Sudut Pandang Pribadi Mengenai Radio…

Sudut Pandang Pribadi Mengenai Radio…

Radio bukan media yang tampak akan mati. Sudut pandangku cukup straightforward mengenai ini.

Singkatnya, Radio telah selamat melewati era televisi sebagai media dominan untuk musik, era Youtube sebagai media dominan untuk musik, bahkan era layanan streaming seperti Spotify dan Joox sebagai sumber musik.

Bahkan lagu populer VIDEO KILLED THE RADIO STAR terbukti salah. Ketika lagu dari 70-an terbukti salah, anda tahu ada masalah… (serius, dengerin lagu Stayin’ Alive, Bohemian Rhapsody, I Will Survive, Stairway to Heaven dari era tersebut… Mereka benar.)

(on second thought, itu lagu masih bener)

Jadi, apa yang menjelaskan ketangguhan media radio ini tetap bertahan? Aku sendiri merupakan pendengar radio yang rajin, mendengarkan dua stasiun tiap harinya, satu untuk hiburan pagi, satu untuk pengantar tidur pada malam hari.

Membaca berita tentang radio di Internet, aku tidak begitu suka cara media, baik yang menulis panjang lebar atau yang menulis dengan singkat tentang cara mereka mengemas radio, karena terlalu murni dengan statistik.

Tulisanku punya opini, dan hipotesa yang didukung dengan statistik.

Justru tren pendengar Radio di Indonesia malahan naik walaupun adanya banyak media informasi, media musik, dan media hiburan lain yang hadir.

Mari kita bahas!

Apa Kata Data?

Seperti semua tulisan bagus harusnya miliki, tetap ada statistika untuk mendukung opininya, jadi, bersabarlah, ini mungkin bagian paling ngebosenin di tulisan hari ini.

Pendengar dan Penetrasi

Dalam 5 tahun terakhir, Radio mencapai jumlah pendengar terbanyaknya pada tahun 2019 ini di DKI Jakarta. Ada bercandaan bahwa ini terjadi karena Jakarta makin sering macet tiap hari, dan tidak semua orang punya kabel AUX, jadi mereka menyetel Radio.

Memang betul, ini hanya bercandaan dan bukan hal yang empirik… Aku cukup yakin tentang bercandaan yang satu ini berasal dari fakta.

Selain itu, penetrasi radio memiliki kenaikan sebanyak 2% dari 11 kota di mana Lembaga Survei Nielsen mengambil datanya.

Walau ada penurunan di Palembang yang tahun 2018-nya memiliki penetrasi sebesar 99.8%, (ini berarti dari 1000 orang, hanya 2 yang tidak mendengarkan radio) dan sekarang berkurang jadi 95.2%, kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya memiliki kenaikan yang lumayan tinggi.

Bandung mendapatkan angka penetrasi kedua terbesar di Indonesia, dengan 56.9%, dan aku senang karena aku salah satu orang yang baru aktif lagi mendengarkan radio di tahun 2019.

Tetapi, selain adanya kenaikan di kota-kota besar, juga ada penurunan di beberapa kota-kota yang jumlahnya gak sedikit. Banjarmasin yang pada tahun 2016 memiliki penetrasi 64%, turun ke 20.1% di tahun 2019.

Tren radio justru tampaknya naik dan turun di kota-kota tertentu, tanpa alasan yang benar-benar jelas. Kalau aku boleh memberikan hipotesa, aku merasa bahwa di kota besar, tidak begitu banyak lagi orang yang sudah merasakan enaknya punya smartphone, atau mungkin tepatnya, mereka “bosan”

Bandung (kotaku) yang sekarang menjadi kota dengan penetrasi kedua terbesar sesudah Palembang, sempat mengalami penurunan dua kali di tahun 2016 dan 2018, lalu naik dengan drastis pada tahun 2019.

Jakarta juga mengalami hal yang mirip, turun di tahun 2017 dan 2018, lalu naik melebihi angka penetrasi 2016 di tahun 2019.

Mengapa ini bisa terjadi?

Saingan Radio.

Melihat angka-angka ini, aku mencari lagi statistik yang ada di internet, dan tidak berhubungan dengan radio. Justru, aku mencari sumber musik lain. Bukan televisi, justru YouTube, atau layanan Streaming. Kenapa bukan TV? MTV is dead. Deal with it.

Oh iya, kalau menanyakan kenapa musik, faktanya 87% orang mendengarkan radio demi musik, ada orang yang mencari komedi dari penyiar (sebanyak 20%) dan juga ada yang mendengarkan radio untuk informasi lalu lintas (sebanyak 27%) tetapi 87% orang menggunakan untuk musik, sepertinya itu alasan utama, dan aku gak mau bahas alasan lain mengingat seberapa dominan dan masif angka tersebut.

YouTube

Pertama-tama, kita bahas YouTube.

YouTube tidak murni digunakan untuk musik, sekarang digunakan juga untuk hal-hal seperti komedi, video prank gak jelas, gossip, highlight pertandingan olahraga, politik, dan… Trash posting YouTuber.

Jakarta sendiri mengalami penetrasi pengguna YouTube nomor tiga di Indonesia dengan angka 80.4% pada awal tahun 2019. Tetapi, angka ini justru turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 82.7%.

Aku sedikit kesulitan menemukan penetrasi pengguna YouTube di Bandung, dan ini berasal dari Survei Binus, 56.98% penetrasi YouTube di Bandung. Angkanya kecil justru, agak lucu, namun aku tidak sepenuhnya yakin akan kredibilitas survei ini, tetapi ini satu-satunya yang ada, dan hadirnya sedikit statistik lebih baik daripada tidak ada statistik sama sekali tentunya.

Jadi, walau penetrasi YouTube dan Internet tampaknya naik terus… Itu baru terjadi di daerah yang sebelumnya belum terambah oleh Internet, karena faktanya, di kota-kota besar, banyak orang mulai berhenti menggunakan YouTube dan Internet.

Menarik ya?

Melihat kenaikan di kota Jakarta dan Bandung, kita coba intip Banjarmasin.

Banjarmasin sendiri mengalami kenaikan dalam penetrasi Internet. Tidak banyak, tetapi ada kenaikan. Kenaikan penetrasi Internet menghasilkan penurunan penetrasi Radio.

Layanan Streaming

Industri Streaming Musik naik terus di Indonesia. Dari 12% di awal 2018, hingga 16.8% di awal tahun 2019.

Karena industri streaming musik masih up and coming, belum banyak data per kota, tetapi, mengambil dari kasus YouTube sebelumnya, mulai ada orang yang berhenti menggunakan YouTube sesudah hadirnya layanan streaming video tersebut.

Kemanakah perginya orang-orang tersebut? Sepertinya mereka mulai kembali ke radio, atau mendengarkan keduanya.

Tren Iklan Radio

Bagian ini tidak ada statistiknya sedikitpun, dan kalau aku boleh jujur, hampir semua ini didapat hanya dari pengalamanku saja.

Medsos seperti FB, dan YouTube bukan tempat ideal untuk memasang iklan kegiatan atau event, apalagi iklan layanan masyarakat. (gak ideal buat masang iklan layanan masyarakat di internet, percaya sama aku, warganet Indonesia mungkin malah nyolot kalau dikasih begituan)

Radio mengandalkan iklan event cukup sering, dan juga ada iklan layanan masyarakat yang sering muncul.

Kalau ada yang bertanya padaku apa iklan-iklan paling konyol yang aku dengar di radio…

Aku pernah mendengar saluran TV yang cukup besar dan populer di Indonesia memasang iklan di Radio, dan aku juga pernah mendengar saluran Radio memasang iklan layanan streaming musik.

Jadi, sepertinya demand radio tidak akan turun, karena saingannya juga memasang iklan di situ.

Oh iya, don’t judge their logic… Mungkin mereka merasa cukup yakin bahwa mereka tidak akan terkikis layanan streaming atau saluran televisi sehingga mereka membiarkan peletakkan iklan tersebut. Aku tidak tahu sejujurnya, aku mungkin harus bertanya ke Om-ku yang memang bekerja di saluran radio di Jakarta…

Kesimpulan?

Angkanya masih belum jelas.

Aku tahu persis bahwa angka-angka ini gak permanen, dan walau penetrasi internet naik terus, pengguna layanan-layanan seperti YouTube, dan Spotify mungkin saja turun. Mungkin belum tahunnya, mungkin belum waktunya, tetapi selama ini, Radio masih mengalami kenaikan, dan YouTube ada penurunan.

Jika aku bekerja di stasiun Radio aku akan mengandalkan jalanan macet terus, karena tidak semua orang mau membuang kuota dan uang untuk mendengarkan musik.

Atau ya, kita lihat saja trennya di masa depan. Who knows.

APPENDIX

My Radio Schedule

SENIN-JUMAT

Pagi. sambil siap-siap atau lari pagi, atau jalan kaki lihat-lihat sekitaran rumah…

94.4, Delta FM. Asri Nino in the Morning

Siang. Gak dengerin radio, siang itu momen aku dengerin MP3 Playerku… 😀

Malam. Sambil mau tidur.

98.4, Prambors FM. Trending 20 with Mario Eda.

WEEKEND

Selalu dengar Asia Pop 40. Kapannya agak gak jelas tergantung kegiatan sih. Tetapi Asia Pop 40 with Joey Chou biasanya suka ada di Prambors, dan aku selalu dengerin tiap minggu. Minimal kebagian top 10 dari jam 19.00-20.00 malam di hari minggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *