ato ya…

Tetapi, entah kenapa, Arya, Nugi, dan Hilmy menangis… (entah kenapa ini pura-pura ya, aku bisa menalar kira-kira apa yang sebenarnya di bahas). Ketika mereka kembali, kami mulai berjalan…

Sesampainya di persimpangan, aku diminta untuk mengawal regu Kodok kembali ke perkemahan, tetapi pasukan lainnya akan melewati rute yang sedikit lebih jauh.

Aku yang emang kepo (terlalu kepo) ini merasa perlu menyelesaikan masalah mereka, jadi, masalah mereka aku selesaikan, dengan gaya a la Azriel tentunya. Sesudah masalah dan bivak mereka beres, aku mendengarkan musik bersama Kak Maldi dan Kak Sandy.

Meskipun begitu, Arya tetap pulang… Tetapi setidaknya tiada konflik lagi.

Perlombaan, dan adu Ilmu!

Ketika pasukan tiba kembali, sekitar pukul 11.00… Kami semacam disuruh mempersiapkan diri untuk lomba-lomba berikut…

  • Pengetahuan Umum
  • Peta Pita
  • Pengetahuan Akademis
  • Pengetahuan Seni dan Budaya
  • Pengetahuan Pramuka
  • Pengetahuan Tokoh
  • Dan lain-lain

Aku menyapu bersih kompetisi

Aan dan Fauzi pergi dan melakukan lombanya masing-masing, dengan Fauzi mengerjakan lomba Peta Pita, serta Aan mengerjakan lomba Pengetahuan Pramuka.

Bagi yang pernah main board game bersama aku, mungkin tahu bahwa aku… rada kejam meski ke pemula juga.

Jadi, pada pengetahuan tokoh, serta pengetahuan umum, aku mampu menjawab semua tokoh dalam 9.12 detik, serta mengetahui paling banyak gambar tokoh tanpa perlu Kak Ato beritahu tokoh itu siapa… Selain itu, aku juga mampu menjawab 11 dari 25 pertanyaan saat Pengetahuan Umum. 14 pertanyaan lainnya antara memang tidak tahu, keduluan orang, atau salah jawab, alias ketuker dengan info lain.

Dan untuk pengetahuan umum ini, kompetisiku yang lain juga… semacam diberi sedikit kelonggaran oleh Kak Ato… Sesudah menjawab 4 pertanyaan dengan benar, Kak Ato hanya memberi izin aku menjawab ketika tidak ada orang lain yang mampu menjawab, alias tidak ada orang lain yang mengangkat tangan. Meskipun begitu, aku tetap dapat menjawab 11 pertanyaan!

Kayanya lain kali aku mesti dikasih lomba yang berhubungan dengan kepramukaan biar gak terlalu banyak skornya…

Ups, ini sombong banget! Tenang, di lomba akademis yang PG, aku gagal menjawab satupun pertanyaan gara-gara keduluan orang lain…. Nasib.

Waktu Bebas

Kami diberikan waktu bebas untuk makan dan pindahkan tenda ke tempat baru sampai pukul 4.00.

Hari ini sudah cukup bersih dari aktivitas gara-gara hujan… tapi sekarang masih ceraaaah!

Saat masih cerah, aku dan kelompokku memindahkan tenda ke camping ground baru. Sesudah tenda dipasang dan diamankan, ketua dipanggil, dan kita perlu memasak untuk makan siang. Kita memasak nasi telur dengan bumbu micin… (oh tidak…) Tapi ya, namanya micin, rasanya enak.

Sayangnya, sebelum makanan siap, hujan deras melanda, dan lucu sekali! Reguku tak punya pintu tendanya! Ini semacam nasib…

Jadi aku dan Aan yang menjaga tenda kewalahan memastikan tenda tidak kemasukan air. Aan sendiri membenarkan flysheet untuk menghalangi lubang dalam tenda serta membuat pintu dengan flysheet itu, dan aku… semacam membuang air yang sudah ada di dalam tenda.

Ketika itu beres, Aan dan aku sudah cukup tenang dan bosan dalam tenda… Fauzi kebetulan mencari Kayu Bakar sebelum ada hujan.

Hujan masih berlangsung sampai pukul 15.30, dan kami baru makan sekitar jam 16.00

Evaluasi Malam

Lomba yang tadinya mau dilaksanakan terpaksa untuk dibatalkan… Karena hujan… Ketika sekitar pukul 17.00, kami diminta berkumpul di masjid, segera sesudah mandi oleh Kak Ato. Kak Ato memberi perintah yang cukup jelas seperti ini.

“Pokoknya, entar kumpul lagi di masjid sebelum maghrib dah kasep-kasep dan dah geulis-geulis. Bisa? Ada pertanyaan?”

Aku tentunya bertanya karena sekarang aku sudah bisa menyelesaikan permintaan Kak Ato… “Kak Ato, kalau saya sudah kasep dari sananya gimana?”

Berikutnya terdengar semburan tawa dari penonton dan muka takjub dari Kak Ato.

Kami bertemu lagi sebelum sholat Maghrib di masjid, dengan iringan musik dari Greatest Showman!

Malam, malam sesudah sholat Maghrib, evaluasi pun dimulai! Tentunya semua anggota punya kelemahannya masing-masing. Tetapi aku sendiri kelemahannya mirip-mirip dengan dulu…

Kurang rapih! Selain itu, aku juga tumben menjadi panutan dan contoh untuk Kak Ato! Untuk Penegak putri, mereka diminta untuk belajar mengayom ke aku. Waw! Aku merasa… sedikit bangga!

Api Unggun!

Kami menyalakan api unggun malam itu, dan hampir semua penggalang ingin tidur dalam masjid agar hangat. Tapi, kita, para penegak perlu menjaga di malam hari saat shift, dengan api unggun tentunya.

Api unggunnya cukup hangat, dan kita gunakan untuk memasak sosis, serta ubi cilembu. Hasilnya cukup enak.

Sambil menikmati api unggun. Kak Maldi juga menanyakan opini dan perasaan sesudah penempuhan bantara. Aku diminta memberi jawaban yang tidak berbelit-belit dan mampu dipahami manusia normal… Aku sendiri bingung… Entah mengapa. Sesudah pukul 11.00 (kalau tidak salah), shift malam dimulai…

Kami menyalakan api unggun malam itu, dan hampir semua penggalang ingin tidur dalam masjid agar hangat. Tapi, kita, para penegak perlu menjaga di malam hari saat shift, dengan api unggun tentunya.

Api unggunnya cukup hangat, dan kita gunakan untuk memasak sosis, serta ubi cilembu. Hasilnya cukup enak.

Sambil menikmati api unggun. Kak Maldi juga menanyakan opini dan perasaan sesudah penempuhan bantara. Aku diminta memberi jawaban yang tidak berbelit-belit dan mampu dipahami manusia normal… Aku sendiri bingung… Entah mengapa. Sesudah pukul 11.00 (kalau tidak salah), shift malam dimulai…

Aku kebagian jaga malam pertama, bersama Nira (salah satu penegak putri) dan Kak Maldi. Kak Maldi menyetel musik, yang kebetulan seleranya cukup cocok dengan selera musikku dan Nira, jadi kami tidak komplen. Kami juga diberi cerita penempuhan Bantaranya Kak Maldi yang 10 kali lipat lebih parah dari penempuhan bantara milik kami dari para penegak…

Sekitar pukul 1.00 lebih, pas lagu Rewrite the Stars sedang main, shift ku beres, dan aku tidur…

Day 3

Hari ketiga tidak memiliki banyak cerita menarik selain fakta kami sedikit lelah… dan yang diceritakan dibawah sini tentunya

Kolam Hangat

Kami diberi izin untuk menghangatkan badan pada pagi hari. Dan kami masuk dalam kolam yang hangat! Dikarenakan kolamnya penuh, kami, para penegak memutuskan untuk duduk santai saja dulu sambil nyanyi-nyanyi beberapa lagu. Sesudah para penggalang kembali ke perkemahan, aku dan seseorang penegak lainnya memasukkan kaki ke dalam kolam yang hangat dan (akhirnya) kosong itu. Tapi ya, kenyamanan itu pun terganggu oleh…

PRIWIT!

Kak Ato memanggil kami semua untuk evaluasi dari orangtua…

Aku sendiri lupa sedikit apa saja yang dievaluasi oleh orangtua, tetapi ada yang tidak sesuai dengan fakta… Seperti “tolong jangan memberikan nama yang terkesan merendahkan ke regu, seperti Panda”. Padahal kan, kami sendiri yang memilih panda, karena kami suka dengan hewan itu. Serta, penampilan tentang Dilan oleh penegak putri juga diprotes oleh orang tua. (aku sendiri juga merasa seperti itu).

Dan juga… akhirnya! Kak Ato mencabut panggilanku yaitu Mumble! Karena saran pertama itu! Oh, dan Kak Ato juga aku protes karena bilang kata kasar ke Kak Idwar kemarin, dan atas itu, Kak Ato memberi 3 peraturan ke kami tentang pramuka.

  1. Senior tidak selalu benar
  2. Ketika Junior bertemu Senior, berikan salam
  3. Jika senior salah, kembali ke pasal 1.

Ini tentunya menarik dan akan kugunakan sebagai senjata nanti tentunya. Tetapi untuk kali ini, Kak Ato berterima kasih atas sedikit kesalahannya kemarin.

Selain itu, aku ditodong untuk mengevaluasi semua anggota oleh Kak Ato, karena katanya aku kritis… Dan iya, aku terpaksa melakukan itu… *hiks*

Pengumuman Pemenang!

Sebelum pulang dan sebelum beres-beres, kami diberi pengumuman, ke siapa yang menang Pramuka HS Camp Lomba ini… Dan jeng jeng jeng jeng! Juara 1 untuk Putra adalah kami dari regu Panda! HORE! Untuk putri, juara 1 nya adalah regu Manggis, beranggotakan 3 penegak putri juga.

Sesudah ini, kami beres-beres dan langsung masuk angkot untuk pulang! Perjalanan pulangku bersama para penggalang putra, Aan, Nira, dan juga tentunya diriku…

Kesimpulan

Terkadang, kami harus mau untuk tidak memberi ampun. (Kalau ini terkesan kejam, tolong, tolong baca sampai bawah) Malam pertama… Kak Ato mengajarkan kami untuk semacam, jangan selalu mau mengalah untuk yang junior. Kami tahu bahwa pasti akan ada saat keputusasaan, tapi, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk “memanjakan” para junior kami.

Kurang lebih, pesan moral camping ini adalah, selalu saja mau berkompetisi dengan sepenuh hati, dan juga jangan mau menyerah!

Terima kasih sudah membaca laporan ini!

Mitologi Millennial: Pitaloka dan Hayam Wuruk

Mitologi Millennial: Pitaloka dan Hayam Wuruk

Selamat datang! Ini adalah serial baru… dan untuk kali ini aku ingin membuat sebuah cerita (mitologi) yang berat menjadi cerita yang lebih ringan dan mampu dibaca millennial dengan santai. Serial ini akan jadi serial baru juga, dan semoga serial ini akan lebih sering keluar dan jadi post di blog ku.

Kali ini mitologi yang akan di millenialism kan adalah tentang tuan putri Dyah Pitaloka Citra Resmi (atau Citrarashmi).

Enjoy!

DISCLAIMER: Harap catat bahwa cerita ini sebagian besar ditulis ulang, dan jika ada teknologi yang belum ada di zaman itu, bayangkan saja apa yang aslinya dilakukan oleh orang-orang ini di zaman itu. Serta ada banyak versi dari cerita Pitaloka ini, harap ketahui bahwa ini tidak pasti, namanya juga mitologi. Atau tidak, mengingat ini sebenernya rada nyata..

Hayam Wuruk Dan Instagram

Suatu pagi, Hayam Wuruk, raja dari kerajaan Majapahit yang sedang berada di puncak kekuasaannya berkat bantuan jendral Gajah Mada sedang gabut. Jadi, tentunya, seperti anak muda (Hayam Wuruk merupakan raja yang cukup muda tentunya, umurnya masih dalam kisaran kepala dua) pada umumnya yang gabut, ia pindah ke satu dari dua hal, dua duanya dilakukan di Smart Phone.

Mobile Legends atau Instagram.

Karena Hayam Wuruk terlalu jago main Mobile Legends dengan strategi yang ia dapatkan atas ajaran Patih Gajah Mada… Ia beralih ke Instagram. Meski ia sudah punya istri, Hayam Wuruk masih suka senyum senyum dan stalking cewe-cewe cantik di Instagram.

Tepatnya pada hari itu, ia mencari perempuan dengan #tuanputri. Dan ia menemukan sebuah perempuan cantik jelita dengan follower yang kurang banyak… Jadi, tentunya jika tuan putri ini menghilang, tidak banyak yang akan panik, atau bahkan marah atas selingkuhnya Hayam Wuruk.

Jadi, Hayam Wuruk pun membuka banyak foto milik Putri Dyah Pitaloka, dari Kerajaan Sunda yang tentunya tidak sekuat Majapahit. Hayam Wuruk sendiri merasa sangat puas sesudah menemukan cukup banyak foto milik Pitaloka. Namun, sayangnya, sebagai Raja dari kerajaan yang memang kuat, ia hampir selalu mendapat keinginannya.

Kemudian, Hayam Wuruk menggunakan fitur message dari Instagram, dan ia mengajak ngobrol Putri Pitaloka. Pitaloka sendiri sekarang berada kira-kira di umur kelulusan SMA, pasnya 18 tahun, dan jika remaja pada umumnya mengambil tes SBMPK (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Kerajaan), Pitaloka, malahan diminta ayahnya untuk menikahi sebuah raja yang memiliki kekuasaan yang kuat, agar Kerajaan Sunda makin mampu selamat sebagai kerajaan.

Ternyata, Pitaloka tahu bahwa dia dikecengin sama raja dari kerajaan paling kuat. Pitaloka sendiri cukup bingung, ia belum mau menikah, tapi kalau ayahnya tahu dia dikecengin raja Majapahit ini, pasti dipaksa nikah lah…

Jadi, kurang lebih chat mereka seperti ini, dan Pitaloka menolak Hayam Wuruk dengan cukup… ya, kasar sih.

  • Hayam Wuruk: Hai, kenalan dong
  • Pitaloka: Kamu Hayam Wuruk kan?
  • Hayam Wuruk: Ia dong, siapa sih yang gak tau aku, kalau kamu siapa?
  • Pitaloka: Gak bisa baca profile aku apa?
  • Hayam Wuruk: Ih, judes banget deh. Main ke Majapahit mau gak?
  • Pitaloka: Kenapa?
  • Hayam Wuruk: Kali kamu mau jadi permaisuriku disini, pasti lebih seneng deh daripada di Kerajaan Sunda.
  • Pitaloka: Gak ah…
  • Hayam Wuruk: Jangan gitu dong…
  • Pitaloka: Ah gak mau ah… Kan kamu dah punya istri!

Dan mungkin hal yang mirip terjadi tiap kali mereka ngobrol sampe si Hayam Wuruk sendiri capek ngontak Pitaloka. Jadi, ia bersiasat dengan meminta bantuan Jendralnya yang lagi tidak berusaha menaklukkan kerajaan apa-apa, dan hanya gabut saja.

Gajah Mada Sebagai Wingman

Saat ia sudah super bingung… Hayam Wuruk mengajak Gajah Mada ngobrol, dan sepertinya Gajah Mada menemukan solusi, karena sepertinya Gajah Mada tahu bahwa punya cewe baru itu gak jauh-jauh dari politik. Alasan yang sama kenapa Hayam Wuruk menikahi istrinya, untuk memperkuat kerajaan.

  • Hayam Wuruk: Gajah Mada, aku butuh bantuan!
  • Gajah Mada: Siap Paduka, negeri apa yang bisa saya taklukkan Siap
  • Hayam Wuruk: Bukan negeri, Patih Gajah Mada, saya ingin permaisuri baru. Tepatnya tuan putri dari Kerajaan Sunda.
  • Gajah Mada: Siap Pitaloka? Siap
  • Hayam Wuruk: Betul, udah siapnya gak usah dipake, kamu udah beres kok Bantara nya
  • Gajah Mada: Siap, tidak usah pake siap, siap… EH! Siap, eh… aaaahhh
  • Hayam Wuruk: . . . . . Oke… Ada ide rencana?
  • Gajah Mada: WhatsApp ayahnya, tawarinnya ke Raja dari Negeri Sunda, bukan ke Pitaloka, tuan putri pasti menolak.
  • Hayam Wuruk: Oh iya, aku ada ide, kita WhatsApp raja Negeri Sunda nya aja, dan kasih dia perlindungan dan persekutuan dari Majapahit!
  • Gajah Mada: Raja betul sekali!
  • Hayam Wuruk: Iya dong, aku pinter milih kamu jadi jendralku
  • Gajah Mada: Raja, tanpa maksud menyinggung, tapi saya jendral ayahmu juga dan paduka dengan bijaknya menyuruh saya menaklukkan kerajaan, tidak seperti ayah Paduka.
  • Hayam Wuruk: Oh iya, betul ya… Ayahku yang pinter milih kamu jadi jendral berarti…
  • Gajah Mada: Eh, bentar… Prabu Wangi cuman punya WhatsApp doang ya?
  • Hayam Wuruk: Biasa, orang tua, paling Line nya juga cuman punya yang lite.
  • Gajah Mada: Oh iya, jadi kapan bisa dilaksanakan rencananya?
  • Hayam Wuruk: Segera, Patihku… segera!

Gak bakalan ada raja yang bakal nolak kalau sebagai simbol persekutuan dan keamanan, tuan putri dan raja dari dua kerajaan menikah. Jadi, Hayam Wuruk dan Gajah Mada menciptakan sebuah rencana untuk Hayam Wuruk.

Rencana ini kurang lebih berarti bahwa Gajah Mada dan sebuah pasukan kecil akan mengawal Pitaloka dan raja untuk berpergian dari Sunda ke Majapahit. Jaraknya sendiri relatif dekat, dan lucunya, dari banyaknya kerajaan dan wilayah yang sudah ditaklukkan Patih/Jendral Gajah Mada… Sunda sendiri yang tetanggaan sama Majapahit gak diserang, karena katanya mereka satu keturunan dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit.

Nah, ini mungkin rada membingungkan… tapi sebenernya, Patih Gajah Mada ini kan emang terkenal gara-gara Sumpah Palapa nya. Dan sejujurnya Gajah Mada sendiri mau mengawal Pitaloka demi mendapatkan wilayah Kerajaan Sunda, dan diklaim sebagai bagian dari Majapahit. Mungkin Gajah Mada dah ngidam makan buah Pala, dan sebenernya Kerajaan Sunda itu satu dari sedikit kerajaan yang belum jadi bagian dari Majapahit.

Ini tentunya sedikit (eh, bukan sedikit, sangat) bertentangan dengan tujuan Raja Sunda (Aku belum sukses nemu nama aslinya) yang mau menikahkan Pitaloka demi menahan nama Kerajaan Sunda dan aman dari serangan Majapahit… Tapi, perbedaan ini belum mau dibereskan atau bahkan diutarakan ke Hayam Wuruk atau Kerajaan Sunda.

Sebelum kita ke bagian berikutnya, Sumpah Palapa punya beberapa versi…

  1. Gajah Mada hanya makan makanan yang rasanya hambar sampai Nusantara ia satukan.
  2. Gajah Mada gak bakal makan Buah Pala sampai Nusantara ia satukan.
  3. Gajah Mada berpuasa sampai Nusantara ia satukan.

Karena 1 dan 3 terkesan brutal, aku ambil versi dua ya.

Mengawal Tuan Putri.

Sesudah WhatsApp-an bareng Prabu Wangi (yeay ketemu juga akhirnya namanya Raja Sunda!), sudah diresmikan bahwa Pitaloka akan menjadi Permaisuri, atau selir dari Hayam Wuruk. Tetapi, ada miskomunikasi… Prabu Wangi sendiri gak tahu bahwa Pitaloka itu cuman jadi simpenan doang, bukan Ratu yang punya suara dalam pemerintahan Majapahit.

Jadi apa yang terjadi atas kesalahpahaman dan miskomunikasi ini? Ya itu… belum ketahuan sekarang mah. Tapi, kalau dah pernah baca cerita ini di tempat lain sebelumnya, Perang Bubat… Bubatnya bukan singkatan buah batu, itu bukan singkatan apa-apa.

Nah, jadi Gajah Mada dan sejumlah pasukan Majapahit berangkat dan akhirnya sampai ke Kerajaan Sunda. Sesudah rasa sebel dan tentunya rada sensi ala perempuannya Pitaloka yang kekeuh…

Meskipun dia kekeuh nyanyi dangdut, dan juga gak mau… Pitaloka akhirnya mau juga dibujuk untuk ikut ke Majapahit. Untuk sesaat segalanya tampak aman, dan jika ada yang gak aman toh ada sepeser dari pasukan Majapahit dan hampir seluruh pasukan Sunda.

Tentunya karena ini bukan mitologi Yunani, di perjalanan tidak ada monster, penyihir, pahlawan lain, demigod jahat, atau dewa nyasar di tengah jalan. Jadi, perjalanan mereka aman sampai… sekitar setengah jalan.

Entah bagaimana, Gajah Mada sengaja keceplosan (ini paradoks!) untuk mengintimidasi Prabu Wangi, dengan bilang bahwa ternyata Pitaloka ini cuman sebatas simpenan, dan gak bakal dijadiin Ratu, hanyalah sebagai simbol kerajaan Sunda untuk bersatu dengan Majapahit. Sesuai dengan keinginannya dalam memenuhi Sumpah Palapa.

Tentunya, Prabu Wangi sangat sebal karena ia merasa ditipu… Jadi tepat pada saat itu juga… “Idih, itu dasar Millennial, banyak mau-nya banget… Udah lah… SERANG!”

Prabu Wangi memberi perintah ke Pasukan Sunda untuk menyerang Pasukan Majapahit. Inilah cara mulainya Perang Bubat.

Perang Bubat

Jadi, di Perang Bubat ini, tidak banyak detil keberanian seseorang yang dapat ditemukan. Tetapi ada 3 hal yang cukup sering dibahas, sehingga kayanya ini cukup universal dalam versi manapun.

  • Kerajaan Sunda dan Majapahit sama-sama kehilangan sebagian besar dari pasukan kirimannya. Untuk Majapahit ini hanya sebersit kecil, tetapi untuk Kerajaan Sunda, ini cukup banyak, mungkin sekitar 70% dari seluruh pasukannya.
  • Prabu Wangi terbunuh di pertempuran ini. Kerajaan Sunda bukan hanya kehilangan mayoritas tentaranya, tapi juga pemimpinnya.
  • Pitaloka bunuh diri saat peperangan karena ia memilih mati saja daripada harus menyerahkan dirinya ke Hayam Wuruk.

Tentunya kematian Pitaloka ini memukul Hayam Wuruk cukup parah, meski ia baru mengenalnya melalui Instagram sekitar 3 bulan yang lalu. Sehingga ia menghukum Gajah Mada, dengan mengasingkannya secara tidak terhormat untuk mati saja tanpa bantuan kerajaan.

Tetapi, sebelum diasingkan, Gajah Mada cukup nekat untuk menghancurkan Kerajaan Sunda yang memang sedang runtuh sesudah kehilangan raja dan juga banyaknya pasukannya. Jadi, Gajah Mada dapat mencoret satu dari sedikit (mungkin dibawah 8) kerajaan lagi yang belum bersatu dengan Majapahit.

Sayangnya beliau diasingkan dan… karena…

  

begitu Gajah Mada tak bisa lagi menyatukan Nusantara… akhirnya, Patih maha kuat, Achilles dari Indonesia… juga meninggal…

Majapahit kehilangan kekuatan terbesarnya sesudah Patih/Jendral Gajah Mada dipaksa meninggalkan kerajaan tersebut. Dan hanya karena ego-nya Hayam Wuruk, Majapahit pun melemah, melemah dan melemah sampai kerajaan itu hampir tiada bekas.

Kesimpulan

Bingung… aku bingung!

Cerita ini cukup bagus, tapi entah kenapa, aku gak bisa narik kesimpulan kaya di post ku yang lain…

Apa ya… hmm….

Aku yakin di kedua bab terakhir saja, banyak orang yang cukup ngeh bahwa semua ini terjadi karena egoisnya orang-orang. Gajah Mada egois untuk menyelesaikan Sumpah Palapa-nya, Prabu Wangi egois untuk mempertahankan kerajaannya, dan Hayam Wuruk egois untuk mengiginkan Pitaloka yang gak mungkin ia dapatkan.

Sepanjang cerita, Pitaloka hanyalah sebuah objek, sebuah asset untuk ditukar dengan benda lain. Sedangkan semua tokoh besar yang lain adalah simbol ego manusia yang gak ada duanya gedenya itu.

Jadi, kesimpulan hari ini adalah, singkirkan ego dan lihatlah hal dalam gambar yang lebih utuh…

Sampai esok hari!

Framing: Perspektif dan Boxing dari Media

Framing: Perspektif dan Boxing dari Media

Framing… Alasan media pada dasarnya sekarang telah menjadi suatu organisasi komersil. Framing disini tentunya berarti membatasi perspektif dari sebuah gambar, agar kita hanya melihat yang media ingin kita lihat, dan bukan gambar seutuhnya.

Tentunya di fotografi melakukan framing dan membatasi line of sight si kamera itu hal yang bagus, tapi kalau di jurnalisme? Framing mengurangi potensi dari si pembaca berita untuk mengutarakan dan memberikan opini-nya sendiri.

Media dasarnya bias… Ia akan menunjuk ke sebuah sisi cerita dan tidak menunjukkan sisi atau perspektif lain. Media juga dasarnya sangat subjektif, dan akan berusaha untuk highlight atau menunjukkan seseorang dari si sisi yang dipilih. 

Sebagai contoh jika politikus A memiliki media B, politikus A ini akan menggunakan siaran dan media tersebut untuk menujukkan misalnya, penghargaan, atau apa yang ia lakukan untuk memajukan sebuah desa misalnya. Tetapi jika politikus A ini ketahuan selingkuh, media B akan menolak atau bahkan tidak membahas sedikit pun topik ini.

Eh, tapi pas giliran politikus B yang saingan sama si A ini ketahuan masuk dunia narkoba, dia bahas habis-habisan dari perspektif yang bias.

Sama juga untuk siapapun yang memiliki media lain, dan sejujurnya, aku tidak mau terlalu menunjuk-nunjuk nama, karena itu juga membahas bias… ironisnya di artikel yang akan mengkritik bias.

Sebelum memulai, quote yang akan diutarakan hari ini adalah… “Information is the deadliest weapon.”

Langsung aja kita akan masuk ke artikelnya.

First Impressions

“You will never get a second chance to make a great first impression”

Or something like that…

Ini sebenernya innately psychological, dan kadang kalau kita gak tahu sama proses ini, ya nasib, udah jadi korban… Welp, ini literally ga ada hubungan apa-apa sama kenalan sama orang, tapi pada dasarnya manusia menyimpan informasi dalam clean slates. Dan yah, kadang kita subconsciously nyatet informasi di clean slate itu. Besar kemungkinan, sesuatu yang sebelumnya belum ada isinya itu jadi sesuatu yang negatif.

Ini sedikit menyedihkan dan pathetic mengingat bahwa banyak sekali hal di dunia ini yang hanyalah sebuah tumpukan kebohongan, atau… bukan whole truth. Seperti aku bilang diawal tadi, definisi framing itu hampir gak ada relasinya dengan kebohongan ataupun hoax. Tetapi framing adalah menutupi banyaknya perspektif yang ada, dan “memaksa” kita melihat satu-satunya perspektif yang tersisa.

Jadi, yah terkadang first impression ini merupakan satu dari beberapa hal paling krusial ketika media ingin memberikan stigma kepada suatu tokoh atau bahkan organisasi.

Coba… kalau mendengar North Korea, apa 3 kata yang tersirat? Kukasih 10 detik baru scroll ya… Scroll sampai ke bawah garis hitam itu.

 


 

Karena aku bukan mind reader, aku gak bisa nebak 3 kata atau frasa yang reader pikirin. Jadi aku mau nebak 5, dan kayanya 3 kata atau frasa yang kepikir gak jauh-jauh dari situ…

  • Kim Jong Un
  • Diktator
  • Bom Nuklir
  • Malnutrisi
  • Communism

Ada satu dari 5 kata itu yang tersirat? Itu kayanya karena stigma dan first impression yang buruk saja. Nyatanya, di Korea Utara sendiri meski memang merupakan suatu… well, kasarnya potensi pemicu World War III, dan iya mereka emang lagi bikin bom nuklir, dan udah punya… Kim Jong Un juga emang kaya diktator, terus kalau kita lihat mau detail mau gak detail, pemerintahan mereka emang tampak kaya komunisme. And yeah… malnutrisi 41% pada pertengahan 2017…

Tapi sebenernya, Korea Utara juga merupakan salah satu negara yang berpartisipasi di Konferensi Asia Afrika, dan pernah semacam “mensupport” anti kolonialisme, dan juga mereka punya hubungan baik dengan negara kita sendiri.

Tapi yah, siapa yang mau liat North Korea sebagai anti colonialism country, kalau google aja mensuggest “Flag”, “Nuclear”, “President”, “War”, dan “and South Korea” sebagai top 5 suggestion nya.

Of course ini bukan salah google, da mau gimana lagi emang yang sering disearch itu… Tapi kan orang-orang berpikir seperti ini hanya ketika melihat 3-4 berita. Hence, stigma dan stereotype dictatorship based government tersirat.

Framing

Nah, sekarang sesudah membahas first impression yang media akan manipulasi sampai entah gimana untuk orang-orang, kita akan masuk ke framing. Dan sejujurnya, ketika melihat ataupun membaca satu-dua berita, kita bisa ngebayangin sebenernya seberapa bias dan pihak apa yang media itu ingin ambil.

Untuk itu aku akan membahas topik yang kinda hits… ya itu penutupan Facebook…

Misalnya… coba klik link ini untuk berita dari Tribun Jabar…  http://jabar.tribunnews.com/2018/04/20/facebook-diblokir-bukan-hoaks-peluang-diblokir-semakin-besar-jika-ditemukan-hal-ini

Sekilas terbaca judulnya “Facebook Diblokir Hoaks, Peluang Diblokir Semakin Besar Jika Ditemukan Hal Ini“. Aku gak mau bilang apa-apa, silahkan judge sendiri. Opiniku udah mostly fixated di bagian yang aku buat italic. Baca artikel itu, yang ditunggu cuman audit-an doang dari pihak facebook atas data yang bocor. Selain itu facebook juga dibilang sebagai metode mengadu domba dan menciptakan hoax.

Sedangkan hoax-nya sendiri juga bukan salah si facebook, melainkan pengguna… Sayangnya aku gak bisa complain atas opini dari narasumber di berita tersebut… Tapi, sebenernya, masalah berikutnya dariku mengenai berita itu adalah fakta dia straight out ga mau nunjukkin sedikitpun opini orang Facebook dari situ…

Andaikan Facebook emang mau diblokir juga bukan masalah besar sih, tapi kan sebenernya kenapa gitu lho gak nunjukkin sedikitpun opini dari orang Facebook-nya atas kenapa audit info data bocor. Entah kenapa. Both sides of the story should have its say. Tribun disini tampaknya hanya mau menunjukkan opini dan negativitas dari pihak FB.

Untuk narasumber, atau opini karena pembuatan hoax dari FB-nya sendiri sekali lagi, aku gak mau complain. Itu udah teritori opini, bukan subjek framing. Honestly aku juga gak tahu apa opini yang Tribun bilang itu seutuhnya kata dari narasumber, tapi sekali lagi, itu bukan teritoriku.

Frame-nya udah jelas untuk kasus ini? Tribun mengambil perspektif pemerintah saja.

Aku akan tetap di topik menutup Facebook, tetapi dengan mencari berita lain di tempat aku baca berita… Tirto.id

https://tirto.id/ketua-dpr-sebut-menutup-facebook-bukan-tindakan-bijaksana-cHYz

Coba baca dulu beritanya ya…

Nah, dari berita itu, aku kepengen bilang aja bahwa kesan kenetralan ala Tirto itu sebenernya gak senetral berita Tirto pada umumnya, tapi ya dia cukup netral dengan mengambil perspektif frame yang lebih besar.

Dari judulnya saja, sebenarnya gak ada clickbait-nya sama sekali. Judul menarik gak harus clickbait kok. Opini dari sebuah pihak yang menentang pihak lain itu memberikan intrik yang baru, dan gak harus dikemas sebagai clickbait. Memasukkan opininya di judul sudah memberikan rasa penasaran.

Masuk ke beritanya… Pertama-tama, berita itu memberikan opini dari DPR, sebagai pihak ketiga yang gak langsung terlibat dalam kasus penutupan facebook. Di situ, Ketua DPR mengutarakan opininya dengan bilang bahwa Menutup Facebook itu gak bijak, dan itu disertai dengan opini dan argumen.

Selain itu, Kemenkominfo juga diberikan opini dan paragraf sendiri, mengutarakan hal-hal yang pihak FB perlu lakukan agar Facebook tidak diblokir karena skandal Cambridge Analytica.

Bukan cuma Kemenkominfo (meski tanpa ahli atau orang internal, dan hanya organisasinya yang utuh), saja yang diberikan hak bicara di berita tersebut. Facebook pun dibiarkan mengutarakan pendapat dan opininya.

Tidak seperti di Tribun tadi yang straight out menyangkal Facebook melakukan sesuatu, Tirto bilang bahwa ada perwakilan dari Facebook yang meminta maaf dan mengikut Rapat Dengar Pendapat. Opini dan permohonan maaf terkait kasus skandal itu-pun ada dan dicatat di berita itu.

Informasinya gak mau kubahas dengan detil, tapi kurang lebih kebayang lah ya? Toh beritanya udah ada link-nya di atas.

Jadi, menurutku frame-nya udah cukup jelas ya? Menurutku, artikel ini netral.

Nah dari Frame tersebut, baru kita melihat kesimpulan. Jangan ambil berita mentah-mentah, coba dianalisis dulu sedikit saja… tanyakan dirimu ketiga pertanyaan ini sebelum mengambil kesimpulan dari sebuah berita… Kalau mau hidup di zaman media dengan netral dan dengan clear sight, emang harus melakukan beberapa hal ini…

  • Pihak apa sajakah yang ada di berita tersebut?
  • Perspektif mana yang (paling) ditunjukkan di berita tersebut?
  • Apakah ada perspektif lain dari pihak yang belum ada di berita tersebut?

Nah, kalau emang mau netral mengambil opini dan gak kena frame yang dibuat media… Emang harus melihat ketiga hal itu. Dan jika ada satu saja pihak yang perspektifnya gak ditunjukkin, safe to say… berita itu bias. Dan andaikan ada informasi yang reader tahu nyata dari berita itu, jika emang mau melihat image yang digambar berita itu, gapapa, tapi coba cari perspektif lain… jangan sampai kamu kemakan sama first impression tadi

Hoax Versus Fake News

Ini topik yang masuk dalam framing… at least setidaknya menurutku ini adalah topik yang masih sangat relevan dengan framing. Kenapa ini relevan dengan framing? We’ll get there…

Hoax

Hoax adalah sebuah berita atau informasi  yang SENGAJA dibuat untuk mislead dan memberikan informasi palsu. Biasanya jika sebuah berita memutuskan untuk mengambil frame ini, pihak yang terugikan bisa dan akan dituntut sebagai sebuah organisasi yang memberikan informasi palsu.

Aku gak mau membahas Hoax dan melawannya, atau blah-blah-blah… tapi Hoax itu sebuah frame yang mudah sekali dibuat untuk menguntungkan suatu pihak. Dalam kasus politikus tadi, sangat mungkin kalau seorang politikus yang punya kekuatan atas suatu media membuat hoax yang detil dan cukup solid untuk frame (frame ini pun kalau ada yang ngerti) seorang saingan.

Information is truly the sharpest sword.

Fake News

Fake News… seringkali banyak orang gak bisa bedain antara Hoax sama Fake News. Tapi dimana Hoax dibuat dengan sengaja dan dengan full consciosuness dalam membuat beritanya, Fake News berarti si penulis berita gak tahu apa-apa yang dia omongin. Dia gak tahu apa yang dia tulis di berita.

Nah, Fake News berarti si penulis berita untuk frame suatu hal yang gak konsisten. Kaya semacam frame sebuah foto yang blur, dan ketika si jurnalis ditanyain itu fotonya apaan, dia gak ngerti. Kalau hoax adalah foto editan, Fake News adalah foto yang fotografernya sendiri gak tahu dia itu ngefoto apaan.

Filter your knowledge

Hubungan dengan Frame?

Karena frame konteksnya emang super sesuai dengan foto…

Ibaratkan berita sebagai foto… Seseorang memutuskan untuk frame sesuatu yang tidak nyata… Baik karena dia gak tahu itu gak nyata, atau dia sengaja edit itu foto biar gak nyata. Terus dia frame dan pasang di umum. Orang-orang percaya…

Really? You’d fall for that?

Framing disini bukan hanya dalam konteks perspektif, tapi juga dalam konteks kenyataan dan kebohongan. Jangan mau “ditipu” sama media yang gak ngambil whole picture dan crop banyak bagian dari gambar, ataupun mengedit gambarnya…

In Conclusion

Sekali lagi, kesan artikel ini dark.

Seolah-olah dunia ini tidak bisa dipercaya, dan media hanyalah fraud.

BUKAN! ITU BUKAN TUJUANKU! Curhat dikit… entah kenapa aku sendiri kalau menulis topik seperti ini memberikan kesan dark dan kaya conspiracy theorist. Selalu kesannya dark, and trust-no-one thing. Tapi gak, justru aku mau ngajak reader untuk bersama-sama bersyukur masih ada media netral dan positif, dan juga untuk filtering hal-hal yang benar dan yang tidak.

Aku pengen ngajak reader untuk berpikir lebih banyak, aku pengen ngajak reader untuk gak ngikutin flow mainstream, aku pengen ngajak reader untuk gak kemakan sama omongan seseorang tanpa tahu itu nyata atau gak.

Until next time!

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Interconnectedness: Materialistic Perspective Explained

Sesudah ending yang menggantung, seperti semua film Marvel… akan kubahas interconnectedness, dalam suatu image yang definitely… more detailed, dan membahas salah satu dari setiap perspektif yang ada, which is the Materialistic one.

Oh also, the introduction and stuff can be found within this article. Ini semacam sekuel ke short film dengan ending menggantung. But unlike most movies that end in a cliffhanger, jeda antar artikel hanya 6 jam! Tapi please baca dulu artikel pendek itu yaaaa, ada hal yang tidak akan diulangi.

Sebentar dulu, ada artikel lain yang penting dan defining this article in general… Definisi Interconnectedness dapat ditemukan di sini.

Definition

Kalau ada seseorang yang mendengar istilah materialistik, terkadang yang terkesan adalah orang itu ingin mencari worldly pleasure, usually in the form of… money, yang terkadang di reference sebagai materi, hence disebut materialis. Tapi sebenernya perspektif materialistik ini gak ada hubungannya dengan materi dalam konteks ekonomi.

Konteks Materi disini adalah, “matter”. What’s the matter with matter you ask? (Baa Dum Tss) Yah udah dijelasin di “preview” artikel ini sebleumnya sih.

Para materialis ini percaya interconnectedness terjadi karena alam semesta tercipta oleh suatu single substance. And that is kind of why this might seem old. Tapi udah kujelasin tadi, jadi sekarang kita langsung masuk ke bagian detailnya aja deh.

Greek Philosophy

Alam semesta ini memiliki banyak unsur. Tetapi semuanya masih merupakan bagian dari unsur utama. Nah, banyak sekali filsuf Yunani besar yang menyebut APA materi utama-nya ini.

Ada Thales yang bilang bahwa air adalah unsur utama, dan segala sesuatu di alam semesta ini merupakan air, at least sebagian-nya saja. Thales sedikit kurang tepat, karena belum ada konsep cahaya dan gelombang di zamannya, tetapi pemikiran ini cukup spot on.

Sampai sekarang pemikiran ini masih “terpakai” karena jika NASA (or any space organization in general) ingin mencari kehidupan, hal pertama yang berusaha dianalisis dari sebuah planet/satelit adalah keberadaannya air. Di zamannya, Thales sudah sangat maju dengan klaim simpel bahwa Air adalah sumber segalanya.

Tapi umm… Gimana air ini bisa play a part in the big machine of interconnectedness? Thales ga bahas itu explicitly, tapi aku yakin (just an opinion) kemungkinan Thales atau muridnya berasumsi mengenai endless cycle of water, also known as the water cycle… (Hurrah everybody, it’s Captain Obvious!)

Terus ada suatu teori menurut Democritus yang sampai sekarang masih cukup familier di Fisika. Meski Democritus (in a sense) dibuktikan kurang tepat, Democritus sendiri percaya bahwa atom adalah substansi utama, dan paling mendasar diantara molekul dan partikel lainnya. Now we know this is wrong. Ada quantum realm, dan electron dan… yah itu fisika. Bukan bahasanku hari ini.

Tapi tidak seperti banyak filsuf Yunani lainnya, Democritus yakin bahwa yang kita lihat dan rasakan itu bukan bentuk yang mendasar, dan segalanya bisa dipecahkan hingga lebih kecil lagi. Dia menyebut hal kecil ini sebagai atom, berdasarkan kata Atomos, yang berarti… Indivisible. (Or tidak bisa dibuat lebih kecil lagi). Aku ga yakin tapi kayanya ini ga diajarin di kelas Fisika di SMP… SO YEAY! More fun facts.

Koneksi Atom dengan interconnectedness itu apa? Well… let me tell you something. I actually have no clue. TAPI……. Inget, ini masih filsafat yang sangat “mendasar” karena dia memang masih di zaman orang Yunani, jadi teori Atom ini akan memberi kontribusi untuk perspektif lainnya.

CATATAN: Andaikan ada definisi atau miskonsepsi di bagian ini dan kurangnya benang merah dari tulisan yang ini dan yang sebelumnya mohon maaf. Catatan ini untuk memperjelas. Interconnectedness itu bisa berada dalam level Universal Mind yang menjalankan alam semesta ini, dan Interconnectedness juga bisa berada di level tengah, yaitu adanya persamaan pemikiran antar beberapa orang. Jika ada perspektif dan/atau opini yang masih rada gaje, tolong berikan comment, aku akan menjelaskan dengan senang hati.

Modern Science

Dunia ini adalah mesin, bekerja secara mekanis, kaya… well sebuah jam. Layaknya mesin dan alat, dunia ini bisa dianalisis melalui Sains.

But hang on, kenapa ini ada hubungannya dengan Interconnectedness?

Sebentar dulu ya… We’ll get there.

Say hello to the sun. No, not your son. That big thing in the sky you look away from because its so bright. Iya, itu, yang ada department store yang pake namanya dia.

Since 4.6 billion years ago… Matahari sudah menjadi titik tengah Solar System kita. Ada 8 planet yang mengitari-nya selama 4.6 milyar tahun itu. 9 kalau Pluto dihitung, tapi Pluto itu bukan Planet, jadi karena aku specifically nyebut Planet, sayangnya menurut astronomi modern, cycle Pluto sebagai planet putus… On topic.

Anyways, jadi selama 4.6 milyar tahun itu… Matahari mengalami hal yang sama berkali-kali, ia menikmati revolusi Merkurius setiap 1/12 (or satu bulan) dari Revolusi Bumi, dan Neptunus belum pernah gerak sama sekali. Setiap hari, hal yang sama diulang, diulang, diulang.

Nah! Ini merupakan suatu hal yang disebut predictable itu. Jadi, seperti yang aku bilang, semuanya bisa dianalisis karena pada dasarnya, hal yang sama berulang tiap hari, minggu, tahun, sewindu, atau seabadnya.

Ini alasan kenapa jauh sebelum zamannya Newton… Kejadian di alam yang pasti disebut sebagai Hukum. Sesuatu yang tidak bisa dilanggar. jadi, menurut sains modern, interconnectedness ini lebih masuk ke definisi yang menjalankan alam semesta ini, bukan hubungan antar pikiran.

Hukum yang kita temukan (Bukan ciptakan, Newton TIDAK menciptakan gravitasi, dia menemukan keberadaannya.) hanya merupakan penemuan dari endless cycle yang sudah jalan jauh sebelum kehidupan kita.

Jadi materi apa yang menciptakan alam semesta ini memang menentukan apa yang menjalankan alam semesta ini, karena… hukum yang kujelaskan di atas memang terkadang tidak bisa dilawan.

Anomaly?

Off topic dulu dikit…

Apakah kita, sebagai makhluk yang pintar, dan mungkin mendapatkan ilham terbanyak dari Universal Mind, sudah menjadi anomali? Nah… coba pikirin deh.

Semua makhluk hidup mengikuti cycle yang mirip, dan mengikuti hukum yang diberikan alam (salah satu otoritas tertinggi di semesta ini) padanya. Sedangkan kita masih berusaha untuk mencari jalan lain dengan hukum antar manusia, yang hanya otoritas sementara di dunia ini, dan jelas bukan yang paling tinggi di dunia filosofi.

Coba pikirin yaaaa… Just you know a bunch of short thoughts.

Contemporary Materialisticism

(Materialisticism is TOTALLY a word)

No it’s not… kata benerannya Materialism. Yes, ada perubahan kata dan etimologi mendasar.

Dalam materialisme kontemporer, sesuatu yang disebut fisikalisme (which in a sense might sound VERY unscientific, atau ironically, very scientific. Fisikalisme ini percaya bahwa segala sesuatu merupakan konstruksi dari sebuah materi. (Yang mengabaikan teori gelombang dan partikel itu, atau heck cahaya.) Konstruksi materi ini bisa dipahami melalui… fisika (since, it’s physics afterall), neuroscience (karena ide merupakan hasil electronic waves di otak), evolution theory (since… akan dibahas lusa, di perspektif para evolusionis), dan apparently… computer science (like Neuroscience, but not a brain).

Kalau membaca dengan detail  kayanya rada jelas bahwa ini sangat tidak scientific, dan in a sense ambiguous, karena… ada betulnya dan juga terkadang sangat scientific… It’s very confusing. . .

Ga usah dipikirin sih sebenernya… Jadi on topic!

Para fisikalisme ini naik lagi satu level dengan bilang bahwa, memang ada invisible path that connects our brain with other brains. Like.. you know, Wi-fi. Sepertinya masuk akal, tapi juga… ga masuk akal…

Ya ini sedikit mendefinisikan interconnectedness dengan cara yang… a bit odd, tapi efektif.

Ini mencover koneksi antar pikiran, karena jika sebuah ide adalah gelombang listrik (or an email), dan pikiran (otak) kita adalah komputer, kita cukup punya sebuah koneksi (in the form of matter apparently) untuk menjadi wifi yang menyambungkan sebuah ide ke komputer lain.

Not only that, this also, kinda covers that… universal mind that governs stuff theory, karena jika pikiran sendiri adalah sebuah substansi, tentunya punya suatu pikiran yang paling tinggi sangat masuk akal karena… Course, sebuah pikiran paling tinggi dapat mengatur hal-hal lain, karena pada dasarnya dia sebuah materi yang sangat… kuat.

Yeah kayanya pusing banget ya… Welcome to philosophy!

In Conclusion

Menggantung lagi, karena masih ada banyak hal yang emang belum aku cover, tapi untuk semua artikel dalam serial ini, akan aku bahas dengan semacam flashback, kembali ke artikel awal, dan tulisanku tentang Materialistic point of view. Seberapa spot on ilmu yang ku tangkap sebelum baca-baca ulang.

  • Materialistic: Substance… Terbuat dari unsur apa semesta ini?
    • Hubungannya dengan interconnectedness, andaikan si alam semesta ini tercipta oleh satu substansi, maka akan lebih masuk akal bahwa interconnectedness ini ada karena tubuh kita physically connected through this same substance.
      • Of course, teori/perspektif ini paling sering digunakan di era-nya philosopher Yunani, sebelum ada teknologi yang membahas material dan substansi sebuah benda tanpa mengkhayal.

Untuk pertanyaan utama… Semesta ini memang terbuat dari banyak unsur, dengan banyak bentuk dan ukuran, tetapi semuanya memang bisa dibreakdown menjadi lebih kecil. So there’s some form of equality there?

Dia berhubungan dengan interconnectedness karena… well, substance yang sama bisa menjadi jembatan untuk ide dan pikiran. Selain itu, ada langit diatas langit, dan ada suatu hal yang memang di atas pikiran kita ini, jadi andaikan pikiran adalah materi… akan masuk akal jika ada matter yang lebih tinggi yang mengendalikannya.

Untuk poin terakhir… Yeah itu rada salah… Aku belum terlalu mengerti prinsip materialisme sepenuhnya tadi, tetapi ternyata materialisme tidak terbatas ke objektifikasi semesta ini (seperti para filsuf Yunani), tapi bisa lebih menyentuh… daerah lain, dan mencapai benda lain secara explicit. Jadi,karena itu banyak miskonsepsi karena… kurangnya pengalaman, oleh karena itu mohon maaf.

Semoga kesalahan ini tidak mengurangi kesetiaan reader pada blog ini, karena as you might know, everyone is still learning.

Till tomorrow!

Weekend Debates: E-Sports, Independence and Profit

Weekend Debates: E-Sports, Independence and Profit

Once again, ada serial baru…

It seems to me like… Kalau di serialize ngebikin konten on a daily basis ga bakalan terlalu pusing…

Anyways, on topic

Weekend Debates are a series of articles published on a Sunday, discussing whatever topic I debated yesterday on my Debating Club

Well, aku juga nulis ini untuk membantu promosiin klub debatnya ya. The debate is full in English, and if you wanna try and practice your arguments just come.

Informasi dilanjutkan dibawah… Untuk sekarang bisa baca artikelnya aja dulu. Btw selain intro and outro yang di Bahasa Indonesia sisanya akan ditulis di Bahasa Inggris ya…

So… E-Sports

Ini topik ku! Anyways, dengan Hype pada 2022 bakalan include E-Sports sebagai Olympic game, Debat kemarin membahas ini…
Motion: The House Would NOT Include E-sports in the 2022 Olympics

Definition: The so called sports would not be included in the Olympics at the year 2022 if they involve computers, and utilize the brand of a game outside of an actual sport that is brandless.

Main Arguments:

  • E-Sports should never be included in the Olympic games because they are simply a marketing tool for companies to have players join the game.
  • E-Sports should also never be included because they do not have its players engage in physical activity, or detailed thinking the way a real sport does, and the way chess does force its athletes to think.
  • In addition to the definite fact that E Sports will never be a sport, there will also be an additional fact that this enables kids to dream they can play in a competitive level, whilst their definition of practice is basically making their brains less reactive to things outside of a game.
  • The previous argument cannot be applied on physical games because at the very least, if you exercise all day you’ll be healthy. And being a healthy person is a good thing. The same doesn’t apply for Online Games.

Questions and Interruptions :

Unfortunately none, since every other community member was a bit confused as to why there’s an Electronic Sports Olympic. This debate could be a bit more fiery, but there’s more to come.

Therefore I concluded immediately

Conclusion:

E-Sports will never be a sport because firstly, a sport is something that basically trains you to be a better person, there is nothing that you can gain by “practicing” all day when playing games.

In addition to that, this will bring a very bad image for future generations when all they get from the names of their athletes as Online Usernames, and not ACTUAL Athletes like Taufik Hidayat or Bambang Pamungkas as their role models.

Also, face it, Electronic Sports are a mere marketing tool, let’s not give the companies a practically free marketing tool in an event as big as the Olympics.

Regardless, I truly hope E-Sports will never be included in the Olympics thanks for listening.

Kay, jadinya sih, Debate mengenai E-Sports ini diubah jadi artikel… Semoga bisa ngerti… Btw itu conclusion nya overextension karena aku kepengen dan ngarep dapet pertanyaan. Tapi tetep we ga dapet.

Sayangnya debat pertama hari ini kurang seru karena kurangnya interupsi. Debate number 2!

Profit Based Colleges.

Topik ini dibawakan oleh Kakak Alfira… Jadi aku ga tahu research dan lain-lainnya gimana. Perspective akan ditulis sebagai opponent

Motion: The House Would BAN profit based colleges

Definition: A profit based college is a college that doesn’t need a test for it’s acceptance, or one with a relatively high acceptance rate. Whilst the college would also charge for a high amount of investment to enroll there.

Main Arguments:

  • From her experience, Kak Alfira has stated that she’s seen numerous amounts of people who go to a so called good college, only to spend their times fooling around. These profit based colleges are basically filled with spoiled kids.
  • These spoiled kids who don’t learn properly also have a chance to misuse their degree, for instance if they become a doctor, it will be more likely for them to malpractice because of they’re incompetence.

Question from me, interrupting…

Now, you’re saying that these spoiled kids would actually practice things, but there is a huge probability that the parents are just doing this for family pride… Could I hear your thoughts on that? Since I heard that there are a lot of graduates from Unpad’s medical school who are only called doctors by their parents. They don’t even practice.

Answer:

It is true that things like this do occur for family pride, but I’m only using doctors as an example. There are other fields who would enable these rich spoiled kids to get a job because they’re enrolled in a good university, whilst there should be other people that are maybe smarter than this enrolled person who’s a better candidate for the job.

Back onto main arguments

  • I would like to give an example of a profit based college, for example *censored name*, who… From my friends experience, most of the students there only laugh around and don’t take class seriously. Things like this are a very bad example for that generation. We should let someone pay amounts of money just to graduate.

Question… Again, from me

I’ve also heard that *censored name* has actually created good graduates, so long they can generate enough quality to keep up with the investment, why should you ban them?

Answer:

It is true that they could create good graduates, but if we’re talking about the majority of people who go there, it’s those who fool around.

(I’m relatively satisfied with the answer and allows Kak Alfira to proceed)

Back to Main Arguments

  • Lastly, another good argument for the banning of profit based colleges is that there are many non profit colleges that are able to generate much more better graduates than these expensive ones who are just a bunch of rich people paying for their degrees.

Conclusion :

Profit based colleges set a bad example for a generation, because ot somehow enables rich families to give education that some spoiled kids don’t deserve, and the other kids of the same year enrolling should also get the quality of the educators in profit based colleges even if they couldn’t afford to enroll there.

Hopefully you understand why I would like to ban these, and thanks for listening.

Waw, nah kan kalau dipotong potong rada lebih seru ya… Langsung aja deh ke debat ke 3

Separated

Topik ke 3 ini dibawakan oleh Kak Rio dari ITB, langsung masuk aja deh… FYI ini sedikit lebih pendek dari yang lain.

Motion: The House Would Allow Provinces or Regions to Separate themselves from countries and be independent.

Main Arguments:

  • There are many regions that are isolated from others and don’t get the amount of infrastructure building that they deserve.
  • These regions also tend to create more resources than some other provinces or regions inside a country.
  • I believe that it would be better for them to be independent so that they should be able to manage their resources on their own without needing to rely on the country to give them resources. If they’re independent from the country, they should be able to manage themselves and have their own share of resources
  • Of course, they would have to be economically independent unlike Timor Leste when the country separated themselves from us. It would also be better if the province would only split up after a majority of the citizens do agree with that change.

Questions:

FYI we didn’t interrupt this is just a pre conclusion session of questions.

  1. What if a country choose to not allow the province to be independent because they are not economically able to stand on their own feet?
  2. What if a country choose to not allow the province to be independent because the country still needs the resources from the province?
  3. Lastly, what if the citizens there have been given many resources and enough infrastructures from the country but they still want to be independent?

Answers from Kak Rio

  1. Like I said, they should be able to rely on themselves before they should be independent, the definition isn’t there yet, but I am certain that they should at least have something to offer the world, like for example Oil (Riau has Oil) , or Gold (like Papua)
  2. That’s the exact thing we’re avoiding here. The selfishness of countries. That’s what this debate is generally about.
  3. Its their right and a minor loophole in my system, but I think they should at least repay the infrastructures built by the country, and the country should be transparent with the cost to make the infrastructures or the resources given.

Conclusion:

I believe we should get rid of these selfish countries and let provinces be independent so long they are capable to do so. This should be done because countries really deserve the right to have their own ability to manage their own resources without being chained by some country above them

Topik debatnya hanya 3 hari ini, karena umm, yang dateng cuma bertiga plus master debate-nya…

Promotion, and Details

Kalau mau iseng cobain belajar Debat, di Bandung sendiri, ada komunitas Debate bernama LEDS yang ada di Baltos, lantai 3 di Food Court.

Setiap hari Sabtu, jam 16.00-selesai.

Untuk contact person, bisa kontak nomor ini… +6282118719158

Ini bukan promosi, aku cuman pengen share aja pengalaman debat tuh gimana sih, karena seru kok!

Hope you enjoyed this article…

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

Umurnya Jaja Azriel… (Sedikit Curhat)

Umurnya Jaja Azriel… (Sedikit Curhat)

Oke, jadi sebenarnya sih, artikel ini ada karena beberapa kejadian dalam bulan terakhir yang membuat aku antara bingung dan sedikit sebel. Jadi, kalau sudah sering ketemu aku, atau mungkin sudah cukup sering baca website ini kebayang tidak umurku berapa? Aku 14 tahun… Memang aku tinggi, dan kalau lihat aku sebelahan sama Bubi, aku sudah melebihi tingginya Bubi. Tapi tetep, aku 14 tahun, menuju 15… (ketika artikel ini dibuat tentunya)

Aku tahu bahwa sebenarnya curhat ke web sedikit aneh, tapi tujuannya bukan curhat, melainkan lebih ke memastikan orang tidak menebak-nebak umurku, dan memang kalau ketemu orang di beberapa tempat, tidak mungkin ada yang mengira umurku masih 14, apalagi kalau aku pakai setelan kemeja dan celana panjang, makin gak mungkin. Jadi, kalau ada yang salah menebak umurku, aku bisa tunjukkan saja web ini, karena sekarang satu-satunya bukti yang aku punya untuk menunjukkan umurku itu kartu pelajarku yang sudah invalid, dan kalau ditunjukkan kartu pelajarku, jadi gak ada bukti dong aku homeschool… Serba salah deh, jadi aku buat post ini saja.

Anyways, tanggal lahirku 19 Oktober 2002. Jadi kalau kebetulan pengunjung ini adalah salah satu yang kena promosi web-ku, itu tanggal lahirku, tolong dipercaya saja ya hehehe.

Okay, jadi on topic lagi dikit… Aku sedikit bingung (dan kesal) ketika ada yang memanggil aku: Pak, Om, dan Kak kalau sama kakak-kakak SMA yang lebih tua dari aku. Aku masih muda lho…

Jadi, demi mengasah kemampuanku bercerita via tulisan juga, di bawah ini ada beberapa cerita orang salah mengira umurku… Mungkin memang aku sudah tampak lebih dewasa juga sih, tapi terkadang tetap aja aku kesal, cuma karena ga pake seragam aku dianggap udah mahasiswa… Sebenarnya juga banyak Kakak SMA yang mukanya tidak kelihatan terlalu muda, tapi karena pakai seragam kan ketahuan umurnya…

Masjid Salman…

Seperti biasa setiap hari Selasa aku ada kuliah, dan aku setiap lunch break, aku berjalan ke masjid salman, dan sholat dzuhur, dilanjut makan siang di salman. Ada beberapa Murid SMA 1 yang juga sholat di situ. Sesudah sholat, aku duduk sambil memakai sepatu dan kaos kakiku, ada bapak-bapak yang kebetulan tadi sholat di sebelahku, juga ikut duduk, di kursi kayu yang sama, dan langsung menyapa, which berujung ke ngobrol… kaya gini kurang lebih

  • Bapak Tadi: Punten, A
  • Jaja: Oh iya, pak, sebentar aku geser dulu
  • Bapak Tadi: Fakultas mana A
  • Jaja: Err… pak, saya belum kuliah, saya masih SMA
  • Bapak Tadi: Ah, masa ah
  • Jaja: Iya pak, ini ada kartu pelajar SD-ku, itu ada tanggal lahir saya.
  • Bapak Tadi: Oh, alah, kenapa atuh ga sekolah?
  • Jaja: Aku homeschooling pak, kebetulan setiap hari selasa, kadang ada kuliah umum (aku kayanya pusing kalau jelasin panjang lebar) di ITB, dan aku suka ikutan.
  • Bapak Tadi: Oh, hebat de, bagus berarti ade beda sendiri, kirain udah mahasiswa, soalnya ade ga pake seragam.
  • Jaja: Makasih Pak

Well, that happened… Anyways, aku juga bingung yang awalnya dipanggil A (as in Aa) soalnya dikira udah mahasiswa, langsung dipanggil ade abis ketahuan umurnya.

Kakak-Kakak SMA…

Kakak SMA, ahaha… Kira-kira, aku seharusnya panggil mereka apa… kalau kejadian di bawah ini terjadi…

Jadi, seperti tadi aku sebut di atas, ada beberapa anak-anak SMANSA yang sholat juga. Ketika percakapan tadi selesai, aku makan siang di masjid Salman, dan sesudah itu, aku duduk minum teh jika ada spare waktu. Which memang ada spare waktu.

Sambil minum teh, ada sekelompok Kakak-Kakak SMA yang, memanggil aku, “Kak, punten ya, kita duduk sini”, aku menjawab “santai aja kok”, “makasih kak”… (Jika pembaca sekarang sedang berpikir akan lebih baik… itu tidak terjadi, silahkan lanjut di bawah)

  • Jaja: Kelas berapa nih?
  • “Kakak” SMA: Oh iya, kelas 12 Kak
  • Jaja: Oh… (Pasti lebih tua dari aku kan…), udah tau belum nanti mau kuliah di mana?
  • “Kakak” SMA: Aduh, jurusannya ga yakin sih, tapi kayanya kalo ga Unpad mau-nya ITB, kalau Kakak jurusan apa?
  • Jaja: (Yay, kena jebakan). Aku belum kuliah lho… Aku malah kayanya lebih muda dari Kakak… Aku masih 14 tahun…
  • “Kakak” SMA: Hah? Beneran?
  • Jaja: Kalian lebih tinggi dari aku, gara-gara ga make seragam jadi ngira udah kuliah ya?
  • “Kakak” SMA: Iya, maaf ya… (malu nih yaaaa(
  • Jaja: Gapapa kok, santai…

Oke, ini rada parah, tapi tau apa lagi yang lebih parah? Dipanggil Om!

OM? Aku Dipanggil OM!?

Oke, cerita ini sedikit panjang… Anyways, kalau dipotong sedikit, Bubi ada acara AIMI (Bubi udah pernah cerita ini belum ya? well kalau pun belum banyak di IG-nya kok) dimana salah satu tante disitu memintaku mengantar anaknya Inline Skate di Saparua. Untungnya karena acara di perpus kota, jadi jaraknya cukup dekat dan aku mengantar sambil berjalan kaki.

Sesampai disana, aku minta izin untuk meninggalkan anak itu, tapi katanya, biasanya ditungguin oleh Ibu, jadi ya sudahlah, aku tunggu saja. Ketika aktivitas dimulai dengan pemanasan, aku awalnya ingin minta izin untuk pergi sebentar ke toilet, tapi karena takut mengganggu, aku pergi tanpa minta izin.

Ketika kembali lagi dari toilet, anak titipanku yang namanya ku rahasiakan karena alasan tertentu :D, langsung teriak… OM tadi abis dari mana? Om? kenapa aku dipanggil Om sama anak 6 tahun… Sambil membantu dia memakai sepatu, dan pelindung sikut, aku langusung tanyakan kenapa aku dipanggil Om… Jawabannya adalah, kirain emang udah Om… Hehehe, aku udah tua ya… Sedih… Anyways, aku minta aku dipanggil Kakak saja, aku kan masih SMA. Tapi berikutnya aku dipanggil lagi, tetap saja dipanggil… OM

Aku mulai bingung pada tahap ini, tetapi ya… cerita terakhir ini mungkin yang paling membingungkan…

Ini Adikku, Bukan Anakku…

Jadi, Minggu kemarin, aku mengantar Alice PAS di Salman… Sesudah selesai, aku naik Gocar, kita berencana berenang di Hotel Best Western sebrang BIP (yang akan ada review-nya), karena Babah Bubi sedang menginap disitu. Pulangnya, langsung naik Gocar, dan semua berjalan mulus, sampai aku diajak mengobrol di Gocar.

Mas Gocar menanyakan, dari luar kota Pak? Kujawab Bukan sih, tapi orang tua-ku lagi menginap di hotel itu. (Mungkin mas Gocar-nya kepikiran bahwa orangtua disini adalah orangtuaku saja, bukan Alice). Seperti biasa, Alice juga ngoceh selama perjalanan, dan aku sebenarnya lupa kita udah ngobrol apa saja… sampai, supir Gocar-nya bertanya, Anak-nya berapa tahun mas? Aku ketawa… Ini adikku Pak, aku masih 14 tahun… mas-mas gocar-nya tersenyum malu, “maaf ya A…” “santai mas, gapapa, bedanya emang jauh…” (aku mikir… emang aku setua itu gitu mukanya)

 

Well there you have it… cerita-cerita lucu yang membuat aku tertawa dan “menangis” karena sepertinya aku tua banget… :/

 

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!