Should We Eat Beef?

Should We Eat Beef?

Sesudah berhenti makan daging selama 2 bulan kurang atau lebih, tubuhku sendiri tidak merasa terlalu banyak perubahan, tetapi aku memang berhenti memakan daging sapi bukan (hanya) untuk membuat diriku merasa lebih sehat, tetapi untuk mengurangi emisi metana, serta untuk mengurangi kekejaman pada hewan yang dilakukan tiap harinya.

Oke, memang ada orang yang menyatakan… “Lah, kan sapinya udah mati, gak ngaruh mau kita makan atau gak…” *melirik ke salah satu nama di atas...* namun, meskipun begitu, kalau kita memakan daging sapi, secara tidak langsung kita sudah berkontribusi ke tempat-tempat pemotongan daging dimana banyak kekejaman dilakukan tiap harinya, dan kita sudah memberikan dukungan pada industri daging.

We don’t want that.

Inspirasi: Should We Eat Meat? Ditulis oleh Vaclav Smil

Jadi, tanpa basa-basi, secara netral, aku akan menanyakan ke dunia… “Apakah sebaiknya kita memakan daging?”

Keuntungan…

Kalau kita mau membicarakan keuntungan, tentunya kita perlu melihatnya dari sudut pandang orang yang memakan daging karena mereka membutuhkannya, dan juga orang yang memakan daging karena mereka menyukainya.

Bahkan sebelum kita menjadi Homo sapiens, kita sudah beternak dan memakan daging sapi atau kerbau, jadi kurasa keuntungan daging sapi sudah cukup untuk masuk sampai level sejarah, antropologi, atau paleontologi.

Evolusi

X-Men adalah sebuah serial komik (yang kemudian diadapatasikan menjadi film) dimana ada sekumpulan manusia yang telah berubah menjadi mutan dan mendapatkan kemampuan superior.

Homo superior, nama spesiesnya. Dikarenakan ada evolusi pada genetika beberapa manusia, mereka berubah menjadi mutan, mendapatkan kemampuan yang sebelumnya hanya merupakan fiksi ilmiah (iya X-Men itu fiksi).

Evolusi dari manusia menjadi mutan pasti terjadi karena suatu dorongan tidak langsung dari genetika manusia yang merubah struktur DNA kita dan WHOOSH! Lahirlah mutan.

Sebelum kita bisa membayangkan kekuatan magnet, regenerasi cepat, membaca pikiran, memanipulasi api, bergerak begitu cepat dan semacamnya, coba ingat-ingat mutan pertama yang berjalan di atas bumi ini… Kita.

Homo sapiens merupakan mutasi yang superior dari Homo erectus, dan kita adalah spesies yang memusnahkan, atau mengusir para Neanderthal (aku tidak percaya ini, namun karena ini sudah diteorikan dan diterima oleh khalayak umum, aku akan menggunakan versi ini, ketimbang teori dimana seluruh orang Eropa adalah keturunan dari Neanderthal dan Sapiens) dari tempat tinggalnya.

Dasarnya, mutasi pikiran ini berasal karena kita memiliki genetika yang cocok untuk menerima diet daging sapi atau kerbau.

Kita memakan daging, dan ukuran tengkorak otak kita lambat laun membesar, membesar, dan membesar. Semakin sempurna evolusi ini, lahirlah kita, Homo sapiens.

Perubahan krusial pada genetika kita terpicu karena diet kita pada waktu itu menunjukkan bahwa kita memakan hewan sapi lebih sering ketimbang sayuran dan buah. Jadi, jika ada orangtua yang kesusahan memberi makan anak mereka apel ketimbang sosis, jangan terkejut, jawaban dari alasan tersebut ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu.

Mendebat: Aku rasa alasan ini tidak sesuai karena dia berkontradiksi dengan alasan orang-orang tidak memakan daging sapi. Mengapa? Bahkan sampai sapi diternakkan pada era Sapiens awal di Mesopotamia, tidak ada kawin paksa, atau penyembelihan yang dilakukan dengan brutal. Konsumsi dan stok daging sapi yang ada pada zaman dimana evolusi masih berlangsung, belum sebanyak sekarang. Seandainya kita akan menciptakan superhuman, daging sapi bukanlah alasannya.

Kebutuhan Zat Besi

Anemia.

Sesekali, penderita anemia akan merasa lemah dan lemas karena kurangnya suplai zat besi di dalam darah mereka. Penderita anemia akan seringkali diminta untuk mengonsumsi daging sapi agar stok zat besi di dalam hemoglobin mereka meningkat.

Apakah kita perlu memberi makan penderita anemia daging sapi sebagai suplai cadangan hemoglobin?

Kurasa penderita anemia memang memerlukan suplai zat besi, tetapi apakah suplai zat besi tersebut harus berasal dari daging sapi? Atau adakah alternatif lain?

Kenyataannya memang ada alternatif lain, seperti bayam, jamur, kentang, dan juga banyak kacang-kacangan serta sayuran lain. Meskipun memang banyak jamur dan bayam yang merupakan hasil dari eksperimentasi GMO dan berpotensi merusak sel-sel anda… Apalagi daging sapi yang dihasilkan atas kawin paksa, dan juga diberi makanan yang paling murah dan penuh dengan bahan kimia.

Kandungan zat besi di daging sapi dan di bayam pun, tidak terlalu berbeda jauh jika kita ingin memperbanyak konsumsi bayam.

  • 100 gram bayam mengandung 2.8 mg Zat Besi
  • 100 gram daging sapi mengandung 2.6 mg zat besi.
  • 2.8 mg zat besi di bayam terserap sekitar 75% (2.1mg) dimana zat besi di daging akan terserap 90% (2.34)

Jadi, dengan memakan 150 gram Bayam, kita sudah mendapat hampir 1 setengah kali lipat kandungan zat besi dari yang kita butuhkan.

Sekali lagi, alasan untuk seseorang memakan daging… sudah dianulir 😛

Memang Doyan

Orang-orang yang memakan daging sapi untuk memenuhi kebutuhan rasa dan mengisi endorphine kebanding yang memakan daging sapi karena mereka membutuhkannya… Lebih susah untuk kita ajak berhenti memakan daging sapi.

Terkadang, mereka mengerti pun mengenai kekejaman pada sapi dan juga emisi metana seorang sapi hidup tidak ada pengaruhnya sama sekali. Meski kita tidak bisa memberikan gambaran umum (gambaran umum = bahasa sopan dari stereotipe) bagi orang-orang konsumer daging, mayoritas memang hanya ingin mengisi perut mereka dengan daging sapi.

Jadi, ketimbang memberikan statistik, kita perlu memberikan solusi…

Jenis rasa yang didapat dari mengonsumsi daging sapi ada pada tekstur dan gurihnya si daging. Kegurihan dan tekstur yang sama sayangnya tidak bisa didapatkan pada daging lain. Hal yang setahuku paling mirip dengan daging sapi adalah daging babi, dan untuk orang Islam, rasanya tidak mungkin mengonsumsi daging babi.

Jika anda juga bukan seorang Muslim, dengan mengonsumsi daging babi anda juga mengorbankan kesehatan anda, jadi, kusarankan jangan terlalu sering.

Bahkan sesudah menimbang dan melihat beberapa opsi lainnya, jika anda memang begitu menyukai daging sapi, sebagai seorang humanis, maka aku akan menghormati keputusan tersebut. Tidak ada banyak alternatif lain sehingga kurasa jika anda memang ingin mengonsumsi daging sapi, tidak ada salahnya.

Kekurangan

Aku tidak akan membahas soal resiko kesehatan dari mengonsumsi daging sapi (percaya padaku, angkanya sangat kecil, hanya 0.12% orang yang meninggal karena adanya penyakit yang tidak terhapuskan dari daging tersebut, itu terjadi lebih karena kesalahan memilih daging, ketimbang kualitas daging yang disediakan). Aku hanya ingin menunjukkan sisi negatif karena adanya kekejaman yang terlibat dalam industri peternakan, terutama di Amerika.

Film-film dokumenter dan feature sudah cukup sering membahas kekejaman yang nyata dalam dunia peternakan, film seperti Okja, serta dokumenter seperti The Men Who Made Us Fat telah membahas seberapa besar niatan orang-orang dalam industri makanan untuk menggarap keuntungan.

Ya, sejujurnya menangkap hal seperti ini tidak begitu mudah, terutama mengingat seberapa krusial peran media dalam memberikan kita informasi.

Tetapi, dari beberapa situs aktivis yang aku tangkap, daging sapi yang “Oke” untuk dimakan berasal dari Australia, karena mereka dibebaskan dan dibiarkan berlarian sepanjang hidupnya. Sapi yang kalian tidak ingin makan berasal dari U.S. karena… inilah kehidupan daging sapi di Amerika, dan di Peternakan-Pabrik pada umumnya di seluruh dunia.

  • Sapi langsung dipisahkan dari ibunya begitu ia lahir agar mereka tidak mengonsumsi susu yang bisa dialihkan bagi manusia.
  • Jika mereka kurang beruntung (atau beruntung, tergantung cara kamu melihatnya) sapi-sapi akan langsung dipotong untuk menghasilkan daging sapi muda. Mereka hanya akan hidup untuk waktu sekitar 16-20 minggu.
  • Ukuran kandang sapi yang dipotong bagi sapi muda hanya memberikan ruang sisa sekitar 15-20 centimeter untuk mereka bernafas sebelum mereka disembelih. Mereka tinggal di dalam kotak kayu kecil ini sepanjang hidupnya. Oh, ketika mereka melihat cahaya, itu adalah cahaya saat mereka masuk ke surga sapi…
  • Jika sapi tersebut jantan dan lebih beruntung, mereka akan diternak dan ditumbuhkan dalam kandang kecil, dan mereka akan pup langsung dalam kandang, memakan jagung GMO yang lebih murah dari rumput.
    • Pup mereka tidak akan dibersihkan
  • Karena pup mereka tidak dibersihkan, maka… mereka akan terjangkit penyakit. Jadi apa yang dilakukan pabrik? Membuka lahan? Menyewa pembersih feses? Oh tidak, terlalu mahal… mereka membeli antibiotik, dan memasukkan antibiotik tersebut pada makanan si sapi.
    • 80% antibiotik di Amerika diberikan pada sapi, 20% baru dikonsumsi manusia.
  • Oke, mereka sudah cukup besar… Mereka akan disuruh membuat satu sapi betina hamil agar sapi tersebut menghasilkan anak baru, dan juga susu.
  • Sesudah itu? Sembelih.

Silahkan simpulkan sendiri…

Kesimpulan

Hidup penuh dengan pilihan.

Terkadang, pilihan yang kita buat tidak mengubah apa-apa, dan mungkin memang tidak ada perubahan signifikan, tetapi, pilihan yang kita buat, akan merubah sesuatu, kapanpun itu.

Aku memutuskan untuk berhenti memakan daging demi planet kita, dan mungkin, itu tidak akan ada pengaruhnya nanti ketika kita tinggal di luar angkasa… Jadi, apa yang sebenarnya akan berubah?

Ya… semoga kita bisa tahu itu nanti…

Sampai lain waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *