Tag: azriel muhammad

How Dumb Is Social Media?

How Dumb Is Social Media?

Eesh, aku harus mengakui aku sedikit menyesal mencari kata Egg di Google hari ini. Aku mendapat hasil yang anehΒ  bin ajaib ketika baru 46 menit yang lalu, Fox News menulis artikel mengenai most-liked post di Instagram.

Sebuah telur. Like, what?

(jika anda pembaca setia, semoga anda belum bosan mendengar celotehanku tentang sosmed. Ini subjek ultra sensitif bagiku)

Sejujurnya ini sedikit membingungkan ketika banyak wartawan dan penulis yang fokus menulis mengenai tren di Sosial Media. Belum lama, ketika aku mengoogle Cristiano Ronaldo hasil yang keluar bukan hal-hal mengerikan (atau, menakjubkan, tergantung cara kau melihatnya) yang ia lakukan bersama Juventus untuk merusak Serie A yang dulunya kompetitif, tapi fakta bahwa ia telah menyalip Selena Gomez sebagai orang dengan akun paling banyak pengikut followers di Instagram. Which is weird.

Maksudku, sekarang sudah ada blog, dan beberapa wartawan dari perusahaan media besar yang menjadi spesialis pencari tren di Instagram dan menuliskan artikel mengenai tren tersebut. Ini mulai terasa redundan ketika ada sekelompok orang yang bertugas mencari, menjabarkan dan menuliskan hal-hal yang orang-orang pada umumnya lakukan untuk mengisi waktu ketika menggunakan sosial media.

Ehem, sebenarnya ini mulai off-topic.

Aku menulis artikel ini untuk mempertanyakan alasan sosial media digunakan, dan juga, mengapa menurutku sosial media adalah hal yang bodoh, dan bodoh disini bukan hanya bodoh karena cara penggunaannya, beberapa penggunanya, tetapi juga cara sosial media merubah pemikiran dan hal-hal yang dilakukan orang-orang.

This is a long intro. Mulai saja deh!

Kenapa Aku Melakukan ini?

Baiklah, jadi, ada sebuah akun Instagram dengan nama World Record Egg, dan siapapun yang membuat akun itu sangat-sangat jenius!

Mungkin ia tidak suka Kylie Jenner, jadi ia memutuskan untuk membuat foto sederhana, foto sebuah TELUR! dan menuliskan caption agar orang-orang memberikan “Like” demi menggeser posisi Kylie Jenner dari rekor yang ia pegang sebelumnya.

Post tersebut telah mencapai lebih dari 20 juta likes, tetapi, kalau dipikir-pikir lagi… “Apa tujuan saya melakukan ini?”

Aku menemukan 3 alasan, tetapi, aku hanya melihat alasan yang bermakna di salah satunya…

  1. Kylie Jenner, UGH! Dia tidak pantas mendapat posisi nomor 1 untuk apa-apa. Aku merasa sebuah telur lebih pantas memegang posisi nomor 1 untuk post paling banyak di like.
  2. Ah well, semua teman-temanku melakukan ini, kenapa tidak?
  3. Hmm, ide bagus, caption bagus. Pencet like.

By the way. Aku hanya menyetujui alasan nomor 1, karena jika aku pengguna sosmed dan dapat “berpartisipasi” untuk menggulingkan rekor Kylie Jenner, kayanya aku akan melakukan hal yang sama.

Hal yang kosong seperti ini membuatku mempertanyakan kepentingan dari aspek like ini. Menurutku itu aspek kedua paling bodoh dari sosial media, karena tidak adanya batas penggunaan, orang-orang bebas melakukannya kapanpun mereka ingin, dan melepaskan kontrol dari diri mereka sendiri.

The Economy of Likes

Oke, mari kita anggap Like sebagai uang.

Anda seorang investor saham skala besar. Anda harus siap bekerja 24 jam jika ada gejolak ekonomi, dan kalau ada gejolak, anda bekerja dalam sebuah lingkungan kerja yang tinggi stress, dan penuh resiko.

Pada umumnya, anda menghasilkan 100 milyar Rupiah tiap bulannya. Untuk apa aku punya uang sebanyak itu? Hmm. Bagaimanapun juga, seberapa besar uang yang anda punya, uang itu bisa habis. Pada suatu titik, anda menyadari anda telah membeli mobil dan menghabiskan tiga perempat penghasilan anda pada bulan itu. Oh tidak. 1/4-nya lagi habis untuk kebutuhan pada umumnya. Seberapa besar uang anda, uang anda dapat habis.

Tentunya, stress, tekanan, modal, dan jam kerja seperti itu membutuhkan skill dan effort yang tinggi. Skill dan effort itu memberikan anda gaji yang sesuai dengan kemampuan dan usaha anda.

Anda seorang sales mobil merek asal Jepang. Anda bekerja 8 jam tiap harinya, dan bekerja dalam ruang kerja yang santai dan tidak banyak stress.

Pekerjaan anda biasanya menghasilkan 10 juta rupiah tiap bulannya, sekali lagi, jumlah uang itu dapat (dan akan) habis. Entah, mungkin anda terlalu banyak membeli baju mahal, atau anda terlalu banyak makan all you can eat seharga 200 ribu. Bagaimanapun juga, anda dapat menghabiskan uang milik anda, baik itu sejumlah 100 milyar, atau 10 juta, atau 100 ribu.

Gaji tersebut pantas untuk seorang sales mobil tentunya. Menjadi sales adalah sebuah pekerjaan medium skill, dan pantas jika penghasilannya juga medium.

Nah, Likes tidak seperti itu, namun diperebutkan oleh orang-orang seperti itu uang.

Kita dapat memberikan berapapun likes yang kita inginkan. Kita dapat memberikan 10 likes tiap harinya, kita dapat memberikan 1000 likes, kita dapat memberikan 100.000 (oke, ini ekstrim, namun nyatanya kita bisa melakukan itu tanpa melanggar sistem apapun) . Jika aku tidak salah, kita juga bisa memberikan like ke diri kita sendiri.

Tetapi, orang-orang memperebutkan Likes (yang fiktif) seperti “bekerja”

Let’s say, aku ingin mendapatkan 100 like dalam satu post hari ini. Untuk melakukan itu, aku perlu memposting foto selfie di kafe yang sepiringnya 300 ribu, dan segelas minumnya 75 ribu. Aku akan mengeluarkan uang sebanyak itu karena aku merasa seolah-olah aku membutuhkan 100 likes.

Supply and Demand

Hukum ekonomi paling mendasar adalah supply and demand, dan jika kita ingin melihat sosmed sebagai sebuah dunia ekonomi, kita harus liat 2 sumber daya utama mereka. Nomor 1, followers, nomor 2, baru likes.

Semakin banyak suplai, nilai benda akan turun, semakin banyak permintaan, nilai barang akan naik.

Masalahnya, jumlah likes yang bisa diberikan sistem ke kita memang tidak terbatas. Pada sisi lain, jumlah followers yang bisa diberikan sistem (bukan lingkaran sosial atau orang yang kita kenal, atau yang punya teman-teman sama dengan seorang pengguna) untuk kita, mendekati tidak terbatas.

(Oh iya, aku baru ingat, sekarang ada bisnis untuk membeli followers dan likes ya. Huh, ini terkesan makin bodoh.)

Sekali lagi, mau seberapa banyakpun ada Kayu, jika kita hanya mengonsumsi, jumlahnya dapat habis. Itu alasan pohon yang ditebang di tanam lagi, sehingga jumlah pohon yang ada tidak bergerak ke bawah saja, dan jumlahnya juga bisa naik.

Sosial media, terutama Instagram, pada sisi lain, hanya akan bergerak ke atas. Semakin banyak pengguna HP, berarti semakin banyak pengguna internet, semakin banyak pengguna internet, berarti semakin banyak pengguna sosmed. Dan sayangnya, belum ada sedikitpun penurunan pengguna sosial media yang signifikan.

Mengingat bahwa sistem sosial media ini tidak punya batas, dan jumlah suplai likes dan followers yang bisa anda klaim hanya akan bertambah, dan tidak bisa berkurang… Seluruh ekonomi yang mulai tumbuh di sosial media tidak akan pernah ada jika hanya berkutat di dunia fiktif tersebut.

Seriously, we’re getting dumber here.

Masalah berikutnya bagiku ada di fakta bahwa orang-orang sebenarnya tidak menggunakan sosial media karena mereka membutuhkannya, atau karena mereka punya alasan yang baik. Mereka TIDAK punya alasan yang baik, mereka hanya ikut-ikutan saja.

Tidak akan ada kampanye atau apapun yang bisa merubah ini, jika sesuatu dilakukan tanpa alasan, butuh cukup banyak alasan untuk merubah pemikiran itu.

Lebih banyak alasan…

Mari kita lemparkan alasan sebanyak-banyaknya!

Aku sejujurnya tidak ingin menulis rant mengenai sosial media lagi. Aku sendiri sudah tahu tidak mungkin ada orang yang berubah, dan aku juga tahu aku tidak akan pernah menggunakannya, setidaknya tidak dalam waktu dekat, dan aku hanya akan mungkin menjadi pengguna ketika aku memang membutuhkan akun sosial media (mungkin kalau aku jadi penulis, mempunyai akun resmi, akun twitter, atau fanpage facebook aku akan membutuhkannya), tetapi sekarang, tidak dulu.

Jadi, kecuali ada hal aneh bin ajaib lagi yang muncul dari internet, seperti World Record Egg tadi, aku akan mengeluarkan semua rant yang aku bisa pikirkan mengenai sosial media dan penggunanya sekarang juga.

  1. Penggunanya berisik, merusak arus jalan yang normal ketika sedang foto, dan mengganggu orang-orang yang sedang berusaha menikmati dunia nyata.
  2. Ada pengguna yang rela melakukan hal bodoh, dan juga uang demi mendapat likes.
  3. Pengguna sosmed jarang berinteraksi di dunia nyata, kecuali sedang membutuhkan foto bersama. Oh iya, mungkin mereka hanya mengobrol ketika sedang butuh foto.
  4. Pengguna sosmed sebagian besar tidak tahu diri ketika menggunakan sosial media. Mereka sering menceloteh hal-hal bodoh di bagian komen. Ini juga mungkin terbawa ke dunia nyata.
  5. Influencer. What’s that job again?
  6. Oh iya, ini menghilangkan rasa individualitas dan keunikan tiap manusia, sekarang mereka hanyalah arus data di dalam database milik instagram.
  7. Semua orang merasa berhak melakukan apapun di Internet. Sifat ini bisa terbawa ke dunia nyata.
  8. Banyak orang memamerkan hal yang tidak perlu.
  9. Orang membeli barang untuk memamerkan hal yang tidak perlu.
  10. Dan terakhir… Dunia sosial media itu tidak nyata.

Aku bisa berbicara sampai aku bosan, tapi kurasa ini cukup untuk sekarang. Aku akan menambahkan edit ketika aku kepikiran. Semua kecuali nomor terakhir, dan nomor 1-9 akan menjadi edit tambahan.

Sampai lain waktu!

[Road Trip] Eps. 1. Preparasi Perjalanan

[Road Trip] Eps. 1. Preparasi Perjalanan

Ini adalah sebuah serial yang mengupas road trip keluarga ke Jawa Tengah. Akan ada 10 episode, kurang lebih 1 episode per hari, + 2 episode untuk preparasi dan juga evaluasi. Berikut adalah sedikit tips dariku sesudah melihat persiapan dan akhirnya kembali pulang dari Jateng (yang hanya memasang 1 banner dari Gubernur mereka, Ganjar Pranowo, setidaknya di 4 kota/kabupaten yang aku datangi), dan apa yang bisa kita lakukan, sesuai dengan buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much, dan akan isu-isu kecil seperti packing dan planning yang seseorang akan hadapi jika mereka ingin melakukan road trip.

Selamat menikmati episode pertama!

Scarcity Trip

Catatan: Tidak ada satupun kata di Bahasa Indonesia yang cocok untuk menjelaskan Scarcity dalam konteks yang aku inginkan. Jadi, mohon maaf karena aku akan menggunakan istilah Scarcity alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia.

Scarcity. Semakin sedikit benda yang kita punya, maka semakin bernilai benda tersebut. Kasarnya, itu yang membuat seseorang menilai, memilah, dan memilih benda yang akan dibawa dalam sebuah road trip.

Ketika packing dan bersiap untuk sebuah perjalanan, ada 4 hal yang perlu anda perhatikan. Karena pada suatu titik, anda akan kehabisan salah satu dari 4 sumber daya yang mungkin dirasa penting ini.

  1. Space…
  2. Pace…
  3. Attire…
  4. Money…

Atau… SPAM! Shoot, that doesn’t sound right.

EHEM, ralat.

  1. Money
  2. Attire
  3. Pace
  4. Space

Atau, MAPS! Nah, kan enak.

Jika anda sedang kekurangan salah satu dari 4 sumber daya ini, mungkin sudah waktunya anda menghemat. Jika anda sudah kehabisan salah satu dari sumber daya ini, sebaiknya anda pulang, dan hentikan perjalanan, karena sebenarnya anda sudah telat.

Atau, anda bisa membuat rencana agar anda tidak kehabisan, dan pulang sesuai jadwal! Tetapi, sayangnya, tidak semua orang bisa membuat atau mengikuti rencana, dan seandainya tidak ada rencana yang dibuat, maka ini hal yang perlu anda lakukan untuk mencermati sumber-sumber daya di atas…

Money

Oke, ini mungkin hal yang paling sulit untuk diukur karena kemampuan finansial tiap orang berbeda, dan terkadang ada orang atau keluarga yang memaksakan untuk liburan meskipun kemampuan finansial mereka tidak mencukupi, alhasil mereka menghemat dan takut untuk mengeluarkan terlalu banyak uang, sehingga perjalanannya tidak dapat mereka menikmati.

Sebelum anda berangkat, atau sebelum anda bahkan berpikir untuk melakukan liburan, pastikan finansial keluarga anda cukup, serta anda yakin bahwa anda bisa bertahan selama anda sedang berlibur. Jika anda memaksakan liburan, akan lebih baik demi kewarasan dan kesabaran tiap orang untuk tidak memaksakan berlibur.

Tentunya, definisi cukup tiap orang berbeda, jadi sesuaikan dengan ekspektasi masing-masing.

How To Plan.

Jika anda bukan orang yang suka berencana terlalu panjang, setidaknya, uang adalah hal yang perlu anda perhatikan. Kita tidak ingin berlibur jika tidak ada cukup uang untuk melakukan hal-hal yang anda inginkan bukan? Anda ingin membeli batagor sepuasnya di Bandung, dan anda ingin mencoba semua Lunpia yang ada di Semarang? Silahkan, hanya saja, akan lebih bijak jika anda tidak mengambil jatah finansial di luar perencanaan awal anda.

Sebenarnya, merencanakan budget untuk uang yang akan dihabiskan saat berlibur tidak sulit. Semua orang dapat dengan mudah bilang bahwa mereka hanya akan menghabiskan sejumlah uang tiap harinya, tetapi… Mereka tidak dapat menahan diri dan… WUUSH! Dua kali lipat uang dari rencana awal dihabiskan.

Jadi, perencanaan yang anda dapat lakukan dengan uang cukup sederhana… Pengendalian diri.

Money Scarcity

Apa yang anda dapat, serta perlu lakukan jika anda sedang melewati fase berlibur dimana anggaran pembelanjaan anda bersisa ke 20% terakhir, atau mungkin, lebih sedikit? Tipsnya cukup sederhana.

  • Turunkan kelas, turunkan ekspektasi.
    • Terkadang, ada beberapa orang yang memaksakan diri mereka untuk makan dengan anggaran yang sama seperti yang mereka miliki ketika 80% dari anggaran mereka masih tersisa. Ini sulit untuk dilakukan jika anggarannya tersisa sedikit, jadi hal terbaik dan terefisien yang seseorang bisa lakukan adalah menurunkan pengeluaran anda. Tidak apa-apa kok untuk tidur di hotel yang tidak sesuai dengan ekspektasi anda jika hanya untuk semalam πŸ˜‰ .
  • Berhenti untuk berpikir.
    • Kasarnya. Jangan membeli hal-hal yang anda tidak perlukan. Sebelum membeli sesuatu, atau memilih tempat makan, berhenti untuk sejenak, berpikir. Apakah saya benar-benar membutuhkan ini? Apakah saya perlu membeli ini? Kenapa saya perlu membeli ini? Silahkan berkontemplasi dan pikirkan. Jika anda memang menilai bahwa anda perlu mengeluarkan uang untuk hal tersebut, lakukan saja.
  • Modis = Modal Diskon, Atau, Modal Gratis
    • Ya, dengan Traveloka, Trivago, atau AirBNB kita bisa mendapatkan promosi dan menghemat uang. Ini bermanfaat tentunya πŸ˜‰
  • Sisakan uang untuk pulang.
    • Ya, berlibur termasuk pulang pergi. Jangan lupa jika anda masih harus lewat tol untuk pulang, atau membeli tiket kereta, itu juga mengonsumsi sepeser dari anggaran anda.
    • Oh iya. Jika anda cukup pintar, anda bisa melewati jalur alternatif dan membayar lebih sedikit daripada jika anda melewati tol. Tapi ya, jangan lupa, jika jalur alternatif tersebut berarti anda harus melewati 2 jam ekstra karena macet, maka itu resiko yang perlu diambil.

Benefits of Money.

Uang dapat anda manfaatkan untuk memperbaharui beberapa sumber daya lain yang anda butuhkan. Jika anda memang tidak sedang dalam kondisi kekurangan uang, anda dapat memanfaatkannya untuk jasa Laundry dan mendapatkan kembali pakaian. Anda juga bisa mengirimkan barang yang anda tidak perlukan lagi untuk mendapatkan ruang kembali. Tentunya, jika digunakan dengan bijak, anda tidak akan merasa kekurangan uang, alih-alih, anda akan merasa mendapat pakaian lebih, ruang lebih, dan mungkin, waktu lebih.

Attire

Attire, atau… Baju.

Ya, ini sedikit menarik. Tidak seperti Uang, Baju justru menyedot beberapa sumber daya lain yang kita miliki. Jadi, membahasnya akan menjadi hal yang menarik tentunya.

Baju secara tidak langsung mengukur waktu kita bisa berlibur, dan baju juga mengurangi ruang yang kita miliki di mobil, jadi, kita perlu membawa baju dengan bijak.

How To Plan

Sesuaikan jumlah baju dengan hari anda sudah yakin akan pergi. Semakin luas mobil atau alat transportasi anda, semakin mudah anda dapat merencanakan baju-baju yang anda akan bawa. Jika anda cukup pintar dengan manajemen ruang anda, dan mampu melakukan packing gulung, di mobil yang cukup luas, maka anda bisa menciptakan sedikit atau banyak room for comfort. Ruang untuk kenyamanan anda ini, dapat mencegah adanya kekurangan baju.

Attire Scarcity

Oke, anda masih ada 3 hari lagi untuk berlibur, tetapi, baju anda tersisa ke 1 stel baju pergi, dan 1 stel baju tidur. Apa yang anda bisa lakukan?

  • Pakai dua kali.
    • Oke, ini terkesan menjijikan bagi beberapa orang, tetapi menggunakan baju dua kali adalah hal yang bijak, terutama bagi baju tidur. Percaya padaku, baju tidur anda tidak akan kotor dalam satu malam, jadi menggunakan satu baju tidur untuk dua malam adalah ide yang baik untuk menghemat. Tidak sepenuhnya disarankan untuk baju pergi meski bisa dilakukan ketika sudah mepet banget.
  • Manfaatkan Laundry.
    • Manajemen waktu, taruh barang ke Laundry, dan ambil pada pagi berikutnya. Gunakan jasa express jika anda sedang buru-buru tentunya. Baju kembali bisa dipakai!
  • Tidur dengan baju pergi.
    • Tepat sebelum anda tidur, gunakan baju pergi sebelum masuk kasur. Pergi dengan baju itu esok paginya, dan anda dapat menghemat satu stel baju!
  • Beli baju.
    • Bukan saran terbaik karena ini mengambil ruang yang berharga, serta uang yang juga berharga, tetapi ini bisa dimanfaatkan juga tentunya.

Benefits of Attire

Semakin banyak baju yang anda miliki, semakin besar kemungkinan anda bisa memperpanjang liburan anda di luar rencana. Tetapi, perhatikan sumber daya yang lain juga ya πŸ˜‰

Pace

 

Pace, alias waktu. Waktu membatasi beberapa orang, terutama yang bekerja. Jika anda sudah menyisakan satu hari untuk beristirahat, anda dapat beristirahat pada hari tersebut, tetapi, ternyata, satu hari sesudahnya adalah hari kerja, dan anda ingin berlibur satu hari lebih lama! Ya, hari istirahat anda dapat diambil. Sayangnya, hari kerja anda… tidak dapat diambil. πŸ™

Jadi, bagaimana cara melawan waktu?

How To Plan

Ini ironis. Anda akan merencanakan sesuatu berdasarkan energi atau waktu yang anda miliki. Sayangnya, anda tidak bisa mendapatkan gambaran yang bagus mengenai waktu itu sendiri, jika anda tidak punya rencana. Untuk merencanakan sesuatu dan mendapatkan waktu terbanyak, pilihlah saat anda tidak memiliki banyak pekerjaan untuk dilakukan, dan ciptakan “slack” atau room-for-comfort agar anda tidak terpepet ketika ingin pulang.

Time Scarcity

Dalam waktu 13 jam anda sudah harus berada di kantor. Google Maps memberikan anda jalan tol dan perjalanan tersebut akan memakan waktu 4 jam 30 menit. Kemungkinan, anda harus memotong jam tidur, apa yang anda bisa lakukan?

  • Rute/Transportasi alternatif
    • Anda bisa menghemat waktu 90 menitan jika anda melewati Subang dari Cirebon ke Bandung. Jika anda pintar dan mau berpikir untuk sebentar, anda bisa menemukan rute alternatif dan menghemat sedikit waktu.
  • CEGAH ADANYA TIME SCARCITY
    • Jika anda sedang dalam krisis waktu, memang tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali memotong jam tidur, atau berburu-buru, atau mencari rute alternatif. Jadi, hal terbaik yang anda bisa lakukan adalah mencegah adanya time scarcity dengan planning yang baik. Sejujurnya, dengan tidak memiliki room-for-comfort dan lebih awas dalam perencanaan, itu sepertinya satu-satunya cara untuk mengatasi time scarcity.
    • Once you’re in it, you’re doomed. πŸ˜€

Benefits of Time

Space

Space. The final frontier. These are the vacations of the starship Enterprise. Its five-week mission: to explore strange new cities, to seek out new places and new tourist destinations, to boldly go where no man has gone before.

EHEM! Bukan Space luar angkasa bro. Space = Ruang.

Ini adalah hal terakhir yang akan aku bahas, dan… Ini dapat dicegah dengan mudah juga.

How To Plan

Pack light.

*thumbs up*

Serius sih, perencanaan dan manajemen ruang yang bagus, seperti menyisakan satu tas khusus untuk baju kotor, atau satu tas khusus untuk barang belanjaan adalah contoh manajemen ruang yang efektif.

Manajemen ruang terbaik dapat dilakukan dengan menyediakan satu tas, atau tempat khusus untuk benda-benda seperti baju kotor, barang belanjaan, serta hal-hal yang diperlukan secara darurat.

Space Scarcity

HAH! Anda butuh ruang di bagasi?

  • Stop. Beli. Hal. Yang. Anda. Tidak. Butuhkan.
    • Sama seperti uang, jangan beli hal yang anda tidak butuhkan. Anda harus mau berkompromi sesekali, jangan beli sesuatu sampai anda yakin anda membutuhkannya.
  • Kirim barang ke rumah.
    • πŸ™‚ Manfaatkan JNE, atau TIKI, dan kirim barang milik anda ke rumah anda sendiri. Masalah anda akan selesai. Ada ruang yang dibebaskan, dan anda bisa memasukkan lebih banyak barang dalam bagasi!

Kesimpulan

Tanganku lelah, dan sekarang aku perlu menikmati time room-for-comfort yang sudah aku ciptakan.

Cheerios!

Self Help Series: Tujuan

Self Help Series: Tujuan

Introspeksi adalah sebuah masalah unik.

Beberapa orang terlahir, atau terlatih dengan kepercayaan diri yang membuat mereka bisa melakukan hal seperti ini dengan sederhana, dan tanpa merasa gugup sedikit pun. Tetapi, juga ada sangat banyak orang yang tidak bisa melakukan hal sederhana ini.

Bagi mereka yang penasaran, aku memberikan sebuah petunjuk sederhana, dan tidak bersifat ala motivator yang (maaf) naif, secara ekstrim, mungkin aku akan menganggap teknik ini sebagai teknik yang counter-intuitive, dan terkesan ironis jika dilihat dari satu sudut pandang.

Introspeksi, siapkah anda untuk berintrospeksi ria sesudah membaca artikel ini?

Jadi, mari baca artikel ini sebelum anda dimakan oleh nafsu dan melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas.

Kausalitas

Untuk apa seseorang butuh Tujuan?

Dasarnya, dunia ini penuh dengan kausalitas (kausalitas = bahasa snob/nerd/filsuf untuk sebab akibat). Dunia ekonomi dipenuhi dengan sebab akibat, dunia kimia pada dasarnya juga dipenuhi dengan sebab akibat, dan hampir semua ilmu, atau tindakan, sangat berhubungan dengan sebab akibat. Jadi, sebelum kita lanjut, mari bertanya… Apa tujuan dari tujuan?

Tujuan adalah sebab anda melakukan sesuatu. Misalnya, gua mau kerja di kantor yang gajinya tinggi. Oke, dalam tindakan itu (yang berupa sebuah akibat) anda memiliki sebab. Sebab tersebut, ternyata, Karena gua kepengen punya Pajero.

Ya, sejujurnya aku tidak memberikan jempol pada orang di atas, tetapi, jika itu tujuan hidup anda, maka saya akan menghargainya, sebagaimana tiap makhluk hidup perlu dihargai.

Sebelum anda melakukan tindakan, anda harus memiliki sebab akibat terlebih dahulu. Percaya padaku, keputusan buruk tidak akan terjadi jika anda berpikir lebih tenang dan bertanya kepada diri anda sendiri. Jika anda punya sebab, anda bisa lebih mendalami hal yang anda lakukan, karena anda berharap bahwa sebab anda akan tercapai, sehingga, lebih banyak usaha akan ada keluarkan untuk memenuhi sebab tersebut.

Akibat tiap sebab akan berujung sama. Akibatnya adalah kesadaran diri. Ini akan aku bahas lebih lanjut di bawah.

Bagaimana anda mendapat sebab? Bertanya. Semudah itukah?

HA! (awalnya aku ingin mengisi ini dengan meme, tetapi aku tidak menemukan sebab yang cukup substantif)

Sayangnya, rasa takut untuk bertanya sering dialami semua orang. Bagi beberapa orang, mereka takut menyuarakan atau menanyakan pendapat mereka bagi orang lain. Bagi beberapa orang lain, mereka tidak ingin bertanya pada diri mereka sendiri.

Mereka merasa takut untuk mengetahui tujuan mereka sendiri.

Rasa Takut.

Catatan: EHEM. Maaf, aku akan terdengar seperti motivator naif dalam paragraf pembuka bagian dari artikel ini.

Courage is not the absence of fear. But the ability to act in spite of it.

-Mark Twain

Jadi, anda takut? Bagus. Rasakan perasaan itu. Lawan. Masalah anda akan beres. Perasaan takut bukan hal yang bisa dihindari, karena takut sendiri, akan selalu mengejar anda. Pada suatu titik, anda harus mau untuk berdiri dan berusaha melawan perasaan tersebut.

Nah, sekarang masuk ke opini yang semi sarkastis dan kontra intuisi milikku.

Coba tanyakan pada diri anda pertanyaan “Kenapa?” sebelum anda bertindak. Pertanyaan “Kenapa?” adalah pertanyaan yang penting jika anda ingin melakukan hal-hal yang lebih produktif, bermanfaat, dan juga untuk mengurangi efek samping. Terkadang, pertanyaan sederhana ini juga bisa membuahkan solusi yang anda cari-cari. “Kenapa?” hanyalah sebuah sebab, dan jawabannya adalah akibat. Jika kita berbicara dari sudut pandang kausalitas, tanyakan “Kenapa?” pada diri anda sendiri dan siap-siap untuk menertawakan beberapa hal-hal bodoh yang anda lakukan.

Anda akan tertawa karena anda tidak punya alasan yang baik, atau alasan anda sebenarnya konyol. Atau, kasus paling parah. Anda melakukan sesuatu dan meluangkan energi, serta sumber daya, untuk melakukan sesuatu yang tidak memiliki tujuan.

Sebagai contoh…

  • Kenapa saya makan di kafe ini? Harga menunya begitu mahal, makanannya gak enak, pelayanannya buruk… Kenapa sih?
  • Oh iya, saya diajak oleh teman-teman saya! Mungkin saya memilih untuk makan di sini karena saya ingin bertemu teman-teman saya.
  • Tetapi, Kenapa saya mau saja diajak teman-teman saya ke sini? Bukannya ada banyak opsi lain untuk makan.
  • Oh iya, saya mau diajak teman-teman saya ke sini karena mereka menyukai tempat ini.
  • Kenapa mereka menyukai tempat ini? Ini mungkin opsi yang buruk!
  • *terdengar suara cekrik, dan layar HP menunjukkan sebuah sosmed* OH! Karena itu!

Dari sini, kita bisa menemukan faktor. Faktor-faktor, sekali lagi, menyumbang ke sebab dalam dunia yang dipenuhi dalam kausalitas.

Faktor utama dari kasus di atas adalah karena tempat ini enak dilihat dan dapat menjadi sumbangan ke akun sosial media. Bagi beberapa orang, ini tentunya sudah biasa, namun, untuk beberapa orang yang ingin melakukan kontemplasi ala Nietzsche, mereka akan menyadari… seberapa bodohnya mereka.

Jika anda ingin mencari tujuan anda, anda harus menjadi seseorang yang cukup berani untuk menanyakan hal-hal yang anda rasa benar, pada diri anda sendiri.

Selamat menikmati mengobrol dengan batin anda, dan siap-siap merasa konyol.

Nilai-nilai

Kausalitas sendiri memiliki 3 bagian.

  • Sebab: Tujuan anda melakukan sesuatu, atau sebuah kejadian yang mengakibatkan kejadian lain.
  • Tindakan: Bagi beberapa filsuf tindakan adalah sebab, tapi karena akusedang membahas filsafat dan psikologi introspeksi, sebab masih belum nyata sampai adanya tindakan.
  • Akibat: Sekali lagi, akibat juga bisa dilihat sebagai tindakan bagi filsuf post-modern. Namun, karena ini filsafat dan psikologi introspeksi, akibat hanya ada satu jenis yang nyata. Yaitu, lebih mendalami.

Masalahnya, terkadang kita merasa takut (sekali lagi) pada apa yang orang lain akan pikirkan mengenai kita, atau berkata pada kita jika ada sebab, atau tindakan yang tidak cocok dengan pemikiran orang tersebut.

Jika anda merasa seperti itu, coba anda tanyakan lagi pada diri anda sendiri. “Kenapa?” saya peduli dengan pikiran orang lain? Sesudah anda bertanya, coba bandingkan tiap faktor tersebut dengan nilai-nilai yang anda sudah miliki, dan apakah itu sesuai? Apakah anda memiliki nilai yang baik? Mengapa anda memiliki nilai seperti itu?

Coba tanyakan lagi, dan sesuaikan diri anda dengan nilai-nilai yang anda miliki.

Kesimpulan

Obat kontemplasi adalah obat yang mampu bekerja dengan efektif, tapi dengan sedikit kelemahan berupa beberapa efek samping.

Efek samping dari melakukan metode introspeksi ini bisa berupa:

  • Berkontemplasi terlalu banyak dan melupakan bahwa anda punya pekerjaan yang seharusnya anda lakukan, tetapi karena anda terlalu banyak menanyakan mengapa saya melakukan ini… ups πŸ™ .
  • Tertawa terbahak-bahak dan merasa bahwa anda sangat bodoh karena melakukan hal-hal tanpa tujuan jelas.
  • Menyadari bahwa anda salah. (ini bisa dilihat sebagai efek baik melainkan efek samping)
  • Menyalahkan orang-orang di sekitar anda karena tidak mengingatkan anda bahwa sebenarnya anda punya banyak kesalahan.
  • Diberikan tatapan “really?” oleh orang-orang di sekitar anda karena mereka mengingatkan tetapi anda tidak ingin mendengar sampai anda mendengar suara batin anda sendiri.
  • Mencoba mengoreksi orang lain dan mengajak mereka untuk berkontemplasi juga, namun dengan cara memaksa.
  • Berdebat selama berjam-jam dengan pasangan berusaha memperebutkan, siapa yang memberikan ide baik untuk berkontemplasi begitu lama dan menemukan semua kesalahan dalam berkomunikasi, dan dalam mengerjakan hal-hal.
  • Dan terakhir. Menyadari bahwa anda berdebat berjam-jam hanya untuk ingat anda berkontemplasi karena artikel ini.

Harap gunakan obat kontemplasi ini dengan bijak dan tidak terlalu sering menggunakannya.

Tambahan

Mohon maaf karena blog ini hampir berdebu, akan segera diperbaiki. πŸ˜‰

Membuat Keputusan Untuk Membaca Shakespeare.

Membuat Keputusan Untuk Membaca Shakespeare.

Ehem…

Bahkan sebagai millennial, anak SMA, homeschooler, penggiat sastra, pemimpi, seorang yang tidak realistik, dan orang yang menyukai hal-hal dalam bentuk abstrak… Aku masih bingung dan merasa bahwa diriku, Azriel. sebagai seorang anomali karena aku membaca Shakespeare.

Membaca disini tentunya bukan hanya membaca best seller miliknya seperti Hamlet, Romeo and Juliet, dan Midsummer Night’s Dream… Oh tidak… aku membaca yang aneh-aneh juga, seperti Adonis and Venus, Julius Caesar (catatan: naskah Julius Caesar tidak terbilang “aneh” hanya… underrated), dan Merchant of Venice.

Ya, jadi ceritanya aku menemukan situs bernama Project Gutenberg ketika mencari buku gratis yang legal, dan aku memutuskan untuk mendownload suatu kompilasi berjudul “Shakespeare”. Aku tidak menyesal, namun… Aku sedikit malu membaca beberapa darinya karena sangat banyak naive love story di dalamnya, dan aku tidak suka cerita cinta (hampir) sama sekali.

Jadi, aku sering menanyakan kembali pada diriku… “Azriel… “Why the fudge did you read all those works of Shakespeare?” Karena bahkan, kakak-kakak mahasiswa Sastra Inggris, dan lulusan sastra inggris di Klub Global Literacy pun…Β  Tidak baca Shakespeare kecuali mereka disuruh.

Aku memutuskan untuk menuliskan alasannya saja… Kuharap jika anda juga tertarik membaca Shakespeare, artikel ini dapat membujuk anda untuk TIDAK masuk ke dalam loophole ini. Jangan pernah memutuskan untuk membaca Shakespeare, run now, while you still can.

So, are you dumb?

Catatan: Aku tidak bodoh, aku pintar.

Tapi, aku sering memikirkan keputusanku untuk membaca Shakespeare.

Maksudku, tidak semua orang dapat membaca Shakespeare dengan mudah karena kata “ringan” tidak ada dalam satupun naskah Shakespeare.

Terkadang, cerita-cerita yang dimasukkan dalam naskah-naskah Shakespeare memang tidak masuk akal, jika dia tidak bisa dimasukkan dalam level tidak jelas seperti sinetron, tapi… cerita yang tidak masuk akal ini dapat dibawakan dengan sangat bagus dan dibuat seolah-olah masuk akal.

Sejujurnya, kurasa serial-serial seperti Stranger Things juga menggunakan taktik tidak-masuk-akal-tapi-diceritakan-dengan-bagus yang mirip, tetapi Shakespeare dapat mengubah mitos-mitos yang membuat orang merasa enek, dan… ia merubahnya menjadi suatu hal yang indah.

πŸ™

Intip Adonis and Venus misalnya.

  • Dewi Venus menjelaskan dalam monolog miliknya ini, perasaannya yang amat-amat dielu-elukan dan dilebay-lebaykan ke pembaca/penonton, karena pacarnya dibunuh.
  • Ia menjelaskan cara pacarnya dibunuh, dan mengapa si pacarnya ini bisa sangat-sangat cakep meski mati.
    • Catat bahwa pacarnya mati karena sedang berburu babi hutan lalu organ vitalnya ditusuk oleh sang babi hutan tersebut.
  • Ia menjelaskan bahwa pacarnya ini perlu diubah menjadi suatu tanaman yang indah agar ia mampu diingat sepanjang masa, dan ia melakukan itu.
  • Oh, ia juga langsung “move on” pada akhir naskah.

Ini mungkin bukan picture-book sinetron tapi, astaga, bahasa yang dia gunakan cukup dan sangat indah, sampai titik terlalu lebay (puitis, tapi lebay)… sehingga ia menjadi bagus.

Jadi, kecuali anda cukup naif untuk menerima cerita-cerita Shakespeare yang idealistik, dan siap untuk berpikir ke diri anda sendiri 15 menit kemudian… “why did I read that” maka, silahkan.

Untungnya, cerita-cerita Shakespeare yang aku lebih suka adalah… yang realis-satirik. Bukan yang sejarah saja, tetapi, realis-satirik. Contoh terbaikku sebenarnya Merchant of Venice.

Welcome to the Real World

Shakespeare memiliki 2 jenis karya yang realistik.

Satu yang benar-benar realis karena merupakan bagian dari sejarah, seperti misalnya Cleopatra and Antony (Cleopatra and Antony merupakan sebagian drama, sebagian satirik, dan juga sejarah, tetapi mayoritas orang memasukkannya dalam folder sejarah).

Kedua adalah, yang realis satirik… Ehem, Romeo and Juliet. Tapi, TIDAK! AKU TIDAK MAU MEMBAHAS DRAMA ITU! Aku lebih suka menjadikan Merchant of Venice sebagai contoh.

Shakespeare bukan jenis orang yang suka menyindir orang-orang yang berkuasa pada zaman tersebut, ia suka menyindir orang-orang yang berada pada kelas bawah justru.

Merchant of Venice merupakan gambaran sempurna dari sindiran warga kelas bawah yang terkena rentenir dan perlu kabur atau semacamnya demi keamanan dan kehidupan.

Tetapi, masalahnya, jika kita ingin membahas realita sebagai contoh dan “jiplakan” untuk mengecek kenyataan yang sedang kita nikmati pada zaman sekarang… Shakespeare tidak pernah bisa dijadikan contoh.

Jadi, tujuannya membaca satirik tidak cukup jelas jika itu bukan untuk mencari kesalahan pada sistem-sistem dan cara berpikir hal yang disindir oleh satir tersebut. Selain tentunya menikmati seni tersebut, alasan untuk melihat dunia nyata melalui kacamata Shakespeare tidak lagi valid.

Thou Art Confused

Worst part of Shakespeare.

Kita tidak bisa melakukan teknik speed-reading hampir sama sekali karena sebagian besar kata subjek dan verb to be menggunakan bahasa jadul…

Thou menjadi You, Art menjadi Are, Thee menjadi… aku tak tahu, pokoknya itu lah ya…

Jadi, untuk membaca Shakespeare, amat disayangkan kita harus mau mengambil waktu yang relatif lama untuk membacanya. You have better things to do.

Kesimpulan

Tl;Dr Jangan membaca Shakespeare kecuali anda siap dicap aneh, karena ia tidak relevan lagi, tidak begitu efektif lagi, dan juga tidak dapat dibaca cepat demi sastra ringan saja…

Tetapi, ini bukan berarti bahwa Shakespeare merupakan karya sastra yang buruk, hanya saja, ia tidak begitu efektif atau realistik lagi, tidak seperti pada zaman emasnya…

Jika anda memang ingin membaca Shakespeare, silahkan saja, tetapi ingat, membaca Shakespeare memiliki resiko kecanduan, terutama jika karakter anda kebetulan seperti saya…

Selamat menikmati pilihan yang anda buat, dan jangan menyesali keputusan tersebut… πŸ˜‰

Self-Help Series: Pilihan

Self-Help Series: Pilihan

Pernahkah anda merasa terjebak dalam situasi yang anda optimis, apapun yang anda lakukan, atau anda pilih, opsi itu akan berujung pada ketidakbahagiaan? Sesudah belajar filsafat Tiongkok selama 6 minggu, kurasa ini waktu yang tepat untuk menuliskannya.

Apakah kebahagiaan itu, bagaimana cara mendapatkannya? Terkadang kita tidak diberi pilihan untuk mendapatkan rasa bahagia, dan karena konsep kebahagiaan akan cukup erat dengan filsafat, kurasa tidak akan terlalu banyak psikologi abad ke 21 pada artikel ini. Psikologi yang dimasukkan berada pada era-era Freud.

Semoga artikel ini bisa anda baca dengan perasaan bahagia!

The Ice Cream Parlor

Ya, mari kita masuk ke hal paling sederhana tapi membingungkan. Memilih rasa es krim di sebuah toko.

Ambil sebuah anggapan bahwa anda tidak punya pilihan sedikit pun sebelum anda memilih toko, dan ada dua toko yang lokasinya tepat bersebelahan, menggunakan AC, dan juga memiliki tempat duduk yang sama-sama nyaman. Hari sedang panas, jadi es krim yang dikonsumsi dalam ruangan ber-AC akan tentunya membuat kita merasa lebih nyaman.

Nah, dari kedua toko ini, ada sebuah toko yang menyajikan 4 pilihan rasa, yaitu Coklat, Vanilla, Stroberi, dan yang terakhir, Cookies and Cream (dalam teori original, tidak ada Cookies and Cream, jadi aku berasumsi siapapun yang membuat teori ini tidak punya selera es krim yang baik).

Toko yang lain, menyajikan… Coklat, Vanilla, Stroberi, Cookies and Cream, Rocky Road, Butter Pecan, Bubble Gum, Blueberry, Choco Chip, Mint Choco Chip, Matcha, dan Salted Caramel. 12 rasa secara total, berarti ada 3 kali lipat jumlah pilihan rasa kebanding yang sebelumnya.

Kira-kira, pilihan toko pertama, atau kedua yang akan membuatmu merasa lebih bahagia sebelum memesan, ketika memakan, dan sesudah memesan?

Jawabannya ternyata lebih sulit dari yang orang-orang kira-kira.

Mungkin orang akan beranggapan, “lebih banyak opsi, lebih banyak kemungkinan kita memilih rasa yang kita sukai alhasil lebih banyak juga orang-orang yang lebih happy karena mereka memilih rasa yang mereka memang sukai.” Padahal, kemungkinan kita memilih rasa yang tidak enak berkali-kali lipat lebih besar kebanding memilih rasa yang enak…

Orang-orang akan merasa lebih bahagia jika ia tidak harus memilih dari opsi yang begitu banyak. Kurang lebih, ini cara seseorang akan berpikir untuk memesan, saat memakan, dan sesudah memesan… Yang anda akan dengar sedikit ironis, tapi nyata.

  • Sebelum memesan, orang-orang akan jauh lebih bingung ketika perlu melihat dan memilih dari 12 opsi ketimbang 4. Ini mungkin hal yang paling obvious ketimbang fase-fase sesudahnya, tapi tetap layak disebutkan karena banyak orang pergi ke suatu restoran tanpa rencana sedikitpun ingin memesan menu apa. Nyatanya, meski benda yang dipesan sudah sama persis, yaitu Es krim, orang-orang tetap kebingungan memesan es krim apa…
    • Oh, iya, jangan lupa jenis orang yang pergi keluar rumah tanpa tahu ingin ke restoran apa… Itu juga sangat mungkin menjadi korban keplin-plan-an
  • Saat memakan es krim, ia akan berpikir… “Oh iya, tau gitu aku mesen es krim rasa … aja ya… es krim ini kayanya kalah enak sama yang itu.” Dengan jumlah opsi yang lebih dikit, flavor palette dan opsi yang bisa kita ambil jauh lebih sedikit. Coba ingat fakta bahwa, biasanya orang yang memesan es krim coklat tidak akan memesan es krim stroberi, kecuali memang lagi ngidam, dan juga pemesan cookies and cream tidak akan memesan es krim vanilla, karena pada dasarnya mereka sama persis dengan perbedaan adanya cookie yang sangat enak itu..
    • Dengan opsi yang banyak, penyesalan akan lebih mungkin terjadi, terutama jika citarasa dua es krim mirip dan kita memesan yang tidak sesuai dengan selera milik kita.
  • Sesudah memesan, jika opsinya memang banyak, kebanyakan orang akan langsung merencanakan kapan berikutnya ia akan kesana atau setidaknya, mereka akan merencanakan apa yang akan mereka pesan berikutnya. Jika opsi yang disediakan memang sedikit, orang-orang sudah tahu akan memesan apa berikutnya anda datang ke tukang es krim tersebut.
    • Tentunya, ini berarti penjualan di tukang es krim yang banyak opsi berpotensi lebih tinggi, tetapi, ia harus membayar dengan rasa kebingungan dan kebahagiaan si pembeli. Oh, ini alasan sampel disediakan, agar mereka makin bingung dan makin penasaran.

Jadi, ingat baik-baik…Β  Es Krim minimarket > Es krim toko.

Itu berlaku jika anda mengejar rasa kepuasan tentunya…

Memilih

Jadi, sesudah sebuah riset menyatakan bahwa pada dasarnya seorang manusia akan merasa lebih puas ketika tidak ada banyak pilihan, ini tidak mengurangi fakta bahwa ketika kita diminta untuk memilih sesuatu, kita tetap akan memilih, baik itu karena kewajiban, atau itu karena keinginan.

Jadi, bagaimana cara kita menghindari pilihan yang buruk?

Ada dua cara untuk “menghindari” pilihan yang buruk, namun sayangnya, kedua cara tersebut tidak benar-benar bisa membuat kita bersih dari segala pilihan buruk. Karena tentunya, tanpa ada pilihan baik, tidak akan ada pilihan buruk, tanpa ada pilihan buruk, takkan ada pilihan baik, dan kita bisa merasakan kebahagiaan jika kita menikmati pilihan yang kita buat, dan menikmati proses pemilihan tersebut.

Ya, kedua metode ini bukan metode yang “inspiratif” atau yang “motivasional” seperti yang orang Indonesia biasanya inginkan. Tetapi jika buku Self Help dengan judul “Subtle art of not giving a F*** ” telah masuk Indonesia, kurasa ini momen yang tepat untuk benar-benar menulis buku self help yang orang Indonesia butuhkan. (Bukan seperti buku Chairul Tanjung pada umumnya)

Menerima

Cara menghindari pilihan yang buruk nomor satu adalah dengan menerima, dan tentunya, menyadari bahwa pilihan yang kita buat memang sebuah pilihan yang buruk.

Maksudku, kita selalu bisa mengantisipasi satu dan lain hal, tetapi pada akhirnya ketika kita mendapatkan sebuah pilihan buruk, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menerimanya, ketika masalahnya tidak terlalu besar, apalagi untuk masalah kecil.

Kita punya energi yang sangat terbatas untuk digunakan, dan juga, kita tidak bisa peduli pada tiap hal, baik itu hal yang besar, atau yang kecil. Jadi, kemampuan untuk memilih hal apa yang bisa kita anggap “Masa Bodoh” adalah hal yang sangat penting.

Kita tidak ingin membuang energi kita dan ruang untuk berpikir kita hanya karena kita telah memilih restoran yang salah untuk makan siang. Ada restoran baik dan ada restoran buruk, terkadang kita perlu bersabar dan ingat untuk jangan pergi ke restoran tersebut lagi, karena, misalnya, porsinya kecil.

Intinya, pada sebuah tindakan yang bisa dibilang hampir irelevan dengan keputusan hidup, jika itu memang tidak penting, jangan anggap masalah sepele seperti itu sebagai tindakan yang krusial dan marah-marah ketika ada hal yang tidak ideal, atau tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika kita mau menerima bahwa kita membuat kesalahan atau membuat pilihan yang salah, akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan diri kita sendiri. Memaafkan diri kita sendiri jauh lebih penting ketika ingin merasa tenang kebanding dengan berusaha terlalu keras untuk meminta maaf pada orang lain.

Bersabar

Kamu tidak akan pernah ingin membuat keputusan yang penting dan yang tidak bisa diterima atau disepelekan dengan terburu-buru.

Jika pilihan yang akan kamu lakukan memang benar-benar penting, maka bersabarlah. Lebih cepat bukan berarti lebih baik…

Pikirkan semua bentuk sumber daya yang kamu rela untuk habiskan dan gunakan demi memecahkan satu masalah, atau membuat satu keputusan… Jika sumber daya dan waktu tersebut memangΒ terasa pantas untuk digunakan dan dimanfaatkan demi keputusan tersebut… (misalnya, membuang 10 hari libur demi mencari lahan untuk rumah) lakukan.

Jika tidak… Ya… Jangan.

Keputusan yang buruk bisa dihindari, tetapi seandainya ia akan terjadi, anda akan merasa lebih baik jika anda tidak menggunakan terlalu banyak energi anda dari yang anda seharusnya gunakan. Jika anda sudah rela dan sudah menggunakan energi lebih banyak dari seharusnya… Pastikan keputusan yang anda buat memang benar πŸ˜‰

Kesimpulan

Kebahagiaan bukan hasil, melainkan proses. Keinginan untuk menerima dan menikmati proses suatu hal, baik itu proses memilih benda, atau proses menikmati suatu makanan, suatu sofa… itulah rasa puas yang nyata.

Bukan berusaha pamer ke orang bahwa anda mendapatkan benda itu, melainkan menikmati benda yang anda dapatkan…

Jangan salah gunakan rasa puas yang anda berhak nikmati untuk rasa puas ketika mendapat pengakuan dari orang lain.

Budaya Negara: Belgia

Budaya Negara: Belgia

Pada hari awal-awal aku memulai Homeschooling (sekitar 3 tahun yang lalu)… Aku diminta untuk membuat sebuah essay tiap minggunya mengenai sebuah negara. Ternyata, aku sangat-sangat payah dalam melakukan itu.

Aku berhenti pada essay pertama, dan karena kita melakukannya secara alfabetikal, negara pertama yang kupilih adalah Austria. Oke, jadi sekarang aku akan merubah konten dan hal-hal yang dituliskan dalam pelajaran budaya serta geografiku… Lalu kita akan pindah ke huruf… B!

Sudah kupilih… Belgia…

Apa yang anda bisa harapkan…

Jika aku membuat artikel seperti ini lagi, akan aku copy-paste teks di bawah…

Serial ini dibuat dengan tujuan memberikan fakta menarik mengenai 3 hal ini pada sebuah negara…

Serta juga hal membosankan dari Wikipedia sebagai pembukaan.

  • Food
  • Science
  • Sports

Rumus F Double S ini akan aku terapkan untuk memberikan gambaran budaya yang menarik pada tiap negara. Jika ada sebuah aktor atau aktris yang berasal dari negara ini, ada kemungkinan juga bagiku untuk menyelipkan namanya.

Pembukaan

Introduksi dulu. Dalam introduksi aku akan menjelaskan hal-hal paling membosankan, dan juga fakta-fakta dasar yang anda akan dapatkan dari wikipedia.

Silahkan skip jika sudah mengetahui.

  • Ibukota: Brussels
  • Bahasa Resmi: Belanda, Prancis, Jerman.
  • Demonym: Belgian
  • Bentuk Pemerintahan: Monarki Parliamenter
  • Mata Uang: Euro

Oke, silahkan cari Belgium di Google.com dan anda akan mengetahui ini jika anda klik sugesti paling atas, yaitu Wikipedia. Semoga anda belum mengantuk, karena aku mendapat kritikan pada essay budaya dan geografiku sebelumnya… cheerios.

Food

Siapa yang tidak suka makanan?

Suka atau tidak, manusia perlu makanan untuk bertahan hidup. Dan sekali lagi, suka atau tidak, banyak orang pergi ke suatu negara untuk mencoba makanan di negara tersebut.

Jadi, mari kita mulai membahas makanan asal Belgia…

Franchise-an…

Indonesia sendiri memiliki contoh Franchise yang cocok dengan makanan asal Belgia yang sangat enak ini. Namanya pun cukup kentara dan memberi tahu kita bahwa asal makanan nomor satu ini… dari Belgia. (Bukan iklan, tapi ketika anda menginginkan makanan ini dengan harga murah, anda akan mencari ke Food court, dan juga ke stand ini)

Bilang hai pada Belgian Waffle.

Siapa yang tidak tahu dengan waffle? Siapa yang tidak tahu dengan Belgian Waffle? Kurasa hampir semua orang sudah tahu, meskipun mereka belum makan. Tetapi…

Apa yang membedakan Belgian Waffle dengan Waffle biasa? Atau sebenarnya Waffle tidak ada bedanya dengan Belgian Waffle?

Belgian Waffle pada dasarnya berbeda dengan waffle karena 2 alasan.

  1. Bentuk Belgian Waffle yang asli harus bulat, Waffle biasa boleh kotak ataupun bulat, tetapi jika bentuknya tidak bulat maka ia tidak bisa dianggap sebagai Belgian Waffle.
  2. Belgian Waffle cenderung tipis, dan karena dimasak dengan api panas untuk waktu relatif lama, teksturnya akan kering, dan tidak terasa seperti adonan pancake yang lembut. Kurang lebih seperti memakan keripik manis.

Franchise Belgian Waffle yang anda temukan di Food Court hanyalah Wafel dengan nama Belgian Waffle, tetapi bukanlah Belgian Waffle.

Semoga anda tidak kecewa. Jika anda kecewa, maka ada satu makanan manis dan krenyes-krenyes asal Belgia lainnya yang anda bisa dapatkan di supermarket terdekat … Bukan sponsor… Hanya contoh.

Spekulasi

Spekulaas namanya.

Ia begitu enak, dan rasa rempahnya yang begitu kuat tidak bisa kujelaskan. Terutama jika Spekulaas tersebut homemade. Jika kita bisa menikmati Spekulaas pabrik, kurasa kita akan lebih menyukai yang Homemade, dan dicetak serta dibuat dengan cinta.

Intinya, Spekulaas ini adalah biskuit rempah, konsep biskuit ini tidak terlalu berbeda dengan ginger bread, yang membedakan mungkin hanya rerempahan yang digunakan.

Spekulaas bisa dan boleh menggunakan rempah-rempah ini… Tapi kurasa adanya improvisasi sedikit tidak terlalu salah.

  • Kayu Manis
  • Buah Pala
  • Cengkeh
  • Kapulaga
  • Jahe
  • Anistar
  • dan lain-lain…

Hmm… Darimana mereka bisa mendapatkan rerempahan tersebut pada daerah dengan 4 musim… Hmm… *sarkasme* tentunya kita tahu mereka mendapatkan rempah dari hasil menjarah dan menjajah, mungkin beberapa rempah ini dibeli dari stok Belanda yang mendapat rempah-rempah mereka dari… Indonesia.

Terkadang, hal terbaik di dunia ini berasal dari kontroversi yang amat kuat…

Terakhir, kita akan masukkan sumber kontroversi cukup besar di dunia makanan… Kentang Goreng.

French or Belgian?

Apakah kentang goreng berasal dari Prancis atau Belgia?

Aku sudah membaca 4-5 versi mengenai ini, dan masalahnya adalah, Fritters, atau Frites, pertama kali diciptakan oleh orang Belgia. Sayangnya, mereka tidak membuat rasa cemilan ini cocok untuk semua orang. Warna dan bumbu yang dimasukkan ke dalamnya pun terlalu kaya rasa akan rempah dan terlalu kering untuk dinikmati semua orang.

Seperti anda bisa lihat, kentang disini memiliki warna lebih gelap, ukuran potongan lebih besar, serta potongan rempah.

Banyak artikel dan rekap sejarah memberikan versi miliknya, tetapi aku paling percaya pada versi ini, dimana orang Belgia berusaha mereplika kesuksesan mereka dengan Spekulaas serta Waffle pada makanan asin. Hasilnya, rasa kentang terlalu kuat, dan terlalu berminyak.

Orang Prancis membuat French Fries yang kita ketahui sekarang, dan… BAM! Rasanya lebih ringan dan lebih cocok dijadikan hidangan pendamping daging, steak, atau ayam bakar.

Selain itu, orang Belgia selalu merekomendasikan orang-orang untuk memakan kentang ini dengan mayo. Terkadang Mayonnaise langsung diberikan di atas kentang, padahal, rasa mayonnaise dan kentang belum tentu cocok untuk semua orang.

Kekeuh-nya orang Belgia bahwa mereka yang menciptakan makanan ini, sayangnya, tidak diakui orang-orang Amerika yang dihidangkan French Fries. Mereka langsung menyebut kentang-kentang ini “French Fries” karena orang Prancis sendiri menyebutnya Frites, dan mereka menyantap hidangan ini dari Prancis.

Maaf Belgia.

Sports

Aku memasukkan bagian ini karena menurutku ini menarik. Akan ditemukan satu atau dua fakta menarik dari sebuah negara ketika kita melihat prestasi olahraga mereka.

Fun Fact by the way… 16% dari populasi Belgia yang usianya dibawah 30 merupakan atlet. Secara persentase, itu banyak… Catat itu.

Bersepeda

Tour De France…

Tur Prancis dengan Sepeda. Tiap tahun, sejumlah pria berusaha keras untuk menaiki sepeda dan melewati rute yang ditentukan, dan mengadu kecepatan mereka.

Atau semacamnya, aku tidak terlalu mengerti penjelasan rute yang diberikan. Intinya, 23 hari, dengan 21 hari dibuang untuk bersepeda, melewati banyak negara disekitaran Prancis, tetapi mayoritas perjalanan dilakukan di Prancis.

Intinya, Belgia adalah negara non tuan rumah yang memiliki pemenang Tour De France terbanyak! Ya, sekali lagi, mereka dibayang-bayangi oleh Prancis.

Sepakbola

Belgia… Tim dukungan nomor duaku untuk memenangkan Piala Dunia 2018. (nomor satunya Uruguay) keduanya kalah oleh tim yang sama… Hiks. (oh iya, tim dukungan nomor tigaku juga kalah oleh tim yang sama pada final)

Sepakbola merupakan olahraga kedua paling populer di Belgia. Nomor satu sudah disebut di atas. Kurasa jika banyak bangunan menarik dan pemandangan bagus, aku akan bersepeda setiap hari (jika aku bisa… sayangnya aku tidak bisa :'( ), jadi kepopuleran bersepeda di Belgia bisa dimengerti.

Tim sepakbola Belgia sekarang merupakan salah satu yang paling bagus di dunia. Hampir seluruh pemainnya bermain untuk tim kelas besar sebagai starter, dan bukan hanya cadangan.

  1. Thibaut Courtois (Real Madrid) Penjaga Gawang
  2. Thomas Meunier (Paris Saint Germain) Bek kanan
  3. Vincent Kompany (Manchester City) Bek tengah
  4. Toby Alderweireld (Tottenham Hotspurs) Bek tengah
  5. Jorge Lukaku (Lazio) Bek kiri
  6. Alex Witsel (Borussia Dortmund) Gelandang
  7. Kevin De Bruyne (Manchester City) Gelandang Serang
  8. Pemain acak, bisa Yannick Carrasco, atau diganti dengan bek tengah lain, tergantung posisi yang dibutuhkan
  9. Romelu Lukaku (Manchester United) Penyerang
  10. Eden Hazard (Chelsea F.C.) Sayap Kiri
  11. Dries Mertens (Napoli) Sayap Kanan

Atau ya, tergantung kebutuhan. Intinya, starting 11 ideal Belgia hampir seluruhnya dipenuhi pemain bagus.

Di Belgia sendiri, sepakbola bukanlah gaya hidup seperti di Argentina, Brazil, atau Inggris. Mayoritas pemain ini menjadi atlit professional karena 2 alasan…

  • Keluarganya penuh dengan atlit, dan ia mengikuti jalur tersebut. (Contoh: Eden Hazard, kedua Lukaku, Courtois)
  • Ia menyukai permainannya, dan mendapat dukungan keluarga karena ia cukup jago untuk menjadi atlit professional. (Kompany)

Lebih karena alasan keluarga, dan bukan untuk berteman atau mencari teman, apalagi untuk berkompetisi. Sepertinya mereka sangat santai!

Untuk olahraga, aku hanya akan memberikan dua, karena… yang lainnya tidak terlalu menarik.

Science!

HAHA! Ini bagian favoritku.

Genetika dan Bakteri.

Orang Belgia pada abad ke 20 memiliki ketertarikan amat unik ke Genetika…

Georges Lemaitre, sebagai contoh, adalah seorang pendeta asal Belgia yang menemukan suatu pola dalam genetika dan untaian DNA. Ia merupakan salah satu orang pertama yang menemukan pola kemiripan antara hewan selain mamalia. (misal, fakta bahwa kodok dan katak memiliki gen mirip)

Meski ia lebih terkenal sebagai orang pertama yang menyatakan bahwa alam semesta ini terus menerus berkembang dan membesar, aku lebih menyukai teori-teori sederhananya mengenai genetika dan bakteri.

Ia seorang pendeta yang memiliki hobi unik yaitu melihat sel-sel, entah itu sel katak, kodok, spesimen bakteri, atau semacamnya… Apapun itu, bila ukurannya kecil sampai level mikroskopis, ia menyukainya!

Selain Georges Lemaitre, ada juga Christian de Duve

Ia memenangkan hadiah Nobel karena penemuannya dalam dunia biokimia, yaitu Lysosome. Lysosome adalah bagian kecil dari sel yang mengandung enzim. Dalam sebuah Lysosome, enzim di dalamnya berguna untuk memecahkan nutrisi. Anggap saja bahwa Lysosome adalah aplikasi converter yang bisa mengubah dokumen word milikmu menjadi sebuah dokumen PDF dan bisa dilihat oleh lebih banyak orang dengan nyaman.

Lysosome mengubah zat yang kompleks menjadi zat sederhana dan bisa lebih dinikmati bagian sel-sel lain.

Uniknya, ia tidak mencari Lysosome secara sengaja. Ia hanya menemukannya secara tidak sengaja karena ia sedang mencoba-coba seni mikroskopis dengan menambahkan zat-zat pada sel-sel yang sudah pecah.

Lalu, ia menyadari bahwa struktur si zat yang bertemu dengan sel ini berubah dan terpecah. Ketidaksengajaaan ini berujung ke penemuan Lysosome, yang sampai sekarang masih ada dan dipelajari anak SMA pada umumnya.

Hargai hal-hal kecil

Sepertinya juga ada banyak orang yang berpendidikan memiliki sebuah mikroskop di rumahnya. Orang Belgia pada umunnya, jika ia memiliki pendidikan dan menghasilkan cukup uang untuk membuat atau membeli mikroskop… mereka akan mempunyainya.

Bagi mereka, dunia sel seperti teater, dan amat disayangkan, Belgia tidak memiliki teater yang cukup terkenal. Tidak terkejut… πŸ™‚

Kesimpulan

Kepribadian orang Belgia pada umumnya…

  • Menghargai hal-hal kecil sebagai hobi (lihat olahraga, serta sains)
  • Ketat dengan tradisi keluarga (bisa dilihat di Olahraga)
  • Hobi bisa jadi pekerjaan, selama keluarga memberi dukungan (lihat olahraga, sains, dan makanan)
  • Mereka sepertinya santai… (Prancis menghalangi kesuksesan mereka beberapa kali, dan bahkan ketika mereka mengklaim French Fries, mereka tidak terlalu kekeuh pada hal tersebut)

Semoga artikel ini menyenangkan, dan tidak seperti essay negara anda pada umumnya!

Homeschooler’s Bias

Homeschooler’s Bias

Artikel ini akan menjelaskan sedikit mengenai apa yang aku, dan teman-temanku mungkin rasakan dan jenis-jenis judgement yang kita biasa terima, baik oleh anak-anak seumuran, guru-guru, dan masih banyak lagi…

Ketika kamu seorang homeschooler, percaya padaku, hidupmu akan terasa lebih enak! Tapi juga, percaya padaku, kamu harus mau mendengar dan menerima judgement dari orang lain… Sebagai orang yang memang sering beraktivitas di umum, komentar-komentar yang diberikan seperti ini bisa memberikanmu banyak reaksi kesal… Tapi nanti kau akan terbiasa sendiri, jadi santai saja!\

Jadi, mari kita masuk ke dalam artikel…

Typical Stigmas

Kalau kita bicara stigma, pertanyaan yang sudah hatam seperti gurunya datang ke rumah, ijazah, cara mulai dan blablabla… Tidak masuk. (aku sejujurnya lebih senang menjawab 10 pertanyaan tipikal seperti ini, daripada satu stigma yang tidak dibicarakan keras-keras)

Stigma adalah pikiran negatif, yang terkadang tidak perlu dikatakan, atau bahkan tidak pernah tampak dari ekspresi muka… Namun, dengan analisa yang baik, kita bisa mengetahui perasaan seseorang begitu kita memberikan fakta itu.

  • Homeschooling gak punya temen… *rolleyes*
  • Homeschooling mahal… *mengeluarkan sound effect… Eh*
  • Anak-anak homeschooling gak punya sopan santun karena tidak diajarkan social skills *tersenyum manis, tapi sinis*

Aku pernah bertemu orang yang langsung mengatakan stigma tersebut tanpa rasa malu, yang hanya membuat ekspresi muka, yang mengatakan stigma mereka dengan kalimat pembuka seperti “I’m not judging, I’m just saying” tetapi kalimat mereka penuh dan kaya akan judgement, dan yang berusaha memberikan konsultasi mengenai sebuah masalah… YANG SEBENARNYA TIDAK ADA!

Aku merasa lebih senang memberikan reaksi kepada orang yang menyatakan stigma tersebut keras-keras kebanding yang hanya membuat ekspresi muka, yang memberikan solusi mereka pada masalah yang fiktif, dan tentunya… jenis stigma lainnya.

How one must react towards those Stigmas…

Ada banyak reaksi yang bisa diberikan…

  • Angguk dan pura-pura bodoh
    • Kelebihan reaksi ini… Anda tidak perlu menjelaskan sesuatu kepada seseorang dan membuang 15-30 menit hidup anda demi menjelaskan suatu fakta yang kentara.
    • Kekurangannya… Lawan bicara anda bisa menerima dan menganggap stigma mereka sebagai fakta yang nyata…
  • Langsung berbicara SEBELUM lawan bicara memberikan stigma milik mereka
    • Kelebihan… Anda tidak perlu mendengar stigma yang sama beratus juta kali ketika diajak bicara. Dan juga, anda bisa merubah stigma lawan bicara anda sebelum stigma itu nyata.
    • Sedikit kesalahan, maka stigma milik lawan bicaramu benar-benar muncul. Oh, dan tentunya, orang yang kekeuh akan tetap menyatakan stigma yang sama jika pikirannya tak berubah…
  • Menunggu, lalu menjawab dengan jawaban sedetil mungkin
    • Baiknya adalah, kita bisa benar-benar mengetahui stigma lawan bicara kita, lalu menghilangkan pikiran lawan bicara kita mengenai stigma itu.
    • Buruknya, kita biasanya tetap kena stigma, dan terkadang, cara ini tidak berpengaruh, atau membuang waktu paling banyak.
  • Memberikan impresi baik tanpa perlu menjawab stigma, dan stigma tersebut hilang sendiri pada ujung percakapan.
    • Jika lawan bicara kita merasa lebih terkesan, maka stigma milik mereka hampir pasti bisa hilang.
    • Waktu terbuang paling banyak, dan tidak semua orang bisa membuat orang lain merasa terkesan semudah itu saja…

Reaksi ini tidak terlalu berhubungan dengan topik utama ku hari ini…. Namun, jika anda memang memiliki masalah, kurasa solusi ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kalian… Cheerios

Stigma Crisis

Ketika kita bicara stigma, kita bicara close mindedness, ketika kita bicara close mindedness, ada dua sisi dan asalnya pemikiran tersebut. Satu karena mereka memang tidak tahu opsi lain selain opsi yang mereka sudah percayai itu, dan yang kedua adalah karena mereka memang tidak mau berpikir terbuka.

Masalah kedua ini tidak bisa diperbaiki sama sekali, karena bagaimanapun juga, itu memang karakter. Untungnya, masalah pertama yang juga jadi hasil stigma, sama problematiknya dengan ketertutupan pikiran seseorang.

Solusi yang kuberikan untungnya telah menutup masalah pertama, dan itulah alasan kita perlu mengedukasi orang-orang seperti itu.

Stigma akan selalu ada, dan ketika kita keluar dari sistem, maka kita harus siap untuk dikritik dan dikomentari oleh orang-orang yang berada di dalam sistem tersebut. Namun, yang menjadi masalah adalah, banyak orang menyalahgunakan faktor dan motif dari suatu tindakan, lalu menyambungkannya dengan stigma milik mereka.

Contoh-contoh kasus

Case 1:

Sekelompok anak-anak dalam rentang usia 15-17 sedang terlibat dalam sebuah percakapan. Selama percakapan itu, ada 2 anak yang pendiam. Salah satu dari anak tersebut merupakan praktisi homeschool, sedangkan satu yang lain menggunakan seragam SMA.

Sesudah percakapan itu beres, kedua anak tersebut pergi terlebih dahulu.

Anak-anak (atau Remaja) tersebut memutuskan untuk melanjutkan percakapan lebih lanjut…

  • R1: Kasihan yah tadi… dia homeschooling, pasti introvert dan gak bisa sosialisasi tuh…
  • R2: Untung kita dibolehin sekolah, jadi kita bisa dan berani ngomong dan ngobrol…
  • R3: Perasaan tadi yang diem ada dua orang deh… Siapa sih yang satunya lagi…
  • R1: Ah, itu mah cuman karakter doang, biasa kalau ada orang yang mau diem kaya gitu
  • R2: Iya, wajar kok, di sekolah juga banyak yang pendiam

Jadi, masalahnya adalah… Ketika orang mengetahui suatu fakta yang aneh mengenai seseorang, mereka akan berasumsi bahwa fakta aneh tersebut adalah penyebab dari suatu tindakan.

Padahal, belum tentu lho fakta aneh itu penyebabnya… Masih saja ada kemungkinan besar bahwa fakta aneh itu memang ada, tapi penyebab dari tindakan atau aksi tersebut hanya karena suatu penyebab yang biasa…

Pada kasus tadi, penyebab itu suatu hal yang biasa, yaitu memang karakter remaja homeschool tersebut memang pendiam dan hanya merespon tanpa memulai suatu percakapan, sedangkan, ketika remaja yang lain sedang bersekolah formal, kenapa ia malah diberikan penilaian bahwa tindakan miliknya merupakan tindakan biasa?

Case 2:

Pada sebuah lomba yang tidak dinilai secara sistematis, melainkan secara subjektif… Seorang peserta yang merupakan seorang homeschooler diberi pertanyaan yang menanyakan tentang nilai-nilai miliknya.

Nilai-nilai miliknya bertentangan dengan norma umum, dan juri langsung memberi label padanya bahwa ia orang yang tidak berhak menang, karena dia homeschooling, juga karena dia memberikan jawaban yang tentunya sangat subjektif.

Sekali lagi, pada kasus ini…

Dikarenakan ada satu hal yang memang tidak wajar dari seseorang (which we all gotta have) secara otomatis, orang-orang yang mendengar ketidakwajaran itu, akan langsung memberi koneksi pada homeschooling sebagai faktor dan alasan suatu ketidakwajaran.

This stuff happens a lot…

The Issue

Jadi begini, sebagai praktisi, kita memang sudah terbiasa bertemu dan menerima komentar beserta kritikan dari orang-orang mengenai hal-hal seperti ini. Masalahnya adalah, ketika seseorang yang di luar sistem melakukan hal yang normal, orang-orang akan secara otomatis melihatnya sebagai suatu kondisi yang disebabkan karena dia berada di luar sistem tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang sangat judgemental dan sebenarnya, jika kita ingin memberikan judgement untuk orang-orang sesekali, itu hal yang normal…

The judgement itself is not and never will be the issue.

Masalahnya adalah, banyak orang, terutama di Indonesia, melihat hal dari satu sudut pandang dan percaya bahwa hasil judging mereka adalah kenyataan, meskipun itu hanya sebuah pemikiran.

Kesimpulan

People judge, and it’s normal.

Seperti aku bilang, manusia memang makhluk yang judgemental, tapi masalah (ups, masalah nomor dua terbesar) terbesarnya adalah fakta bahwa orang-orang memang langsung saja percaya pada penilaian dan loncatan kesimpulan mereka tersebut.

Masalah terbesar yang memang masalah terbesarnya ada di ketertutupannya pikiran seseorang.

Banyak orang tidak berpikir duaΒ  kali, dan juga banyak orang tidak pernah mau merubah pikiran mereka sama sekali. Kita harus mau melihat sisi baik dan kita harus mau melihat hal dari banyak sudut pandang, sebelum memberikan penilaian.

Jangan pernah mau terjebak dalam stigma, judgement, euforia, dan juga perasaan… Sampai kita benar-benar yakin, dan sudah memberikan penilaian terbaik yang kita bisa berikan.

Itu saja dariku, terima kasih, dan sampai lain waktu!

Modern Day Gods

Modern Day Gods

Sebagai pengisi konten sebuah situs yang sempat menuliskan mitologi, yang di buat ala-ala modern, dan juga sebagai penulis yang suka sejarah peradaban manusia… Aku ingin memberikan konfirmasi dasar, bahwa di dunia kita sekarang… Masih ada… Mungkin bukan Dewa, melainkan, Entitas kuat yang sedang berusaha mengubah dunia. Layaknya pada zaman dahulu, para dewa dalam mitologi yang membentuk dan menciptakan dunia yang kita miliki sekarang.

Siapakah Dewa, atau entitas tersebut?

Inspirasi:

  • Homo Deus: A brief history of Tomorrow
    • Kali ini, inspirasinya hanya satu saja, tetapi, semoga, artikel ini tidak begitu membingungkan dan tetap menarik untuk dibaca.

Dewa? Atau Peradaban?

Dewa, dan Dewa lagi.

Ribuan tahun yang lalu, selalu saja, dewa yang dijadikan benda pujaan, entitas contoh untuk “disalahkan” mengenai terciptanya suatu benda, baik itu sesuatu yang baik, atau sesuatu yang buruk.

Terkadang, dewa ini dielu-elukan karena kemampuannya menciptakan sesuatu seperti hujan, sungai, gempa, atau apapun itu. Terkadang juga, dewa ini ditakuti karena kemampuannya merusak sesuatu.

Manusia melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk memastikan hawa nafsu dewa atau dewi ini terpenuhi, agar mereka selalu diberikan berkah, dan diamankan dari kerusakan.

Sebagai contoh, Dewa Sobek dipuja, dan bahkan sampai sekarangpun, Sobek masih dianggap telah melakukan suatu tindakan yang amat mulia dengan membuat sungai nil. Sobek sendiri juga telah mengalirkan air dari sungai tersebut, agar air itu terus menerus mengalir, dan mengalir, ia telah menciptakan kanal, dengan bantuan 1000 manusia, Firaun, dan juga bahan-bahan dari seluruh kerajaan mesir.

Mendengar ironi dari situ?

Sebenarnya, beberapa ahli telah menyatakan bahwa dahulu, beberapa orang Mesir telah sukses membuat kanal agar sungai nil mengalir dengan lebih efisien. Sedangkan, pada beberapa teks mentah dari tablet-tablet di Mesir, bahwa Sobek, dewa Buaya lah yang membuat sungai Nil, dan kanal-kanal kecil agar air tersebut mengaliri seluruh negara itu.

Meski tidak baik jika kita seratus persen menyangkal keberadaan Sobek, perlu diketahui bahwa memang betul, Manusia mengerjakan kanal dari Sungai Nil, atas perintah dari Firaun. Sementara, yang tercatat, hanyalah Sobek yang melakukan pekerjaan kanal itu.

Beberapa antropolog menyatakan bahwa ini terjadi karena suatu teori yang amat erat dengan Brand. Pada akhirnya, manusia ingin melakukan sesuatu, dan hanya akan melakukan sesuatu, sesudah ada suatu merek yang mendukung mereka untuk mengerjakan tugas itu. Ada kemungkinan bahwa si merek ini tidak melakukan apa-apa, dan hanya ada sebagai pajangan dan cara untuk “menipu” kebanyakan orang untuk melakukan sesuatu.

Berdasarkan apa yang kita ketahui sekarang, umm… Mungkin saja tidak ada dewa apapun pada zaman dahulu, dan itu hanya cara agar para raja dapat menakuti semua penduduk kerajaannya agar melakukan apa yang raja tersebut ingin mereka lakukan.

Banyak antropolog juga yakin bahwa teriakan brand dan merek yang dibungkus sebagai dewa pada zaman dahulu kala telah terdengar cukup keras, dan juga tercerminkan di masa sekarang.

Perlu dicatat bahwa sampai detik ini, manusia secara umum, meyakini bahwa Firaun dan Sobek lah yang membuat kanal di Mesir dan memajukan peradaban kuat itu hingga sekarang. Secara tidak langsung, kita takkan pernah percaya siapa yang melakukan apa, sampai kita tahu bahwa ada suatu bungkusan yang berupa merek, atau brand untuk melakukan si hal tersebut.

Jika bingung, mari kita kemas ini dalam satu kalimat, dan akan aku jelaskan kalimat tersebut.

Sobek, dan Firaun membuat kanal yang mengalirkan air di Sungai Nil.

Nyatanya, dari kalimat tersebut, yang membuat kanal untuk mengalirkan air di Sungai Nil tersebut bukanlah Sobek atau Firaun, melainkan… Rakyat Mesir. Sobek hanyalah bungkusan agar fakta tersebut lebih mudah dicerna oleh manusia.

The Modern Mirror

Liverpool F.C. Telah memenangkan Champions League 5 kali.

Namun pada sisi lain, yang memenangkan Champions League itu bukan orang bernama Liverpool kan? Melainkan tim, yang berada dalam naungan klub sepakbola tersebut.

Juga ada Mobil yang berusaha menyetir dirinya sendiri, jika anda lupa, memang ada… Google sedang membuatnya.

Tapi umm… Apakah betul Google yang membuatnya? Setahuku Google itu adalah search engine, bukan Artificial Superintelligence.

Siapa yang ingat mengenai Waymo, perusahaan startup yang Google beli? Siapa juga yang ingat Sebastian Thrun? Pionir ide tersebut? Kurasa hanya sedikit orang yang bisa mengingat Sebastian Thrun.

Sebenarnya, kita butuh brand ini karena kita merasa lebih baik melakukan sesuatu untuk “dipuja”. Kalau misalnya kita bilang ke orang, “I work for Google” itu sama saja dengan bilang ke orang lain, pada zaman Yunani kuno “I work at Zeus’s Temple”. Brand ini adalah suatu kesan megah, suatu kesan dewa yang menjiwai manusia, dan memberikan mereka nafsu serta drive untuk melakukan sesuatu.

Tanpa adanya suatu merek familier, suatu hal takkan punya jiwa. Dan jiwa tersebut, adalah asal hidup dan semangat manusia. Ini salah sekian alasan jutaan orang percaya dan memegang teguh agama milik mereka, dan ini juga salah sekian alasan, kita bisa merasa bangga jika kita bekerja untuk sebuah perusahaan yang telah diketahui banyak orang.

(Percaya padaku, kamu akan merasa lebih senang jika kamu bilang “I work for Amazon” alih-alih kamu bilang, “I work for Jeff Bezos” Tetapi, ada sedikit pengecualian untuk itu, dan akan aku bahas sedikit di belakang)

So, Are Companies Gods Now?

Pertanyaan besarnya adalah, apakah perusahaan telah memperkuat dirinya dengan memberikan suatu kesan pride jika kita bekerja untuk mereka? Apakah perusahaan bisa dianggap setara dengan dewa? Apakah itu hal yang salah?

Jika ada yang bertanya denganku, justru Dewa pada zaman dahulu kala adalah suatu perusahaan.

Firaun bisa dianggap sebagai CEO dari Perusahaan bernama Sobek yang beroperasi di pembuatan kanal, dan tentunya, semua petinggi Mesir di kala itu juga bisa dianggap sebagai CTO, CMO, C whatever O dari perusahaan tersebut. Sobek adalah merek, dan nama perusahaan, bukan orang yang melakukannya.

Tetapi, siapa yang melakukan pekerjaan kanal itu? Sobek. Padahal, jika dipikir lagi, Sobek adalah merek, dan bukan orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Namun, secara universal, merek ini telah terasa sebagai suatu jiwa dan suatu bentuk sendiri…

Jiwa nyata ini telah membuat pertanyaan seperti ini mungkin untuk dikatakan.

  • Who won the 2018 World Cup?” France! Padahal, Prancis… adalah sebuah negara πŸ˜‰
  • Who is currently developing an Artificial Intelligence?” Every crazy genius… *OOPS* sorry, ralat… Singularity Univesity. dari namanya juga ketahuan ya, itu universitas
  • Who’s developing technology for us to go to space?” Elon Musk
    • Dalam kasus ini, Elon Musk telah mengalahkan SpaceX dalam kasus brand…
  • Who and Who, and Who…”

Begitu kuatnya jiwa mereka, benda mati ini terasa lebih hidup, sehingga kita akan menanyakan pertanyaan Who, alih-alih menanyakan pertanyaan What company, atau What country…

Pada akhirnya, kita mengasosiasikan sebuah benda mati sebagai sesuatu yang berjiwa karena benda itu sedang melakukan sesuatu yang… Out of our minds. It’s just that fascinating.

Tapi, pertanyaannya adalah, mengapa sesuatu yang tak berjiwa seperti ini bisa melakukan sesuatu seperti itu? Mengubah suatu dasar bahasa Inggris.

Kembali lagi ke otak dasar kita…

We are What we Worship

Kita pasti mengelu-elukan atau merasa wah pada suatu hal.

Seperti kusebut di bagian awal… Kita akan merasa lebih baik jika kita melakukan sesuatu untuk merek yang imajinatif ketimbang melakukan sesuatu untuk orang lain.

Dalam imajinasi kita, sukses bekerja untuk suatu dewa, atau suatu merek akan memberikan kita perasaan mencapai sesuatu, daripada kita sukses bekerja… Untuk bos kita.

Kita akan merasa lebih bangga mencapai sesuatu yang imajinatif, dan bukan suatu hal yang nyata.

Err, itu mungkin terdengar gila, tetapi, sekarang, imajinasi kita begitu kuat dan begitu mudah mengubah orang lain, sehingga yang tadinya imajinasi bisa muncul ke dunia nyata, dan meninggalkan bekas nyatanya…

Ratus ribuan anak bermimpi untuk bermain seperti Cristiano Ronaldo, padahal, sepakbola adalah permainan dimana hukumnya saja hanya muncul dari kepala kita, dan bisa dibilang, dibuat tanpa inspirasi apapun. (for all we know, orang Maya/Romawi/China menciptakan sepakbola dengan menendang buah melewati dua pohon karena sedang bosan)

Ratus ribuan mahasiswa bermimpi untuk bekerja di suatu perusahaan besar, seperti Google, Amazon, or, whatever really. Sekali lagi, google, amazon, dan perusahaan apapun hanya berguna, karena kita berpikir itu berguna, dan telah menjadi gaya hidup…

Jadi, kesimpulan hari ini sederhana… Manusia lebih suka mengkhayal dan hidup untuk khayalan mereka, alih-alih sesuatu yang real.

Wow, sometimes we are really smart, and sometimes, we can be really silly.

Sampai lain waktu!

P.S. Maaf jika anda bingung, Sobek bukan berarti kertas yang dirobek, tetapi Dewa berkepala Buaya yang menciptakan sungai nil dari keringatnya. Ini aneh? Iya, tanya saja sama orang Mesir zaman dahulu, cheers πŸ˜›

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Pada serial ini, aku ingin mengupas ciptaan dan kreasi manusia dari yang paling mendasar hingga yang paling kompleks. Manusia telah berusaha membuat hidup mereka lebih mudah dinikmati, serta lebih nyaman untuk dilakukan sejak manusia lahir sebagai spesies. Namun, seiring perjalanan ini dilewati, kita telah berubah menjadi spesies lain, hanya karena apa yang telah kita ciptakan.

Ah Manusia…

Pada satu sisi, kita sangat sangat pintar. Kita menciptakan banyak hal untuk melakukan hal-hal yang kita tidak ingin lakukan, tapi pada sisi lain, kita cukup bodoh untuk membiarkan ciptaan kita mengatur gaya hidup kita sendiri.

Jadi, apakah manusia itu makhluk yang pintar? Ataukah manusia itu makhluk hidup yang justru, bodoh?

Inspirasi:

  • Sapiens (lagi) ditulis oleh Yuval Noah Harari
  • Essential Sh*t. Bollocks, why didn’t I think of that? ditulis oleh Anthony Rubino Jr.
  • Meditations, ditulis oleh Marcus Aurelius
    • Kaisar Roma terakhir yang waras dan tidak punya ambisi untuk membunuh dan/atau memperbudak manusia, menaklukkan dan/atau menguasai dunia.
  • Sedikit pembicaraan di Museum Geologi, dan juga Museum Konferensi Asia Afrika.
    • Geologi mengenai senjata dan evolusi manusia
    • MKAA mengenai perubahan dan sifat rakus manusia.

Footnote: Siapapun yang mendidik Commodus sesudah meninggalnya Marcus Aurelius merusak seluruh era bijak para keturunan Nerva-Antonine. Dari situ semua Roman Emperor segila (atau mungkin lebih gila dari) Hitler.

Hangatnya Kenyamanan

Nomor satu…

Ingatkan aku, pernahkah anda ke museum, situs arkeolog, gua purba, atau apapun yang berbau geologi/arkeologi, dan menemukan manusia purba? Nenek moyang kita?

Ingin tahu penyebab kematian nenek moyang kita yang paling sering, dan juga paling ditakuti. Ditusuk oleh Babi Hutan misalnya? Keinjak Mammoth? Terbunuh suku lain? Oh tidak.

Kita bicara era jauh sebelum era berburu. Dulu ketika kita masih nomaden dan herbivora.

Kita bicara sebuah waktu sebelum manusia takut mati kelaparan. Ketika masih cukup banyak pohon berbuah untuk makan di sebuah daerah selama lebih dari 1 bulan.

Sebelum kita berburu, kita paling takut oleh dingin.

Sebagai makhluk yang amat kreatif dan pintar, kita melakukan suatu hal lain untuk menghindari kedinginan. Terciptalah “ciptaan” pertama kita. Api.

Sejujurnya, jatuhnya api ke tangan manusia purba masih cukup jauh dari pemahaman antropolog, atau arkeolog yang sudah handal. Tetapi, layaknya teori pembuatan piramida, tiap orang memiliki teori masing-masing, dan teori itu sama-sama masuk akalnya.

Ada yang menyatakan bahwa kita menemukan api ketika sedang hujan deras, dan ada petir yang menyalakan sebuah pohon. Ketika kita mendekat, kita merasakan kehangatan dan kelembutan dari api itu. Tiap langkah yang kita ambil membuat kita lebih tertarik, dan tertarik atas kehangatan pada dinginnya hujan ini. Ketika kita biasa bersembunyi di dalam gua. Akhirnya kita mau untuk keluar ketika hujan, dengan api sebagai pelindung.

Ada juga yang berteori bahwa kita menemukan api karena ketidaksengajaan menggesek dan menggosok dua buah batu sampai ada percikan yang menyalakan api. Percikan itu jadi sumber kehidupan, dan kehangatan para manusia. Hore! Kita telah menciptakan sesuatu.

Ada juga yang percaya bahwa kita menemukan api sehabis gemuruh petir yang membakar dan menyalakan sebuah pohon, lalu kita mengambil sebilah tongkat kayu, dan membawa sumber hangat dan panas itu kemana-mana. Sampai api tersebut akhirnya mati, dan kita mencari percikan kehidupan sekali lagi.

Ya, bagaimanapun juga, ketika kita lihat manusia prasejarah menciptakan api, kita perlu melihat alasan mereka menciptakan api.

Kenapa mereka menciptakan api? Karena tentunya, mereka merasa lebih nyaman. Jauh lebih nyaman kebanding harus berjalan telanjang sambil menggigil karena dingin, atau berbaring di tenggorokan sebuah gua, hanya ditemani kehangatan tanah, yang lembab, dan terasa begitu dingin.

Api telah menjadi sebuah kebutuhan, karena manusia selalu ingin apa yang paling nyaman untuk mereka. Seiring jalannya waktu, leluhur kita sudah tak kuat lagi berjalan telanjang. Kita mulai berburu karena ternyata kita lebih kenyang sebagai karnivora (dan para pencinta daging pasti akan membela habis-habisan pentingnya kita sebagai karnivora untuk evolusi) dan kita memanfaatkan baju tebal sebagai suplemen dari kehangatannya api.

Ini hanya mengupas apa yang terjadi di daerah tropis. Ketika manusia bermigrasi ke daerah yang bersalju, kita sudah mulai berburu, dan kita menggunakan baju yang tebal. (para arkeolog dan antropolog begitu penasaran mengapa para Neanderthal bisa bertahan dengan baju yang lebih sedikit dari Sapiens dalam cuaca yang lebih dingin)

Apa yang api ciptakan?

Sederhana. Karena hangatnya api ini begitu enak. Kita jadi menciptakan banyak hal lain untuk memperkuat rasa hangat tersebut. Kita menciptakan senjata karena daging yang berminyak dan lemak tersebut membuat diri kita merasa lebih hangat, baik karena persediaan lemak yang bertambah di tubuh kita dan juga karena struktur nutrisi milik daging.

Kita memanfaatkan kulit hewan buruan kita sebagai baju, karena kita tidak pernah puas. Kita selalu menginginkan apa yang lebih nyaman, dan kehangatan = nyaman. 2 tambah 2 jadi 4, sehingga, BAM! Tercipta lagi baju tebal.

Kalau nenek moyang kita tidak menemukan atau memanfaatkan api puluhan ribu tahun yang lalu… Kita mungkin akan berjalan dalam kondisi telanjang kemanapun kita pergi.

Ini mungkin hal yang normal beberapa puluh ribu tahun yang lalu, namun sekarang, ini telah menjadi suatu taboo.

Kebutuhan Api?

Kita membutuhkan api, bahkan puluh ribuan tahun dari kita mulai tahu cara memanfaatkannya. Beberapa antropolog die hard bahkan menyatakan bahwa kita sudah diperbudak oleh api, kita mencari cara untuk memastikan bahwa api selalu ada, karena tanpanya kita bisa merasa kedinginan, makanan tidak bisa dimasak dengan benar, dan kita takkan bisa mandi dengan air panas.

Sudah ada puluhan cara menciptakan api, semakin lama api yang diciptakan lebih panas, lebih membara, dan semakin lama, semakin sedikit bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan api. Pada dasarnya, kita tetap menciptakan hal yang sama, kita tidak menciptakan api jenis B, api jenis C, mau apapun warnanya, seberapa besar atau seberapa panas zatnya, bara api yang digunakan para Homo erectus dan manusia modern tetap sama.

Tetapi, meski kita telah mau diperbudak oleh api, dengan menciptakannya terus menerus, kita tetap membutuhkannya. Lagipula, siapa yang tidak mau hidup nyaman dan hangat?

Tajamnya Kekejaman

Manusia selalu berusaha melakukan apapun yang mereka bisa lakukan sebagai spesies untuk mendapatkan apa yang mereka nilai sebagai paling nyaman. Menahan diri sepertinya tidak mungkin sekarang.

Seiring mereka berusaha untuk membuat suatu hal lebih nyaman dan mudah untuk mereka, seiring mereka melakukan sesuatu untuk mempermudah apa yang mereka lakukan.

Oleh karena itu… Terciptalah senjata.

Senjata pertama-tama digunakan sebagai alat untuk berburu. Dengan bentuk dasar, sebuah tombak. Senjata paling efisien, paling kuat, dan paling mudah digunakan untuk membunuh.

Pada bentuk mentahnya, senjata tombak ini hanyalah sebuah batang kayu yang diperhalus menggunakan batu, lalu ditempelkan ke batu lain, yang dibentuk dengan khusus, sehingga memiliki mata tombak yang panjang.

Tombak ini cukup versatil dan bisa digunakan untuk menusuk dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri, untuk dilempar, untuk memukul, dan tentunya, untuk membunuh.

Kata terakhir itu perlu diberikan sebuah catatan dengan sound effect “ding-ding-ding”.

Dari memburu dan membunuh hewan karena kita ingin merasa nyaman dengan perut penuh, dan lidah yang puas menyentuh daging matang (meski tidak dibumbui sama sekali), kita juga merasa bahwa jika ada manusia lain berusaha menyentuh hewan calon buruan kita… Kita akan mneyerang.

Senjata yang tadi kita manfaatkan untuk berburu, dialihfungsikan.

Kita juga membunuh, dan berperang, demi mendapatkan sumber daya paling kaya dan paling nikmat. Mungkin peperangan pertama bermula dari seorang manusia yang berburu lembu dan tiba-tiba mereka bertemu dengan kelompok manusia lain, yang juga berburu lembu.

Karena ia bukan makhluk rasional, dan amat serakah, ia merasa bahwa akan lebih baik makan dua lembu dengan perjuangan yang berat, daripada bekerja sama dan membunuh dua lembu, lalu membagi hasil.

Dari situ, terjadilah konflik sederhana atas sumber daya. When has that stopped?

 

Apa yang telah diciptakan senjata?

Sebuah tombak sederhana yang bisa digunakan dari dekat dan juga dari jauh telah sukses mencoreng nama baik manusia. Namun, tombak juga telah berubah bentuk ratus ribuan kali, sampai ia menjadi senjata yang paling ampuh bagi para infantri.

Sekarang, infantri cenderung menggunakan senjata api, yang terkadang digunakan di jarak dekat juga (meski hanya untuk sekedar, membuat orang pingsan), desain multifungsi dan bisa digunakan dari jarak jauh dan dekat ini masih tercermin sampai sekarang.

Senjata manusia purba telah memberi sedikit inspirasi desain senjata modern, apalagi pada era kerajaan, dimana senjata masih menggunakan pedang dan perisai.

Tetapi, ketika kita berbicara mengenai senjata… Ciptaan terkuatnya tentunya adalah rasa iri, serta rasa rakus. Dari kedua emosi dasar yang berasal dari simpanse tersebut… Muncullah perang.

Kebutuhan Senjata?

Senjata tentunya telah menjadi kebutuhan… Kita membutuhkan senjata untuk berperang, karena…

Sejujurnya alasan manusia berperang sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku. Kurasa senjata hanyalah cermin dari keserakahan manusia, tapi ya, siapa yang sebenarnya peduli? :'(

Kita takkan berperang kecuali kita mampu mendapatkan sesuatu dari perang tersebut. Hanya saja, banyak orang melewatkan apa yang mereka mungkin dapatkan jika sumber daya tersebut dimanfaatkan dari sudut lain.

Memang, kita takkan pernah bisa lepas dari berebut, dari konflik, dari keserakahan, dan juga dari kebutuhan senjata. Senjata ada sebagai alat untuk mengambil, dan memastikan apa yang kita punya tidak diambil. Ia sebuah simbol keamanan, serta simbol peperangan.

Kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin merasa aman, kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin berperang. Manusia terjebak dalam sebuah zona dimana kita terpaksa untuk memiliki senjata, karena tanpanya, takkan ada jaminan bahwa kita akan memiliki suatu bentuk keamanan. Pada sisi lain, kita hanya butuh senjata karena sudah ada yang memiliki senjata, yang mengancam keamanan dan kesejahteraan milik kita.

Siapapun yang memercik api konflik duluan telah membawa kita ke siklus tanpa henti ini.

BERSAMBUNG!

The Energy Burst

The Energy Burst

Energi. Seberapa pentingkah itu?

Tentunya, energi merupakan hal terpenting di dunia kita ini. Mau dilihat dari sudut pandang apapun, tanpa adanya energi, tidak ada satu pun hal yang bisa dicapai jika tidak ada energi.

Energi bisa berarti bahan bakar, bisa berarti listrik, bisa berarti energi yang kita gunakan untuk bergerak, berpikir, dan bekerja.

Energi itu amat penting.

Namun, ketika kita kembali ke statistika, sepertinya manusia sedang melakukan lompatan ke sebuah jurang, dan mereka takkan mungkin kembali. One small step for a man? NO! One message for every man, Mankind is jumping to one big cliff that you’re never climbing back.

Inspirasi dan Sumber

  • Sapiens: A Brief History of Mankind by Yuval Noah Harari
  • A Brief History of Nearly Everything by Peabo Bryson. Wait no. Bill Bryson
  • Our Last Invention by James Barrat
  • A Bunch of Documentaries, whose names I have certainly forgotten. From National Geographic Channel.

The Energy Pitfall

Jadi, begini…

Masih ingat tahun 1890? Kuatnya kolonialisme di Bumi berarti secara teknis, manusia yang paling maju, yaitu bangsa eropa, sedang mendapatkan energi dan sumber daya dengan cara menggunakan energi manusia lainnya. Mereka memperbudak manusia yang mereka anggap Inferior demi mendapatkan suatu sumber daya.

Ironisnya, meski jumlah budak pada akhir abad ke 19 ada ratus ribuan (atau lebih), tetap saja dibutuhkan manusia yang sama-sama dari ras sok “superior” tersebut yang tetap melakukan pekerjaan menial, atau pekerjaan yang dibilang hina.

Pada sisi lain, estimasi energi sekali pakai, (atau terbatas) pada tahun 1890 tidak mencapai lebih dari konsumsi dua manusia rata-rata pada abad ke 21.

Lebih dari 100 tahun yang lalu, seluruh umat manusia hanya mengonsumsi energi (pada basis tahunan) setara dengan satu seperempat manusia pada abad ke 21.

Angka estimasi yang dapat dihitung dengan matematika didapat dari zmescience.com.

18.0 Terra watt-hour, atau TWh.

Seorang manusia menggunakan 5.67 X 10 pangkat 20 (0 nya ada 21, berarti sekitar 567000000000000000000000) Joule, tiap tahunnya.

That’s like. . . a lot.

Sebenarnya, kita menggunakan energi sebanyak itu untuk apa? Eits, tunggu dulu. Ada topik lain yang ingin kubahas.

Modern Day Slavery?

Perbudakan di zaman modern mungkin terkesan tidak nyata. Meski ada beberapa pekerja yang dibayar amat-amat-sangat murah pada era teknologi ini, dan ada banyak laporan mengenai itu, tapi, itu bukan topik kita hari ini.

Jika memang tujuan dari umat manusia adalah untuk “menghemat” energi, janganlah lupa bahwa bisa ada energi sendiri yang kita produksi dari makanan yang kita makan.

(Intermezzo: Industri makanan modern memakan sekitar 3% total energi dari seluruh energi konsumi kita)

Untuk melakukan transportasi, kita bisa saja berjalan. Untuk melakukan produksi barang, bisa saja kita lakukan manual. Selain itu, manusia juga bisa berlari dan memutar sebuah mesin yang menghasilkan listrik, layaknya hamster di iklan dan di serial kartun.

Mungkin tidak bisa dihitung perbudakan juga sih…

Oke, nama bagian ini diganti saja…

Man-chine thing.

Man machine πŸ™‚

Anyways. Maksudku dari perbudakan adalah… Bagaimana, dan seberapa efisienkah jika seorang manusia, atau mungkin, sejumlah manusia dibayar untuk menghasilkan listrik?

Beberapa orang suka berlari, jadi kenapa tidak jika mereka mendapat uang dan menghasilkan listrik dari berlari?

Masalahnya sebenarnya bukan hanya di kecepatan dan lain-lain… Tetapi lebih ke, kurangnya produk yang mampu dihasilkan oleh sebuah man-generated electricity.

Seorang manusia bisa berlari dan menghasilkan sekitar 40 watts (give or take) jika ia memutar roda, baik dengan berlari, atau mungkin, dengan bersepeda selama sekitar 1 jam… Ada sebuah teknologi yang relatif efisien sedang mendukung perubahan itu, dan sudah ada sepeda statis yang mampu menghasilkan energi.

Namun, itu berarti, untuk mendapatkan KWh yang cukup dengan kebutuhan dunia sekarang, jika kita menggunakan sepeda, (dengan hitungan 10W = 0,001 KWh) akan dibutuhkan…

Hitungan:

  • Satu Tahun, dibutuhkan 567 X 10 pangkat 20 Joule
  • Satu Hari, dibutuhkan 567 X 10 pangkat 20 / 365.
    • Hasil: 1,5534247 X 10 pangkat 20 Joule
  • 1 Joule = 2,27 KwH
    • Kebutuhan energi seluruh umat manusia per hari dalam KwH, 3,523 X 10 pangkat 7.
  • Jika 1 jam bersepeda menghasilkan 0,004 KwH, maka dibutuhkkan setidaknya…
    • 3,523 / 0,004 = 880. X 10 Pangkat 7…
  • Secara total, berarti dibutuhkan 880 X 10 pangkat 7 jam untuk menghasilkan energi yang cukup tiap harinya.
  • 880 triliun, atau quadriliun, atau apapun itu mampu dicapai dengan tentunya, ratus ribuan manusia juga…
    • Jika setiap manusia bersepeda selama 4 jam tiap harinya, dengan populasi berusia 15-40 (masih fit) yang mencapai angka 1,5 milyar -an maka kebutuhan energi itu…
      • 0,004 per jam, 4 jam kerja = 0,016 KwH per manusia.
      • 0,016 X 1,5 milyar = 24000000 Kwh
      • Angka 24 X 100000 tersebut… hanya mampu mempenuhi 8-12 persen-an dari kebutuhan total tiap harinya.
        • Catat bahwa ini adalah hasil pekerjaan seluruh manusia dengan usia 15-40 tahun.

Tentunya angka itu hanya gambaran kasar. πŸ™‚ Namun, hmm, coba ingat lagi sedikit, mengapa kita perlu berpikir mengenai solusi seperti ini?

Karena kita mengonsumsi energi begitu banyak.

Untuk apakah energi itu kita pakai?

Our Energy Usage

Baiklah, ini ada sedikit statistik kasar ke persentase dan perbandingan energi apa saja yang kita gunakan tiap harinya…

  • Dari seluruh TwH yang kita konsumsi tiap harinya, listrik, dan alat elektronik mencapai 39.3% dari konsumsi seluruh dunia.
  • Elektronik disusul oleh transportasi. Dimana mencapai 29.2 persen dari “stok” energi dunia.
  • Turun ke, Industri… Pabrik-pabrik dan perindustrian skala besar memakan 22.8% dari banyaknya energi di atas.
  • 91.3% energi dunia sudah tercatat, berikutnya kita hanya perlu turun ke hal-hal yang lebih minor. Kebutuhan Rumah hanya mengambil 6.4% energi dunia.
  • 2.3% terakhir berada di kategori lain-lain

Ketahui bahwa tentunya, rumah, industri, dan yang lain-lain ini juga menggunakan listrik. Namun catatan di atas hanya menunjukkan benda-benda non elektronik, seperti gas, bahan bakar fosil, dan lain-lain.

Nah, tentunya, kita perlu pikirkan, mengapa kita menggunakan begitu banyak listrik? Mengapa kita perlu memanfaatkan transportasi, alih-alih berjalan saja misalnya, dan memakan begitu banyak stok energi di dunia?

Time’s Ticking

Sayangnya, banyak orang merasa, aku tidak terkecuali, bahwa sumber daya terpenting seorang manusia bukanlah apa yang telah diberikan bumi ini, melainkan, waktu!

Dengan menggunakan Bahan Bakar Fosil, kita bisa menghemat begitu banyak waktu dan melewati perjalanan 60 kilometer misalnya, hanya dalam 90 menit, atau lebih cepat malah.

Pesawat terbang telah membuat kita bisa pindah ke suatu daerah lain dalam hitungan hari, jika zaman dahulu kapal membutuhkan hitungan tahun.

Tetapi, jika masalahnya memang waktu, tentunya manusia sedang berpikir dan menimbang-nimbang untuk memotong kebutuhan energi bukan? Ya… Sebenarnya sih, waktu itu bukan masalah besar, yang jadi masalah besar adalah, apa yang orang-orang menggunakan waktu ini.

The Other Pitfall: Procrastination

Siapa yang tidak melakukan ini? Semua orang tentunya telah membuang cukup lama dari hidupnya untuk browsing hal-hal tidak masuk akal, atau hal selewat saja di Google, dan juga hal-hal tidak penting di sosmed… Who doesn’t do that?

Masalahnya, sekarang begitu banyak orang yang bisa melewati begitu lama dan begitu banyak jam di harinya untuk hal tidak produktif ini. I don’t really mind that. Ya, sebenarnya sih betul, aku tidak keberatan, tetapi, energi yang dikonsumsi dari hal tidak produktif ini amat sangat banyak. Manfaatnya juga biasanya sedikit.

Sebagai contoh, jika seseorang follow sebuah akun yang bertemakan… I don’t know hmm… Yang produktif we lah ya? Misalnya akun bertemakan fakta unik atau fakta seru, dan anda mendapat sebuah fakta menarik tiap harinya…

Apakah anda betul mengingatnya? πŸ™

Bisa dibilang ingatanku cukup baik, aku tidak ingin menyombongkan diri, tetapi aku punya ingatan yang lebih baik dari rata-rata, dan aku bisa mengingat beberapa hal tidak penting yang aku google. (seperti misalnya, di daerah mana Axolotl tinggal, mitos-mitos mengenai media, kasus-kasus tuduhan atas berita palsu) Orang-orang pada umumnya, belum tentu mengingat hal tersebut, atau bahkan, semua hal yang mereka lihat.

Percaya padaku, mereka melihat banyak hal di internet.

The Energy Spent By Procrastination

HP rata-rata, mengonsumsi sekitar 4 KwH jika ingin di charge sampai penuh tiap hari, pada Tiap tahunnya.

Seberapa banyak kah itu? Sedikit. Mungkin isi ulang saldo tiap tahunnya hanya bertambah 50 sen, atau sekitar 7,000 rupiah. Oke sedikit, cukup sedikit.

Tapi, sekarang, ada orang yang charge HP sampai 3 kali satu hari, biasanya orang yang main game dengan konsumsi batre berat. Selain itu, juga ada rumah dengan 3-4 HP. Jika tiap rumah memiliki 3 HP, misalnya, masing-masing di charge 2 kali satu hari, rumah itu akan mengkonsumsi 16 KwH tiap tahunnya.

Bahkan jika dikali dengan semua rumah di satu negara, atau satu planet ini, angka itu masih relatif kecil. Hanya sekitar 3-5%

Tetapi, sekarang ada juga yang bernama internet! (belum lagi komputer, tapi karena ini lebih targeted, maka aku akan menyindir HP secara spesifik)

Pada tahun 2018, semua layanan internet, termasuk internet di rumah, internet di luar rumah, dan juga Port WiFi milikmu… Sudah mengkonsumsi 17% dari semua listrik di dunia.

That’s quite a lot. Belum lagi masih ada estimasi naiknya 17% tersebut sampai 25 atau 30% pada tahun 2025.

Jadi, 22% dari hampir 40% listrik di dunia ini dimakan oleh HP-HP dan layanan internet milik kita.

Sebenarnya juga tidak terlalu banyak, hanya sekitar 9% dari listrik dunia.

Hmm…

Baiklah.

Awalnya aku ingin memberikan sugesti topik ini ke komunitas debatku jika aku menemukan statistik menarik, namun ternyata tidak.

Kurasa tidak ada salahnya sedikit bereksperimen dan menilai satu dan lain hal dari beberapa sudut pandang.

Kesimpulan

Jadi, intinya, semua energi di sini dapat ditujukan untuk hal lain, dan juga banyak hal yang lebih efektif.

Kurasa semua hal punya tujuannya, dan meski aku tidak ingin melakukan judging, atau tindakan yang cukup offensive… Akan lebih baik jika kita bisa menghemat energi.

Ingat bahwa kita sebagai manusia membutuhkan aset yang amat penting, dan tidak bisa dikembalikan lagi, layaknya semua hal di dunia ini.

Waktu.

Spend your days, but make sure that they add up.

Sayangnya dalam Bahasa Indonesia quote itu tidak begitu catchy.

Habiskan hari-harimu, tapi pastikan bahwa hasilnya bertambah.

Bagaimanapun juga, tetaplah produktif, dan sampai lain waktu!