Review Film: Keluarga Cemara

Review Film: Keluarga Cemara

Oke, review film ini mungkin memberikan kesan negatif.

Sebelum masuk ke review filmnya, tolong baca dari awal sampai akhir, karena aku akan membagi review ini ke dua bagian, yaitu konten (isi) dan konteks (pesan).

Selamat menikmati.

Oh iya, spoiler, review film ini akan mengandung spoiler sekitar 20-30 menit pertama film, serta sedikit dari kesimpulan. Jangan baca jika tidak ingin kena spoiler.

Konten

Hmm, bagaimana caraku mulai ya. Konten dari film ini akan cenderung negatif, jadi, mohon maaf.

Konten dari keluarga cemara sedikit kurang berat dan memiliki dua atau tiga momen yang meleset dan memberikan sedikit pesan yang tidak sepenuhnya masuk akal untuk semua penonton.

Kemampuan Tokoh

Pada awal film, digambarkan sosok Abah (Ringgo Agus Rahman) yang sepertinya sibuk melulu, dan selalu melewatkan momen-momen yang diminta keluarganya untuk ia hadiri. Berikutnya ada sedikit adegan melihat rekapan finansial perusahaan dimana si Abah ini bekerja. Wah, perusahaan ini rugi 4.5 Milyar – an. Berikutnya juga ada gerebekan dari tukang yang sedang membuat rumah.

Dan wush, disitu mungkin kepeleset pertama kali dari penggambaran kemampuan tokoh dan juga seberapa fiktif dan “cemen” film ini. (tolong, tetap baca ya, aku akan memberikan bagian baik di bawah). Perusahaan pada kenyataannya, (meski skalanya tidak dijelaskan, tapi tetap, pada kenyataannya) akan melakukan rekap finansial secara rutin. Perusahaan yang sehat (dan tentunya, perusahaan yang membiayai Abah sebuah mobil, rumah, dan juga keluarga yang ia miliki sekarang) tidak mungkin tiba-tiba mengirim rekap finansial ketika rugi dari perusahaan tersebut sudah begitu besar.

Seenggak-enggaknya, rekapan finansial di perusahaan yang cermat akan dikirimkan dalam kondisi rugi 1 Milyar, atau 1.5 Milyar, dan jika angkanya masih berada di kisaran itu, kerusakan dan kerugian berikutnya dapat dihindari. Mungkin dengan menjual tanah lah, membayar serta mengganti beberapa pekerja lah, atau mungkin memotong gaji perusahaan langsung secara utuh.

Ya, bagaimanapun juga ini memang fiksi, dan meski ia memberikan kesan melebih-lebihkan, kejadian awal akan kuterima sedikit.

Berikutnya, ada Kang Fajar yang hanya tampil di adegan pertama.

Kang Fajar ini sepertinya melakukan pinjaman dengan jaminan rumah milik saudaranya, dan yah, rumah milik Abah dan keluarga digerebek dan disita pada hari ulang tahun Euis (Zara JKT48), anak Abah paling tua. Aku masih bisa sedikit mengerti kejadian seperti ini, meski kejadian tidak sengaja ini membuatku merasa tidak nyaman, aku tidak terlalu keberatan…

Sebenarnya jika Abah cukup pintar, ia tidak akan mendapatkan rumahnya disita karena adik Iparnya menipu dirinya, tetapi, ya, aku akan mengabaikan fakta tersebut. Kita bisa ditipu semua orang mau secermat apapun kita sebenarnya.

🙁

Menerima keadaan…

Oke, aku merasa sedikit sedih, tapi disaat yang sama, aku merasa bahwa kepercayaan dan kemampuan keluarga ini menerima begitu saja bahwa rumah miliknya disita terkesan absurd. Keesokan harinya, ia melakukan hal baik dan bertanggung jawab dengan membayar tukang pada projek gagal miliknya.

Abah pindah ke rumah milik almarhum Ayahnya, dan dari situ, ia mendapat makanan dari beberapa tetangga dan warga kampung yang terbantu oleh Ayahnya ketika warga tersebut masih (dalam kata-kata mereka sendiri) ‘Susah’ .

Oke, sesudah mendapat bantuan serta pinjaman dari Loan Woman Ceu Salma (tokoh ini sangat membantu cerita dan memberikan hidup pada sisi hati film ini, akan dibahas lebih lanjut), Abah yang dulunya adalah pekerja keras, serta menghasilkan uang yang tidak sedikit, mencari pekerjaan di beberapa perusahaan, dan meski ia ditolak karena usia, ia tetap berusaha keras untuk mencari.

Tapi, berikutnya, pilihan pekerjaan miliknya membuatku geleng-geleng kepala (meski hatiku berkata untuk kasihan), ia menjadi tukang. Like, What? Maksudku, jika ia memang sudah punya network teman dan bisnis yang cukup luas ketika bekerja di Jakarta, dan cukup banyak menghasilkan uang selama berbisnis properti, kenapa ia harus menjadi tukang?

Oke, ada satu projek gagal, kan bukan berarti dunia sudah beres dan membuangmu ke tempat sampah dimana kamu tidak bisa menjadi apapun yang berharga lagi? Aku sih merasa tidak nyaman setelah melihat pebisnis properti menjadi tukang karena ia merasa terpaksa. Jika ia cukup semangat, Abah seharusnya bisa melakukan hal lain selain menjadi tukang, ia terlalu mudah menyerah pada keadaan.

Berikutnya, untuk membantu finansial, Ibu dari keluarga tersebut memutuskan untuk berjualan kerupuk dengan investasi dari Ceu Salma (entrewoman, yang dimainkan penyiar radio Asri Welas). Euis membantu Emak (Nirina Zubir) berjualan kerupuk (Gendar? Aku lupa jenis kerupuknya apa, tapi, kerupuk).

Nantinya Abah dan Emak berusaha lebih banyak sih, ia tidak hanya menjadi Tukang namun aku tidak ingin memberi spoiler…

Komedi yang Baik

Hah, akhirnya! Hal positif!

Keluarga Cemara, meski membuat sedikit banyak blunder di sana dan di sini, tetaplah tontonan menarik.

Tokoh Ceu Salma, teman-teman Euis di sekolah, dan tingkah laku anak paling kecil dari keluarga ini, Ara (Widuri Putri), juga sangat menarik untuk ditonton.

Mayoritas adegan bisa membuatmu tertawa atau tersentuh jika anda ingin membuang pikiran logis anda selama adegan tersebut, karena tentunya, anda tidak bisa hanya memikirkan terus menerus.

Ceu Salma yang modelnya nyeleneh tetapi pintar ini memberikan warna yang baik karena tokohnya cukup memorable dan mudah membuatmu merasa senang, apalagi tertawa. Ceu Salma bisa membuatmu tertawa hanya dengan berbicara sedikit. Oh iya, pendengar Delta FM juga harusnya tahu siapa Asri Welas ini.

Teman-teman Euis juga menunjukkan kekompakan, dan, ya… tonton saja sendiri, lucu banget sebenarnya beberapa tingkah lakunya. Terutama jika anda berpura-pura jadi anak SMP, adegan-adegan di sekolah Euis cukup lucu dan bisa dinikmati.

Terakhir, Ara. Wah, tingkah laku anak ini adalah tingkah laku lucu dan nyindir orangtua yang bagus. Ia ada sebagai simbolisasi kebahagiaan di film ini, dan Ara juga ada berperan sebagai simbol bahwa kita bisa bahagia kapanpun kita mau, baik itu sedang punya uang, atau sedang susah, bagaimanapun juga, Ara adalah simbol yang baik untuk kebahagiaan.

Oh iya, Ara juga contoh anak aktif yang tidak diberikan gadget terlalu banyak karena ia suka main di luar dan selalu bahagia. Jangan berikan gadget bagi anak-anak anda ya 😉

Kesimpulan Film

Aku bisa membahas (atau mungkin mengeluh) cukup banyak tentang ini, tetapi, tokoh-tokoh di film Keluarga Cemara ini ADUH! Mereka terlalu mudah menyerah pada situasi.

Penutupan film juga menunjukkan bahwa mereka masih menyerah, tetapi bahagia dengan keluarga. Aku menyukai fakta bahwa keluarga cemara ini mendapat semi-happy ending dengan keluarga yang masih bahagia dan senang, namun, tidak ada perubahan krusial dari tokoh, selain perilaku mereka pada satu sama lain dalam keluarga. Itu mengecewakan sebenarnya.

Konklusi film bisa lebih baik jika mereka berubah dan rela melakukan sesuatu untuk merubah nasib mereka dengan usaha yang cukup… Karena sebenarnya mereka bisa melakukan itu. Abah sudah jelas, dulunya ia pebisnis properti. Sepanjang film, Emak juga digambarkan jago memasak. Euis juga punya kemampuan berbahasa Inggris yang baik, cukup baik untuk memberikan les pada teman-teman sekolahnya yang kesulitan mempelajari bahasa tersebut.

Konteks

Pesan dari film keluarga cemara dapat mudah dimasukkan menjadi 3 pointer pendek. Setidaknya, 3 pointer ini adalah pesan-pesan yang aku bisa tangkap. Jika ada perbedaan, silahkan berikan komentar yaaaa 😀 .

Kebahagiaan

Jika Ara adalah simbol untuk kebahagiaan, nyatanya, kita tidak perlu mencari-cari kebahagiaan kemana-mana, dan juga, kita bisa bahagia kapanpun. Baik itu sedang susah, atau tidak. Ingat, kita tidak harus susah untuk menjadi bahagia, dan tolong jangan tangkap pesan bahwa kita hanya bisa bahagia ketika sedang tidak punya apa-apa, juga jangan tangkap pesan bahwa kita hanya bisa bahagia jika kita punya suatu benda…

Kebahagiaan adalah perasaan yang didapatkan tanpa ada hubungannya dengan materi yang kita miliki. Kita bisa merasakannya kapanpun.

Aku perlu menjelaskannya sedikit panjang lebar, tapi, tolong jangan tangkap pesan yang salah ya 🙂

Kebersamaan

Ah, sekali lagi.

Pesan dari film ini berhubungan dengan kedekatan anda dengan keluarga. Ia membuatmu bertanya, apakah aku sudah cukup dekat dengan keluarga? Atau belum? Nah, coba tanyakan lagi sesudah menonton film ini.

Tentunya, film ini menjadi pengingat yang lebih baik kebanding jika anda kehilangan suatu hal yang penting kan?

Menjadi Orangtua

Menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan ada banyak cara.

Meski aku kurang setuju dengan metode Abah dan Emak untuk langsung menerima dan menyerah pada keadaan, aku setuju dengan cukup solid bahwa mereka adalah orangtua yang baik. Mereka tahu kapan mereka perlu lembut dan bersabar, mereka tahu kapan untuk tidak terlalu bertanya secara agresif, dan mereka juga tahu kapan untuk menjadi sedikit lebih keras.

Coba deh, pikirkan kembali, apakah anda terlalu keras? atau, apakah anda terlalu lembek sebagai orangtua?

Selamat berkontemplasi.

Kesimpulan

Dalam Rating… 6/10

Pesan-pesan yang bagus dan cerita sedih yang mengharukan jika kita ingin melihatnya dari sudut pandang perasaan saja. Namun, sayangnya, terlalu banyak blunder logis dan menyerah dari tokoh-tokoh utama yang membuatku tidak bisa memberikan nilai lebih tinggi lagi.

Tetap perlu ditonton kok, film-nya bagus, pesannya, bagus, hanya saja, kesalahan dan kurang kuatnya drive tokoh yang mengurangi 3 poin dari rating yang ia pantas dapatkan tanpa blunder-blunder tersebut.

Sampai lain waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *