Stand-Up Comedy #1. Identitas Komedian.

Stand-Up Comedy #1. Identitas Komedian.

Sebagai seseorang yang senang mempelajari hal baru, aku sempat mendalami stand-up comedy dengan cukup semangat. Bukan cara menampilkan (sayangnya aku terlalu payah dalam mengatur intonasi dan aku tidak ingin menjadi komedian yang garing apalagi yang kontroversial) tetapi cara menuliskan, serta teknik-teknik yang umum digunakan.

Oh iya, juga perlu diingat aku suka mengubah hal menyenangkan jadi hal membosankan jadi… Hahaha! Rasain!

Aku sedang berusaha menuliskan satu rutin untuk ayahku, namun menuliskan rutin untuk diri sendiri saja bukan hal yang mudah, apalagi untuk orang lain, jadi ya, aku masih berusaha.

Jadi ada serial baru, yang kutuliskan untuk menjelaskan serta membantu orang-orang menulis stand-up comedy-nya masing-masing! Selamat menikmati!

Persona, Identitas, Schtick, Image.

Teknik paling mendasar dan paling wajib diketahui seseorang yang berniat untuk membuat rutin stand-up adalah teknik-teknik yang berhubungan erat dengan identitas. Kasarnya, semua stand-up sukses sudah punya persona-nya masing-masing, identitas yang mereka bawa dengan tujuan mencerminkan image mereka sendiri, dan identitas tersebut mereka  gunakan untuk membuat orang tertawa.

Hampir semua stand up sukses bergantung pada dasar persona mereka untuk membuat orang tertawa, dan kecuali kau orang yang mampu improvisasi 100% dalam sebuah rutin (tidak disarankan) persona itu hal pertama seseorang menulis rutin.

Kamu tidak mungkin mendengar komedian seperti Jimmy Fallon mengeluh tentang sesuatu seperti sedotan, tetapi Jerry Seinfeld mungkin melakukan lelucon seperti itu.

Ini adalah beberapa contoh umum.

The Fool/Dummy

Teknik ini adalah teknik yang sering digunakan orang-orang seperti Joey Tribbiani di Friends, Luke Dunphy di Modern Family dan juga sering digunakan stand-up comedian seperti Sarah Silverman (iya, Vanellope dari Wreck-it-Ralph), atau Dodit Mulyanto.

*out of topic note: Dodit adalah satu-satunya stand up lokal yang aku sebutkan karena identitasnya cukup erat dan nempel untuk bisa menjadi contoh yang baik tanpa penjelasan lebih lanjut. Tidak menutup mata untuk Sule, Pandji, dan stand-up lainnya tentunya.

The Fool merupakan identitas di mana penampil memainkan tokoh yang melakukan hal bodoh atau mengatakan hal konyol tanpa menyadari bahwa hal yang dia katakan itu bermasalah, atau bodoh. Terkadang identitas fool ini tidak harus bodoh, tetapi tetap berhubungan dengan frasa “tanpa menyadari” (seperti yang Silverman lakukan). Ia bisa mengatakan hal-hal seperti “I think white women are jerks” walaupun dirinya sendiri adalah perempuan berkulit putih.

Tentunya aksi menutup sebelah mata ini tidak nyata, tetapi penampil yang bagus bisa melakukannya dengan sempurna. Sebagai contoh, mari kita masukkan sebuah lelucon yang melibatkan Joey dari Friends. (lelucon di bahasa Inggris, semoga anda tidak keberatan)

  • Chandler: Okay, I have a challenge for you all! I have a very special test that my boss used to test someone’s general memory and knowledge. Who can name all 50 states in the United States in a piece of paper?
  • Ross: That’s easy.
  • C: Good luck, pal.
  • Joey: Here, let me try!
  • *theme song plays*
  • C: You guys done?
  • R: I have 47, this is a piece of cake.
  • C: Wait till you reach 49 *canned laughter from audience*
  • J: Yeah, I almost have em’ all!
  • C: How many you’ve got?
  • Joey: 56!

Lelucon utamanya dalam bold. Naskah tidak seratus persen pas. Cari saja episode-nya di google dan nonton sendiri, itu episode yang sangat bagus untuk membangun persona The Fool karena Joey membuat banyak sekali lelucon bagus.

Persona The Fool ini adalah persona yang cocok jika anda cukup pintar (aku serius) untuk bisa memainkan seseorang yang bodoh tanpa menampakkannya. Identitas The Fool tidak terlepas dari kemampuan seseorang mengatakan hal yang bodoh, tapi tidak terlalu bodoh, dan memastikan reaksi orang adalah tawaan, alih-alih tatapan “Apakah dia sebodoh itu?”

Catatan: Seorang Fool tidak harus bodoh, tetapi harus clueless. Lihat Sheldon Cooper, seorang jenius dan juga Fool di saat yang sama.

The Snob

Gaya Snob ini adalah cara memainkan sebuah tokoh juga, dasarnya… anda menjadi seorang douche, yang mengatakan statement sombong dengansengaja, untuk membuat orang tertawa.

Tidak seperti fool yang membiarkan orang-orang tertawa karena anda melewatkan suatu fakta umum, snob adalah teknik di mana karakter anda memang mengatakan satu hal dengan sombong dan dengan sadar dengan tujuan membuat orang tertawa.

Teknik ini sering digunakan Barney Stinson dari How I Met Your Mother, Steve Martin, Ricky Gervais dan masih banyak stand-up comedian lagi. Sebagai contoh, ini adalah salah satu rutin yang pernah dilakukan Ricky Gervais di awal sebuah acara, ketika ia baru datang (p.s. ini tidak begitu lucu di kertas, jadi, gunakan saja sebagai contoh).

  • Datang dengan suara tepuk tangan dari penonton.
  • Thank you everyone! Thank’s for waiting for me! *Tepuk tangan lagi*
  • I know, you guys are bored, but don’t worry, you guys spent money for your tickets for a good reason. Even if you guys are not laughing, I am here. *penonton tertawa*
  • You guys spent money and waited for a while to see… me. *penonton tertawa lagi*
  • I am someone really important. *tawaan sedikit lalu Gervais bernafas* Like Jesus. *penonton tertawa lebih keras dari 3 kali tawaan sebelumnya*
  • Di saat yang sama ketika aku melihat ini aku tertawa sambil memikirkan… wow, ini orang parah banget bercandanya.

Raditya Dika juga pernah melakukan hal yang mirip di opening act SUCRD-nya, dengan gaya yang lebih cocok untuk selera humor lokal. Tentunya seorang komedian harus beradaptasi.

Gaya ini dapat dimanfaatkan dengan pintar selama penampil tidak membawa dirinya sebagai douche dan mengatakan hal yang mungkin dikatakan di dunia nyata. Snob ini hanya bisa sukses jika seseorang melebih-lebihkan hal normal yang dia katakan, dan sukses menciptakan hal yang membuat orang berpikir… “what, ada orang kaya gini di dunia?” dan membuat mereka tertawa karena pikiran tersebut.

Jika tindakan atau pernyataan douche yang dikatakan terlalu realistis dan dibawa secara salah, kemungkinan orang-orang akan melirik dengan horror alih-alih tertawa.

The Grump/The Complainer

Sedikit backstory. Sampai tahun 70-an akhir dan 80-an awal, persona grump atau orang yang mengeluh untuk komedi hampir tidak pernah tampak. Lalu, muncullah komedian legendaris yang merubah dan mendesain ulang makna dari melawak dan mengubah keluhan menjadi komedi.

Orang tersebut dikenal dengan nama Jerry Seinfeld.

Sampai hari ini, Grump sebenarnya salah satu persona mendasar paling umum yang dibuat seseorang. Karena percaya padaku, mengeluh adalah hal yang semua orang lakukan. Beberapa orang cukup pintar untuk mendapat duit dari keluhan tersebut.

Dasarnya, Seinfeld menciptakan persona ini dengan memutar hal-hal setiap hari seperti misalnya makan di restoran, pergi ke dokter, atau menginap di hotel, dan mengubah hal yang orang-orang sering tuliskan di ulasan (seperti yang dilihat di Amazon sekarang, tetapi Seinfeld melakukan ini di kertas) menjadi lelucon.

Keluhan yang dibuat cenderung semi-realistis dan memiliki kecenderungan utama yaitu terdengar konyol, realistis, dan sebenarnya membuatmu berpikir (sambil tertawa tentunya)… “Hey, this guy’s got a fair point.”

Salah satu tip terbaik dari guru-guru stand up komedi sukses adalah, tuliskan hal yang kau benci, dan ubah itu menjadi komedi. Ini adalah bentuk umum dan mudah dimengerti.

Untuk contoh lelucon, aku tidak bisa memberikan secara langsung di sini, tetapi aku bisa memberikan orang pertama yang memberikan komentar sebuah ebook buku Jerry Seinfeld. Itu buku yang sangat bagus untuk mencari ide dan membangun konsep dasar persona Grump.

The Happy-Go-Lucky Guy

Tidak ada orang yang dapat menjelaskan persona yang satu ini selain Jimmy Fallon dan James Corden.

Anda tahu macam orangnya. Orang-orang yang sebenarnya tidak begitu peduli mengenai apapun, dan dapat memberikan lelucon tentang apapun dengan konyol dan tetap disenangi orang.

Orang-orang seperti ini memasukkan melakukan hal-hal konyol dalam bagian dari persona-nya. (Seperti Corden yang sering melakukan Carpool Karaoke, pernah menjawab iya ketika ia akan ditendang bola oleh Thierry Henry, dan juga seperti Fallon yang sering melakukan games seperti Truth or Truth dengan tamu-tamu show-nya) Kekonyolan yang mereka rela lakukan, dan aura menyenangkan yang mereka punya lebih dari cukup untuk menjadi persona sendiri.

Untuk jenis lelucon yang mereka berikan, sejujurnya mereka bisa memberikan lelucon apapun selama masih berhubungan erat dengan identitas mereka. Corden yang merupakan orang London sepertinya tidak mungkin bercanda tentang British Royal Family tanpa menerima tabokan dan kritikan dari orang-orang satu negaranya, dan Fallon yang liberal tidak mungkin punya lelucon tentang Hillary Clinton.

Secara keseluruhan, tonton saja The Tonight Show atau The Late Late Show dan dapatkan gambarannya.

The Storyteller

Entah mengapa, persona terakhir ini adalah persona yang sangat disukai Netflix.

Banyak orang yang mempunyai Netflix Original memiliki persona storyteller dan bukan Grump, Fool, Happy Go-Lucky, atau Snob.

Kelinci dari Secret Life of Pets (Kevin Hart), Hasan Minhaj, Trevor Noah, dan masih banyak lagi.

Seperti namanya, Storytelling adalah gaya stand-up comedy yang menempelkan dirinya pada sebuah cerita, dan tidak langsung terkait dengan bercandaan. Sebagian storyteller memanfaatkan hal serius untuk diberitahu pada penonton, lalu menjelaskan hal serius tersebut dengan lelucon. Sebagiannya lagi bercerita tentang hal lucu.

Dalam opiniku, ini adalah persona yang paling mudah dimodif karena tidak jarang, persona storyteller dicampur dengan 4 persona yang paling umum dilihat sebelumnya.

Tentunya persona ini tidak bisa berdiri sendiri dan terkadang disertai identitas orang tersebut, seperti misalnya, Hasan Minhaj yang merupakan anak seorang imigran dari India membuat lelucon atas identitas tersebut (seperti urusan dimarahi ayahnya ketika skor yang ia dapatkan hanya A-), serta juga persona-nya sebagai orang yang agak Happy-Go-Lucky.

Persona ini makin banyak muncul, dan makin banyak orang mengetahui cara memanfaatkannya dengan baik, padahal dari zaman dahulu persona ini kembali lagi ke seseorang yang menceritakan cerita, entah itu serius, atau sepenuhnya lucu, sambil diselingi lagi dengan lelucon.

Kesimpulan

Aku berusaha selama untuk menarik kesimpulan yang lucu. Tapi aku tidak bisa.

Intinya, jangan remehkan komedi, karena menulisnya sangat-sangat susah. Sampai ketemu di episode dua di mana aku membahas jenis lelucon sebagai komplemen dari persona!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *