Review of Pacific Rim: Uprising

Review of Pacific Rim: Uprising

Once again, Pacific Rim has proved Transformers wrong by saying that… Giant Robots can kill other gigantic stuff and still have a good story to compliment the robots’s punching.

Sebenernya dalem Nutshell, Transformers dan Pacific Rim ini mirip, in the sense that it’s giant robots, killing other stuff that threaten humans. Tapi masih banyak perbedaan yang membuat Pacific Rim ga rely ke merchandise, girls, dan special effects to make money, and have a movie of proper quality…

Enough about Transformers… it’s boring, dan artikelnya berjudul Pacific Rim, bukan Transformers. So, like a Jaaaaaaaeger we shall march and carry on intel.

Oh dan iya aku ngikut Jeremy Clarkson dengan bilang Jaaaaaaaaeger instead of Jaeger, and Jaaaaag instead of Jag.

Spoilers may happen, suddenly popping up like Kaiju in the Pacific Ocean.

(Aku nonton ini setengah ngantuk karena abis camping, I might miss a scene or two)

FN-2187 Reprogrammed

Finn dari Star Wars jadi tokoh utama di film ini… also, apparently he’s British. John Boyega sendiri memainkan karakter yang mirip-mirip sama Finn di Star Wars, yang nyantai, tapi kadang lucu, dan ga suka sama sistem yang mengaturnya.

At first Jake Pentecost ini semacam seseorang yang bergerak di bisnis illegal, tapi eventually dia ketangkep… dan ya… nonton film-nya aja deh.

Karakter Jake ini cukup lucu, karena sebenernya dia serius, tapi well… santai. Kadang suka bikin penonton ngakak, kadang suka lempeng, dan emang karakternya… well, he’s funny.

Tapi dia juga kadang suka nongol sebagai karakter serius, yang although ga dingin-dingin amat, dia bisa serius, dan at times dia cukup calm and calculated to do stuff.

Jadi, keseriusan dia, diwarnai dengan kelucuan karakternya. There’s another side to him though. Dia juga reckless, in the sense that he doesn’t really care about some stuff, kalau dia lagi ga kalem dan ga mikir panjang, banyak tindakan yang kalau dilihat… either bodoh atau berani.

Tokohnya overall cocok menjadi tokoh utama jaman sekarang, yang honestly ga boleh perfect, karena itu boring, dan juga jangan terlalu scarred karena trauma. Jake Pentecost memberi kita eksposur ke, karakter utama yang ga sempurna, manusiawi, dan punya faktor past yang pas untuk menjadi karakter yang jadi center of attention.

Contrast

Bagian ini kurang lebih membahas kontrasnya film pertama dan kedua.

Kalau Pacific Rim sebelumnya lebih membahas perang Kaiju dalam keseluruhan, dan gimana sebuah world seperti itu masih bisa thrive dan selamat dalam situasi yang… begitulah. Kali ini, Pacific Rim: Uprising membahas sistem internal dan konflik di dalam sebuah sistem yang menjadi intrik sendiri. Selain itu, Uprising juga membahas progress sebuah rookie untuk menjadi professional, bukan hanya tracing si professional sendiri.

Karena transisi tokoh utama dari pros di film dulu ke rookie, jadinya development si karakter lebih terasa. Karena para rookie ini emang masih remaja, perubahan mereka jadi lebih dewasa membuat ceritanya lebih WAH…

Di film sebelumnya, Raleigh Becket (Charlie Hunham’s character), masih mengikuti ideologi tokoh utama pada umumnya, which is in a sense perfect, kecuali karena past trauma-nya. Seperti disebut di sebelumnya, kali ini karakternya lebih manusiawi dan tidak jadi heroik karena trauma.

Overall, kontras dari kedua film ini cukup banyak, dan benang merah cerita antar kedua film juga ada, tetapi film ini terasa sebagai sambungan yang baik karena memutar perspektif, tanpa lupa menghubungkan ceritanya.

Internal System

Seperti disebut tadi, growth sebuah karakter jadi jauh lebih terlihat gara-gara karakter utamanya masih pemula. Ini bisa dibuat seperti itu karena di Uprising, konflik utamanya terjadi secara internal.

Internal System di film ini cukup… well in a sense lucu, karena manusia sepertinya paranoid sekali, si perang udah kaga ada 10 tahun, dan tetep aja ngelatih kadet, dan nyiapin persiapin perang juga.

Terus selain itu, banyak personal connection yang kejahit dalam film ini, in a rather, unexpected way. Karena selain sistem internal yang dimanipulasi di film ini, juga banyak hal di Uprising yang menunjukkan seberapa banyak personal judgement affect professionalism, yang seharusnya kaga ada disitu.

Sistem yang di highlight-nya sama aku ga mau terlalu dalem, cuma emang udah dikasih peringatan ada spoiler… Intinya inget aja deh. Konflik utamanya dipicu secara internal karena banyak manipulasi oleh seseorang yang berada di atas sebuah sistem.

Well, jangan terlalu diperhatiin sih, nonton aja.

In Conclusion

A contrast of things are always good in life.

One second you feel you’re on top of the world, the other you feel you’re rock bottom.

One second you feel comfortable, the second you’re pushed out of your comfort zone.

Intinya, kontras di film ini bener-bener bagus, karena banyak hal yang 180 derajat diputar perspektifnya, tapi masih somehow bisa dihubungkan dengan film pertama. It’s a rather nice sequel, that could be a spin-off at the same time.

Regardless, meskipun ada banyak kontras dan perbedaan di film ini, intinya tetap saja sama, bahwa manusia menjaga dirinya sendiri dari sebuah ancaman eksternal. Layaknya sebuah lukisan perbedaan dan ke-kontrasan ini memberi warna, tapi jangan sampai kita melupakan inti utamanya sebuah film, atau bentuk utama si lukisan itu. Dalam sebuah manusia, itulah inti kepribadiannya seseorang.

Overall, you should watch it, because it’s very good.

Hope you enjoyed the article!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *