REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

REVIEW Tyrant’s Tomb. Rick Riordan – Spoilerless Version.

Akhirnya.

Para pembaca Riordan telah menunggu selama 16 bulan untuk buku ini. Sesudah “kejadian” tragis yang terjadi di Burning Maze, kisah Apollo nyangkut, dan berhenti di sebuah cliff-hanger.

Ini adalah REVIEW tanpa spoiler tentunya. Jika anda ingin diberikan spoiler, atau ingin recap singkat cerita, silahkan klik link ini, dan diam.

Dari Mana Ceritanya Bersambung?

Oke, ada sedikit sekali spoiler yang wajib untuk memberikan review yang menyeluruh. Cerita bersambung sesudah berapa lama?

Burning Maze berakhir ngegantung dengan kematian dari Jason Grace dan munculnya Leo Valdez yang kembali dari Camp Jupiter sesudah mengantarkan kabar. Apollo berangkat naik pesawat ke Camp Jupiter di San Francisco dengan tujuan mengantarkan mayat temannya ke tempat peristirahatan terakhir.

Cerita ini bersambung sekitar… 2 jam sesudah bab terakhir dari Burning Maze. Aku sendiri tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk terbang dari Los Angeles ke San Francisco, tetapi aku tahu jaraknya tidak begitu jauh. Intinya, bab terakhir Burning Maze berlangsung di hari yang sama dengan bab pertama Tyrant’s Tomb.

Jadi, jika anda ingin bertanya… Apakah timeline di bukunya lama? Jawabannya tidak. Riordanverse masih nyangkut di tahun 2012. Percy masih berusia 17 tahun dan belum lulus SMA.

Menegangkan, tetapi Lambat.

Cerita Tyrant’s Tomb berlangsung dengan cukup pelan sejujurnya.

Sebelum membangun ulang plot baru untuk buku selanjutnya, dan membereskan pertanyaan yang muncul pada Dark Prophecy dan Burning Maze, Riordan memulai dengan santai dan menjelaskan isi Camp Jupiter, (hal yang ia belum pernah lakukan di Heroes of Olympus) memastikan semua hal aman, dan plot-plot tersambung dengan rapih.

Kurang lebih, plot Tyrant’s Tomb berjalan seperti puisi ABAB. Tegang 4 bab, tenang 4 bab lagi, Tegang, Tenang, Tegang, Tenang. Dalam konteks cerita, Apollo tidak mengalami hari-hari santai sebanyak yang ia alami di Hidden Oracle, tetapi ia juga tidak berusaha dibunuh sesering yang ia alami di Burning Maze dan Dark Prophecy.

Plot berjalan dengan lambat sampai 8 bab terakhir, tetapi Riordan memastikan bahwa pembaca tetap merasa tegang sesekali.

Aku melakukan Speed-Reading tingkat parah sesudah bab 35, meskipun aku membaca 34 bab sebelumnya dengan sangat santai.

Plot Twists?

Aku tahu pembaca akan kebingungan jika aku bilang… “BUKU INI BANYAK PLOT TWIST-NYA”

Aku juga berpikir hal yang sama sesudah membacanya. Sesudah plot twist terbesar sepanjang tulisan Riordan yang terjadi di Burning Maze, aku tidak mengira Riordan masih mampu menciptakan plot twist lebih banyak lagi.

Tetapi, aku mengingat bahwa ada sekitar 3 plot twist yang menutup Tyrant’s Tomb di akhir bukunya.

Oh iya, catatan sangat penting. Jika anda belum membaca bukunya, anda tidak ingin membaca Tyrant’s Tomb dengan spoiler. Itu akan menjadi keputusan yang sangat buruk. Berbeda dengan di Burning Maze di mana anda yakin 100% bahwa Jason Grace telah mati satu bab sesudah dia dibunuh Caligula, Tyrant’s Tomb memberikan plot twist yang unik.

Anda akan merasa tegang jika anda tidak mengetahui bagaimana ceritanya berakhir, jadi, jangan baca bab-bab terakhir sampai gelombang ketegangan terakhirnya telah lewat.

Mitologi?

Seperti buku Trials of Apollo lainnya, Riordan langsung mengenalkan monster baru di bab-bab awal, dan langsung memberikan kerepotan khusus bagi Apollo dan Meg McCaffrey. Jadi, indeks monster mitologis anda tetap bertambah di Tyrant’s Tomb, jangan khawatir.

Selain itu, sumber ramalan yang dituju Apollo pada buku keempat ini adalah buku Sibylline yang ditulis Sibyl of Cumae ketika Romawi masih berupa sebuah kerajaan, sebelum Julius Caesar, sebelum Octavian, sebelum Caligula, dan sebelum Marcus Aurelius.

Buku Sibylline sendiri dikira telah dibakar oleh kaisar Theodosius ketika ia memimpin, namun pada Son of Neptune, Percy, Frank, dan Hazel bertemu dengan seekor Harpy yang memiliki memori fotografis bernama Ella, yang pernah membaca buku yang telah hilang tersebut.

Ella berusaha memecahkan misteri dan merekonstruksi buku tersebut, mengakhiri bab terakhir Tyrant’s Tomb dengan sebuah pertanyaan, sama dengan ketiga buku sebelumnya.

Selain itu, aspek besar lainnya dari Tyrant’s Tomb ada di pengaruhnya Romawi sebagai republik. Bukan sebagai mitologi, tetapi aspek historiknya.

Jika di Camp Half-Blood semua tindakan pahlawan-pahlawan disitu terjadi secara acak, secara tidak terstruktur, dan kemungkinan terjadi karena ada ramalan, atau atas perintah Chiron… Camp Jupiter lebih demokratis dalam penentuannya.

Proses demokrasi ini semacam memperlambat plot, tetapi membacanya tetap menyenangkan, jadi jangan khawatir.

Lester?

Apollo jelas tumbuh sebagai karakter sesudah kematian Jason. Ini hal yang patut dibaca karena semakin ke sini, karakter Apollo sebagai dewa manja semakin hilang, dan walau ia masih suka mengeluh dan memang mengeluh beberapa kali, ia lebih dewasa dan heroik.

Pertumbuhan Apollo sebagai karakter jelas menjadi salah satu alasan Riordan menunda perilisan buku ini. Hanya dalam selang waktu beberapa hari sesudah Jason Grace terbunuh… karakter Apollo berubah drastis.

Apakah Tyrant’s Tomb Pantas Ditunggu Selama Ini?

IYA! Tyrant’s Tomb pantas ditunggu selama ini. Setidaknya, jika anda tidak puas dengan cerita, atau tidak menyukai plot yang relatif lamban ini… adanya deskripsi yang cukup detil tentang Camp Jupiter, New Rome, dan aktivitas demigod Romawi yang berbeda jauh dengan demigod Yunani cukup untuk memuaskan rasa penasaran anda.

Selain itu, pertemuan dengan Frank Zhang, Reyna, dan demigod Romawi lainnya juga menyenangkan, dan memberikan sebuah bentuk kepuasan tersendiri.

Ini review bebas spoiler, dan sejujurnya, buku ini sangat sulit dijelaskan tanpa spoiler, jadi… baca sendiri saja! Selamat menikmati!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *