Sang Penulis Idealis

Sang Penulis Idealis

Banyak sekali orang melewatkan fakta bahwa Nietzsche memiliki banyak idea dan konsep fundamental di buku On the Genealogy of Morals miliknya… tentang seorang penulis idealis.

Tentunya kalau ada ratusan kalimat dari Nietzsche yang begitu ekstrim dan terdengar fanatik seperti Superman (dan gak, kita gak bicara tentang Clark Kent di sini), God is Dead, serta pembunuhan konsep dan evolusi yang Nietzsche ciptakan, wajar kalau kebanyakan penulis memutuskan untuk melewatkan ide-ide Nietzsche akan seorang seniman/sastrawan.

Tetapi, bagiku, Nietzsche bukan buku pertama di mana aku membaca tentang Superman, Dead God, dan pembunuhan konsep serta evolusi manusia yang umum dilihat di filsafat Post-modern yang Nietzsche ciptakan. Banyak buku yang mencatat Nietzsche sebagai sumber, dan melengkapi ide-idenya dengan opininya sendiri.

Jadi, melihat Nietzsche yang tampak di tulisannya sebagai fanatik, aku cukup takjub bahwa ia mempunyai ide yang indah (setidaknya berdasarkan standar indahnya Nietzsche, yang… ya… err… gitu lah ya…) akan seorang seniman dan sastrawan.

Selamat menikmati!

(Off topic: aku harus berterimakasih pada Word ketika mengecek ejaan Nietzsche, karena meskipun namanya kusebut belasan kali, aku masih saja ada salah ejaan)

Achilles, Jon, dan Tony.

Homer. George R. R. Martin. Stan Lee. Apa kesamaan yang ketiga penulis ini punya?

Mereka bertiga berbeda jauh dari karakter paling ideal yang mereka ciptakan.

Aku akan membahas ketiganya secara terpisah.

Homeric Epic

Homer (terlepas dari eksistensi Homer berdasarkan sejarah) menciptakan Achilles, Hector, Priam, Helen, Ajax, Menelaus, Paris, dan Odysseus dari satu sudut pandang. Tetapi, nyatanya, pahlawan dari seluruh pihak, Ithaca, Yunani, Sparta, Troya, bahkan Olympus (hampir semua dewa berperan penting di Epik skala besar ini) sekalipun, memiliki mentalitas yang berbeda.

Achilles dari Yunani, terobsesi dengan harga dirinya, sangat narsistik, dan punya masalah amarah yang sangat parah. Ia diciptakan dengan satu kelemahan secara fisik, yakni mata kaki miliknya, tetapi dengan ratusan kelemahan mental.

Heck, aku pernah ditanyakan seorang teman tentang ide nama yang diawali dengan huruf A. Ada yang memberi ide Achilles. Komentarku sederhana “Are you crazy? Entar dia punya anger issue atuh…” meski aku menyukai nama Achilles… sebagai karakter, ia sangat tidak utuh dan lemah.

Hector, dari Troya pada sisi lain… Sempurna secara mental. Ia punya ketenangan, kesabaran, kestabilan emosi, dan juga rasa cinta yang sangat besar untuk prajurit, keluarga, dan kerajaannya. Namun, secara fisik, ia kalah jauh dengan Achilles.

Odysseus adalah pahlawan yang masih memiliki corak karakter lain. Ia tenang, sabar, dan stabil seperti Hector, namun tidak sekuat Pangeran Troya tersebut, tetapi, ia punya kemampuan strategi, dan kelicikan tingkat tinggi yang lebih dari cukup untuk memenangkan seluruh pertarungan yang ia hadapi.

Membahas semua karakter dari Epik Homerik kali ini akan butuh waktu yang sangat banyak.

Jadi, ayo move on!

Game of Thrones

Aku sendiri belum pernah baca Game of Thrones, tapi aku cukup aware tentang beberapa referensi dan aliansi yang diciptakan dari beberapa board game yang dimainkan.

Tetapi, referensi ini tetap dibutuhkan, karena GoT adalah hal terdekat ke Homeric Epic di era modern, jadi… ya, begitulah.

Dari banyaknya karakter yang aku ketahui… Sudut pandang penulis bertambah cukup banyak, dan tidak ada jahat atau baik, sama seperti di Iliad milik Homer.

Berdasarkan framework cerita, GoT, menciptakan banyak kelemahan tiap karakter, serta, tidak seperti Epic Homeric yang berakhir tragis bagi SEMUA protagonis, kecuali Odysseus (YAY!), GoT memberi akhir tragis bagi karakter yang disukai orang-orang.

Level tragis dari GoT berkurang kalau dibandingkan dengan Iliad dan Odyssey, namun, pada akhirnya, tiap karakter tidak ada yang bisa memenuhi idealisme penulis.

(Off-topic lagi: Jika anda mengira GoT sudah cukup tragis, ayo dicatat karakter-karakter yang mengalami ending tragis di Mitologi/Sejarah Yunani dan Romawi: Hercules, Theseus, Orpheus, Jason, Bellerophon, Achilles, Phaeton, Daedalus, Atalanta, Meleager, Remus, Julius Caesar, dan sebagainya. Happy Ending? Perseus, Psyche, Romulus. Ya, simpulkan saja sendiri)

Avengers…

Bagi yang mengetahui aku dengan dekat, atau setidaknya, pernah melihat kaos-kaos yang aku kenakan. Bisa disimpulkan aku menyukai DC lebih dari Marvel.

Tetapi, aku juga menyukai Marvel, karena sejujurnya, apa salahnya menyukai keduanya?

Avengers memberikan framework baru kepada gaya menulisnya seorang idealis.

Mau dilihat dari sudut pandang apapun, Stan Lee (rest in peace) memiliki sudut pandang yang unik pada tiap tokoh. Selain fakta bahwa Tony Stark mengalami ending yang tragis, (karena isu kontrak) dan juga Civil War yang terjadi sebelum Infinity War dan End Game, Avengers memperkenalkan konsep Villain yang jelas.

Penonton dapat melihat siapa yang baik, dan siapa yang jahat.

Namun, MCU serta komik-komik yang menginspirasi MCU, memastikan bahwa “penjahat” yang hadir di karya-karya tersebut adalah penjahat yang tidak benar-benar jahat, dan sebenarnya memiliki niatan baik, tetapi dilakukan dengan metode yang salah.

Aku tidak perlu membahas terlalu banyak tokoh, bahkan Thor, Captain America, dan Iron Man juga diciptakan dari tiga framework berbeda. Salah satu mengalami kehidupan yang bahagia, tetapi merasa tidak bisa hidup ke ekspektasinya sendiri. Salah satu mengambil tugas yang diberikan padanya, dan percaya akan tugas, dan nasionalisme. Dan yang terakhir mengalami kejadian tragis dan berniat untuk menciptakan dunia yang ideal, yang lebih sesuai dengan gambarannya atas metodenya sendiri.

Bisa dilihat, tiga tokoh utama MCU fase pertama dan kedua sangat kontras dan berbeda dengan satu sama lain.

Jadi, di mana peran Friedrich Nietzsche di sini?

Terpisah. Ideal. Sempurna.

Homer tidak mungkin menciptakan Achilles atau Hector jika kepribadiannya sama dengan kedua protagonis tersebut.

George R.R. Martin juga tidak mungkin menciptakan Jon Snow, Daenerys, dan… ada siapa lagi di GoT? Kalau ia sama dengan tokoh utama tersebut.

Sama juga dengan Stan Lee. Tony Stark, Steve Rogers, Peter Parker, T’Challa, dan seterusnya tidak mungkin bisa diciptakan kalau Stan Lee memiliki kepribadian yang sama dengan ketiga tokoh tersebut.

Jadi, di mana letak para penulis dan seniman yang disebutkan ini?

Untuk bisa melihat idealisme seorang karakter, penulis atau seniman harus bisa membersihkan diri dari idealisme karakter yang akan diciptakan. Seseorang yang agresif tidak mampu menggambarkan sisi itu darinya secara negatif, dan seseorang yang narsistik juga tidak mampu menggambarkan sisi tersebut darinya secara negatif.

Kelemahan karakter yang paling tampak pun, tidak mungkin bisa dijelaskan jika tidak dilihat dari satu sudut pandang yang netral.

Bagi Nietzsche, seorang penulis bukanlah orang yang mampu menciptakan karya, namun orang yang telah memasukkan imajinasinya dari sudut pandang netral dan bersih. Orang yang terdiskoneksi dan berperan murni sebagai pencerita dalam kisah besar.

Seperti, misal, Vyasa yang berperan dalam penulisan Mahabharata. Vyasa sendiri merupakan tokoh yang canon dan memiliki peran di dalam cerita. Perannya murni untuk menuliskan dan merekap cerita, serta sedikit membantu pahlawan dari kedua belah pihak. Homer, dan George R.R. Martin tidak melakukan ini, namun aku tidak perlu membahas terlalu dalam karena Vyasa adalah contoh paling mentah dan sempurna, hal yang R.R. Martin dan Homer lakukan sudah sesuai, hanya saja tidak semudah dilihat Vyasa.

Bagaimana dengan Stan Lee? Dapat diasumsikan bahwa Stan Lee yang menginginkan cameo di tiap film MCU merupakan hal yang mirip dengan hal yang Vyasa lakukan. Kurasa, kita tidak akan pernah tahu…

Sampai lain waktu… (masukkan sound effect jeng-jeng. Lalu, cut!)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *