Review Buku… Pulang

Review Buku… Pulang

Kalau reader ikutin IG-nya Bubi, mungkin pernah lihat aku (Azriel) masuk klub literasi-nya Museum Konferensi Asia Afrika. Namanya Global Literacy… dan (just as an FYI) September open recruitment, jadi monggo kali mau ikut, klub-nya gratis, dan dapat akses ke bocoran info event dari MKAA-nya… (Okay, masih lama, but still, hanya FYI saja)

Dari klub ini, aku diberikan request untuk membaca buku Pulang, Karya Toha Mohtar. Dan sebelum bukunya dianalisis pada hari Minggu, aku mau tulis review dan analisis buatan aku dulu.

Anyways let’s head on… Oh wait

Disclaimer: Spoilers for the book

Cerita dikit dulu, salah satu Kakak pembimbing klub-nya justru lebih suka cerita kalau di spoiler, karena Kakak itu lebih suka connect the dots dari current situation sampai Spoiler ending.

Jadi ga ada salahnya mau baca review dan “analysis” buku ini, sebelum membaca bukunya di real life.

Also, some potentially important info:

  • Buku ditulis dari perspektif orang ke 3, namun orang ke 3 ini menjelaskan isi hati dan pikiran tokoh utama dengan cukup detail.
  • Nama Kampung Halaman tokoh utama tidak pernah disebut
  • Timeline, dan latar waktu di buku tidak dijelaskan secara explicit

What’s The Book About…

Alkisah, seorang mantan Heiho, bernama Tamin, pulang dari pengembaraannya sesudah menjadi serdadu Belanda saat zaman penjajahan. Dari awal bukunya, timeline-nya jelas tersirat bahwa ini Post World War II era, namun tahun pastinya tidak dijelaskan.

Anyways, Tamin sudah mengembara dan menjadi Heiho di Burma selama 7 Tahun… Di beberapa halaman pertama, Narrator menjelaskan dari perspektif Tamin bahwa dirinya sudah melihat banyak sekali perubahan di kampungnya, mulai dari tumbuhnya pohon kecil di halaman rumahnya, sampai fakta bahwa adiknya sudah bertumbuh cukup besar dari kepergiannya.

Narrator juga menjelaskan visual-nya Tamin dengan cukup… Detail, dan sedikit… Lebay… 😅

Narrator menjelaskan seberapa bagus stature Tamin, dan seberapa hitam kulitnya, dengan cara yang poetic, namun sedikit overkill, dikarenakan penggunaan kata dan exaggeration dari postur tubuh seseorang, menjelaskan seberapa lebar bahu-nya Tamin, dan seberapa tegap dirinya.

At this point of the book (halaman 9), aku ngeh, “okay… Ini buku tua”. Dan iya, aku betul, terbitan pertama dari bukunya keluar pada tahun 1957.

Selain itu, Aku juga ngeh (karena dikasih tahu kakak instruktur 😝), bahwa ada kiasan di buku tersebut. Kiasan itu mudah dianggap harafiah karena Tamin pulang di saat yang similar dengan kiasan itu. 

Kiasan yang kumaksud bilang bahwa “Matahari” mulai set down dan turun, memberikan “ciuman” cahaya dan sinar-sinar terakhirnya ke Gunung Wilis.

Matahari disini dimaksudkan sebagai Jepang, dan Ciuman, atau cahaya sisa-sisa itu dimaksudkan sebagai masa rule dan hilangnya kebijakan dan penjajahan yang dibuat oleh Jepang. Sesudah kemerdekaan, kebijakan tersebut cenderung set down, seperti Matahari di cerita ini.

Sesampainya dirumah, Tamin langsung disambut oleh Ayah dan Ibu-nya yang mengira bahwa dia sudah meninggal, karena banyaknya kisah mengerikan yang ia dengar tentang para Heiho yang pergi.

Tidak lama setelah scene kangen itu, Tamin berusaha mengingat teman-teman masa kecilnya, dan ia menanyakan kabar teman-temannya ke Ibunda-nya.

Apparently, selama kepergian Tamin, banyak teman-nya meninggal oleh tentara Belanda dan semua cerita yang dia dengar dari ibunya, dikisahkan dengan gaya heroik, karena teman-temannya meninggal sambil melawan kekerasan dan brutalitas dari tentara Belanda.

Fakta penting duku dikit, sebelum kita maju ke bagian berikutnya… Sesudah kepulangannya menjadi Heiho, Tamin mengidap PTSD.

Waw! Ada Bule!

Orang-orang di Kampung Tamin menganggap orang-orang luar sebagai orang yang… WAAAAHHH banget.

Pada makan malam pertama-nya Tamin di rumahnya, Sumi menanyakan, apakah betul, orang-orang di luar negeri menggunakan baju berlapis emas, dan memiliki mata ketiga di dahi-nya yang diisi Intan.

Ini sedikit exaggeration lagi, karena to be fair, ini Roman, jadi jika di overkill demi memberi romantisisme, tidak ada salahnya.

Tapi, sampai sekarang, masih sangat mungkin orang-orang pribumi melihat orang “bule” dengan Waaw! Kurang lebih itu pesan yang disampaikan Om Toha Mohtar.

Tanah dan Air

Literally… Tanah dan Air, bukan Tanah air.

Tamin pulang ke kampungnya membawa uang yang ia hasilkan sebagai Heiho. Ketika berjalan pulang, ia melihat dan percaya bahwa Sawah milik ayahnya tidak lagi digunakan, dan sudah tidak ada sapinya lagi.

Tamin berencana menggunakan semua uang Heiho tersebut untuk membeli Sapi Jantan yang baru, dan bekerja sebagai petani, untuk menggantikan ayahnya.

Sambil berencana membeli sapi di Kota yang ia akan datangi, ia juga mengajak Sumi untuk membeli baju di kota, karena Sumi benar-benar penasaran tentang kehidupan di luar kampung.

Ketika Tamin melaporkan bahwa ia ingin membeli sapi dan membajak sawah itu, Ibunya dan Ayahnya hanya speechless…

Tamin berbicara beberapa kalimat yang honestly, sedikit lebay… Okay, sangat lebay, demi mendapatkan reaksi dari kedua orangtuanya.

Dengan poetic-nya, Tamin bilang bahwa ia akan melaksanakan tanggung jawab-nya sebagai anak dan berusaha “bergulat” dengan lumpur hingga ia mati, dan beberapa hal lagi, yang honestly, sedikit terlalu di romantisasi untuk kuingat.

Sesudah scene yang terlalu lebay untuk para millennial anggap serius… Ia tahu mengapa orangtuanya speechless…

Ternyata, tanah milik keluarga Tamin digadai oleh Ibu-nya saat ia pergi dan ayahnya sedang sakit.

Sayangnya, uang penghasilannya sebagai Heiho tidak akan cukup untuk membeli Tanah dan Sapi untuk membajak sawah tersebut.

Alhasil, Tamin harus melakukan sesuatu yang ia tidak ingin lakukan…

Istriku… Kumohon…

Okay, jadi flashback scene!

Saat Tamin menjadi Heiho, ia jatuh cinta dan menikahi seorang anak “juragan” di Burma.

Honestly, aku ga yakin kata Juragan spot on, tapi ia menikahi anak seseorang yang cukup kaya. 3 bulan setelah menikah, Istrinya hamil.

Tetapi, istrinya meninggal saat persalinan. Sebagai tanda terima kasih dari Ayah Istrinya untuk membahagiakan anaknya selama tahun terakhir kehidupannya, Tamin diberi hadiah, berupa kalung yang, harganya cukup mahal.

Dari kalung pemberian Mertuanya itu, ia merebut kembali tanah yang digadaikan oleh Ibunya.

Here Comes… More Overkill

Keesokan harinya, Tamin menjual kalungnya dan membelikan baju untuk Sumi, sesuai janjinya.

Pulangnya, ia belum melunaskan, tanah yang digadaikan oleh ibunya, namun Tamin menjelaskan bahwa ia akan…

  • Merebut kembali Tanah dan Air (yang menurutnya sangat berharga) milik ayahnya.
  • Menuangkan seluruh isi jiwanya untuk membersihkan dan membajak sawah itu.
  • Menumbuhkan Padi dan benih-benih kehidupan.

And so on… (Aku ga yakin aku benar-benar 100% akurat, namun ya begitulah, sekali lagi, ini scene lebay, sedikit susah untuk diingat.) 

Ayahnya speechless, sampai Tamin berbicara sekitar 3 paragraf, lalu berterima kasih.

Di scene ini Tamin bercerita bahwa ia menjual kalung milik Istrinya tadi. Sesudah bercerita ini, Tamin ditegur ayahnya karena tidak memegang janji, dan satu-satunya kenangan Istrinya tersebut.

Namun, Tamin menjawab bahwa, sekarang jiwa istrinya telah menyatu dengan sawah itu, dan ia akan mengenang Istri tercintanya dengan sawah itu.

Hold on… Romantisasi-nya Belum selesai… Bukunya masih panjang, ini baru sekitar sepertiga jalan.

Teenage Girls…

Om Toha Mohtar juga memberi pesan sisipan dengan tingkah laku Sumi yang masih berumur 16 tahun itu.

Dengan gaya Sumi membeli dan exclaim… Wow! Bagus sekali baju-baju di toko yang ada di kota ini! Om Toha Mohtar memberi pesan bahwa, basically, all girls are the same. They like cute stuff, and pretty stuff.

Iya, sama juga buat ibu-ibu.

Perilaku Teenage Girls juga di highlight dengan Sumi memberi tahu bahwa baju yang dipilihkan oleh Kakaknya harus pas, dan matching dengan anting dan kulitnya, agar temannya tidak memberi komentar, atau memberi fashion advice yang membuatnya malu.

Yup, Teenagers try their best to fit in with their friends. Sumi memang masih remaja, umurnya masih 16 tahun, jadi perilaku seperti ini akan cukup sering ditemui.

Percaya sama aku, teenage girl jaman sekarang berusaha terlalu susah buat fit in… Om Toha Mohtar dengan sukses highlight behaviour ini… This is timeless…

Jadi, ingat, remaja cewe pada umumnya seperti ini… 😝

(Any of my female friends reading this… please don’t be offended)

Honor!

Aku akan skip sedikit chapter dimana Tamin melawan dan berusaha membajak sawah dan menanam tanaman, dan langsung loncat ke bagian ini…

Sesudah cukup lama Tamin bertani… Ada sebuah honorary treatment untuk makam para pemuda yang meninggal demi mengusir prajurit saat zaman perang.

Honorary treatment itu akan dibahas dalam sebuah meeting…

Ketika meeting kampung di malam itu  selesai, semua orang bercerita apa saja yang mereka lakukan saat masa perang, dan apa bekas luka yang mereka dapatkan, stuff like that…

Sayangnya… Tamin selama ini baru mengerti kenapa para pemuda ini dianggap pahlawan oleh warga-warga. 

Mereka dianggap pahlawan karena mereka berani melawan penindasan oleh Belanda dan Jepang. Mereka bahkan rela mati, hanya demi menjaga harga diri kampung dan negaranya.

On the other hand, Tamin malahan bertarung alongside Belanda.

Jadi, pada malam itu, ketika semua orang meminta Tamin bercerita, Tamin sangat malu, dan ia memutuskan untuk berbohong, agar orang lain tidak tahu bahwa dia tidak berusaha memberontak sebagai Heiho.

Bahkan, ada kemungkinan Tamin selamat sebagai Heiho, hanya karena dia menurut tanpa berusaha memberontak.

Tamin membuat cerita palsu, hanya agar dia bisa menceritakan sesuatu yang terkesan heroik.

Lies, after Lies

Sesudah kebohongan pertamanya, Tamin mulai panik. Ia merasa stress, dan merasa bahwa kampung bukan tempat yang aman lagi.

Tamin juga merasa takut bahwa ada orang yang menceritakan rumor tentangnya, bahwa dia adalah pengkhianat, dan malahan bertarung di samping Belanda, bukan bertarung demi kehormatan negaranya sendiri.

Setiap kali dia mendengar tawaan, ia mendapat pikiran Paranoid bahwa ia orang yang diketawai oleh warga-warga.

Dari sini, tiap harinya, Tamin makan lebih sedikit, dan lebih jarang berada di rumah. Tamin lebih suka kabur ke tempat lain, pergi kesana kesini, pura-pura membersihkan sawah, dan menolak untuk berbicara.

Tamin berusaha mencari cara agar dia bisa kabur dari kesendiriannya, dan agar dia tidak dihantui kebohongan yang ia hasilkan sendiri…

Sampai suatu hari…

Don’t Hurt Your Sister!

Tamin pulang pada malam hari sesudah dia bertani dan beristirahat di saungnya, lengkap dengan thoughts paranoid, diceritakan oleh narrator.

Pada pukul 3.00 pagi, ia disapa Sumi, dan Sumi ingin diceritakan bagaimana Tamin memberontak sebagai Heiho, dan melakukan pertempuran di Gunung Wilis.

Tamin sudah takut bahwa dia akan ketahuan, jadi, Tamin mengingatkan Sumi beberapa kali… Untuk tidak meminta Tamin menceritakan cerita ini.

Dalam singkat, Tamin yang panik memukul adiknya. Lalu ia kabur dari rumah dan pergi ke tebing, dengan harapan jika ia mati, seluruh beban kebohongan yang ia angkat akan hilang.

Sesampainya di dekat lautan, which kayanya cukup jauh dari kampungnya… Lokasinya ga pernah disebut dengan explicit…

Tamin panik, dan Narrator mulai menjelaskan isi hati milik Tamin… Yang diisi beban, rasa takut, rasa tanggung jawab yang tidak bisa ia penuhi, dan rasa rindu pada istrinya.

Tamin ingin bunuh diri, dengan cara loncat ke dalam air yang berputar seperti vortex dibawah airnya ada batu-batu yang tebal, dan runcing. Batu dan pusaran air itu digabungkan, harusnya cukup untuk membunuhnya.

I Don’t Wanna Die…

I sometimes wish I’d never been born at all. -Bohemian Rhapsody

Sebelum ia loncat, ia “ditemukan” oleh seorang nelayan, yang menanyakan apa yang  Tamin akan lakukan.

Tamin menjawab bahwa ia sedang merenung, dan bingung. Ia ingin lari dari kampungnya.

Sang nelayan menawarkan Tamin naik ke kapalnya, asalkan bisa membantu-nya dan, sang nelayan berjanji bahwa Tamin akan diantar ke Surabaya.

Sambil diantar dan menyiapkan kapal, Si Nelayan menanyakan nama kampung Tamin.

Dan Narrator menyebutkan nama kampungnya… Secara anonim… 😴

Aku masih kepo sampe sekarang, apa nama kampung Tamin.

Anyways, sesampainya di Surabaya, Tamin memutuskan untuk memulai kehidupan yang baru. Namun pada akhirnya dia pulang ke kampungnya lagi 4 bulan kemudian dengan rasa damai.

Home Sweet Home

Tamin pulang sesudah mendapat kabar bahwa ayahnya telah meninggal, dan ia menangis karena tidak bisa datang ke pemakamannya. 

Pada akhirnya, Tamin sukses let go masa lalunya, dan ia meminta maaf ke Sumi dan ibunya karena pergi tanpa pamit.

Untungnya, Sumi memaafkan Tamin, dan tidak memendam grudge sama sekali meski sudah dipukul oleh Tamin.

Then again, Sumi itu Teenage girl, jadi… Ummm.. who knows… Mungkin Om Toha Mohtar memberi pesan lain bahwa, Teenage girl suka memberi kode yang tidak jelas jawaban aslinya. (Btw aku tahu ini dari temenku, aku kalau ga dikasih tahu mungkin ga pernah figure out)

Tamin menemukan kebahagiaan dari menyelesaikan tanggung jawabnya, dan dari rasa kangen ke keluarga dan kampungnya.

In Conclusion

Honestly, aku kurang yakin apa ada direct moral of the story disini.

Tapi yang pasti adalah… 

You’ll go home one day, and maybe, you’ll find out that everything has changed, don’t try to hard to change yourself to fit into the new scope.

Atau…

Perempuan adalah makhluk gengsian, hati-hati jika jawabannya iya atau tidak, berusaha filter dengan baik

Atau ini juga mungkin…

Jangan bohong…

Well… Up to you…

Silahkan filter moral-nya sendiri 😉

Dropping the Mic 🎤

One Reply to “Review Buku… Pulang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *