[Road Trip]: Arsitektur Semarang

[Road Trip]: Arsitektur Semarang

Untuk waktu yang sangat lama Indonesia dijajah oleh Bangsa Belanda. Selama penjajahan itu, Belanda menyumbang sedikit banyak dari bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur mereka.

Sekarang, aku akan membahas mengenai gaya arsitektur dan era bangunan-bangunan di Semarang. Sebagai orang Bandung, gedung dan bangunan asli Belanda juga cukup banyak di kota asalku, namun, sepertinya kedua kota punya waktu pembangunan dan gaya arsitektur masing-masing.

Era-era Bangunan

Era-era arsitektur yang ada di Semarang cukup spesifik, dan hanya terbagi menjadi dua era berbeda, meski masing-masing era memiliki pengaruh dari gaya lain dan era lain dari Eropa.

Pertama-tama ada Era Classical Indische dimana mayoritas bangunan berupa pabrik, kantor, stasiun, atau benda lain yang dapat dimanfaatkan pemerintah sebagai gedung yang memberikan efek ekonomi, dan kedua adalah era dimana kota Semarang tidak lagi menjadi pusat ekonomi, dan sudah menjadi kota besar, yaitu pada Era Transisi (penjelasan lebih lanjut di bawah). Lawang Sewu dibuat pada era transisi ini, dan mayoritas gedung disini digunakan untuk membuang-buang uang Kerajaan Belanda yang mulai kebanyakan.

Classical Indische

Gedung-gedung di era Classical Indische lebih sering dibuat untuk tujuan berbisnis, dan era ini yang memberikan jalan agar Semarang bisa menjadi kota yang lebih besar pada tahun-tahun berikutnya.

Seperti disebutkan di atas, gedung-gedung yang dibuat pada era ini berupa pabrik, jalur perdagangan (stasiun, pelabuhan), pasar dan juga ruang penyimpanan.

Gedung-gedung di Semarang, baik dari era manapun itu, menyukai desain yang menggunakan banyak jendela, pintu, dan ruang terbuka. Biasanya ada beberapa gedung, dan di antara kedua gedung tersebut, ada taman di tengah.

Stasiun Semarang merupakan salah satu contoh dari ini, kedua sayap stasiun adalah ruang terbuka, dan mereka memiliki banyak pintu, meski sebenarnya pintu sebanyak itu tidak dibutuhkan. (setidaknya desain ini membuat bangunannya jauh lebih enak dilihat ๐Ÿ˜€ )

Namun, era ini dapat dilihat sebagai era yang relatif “kosong” sebagian besar dari Semarang masih berupa sawah, desa, dan tanah kosong. Bangunan yang dibuat oleh Belanda pada zaman ini berfungsi untuk menjembatani beberapa desa berbeda yang berada di satu daerah. Tentunya mendapatkan tenaga kerja yang optimal akan jauh lebih mudah jika daerah tersebut terhubung antar satu sama lain.

Selama Belanda membangun bangunan di Semarang, mereka menyediakan lahan pekerjaan, transportasi, serta ruang untuk dimanfaatkan. Semarang mampu melewati era yang bertahan untuk waktu yang cukup lama (1678-1870) ini, karena adanya mesin ekonomi yang diberikan (maaf, dipinjamkan, mengingat metodenya sedikit kejam) oleh bangsa Belanda.

“Pasar” juga dibuatkan oleh Belanda dan pasar ini adalah gerigi utama untuk mengaktifkan serta menggeser mesin ekonomi yang sedang mereka buat di kota pelabuhan ini. Awalnya, pasar ini adalah pemberian agar mereka bisa memanipulasi ekonomi di daerah Semarang, dan mereka sukses dalam melakukan hal ini. Pasar-pasar kecil yang mereka buat (serta sebuah pasar besar, meski aku belum mengunjungi, dan masih belum tahu landmark apa yang situs-situs sejarah maksudkan sebagai “The Great Market”) mengajarkan pribumi di Semarang untuk berdagang.

Kalau dipikir-pikir kembali, penjajahan bukan hal yang begitu buruk bagi sebuah bangsa jika kita melihatnya sebagai isu long-term.

Intermezzo

The Great Market yang sering disebutkan di situs-situs sejarah mungkin saja adalah Simpang Lima pada zaman dahulu kala, ide ini cukup masuk akal mengingat bahwa Simpang Lima terhubung ke seluruh penghujung kota dan merupakan lahan luas yang berada di pusat kota.

Aku perlu baca lebih lanjut untuk memberikan konfirmasi. Namun, di Kota Lama Semarang ada banyak bangunan “terbengkalai” yang dulunya berfungsi sebagai ruang penyimpanan.

Era Transisi

Membedakan gedung dari era transisi dan era Classical Indische bukan hal yang mudah.

Era transisi adalah “jalur” bagi Semarang yang telah menjadi kota besar untuk menjadi kota yang mewah dan megah juga. Seperti Lawang Sewu, gedung-gedung di sini biasanya merupakan eksperimen bagi arsitek dan orang-orang “penting” di Belanda untuk menguji teknologi baru yang mereka punya, dan mengaplikasikan teknologi tersebut.

Bangunan-bangunan pada era ini mulai hedonistik, meski ada beberapa yang memang dimanfaatkan sebagai kantor. Selain itu, seperti disebutkan sebelumnya, bangunan pada era ini suka menambahkan pintu dan jendela meski sebenarnya tidak dibutuhkan.

Semarang bisa merubah dirinya dari kota yang sebelumnya kota pelabuhan dan kota pasar menjadi kota yang besar karena adanya jalan raya pos. Pada tahun 1847, Semarang mulai mendapat pedagang dari luar desa-desa awal yang ekonominya sedang dikendalikan bangsa Belanda. Perdagangan antar pribumi meningkat, dan juga persediaan barang untuk diberikan ke Kerajaan Belanda juga bertambah.

Kota ini memiliki lebih dari cukup banyak uang untuk membangun bangunan, dengan teknologi yang baru, dan juga dengan banyaknya lahan kosong.

Akhirnya, muncullah bangunan-bangunan seperti ini di Kota Lama.

Spiegel sendiri baru saja direnovasi, dan dulunya cukup berantakan. Dulunya Kota Lama Semarang memang hanya berisi ruang penyimpanan barang dagangan, dan banyak sekali lahan kosong.

Spiegel merupakan bangunan yang didirikan pada sekitar tahun 1895, dan dulunya tidak punya fungsi yang spesifik. Cocok untuk dimasukkan dalam era transisi.

Kota Lama semarang adalah contoh yang cukup baik untuk mempelajari kedua era, karena ada juga cukup banyak bangunan dari era Classical indische, seperti Gereja Mblenduk.

Bangunan tua ini adalah Gereja Katolik pertama di Semarang, dan didirikan pada tahun 1775. Ia terbilang cukup terawat sejak itu, dan tidak membutuhkan renovasi agar kejayaannya sebagai bangunan heritage tampak. Bisa dibilang, kejayaan gereja blenduk ini belum pernah hilang karena perawatannya yang konsisten.

Selain beberapa bangunan yang sejarahnya cukup jelas, aku tidak bisa sekedar menebak asal era antara kedua bangunan, kedua era memiliki gaya yang sangat-sangat mirip, dengan perbedaan kecil yang berada di fungsinya dulu, dan metode pembuatan. Jadi, ada beberapa bangunan seperti Bank yang di bawah ini…

Asal tahun dan era bangunan tersebut tidak begitu mudah ditebak.

What Happened?

Era Transisi tidak pernah bertransisi menjadi era arsitektur lain. Era tersebut hilang pada tahun 1922, sesudah Belanda puas dengan bereksperimen, dan mereka menemukan kota lain untuk dimanfaatkan.

Era Transisi bertransisi menjadi kemerdekaan negara dan sekarang bangunan-bangunan baru yang ditambahkan ke Semarang sudah tidak akan pernah menjadi peninggalan lagi karena… Ya, Belanda sudah pergi. ๐Ÿ™‚

“Eksperimen” mereka mengubah Semarang yang dulunya merupakan kota perdagangan dan pelabuhan menjadi kota besar. Influence Art Deco yang kuat, mulai terkenalnya Kota Bandung, serta makin tersebarnya ekonomi Indonesia mengambil jatah transisi Semarang, dan sekarang, pengaruh dari hasil uji coba arsitek Belanda di kota penuh sejarah ini dapat dilihat di kota asalku, Bandung.

Bandung mulai terkenal karena Boscha, kota yang dulunya hanya berisi pedagang dan perkebunan menjadi pusat hedonisme terbesar selama Belanda menjajah kita. Gedung Merdeka, Jalan Braga, dan sekitarannya dimanfaatkan untuk berpesta pora, dan tinggalnya kaum bourgeouis Belanda yang pergi ke Indonesia.

Jadi ya, amat disayangkan kota yang lahannya dimanfaatkan untuk eksperimen tidak pernah mendapatkan hasil eksperimen tersebut, meski mereka pantas mendapatkannya.

Sampai lain waktu!

Related to this Article : Lawang Sewu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *