Tag: anthropology

The Individuality Disappearance

The Individuality Disappearance

Kepada Yth. Ilmu Sains

Aku terkadang sungguh-sungguh bingung kepadamu, dan orang-orang yang terus berusaha memajukan ilmu milikmu itu. Kurasa sekarang sebagian besar dunia sudah cukup gila, tapi ada apa denganmu selalu merusak hal-hal yang (katanya) mulia. Aku sungguh tak tahu.

Selamat datang di abad ke 22, siapa itu? Oh, dia adalah seorang manusia lain yang ikut berkontribusi ke pusaran data yang begitu besar ini, ia membiarkan dirinya terekspos demi memajukan tuhan agama yang begitu kuat dan maju secara teknologi… Dataisme.

Inspirasi:

  • Homo Deus, ditulis oleh Yuval Noah Harari
    • Aku merasa baik Sapiens dan Homo Deus bisa dijadikan satu tulisan per dua bab. Mungkin Homo Deus satu tulisan per bab malah.

Apa yang terjadi pada individualitas?

Harari menyindir orang-orang yang pada zaman dahulu menanyakan alasan Turis Jepang membawa kamera kemana-mana dan memfoto apapun yang mereka lihat. Sekarang, orang-orang melakukan ini juga, agar mereka bisa memberitahu orang-orang mereka sedang berlibur, dan mengecek lagi HP mereka, setiap 3 menit, untuk melihat siapa yang sudah memberikan Like.

Ketika manusia pada umumnya sedang berada di pantai, mereka akan memfoto pantai, dan diri mereka di pantai. Ketika mereka melihat gajah? Apa mungkin mereka mendatangi si Gajah dan bilang “Selamat pagi makhluk megah!” Gak, da mereka akan mengambil foto.

Individualitas kita tidak ada. Kita melakukan hal hanya karena banyak orang melakukan hal yang sama.

Ketika ateisme dan agnostikme muncul pada awal abad ke 20, orang-orang memuja Humanisme. Baik itu dalam bentuk Liberal, atau Nasionalis.

(Intermezzo)

  • Liberal Humanisme percaya bahwa semua manusia memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau, dan setiap keputusan mereka mulia. Semua manusia sama berharganya di mata Liberal Humanis.
  • Nasionalis Humanisme percaya bahwa manusia memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau, dan keputusan yang mereka buat bisa membuat perbedaan. Ada manusia yang menghasilkan lebih banyak untuk negara, dan ada yang tidak. Manusia yang menghasilkan lebih banyak (baik itu nama baik, uang, atau, hanya pengaruh) otomatis lebih berharga dari pegawai biasa.

Dari kuatnya humanisme pada abad ke 20… Agama mulai menjadi suatu bentuk reaksi ke suatu tindakan.

Ada teknologi keluar? Oh, ulama, rabbi, dan juga pastur akan mencari hubungan teknologi itu, lalu memberikan justifikasi mengenai teknologi itu dan hubungannya dengan ayat suci. Agama telah dibuat dan dipercayai secara positif untuk mencari nilai positif serta negatif suatu teknologi.

Sebagai contoh yang tidak terlalu sensitif mengenai ilmu vs nilai-nilai… Lihatlah Video Assistant Referee (yang kupercaya sebagai alasan Kroasia kalah pas final, tapi, err, bukan salah mereka juga)

Teknologi seperti VAR seharusnya sudah ada (dan bisa) diimplementasikan pada piala dunia 2014, namun baru diterapkan pada 2018. Teknologi itu, pada akhirnya tetap saja hanya membandingkan pilihan si wasit, atau nilai-nilai seorang manusia, dengan bantuan teknologi.

Itulah alasan agama masih kuat pada abad ke 21, nilai-nilai yang ada pada suatu agama bisa digunakan untuk menilai pantas tidak-nya menggunakan suatu teknologi.

Pada akhir abad ke 20, hingga awal abad ke 21, tindakan seorang manusia dibentuk dari teknologi yang ia miliki, nilai-nilai yang ia miliki, serta juga, tentunya, individualitas miliknya.

Seseorang bisa saja mengambil hasil riset dengan suatu teknologi maju, seperti misalnya, ya, beberapa perangkat pada film Kingsman. Ia berhak melakukan itu, ia memiliki teknologi untuk melakukan itu, dan nilai-nilai miliknya menyatakan itu hal yang tak apa jika kita mengambil suatu barang yang masih dirahasiakan.

Seseorang juga berhak membeli saham apapun yang mereka inginkan. Mereka bisa, mereka berhak, dan nilai milik mereka mengatakan itu takpapa untuk membeli saham.

Kita hampir saja berada di dunia yang penuh dan lengkap dengan individualitas yang unik. Mungkin ada saja yang memiliki individualitas lebih kuat dari yang lain, tetapi semua orang punya level individualitas yang berbeda, dan ada cukup banyak pribadi unik…

Namun, hmm seiring berjalannya waktu, humanisme (bentuk paling mulia dan paling dihormati mengenai individualisme) mulai tertelan… Dan itu semua karena sains.

The Dividuality

Jadi, individual berarti suatu entitas yang tidak dapat dibagi menjadi dua… Namun, nyatanya, sains telah merendahkan definisi individualisme itu sendiri.

Sains membuktikan bahwa individu tidak ada. Tidak ada SATU entitas yang berperan dalam mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan. Kita butuh entitas kedua untuk mendorong dan mempersepsi tindakan tersebut… Karena ternyata, kesadaran pada otak kiri dan otak kanan kita berbeda jauh.

Sebelah otak kita berusaha membandingkan apa yang sedang terjadi dengan apa yang kita telah ketahui, atau apa yang kita inginkan. Ini diketahui dengan The Interpreting Self. Sedangkan, sebelah otak kita yang lain memastikan apa yang sedang terjadi ini dialami dengan betul, dan masuk secara empirik dalam otak kita. Belah otak ini diketahui dengan The Experiencing Self.

Ilmuwan telah menemukan cara untuk mengisolasi dan memisahkan kedua belah otak (oh, metode ini juga dipakai untuk Truth Serum dan juga pengendalian dan/atau pencucian otak ya…) untuk “Riset”. Ini sedikit menyeramkan sejujurnya.

Jadi, ilmuwan yang melakukan riset ini menunjukkan sebuah foto tas yang sama dengan pemiliknya yang sedang dipisahkan kedua belah kesadarannya ini… Ketika gambar ini ditunjukkan pada Experiencing Mind, subjek langsung saja bercerita tentang tas tersebut, seperti harganya, warnanya, mereknya, ada rusak di sebelah mana saja, dan lain-lain.

Tetapi, sampai gambar tersebut ditunjukkan ke Interpreting Mind, pemilik tas (dan subjek eksperimen) tidak menyadari bahwa tas tersebut miliknya. Untuk memperaneh, ketika Interpreting Mind sedang menerima informasi, cerocosan miliknya malahan membandingkan tas tersebut (yang sekarang telah ia sadari sebagai tas miliknya) dengan tas yang ia inginkan. Subjek mengkhayal terlalu parah hingga ia melupakan detil utamanya.

Ketika disatukan lagi, baru semua detil ia cerna dengan betul. Ia juga menyatakan bahwa ia menginginkan tas tersebut diganti dengan tas baru, ia menyatakan warna, tempat pembelian, dan kedua belah fakta.

Nyatanya, orang normal adalah orang yang memiliki keseimbangan antara Otak Kiri dan Otak Kanan ini. Ada beberapa orang dari ratusan subjek yang dites, tidak mampu berpikir dengan sistematis, dan membiarkan sebelah sisi yang terlalu kuat membunuh sisi lain. Jika ada sebelah sisi lain yang mati, ia hanya akan hidup lagi ketika sedang sangat kuat.

Aku takkan masuk terlalu dalam ke eksperimen ini… Namun intinya, otak kiri dan otak kanan kita membentuk dua bagian kepribadian kita. Yang mengkhayal dan bermimpi, serta yang berpikir dan menerima. Ini sudah sedikit mematikan fakta bahwa kita punya Free Will dan bebas bertindak… Ini dihasilkan dari diri kita yang tidak bisa memutuskan kapan ingin berpikir dengan logis, atau dengan khayalan…

Lalu, sebenarnya, dari mana kita bisa memutuskan kalau hari ini aku ingin melukis dengan khayalan, dan esok hari aku ingin bermain puzzle dengan logika?

Ternyata, kita juga telah memiliki sebuah pola yang sudah diprogram dari sananya, yang menentukan apa yang kita akan lakukan pada beberapa jam sebelum kita ingin melakukan hal tersebut. Ada beberapa kimia yang menyalakan listrik di otak kita, dan kimia tersebut menyulut rasa kita untuk bertindak dan melakukan sesuatu.

Karena zat-zat kimia itu muncul dalam hitungan menit (sampai jam malah) sebelum kita bertindak atau bahkan berpikir untuk bertindak… Nyatanya, kita tak punya kebebasan bertindak sama sekali.

Yeay! Untuk apa berusaha melakukan sesuatu kalau pada akhirnya kita disuruh oleh zat kimia untuk melakukan itu?

The Birth of Dataism

Jadi, dari manakah lahirnya kepercayaan baru ini? Kepercayaan pada data alih-alih kemuliaannya seorang individu? Kepercayaan pada algoritma, alih-alih kepada Tuhan?

Riset di abad ke 21 yang membahas kesadaran telah mengambil dan membunuh sesuatu yang sakral, lalu ia telanjangi dan tunjukkan ke pihak umum dalam bentuk hina. Dulunya kita percaya bahwa kita bebas untuk melakukan apa yang kita inginkan, sekarang ternyata, itu hanya sebatas unsur kimia yang mengatur tindakkan kita.

Dataisme telah menjelek-jelekkan alasan kita melakukan sesuatu, dan menyatakan apa yang tadinya merupakan Free Will, sebagai suatu rumus yang hanya berupa beberapa garis data dan dapat diatur dan dibaca kapanpun kita mau.

Ini adalah beberapa contoh dataisme telah merusak keindahannya seorang Manusia…

What’s That New Post on IG?

Sosial Media menyimpan data, dan semua data yang kita kirimkan ke sana telah dimiliki oleh perusahaan yang memiliki sosial media tersebut. Semua post yang kita buat, mereka ketahui.

Mereka juga berusaha menebak akun apa lagi yang kita akan ingin coba untuk gunakan di masa depan nanti. Kita juga seringkali percaya mengenai sugesti akun baru untuk difollow yang diberikan Instagram.

Hmm, ironis sekali. Kita percaya apa yang sebuah algoritma katakan.

Pada suatu titik, mungkin hanya akan ada kelas di Instagram…

  • Follow akun Artis
  • Follow akun Chef
  • Follow akun Model
  • Follow akun Politikus

dan seterusnya…

Waze, perlu belokkah aku?

Kita percaya pada Waze atau Google Maps?

Sekarang, banyak orang menggunakan Waze dan mengikuti apapun yang mereka katakan.

Data pergerakkan kita mereka perhatikan, serta juga mereka gunakan untuk database live mereka agar kita juga bisa membantu semua orang dalam mengikuti rute tercepat dan teraman untuk pulang.

Algoritma yang mereka gunakan menemukan rute apa yang kita akan atau ingin lewati nanti… Akhirnya, mungkin mereka sedang (atau mungkin sudah malahan) berpikir untuk memperbarui lagi algoritma tersebut. Misalnya, mereka tahu kita ingin melewati rute terlama ketika hari Rabu, mereka juga mungkin tahu kita ingin segera sampai rumah pada hari Senin, agar kita tidak melewatkan episode terbaru dari 9-1-1. Kemungkinannya, tiada batas!

Tentunya dengan resiko kita melakukan apa yang algoritma (yang hampir semua orang gunakan) katakan.

Privacy? Naaaah!

Google memiliki beberapa jam yang memonitor detak jantung, dan akan sangat mungkin jika mereka akan menjual detak jantung seseorang yang berpotensi memiliki penyakit… umm, Difteri misalnya!

Dengan data yang mereka miliki sekarang, juga mungkin untuk Google melakukan sesuatu seperti menyimpan DNA seluruh anggota keluargamu, lalu mengecek potensi tiap orang terkena penyakit Alzheimer, diabetes, dan juga macam-macam penyakit lainnya.

Resikonya, ya… Untuk mendapat bantuan, kita perlu membayarkan bantuan tersebut, serta tentunya memberikan DNA, dan mungkin catatan serta riwayat medis kita dan seluruh keluarga kita.

That’s it

Oke, iya, itu saja… namun… Bagaimana ini semua bisa melahirkan Dataisme? Sebuah kepercayaan (jika ini bukan agama) baru yang bisa saja menggantikan agama-agama kuat lainnya pada abad ke 22?

Dataisme dasarnya lahir dari kepercayaan seseorang yang tidak mau melihat seni dalam suatu hal. Biasanya orang yang merupakan seorang datais percaya bahwa sebuah musik, sebagaimanapun indahnya musik tersebut, hanyalah terdiri dari beberapa setelan frekuensi yang diatur dan dimainkan pada jeda detik yang spesifik.

Seorang datais juga percaya bahwa pikiran kita hanyalah sebatas kimia yang menyala dan merubah cara kita berubah serta berpikir. Ia tidak ingin melihat alasan kita berpikir, dan juga tidak ingin melihat mengapa kita berpikir seperti itu. Seorang datais lebih tertarik pada kimia yang membuat kita berpikir seperti itu, alih-alih pemikirannya.

Datais juga tentunya tidak peduli mengenai manusia yang berpikir secara sakral, sama seperti kita tidak peduli pada cara seekor Ayam berpikir (sebenarnya ada saja yang peduli, tapi mayoritas orang tidak).

Datais hanya menganggap kita lebih baik dari hewan karena kita mampu memproses data lebih baik daripada hewan, dan juga kita bisa memproses data lebih cepat dan lebih banyak dari hewan.

Dataisme menganut data, dan percaya bahwa akan ada suatu titik dimana dunia ini hanyalah berisi data dan data dan data. Tidak perlu ada manusia untuk berada dalam data tersebut, karena untuk apa kita punya manusia, jika kita punya superhuman yang memiliki chip komputer di dalam otaknya?

Datais menginginkan dunia ini menjadi begitu mentah, begitu abstrak, dan mereka menginginkan entitas yang kompeten dalam membuat data, menghitung data, serta memproses data.

Mereka tidak keberatan jika mereka mati, dan mereka malah hanyut dalam kuatnya badai data nanti, karena bagi mereka, data seperti tuhan. Kemampuan untuk diberitahu sebuah algoritma apa yang perlu dilakukan bagimu nanti lebih penting dari kemampuan untuk berkreasi sendiri.

Aduh, ini jujur begitu menakutkan… Kurasa ini adalah modern day cult yang benar-benar mungkin bisa memanggil setan milik mereka untuk menguasai bumi ini…

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini sangat sederhana…

Hargai individualitas anda, coba berpikir dulu alasan anda ingin melakukan sesuatu, dan jangan gunakan suatu mesin sebagai suatu peramal atau dukun.

Pikirkanlah alasan tersebut dengan detil, apa sebenarnya alasan kamu ingin melakukan ini? Apa itu karena sahabatmu melakukannya? Atau karena kamu ingin saja? Apa itu karena kamu disuruh oleh orang tuamu? Atau dari dirimu sendiri?

Kita masih punya kesempatan untuk kabur dari tsunami data yang akan datang begitu muncul AI dan Data Flood nanti… Manfaatkanlah kesempatan tersebut.

Modern Day Gods

Modern Day Gods

Sebagai pengisi konten sebuah situs yang sempat menuliskan mitologi, yang di buat ala-ala modern, dan juga sebagai penulis yang suka sejarah peradaban manusia… Aku ingin memberikan konfirmasi dasar, bahwa di dunia kita sekarang… Masih ada… Mungkin bukan Dewa, melainkan, Entitas kuat yang sedang berusaha mengubah dunia. Layaknya pada zaman dahulu, para dewa dalam mitologi yang membentuk dan menciptakan dunia yang kita miliki sekarang.

Siapakah Dewa, atau entitas tersebut?

Inspirasi:

  • Homo Deus: A brief history of Tomorrow
    • Kali ini, inspirasinya hanya satu saja, tetapi, semoga, artikel ini tidak begitu membingungkan dan tetap menarik untuk dibaca.

Dewa? Atau Peradaban?

Dewa, dan Dewa lagi.

Ribuan tahun yang lalu, selalu saja, dewa yang dijadikan benda pujaan, entitas contoh untuk “disalahkan” mengenai terciptanya suatu benda, baik itu sesuatu yang baik, atau sesuatu yang buruk.

Terkadang, dewa ini dielu-elukan karena kemampuannya menciptakan sesuatu seperti hujan, sungai, gempa, atau apapun itu. Terkadang juga, dewa ini ditakuti karena kemampuannya merusak sesuatu.

Manusia melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk memastikan hawa nafsu dewa atau dewi ini terpenuhi, agar mereka selalu diberikan berkah, dan diamankan dari kerusakan.

Sebagai contoh, Dewa Sobek dipuja, dan bahkan sampai sekarangpun, Sobek masih dianggap telah melakukan suatu tindakan yang amat mulia dengan membuat sungai nil. Sobek sendiri juga telah mengalirkan air dari sungai tersebut, agar air itu terus menerus mengalir, dan mengalir, ia telah menciptakan kanal, dengan bantuan 1000 manusia, Firaun, dan juga bahan-bahan dari seluruh kerajaan mesir.

Mendengar ironi dari situ?

Sebenarnya, beberapa ahli telah menyatakan bahwa dahulu, beberapa orang Mesir telah sukses membuat kanal agar sungai nil mengalir dengan lebih efisien. Sedangkan, pada beberapa teks mentah dari tablet-tablet di Mesir, bahwa Sobek, dewa Buaya lah yang membuat sungai Nil, dan kanal-kanal kecil agar air tersebut mengaliri seluruh negara itu.

Meski tidak baik jika kita seratus persen menyangkal keberadaan Sobek, perlu diketahui bahwa memang betul, Manusia mengerjakan kanal dari Sungai Nil, atas perintah dari Firaun. Sementara, yang tercatat, hanyalah Sobek yang melakukan pekerjaan kanal itu.

Beberapa antropolog menyatakan bahwa ini terjadi karena suatu teori yang amat erat dengan Brand. Pada akhirnya, manusia ingin melakukan sesuatu, dan hanya akan melakukan sesuatu, sesudah ada suatu merek yang mendukung mereka untuk mengerjakan tugas itu. Ada kemungkinan bahwa si merek ini tidak melakukan apa-apa, dan hanya ada sebagai pajangan dan cara untuk “menipu” kebanyakan orang untuk melakukan sesuatu.

Berdasarkan apa yang kita ketahui sekarang, umm… Mungkin saja tidak ada dewa apapun pada zaman dahulu, dan itu hanya cara agar para raja dapat menakuti semua penduduk kerajaannya agar melakukan apa yang raja tersebut ingin mereka lakukan.

Banyak antropolog juga yakin bahwa teriakan brand dan merek yang dibungkus sebagai dewa pada zaman dahulu kala telah terdengar cukup keras, dan juga tercerminkan di masa sekarang.

Perlu dicatat bahwa sampai detik ini, manusia secara umum, meyakini bahwa Firaun dan Sobek lah yang membuat kanal di Mesir dan memajukan peradaban kuat itu hingga sekarang. Secara tidak langsung, kita takkan pernah percaya siapa yang melakukan apa, sampai kita tahu bahwa ada suatu bungkusan yang berupa merek, atau brand untuk melakukan si hal tersebut.

Jika bingung, mari kita kemas ini dalam satu kalimat, dan akan aku jelaskan kalimat tersebut.

Sobek, dan Firaun membuat kanal yang mengalirkan air di Sungai Nil.

Nyatanya, dari kalimat tersebut, yang membuat kanal untuk mengalirkan air di Sungai Nil tersebut bukanlah Sobek atau Firaun, melainkan… Rakyat Mesir. Sobek hanyalah bungkusan agar fakta tersebut lebih mudah dicerna oleh manusia.

The Modern Mirror

Liverpool F.C. Telah memenangkan Champions League 5 kali.

Namun pada sisi lain, yang memenangkan Champions League itu bukan orang bernama Liverpool kan? Melainkan tim, yang berada dalam naungan klub sepakbola tersebut.

Juga ada Mobil yang berusaha menyetir dirinya sendiri, jika anda lupa, memang ada… Google sedang membuatnya.

Tapi umm… Apakah betul Google yang membuatnya? Setahuku Google itu adalah search engine, bukan Artificial Superintelligence.

Siapa yang ingat mengenai Waymo, perusahaan startup yang Google beli? Siapa juga yang ingat Sebastian Thrun? Pionir ide tersebut? Kurasa hanya sedikit orang yang bisa mengingat Sebastian Thrun.

Sebenarnya, kita butuh brand ini karena kita merasa lebih baik melakukan sesuatu untuk “dipuja”. Kalau misalnya kita bilang ke orang, “I work for Google” itu sama saja dengan bilang ke orang lain, pada zaman Yunani kuno “I work at Zeus’s Temple”. Brand ini adalah suatu kesan megah, suatu kesan dewa yang menjiwai manusia, dan memberikan mereka nafsu serta drive untuk melakukan sesuatu.

Tanpa adanya suatu merek familier, suatu hal takkan punya jiwa. Dan jiwa tersebut, adalah asal hidup dan semangat manusia. Ini salah sekian alasan jutaan orang percaya dan memegang teguh agama milik mereka, dan ini juga salah sekian alasan, kita bisa merasa bangga jika kita bekerja untuk sebuah perusahaan yang telah diketahui banyak orang.

(Percaya padaku, kamu akan merasa lebih senang jika kamu bilang “I work for Amazon” alih-alih kamu bilang, “I work for Jeff Bezos” Tetapi, ada sedikit pengecualian untuk itu, dan akan aku bahas sedikit di belakang)

So, Are Companies Gods Now?

Pertanyaan besarnya adalah, apakah perusahaan telah memperkuat dirinya dengan memberikan suatu kesan pride jika kita bekerja untuk mereka? Apakah perusahaan bisa dianggap setara dengan dewa? Apakah itu hal yang salah?

Jika ada yang bertanya denganku, justru Dewa pada zaman dahulu kala adalah suatu perusahaan.

Firaun bisa dianggap sebagai CEO dari Perusahaan bernama Sobek yang beroperasi di pembuatan kanal, dan tentunya, semua petinggi Mesir di kala itu juga bisa dianggap sebagai CTO, CMO, C whatever O dari perusahaan tersebut. Sobek adalah merek, dan nama perusahaan, bukan orang yang melakukannya.

Tetapi, siapa yang melakukan pekerjaan kanal itu? Sobek. Padahal, jika dipikir lagi, Sobek adalah merek, dan bukan orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Namun, secara universal, merek ini telah terasa sebagai suatu jiwa dan suatu bentuk sendiri…

Jiwa nyata ini telah membuat pertanyaan seperti ini mungkin untuk dikatakan.

  • Who won the 2018 World Cup?” France! Padahal, Prancis… adalah sebuah negara 😉
  • Who is currently developing an Artificial Intelligence?” Every crazy genius… *OOPS* sorry, ralat… Singularity Univesity. dari namanya juga ketahuan ya, itu universitas
  • Who’s developing technology for us to go to space?” Elon Musk
    • Dalam kasus ini, Elon Musk telah mengalahkan SpaceX dalam kasus brand…
  • Who and Who, and Who…”

Begitu kuatnya jiwa mereka, benda mati ini terasa lebih hidup, sehingga kita akan menanyakan pertanyaan Who, alih-alih menanyakan pertanyaan What company, atau What country…

Pada akhirnya, kita mengasosiasikan sebuah benda mati sebagai sesuatu yang berjiwa karena benda itu sedang melakukan sesuatu yang… Out of our minds. It’s just that fascinating.

Tapi, pertanyaannya adalah, mengapa sesuatu yang tak berjiwa seperti ini bisa melakukan sesuatu seperti itu? Mengubah suatu dasar bahasa Inggris.

Kembali lagi ke otak dasar kita…

We are What we Worship

Kita pasti mengelu-elukan atau merasa wah pada suatu hal.

Seperti kusebut di bagian awal… Kita akan merasa lebih baik jika kita melakukan sesuatu untuk merek yang imajinatif ketimbang melakukan sesuatu untuk orang lain.

Dalam imajinasi kita, sukses bekerja untuk suatu dewa, atau suatu merek akan memberikan kita perasaan mencapai sesuatu, daripada kita sukses bekerja… Untuk bos kita.

Kita akan merasa lebih bangga mencapai sesuatu yang imajinatif, dan bukan suatu hal yang nyata.

Err, itu mungkin terdengar gila, tetapi, sekarang, imajinasi kita begitu kuat dan begitu mudah mengubah orang lain, sehingga yang tadinya imajinasi bisa muncul ke dunia nyata, dan meninggalkan bekas nyatanya…

Ratus ribuan anak bermimpi untuk bermain seperti Cristiano Ronaldo, padahal, sepakbola adalah permainan dimana hukumnya saja hanya muncul dari kepala kita, dan bisa dibilang, dibuat tanpa inspirasi apapun. (for all we know, orang Maya/Romawi/China menciptakan sepakbola dengan menendang buah melewati dua pohon karena sedang bosan)

Ratus ribuan mahasiswa bermimpi untuk bekerja di suatu perusahaan besar, seperti Google, Amazon, or, whatever really. Sekali lagi, google, amazon, dan perusahaan apapun hanya berguna, karena kita berpikir itu berguna, dan telah menjadi gaya hidup…

Jadi, kesimpulan hari ini sederhana… Manusia lebih suka mengkhayal dan hidup untuk khayalan mereka, alih-alih sesuatu yang real.

Wow, sometimes we are really smart, and sometimes, we can be really silly.

Sampai lain waktu!

P.S. Maaf jika anda bingung, Sobek bukan berarti kertas yang dirobek, tetapi Dewa berkepala Buaya yang menciptakan sungai nil dari keringatnya. Ini aneh? Iya, tanya saja sama orang Mesir zaman dahulu, cheers 😛

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Human Creations: Eps. 1, Our First Creations

Pada serial ini, aku ingin mengupas ciptaan dan kreasi manusia dari yang paling mendasar hingga yang paling kompleks. Manusia telah berusaha membuat hidup mereka lebih mudah dinikmati, serta lebih nyaman untuk dilakukan sejak manusia lahir sebagai spesies. Namun, seiring perjalanan ini dilewati, kita telah berubah menjadi spesies lain, hanya karena apa yang telah kita ciptakan.

Ah Manusia…

Pada satu sisi, kita sangat sangat pintar. Kita menciptakan banyak hal untuk melakukan hal-hal yang kita tidak ingin lakukan, tapi pada sisi lain, kita cukup bodoh untuk membiarkan ciptaan kita mengatur gaya hidup kita sendiri.

Jadi, apakah manusia itu makhluk yang pintar? Ataukah manusia itu makhluk hidup yang justru, bodoh?

Inspirasi:

  • Sapiens (lagi) ditulis oleh Yuval Noah Harari
  • Essential Sh*t. Bollocks, why didn’t I think of that? ditulis oleh Anthony Rubino Jr.
  • Meditations, ditulis oleh Marcus Aurelius
    • Kaisar Roma terakhir yang waras dan tidak punya ambisi untuk membunuh dan/atau memperbudak manusia, menaklukkan dan/atau menguasai dunia.
  • Sedikit pembicaraan di Museum Geologi, dan juga Museum Konferensi Asia Afrika.
    • Geologi mengenai senjata dan evolusi manusia
    • MKAA mengenai perubahan dan sifat rakus manusia.

Footnote: Siapapun yang mendidik Commodus sesudah meninggalnya Marcus Aurelius merusak seluruh era bijak para keturunan Nerva-Antonine. Dari situ semua Roman Emperor segila (atau mungkin lebih gila dari) Hitler.

Hangatnya Kenyamanan

Nomor satu…

Ingatkan aku, pernahkah anda ke museum, situs arkeolog, gua purba, atau apapun yang berbau geologi/arkeologi, dan menemukan manusia purba? Nenek moyang kita?

Ingin tahu penyebab kematian nenek moyang kita yang paling sering, dan juga paling ditakuti. Ditusuk oleh Babi Hutan misalnya? Keinjak Mammoth? Terbunuh suku lain? Oh tidak.

Kita bicara era jauh sebelum era berburu. Dulu ketika kita masih nomaden dan herbivora.

Kita bicara sebuah waktu sebelum manusia takut mati kelaparan. Ketika masih cukup banyak pohon berbuah untuk makan di sebuah daerah selama lebih dari 1 bulan.

Sebelum kita berburu, kita paling takut oleh dingin.

Sebagai makhluk yang amat kreatif dan pintar, kita melakukan suatu hal lain untuk menghindari kedinginan. Terciptalah “ciptaan” pertama kita. Api.

Sejujurnya, jatuhnya api ke tangan manusia purba masih cukup jauh dari pemahaman antropolog, atau arkeolog yang sudah handal. Tetapi, layaknya teori pembuatan piramida, tiap orang memiliki teori masing-masing, dan teori itu sama-sama masuk akalnya.

Ada yang menyatakan bahwa kita menemukan api ketika sedang hujan deras, dan ada petir yang menyalakan sebuah pohon. Ketika kita mendekat, kita merasakan kehangatan dan kelembutan dari api itu. Tiap langkah yang kita ambil membuat kita lebih tertarik, dan tertarik atas kehangatan pada dinginnya hujan ini. Ketika kita biasa bersembunyi di dalam gua. Akhirnya kita mau untuk keluar ketika hujan, dengan api sebagai pelindung.

Ada juga yang berteori bahwa kita menemukan api karena ketidaksengajaan menggesek dan menggosok dua buah batu sampai ada percikan yang menyalakan api. Percikan itu jadi sumber kehidupan, dan kehangatan para manusia. Hore! Kita telah menciptakan sesuatu.

Ada juga yang percaya bahwa kita menemukan api sehabis gemuruh petir yang membakar dan menyalakan sebuah pohon, lalu kita mengambil sebilah tongkat kayu, dan membawa sumber hangat dan panas itu kemana-mana. Sampai api tersebut akhirnya mati, dan kita mencari percikan kehidupan sekali lagi.

Ya, bagaimanapun juga, ketika kita lihat manusia prasejarah menciptakan api, kita perlu melihat alasan mereka menciptakan api.

Kenapa mereka menciptakan api? Karena tentunya, mereka merasa lebih nyaman. Jauh lebih nyaman kebanding harus berjalan telanjang sambil menggigil karena dingin, atau berbaring di tenggorokan sebuah gua, hanya ditemani kehangatan tanah, yang lembab, dan terasa begitu dingin.

Api telah menjadi sebuah kebutuhan, karena manusia selalu ingin apa yang paling nyaman untuk mereka. Seiring jalannya waktu, leluhur kita sudah tak kuat lagi berjalan telanjang. Kita mulai berburu karena ternyata kita lebih kenyang sebagai karnivora (dan para pencinta daging pasti akan membela habis-habisan pentingnya kita sebagai karnivora untuk evolusi) dan kita memanfaatkan baju tebal sebagai suplemen dari kehangatannya api.

Ini hanya mengupas apa yang terjadi di daerah tropis. Ketika manusia bermigrasi ke daerah yang bersalju, kita sudah mulai berburu, dan kita menggunakan baju yang tebal. (para arkeolog dan antropolog begitu penasaran mengapa para Neanderthal bisa bertahan dengan baju yang lebih sedikit dari Sapiens dalam cuaca yang lebih dingin)

Apa yang api ciptakan?

Sederhana. Karena hangatnya api ini begitu enak. Kita jadi menciptakan banyak hal lain untuk memperkuat rasa hangat tersebut. Kita menciptakan senjata karena daging yang berminyak dan lemak tersebut membuat diri kita merasa lebih hangat, baik karena persediaan lemak yang bertambah di tubuh kita dan juga karena struktur nutrisi milik daging.

Kita memanfaatkan kulit hewan buruan kita sebagai baju, karena kita tidak pernah puas. Kita selalu menginginkan apa yang lebih nyaman, dan kehangatan = nyaman. 2 tambah 2 jadi 4, sehingga, BAM! Tercipta lagi baju tebal.

Kalau nenek moyang kita tidak menemukan atau memanfaatkan api puluhan ribu tahun yang lalu… Kita mungkin akan berjalan dalam kondisi telanjang kemanapun kita pergi.

Ini mungkin hal yang normal beberapa puluh ribu tahun yang lalu, namun sekarang, ini telah menjadi suatu taboo.

Kebutuhan Api?

Kita membutuhkan api, bahkan puluh ribuan tahun dari kita mulai tahu cara memanfaatkannya. Beberapa antropolog die hard bahkan menyatakan bahwa kita sudah diperbudak oleh api, kita mencari cara untuk memastikan bahwa api selalu ada, karena tanpanya kita bisa merasa kedinginan, makanan tidak bisa dimasak dengan benar, dan kita takkan bisa mandi dengan air panas.

Sudah ada puluhan cara menciptakan api, semakin lama api yang diciptakan lebih panas, lebih membara, dan semakin lama, semakin sedikit bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan api. Pada dasarnya, kita tetap menciptakan hal yang sama, kita tidak menciptakan api jenis B, api jenis C, mau apapun warnanya, seberapa besar atau seberapa panas zatnya, bara api yang digunakan para Homo erectus dan manusia modern tetap sama.

Tetapi, meski kita telah mau diperbudak oleh api, dengan menciptakannya terus menerus, kita tetap membutuhkannya. Lagipula, siapa yang tidak mau hidup nyaman dan hangat?

Tajamnya Kekejaman

Manusia selalu berusaha melakukan apapun yang mereka bisa lakukan sebagai spesies untuk mendapatkan apa yang mereka nilai sebagai paling nyaman. Menahan diri sepertinya tidak mungkin sekarang.

Seiring mereka berusaha untuk membuat suatu hal lebih nyaman dan mudah untuk mereka, seiring mereka melakukan sesuatu untuk mempermudah apa yang mereka lakukan.

Oleh karena itu… Terciptalah senjata.

Senjata pertama-tama digunakan sebagai alat untuk berburu. Dengan bentuk dasar, sebuah tombak. Senjata paling efisien, paling kuat, dan paling mudah digunakan untuk membunuh.

Pada bentuk mentahnya, senjata tombak ini hanyalah sebuah batang kayu yang diperhalus menggunakan batu, lalu ditempelkan ke batu lain, yang dibentuk dengan khusus, sehingga memiliki mata tombak yang panjang.

Tombak ini cukup versatil dan bisa digunakan untuk menusuk dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri, untuk dilempar, untuk memukul, dan tentunya, untuk membunuh.

Kata terakhir itu perlu diberikan sebuah catatan dengan sound effect “ding-ding-ding”.

Dari memburu dan membunuh hewan karena kita ingin merasa nyaman dengan perut penuh, dan lidah yang puas menyentuh daging matang (meski tidak dibumbui sama sekali), kita juga merasa bahwa jika ada manusia lain berusaha menyentuh hewan calon buruan kita… Kita akan mneyerang.

Senjata yang tadi kita manfaatkan untuk berburu, dialihfungsikan.

Kita juga membunuh, dan berperang, demi mendapatkan sumber daya paling kaya dan paling nikmat. Mungkin peperangan pertama bermula dari seorang manusia yang berburu lembu dan tiba-tiba mereka bertemu dengan kelompok manusia lain, yang juga berburu lembu.

Karena ia bukan makhluk rasional, dan amat serakah, ia merasa bahwa akan lebih baik makan dua lembu dengan perjuangan yang berat, daripada bekerja sama dan membunuh dua lembu, lalu membagi hasil.

Dari situ, terjadilah konflik sederhana atas sumber daya. When has that stopped?

 

Apa yang telah diciptakan senjata?

Sebuah tombak sederhana yang bisa digunakan dari dekat dan juga dari jauh telah sukses mencoreng nama baik manusia. Namun, tombak juga telah berubah bentuk ratus ribuan kali, sampai ia menjadi senjata yang paling ampuh bagi para infantri.

Sekarang, infantri cenderung menggunakan senjata api, yang terkadang digunakan di jarak dekat juga (meski hanya untuk sekedar, membuat orang pingsan), desain multifungsi dan bisa digunakan dari jarak jauh dan dekat ini masih tercermin sampai sekarang.

Senjata manusia purba telah memberi sedikit inspirasi desain senjata modern, apalagi pada era kerajaan, dimana senjata masih menggunakan pedang dan perisai.

Tetapi, ketika kita berbicara mengenai senjata… Ciptaan terkuatnya tentunya adalah rasa iri, serta rasa rakus. Dari kedua emosi dasar yang berasal dari simpanse tersebut… Muncullah perang.

Kebutuhan Senjata?

Senjata tentunya telah menjadi kebutuhan… Kita membutuhkan senjata untuk berperang, karena…

Sejujurnya alasan manusia berperang sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku. Kurasa senjata hanyalah cermin dari keserakahan manusia, tapi ya, siapa yang sebenarnya peduli? :'(

Kita takkan berperang kecuali kita mampu mendapatkan sesuatu dari perang tersebut. Hanya saja, banyak orang melewatkan apa yang mereka mungkin dapatkan jika sumber daya tersebut dimanfaatkan dari sudut lain.

Memang, kita takkan pernah bisa lepas dari berebut, dari konflik, dari keserakahan, dan juga dari kebutuhan senjata. Senjata ada sebagai alat untuk mengambil, dan memastikan apa yang kita punya tidak diambil. Ia sebuah simbol keamanan, serta simbol peperangan.

Kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin merasa aman, kita takkan butuh senjata kecuali kita ingin berperang. Manusia terjebak dalam sebuah zona dimana kita terpaksa untuk memiliki senjata, karena tanpanya, takkan ada jaminan bahwa kita akan memiliki suatu bentuk keamanan. Pada sisi lain, kita hanya butuh senjata karena sudah ada yang memiliki senjata, yang mengancam keamanan dan kesejahteraan milik kita.

Siapapun yang memercik api konflik duluan telah membawa kita ke siklus tanpa henti ini.

BERSAMBUNG!

Apa itu Uang?

Apa itu Uang?

Pertanyaan ini sederhana. Sebenarnya, apa itu uang? Dan bagaimana selembar uang bisa memiliki nilai? Terkadang banyak orang, tanpa memedulikan gelar ataupun pekerjaan (kecuali jika bekerja di bidang filsafat, atau misalnya, antropologi) sering bingung atas pertanyaan sederhana ini.

Jika kamu menanyakan pada penganut Marxism, atau penganut jenis komunisme lainnya, jawabannya akan cukup sederhana. “Uang adalah alat imajinatif dari para kapitalis.” Tetapi, semua orang menggunakan uang, semua orang memiliki uang (tanpa memedulikan nilainya), dan mayoritas orang, lucunya, tidak tahu apa peran uang dalam sejarah.

Aku sudah pernah membahas perannya Kapitalisme campur Kolonialisme dalam menambahkan kemajuan dari peradaban, tetapi, pada sisi lain, uang sendiri, takkan menjadi suatu hal yang bernilai tanpa adanya kapitalisme.

Umm, untuk mengurangi sedikit kebingungan dari apa yang terjadi pada serial Buku yang telah dibaca milikku, dan juga untuk memberi laporan buku-buku yang benar telah kubaca pada minggu ini, aku sepertinya akan membiasakan menuliskan inspirasi, dan juga beberapa kutipan dari sumber-sumber aku mendapatkan ilmu ini. (mungkin juga akan diselipkan komunitas dimana aku mendapat ide, sayangnya belum akan dilakukan untuk artikel ini.)

Sumber dan Inspirasi artikel:

  • Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, Written by Yuval Noah Harari
  • The Ascent of Money, Written by Niall Ferguson
  • Sapiens: A Brief History of Mankind, Written by Yuval Noah Harari

Apakah Kertas Begitu Bernilai?

Nyatanya, uang tidak akan punya nilai kecuali kita percaya bahwa uang tersebut memiliki nilai.

Tanya warga Myanmar ketika ada seorang diktator yang menyatakan bahwa semua uang yang anda miliki sekarang hanya boleh digunakan untuk membeli uang baru. Jika aku tidak salah, uang baru itu bernilai 10 kali lipat lebih mahal dari desain uang yang lama.

Tindakan diktator tersebut mampu membuat seluruh warga Myanmar sekarat dan miskin, tetapi para diktator kaya. (jadi, sebenarnya, uang tersebut hanya tidak bernilai di dalam negeri ^^’ )

Berikutnya, coba kita pikirkan hal ini dalam bentuk fisik…

Apa beda uang 1.000 rupiah (desain baru tentunya), dan uang 100.000 rupiah? (sekali lagi, desain baru) Tentunya ada perbedaan warna, gambar pahlawan yang berada di lembaran uang tersebut, dan juga ada perbedaan angka yang bertuliskan di selembar uang tersebut. (if you ask an American about this, they have fewer differences, just a different design)

Apakah ada perbedaan tekstur? Tentu saja tidak. Perbedaan ukuran, ada sih… sebenarnya ada perbedaan sedikit. Uang 100.000 lebih besar 2 milimeter dari 50.000, sedangkan uang 50.000 lebih besar 2 milimeter dari 20.000, dan seterusnya, sampai uang 1.000 lebih kecil 12 milimeter kebanding uang 100.000.

Tetapi, selain perbedaan fisik yang terbilang minim tersebut, apakah uang memiliki nilai berbeda? Orang akan menjawab iya. Namun, sayangnya, tidak! Jika kita memercayai sebuah uang 5.000 sebagai alat untuk membeli 3 buah Beng-Beng (bukan sponsor, hanya saja, Beng-Beng begitu enak) maka, uang 5.000 sebenarnya hanya senilai 3 buah Beng-Beng.

Itu alasan 10.000.000 Dollar Zimbabwe (yang begitu tidak stabil dan terkena Hiperinflasi sampai 3 kali) hanya bisa digunakan untuk membeli 3 butir telur, atau mungkin, 2 Beng-Beng.

Faktanya, kita sebagai manusia percaya bahwa 10.000.000 dollar Zimbabwe nilainya sama dengan 2 Beng-Beng. Kita sebagai manusia percaya juga, bahwa 5.000 rupiah nilainya sama dengan 3 Beng-Beng (oke-oke, Beng-Beng di toko dekat rumah itu 1.700, cuman kan bisa dibuat bulat)

Jadi, yang perlu ditanyakan sesudah bab ini ada tiga.

  1. Apakah uang perlu dinilai sebagai barang, alih-alih sebagai… err, uang?
  2. Mengapa kita percayai uang?
  3. Uang, apakah uang itu?

Nilai Uang.

Uang, oh uang. Apa nilaimu? Apa bentukmu? Apakah kami membutuhkanmu?

Pertanyaan sederhana. Kita membutuhkan uang, karena kita membutuhkan sesuatu yang bernilai, dan penting untuk kemakmuran dan keselamatan hidup kita.

Jadi, sebenarnya, mengapa kita butuh uang? Karena kita membutuhkan barang yang bisa dibeli dari uang tersebut. Untuk apa kita memiliki uang terlalu banyak jika kita tidak membutuhkan, eh ralat… Menginginkan barang terlalu banyak? Sejujurnya, Upah Minimum di tiap daerah dan negara kurasa telah cukup untuk memberikan standar kehidupan yang paling rendah untuk seseorang, tetapi, karena ada orang yang menginginkan Mercedes paling baru untuk sebuah standar hidup, dan juga ada orang yang akan bahagia ketika sudah sukses makan KFC, atau makan di restoran mewah, maka… dari situ lah kita membutuhkan uang. Untuk mendapatkan keinginan kita.

Uang takkan bernilai, kertas juga takkan bernilai, jika uang tidak bisa mendapatkan barang-barang yang kita butuhkan, atau inginkan.

Jadi, coba pikir lagi, buat apa kita memiliki uang? Buat apa ktia makan di restoran all you can eat? Buat apa kita membeli mobil mewah? Ujung-ujungnya, kita membutuhkan uang untuk membeli kebahagiaan, dan kebahagiaan tersebut berasal dari mana? Dari barang yang menghasilkan endorphin di otak kita. (seperti disebut tadi, kebahagiaan tiap orang berasal dari tempat berbeda)

Ironisme dari kehidupan manusia lagi… Kita terjebak di dalam siklus tanpa henti, persis seperti siklus tanpa henti sebuah media…

  • Kita membutuhkan uang.
  • Mengapa? Karena kita membutuhkan serta menginginkan barang yang didapat dari uang tersebut.
  • Kita berusaha mendapatkan uang.
  • Kita mendapatkan uang yang cukup untuk membeli (setidaknya jika kamu menggunakan uang dengan pintar) 10 buah barang yang kita inginkan.
  • Kita membeli barang yang kita inginkan.
  • Kita menginginkan uang lagi. Jadi kita menciptakan bisnis, atau membeli properti ketika kita ada uang lebih.
  • Mengapa? Karena kita menginginkan barang (lain) yang sekali lagi… didapat dari uang.

Kesimpulan sederhana. Uang tidak bernilai. Barang yang kita beli tidak bernilai. Yang bernilai adalah hormon yang kita dapatkan sesudah mendapatkan uang.

Bahagia itu sederhana sebenarnya. Kita cukup mengatur otak kita untuk mendapatkan hormon endorphin dan serotonin ketika kita melakukan sesuatu yang gratis!

Buddha benar… The end of all suffering is the end of all wanting. Atau, semacamnya. Ya google saja Quotes-nya Buddha, entar juga ketemu kok.

Wait, then again, bank-bank di seluruh sudah sukses menghasilkan jutaan dollar dari orang yang tidak sabar untuk mendapat keinginannya. I think that’s called a credit card…

Ya, sudah ada watermark untuk courtesy image, jadi tolong, WordPress jangan marah ketika aku lupa memberi courtesy sebuah gambar. Hatur Nuhun.

Ehem, tadi sampai mana?

Oh iya…

Dalam dunia kapitalistik, amat disayangkan bahwa uang sangat dihubungkan dengan erat dengan kebahagiaan. Sayangnya, tidak ada yang mengerti atau prihatin mengenai hal ini.

Jadi, berikutnya, mari kita bahas alasan kita percaya pada uang.

In Money, We Trust.

Secara faktual, kita sebagai manusia percaya pada cukup banyak hal yang aneh, dan juga tidak masuk akal.

Sebagai seorang Debater (ENTP), aku amat senang ketika bisa membuktikan seseorang yang lain salah.

Mari kita lihat statistik total uang palsu yang digunakan untuk membeli suatu benda lain, setidaknya, di India. (sebenarnya, aku memilih India karena angka uang palsu di India begitu besar)

Secara total, ada uang palsu (dalam mata uang Rupee) senilai 3.15 triliun Rupiah yang digunakan untuk membeli barang pada akhir 2017 di India. Untuk menambah sedikit kelucuan. 3.15 triliun (dalam Rupiah) uang tersebut hanyalah berupa uang yang ditemukan dalam bentuk kertas. Selalu ada kemungkinan bahwa uang palsu tersebut digunakan beberapa kali, misalnya dalam transaksi dengan toko, lalu dari toko tersebut sebagai kembalian, dan dari kembalian tersebut digunakan untuk transaksi dengan teman, lalu ke toko lain, dan seterusnya.

(Oh iya, satu hal lagi.) Sistem bank yang mencatat uang yang kita miliki juga relatif mudah untuk dibobol seorang hacker yang andal, serta tidak mudah menyerah.

Tetapi, entah mengapa, kita masih percaya pada uang.

Maksudku, statistik telah seringkali membuktikan bahwa uang itu suatu hal yang mudah untuk dirusak, dipalsukan, dicuri, dan diambil dari orang lain… Tetapi, kita masih percaya pada uang.

Mungkin, ini faktor evolusi, and all that God Spot stuff, tetapi tentunya, anda sudah membaca artikel itu. Atau belum. Err, kalau belum, cepat-cepat baca! Klik disini. dikakipelangi.com/kunci-evolusi-manusia-secara-psikologi

Pada dasarnya, mengapa kita percaya pada uang?

Bagi seorang yang tinggal di daerah komunis, uang takkan bernilai. Semua hal telah disediakan oleh pemerintah, sehingga, untuk apa kita punya uang? Selembar kertas itu, tak bernilai.

Maksudku, jika memang uang dipandang sebagai alat untuk mendapatkan benda yang bernilai, mengapa kita membutuhkan uang, alih-alih, misalnya, usaha?

Kapitalisme mendukung uang, karena dengan adanya uang, nilai benda yang didapatkan dari uang tersebut dapat diputar dengan lebih mudah. (baca artikel ini… )

Ini pertanyaan yang ketiga buku yang kugunakan sebagai sumber tersebut tidak dapat jawab, tanpa kita masuk ke pertanyaan ketiga.

Apa itu uang?

Uang…

Jadi, coba ingat sedikit…

Kita telah membahas nilai uang, namun, kita sebenarnya tidak tahu apa itu uang.

Sebagai seorang Millennial… To Google!

a current media of exchange in the form of coins and banknotes; coins and banknotes collectively

Jadi, satu, uang adalah sebuah media yang portabel, digunakan untuk bertukar. Bisa dianggap sebagai koin, atau sebagai lembaran uang.

Tapi, umm. Sekarang, lebih dari 80% transaksi terjadi tanpa menggunakan uang. Sekarang uang berupa saldo, dimana kita memindahkan nilai saldo di suatu tempat, misalnya, di rekening bank kita, ke aplikasi Gojek, untuk bepergian (atau membeli makanan, atau bersih-bersih, atau… yah, you got that part).

Apakah Gopay, atau Grabpay itu memiliki bentuk fisik? No! Of course not.

Tetapi, apakah Gopay atau Grabpay itu memiliki nilai? Tentu saja!

Bukan hanya dalam aplikasi, baik E-Commerce layak Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak, atau Electronic Transportation, layak Gojek, atau Grab, atau Uber… Tetapi, di bank juga, electronic banking juga bisa dihitung.

Sebenarnya, apa itu uang? Uang itu, saldo. Saldo untuk apa? Saldo yang berperan sebagai media untuk mendapatkan benda.

Mungkin anda berpikir bahwa nilai imajinatif serta saldo ini bukan hal yang penting sebelum ada pesatnya perkembangan teknologi. Namun, dari zaman dahulu, rekening bank kita tidak menyimpan uang tiap orang dalam brangkas masing-masing. Ada sebuah brangkas besar yang berisi uang, namun, jumlahnya, ku tidak tahu.

Apa yang disimpan secara pribadi oleh bank? Catatan. Bank mencatat uang yang kita miliki. Sesederhana itu… Bank hanya menghitung, menghitung, dan menghitung.

Jadi, mengapa kita percaya pada uang? Karena sekarang, tidak banyak media yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan benda. Dan sebagaimanapun juga ada pencurian uang, atau ada pemalsuan uang, tidak ada media yang begitu efektif, ataupun efisien dalam mendapatkan barang yang kita inginkan tersebut.

Nyatanya, meski ada uang elektrik berupa saldo, mata uang untuk hal tersebut sama saja… Bitcoin mungkin adalah sedikit perbedaan, namun… Hmm, kurasa ujung-ujungnya, sistem Bitcoin hanya mencatat dan mendapatkan uang, dan mungkin Bitcoin hanyalah sebuah mata uang baru.

Kesimpulan.

Humans trust many stupid things. But they’re smart enough to create it in the first place.

Jadi, sebenarnya, kutipan itu, cukup ironis. Kita percaya pada cukup banyak hal yang bodoh… Untuk menyebut beberapa…

  • Uang
  • Sosial Media
  • Hoax (apakah ini dihitung? Aku sih menghitungnya)
  • Hukum
  • Permainan
  • Kompetisi
  • Kesenjangan Sosial

Tetapi, di saat yang sama, kita cukup pintar untuk menciptakan benda itu.

Sepertinya kita adalah makhluk yang bersinar begitu terang, sampai-sampai cahaya dari tubuh kita membutakan diri kita sendiri.

Tetapi, ya, siapa yang bisa menyalahkan kita? Selain diri kita sendiri tentunya…

🙂

Foresight Fallacy

Foresight Fallacy

Foresight Fallacy… Apa itu?

Sebenarnya, aku yakin, siapapun yang sudah pernah menonton sedikit serial dan/atau film Time Travel, atau AI, pernah mengerti, atau melihat teori unik ini.

Foresight Fallacy sendiri tercipta karena sifat manusia yang ada secara genetik. Tidak masalah apakah manusia itu kompetitif, santai, jahat, baik, atau bahkan megalomaniak… Semua manusia, secara spesies akan berkontribusi ke Foresight Fallacy.

Sebenarnya, Foresight Fallacy adalah hal yang amat sederhana, tetapi, banyak hal yang membuat kesederhanaan ini rusak, seperti tentunya, time travel sendiri yang pada dasarnya membuat orang-orang (terutama yang bukan penggiat science fiction) migraine tujuh galaksi.

Dan kupastikan, Foresight Fallacy adalah satu dari sedikit hal yang bisa memberikan warna ke spesies kita secara positif, jika dibandingkan dengan AI. Tentunya jika AI yang diciptakan tidak punya Human Drive, tapi, tentunya, siapa yang ingin AI dengan gaya berpikir seperti manusia?

Apa itu Foresight Fallacy?

Aku yakin semua orang pernah menonton suatu serial atau film dengan sedikit Foresight Fallacy.

Jadi, buatku yang baru belajar mengenai sifat manusia yang tidak bisa diprediksi itu, sebenarnya, buatku, Foresight Fallacy adalah alasan kenapa Season III dari The Flash adalah titik paling sampah serial tersebut.

Begini, akan kuberikan contoh mengenai kejadian dan human nature membingungkan ini… Dari serial tersebut…

Dalam 6 Bulan (waktu di serial) dari episode pertama season 3, Iris West-Allen, istri dari Barry Allen (The Flash) akan dibunuh oleh seorang makhluk yang berasal dari masa depan, dan bisa berlari lebih cepat daripada The Flash.

Manusia adalah makhluk yang memiliki drive, dan tentunya, meskipun Barry bukan lagi seorang manusia (he’s a metahuman 😉 ) ia tetap memiliki drive yang sama.

Jadi, dengan mengetahui pasti apa yang akan terjadi di masa depan, kita sebagai manusia akan berencana untuk mengubah apa yang kita ketahui secara pasti dan yang pasti tersebut, menjadi tidak pasti…

Skor rating The Flash turun dari 82 di Metacritic (which was good, or at least, decent) menjadi 64. Aku sih tetap nonton, meski aku tahu ujungnya, namanya Superhero, mereka akan menang. Plus pihak TV masih ada kontrak dengan pemeran Iris West-Allen untuk setidaknya 3 season lagi. Jadi, hampir dipastikan bahwa dia akan selamat, dan serial itu sudah mencapai titik… -_-”

Untungnya, season 4 cukup bagus. Meski villain utama dari season 4 terlalu overpowered, dan kemungkinan besar, bahkan pasukan Kryptonian pun masih kalah melawan dia…

EHEM, sorry, off topic.

Masih bingung kah?

Nah, sebenarnya, Foresight Fallacy dalam kasus di atas tampak bagus, dan tidak sesuai dengan istilah fallacy, yang berarti kegagalan. Jadi, sebenarnya, kenapa Foresight adalah hal yang buruk? Bukannya mengetahui masa depan berarti melihat kesuksesan, dan jika kita gagal di masa depan, kita bisa merubah diri agar sukses?

Sebenarnya, Foresight Fallacy bukan kegagalan dari manusia, melainkan kegagalan dari masa depan yang pasti itu, dan ini alasan utama mengapa menurutku, manusia tidak akan pernah digantikan oleh AI.

Sebagai orang yang tidak pro akan AI…

Kalau para nanobiologis berusaha untuk memastikan AI tidak bisa memasukkan tubuhnya ke dalam manusia, dan kalau para ilmuwan komputer memastikan AI tidak akan pernah tercipta, kurasa para psikolog, antropolog, dan filsuf akan berpikir bahwa, meski AI sudah ada, akan sangat sulit untuk melihat AI yang mempunyai drive untuk merubah sesuatu.

Kepastian dari Ketidakpastian

Satu hal yang kita bisa pastikan dari manusia sendiri adalah… karena manusia sangat-sangat… labil. Kita adalah makhluk yang pastinya akan membuat dan melakukan hal baru tiap harinya.

Sebagai spesies, kepastian yang manusia bisa dapatkan hanya dari tiadanya kepastian.

Sifat ketidakpastian manusia sendiri paling tercerminkan oleh pasar saham.

Kita tidak akan pernah tahu secara pasti bagaimana cara untuk memprediksi pasar saham, dan andaikan kita tahu caranya… Foresight Fallacy akan bermain.

Misalnya, sebuah AI yang bisa memprediksi kenaikan saham dengan tingkat akurasi 100% diciptakan dan ada secara gratis… That’s good! Freelancer yang main saham akan senang juga tentunya!

Dalam 24 jam launching, AI sudah digunakan oleh 5 juta orang…

Pada hari dimana AI sudah dipakai 5 juta orang, ada prediksi baru muncul… (Ini benar-benar asal, karena, sebenarnya, siapa yang tahu tentang manusia?)

  • Besok, harga saham dari klab sepakbola Juventus akan turun sebesar 12% dikarenakan pensiunnya Cristiano Ronaldo, dan perginya Paulo Dybala, Gonzalo Higuain, serta Andrea Barzagli. (semoga Google cukup up to date, karena aku bener-bener acak milih pemain dari list yang ada di google 😛 )
  • Besok, harga dari saham semua perusahaan minyak akan naik sebesar 100% dikarenakan, orang-orang makin menyukai minyak, dan entah mengapa, tidak ada enviromentalist yang sedang beraksi untuk menurunkan penggunaan minyak.
  • Dalam 8 jam, harga saham google akan turun 18% dikarenakan mereka lupa membayar pajak, dan akan menerima tuntutan hari ini juga, bisa berakhir bangkrut.

Berdasarkan prediksi ini, apa yang akan dilakukan orang yang bermain saham?

Jual semua saham yang dimiliki, terutama bagi yang memiliki saham dari Juventus, serta saham dari Google.. Segera beli saham minyak, selagi murah.

Dan disini, inilah saat ketidakpastian itu muncul…

  • Saham Juventus turun, dan bukan karena ditinggalkan beberapa pemain, melainkan karena AI bilang begitu.
  • Minyak? Naik! Sebelum esok hari, dia sudah naik, dikarenakan semakin sedikit orang mau menjual, dan banyak sekali yang menginginkannya.
  • Saham Google langsung dijual, dan ya, bisa saja tidak laku, jika betul mereka akan menerima tuntutan pajak dalam 8 jam, siapa yang ingin beli jika harganya mahal?

Jadi, berikutnnya, apa yang akan terjadi dari sini?

Human drive plays its part again.

Saham Juventus turun? Mungkin Ronaldo akan dibujuk untuk diam satu musim, dan Juventus akan beli beberapa pemain lagi, agar harga saham klub miliknya naik…

Minyak? Mungkin para “juragan” minyak puas dan bermalas-malasan, atau berhura-hura sampai uang habis, karena ia makin kaya… Mungkin semua pegawainya diajak liburan 2 minggu. Eh, pegawainya diajak liburan? Siapa yang kerja? Kualitas turun, harga anjlok dong?

Google? Mengetahui ia akan menerima tuntutan pajak, ia akan bersih-bersih dan bayar semua hutang perpajakannya sebelum ada tuntutan, dan harga saham google tetap stabil!

Menarik sekali ya manusia?

Jika ada hal yang pasti diprediksi oleh seseorang sebagai A, maka, yang terjadi malahan, B, dikarenakan kita akan melakukan A sebelum waktu prediksi A akan terjadi.

Kesimpulan.

Manusia adalah makhluk yang unik.

Kita memiliki kesadaran, kita memiliki pikiran, kita memiliki otak, dan paling penting, kita memiliki emosi.

Itulah intisari manusia yang sangat-sangat kompleks tetapi menarik ini.

Amat disayangkan bahwa kita sebagai manusia, sering lupa bahwa kita adalah makhluk yang tidak pasti, dan sangat… unik.

Antisipasi… Itulah alasan manusia tidak akan pernah digusur oleh Artificial intelligence, antisipasi manusia, dan emosi milik kita.

Sayangnya, terlalu banyak orang fokus ke emosi dan melupakan antisipasi, dan kelemahan itu, mungkin dimanfaatkan komputer untuk… ya, menggusur kita.

Sampai lain waktu ya!