Tag: AI

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Buku yang telah dibaca: Minggu 2

Serial ini adalah sebuah memoir, catatan, atau jurnal, yang kugunakan sebagai media untuk apa saja buku yang telah kubaca dalam seminggu kebelakang.

Serial ini akan selalu keluar pada hari Senin, karena jadwal pengulangan buku adalah hari Minggu. Jadi, dirasa Senin adalah hari yang paling tepat untuk menulis ulasan, dan juga opini singkat pada buku-buku yang sudah kubaca.

Bisa dibilang ini merupakan sebuah projek mengisi kekosongan sebagai seorang homeschooler ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan πŸ˜‰

Selamat menikmati!

Minggu kedua! Maaf, minggu lalu aku semacam reboot ulang otak, jadi kurang produktif. Minggu ini, aku akan langsung membahas buku yang sudah aku baca dalam 1 minggu kemarin. Sejujurnya kedua buku ini akan membuatmu berpikir berkali-kali mengenai hal yang sederhana.

Daftar Buku

Minggu lalu, dari hari Senin 28 Mei, sampai Minggu 3 Juni, aku hanya membaca 2 buku. Tetapi jika ditambahkan, kedua buku itu mencapai 12000 loc, ini berarti bahwa aku sudah menambah sekitar 20% total halaman yang telah dibaca, meski minggu ini aku lebih sibuk dari minggu sebelumnya.

Setiap 20 loc setara dengan satu halaman pada buku dengan ukuran 13X20 CM. Ini kurang lebih berarti bahwa aku membaca sekitar 600 halaman.

Catatan: Satu buku yang aku baca dibaca cepat dengan teknik yang diajarkan oleh Om Adi Wahyu Adji. Om Adi ini merupakan penulis ulasan buku yang pernah membaca satu buku per hari-nya, dan langsung mengulasnya dalam 24 jam. Teknik membaca cepat yang beliau ajarkan pernah disampaikan dan diajarkan juga ke diriku, dan aku sangat senang. Teknik ini membantuku membaca buku yang penuh statistik dalam sejenak saja, dan meski mayoritas angka dan statistiknya lupa… konteksnya masuk kok.

Buku yang telah dibaca adalah…

  • Should We Eat Meat? Karya Vaclav Smil (8500++ loc)
  • Our Last Invention. Karya James Barrat (3500++ loc)

Berikut ulasan singkat serta opini untuk kedua buku tersebut.’

Should We Eat Meat?

Dari judulnya, bisa ditebak ini buku tentang perkarnivoraan. Buku ini netral, dan tidak memberikan kesimpulan apapun. Ia memintamu untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

Buku ini netral.

Tolong ketahui bahwa tidak ada tersirat bahwa buku ini pro, ataupun kontra ke manusia yang berusaha menjadi karnivora, meski posisi mereka tepat berada di atas piramida spesies. Buku ini hanya memberikan banyak sekali fakta dan baik hal positif ataupun negatif dari kita, sebagai manusia yang memakan daging.

Should We Eat Meat tidak memberikan terlalu banyak opini yang bersifat divertif dan membuka hampir segalanya yang perlu diketahui mengenai daging. Tidak ada prasangka

Fakta-fakta yang dibahas disini pun cukup menarik, detil, dan juga membahas dari sangat sangat banyak sudut pandang. Vaclav Smil membahas dari sudut pandang… (nafas dalam)

Catatan, untuk titik berwarna putih berupa fakta+opini, silahkan saring sendiri yang mana merupakan fakta dan yang merupakan opini.

  • Antropologi
    • Manusia mendapatkan budaya dari daging. Banyak suku memiliki ritual khusus untuk memakan daging.
  • Evolusi
    • Manusia hanya evolusi dan memiliki otak sebesar ini karena memakan daging. Jadi jika anda ingin kita berevolusi menjadi mutan, karena anda fanboy X-Men, makan daging yang banyak. Gen-mu akan berevolusi perlahan-lahan
  • Biologi
    • HEHEHE… Baca sendiri bukunya
  • Lingkungan
    • Sapi menghasilkan 50%++ (2011) metana yang merupakan gas rumah kaca di dunia. 25% metana mengakibatkan global warming. Ini berarti bahwa sapi berkontribusi 1/8 bagi pemanasan global
  • Kekejaman kepada hewan
    • Mayoritas peternakan di Amerika tidak menganggap sapi sebagai makhluk hidup dan memperlakukannya semena-mena. Mereka bahkan jarang sekali diberi sinar matahari, makanan yang layak, dan juga banyak lahannya untuk bergerak diambil demi menghemat dana di lahan.
  • Angka kematian
    • Sapi menambah +2% angka kematian muda jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Kemajuan manusia sesudah mengonsumsi daging
    • Lihat Evolusi, Antropologi. Manusia juga maju secara energi, lihat energi dari daging di bawah.
  • Kesehatan
    • Probabilitas ada penyakit atas keracunan dari sapi dibawah 0.01%, tetapi probabilitas terkena penyakit karena terlalu banyak konsumsi lemak, sekitar 18% jika dibandingkan dengan vegetarian.
  • Nutrisi dari daging
    • Daging merah adalah protein dengan zat besi dan protein terpadat di dunia. Untuk sekarang, belum ada alternatif untuk sumber zat besi yang seefisien daging merah terkecuali vitamin. Jamur, yang memiliki zat besi dan protein lumayan banyak saja masih hanya memiliki sekitar 1/4-1/3 zat besi jika dibandingkan dengan sapi.
  • Energi untuk memproses daging
    • Lupa angkanya. Tetapi, jika dibandingkan dengan efisiensi lahan dibandingkan dengan tanaman, daging lebih efisien. Nah, dalam konteks energi, sapi membutuhkan sekitar dua kali lipat perawatan, serta sumber daya dalam memeliharanya.
  • Endorphin dari mengonsumsi daging (alias kesenangan pribadi)
    • HEHEHE… πŸ˜‰
  • Agama
    • πŸ™‚
  • Sumbangan ke ekonomi
    • Daging dikonsumsi dalam jumlah yang banyak tiap tahunnya. Mengingat dalam proses pertanian juga ada pembelian lahan, pembelian alat, pembelian makanan, peternak, dan lain-lain… Peternakan cukup banyak menyumbang bagi ekonomi beberapa negara. Bukan hanya peternakan, tetapi juga restoran yang mengandalkan steak sebagai menu utama. U.S. sendiri mengkonsumsi 120kg daging per orangnya tiap tahun.

Dan masih banyak lagi. Ingat, buku ini sekitar 500 halaman membahas tentang daging. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi nyatanya sangat-sangat kompleks.

Seperti kusebut, buku ini mayoritas kontennya berupa data, misalnya persentase, statistik, dan faktual, lengkap dengan sumber dan riset untuk memberi penekanan bahwa buku itu dapat diandalkan.

Selain faktual, juga ada sebuah bab yang terbilang imajiner, dimana Vaclav tidak memberikan banyak angka, tetapi lebih ke alternatif ke daging-daging yang memang berbahaya ini.

Vaclav Smil sendiri menulis buku dikarenakan ia benar-benar penasaran kenapa banyak sekali orang pro dan kontra mengenai hal yang dilakukan tiap hari ini. Ia juga tidak menyimpulkan apa-apa, namun jika memang daging seburuk itu, kenapa tidak ada yang membahas secara netral? Perspektifnya benar-benar menarik, bukunya mampu sekali dinikmati, tetapi mungkin jika tidak dibaca cepat akan sedikit memakan waktu.

Catatan: meski membahas daging putih dan merah, aku menggunakan data untuk daging sapi saja, dikarenakan lebih lengkap, serta memang itu alasan aku membaca buku itu.

Baca buku ini jika…

(bold berarti alasan aku membaca buku ini)

  • Ingin menjadi vegetarian, atau mengurangi konsumsi daging
  • Mencari sebanyak-banyaknya alasan untuk mendebat orang bahwa memakan daging itu tidak apa-apa, meski itu merusak lingkungan. Atau sebaliknya tentunya.
  • Mulai menanyakan tentang gaya hidup yang bisa menambah umur planet kita tercinta ini.
  • Mencari metode untuk menambah umur planet kita.
  • Kekeuh tidak mau berhenti memakan daging.
  • Kekeuh bahwa makan daging itu buruk.
  • Mencari sudut pandang baru  untuk hal sederhana.

Sebenarnya buku ini benar-benar kuberikan terlalu banyak spoiler. Tetapi dengan gaya penulisan yang empirik serta faktual seperti ini, sedikit susah untuk mengulas tanpa membocorkan.

Keseluruhan, bukunya bagus, dan akan membuatmu memikirkan tiap suap daging gurih yang kamu makan. (UHUK, BUBI TUH UHUK)

Our Final Invention

Dasarnya, ini buku AI. Dasarnya negatif, tetapi tidak bermaksud menakut-nakuti, hanya untuk membuatmu berpikir lebih banyak sebelum bertindak.

Aku sudah pernah menulis tentang AI dan dampaknya di website ini, tetapi aku jarang menulis dalam konteks teknis, aku lebih banyak menulis dalam konteks filsafat, ataupun evolusi. Jika ingin melihat AI dalam gambaran yang besar, lebih ke proses pemikiran AI itu, serta projek-projek dan program AI itu sendiri, baca saja buku ini.

Buku ini juga membahas sedikit konteks sains teoretikal, filsafat, serta evolusi. Namun tetap, poin utamanya berada di teknologi, dan bagaimana AI bisa saja membunuh kita semua, alias manusia secara spesies. Disini juga dibahas bagaimana kita sebagai manusia sering terjebak dalam dunia ilusi akan bias.

Buku ini teknis, lebih teknis dari artikelku, tetapi tidak seteknis buku tulisan Vaclav Smil tadi. Ia membahas beberapa hal yang sama berkali-kali, dari sudut pandang berbeda.

Banyak juga proyek AI dibahas dalam buku ini, baik yang baru, ataupun yang lama. Mulai dari yang sederhana seperti robot pemain catur, ke Siri, sampai robot untuk menyimpan pikiran dan kesadaran kita, semuanya sedang dikerjakan.

Buku ini juga menunjukkan banyaknya persinggungan filosofi antara programmer dan manusia secara umum. Ada yang sangat pro, ada juga yang sangat kontra. Mirip dengan kasus daging itu. Orang yang netral jarang ditemukan, hanya ada maniak yang pro sampai mati, serta yang kontra banget sampai menolak dan membuat gerakan penolakan.

Aku tidak bisa memberikan terlalu banyak elaborasi, karena sebenarnya yang tidak terlalu melenceng dan memberikan spoiler ke buku itu ada di kedua artikelku di atas.

Baca Buku ini jika…

Sekali lagi, bold berarti alasanku.

  • Penasaran atas kemajuan teknologi
  • Ingin mengetahui tentang AI
  • Takut atau sangat menyukai AI
  • Ingin memadukan teknologi, biologi dan filsafat
  • Mencari sudut pandang baru ke teknologi yang sudah menjadi bagian sehari-hari
  • Ingin mengetahui proses mencapai semacam bentuk keabadian, kekekalan, dan lain-lain.
  • Anda seorang doomsday prepper dan ingin melawan Artificial Intelligence sebagai harapan terakhir manusia.
  • Ingin membayangkan dystopia yang dikendalikan AI

Secara keseluruhan, buku ini super bagus, menarik serta menakutkan. Ia sukses menangkap fakta, opini, dan juga perselisihan antar kedua kubu. Buku ini tidak netral, James Barrat cenderung anti AI, tetapi tidak sepenuhnya memberikan frame dan menghalangi informasi dari kubu yang pro AI.

Baca bukunya! Mungkin kamu merasa takut, ataupun takjub. Tetapi sejujurnya, kedua hal itu tidak jauh beda…

Kesimpulan

Kedua buku ini mirip dalam konteks bahwa, manusia memiliki banyak hal yang sama dalam pikirannya… Baca saja keduanya ya… Kamu akan menemukan benang-benang merah yang saling menyatukan kedua buku ini…

Pembaca akan dibawa untuk berpikir secara mandiri dan menentukan kubunya. Karena nyatanya, menjawab dengan netral sungguh sulit.

Sampai lain waktu!

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Evolusi Pikiran: Apakah Teknologi Akan (atau Sudah) Menyatukan Kita?

Suatu malam, pasnya di kuliah terakhir, kita membahas sebuah film. Film itu membahas ke evolusi pikiran manusia, dan bagaiman kita sebagai spesies akan (pas-nya sudah sih) evolusi dari kemajuan agrikultur, terus industri, terus sekarang komunikasi, dan sampai akhirnya… kita akan bersatu pemikirannya.

Topiknya tentunya sangat relevan dengan interconnectedness. Dan banyak quack science/filsafat lagi…

Jadi, hari ini, aku akan membahas tentang si film ini, dan ilmu filsafat yang ada di dalamnya, tetapi mengemasnya dalam konsep teknologi, programming dan AI… Lagi tentunya. Sebelum artikel ini ada juga artikel AI yang lain, dan bisa dibaca dengan klik link ini…

Tentang filmnya… Film-nya sendiri film lama, dan judulnya udah aku lupakan, karena nginget judul itu super susah, dan juga nginget nama pembuat film-nya juga… susah… Tapi dia membahas kemiripan banyaknya hal dalam alam dan kemajuan manusia sebagai spesies. Orangnya sendiri merupakan expert computer science, yang belajar filsafat timur, dan juga medis, tetapi seriusan, aku gak inget namanya… Dan googling dengan keyword “Computer Science Expert with medical and philosophy background” tidak menghasilkan apa-apa.

Untungnya aku inget film-nya itu film tahun 80-an, kalau gak 83, 85, dan atas dasar itu… film ini sudah cukup lama gak dibahas, jadi mari kita bahas πŸ˜€

BTW Kemungkinan AI akan dibahas sesudah chapter Pattern ini, jadi jika gak minat baca tentang pola, maka silahkan di skip…

Patterns

Segala sesuatu dapat dimulai dari beberapa pola. Dan di film ini ditunjukkan bahwa dari gambar yang diambil dari bulan. Bumi dari luar angkasa sangat mirip dengan beberapa perumahan di US jika diambil dari atas pesawat.

Dari sini, ada quack-y science yang berusaha connect the dots antar si pola yang similer ini. Nah, atas kemiripan pola ini, ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah indirect symbol ke interconnectedness dan universal mind. Pola ini juga kurang lebih dibahas kalau si pola-pola ini akan pada akhirnya fit itself onto the puzzle, hingga kita yang dulunya super individualistik, menjadi sama dengan orang disekitar kita, dan menjadi gerigi yang menjalankan jam dengan orang dari negara kita, lalu negara kita akan menjadi gerigi untuk region seperti South East Asia, hingga akhirnya region ini adalah gerigi untuk planet Bumi.

Layaknya di Star Trek yang gak ngeliat international waters sebagai perbedaan asal negara, tapi melihat international waters sebagai lautan, dan setiap penghuni planet adalah warga dari planet itu.

Kembali ke Holarchy of course… Nah, dari teori holon ini, akhirnya kita akan menyatu dan melupakan border international dan menjadi warga planet Bumi.

Ini sedikit mengingatkanku pada bendera-bendera di Star Trek… Ketika logo dari bendera planet Bumi adalah sebuah bumi-nya sendiri.

Nah, tentunya masa depan Star Trek masih super duper jauh (Kalau akan ada intergalactic waters ala Star Trek nanti… semoga aku masih hidup untuk witness itu). Tetapi tentunya pola ini juga ditemukan di evolusi. Sejak bakteri pertama bahkan…

Saat bumi ini masih baru saja menjadi sebuah planet dengan air, tanpa adanya kehidupan… Kehidupan itu muncul begitu saja. Stephen Hawking pernah membahas probabilitas sebuah planet dengan adanya kehidupan ini… Dan sejujurnya belum ada pola. Kecuali nanti nongol di Multiverse tiba-tiba ada pola satu universe satu planet hidup. Intinya so far belum ada pola.

Tapi, sejak adanya kehidupan dalam bentuk algae dan bakteria, kehidupan bertumbuh makin kompleks, dan kompleks, dan kompleks. Si Bakteri, atau universal governor ini kekeuh bosen dengan apa yang ada dan menyuruh hal-hal kecil, yang lebih kecil dari debu ini untuk menyatu, dan membentuk hal baru.

Hal baru ini akan terus terbentuk, terbentuk, terbentuk, terbentuk dan terbentuk sampai… entah kapan. Intinya, alam semesta, atau Universal Governor ini akan terus menciptakan hal baru dengan cara menyatukan banyaknya hal yang sudah ada ini. Sampai ada suatu spesies, atau realitas baru yang tercipta…

Nah, tentunya, sekarang si Universal Governor ini rada mentok dalam mau maksa evolusi… Ini nih manusia, dikasih otak malahan ngerusak bumi. Jadi mungkin dia akan maksa dan membuat sebuah generasi yang hidupnya super duper rely ke sosmed, teknologi, dan internet πŸ˜€ . Jika kita akan menjadi spesies yang lebih kompleks dalam jutaan tahun, si Universal Governor ini akan mencari cara untuk memaksa kita menjadi lebih kompleks dalam waktu yang gak selama itu.

Oh, tapi mungkin aja sih kita tidak akan physically menyatu dalam catatan sebuah spesies, mungkin saja kita akan menyatukan pikiran kita, dan yah… sudah dibahas di atas. Tapi, pola pikiran ini belum ada sayangnya… Karena so far baru Manusia yang cukup intelijen untuk interconnect minds secara manual. Tapi for your information, struktur otak Lumba-lumba jauh lebih kompleks dari struktur otak kita, dan manusia rata-rata IQ-nya dibawah seekor simpanse…

On topic…

Nah, sekarang baru aku mau bahas teknologi, dalam konteks dimana si mesin akan (ATAU SUDAH bahkan) menyatukan kita…

Global Connection

Sekarang untuk menyatukan kami para manusia, untuk menjadi sesuatu yang lebih besar lagi, tentunya ada metode yang “paling” mudah. Sekarang jarak antara negara dan border mulai makin invisible. Seperti seringkali dibahas. Kita akan mengetahui sebuah pengeboman di Syria, dalam waktu yang sangat rendah. Mungkin jika dihitung berapa lamanya, paling lama berita tentang terrorism gitu mungkin teh udah ada di website berita Indonesia sesuai dari waktu tempuh Jakarta Bandung, sebelum macet tentunya. Sekitar 90-120 menit.

Tentunya ini semacam bukti dari blurring dan pengurangan jarak antar dua tempat ini. Meski kita gak physically ada disana, kita sudah ada di sebuah stream of ideas. Dimana kita menerima, ataupun memberikan informasi ke seluruh dunia.

Sekarang juga, dengan membaca artikel ini, kita sudah support Interconnectedness dan memperdekat jarak antara diriku dan dirimu. Gak, ini bukan joke referensi PDKT, kaya kadang aku suka nge cie in kalau keluar kata berduaan… Kali ini serius.

Interconnectedness sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu koneksi pemikiran dalam skala global.

Nah, untuk itu, aku akan mengambil internet untuk cross reference si koneksi pemikiran ini… Aku akan google internet dengan internet… πŸ™‚

Definisi mentah, langsung kopas: a global computer network providing a variety of information and communication facilities, consisting of interconnected networks using standardized communication protocols. (Sebuah komputasi [penghitungan] global  yang memberikan bermacam jenis informasi dan fasilitas berkomunikasi, yang termasuk network interconnected menggunakan protokol komunikasi)

Dari definisi mentahan aja ada kata yang sangat mirip, yaitu global network dan communication, dan bahkan ada kata interconnected juga. Untuk pemikiran, tentunya bisa digunakan sinonim Ide, dan kurang lebih, banyak orang bertukar ide di internet. Ide yang ditukar-menukar ini… Kualitasnya gak usah dibahas, emang ada banyak typical internet people, tapi tetep, kasarnya dia sebuah ide yang ditransfer.

Udah dong ketemu modern day interconnectedness… Quest kita selesai!

YES BEBAS!

(OY AZRIEL!)

Ah shoot, diprotes…

(Kamu lupa bahas AI πŸ™ )

AI itu bahasa jepang untuk cinta… Jadi AI KAMU! itu bisa ditranslate jadi cinta kamu :3 …

(Enough of the jokes… bahas AI dong…)

Takut terkesan dark…

(Nasib, udah dijanjiin)

Ya sudahlah, mari berkomitmen…

Percakapan antara diriku dan pikiranku sudah dituangkan, jadi, mari kita bahas Artificial Intelligence, dan bagaimana dia bisa semacam mengikuti pola yang aku maksud diatas, atau bahkan menjadi Interconnectedness planet bumi yang selama ini dicari-cari sama Universal Governor ini…

Interconnectedness in Artificial Intelligence

Jadi, ingat kalimat ini sebagai disclaimer di conversation di atas Takut terkesan dark… Ini memang terkesan dark. Bukan hanya dari teori grow-smarter-and-destroy-humanity-thing-y . Tapi memang, mereka bener-bener bisa… like… yeah replace us.

Jadi… Artificial Intelligence bisa berupa software seperti Ultron, dan Skynet, ataupun juga bisa hardware seperti Baymax. Ultron dan Skynet ini yang akan diambil dan dibahas di artikel ini.

AI macam Ultron dapat dengan mudah membuat kopian dirinya dan memindahkan kesadarannya ke sebuah mesin lain. Dia juga bisa menyuruh mesin untuk membuat dirinya agar banyak fodder machine untuk mentransfer dirinya sendiri. Selain mentransfer kesadarannya yang se infinite internet (literally), dia bisa menduplikasi dirinya. See where this is going?

Singkat cerita, AI akan dengan mudah mengcover universal mind dan interconnectedness pada level global karena jika seluruh penghuni bumi non-organik, mereka punya suatu built in Interconnectedness, dalam bentuk internet, yang punya definisi yang nearly sama persis πŸ™

Selain itu, dia bukan cuma bakalan menyatukan pemikiran planet bumi ini, tetapi mereka juga jauh lebih pintar dari kita. Dan mereka gak kena bias emosi. Jadi jika musuh bumi terbesar saat ini adalah Trump dan Kim Jong Un… Well, dalam beberapa bulan/tahun, mereka akan menjadi AI. They outsmart us, they ignore their feelings, cause they don’t have any, they are basically connected by design.

Jadi buat apa Universal Governor ini nyimpen kita… eventually entar bakalan diganti sama model baru juga… pertanyaannya kan kapan…

TETAPI! Ingat, Universal Governor ini gak bakalan ngebunuh kita, atau menciptakan pembunuh kita kecuali dia bener-bener perlu. Wait, kayanya prosesnya udah dimulai deh… Oh dear…

Virus!

Bukan virus komputer, tapi virus yang berusaha dimusnahkan di board game macam pandemic!

Yeah well, virus ini spesies baru yang ukurannya EXTREMELY kecil. Tidak mengikuti proses atau pola yang sudah ada… Dan yah, dasarnya ada cult atau conspiracy theorist, yang support bahwa Virus akan memushankan manusia. Karena mereka gak peduli sama pola yang udah ada, dari bakteri ke tumbuhan, dan lain-lain tadi, dan sampai akhirnya, mereka memang senjata paling ampuh untuk genosida spesies…

Hanya paragraf pendek aja, dari dunia filsafat dan biologi, virus itu hal super baru dan dia semacam keluar dari pola, jadi mungkin aja tujuannya dia diciptakan untuk memusnahkan kita… Kenapa tidak? πŸ™

In Conclusion

Kesimpulan hari ini… Mungkin terkesan dark…

Gak ada tujuan dari kita udah stray dari tujuan dan logika mendasar spesies. Gak ada nilai plus dari kita berusaha untuk survive. Semua hal yang dimulai ada ujungnya, dan sejujurnya, waktu yang super relatif ini akan menentukan. Kenapa menurutku gak ada tujuannya dari kita berusaha survive atau stray dari logika mendasar spesies?

Sejujurnya menurutku sudah cukup telat. Dengan AI yang makin maju itu, dan virus yang makin kuat itu, dirasa dua itu yang akan balapan mengalahkan kita… Apakah kita akan mati dengan cara organik atau anorganik tapi? nah…

Untuk memberi cahaya dan membagi sedikit hope πŸ™‚ . . . Kembali ke menjauhi atau stray dari logika mendasar spesies. Manusia cukup pintar untuk berhenti, mengembangkan AI manusia cukup pintar untuk membunuh virus. Hanya saja, kapan kita akan berhenti? Jangan sampai Loren Allred benar dan… ini terjadi….

Yah well, just feel that what you have is enough, and everything will be fine πŸ˜‰

Sampai (semoga) besok!

Artificial Intelligence: Potensi Masa Depan Yang Cerah? Atau Kelam?

Artificial Intelligence: Potensi Masa Depan Yang Cerah? Atau Kelam?

Wah judulnya dark banget kayanya… err, ketahui aja ini artikel ga bakal se-dark itu, tapi akan membahas beberapa present day Artificial intelligence yang ada di HP atau Laptop reader, dan juga potensi Artificial intelligence di masa depannya.

Meski aku sejujurnya berharap bahwa gak bakalan ada AI yang seserem Skynet, atau mungkin millenial lebih familiar dengan Ultron, meski Ultron itu cemen, dan sejujurnya seperti villain Marvel Cinematic Universe pada umumnya, ga banyak scene yang beneran berarti dan purpose-nya tidak panjang, tetep, dia potensi AI yang akan bilang “I HAVE NO STRINGS ON ME!” ke si pencipta-nya.

Eh fokus, Artificial Intelligence… Jadi ya, kayanya future dimana Artificial Intelligence akan eventually govern dan mengendalikan/membantu kita itu sangat-sangat mungkin, dan kayanya orang-orang cukup pinter untuk nambahin kode failsafe dan belajar dari Terminator, tetep, kemungkinan akan ada real life Skynet itu ada…

Dan ingat-ingat, salah satu ilmuwan pembela dan Anti AI, which is Stephen Hawking, baru saja meninggal bulan Maret kemarin. Mengutip beliau, “I’m not scared of black holes. AI is a different story.”

Jadi, daripada lama-lama lagi, kita bahas deh si Artificial intelligence ini, mulai dari yang sederhana sampai yang selevel dengan Skynet atau JARVIS. Ultron bukan saingan… JARVIS is the true AI in MCU. Meski dibunuh Ultron ujungnya, tapi… err…

Ehem, on topic…

Disclaimer: Jika aku terdengar seolah-olah aku gak suka AI, meski nyatanya itu bener, aku sudah berusaha se objektif mungkin…

Definition

Sebelum masuk terlalu dalam ke dunia AI, aku mau bahas dulu Machine Learning, yang semacam tiangnya dan fondasi dasar dari sebuah Artificial Intelligence.

Jadi yang namanya machine learning itu mungkin suatu term baru… tapi aku sendiri pernah mengerjakan project machine learning dan sejujurnya dia gak harus sampai ke titik belajar hal baru, atau… menghancurkan dunia. AI paling mendasar biasanya ada di monitoring behavior dan kadang cuman mengingat atau mempelajari satu sampai dua kata yang baru.

Sebelum berpikir seperti geek film Sci-Fi, Artificial Intelligence memiliki definisi, dan ini ngopas, tanpa translate, jadi langsung mentah dari internet…

Artificial intelligence is intelligence demonstrated by machines, in contrast to the natural intelligence displayed by humans and other animals. (AI adalah intelegensia yang di demonstrasikan mesin, tidak seperti intelegensia alami, yang ditunjukkan oleh manusia dan hewan lain)

Ini kurasa belum cukup lengkap, jadi akan dicari lagi definisi dari intelligence, baru bisa disimpulkan ya, AI paling mendasar itu apa… Ini definisinya: The ability to acquire and apply knowledge and skills. (kemampuan untuk mendapatkan, dan mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan)

Nah, kalau mau ditarik garis kasarnya, yang namanya artificial intelligence bisa diartikan sebagai mesin, baik hardware atau software (catatan: definisi mesin sendiri sudah makin luwes sekarang) yang mampu mendapatkan dan mengaplikasikan pengetahuannya pada situasi yang tepat. Skill gak mau kumasukkin, sorry… dia masih… rada crude dan gak jelas untuk artificial intelligence.

Machine Learning

Nah, aku udah bilang sih, bahwa aku memang pernah ada projek mengenai Machine Learning… meski ga tuntas, dan hanya beres sekitar 60%, aku udah dapet gambaran mendasar dari Machine Learning…

Machine Learning sendiri biasanya dianggap sebagai proses dari si mesin untuk mendapatkan informasi baru dan menambahkannya ke database yang dia punya. Machine Learning sendiri sudah lebih dari cukup untuk menjadi fondasi dasar sebuah AI, dan juga biasanya cukup untuk membuat file yang terus memperbaharui dirinya sendiri, misalnya, err… save file sebuah RPG, kaya misalnya Pokemon.

ML ini, (AHHAHA, gak bukan Mobile Legends, kami para programmer menyingkat ML sebagai machine learning πŸ˜€ ) merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi-nya sendiri, sambil menambah info ke otaknya si komputer/program. Dia sebenernya belum cukup buat jadi AI. Biasanya AI itu juga bisa komparasi data dan membanding-bandingkan yang sedang terjadi, dengan apa yang dia miliki dari database-nya.

Misalnya, di sebuah manusia, Machine Learning doang itu cuman si manusia ngeliatin dan mempelajari cara orang main basket dari nonton sebuah Match NBA. Kalau AI itu si orangnya bisa main basketnya, dengan membandingkan rule yang dia punya dengan yang sedang terjadi.

Kalau sekarang belum kebayang… kita masuk ke contoh aja deh…

Everyday AI… Keyboard di HP

Swiftkey, mungkin reader make aplikasi itu demi enakeun ngetik karena dia bisa tahu apa yang akan keluar, dan juga apa yang sedang kita ketik.

Yeah, itu AI juga… jangan terlalu mengira bahwa AI itu terlalu kompleks, dan kepikirannya kaya Baymax, atau Skynet… Gak, di HP reader, yang biasanya keyboard-nya bisa nge predict kata-kata dan tahu kalau misalnya ngetik… “cepetan” kata berikutnya akan di suggest, dan keluar kata “pulang”.

Nah, kalau misalnya AI itu semacam “kurang” dari bayangan reader sendiri, coba deh, ku kasih tahu cara kerjanya ya, dan kita coba bandingin sama definisi yang didapat dari google.

  1. Kita mengetik sesuatu ke input di HP
  2. Software keyboard mencatat kata-kata yang kita ketik ke sebuah input, dan biasanya di match per aplikasi
  3. Keyboard mengingat kata itu, masuk ke database
  4. Mengulangi langkah 2 sampai kita memencet send, ataupun enter
  5. Ketika kita mengulangi langkah 1, dia akan mendapat sebuah barisan kode lagi untuk membandingkan kode-nya.
    1. Ketik input, keluar huruf “Ap”
    2. Cek pakai aplikasi apa… Misal… Google Chrome
    3. Cek database, aplikasi Chrome, oh, di Chrome biasanya dia suka ngesearch “Apollo”, “Apathy” dan “Appendix”.
    4. Sip, siapin untuk suggest tiga-tiganya.
    5. Urutkan dulu sebelum kita kasih suggestion. Paling sering search Apollo, berarti taro tengah, Apathy taro samping kiri, dan Appendix kanan.
    6. Suggest, keluar di Keyboard

AI juga kan? Dia sesuai definisi lho…

Dia termasuk sebagai software, dia bisa mendapatkan informasi dan acquire info yang sesuai,  terus pengetahuannya di aplikasikan untuk membantu kita, sesuai dengan saat yang tepat, karena dia membandingkan input dari aplikasi berbeda.

Artificial intelligence bisa diartikan sebagai mesin, baik hardware atau software  yang mampu mendapatkan dan mengaplikasikan pengetahuannya pada situasi yang tepat.

Kalau dah tahu sih, bagus kok… tapi untuk yang belum… maaf jika bayangan AI-nya tidak/belum sesuai… kita masih lanjut ke bawah lagi kok. Dan sebenernya kita sedikit skip beberapa AI yang gak sekompleks Skynet/Ultron/JARVIS/whatever AI you want from pop culture, dan juga lebih rese daripada keyboard ini. AI kelas menengah ini ada, tapi kayanya bukan point yang perlu di highlight. Biasanya AI ini bisa dipakai untuk, mmm… contohnya Self Driving Car, yang aku tulis parodi-nya juga di sini…

Tapi, untuk sekarang kita akan membahas top level AI, like Skynet! Dan mengapa itu akan menyeramkan… Or maybe not actually…

True Artificial Intelligence

Artificial intelligence sejati tetep aja punya definisi yang gak jauh-jauh dari Ultron dan Skynet… By the way maaf kalau bosen ngedenger Ultron, Skynet, dan apa lagi, aku sendiri juga bosen, tapi itu yang paling terkenal untuk sekarang, dan mungkin kalau bahas beberapa AI lain, kaya yang ada di The 100, akan less… memorable..

Nah, jadi Artificial Intelligence sejati ini, kabarnya lebih kuat dari cinta sejati…

Err, aku jadi salah tingkah… Jelas sih, AI yang serem-serem ini emang pasti lebih kuat dari emosi manusia… kenapa? Well, coba liat meme ini, dan sebenernya dia cukup spot on, dan gak salah juga sih…

Meski dia terdengar satirikal, ga salah juga lho…

Jadi, sebenernya, AI fiktif pada umumnya karena dia merupakan spesies, dan gak organik seperti manusia… Dasarnya berdasarkan teori Survival of the Fittest juga, mereka akan berusaha “menginjak” spesies yang menghalangi mereka. Dan spesies normal apapun yang mendengar bahwa kita telah memunahkan entah berapa ratus spesies, merusak bumi, dan juga berperang dengan tujuan rada ga jelas…

Ya, spesies normal bakalan mau ngusir kita… Terutama jika spesies itu bukan diri kita, kaya misalnya… yah, MESIN!

Jadi, mungkin sekarang yang namanya komputer jelas jauh lebih pinter daripada manusia, dan berpikir berjuta-juta kali lebih cepat juga… uhh… Yah, kita akan jelas di outsmart jika mereka berpikir seperti kita, dan tanpa faktor emosi untuk menghalangi judgement mereka.

:/

Err, kalau yang terbayang sekarang adalah OH TIDAK! HENTIKAN AI! Jangan dulu! Kita sebagai manusia juga cukup pinter, dan gak ceroboh amat untuk ga buat kode self destruct atau kode keras yang bilang “MANUSIA ADALAH TEMAN!” dan gak bakalan begitu-gitu amat sih.

Dengan begitu-gitu amat tentunya maksudku adalah kejam, dan berpikir bahwa manusia adalah saingan. Tentunya sebagai pencipta dari AI itu sendiri, kita harusnya bisa cukup pintar untuk mencegah banyak hal negatif dan hal serem yang terjadi di film-film itu… Jadi sebenarnya untuk menghindarinya juga gak susah-susah amat kok…

Tapi untuk bicara fungsi dan pengaruhnya pada environment dan economy yaaaa… uhh… err… Ingat saat dimana penjajahan dimulai orang eropa saat Revolusi Industri? Ya, kurang lebih itu akan terjadi, karena pas revolusi industri ada mesin yang semacam mengurangi kebutuhan orang mengerjakan hal-hal seperti, menjahit dan membuat baju dll.

Jadi ya… begitu deh πŸ™

Bayangkan jika programmer gak bakal dibutuhkan lagi, atau apapun yang berhubungan dengan ilmu empirik konkrit. Yang akan penting nanti mungkin aja bukan ilmu empirik solid, tapi hal-hal yang pake feeling, dan art-sy stuff. Yah, kurang lebih gitu…

Memang tampak rada kasar sih, tapi dasarnya sebuah AI yang misalnya bakalan di mass produce, maka yah, kita gak bakalan butuh manusia lagi, wong ada mesin untuk mengerjakan hal-hal seperti itu dengan super cepat. Hal macam-macam programming, dan mungkin ngecek ulangan, ngapalin chart, mungkin bereksperimen, atau mengajar? Yah… kayanya kasian banget sih…

Udah deh sekian aja bahas AI sejati-nya.. karena sebenernya yang perlu ditakuti dari AI itu bukan potensi melawan program kaya Skynet dan Ultron… Tapi kalau AI ini membuat banyak orang yang pintar di PHK karena mereka digantikan mesin yang jauh lebih cost efficient.

In Conclusion

Kesimpulan… Sebagai manusia, kita takut pada hal yang belum kita ketahui, misalnya… err, kematian… dan karena itu, AI terbilang seolah-olah dangerous waters, dan merupakan hal yang belum sepenuhnya kita ketahui untuk bisa pede dan bereksperimen dengannya.

Selain itu, teknologi AI masih benar-benar berkembang dengan pesat, dan sejujurnya, masa depan yang didominasi mesin mengerjakan tugas-tugas kita kaya di Wall-E itu bener-bener mungkin. Is that really the future you want?

Untuk sekarang kita, atau aku setidaknya… tidak bisa melakukan banyak hal ke Artificial Intelligence ini, tapi aku setidaknya bisa semacam memberi penerangan dan coba membuka mata dan mencari perspektif ke subjek ini. Hati-hati deh, jangan “ngasal” karena sejujurnya hal seperti ini, bisa saja berujung menyeramkan…

Semoga artikel hari ini dapat dinikmati, dan sampai besok!

[Azriel’s Late Post] Seminar Explore Bandung Open Data – XBOT

[Azriel’s Late Post] Seminar Explore Bandung Open Data – XBOT

Seri Azriel’s Late Post ini adalah kumpulan tulisan yang dibuat sebelum laman dikakipelangi ini diluncurkan, dan ditulis selama periode 2015 – 2017. Selamat menikmati πŸ™‚

Aku mendapat email pada pukul 16.15 bahwa kita harus sampai pada pukul 16.30 atau tidak diberi izin untuk mengikuti seminar. Ini membuatku kaget dan kecewa, karena pengumumannya sangat mendadak. Aku diantar oleh bubi dan kami sudah berangkat pukul 15.50, namun jalanan padat sehingga untuk tiba pukul 16.30 ke lokasi rasanya tidak memungkinkan. Untungnya kami akhirnya tiba pukul 16.40, dan ternyata ruangan seminar pun masih kosong.Setelah menunggu sampai pukul 17.15, akhirnya acara dimulai. Dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama, dengan band hotel. Band hotel ini sepanjang seminar hanya duduk di tempat band sampai seminar usai.

Seminar dimulai dengan sambutan dari Ibu Henny S. Widyaningsih (mantan wakil ketua Komisi Informasi Pusat). Beliau tampak tergesa-gesa dalam memberikan sambutan, sehingga sambutannya cukup singkat (dan aku kurang bisa mengingat materi sambutannya). Setelah memberikan sambutan, Ibu Henny langsung segera pergi meninggalkan acara seminar, tanpa ada sesi tanya jawab.

Kemudian ada presentasi pembuka dari Bpk. Asep Cahyadi, yang menjelaskan bahwa Bandung sedang melangkah menuju creative city. Pak Asep menjelaskan bahwa menurut negara lain, Bandung sudah sangat dekat menjadi Creative City, namun anehnya orang Indonesia berpikir sebaliknya yaitu Bandung masih jauh dari Creative City. Jika ingin menjadi creative city, maka sebuah kota haruslah memiliki sistem data yang terbuka.

Bandung sekarang sudah memiliki 800 bahkan hampir 900 file data. Pak Asep juga menjelaskan jika sebuah kota ingin menjadi creative city, data sangat berperan untuk membuka tindak pidana pencucian uang, membantu memperbaiki masalah publik lainnya. Kota-kota lain di dunia banyak yang memiliki data yang lebih sedikit daripada kota Bandung. Namun di kota lain tersebut data lebih terperinci sedangkan di Bandung lebih mengutamakan kuantitas sebagai moral booster bagi para data miner dan warga-waraga dalam mengekspos data.

Lucunya adalah setelah bagian ini disampaikan, Pak Asep melewatkan beberapa slide yang menurutku penting, karena itu menunjukkan cara orang yang kurang familiar dengan data mining tentang bagaimana cara membuka data di Bandung. Setelah melewatkan beberapa slide tadi, Pak Asep langsung menutup sesi presentasi tanpa membuka sesi tanya jawab. Lalu pergi dengan tergesa-gesa dan memberi alasan bahwa ada acara lain.

Presentasi selanjutnya dari pihak Data Analyst Indonesia, sayang sekali aku tidak mendapatkan namanya dan juga tidak ada informasi di poster. Beliau yang membawakan presentasi menggantikan Bpk. Dio yang namanya tercantum di poster. Bapak pembicara menjelaskan bahwa Data Analyst Indonesia berdiri di Jakarta dan mencari klien yang ingin datanya diekstrak untuk kemudian disimpan atau dipost secara publik. Data Analyst Indonesia belum memiliki kantor tetap di Bandung, dan baru memiliki kantor tetap di Jakarta dan Yogyakarta.

Data Analyst Indonesia adalah menjadi tempat untuk data mining, yang dilakukan Data Analyst Indonesia adalah melihat dahulu format data yang disediakan klien, apabila format nya mudah untuk dibaca maka hanya disortir dan divualisasikan saja. Dan apabila data nya membutuhkan proses data mining, maka akan dilakukan proses mining data terlebih dahulu untuk kemudian di sortir dan divisualisasikan.

Data Analyst Indonesa juga menyediakan pelatihan data mining, yang berlangsung selama 3 bulan. Pelatihannya berupa Project Based Learning dimana setiap minggu peserta akan diajarkan teknik baru, serta mereview project sebelumnya dan diberikan project baru untuk dikerjakan selanjutnya.Selama proses ini akan ada selingan berupa seminar yang dilaksanakan pada hari kerja setelah jam kerja, karena mayoritas peserta sudah bekerja. Terkadang seminar ini dibuka juga untuk publik dan untuk peserta dari batch pelatihan sebelumnya. Baru ada satu batch pelatihan data mining yang berakhir pada pertengahan tahun 2016.

Presentasi diakhiri dengan tawaran untuk ikut menjadi data miner di Data Analyst Indonesia. Kemudian sesi tanya jawab dibuka, dan aku berdiri sambil mengangkat tangan dengan harapan aku dipilih untuk dapat mengajukan pertanyaan.

Aku bertanya 2 pertanyaan, dalam pertanyaan pertamaku aku bertanya apakah Data Analyst Indonesia sudah mulai memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk proses data mining. Beliau menjawab bahwa sekarang Data Analyst Indonesia sudah mulai developing sebuah AI untuk mengambil data dan menulisnya, namun sepertinya setelah membandingkan data dari prototipe AI dan pengambilan data manual, tampak lebih cepat untuk melakukan ekstrasi data secara manual. Dalam pertanyaan keduaku aku bertanya apakah ada kesempatan magang di Data Analyst Indonesia, dan ternyata belum ada kesempatan untuk sekarang.

Seusai presentasi, waktu istirahat dimulai dan aku bergegas memberikan kartu namaku ke bapak data miner, dan aku minta untuk dikontak jika ada kesempatan magang, atau batch pelatihan kedua. Lucunya, ketika aku sudah selesai memberikan kartu nama, seorang mahasiswa menanyakan padaku apakah aku kenal dengan Kak Febriyan, yang merupakan bosku di Pleasurra. Aku menjawab bahwa aku kenal, dan saat seminar ini, aku baru saja diberikan tawaran magang di Pleasurra.

Pada istirahat makan malam, aku sangat menikmati menu makan malam tersebut, dan aku mengambil makanan yang cukup banyak. Aku merasa bahwa makanan ini berupa bonus dari seminar, dan aku sangat bersyukur dan berterimakasih pada panitia karena sudah memberikan aku menu makanan yang lengkap, mulai dari cemilan, sampai ke makan malamnya.

Seusai istirahat, presentasi berikutnya berasal dari kak Aris Budi Wibowo yaitu co-founder dari Python ITB, Python ITB adalah sebuah komunitas yang fokus untuk membantu mahasiswa belajar Bahasa pemrogaman python. Kak Aris membuka presentasi dengan data pengguna social media atau search engine di dunia, dan aku ingat bahwa dalam 1 menit ada lebih dari 2 juta search di Google, dan hamper 3 juta video ditonton di Youtube.

Sesudah data ini di buka, Kak Aris memberi intermezzo dengan sebuah film berjudul β€œMoney Ball”, dimana sesuai cerita Kak Aris, ada sebuah tim bernama Oakland Atlantics yang bermain di liga Major League Baseball yang memanfaatkan data untuk mendapatkan peluang menang terbaik. Pelatih dari tim ini (Billy Beane) menggunakan data dan persentase untuk mengukur keberhasilan sukses suatu pemain, dan tim ini telah memperoleh 26 permainan tanpa kalah, yang menurut aku sangat hebat, dan makin membuktikan bahwa olahraga dan matematika sangat berhubungan.

Kak Aris berkomentar mengenai presentasi pembuka dari Pak Asep, karena menurut Kak Aris, kota yang patut dicontoh baik dalam kuantitas file data, atau dalam kualitasnya adalah San Francisco, yang sekarang sudah memiliki lebih dari 1500 file data yang cukup runut. Beliau juga menyebut bahwa sekarang departemen polisi di San Francisco sekarang sudah menyiapkan 1 squad khusus untuk satu jenis tindakan kriminal, yang diarahkan ke pusat permasalahan tersebut. Ini membuktikan pentingnya peranan data dalam kehidupan sehari-hari.

Sesudah menyampaikan peranan data, Kak Aris memberi informasi mengenai beberapasoftware yang berguna untuk data mining, dan cara dasar dari data mining. Berdasarkan survey yang diambil ke orang-orang professional dalam bidang ini, software yang paling sering digunakan adalah R. Menurut Kak Aris, R adalah software yang cocok untuk data miner yang berpengalaman karena fleksibilitasnya, namun R sendiri adalah softwareyang kompleks. Software yang memang cocok untuk pemula adalah Excel, dan Python.

Menurut data dan Kak Aris orang pada umumnya tidak bisa memanfaatkan Microsoft Excel dengan sempurna, setelah slide yang menunjukkan statistik ini dilewati, Kak Aris menyebut bahwa beliau pernah mengikuti tutorial dengan judul β€œHow To Use Excel”, ternyata tutorial ini menjelaskan penggunaan Excel untuk seorang Data Miner, yang ternyata mudah untuk diikuti pemula.

Beliau menutup presentasi dengan sejumlah tutorial website, seperti Udacity, EDX, dan beberapa website lagi yang namanya kulupakan. Sesudah menjelaskan keuntungan dan kekurangan dari sebuah website, Kak Aris mengajak mahasiswa untuk bergabung dengan Python ITB, dan aku tertarik, sehingga aku langsung add username line (yang Kak Aris display di screen utama) tersebut ke HP-ku, dan berharap untuk bisa ikut.

Presentasi berikutnya adalah presentasi terakhir yang dibawakan oleh Kak Erin Erina, yang bekerja di DataViz, yaitu sebuah perusahaan yang menjadi konsultan dari sebuah hasil data mining. Kak Erin membuka presentasi dengan analogi dari data. Menurut beliau, data bagai superpower yang mesti diketahui kegunaannya dan cara memanfaatkannya, aku suka analogi ini.

Kak Erin melanjutkan presentasi dengan menunjukkan sebuah kumpulan angka yang tidak rapih, dan meminta peserta untuk menghitung jumlah angka 7, dan aku tidak bisa menemukannya sampai Kak Erin memberikan warna kepada angka 7 yang ada di halaman itu, Kak Erin mengulang ini beberapa kali, namun dengan sampel data berbeda, dan cara berbeda seperti, penggelapan warna, pemberian bentuk, mewarnai graph, dan lain-lain

Kak Erin menjelaskan bahwa untuk memproses data, ada proses yang harus dilewati, dan ternyata, sebelum mengambil data, sebuah bisnis harus menentukan tujuan dari data mining ini. Sesudah tujuan ditentukan, maka bisnis tersebut harus menentukan jenis data yang diambil, dan dari mana. Jika kedua poin itu sudah ditentukan, maka data akan diproses (data mine), dan jika dirasa kurang lengkap bisa dipoles dan diperbaiki. Sesudah data mine dilakukan, maka proses berikutnya adalah memproses data itu dan menulisnya, sesudah itu data baru divisualisasikan, dan dianalisis untuk perbaikan bisnis.

Presentasi dilanjutkan dengan beberapa software yang mudah untuk digunakan data mining. Kak Erin merekomendasikan software Tableau karena Tableau tidak butuh pengalaman programming. Selain Tableau software lain yang bisa dilakukan tanpa pengalaman programming adalah Oracle, namun Oracle tidak sefleksibel Tableau karena hanya bisa memproses file-file dalam format native ke Oracle atau Java. Kak Erin merekomendasikan Tableau karena keringanannya, kecepatannya, fleksibilitasnya dan yang menurutku paling penting adalah kemudahan dipakainya. Kak Erin bercerita bahwa ia pernah melatih orang-orang yang mungkin kurang mengerti teknologi, karena berdasarkan cerita Kak Erin, peserta pelatihan ini sudah cukup berumur, dan bahkan tidak memiliki smartphone. Namun Tableau tetap mudah untuk dipakai dan dimengerti dengan baik oleh peserta pelatihan ini.

Poin penting terakhir dari presentasi Kak Erin adalah fungsi data dalam pembenahan masalah. Kak Erin menunjukkan data bahwa di Indonesia, daerah yang paling sering terkena Demam Berdarah adalah Jawa Timur, dan Kak Erin berpendapat bahwa pemerintah sebaiknya lebih memonitor dan mendidik warga di Jawa Timur dalam kasus Demam Berdarah.

Kak Erin menutup presentasi terakhir pada malam ini dengan menunjukkan bahwa di Bandung, banyak anak-anak yang tidak sekolah di daerah Bojong Soang, yang merupakan titik nomor satu paling banyak anak tidak bersekolah. Nomor 2 di data ini adalah Sarijadi, yang membuatku merasa tersindir, karena aku homeschool. Kak Erin menjelaskan bahwa anak-anak di daerah ini sebaiknya diedukasi pentingnya sekolah, agar mereka minat untuk bersekolah.

Aku cukup senang bisa ikut seminar ini, karena presentasinya menarik, dan cocok untukku yang suka membanding-bandingkan beberapa hal dengan data. Aku juga senang karena bisa berkenalan dengan kakak-kakak mahasiswa yang memiliki minat programming juga. Sebagai pelengkap, menu makan malam di seminar ini sangat enak.So I have feed my brain with precious information and feed my tummy with yummy food, thank you bubi for signing me to this seminar.