Tag: bandung juara

ATCS Bandung. Intip Kedisiplinan Pengguna Jalan

ATCS Bandung. Intip Kedisiplinan Pengguna Jalan

Sore tadi, dari jam 15.30-17.15, aku mengambil kursi di ATCS Bandung.

ATCS adalah singkatan dari Area Traffic Control System. Untuk Bandung, kita sudah memiliki sistem untuk mengontrol lalu lintas berupa CCTV dan juga speaker untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan yang tidak menepati peraturan, ataupun rambu lalu lintas.

Selain itu software yang digunakan oleh kakak-kakak di ATCS ini juga bisa digunakan untuk mengatur lampu merah jika ada kepadatan.

Tetapi, ada sedikit hal yang menarik di ATCS hari ini. Setiap Rabu dan Minggu, ATCS membuka ruangannnya untuk umum agar warga kota Bandung bisa melihat cara kerja CCTV dan speaker di Kota Bandung.

Aku baru saja datang ke sana hari ini, dan aku juga mencatat beberapa hal… Menurutku rada-rada menarik, dan ironis bahwa pengguna jalan (aku cukup yakin mayoritasnya sih) berpuasa, sebuah ibadah untuk melatih menahan nafsu, dan kesabaran… Tetapi tidak bisa menahan diri untuk mengambil hak orang, dan juga berburu-buru. Mereka juga bahkan ada yang gak peduli keamanan diri sendiri dan keluarganya.

Jika aku perlu mengambil satu kata saja untuk menjelaskan pekerjaan para admin (aku belum diberikan istilah resminya sih, jadi kita gunakan admin ya 😀 ) ATCS ini secara singkat dan padat. Kata yang akan aku ambil adalah gregetan.

AAAHHH GREGET aja pokoknya… Kenapa? Mari kita lihat artikel hari ini…

Apa yang dilakukan dalam Intip Disiplin?

Sekilasnya yang dilakukan oleh peserta Intip Disiplin tiap harinya adalah…

  • Mengambil kursi, CCTV dan juga mic para Admin ATCS dalam menertibkan jalan.
  • Mempelajari sedikit tentang cara kerja ATCS, software yang digunakan, serta cara menegur (atau menghimbau) seseorang yang melanggar hukum.
  • Tentunya, juga melihat kemacetan dan arus lalu lintas di jam sibuk tersebut (15.00-17.00 merupakan rush hour selama bulan Ramadan, dan lalu lintas hampir pasti padat).

Tentunya tidak sebatas ini saja, tetapi selama 2 jam yang kuhabiskan di sana, gambaran luasnya seperti itu.

Langsung saja, kita akan masuk ke pekerjaan tadi, baru kita masuk ke hasil monitor hari ini.

Pekerjaan Kita…

Kita diberi hak untuk menegur dan menghimbau orang-orang. Tetapi menegurnya tidak sembarangan, tentunya ada naskah yang perlu diikuti, lengkap dengan salam pembuka, perkenalan, serta peringatan yang umum. Baru kita masuk ke peneguran dan himbauan.

Untuk menghimbau pun, tidak bisa asal, dan ada eskalasinya untuk menjaga kesopanan dan privasi orang-orang ini. Meski mereka melanggar, hak mereka masih “terjamin”. Untuk menegur, kurang lebih (atas pengamatanku) ini tingkat eskalasinya…

  1. Himbauan anonim, yang hanya merujuk tindakan yang melanggar tersebut.
  2. Jika himbauan tersebut tidak ampuh (karena orangnya gak tahu diri), akan ada pengulangan dengan nada lebih tegas.
  3. Kalau sudah diulangi dan belum ada reaksi apa-apa, spesifikasi motor, dimulai dari warna kendaraan, jenis kendaraan, sampai plat nomor akan disebut.
  4. Jika orang itu gak tahu malu, atau mungkin gak peduli… Sampai plat nomor disebut pun gak ngaruh.Titik eskalasi nomor 4 ini adalah level dimana kami gregetan, dan foto plat nomor dan pelanggaran tersebut itu diambil. Menurut admin-admin di ATCS, banyak foto di upload ke Facebook untuk memanfaatkan rasa malu.
  5. Keburu lampu hijau sehingga tidak bisa menghimbau lagi.

Sebelum masuk hasil monitor hari ini, coba tebak dulu deh… Berapa persen orang  yang patuh, dan berapa yang tidak. Kalau mau tebak mereka patuh pada himbauan ke berapa juga silahkan… Karena sebenarnya… Ini membuatku merasa… malu.

Kalau mau nebak, kukasih tahu jawabannya sesudah hasil monitor ya.

Hasil Monitor Hari Ini

Aku mencatat tentunya. Dengan buku catatan SMKAA-ku, aku mencoret, dan mencatat tiap orang yang melanggar, serta yang patuh sesudah melanggar juga.

Baiklah jadi, hasil monitor hari ini akan dibuat tidak terlalu merinci… Tetapi dari hasil monitor di…

  • Simpang Cikutra
  • Tol Pasteur
  • Simpang Pasirkoja
  • Sayap-sayap Riau, yang termasuk tetapi tidak terbatas ke… Lombok, Anggrek, Cihapit
  • Dan juga jalan Laswi.
  • Pasir Kaliki, sebelum naik ke Pasteur

Jam yang digunakan hanya 1 jam, dari jam 16.15 sampai 17.15.

Ketahui bahwa satu screen hanya bisa melihat 4 CCTV sekaligus, dan jalan yang di monitor butuh 8 CCTV, jadi sangat mungkin ada yang terlewat saat menghimbau di kamera lain, karena yang menghimbau di Intip Disiplin hanya 3 orang…

Jadi, inilah statistiknya. (ingat, ini hanya satu jam, dan sangat rentan ke Human Error)

47 kendaraan melewati garis stop dan mengambil ruang di Zebra Cross.

  • 12 dari ini merupakan kendaraan beroda 4, yang benar-benar membuat kagok orang-orang yang menyebrang.
  • 35 kendaraan lainnya adalah kendaraan beroda 2.
  • Dari 47 kendaraan tersebut, sekitar 36 mengabaikan, atau bahasa Gen Z-nya, ngacangin himbauan yang kita berikan. (tentunya tidak semuanya bisa mundur, tetapi setengah dari kendaraan yang kucatat masih ada ruang untuk mundur)
  • 11 kendaraan lainnya melakukan perintah pada himbauan ke 3.
  • Tidak satu kendaraan pun sadar bahwa mereka mengambil ruang di zebra cross yang merupakan hak pejalan kaki pada peringatan pertama (yang anonim, tanpa menyebut spesifikasi kendaraan).

Jadi, di bulan Ramadhan ini, yang penuh berkah, dan bermaksud membantu kita melakukan lebih banyak hal baik… Cukup banyak orang yang gak tahu diri sampai ngambil hak orang.

60 orang (orang bukan kendaraan, dihitung jumlah kepala) yang mengendarai sepeda motor tidak menggunakan helm. Perlu diketahui bahwa menemukan orang tanpa helm bukan hal yang mudah, dan karena diperlukan zoom dan kami tidak bisa mengerjakan beberapa kamera secara simultan… Hanya 1 kamera yang bisa dicek tiap saatnya.

  • 19 dari 60 tersebut merupakan balita.
    • Dan semua orangtua yang diberikan himbauan tidak memberikan reaksi sedikit pun. Gimana gak greget coba. Bagaimana cara kita sebagai negara mau menjaga balita kita dari dampak buruk di dunia luar kalau yang namanya ngejagain kepala anaknya sendiri aja kagak bisa… (ups, mulai terkesan kasar… maaf)
  • Dari 41 orang yang tidak menggunakan helm, sekitar 32 merupakan penumpang, dan 9 lagi merupakan pengendara.
    • Untuk pengendara, ada 5 dari 9 yang bereaksi pada himbauan dan memutuskan untuk memutar balik untuk mengambil helm sesuai himbauan.
    • 5 lainnya selamat karena lampu hijau, atau beneran tidak peduli, jadi kita capture.
    • Untuk penumpang, ada 16 yang tidak menanggapi, 11 panik (kelihatan dari mukanya), tetapi tidak turun dan selamat karena lampu hijau, dan 6 lainnya… paling kebangetan.
    • 6 orang ini turun, dan untuk sesaat kita merasa mereka taat. Tetapi ternyata sesudah lampu hijau naik lagi ke motor tersebut. Tahu gak sih seberapa sakitnya di PHP-in sama orang-orang kaya gini? ADUHHHH BENERAN DEH!
    • Untuk penumpang, tidak ada satupun yang patuh, dan mengikuti himbauan dan turun dari motornya…

Jadi, kalau mau dihitung persentase, seberapa banyak orang yang patuh… Untuk helm, ada 5 dari 60 orang yang patuh, dan ini berarti persentase suksesnya adalah… 11%. Pada rush hour atau jam sibuk. Kalau mau menghitung yang panik juga sebagai sukses, angkanya tentunya membaik, menjadi 16 dari 60, atau sekitar 26.5%

Untuk garis stop, nilainya lebih baik… 11 dari 47 menerima dan melaksanakan himbauan, ini berarti sekitar… 23.5% (ish, tidak pasti). Hampir seperempat…

Akan jauh lebih menarik jika kita akan memonitor 4 jalan saja, tanpa mengganti kamera, dan benar-benar mencatat dengan super fokus, pada bulan ramadhan. Lalu kita juga bisa melakukan yang sama di bulan lainnya. Apakah ramadhan dan puasa ini benar-benar diamalkan? atau hanya sebatas simbolis gak makan minum sampai Maghrib saja?

Sebelum kesimpulan atau renungan… (hehehe, liat nanti ya artikel hari ini mau menyimpulkan atau merenung). Aku ingin memberikan pujian dan terima kasih untuk Kakak-kakak Admin di ATCS

Special Thanks 🙂

Pertama-tama, pujian dulu bagi admin di ATCS.

  • Hebat, akang teteh Admin ini bisa sabar ngeliatin orang-orang nyebelin dan gak tahu diri ini. Selain itu Admin disini juga tidak menyerah beres ketemu orang-orang gregetan yang bahkan make helm aja gak mau.
  • Selama aku disini, aku tidak bisa memonitor lebih dari 4 kamera dengan teliti, itu pun seringkali kameranya salah diputar dan jadinya… blindspot. Aku juga takjub dengan ketelitian dan konsistensi admin di ATCS ini deh… Jempol
  • Admin-admin ATCS juga sangat santun, tapi tegas dalam memberikan himbauan. Aku kalau ngomong dan memberikan warning kaya gini, kalau gak ngeliat naskah bisa lupa, dan bahkan sampai salah ngomong, atau kelupaan satu dua kata. Hebat dalam mengatur kata dan memberi himbauan

Serta terima kasih ke Admin di ATCS, dan juga Kak Laras yang mau sabar kalau ngedenger aku salah ngomong pas ngasih himbauan, dan terus mau memberikan aku bimbingan…

Terima kasih untuk kesempatannya! (kalau baca artikel ini, tolong diberikan komentar yaaaa… aku penasaran)

Renungan

😛 renungan yaaaa

Nyatanya, meski ada sistem yang sangat keren, canggih, serta berisi orang-orang yang konsisten dalam memberi peringatan… Semuanya kembali ke orangnya.

Aku yakin ada orang yang tidak memakai helm, dan merasa sangat-sangat malu ketika plat nomornya disebut keras-keras di speaker. Setidaknya, rasa malu ini bisa dimanfaatkan untuk memperingati orang-orang ini untuk patuh pada lain waktu.

Dan kalau mau bicara persentase, diantara banyak yang tidak mematuhi, tentunya, masih lebih banyak yang mematuhi. Berdasarkan yang aku ketahui, mungkin yang mematuhi ini dulunya tidak, tetapi merasa malu dan kapok ditunjuk-tunjuk oleh speaker, jadi mereka memutuskan untuk menggunakan helm.

Meski tidak sesuai dengan tujuan utama dari penggunaan helm, tujuan utama membuat pengguna jalan yang lebih patuh terpenuhi…

Sekarang untuk merenung… Masih banyak orang yang tidak peduli, dan juga tidak tahu malu… Apa perasaanmu mengetahui bahwa warga yang satu tanah air sama anda, berperilaku seperti itu?

Tidak usah bahas agama atau apapun, cukup bahas sesama warga Indonesia… apa perasaan anda mengenai kondisi-kondisi seperti ini?

Sampai lain waktu!

Laporan Camping Rancaupas: Trip dengan Pramuka HS

Laporan Camping Rancaupas: Trip dengan Pramuka HS

Oleh: Azriel Muhammad Arriadi Hidayat

Berikut laporan camping Rancaupas kemarin, ada beberapa alasan camping ini terbilang… “menarik”, dan juga ada alasan camping ini menyenangkan, tetapi juga ada sedih, atau kegagalannya.

Secara keseluruhan, format camping lomba seperti ini menjadi tantangan tersendiri, dan juga membantu introspeksi diri, karena… yah lucu gitu kalah lomba Dasadarma sama anak penggalang… (Iya, aku penegak, calon bantara, tapi masih suka lupa-lupa dasadarma).

Aku dan reguku, yang beranggotakan Aan dan Fauzi, sudah siap untuk menelan nasib, dan juga berkompetisi dengan regu lainnya.

Oh, dan catat… tidak ada foto untuk sekarang, dikarenakan foto masih nyangkut dan disita oleh Pembina kita sampai semua laporan beres!

Day 1

Tiba di Rancaupas…

Yeay, nyampe… Kita pun segera mendapat barang kita disita langsung sesudah kita sampai Rancaupas… Yes, kayanya bagian ini cuman bisa berisi ini doang.

Penyitaan Barang

Sebelum memakan makanan yang kita bawa dari rumah, barang pun dikumpulkan di dekat Kak Ato dan kawan-kawan, dan kita diizinkan membawa alat sholat, minum, dan juga alat makan. Oh, serta tas kosong!

Selain itu, semua barang disita panitia, dan kita harus menelan nasib, dan berharap mendapatkan tenda, atau apapun itu… melalui lomba.

Sesudah penyitaan barang dan makan, kita langsung bersiap memulai acara melalui apel/upacara. Sesudah upacara dimulai, dan juga dibereskan, kita diberi sedikit waktu (dibawah 7 menit) untuk memulai lomba…

Lomba pertamanya adalah lomba yel-yel.

Kami berpose centil… demi tenda

Untuk pembaca yang tidak di sana pas camping, tolong ketahui bahwa… orang-orang benar-benar ngakakakakakakakakakakakak pada bagian ini. Terkadang demi mendapatkan suatu hadiah kami harus berusaha, dan terkadang… jika hadiah ini bersifat hidup atau mati, kita hanya bisa menelan nasib, dan membuang sedikit saja harga diri milik kita.

Jadi, sesudah waktu yang tipis itu beres diantara upacara dan lomba yel-yel, aku dan reguku, yang sudah memilih nama Panda… Sudah punya yel-yel.

Yel-yel nya berbunyi seperti ini… “Ada panda dalam tenda/ Putih, Imut, Besar / Kami dari regu putih/ Sigap, Kuat, Ceria/ HALO! Kami dari regu putih…/ CEKRIK”. Ketika kita melakukan cekrik ini, kita lengkap dengan pose yang nggak banget deh. 3 Cowo yang tampak strong, berpose centil… Demi dapetin tenda. Bahkan, Bu Dita, juri, serta juga ibunya Fauzi tertawa dengan sangat puas ketika kita sampai ke bait terakhir, yaitu Cekrik.

Alhasil, meski malu, tenda pun sukses kita bawa ke markas! Yang gak dapet tenda sayangnya, harus membuat bivak dengan jas hujan. Yang sedikit mengecewakan adalah, kita mendapat tenda tanpa pintu. Untungnya ini belum jadi masalah.

Perlombaan!

Lomba Morse… . . .  – – –  . . .

Singkat cerita, lomba morse dan semaphore dilaksanakan berbarengan, dan kita sudah cukup skilled untuk memecah diri dan memberikan Aan, yang tentunya paling hapal semaphore (dan juga kepramukaan secara umum) diantara kita bertiga, untuk lomba itu. SPOILER: Aan, mendapat nilai sempurna.

Lalu, Fauzi dan aku yang tahu bahwa berusaha memenangkan Morse itu gak sesusah Semaphore, dan untungnya karena 4 / 8 kelompok dengan skor tertinggi akan mendapat hadiah, jadi… kita #maksa, dan mencoba memenangkan tuh lomba Morse.

Ketika Morse diulangi, Fauzi dan aku hanya mendapat ilmu baru bahwa T = – . Untungnya, selain itu, kita berdua sudah hapal huruf vokal, dan juga B, C dan M,  dan S.

Dengan pengetahuan 10 huruf atas gabungan kedua ilmu kita, pasnya huruf, A, B, C, E, I, M, O, T, S, U, kita menang! Dengan hanya menjawab 4 soal, dan mengisi semua huruf yang kita tahu itu, kita menang… Dan kita cukup beruntung untuk mendapat hadiah berupa lampu tempel..

Aan yang mendapat nilai sempurna memenangkan papan dada. Sedangkan kita, dengan nilai pas-pasan, tapi tetep top 50% mendapat yang namanya… Lampu Tempel.

Pramuka Itu… (OH TIDAK)

Pernahkan anda merasa… putus asa, dan malu? Jadi sesudah lomba semaphore, morse dan membuat tenda atau bivak, kita dipanggil untuk lomba. Lombanya itu ada 3, dilaksanakan berbarengan, lomba trisatya, lomba dasadarma, dan lomba UUD 45.

Regu kita sudah bersiap untuk ini, aku mendapat UUD 45 yang tinggal baca dengan gaya keren, Fauzi untuk trisatya, yang gak susah-susah amat, dan Aan untuk dasadarma, yang relatif paling susah, dan paling gampang untuk merasa tertekan.

Sayangnya karena lomba gak dikasih tahu, aku dan Aan tertukar. Dan saat ditanya Dasadarma itu apa aja, aku hanya menjawab, poin 1 sampai 3, dan 8 sampai 10. Jadi, nilainya bolong-bolong lah. Tentunya, aku gagal membawa pulang matras, disaat Fauzi (meski katanya nilainya pas-pasan) dan Aan membawa pulang hadiah masing-masing. Kalau gak salah, gas sama kompor.

Disaat ini, aku mulai merasa bahwa, udahlah bawa happy aja, kalau rejeki menang, kalau gak ya… kurang hoki.

Tapi tetep, sebagai permohonan maaf… Kutulis Dasadarma, tanpa ngeliat internet.

  1. Takwa kepada tuhan yang maha esa
  2. Cinta alam dan kasih saying sesame manusia
  3. Patriot yang sopan dan ksatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. LUPA!
  7. Hemat, cermat, dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan

Kalau ada yang salah… ya gitu lah… maafkan.

KIM Jong Un… eh?

Sorry, salah, bukan Kim Jong Un, tapi KIM, dalam artian indra. Aku mendapat KIM Cium dan juga KIM Dengar. Fauzi diminta mengerjakan KIM Lihat, dan juga KIM Raba. Aan mendapat KIM Rasa, dan juga Puzzle.

Untuk kedua anggotaku itu, aku tidak bisa menjamin, tapi setahuku kita menangin semuanya… Gawat, sebenarnya aku merasa kasihan sama penggalang yang pada gak dapet beberapa hal, tapi ya udah atuh, mau gimana lagi.

Saat KIM cium, aku mencium banyak aroma yang wangi, dan juga enakeun buat dicium, dan lain-lain, kurang lebih sih, dia bahan masakan, bumbu, teh, ataupun minyak untuk bayi. Pas mencium aku dipasangin blindfold.

Saat KIM Jong Un… EH! KIM Dengar, aku mendapat seri di posisi 4 dan 5, dengan nilai 85, sesudah mendapat cerita yang rada lucu dan dipenuhi detil disana dan disini.  Detil ini rada susah ditangkep sayangnya, jadi ada 1 ½ soal yang miss, dan alhasil aku kalah suit sebagai tiebreaker. Jadi aku gak dapet barang yang jadi hadiah.

Sayang sekali…

Thales dan Piramida Giza. Azriel dan Pohon Gaje.

Hadiah kali ini berupa wajan. Dan untuk pertama kalinya, aku diberikan lomba yang paling susah! Lomba yang aku dapatkan berupa tafsir ukur, dan aku diminta mengukur sebuah pohon yang rada tinggi.

Gimana cara ngitungnya? Untungnya, aku sempat baca dan jadinya bisa mengukur jarak tanpa penggaris. Nah, tapi bukan cuma jarak yang jadi issue, karena untuk mengukur tinggi gak bisa pake metode itu. Aku menggunakan metode ala Thales ketika dia mampir ke Mesir, Piramida Giza.

Thales yang katanya pintar ini menghitung piramida yang tinggi nan megah itu menggunakan sebuah tongkat. Ia mengukur bayangan kedua hal ketika matahari lagi pas gak ditengah, lalu menghitungnya dengan aljabar dan skala untuk mendapatkan tinggi si pohon. Ketika yang lain membandingkannya dengan sebuah model bernama Oris dengan tinggi 150 cm, aku menggunakan ranting sepanjang tanganku (yang kurang lebih 30 centimeter panjangnya) dan mengukur bayangannya. Dihitung dan bla, bla, bla, bla… mendapat angka 12 meter.

Angka yang kudapat hampir benar (sesudah diukur oleh Kak Ato, karena awalnya ada miskomunikasi dan salah ngitung ketika perkiraannya 18 meter, padahal punyaku lebih tepat), dan kita memenangkan wajan! Hurrah!

Masterchef: Edisi Pudding.

Harus diakui, ini lomba menantang, dan rada susah. Sejujurnya kelompokku gak punya banyak masalah dengan kompor, gas, wajan, dan juga wadah saat membuat Pudding. Tapi, kita kurang bahan.

Hadiah lomba pudding adalah sleeping bag, dan sayangnya kita gak dapetin tuh Sleeping Bag.

Kenapa bisa gak dapet? WELP! Kita kalah, karena menurut Chef Dita dari dewan juri, pudding kita akan menang kalau ditambahin air dikit. Tapi lucunya dari semua orangtua, ini super ketat and beda-beda tipis rasanya. Kenapa? Karena semuanya jelek.

Jadi Pudding ini sebenarnya aku yang masak, tapi karena gak ada gelas ukur, rasionya kurang tepat, dan pudding kita hanya berbahan gula, susu, dan agar-agar swallow. Ya nasib… at least ada tenda. Padahal, pudding kita memadat paling cepat, karena kita gak ada masalah dengan kompor dan lain-lain. Ya sudahlah, menelan nasib saja. Setidaknya puddingnya enak menemani makan malam nasi dan telur. (ini masih nanti ya, lomba pudding tuh sore, tapi baru kita makan malam-malam)

Sore hari!

Berburu Fotografer Prewedding.

Sorean, kita diminta berburu bahan-bahan, pasnya bertepatan dengan penjurian pudding. Sayangnya, selain melihat beberapa orang foto prewedding, tidak banyak hal menarik atau yang teringat sampai sekarang dari berusaha mencari sayur ini. Jadi ya, jika hal yang paling berkesan adalah orang-orang foto prewedding, maka kayanya sebenernya rada membosankan perjalanan ini.

Makan Gak Kamu!

Sesudah hunting fotografer prewedding, kami diminta untuk beristirahat, serta memasak dan juga makan. Ketika berkeliaran dan memastikan masakan dan lain-lain sudah siap, kami dari para penggalang dan juga penegak, memasak bersama nasi dan telur untuk makan malam.

Sambil makan pudding dan juga nasi telor (alias menu makan siang kalau males mikir pas di rumah), regu kami ngobrol dan menyiapkan penampilan untuk api unggun nanti malam. Untungnya, Nira cukup pintar dalam membantu kami mencari ide, karena dia keceplosan kata “panda” dan aku jadi connect untuk membuat sebuah drama berdasarkan board game Takenoko. Mengenai Raja, Panda dan Petani pas api unggun.

Ketika api unggun menyala, beres makan tentunya… dengan banyak hal simbolis yang aku gak siap ceritakan disini, karena hal simbolis bukan hal-hal yang aku beneran suka jelasin, kita langsung disambut MC dan juga memulai penampilan sebagai regu paling tua. EH! Senior.

Raja, Panda, dan Petani.

Penampilannya kurang lebih seperti ini.

Narrator (Azriel): Alkisah, hiduplah seorang raja, yang baru saja merayakan anniversary ke-5 dengan istrinya. Raja ini sangat suka dengan tumbuhan dan juga ia ingin punya kebun bambu yang rapih. Kebun bambu ini dirawat oleh petaninya. Tetapi saat anniversary ke 5, ia dibelikan sebuah Panda, dan ceritanya seperti ini…

Raja (Azriel): Oy, Om Petani, sini sebentar boleh?

Petani (Fauzi): Iya Paduka Raja?

Raja: Kenalan ya, sama Pandaku (Aan), dia doyan makan Bambu, dan kayanya akan kuizinin dia makan bambu di kebunku. Tapi, jangan berarti ini jadi alasan buat kamu nggak numbuhin bambu yang rapih ya… mentang-mentang dimakan jadi gak rapih…

Petani: Bisa Paduka Raja.

Narrator: Keesokan harinya si Petani menumbuhkan Bambunya sampai 5 tingkat, seperti keinginan si Raja, tetapi, si panda nyomot-nyomot semua bambu yang udah tumbuh ini.

Petani: EH PANDA! KUMOHON JANGAN BEGITU!

Panda: …?

Petani: Akan kulaporkan pada Raja! Paduka Raja, boleh minta waktunya sebentar?

Raja: Ha? Sebentar, saya lagi stalking ratu negeri sebrang.

Petani: Paduka, mengapa anda stalking ratu negeri sebrang?

Raja: ANDA BERANI MENYURUH SAYA MELAKUKAN SESUATU?

Petani: Tidak, maaf. Gini, Panda anda memakan Bambu saya terus, gimana mau ini tumbuh 5 tingkat?

Raja: Alah, kamu banyak alasan, lakuin yang bener emang susah? Tumbuhin sampai 5 tingkat aja, udah, kalau iya sukses, kamu gajinya kunaikin, bisa beliin Istrimu sepatu baru.

Petani: Saya tidak punya istri Paduka.

Raja: Ya udah, ceritanya punya.

Narrator: Keesokan harinya hal yang sama terjadi.

Petani: OH TIDAK PANDA! Kenapa kamu ambil lagi?

Panda: Hah?

Petani: Akan kuadu pada Raja! Paduka, Bambumu hampir habis dimakan si Panda!

Raja: Hah? Bentar, aku lagi main ML

Narrator: 15 minutes later!

Raja: Kenapa Petani?

Petani: Anu, bambumu dimakan Panda, apakah boleh besok saya minta Paduka melihat Panda ini makan? Karena dia makan banyak banget!

Raja: Ha? Sambil main ML ya.

Petani: Tapi tolong dilihat Paduka… Aku mulai kewalahan.

Raja: Ya udah deh, daripada kalah terus aku berhenti main sampai lusa.

Narrator: Keesokan harinya, si Raja ini lagi gak mainan HP, jadi dia ngeliat si Panda makan secepat apa.

Petani: Raja, raja sudah liat sendiri kan kenapa itu Bambu gak tumbuh-tumbuh.

Raja: Udah, pokoknya kamu bikin kandang terbatas,  dan tanam Bambu yang banyak di kandang Bambu itu. Tiap kali si Panda mau makan, tumbuhin, dan masuk dalam kandangnya, bisa?

Petani: Bisa raja…

Raja: SIAPNYA DIPAKAI!

Petani: Siap Bisa Siap.

Narrator: Keesokan harinya, semua senang, dan pagar untuk si panda tercipta. Si raja senang karena tamannya rapih dan dia bisa mainan HP tanpa diganggu, si petani gajinya naik dua kali lipat, dan si Panda senang bisa makan!

Evaluasi malam

Sesudah penampilan gak berfaedah dan gak jelas dari Penegak putri, dan penampilan lucu dari siaga, kita diberikan evaluasi tenda. Evaluasi ini cukup menarik, dan juga sedikit membuatku merasa kasihan.

Ya, aku tak punya banyak komen sebenarnya.

Tepar

ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ……

Day 2

Pagi Hari!

Senam

Hari dimulai dengan senam. Tidak punya banyak komentar sebenarnya… Selain fakta dari 100% waktu aku di depan untuk pendinginan, 90% diisi teori, 5% diisi diam, 3% diisi ngahuleng, dan 2% baru ngerjain pendinginan. Kayanya perlu nyiapin deh materi senam lebih lengkap sebelum camping. (Untuk diriku sendiri, bukan untuk seluruh pasukan PHS)

Jalan Pagi

Sesudah sarapan, dan juga masak, kami diberikan opsi oleh Kak Ato untuk jalan-jalan pagi, atau untuk ke puncak itu gunung, yang aku lupa namanya apaan!

Jadi, sesudah kita ngobrol, dan belajar Bahasa Konglomerat-nya Kak Ato, yang terdiri antara Bahasa Sunda, Inggris, serta Indonesia dicampur… Kita langsung Jalan Pagi. Di jalan, aku diberi tugas untuk mengambil sampel biji-bijian, dan/atau bunga.

Sekitar 1/2 jam berjalan kemudian, kita diberi tahu oleh dua anggota TNI (dengan kamera yang sangat keren) bahwa mereka menemukan setidaknya 2 harimau. Ini tentunya menakutkan, dan sekitar 5 menit mendapat fakta ini, kami dari pasukan PHS segera berkumpul, dan juga duduk.

Tidak lama dari bertemu TNI, Kak Ato memberikan perintah agar kami segera balik, dengan pengecualian regu Kodok, berisi Nugi, Arya, serta Hilmy. Karena kepo, aku memerhatikan mereka… Tetapi aku diusir oleh Kak Ato, karena kayanya ini urusan privat.

Kabarnya kemarin Arya ingin mengundurkan diri… JENG JENG!

Kepo adalah sebuah anugrah

Atas dasar kekepoan… aku pun berjalan sambil memikirkan tentang regu kodok tadi…

Aku serta pasukan PHS pun sampai di bawah, dan sambil menunggu ketiga anggota regu kodok itu kembali… Kami berbincang-bincang tentang, entah apa… Sambil melihat rusa dan juga couple sedang prewedding, cewenya juga tampak memiliki… err.. kebanyakan duit, dengan gaun super lebay.

Okay, ini mulai diatas batas wajar kepo-nya.

Sesudah mereka kembali, kami berfoto, dan fotonya ada di Facebook milik Kak Ato! Gak ada di laporan ini, adanya di Facebook Kak Ato ya…

Tetapi, entah kenapa, Arya, Nugi, dan Hilmy menangis… (entah kenapa ini pura-pura ya, aku bisa menalar kira-kira apa yang sebenarnya di bahas). Ketika mereka kembali, kami mulai berjalan…

Sesampainya di persimpangan, aku diminta untuk mengawal regu Kodok kembali ke perkemahan, tetapi pasukan lainnya akan melewati rute yang sedikit lebih jauh.

Aku yang emang kepo (terlalu kepo) ini merasa perlu menyelesaikan masalah mereka, jadi, masalah mereka aku selesaikan, dengan gaya a la Azriel tentunya. Sesudah masalah dan bivak mereka beres, aku mendengarkan musik bersama Kak Maldi dan Kak Sandy.

Meskipun begitu, Arya tetap pulang… Tetapi setidaknya tiada konflik lagi.

Perlombaan, dan adu Ilmu!

Ketika pasukan tiba kembali, sekitar pukul 11.00… Kami semacam disuruh mempersiapkan diri untuk lomba-lomba berikut…

  • Pengetahuan Umum
  • Peta Pita
  • Pengetahuan Akademis
  • Pengetahuan Seni dan Budaya
  • Pengetahuan Pramuka
  • Pengetahuan Tokoh
  • Dan lain-lain

Aku menyapu bersih kompetisi

Aan dan Fauzi pergi dan melakukan lombanya masing-masing, dengan Fauzi mengerjakan lomba Peta Pita, serta Aan mengerjakan lomba Pengetahuan Pramuka.

Bagi yang pernah main board game bersama aku, mungkin tahu bahwa aku… rada kejam meski ke pemula juga.

Jadi, pada pengetahuan tokoh, serta pengetahuan umum, aku mampu menjawab semua tokoh dalam 9.12 detik, serta mengetahui paling banyak gambar tokoh tanpa perlu Kak Ato beritahu tokoh itu siapa… Selain itu, aku juga mampu menjawab 11 dari 25 pertanyaan saat Pengetahuan Umum. 14 pertanyaan lainnya antara memang tidak tahu, keduluan orang, atau salah jawab, alias ketuker dengan info lain.

Dan untuk pengetahuan umum ini, kompetisiku yang lain juga… semacam diberi sedikit kelonggaran oleh Kak Ato… Sesudah menjawab 4 pertanyaan dengan benar, Kak Ato hanya memberi izin aku menjawab ketika tidak ada orang lain yang mampu menjawab, alias tidak ada orang lain yang mengangkat tangan. Meskipun begitu, aku tetap dapat menjawab 11 pertanyaan!

Kayanya lain kali aku mesti dikasih lomba yang berhubungan dengan kepramukaan biar gak terlalu banyak skornya…

Ups, ini sombong banget! Tenang, di lomba akademis yang PG, aku gagal menjawab satupun pertanyaan gara-gara keduluan orang lain…. Nasib.

Waktu Bebas

Kami diberikan waktu bebas untuk makan dan pindahkan tenda ke tempat baru sampai pukul 4.00.

Hari ini sudah cukup bersih dari aktivitas gara-gara hujan… tapi sekarang masih ceraaaah!

Saat masih cerah, aku dan kelompokku memindahkan tenda ke camping ground baru. Sesudah tenda dipasang dan diamankan, ketua dipanggil, dan kita perlu memasak untuk makan siang. Kita memasak nasi telur dengan bumbu micin… (oh tidak…) Tapi ya, namanya micin, rasanya enak.

Sayangnya, sebelum makanan siap, hujan deras melanda, dan lucu sekali! Reguku tak punya pintu tendanya! Ini semacam nasib…

Jadi aku dan Aan yang menjaga tenda kewalahan memastikan tenda tidak kemasukan air. Aan sendiri membenarkan flysheet untuk menghalangi lubang dalam tenda serta membuat pintu dengan flysheet itu, dan aku… semacam membuang air yang sudah ada di dalam tenda.

Ketika itu beres, Aan dan aku sudah cukup tenang dan bosan dalam tenda… Fauzi kebetulan mencari Kayu Bakar sebelum ada hujan.

Hujan masih berlangsung sampai pukul 15.30, dan kami baru makan sekitar jam 16.00

Evaluasi Malam

Lomba yang tadinya mau dilaksanakan terpaksa untuk dibatalkan… Karena hujan… Ketika sekitar pukul 17.00, kami diminta berkumpul di masjid, segera sesudah mandi oleh Kak Ato. Kak Ato memberi perintah yang cukup jelas seperti ini.

“Pokoknya, entar kumpul lagi di masjid sebelum maghrib dah kasep-kasep dan dah geulis-geulis. Bisa? Ada pertanyaan?”

Aku tentunya bertanya karena sekarang aku sudah bisa menyelesaikan permintaan Kak Ato… “Kak Ato, kalau saya sudah kasep dari sananya gimana?”

Berikutnya terdengar semburan tawa dari penonton dan muka takjub dari Kak Ato.

Kami bertemu lagi sebelum sholat Maghrib di masjid, dengan iringan musik dari Greatest Showman!

Malam, malam sesudah sholat Maghrib, evaluasi pun dimulai! Tentunya semua anggota punya kelemahannya masing-masing. Tetapi aku sendiri kelemahannya mirip-mirip dengan dulu…

Kurang rapih! Selain itu, aku juga tumben menjadi panutan dan contoh untuk Kak Ato! Untuk Penegak putri, mereka diminta untuk belajar mengayom ke aku. Waw! Aku merasa… sedikit bangga!

Api Unggun!

Kami menyalakan api unggun malam itu, dan hampir semua penggalang ingin tidur dalam masjid agar hangat. Tapi, kita, para penegak perlu menjaga di malam hari saat shift, dengan api unggun tentunya.

Api unggunnya cukup hangat, dan kita gunakan untuk memasak sosis, serta ubi cilembu. Hasilnya cukup enak.

Sambil menikmati api unggun. Kak Maldi juga menanyakan opini dan perasaan sesudah penempuhan bantara. Aku diminta memberi jawaban yang tidak berbelit-belit dan mampu dipahami manusia normal… Aku sendiri bingung… Entah mengapa. Sesudah pukul 11.00 (kalau tidak salah), shift malam dimulai…

Kami menyalakan api unggun malam itu, dan hampir semua penggalang ingin tidur dalam masjid agar hangat. Tapi, kita, para penegak perlu menjaga di malam hari saat shift, dengan api unggun tentunya.

Api unggunnya cukup hangat, dan kita gunakan untuk memasak sosis, serta ubi cilembu. Hasilnya cukup enak.

Sambil menikmati api unggun. Kak Maldi juga menanyakan opini dan perasaan sesudah penempuhan bantara. Aku diminta memberi jawaban yang tidak berbelit-belit dan mampu dipahami manusia normal… Aku sendiri bingung… Entah mengapa. Sesudah pukul 11.00 (kalau tidak salah), shift malam dimulai…

Aku kebagian jaga malam pertama, bersama Nira (salah satu penegak putri) dan Kak Maldi. Kak Maldi menyetel musik, yang kebetulan seleranya cukup cocok dengan selera musikku dan Nira, jadi kami tidak komplen. Kami juga diberi cerita penempuhan Bantaranya Kak Maldi yang 10 kali lipat lebih parah dari penempuhan bantara milik kami dari para penegak…

Sekitar pukul 1.00 lebih, pas lagu Rewrite the Stars sedang main, shift ku beres, dan aku tidur…

Day 3

Hari ketiga tidak memiliki banyak cerita menarik selain fakta kami sedikit lelah… dan yang diceritakan dibawah sini tentunya

Kolam Hangat

Kami diberi izin untuk menghangatkan badan pada pagi hari. Dan kami masuk dalam kolam yang hangat! Dikarenakan kolamnya penuh, kami, para penegak memutuskan untuk duduk santai saja dulu sambil nyanyi-nyanyi beberapa lagu. Sesudah para penggalang kembali ke perkemahan, aku dan seseorang penegak lainnya memasukkan kaki ke dalam kolam yang hangat dan (akhirnya) kosong itu. Tapi ya, kenyamanan itu pun terganggu oleh…

PRIWIT!

Kak Ato memanggil kami semua untuk evaluasi dari orangtua…

Aku sendiri lupa sedikit apa saja yang dievaluasi oleh orangtua, tetapi ada yang tidak sesuai dengan fakta… Seperti “tolong jangan memberikan nama yang terkesan merendahkan ke regu, seperti Panda”. Padahal kan, kami sendiri yang memilih panda, karena kami suka dengan hewan itu. Serta, penampilan tentang Dilan oleh penegak putri juga diprotes oleh orang tua. (aku sendiri juga merasa seperti itu).

Dan juga… akhirnya! Kak Ato mencabut panggilanku yaitu Mumble! Karena saran pertama itu! Oh, dan Kak Ato juga aku protes karena bilang kata kasar ke Kak Idwar kemarin, dan atas itu, Kak Ato memberi 3 peraturan ke kami tentang pramuka.

  1. Senior tidak selalu benar
  2. Ketika Junior bertemu Senior, berikan salam
  3. Jika senior salah, kembali ke pasal 1.

Ini tentunya menarik dan akan kugunakan sebagai senjata nanti tentunya. Tetapi untuk kali ini, Kak Ato berterima kasih atas sedikit kesalahannya kemarin.

Selain itu, aku ditodong untuk mengevaluasi semua anggota oleh Kak Ato, karena katanya aku kritis… Dan iya, aku terpaksa melakukan itu… *hiks*

Pengumuman Pemenang!

Sebelum pulang dan sebelum beres-beres, kami diberi pengumuman, ke siapa yang menang Pramuka HS Camp Lomba ini… Dan jeng jeng jeng jeng! Juara 1 untuk Putra adalah kami dari regu Panda! HORE! Untuk putri, juara 1 nya adalah regu Manggis, beranggotakan 3 penegak putri juga.

Sesudah ini, kami beres-beres dan langsung masuk angkot untuk pulang! Perjalanan pulangku bersama para penggalang putra, Aan, Nira, dan juga tentunya diriku…

Kesimpulan

Terkadang, kami harus mau untuk tidak memberi ampun. (Kalau ini terkesan kejam, tolong, tolong baca sampai bawah) Malam pertama… Kak Ato mengajarkan kami untuk semacam, jangan selalu mau mengalah untuk yang junior. Kami tahu bahwa pasti akan ada saat keputusasaan, tapi, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk “memanjakan” para junior kami.

Kurang lebih, pesan moral camping ini adalah, selalu saja mau berkompetisi dengan sepenuh hati, dan juga jangan mau menyerah!

Terima kasih sudah membaca laporan ini!

STEM Talks @ American Corner ITB, Advanced Manufacturing Pt. 1

STEM Talks @ American Corner ITB, Advanced Manufacturing Pt. 1

Okay, apologies for the title being a bit too long (or at least longer than the title of the articles I usually write). Today’s article would be about an event that I attended earlier this morning.

This talk is brought by Mrs. Leanne Gluck (hopefully I got this right because she did wear a wedding ring, and it’s gonna be a bit embarrassing if I turned out to be wrong about this), with the support of ITB’s American Corner. Miss Leanne Gluck was the Deputy Director of 3D Systems, one of the biggest 3D Manufacturing companies.

Apart from that she also had some experience in America Makes, some form of project incubator (or collaborative partner) that is usually supporting 3D printing involved projects.

Right now, though it’s not exactly mentioned, she works in Delaware Valley Industrial Resource Center. This information is attained through the joys of Internet. Thanks LinkedIn.

Anyways, enough about the introduction, let’s just head on to the article.

The topic of the talk is Advanced Manufacturing Ecosystems, and it’s gonna be a 2 part article, because, I’m a bit tired today, the second part would be available tomorrow, discussing about the ecosystems, and the ecosystems for advanced manufacturing.

Why was I actually here?

To be honest I had no idea… as a male teenager, we usually do lots of things because our mother made us. And though it isn’t exactly made us do, Bubi did play a part in telling me about this event and made me kinda sign up.

I didn’t really know exactly what this is about, but I’ll have to say, sometimes, stepping into the unknown isn’t exactly a bad idea. I’m certain, at least from the title, which by the way sounds cool “Advanced Manufacturing Ecosystem”… It’s gonna be a quite intriguing talk.

I didn’t really come here because my mother made me… But I did come here because I want to learn something new. And honestly, this new thing I might be learning today would be useful. At least after attending this talk here, I just know that it’ll be useful.

Indonesian Culture

Err, now you’re probably thinking why am I using “Indonesian Culture” as the headline. And well, this is quite a funny (satirical funny) story.

I arrived at the library of ITB at about 8.50, from the electronic flyer, the event is supposed to start at 9.00 o clock. Approximately at 8.55 Mrs. Gluck came with somebody from the U.S. Embassy at Indonesia, whose name, I unfortunately cannot remember, considering how terrible my memory with names is.

So, what’s exactly this “Indonesian Culture” I’m trying to say? Well, it’s the culture of being late. At 9.00 o’ clock, no one was here, and Mrs. Gluck was constantly checking her phone after prepping up her laptop, and she seems kind of confused as to why no one was here, even though it’s time.

Deep down I was ashamed, and I really wanted to say a joke, like “I’m sorry, everyone here often get confused between 9.00 and 9.30”, but being me who can’t really start a conversation unless it’s a previously planned one, I didn’t. She did however say How are you today, and to that I responded with an “I’m fine, how are you?” followed by a “I’m good, thank you”.

Well anyways, the people from American Corner ITB did stall them by taking them on a library tour, he must’ve sensed that discomfort, I’ve been feeling ever since she checked her phone at 9.00 .

Before she got back, I met a senior at Taman Bahasa named Mr. Moko, who spent 30 years in the US and is an engineer. Unlike me, Mr. Moko was able to chat with Mrs. Gluck just naturally.

I really should increase my conversation skills though, I have troubles starting a conversation for some reason.

Anyways, on topic… At 9.30, the talk finally starts, and it all began with this term.

Advanced Manufacturing

Well, what’s advanced manufacturing actually?

To put it simply, Miss Gluck split the two words, and took their dictionary definitions.

Advanced = Ahead of development and progress.

Manufacture = Make something on a large scale using machinery

Keywords are those in bold. Advanced Manufacturing basically means a large scale production of things using the newly developed, or technology that’s still developing.

In a nutshell, the term advanced is relative to its time, and there was a time where Henry Ford’s production chain is advanced, but we’ve come to the point of literally realizing 3D designs on photoshop. From Miss Gluck’s background she used 3D Printing as a theme.

It’s quite on point. When most of the advanced manufacturing does revolve on producing the soft copy of a model onto a real model, as well as making stuff more efficient…

Oh by the way, by definition Advanced Manufacturing includes 3D printing, Robotics, there’s also lightweighting heavier stuff, and also the coolest one is organ manufacturing.

On second thought, you may read coolest as creepiest. It’s a bit scary that there’s an actual organ manufacturing research institute that is researching about cells, growing itself equal to the mold, similarly to the way a bacteria would clone itself, but just… you know fitting the mold.

So hey, remembered how scary AI was? If you are familiar with Indonesian, please read this article about AI. Now, you can have an AI transport itself onto an organic body with this! Just, perfect 😀 . (or maybe not, considering how AI’s actually hate organic bodies)

Advancement of Industry?

Remember this article? http://dikakipelangi.com/evolusi-pikiran-apakah-teknologi-akan-atau-sudah-menyatukan-kita/ 

That article is actually written in Bahasa, but it does discuss onto how technology is the reason us humans are interconnected. Then there’s also the theory that we’re basically slowing down on the advancement of industry and also slowing down on the advancement of communications causing us to be a bit more interconnected.

On the contrary, advanced manufacturing actually “reverses” that. It makes us and machines more connected to one another, as well as increasing the rapid development of communications and the development of industry along with the help of communication.

So we’ve never really slowed down on industry, we’ve actually accelerated it with our communications!

What can you 3D Print actually?

Still on the theme of 3D printing, something that I actually learned out of an episode in The Big Bang Theory…

Miss Gluck showed us a video, about a bridge that’s 3D Printed. It took 6 months to print the whole bridge, but its actually cool to see how far we’ve come, and although that’s not quite efficient, it’s indeed a rather cool process when literally nothing becomes something! It’s not just materials, it’s basically “Ink” made out of metal, and also steel cables.

This bridge actually works… and people can now step on it… Course it’s still, a bridge, don’t expect it to do much, but it does function as a bridge.

Apart from really large 3D Prints, you can also print really small things, to those the level of a quantum particle. Nano Science facilities are actually using 3D printers to simulate materialization of particles on a quantum scale.

And, for the materials… Apart from the aforementioned cells inside a 3D printer, you can also 3D print food! This however is still rather theoretical, but should you change the filament of a 3D printer with paste, powder, or heck, liquids, you would be able to 3D print food!

Is a programmer an Advanced Manufacturer?

Intermezzo here…

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.orionlabs.OmTeloletTheGame

Late 2016, that game came out on the playstore, me and my friends made it. Since software IS included in the Umbrella Term of Advanced Manufacturing in the 21st Century, I made a software, so technically, I am an advanced manufacturer, since I did mass produce the APK of a game.

Hurrah!

So technically a programmer is an advanced manufacturer, should he produce a downloadable software available to the public! Again, hurrah!

Some interesting 3D print projects

A 3D Printed car is currently in the works. James Corden actually starred in its advertising video, the car’s name is Olli. It’s a 3D printed car that’s self driving, and also runs on electricity. It’s in the shape of a bus however. So, it’s basically a 3D printed Bus version of Tesla!

That reminds me a bit of low cost self driving cars…

On top of that, there’s that bridge thing…

Also, Mrs. Gluck brought a 3D printed bracelet that looks, well, cute… It’s made in a similar way a chocolate top ice cream is made. Firstly, it’s printed in steel or iron, you know, vanilla ice cream, and then there’s some bronze powder to lace and layer the metal with bronze. The bronze is the chocolate in this case. So, it’s basically a bronze bracelet from the outside, but it’s actually a steel bracelet.

If I heard it correctly, the Ganesha statue next to the 3D printer is 3D printed… Course, maybe that’s the reason it’s there in the first place.

Dreamcatcher

Before we conclude today’s short article about Advanced Manufacturing, this is going to be an off-topic leap.

Yes, it’s rather off-topic. Because we did skip about ecosystems, and this is a topic explored in the questions sessions. Though Mrs. Gluck wanted questions as soon as possible, we, the entire audience listened through it without much comments.

There’s a new software known as Dreamcatcher, which is an Autodesk Generative Design. It’s basically a software to randomly generate a calculated parameter of an object… 8 hours of this computers process could generate roughly 1000 designs with a not so complex parameter. Each one being unique, and of course, would fit the needs of the parameters we set.

For instance, we wanted to make a table, then we put in the parameters, four legs, able to hold 200 kilograms, weighs less than 2 kilograms, and then bla bla bla… Then we wait. After the wait, it’ll autogenerate the designs we might wanna see based on the parameters. It’s gonna be wacky, cool, and of course, spot on.

This reminds me of a program used to randomly generate strings in quantum physics. It’s basically an autodesk generative design to generate random strings in a multiverse and relate it to quantum physics, for the types of string available in a universe.

Mrs. Gluck seems very astounded with this fact, and she somehow correlated it with the dystopian Netflix Series Black Mirror… That’ll be for tomorrow.

In Conclusion

Sorry, I wrote in English because A. The talk is in english, and B. I want Mrs. Gluck to read this… (it’s just a want actually).

To conclude, let’s just say that, as a human being, we’ve reached the point of “Yeay technology makes stuff easier!”. Well, this is quite a cliffhanger. And, please, duly note that… There are downsides to this, and let’s not forget the Cambridge Analytics Facebook Data Leakage for a reminder of this… dark side.

Until tomorrow!

Mitologi Millennial: Pitaloka dan Hayam Wuruk

Mitologi Millennial: Pitaloka dan Hayam Wuruk

Selamat datang! Ini adalah serial baru… dan untuk kali ini aku ingin membuat sebuah cerita (mitologi) yang berat menjadi cerita yang lebih ringan dan mampu dibaca millennial dengan santai. Serial ini akan jadi serial baru juga, dan semoga serial ini akan lebih sering keluar dan jadi post di blog ku.

Kali ini mitologi yang akan di millenialism kan adalah tentang tuan putri Dyah Pitaloka Citra Resmi (atau Citrarashmi).

Enjoy!

DISCLAIMER: Harap catat bahwa cerita ini sebagian besar ditulis ulang, dan jika ada teknologi yang belum ada di zaman itu, bayangkan saja apa yang aslinya dilakukan oleh orang-orang ini di zaman itu. Serta ada banyak versi dari cerita Pitaloka ini, harap ketahui bahwa ini tidak pasti, namanya juga mitologi. Atau tidak, mengingat ini sebenernya rada nyata..

Hayam Wuruk Dan Instagram

Suatu pagi, Hayam Wuruk, raja dari kerajaan Majapahit yang sedang berada di puncak kekuasaannya berkat bantuan jendral Gajah Mada sedang gabut. Jadi, tentunya, seperti anak muda (Hayam Wuruk merupakan raja yang cukup muda tentunya, umurnya masih dalam kisaran kepala dua) pada umumnya yang gabut, ia pindah ke satu dari dua hal, dua duanya dilakukan di Smart Phone.

Mobile Legends atau Instagram.

Karena Hayam Wuruk terlalu jago main Mobile Legends dengan strategi yang ia dapatkan atas ajaran Patih Gajah Mada… Ia beralih ke Instagram. Meski ia sudah punya istri, Hayam Wuruk masih suka senyum senyum dan stalking cewe-cewe cantik di Instagram.

Tepatnya pada hari itu, ia mencari perempuan dengan #tuanputri. Dan ia menemukan sebuah perempuan cantik jelita dengan follower yang kurang banyak… Jadi, tentunya jika tuan putri ini menghilang, tidak banyak yang akan panik, atau bahkan marah atas selingkuhnya Hayam Wuruk.

Jadi, Hayam Wuruk pun membuka banyak foto milik Putri Dyah Pitaloka, dari Kerajaan Sunda yang tentunya tidak sekuat Majapahit. Hayam Wuruk sendiri merasa sangat puas sesudah menemukan cukup banyak foto milik Pitaloka. Namun, sayangnya, sebagai Raja dari kerajaan yang memang kuat, ia hampir selalu mendapat keinginannya.

Kemudian, Hayam Wuruk menggunakan fitur message dari Instagram, dan ia mengajak ngobrol Putri Pitaloka. Pitaloka sendiri sekarang berada kira-kira di umur kelulusan SMA, pasnya 18 tahun, dan jika remaja pada umumnya mengambil tes SBMPK (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Kerajaan), Pitaloka, malahan diminta ayahnya untuk menikahi sebuah raja yang memiliki kekuasaan yang kuat, agar Kerajaan Sunda makin mampu selamat sebagai kerajaan.

Ternyata, Pitaloka tahu bahwa dia dikecengin sama raja dari kerajaan paling kuat. Pitaloka sendiri cukup bingung, ia belum mau menikah, tapi kalau ayahnya tahu dia dikecengin raja Majapahit ini, pasti dipaksa nikah lah…

Jadi, kurang lebih chat mereka seperti ini, dan Pitaloka menolak Hayam Wuruk dengan cukup… ya, kasar sih.

  • Hayam Wuruk: Hai, kenalan dong
  • Pitaloka: Kamu Hayam Wuruk kan?
  • Hayam Wuruk: Ia dong, siapa sih yang gak tau aku, kalau kamu siapa?
  • Pitaloka: Gak bisa baca profile aku apa?
  • Hayam Wuruk: Ih, judes banget deh. Main ke Majapahit mau gak?
  • Pitaloka: Kenapa?
  • Hayam Wuruk: Kali kamu mau jadi permaisuriku disini, pasti lebih seneng deh daripada di Kerajaan Sunda.
  • Pitaloka: Gak ah…
  • Hayam Wuruk: Jangan gitu dong…
  • Pitaloka: Ah gak mau ah… Kan kamu dah punya istri!

Dan mungkin hal yang mirip terjadi tiap kali mereka ngobrol sampe si Hayam Wuruk sendiri capek ngontak Pitaloka. Jadi, ia bersiasat dengan meminta bantuan Jendralnya yang lagi tidak berusaha menaklukkan kerajaan apa-apa, dan hanya gabut saja.

Gajah Mada Sebagai Wingman

Saat ia sudah super bingung… Hayam Wuruk mengajak Gajah Mada ngobrol, dan sepertinya Gajah Mada menemukan solusi, karena sepertinya Gajah Mada tahu bahwa punya cewe baru itu gak jauh-jauh dari politik. Alasan yang sama kenapa Hayam Wuruk menikahi istrinya, untuk memperkuat kerajaan.

  • Hayam Wuruk: Gajah Mada, aku butuh bantuan!
  • Gajah Mada: Siap Paduka, negeri apa yang bisa saya taklukkan Siap
  • Hayam Wuruk: Bukan negeri, Patih Gajah Mada, saya ingin permaisuri baru. Tepatnya tuan putri dari Kerajaan Sunda.
  • Gajah Mada: Siap Pitaloka? Siap
  • Hayam Wuruk: Betul, udah siapnya gak usah dipake, kamu udah beres kok Bantara nya
  • Gajah Mada: Siap, tidak usah pake siap, siap… EH! Siap, eh… aaaahhh
  • Hayam Wuruk: . . . . . Oke… Ada ide rencana?
  • Gajah Mada: WhatsApp ayahnya, tawarinnya ke Raja dari Negeri Sunda, bukan ke Pitaloka, tuan putri pasti menolak.
  • Hayam Wuruk: Oh iya, aku ada ide, kita WhatsApp raja Negeri Sunda nya aja, dan kasih dia perlindungan dan persekutuan dari Majapahit!
  • Gajah Mada: Raja betul sekali!
  • Hayam Wuruk: Iya dong, aku pinter milih kamu jadi jendralku
  • Gajah Mada: Raja, tanpa maksud menyinggung, tapi saya jendral ayahmu juga dan paduka dengan bijaknya menyuruh saya menaklukkan kerajaan, tidak seperti ayah Paduka.
  • Hayam Wuruk: Oh iya, betul ya… Ayahku yang pinter milih kamu jadi jendral berarti…
  • Gajah Mada: Eh, bentar… Prabu Wangi cuman punya WhatsApp doang ya?
  • Hayam Wuruk: Biasa, orang tua, paling Line nya juga cuman punya yang lite.
  • Gajah Mada: Oh iya, jadi kapan bisa dilaksanakan rencananya?
  • Hayam Wuruk: Segera, Patihku… segera!

Gak bakalan ada raja yang bakal nolak kalau sebagai simbol persekutuan dan keamanan, tuan putri dan raja dari dua kerajaan menikah. Jadi, Hayam Wuruk dan Gajah Mada menciptakan sebuah rencana untuk Hayam Wuruk.

Rencana ini kurang lebih berarti bahwa Gajah Mada dan sebuah pasukan kecil akan mengawal Pitaloka dan raja untuk berpergian dari Sunda ke Majapahit. Jaraknya sendiri relatif dekat, dan lucunya, dari banyaknya kerajaan dan wilayah yang sudah ditaklukkan Patih/Jendral Gajah Mada… Sunda sendiri yang tetanggaan sama Majapahit gak diserang, karena katanya mereka satu keturunan dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit.

Nah, ini mungkin rada membingungkan… tapi sebenernya, Patih Gajah Mada ini kan emang terkenal gara-gara Sumpah Palapa nya. Dan sejujurnya Gajah Mada sendiri mau mengawal Pitaloka demi mendapatkan wilayah Kerajaan Sunda, dan diklaim sebagai bagian dari Majapahit. Mungkin Gajah Mada dah ngidam makan buah Pala, dan sebenernya Kerajaan Sunda itu satu dari sedikit kerajaan yang belum jadi bagian dari Majapahit.

Ini tentunya sedikit (eh, bukan sedikit, sangat) bertentangan dengan tujuan Raja Sunda (Aku belum sukses nemu nama aslinya) yang mau menikahkan Pitaloka demi menahan nama Kerajaan Sunda dan aman dari serangan Majapahit… Tapi, perbedaan ini belum mau dibereskan atau bahkan diutarakan ke Hayam Wuruk atau Kerajaan Sunda.

Sebelum kita ke bagian berikutnya, Sumpah Palapa punya beberapa versi…

  1. Gajah Mada hanya makan makanan yang rasanya hambar sampai Nusantara ia satukan.
  2. Gajah Mada gak bakal makan Buah Pala sampai Nusantara ia satukan.
  3. Gajah Mada berpuasa sampai Nusantara ia satukan.

Karena 1 dan 3 terkesan brutal, aku ambil versi dua ya.

Mengawal Tuan Putri.

Sesudah WhatsApp-an bareng Prabu Wangi (yeay ketemu juga akhirnya namanya Raja Sunda!), sudah diresmikan bahwa Pitaloka akan menjadi Permaisuri, atau selir dari Hayam Wuruk. Tetapi, ada miskomunikasi… Prabu Wangi sendiri gak tahu bahwa Pitaloka itu cuman jadi simpenan doang, bukan Ratu yang punya suara dalam pemerintahan Majapahit.

Jadi apa yang terjadi atas kesalahpahaman dan miskomunikasi ini? Ya itu… belum ketahuan sekarang mah. Tapi, kalau dah pernah baca cerita ini di tempat lain sebelumnya, Perang Bubat… Bubatnya bukan singkatan buah batu, itu bukan singkatan apa-apa.

Nah, jadi Gajah Mada dan sejumlah pasukan Majapahit berangkat dan akhirnya sampai ke Kerajaan Sunda. Sesudah rasa sebel dan tentunya rada sensi ala perempuannya Pitaloka yang kekeuh…

Meskipun dia kekeuh nyanyi dangdut, dan juga gak mau… Pitaloka akhirnya mau juga dibujuk untuk ikut ke Majapahit. Untuk sesaat segalanya tampak aman, dan jika ada yang gak aman toh ada sepeser dari pasukan Majapahit dan hampir seluruh pasukan Sunda.

Tentunya karena ini bukan mitologi Yunani, di perjalanan tidak ada monster, penyihir, pahlawan lain, demigod jahat, atau dewa nyasar di tengah jalan. Jadi, perjalanan mereka aman sampai… sekitar setengah jalan.

Entah bagaimana, Gajah Mada sengaja keceplosan (ini paradoks!) untuk mengintimidasi Prabu Wangi, dengan bilang bahwa ternyata Pitaloka ini cuman sebatas simpenan, dan gak bakal dijadiin Ratu, hanyalah sebagai simbol kerajaan Sunda untuk bersatu dengan Majapahit. Sesuai dengan keinginannya dalam memenuhi Sumpah Palapa.

Tentunya, Prabu Wangi sangat sebal karena ia merasa ditipu… Jadi tepat pada saat itu juga… “Idih, itu dasar Millennial, banyak mau-nya banget… Udah lah… SERANG!”

Prabu Wangi memberi perintah ke Pasukan Sunda untuk menyerang Pasukan Majapahit. Inilah cara mulainya Perang Bubat.

Perang Bubat

Jadi, di Perang Bubat ini, tidak banyak detil keberanian seseorang yang dapat ditemukan. Tetapi ada 3 hal yang cukup sering dibahas, sehingga kayanya ini cukup universal dalam versi manapun.

  • Kerajaan Sunda dan Majapahit sama-sama kehilangan sebagian besar dari pasukan kirimannya. Untuk Majapahit ini hanya sebersit kecil, tetapi untuk Kerajaan Sunda, ini cukup banyak, mungkin sekitar 70% dari seluruh pasukannya.
  • Prabu Wangi terbunuh di pertempuran ini. Kerajaan Sunda bukan hanya kehilangan mayoritas tentaranya, tapi juga pemimpinnya.
  • Pitaloka bunuh diri saat peperangan karena ia memilih mati saja daripada harus menyerahkan dirinya ke Hayam Wuruk.

Tentunya kematian Pitaloka ini memukul Hayam Wuruk cukup parah, meski ia baru mengenalnya melalui Instagram sekitar 3 bulan yang lalu. Sehingga ia menghukum Gajah Mada, dengan mengasingkannya secara tidak terhormat untuk mati saja tanpa bantuan kerajaan.

Tetapi, sebelum diasingkan, Gajah Mada cukup nekat untuk menghancurkan Kerajaan Sunda yang memang sedang runtuh sesudah kehilangan raja dan juga banyaknya pasukannya. Jadi, Gajah Mada dapat mencoret satu dari sedikit (mungkin dibawah 8) kerajaan lagi yang belum bersatu dengan Majapahit.

Sayangnya beliau diasingkan dan… karena…

  

begitu Gajah Mada tak bisa lagi menyatukan Nusantara… akhirnya, Patih maha kuat, Achilles dari Indonesia… juga meninggal…

Majapahit kehilangan kekuatan terbesarnya sesudah Patih/Jendral Gajah Mada dipaksa meninggalkan kerajaan tersebut. Dan hanya karena ego-nya Hayam Wuruk, Majapahit pun melemah, melemah dan melemah sampai kerajaan itu hampir tiada bekas.

Kesimpulan

Bingung… aku bingung!

Cerita ini cukup bagus, tapi entah kenapa, aku gak bisa narik kesimpulan kaya di post ku yang lain…

Apa ya… hmm….

Aku yakin di kedua bab terakhir saja, banyak orang yang cukup ngeh bahwa semua ini terjadi karena egoisnya orang-orang. Gajah Mada egois untuk menyelesaikan Sumpah Palapa-nya, Prabu Wangi egois untuk mempertahankan kerajaannya, dan Hayam Wuruk egois untuk mengiginkan Pitaloka yang gak mungkin ia dapatkan.

Sepanjang cerita, Pitaloka hanyalah sebuah objek, sebuah asset untuk ditukar dengan benda lain. Sedangkan semua tokoh besar yang lain adalah simbol ego manusia yang gak ada duanya gedenya itu.

Jadi, kesimpulan hari ini adalah, singkirkan ego dan lihatlah hal dalam gambar yang lebih utuh…

Sampai esok hari!

Why You Should: Speak English

Why You Should: Speak English

So, you’ve read this article? http://dikakipelangi.com/programming-skill-penting-di-era-digital

I am officially making a “Why You Should” series now! After some success with the programming article, I’ll do my best to help explain some of the things I’m doing as a homeschooler… Of course with some of my rather unique activities it would be rather intriguing to pull one or two things together and form an article.

Of course, what’s the point of learning something, if you don’t have a reason to learn the thing? So, that’s what this article is for… to give you a reason, a justification, or whatever word you wanna use, to learn something. It’s important!

Like, it’s really funny when you have someone learn something because they must, not because they want to, or because they can benefit from it… Oh wait, that’s basically our education system… Gee, isn’t it surprising when people don’t wanna go to school.

Some of these answers would be taken from a meeting at Taman Bahasa Bandung and Capetang, 2 communities that can help you to practice your English communication skills, and also from LEDS, a place where you can practice debates in English and argue with people…

Their locations will be included below, and note that this is not a sponsored post, it’s time to give back to communities who have given me important experience and knowledge.

So, let’s head on to the article… (Btw normalnya mah serial ini akan ditulis pakai bahasa Indonesia, tapi karena artikelnya tentang ngomong Bahasa Inggris, jadi ini bakalan ditulis pake bahasa Inggris.)

Intercommunicative… Intercommunication

Intercommunicative… a word I seriously just made up 10 seconds ago… And to prove its existence I googled it… it doesn’t exist…

Intercommunication, engaging in a two way conversation, or communication. (This word does exist, in fact Google autocorrected intercommunicative with intercommunication)

Interconnectedness…

A Universal Mind

Holarchy

Evolution of Mind

And some other articles discussing about philosophy.. and stuff so complicated I don’t really wanna explain it here… But, overall it’s discussed that us humans will eventually develop and become a citizen of planet earth. And especially in the Evolution of mind article, we are eventually going to reach the point of complete evolution and become the voices of Earth.

English is a language that’s currently the most spoken language in the world, and for now, it’s the language that is globally used by everyone, anywhere, and I believe it’s also a language that can make the world more connected.

Right now, the world is basically connected… I’ve mentioned one or two times on how easy it is to get a bombing news in say, Palestine, than it is to get news about a theft near your house. And now, thanks to information technology on the complex levels, such as remotely controlling a satellite, and to the simpler ones, such as social media… We have a world linked with the touch of a finger.

But, seriously though, it would be really ironic for you to use social media (since I don’t use social media), to use google while searching and manipulating some images… Basically connect with the world, but you lose that capability to communicate with them. You may be connected, but you may not really communicate?

Isn’t it… devastating? You’re one step closer to the world, or perhaps, even you’re one keystroke away from communicating with the world… Yet, you’re unable to do so… because of the one barrier left… Linguistic barrier. (Wait, there’s also the emotional and physical barrier too, but those… are other things, that’s out of context)

So, speak English! It’s one way to connect with the world.

Conclusion of this chapter… Internet connects the world, English enables people to experience the world.

Culture

Culture is disappearing each day in the flickers of light from globalization, and honestly, through tourism, we can preserve the heritages left by the country. Take it from museums who have some of their guides require English Speaking capabilities, or have some of the English text on their displays.

Not only does English as a language helps us link and connect with other cultures, it also helps to make our culture more well known to the world, whilst indirectly enables our culture to be preserved, and not getting… “Swallowed” by other cultures. Because there comes a time where we must influence instead of getting influenced. And to influence, you would need a language to connect with everyone.

To influence is to lead, to be influenced is to follow.

Other than culture preservation, tourism enables a country to gain income, and of course, income is always a need, be it for a person, or a country.

Now, of course, leading is a good thing, and should we spread our culture, and “influence” other countries through our culture, following isn’t always a bad thing. There are times when we really do need to follow, and sometimes, we’ll have to deal with following.

And once again, we can’t share our own culture, nor experience a slice of other cultures without a language that should easily be introduced to countries. Of course, when you really want to learn about a culture, language is a crucial part of it, but when we want to experience slices of experiences, a global language would be most helpful.

Therefore, to conclude this part… Culture must be preserved, and shared, share it through a universal language.

Universal Language

Closing the conclusion of culture, we’ll move on to reason number 3, a reason that’s important, of course, but when you only give it a brief look, it’s no different than reason number 1, or number 2. Therefore, I’m discussing this.

In Star Trek, every species to join the Federation must be able to speak English, and fun fact, Lieutenant Uhura speaks 200 interspatial languages. Now, the only species that I know of to not speak English are the Klingons, course, they’re Klingons, and with their “Remain pure” stuff… The Klingons do have a right to not speak English.

On topic… When you take your time to get more than one look in Star Trek, the Universal Language is still… ENGLISH. And in our scale, for now, the language that citizens of Earth, or perhaps Humans as a species use to communicate is… English.

Can we agree?

Now, as to why this is different with the Intercommunication topic in the first paragraph… This sees English as a noun, whilst intercommunication is a verb, a process where English helps people communicate… Now, English isn’t a process, at least not in this paragraph. It’s an identity. It’s proof. Proof that you are… indeed, a citizen of Earth.

Does this mean that English is something people must speak English to be a citizen of Earth? Course not, but to be honest, why shouldn’t we speak English? I’ve heard people complain about patriotism, while truth is, it’s a matter of post colonialism trauma and not exactly a loss of patriotism.

For now, I’ll let you think as to WHY you’d not want to speak English, because right now, it appears to be more than a demand, or a skill… it’s a need.

English Completes Me

In an overkill-y sense, English is a language that completes a person. Why is that? Is this person so… “hopeless” he or she can’t find a spouse or partner, so they use English instead? PFFT… No, not really.

Currently, English is the most complete language, containing many words that newborn languages don’t have yet. And for some intellectuals, or people who wants to speak in a very comprehensive manner, using English is probably one of your best bets.

Since making a complicated sentence isn’t quite easy when you know a word, but you don’t know it in other languages, that’s basically why English exists. This universal language enables you to find newer words, and then discover their meaning, or perhaps “make” a word in your own language.

Isn’t that rather enjoyable?

Though, please note that this doesn’t necessarily mean you can only speak intellectually in English, it just makes it easier… And of course, don’t forget to respect and love your own culture and language… It’d be quite a pity to actually use English as an excuse to not know some words in your own Language…

That does happen to me though, sometimes I know the English word, but not the Indonesian word… Happens.

Concluding this chapter… Consider English as a very complete Language, and it’ll help you complete your own language. Respect both, and love both… Especially your own.

Special Thanks

Before we conclude, special thanks to… (in no particular order)

Taman Bahasa, for the spirit of all the members and ideas there, young and not so young… Your spirit and consistency amazes me.

LEDS, for the countless debates and all the knowledge, chats, arguments and news there… Your creativity in topics constantly intrigues me.

Capetang, for the conversations, and chats to keep me satisfied, and to learn new things once in a while… Thanks for the Public Relations and how you care about the community and their English speaking skills.

Now it’s time to conclude…

Conclusion

So, to conclude today, how, oh how, does one speak English… 1 word… PRACTICE!

English is best learned through practice, and through interaction, not through formulas in textbooks. What is this, math?

Language is an art, and according to many cultural studies, art is best learned through practice. Of course, theories help, but if we don’t use all the theories we gained, our skill would be very limited, and they’d be… borderline useless…

So therefore, practice, practice, and practice! With help, you’d be able to speak English pretty fluently…

In fact you can try and join some of the communities I thanked there…

LEDS has its meeting during Saturdays at Baltos’s Top Floor in the foodcourt, starting from 16, or 16.30. Please come on time, otherwise you’ll miss some funny chats, or theories onto how you could, or should debate. Search LEDS in Instagram for further details, and please contact through the account.

Taman Bahasa holds its meeting Every Sunday from 8.00-10.30, it’s okay to come late… though you’ll miss some intriguing conversations. Held at ITB, right across the main entrance you’ll find a banner. Taman Bahasa has a Facebook fanpage, you can find it on your own 🙂 .

Capetang has its meeting Every Thursday, starting from 15.30, and again, it’s okay to come late, and its held at Taman Sejarah. Usually Capetang is bombed to the world through Humas Bandung’s Instagram account, so you can just check it out…

It doesn’t really matter who you are, where you’re from or what you did on all of these 3 communities, just come and practice your English…

Until next time of course, good night 🙂

Weekend Debates: E-Sports, Independence and Profit

Weekend Debates: E-Sports, Independence and Profit

Once again, ada serial baru…

It seems to me like… Kalau di serialize ngebikin konten on a daily basis ga bakalan terlalu pusing…

Anyways, on topic

Weekend Debates are a series of articles published on a Sunday, discussing whatever topic I debated yesterday on my Debating Club

Well, aku juga nulis ini untuk membantu promosiin klub debatnya ya. The debate is full in English, and if you wanna try and practice your arguments just come.

Informasi dilanjutkan dibawah… Untuk sekarang bisa baca artikelnya aja dulu. Btw selain intro and outro yang di Bahasa Indonesia sisanya akan ditulis di Bahasa Inggris ya…

So… E-Sports

Ini topik ku! Anyways, dengan Hype pada 2022 bakalan include E-Sports sebagai Olympic game, Debat kemarin membahas ini…
Motion: The House Would NOT Include E-sports in the 2022 Olympics

Definition: The so called sports would not be included in the Olympics at the year 2022 if they involve computers, and utilize the brand of a game outside of an actual sport that is brandless.

Main Arguments:

  • E-Sports should never be included in the Olympic games because they are simply a marketing tool for companies to have players join the game.
  • E-Sports should also never be included because they do not have its players engage in physical activity, or detailed thinking the way a real sport does, and the way chess does force its athletes to think.
  • In addition to the definite fact that E Sports will never be a sport, there will also be an additional fact that this enables kids to dream they can play in a competitive level, whilst their definition of practice is basically making their brains less reactive to things outside of a game.
  • The previous argument cannot be applied on physical games because at the very least, if you exercise all day you’ll be healthy. And being a healthy person is a good thing. The same doesn’t apply for Online Games.

Questions and Interruptions :

Unfortunately none, since every other community member was a bit confused as to why there’s an Electronic Sports Olympic. This debate could be a bit more fiery, but there’s more to come.

Therefore I concluded immediately

Conclusion:

E-Sports will never be a sport because firstly, a sport is something that basically trains you to be a better person, there is nothing that you can gain by “practicing” all day when playing games.

In addition to that, this will bring a very bad image for future generations when all they get from the names of their athletes as Online Usernames, and not ACTUAL Athletes like Taufik Hidayat or Bambang Pamungkas as their role models.

Also, face it, Electronic Sports are a mere marketing tool, let’s not give the companies a practically free marketing tool in an event as big as the Olympics.

Regardless, I truly hope E-Sports will never be included in the Olympics thanks for listening.

Kay, jadinya sih, Debate mengenai E-Sports ini diubah jadi artikel… Semoga bisa ngerti… Btw itu conclusion nya overextension karena aku kepengen dan ngarep dapet pertanyaan. Tapi tetep we ga dapet.

Sayangnya debat pertama hari ini kurang seru karena kurangnya interupsi. Debate number 2!

Profit Based Colleges.

Topik ini dibawakan oleh Kakak Alfira… Jadi aku ga tahu research dan lain-lainnya gimana. Perspective akan ditulis sebagai opponent

Motion: The House Would BAN profit based colleges

Definition: A profit based college is a college that doesn’t need a test for it’s acceptance, or one with a relatively high acceptance rate. Whilst the college would also charge for a high amount of investment to enroll there.

Main Arguments:

  • From her experience, Kak Alfira has stated that she’s seen numerous amounts of people who go to a so called good college, only to spend their times fooling around. These profit based colleges are basically filled with spoiled kids.
  • These spoiled kids who don’t learn properly also have a chance to misuse their degree, for instance if they become a doctor, it will be more likely for them to malpractice because of they’re incompetence.

Question from me, interrupting…

Now, you’re saying that these spoiled kids would actually practice things, but there is a huge probability that the parents are just doing this for family pride… Could I hear your thoughts on that? Since I heard that there are a lot of graduates from Unpad’s medical school who are only called doctors by their parents. They don’t even practice.

Answer:

It is true that things like this do occur for family pride, but I’m only using doctors as an example. There are other fields who would enable these rich spoiled kids to get a job because they’re enrolled in a good university, whilst there should be other people that are maybe smarter than this enrolled person who’s a better candidate for the job.

Back onto main arguments

  • I would like to give an example of a profit based college, for example *censored name*, who… From my friends experience, most of the students there only laugh around and don’t take class seriously. Things like this are a very bad example for that generation. We should let someone pay amounts of money just to graduate.

Question… Again, from me

I’ve also heard that *censored name* has actually created good graduates, so long they can generate enough quality to keep up with the investment, why should you ban them?

Answer:

It is true that they could create good graduates, but if we’re talking about the majority of people who go there, it’s those who fool around.

(I’m relatively satisfied with the answer and allows Kak Alfira to proceed)

Back to Main Arguments

  • Lastly, another good argument for the banning of profit based colleges is that there are many non profit colleges that are able to generate much more better graduates than these expensive ones who are just a bunch of rich people paying for their degrees.

Conclusion :

Profit based colleges set a bad example for a generation, because ot somehow enables rich families to give education that some spoiled kids don’t deserve, and the other kids of the same year enrolling should also get the quality of the educators in profit based colleges even if they couldn’t afford to enroll there.

Hopefully you understand why I would like to ban these, and thanks for listening.

Waw, nah kan kalau dipotong potong rada lebih seru ya… Langsung aja deh ke debat ke 3

Separated

Topik ke 3 ini dibawakan oleh Kak Rio dari ITB, langsung masuk aja deh… FYI ini sedikit lebih pendek dari yang lain.

Motion: The House Would Allow Provinces or Regions to Separate themselves from countries and be independent.

Main Arguments:

  • There are many regions that are isolated from others and don’t get the amount of infrastructure building that they deserve.
  • These regions also tend to create more resources than some other provinces or regions inside a country.
  • I believe that it would be better for them to be independent so that they should be able to manage their resources on their own without needing to rely on the country to give them resources. If they’re independent from the country, they should be able to manage themselves and have their own share of resources
  • Of course, they would have to be economically independent unlike Timor Leste when the country separated themselves from us. It would also be better if the province would only split up after a majority of the citizens do agree with that change.

Questions:

FYI we didn’t interrupt this is just a pre conclusion session of questions.

  1. What if a country choose to not allow the province to be independent because they are not economically able to stand on their own feet?
  2. What if a country choose to not allow the province to be independent because the country still needs the resources from the province?
  3. Lastly, what if the citizens there have been given many resources and enough infrastructures from the country but they still want to be independent?

Answers from Kak Rio

  1. Like I said, they should be able to rely on themselves before they should be independent, the definition isn’t there yet, but I am certain that they should at least have something to offer the world, like for example Oil (Riau has Oil) , or Gold (like Papua)
  2. That’s the exact thing we’re avoiding here. The selfishness of countries. That’s what this debate is generally about.
  3. Its their right and a minor loophole in my system, but I think they should at least repay the infrastructures built by the country, and the country should be transparent with the cost to make the infrastructures or the resources given.

Conclusion:

I believe we should get rid of these selfish countries and let provinces be independent so long they are capable to do so. This should be done because countries really deserve the right to have their own ability to manage their own resources without being chained by some country above them

Topik debatnya hanya 3 hari ini, karena umm, yang dateng cuma bertiga plus master debate-nya…

Promotion, and Details

Kalau mau iseng cobain belajar Debat, di Bandung sendiri, ada komunitas Debate bernama LEDS yang ada di Baltos, lantai 3 di Food Court.

Setiap hari Sabtu, jam 16.00-selesai.

Untuk contact person, bisa kontak nomor ini… +6282118719158

Ini bukan promosi, aku cuman pengen share aja pengalaman debat tuh gimana sih, karena seru kok!

Hope you enjoyed this article…

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Foreword Kuliah Jaja, Preview Series

Jadi kalau ada yang penasaran urusan kuliah-kuliahanku, (Iya, kuliah-kuliahan) bisa cek disini.

Sejak pertengahan Agustus aku setiap hari Selasa ke ITB untuk Sit-In di Kuliah Pak Budi Rahardjo, dosen ITB yang aku kenal di Fakultas STEI, singkatan untuk Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, karena singkatan lebih catchy daripada nama lengkap.

Selama 3 bulan terakhir, aku menjadi sit in, dan ikut Kuliah Pak Budi, dengan tujuan mencoba rasanya kuliah tuh gimana sih. Thoughts awal saja, aku senang banget nyobain kuliah bareng Pak Budi, karena aku bisa ngerasain sebenarnya kuliah itu gimana.

Di sini aku mau tulis sedikit foreword dan apa aja yang dipelajari selama 3 bulan terakhir, mungkin dalam 2-3 minggu, setiap kuliah yang aku ikuti akan ada tulisannya, dan kerennya gaya Pak Budi menjelaskan sesuatu, lengkap dengan analogi andaikan sebuah sistem komputer adalah bagian dari dunia nyata, dan dengan pembawaan yang santai.

Ini sebenarnya hanya introduksi ke Web-Series yang akan aku kerjakan, semoga tertarik mengikuti Web Series itu ya!

Thanks to Pak Budi sudah mengizinkan aku sit-in di kuliahnya.

Software Security

Jadi ada 3 Mata Kuliah yang aku ikuti, (kodenya tetep aku ga bisa inget tapi meski sudah 3 bulan ikut) Ini adalah salah satunya, dan sebenarnya udah ketahuan dari judul artikelnya, mata kuliahnya membahas Software Security.

Apa Sih Software Security?

Karena ada kemungkinan pembaca orang awam, aku mau buka dulu sedikit tentang apa itu Software Security.

Sepertinya analogi akan sedikit lebih membantu, karena sejujurnya aku belum bisa menyusun kalimat untuk orang yang belum baca secara mendalam tentang subjek ini, padahal Security untuk software ini sudah sering dijumpai (dan digunakan) di HP atau Komputer yang sekarang dipakai untuk membaca artikel ini. Oh iya, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.

Andaikan kita mempunyai dokumen yang berisi informasi penting, dan identitas diri kita, karena siapa yang ga punya… Kalau kita asumsikan Internet adalah public space, (which it is, banyak orang kira karena bukan face-to-face kita bebas mau bilang apa aja di Internet) informasi private yang kita kirimkan ke Internet tidak difilter jika kita menggunakan software atau aplikasi tanpa security. Metodenya sebenernya ada banyak, yang akan aku bahas dalam beberapa minggu kedepan.

Kalau analogi diatas belum masuk, aku mau pake analogi Rumah. Analogi rumah sangat kepake dalam urusan security. Semua software yang kita pakai adalah barang berharga di rumah kita. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga barang berharga tersebut sih?

Bisa mulai dengan bikin pagar, yang dikunci dengan gembok, jika rumah kita tidak terlalu butuh penjagaan karena kurang berharga.

Untuk security yang lebih berat bisa ditambah dengan mengunci pintu, lengkap dengan slot yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Jika barang sangat penting (misal emas, kunci mobil mewah, atau sertifikat rumah), kita bisa beli brangkas, atau untuk overkill bisa ditambah fingerprint scanner untuk mengamankan benda tersebut.

Jadi semakin penting sebuah barang (atau dalam kasus software, informasi, bahkan to some extent, payment, dan autentikasi), semakin tebal line of defense software, atau benda tersebut.

Aplikasi seperti Gojek, yang mempunyai sistem E-Money, bisa memancarkan lokasi kita, dan punya identitas kita, pastinya butuh security lebih banyak daripada aplikasi Game-game Puzzle yang bisa dimainkan tanpa internet.

Jadi sebenarnya Security di aplikasi udah seringkali kita pakai dan gunakan, tapi mungkin ga ngeh aja, padahal kalau ga ada Security di aplikasi atau software yang kita pakai, data privat kita akan mudah sekali bocor, dan dibaca secara publik.

Apa aja yang dibahas sih?

Well, selama 3 bulan terakhir (bentar lagi UTS, aku gak ikut tapi), Pak Budi membahas step by step cara dibuatnya sebuah software sampai tepat Selasa kemarin membahas apa yang perlu dilakukan pada software yang sudah diluncurkan agar keamanannya tetap terjaga.

Pak Budi membahas mulai dari planning sebuah software, dan info bahwa security sudah harus dirancang dalam blueprint software yang akan dibuat, sampai arsitektur (or desain, tapi aku suka perumpamaan), sebuah software secara detail.

Pak Budi juga menyelipkan enkripsi dan metode-metodenya sebagai snack sampingan. Sebenarnya materi enkripsi diselipkan karena tahun lalu ada mata kuliah mengenai itu, tetapi dihilangkan. Jadi Pak Budi membuat materi satu semester dibuat compact menjadi materi 2 minggu.

Pada satu pertemuan, ada special guest datang untuk memberi sedikit insight untuk mengetes security sebuah aplikasi, dan memastikan bahwa aplikasi yang dideploy sudah aman dan tidak bisa ditembus lagi. Basically kita mencoba jadi maling dan berusaha merampok diri kita sendiri, tapi untuk software.

Karena Security atau pengamanan sebuah benda dilakukan untuk memastikan tidak ada maling masuk, maka identifikasi jenis kemalingan dan maling-maling Pak Budi juga menyiapkan satu sesi khusus untuk menjelaskan jenis-jenis pencurian dan pencuri ini. (Ini sebenarnya ga bisa pake analogi, soalnya jenis maling gak terlalu banyak, tapi untuk Software, banyak sekali)

Overall satu semester bahasannya di kisaran hal-hal diatas, tunggu artikelku ya!

Incident Handling

Untuk mata kuliah kedua ada Incident Handling, kisarannya juga mirip-mirip dengan Software Security, dan dilaksanakan di ruangan yang sama.

Incident Handling 101

Jadi, seperti Software Security, Incident Handling berada di daerah Security juga, tetapi jika Software Security membahas metode mencegah sebuah kebocoran data, atau eksploitasi Software, Incident Handling lebih diarahkan untuk apa yang perlu dilaksanakan agar sebuah insiden yang gagal dicegah Security dasar sebuah software tidak berpengaruh terlalu banyak dan memastikan adanya recovery sesudah diserang.

Kalau bingung dengan tulisan rada-rada… membingungkan (sorry, ga nemuin kata yang lebih cocok) di atas, aku mau pake analogi perang, dan andaikan masih belum mengert, kita pakai rumah saja agar tidak terlalu pusing.

Jika dunia ini mendekati perang, peran Security adalah memastikan dunia berdamai, mungkin dengan membuat campaign dan meeting netral sambil membuat Peace Treaty. Security hanya bisa diapply untuk kondisi andaikan belum ada perang.

Jika perang sudah breakout, atau sudah terjadi, kita harus ke Incident Handling, sebenarnya bukan cara memenangkan perangnya, tapi cara agar sebuah pihak sesudah perang bisa recover dan kembali stabil sebagai negara. Kecuali jika perang Ragnarok, untuk itu maaf, dunianya sudah rusak, tidak bisa dibenarkan sejago-jagonya orang yang Handle Incident tersebut.

Jadi, sesudah membaca ulang tulisan sendiri, orang yang meskipun kurang familier dengan dunia IT, setidaknya kebayang lah ngapain orang yang Handling Incident.

Jadi jika sebuah perusahaan yang mempunyai Software A diserang dan datanya diambil, maka agar lubang yang sudah dibuat dan biasanya disebarluaskan juga, karena banyak Black hat Hacker (Hacker jahat) yang suka bragging kalau mereka sukses hack suatu sistem, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Biasanya user software atau aplikasi tersebut juga complain kalau data mereka diambil, dan ada kebocoran disistem, apalagi kalau Credit Card dibobol, itu komplainnya pasti parah. Sayangnya kuliah Incident Handling tidak membahas cara mengatasi orang-orang yang complain, karena itu pasti kepake banget untuk mengatasi orang yang complain…

Untuk hal-hal seperti itu, bukan IT, tapi lebih ke life skill, jadi kuliahnya tetap on-topic.

Stating the obvious, semakin besar insidennya, semakin besar usaha yang diperlukan untuk me-reverse attack itu, dan juga untuk patching (atau membenarkan). Contoh kasus mungkin saat mesin ATM sebuah titik mati, jika hanya 1 yang mati, bukan masalah besar… tapi kalau sampai seluruh branch ATM itu mati world wide, aksi yang perlu dilakukan tentunya lebih banyak dan lebih drastis.

Side note: Sebuah insiden yang bukan serangan dan sama sekali tidak bisa dicegah tetap perlu dihandle, mungkin tidak dengan cari penyerang dan patching software, karena tidak ada, tapi dengan memastikan sistem online kembali. Contohnya jika satelit yang memegang semua data dan koneksi televisi meledak atau entah kenapa, intinya rusak, tetap harus dicari apa yang

Jadi… Apa yang dibahas?

Apa saja yang dibahas… Banyak…

Kisaran pembahasan mulai dari hal simpel seperti definisi dan step by step mencari solusi ke sebuah serangan, sampai ke hal yang kompleks dan susah dilakukan seperti cara membalikkan sebuah bug exploit agar data tidak keluar sama sekali.

Pak Budi menjelaskan mulai dari cara mencari sumber serangan, karena informasi siapa yang menyerang sangat penting untuk narrowing down motif, dan juga penangkapan di dunia nyata, tapi itu urusan polisi.

Selain itu ada beberapa metode komunikasi alternatif yang perlu dilakukan jika sebuah insiden sudah terjadi. Untuk kenapanya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya, tetapi jika komunikasi sudah terkompromi (biasanya serangan skala besar), metode komunikasi biasa seperti SMS, WA, atau Telepon tidak cocok lagi untuk komunikasi hal-hal yang sensitif.

Pak Budi juga masuk ke Sejarah dan contoh penyerangan yang sudah terjadi, karena sebenarnya ada beberapa teroris yang memanfaatkan rusaknya metode komunikasi untuk menyerang agar lebih sulit mencari bantuan. Bahkan ada beberapa teroris yang merusak hardware (misalkan tiang telepon agar telepon tidak bekerja) demi mematikan metode komunikasi.

Sama seperti Security, jenis serangan yang sering dilakukan juga dijelaskan, dan caranya mengatasi issue tersebut, secara detail juga dijelaskan serangan skala besar dan skala kecil.

Sepertinya kisarannya masih ada lagi yang masih bisa ditambah, tapi biar penasaran cukup disini deh, semoga kebayang apa itu Incident Handling ya.

Introduction to ICT

Information and Communication Technology, itu singkatannya, karena seperti STEI di atas, singkatan lebih catchy, tapi ada saat aku bingung singkatan sebuah benda, dan sering ketuker-tuker antara 2 singkatan yang mirip. Anyways, ini mata kuliah terakhir, yang sebenarnya aku paling banyak kelewatan karena mencari bangunan yang berbeda saat minggu pertama kuliah, dan pernah juga terdistraksi ada kuliah umum di jam yang sama (hanya sekali sih).

Info on Information and Communication Tech

Ini 101 banget sih, kuliahnya juga terkesan lebih simpel dari yang kedua sebelumnya. Kuliah ini membahas progress-nya komunikasi, dan by definition, adalah extension dari IT (singkatan information technology), tetapi lebih membahas secara spesifik ke komunikasinya, dan bagaimana kita maju dari komunikasi via telepon rumah ke sekarang.

Tampaknya sebenarnya ICT tidak perlu dijelaskan dengan terlalu detail karena meskipun tidak familier ke dunia IT, komunikasi via Internet, atau dengan Pemancar dan sinyal HP sudah cukup dimengerti. Regardless, tetap aku lakukan, karena aku suka menulis 😀 .

Aku mau membahas contoh yang pastinya semua orang sudah tahu, karena sebenarnya aku sedikit lupa definisi resmi yang Pak budi berikan (maafkan pembaca, aku juga kecewa pada ingatanku ke definisi, sampai-sampai aku lupa). Contoh paling mendasar adalah Internet, yang merupakan salah satu teknologi terpenting dan paling sering digunakan di zaman Millenial ini.

Selain itu, untuk komunikasi dibutuhkan 3 hal penting. Pengirim, jembatan (atau istilah lebih tepatnya sebenarnya domain, metode, atau media), dan penerima. Internet itu sudah jadi media paling utama di abad ke 21 ini, dan untuk device pengirim dan penerima sudah banyak sekali, karena sekarang dengan adanya sosmed, kita tidak hanya mengirim sebatas ke satu penerima, tapi bisa ke semua friend list kita (or kalau kita selektif hanya beberapa, just a thought).

Jadi sebenarnya penerapan dari mata kuliah ini mungkin yang paling sering dijumpai oleh siapapun, karena berdasarkan data ada 3.000.000.000 orang yang sudah terhubung ke Internet

Yes, this article that you’re scrolling with your mouse (or keyboard), or maybe if you’re using your phone, swiping with your fingers… is indeed the result of ICT.

Spoiler ICT

Mata kuliah ICT berkisar dari metode, transfer data dan komunikasi in general.

Sejarah dan pembahasan zaman dahulu kalanya (sejarahnya) juga dibahas, karena ICT baru benar-benar melesat dalam 10-15 tahun kemarin. Dengan Internet penghematan juga banyak yang bertambah, hanya side note untuk orang-orang kopet 😀 .

Oh iya, untuk ICT ini, yang dibahas bukan hanya Software, tapi juga hardware-nya, karena sender dan receiver sangat-sangat rely ke Hardware. (bukan berarti hardware tidak dibahas di 2 mata kuliah sebelumnya sih)

Sedikit pemikiranku saja, tampaknya dunia kita makin melesat ke jalur efisien, portable dan ringan daripada efektif tetapi tidak mobile. Semakin jauh ke abad ke 21, Hardware makin kecil dan efisien.

Selain Internet juga ada beberapa metode lain yang dibahas, seperti cellular data (okay, this sounds pretty old to be honest) or well, 2G, tapi regardless, tanpa 2G pertama, kita ga bakal sampai ke 4G.

 

Well, sebenarnya preview series ini cukup sampai sini saja sih, terima kasih sudah mau membaca trailer seriesku ya (of course, jangan jadi orang yang nonton trailer tapi ga nonton filmnya soalnya trailernya kurang wah). Sampai berjumpa di artikel ku dan “episode” pertama serial ini

Side Note: aku sebut serial karena aku juga doyan nonton serial, dan juga gak salah kan?

Jaja’s Opinion on Millennials, and Tech Myths

Jaja’s Opinion on Millennials, and Tech Myths

Disclaimer: My opinions are not from a professional, but it’s considerable. Also, consider this a debate, and if you disagree, do comment your arguments.

Introduction:

Most teenagers in this century, or also known as the millennial generation, are commonly referred to as natives in technology, whether this is a good thing or not is debatable, as it depends on the common usage of technology by teenagers. As for the children born in this century, after seeing some of them, I personally think their parents are misusing technology to parent these children using a gadget, which is definitely not a good thing.

Teenagers:

Tech Savvy Teenagers, Is it true?

Firstly, I don’t think that most teenagers in Indonesia could comprehend how a program even works, and their knowledge is limited to using software, while it is still possible to learn how software could work. Sure, they check social media much more often and are way more updated in terms of information. But do they really stand out in terms of things other than usage? I’d answer no.

They might send like a hundred posts a day on Instagram, or make a million amounts of stories in a month. Adults still could do that. They just don’t want to, or maybe they don’t have the time. Yet us teenagers, those that do have the time, spend it posting selfies, or looking for memes on Instagram, who by the way is also too lazy to look for funny memes in the right place… Reddit. Unfortunately, Reddit is blocked in Indonesia, so if you want to look for memes there, you need a VPN, which would take time to set up, and not many teenagers even know how to set up a VPN service.

For example, a common thing I see from my elementary school friends, now in Middle School is using filters, to have a doggy ear and tongue, of which I disapprove cause… EW! what’s that? Do you know how that even works? I haven’t really asked anyone whether or not they know how this works, but maybe if I have time I’ll give it a shot at researching this. Without any research, I’m sure a majority of users don’t even know how that works.

To me just the ability to use something does not really mean comprehending, and so, teenagers (the common one) have a slight advantage when compared to the non-Tech Natives

Their slight advantage comes from their more updated ability to keep up with the latest news, and of course, younger brains work faster. In fact, I’m sure there are much more adult programmers than younger ones.

“Socializing Via Nongkrong”, Is It Still True?

Honestly, this isn’t a myth, it’s my observation… First of all a bit of an apology from me cause I used the phrase Nongkrong, which isn’t formal, but since this website post isn’t supposed to be that formal, I’ll keep it that way.

In the 21st century since phones have been invented, well, I’ll let a popular biscuit logo talk, and tell you about it.

This is supposed to be a joke, but somehow I think it’s true… Also, not my image, found it online, Babah told me that awhile ago and I remembered about this article, so I thought it’d be a fun correlation.

Now, when Bubi was a teenager, she did say she liked to hang out with her friends a lot, and I can’t really blame that, I mean they are teenagers. But back in Bubi’s time, they used to spend their time talking, and at the very least, they’re still involved with one another, meaning they are socializing, regardless what kind of topics they are actually talking about. The social interaction still exists.

Now, that Khong Guan image will become a fact… As I’ve seen with teenagers, they end up playing with their phones, doing a separate activity, and ignoring each other. Almost every High School student, or some Middle School students ask me how I socialize, and how many friends I’ve got. If I wanted to be a jerk, which is bad for image, and might prove them right, I’ll tell them, I’ve got friends that I do socialize with when we’re together, even when we aren’t we still talk, and I have friends I actually talk with. Sorry… i don’t mean to be rude, but sometimes, people do things without even knowing a bit on the subject.

Bubi told me several times why hanging out is now pointless… It’s phones, blame them, PHONES ruin the definition of socializing and playing for teenagers. OK, well I don’t do sports, but seriously, you’ve got friends, talk to them, don’t chat with them. The ability and wording while writing and speaking in a direct conversation is clearly different, if we don’t stop to talk, then teenagers would just lose the ability and life skill to properly form words in a direct conversation.

So, thanks to phones, we’ve just lost one possible activity, that could’ve been a discussion of ideas, and could be something useful. Thanks a lot! (of course, I’m not ignoring the function of smart phones entirely too, they are still useful)

Children:

Does YouTube Really Teach Children?

Okay, first of all, I hear lots of parents make excuses when someone tells a parent that YouTube is bad. Some of the excuses include that they learn about science and other things when watching YouTube. Let me ask… What would a 3 year old or maybe slightly more, like a 4-5 year old, would really benefit from YouTube? They don’t need science yet right? Besides, long term memory (on most children) won’t stick too well until you are about 6.

For the record, Alice never watches YouTube, yet she plays board games fairly well, has a lot of words in her vocabulary, is very active as a child, and loves reading books.

When I meet babies around her age, I immediately see a difference between those that do watch YouTube, and those who don’t. Hold on, before some of you say that it’s just their personality, some versions of developmental psychology states that children are empty slates, and every action we do is basically drawing on that slate, giving them personalities.

Those might be some personal examples, but if we are talking on a more scientific and global way… in case you didn’t notice, the amount of people with Speech Delays has risen up a lot this century, and if we look at the most important inventions people use for children in this century, its Gadgets, and GMO Foods. Blame GMO? Okay, I can’t really correct opinions, but I mean, not everyone eats GMO, but a majority of people uses YouTube as a parenting method.

So, does YouTube really teach children? Nope, think of a better argument to give gadgets to a child, don’t say it’s educational until you really have proof it’s educational.

Maybe YouTube parenting isn’t as bad as the Greek Gods and Titans when they are parenting, but it’s probably just under the list a bit.

You Don’t Want This… Trust Me

Negative Effects of YouTube Parenting

So, I have shared my basic argument on this subject, but what are the negative effects?

So, in the 21st century, a lot of things have changed in terms of children growth, and speech delayed, and tantrum-y children have risen up in numbers, I believe it’s YouTube parenting’s fault, but again, assume it is a debate and disagree with an argument.

Now, a couple of talks with Babah and Bubi, reading Psychology books, and observing some of Alice’s friends, have given me some of the negative effects, based on my opinion, with a supporting agreement to accompany.

  • Speech Delay
    • Delayed Speech is pretty straightforward, usually, if a child couldn’t speak at the age of 3 or 4, or lacks vocabulary and pronunciation skills.
    • YouTube doesn’t teach proper pronunciations, and is often times meaningless, unlike reading a story book to your child.
    • YouTube’s constant changing pictures really distract your child from focusing on the meaning, so even a good video; can really disrupt linguistic skills growth.
    • YouTube is a one way conversation, the child watching YouTube doesn’t even have to say a word, or interact with it to gain full benefits, in fact, the video amounts on YouTube is endless, a child could watch all day without a problem.
  • Loss of Appreciation on Things
    • A child would begin losing appreciation on anything unlike YouTube; they would dislike anything because they have insanely high expectations on entertainment.
    • YouTube is fairly memorable. Children would see YouTube as their basic standard of entertainment. Anything not YouTube is ugly, because YouTube itself is already something very eye-catching.
    • So, this means after a child is addicted to YouTube, then chances of rehabilitating that would be hard.
    • For adults YouTube is more OK (I didn’t say this is a good option, just an OK source of entertainment) because we already have a general view on nicer and less nice things (I meant this as in quality)
  • Less Active Children
    • This doesn’t always lead to bad things, as some basic personality could affect this and make children more silent and quiet. But most children affected by YouTube tend to be less active and move less than those who don’t.
    • Let’s say being an active baby is like doing a job. While being an inactive baby that can lie down and watch YouTube all day is basically a lazy day for employees. If you’re the baby, what would you choose? Don’t lie, of course you would be lazy and chill if it is possible.

Conclusion

Well, firstly, thanks a lot for reading, I might want to start on the fact, I’m a bit sorry this article is pretty short, regardless, I hope it’s useful, if you disagree with me, please leave a comment down below, and don’t forget to subscribe to our newsletter.

OK! That right there is how YouTubers usually close a vlog… (I watched a bit of YouTube, usually those regarding Superheroes, I’m a geek). Now, that, cannot be implemented on a writing or a conversation can it? Of course not, the wording should generally be different, and that just won’t work.

The future isn’t gonna be filled with robots who do the work for us, people would need to interact with each other, and one way conversations, or chatting just won’t work when you want to speak in public, or have a presentation. I personally don’t see a single possible reason why teenagers are actually wasting their time in social media, and doing their definition of socializing, but don’t change the current definition, please just do not.

World Ozone Day. Jaja’s Report

World Ozone Day. Jaja’s Report

Prologue

Jadi, kemarin lusa, tepatnya tanggal 19 September kemarin, aku datang ke ITB untuk seminar memperingati hari Ozone sedunia. Sebenarnya sih, hari Ozone sedunia itu tepatnya tanggal 16 September, tapi seminarnya diadakan hari ini karena beberapa alasan yang tidak disebutkan (Which aku yakin salah satu alasannnya karena tanggal 16-nya hari Sabtu :D)

Sambil Menunggu, Foto Dulu

Aku datang pukul 8.45 sudah daftar dan masuk barisan paling depan, tepat sebelah pembicara (aku awalnya ga tau sih yang sudah duduk dari jam 8.45 itu pembicara juga). Lalu foto dulu sekali deh.

Anyways, seminar ini ada 2 pembicara, yaitu, Dr.Eng. Yuli Setyo Indratono yang merupakan direktur bidang pendidikan ITB, dan Ibu Ir. Emma Rachmaty M.Sc yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pak Yuli membahas hal-hal scientific dari Ozone, mulai dari apa itu ozone, sampai ke bahan-bahan kimia yang membahayakan Ozone. Ibu Emma bahasannya lebih condong ke hukum-hukum yang meregulasi Ozone, dan progress Indonesia dalam menyelamatkannya.

Pak Yuli mulai menjelaskan duluan, baru disusul oleh Ibu Emma…

Apa Itu Ozone?

Ozone itu sebenarnya istilah dari rumus kimia O3, yang sebenarnya hanya 3 molekul oksigen. Oh, tapi Ozone ini beracun, jadi jangan menghirup tabung berisi Ozone. Off-topic dulu… molekul oksigen memang bisa kita hirup, tapi kita tidak bisa menghirup lebih banyak dari 2 Molekul, jadi kita hanya bisa menghirup O2, karena satu molekul oksigen itu tidak stabil dan sangat flammable. Alhasil kita benar-benar hanya bisa menghirup O2 saja, jika tidak ingin keracunan, atau terbakar tubuhnya, untungnya itu jenis oksigen yang kita punya di bumi.

Mundur lagi dikit sebelum kita masuk ke topic utama… Ozone itu hampir tidak ada hubungannya dengan Global Warning. Ada miskonsepsi bahwa lapisan Ozone gunanya untuk mencegah Global Warning, dan, sesuai istilah miskonsepsi, itu tidak benar.

Ozone berfungsi untuk memfilter sinar UV-A, UV-B, dan UV-C. Sinar Ultraviolet yang masuk ke bumi bisa merusak sel kulit dan menyebabkan Melanoma/Kanker kulit, dan juga Katarak. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Global Warming, meski ada beberapa gas perusak Ozone, yang juga merupakan gas rumah kaca, tetapi itu nanti dulu deh.

Proses pembuatan dan pemecahan Ozone

Ketika partikel Ozone terpecah oleh sinar UV, Ozone-nya akan membentuk O2 (yang kita bisa hirup, yeay!), sebelum bisa terbentuk lagi Ozone-nya. Ozone terbentuk di daerah tropis, dan terbentuk dari sisa-sisa partikel O2 dan O dari pemecahan sebelumnya. Kenapa hanya bisa di daerah tropis? Ozone bisa terpecah jika terkena sinar UV, dan juga akan “menempel” kembali jika terkena sinar UV. Karena itu, daerah Tropis bisa memproduksi Ozone sepanjang tahun, tidak seperti negara 4 musim yang hanya bisa memproduksi Ozone ketika matahari kuat.

Anyways, Ozone ini punya “alergi” dengan Chlorine, dan Bromine, dan jika terkena kontak dengan salah satu dari kedua zat tersebut, lapisan Ozone bisa rusak karena molekul Oksigen yang terpecah tersebut akan menempel dengan Chlorine, alhasil, ya karena Ozone perlu 3 molekul, tapi jika salah satu molekul saja terpecah, maka akan kurang satu molekul untuk membuat Ozone. Jadi, buat setiap molekul Chlorine atau Bromine yang naik ke lapisan Ozone, satu molekul Ozone akan menghilang.

How Chlorine Allergy Ruins Ozone

Terus kalau udah hilang gimana? Silahkan lanjutkan bacanya 😀

Penipisan Ozone

Bagian Biru Adalah Lapisan Ozone Yang Menipis… Banyak Kan?

Jadi, pertama-tama, ada istilah Ozone holes, dimana jika ketebalan lapisan Ozone di suatu daerah sudah dibawah 220 Dobson Unit (satuan untuk mengukur Ozone), atau 2.2 mm, warna di model tersebut akan menjadi biru. Alias, sudah terbuat lubang Ozone. Foto diatas adalah foto Kutub Selatan dan Ozone-nya yang menipis di tahun 2008.

Jika Ozone sudah tipis, maka penyerapan sinar UV oleh Ozone akan kurang, dan jika sinar UV tembus, maka resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti Melanoma dan Katarak akan naik. Untuk sedikit info…

  • 100 % Sinar UV-A Memang menembus lapisan Ozone
  • Hanya 5% Sinar UV-B yang menembus lapisan Ozone, dan jika lebih dari itu, bisa berbahaya
  • Seluruh Sinar UV-C Terserap oleh Lapisan Ozone.

Jika sudah sangat banyak sinar UV yang menembus lapisan Ozone, kita harus memakai banyak sekali perlindungan agar aman dari eksposur sinar UV. Aku sebenarnya kurang ingat level perlindungan berdasarkan intensitas sinar UV, tapi untuk itu bisa dicari saja, dan untuk yang simple-simple bisa dimulai dari memakai kacamata hitam dan menutupi kulit dengan jaket misalnya ketika berjalan di terik matahari ketika diatas jam 10.00

Jadi, Apa Saja Yang Merusak Ozone?

Peralatan Ruman Tangga Yang Biasa Mengandung Substansi Perusak Ozone

Berhati-hatilah jika membeli beberapa barang diatas, karena masih banyak yang menggunakan bahan yang dapat merusak lapisan Ozone kita. Anyways, sebenarnya sudah banyak yang dilarang penggunaannya sih, tetapi jika mengecek ulang isi Freon untuk AC dan hal-hal lain, mungkin bisa dicek dulu. Karena jangan sampai bahan-bahan yang kita beli adalah barang ilegal… 😀

Ini daftar barang-barang ilegal yang sudah di-ban oleh PBB karena substansi ini merusak Ozone, ketika memilih barang, cobalah cari yang tidak mengandung satupun bahan ini, karena sudah dilarang secara internasional:

  • CFC-11, CFC-12, CFC-13 juga dikenal dengan nama Chlorofluorocarbon
  • Methyl Bromida
  • Methyl Chloride
  • Methyl Tetrachloride
  • Halon (H-1301, H-1302)
  • Methyl Chloroform

Dibawah ini akan ada detail ke protokol, program, dan perjanjian yang membuat PBB melarang bahan-bahan ini, dijelaskan oleh Bu Emma, yang meskipun terburu-buru karena perlu kembali ke Jakarta, sudah cukup mengcover tentang ini.

Comic Break!

Sebentar dulu… sebelum kita masuk ke Montreal Protocol, untuk merayakan 30 tahun anniversary protokol tersebut, ada kampanye dari PBB yang bekerja sama dengan Marvel… bisa di cek di ozoneheroes.org

Oh, dan juga ada komiknya, bisa di cek di http://read.marvel.com/#/labelbook/46539 dan dia gratis! Jadi untuk comic book geek kaya aku, bisa punya satu komik gratis, dan dengan gaya art yang sama seperti komik Marvel pada umumnya.

Hasil Kolaborasi PBB dan Marvel

Anyways, di komik itu dijelaskan (in a nutshell) apa itu Montreal Protocol, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Ozone, dan kenapa Ozone perlu diselamatkan. Jadi, silahkan di cek.

Oke, karena aku memang mengikuti alur presentasi, dan campaign PBB plus komiknya dijelaskan duluan, aku juga mau cerita dikit suasana di sana. Pas Ibu Emma mulai presentasi, Ibu Emma memulai dari menanyakan disini ada yang suka baca Komik Marvel? Aku tunjuk tangan… (dasar Jaja… :D) Lalu, Ibu Emma bilang bahwa sebenarnya beliau tidak mengerti karakter-karakter di komik ini kecuali si Musang dan Iron Man. Aku dengan sopan, menjawab, “Bu, itu bukan musang… itu rakun…” Ibu Emma langsung tertawa dan bilang “Hahaha, untung ada mas, Ibu mah gak ngerti ginian…”. Sesudah itu, baru Ibu Emma menjelaskan isi komik tersebut… which silahkan dibaca sendiri… (Tidak ada spoiler dariku, sorry)

Regulasi Bahan Perusak Ozone

Vienna Convention

Oke, jadi, sebenarnya konvensi pertama yang membahas bahan-bahan perusak Ozone ada di Konvensi Wina (atau Vienna Convention), pada tahun 1985. Di konvensi tersebut, PBB mengadakan meeting untuk membahas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penipisan ozone. Mereka memulai dengan meneliti bahan-bahan yang merusak ozone, dan juga bertukar informasi tentang Ozone yang sudah diketahui. Pada tahun ini, belum ada satupun Bahan Perusak Ozone (BPO) yang diregulasi, dan masih hanya tentang riset dan plannning

Montreal Protocol

30 tahun yang lalu, di tanggal 16 september, Montreal Protocol resmi ditetapkan. Pada awalnya, protokol Montreal sudah mulai mengatur dan membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozone. Pada saat itu, BPO yang di restriksi hanyalah 5 jenis Chlorofluorocarbon (biasa ada di AC, Pelarut, dan Busa), dan 3 jenis Halon (Biasa ada di Fire Extinguisher). Seiring makin berkembangnya teknologi, semakin banyak bahan yang diketahui merusak Ozone, kurang lebih progressnya ada dibawah sini…

  • London Amendment (1990): Jenis Chlorofluorocarbon yang dilarang ditambahkan, Carbon Tetrachlorida juga ditambahkan dalam daftar, dan juga Methyl Chloroform, keduanya banyak ditemukan di pelarut.
  • Copenhagen Amendment (1992): Hydrochlorofluorocarbon, dan Hydrobromofluorocarbon (Bacanya susah? *angguk*) ditambahkan dalam daftar BPO. Kedua bahan tersebut biasa ditemukan di Busa untuk sofa, atau bantal. Juga ada tambahan Methyl Bromida yang biasa ditemukan di Pestisida.
  • Montreal Amendment (1997): Penambahan licensing system untuk mengontrol dan memonitor produksi, dan export import BPO.
  • Beijing Amendment (1999): Bromochloromethane ditambahkan dalam daftar.
  • Kigali Amendment (2016): Karena ada sedikit “bentrok” dengan Global Warming, salah satu BPO pengganti yang lebih aman, di pertimbangkan ulang. Karena ada BPO yang juga merupakan Greenhouse Gases juga. Hydroflurocarbon adalah salah satu BPO yang cenderung aman untuk Ozone kita, tetapi dapat memicu Global Warming jika di overuse.

Oh, Iya, Ibu Emma juga bilang bahwa Indonesia tidak memproduksi BPO, tapi mengimpor beberapa yang Legal. Karena itu, di Indonesia kemungkinan lebih mudah untuk mencari BPO yang aman, tetapi, untuk precaution, disarankan untuk cek ulang daftar diatas sebelum membeli barang yang ada potensi merusak Ozone.

Sesudah ini, sesi pertanyaan, tapi Ibu Emma perlu segera kembali ke Jakarta, jadi untuk sesi pertanyaan dilaksanakan oleh Pak Yuli.

Questions…

Sebenarnya banyak yang bertanya, tetapi aku kurang ingat secara pasti pertanyaan Kakak-kakak mahasiswa, atau Siswa/i SMA lainnya, tetapi aku menanyakan, “Dari beberapa gas yang merupakan gas rumah kaca, dan juga BPO, mana saja yang termasuk dalam keduanya, dan menurut Bapak, seberapa jauh Bumi kita sampai kita terbebas dari konsumsi BPO?”

Tetapi, karena format pertanyaannya 3 orang bertanya baru semuanya dijawab di saat yang sama, pertanyaanku tidak seutuhnya terjawab, karena ada anak seumuranku dari SMA 3 yang menanyakan pertanyaan yang menurut Pak Yuli bagus karena hebat anak SMA sudah tahu itu…

Padahal, pertanyaan yang ditanyakan jawabannya sudah ada di booklet yang diberikan saat pendaftaran, dan memang, anak tersebut, sebelum bertanya melihat dulu ke booklet itu, dan menggunakan kata-kata yang lebih kompleks. Oh, iya, pertanyaan yang ditanyakan tersebut adalah tentang Polar Stratospheric Clouds jika penasaran. Memang sih, kalau kita melupakan fakta bahwa jawabannya sudah ada di booklet yang dia lihat dulu, pertanyaannya memang hal yang menarik. Tapi sayangnya Pak Yuli melupakan pertanyaanku, karena ada pertanyaan yang lebih menarik.

Alhasil, karena pertanyaanku hanya satu bagian yang terjawab (yaitu bagian depan, yang sebenarnya bisa dicari di Google), aku merasa sedikit kesal, dan jadi kurang fokus. Aku sih mengakui, pertanyaanku itu kualitasnya kurang bagus jika sudah baca report eventku kemarin-kemarin, tapi aku masih merasa kesal saja sih… (Jaja kadang mudah kesal kalau gagal leave impression ke orang… sekarang bukan cuma gagal itu, tapi pertanyaanku juga tidak dijawab)

Anyways, back on track…

Seed Sharing Library

Jadi, World Ozone Day ini disertai dengan launching Seed Sharing Library di ITB. Dibawakan oleh Kak Yoka Adam Nugraha, ini adalah sistem menarik dan bagus. Bentar, deh foto dulu sebelum aku masuk ke sini…

Seed Sharing Library, penasaran kah?

Nah, Seed Sharing Library ini sebenarnya sistem yang diterapkan di luar negeri, dimana sejak jamannya Internet ada katalog yang tidak terpakai. Katalog simpanan tersebut, dijadikan penyimpanan bibit, dimana orang-orang bisa meminjam biji untuk ditanam, dan sesudah selesai ditanam, dan dipanen, hasil bibit dari panen tersebut dikembalikan ke perpustakaan.

Ini sebenarnya sangat menarik untuk orang-orang yang punya lahan besar di rumahnya. Jika ingin koleksi tanaman kan, tinggal daftar, pinjem biji, tanam, panen, kembalikan biji. Bukan hanya itu, ini cocok untuk orang yang suka bercocok tanam, tetapi bingung mendapatkan bijinya dari mana.

Tapi, di ITB menggunakan Jar berisi benih sebagai pengganti katalog, dan sebagai catatan bonus… Jar-nya bentuknya lucu-lucu.

Sesudah tanya jawab, kita langsung loncat ke penutupan, dan bagi-bagi goodybag tambahan…

Spoils of Seminar

Jadi, tadi sesudah bertanya aku diberikan tas American Corner, dan juga aku langsung menjawab pertanyaan pertama yang diberikan… Pertanyaannya untungnya mudah, “Apa penyakit yang disebabkan sinar UV?” Kalau tadi pay attention ke artikel ini, pasti ngeh… Apa ayo? (kukasih 10 detik)

10 detik kemudian… (lengkap dengan suara Narrator Spongebob)

Anyways, aku jawab Melanoma atau Kanker Kulit, dan Katarak… Awalnya aku mau diberikan tas American Corner Perpustakaan lagi, tapi aku menunjukkan tadi sudah punya, dan diberikanlah Block Note…

Aku pulang dengan banyak booklet, kaos, 2 tas, dan banyak brosur…

Spoil-Spoil Seminarku.. Banyak 😀 Terima Kasih ITB

Oh, dan tadi kan aku sebut dapet booklet ya… silahkan dilihat disini contoh isinya sedikit

Lucu kan?

Salut untuk yang membuat booklet itu. Booklet seperti itu adalah model yang orang akan mau lihat karena formatnya infografis, dan menarik. Mungkin anak-anak juga mau baca kalau dibuatnya cartoon-y seperti itu.

 

Sekian laporan Jaja hari ini, dan terima kasih sudah mau membaca! Stay Tuned for my next few articles!

Jaja Jadi Panitia Games Anak-Anak, Day 2!

Jaja Jadi Panitia Games Anak-Anak, Day 2!

Tanggal 31 Agustus Kemarin, Jaja kembali ke Metro Indah Mall untuk hari kedua menjadi panitia di acara Fun Games ini. Kalau belum baca acara hari pertama-nya, bisa di cek disini. Nah, sesudah acara hari pertama untuk anak TK selesai, aku ikut lagi untuk membantu di lomba anak SD.

Acara ini juga memiliki format yang mirip seperti kemarin, dan ternyata pos-pos TK kemarin belum ditutup, karena akan ada lagi batch kedua peserta TK untuk bermain. Aku membantu untuk kedua kategori tersebut, tetapi lebih banyak untuk yang TK.

Preparation Pre-Event

Sesampai ke MIM pukul 7.30, lampu ternyata masih belum dinyalakan. Miss Muliani padahal sudah meminta lampu dinyalakan dari jam 7.30 untuk preparasi lomba. Jadi kita masih kerja dengan gelap. Meskipun sudah request ke pihak mall, sepertinya tidak dapat dilaksanakan requestnya. Ya sudahlah, masih ada torch Hp, dan sinar matahari.

Tugas pertamaku untuk hari ini… Labirin buatanku kemarin perlu dipindahkan, karena lokasinya tepat di depan panggung, dan lomba untuk anak SD akan memakan tempat yang banyak di tengah. Jadi Labirinku perlu dipindahkan ke tempat yang tidak terlalu mengganggu. Semua booth lain juga dipindahkan lokasinya agar tidak terlalu mengambil daerah depan panggung. Oke siap deh!

Sayangnya, aku sedikit merusak formasi labirin, dan, labirinku perlu dibongkar dan dibuat ulang. Tahu gitu minta tolong orang lain bantu aku pindahkan labirinnya berdua agar tidak perlu dibuat ulang karena tali rafia banyak terlipat dan keriting, dan formasi tiang plastik sudah kacau.

Untuk sekarang aku break dulu dari membuat labirin, dan memindahkan meja. Tidak lama sesudah meja ditata, lampu menyala sekitar jam 8.00, dan meskipun telat.. setidaknya masih sebelum peserta datang. Dengan lampu menyala, dan bantuan dari Kakak Brightway, aku segera membuat ulang labirin, dan aku sukses membuat labirin berbeda, di lokasi berbeda. Hore!

Administrasi… Last Few Minutes

Administrasi peserta dimulai sekitar 30 menit sesudah Labirinku selesai, dan Kang Donny perlu menggunakan keahliannya dan memastikan anak-anaknya ada aktivitas, dan tidak jenuh… karena ada sebuah emergency…

Videografer  untuk dokumentasi acara ini sudah kehabisan data di memory card-nya, dan perlu memindahkan isinya. Aku dipanggil jadi “teknisi” abal-abal untuk memindahkan data ke USB yang lain. Miss Muliani butuh bantuanku karena salah satu port USB di laptop Miss Muliani rusak, tapi Miss Muliani tidak tahu, jadi ketika aku dipanggil untuk troubleshooting dan memperbaiki laptopnya, aku juga bilang ke Miss Muliani untuk menggunakan port di sebelah kiri, karena yang sebelah kanan rusak.

Untungnya, meski sedikit lemot, dan port USB juga error, Kang Donny tidak kehabisan trik untuk menghibur anak-anak kelas 2 yang datang.

Acara Dimulai… Eh, ga jadi…

Sebelum acara dimulai, kita mengecek ulang administrasi, dan ternyata, ada 20 peserta yang tidak terdaftar… Kenapanya, aku kurang yakin, sedikit tidak jelas sebenarnya. Tetapi ada kemungkinan sekolah yang mendaftar belum memberi data yang lengkap, atau banyak peserta datang sebelum daftar, dan langsung main ikut.

Jadi, kita meminta waktu 10 menit untuk mengecek data, dan peserta yang sudah masuk administrasi kita panggil satu persatu. Sayangnya karena kita terlambat dan sudah mepet, kita tidak sempat memanggil semua nama. Menurutku event-event yang berbayar seperti ini, sebenarnya harus di full check and recheck pendaftarannya dan sudah membayar atau belumnya, untuk menghindari kerugian. Aku sudah bilang ke Miss Muliani pas lunchbreak untuk check ulang di event berikutnya, agar tidak terjadi jebol kas.

Anyways, on with the story…

Jadi Contekan

Aku diberi tugas sederhana… aku disuruh memegang contekan… Lomba pertamanya adalah lomba puzzle, dan harus kuakui, ini lumayan tricky untuk anak-anak kelas 2. Puzzlenya adalah gambar kota dari perspektif skyline. Untuk memperumit puzzle ini, ada 2 tempat parkir lengkap dengan mobil, ada jalanan, ada kolam, ada taman dan ada skyscraper di puzzle tersebut. Kurang lebih gambarnya seperti ini, meski tidak sama persis…

Foto contoh skyline kota..

Oh, dan gambarnya dipotong tidak seperti puzzle jigsaw, melainkan dengan potongan horizontal, vertical, dan diagonal. Pusing kan? Kata Kakak dari Brightway sebenarnya gambar tersebut ditujukan ke anak kelas 4-6, tapi ternyata pendaftar tidak dari kisaran itu. Eh, Puzzle ini meski ada gambar originalnya tetap ada beberapa aturannya sih…

  • Skoring berdasarkan kecepatan
  • Gambar utuh dipegang di depan, dan untuk melihat, harus mengirim satu anggota untuk maju ke depan
  • Ketika ingin melihat gambar original, sebaiknya mengantri, dan jika antrian panjang, dibatasi ke 15 detik sebelum mengantri lagi
  • Gambar tidak boleh dibawa ke depan, dan juga hasil kerjaan tidak boleh dibawa ke depan juga.

Kurang lebih begitu sih, cukup simple.

Menunjukkan Jawaban 😀

Karena peraturan di atas, anak-anak jadi rada rusuh lari kesana-kesini buat cek ulang pekerjaan mereka dan gambar aslinya. Terus, karena aku sedikit usil, aku suka ngebercandain anak-anak yang berlari ke depan berkali-kali :D… kurang lebih scriptnya gini:

  • Adik-adik: Kak, liat lagi!
  • Jaja Azriel: Mau liat apa? Aku ganteng kok, tapi jangan dilihatin terus atuh
  • Adik-adik: Ih, jijik tau!
  • Jaja Azriel: Kok gitu sih? Mau liat puzzle kan? Ato Ngefans?
  • Adik-adik: Liat Puzzle atuh Kak!
  • Jaja Azriel: Makanya yang baik dong ke aku
  • Adik-adik: Cepetan deh Kak..
  • Jaja Azriel: Hehe, maaf, maaf..
  • Adik-adik: Makasih Kak

Mwahahahaha (Evil Laugh)… Usil itu menyenangkan…

Hebatnya, tim yang paling cepat selesai, mengalahkan kecepatan satu-satunya tim kakak kelas 5, dan betul yang menyelesaikan duluan adalah anak-anak kelas 2, bukan yang kakak-kakak. Thumbs Up!

Dealing With More Monsters…

Terkadang aku merasa menjaga anak seumuran Alice itu melelahkan. Ternyata 30 anak yang sedikit lebih besar dari Neneng Alice lebih melelahkan.

Oke, mundur dulu dikit. Sesudah aku menunjukkan foto, ada satu pos lempar bola (sama seperti posku kemarin) kosong, dan aku diberi tanggung jawab menjaga untuk anak-anak ini main. Kali ini, anak-anak sudah mengantri, karena sepertinya lebih cepat daripada yang kemarin, dan tidak ada Kakak Observer Brightway menemani, jadi aku harus mengajarkan anak-anak ini cara bermain, mencatat namanya, dan memberi penilaian berdasarkan field yang sudah disediakan.

Masalah untukku… Ada beberapa Tante yang kurang mengerti bahwa lempar bola harus dilakukan dengan Ibunya untuk bonding, dan aku disuruh menangkap, alhasil aku tidak bisa mencatat dan memberi penilaian karena antriannya penuh. Untungnya, aku masih mengingat beberapa hal, dan masih bisa mengeksekusinya dengan cukup efektif. Mungkin tidak efisien waktu yang kugunakan, karena antriannya jadi panjang sekali… Tetapi aku masih mengerjakan tugasku dengan cukup baik…

Mengendalikan “monster” kecil ini butuh keahlian, jadi aku salut sama Bubi dan Kang Donny punya kemampuan handle anak-anak banyakan, dan mereka tidak bosan.

They Are The Champions…

Ya, itu nyanyi :D. Jadi, pemenang lomba diumumkan, sayangnya aku tidak mengerti scoring penuh karena harus menjaga pos untuk anak TK. Tetapi, sepertinya anak-anak yang menang dan mendapat hadiah adalah anak-anak yang cepat tadi.

Sesudah pemenang diumumkan, lunch time! Kita makan Ayam Goreng, Aku lumayan suka Ayam Goreng-nya. Oh… dan para Panitia foto bersama, kecuali aku karena aku bukan tipe orang yang suka ikut foto pose bareng gini…

Panitia yang Narsis, Tapi Aku ga ikutan

Celebrate Good Times! Come On!

(Nyanyi lagi deh dia… Lagu rada jadul pula…) Anyways, sesudah makan siang, ada break sedikit, dan ngobrol-ngobrol santai, sekitar jam 14.00-an, Miss Muliani membeli es krim dari sponsor kita… Diamond! Dan kita makan! Untungnya Aku ga sakit gara-gara makan ini, itu mungkin terjadi, karena aku alergi makanan dingin, tetapi sejak aku makan es krim 4-5 kali terakhir tidak sakit kok, jadi aman.

Jam 14.00 lebih sedikit ada rapat keuangan, dan aku belum boleh intip-intip ini soalnya ini urusan orang dewasa, dan aku dipesankan gojek oleh Miss Muliani dari MIM untuk cara Miss Muliani say thank you…

Conclusion and Suggestions

Oke, ini bagian evaluasi, dan aku tidak bermaksud ngomong gak enak… tetapi aku ingin memberi nasihat konstruktif untuk event berikutnya… Aku sudah lihat hasil laporan keuangannya via Whatsapp, dan sejujurnya, kalau ada panitia lain visit kesini, pasti kurang memuaskan hasilnya. Jadi ini dari Jaja, hanya berupa daftar sugesti untuk melakukan acara seperti ini dengan lebih maksimal… dan aku mau minta maaf jika terdengar seolah-olah aku ngomong gak enak, tujuanku bukan itu soalnya…

  • Jika acaranya berbayar, akan lebih bagus jika peserta hanya diberi izin ikut ketika sudah membayar. Jika aku tidak salah dengar, ada peserta yang belum transfer, claim akan transfer segera, tapi sudah mengikuti meski belum terbayar
  • Akan lebih baik jika acara di share (setidaknya E-Flyer/Teasernya) sejak H-4 atau H-3, karena akan ada waktu lebih banyak untuk orang-orang mengosongkan jadwal, dan datang.
  • Pastikan ada atribut khusus untuk peserta yang sudah daftar ulang, untuk memastikan pembayaran, dan juga peserta yang datang bukan peserta gelap.
  • Persiapkan administrasi untuk handle wave yang banyak, jika dirasa orang yang datang kurang, mungkin bisa ditambah jumlah peserta-nya
  • Buka recruitment volunteer. Banyak lho orang-orang yang mau datang membantu untuk mendapatkan sertifikat. Merecruit volunteer akan lebih efektif daripada kewalahan handle banyak orang.

Sekian dari Jaja, dan sejujurnya Jaja senang sekali bisa ikut membantu di acara seperti ini.. Untuk itu, terima kasih ke Infinity sudah mau menampung aku untuk 2 hari berkegiatan di acara ini. Mohon maaf jika ada hal yang tidak benar-benar akurat (terutama urusan waktu, hehe, aku ga cek jam setiap ada event) dan juga kalau ada kata-kata yang kurang enak didengar, tujuannya sebenarnya bukan untuk menjelek-jelekkan, tetapi untuk memberi kritikan konstruktif…